Journal Research of Education And Learning, Vol. xx No.
x, 2021
P-ISSN: xxxx-xxxx E-ISSN: xxxx-xxxx
Penerapan Aspek-Aspek Pembelajaran Pada Kelas II Terhadap
Mata Pelajaran Matematika SDN 1 Baler Bale Agung
Adistia Rahmadani*
1,2,3
Penddikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Triatma Mulya, Jembrana
*e-mail: 2386206001@[Link]
Abstrak
Dilaksanakannya penelitian ini pada dasarnya dilatar belakangi untuk memenuhi penugasan
mandiri mata kuliah belajar dan pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan
penjelasan komprehensif mengenai berbagai aspek penting dalam pendidikan, meliputi teori
belajar, minat belajar, motivasi belajar, asas pembelajaran, prinsip pembelajaran, masalah
belajar, pendekatan pembelajaran, model pembelajaran, metode pembelajaran, dan evaluasi
pembelajaran yang terjadi dan terlaksana dalam mata Pelajaran matematika kelas 2 SDN 1
Baler Bale Agung. Dalam studi ini juga mempelajari tentang interaksi antara faktor-faktor
pembelajaran ini serta untuk mengembangkan rekomendasi yang dapat diimplementasikan oleh
pendidik guna meningkatkan kualitas dan hasil pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa penerapan teori belajar yang digunakan tepat, pemberian motivasi dan kebebasan minat
seimbang, menerapkan asas dan prinsip yang tepat, masalah belajar yang terjadi bisa diatasi
dengan berbagai cara, penerapan pendekatan, model, metode yang sesuai dengan kemampuan
peserta didik untuk mendapatkan hasil belajar yang baik serta pelaksanaan evaluasi yang
signifikan guna meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Melalui kajian literatur yang
mendalam dan analisis data empiris, penelitian ini mengidentifikasi hubungan antara berbagai
komponen pembelajaran dan memberikan rekomendasi untuk praktik pendidikan yang lebih
baik. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pendidik, peneliti, dan
pembuat kebijakan dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di berbagai tingkat
pendidikan.
Kata kunci: Aspek, Belajar, Pembelajaran, Matematika, Kelas 2, SDN 1 Baler Bale Agung
Abstract
The background of this research was basically to fulfill the independent assignment of study
and learning subjects. This research aims to provide a comprehensive explanation of various
important aspects of education, including learning theories, learning interests, learning
motivation, learning principles, learning principles, learning problems, learning approaches,
learning models, learning methods, and evaluation of learning that occurs and is implemented
in 2nd grade mathematics subject at SD Negeri 1 Baler Bale Agung. This study also examines
the interactions between these learning factors and develops recommendations that can be
implemented by educators to improve the quality and outcomes of learning. The results of the
research show that the application of learning theory is used appropriately, provides balanced
motivation and freedom of interest, applies the right principles and principles, learning
problems that occur can be overcome in various ways, application approaches, models,
methods that are in accordance with students' abilities to obtain good learning results and carry
out significant evaluations to improve the quality of learning in the classroom. Through an in-
depth literature review and analysis of empirical data, this research identifies the relationships
between various learning components and provides recommendations for better educational
practices. It is hoped that the results of this research can become a reference for educators,
researchers and policy makers in efforts to improve the quality of learning at various levels of
education.
Keywords: Aspect, Study, Learning, Mathematics, Class 2, SDN 1 Baler Bale Agung
*Corresponding author.
Received dd mm yyyy; Accepted dd mm yyyy; Available online dd mm yyyy
© 2021 MI All Rights Reserved
Journal Research Of Education And Learning| 1
Journal Research of Education And Learning, Vol. xx No. x, 2021
P-ISSN: xxxx-xxxx E-ISSN: xxxx-xxxx
1. Pendahuluan
Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara “(UU No 20 tahun 2003)”. Pendidikan adalah fondasi yang
membentuk individu untuk menjadi anggota masyarakat yang berpengetahuan, terampil,
dan berdaya saing. Dalam konteks pendidikan, belajar dan pembelajaran merupakan dua
konsep utama yang saling terkait erat.
Pada dasarnya belajar merupakan suatu proses yang berakhir pada perubahan.
Belajar tidak pernah memandang siapa pengajarnya dimana tempatnya dan apa yang
diajarkan. Tetapi dalam hal ini lebih menekankan pada hasil dari pembelajaran tersebut.
Perubahan apa yang terjadi setelah melakukan pembelajaran. Seringkali kita mendengar
kata “belajar" bahkan tidak jarang pula menyebutkannya tetapi kita belum mengetahui
secara detail makna apa yang sebenarnya terkandung dalam belajar itu. Menurut Winkel
belajar didefinisikan sebagai suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam
interaksi aktif dengan lingkungan, keterampilan dan nilai-nilai sikap yang bersifat relatif
konstan dan berbekas.
Menurut Nasution pembelajaran adalah suatu aktivitas mengorganisasi atau
mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan peserta didik
sehingga terjadi proses belajar. Menurut Degeng, pembelajaran adalah upaya untuk
membelajarkan peserta didik. Pembelajaran memusatkan pada "bagaimana membelajarkan
peserta didik' dan bukan pada "apa yang dipelajari peserta didik". Pada intinya
pembelajaran adalah usaha yang dilakukan oleh pendidik untuk rnembelajarkan peserta
didik yang pada akhimya terjadi perubahan perilaku. katakan kemampuan-kemampuan
kognitif (daya pikir), afektif (tingkah laku) dan psikomotorik (ketrampilan siswa),
kemampuan-kemampuan tersebut dikembangkan bersama dengan perolehan pengalaman-
pengalaman belajar. Jadi, pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan membelajarkan
siswa yang dinilai dari perubahan perilaku dan meningkatnya pengetahuan dan
pengalaman pada diri siswa.
Pembelajaran, di sisi lain, adalah proses eksternal yang dirancang oleh pendidik
untuk memfasilitasi dan mendukung proses belajar siswa. Pemahaman mendalam tentang
berbagai aspek pembelajaran seperti teori belajar, minat belajar, motivasi belajar, asas
Journal Research Of Education And Learning | 2
Journal Research of Education And Learning, Vol. xx No. x, 2021
P-ISSN: xxxx-xxxx E-ISSN: xxxx-xxxx
pembelajaran, prinsip pembelajaran, masalah belajar, pendekatan pembelajaran, model
pembelajaran, metode pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran, sangat penting untuk
menciptakan strategi pendidikan yang efektif dan adaptif. Semua aspek pembelajaran harus
digunakan dalam konteks pendidikan.
Klasifikasi teori belajar memberikan landasan bagi pemahaman tentang bagaimana
manusia belajar. Dalam konteks belajar dan pembelajaran, minat belajar dan motivasi
belajar memainkan peran penting dalam mendorong partisipasi dan pencapaian siswa. Asas
pembelajaran dan prinsip-prinsip pembelajaran memberikan kerangka kerja yang mengatur
desain, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Namun, dalam proses pembelajaran,
sering kali muncul masalah belajar yang dapat memengaruhi hasil pembelajaran siswa.
Pendekatan yang digunakan dalam pengajaran, seperti pendekatan pembelajaran aktif atau
berbasis proyek, dan model pembelajaran. Metode yang digunakan dalam pengajaran,
seperti ceramah, diskusi kelompok, atau proyek, juga dapat memengaruhi efektivitas
pembelajaran. Evaluasi pembelajaran penting dalam menilai pemahaman siswa dan
efektivitas pembelajaran secara keseluruhan, serta memberikan umpan balik yang berguna
untuk perbaikan selanjutnya.
Dengan saling berhubungan, aspek-aspek ini membentuk ekosistem pembelajaran
yang dinamis dan kompleks yang berfokus pada peningkatan hasil pembelajaran siswa,
memberikan wawasan yang berharga bagi praktisi Pendidikan, serta mempersiapkan siswa
untuk menghadapi tuntutan masa depan yang tidak pasti dan kompleks.
2. Metode
Penelitian ini dilaksanakan di SDN 1 Baler Bale Agung yang beralamat di Jln.
Jempiring, No. 4, Baler Bale Agung, Kec. Negara, Kab. Jembrana, [Link]. Penelitian ini
dilakukan pada semester 2 tahun Pelajaran 2024. Populasi yang ada pada sekolah ini
berjumlah 344 siswa, namun penulis hanya mengambil satu kelas untuk dijadikan sampel
dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metode wawancara kepada wali kelas 2
yang bernama I Putu Mertayasa.
3. Hasil dan Pembahasan
Data hasil penelitian meliputi klasifikasi teori belajar, minat belajar siswa dan cara
meningkatkan minat belajar, motivasi siswa dan cara meningkatkan motivasi siswa, asas-
asas pembelajaran, prinsip-prinsip belajar, masalah-masalah belajar, pendekatan, model
Journal Research Of Education And Learning | 3
Journal Research of Education And Learning, Vol. xx No. x, 2021
P-ISSN: xxxx-xxxx E-ISSN: xxxx-xxxx
pembelajaran, metode pembelajaran yang digunakan saat pembelajaran di kelas serta
memahami cara guru mengevaluasi di kelas.
Menurut narasumber dalam observasi ini, yaitu Bapak Mertayasa yang tak lain
adalah wali di kelas 2 SDN 1 Baler Bale Agung mengungkapkan bahwa di kelas 2, ia
menerapkan klasifikasi Teori Belajar Behaviorisme. Pandangan behaviorisme mengakui
pentingnya masukan atau input yang berupa stimulus, dan keluaran atau output yang
berupa respons. Menurut beliau, teori belajar behaviorisme menekankan kajian pada
pembentukan tingkah laku yang berdasarkan hubungan antara stimulus dengan respon
yang bisa diamati dan tidak menghubungkan kesadaran maupun konstruksimental. Dalam
mengajar dikelas, Pak Mertayasa menanamkan belajar pada siswa agar terjadi perubahan
tingkah laku. Penerapan yang biasanya dilakukan adalah siswa dibentuk menjadi 5
kelompok dengan komposisi kelompok tersebut sudah diatur sebelumnya. Komposisi yang
digunakan dengan mencampur anak yang pendiam, yang lebih aktif, yang agak ‘nakal’,
pintar, dan lamban belajar, serta mencampur anak laki-laki dan perempuan menjadi satu
kelompok. Dari pengaturan tempat duduk dan komposisi dalam kelompok siswa ini pun
juga memberikan dampak tingkah laku pada anak didik. Selanjutnya, dalam proses
pembelajaran matematika, terjadi proses pemberian stimulus dari guru berupa tugas untuk
menyelesaikan soal perhitungan yaitu sejumlah uang dengan jumlah uang yang sama tetapi
komposisi nominalnya berbeda. Misalnya, dua lembar uang lima ribuan sama dengan
sepuluh lembar uang seribuan. Maka seluruh kelompok akan berebut maju duluan untuk
menyetorkan sejumlah uang yang sama dengan nominal berbeda itu kepada guru. Dengan
ini, terjadi perubahan tingkah laku anak menjadi aktif dan kerjasama satu kelompok.
Untuk meningkatkan minat belajar siswa, pendidik SDN 1 Baler Bale Agung
menggunakan variasi pendekatan berupa penggunaan buku cerita bergambar yang
dilengkapi permainan edukatif. Dalam kelas rendah, kelas 1,2,3 disediakan tempat
membaca di luar kelas yang berada di area lapangan sekolah, sedangkan bagi kelas tinggi
yaitu kelas 4,5,6 disediakan tempat yang bernama pojok digital yang berada di ruang
perpustakaan. Di sekolah ini, bukan hanya mengusahakan minat belajar peserta didik di
dalam di kelas saja, diluar kelas pun tersedia. Seperti ekstrakulikuler yang tersedia sangat
beragam. Semua jenis ekstrakulikuler merupakan kesepakatan yang telah di buat di awal
antara pihak sekolah dengan para wali murid, sehingga sekolah hanya memfasilitasi segala
masukan dan saran yang diberikan wali murid. Ekstrakulikuler yang tersedia mulai dari
akademik sampai non akademik diantaranya adalah club matematika, club IPA, pramuka,
Journal Research Of Education And Learning | 4
Journal Research of Education And Learning, Vol. xx No. x, 2021
P-ISSN: xxxx-xxxx E-ISSN: xxxx-xxxx
PMR, silat, tari, nyurat aksara, dramben, catur, pimpong, bulu tangkis, sepak bola bola
voli, dance, metembang, TIK. Namun peserta didik di batasi hanya boleh memilih 3
ekstrakulikuler saja, karena akan bertabrakan dengan ekstrakulikuler lainnya.
Menurut Pak Mertayasa, bentuk motivasi yang diberikan di kelas II ini yaitu berupa
pendekatan kepada para peserta didik di kelas. Membiasakan mengobrol dengan peserta
didik saling bertanya tentang tujuan mengapa bersekolah, cita-cita yang diinginkan. Anak
yang masih bingung perihal cita-cita yang di inginkan, pendidik bisa memberikan
gambaran pekerjaan orang tua mereka mungkin, ada yang menjadi guru, polisi, tentara atau
profesi lainnya. Penggunaan reward juga diterapkan di sekolah ini, dimana siswa yang
berprestasi di dalam kelas akan diberikan piagam, hadiah alat tulis untuk meningkatkan
motivasi belajar peserta didik lainnya. Tidak hanya berupa pemberian material saja, namun
pemberian pujian verbal juga amat penting diterapkan kepada peserta didik dalam
pencapaian dan pengakuan atas usaha mereka. Selain itu, usaha pemberian motivasi dari
pendidik di sekolah, orang tua dirumahpun harus ikut terlibat dalam membangun morivasi
pada diri anaknya dirumah.
Asas-asas pembelajaran ialah prinsip-prinsip yang wajib dimiliki guru dalam
melakukan proses belajar mengajar. SDN 1 Baler Bale Agung menerapkan beberapa asas
pembelajaran diantaranya yaitu asas peragaan, asas kerjasama, asas apresiasi, dan asas
motivasi. Asas peragaan biasa digunakan oleh pendidik dalam pembelajaran matematika,
IPA, IPS dengan alat yang sudah tersedia di sekolah. Dengan asas ini, pembelajaran
praktek terlaksana. Asas kerja sama direalisasikan dengan pembelajaran berkelompok.
Asas apresiasi diberikan kepada anak yang memiliki semangat belajar yang tinggi. Asas
motivasi diimplementasikan dengan memberikan lingkungan pembelajaran yang
memotivasi siswa untuk belajar dengan cara kolaborasi atau diferensiasi berkelompok.
Dalam melaksanakan pembelajaran, pengetahuan tentang teori dan prinsip-prinsip belajar
dapat membantu guru dalam memilih tindakan yang tepat. Guru dapat terhindar dari
tindakan- tindakan yang kelihatannya baik tetapi nyatanya tidak berhasil.
Adapun beberapa prinsip yang diterapkan di kelas II SDN 1 Baler Bale Agung,
yaitu Prinsip konstruktivisme menjadi dasar dimana siswa membangun pengetahuan
melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungan. Guru mendorong pembelajaran aktif
dengan melibatkan siswa secara langsung dalam proses belajar melalui diskusi kelompok,
permainan edukatif, dan aktivitas hands-on. Prinsip individualisasi juga diterapkan dalam
sekolah ini dengan menyesuaikan metode pengajaran sesuai kebutuhan dan gaya belajar
Journal Research Of Education And Learning | 5
Journal Research of Education And Learning, Vol. xx No. x, 2021
P-ISSN: xxxx-xxxx E-ISSN: xxxx-xxxx
masing-masing siswa. Pembelajaran dihubungkan dengan pengalaman nyata untuk
membuat pelajaran lebih relevan dan mudah dipahami. Keterlibatan orang tua juga sangat
penting, dengan guru berkomunikasi secara rutin untuk mendukung pembelajaran di rumah
dan sekolah. Lingkungan belajar yang aman dan nyaman disediakan agar siswa merasa
tenang dan fokus selama belajar. Dan terakhir, integrasi kurikulum membantu siswa
memahami keterkaitan antara berbagai konsep melalui pelajaran yang menggabungkan
beberapa mata pelajaran. Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, guru dapat menciptakan
suasana belajar yang mendukung perkembangan akademis dan sosial siswa secara
menyeluruh.
Menurut narasumber, SDN 1 Baler Bale Agung, mengalami beberapa masalah
belajar yang dialami oleh siswa diantaranya yaitu kesulitan dalam membaca dan menulis,
kurangnya dukungan belajar dirumah. Secara tidak langsung, penulis dapat menyimpulkan
bahwa dari beberapa siswa tidak mendapatkan cukup bantuan atau dukungan dalam
mengerjakan PR atau kegiatan belajar dirumah, dikarenakan kebanyakan orangtua dari
mereka sibuk bekerja, sehingga perhatian akan perkembangan Pendidikan anak di
kesampingkan. Adapun masalah belajar yang dialami dari seorang guru di sekolah ini,
yaitu seperti pada umumnya di semua satuan pendidikan bahwa kemampuan siswa yang
heterogem didalam kelas akan sangat menjadi hal yang perlu digarisbawahi. siswa
memiliki tingkat kemampuan yang beragam, dari yang sangat cepat memahami hingga
yang membutuhkan waktu yang lama untuk mengerti suatu materi. Hal ini berpengaruh
terhadap diferensiasi instruksi yang akan di laksanakan oleh pendidik untuk menyesuaikan
metode pengajaran untuk memenuhi kebutuhan setiap siswa Selain itu kurikulum yang
setiap saat berubah adalah menjadi masalah utama bagi pendidik. Sebab, kadang
pembaruan kurikulum yang terjadi menciptakan ketidakselarasan kurikulum karena terlalu
padat atau tidak sesuai dengan tingkat perkembangan sisa yang dapat menyulitkan proses
pengajaran. Perubahan kurikulum yang terus-menerus memerlukan adaptasi yang cepat
dari peserta didik, dan seringkali merasa kewalahan akan perubahan yang terjadi.
Pendekatan merupakan bagian pokok dari rencana pembelajaran. Pendekatan
pembelajaran matematika untuk kelas II Sekolah Dasar harus disesuaikan dengan tahap
perkembangan kognitif siswa yang berada pada tahap operasional konkret. Menurut Pak
Mertayasa, pada tahap ini siswa belajar paling efektif melalui pengalaman langsung,
manipulasi objek nyata, dan pengamatan. Adapun beberapa penjabaran klasifikasi yang
diberikan oleh Pak Mertayasa yaitu sebagai berikut: (a) Pembelajaran Kontekstual
Journal Research Of Education And Learning | 6
Journal Research of Education And Learning, Vol. xx No. x, 2021
P-ISSN: xxxx-xxxx E-ISSN: xxxx-xxxx
Menghubungkan konsep matematika dengan situasi sehari-hari sehingga siswa bisa
memahami relevansi dan aplikasi praktisnya. seperti contohnya belanja pura-pura, Siswa
bermain peran sebagai penjual dan pembeli, menggunakan uang mainan untuk memahami
konsep penjumlahan dan pengurangan. selain itu, Pengukuran dalam kehidupan sehari-
hari, mengukur panjang meja, tinggi teman, atau volume air dengan menggunakan alat
ukur sederhana. (b) Pembelajaran Berbasis Permainan Menggunakan permaianan untuk
pembelajaran matematika lebih menyenangkan dan menarik, seperti permainan kartu
angka yang melibatkan penjumlahan dan pengurangan serta puzzle matematika untuk
menyelesaikan masalah matematika untuk menyusun gambar. (c) Pedekatan Interaktif
Menggunakan teknologi dan media interaktif untuk pembelajaran yang lebih dinamis,
seperti pemberian aplikasi matematika dan video edukasi tentang konsep dasar
matematika. (d) Pendekatan Problem Solving Mengembangkan keterampilan pemecahan
masalah dengan menghadirkan situasi yang membutuhkan solusi matematika seperti soal
cerita yang melibatkan situasi sehari-hari untuk mngajarkan penjumlahan,pengurangan,
perkalian, pembagian serta tantangan harian dengan memberikan tantangan matematika
harian yang harus diselesaikan siswa.
Model pembelajaran adalah seluruh rangkaian penyajian materi ajar yang meliputi
segala aspek sebelum sedang dan sesusah pembelajaran yang dilakukan guru serta segala
fasilitas yang terkait yang digunakan secara langsung atau tidak langsung dalam proses
belajar mengajar. Menurut Pak Mertayasa, Model pembelajaran matematika untuk kelas II
Sekolah Dasar sebaiknya dirancang untuk meningkatkan pemahaman konsep dasar
matematika melalui metode yang interaktif, konkret, dan relevan dengan kehidupan sehari-
hari. Adapun penjabaran model pembelajaran matematika yang diterapkan oleh Pak
Mertayasa di kelas II SDN 1 Baler Bale Agung: (a) Model Pembelajaran Kooperatif
(Cooperative Learning) Model ini melibatkan kerja sama antar siswa dalam kelompok
kecil untuk mencapai tujuan belajar bersama. contohnya Jigsaw, Siswa dibagi menjadi
beberapa kelompok dan masing-masing anggota kelompok mempelajari bagian tertentu
dari materi. Setelah itu, anggota dari kelompok berbeda dengan bagian yang sama
berkumpul untuk mendiskusikan materi mereka sebelum kembali ke kelompok asal untuk
mengajarkan apa yang mereka pelajari. Selain itu, Think-Pair-Share , siswa berpikir sendiri
tentang suatu masalah matematika, berpasangan dengan teman untuk berdiskusi, lalu
berbagi hasil diskusi mereka dengan seluruh kelas. (b) Model Pembelajaran Kontekstual
(Contextual Teaching and Learning) Model ini menghubungkan materi pelajaran dengan
Journal Research Of Education And Learning | 7
Journal Research of Education And Learning, Vol. xx No. x, 2021
P-ISSN: xxxx-xxxx E-ISSN: xxxx-xxxx
situasi dunia nyata yang dialami siswa. Contohnya dalam masalah sehari-hari, Siswa
menyelesaikan masalah matematika yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari seperti
belanja di pasar atau mengukur panjang benda di rumah. (c) Model Pembelajaran Berbasis
Masalah (Problem-Based Learning) Model ini memfokuskan pada penyelesaian masalah
nyata sebagai sarana untuk mengajarkan konsep matematika. Contohnya Studi Kasus,
Menyajikan studi kasus atau masalah dunia nyata yang memerlukan penyelesaian
matematika, seperti mengelola anggaran kelas untuk kegiatan tertentu. Serta Proyek
Berbasis Masalah yang melibatkan siswa dalam proyek yang dimulai dengan pertanyaan
atau masalah yang harus dipecahkan dengan menggunakan keterampilan matematika. (d)
Model Pembelajaran Inkuiri (Inquiry-Based Learning) Model ini menekankan pada
penemuan dan eksplorasi melalui pertanyaan dan investigasi. dengan Eksplorasi Mandiri,
siswa diberikan masalah atau pertanyaan dan melakukan investigasi sendiri untuk
menemukan jawaban. Selain itu diskusi kelompok, setelah eksplorasi, siswa berdiskusi
dalam kelompok untuk berbagi temuan dan menarik kesimpulan bersama. (e) Model
Pembelajaran Langsung (Direct Instruksi) Model ini tekanan pada pengajaran langsung
dari guru ke siswa dengan instruksi yang jelas dan terstruktur. bisa secara demonstrasi,
Guru mendemonstrasikan cara menyelesaikan soal matematika di papan tulis sambil
menjelaskan langkah-langkahnya. Dan juga Latihan terstruktur, Siswa diberikan latihan
yang terstruktur dan bimbingan langsung dari guru untuk memastikan pemahaman konsep.
Menurut Pak Mertayasa, beberapa metode sudah ia terapkan dalam kelas untuk
pembelajaran matematika, yaitu sebagai berikut: (a) Metode Ceramah, Ceramah
merupakan suatu cara penyampaian informasi denagn lisan dari seseorang kepada sejumlah
pendengar di suatu ruangan. Kegiatan berpusat pada penceramah dan komunikasi yang
terjadi searah dari pembicara kepada pendengar. Dari penjelasan Pak Mertayasa, gambaran
pengajaran matematika dengan metode ceramah adalah sebagai berikut. Guru
mendominasi kegiatan belajar mengajar. Definisi dari rumus diberikannya. Penurunan
rumus atau pembuktian dalil dilakukan sendiri oleh guru. Diberitahukannya apa yang harus
dikerjakan dan bagaimana menyimpulkannya. Contoh-contoh soal diberikan dan
dikerjakan pula oleh guru. Langkah-langkah guru diikuti dengan teliti oleh murid. Mereka
meniru cara kerja dan cara penyelesaian yang dilakukan oleh guru. (b) Metode Tanya
Jawab dan Diskusi (Question and Answer), Guru mengajukan pertanyaan untuk
merangsang pemikiran kritis dan pemahaman konsep matematika serta siswa diberi
kesempatan untuk bertanya dan mendiskusikan jawaban mereka.(c) Metode Demonstrasi
Journal Research Of Education And Learning | 8
Journal Research of Education And Learning, Vol. xx No. x, 2021
P-ISSN: xxxx-xxxx E-ISSN: xxxx-xxxx
Melalui metode demonstrasi, guru dapat memperlihatkan suatu proses, peristiwa, atau cara
kerja suatu alat kepada peserta didik. Demonstrasi dapat dilakukan dengan berbagai cara,
dari yang sekadar memberikan pengetahuan yang sudah diterimabegitu saja oleh peserta
didik, sampai pada cara agar peserta didik dapat memecahkan suatu masalah. untuk
memantapkan hasil pembelajaran, melalui metode demonstrasi,pada akhir pertemuan dapat
diberikan tugas-tugas yang sesuai dengan kegiatan yang dilaksanakan. (d) Metode Drill
dan Metode Latihan, Sebelum program pengajaran matematika yang sekarang berlaku,
pengajarannya terlalu ditekankan pada drill atau latihan. Perlu disadari bahwa belajar
keterampilan secara rutin menyebabkan sedikit yang dapat diingat, sedikit pengertian, dan
sedikit aplikasi dalam masalah sehari-hari. Karena itu drill hendaknya diadakan bila perlu
saja. Dengan demikian antara keterampilan, pengertian, dan penerapan akan menjadi
seimbang dan pengajaran menjadi [Link] pula mengenai metode latihan, guru
perlu mengetahui bila itu harus dilakukan. Latihan diperlukan agar siswa terampil
menyelesaikan soal-soal yang pengertian dan prosedur penyelesaiannya sudah dipahami.
Akibat dari terlalu dini atau lambat mendapat latihan tidak seburuk akibat terlalu dini atau
lambat mendapat drill. Jika terlalu dini akan lamban menyelesaikan soal, karena masih ada
hal-hal yang belum jelas baginya.
Evaluasi pembelajaran adalah proses penting untuk menilai pemahaman,
keterampilan, dan perkembangan siswa. seperti pada sekolah umumnya, SDN1 Bale Baler
Agung menerapkan evaluasi pembelajaran formatif dan sumatif secara seimbang antara
keduanya. Dalam pelaksanaannya, evaluasi formatif berupa penugasan individual atau
secara berkelompok di akhir pembelajaran, kadang juga berupa quiz cepat, yang tidak
kalah penting guru juga mengadakan observasi mengamati aktivitas dan partisipasi siswa
selama pembelajaran. selain evaluasi formatif, evaluasi sumatif juga di laksanakan setiap
Tengah dan akhir semester guna mengukur kemampuan peserta didik selama satu semester
serta mengukur keberhasilan metode mengajar guru kepada para [Link] sumatif
berupa UTS, UAS, UKK, atau bahkan ujian akhir.
Jika diakhir penilaian evaluasi rendah, para pendidik di SDN 1 Bale Baler Agung
mengadakan kelas tambahan berupa kajian di luar jam pembelajaran di sekolah yang
dilaksanakan oleh guru mata Pelajaran di ruang kelas masing-masing. pendidik harus
memastikan bahwa instrument evaluasi yang digunkan sesuai dengan tujuan pembelajaran
dan beragam untuk mengakomodasi gaya belajar siswa dengan menentukan alur tujuan
pembelajaran.
Journal Research Of Education And Learning | 9
Journal Research of Education And Learning, Vol. xx No. x, 2021
P-ISSN: xxxx-xxxx E-ISSN: xxxx-xxxx
4. Simpulan
Berdasarkan hasil observasi penerapan aspek-aspek pembelajaran dapat
disimpulkan bahwa kelas II di SDN 1 Baler Bale Agung menggunakan teori belajar
behaviorisme, pembaca juga bisa mengetahui minat belajar siswa di kelas II serta cara
pendidik meningkatkan minat belajarnya terhadap peserta didik, motivasi peserta didik dan
cara meningkatkan motivasi peserta didik, penggunaan asas-asas pembelajaran, prinsip-
prinsip pembelajaran, memahami masalah-masalah belajar dan cara mengatasi masalah
tersebut, penggunaan pendekatan, model, dan metode yang digunakan, serta memahami
cara pendidik mengevaluasi pembelajaran di dalam kelas.
5. Saran
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan untuk para
pengajar di sekolah untuk dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Adapun beberapa
rekomendasi yang penulis kemukakan sehubungan dengan penelitian ini : (1) Guru perlu
memiliki pegangan teori belajar, mengetahui minat belajar siswa melalui berbagai
pendekatan, bisa memotivasi peserta didik, mempunyai asas-asas dalam mengajar,
memiliki prinsip-prinsip pemebelajaran, bisa mengatasi segala masalah-masalah belajar
yang terjadi pada peserta didik maupun pendidik itu sendiri, menmpunyai cara
pendekatan, model, metode dalam pengajaran dikelas serta selalu mengadakan evaluasi
terhadap pencapaian belajar didalam kelas untuk mengkur sejauh mana kemampuan
siswa. (2) Guru dapat memberikan soal-soal untuk mengetahui kemampuan siswa dalam
pembelajaran.
Daftar Pustaka
Trismayanti, S. (2019). Strategi Guru dalam Meningkatkan Minat Belajar Peserta Didik di
Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Islam, 17(02).
Fathurrohman, Muhamad, Sulistyorini. (2012). Belajar & Pembelajaran. Penerbit Teras.
Journal Research Of Education And Learning | 10