Pengukuran Kinerja PT Sejahtera Panca Jaya
Pengukuran Kinerja PT Sejahtera Panca Jaya
TUGAS AKHIR
OLEH :
DENILAH YANI
11452201592
Tugas Akhir yang tidak diterbitkan ini terdaftar dan tersedia di Perpustakaan
Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau adalah terbuka untuk umum
dengan ketentuan bahwa hak cipta pada penulis. Referensi kepustakaan
diperkenankan dicatat, tetapi pengutipan atau ringkasan hanya dapat dilakukan
seizin penulis dan harus disertai dengan kebiasaan ilmiah atau ringkasan ilmiah
untuk menyebutkan sumbernya.
Pengadaan atau penerbitan sebagian atau seluruh Tugas Akhir ini harus
memperoleh izin dari Dekan Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam
Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Perpustakaan yang meminjamkan Tugas Akhir
untuk anggotanya diharapkan untuk mengisi nama, tandatangan, dan tanggal
peminjaman.
iv
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam Tugas Akhir ini tidak terdapat
karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di perguruan
tinggi lain, dan sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat
yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali yang secara tertulis
diacu dalam naskah ini dan disebutkan di dalam daftar pustaka.
DENILAH YANI
11452201592
v
LEMBAR PERSEMBAHAN
sebuah
PERSEMBAHAN
Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, Ia mendapat
pahala (dari kebajikan yang diusahakannya) dan Ia mendapat siksa
(dari kejahatan yang dikerjakannya)”.
(Q.S. Al Baqarah: 286)
Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang
yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat
(Q.S Al Mujadillah: 11)
Lantunan Al-Fatihah beriring Shalwat dalam silahku merintih, menadahkan doa dalaM
Syukur yang tiada terkira. Kupersembahkan karya kecil ini untuk Ayahanda daN
Ibunda tercinta, terimalah bukti kecil ini sebagai kado keseriusanku untuK
Membalas semua pengorbananmu. Maafkan anakmu yang masiH
Saja menyusahkanmu. Dalam silah di lima terbit fajaR
Hingga terbenam, seraya tanganku menengadaH
“Ya Allah Terima kasih telah EngkaU
Tempatkan aku diantarA
Kedua Malaikatmu yang setiap waktU
Membimbingku dengan Baik. Ya Allah berikanlah balasaN
Setimpal Syurga firdaus untuk mereka dan jauhkanlah Mereka nanti dari panasa sengatnya hawA
Api neraka. Untuk kedua orang tua tercinta ayahku Marni dan Ibuku RosmayatI
Tak lupa untuk sahabat-sahabatku, kakanda-adinda terhebat Teknik Industri, dan yang lainnya yanG
Tak kusebut namanya. Terimakasih yang sebesar-besarnya atas segala dukungan, bantuan daN
Pelajaran yang kalian berikan sehingga skripsi ini dapat selesai dengan baik. KeluargA
Besar Jurusan Teknik Industri UIN SUSKA RIAU terkhususnya TekniK
Industri Angkatan 2014 kelas D, semoga kita bisa lulus semuA
Bersama. Terimakasih atas dukungannyA
PENGUKURAN KINERJA PERUSAHAAN DENGAN
METODE INTEGRATED PERFORMANCE MEASUREMENT
SYSTEMS (STUDI KASUS PT. SEJAHTERA PANCA JAYA
PEKANBARU)
DENILAH YANI
11452201592
ABSTRAK
PT. Sejahtera Panca Jaya adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang vulkanisir ban.
Perkembangan industri vulkanisir ban memunculkan persaingan yang cukup ketat diantara
vulkanisir ban khususnya di Pekanbaru. Selama ini perusahaan mengalami kesulitan dalam
mencapai target produksi, kesulitan yang dialami perusahaan disebabkan oleh proses produksi
yang dilakukan tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh serta buruknya pengelolaan
manajemen keuangan perusahaan. Selama ini perusahaan belum pernah melakukan pengukuran
kinerja secara terintegrasi. Pengukuran kinerja sangat penting bagi perusahaan, dapat membantu
perusahaan untuk mengetahui tingkat performansi kerja yang baik. Untuk era sekarang, cara
terbaik untuk mengukur kinerja adalah dengan memppertimbangkan stakeholder perusahaan dan
mengidentifikasi kebutuhan stakeholder. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan
stakeholder, memberikan usulan dan meningkatkan kinerja perusahaan dengan menerapkan
metode IPMS yang dikombinasikan dengan AHP. Hasil dari pengukuran kinerja diperoleh
sebanyak 18 KPI yang telah teridentifikasi, terdapat 4 KPI yang diambil dari setiap stakeholder
dengan nilai bobot tertinggi. KPI dengan nilai bobot tertinggi akan diberikan usulan perbaikan.
Dengan dilakukan perbaikan terhadap indikator diharapkan dapat meningkatkan kinerja
perusahaan kedepannya.
DENILAH YANI
11452201592
ABSTRACT
PT. Sejahtera Panca Jaya is a company engaged in tire retreading. The development of the tire
retreading industry has given rise to stiff competition among tire retreaders, especially in
Pekanbaru. During this time the company has difficulty in achieving production targets, the
difficulties experienced by the company are caused by the production process that is carried out
isn’t proportional to the income earned and poor management of the company’s financial
management. So far the company has never carried out integrated performance measurements.
Performance measurement is very important for the company, can help the company to know the
level of good work performance. For the current era, the best way to measure performance is by
considering company stakeholders and identifying stakeholder needs. The result of performance
measurements obtained as many as 18 KPI have been identified, there are 4 KPI taken from each
stakeholder with the highest weight value. KPI with the highest weight value will be given a
proposed improvement. By making improvements to the indicators expected to improve the
company’s performance going forward.
(Denilah Yani)
x
DAFTAR ISI
Halaman
COVER ...................................................................................................... i
LEMBAR PERSETUJUAN ...................................................................... ii
LEMBAR PENGESAHAN ....................................................................... iii
LEMBAR HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL ........................ iv
LEMBAR PERNYATAAN ....................................................................... v
LEMBAR PERSEMBAHAN .................................................................... vi
ABSTRAK ................................................................................................ vii
ABSTRACT ................................................................................................ viii
KATA PENGANTAR ............................................................................... ix
DAFTAR ISI ............................................................................................. xi
DAFTAR GAMBAR ................................................................................ xiv
DAFTAR TABEL ..................................................................................... xvi
DAFTAR RUMUS .................................................................................... xvii
DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. xviii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ....................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................. 7
1.3 Batasan Masalah ................................................................... 8
1.4 Tujuan Penelitian .................................................................. 8
1.5 Manfaat Penelitian ................................................................. 8
1.6 Posisi Penelitian ..................................................................... 9
xii
3.11 Kesimpulan dan Saran .......................................................... 43
xiii
[Link] Pembobotan Antar Sub Kriteria
Supplier ................................................ 70
4.2.10 Perhitungan Bobot Analitycal Hierarchy
Process Antar KPI Stakeholder
Pimpinan ...................................................... 71
4.2.11 Perhitungan Bobot Analitycal Hierarchy
Process Antar KPI Stakeholder
Pelanggan ...................................................... 76
4.2.12 Perhitungan Bobot Analitycal Hierarchy
Process Antar KPI Stakeholder
Karyawan ....................................................... 81
4.2.13 Perhitungan Bobot Analitycal Hierarchy
Process Antar KPI Stakeholder
Suupplier ........................................................ 83
4.2.14 Perhitungan Bobot Total Key Performance
Indicators (KPI) ........................................... 90
BAB V ANALISA
5.1 Analisis Identifikasi Level Bisnis ............................................ 93
5.2 Analisa Identifikasi Requirement (Kebutuhan atau
keinginan) Stakeholder........................................................... 93
5.3 Analisa Identifikasi Eksternal Monitor.................................... 94
5.4 Analisa Identifikasi Objectives Bisnis dan Validasi,
Spesifikasi KPI ....................................................................... 94
5.5 Analisa Perhitungan Bobot KPI dengan Menggunakan
Metode Analitycal Hierarchy Process ................................. 94
5.6 Analisa Perhitungan Bobot Analitycal Hierarchy
Process antar KPI.................................................................. 95
5.7 Analisa Perhitungan Bobot Total Key Performance
Indicators (KPI) .................................................................... 98
5.8 Usulan Perbaikan .................................................................... 98
xiv
BAB VI PENUTUP
6.1 Kesimpulan ........................................................................... 100
6.2 Saran ...................................................................................... 102
xv
DAFTAR TABEL
Halaman
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Data Jumlah Produksi Januari 2016 – Desember 2018 ............ 2
1.2 Data Pendapatan PT. Sejahtera Panca Jaya
Tahun 2016-2018 ...................................................................... 5
1.3 Posisi Penelitian ....................................................................... 8
BAB V ANALISA
5.1 Permasalahan dan Usulan Perbaikan KPI ................................. 98
xii
DAFTAR GAMBAR
Halaman
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Grafik Produksi Ban PT. Sejahtera Panca Jaya .......................... 4
Halaman
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Rumus 2.1 Langkah 1 Menentukan besarnya bobot .................................. 29
Rumus 2.2 Langkah 2 Menentukan besarnya bobot ................................... 30
Rumus 2.3 Langkah 3 Menentukan besarnya bobot .................................. 30
Rumus 2.4 Perkalian Baris .......................................................................... 30
Rumus 2.5 Perhitungan Vektor Prioritas .................................................... 30
Rumus 2.6 Perhitungan Nilai Eigen Maksimum VA .................................. 30
Rumus 2.7 Menghitung Nilai Consistency Index ....................................... 30
Rumus 2.8 Menghitung Consistensy Ratio ................................................. 30
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
A. Kuesioner Penelitian ............................................................................. A-1
B. Surat Balasan Perusahaan …………………………………………… B-1
C. Dokumentasi …………………………………………………………. C-1
D. Jurnal Penelitian ……………………………………………………… D-1
BAB I
PENDAHULUAN
2
Tabel 1.1 Data Jumlah Produksi Januari 2016 – Desember 2018 (Lanjutan)
Target Jumlah
Tahun Bulan Keterangan
Produksi (Ban) Produksi (Ban)
Mei 1400 1159 Tidak Tercapai
Juni 1400 1205 Tidak Tercapai
Juli 1400 1207 Tidak Tercapai
Agustus 1400 1091 Tidak Tercapai
September 1400 1238 Tidak Tercapai
Oktober 1400 1570 Tercapai
November 1400 1335 Tidak Tercapai
Desember 1400 1269 Tidak Tercapai
Januari 1400 1125 Tidak Tercapai
Februari 1400 1432 Tercapai
Maret 1400 1213 Tidak Tercapai
April 1400 1246 Tidak Tercapai
Mei 1400 1297 Tidak Tercapai
2018 Juni 1400 803 Tidak Tercapai
Juli 1400 1211 Tidak Tercapai
Agustus 1400 1110 Tidak Tercapai
September 1400 1557 Tercapai
Oktober 1400 1302 Tidak Tercapai
November 1400 1178 Tidak Tercapai
Desember 1400 1272 Tidak Tercapai
(Sumber: PT. Sejahtera Panca Jaya , 2019)
Kesulitan PT. Sejahtera Panca Jaya dalam mencapai target produksi dapat
disebabkan oleh beberapa faktor yaittu salah satunya disebabkan oleh kondisi
manajemen. Terlihat pada Tabel 1.1 tidak tercapainya pemenuhan target produksi
disebabkan ketidaksanggupan karyawan dalam mencapai target produksi
diakibatkan oleh keterlambatan karyawan dalam memulai pekerjaan. Karyawan
yang kurang disiplin, seharusnya jam kerja dimulai dari jam 08.00 – 16.00 WIB
tetapi karyawan mulai bekerja tidak tepat waktu, karyawan lebih sering memulai
pekerjaan pada jam 09.00 WIB. Tidak mematuhi peraturan yang telah ditetapkan
menyebabkan tidak efektifnya jam kerja yang dimiliki oleh karyawan vulkanisir.
Jumlah produksi vulkanisir ban di PT. Sejahtera Panca Jaya dapat dilihat lebih
jelas pada Gambar 1.1..
3
Grafik Produksi Vulkanisir Ban
1800
1600
1400
1200
1000
800
600
400
200
0
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35
Dari Gambar 1.1, terlihat bahwa produksi ban oleh PT. Sejahtera Panca
Jaya banyak tidak mencapai target sehingga dapat dihitung pada Tahun 2016,
2017 dan tahun 2018 hanya tercapai 6 kali. Yaitu pada Tahun 2016 pada bulan
April, Agustus dan November. Tahun 2017 pada bulan Oktober dan Tahun 2018
pada bulan Februari dan bulan September. Target produksi untuk setiap tahunnya
selalu berjumlah 1400 ban/bulan. Berdasarkan Gambar 1.1 Grafik produksi
vulkanisir dapat dilihat turun naik (berfluktuasi) bahkan terjadi penurunan
produksi yang sangat drastis. Penurunan target produksi ini terjadi karena
beberapa hal, diantaranya ban yang sudah selesai dikerjakan masih ada yang
belum dijemput langsung oleh distributor (pelanggan). Bahkan keterlambatan
dalam menjemput ban yang telah selesai ini molor dalam 1 (satu) hingga 3 (tiga)
bulan. Molor ini menyebabkan tidak semua ban yang digunakan pelanggan datang
kembali ke vulkanisir. 2 hal yang menyebabkan ban yang sudah selesai
dikerjakan belum dijemput oleh pelanggan yaitu, pertama pelanggan belum
menjual semua ban yang ada ditempatnya. Ban milik pelanggan yang belum
habis terjual semua, sehingga pelanggan belum bisa menjemput ban baru yang ada
di vulkanisir. Kedua, adanya hutang pelanggan kepada perusahaan yang
menyebabkan perusahaan belum mau memberikan ban yang sudah selesai mereka
kerjakan kepada pelanggan. Ban baru yang sudah divulkanisir akan di berikan
4
kepada pelanggan apabila pelanggan sudah melunasi hutangnya dahulu kepada
perusahaan. Kejadian ini menyebabkan perusahaan sulit untuk mencapai
pendapatan yang telah perusahaan tetapkan.
Hal ini menyebabkan pendapatan perusahaan juga tidak tercapai . Hal ini
dapat dilihat pada Tabel 1.2 dibawah ini:
Tabel 1.2 Data Pendapatan PT. Sejahtera Panca Jaya Tahun 2016 - 2018
Tahun Bulan Target Jumlah Keterangan
Pendapatan Pendapatan
(Rp)
Januari 150,000,000 127,800,000 Tidak Tercapai
Februari 150,000,000 102,000,000 Tidak Tercapai
Maret 150,000,000 120,000,000 Tidak Tercapai
April 150,000,000 165,500,000 Tercapai
Mei 150,000,000 98,000,000 Tidak Tercapai
2016 Juni 150,000,000 130,000,000 Tidak Tercapai
Juli 150,000,000 135,000,000 Tidak Tercapai
Agustus 150,000,000 137,000,000 Tidak Tercapai
September 150,000,000 140,000,000 Tidak Tercapai
Oktober 150,000,000 122,000,000 Tidak Tercapai
November 150,000,000 170,000,000 Tercapai
Desember 150,000,000 118,800,000 Tidak Tercapai
2017 Januari 150,000,000 150,500,000 Tidak Tercapai
Februari 150,000,000 135,000,000 Tidak Tercapai
Maret 150,000,000 145,000,000 Tidak Tercapai
April 150,000,000 100,500,000 Tidak Tercapai
Mei 150,000,000 141,500,000 Tidak Tercapai
Juni 150,000,000 125,000,000 Tidak Tercapai
Juli 150,000,000 120,000,000 Tidak Tercapai
Agustus 150,000,000 108,500,000 Tidak Tercapai
September 150,000,000 125,000,000 Tidak Tercapai
Oktober 150,000,000 170,200,000 Tercapai
November 150,000,000 140,000,000 Tidak Tercapai
Desember 150,000,000 128,500,000 Tidak Tercapai
(Sumber: PT. Sejahtera Panca Jaya , 2019)
5
Tabel 1.2 Data Pendapatan PT. Sejahtera Panca Jaya Tahun 2016 - 2018
Tahun Bulan Target Jumlah Keterangan
Pendapatan Pendapatan
(Rp)
2018 Januari 150,000,000 159,020,000 Tercapai
Februari 150,000,000 115,600,000 Tidak Tercapai
Maret 150,000,000 133,780,000 Tidak Tercapai
April 150,000,000 129,300,000 Tidak Tercapai
Mei 150,000,000 132,000,000 Tidak Tercapai
Juni 150,000,000 39,000,000 Tidak Tercapai
Juli 150,000,000 135,300,000 Tidak Tercapai
Agustus 150,000,000 139,000,000 Tidak Tercapai
September 150,000,000 173,800,000 Tercapai
Oktober 150,000,000 130,500,000 Tidak Tercapai
November 150,000,000 125,700,000 Tidak Tercapai
Desember 150,000,000 113,000,000 Tidak Tercapai
(Sumber: PT. Sejahtera Panca Jaya , 2019)
Berdasarkan data pada Tabel 1.2 terlihat bahwa perusahaan tidak dapat
memenuhi target pendapatan yang telah ditetapkan oleh perusahaan, dengan target
pendapatan perusahaan adalah sebesar Rp. 150.000.000,-/bulan. Tercapainya
target penjualan suatu produk adalah tujuan utama dalam menjalankan suatu
bisnis. Seperti halnya dengan PT. Sejahtera Panca Jaya, perusahaan selalu
berusaha dalam mencapai targetnya namun yang terjadi adalah sebaliknya.
Minimnya pencapaian target produksi menyebabkan pendapatan perusahaan juga
ikut menurun. Penyebab dari tidak tercapainya target penjualan salah satunya
adalah kurang matangnya perencanaan dalam hal finansial, hal ini terlihat pada
perusahaan selaku produsen yang tidak mampu menjalankan proses atau prosedur
perjanjian penjemputan barang yang telah selesai diproduksi. Ban yang
seharusnya selesai produksi harus langsung dijemput dan dibayar oleh pelanggan,
tetapi terdapat temuan adanya tumpukan ban yang sudah lama belum dijemput
oleh pelanggan. Ban yang telah selesai dikerjakan malah menumpuk di gudang
perusahaan, luas tumpukan ban yang terlihat adalah seluas 15m x 15 m dengan
banyak tumpukan sebanyak 200 hinggan 300 ban. Efek dari banyaknya tumpukan
ban yang disimpan di perusahaan ini adalah modal bahan baku yang sudah dipakai
6
pada ban yang sudah divulkanisir seharusnya sudah kembali lagi, tetapi tertahan
oleh pelanggan.
Dari permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan pengukuran kinerja
dengan pendekatan Integrated Performance Measurement Systems (IPMS),
penilaian kinerja yang baik haruslah terintegrasi untuk semua unit dan aktivitas di
PT. Sejahtera Panca Jaya, serta mencakup semua kebutuhan stakeholders. Jika
penilaian kinerja tidak dilakukan secara terintegrasi untuk semua unit dan
aktivitas, maka akan sulit untuk menentukan faktor-faktor penentu keberhasilan
dalam peningkatan kinerja. Metode IPMS adalah salah satu metode pengukuran
kinerja yang mendasarkan pada kebutuhan stakeholder. Salah satu tahapan dalam
IPMS adalah membobotkan indikator yang berpengaruh terhadap capaian kinerja.
IPMS merupakan suatu metode yang mengukur kinerja secara terintegrasi
dan berbasis pada keinginan skateholders. Objectives ditentukan untuk memenuhi
keinginan stakeholdes, sehingga akan dapat ditentukan key performance
indicators yang akan digunakan untuk mengukur keberhasilannya. Dalam sistem
pengukuran kinerja yang dirancang setiap KPI memiliki bobot yang berbeda
terhadap kinerja. Oleh karena itu, di dalam melakukan pembobotan untuk masing-
masing KPI dalam sistem pengukuran kinerja digunakan konsep Analytical
Hierarchy Process (AHP). AHP adalah prosedur yang berbasis matematis yang
sangat baik dan sesuai untuk kondisi evaluasi atribut-atribut kualitatif.
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk mengajukan
judul Tugas Akhir “ Pengukuran Kinerja Perusahaan dengan Metode
Integrated Performance Measurement Systems (IPMS) dan Analytical
Hierarchy Process (AHP) (Studi Kasus PT. Sejahtera Panca Jaya
Pekanbaru)”.
7
1.3 Batasan Masalah
Agar permasalahan tidak meluas pada penelitian ini, maka dibutuhkan
batasan masalah untuk dapat membuat pembahasan yang dilakukan tidak melebar
pada permasalahan yang lainnya. Adapaun batasan permasalahannya adalah
sebagai berikut:
1. Stakeholder perusahaan adalah pemilik, karyawan, pemasok dan
pelanggan.
2. Penelitian dilakukan dengan menggunakan data Tahun 2016 - 2 018.
3. Dalam penelitian ini penulis tidak membahas tentang biaya dan keuangan
perusahaan untuk menghindari kerahasiaan perusahaan.
8
1.6 Posisi Penelitian
Penelitian mengenai pengukuran kinerja telah dilakukan sebelumnya oleh
beberapa peniliti. Agar dalam penelitian ini tidak terjadi penyimpangan dan
penyalinan maka perlu ditampilkan posisi penelitian. Berikut adalah posisi
penelitian tugas akhir ini.
Tabel 1.3 Posisi Penelitian
Objek
Peneliti Judul Penelitian Tujuan Metode Tahun
Penelitian
Mengukur dan
Usulan Perbaikan menganalisa
Kinerja Perusahaan kinerja Globalindo
(KPI) dengan Intimates
PT.
Menggunakan berdasarkan hasil
Sugeng Globalindo Performance
Metode perancangan yang
Priyo Intimates Prism dan 2017
Performance Prism telah dilakukan
Wibowo Klaten Jawa OMAX
dan Metode OMAX kemudian
Tengah
di PT. Globalindo merekomendasika
Intimates Klaten n usulan
Jawa Tengah perbaikan kinerja
perusahaan
Analisis
Pengukuran Kinerja
SMP Dakwah Untuk mengetahui
Pekanbaru pencapaian kinerja
SMP
Hafizh Menggunakan pada organisasi
Dakwah IPMS 2017
Kurnia Metode Integrated pendidikan
Pekanbaru
khususnya dalam
Performance
lingkup sekolah
Measurement
Systems
Denilah Pengukuran Kinerja Untuk PT. Sejahtera IPMS dan 2019
Yani Perusahaan dengan Menentukan key Panca Jaya AHP
menggunakan performance Pekanbaru
Integrated indicators yang
Performance bisa digunakan
Measurement untuk mengukur
Systems dan kinerja perusahaan
Analytical secara
menyeluruh.
Hierarchy
Process (AHP) di
PT. Sejahtera
Panca Jaya
9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kinerja
Pengertian dari kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan
kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai
dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Faktor yang mempengaruhi
pencapaian kinerja adalah faktor kemampuan (ability) dan faktor motivasi
(motivation). Kriteria keberhasilan ini bisa berupa tujua atau target yang ingin
dicapai. Tanpa adanya sebuah tujuan atau target, kinerja seseorang tidak akan bisa
diketahui seberapa besarnya karena tidak adanya tolak ukur (Wibowo, 2017).
12
Segmen proses penilaian kinerja ini berhubungan dengan keahlian
karyawan. Tugas utama dalam sebuah kepemimpinan adalah untuk
mengembangkan kemampuan karyawan sehingga menciptakan
karyawan yang berkualitas yang menghargai kepemimpinan itu.
3) Kepuasan karyawan
Kepuasan karyawan merupakan elemen kunci dalam perbaikan
kinerja. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan karyawan
adalah sebagai berikut:
a. Keanekaragaman
b. Perkembangan
c. Pembelajaran
d. Partisipasi
e. Pengakuan
f. Keamanan
4) Keputusan Kompensasi
Dengan selalu mengaitkan kompensasi karyawan dengan hasil-hasil
yang dikuantifikasikan dan dengan memastikan bahwa para
karyawan dapat menelusuri kemajuan mereka akan dapat memacu
motivasi. Hal ini dikarenakan sangat sulit untuk tetap bermotivasi
jika penghargaannya tidak jelas.
5) Komunikasi
Dengan adanya komunikasi yang jelas antara karyawan dan
pimpinan maka akan memungkinkan melakukan evaluasi kinerja
secara bersama-sama. Dan hal ini merupakan jaring pengaman baik
pimpinan maupun karyawan tidak akan terkejut dalam penilaian
kinerja selanjutnya.
13
hasil atau prestasi yang dipengaruhi oleh kegiatan operasional perusahaan dalam
memanfaatkan sumber daya – sumber daya yang dimiliki.
14
Hasil yang diperoleh pada tahap evaluasi kemudian ditindaklanjuti
dengan menentukan indikator-indikator mana saja yang menunjukkan
kinerja yang sudah baik dan indikator-indikator mana saja yang masih
menunjukkan kinerja yang buruk.
5. Mengevaluasi kembali
Tahap selanjutnya adalah mengevaluasi kembali apakah
sistempengukuran kinerja yang telah disusun dan diterapkan tersebut
telah sesuai atau belum dengan kebutuhan perusahaan. Sistem tersebut
juga dievaluasi kembali apakah sudah dapat mencerminkan kinerja
perusahaan yang sesungguhnya atau belum.
15
3. Mengidentifikasikan kebuthan pelatihan dan pengembangan karyawan dan
untuk menyediakan kriteria seleksi dan evaluasi program pelatihan
karyawan.
4. Menyediakan umpan balik bagi karyawan mengenai bagaimana atasan
mereka menilai kinerja mereka
5. Menyediakan suatu dasar bagi distribusi penghargaan.
6. Penghargaan digolongkan dalam dua (2) kelompok, yaitu: penghargaan
intrinsik dan penghargaan ekstrinsik.
16
4) Membangun total organisasi, individu departemen dan individual team
sangat penting bagi perusahaan atau organisasi untuk paling tidak
mengidentifikasi KPI nya.
Kunci untuk mengidentifikasi suatu KPI adalah:
a. Menganalisa atau mendefinisikan proses bisnis
b. Mengetahui dengan jelas goals (tujuan-tujuan) atau performansi
yang diharapkan untuk proses bisnisnya.
c. Memiliki pengukuran kuantitatif dan kualitatif
d. Menginvestigasikan variasi dan mengambil proses-proses atau
sumber daya untuk memperoleh tujuan-tujuan pendek.
17
menerjemahkan beberapa komponen dasar yang meliputi ukuran kinerja,
pengukuran kinerja dan sistem pengukuran kinerja. Ketidaktepatan ini dapat
menimbulkan ketidak-optimalan bahkan kesalahan dalam pengambilan keputusan
(Hendrastuti, 2011).
Integrated Performance Measurement Syistem (IPMS) merupakan metode
pengukuran kinerja yang terintegrasi yaitu mengukur kinerja suatu perusahaan
yang dilakukan secara top-down dengan memperhatikan kebutuhan dari setiap
stakeholdernya dan tetap memonitor posisi perusahaan terhadap pesaingnya. IPMS
merupakan sistem pengukuran kinerja yang dibuat di Centre for Statistic
Manufacturing University of Stratchlcle, Glasgow. Tujuannya yaitu untuk
mendeskripsikan bentuk pengukuran kinerja dalam arti yang tepat, untegrasi,
efektif dan efisien. Untuk mencapai tujuan tersebut, secara garis besar
dideskripsikan menjadi dua (2) kegiatan utama, yakni:
1) Pendeskripsian komponen pokok dari sistem pengukuran kinerja
2) Membuat garis arahan pengukuran kinerja terbaik yang sebaiknya
digunakan.
Sebagai salah satu metode yang digunakan dalam pengukuran kinerja, IPMS
memiliki ciri-ciri sebaga berikut (Winarni, 2012):
1) Menyusun seluruh tugas dan aktivitas perusahaan sesuai dengan tujuan
kritis level atas.
2) Memberikan kendali bisnis pada semua bagian dalam perusahaan,
searah dengan strategi bisnis yang dimiliki.
3) Melakukan program perbaikan yang searah dengan strategi bisnis
perusahaan.
Model IPMS membagi level bisnis suatu oragnisasi menjadi empat (4)
level, yaitu bisnis induk, Unit bisnis, Proses bisnis dan aktivitas bisnis. Sehingga
perancangan sistem penilaian kinerja dengan model IPMS harus mengikuti
tahapan-tahapan. Performance Measurement Systems:
18
Bisnis Induk
Unit Bisnis
Proses Bisnis
Aktivitas
19
Kriteria Kompetitif dan Pembandingan. Definisi kunci kompetitif
faktor dan posisi Bisnis dan Unit Bisnis dalam daya saingnya
lingkungan Hidup.
Orientasi Proses. Berfokus pada proses bisnis utama untuk
mengelola bisnis kinerja.
Perencanaan Normatif. Metodologi pengukuran yang membedakan
antara Aktualitas, Kemampuan dan Potensi.
Stakeholders
External Monitor
Objectives
Aktivitas
20
Penjelasan dari setiap elemen-elemennya dapat dilihat di bawah ini.
1. Stakeholders
Stakeholders adalah pihak-pihak yang berkepentingan pada suatu
perusahaan, antara lain pemegang saham, pemilik bisnis, pegawai atau
karyawan, pelanggan, pemasok dan masyarakat. Dalam Integrated
Performance Measurement Systems, dilakukan identifikasi stakeholder,
kemudian diidentifikasi juga apa yang menjadi keinginan dari tiap-tiap
stakeholder terhadap bisnis perusahaan.
2. Eternal Monitor
Perusahaan harus mengetahui posisinya terhadap pesaingnya untuk
mengetahui perkembangan kebutuhan dari bisnis. Posisi persaingan dapat
ditunjukkan dengan penjelasan dari stakeholder requirement.
3. Objectives
Objectives atau tujuan dalam penyusunannya didasarkan atas kebutuhan
dengan target dan skala waktu yang tepat. Tujuan didasarkan pada
kebutuhan stakeholder.
4. Performance Measure
Pengukuran kinerja dalam suatu perusahaan adalah suatu hal penting yang
harus dilakukan, sehingga perusahaan dapat mengetahui sejauh mana
pencapaian tujuannya.
21
7. Pembobotan KPI.
Tujuan dari model IPMS, agar sistem pengukuran kinerja lebih akurat,
terintegrasi, efektif dan efisien. Berbeda dengan model lainnya, model ini
menjadikan keinginan stakeholder menjadi titik awal dalam melakukan
perancangan sistem pengukuran kinerjanya. Peranan stakeholder tidak hanya
pemegang saham, melainkan beberapa pihak yang memilki kepentingan atau
dipentingkan oleh organisasi seperti konsumen, karyawan, pemasok dan lain-lain.
Faktor orientasi organisasi yang utama adalah ada atau tidaknya visi, misi, strategi,
jumlah stakeholder yang mempengaruhi dan jumlah bahkan jenis produk yang
dimiliki yaitu faktor yang menjadi landasan untuk mengkomparasikan faktor
kondisi objektif dengan model IPMS.
2.5 Stakeholder
Stakeholder adalah sekelompok orang yang berperan penting dalam suatu
perushaan disamping merupakan pihak yang menerima dan menggunakan barang
dan jasa yang diproduksi oleh sebuah perusahaan.
Stakeholder merupakan pihak-pihak yang mempunyai kepentingan dan
hubungan, baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap suatu organisasi.
Pada tiap-tiap level bisnis harus diketahui siapa saja Stakeholder-nya atau
pemangku kepentingan pada bisni tersebut. Selanjutnya diidentifikasikan
permintaan atau keinginan mereka terhadap bisnis yang diistilahkan dengan
kebutuhan stakeholder (Hendrastuti, 2011).
Tabel 2.1 Stakeholder wants and needs
Stakeholder Satisfication Stakeholder Stakeholder
(Stakeholder Wants and needs) Contribustion
Murah, cepat, tepat murah Konsumen Kepercayaan, loyalitas,
pprofit dan keuntungan
Kesejahteraan, penggajian, Karyawan Semangat, pemikiran,
jenjang karir, peningkatan pendapat, motivasi,
keterampilan, budaya kerja yang kemampuan,
kondusif peningkatan kerja
Pengembalian, kepercayaan, Shareholder Modal, kepercayaan,
keuntungan network
Keuntungan, kesatuan, Pemasok Murah, cepat, tepat,
kepercayaan mudah
(Sumber: Hendrastuti, 2011)
22
Tabel 2.1 Stakeholder wants and needs (Lanjutan)
Stakeholder Satisfication Stakeholder Stakeholder
(Stakeholder Wants and needs) Contribustion
Bantuan sosial, lowongan kerja, Masyarakat Memperkuat citrabaik
ramah lingkungan dan brand, kepercayaan
Legal, kontribusi pajak Pemerintah Kebijakan, Kejelasan,
pertimbangan dan
nasehat
(Sumber: Hendrastuti, 2011)
23
5. Masyarakat
Masyarakat adalah lingkungan kerja suatu perusahaan dimana meliputi
pihak-pihak yang berhubungan secara langsung maupun tidak langsung dari
perusahaan.
Stakeholder adalah pihak-pihak yang berkepentingan pada perusahaan yang
dapat mempengaruhi atau dapat dipengaruhi oleh aktivitas perusahaan.
Kelangsungan hidup perusahaan bergantung pada dukungan stakeholder dan
dukungan tersebut harus dicari sehingga aktivitas perusahaan adalah untuk mencari
dukungan tersebut. Makin powerful stakeholder, makin besar usaha perusahaan
untuk beradaptasi. Pengungkaan sosial dianggap sebagian dari dialog antara
perusahaan dengan stakeholder-nya (Anita, 2012).
Pembagian Stakeholders terdiri dari (Anita, 2012):
1) Stakeholders Internal dan Stakeholders Eksternal
Stakeholders internal adalah stakeholders yang berada di dalam lingkungan
organisasi. Misalnya karyawan, manajer dan pemegang saham
(Shareholder). Sedangkan stakeholders eksternal adalah stakeholders yang
berada di luar lingkungan organisasi, seperti penyalur atau pemasok,
konsumen atau pelanggan, masyarakat dan pemerintah.
2) Stakeholders Primer, Sekunder dan Marjinal
Tidak semua elemen dalam stakeholders perlu diperhatikan. Perusahaan
perlu menyusun skala prioritas. Stakeholders yang paling penting disebut
stakeholder sekunder dan yang biasa diabaikan disebut stakeholders
marjinal.
3) Stakeholders Tradisional dan Stakeholders
Karyawan dan konsumen dapat disebut sebagai stakeholders tradisional,
karena saat ini sudah berhubungan dengan organisasi. Sedangkan
stakeholders mada depan adalah stakeholders pada masa yang akan datang
diperkirakan akan memberikan pengaruhnya pada oragnisasi seperti
mahasiswa, peneliti dan konsumen potensial.
4) Proponents, Opponents dan Uncommited
Diantara stakeholders ada kelompok yang memihak organisasi, menentang
organisasi da nada yang tidak peduli atau abai. Organisasi perlu mengenal
stakeholders yang berbeda-beda ini agar dapat melihat permasalahan,
24
menyusun rencana dan strategi untuk melakukan tindakan yang
proposional.
5) Silent Majority dan Vokal Minority
Dilihat dari aktivitas stakeholders dalam melakukan complain atau
mendukung perusahaan, tentu ada yang menyataka pertentangan atau
dukungannya secara aktif namun ada pula yang menyatakan secara pasif.
25
2.6 Analytical Hierarchy Process (AHP)
Pembobotan KPI dapat dilakukan dengan beberapa metode, diantaranya
adalah dengan Analytical Hierarchy Process (AHP). Peralatan utama proses
Analisis Hierarki adala sebuah hirarki fungsional dengan input utamanya persepsi
manusia. Dalam penjabaran hirarki tujuan, tidak ada pedoman yang pasti seberapa
jauh pengambilan keputusan menjabarkan tujuan menjadi yang lebih rendah
(Febriarso, 2008).
Proses Hierarki Analitik (AHP) dikembangkan oleh Dr. Thomas L. Saaty
dari Wharton School of Business pada tahun 1970-an untuk mengorganisasikan
informasi dan judgment dalam memilih alternatif yang paling disukai. Dengan
menggunakan AHP, suatu persoalan yang akan dipecahkan dalam suatu kerangka
berpikir yang terorganisir, sehingga memungkinkan dapat diekspresikan untuk
mengambil keputusan yang efektiv atas persoalan tersebut (Marimin, 2015).
AHP bekerja dengan melakukan penyederhanaan terhadap permasalahan
yang rumit dan tidak terstruktur, stratejik, dan dinamik menjadi bagian-bagiannya,
serta menata dalam suatu struktur. Kemudian tingkat kepentingan setiap variabel
diberi nilai numerik secara subjektif tentang arti penting variabel tersebut secara
relatif dibandingkan dengan variabel yang lain. Dari berbagai pertimbangan
tersebut kemudian dilakukan sintesa untuk menetapkan variabel yang memiliki
prioritas tinggi dan berperan untuk mempengaruhi hasil pada sistem tersebut
(Marimin, 2015).
Beberapa keuntungan yang diperoleh dalam penerapanAHP, antara lain
adalah sebagai berikut (Febriarso, 2008):
1. Sifatnya fleksibel, menyebabkan penambahan dan pengurangan kriteria
pada suatu hiraki dapat dilakukan dengan mudah dan tidak mengacaukan
atau merusak hirarki.
2. Dapat memasukkan preferensi pribadi sekaligus mengakomodasi berbagai
kepentingan pihak lain sehingga diperoleh penilaian yang objektif dan
tidak sektoral.
3. Proses perhitungannya relative mudah karena hanya membutuhkan operasi
dan logika sederhana.
4. Dengan cepat dapat menunjukkan prioritas, dominasi, tingkat kepentingan
ataupun pengaruh dari setiap elemen terhadap elemen lainnya.
27
Nilai perbandingan A dengan B adalah 1 dibagi dengan nilai perbandingan
B dengan A.
3. Penentuan Prioritas Kepentingan
Untuk setiap kriteria dan alternatif, harus dilakukan perbandingan
berpasangan tiap-tiap elemen. Nilai perbandingan selanjutnya akan diolah
untuk menentukan peringkat relatif dari seluruh alternatif. Baik kriteria
kualitatif, maupun kritera kuantitatif dapat dibandingkan sesuai dengan
judgement yang telah ditentukan untuk mengahsilakn bobot dan prioritas.
Bobot atau prioritas dihitung dengan perhitungan matrik atau dengan
perhitungan matematik.
4. Konsistensi Logis
Semua elemen indikator dikelompokkan secara logis dan disusun sesuai
peringkat secara konsisten dengan sesuatu kriteria yang logis.
28
Tabel 2.4 Intensitas Kepentingan pada Kuesioner
Intensitas Pentingnya Defenisi
1 Kedua elemen yang sama pentingnya
3 Elemen yang satu sedikit lebih penting
ketimbang yang lainnya
5 Elemen yang satu sangat penting ketimbang
yang lainnya
7 Satu elemen jelas leih penting dari elemen
yang lainnya
9 Satu elemen mutlak lebih penting ketimbang
elemen yang lainnya
2,4,6,8 Nilai-nilai antara dua pertimbangan yang
berdekatan
(Sumber: Aprianto dkk, 2014)
4. Melakukan perbandingan berasangan sehingga diperoleh judgement
seleuruhnya sebanyak n x [(n-1/2] buah. Dengan n adalah banyaknya
jumlah elemen yang dibandingkan.
5. Menghitung nilai eigen dan menguji konsistensinya, jika tidak konsisten
maka pengambilan data diulangi
6. Mengulangi langkah 3,4,dan 5 untuk seluruh tingkat hiraki
7. Menghitung vector eigen untuk setiap matrik perbandingan berpasangan.
Nilai vector eigen merupakan bobot setiap elemen. Langkah ini untuk
mensisntesiskan judgement dalam menentukan prioritas elemen-elemen
pada tingkat hirarki terendah sampai pencapaian tujuan
8. Memeriksa inkonsistensi hirarki. Jika nilainya lebih dari 10% maka
penilaian data judgement harus diperbaiki
29
2. Langkah 2:
wi = aij wj (i,j = 1,2,...,n) (2.2)
3. Langkah 3:
∑ (2.3)
√∏ (2.4)
√∏
eVP adalah elemen vektor prioritas ke-i (2.5)
∑ √∏
∑ untuk i = 1,2,...,n
VA = VB = Vektor antara
CR = (2.8)
30
Tabel 2.5 Daftar Indeks Random Consistency (RI)
N 1,2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
RI 0,00 0,58 0,90 1,12 1,24 1,32 1,41 1,45 1,49 1,51 1,48 1,46 1,57 1,58
(Sumber: Marimin, 2015)
J l ≤ 0. d p t d t tr p rb d g
berpasangan dikatakan baik.
31
2. Stratifed Random Sampling
Dalam pengambilan sampel pada teknik sampling ini, populasi dibatasi
menjadi beberapa lapisan atau strata, dan kemudian diambil contoh acak
sederhana dari setiap lapisan. Keseluruhan contoh acak sederhana dari
semua lapisan itu menyusun sampel acak berlapis. Dalam pengambilan
sampel acak berlapis, populasi yang dibatasi itu harus relative homogen
dalam setiap lapisan. Misalnya untuk meneliti pendapatan guru di suatu
kota mungkin akan lebih baik bila populasinya dibatasi menurut
spesialisasi dan kemudian dalam setiap spesialisasi diambil contoh acak
sederhana. Dengan demikian, diharapkan bahwa keragaman pendapatan
dalam setiap spesialisasi itu jauh lebih kecil daripada keragaman
pendapatan dalam seluruh populasi.
3. Cluster Sampling
Teknik pengambilan sampel ini, mengambil beberapa kelompok secara
acak dari populasi dan mengambilan semua atau sebagian unsur yang
dipilih secara acak dari seiap kelompok yang terpilih untuk dijadikan
sampel. Pengambilan sampel kelompok lebih efisien dalam biaya bila
populasinya tersebar luas. Misalnya dalam suatu penelitian mengenai
kebiasaan merokok suatu kecamata, akan jauh lebih murah biaya yang
dikeluarkan bila mewawancarai dan mengumpulkan data dari orang-rang
yang tinggal relative berdekatan dalam daerah yang terambil secara acak,
daripada mengambil contoh acak sederhana dari seluruh orang di
kecamatan tersebut.
4. Systematic Sampling
Teknik ini memiliki konsep hanya individu pertama yang terpilih secara
acak sedangkan individu lain dipilih menurut pola tertentu. Individu yang
berikutnya ditarik dengan interval sampel total populasi dibagi dengan
jumlah sampel yang ingin diambil.
32
2.7.2 Nonprobability Sampling
Nonprobability Sampling adalah teknik pengambilan sampel dimana tidak
semua unsur didalam populasi mempunyai peluang yang sama untuk tertarik
sebagai sampel. Pengambilan sampel secara Nonprobability Sampling terdiri atas:
1. Accidental Sampling
Teknik ini mengambil sampel berdasarkan pada orang yang pertama kali
dijumpai oleh pengambil sampel.
2. Purposive Sampling
Teknik ini mengambil sampel dimana sampel tersebt dipilih berdasarkan
kriteria-kriteria tertentu yang diinginkan oleh pengambil sampel.
3. Snowball Sampling
Teknik ini mengambil sampel berdasarkan konsep bola salju dimana
sampel diperoleh berdasarkan suatu informasi dari seorang individu
terhadap indivisu lain.
4. Quota Sampling
Teknik ini mengambil sampel yang ditentukan oleh si pengumpul data dan
sebelumnya telah ditentukan jumlah yang akan diambil. Jika jumlah
tersebut sudah dicapai, si pengumpul data berhenti melakukan
pengambilan data, selanjutnya hasil itu dipresentasikan.
33
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Mulai
Studi Pendahuluan
1. Wawancara
2. Observasi
Studi Literatur
Identifikasi Masalah
Perumusan Masalah
Penetapan Tujuan
Variabel Penelitian
Pengumpulan Data
1. Pengumpulan Data Primer
Identifikasi stakeholder perusahaan
Identifikasi kebutuhan stakeholder
Identifikasi external monitor
Identifikasi objectives
Identifikasi Key Performance Indicators (KPI)
Pengolahan Data
1. Penentuan level bisnis perusahaan.
2. Penentuan stakeholder perusahaan.
3. Identifikasi stakeholder requirement.
4. Identifikasi stakeholder monitor.
5. Identifikasi objectives.
6. Penentuan Key Performance Indicators (KPI)
7. Penyusunan hierarki kinerja.
8. Validasi dan spesifikasi Key Performance Indicators (KPI)
9. Pembobotan KPI dengan metode Analytical Hierarchy
Process (AHP).
34
A
Tidak
Validasi KPI
YA
Perhitungan AHP
1. Perbandingan berpasangan antar KPI
2. Menghitung rasio konsistensi
3. Pembobotan pada setiap KPI
Analisa Hasil
Selesai
35
3.4 Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah adalah rangkaian kegiatan untuk menjabarkan
permasalahan-permasalahan sebagai tolak ukur dalam melakukan penelitian yang
dilakukan di PT. Sejahtera Panca Jaya–Pekanbaru.
36
3.6.2 Variabel Terikat
Variabel terikat adalah variabel yang nilainya dipengaruhi atau ditentukan
oleh nilai variabel lain. Variabel teriikat dalam penelitian ini adalah variabel
kinerja perusahaan. Dengan diketahuinya kebutuhan dari para stakeholder
menggunakan Integrated Performance Measurement System diharapkan dapat
memperbaiki serta meningkatkan kinerja perusahaan.
37
3) Kuesioner 3 : Berisikan indikator kinerja yang diperoleh dari
kuesioner 1 dan 2. Pada kuesioner ini menggunakan metode AHP yang
bertujuan untuk mengetahui tingkat kepentingan dari perusahaan.
38
perusahaan yang terdiri dari pelanggan,karyawan, pimpinan dan
supplier. Populasi dalam penelitian yang terdapat pada PT. Sejahtera
Panca Jaya dengan jumlah 16 karyawan.
2) Sampel
Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek
penelitian yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi sampel
penelitian. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 4
orang. Teknik sampling yang digunakan dalam menentukan
responden adalah nonprobability sampling dengan penarikan sampel
dilakukan dengan metode purposive sampling dikarenakan sampel
yang diambil adalah orang-orang tertentu sebagai sumber data. Untuk
kuesioner terbuka jumlah sampel yang diambil yaitu pimpinan
berjumlah 1 orang, pelanggan berjumlah 1 orang, supplier berjumlah 1
orang, karyawan berjumlah 2 orang dengan total 4 responden. Sampel
yang dipilih sebagai responden untuk kuesioner tertutup adalah
pengambil keputusan di perusahaan yaitu pimpinan yang berjumlah 1
orang
39
a. Bisnis Induk
Level bisnis induk untuk pengukuran kinerja adalah PT. Sejahtera
Panca Jaya Pekanbaru
b. Unit Bisnis
Level unit bisnis untuk pengukuran kinerja adalah seluruh departemen
yang terdapat pada PT. Sejahtera Panca Jaya. Departemen tersebut
terdiri dari departemen pemeriksaan, filling, enveloping dan finishing.
c. Proses Bisnis
Level proses bisnis untuk pengukuran kinerja PT. sejahtera Panca Jaya
Pekanbaru adalah pimpinan, karyawan, pelanggan dan supplier.
d. Aktivitas
Level aktivitas untuk pengukuran kinerja adalah seluruh aktivitas –
aktivitas yang berkaitan langsung dengan PT. Sejahtera Panca Jaya
Pekanbaru.
Adapun pembagian level organisasi pada PT. Sejahtera Panca Jaya dapat
dilihat pada Gambar 3.2
40
Stakeholder yang terlibat dalam penelitian ini meliputi pimpinan,
pelanggan, karyawan dan supplier.
3. Identifikasi stakeholder requirement (kebutuhan)
Pada tahap ini bertujuan untuk menggali kebutuhan dari masing-masing
stakeholder yang telah ditetapkan sebelumnya. Untuk mengetahui
stakeholder kebutuhan dapat dilakukan dengan melakukan diskusi atau
wawancara terhadap pihak perusahaan.
4. Identifikasi External Monitor
Pada tahap ini bertujuan untuk mengetahui posisi PT. Sejahtera Panca
Jaya terhadap perusahaan pesaing sejenisnya, sehingga dapat mengetahui
kekurangan dan kelebihan perkembangan kebutuhan bisnisnya. Untuk
mengidentifikasi external monitor posisi PT. Sejahtera Panca Jaya
terhadap perusahaan pesaingnya dapat dilakukan dengan proses
perbandingan atau benchmarking.
5. Identifikasi Objectives
Pada tahap ini dilakukan berdasarkan stakeholder requirement yang
memiliki kemiripan, sehingga sapat digolongkan. Stakeholder
requirement yang telah ditentukan sebelumnya akan dikelompokkan
menjadi beberapa objectives yang lebih spesifik untuk meningkatkan
kinerja perusahaan. Penggolongan objectives ini dilakukan dengan
diskusi atau wawancara terhadap pihak perussahaan.
6. Penentuan Key Performance Indicators (KPI)
Pada tahap ini dilakukan sebagai ukuran untuk mengetahui tingkat
pencapaian masing-masing objectives berdasarkan masing-masing
requirement yang telah diidentifikasi sebelumnya.
7. Penyusunan Hierarki Kinerja
Pada tahap ini penyusunan hirarki kinerja dilakukan berdasarkan KPI yang
telah terbentuk dari stakeholder dan indikatornya masing-masing.
Penyusunannya hierarki kinerja ini bertujuan untuk mempermudah dalam
proses validasi atau pemerikaan KPI yang konflik, adapun penyusunan
hierarki kinerja terdiri dari tiga bagian yaitu:
41
a. Level Atas
Level teratas dari hirarki yang terbentuk adalah PT. Sejahtera Panca
Jaya Pekanbaru.
b. Level Bawah
Level bawah terdiri dari kriteria-kriteria stakeholder yang
mempengaruhi kinerja perusahaan. Kinerja tersebut adalah
pimpinan, karyawan, pelanggan dan supplier.
c. Level Terbawah
Level terbawah adalah KPI dari masing-masing kinerja pada level
atasnya.
8. Validasi dari Spesifikasi Key Performance Indicators (KPI)
a. Validasi KPI
Pada tahap ini dilakukan sebgai proses verifikasi atau pemeriksaan
dari pihak perusahaan untuk menilai apakah seluruh KPI yang telah
ditetapkan sebelumnya telah teridentifikasi dan dapat digunakan
dalam sistem pengukuran kinerja, sehingga dapat dipertanggung
jawabkan nilai kebenaran dan keakuratannya. Proses validasi dapat
dilakukan dengan memberikan daftar Key Performance Indicators
(KPI) berupa kuesioner terhadap pihak perusahaan.
b. Spesifikasi Key Performance Indicators (KPI)
Proses spesifikasi KPI ini dilakukan untuk mengetahui deskripsi
jelas tentang KPI yang terdiri dari tujuan, keterkaitan dengan
objectives, target perusahaan, formula atau cara mengukur KPI,
frekuensi pengukuran, dan sumber data.
9. Pembobotan KPI dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP)
Pada tahap ini dilakukan berdasarkan penyusunan hierarki kinerja
perusahaan dengan metode AHP.
42
3.10 Analisa Hasil
Berdasarkan hasil pengolahan data yang dilakukan, maka selanjutnya kita
dapat menganlisa lebih mendalam hasil pengolahan data tersebut. Analisis yang
dialkukan berdasarkan hasil yang diperoleh pada bab pengolahan data.
43
BAB V
ANALISA
94
rata geometrik. Nilai rata-rata geometrik digunakan sebagai hasil penilaian
kelompok dari nilai yang diperoleh dari banyaknya responden yaitu 4 orang
responden. Setelah diperoleh nilai rata-rata geometrik dari setiap stakeholder
maka selanjutnya menentukan nilai bobot parsial dari setiap stakeholder .
Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan diperoleh nilai bobot parsial
dari masing-masing stakeholder adalah sebagai berikut:
No Stakeholder Bobot
1 Pelanggan 0,274
2 Karyawan 0,308
3 Pimpinan 0,261
4 Supplier 0,157
(Sumber: Pengolahan Data, 2019)
95
1. Analisa Perhitungan Bobot AHP antar KPI stakeholder Pimpinan
Berdasarkan hasil perhitungan bobot parsial pada pengolahan
data,diperoleh bahwa nilai bobot parsial masing-masing KPI memiliki
tinggkat kepentingan yang berbeda-beda. Hal ini dapat dilihat dari
beragamnya nilai bobot yang dihasilkan. Semakin tinggi nilai bobot,
maka menunjukkan KPI tersebut semakin penting dan perlu
diperhatikan. Bobot KPI stakeholder pimpinan tertinggi yaitu pada
KPI 1 (Perusahaan bergerak sesuai sistem dan standar ISO) dengan
nilai sebesar 0,063 hal ini dikarenakan standarisasi kualitas ban,
terjadinya complain pelanggan terhadap ban yang telah selesai di
masak. Komplain lebih sering terjadi pada finishing ban. Karyawan
kurang memperhatikan hasil lem yang ada di pinggiran ban. Nilai rasio
konsistensi KPI stakeholder pimpinan yaitu sebesar -1,724, yang
berada pada range yang telah dietapkan yaitu nilai CR ≤ 0,1 sehingga
jawaban yang diberikan responden sudah konsisten.
96
3. Analisa Perhitungan Bobot AHP antar KPI stakeholder Karyawan
Berdasarkan hasil perhitungan bobot parsial pada pengolahan
data,diperoleh bahwa nilai bobot parsial masing-masing KPI memiliki
tinggkat kepentingan yang berbeda-beda. Hal ini dapat dilihat dari
beragamnya nilai bobot yang dihasilkan. Semakin tinggi nilai bobot,
maka menunjukkan KPI tersebut semakin penting dan perlu
diperhatikan. Bobot KPI stakeholder karyawan tertinggi yaitu pada
KPI 3 (Adanya bonus dan reward bila target produksi tercapai) dengan
nilai sebesar 0,102 hal ini dikarenakan kurangnya komunikasi dan
hubungan yang baik antara pimpinan dan karyawan. Hal ini terjadi
pada saat karyawan sudah mampu mencapai target produksi, karyawan
tidak diberikan bonus ataupun reward atas kerja keras yang telah
dilakukan. Nilai rasio konsistensi KPI stakeholder karyawan yaitu
sebesar 0,085, yang berada pada range yang telah dietapkan yaitu .
nilai CR ≤ 0,1 sehingga jawaban yang diberikan responden sudah
konsisten.
97
nilai CR ≤ 0,1 sehingga jawaban yang diberikan responden sudah
konsisten.
98
produk sudah memenuhi standar
yang sudah ditetapkan atau
belum.
Stakeholder supplier
KPI Permasalahan Usulan Perbaikan
Order yang Kinerja keuangan perusahaan 1. Hutang perusahaan sebaiknya
teratur yang buruk terjadi karena di antisipasi dengan adanya
adanya hutang pelanggan jaminan pembayaran produk
kepada perusahaan yang yang telah selesai
menyebabkan perusahaan 2. Mengatur rencana pemesanan
sulit untuk mencapai target bahan baku dengan menerapkan
pendapatan yang telah model EOQ (Economic Order
ditetapkan. Quantity) agar perusahaan
dapat meminimasi biaya
pemesana yang disebakan oleh
hutang pelanggan.
Stakeholder Karyawan
KPI Permasalahan Usulan Perbaikan
Adanya bons 1. Kurangnya komunikasi 1. Dibentuknya serikat pekerja,
dan reward dan hubungan yang baik serikat ini bertujuan untuk
bila target antara pimpinan dan hubungan kerja. Karena
produksi karyawan. Hal ini terjadi fungsi serikat pekerja akan
tercapai pada saat karyawan sudah berfungsi untuk mewakili
mampu mencapai target kepentingan pekerja
produksi, karyawan tidak terhadapkebijakan
diberikan bonus ataupun perusahaan. Membuat PKB
reward atas kerja keras (Perjanjian Kerja Bersama)
yang telah dilakukan. dapat membaantu pekerja,
namun juga tidak
memberatkan perusahaan.
Stakeholder Pimpinan
KPI Permasalahan Usulan Perbaikan
Perusahaan Standarisasi kualitas ban, 1. Perusahaan sebaiknya
bergerak terjadinya complain menambahkan satu
sesuai sistem pelanggan terhadap ban yang departemen pengendalian
dan standar telah selesai di masak. mutu. Unit ini diperuntukan
ISO Komplain lebih sering terjadi untuk melakukan pengecekan
pada finishing ban, karywan produk agar mutu produk
kurang memperhatikan hasil yang dihasilkan sesuai
lem yang ada di pinggiran dengan standarisasi produk
ban. dari perusahaan sendiri.
2. Pihak perusahaan harus
melakukan proses
pengecekan produk kembali
yang telah selesai sebelum
dikirim ke pelanggan serta
meningkat kualitas produk.
99
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut:
1. Dengan menggunakan metode Integrated Perormance System (IPMS)
dalam pengukuran kinerja pada PT. Sejahtera Panca Jaya Pekanbaru,
sistem pengukuran kinerja menjadi terintegrasi dan komprehensif dimana
dalam penentuan Key Peformance Indicator mempertimbangkan seluruh
stakeholder perusahaan, dengan menggunakan IPMS dapat
mengidentifikasikan 18 KPI yang dapat menggambarkan kondisi kinerja
PT. Sejahtera Panca Jaya Pekanbaru dimana stakeholder pada PT.
Sejahtera Panca Jaya Pekanbaru ini adalah Pelanggan terdiri dari 4 KPI,
Karyawan 5 KPI, supplier 4 KPI, dan Pimpinan 5 KPI.
100
3. Berdasarkan hasil pengolahan bobot KPI didapatkan 4 KPI yang memiliki
nilai bobot yang tinggi, dan KPI yang memiliki nilai bobot tinggi ini perlu
diberikan usulan perbaikan. Adapun indikator sub kriteria KPI yang
menjadi perhatian dan perlu diberikan usulan perbaikan adalah sebagai
berikut:
a. Usulan perbaikan untuk KPI Pelayanan yang memuaskan terhadap
pelanggan pada subkriteria pelanggan adalah perusahaan melakukan
kajian terhadap kualitas produk yang ada sekarang dan melakukan
pengendalian kualitas dengan melukan uji petik terhadap kualiitas
produk yang sudah diproduksi. uji petik merupakan kegiatan uji
kualitas produk per satu produk, apakah produk sudah memenuhi
standar yang sudah ditetapkan atau belum.
b. Usulan perbaikan untuk KPI Order yang teratur pada sub kriteria
Supplier adalah Hutang perusahaan sebaiknya di antisipasi dengan
adanya jaminan pembayaran produk yang telah selesai. Mengatur
rencana pemesanan bahan baku dengan menerapkan model EOQ
(Economic Order Quantity) agar perusahaan dapat meminimasi biaya
pemesana yang disebakan oleh hutang pelanggan.
c. Usulan perbaikan untuk KPI adanya bonus dan reward bila target
produksi tercapai sub kriteria karyawan adalah Dibentuknya serikat
pekerja, serikat ini bertujuan untuk hubungan kerja. Karena fungsi
serikat pekerja akan berfungsi untuk mewakili kepentingan pekerja
terhadapkebijakan perusahaan. Membuat PKB (Perjanjian Kerja
Bersama) dapat membaantu pekerja, namun juga tidak memberatkan
perusahaan.
d. Usulan perbaikan untuk KPI Perusahaan bergerak sesuai sistem dan
standar ISO pada sub kriteria pimpinan adalah Pimpinan Perusahaan
sebaiknya menambahkan satu departemen pengendalian mutu. Unit
ini diperuntukan untuk melakukan pengecekan produk agar mutu
produk yang dihasilkan sesuai dengan standarisasi produk dari
perusahaan sendiri. Pihak perusahaan harus melakukan proses
101
pengecekan produk kembali yang telah selesai sebelum dikirim ke
pelanggan serta meningkat kualitas produk.
6.2 Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diberikan beberapa
saran sebagai berikut:
102
DAFTAR PUSTAKA
Anita, R., “Perancangan Tools Pengukuran Kinerja dengan Metode OMAX pada
PT Jagung Hibrida Sulawesi”. Thesis. Universitas Gajah Mada,
Yogyakarta. 2012.
Hormat Saya
Denilah Yani
Nama :
Jabatan :
Hal-hal apa saja yang menjadi keinginan dan kebutuhan dari pimpinan di PT. Sejahtera
Panca Jaya Pekanbaru ?
Hormat Saya
Denilah Yani
Nama :
Jabatan :
Hal-hal apa saja yang menjadi keinginan dan kebutuhan dari pelanggan di PT. Sejahtera
Panca Jaya Pekanbaru ?
Hormat Saya
Denilah Yani
Nama :
Jabatan :
Hal-hal apa saja yang menjadi keinginan dan kebutuhan dari supplier di PT. Sejahtera
Panca Jaya Pekanbaru ?
Hormat Saya
Denilah Yani
Nama :
Jabatan :
Hal-hal apa saja yang menjadi keinginan dan kebutuhan dari karyawan di PT. Sejahtera
Panca Jaya Pekanbaru ?
Sehubungan dengan hal tersebut, dengan segala kerendahan hati, saya memohon
kesediaan Bapak/Ibu untuk mengisi data perusahaan yang telah saya sediakan. Kuesioner
external monitor ini ditujukan untuk mengetahui perbandingan posisi PT. Sejahtera Panca
Jaya Pekanbaru terhadap pesaing sejenisnya. Dilakukannya eternal monitor diharapkan
dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan dari perkembangan PT. Sejahtera Panca
Jaya Pekanbar terhadap perusahaan pesaingnya sehingga perusahaan dapat meningkatkan
kinerjanya.
Hormat Saya
Denilah Yani
IDENTITAS DIRI
Nama Lengkap :
Jenis Kelamin :
Usia :
Tingkat Pendidikan :
Lama Bekerja :
PETUNUJUK PENGISIAN
Mengetahui
( )
KUESIONER PEMBOBOTAN TINGKAT KEPENTINGAN STAKEHOLDER dan
KEY PEFORMANCE INDICATOR (KPI)
Sehubungan dengan hal tersebut, dengan segala kerendahan hati, saya memohon
kesediaan Bapak/Ibu untuk mengisi data perusahaan yang telah saya sediakan. Kuesioner
ini ditujukan untuk mengetahui tolak ukur kepentingan stakeholder dalam aspek-aspek
perusahaan.
Hormat Saya
Denilah Yani
PETUNJUK PENGISIAN
1 : Sama pentingnya
3 : Sedikit lebih penting
5 : Lebih penting daripada
7 : Jauh Lebih Penting
9 : Mutlak lebih penting
KPI 21 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KPI 3
KPI 3 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KPI 4
KPI 4 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KPI 4
Keterangan :
KPI 1 : Mutu dan kualitas ban hasil vulkanisir sesuai dengan standar
KPI 2 : Pelayanan yang memuaskan terhadap pelanggan
KPI 3 : Adanya kemudahan dalam bertransaksi
KPI 4 : Cepat tanggap terhadap komplain
KPI 6 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KPI 7
KPI 7 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KPI 8
KPI 8 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KPI 9
KPI 9 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KPI 5
Keterangan :
KPI 5 : Tingkat turn over karyawan vulkanisir
KPI 6 : Tingkat kepuasan karyawan
KPI 7 : Tingkat produktivitas tenaga kerja dalam proses produksi
KPI 8 : Tingkat kepuasan kerja akan jaminan dalam bekerja
KPI 9 : Tingkat kepuasan kerja
KPI 11 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KPI 12
KPI 12 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KPI 13
KPI 13 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KPI 10
Keterangan :
KPI 10 : Kerja sama yang baik antar kedua belah pihak
KPI 11 : Komunikasi yang baik antar kedua belah pihak
KPI 12 : Adanya pola peningkatan volume pembelian
KPI 13 : Order yang teratur
Level 4
KPI 15 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KPI 16
KPI 16 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KPI 17
KPI 17 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KPI 18
KPI 18 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KPI 19
KPI 19 9 8 7 6 5 4 3 2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 KPI 14
Keterangan :
KPI 14 : Kinerja keuangan perusahaan yang baik
KPI 15 : Perusahaan bergerak sesuai sistem dan standar ISO
KPI 16 : Adanya kesadaran para pekerja untuk menjaga kestabilan dan kualitas
dalam sistem produksi
KPI 17 : Perusahaan dapat bersaigg dengan sehat
KPI 18 : Perencanaan produksi dan target yang jelas
KPI 19 : Adanya standarisasi proses produksi dan kualitas
KUESIONER VALIDASI KEY PERFORMANCE INDICATOR (KPI)
Pada validasi ini bertujuan untuk mengetahui tingkat validitas dari KPI di PT.
Sejahtera Panca Jaya Pekanbaru, yang sebelumnya telah diidentifikasi oleh penulis pada
penelitian yang dilakukan. KPI ini disusun pada sebuah hierarki yang berdasarkan
pendekatan stakeholder PT. Sejahtera Panca Jaya Pekanbaru, yang nantinya dapat
digunakan pada sistem pengukuran kinerja perusahaan. Adapun hieaki kinerja PT.
Sejahtera Panca Jaya dapat dilihat pada gambar yang terlampir.
Untuk melakukan validasi pada KPI ini, diharapkan dari pihak perusahaan yang
memiliki wewenang diharapkan dapat memberikan jawaban pada pertanyaan yang
diberikan penulis dibawah ini.
Pertanyaan Jawaban
Apakah hierarki kinerja yang terbentuk Ya, sudah mmewakili sistem pengukuran
dapat mewakili sistem pengukuran kinerja kinerja di PT. Sejahtera Panca Jaya
di PT. Sejahtera Panca Jaya Pekanbaru saat Pekanbaru
in?
Secara keseluruhan, apakah KPI yang telah Ya, sudah dapat digunakan
diidentifikasi dapat digunakan untuk
mengukur kinerja di PT. Sejahtera Panca
Jaya Pekanbaru?
Berdasarkan jawaban yang dipperoleh dari pihak perusahaan diatas, maka dapat
disimpulkan bahwa KPI yang teridentifikasi berdasarkan stakeholder reuirement dari PT.
Sejahtera Panca Jaya Pekanbaru yang akan digunakan untuk mengukur kinerja
perusahaan adalah :Valid / Tidak Valid
Hierarki Kinerja Perusahaan
Abstrak. PT. Sejahtera Panca Jaya adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang vulkanisir
ban. Perkembangan industri vulkanisir ban memunculkan persaingan yang cukup ketat diantara
vulkanisir ban khususnya di Pekanbaru. Selama ini perusahaan mengalami kesulitan dalam
mencapai target produksi, kesulitan yang dialami perusahaan disebabkan oleh proses produksi
yang dilakukan tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh serta buruknya
pengelolaan manajemen keuangan perusahaan. Selama ini perusahaan belum pernah
melakukan pengukuran kinerja secara terintegrasi. Pengukuran kinerja sangat penting bagi
perusahaan, dapat membantu perusahaan untuk mengetahui tingkat performansi kerja yang
baik. Untuk era sekarang, cara terbaik untuk mengukur kinerja adalah dengan
memppertimbangkan stakeholder perusahaan dan mengidentifikasi kebutuhan stakeholder.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan stakeholder, memberikan usulan dan
meningkatkan kinerja perusahaan dengan menerapkan metode IPMS yang dikombinasikan
dengan AHP. Hasil dari pengukuran kinerja diperoleh sebanyak 18 KPI yang telah teridentifikasi,
terdapat 4 KPI yang diambil dari setiap stakeholder dengan nilai bobot tertinggi. KPI dengan
nilai bobot tertinggi akan diberikan usulan perbaikan. Dengan dilakukan perbaikan terhadap
indikator diharapkan dapat meningkatkan kinerja perusahaan kedepannya.
36
Jurnal Ilmiah Teknik Industri p-ISSN 1412-6869 e-ISSN 2460-4038
37
Nur, muhammad / pengukuran kinerja……. JITI, Vol.17 (1), Juni 2018, 36 – 45
38
Jurnal Ilmiah Teknik Industri p-ISSN 1412-6869 e-ISSN 2460-4038
11. Pembobotan KPI Pada tahap ini PT. Sejahtera Panca Jaya
dilakukan berdasarkan penyusunan Pekanbaru
hierarki kinerja perusahaan dengan
metode AHP
Seluruh departemen dalam PT.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN Sejahtera Panca Jaya
Pekanbaru
3.1 Mengidentifikasi Level Bisnis
Perusahaan
Perancangan sistem pengukuran kinerja
Pimpinan, karyawan, pelanggan
dengan metode Integrated Performance dan suppler.
Measurement Systems (IPMS), perlu
dilakukan identifikasi level bisnis
perusahaan yang terdiri dari level bisnis,
level unit bisnis, level proses bisnis dan Aktiivitas – aktivitas
level aktivitas. Berikut adalah pembagian
level pada PT. Sejahtera Panca Jaya Gambar 4.2 Pembagian level organisasi
Pekanbaru:
a. Bisnis Induk 3.2 Mengidentifikasi kebutuhan stakeholder
Level bisnis induk untuk pengukuran perusahaan ini dilakukan dengan wawancara,
kinerja adalah PT. Sejahtera Panca Jaya wawancara dilakukan secara terbuuka untuk
Pekanbaru memnuhi kebutuhan dari setiap Stakeholder
b. Unit Bisnis perusahaan dengan menggunakan prinsip
Level unit bisnis untuk pengukuran IPMS. Stakeholder sendiri merupakan suatu
kinerja adalah seluruh departemen yang aspek terpenting dalam keberhasilan suatu
terdapat pada PT. Sejahtera Panca Jaya. perusahaan.
Departemen tersebut terdiri dari Stakeholder dari PT. Sejahtera Panca Jaya
departemen pemeriksaan, filling, adalah sebagai berikut:
enveloping dan finishing. Pimpinan
c. Proses Bisnis
Level proses bisnis untuk pengukuran
kinerja PT. sejahtera Panca Jaya
Pekanbaru adalah pimpinan, karyawan,
pelanggan dan supplier.
Pelanggan PT. Sejahtera Panca Jaya Karyawan
d. Aktivitas
Level aktivitas untuk pengukuran kinerja
adalah seluruh aktivitas –aktivitas yang
berkaitan langsung dengan PT. Sejahtera Supplier
Panca Jaya Pekanbaru. pembagian level
Gambar 4.3 Stakeholder
organisasi pada PT. Sejahtera Panca Jaya
dapat dilihat padaa Gambar 4.2
Adapun stakeholder yang telah ditetapkan
adalah sebagai berikut:
1. Stakeholder Pelanggan
Pelanggan adalah stakeholder
penting bagi perusahaan,
dikarenakan pelanggan adalah raja
bagi perusahaan yang harus
senantiasa dipenuhi keinginan dan
kebutuhannya untuk menjaga
keberlangsungan hidup perusahaan
39
Nur, muhammad / pengukuran kinerja……. JITI, Vol.17 (1), Juni 2018, 36 – 45
40
Jurnal Ilmiah Teknik Industri p-ISSN 1412-6869 e-ISSN 2460-4038
41
Nur, muhammad / pengukuran kinerja……. JITI, Vol.17 (1), Juni 2018, 36 – 45
diberikan bonus
ataupun reward atas
kerja keras yang telah
dilakukan.
Stakeholder Pimpinan
KPI Standarisasi kualitas 1. Perusahaan sebaiknya menambahkan satu
Perusahaan ban, terjadinya departemen pengendalian mutu. Unit ini
bergerak complain pelanggan diperuntukan untuk melakukan pengecekan
seusai sistem terhadap ban yang produk agar mutu produk yang dihasilkan
dan standar telah selesai di masak. sesuai dengan standarisasi produk dari
ISO Komplain lebih sering perusahaan sendiri.
terjadi pada finishing 2. Pihak perusahaan harus melakukan proses
ban, karywan kurang pengecekan produk kembali yang telah
memperhatikan hasil selesai sebelum dikirim ke pelanggan serta
lem yang ada di meningkat kualitas produk.
pinggiran ban.
1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil perhitungan bobot meminimasi biaya pemesanan yang
key performance indicators (KPI), didapatkan disebakan oleh hutang pelanggan
4 KPI yang memiliki bobot tertinggi dari 3. Usulan perbaikan untuk KPI Adanya bonus
setiap stakeholder sehingga perlu diberikan dan reward bila target produksi tercapai
usulan perbaikan. Adapun indikator prioritas pada sub kriteria karyawan adalah
perusahaan serta usulan perbaikan yang Dibentuknya serikat pekerja, serikat ini
diberikan adalah sebagai berikut: bertujuan untuk hubungan kerja. Karena
1. Usulan perbaikan untuk KPI Pelayanan fungsi serikat pekerja akan berfungsi
yang memuaskan terhadap pelanggan untuk mewakili kepentingan pekerja
pada subkriteria pelanggan adalah terhadapkebijakan perusahaan. Membuat
perusahaan melakukan kajian terhadap PKB (Perjanjian Kerja Bersama) dapat
kualitas produk yang ada sekarang dan membaantu pekerja, namun juga tidak
melakukan pengendalian kualitas dengan memberatkan perusahaan.
melukan uji petik terhadap kualiitas 4. Usulan perbaikan untuk KPI Perusahaan
produk yang sudah diproduksi. Uji petik bergerak sesuai sistem dan standar ISO
merupakan kegiatan uji kualitas produk pada sub kriteria pimpinan adalah
per satu produk, apakah produk sudah Pimpinan Perusahaan sebaiknya
memenuhi standar yang sudah ditetapkan menambahkan satu departemen
atau belum. pengendalian mutu. Unit ini
2. Usulan perbaikan untuk KPI Order yang diperuntukan untuk melakukan
teratur pada sub kriteria Supplier adalah pengecekan produk agar mutu produk
Hutang perusahaan sebaiknya di antisipasi yang dihasilkan sesuai dengan
dengan adanya jaminan pembayaran standarisasi produk dari perusahaan
produk yang telah selesai. Mengatur sendiri. Pihak perusahaan harus
rencana pemesanan bahan baku dengan melakukan proses pengecekan produk
menerapkan model EOQ (Economic Order kembali yang telah selesai sebelum
Quantity) agar perusahaan dapat dikirim ke pelanggan serta meningkat
kualitas produk.
42
Jurnal Ilmiah Teknik Industri p-ISSN 1412-6869 e-ISSN 2460-4038
43
Nur, muhammad / pengukuran kinerja……. JITI, Vol.17 (1), Juni 2018, 36
– 45
Perusahaan”. Erlangga, Jakarta.
2006.
44
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
berikut: