BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Mencuci Tangan
Mencuci tangan adalah salah satu tindakan sanitasi dengan
membersihkan tangan dan jari jemari dengan menggunakan air ataupun
cairan lainnya oleh manusia dengan tujuan untuk menjadi bersih, sebagai
bagian dari ritual keagamaan, ataupun tujuan-tujuan lainnya (wikipedia).
Manfaat mencuci tangan begitu besar. “Cuci tangan pakai sabun atau
handrub hanya membutuhkan waktu 15 detik. Ini sangat berguna untuk
membunuh kuman,” Novita Simbolon, Infection Prevention & Control
Nurse (IPCN) Rumah Sakit Awal Bros Batam ([Link]
2. Kran Air
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kran air adalah cerat
pancuran (air leding), yang dapat dibuka dan ditutup dengan tutup berulir.
Meski ukurannya kecil, keran menjadi salah satu element penting dalam
rumah atau bangunan. Sebab segala jenis urusan yang berhubungan
dengan air hampir semuanya selalu membutuhkan alat ini. Keberadaan
keran sama pentingnya dengan selang atau pipa yang dipakai untuk
mengalirkan air tersebut.
3. Hardware yang digunakan
Dalam pembuatan kran air otomatis, dibutuhkan hardware seperti :
a. Arduino Uno
Arduino UNO adalah pengendali single board yang bersifat
Open Source, diturunkan dari wiring platform, dirancang untuk
memudahkan penggunaan elektronik dalam berbagai bidang. Arduino
UNO berupa modul elektronik open source berbasis mikrokontroller
Atmel AVR Atmega328 (Artono & Fredy).
Arduino UNO merupakan sebuah papan mikrokontroler yang
didasarkan pada ATmega328. Arduino UNO mempunyai 14 pin
digital input output (6 di antara-nya dapat digunakan sebagai output
PWM), 6 input analog, sebuah osilator Kristal 16 MHz, sebuah
koneksi USB, sebuah power jack, sebuah ICSP header, dan sebuat
tombol reset. Board Arduino UNO dapat beroperasi pada
sebuah suplai eksternal 6 sampai 20 Volt. Jika disuplai
dengan yang lebih kecil dari 7 V, kiranya pin 5 Volt
mungkin mensuplai kecil dari 5 Volt dan board Arduino
UNO bisa menjadi tidak stabil. Jika menggunakan suplai
yang lebih besar 12 Volt, voltase regulator bisa
kelebihan panas dan membahayakan board Arduino
UNO. Rentang yang direkomendasikan adalah 7 sampai
12 Volt (Rocky et al., 2015).
Gambar 2.1 Board
Arduino UNO (sumber : [Link]
[Link])
Fungsi tiap bagian-bagian Arduino yang diberi tanda antara lain
sebagai berikut:
1. Power USB, berfungsi dalam 3 hal yaitu :
Media pemberi tegangan listrik ke arduino
Media tempat memasukan program dari komputer ke arduino
Sebagai media untuk komunikasi serial antara komputer dan
Arduino R3 maupun sebaliknya
2. Kristal Oscillator, berfungsi sebagai jantung Arduino yang
membuat dan mengirimkan detak ke mikrokontroler agar
beroperasi setiap detaknya.
3. Voltage Regulalor, berfungsi menstabilkan tegangan listrik yang
masuk ke Arduino.
4. Power Jack, berfungsi sebagai media pemberi tegangan listrik ke
Arduino apabila tidak ingin menggunakan Power USB.
5. Pin Reset, berfungsi untuk mereset Arduino agar program dimulai
dari awal. Cara menggunakannya yaitu dengan menghubungkan
pin reset ini langsung ke ground.
6. Pin Tegangan 3,3 volt, berfungsi sebagai pin positif untuk
komponen yang menggunakan tegangan 3,3 volt.
7. Pin Tegangan 5 volt, berfungsi sebagai pin positif untuk
komponen yang menggunakan tegangan 5 volt. Pin 5 volt ini
sering disebut juga vin VCC.
8. Pin Ground (GND), berfungsi sebagai pin negatif pada tiap
komponen yang dihubungkan ke Arduino.
9. Pin Penambah Tegangan (VIN), berfungsi sebagai mepasok listrik
tambahan dari luar sebesar 5 volt apabila tidak ingin
menggunakan Power USB atau Power Jack.
10. Pin Analog, berfungsi membaca tegangan dan sinyal analog dari
berbagai jenis sensor untuk diubah ke nilai digital.
11. Main Microcontroller, berfungsi sebagai otak yang mengatur pin
– pin pada Arduino.
12. Tombol Reset, berfungsi untuk mengulang program dari awal
dengancara menekan tombol.
13. Pin ICSP (In-Circuit Serial Programming), berfungsi untuk
memprogram mikrokontroler seperti Atmega328 melalui jalur
USB Atmega16U2.
14. Lampu Indikator Power, berfungsi sebagai indikator bahwa
Arduino sudah mendapatkan suplai tegangan listrik yang baik.
15. Lampu TX (transmit), berfungsi sebagai penanda bahwa sedang
terjadi pengiriman data dalam komunikasi serial.
16. Lampu RX (receive), berfungsi sebagai penanda bahwa sedang
terjadi penerimaan data dalam komunikasi serial.
17. Pin Input/Output Digital, berfungsi untuk membaca nilai logika 1
dan 0 atau mengendalikan komponen output lain seperti LED,
relay, atau sejenisnya. Pin ini termasuk paling banyak digunakan
saat membuat rangkaian. Untuk pin yang berlambang “~” artinya
dapat digunakan untuk membangkitkan PWM (Pulse With
Modulation) yang fungsinya bisa mengatur tegangan output.
Biasanya digunakan untuk mengatur kecepatan kipas atau
mengatur terangnya cahaya lampu.
18. Pin AREF (Analog Reference), berfungsi mengatur tegangan
referensi eksternal yang biasanya berada di kisaran 0 sampai 5
volt.
19. Pin SDA (Serial Data), berfungsi untuk menghantarkan data dari
modul I2C atau yang sejenisnya.
20. Pin SCL (Serial Clock), berfungsi untuk menghantarkan sinyal
waktu (clock) dari modul I2C ke Arduino.
b. Sensor Ultrasonik HC-SR04
(Hidayanto & Winarno, 2015) Sensor ultrasonik adalah sensor
yang bekerja berdasarkan prinsip pantulan gelombang suara dan
digunakan untuk mendeteksi keberadaan suatu objek tertentu di
depannya, frekuensi kerjanya pada daerah di atas gelombang suara
dari 40 KHz hingga 400 KHz. Sensor jarak ultrasonic ranging module
HC-SR04 dapat mendeteksi pengukuran jarak non-kontak dari 2 cm –
400 cm, akurasi jangkauan sekitar 3 mm. Module terdiri dari
ultrasonic transmitter dan receiver serta rangkaian kontrol. Sensor
ultrasonik HC-SR04 memiliki 4 pin yaitu VCC, Trigger, Echo, dan
GND. Dengan begitu kelebihan sensor ultrasonik HC-SR04 adalah
pantulan gelombang suara pada saaat proses kerja terjadi sangat cepat
bahkan hampir tidak ada delay, karena pulsa trigger (pemicu) dan
pulsa echo (penerima) diakses dengan port yang berbeda.
(Arthur et al., 2017) Sensor ultrasonik adalah sebuah sensor
yang berfungsi untuk mengubah besaran fisis (bunyi) menjadi besaran
listrik dan sebaliknya. Cara kerja sensor ini didasarkan pada prinsip
dari pantulan suatu gelombang suara sehingga dapat dipakai untuk
menafsirkan eksistensi (jarak) suatu benda dengan frekuensi tertentu.
Disebut sebagai sensor ultrasonik karena sensor ini menggunakan
gelombang ultrasonik (bunyi ultrasonik). HC-SR04 merupakan sensor
ultrasonik yang berfungsi sebagai pengirim, penerima, dan pengontrol
gelombang ultrasonik.
Gambar 2.2 Sensor Ultrasonik
Penjelasan dari 4 pin yang terdapat pada sensor ultrasonik :
1. Pin Vcc : Untuk listrik positif.
2. Pin GND : Untuk ground-nya .
3. Pin Trigger : Untuk trigger keluarnya sinyal dari sensor.
4. Pin Echo : Untuk menangkap sinyal pantul dari benda.
Gambar 2.3 Cara kerja sensor ultrasonic
Gelombang ultrasonik dibangkitkan melalui sebuah alat
yang disebut dengan piezoelektrik dengan frekuensi tertentu.
Piezoelektrik ini akan menghasilkan gelombang ultrasonik (umumnya
berfrekuensi 40kHz) ketika sebuah osilator diterapkan pada benda
tersebut. Secara umum, alat ini akan menembakkan gelombang
ultrasonik menuju suatu area atau suatu target. Setelah gelombang
menyentuh permukaan target, maka target akan memantulkan kembali
gelombang tersebut. Gelombang pantulan dari target akan
ditangkap oleh sensor, kemudian sensor menghitung selisih antara
waktu pengiriman gelombang dan waktu gelombang pantul diterima
(Arthur et al., 2017).
c. LED (Light Emitting Dioda)
LED (Light Emitting Diaoda) adalah dioda yang dapat
memancarkan cahaya pada saat mendapat arus bias maju (forward
bias). LED (Light Emitting Dioda) merupakan salah satu jenis dioda,
sehingga hanya akan mengalirkan arus listrik satu arah saja. LED akan
memancarkan cahaya apabila diberikan tegangan listrik dengan
konfigurasi forward bias. Berbeda dengan dioda pada umumnya,
kemampuan mengalirkan arus pada LED (Light Emitting Dioda)
cukup
rendah yaitu maksimal 20 mA. Apabila LED (Light Emitting Dioda)
dialiri arus lebih besar dari 20 mA maka LED akan rusak, sehingga
pada rangkaian LED dipasang sebuah resistor sebagai pembatas arus
(Artono & Fredy, 2017).
Gambar 2.4 LED (Light Emitting Diaoda)
(sumber : [Link]
LED memiliki kaki 2 buah seperti dengan dioda yaitu kaki
anoda dan kaki katoda. Pemasangan LED (Light Emitting Dioda) agar
dapat menyala adalah dengan memberikan tegangan bias maju yaitu
dengan memberikan tegangan positif ke kaki anoda dan tegangan
negatif ke kaki katoda (Artono & Fredy, 2017).
Gambar 2.5 Cara melihat polaritas led
(sumber : [Link]
d. Solenoid Valve
Solenoid valve merupakan katup yang dikendalikan dengan
arus listrik baik AC maupun DC melalui kumparan / selenoida.
Solenoid valve ini merupakan elemen control yang paling sering
digunakan dalam sistem fluida. Seperti pada sistem pneumatik, sistem
hidrolik ataupun pada sistem kontrol mesin yang membutuhkan
elemen kontrol otomatis (Hakim, 2019).
Solenoid Valve banyak sekali jenis dan macamnya tergantung
type dan penggunaannya, namun berdasarkan modelnya solenoid
valve dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu solenoid valve single
coil dan solenoid valve double coil, keduanya mempunyai cara kerja
yang sama. Solenoid valve ini di desain sesuai dari kegunaannya.
Mulai dari 2 saluran, 3 saluran, 4 saluran dan sebagainya. Contohnya
pada solenoid valve 2 saluran atau yang sering disebut katup kontrol
arah 2/2. Memiliki 2 jenis menurut cara kerjanya, yaitu NC dan NO.
Jadi fungsinya hanya menutup/membuka saluran karena hanya
memiliki 1 lubang inlet dan 1 lubang outlet. Pada solenoid 3 saluran
memiliki 1 lubang inlet , 1 lubang outlet ,dan 1 lubang
exhaust/pembuangan. Dimana lubang inlet berfungsi sebagai
masuknya fluida, lubang outlet berfungsi sebagai keluarnya fluida dan
exhaust berfungsi sebagai pembuangan fluida/cairan yang terjebak.
Dan solenoid 3 saluran ini biasanya digunakan atau diterapkan pada
aktuator pneumatik (cylinder kerja tunggal) (Moliza et al., 2019).
Gambar 2.6 Solenoid Valve DC 12V
e. Water Pump
Water Pump atau pompa air suatu alat yang digunakan untuk
memindahkan suatu cairan dari suatu tempat ke tempat lain dengan
cara menaikkan tekanan cairan tersebut. Kenaikan tekanan cairan
tersebut digunakan untuk mengatasi hambatan pengaliran. Hambatan
pengaliran itu dapat berupa perbedaan tekanan, perbedaan ketinggian
atau hambatan gesek (Hartanto & Risky).
Menurut (Irwansyah & Didi, 2013) pompa air adalah mesin
atau peralatan mekanis yang digunakan untuk menaikkan cairan dari
dataran rendah ke dataran tinggi atau untuk mengalirkan cairan dari
daerah bertekanan rendah ke daerah yang bertekanan tinggi dan juga
sebagai penguat laju aliran pada suatu sistem jaringan perpipaan. Hal
ini dicapai dengan membuat suatu tekanan yang rendah pada sisi
masuk atau suction dan tekanan yang tinggi pada sisi keluar atau
discharge dari pompa. Pompa juga dapat digunakan pada proses-
proses yang membutuhkan tekanan hidraulik yang besar. Hal ini bisa
dijumpai antara lain pada peralatan-peralatan berat. Dalam operasi,
mesin-mesin peralatan berat membutuhkan tekanan discharge yang
besar dan tekanan isap yang rendah. Akibat tekanan yang rendah pada
sisi isap pompa maka fluida akan naik dari kedalaman tertentu,
Sedangkan akibat tekanan yang tinggi pada sisi discharge akan
memaksa fluida untuk naik sampai pada ketinggian yang diinginkan.
Dan pada penelitian ini pompa air yang digunakan adalah pompa air
mini dan pompa air 12 V.
f. Relay
Relay adalah saklar mekanik yang dikendalikan atau dikontrol
secara elektronik (elektro magnetik). Saklar pada relay akan terjadi
perubahan posisi OFF ke ON pada saat diberikan energi elektro
magnetik pada armatur relay tersebut. Relay pada dasarnya terdiri dari
2 bagian utama yaitu saklar mekanik dan sistem pembangkit
elektromagnetik (induktor inti besi). Saklar atau kontaktor relay
dikendalikan menggunakan tegangan listrik yang diberikan ke
inductor pembangkit magnet untuk menrik armatur tuas saklar atau
kontaktor relay (Moliza et al., 2019).
Menurut Saleh & Munnik, 2017, Relay adalah Saklar (Switch)
yang dioperasikan secara listrik dan merupakan komponen
Electromechanical (Elektromekanikal) yang terdiri dari 2 bagian
utama yakni Elektromagnet (Coil) dan Mekanikal (seperangkat
Kontak Saklar/Switch). Relay menggunakan Prinsip Elektromagnetik
untuk menggerakkan kontak Saklar sehingga dengan arus listrik yang
kecil (low power) dapat menghantarkan listrik yang bertegangan lebih
tinggi.
Gambar 2.9 Relay 5V
Penggunaan relay ini dalam perangkat-perangkat elektronika
sangatlah banyak terutama diperangkat yang bersifat elektronis atau
otomatis. Contoh di televisi, radio, lampu otomatis dan lain-lain. Cara
kerja komponen ini dimulai pada saat mengalirnya arus listrik melalui
koil,lalu membuat medan magnet sekitarnya sehingga dapat merubah
posisi saklar yang ada di dalam relay terserbut, sehingga
menghasilkan arus listrik yang lebih besar. Disinilah keutamaan
komponen sederhana ini yaitu dengan bentuknya yang minimal bisa
menghasilkan arus yang lebih besar (Ilham, 2015). Pemakaian relay
dalam perangkat-perangkat elektronika mempunyai keuntungan yaitu :
1. Dapat mengontrol sendiri arus serta tegangan listrik yang
diinginkan.
2. Dapat memaksimalkan besarnya tegangan listrik hingga mencapai
batas maksimalnya.
3. Dapat menggunakan baik saklar maupun koil lebih dari satu,
disesuaikan dengan kebutuhan.
g. Power Supply / Adaptor
(Cahyadi et al., 2016), power supply merupakan
suatu rangkaian elektronika yang mengubah rangkaian
elektronika yang mengubah arus listrik bolak balik (AC)
menjadi arus searah (DC). Catu daya menjadi bagian
yang penting dalam dunia elektronika yang berfungsi
sebagai sumber tenaga listrik. Catu daya juga dapat
digunakan sebagai perangkat memaosok energi listrik
untuk satu atau lebih beban listrik. Secara umum
prinsip rangkaian catu daya terdiri atas komponen
utama yaitu transformator, dioda dan kondensator.
Menurut (Azzam & Nurhayati, 2018), power
supply merupakan suatu bagian yang terpenting dari
suatu rangkaian, dimana power supply dengan nama
lain catu daya merupakan suatu sumber tegangan
penggerak dari rangkaian. Power supply berasal dari
sumber tegangan jala-jala PLN dengan arus AC
(Automatic Current). Untuk itu diperlukan suatu
perangkat catu daya yang dapat mengubah arus AC
menjadi DC.
Gambar 2.10 Adaptor / Power Supply
4. Software yang digunakan
a. Arduino IDE
Arduino menggunakan Software Processing yang digunakan
untuk menulis program kedalam Arduino. Processing sendiri
merupakan penggabungan antara bahasa C++ dan Java. Software
Arduino ini dapat di-install di berbagai operating system (OS) seperti:
LINUX, Mac OS, Windows. Arduino tidak hanya sekedar sebuah alat
pengembangan, tetapi kombinasi dari hardware, bahasa pemrograman
dan Integrated Development Environment (IDE) yang canggih. IDE
adalah sebuah software yang sangat berperan untuk menulis program,
meng-compile menjadi kode biner dan meng-upload ke dalam
memory microcontroller (Arifin et al., 2016 ).
Gambar
2.11
Arduino IDE
Interface Arduino IDE tampak seperti gambar 2.11 bagian –
bagian Aduino IDE terdiri dari :
1) Verify : Pada versi sebelumnya dikenal dengan istilah Compile.
Sebelum aplikasi di-upload ke board Arduino, biasakan untuk
memverifikasi terlebih dahulu sketch yang dibuat. Jika ada kesalahan
pada sketch, nanti akan muncul error. Proses Verify / Compile
mengubah sketch ke binary code untuk di-upload ke mikrokontroller.
2) Upload : Berfungsi mengupload sketch ke board Arduino. Walaupun
kita tidak mengklik tombol verify, maka sketch akan di compile,
kemudian langsung di upload ke board. Berbeda dengan verify yang
hanya berfungsi untuk memverifikasi source code saja.
3) New Sketch : Membuka windows dan membuat sketch baru.
4) Open Sketch : Membuka sketch yang sudah pernah dibuat. Sketch
yang dibuat dengan IDE Arduino akan disimpan dengan ekstensi
file .ino.
5) Save Sketch : Menyimpan sketch, tapi tidak disertai dengan compile.
6) Serial Monitor : Membuka interface untuk komunikasi serial.
7) Keterangan Aplikasi : pesan-pesan yang dilakukan aplikasi akan
muncul di sini, misal Compiling dan Done Uploading ketika kita
mengcompile dan mengupload sketch ke board Arduino.
8) Konsol Log : Pesan-pesan yang dikerjakan aplikasi dan pesan-pesan
tentang sketch akan muncul pada bagian ini. Misal, ketika aplikasi
mengcompile atau ketika ada kesalahan pada sketch yang kita buat,
maka informasi error dan baris akan diinformasikan di bagian ini.
9) Baris Sketch : bagian ini akan menunjukkan posisi baris kursor yang
sedang aktif pada sketch.
10) Informasi Board dan Port : Bagian ini menginformasikan port yang
dipakai oleh board Arduino.
b. Fritzing
Fritzing adalah perangkat lunak Otomasi Desain
Elektronik untuk perancang, artis, dan siapa saja yang
memiliki minat dalam komputasi fisik dan pembuatan
prototipe. Tujuan Fritzing adalah untuk menyediakan
alat yang mudah untuk mendokumentasikan dan
berbagi proyek komputasi fisik, menghasilkan tata letak
untuk Printed Circuit Boards (PCB) dan pengajaran
elektronik. Jika Anda ingin membangun prototipe yang
kuat, untuk membawa ide-ide Anda ke dalam produksi
serial dan untuk bergabung dengan komunitas yang
muncul dengan antusias, ini adalah tempat untuk
memulai. Fritzing memperkenalkan antarmuka yang
mudah digunakan untuk alur kerja yang cepat dan
mudah (Fritzing, 2019).
Gambar 2.12 Antarmuka Fritzing
Pada gambar 2.12 merupakan tampilan antarmuka dari
software fritzing yang memiliki bagian lingkungannya
meliputi :
1) Project View - adalah tempat sirkuit elektronik virtual
dibangun dan didedit di papan, tampilan skematis
atau PCB.
2) Palette Windows -termasuk bagian perpustakaan,
bagian inspektur, Undo History dan Navigator.
3) The Part Creator-adalah alat untuk memodifikasi
bagian atau membuat bagian baru untuk Fritzing
(untuk membuka Part Creator, pilih Part New di
menu utama).
Lingkungan Fritzing dapat diatur ulang oleh pengguna
sesuai dengan kebutuhan dan preferensi. Bagian dan
Palette Windows yang berbeda dapat diubah,
ukurannya, dipindahkan, digabungkan, disembunyikan
atau ditampilkan sebagai float.
B. Penelitian Sebelumnya
Dalam pembuatan Sistem Kendali Kran Dan Sabun
Otomatis Berbasis Arduino Uno Menggunakan Sensor
Ultrasonik HC-SR04, peneliti menggunakan penelitian
terdahulu sebagai tolak ukur dan acuan untuk
menyelesaikannya. Penelitian terhadulu memudahkan penulis
dalam menentukan langkah-langkah untuk penyusunan
penelitian dari segi teori maupun konsep. Berikut penelitan
dilakukan sebelumnya :
Penelitian yang dilakukan oleh (Rina et al, 2017) yaitu
Pemanfaatan Sensor PIR (Passive Infrared Receiver) dan
Mikrokontroler Atmega 16 Untuk Efisiensi Pemakaian Air
Wudhu Studi Kasus Mesjid Jam’i Desa Liang Kecamatan Salahutu.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini riset dan pengembangan dimulai
dengan menganilisis situasi yang terjadi pada Mesjid Jam’i Desa Liang
Kecamatan Salahutu. Kemudian pengumpulan data primer dan sekunder yang
berupa pengambilan debit air. Tahap selanjutnya adalah merancang alat dan
bahan yang sudah disediakan, dan yang terakhir yaitu pengujian untuk
menentukan jadi atau tidaknya alat yang telah dirancang. Dalam pembuatan
kran air wudhu otomatis ini komponen yang digunakan yaitu arduino uno,
sensor PIR, transistor, solenoid valve, pipa, dan pipa elbow.
Penelitian yang dilakukan oleh (Hidayatullah et al, 2016 ) yaitu
Sistem Kendali Keran Wudhu Otomatis Menggunakan Sensor Passive Infra
Red (Pir) Berbasis Mikrokontroler Atmega8535 Untuk Menghemat
Penggunaan Air. Dalam pembuatan sistemnya alat dan bahan yang diperlukan
antara lain yaitu Mikrokontroler ATMega 8535L, keran solenoid (solenoid
valve), IC ULN2003, Resistor (4K7, 240 K, 10 K, 100K, 2K7, 220K),
Fototransistor, Diode IN4002, LED merah, LED Infra Red. Tujuan dari
penelitian ini diharapkan memberikan manfaat berupa aplikasi sensor
berbasis mikrokontroler untuk pengoperasian keran wudhu sehingga dapat
dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Selain itu efisiensi penggunaan air dan
listrik untuk kebutuhan wudhu pada masjid-masjid.
Penelitian yang dilakukan oleh (Faisal et al, 2020) yaitu Sistem Kran
Air Otomatis Menggunakan Sensor Infrared Ajdustable. Tahap awal dalam
penelitian ini adalah pembuatan diagram blok kran air otomatis yaitu
merupakan alur dari cara kerja sistem yang nantinya akan diuat. Kemudian
dilanjutkan dengan pembuatan desain mekanik kran air otomatis. Tahap
selanjutnya yaitu Experimental Set-UP, pada tahap eksperimen ini sampel
yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 10 orang. Pada eksperimen
pertama subjek akan melakukan pengambilan air wudhu dengan kran manual.
Data penggunaan volume air wudhu akan dicatat. Setelah itu subjek akan
melakukan pengambilan air wudhu pada kran air otomatis. Dan akan dicatat
jumlah penggunaan air. Data penggunaan air dengan menggunakan kran air
manual dan otomatis akan dibandingkan untuk melihat efisiensi yang dapat
diperoleh. Kemudian tahap akhir yaitu pengujian solenoid valve dengan catu
daya 12V untuk membuka (ON) dan menutup (OFF) katup. Tujuan dari
penelitian ini adalah mengontrol penggunaan air menggunakan sensor
infrared adjustable berbasis mikrokontroler.