Faktor Penyebab Diare pada Balita Aceh
Faktor Penyebab Diare pada Balita Aceh
x, April 202x
[Link] [Link] online: 2541-5727
DOI: [Link] No. ISSN cetak: 2527-4686
Penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor –faktor yang berhubungan dengan kejadian
diare pada balita berdasarkan variabel terutama pengelolaan sampah,penyediaan air
bersih,mencuci tangan pakai sabun,sikap,pengetahuan diwilayah kerja puskesmas
sawang,Aceh Selatan. Metode statistik dan multivariant digunakan dalam penelitian ini,.
Populasi dalam penelitian berjumlah 155 balita dari 14 desa dengan umur 12-59 bulan atau 1-
5 tahun dengan sampelnya 60 balita [Link] pengambilan sampel dilakukan dengan
menggunakan simple random sampling. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji c-
square unvariant dan bivariant. Hasil penelitian menjelaskan bahwa ada hubungan diare
dengan sikap (p-value = 0,000 ).Terdapat ada hubungan pengelolaan sampah terhadap diare
(p-value = 0,004).Terdapat ada hubungan mencuci tangan dengan diare (p-value = 0,000).
Tidak ada hubungan diare dengan penyediaan air bersih (p-value = 0,133) dan tidak ada
hubungan diare dengan pengetahuan ibu (p-value = 0,796). Kesimpulannya yaitu terdapat
hubungan antara sikap ibu, pengelolaan sampah terhadap diare, mencuci tangan pakai sabun.
Sedangkan penyediaan air bersih dan pengetahuan ibu tidak berhubungan. Penulis
menyarankan agar agar setiap orang tua terkhusus ibu menerapkan pola hidup sehat dalam
keluarga itu sangat penting, terutama dalam hal kebersihan agar tidak mudah anak-anak
terkena diare.
Kata kunci: Diare, pengetahuan, penyediaan air bersih, pengelolaan sampah, mencuci tangan,sikap
ABSTRACT
This research is to determine the factors related to the incidence of diarrhea in toddlers based
on variables, especially waste management, provision of clean water, washing hands with
soap, attitudes and knowledge in the working area of Sawang Community Health Center,
South Aceh. Statistical and multivariate methods were used in this research. The population in
PAGE \* MERGEFORMAT 4
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. x, No. x, April 202x
[Link] [Link] online: 2541-5727
DOI: [Link] No. ISSN cetak: 2527-4686
the study was 155 toddlers from 14 villages aged 12-59 months or 1-5 years with a sample of
60 toddlers. The sampling technique was carried out using simple random sampling. Data
analysis was carried out using univariant and bivariant c-square tests. The results of the
research explain that there is a relationship between diarrhea and attitude (p-value = 0.000).
There is a relationship between waste management and diarrhea (p-value = 0.004). There is a
relationship between hand washing and diarrhea (p-value = 0.000). There is no relationship
between diarrhea and the provision of clean water (p-value = 0.133) and there is no
relationship between diarrhea and maternal knowledge (p-value = 0.796). The conclusion is
that there is a relationship between maternal attitudes, waste management and diarrhea,
washing hands with soap. Meanwhile, the provision of clean water and maternal knowledge
are not related. The author suggests that every parent, especially mothers, implement a
healthy lifestyle in the family, which is very important, especially in terms of cleanliness so
that children do not easily get diarrhea.
Keywords: Diarrhea, knowledge, provision of clean water, waste management, hand
washing, attitude
Pendahuluan
Penyakit diare merupakan salah satu penyakit infeksi saluran pencernaan yang
menjadi masalah kesehatan di dunia termasuk Indonesia (Kementrian Kesehatan, 2023).
Penyakit diare merupakan penyakit endemis yang berpotensi menimbulkan Kejadian Luar
Biasa (KLB) dan masih menjadi penyumbang angka kematian di Indonesia terutama pada
balita (Purnamiasih dan Putriyanti, 2022). Penyakit diare juga suatu penyakit endemis yang
dapat menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan masih menjadi penyumbang angka
Kematian di Indonesia khususnya di anak balita (Kemenkes, 2020). Jumlah penderita diare
menurut derajat kesehatan Indonesia tahun 2018 sebesar 1.637.708 anak balita yang
dilayani di fasilitas kesehatan 40,90% estimasi diare di fasilitas kesehatan (Kemenkes RI,
2022).
Diare merupakan penyakit saluran [Link] merupakan masalah kesehatan
global,termasuk di Indonesia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Dana
Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF), sekitar 2 miliar orang di dunia
menderita diare setiap tahunnya, dan 1,9 juta anak di bawah usia lima tahun meninggal
karenanya. 78% dari kematian ini terjadi di negara –negara berkembang ,terutama di
Afrika dan Asia [Link] Survei Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2018,
prevalensi diare adalah 8%,12,3% anak-anak yang terinfeksi dan 10,6% anak-anak dengan
diare di semua katagori. Pada yang sama, ,menurut program registrasi sampel tahun 2018,
diare masih menjadi penyebab utama kematian di antara bayi baru lahir (bayi berusia <28
PAGE \* MERGEFORMAT 4
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. x, No. x, April 202x
[Link] [Link] online: 2541-5727
DOI: [Link] No. ISSN cetak: 2527-4686
hari) dengan pravelensi 7% dan 6% dia antara anak-anak berusia 28 hari (Kementerian
Kesehatan Indonesia,2021).
Menurut data terbaru Survei Indonesia 2020 (SSGI), prevalensi diare sebesar 9,8.
Diare sangat terkait dengan terjadinya kasus yang jarang terjadi. Untuk anak kecil, resiko
sunat ulang sangat tinggi. Statistik Indeks Kesehatan Indonesia 2020 menunjukkan bahwa
penyakit menular, terutama diare,merupakan penyebab utama kematian pada 29 hari
pertam hingga 11 bulan pertama kehidupan: pada tahun 2020, seperti tahun-tahun
sebelumnya, diare adalah masalah terbesar, menyumbang 14,5% dari kematian: untuk anak
di bawah 5 tahun (12-59 bulan), angka Kematian akibat diare adalah 4,55%.(Kementerian
Kesehatan Indonesia,2021)
Berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia 2020, Penyakit infeksi khususnya
diare menjadi penyumbang kematian pada kelompok anak usia 29 hari - 11 bulan. Sama
seperti tahun sebelumnya, pada tahun 2020, diare masih menjadi masalah utama yang
meyebabkan 14,5% kematian. Pada kelompok anak balita (12 – 59 balita), kematian akibat
diare sebesar 4,55% (Kementrian Kesehatan, 2023).
Menurut Kementerian Kesehatan Indonesia, diare adalah penyebab utama kematian
anak kedua di Indonesia setelah [Link] menyumbang 18% kematian balita di
seluruh dunia, atau setara dengan lebih dari 5.000 Kematian setiap harinya. Pravalensi diare di
Indonesia adalah 9%, dengan provinsi Sumatera Barat sebagai salah satu provinsi dengan
tingkat diare tertinggi. Sasaran pelayanan anak diare yang datang ke puskesmas adalah
20%dari penduduk rata-rata 10% dari jumlah anak penderita diabetes segala [Link] tahun
2022,pelayanan terhadap penderita diare segala usia mencapai35,1% dari target yang
ditetapkan,dan pelayanan terhadap balita mencapai 26,4%. Perbedaan antar provinsi
mengenai cakupan pelayanan terhadap penderita diare segala usia yaitu antara provinsi Riau
sebesar 5,7% dan banten sebesar 57,9%.(Kemenkes RI,2022)
Berdasarkan profil Dinas Kesehatan Aceh Selatan, diare merupakan penyakit endemis
dan juga berpotensi kejadian luar biasa (KLB) yang sering disertai dengan kematian. Target
cakupan pelayanan penderita diare yang datang ke sarana kesehatan adalah 10% dari
perkiraan jumlah penderita diare (Insiden diare dikali jumlah penduduk di satu Wilayah kerja
dalam waktu satu tahun). Biasanya diare hanya berlangsung beberapa hari akut, namun pada
sebagian kasus dapat memanjang hingga berminggu (Kronis).
Pengetahuan merupakan bidang yang sangat penting dalam membentuk perilaku
seseorang dan pengetahuan itu sudah cukup membuat seseorang terlibat dalam perilaku sehat
untuk diri mereka sendiri dan keluarga mereka. Namun sebaiknya adalah seseorang yang
tidak memiliki pengetahuan yang cukup. Kecenderungan untuk berperilaku tidak sehat,
seperti tidak mencuci tangan sebelum makan, membuang feses ke sungai atau laut. Hal ini
dapat menyebabkan risiko penyakit diare (Fitri Rachmillah Fadmi et al., 2020).
Faktor-faktor lingkungan yang buruk misalnya kondisi sanitasi yang tidak memenuhi
syarat maupun fasilitas sarana prasarana air bersih yang tidak memadai. Kondisi lingkungan
PAGE \* MERGEFORMAT 4
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. x, No. x, April 202x
[Link] [Link] online: 2541-5727
DOI: [Link] No. ISSN cetak: 2527-4686
yang buruk adalah salah satu faktor meningkatnya penyakit diare karena mencakup
pembuangan tinja, serta ketersediaan sarana dan prasarana air bersih (Prawati, 2019).
Mencuci tangan merupakan salah satu tindakan pencegahan terhadap diare yang dapat
dilakukan dengan mudah, aktivitas sehari hari seperti berjabat tangan, memegang gagang
pintu, mengeringkan tangan dengan lap yang tidak bersih, memegang uang serta aktivitas
lainnya yang dapat menularkan bibit penyakit yang menempel di tangan. Tangan merupakan
organ yang sering digunakan untuk melakukan pekerjaan dan sering kontak dengan benda
lain, dari semua itu diperlukan untuk mencuci tangan setelah melakukan kegiatan. Mencuci
tangan perlu juga dilakukan ketika sebelum atau setelah makan, setelah BAB/BAK, setelah
bersin karena dikhawatirkan terdapat mikroba yang masih menempel usai melakukan
pekerjaan (Ibrahim & Sartika, 2021).
Jumlah penemuan kasus diare pada balita di Kabupaten Aceh Selatan sebanyak 4,237
Penemuan kasus, diharapkan dengan meningkatkan penemuan kasus ini akan memberikan
Peningkatan juga dalam penanganan kasus, sehingga dapat mengurangi kasus diare di
Kabupaten Aceh Selatan. Target cukupan pelayanan diare yang datang ke sarana kesehatan
adalah Sebesar 10% dari perkiraan jumlah penderita diare di Kabupaten Aceh Selatan.
Sebagian besar diare pada anak balita di sebabkan oleh infeksi virus. Penyebab lainnya adalah
infeksi bakteri dan parasit. Kondisi yang menjadi pemicu utama penyebab terjadinya penyakit
diare pada anak, akibat infeksi ini adalah kebersihan lingkungan dan sanitasi buruk.
Kebanyakan masyarakat masih belum menerapkan sikap hidup sehat yang baik pada
keluarganya masih banyak masyarakat yang membuang sampah bukan pada tempatnya,
kebiasaan Masyarakat minum air yang belum dimasak serta ada juga masyarakat yang tidak
didahului mencuci tangan terlebih dahulu sebelum makan(Dinkes Aceh Selatan,2022).
Data awal yang ditemui diwilayah kerja puskesmas Sawang Kabupaten Aceh selatan,
bahwasanya jumlah kejadian diare yang banyak terjadi pada tahun 2022 berjumlah 277 dan
pada tahun 2023 berjumlah 117. Sedangkan pada periode Juni-November tahun 2024, yaitu
dengan jumlah 31 pasien balita yang mengalami diare, yang menjadi perbandingan. Maka
oleh karena itu peneliti tertarik mengangkat kasus diare tersebut pada kelompok umur balita
untuk dilakukannya penelitian di wilayah kerja puskesmas sawang.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dirumuskan masalah penelitian faktor-faktor
apa saja yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja puskesmas
Sawang Kabupaten Aceh selatan. Penelitian ini berfokus pada beberapa variabel yaitu
pengetahuan, sikap, mencuci tangan pakai sabun, penyediaan air bersih, pengelolaan sampah.
Setiap variabel tersebut akan diteliti pada ibu yang memiliki balita. Penelitian ini penting
dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan kejadian diare pada balita yang
dilakukan oleh ibu balita terutama dalam hal air minum, pengolahan makanan hal yang
dianggap biasa saja Tapi akan terjadinya jika tidak segera ditindak lanjuti. Misalnya seperti
tidak mencuci tangan pakai sabun pada saat mengolah makanan maka itu bisa menyebabkan
terkontaminasinya virus ataupun bakteri dan air minum galon isi ulang yang tidak bersih dan
terkontaminasi dapat membahayakan kesehatan, bahkan nyawa dan dapat menyebabkan
gangguan pencernaan seperti mual, muntah. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk
PAGE \* MERGEFORMAT 4
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. x, No. x, April 202x
[Link] [Link] online: 2541-5727
DOI: [Link] No. ISSN cetak: 2527-4686
mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di wilayah
kerja puskesmas sawang Kabupaten Aceh Selatan.
Metode penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional yang
bertujuan untuk mengetahui faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian diare pada
balita di wilayah kerja puskesmas Sawang Kabupaten Aceh Selatan. Waktu penelitian
dilaksanakan dari bulan Desember sampai dengan Februari 2025. Populasi dalam penelitian
ini adalah semua balita yang berobat dari 14 desa kasus diare di wilayah kerja puskesmas
sawang dengan jumlah populasi sebanyak 155 balita yang berobat atau berkunjung di wilayah
kerja puskesmas sawang dari semua desa, dan cara pengambilan perwakilan setiap desa yang
terjadinya diare sebanyak 31 pasien balita yang terdiri dari 7 desa yang mengalami diare
sebagai responden. dan teknik pengambilan data menggunakan kuesioner dengan jumlah
sampelnya adalah 60 ibu dari balita diperoleh dari 155 balita yang berobat, dengan
perhitungannya adalah rumus slovin dari 155 populasi Sampel yang diambil dalam penelitian
ini adalah sampel random sampling. Terdapat dua metode yang digunakan dalam
mengumpulkan informasi, yaitu data primer dan sekunder, baik dari puskesmas sawang
maupun desa, kami juga membagikan kuisioner kepada penduduk setempat untuk
mengumpulkan data primer. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner
untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di
wilayah kerja puskesmas sawang Kabupaten Aceh Selatan. Metode statistik yang digunakan
untuk memeriksa data adalah analisis univariat dan bivariat. Analisis univariat digunakan
untuk menentukan distribusi masing-masing variabel sedangkan analisis bivariat digunakan
menetapkan faktor antara variabel dependen (terikat) dan variabel independen
(bebas). Pengetahuan ibu dari balita, sikap ibu, mencuci tangan pakai sabun, Penyediaan air
bersih, pengelolaan sampah merupakan variabel bebas dalam penelitian ini, dimana variabel
bebas yang menyebabkan perubahan atau timbulnya variabel dependen(Sugiyono,
2019).Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kejadian diare. Analisis data dilakukan
dengan menggunakan uji chi-square.
Variabel F %
PAGE \* MERGEFORMAT 4
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. x, No. x, April 202x
[Link] [Link] online: 2541-5727
DOI: [Link] No. ISSN cetak: 2527-4686
Kejadian Diare
Terjadi diare 31 51,7%
Total 60 100%
Sikap
Baik 25 41,7%
Total 60 100%
Pengelolaan
Sampah
Melakukan
19 31,7%
Tidak melakukan
41 68,3%
Total
60 100%
Mencuci Tangan
Pakai Sabun
Tidak melakukan
35 58,3%
Melakukan 25 41,7%
Total 60 100%
Penyediaan Air
Bersih
Baik
10 16,7%
Kurang baik
50 83,3%
Total
60 100%
Pengetahuan
Baik 30 50%
Total 60 100%
persentase 51,7%, Sedangkan responden tidak terjadinya diare sebanyak 29 responden dengan
total persentase 48,3%. Responden yang memiliki sikap baik berjumlah 25 dengan total
persentase 41,7%, sedangkan responden memiliki sikap tidak baik berjumlah 35 responden
dengan total persentase 58,3%. Sedangkan responden yang melakukan pengelolaan sampah
berjumlah 19 responden dengan total persentase 31,7%. Responden tidak melakukan
pengolahan sampah berjumlah 41 responden dengan persentase 68,3%. Sedangkan responden
tidak melakukan mencuci tangan pakai sabun berjumlah 35 responden dengan total persentase
58,3%. Responden yang melakukan mencuci tangan pakai sabun berjumlah 25 dengan
persentase 41,7%. Sedangkan mempunyai persediaan air bersih berjumlah 10 responden
dengan persentase 16,7%. Responden yang tidak mempunyai persediaan air bersih berjumlah
50 responden dengan total persentase 83,3%. Responden yang memiliki pengetahuan baik
berjumlah 30 responden dengan total persentase 50%. Sedangkan responden yang memiliki
pengetahuan kurang baik berjumlah 30 orang dengan persentase 50%.
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat ini bertujuan untuk membuktikan adanya hubungan variabel
dependen (kejadian diare) dengan variabel independen (Sikap, pengelolaan sampah, mencuci
tangan pakai sabun, penyediaan air bersih dan pengetahuan). Hasil analisis ini dapat dilihat
pada tabel sebagai berikut.
Tabel 2.1 Hubungan faktor sikap dengan kejadian diare pada Balita
Kejadian Diare Total
Tidak Terjadi Terjadi
Sikap OR (CI 95% P Value
Diare Diare F %
F % F %
Baik 23 38,3% 2 3,3% 25 41,7%
55,583
Tidak Baik 6 10% 29 48,3% 35 58,3% (10,243– 0,000
301,621)
Total 29 48,3% 31 61,7% 60 100%
Sumber :pengolahan data primer 2024
Proporsi responden yang memiliki sikap baik terkait kejadian diare sebesar 25
responden atau 41,7%, dan responden yang tidak memiliki sikap baik terkait kejadian diare
sebesar 35 responden atau 58,3%. Sehingga, mayoritas responden terkait hubungan sikap
terhadap kejadian diare termasuk dalam kategori tidak memiliki sikap.
Diperoleh OR = 55,583 (CI= 10,243-301,621), memiliki makna bahwa responden
yang tidak memiliki sikap yang baik lebih berpeluang 55,583x mengalami kejadian diare
dibandingkan yang memiliki sikap yang baik terkait kejadian diare. Tetapi, secara perhitungan
statistik terdapat hubungan antara sikap terhadap kejadian diare, dimana p value sebesar 0,000
< 0,05.
PAGE \* MERGEFORMAT 4
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. x, No. x, April 202x
[Link] [Link] online: 2541-5727
DOI: [Link] No. ISSN cetak: 2527-4686
Tabel 2.2 Hubungan faktor pengelolaan sampah dengan kejadian diare pada balita
Kejadian Diare Total
Pengolahan Tidak Terjadi Terjadi OR (CI P
Sampah Diare Diare F % 95% Value
F % F %
Melakukan 25 41,7% 16 26,7% 41 68,3%
5,859
Tidak melakukan 4 6,7% 15 25% 19 31,7% (1,647– 0,004
20,842)
Total 29 48,3% 31 61,7% 60 100%
Proporsi responden yang memiliki pengelolaan sampah yang baik terkait kejadian
diare sebesar 41 responden atau 68,3%, dan responden yang tidak memiliki pengelolaan
sampah yang baik terkait kejadian diare sebesar 19 responden atau 31,7%. Sehingga,
mayoritas responden terkait hubungan pengelolaan sampah terhadap kejadian diare termasuk
dalam kategori tidak memiliki pengolahan sampah yang baik.
Diperoleh OR = 5,859 (CI= 1,647-20,842), memiliki makna bahwa responden yang
tidak memiliki pengelolaan sampah yang baik lebih berpeluang 5,859x mengalami kejadian
diare dibandingkan yang memiliki pengelolaan sampah yang baik terkait kejadian diare.
Tetapi, secara perhitungan statistik terdapat hubungan antara pengelolaan sampah terhadap
kejadian diare, dimana p value sebesar 0,004 < 0,05
Tabel 2.3 Hubungan faktor mencuci tangan pakai sabun dengan kejadian diare pada
balita
Kejadian Diare Total
Tidak OR P
Mencuci Tangan Dengan Terjadi
Terjadi (CI Valu
Sabun Diare F %
Diare 95% e
F % F %
Mencuci Tangan Dengan
26 43,3% 9 15% 35 58,3%
Sabun
21,185
Tidak Mencuci Tangan (5,097– 0,000
3 5% 22 36,7% 25 41,7%
Dengan Sabun 88,056)
Total 29 48,3% 31 61,7% 60 100%
PAGE \* MERGEFORMAT 4
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. x, No. x, April 202x
[Link] [Link] online: 2541-5727
DOI: [Link] No. ISSN cetak: 2527-4686
Proporsi responden yang mencuci tangan dengan sabun terkait kejadian diare sebesar
35 responden atau 58,3%, dan responden yang tidak melakukan cuci tangan dengan sabun
terkait kejadian diare sebesar 25 responden atau 41,7%.
Diperoleh OR = 21,185 (CI= 5,097-88,056), memiliki makna bahwa responden yang
tidak melakukan cuci tangan yang baik lebih berpeluang 21,185x mengalami kejadian diare
dibandingkan yang melakukan cuci tangan yang baik terkait kejadian diare. Tetapi, secara
perhitungan statistik terdapat hubungan antara mencuci tangan terhadap kejadian diare,
dimana p value sebesar 0,000 < 0,05.
Tabel 2.4 Hubungan faktor penyediaan air bersih dengan kejadian diare pada
balita
Kejadian Diare Total
Tidak P
Terjadi OR (CI
Penyediaan Air Bersih Terjadi Valu
Diare F % 95%
Diare e
F % F %
Menyediakan Air Bersih 7 11,7% 3 5% 10 16,7%
2,970
Tidak Menyediakan Air
22 36,7% 28 46,7% 50 83,3% (0,687– 0,133
Bersih
12,829)
Total 29 48,3% 31 61,7% 60 100%
Proporsi responden yang memiliki penyediaan air bersih terkait kejadian diare sebesar
10 responden atau 16,7%, dan responden yang tidak memiliki penyediaan air bersih sangat
baik terkait kejadian diare sebesar 50 responden atau 83,3.
Diperoleh OR = 2,970 (CI= 0,687-12,829), memiliki makna bahwa responden yang
tidak memiliki penyediaan air bersih yang baik lebih berpeluang 2,970x mengalami kejadian
diare dibandingkan yang memiliki penyediaan air bersih yang sangat baik terkait kejadian
diare. Tetapi, secara perhitungan statistik tidak terdapat hubungan antara penyediaan air
bersih terhadap kejadian diare, dimana p value sebesar 0,133 > 0,05.
Tabel 2.5 Hubungan faktor pengetahuan dengan kejadian diare pada balita
PAGE \* MERGEFORMAT 4
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. x, No. x, April 202x
[Link] [Link] online: 2541-5727
DOI: [Link] No. ISSN cetak: 2527-4686
Proporsi responden yang tidak memiliki pengetahuan dan memiliki terkait kejadian
diare sebesar 30 responden atau 50%. Sehingga, responden terkait hubungan pengetahuan
terhadap kejadian diare termasuk dalam kategori sama antara tidak berpengetahuan dan
berpengetahuan.
Diperoleh OR = 0,875 (CI= 0,318-2,410), memiliki makna bahwa responden yang
tidak memiliki pengetahuan yang baik lebih berpeluang 0,875x mengalami kejadian diare
dibandingkan yang memiliki pengetahuan yang baik terkait kejadian diare. Tetapi, secara
perhitungan statistik tidak terdapat hubungan antara pengetahuan terhadap kejadian diare,
dimana p value sebesar 0,796 > 0,05.
PEMBAHASAN
1. Hubungan faktor sikap dengan kejadian diare pada balita
Berdasarkan tabel 2.1 menunjukkan bahwa dari 25 orang ibu balita yang sikap baik
terdapat 23 responden (38,3%) balita yang tidak menderita diare, dan 2 responden (3,3%)
balita yang menderita diare. Sedangkan dari 35 orang ibu balita yang sikap tidak baik terdapat
6 responden (10%), balita yang tidak menderita diare, dan 29 responden (48,3%) balita yang
menderita diare. Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa ada hubungan sikap dengan
kejadian diare pada balita (p = 0,000).
Sesuai dengan penelitian Milda Hastuty dan Suc Nigraha Utami(2019) hasil penelitian
diperoleh p value = 0,000, hal ini menunjukkan adanya hubungan antara sikap ibu dan
kejadian diare pada balita. Berdasarkan analisa sungailian hasil uji statistic dengan uji chi-
square didapatkan nilai p= 0,012 < α (0,05) yang berarti Ho ditolak, hal ini menunjukkan
bahwa ada hubungan yang bermakna antara sikap ibu dengan kejadian diare pada balita di
wilayah kerja Puskesmas Sungailiat (2019).
Berdasarkan hasil survei peneliti banyak sekali sikap dari ibu-ibu yang kurang
mengerti cara menjaga keluarga mereka, mereka memang sangat ramah sekali Ketika saya
melakukan penelitian ini, Ketika saya menjelaskan betapa perlunya untuk menjaga sekitar kita
supaya anak tidak terdampak penyakit diare. Dari segi apapun mereka kurang paham padahal
hal yang dianggap remeh justru itu yang bisa mengundang penyakit pada balita.
PAGE \* MERGEFORMAT 4
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. x, No. x, April 202x
[Link] [Link] online: 2541-5727
DOI: [Link] No. ISSN cetak: 2527-4686
PAGE \* MERGEFORMAT 4
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. x, No. x, April 202x
[Link] [Link] online: 2541-5727
DOI: [Link] No. ISSN cetak: 2527-4686
3 responden (5%) yang tidak terkena diare, dan 22 responden (36,7%) yang terkena diare.
Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa ada hubungan yang kuat antara cuci tangan
dengaMencuci tangan dengan sabun terhadap Kejadian diare pada balita (p=0,000)
Berdasaarkan penelitian setyobudi analisis menggunakan uji chi-square menunjukkan
bahwa perilaku mencuci tangan berpengaruh secara signifikan terhadap kejadian diare.
Pengaruh perilaku mencuci tangan terhadap kejadian diare diperoleh hasil p-value=0,019.
dengan Odds Ratio sebesar 2,223 yang menyatakan bahwa ada hubungan perilaku mencuci
tangan ibu dengan kejadian diare pada balita.
Mencuci tangan pakai sabun adalah salah satu upaya pencegahan melalui tindakan
sanitasi dengan membersihkan tangan dan jari jemari menggunakan air dan [Link]
manusia seringkali menjadi agen yang membawa kuman dan menyebabkan patogen
berpindah dari satu orang atau dari alam ke orang lain melalui kontak [Link]
mencuci tangan pakai sabun (CTPU) untuk mencegah penyakit-penyakit menular masih
belum dapat dipahami masyarakat secara luas dan praktiknya pun masih belum banyak
diterapkan dalam kehidupan aktivitas-aktivitas sehari-hari(Mahendra,2022).
Berdasarkan penelitian dari Yunita (2019) Hasil analisis bivariate menunjukkan bahwa
terdapat hubungan antara perilaku cuci tangan dengan kejadian diare pada balita di wilayah
kerja Pusksesmas Rukun Lima Kabupaten Ende dengan hasil p-value 0,001 . yang berpendapat
bahwa ada hubungan antara perilaku mencuci tangan dengan kejadian diare pada balita.
Berdasarkan penelitian dari Radhika(2020) hasil penelitian ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan di RW X1 Kelurahan Sidotopo Kota Surabaya menyatakan bahwa
terdapat hubungan antara perilaku mencuci tangan dengan kejadian diare pada balita (p-value
=0,03) yang di sebabkan oleh beberapa faktor seperti cara mencuci tangan yang kurang
benar , ibu balita jarang mencuci tangan dengan sabun, buang air besar di sungai dan tidak
mencuci tangan setelah buang bair besar .
Berdasarkan hasil survey peneliti ada beberapa ibu yang memang mengharuskan anak
mencuci tangan dulu jika baru pulang main diluar, dan Ketika makan harus mencuci tangan
dulu baru boleh makan. Dalam hal ini mayoritas ibu sudah banyak paham betapa pentingnya
mencuci tangan untuk balita agar tidak mudah terkena diare.
4. Hubungan faktor penyediaan air bersih dengan kejadian diare pada balita
Berdasarkan tabel 2.4 menunjukkan dari 10 responden yang menyediakan air bersih
terdapat 7 responden (11,7) yang tidak terkena diare dan 3 responden (5%) yang terkena
diare. Selanjutnya dari 50 responden yang tidak menyediakan air bersih terdapat 22 responden
( 36,7%) yang tidak terkena diare dan 28 responden (46,7%) yang terkena diare. Hasil uji chi
square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan tingkat sedang antara penyediaan air bersih
dengan diare (p = 0,133).
Dalam penelitian koenoputranto hasil uji statistik menunjukkan p-value = 0,271 >
alpha 0,05 maka tidak ada hubungan antara jenis sumber air bersih dengan kejadian diare
pada masyarakat Kota Tasikmalaya. Air sumur gali berpotensi tercemar jika sumber
pencemaran berpeluang besar mencemarinya. Faktor jarak sumur gali terhadap tempat
PAGE \* MERGEFORMAT 4
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. x, No. x, April 202x
[Link] [Link] online: 2541-5727
DOI: [Link] No. ISSN cetak: 2527-4686
pembuangan feces, jenis tanah sekitar sumur gali, arah aliran tanah serta kondisi fisik sumur
galiberkontribusidalam pencemaran air sumur gali (Koenoputranto,1996). Air PDAM berpote
nsi terkontaminasi ulang jika jaringan pipa distribusi mengalami kebocoran yang berakibat air
kotor dari dalam tanah masuk dalam jaringan pipa distribusi (Trijoko,2018).
Berdasarkan hasil penelitian Dimas Alamsyah uji statistik chi square diatas pada
variabel pengetahuan kualitas air minum terhadap perilaku masyarakat dalam pengelolaan air
minum di Desa Ketandan, diperoleh p value 0,441 (>0,05), sehingga Ho diterima yang artinya
tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan kualitas air terhadap perilaku
masyarakat dalam pengelolaan air minum di Desa Ketandan Kecamatan Dagangan Kabupaten
Madiun.
Berdasarkan hasil penelitian Tuti diperoleh uji chi-square, menunjukan P value (0,422)
> 0,05, maka H0 diterima atau Ha ditolak sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat
hubungan yang bermakna antara konsumsi air minum dengan kejadian diare pada balita umur
6- 59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Poasia tahun 2016.
Berdasarkan hasil survey peneliti banyak ibu yang masih memakai air yang mentah
tanpa dimasak dulu, padahal air yang mentah bisa menyebabkan dengan mudah anak terkena
diare. Tapi banyak ibu yang menyepelekan hal kecil tersebut.
Penelitian ini sejalan dengan yang dilakukan oleh Saputri Yuniarty Eka (2020)
menyatakan bahwa tidak ada hubungan pengetahuan ibu terhadap Kejadian Diare pada Balita
di RW07 dengan hasil uji-square diperoleh p>(0,958>0,05).
Berdasarkan hasil survey peneliti terlihat banyak ibu yang kurang pengetahuan
terhadap betapa pentingnya menjaga lingkubgan sekitar, terlihat ketita ditanya banyak ibu
yang kurang paham dalam menjawabnya.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan ada faktor-faktor yang berhubungan
dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Sawang, maka disimpulkan
sebagai berikut :
1. Berdasarkan Uji Bivariant bahwa terdapat hubungan antara sikap ibu, pengelolaan
sampah, mencuci tangan pakai sabun terhadap kejadian diare.
2. Sedangkan penyediaan air bersih dan pengetahuan ibu tidak terdapat hubungan
karena berdasarkan hasil c-square >0,005
Saran
Penulis menyarankan agar setiap orang tua terkhusus ibu menerapkan pola hidup sehat
dalam keluarga itu sangat penting, terutama dalam hal kebersihan agar tidak mudah anak-anak
terkena diare.
Ucapan Terimakasih
Daftar Pustaka
Aulia, M. F., Kartika, C. T. M. C., & Lestari, K. S. (2024). Hubungan Personal Higiene
Ibu dan Pengolahan Makanan Balita dengan Kasus Diare Balita (Studi di Desa Tidak
ODF Wilayah Kerja Puskesmas Cukir). JIIP - Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 7(1),
675–682.
Bangsa, U. (2021). Hubungan Pengetahuan tentang Diare pada Anak Usia 3-5 Tahun
dengan Tingkat Pendidikan Ibu di Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Rawalo
Kabupaten Banyumas. Seminar Nasional Penelitian Dan Pengabdian Kepada
Masyarakat, 1487– 1493.
PAGE \* MERGEFORMAT 4
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. x, No. x, April 202x
[Link] [Link] online: 2541-5727
DOI: [Link] No. ISSN cetak: 2527-4686
Bina, S., & Palembang, H. (2023). Analisis Determinan Kejadian Diare Pada Balita Di
Wilayah Kerja Puskesmas Makrayu Kota Palembang Tahun 2023 Determinant
Analysis of Diarrhea in Toddlers in the Work Area of the Makrayu Health Center in
Palembang City in 2023. Agustus, 18(20), 362–374. Biology Education, 9(2), 97–108.
Desa Kuta Tinggi Kecamatan Blangpidie Kabupaten Aceh Barat Daya Tahun 2021. Jurnal
Dewi, R., & Patmawati. (2019). Kampus Universitas Al Asyariah Mandar , Fakultas
Kesehatan Masyarakat . Jurnal Kesehatan Manarang, 5(1), 9–19.
Dinkes Aceh Selatan. (2022). profil kesehatan tahun 2021
Josita baringbing, I., Rini, W. N. E., & Putri, F. E. (2023). Faktor-faktor yang Berhubungan
dengan Perilaku Higiene Penjamah Makanan pada Pangan Industri Rumah Tangga
di Kecamatan Geragai Tahun 2022. Jurnal Kesmas Jambi, 7(1), 31–40.
Kemenkes RI. (2021). Rencana Aksi Program Pencegahan Dan Pengendalian
Penyakit. Rencana AKSI Program P2P, 2021, 86.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Profil Kesehatan Republik Indonesia.
Khozin, Z. N., Utami, T., Wirakhmi, I. N., Studi, P., Program Sarjana, K.,
Kesehatan, F., & Harapan
RA, Triyanti, Permatasari TE. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Diare pada
Siswa Sekolah Dasar di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Indonesia. Indonesian
Journal of Public Health Nutrition. 2021;2(1):34– 43. (n.d.).
D. Santika, B. Aramico, and F. Fahdhienie, “kecamatan kluet tengah kabupaten aceh selatan
tahun 2022,” vol. 12, no. November, pp. 558–565, 2022. (n.d.).
Sugiyono, “Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D (ke-2),” 2019. (n.d.).
Hastuty, M., & Utami, S. N. (2019). Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Kejadian Diare pada
Balita di Kelurahan Bangkinang Kota Wilayah Kerja Puskesmas Bangkinang Kota.
(n.d.).
Santini, L., & I Made Bulda Mahayana, M. (2020). Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan
Sikap Ibu Balita Dengan Kejadian Diare Di Puskesmas Busungbiu Ii Kabupaten
Buleleng. Jurnal Kesehatan Lingkungan (JKL), 10(2), 79–87. (n.d.).
Ahmad Arif, AYG Wibisono, Ida Faridah. (2023). Pengaruh Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS) Dengan Kejadian Diare Di Smpn 3 Cikupa. Gudang Jurnal Multidisiplin Ilm.
VOL 1 NO 3. (n.d.).
Mafazah L., 2021. Ketersediaan Sarana Sanitasi Dasar, Personal Hygiene Ibu dan Kejadian
Diare. Kemas. 8(2):167-73. (n.d.).
Mafazah L., 2021. Ketersediaan Sarana Sanitasi Dasar, Personal Hygiene Ibu dan Kejadian
Diare. Kemas. 8(2):167-73. (n.d.). (n.d.).
Setiyabudi, R., Setyowati, V. 2016. Penyediaan Air Bersih, Penggunaan JambanKeluarga,
PAGE \* MERGEFORMAT 4
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. x, No. x, April 202x
[Link] [Link] online: 2541-5727
DOI: [Link] No. ISSN cetak: 2527-4686
Duwila, F., Trijoko, Lanang, H., & Y.D, N. A. (2018). pemetaan sanitasi dasar dengan
penyakit
diare pada masyarakat desa pesisir kecamatan mangoli timur kabupaten kepulauan
sula provinsi maluku utara tahun 2018. jurnal kesehatan masyarakat, 6( 6), 119–127.
(n.d.).
PAGE \* MERGEFORMAT 4
Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health Vol. x, No. x, April 202x
[Link] [Link] online: 2541-5727
DOI: [Link] No. ISSN cetak: 2527-4686
PAGE \* MERGEFORMAT 4