BAB II
TINJAUAN UMUM PLTU OMBILIN
2.1 Sejarah Berdirinya PLTU Ombilin
Pembangunan PLTU Ombilin merupakan upaya pemerintah dalam rangka memenuhi kebutuhan
akan pasokan daya listrik yang terus meningkat. Pembangunan PLTU Ombilin juga merupakan
perwujudan program pemerintah yang tertuang dalam GBHN guna menunjang diversifikasi dan
konversi energi dengan memanfaatkan sumber daya batu bara.
Berdasarkan surat keputusan 080.K/ 023/ DIR/ 1995, PT PLN (persero) Sektor Ombilin adalah
salah satu unit organisasi yang berada didaerah Talawi- Sawah Lunto yang berjarak kurang lebih
120 Km dari kota Padang kearah utara.
PT. PLN (persero) pembangkitan sumbagsel sistem interkoneksi kelistrikan sumbagsel –
sumbagteng merupakan sistem kelistrikan antara Sumatera Bagian Selatan – Lampung dengan
Sumatera Bagian Tengah – Sumatera Bagian Barat – [Link] kelistrikan yang
disalurkan sektor pembangkitan Ombilin ke sistem interkoneksi sebesar 29,64 % dari total
keseluruhan pembangkit yang ada di sistem interkoneksi Sumatera Bagian Barat dan Riau.
Kotamadya Sawalunto Propinsi Sumatera Barat merupakan daerah penghasil pemanfaatan
potensi batubara sebagai sumber energi listrik semakin penting mengingat keterbatasan sumber
energi [Link] Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) Ombilin – sijantang dengan
menggunakan bahan bakar batubara merupakan salah satu cara pemanfaatan potensi batubara di
daerah Sawalunto dan sekitarnya.
PLTU Ombilin merupakan PLTU mulut tambang yang tersedia direncanakan beroperasi tahun
1986 dengan batubara Ombilin dari PT AICdan PT BA UPO. Namun realisasinya PLTU
Ombilin baru memulai beroperasi sejak akhir tahun 1996.
PT. PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Ombilin dibentuk berdasarkan surat direksi PT. PLN
(Persero) No. 080. K/023/DIR/1995, tanggal 18 September 1995 tentang pembuatan dan
penetapan tingkat unit Sektor Pembangkitan Ombilin pada PT. PLN (Persero) Wilayah III Sektor
Pembangkitan Ombilin yang membawahi daerah kerja Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU)
Ombilin dengan kapasitas terpasang 2 x 100 MW .
Pada saat awal PT. PLN (Persero) Sektor Pembangkitan Ombilin berdiri berdasarkan surat
Direksi No. 112. K/023/DIR 1996, tanggal 18 November 1996 tentang Unit Pelaksana PT. PLN
(Persero) Pembangkitan dan Penyaluran Sumatera Bagian Selatan pada tanggal 01 Januari 1997,
dibentuk unit Organisasi PT. PLN (Persero) Pembangkitan dan Penyaluran Sumatera Bagian
Selatan Sektor Pembangkitan Ombilin.
PLTU Ombilin terdiri dari 2 unit yaitu unit 1 dan unit 2, masing-masing unit memiliki kapasitas
100 MW. PLTU Ombilin baru beroperasi untuk pertama kalinya pada tanggal 26 Agustus 1996
untuk unit 1, sedangkan untuk unit 2 baru beroperasi pada tanggal 15 November 1996. Gardu
induk Pada PLTU Ombilin menggunakan Gas insulated Switchgear ( GIS ) yang beroperasi
lebih awal yakni pada tanggal 1 april 1996.
Pembangunan PLTU Ombilin unit 1 dan unit 2 di daerah Sawahlunto telah melalui tahapan-
tahapan yang standar dan tentunya juga telah mempertimbangkan beberapa aspek yang
menunjang untuk diputuskannya pembangunan suatu prmbangkit yang sesuai dengan
infrastruktur yang ada. Adapun tahapan pembangunan PLTU Ombilin antara lain dimulai dengan
tahap pasca konstruksi, tahap konstruksi, tahap operasi, tahap pasca operasi.
Pada bulan Juli 1993 kunstruksi utama dimulai dan secara bertahap pembangunan PLTU
Ombilin unit 1 dan unit 2 mulai dikerjakan, 3 (tiga) tahun kemudian yaitu pada bulan Juli
1996,unit 1 beroperasi disusul pada tahun yang sama yaitu pada bulan November 1996 PLTU
unit 2 kemudian beroperasi, sedangkan PLTU itu sendiri dimungkinkan dapat beroperasi selama
± 30 tahun.
Tenaga listrik yang dihasilkan PLTU Ombilin melalui generator dengan tegangan 11,5 kV
dinaikan menjadi 150 kV melalui trafo utama. Kemudian disalurkan melalui taringan tegangan
tinggi 150 kV yang terhubung ke sistem interkoneksi Sumbagsel, Sumbagteng yang dikendalikan
oleh Pusat Penyaluran dan Pengaturan Beban Sumatera (P3BS).
Tahapan-tahapan pembangunan PLTU, kantor dan sarana penunjang lainnya adalah sebagai
berikut :
No. Tanggal/Bulan/Tahun Proses
1. Juli 1993 Awal pembangunan
2. Februari 1996 Awal dimulai Comissioning
3. 26 Agustus 1996 Pengoperasian PLTU unit 1
4. 05 November 1996 Pengoperasian PLTU unit 2
5. 15 Desember 1997 Serah terima proyek selesai
6. 2001 PLTG bergabung berkapasitas 3 x
21,35 MW yang berlokasi di
Kecamatan Pauh limo Padang.
Sedangkan hasil total yang diperoleh pada tahun 2001 adalah :
1. Produksi energi listrik adalah 849.790 MW
2. Pemakaian batu bara adalah 371.895 ton
3. Pemakaian solar adalah 3.663.961 liter
Dengan demikian kapasitas terpasang PLTU Ombilin 2 x 100 MW yang akan melayani sistem
kelistrikan Sumbar Riau melalui sistem interkoneksi (sistem ring) 150 KV.
2.2 Struktur Organisasi PLN
2.2.1 Visi dan Misi Perusahaan
PT. PLN (Persero) memiliki visi dan misi sebagai berikut :
Visi :
Diakui sebagai perusahaan kelas dunia yang bertumbuh kembang, unggul dan
terpercaya dengan bertumpu pada potensi insani.
Misi :
a) Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, berorientasi
pada kepuasan pelanggan, anggota, perusahan dan pemegang saham.
b) Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meningkatkan kualitas
kehidupan masyarakat.
c) Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan Ekonomi.
d) Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan.
Motto :
“ LISTRIK UNTUK KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK “
“ ELECTRICITY FOR A BETTER LIFE “
2.2.2 Struktur Organisasi
Struktur organisasi di PT PLN (Persero) Sektor Ombilin merupakan suatu susunan yang
didalamnya terdapat bagian-bagian yang saling menunjang untuk tercapainya tujuan perusahaan.
Dimana PT PLN (Persero) Sektor Ombilin dipimpin oleh seorang manager yang dibantu 5 orang
Assistant Manager, yaitu :
1. Assistant Manager Engineering
2. Assistant Manager Operasi
3. Assistant Manager Pemeliharaan
4. Assistant Manager Coal & Ash Handling
5. Assistant Manager SDM dan ADM
Dalam melaksanakan tugasnya setiap Assistant Manager dibantu oleh beberapa Supervisor :
a. Assistant Manager Engineering
Mempunyai tugas melakukan perencanaan dan evaluasi pengoperasian pemeliharaan
pembangkitan tenaga listrik. Dalam menjalankan tugasnya, Assistant Manager Engineering
dibantu oleh staf fungsional.
b. Assistant Manager Operasi
Mempunyai tugas / bertugas dalam pelaksanaan pengoperasian unit pembangkit tenaga listrik
dengan rencana & prosedur yang ditetapkan dalam menjalankan tugasnya, Assistant Manager
Operasi dibantu oleh 5 orang Supervisor, yaitu :
1. Supervisor Operasi Shift A
2. Supervisor Operasi Shift B
3. Supervisor Operasi Shift C
4. Supervisor Operasi Shift D
5. Supervisor Analisis Kimia
c. Assistant Manager Pemeliharaan
Dalam menjalankan tugasnya Assistant Pemeliharaan dibantu oleh :
1. Supervisor Pemeliharaan Listrik dan proteksi
2. Supervisor Pemeliharaan Kontrol dan Instrument
3. Supervisor Pemeliharaan Boiler
4. Supervisor Pemeliharaan Turbin
d. Assistant Manager Coal dan Ash Handling
Dalam menjalankan tugasnya Assistant Manager Coal dan Ash Handling dibantu oleh 4 orang
Supervisor yaitu:
1. Supervisor Operasi Coal & Ash
2. Supervisor Pemeliharaan Coal Handling
3. Supervisor Pemeliharaan Ash Handling
4. Supervisor Bahan bakar & Energi primer
e. Assistant Manager SDM & ADM
Mempunyai tugas SDM & ADM. Dalam menjalankan tugasnya Assistant Manager SDM &
ADM dibantu oleh 5 orang Supervisor, yaitu :
1. Supervisor SDM & Umum
2. Supervisor Anggaran & Keuangan
3. Supervisor Akuntansi
4. Supervisor Logistik
f. Manager Unit PLTG Pauh Limo
Manager Unit PLTG Pauh Limo dibantu oleh 3 orang Supervisor, yaitu :
1. Supervisor Operasi
2. Supervisor Pemeliharaan
3. Supervisor Administrasi & Keuangan
2.3 Peralatan Utama PLTU Sektor Ombilin
Peralatan utama PLTU Ombilin secara umum dibagi beberapa bagian, yaitu :
2.3.1 Boiler
Boiler adalah station untuk melakukan proses pemanasan yang akan merubah air menjadi uap.
Boiler memiliki beberapa peralatan bantu, yaitu :
1. Economizer
Economizer berfungsi untuk meningkatkan temperatur air ( pemanasan awal) sebelum masuk ke
boiler untuk selanjutnya di alirkan ke steam drum, komponen ini berada dalam boiler yang terdiri
dari rangkaian pipa-pipa (tubes) yang menerima air dari inlet.
Sumber panas yang diperlukan oleh alat tersebut berasal dari gas buang dalam boiler. Air
mengalir dalam pipa–pipa, sementara di luar mengalir gas panas yang berasal dari hasil p
embakaran boiler. Selanjutnya steam panas tersebut dimanfaatkan untuk memanaskan air
sehingga temperaturnya meningkat.
Penggunaan Economizer untuk pemanasan awal sangatlah penting, karena:
a. Hal tersebut dapat meningkatkan efisiensi boiler secara keseluruhan, karena panas yang ada
pada steam bisa dimanfaatkan untuk melakukan usaha.
b. Dengan memanaskan air sebelum air diubah menjadi steam di Boiler, berarti mempermudah
kerja Boiler, hanya sedikit saja panas yang perlu ditambahkan.
c. Pemanasan air hanya akan mengurangi Thermal Shock pada Boiler.
2. Boiler Drum
Berfungsi untuk menyimpan air dalam volume yang besar dan untuk memisahkan uap dari air
setelah proses pemanasan yang terjadi dalam Boiler. Secara umum, ada empat jenis pipa
sambungan dasar yang berhubungan dengan Steam Drum, yaitu:
Feed Water Pipe
Berfungsi mengalirkan air dari Economizer ke Distribution Pipe yang panjangnya sama persis
dengan Steam Drum. Distribute Pipe berfungsi mengalirkan air dariEconomizer secara merata
keseluruh bagian Steam Drum.
Downcomer atau Pipa turun
Ditempatkan disepanjang bagian dasar Steam Drum dengan jarak yang sama antara yang satu
dengan yang lainnya. Pipa-pipa ini mengalirkan air dari Steam Drum menuju Boiler Circulating
Pump. Boiler Water Circulating Pump (BWCP) digunakan untuk memompa air
dari Downcomer dan mensirkulasikannya menuju Waterwall yang kemudian air tersebut
dipanaskan oleh pembakaran di Boiler dan dikirim kembali ke Steam Drum.
Waterwall Pipe
Terletak dikedua sisi Steam Drum dan merupakan pipa-pipa kecil yang berderet vertikal dalam
Boiler, setiap pipa disambung satu sama lain agar membentuk selubung yang kontinu dalam
Boiler. Konstruksi seperti ini disebut konstruksi membran. Waterwallbertugas menerima dan
mengalirkan air dari Boiler Circulating Pump kemudian dipanaskan dalam Boiler dan dialirkan
ke Steam Drum.
Steam Outlet Pipe
Merupakan sambungan terakhir, diletakkan dibagian atas Steam Drum untuk
memungkinkan Saturated Steam keluar dari Steam Drum menuju Superheater.
Dalam Steam Drum, Saturated Steam akan dipisahkan dan diteruskan untuk pemanasan lebih
lanjut di Superheater, sedangkan airnya tetap berada dalam Steam drum dan dialirkan ke Down
Comer, dari sini proses akan dimulai lagi. Selain pipa tersebut, juga terdapat Blowdown
Pipa yang letaknya dibagian bawah Steam Drum, tepat dibawah permukaan air. Saat air berubah
menjadi uap, kotoran-kotoran air akan tetap tinggal di air dalam Steam Drum. Jika konsentrasi
kotoran tersebut menjadi tinggi, kemurnian steam yang keluar dari Steam Drum akan
terpengaruh dan akan terbawa ke Super Heater ataupun ke Turbin. Pipa Blowdown akan
menghilangkan sebagian kotoran air Boiler dari permukaan Steam Drum, dan mengalirkannya
sehingga dapat mengurangi konsentrasi kotoran dalam air Boiler, dan pada akhirnya dapat
menjaga Super Heater dan Turbin tetap bersih.
3. Down Comer
Down Comer berupa pipa berukuran besar, yang menghubungkan bagian bawah boiler
drum dengan Lower Header.
Down comer berfungsi untuk mengalirkan air turun dari boiler drum menuju lower
header. Dari lower header air akan masuk ke tube wall (riser) untuk diubah menjadi uap dan
kembali ke boiler drum.
4. Tube Wall
Panas yang dihasilkan oleh proses pembakaran di dalam furnace sebagian diberikan
kepada air yang ada di dalam tube wall sehingga air berubah menjadi uap. Selain berfungsi
untuk merubah air menjadi uap tube wall juga mencegah penyebaran panas dalam furnace ke
udara luar.
5. Heater
a. Superheater
Superheater merupakan kumpulan pipa Boiler yang terletak dijalan aliran gas panas hasil
pembakaran. Panas dari gas ini dipindahkan ke Saturated Steam yang ada dalam
pipaSuperheater, sehingga berubah menjadi Super Heated Steam.
Superheater ini ada dua bagian, yaitu Primary Superheater dan Secondary Superheater. Primary
Superheater merupakan pemanas pertama yang dilewati olehSaturate Steam setelah keluar
dari Steam drum, setelah itu baru melewati Secondary Superheater dan menjadi Super Heated
Steam. SH Steam akan dialirkan untuk memutarHigh Presure Turbin, dan kemudian tekanan dan
temperaturnya akan turun.
a) Low Temperature Super Heater (LTSH)
b) High Temperatur super Heater (HTSH)
b. Re-Heater
Setelah tekanan dan temperatur SH Steam turun maka SH Steam tersebut akan dikembalikan ke
Boiler untuk pemanasan ulang. Pemanasan ulang ini berlangsung di bagian Boiler yang
disebut Re-Heater yang merupakan kumpulan pipa Boiler yang diberi panas dari gas
pembakaran seperti Superheater. Jadi Re-Heater berfungsi untuk menaikkan temperatur SH
Steam tanpa mempengaruhi tekanannya. Di bagian Re Heater, SH Steamakan dikembalikan
untuk memutar Intermediate Presure Turbine(IP) dan Low Presure Turbine (LP).
c. Air Pre-Heater
Air Pre-Heater adalah instrument yang sistem kerjanya berputar dengan putaran rendah dan
berfungsi untuk memanasi udara pembakaran sebelum dikirim ke Furnace. Pemanas Udara
pembakaran tersebut diambil dari gas buang hasil pembakaran dariFurnace yang dialirkan
melalui Air Pre-Heater sebelum dibuang ke Chimney.
6. Desuperheater
Desuper Heater terletak diantara Low temperatur super heater dan high temperature super
heater yang berfungsi untuk mengendalikan temperature uap dengan cara memancarkan air dari
pemanas tekanan tinggi ke dalam uap.
Untuk pengoperasian boiler ini ada beberapa sistem pendukung utama yang terdiri dari :
a) Sistem bahan bakar
b) Sirkulasi air dalam boiler
c) Sistem udara bahan bakar
d) Sistem gas buang
Gambar 2.1. Sistem Pengubahan air menjadi uap dalam Boiler
(Sumber : PT. PLN Persero )
Data teknik Boiler :
Pabrik : GEC ALSTHOM Stein Industrie France
Tipe : single drum
Kapasitas uap : 420 ton/ hr
Tekanan uap : 110 bar abs
Suhu uap : 513oC
Bahan baker utama : batu bara
2.3.2 Precipitator, stack
Batubara yang dibakar akan menghasilkan Burning carbon dioxide (CO2), sulphur
dioxide (SO2) dan nitrogen oxides (NOx). Gas – gas ini dikeluarkan dari Boiler. Bottom ash atau
abu yang lebih tebal / berat yang terbuat dari serpihan coarse dijatuhkan ke bawah Boiler dan
masuk ke silo untuk dibuang. Fly ash atau abu yang sangat ringan terbawa oleh gas panas di
dalam Boiler. Fly Ash ini dtangkap oleh electrostatic precipitator ( ESP ) sebelum gas buang
terbang ke udara melalui cerobong asap ( Stack / Chimney ). ESP berfungsi sebagai filter udara
yang menyaring atau menangkap 99.4% fly ash.
2.3.3 Turbin
Turbin adalah alat yang berfungsi untuk merubah energi kinetik menjadi energi mekanik.
Pada PLTU Ombilin yang digunakan adalah turbin uap (steam turbin), memiliki sudu-sudu 20
tingkat. Sudu-sudu pada turbin ini terdiri dari sudu tetap dan sudu gerak. Turbin uap ini juga
dilengkapi dengan 2 (dua) Main Stop Valve dan 4 (empat) Governor Valve.
Spesifikasi Steam Turbin di PLTU Ombilin adalah sebagai berikut :
Jenis : Condensing turbin, silinder tunggal, poros tunggal, non reheatdan
mempunyai kemampuan operasi dengan 5 jenis pemanasan pendahuluan (Regenerative Feed
Heating System).
Type/tingkat : impuls/ 20 tingkat
Daya : 100 MW
Daya maksimum : 110 MW dalam kondisi throttle valve terbuka lebar (VWO ) dan
5% over pressure.
Data kondisi guarantee output :
Tekanan uap : 100 bar
Suhu uap : 510oC
Enthalpy : 3400 KJ/ Kg
Jumlah uap : 373,4 T/ hr
Tekanan condenser : 0,091 bar
Kecepatan putar poros : 3000 rpm
Pabrik : GEC ALSTHOM Rateu La Courneuve
Tipe : TC 114 MV 140
Tekanan uap keluar : 96 mbar
2.3.4 Generator
Generator merupakan peralatan yang dapat mengubah energi mekanik menjadi energi
elektrik. Pada PLTU Ombilin ini generator yang digunakan adalah generator sinkron yang
mempunyai 2 buah kutub.
2.3.5 Kondensator (Condensers) & Sistem Air Pendingin (cooling water system)
Air pendingin dialirkan ke dalam pembangkit dan disirkulasikan melalui pipa – pipa di dalam
kondensor, yang digunakan untuk mendinginkan uap yang berasal dari turbin. Air pendingin
yang bisa diambil dari air laut akan mendinginkan uap panas sehingga berubah menjadi air murni
kembali dan disirkulasikan kembali ke Boiler untuk dipanaskan menjadi uap dan memutar
turbin. Air pendingin yang diambil dari laut sekarang menjadi hangat karena adanya pertukaran
panas di dalam kondensor, dibuang kembali ke sungai.
2.3.6 Substation, transformer, transmission lines
Listrik yang dihasilkan oleh generator biasanya mempunyai tegangan 6,000 Volt atau 11,000
Volt akan dinaikan tegangannya menjadi 150,000 Volt ( 150kV ) atau 500,000 Volt ( 500kV )
melalui transformer sesuai system kelistrikan di Indonesia dan dialirkan ke Gardu Induk
( substation ) untuk didistribusikan. Kenaikan tegangan tersebut diperlukan untuk keperluan
pendistribusian hingga ratusan kilometer ke wilayah lain melalui jaringan transmisi.
Untuk penggunaan sehari – hari ataupun industri, tegangan tinggi tersebut akan diturunkan
kembali melalui transformer menjadi 380 Volt ( phasa ke phasa ) atau lebih dikenal 220 Volt
( phasa ke netral ).
2.3.7 Sistem Kelistrikan di PT. PLN (Persero) Kit. Sumbagsel Sektor
Pembangkitan Ombilin
PT. PLN (Persero) Kit. Sumbagsel Sektor Pembangkitan Ombilin mempunyai dua unit
pembangkit dengan kapasitas terpasang 2 x 100 Mw. Sistem kelistrikan di PT. PLN (Persero)
Kit. Sumbagsel Sektor Pembangkitan Ombilin menurut tegangan yang digunakan, yaitu :
1. Sistem 150 KV
2. Sistem 6 KV
3. Sistem 380 V
4. Sistem 220 V
5. Sistem Uninteruptable power suply (UPS) 220 V
6. Sistem 48 V DC
Gambar 2.2 Sistem kelistrikan PLTU Ombilin
(Sumber : PT. PLN Persero )
Konstruksi Generator adalah seporos dengan turbin sehingga dengan berputarnya Turbin
maka Generator ikut berputar. Generator dilengkapi dengan penguatan dari exciter maka
generator menghasilkan energy listrik 3 phasa dengan tegangan 11,5 kV. Selanjutnya disalurkan
melalui Generator Transformer sehingga tegangannya dinaikan menjadi 150 kV menuju
Gas Insulated Switchgear(GIS) yang merupakan switch yard 1,5 CB. Sistem penyaluran melalui
saluran udara tegangan tinggi 150 kV menuju GI Salak dan GI Indarung.
2.4 Sistem Pengoperasian PLTU Sektor Ombilin
PLTU berbeda dengan PLTA yang hanya memiliki system lebih sederhana berupa
pengolahan air saja, PLTU memiliki semua teknologi yang dibutuhkan mulai dari pengolahan
air, pengolahan bahan baker batu bara serta diesel (High Speed Diesel), teknologi pengolahan
pembuangan limbah (asap dan debu hasil pembakaran batu bara), teknologi transportasi batu
bara, teknologi pendinginan dengan menara pendingin dan masih banyak lagi teknologi-
teknologi sederhana yang membentuk PLTU Ombilin ini menjadi system terbesar pembangkit
tenaga. Sistem-sistem itu secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi :
1. Sistem Pengolahan Air
2. Sistem Bahan Bakar (batu bara dan HSD)
3. Sistem Air dan Uap
4. Sistem Udara dan Gas Buang
Skema umum alur konversi energi dari pengoperasian PLTU Ombilin ini adalah:
Gambar 2.3 . Skema Konversi Energi PLTU Ombilin
2.4.1 Sistem Pengolahan Air
Air merupakan salah satu komponen yang penting untuk memenuhi kebutuhan PLTU Ombilin dalam pembangkitan energi listrik
dengan tenaga uap. Air yang digunakan diambil dari sungai Ombilin setelah memelalui beberapa tahap pengolahan.
Sistem pengolahan air dibedakan atas dua bagian yaitu :
1. Sistem eksternal
2. Sistem internal
A. Sistem eksternal
Sistem eksternal dilakukan di Pretreament Plant dan Water Treatment Plant. Pengolahan air bertujuan untuk mengolah bahan mentah
air (air sungai) menjadi air murni yang siap untuk diubah menjadi uap sehingga dapat membangkitkan energi listrik.
Sirkulasi air di preatreatment dapat digambarkan sebagai berikut
Gambar 2.4. Sirkulasi air di pretreatment
( Sumber : PT. PLN Persero )
Gambar 2.5 Sistem WTP
(Sumber : PT. PLN (Persero)
1. Air Sungai Ombilin
Air sungai dipompakan dengan menggunakan River Water Pump (RWP). Di PLTU Ombilin ada tiga buah RWP yang pengoperasiannya
ditentukan dengan kebutuhannya. Jika kebutuhan air 580 ton maka pompa yang digunakan dua buah RWP. Sedangkan satunya lagi
dalam keadaan stand by. Sistem pengaturannya diatur secara otomatis.
Sebelum air menuju clarifier terlebih dahulu masuk kedalam mixer. Mixer merupakan
tempat pengadukan zat-zat kimia seperti :
Alum/Tawas, yaitu untuk membuat flok dan koagulan dan untuk mempermudah pengendapan
kotoran.
Polyelektrolit, yaitu untuk mempercepat proses pengendapan, yaitu dengan mengikat partikel-
partikel zat terlarut yang terdapat dalam air sehingga dijadikan butiran-butiran yang melayang-
layang di dalam air menjadi berat dan mengendap di dalam air.
Sodium Hypocloride, yaitu untuk menghambat pertumbuhan lumut dan membunuh
mikroorganisme.
Kapur, yaitu untuk menaikkan pH air.
Setelah melalui mixer kemudian diteruskan ke clarifier yang terlebih dahulu air tersebut disaring ke Bar Screen yang gunanya untuk
menyaring benda-benda yang berukuran besar,kemudian air dipompakan ke Bak Clarifier.
a. Bak Clarifier
Clarifier ini merupakan bak pengendapan dimana pada bak ini dilengkpai dengan pulsator. Pulsatorberfungsi untuk menyalurkan atau
mendistrikbusikan air bersih yang akan menuju Storage Basin.
b. Storage Basin (Bak Penampungan)
Storage Basin berfungsi sebagai bak penampungan air dari clafifier yang kemudian dipompakan untuk :
2. Water Service (Pelayanan Air)
Water service merupakan air umpan Sand Filter (Saringan Pasir) dan untuk Service water yaitu air yang digunakan untuk air minum dan
sanitasi (kesehatan) di PLTU Ombilin yang diinjeksikan denganSodium Hypoclorid.
Pengolahan air yang dilakukan di Water Treatment Plan (WTP) adalah sebagai berikut :
a. Sand Filter (penyaringan pasir)
Umpan Sand filter ini merupkan tempat penyaringan awal yang kemudian air tersebut di
pompakn melalui Sand filter yang beriksi pasir berutujuan untuk menyaring kotoran-kotoran
yang masih terbawa dari Storage Basin.
b. Clear Well (Penampungan air bersih)
Berfungsi untuk menampung air bersih yang dipompakan dari Sand Filter.
c. Aktivated Carbon Filter (Saringan Karbon Aktif)
erfungsi untuk menghilangkan warna, bau, rasa dan sebagai pengikat zat-zat organik.
d. Cation Exchanger (Penukar Kation)
Berfungsi untuk melepas H+ dan mengikat zat-zat yang terlarut pada air tersebut. Setelah
beroperasi lebih kurang 18 jam Cation Exchanger akan menjadi jenuh diregenerasi
(diinjeksikan) dengan Hcl selama kurang lebih 30 menit.
e. Anion Exchanger (Penukaran Ion)
Berfungsi untuk melepaskan OH, seperti halnya pada Cation Excharger setelah beroperasi lebih
kurang 18 jam maka anion exchanger akan jenuh sehingga perlu diinjeksikan NaOH selama
lebih kurang 30 menit.
f. Mixed Bed (Bak Pencampur)
Merupakan alat pencampur yang akan menangkap zat-zat yang lolos dari cation
exchanger sehingga air yang keluar dari mixed bed adalah air yang bebaas mineral.
g. Demineralizer Tank (bak penampungan air mineral)
Merupakan penampungan air bebas mineral dan dipompkan dengan make up pump untuk sistem
internal unit
3. Make up cooling Tower (menara penampungan air dingin)
Make up cooling tower berguna untuk air penampungan pada cooling tower. Air cooling
tower ini digunakan untuk mendinginkan uap bekas pada condenser. Air untukcooling tower ini
dipompkan dari storage basin dengan menggunkan cooling tower make up pump dan
diinjeksikan dengan beberapa zat yaitu :
a. sodium hypoclorid
Berfungsi untuk membunuh mikro organisme yang terdapat dalam air
b. cooper corrotion inhibitor
Berfungsi untuk menghambat terjadinya korosi tembaga (Cu) pada pipa condensator
c. Asam Clorid
Berfungsi untuk meningkatkan derajat keasaman air dari cooling tower air dipompakan
ke circulating water intake pit, kemudian dipompakan lagi olehcirculating water pump ke
Condensor yang berfungsi untuk mendinginkan uap bekas. Dari Condensor air masuk ke
bak cooling tower lagi dengan demikian sirkulasi air pendingan merupakan sirkulasi tertutup.
Kemudian air pada cooling tower diambil pada storage basin dengan cooling tower masuk make
up pump.
4. Diesel Fire Fighting (Pemadam kebakaran)
Merupakan seperangkat alat yang digunakan untuk memadamkan kebakaran apabila terjadi
kebakaran.
B. Sistem Internal
Sistem internal dimulai dari Hot well, air demineralizer tank dipompakan denganmake
up ke Hot well, begitu air condensat yang berasal dari condensor ke Hot well. Air dari Hot
well dipompakan ke Low Presure Heather yang terdiri dari 2 buah yaitu :
a. LPH1 dengan temperature sekitar 49°C - 72°C dan pressure antara
0,5 bar – 0,9 bar
b. LPH 2 dengan temperature sekitsr 56°C - 110°C dan pressure antara
0,9 bar – 1,5 bar
Adapun Hydrazine, digunakan utnuk mengikat oksigen yang terlarut dalam air, sedangkan
Amoniak, digunakan utnuk menstabilkan derajat keasaman ( PH ) air supaya netral (PH 6,2-7,8).
Di LPH temperatur akan naik karena uap ekstrasi dari [Link] Air dari LPH masuk ke
dearator untuk membuang gas-gas yang terlarut dalam temperatur air dimana pemanasan terjadi
dengan menggunakan uap ekstrasi dari turbin yang bercampur langsung dengan air. Selanjutnya
air masuk ke feed water tank dengan menggunakan boiler feed pump air dialiri ke high presure
Heater (HPH) dengan tekanan antara 7 bar – 14 bar. Di HPH temperatur air akan bertambah
karena adanya pemanasan uap ekstrasi dari turbine sebesar 200°C - 304°C.
Air dari HPH masuk ke economizer, pada economizer terjadi pemanasan oleh aliran gas buang
dari sisa pembakaran. Dari economizer air masuk ke drum boiler. Uap yang dihasilkan di boiler
drum masuk ke Superheater dan temperaturnya telah mencapai kurang lebih 5050C kemudian
masuk ke Desuperheaternya yang menghasilkan uap air dengan menginjeksikan hidrazine. Pada
dearator ini juga terjadi kenaikan kering dengan temperatur 5100C, uap kering inilah yang siap
menutar turbin akan masuk ke condenser yang kemudian didinginkan atau di embunkan dengan
menggunkan air pendingan daricooling tower, air dari hasil pengembunan akan ditampung
di Hot Wall.
Adapun Hydrazine, digunakan untuk mengikat oksigen yang terlarut dalam air, sedangkan
amoniak digunakan untuk menstabilkan derajat keasaman (PH) air supaya netral (PH 6,2 - 7,2).
2.4.2 Sistem Bahan Bakar
Bahan bakar yang digunakan adalah sebagai berikut :
1. High Speed Diesel (HSD)
Bahan bakar solar digunakan untuk pembakaran awal yaitu disaat unit batu bara
dioperasikan hingga beban sekitar 35 MW dan pada saat terjadi trip. Bahan bakar solar yang
diterima dari Pertamina Padang terlebih dahulu ditampung pada tangki HSD yang telah
disiapkan . Di PLTU Ombilin terdapat 2 buah tangki HSD yaitu :
a. Satu tangki untuk Storage Tank dengan kapasitas 620 kl
b. Satu tangki untuk Daily Tank dengan kapasitas 220 kl.
Selanjutnya minyak diesel HSD tersebut dikabutkan di burner dan dinyalakan dengan busi listrik
(ignitor).
2. Batu Bara
Peralatan utama pada system bahan bakar batu bara adalah :
Coal bunker
Coal Feeder
Coal Mill
Sealing Air Fan
Primary Air Fan
Peralatan coal bunker digunakan sebagai tempat penampungan batu bara sebelum batu
bara tersebut digiling di dalam coal mill. Sebelum ditampung pada coal bunker , batu bara
tersebut telah melalui Reclaim Hooper, Crush House, Transfer Tower dengan menggunakan belt
conveyor yang dilengkapi dengan Magnetik Separator dan Metal Detector.
Pada crusher house ini batu bara akan dipecah sehingga ukurannya sekitar 40 mm. Setiap
unit boiler mempunyai empat buah coal bunker dan setiap coal bunker bertugas menyuplai
satu buah coal mill. Kapasitas masing-masing coal bunker dalah 160 ton. Dari coal
bunker batu bara ditransfer ke coal mill dengan menggunakan bantuan coal [Link]
feeder berfungsi untuk menyuplai batu bara ke dalam mill sesuai dengan kebutuhannya. Volume
batu bara yang disuplai ke dalam mill pada akhirnya akan menentukan banyaknya uap yang akan
diproduksi oleh boiler.
Coal mill adalah alat untuk menggiling batu bara menjadi serbuk yang sangat halus. Batu
bara yang halus ini dapat membantu proses pembakaran menjadi sempurna dan cepat. Untuk satu
unit terdapat empat coal mill dan satu coal mill mempunyai empat [Link]-masing
keluaran menuju setiap sudut (corner) pada boiler. Serbuk batu bara yang dihembuskan ke ruang
bkar boiler dibantu dengan bantuan udara dari Primary Air Fan (PAF). Primary air fan ini juga
membantu proses pembakaran pada boiler, karena sebelumnya sudah ada nyala api (burner)
maka serbuk batu bara tersebut terbakar. Setelah aapi batu bara sudah normal selanjutnya burner
solar dimatikan.
Seperti sudah dijelaskan di atas bahwa untuk penyalaan awal di ruang bakar boilerbahan
bakar adalah HSD. HSD dipakai sampai daya yang dibangkitkan generator untuk setiap unit
sampai maksimal + 35 MW. Kemudian dari 35 MW 60 MW bahan bakar boileradalah batu bara
yang diambil dari dua buah silo (coal bunker ). Dari 60 MW sampai beban maksimum (100
MW) batu bara di tambah satu silo lagi. Sedangkan dari 25 MW sampai 35 MW adalah masa
transisi dari bahan bakar HSD ke bahan bakar batu bara.
2.4.3 Sistem Sirkulasi Air dan Uap
Air dipompakan ke dalam boiler dengan menggunakan pompa air pengisi (Boiler Feed
Pump/BFP), melalui katup pengatur. Sebelum masuk ke dalam boiler drum air dipanaskan
terlebih dahulu di low pressure heater juga dipanasi di high pressure heaterdengan
menggunakaan uap ekstrasi dari turbin dan kemudian dipanaskan di economizerdengan
menggunakan panas sisa pembakaran pada boiler, sehingga temperatur air mendekati titik
didihnya.
Gambar 2.6 Siklus air dan uap
(Sumber : PT. PLN (Persero)
Dari ecomonizer air disalurkan ke boiler drum. Dari boiler drum bersirkulasi
melalui down comer berupa pipa berukuran besar yang menghubungkan bagian bawahboiler
drum dengan lower header. Dari lower header air akan masuk ke tube wall(riser)berupa
didnding segi empat (berupa pipa-pipa) yang mengitari ruang bakar. Panas yang dihasilkan dri
proses pembakaran di dalam ruang bakar sebagian diberikan pada air yang berada dalam tube
wall sehingga air berubah menjadi uap basah. Uap hasil penguapan daritube wall terkumpul
dalam boiler drum. Uap akan mengalir ke dalam puncak boiler drummelewati
steam separator (pemisah uap) dan screen dryer (pengering uap), lalu keluar dari drum dalam
keadaan kering menuju superheater yang terdiri dari low temperatue superheater dan high
temperature superheater yang berfungsi sebagai pemanasan [Link] panas
dari superheater disalurkan melelui desuperheater yang bertujuan untuk mengatur temperatur
uap menuju [Link]-butir air yang terpisah dari uap boiler drumakan jatuh bersirkulasi
kembali bersama air masuk.
Sebagian uap bekas dari turbin ditampung di condensor. Pada condensor tejadi
pengembunan dengan bantuan air pendingin dari cooling tower. Air hasil pengembunan akan
ditampung pada hot well. Air tersebut akan dipompakan menuju low pressure heater(LPH)
dengan bantuan condensate pump. Air dari LPH akan disalurkan pada deaeratordan terjadi pula
pemanasan di dalam deaerator dengan menggunakan uap ekstrasi dari turbin, dimana
pada deaerator tersebut air condensate bercampur dengan langsung dengan uap pemanasan dari
turbin. Fungsi dari deaerator ini adalah untuk mengurangi kandungan gas dalam air pengisi
(water condensate). Air dari deaerator tersebut ditampung pada feed water tank dan
dipompakan dengan menggunakan boiler feed pump menuju high pressure heater.
2.4.4 Sistem Udara dan Gas Buang
Sistem Udara
Proses pembakaran pada furnace udara diambil dari luar dengan menggunakanforce
draft fan yang merupakan kipas udara yang menghisap uadar luar dengan menghembuskan ke
ruang bakar melalui tubular air heater.
Pada tubular air heater udara dipanaskan sehingga temperatur udara pembakaran +300oC
guna menghasilkan pembakaran yang lebih sempurna. Sebagian daari udara panas setelah
melalui tubular air heater, dihisap dan dinaikkan tekanannya oleh primary air fansebagi udara
primer. udara ini digunakan untuk mengeringkan batu bara di dalam coal millserta
menghembuskan sebuk batu bara ke dalam ruang bakar melalui coal burner.
Sistem Gas Buang
Percampuran udara dan bahan bakar bereaksi dalam proses pembakaran yang
menghasilkan panas dan gas buang, abu (bottom ash) dan debu (fly ash). Gas buang ini mengalir
dari ruang bakaar di dalaam saluran gas buang (flue gas duct) menuju cerobong (stack). Panas
dari gas buang ini sebelum menuju cerobong dimanfaatkan untuk
memanaskan superheater dan economizer dan kemudian gas buang dialirkan ke tubular air
heater dan dimanfaatkan untuk memanaskan udara. Dari tubular air heater gas buang tersebut
masuk ke electrostatic precipitator. Pada electrostatic precipator ini terjadi penangkapan debu-
debu yang keluar bersama gas buang.
Debu-debu yang menempel pada electrostatic precipitator ditampung di dalam ash
hooper yang kemudian di tampung pada ash silo untuk dibuang ke tampat pembuangan.
Sedangkan gas bersih keluar dari electrostatic precipitator dibuang ke cerobong melaluiinduce
draft fan (IDF) yang merupakan kipas hisap yang menghisap gas buang dari dalam ruang bakar
dan melalui cerobong.