SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
PROMOSI KESEHATAN
TUBERKULOSIS
OLEH
KELOMPOK 3
TINGKAT 2 REGULER C
DOMINIKUS NAIHELI PO 5303201211334
ELISABETH ELVIS KOBAN PO 5303201211335
ENJELINA SIBA SABON PO 5303201211336
DOSEN PEMBIMBING : IBU FITRI HANDAYANI
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN KUPANG
JURUSAN KEPERAWATAN
TAHUN AKADEMIK 2022/2023
SATUAN ACARA PENYULUHAN
TUBERKULOSIS (TBC)
Pokok Bahasan : Tuberkulosis (TBC)
Sub Pokok Bahasan : Penjelasan pengertian, penularan, penyebab, tanda dan gejala,
pencegahan, penatalaksanaan pada klien dengan Tuberkulosis
Sasaran : Keluarga
Penyuluh : Dominikus Naiheli, Elisabeth Elvis Koban, Enjelina Siba Sabon
Hari/tanggal : Senin, 7 November 2022
Waktu/jam : 30 menit/WITA
Tempat : Rumah
A. TUJUAN
a. Tujuan Intruksional Umun (TIU)
Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan klien mampu mengetahui dan mengerti
tentang proses penularan TBC dan cara penatalaksanaannya.
b. Tujuan Intruksional Khusus (TIK)
Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan klien mampu :
a. Menjelaskan kembali pengertian TBC
b. Menyebutkan cara penularan TBC
c. Menyebutkan penyebab TBC
d. Menyebutkan tanda dan gejala TBC
e. Menjelaskan cara pencegahan TBC
f. Menjelaskan cara penatalaksaan TBC
B. MATERI
1. Pengertian TBC
2. Cara penularan TBC
3. Penyebab TBC
4. Tanda dan gejala TBC
5. Pencegahan TBC
6. Penatalaksanaan TBC
C. METODE
1. Ceramah
2. Diskusi
D. MEDIA PENYULUHAN
1. Leafled
2. Lembar Balik
E. SASARAN
Keluarga Tn. F di RT
F. SETING TEMPAT
klien
keluarga klien
Keterangan :
: pembimbing
: moderator dan peserta
: meja
: klien dan keluarga klien
G. PENGORGANISASIAN
Moderator : Dominikus Naiheli
Pemateri : Elisabeth Elvis Koban dan Enjelina Siba Sabon
H. SUSUNAN ACARA
No Kegiatan Waktu Respon Keluarga
1 Pembukaan
a. Memberikan salam Menjawab salam
b. Memperkenalkan diri Mendengarkan
c. Menjelaskan tujuan 5 menit Mendengarkan
d. Memberikan kesempatan untuk Bertanya
bertanya
2 Kegiatan Inti
a. Menjelaskan apersepsi Menjawab
b. Menjelaskan pengertian tentang Mendengarkan
TBC
c. Menjelaskan penyebab TBC Bertanya
d. Menyebutkan tanda dan gejala
15 menit
e. Menjelaskan cara penanganann
TBC
f. Menjelaskan pencegahan TBC
g. Memberikan kesempatan
penghuni untuk bertanya
3 Penutup
a. Melakukan evaluasi Menjawab
b. Memberikan reinforcement Mendengarkan
c. Menyimpulkan kegiatan 10 menit Menyimpulkan Bersama
d. Salam penutup Menjawab salam
I. KRITERIA HASIL
1. Evaluasi struktur
a. Peserta hadir di tempat penyuluhan
b. Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di tempat yang telah ditentukan
c. Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelumnya
2. Evaluasi proses
a. Peserta antusias terhadap materi penyuluhan
b. Peserta konsentrasi mendengarkan penyuluhan
c. Peserta dapat mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar
3. Evaluasi hasil
a. Peserta mampu mengetahui dan menjelaskan pengertian TBC
b. Peserta mampu mengetahui dan menjelaskan cara penularan TBC
c. Peserta mampu mengetahui dan menjelaskan penyebab TBC
d. Peserta mampu mengetahui dan menjelaskan tanda dan gejala TBC
e. Peserta mampu mengetahui dan menjelaskan pencegahan TBC
f. Peserta mampu mengetahui dan menjelaskan penatalaksanaan TBC
4. Pertanyaan untuk sasaran
a. Jelaskan pengertian TBC
b. Bagaimana cara penularan TBC
c. Apa penyebab TBC
d. Sebutkan tanda dan gejala TBC
e. Bagaimana cara mencegah TBC
f. Bagaimanakah penatalaksanaan klien dengan TBC
LAMPIRAN
MATERI PENYULUHAN
1. Pengertian TBC
TBC adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman microbacterium
tuberculosis. Sebagian besar kuman TBC menyerang paru-paru, tetapi dapat juga
mengenai organ tubuh yang lain.
Tuberculosis adalah penyakit yang disebabkan Mycobacterium tuberculosis yang
hampir seluruh organ tubuh dapat terserang olehnya, tapi yang paling banyak adalah
paru-paru ([Link]).
Tuberculosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium
Tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi (Mansjoer, 1999).
TB Paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TBC
(Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman menyerang Paru,tetapi dapat
juga mengenai organ tubuh lain (Dep Kes,2003). Kuman TB berbentuk batang
mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pewarnaan yang disebut pula Basil
Tahan Asam (BTA).
2. Penularan TBC
Adapun Cara penularan Tuberkulosis (TB) sebagai berikut :
a) Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif melalui percikan dahak yang
dikeluarkan. Namun, bukan berarti bahwa pasien TB dengan hasil pemeriksaan
BTA negatif tidak dapat menularkan, karena sensitivitas dengan pemeriksaan
mikroskopis hanya 60%.
b) Infeksi akan terjadi bila seseorang menghirup udara yang mengandung percikan
dahak pasien TB.
c) Pada waktu pasien batuk, bersin dan bicara dapat mengeluarkan sampai satu juta
percikan dahak (droplet nuclei) (KemkesRI, revisi 2015).
3. Penyebab TBC
Menurut WHO 2014 Tuberkulosis paru (TB paru) merupakan penyakit
menular yang disebabkan oleh kuman tuberkulosis (Mycobacterium tuberculosa).
Penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan global (Husnaniyah, 2017).
4. Tanda dan gejala TBC
Menurut Menkes (2018) menyatakan bahwa gejala utama pasien TB paru yaitu
batuk berdahak selama 2 minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala
tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu
makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa
kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan. Pada pasien dengan HIV positif,
batuk sering kali bukan merupakan gejala TB yang khas, sehingga gejala batuk tidak
harus selalu selama 2 minggu atau lebih.
Menurut Rab (2010) tanda-tanda klinis dari tuberculosis adalah terdapatnya
keluhan-keluhan berupa:
a) Batuk
b) Sputum mukoid atau purulent
c) Nyeri dada
d) Hemoptisis
e) Dispneu
f) Demam dan berkeringat, terutama pada malam hari
g) Berat badan berkurang
h) Anoreksia
i) Malaise
j) Ronki basah di apeks paru
k) Wheezing (mengi) yang terlokalisir.
5. Pencegahan TBC
1) Menurut McKenzie (2006) ada 3 tingkat pelaksanaan tindakan pencegahan dalam
pengendalian penyakit, yaitu:
a) Pencegahan Primer adalah mencegah awitan suatu penyakit atau cedera selama
masa prapatogenesis (sebelum proses suatu penyakit dimulai). Contohnya yaitu
program pendidikan kesehatan dan promosi kesehatan, proyek rumah aman,
pengembangan personalitas dan pembentukan karakter, dan penggunaan
imunisasi terhadap penyakit tertentu.
b) Pencegahan sekunder adalah diagnosis dini dan pengobatan segera penyakit
sebelum penyakit itu berkembang dan disabilitas menjadi parah. Salah satu
tindakan pencegahan sekunder yang paling penting adalah screening kesehatan.
Tujuan skrining ini bukan untuk mencegah terjadinya penyakit tetapi lebih untuk
mendeteksi keberadaannya selama masa ptogenesis awal, sehingga intervensi
(pengobatan) dini dan pembatasan disabilitas dapat dilakukan.
c) Pencegahan Tersier adalah melatih kembali, mendidik kembali dan merehabilitasi
pasien yang mengalami disabilitas permanen. Tindakan pencegahan terserier
mencakup tindakan yang diterapkan setelah berlangsungnya masa pathogenesis.
2) Menurut Naga (dalam Utami dkk, 2015) berpendapat bahwa tindakan yang dapat
dilakukan untuk mencegah timbulnya penyakit TBC, yaitu:
a) Bagi penderita, pencegahan penularan dapat dilakukan dengan menutup mulut
saat batuk dan membuang dahak tidak di sembarang tempat
b) Bagi masyarakat, pencegahan penularan dapat dilakukan dengan meningkatkan
ketahanan terhadap bayi, yaitu dengan memberikan vaksinasi BCG.
Bagi petugas kesehatan, pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan
penyuluhan tentang penyakit TBC, yang meliputi gejala, bahaya, dan akibat
yang ditimbulkannya terhadap kehidupan masyarakat pada umumnya.
c) Petugas kesehatan juga harus segera melakukan pengisolasian dan pemeriksaan
terhadap orang-orang yang terinfeksi, atau dengan memberikan pengobatan
khusus kepada penderita TBC. Pengobatan dengan cara dirawat di rumah sakit
hanya dilakukan bagi penderita dengan kategori berat dan memerlukan
pengembangan program pengobatannya, sehingga tidak dikehendaki
pengobatan jalan.
d) Pencegahan penularan juga dapat dicegah dengan melaksanakan desinfeksi,
seperti cuci tangan, kebersihan rumah yang ketat, perhatian khusus terhadap
muntahan atau ludah anggota keluarga yang terjangkit penyakit TBC (piring,
tempat tidur, pakaian) dan menyediakan ventilasi dan sinar matahari yang
cukup.
e) Melakukan imunisasi bagi orang-orang yang melakukan kontak langsung
dengan penderita, seperti keluarga, perawat, dokter, petugas kesehatan, dan
orang lain yang terindikasi, dengan vaksin BCG dan tindak lanjut bagi yang
positif tertular. Peran masyarakat dalam pencegahan penularan TB yaitu
masyarakat juga dapat menyampaikan pesan kepada anggota masyarakat
lainnya tentang pencegahan penularan TB dan berperilaku hidup bersih dan
sehat serta bagaimana mengurangi faktor risiko yang membantu penyebaran
penyakit. (Permenkes RI, 2016)
6. Penatalaksanaan TBC
Menurut Permenkes No. 67 Tahun 2016, penanganan kasus TB yaitu dengan:
1) Pengobatan TB
a) Tujuan Pengobatan TB adalah:
- Menyembuhkan pasien dan memperbaiki produktivitas serta kualitas hidup.
- Mencegah terjadinya kematian oleh karena TB atau dampak buruk
selanjutnya.
- Mencegah terjadinya kekambuhan TB.
- Menurunkan risiko penularan TB.
- Mencegah terjadinya dan penularan TB resistan obat.
b) Prinsip Pengobatan TB:
Obat Anti Tuberkulosis (OAT) adalah komponen terpenting dalam pengobat
TB. Pengobatan TB merupakan salah satu upaya paling efisien untuk
mencegah penyebaran lebih lanjut kuman TB.
2) Tahapan Pengobatan TB: Pengobatan TB harus selalu meliputi pengobatan tahap
awal dan tahap lanjutan dengan maksud:
a) Tahap Awal: Pengobatan diberikan setiap hari. Paduan pengobatan pada
tahap ini adalah dimaksudkan untuk secara efektif menurunkan jumlah kuman
yang ada dalam tubuh pasien dan meminimalisir pengaruh dari sebagian kecil
kuman yang mungkin sudah resistan sejak sebelum pasien mendapatkan
pengobatan. Pengobatan tahap awal pada semua pasien baru, harus diberikan
selama 2 bulan. Pada umumnya dengan pengobatan secara teratur dan tanpa
adanya penyulit, daya penularan sudah sangat menurun setelah pengobatan
selama 2 minggu pertama.
b) Tahap Lanjutan: Pengobatan tahap lanjutan bertujuan membunuh sisa sisa
kuman yang masih ada dalam tubuh, khususnya kuman persister sehingga
pasien dapat sembuh dan mencegah terjadinya kekambuhan.
DAFTAR PUSTAKA
Doengoes Marilynn [Link] Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta, 2000.
[Link]/assets/file/kti/1601100070/9