PROSIDING SEMINAR NASIONAL PROGRAM STUDI EKONOMI ISLAM
Vol. 1, 2023
ISSN 3026-2488
Resesi Ekonomi Indonesia di Masa COVID-19
Rizky Radin Syawal1, Abd. Mubaraq2
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Tanjungpura, Indonesia
ABSTRACT
The emergence of the new pandemic, namely Covid-19, in Indonesia, especially in West Kalimantan, has
garnered significant attention. Since the first appearance of the pandemic until now, it has caused
disruptions in various sectors, including the economy. This poses a threat of Indonesia falling into the
recession abyss. Recession occurs when the Real GDP declines for two consecutive quarters. Several years
ago, Indonesia experienced a recession in 1997/1998, but it is different from the current episode, where the
recession is not directly caused by economic issues but rather by the health sector (Covid-19 pandemic). To
ensure that a recession is indeed happening, as evidenced by past occurrences, macroeconomic indicators,
and the impact and policies currently in place, all indicate that Indonesia has entered an economic recession,
as demonstrated by the decline in Real GDP in the second quarter of 2020 by minus 5.32%, supported by
macroeconomic indicators as a benchmark for economic growth. Various policies, both in terms of health
and economics, have been implemented to address the issues arising during the Covid-19 pandemic.
Therefore, it is crucial to implement the right policies that can address the existing issues (Covid-19 virus)
while still considering the economic impacts that have arisen.
Keywords: Recession, Covid-19.
ABSTRAK
Kehadiran pandemic baru yaitu Covid-19 di Indonesia khususnya Kalimatan Barat membuat perhatian
tertuju padanya. Sejak kemunculan pandemi pertama hingga saat ini telah menimbulkan gejolak diberbagai
sektor termasuk ekonomi. Hal tersebut memberikan ancaman akan masuknya Indonesia kedalam jurang
resesi. Resesi terjadi ketika PDB Riil turun secara dua kuartal berturut-turut. Beberapa tahun silam Indonesia
pernah mengalami resesi yakni 1997/1998, namun tentu berbeda dengan episode kali ini, dimana resesi tidak
secara langsung disebabkan oleh permasalahan ekonomi melainkan disebabkan oleh sektor kesehatan
(Pandemi Covid-19). Dalam memastikan bahwa resesi benar-benar terjadi sesuai dengan bukti masa lalu,
indikator makro ekonomi serta dampak dan kebijakan yang sedang diterapkan. Semuanya merepresentasikan
bahwa Indonesia sudah masuk jurang resesi ekonomi dibuktikandengan turunnya PDB riil kuartal II 2020
yang minus 5,32% dengan didukung oleh indicator makro ekonomi sebagai tolak ukur pertumbuhan
[Link] kebijakan baik dari segi kesehatan maupun ekonomi dilakukan untuk menanggulangi
permasalahan yang ada dimasapandemi Covid-19 ini. Oleh sebab itu penting sekali menerapkan kebijakan
yang tepat agar bisamenyelesaikan permasalahan yang ada (virus Covid-19) namun tetap memperhatikan
dampakekonomi yang ditimbulkan.
Kata Kunci: Resesi, Covid-19.
1. PENDAHULUAN
Berbagai Negara di seluruh Dunia , termasuk Indonesia saat ini sangat rentan terhadap
guncangan ekonomi, hal ini dipicu adanya berbagai problematika yang sedang dihadapi saat ini.
munculnya virus Covid-19 yang menyebar luas di berbagai belahan dunia menyebabkan
kelumpuhan diberbagai sektor kehidupan termasuk sektor ekonomi. Apabila penurunan ini
1
b1062201012@[Link]
2
Mubaraq@[Link]
426 Syawal & Mubaraq
terusberlangsung maka kondisi ekonomi akan terus memburuk bahakan hingga masuk kedalam
jurang krisis dan resesi ekonomi. 1997 dan mencapai puncaknya pada tahun 1998, dan krisis
ekonomi global pada tahun 2008 dan 2009. selain itu, melalui menteri keuangan Sri Mulyani
mengatakan bahwa Indonesia akan masuk kedalamjurang resesi, jika pertumbuhan ekonomi terus
menurun. III yang disampaikan pada saat press statement menteri keuangan terkait pertumbuhan
ekonomi kuartal III di kanal youtube Kementerian keuangan Indonesia bahwa ekonomi Indonesia
minus 3,49 % di kuartal Verick & Iyanatul Islam menganggap bahwa ekonomi global tidak sama
sekali stabil seperti yang diharapkan, diamana masyarakat miskin dunia tidak memperoleh cukup
manfaat dari pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat. Tulus TH tambunan perekonomian
Indonesiajauhlebih tahan terhadap krisis terakhir dibandingkan dengan krisis tahun 1997/98.
Resesi sekarang dianggap sebagi fenomena yang pada dasarnya dapat dihindari, sama seperti
kecelakaan pesawat terbang, dan berbeda dengan bencana alam akibat badai yang
tidakbisadihindari. Tapi biarpun angka kecelakaan bisa ditekan, namun kecelakaan pesawat
terbang tidaklahbisa sepenuhnya dihapuskan. Faktor-faktor yang menimbulkan resesi secara
berulangkali masih ada dan tinggl menunggu waktu sebelum terjadi lagi. Penelitian ini dilakukan
sebagai deteksi dini serta sumber informasi bagi pembuat kebijakan dalam upaya mencegah
sekaligus mengatasi risiko ekonomi yang terjadi akibat Resesi, khususnya dimasa pandemi virus
Covid-19. mengingat proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2020 berpotensi lebih rendah
apabila wabah Covid-19 makin menyebar sehingga memicu penerapan kebijakan restriksi atau
social distancing yang lebih ketat oleh negara, dan tekanan pasar keuangan global berlanjut akibat
ketidakpastian yang tinggi.
2. KAJIAN LITERATUR
Bagian ini berisi kajian berbagai literatur dan teori yang relevan dengan isu yang diangkat.
Penulis menyajikan bagian ini dengan bahasa yang padat dan ringkas sehingga mampu
mengarahkan hasil sintesis teori/riset terdahulu dan konsep-konsep penting lainnya ke model
penelitian dan hipotesis yang dikembangkan. Untuk menulis subbab ini dengan baik, tata cara
pengutipan berdasarkan APA Style 6th edition menggunakan program Mendeley.
3. METODE PENELITIAN
Penelitian dimaksudkan untuk mengetahui determinasi resesi ekonomi yang terjadi dimasa
Covid-19 di indonesia. Penelitian ini dilakukan pada Desember 2020. pendekatan kualitatif dipilih
dengan metode deskriptif. Penelitian kualitataif merupakan pengumpulan data pada suatu latar
alamiah dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dimana peneliti adalah sebagai
instrument kunci. Dalam penelitian kualitatif deskriptif kali ini, peneliti akanmendeskripsikan
suatu fenomena yang akan dituangkan dalam tulisan yang bersifat naratif berdasarkan data yang
diperoleh. dimana Dalam penulisan laporan penelitian kualitatif berisi kutipan-kutipan data (Fakta)
yang diungkap di lapangan untuk memberikan dukungan terhadap apa yang disajikan dalam
laporannya. Data yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah data sekunder sebagai sumber
data utama dan dengan data dari kepustakaan maupun penelitian terdahulu. Teknik pengumpulan
data yang dilakukan penulis dengan mengidentifikasi tema atau wacana dari buku-buku, makalah
atau artikel,berita, jurnal dari hasil penelitian terdahulu, serta web (internet). Pemanfaatan data
sekunder yang dimaksudkan untuk mendeskripsikan kondisi riil yang ada dengan rumusan masalah
yang diambil untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dari data-data yangdikeluarkan oleh
suatu instansi atau lembaga tertentu yang berkompeten untuk dijadikan dasar penelitian.
Resesi Ekonomi Indonesia di Masa COVID-19 427
4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
a. Resesi Indonesia
Indonesia merupakan salah satu Negara berkembang yang kegiatan ekonominya juga
sangat dipengaruhi oleh iklim ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi pun cenderung terus
meningkat dengan penerapan berbagai strategi dan kebijakan untuk meningkatkan pertumbuhan
ekonomi. Menurut beberapa literasi, resesi merupakan sebuah fenomena dimana PDBriil minus
selama dua kuartal berturut-turut, artinya aktivitas ekonomi yang meliputi
produksi, distribusi, konsumsi, investasi, dsb, akan mengalami penurunan, sehingga
menimbulkan efek domino yang merugikan berbagai pihak, salah satunya pemutusan hubungan
kerja . Sedangkan tahun 2008/2009, meskipun terjadi penurunan aktivitas ekonomi khususnya dari
segi ekspor, namun hal itu tidak mengantarkan Indonesia ke jurang resesi, Statistik / BPS
menunjukkan bahwa laju pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada kisaran 4,5 persen, jauh
lebih rendah dari angka pertumbuhan yang dicapai pada tahun 2008. Sejak kemunculannya pada
akhir tahun 2019 di Wuhan, virus ini begitu cepat masuk di Indonesia dengan kasus pertama pada
2 Maret 2020. hal tersebut mencerminkan bahwa mobilitas dan integritas antara Indonesia dengan
china sangat besar, baik melalui ekspor impor maupun kontak langsung dari masyarakat yang
berasal dari sana. Jika dikaitkan dengan teori Keynes, pandemi ini tentu akan menurunkan
kemampuan perusahaan untuk memproduksi barang dan jasa dengan kapasitas wajar atau
semestinya. pemanfaatan dan penyerapan tenaga kerja juga menurun sehingga akan
mempengaruhi tingkat pendapatan sekaligus angka penggangguran. Sesuai siklus aliran
ekonomi, pelemahan ini akan terus menghasilkan reproduksi yang stabil pada level yang rendah.
ketidakseimbangan antara pemasukan dan pengeluaran. Defisit transaksi berjalan sebesar 1,4%
dari dua kuartal sebelumnya dan terus mengalami penurunan secara berturut-turut hingga quartal
III 2020. ini mengindikasikan bahwa bahwa Indonesia masuk ke jurang resesi.
b. Dampak Resesi
Berdasarkan data satuan tugas penanganan covid-19 per oktober 2020 menunjukkanbahwa
hampir seluruh wilayah kota maupun kabupaten di Indonesia menjadi wilayahpersebaran virus
covid-19. Dari data yang dipublikasikan , kasus covid-19 ini sudah ada di 93,2% wilayah
Indonesia. Pandemi sudah menyebar di 479 kab/kota di Indonesia dari total 514 kab/kota yang ada.
Sedangan sisanya 35 kab/kota masih belum ada kasus covid-19.18 Datatersebut menunjukkan
bahwa pandemi virus ini sudah ada diberbagai kab/kota di Indonesia, meskipun jumlah kasus
disetiap daerahnya berbeda-beda, kondisi tersebut mengindikasikan bahwa seluruh daerah akan
terkena dampak dari adanya pandemi virus covid-19. Masa Resesi merupakan momentum yang
sangat dihindari, karena pasti menimbulkan efek yang buruk. Dari berbagai pengalaman dimasa
lalu tentang resesi global maupun resesi yang pernah terjadi beberapa dekade silam telah
menunjukkan bukti kekejaman resesi bagi masyarakat disemua kalangan. Covid-19 telah merubah
perekonomian dunia, termasuk Indonesia dibuktikan adanya pengalihan-pengalihan anggaran
dalam rangka penanganya. Dampak Covid-19 ini dapat dilihat dari dua sudut pandang ekonomi
yang berbeda, yaitu permintaan dan penawaran. Dari sisi permintaan, kondisi pandemi COVID-19
jelas akan mengurangi sektor konsumsi, kegiatan perjalanan dan transportasi, serta peningkatan
biaya transportasi dan perdagangan. Sedangkan dari sisi penawaran, kemungkinan besar yang
terjadi adalah terkontraksinya produktivitas pekerja/buruh, penurunan investasi dan kegiatan
pendanaan, serta terganggunya rantai pasokan global (global value chain).
428 Syawal & Mubaraq
c. Mitigasi Resesi
Dampak pandemi COVID-19 menyebabkan pertumbuhan ekonomi menurun dari periode
sebelumnya hingga membawa Indonesia masuk ke jurang resesi. Banyak negara mengkhawatirkan
resesi yang terjadi di negaranya berlanjut kepada depresi. Sebab itu negara menerbitkan berbagai
kebijakan memberi kemudahan administrasi (ijin) dan pajak bagi pemilik modal (investor) untuk
berinvestasi. Kawasan industri dibangun dimana-mana bagi memudahkan pemilik modal
berinvestasi. Demikian juga dengan pembangunan infrastruktur. Tujuannya tak lain agar
perekonomian tetap hidup dan masyarakat bisa mendapatkan penghasilan sehingga daya beli tetap
terjaga. Itu sebabnya negara selalu memantau besarnya pengeluaran rumah tangga sebagai sinyal
daya beli masih bisa dipertahankan. Seperti yang terjadi besarnya pengeluaran rumah tangga
Indonesia sekitar lima puluh lima persen dari total pengeluaran nasional. Pengeluaran rumah
tangga sebagai pendukung pergerakan ekonomi Indonesia saat ini Pemerintah Pengganti Undang-
Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2020 tentang kebijakan keuangan Negara dan stabilitas sistem
keuangan untuk penanganan pandemi covid-19. Dan RUU Cipta kerja.22 Beberapa langakah
penting diatas menunjukkan upaya dalam mencegahbahkan menanggulangi gejolak yang ada saat
ini. Pentingnya menjaga stabilitas sistem keuangan agar pertumbuhan ekonomi berjalan positif dan
semestinya. Adanya rancangan Undang-Undang Cipta kerja merupakan salah satu bagian untuk
meningkatkan minat investasi sehingga akan menambah lapangan kerja serta menekan angka
pengangguran. Sejalan dengan itu dalam teori pertumbuhan ekonomi, adanya stabilitas sistem
keuangan perlu dijaga agar perekonomian terhindari dari adanya krisis bahkan resesi ekonomi.
Selanjutnya langkah-langkah yang dilakukan Indonesia dalam menghadapi pandemi Covid-19
secara detail dapat dilihat dari sudut pandang kebijakan terkait sistem kesehatandan ekonomi di
Indonesia. antara lain membuat aturan kebijakan pembatasan untuk bepergian ke dan dari negara-
negara yang masuk dalam zona merah penularan selama pandemi COVID-19 dengan tujuan untuk
memutus mata rantai penularan COVID-19, langkah ini mengikuti kebijakan yang telah lebih dulu
dilaksanakan oleh beberapa negara. penambahan rumah sakit rujukan bahkan hingga menerapkan
langkah social distancing dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat serta kebijakan PSBB
(Pembatasan Sosial Berskala Besar) diberbagai daerah yang dianggap berbahaya.
5. KESIMPULAN
Indonesia pernah mengalami resesi ekonomi pada tahun 1997 yang bermula dari Krisis
ekonomi global serta terjadinya krisis nilai tukar sehingga menurunkan angka pertumbuhan
ekonomi. Dimasa periode kali ini Resesi terjadi disebabkan oleh adanya Pandemi Virus Covid-19.
Secara umum Indikator Resesi ialah adanya penurunan PDB riil secara dua kuartal berturut-turut,
dimana PDB anjlok hingga minus 5,32%. sektor perdagangan mendominasi sebagai indikator
resesi. Hilangnya pekerjaan sebagai efek domino atas anjloknya permintaan membuat jumlah
produksi menurun, penutupan usaha hingga pemutusan hubungan kerja. Adanya lonjakan angka
pengangguran dan angka kemiskinan menunjukkan bahwa Resesi dimasa Pandemi ini sangat
merugikan. Berbagai upaya dilakukan antara lain menjaga stabilitas sistem keuangan serta
konsumsi masyarakat dengan penambahan uang beredar yang diwujudkan dalam berbagai bantuan
sosial membantu memulihkan perekonomian akibat krisis yang terjadi ditengah pandemi, terbukti
pada kuartal III 2020 PDB riil mengalami peningkatan meskipun masih berada dalam angka minus.
Resesi Ekonomi Indonesia di Masa COVID-19 429
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik [Link]
Bank Indonesia [Link]
Bank Indonesia. ”Survey Proyeksi Indikator Makro”. TriwulanII.
[Link]
makroekonomi/Documents/Triwulan%20II-%[Link].
James A. Caporaso & David P Levine. (2015). Teori-teori Ekonomi Politik. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar
Yose Rizal Damuri & Fajar B. Hirawan. (2020). Mengukur Dampak COVID-19 pada
PertumbuhanEkonomi dan Perdagangan Indonesia 2020. CSIS Indonesia, Pakarti Centre
Buildingdiunduh dari: [Link]
Rudi Handoko. (2010). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Transaksi Berjalan Indonesia.
Jurnal Kajian Ekonomi dan Keuangan Vol.14 No.04
Ihsanudin, “Ini sederet Kebijakan Kontroversional Jokowi selama Pandemi Covid-19” Website
Berita Selasa 6 Oktober 2020 diakses melalui:
[Link]
kontroversial-jokowi-selama-pandemi-covid-19?page=all#page2 pada 14 Desember
2020.