ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN CHRONIC KIDNEY
DISEASE (CKD) DENGAN DIAGNOSA KEPERAWATAN
UTAMA HIPERVOLEMIA DI RSUD Dr. SOEDIRMAN KEBUMEN
KARYA ILMIAH AKHIR NERS
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ners
Disusun Oleh:
RUDI ERYANTO
NIM: 202303159
PEMINATAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN
PROFESI NERS PROGRAM
PROFESI FAKULTAS ILMU
KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GOMBONG
2024
LEMBAR PERYATAAN ORSINILITAS
Karya Akhir Ilmiah Ners adalah hasil karya saya sendiri dan semua
sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya nyatakan dengan
benar
Nama : Rudi Eryanto
NIM 202303159
Tanggal : 30 Juli
2024 Tanda Tangan :
ii Universitas Muhammadiyah Gombong
LEMBAR PERSETUJUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN CHRONIC KIDNEY DISEASE
(CKD) DENGAN DIAGNOSA KEPERAWATAN UTAMA
HIPERVOLEMIA DI RSUD Dr. SOEDIRMAN KEBUMEN
Telah Disetujui Dan Dinyatakan Telah Memenuhi Syarat
Untuk Diujikan Pada Tanggal: 30 Juli 2024
Pembimbing 1
(Irmawan Andri Nugroho, [Link].)
Mengetahui,
Ketua Program Studi Keperawatan Pendidikan Profesi
NersUniversitas Muhammadiyah Gombong
(Wuri Utami, [Link])
iii Universitas Muhammadiyah Gombong
LEMBAR PENGESAHAN
Karya Ilmiah Akhir Ners ini diajukan oleh :
Nama : Rudi Eryanto
NIM 202303159
Program Studi : Profesi Ners
Judul KIA-N : Asuhan Keperawatan Pada Pasien Chronic Kidnay Disease
(CKD) Dengan Diagnose Keperawatan Utama Hypervolemia
Di RSUD Dr. Soedirman Kebumen
Telah berhasil di pertahankan di hadapannya Penguji dan di terima sebagai bagian
persyaratan yang di perlukan untuk memperoleh gelar Ners pada Program Studi
Pendidikan Profesi Ners Program Profesi Universitas Muhammadiyah Gombong
Penguji satu
(Fajar Agung Nugroho, MNS)
Penguji dua
(Irmawan Andri Nugroho, M. Kep)
Ditetapkan di : Gombong, Kebumen
Tanggal : Juli 2024
iv Universitas Muhammadiyah Gombong
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR
UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai Civitas akademik Universitas Muahammadiyan Gombong saya yan
bertandatangan di bawah ini:
Nama : Rudi Eryanto
NIM 202303159
Program Studi : Profesi Ners
Judul KIA-N : Asuhan Keperawatan Pada Pasien Chronic Kidnay Disease
(CKD) Dengan Diagnose Keperawatan Utama
Hypervolemia Di RSUD Dr. Soedirman Kebumen
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepeda
universitas Muhammadiyah gombong hak bebas Royalty Noneksklusif (non-
exclusive royalty-free right) atas Karya Ilmiah saya yang berjudul:
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN CHRONIC KIDNEY
DISEASE (CKD) DENGAN DIAGNOSA KEPERAWATAN
UTAMA HIPERVOLEMIA DI RSUD Dr. SOEDIRMAN KEBUMEN
Beserta perangkat yang ada (jika di perlukan. Dengan Hak Bebas Royalty
Noneksklusif Ini Unuversitas Muhammadiyah Gombong berhak menyimpan,
mengalihmedia/ formatkan, mengelola dalam bentuk pangkalan data, merawat dan
mempubikasikan tugas akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai
penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta. Demikian pernyataan ini saya
buat dengan sebenarnya.
Dibuat di: gombong, Kebumen
Pada tanggal: 30 Juli 2024
Yang menyatakan
(Rudi Eryanto)
v Universitas Muhammadiyah Gombong
KATA PENGANTAR
Assalamu‟alaikum Warahmatullahhi Wabarakatuh
Alhamdulillah, penulis panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat, taufik, hidayah dan inayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah Akhir Ners yang berjudul “Asuhan
Keperawatan Pada Pasien Chronic Kidnay Disease (CKD) Dengan Diagnose
Keperawatan Utama Hypervolemia Di RSUD Dr. Soedirman Kebumen” dengan
lancar.
Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah
membantu penulis selama ini :
1. Ibu Hj. Herniyatun M. Kep, Ns selaku Rektor Universitas Muhammadiyah
Gombong, yang telah memberikan izin dalam tugas Karya Tulis Ilmiah ini.
2. Ibu Wuri Utami, M. Kep. selaku Ketua Program studi Keperawatan
Pendidikan Profesi Ners, yang telah telah mengizinkan pembuatan Tugas
Karya Tulis Ilmiah Akhir Ners ini.
3. Bapak Fajar Agung Nugroho, MNS. selaku dosen penguji dalam Karya Tulis
Ilmiah Akhir Ners ini.
4. Bapak Irmawan Andri Nugroho, M. Kep. selaku dosen pembimbing dalam
Karya Tulis Ilmiah Akhir Ners ini.
5. Direktur dan staff RSUD Dr. Soedirman kebumen yang telah mengizinkan
penulis untuk melakukan praktik keperawatan.
6. Orang tuaku tercinta dan seluruh keluarga besarku yang selalu memberikan
doa, motivasi, dukungan moral dan material untuk dapat menyelesaikan karya
tulis ini.
7. Istriku tercinta Srimiyaty Puji Astutie yang selalu memberikan doa, motivasi,
dukungan moral dan material untuk dapat menyelesaikan karya tulis ini.
8. Segenap Keluarga Besar Universitas Muhammadiyah Gombong yang telah
membantu penulis dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
9. Kelima klien beserta keluarga yang telah bekerjasama dengan penulis
vi Universitas Muhammadiyah Gombong
10. Teman-teman di kelas Ners Reguler B khususnya angkatan 2023-2024 yang
telah sama-sama berjuang dalam menyelesaikan laporan ini
11. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah
membantu dalam penyusunan laporan ini.
Penulis berharap Karya Tulis Ilmiah Akhir Ners ini dapat bermanfaat bagi pembaca
untuk menambah wawasan. Penulis mengharap saran dan kritik untuk
meningkatkan pengetahuan dan pengalaman.
Wassalamu‟alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Gombong, 30 Juli 2024
(Rudi Eryanto)
vii Universitas Muhammadiyah Gombong
Program Studi Profesi Ners
Universitas Muhammadiyah Gombong
KIAN, Mei 2024
Rudi Eryanto1) Irmawan Andri Nugroho2)
ABSTRAK
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN CHRONIC KIDNEY DISEASE
(CKD) DENGAN DIAGNOSA KEPERAWATAN UTAMA
HIPERVOLEMIA Di RSUD Dr. SOEDIRMAN KEBUMEN
Latar belakang: Salah satu masalah keperawatan yang muncul pada pasien
gagal ginjal kronis adalah hypervolemia. Hipervolemia pada umumnya ditandai
dengan adanya edema dan penambahan berat badan. Apabila hypervolemia tidak
diatasi maka akan menyebabkan gangguan pemenuhan kebutuhan dasar manusia
dan meningkatkan komplikasi seperti hipertensi, gagal jantung kongestif bahkan
kematian.
Tujuan Umum: Memaparkan analisis proses asuhan keperawatan pada pasien
Gagal Ginjal Kronis dengan masalah keperawatan hipervolemia di RSUD Dr
Soedirman Kebumen.
Metode: Tindakan yang dilakukan untuk menurunkan tingkatan hypervolemia
dengan cara memberikan terapi Contrast Bath tiap satu sekali sehari dengan
durasi 10-15 menit selama 3 hari berturut-turut
Hasil Asuhan Keperawatan: Kelima pasien memiliki diagnosa keperawatan
prioritas utama yaitu hipervolemia berhubungan dengan gangguan mekanisme
regulasi. Intervensi dengan tujuan untuk meningkatkan keseimbangan cairan
berdasarkan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) dan menggunakan
manajemen hypervolemia berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
(SIKI). Tindakan yang diberikan yaitu manajemen hipervolemia dan memberikan
contrast bath sebagai terapi non farmakologi. Evaluasi keperawatan pada kelima
pasien adalah hypervolemia sebagian teratasi dan terdapat penurunan tingkat
hypervolemia dan derajat edema secara signifikan.
Rekomendasi: Terapi Contrast Bath sangat baik diberikan pada pasien gagal
ginjal kronis sebagai terapi untuk menurunkan tingkat hipervolemia
Kata Kunci: Asuhan keperawatan; Contrast Bath; Gagal Ginjal Kronis;
Hipervolemia
1) Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Gombong
2) Dosen Universitas Muhammadiyah Gombong
viii Universitas Muhammadiyah Gombong
Nursing Study Program Muhammadiyah
Gombong University Paper, Mei 2024
Rudi Eryanto1) Irmawan Andri Nugroho2)
ABSTRACT
NURSING CARE FOR CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD) PATIENTS
WITH A PRIMARY NURSING DIAGNOSIS OF HYPERVOLEMIA At
Dr.
RSUD. SOEDIRMAN KEBUMEN
Background: One of the nursing problems that arises in patients with chronic renal
failure is hypervolemia. Hypervolemia is generally characterized by edema and
weight gain. If hypervolemia is not treated, it will disrupt the fulfillment of basic
human needs and increase complications such as hypertension, congestive heart
failure and even death.
General Objective: To present an analysis of the nursing care process for Chronic
Kidney Failure patients with hypervolemia nursing problems at Dr Soedirman
Regional Hospital, Kebumen.
Method: Actions taken to reduce the level of hypervolemia by providing Contrast
Bath therapy once a day with a duration of 10-15 minutes for 3 consecutive days
Nursing Care Results: All five patients had a top priority nursing diagnosis,
namely hypervolemia associated with impaired regulatory mechanisms.
Interventions with the aim of improving fluid balance are based on the Indonesian
Nursing Outcome Standards (SLKI) and use hypervolemia management based on
the Indonesian Nursing Intervention Standards (SIKI). The actions given are
management of hypervolemia and providing contrast baths as non-
pharmacological therapy. Nursing evaluation in the five patients was that
hypervolemia was partially resolved and there was a significant reduction in the
level of hypervolemia and degree of edema.
Recommendation: Contrast Bath Therapy is very good for patients with chronic
kidney failure as a therapy to reduce the level of hypervolemia
Keywords: Nursing care; Contrast Bath; Chronic Kidney Failure; Hypervolemia
1) Student of Muhammadiyah Gombong University
2) Lecturer of Muhammadiyah Gombong University
ix Universitas Muhammadiyah Gombong
DAFTAR ISI
JUDUL......................................................................................................................i
LEMBAR PERYTAAN ORISINILITAS................................................................ii
LEMBAR PERSETUJUAN...................................................................................iii
LEMBAR PENGESAHAN....................................................................................iv
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI...................................v
KATA PENGANTAR............................................................................................vi
ABSTRAK............................................................................................................viii
ABSTRACT............................................................................................................ix
DAFTAR ISI............................................................................................................x
BAB I.......................................................................................................................1
PENDAHULUAN....................................................................................................1
A. Latar Belakang..............................................................................................1
B. Tujuan............................................................................................................5
C. Manfaat Penulisan.........................................................................................5
BAB II......................................................................................................................7
TINJAUAN LITERATUR.......................................................................................7
A. Tinjauan Pustaka...........................................................................................7
B. Kerangka konsep..........................................................................................25
BAB III....................................................................................................................26
METODE STUDI KASUS.....................................................................................26
A. Desain Penelitian..........................................................................................26
B. Subyek Studi Kasus......................................................................................26
C. Fokus Studi Kasus........................................................................................27
D. Definisi Operasional.....................................................................................27
E. Instrumen Studi Kasus..................................................................................28
F. Metode Pengumpulan Data..........................................................................29
G. Lokasi Dan Waktu Studi Kasus...................................................................30
H. Analisa Data Dan Penyajian Data...............................................................30
I. Etika Studi Kasus.........................................................................................31
x Universitas Muhammadiyah Gombong
BAB IV...................................................................................................................33
HASIL DAN PEMBAHASAN...............................................................................33
A. Profil Ruang................................................................................................33
B. Ringkasan Proses Asuhan Keperawatan.....................................................36
C. Hasil Penerapan Tindakan Keperawatan.....................................................63
D. Pembahasan..................................................................................................64
E. Keterbatasan Penelitian................................................................................79
BAB V....................................................................................................................80
KESIMPILAN DAN SARAN.................................................................................80
A. KESIMPULAN...........................................................................................80
B. SARAN..................................................................................................................81
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
xi Universitas Muhammadiyah Gombong
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Chronic Kidney Disease (CKD) telah menjadi salah satu
penyebab utama kematian dan peningkatan penderitaan di era saat ini. Hal
ini disebabkan oleh meningkatnya faktor risiko, seperti obesitas dan
diabetes mellitus (Kovesdy, 2022). Global Burden of Disease melaporkan
pada Tahun 2020, jumlah penderita CKD di dunia meningkat sebesar 9,1%
yakni sekitar 700 juta kasus penderita CKD dengan insiden penyakit
ginjal stadium akhir yang dilakukan dialisis dan transplantasi ginjal
meningkat sebesar 43,1%, kemudian insiden kematian juga meningkat
sebanyak 41,5% (Cockwell & Fisher, 2020). Sementara itu, kasus CKD di
Amerika Serikat diperkirakan berjumlah 37 juta orang dewasa dan menjadi
penyebab utama kematian di wilayah tersebut dengan penambahan 360
penderita per hari yang menjalani dialysis, sedangkan 40% tidak
terdiagnosa (CDC, 2022). Sebuah studi menunjukkan prevalensi CKD
stadium III hingga V tahun 2021 di Asia juga mengalami peningkatan
dengan Asia selatan menjadi peringkat pertama, kemudian Filiphina dan
Indonesia. Selain itu, berdasarkan penelitian tersebut, sebagian besar
penderita CKD berpenghasilan menengah ke bawah (13,8%) (Suriyong et
al., 2022).
Indonesia termasuk negara dengan tingkat penderita chronic
kidney disease yang cukup tinggi. Sebanyak 400 orang per juta penduduk
setiap tahun menderita CKD (Putri et al., 2020). WHO menyebutkan
bahwa angka kejadian gagal kronis di Indonesia akan meningkat sebesar
41,4% pada tahun 2025 (Dwitra & Pandiangan, 2021). Berdasarkan
laporan riset kesehatan dasar pada tahun 2018 sebanyak 713.783 penduduk
berusia ≥ 15 tahun menderita chronic kidney disease dengan angka
tertinggi di Provinsi Jawa Barat yaitu sekitar 132 orang disusul dengan
1 Universitas Muhammadiyah Gombong
2
Jawa Timur sebanyak 113 orang dan Jawa Tengah menempati posisi
ketiga sebanyak 97 orang (Riskesdas, 2018). Sedangkan untuk kabupaten
Kebumen prevalensinya mencapai 3% atau sekitar 456 penderita (Siwi,
2021)
Pasien CKD pada tahap awal tidak menunjukkan gejala, akan
tetapi gejala muncul pada tahap empat atau lima. Penyakit ini biasanya
terdeteksi melalui tes darah atau urin rutin (Vaidya & Aeddula, 2022).
Beberapa tanda dan gejala yang umum pada pasien CKD, antara lain
seperti kelelahan, anoreksia, sulit berkonsentrasi, mual, muntah, kram otot
di malam hari, penurunan berat badan, kulit kering dan pruritus, nokturia,
kesulitan tidur, perubahan status mental, dispnea, dan kelebihan volume
cairan (Chen et al., 2019a) .
Salah satu masalah yang terjadi pasien CKD adalah hypervolemia.
Hipervolemia atau biasa disebut dengan kelebihan volume cairan adalah
suatu kondisi medis ketika terlalu banyak cairan dalam tubuh, juga
digambarkan sebagai retensi air berlebih atau kelebihan cairan (Muttaqin
& Sari, 2016). Pada gagal ginjal kronis terutama stadium sedang hingga
lanjut, ginjal tidak berfungsi membuang kelebihan cairan. Hilangnya
fungsi ginjal secara progresif menyebabkan berkurangnya filtrasi natrium
dan penekanan reabsorpsi tubulus yang tidak tepat yang pada akhirnya
menyebabkan ekspansi volume (Y. H. Khan et al., 2016). Peningkatan
kadar natrium di darah dan sel berakibat pada retensi air di mana volume
ektraseluler meningkat (Sari et al., 2023). Dalam kasus seperti ini, diuretik
sering diresepkan untuk mengontrol tekanan darah dan menghilangkan
gejala kelebihan cairan. Namun, peran diuretik masih kontroversial pada
pasien CKD. Terlepas dari efek menguntungkannya, agen ini juga
menurunkan laju filtrasi glomerulus (GFR) dan menyebabkan gangguan
metabolisme yang pada gilirannya meningkatkan risiko kejadian
kardiovaskular (Shah et al., 2017).
Universitas Muhammadiyah Gombong
3
Kelebihan cairan atau hypervolemia merupakan gejala utama pada pasien
penyakit ginjal kronis derajat ringan hingga sedang (Y. Khan, 2018). Efek buruk
dari kelebihan volume cairan yaitu keluarnya cairan dari kapiler ke intertsitisal
yang dikenal dengan edema (Lent-Schochet & Jialal, 2023). Kondisi ini akan
membuat tekanan darah meningkat dan memperberat kerja jantung. Cairan
berlebih di ekstraseluler dapat masuk ke paru-paru, sehingga menyebabkan sesak
napas. Apabila kelebihan cairan tidak teratasi dengan baik dapat
mengakibatkan status cairan yang tidak normal dan dikaitkan dengan terjadinya
hipertensi, gagal jantung kongestif (CHF), hipertrofi ventrikel kiri (LVH) bahkan
kematian (Patil & Salunke, 2020; Nurrohman, 2022).).
Upaya menurunkan kelebihan cairan pada pasien CKD adalah
mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dengan pembatasan
cairan dan elektrolit. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan karena
selain mengurangi resiko kardiovaskuler, tindakan ini juga dapat
mempertahankan status gizi tetap terjaga dengan baik (Kurnia, 2021).
Tindakan pembatasan cairan dilakukan dengan cara mengendalikan rasa
haus karena haus mendorong penderita untuk segera minum, sementara
minum yang berlebihan meningkatkan volume cairan ekstrasel (Eng et al.,
2021).
Beberapa penelitian sebelumnya tentang kepatuhan pasien CKD
dalam pembatasan cairan menunjukkan adanya perbedaan hasil.
Ketidakpatuhan pasien CKD dalam membatasi cairan ditemukan pada
penelitian Fidayanti et al., (2018); Melianna & Wiarsih (2019) dan
Herlina & Rosaline (2021), sedangkan studi yang dilakukan Bandola et al.,
(2023); Anita & Novitasari, (2017) dan Hayati et al., (2018) menunjukkan
bahwa pasien CKD patuh dalam pembatasan cairan. Hal ini disebabkan
banyak faktor seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, penyakit
penyerta dan lama menjalani hemodialisa (Ozen et al., 2019; Sumarni &
Fadlilah, 2020; Siagian et al., 2021)
Universitas Muhammadiyah Gombong
4
Pembatasan cairan pada pasien CKD dapat dilakukan dengan terapi
Contras Bath. Terapi ini dengan cara merendam kaki sebatas betis secara
bergantian menggunakan air hangat bersuhu 36,6- 43,3°C yang dilanjutkan
dengan air dingin bersuhu 10 – 20 °C (Purwadi et al., 2015). Manfaat
contras bath pada kaki edema yaitu menurunkan tekanan hidrostatik intra
vena agar cairan yang berada di intersitial akan kembali ke vena. Selain
itu, efek fisiologis yang dihasilkan dari terapi ini yaitu meningkatkan
aliran darah dan oksigenasi jaringan untuk mempercepat penyembuhan
dan meningkatkan fungsi anggota tubuh (Shadgan et al., 2018). Proses
Contrast Bath adalah salah satu bentuk hidroterapi yang melibatkan
perendaman berulang kali anggota tubuh ke dalam air panas dan dingin.
Terapi ini dilakukan pada kecepatan, suhu, dan waktu tertentu. Peralihan
berulang antara kedua suhu tersebut dapat menyebabkan penyempitan dan
pelebaran pembuluh darah, yang menyebabkan efek pompa. Hal ini
diyakini oleh beberapa orang dapat meningkatkan sirkulasi ke jaringan di
seluruh tubuh (Mustofa et al., 2019).
Studi Fatchur et al., (2020) pada pasien CKD yang mengalami
edema di RSUD dr. R. Soedarsono Kota Pasuruan yang dilakukan
Contrast Bath dan ankle pumping exercise mengalami penurunan
kedalaman edema. Penelitian Manggasa et al., (2021) menunjukkan
adanya penurunan derajat edema setelah pasien CHF diberikan intervensi
Contrast Bath yang dikombinasikan dengan Foot Massage. Anggraini &
Rizki Amelia, (2021) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa contrast
bath merangsang pembuluh darah untuk mengembang atau menyempit
bersamaan dengan panas dan dingin yang meningkatkan sirkulasi darah ke
bagian tubuh yang dirawat
Studi pendahuluan tanggal 26 Oktober 2023 yang dilakukan oleh
peneliti melalui metode wawancara yang dilakukan pada 7 orang yang
mengalami CKD RSUD dr. Soedirman Kebumen, didapatkan hasil bahwa
semua mengalami edema. Berdasarkan latar belakang di atas, maka
Universitas Muhammadiyah Gombong
5
penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Asuhan keperawatan
pada pasien Chronic Kidney Disease (CKD) dengan diagnosa keperawatan
utama hipervolemia di RSUD Dr. Soedirman kebumen”.
B. Tujuan
a. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penulisan ini adalah untuk menganalisis asuhan
keperawatan pada pasien Chronic Kidney Disease (CKD) dengan
diagnosa keperawatan utama hipervolemia di RSUD Dr. Soedirman
kebumen
b. Tujuan Khusus
1. Menganalisis hasil pengkajian pada pasien CKD
2. Menganalisis hasil analisa data pada pasien CKD
3. Menganalisis intervensi keperawatan yang dilakukan pada pasien
CKD
4. Menganalisis implementasi keperawatan yang dilakukan pada
pasien CKD
5. Menganalisis evaluasi keperawatan yang dilakukan pada pasien
CKD
6. Menganalisis hasil inovasi tindakan penerapan Contras Bath untuk
mengurangi Hypervolemia pada pasien CKD
C. Manfaat
a. Manfaat keilmuan
Karya ilmiah ini dapat digunakan untuk menambah wawasan dan ilmu
pengetahuan kepada institusi pendidikan terkait dengan penerapan
Contras Bath pada Pasien gagal ginjal kronis
b. Manfaat bagi aplikatif
1) Penulis
Menambah pengetahuan serta memperbanyak pengalaman bagi
penulis mengenai Contras Bath dalam menurunkan Hypervolemia
pasien CKD
Universitas Muhammadiyah Gombong
6
2) Rumah Sakit
Karya ilmiah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi
Puskesmas/Rumah sakit untuk mengoptimalkan dalam pemberian
asuhan keperawatan pada Pasien CKD agar lebih dapat
meningkatkan mutu kualitas pelayanan kesehatan
3) Pasien
Diharapkan pasien mendapatkan informasi baru tentang bagaimana
cara mengurangi Hypervolemia dengan dilakukanya pemberian
Contras Bath.
Universitas Muhammadiyah Gombong
DAFTAR PUSTAKA
Aditya. (2013). Data dan Metode Pengumpulan Data Penelitian. Poltekkes
Kemenkes Surakarta.
Afriansya, R., Sofyanita, E. N., & Suwarsi, S. (2020). Gambaran Ureum dan
Kreatinin pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis.
Jurnal Laboratorium Medis E-ISSN 2685-8495 Analis, Jurusan Poltekkes,
Kesehatan Semarang, Kemenkes, 02(No.01 Bulan Mei), 2685–8495.
[Link]
Ahmadinejad, M., Razban, F., Jahani, Y., & Heravi, F. (2022). Limb edema in
critically ill patients: Comparing intermittent compression and elevation.
International Wound Journal, 19(5), 1085–1091.
[Link]
Al Kamaliah, N. I., Cahaya, N., & Rahmah, S. (2021). Gambaran Karakteristik
Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menggunakan Suplemen Kalsium di
Poliklinik Sub Spesialis Ginjal Hipertensi Rawat Jalan RSUD Ulin
Banjarmasin. Jurnal Pharmascience, 8(1), 111.
[Link]
Al Ummah, B. (2009). Metodologi penelitian kesehatan. STIKES
Muhammadiyah Gombong.
Anasulfalah, H., Tri Handayani, R., Widiyanto, A., Dwi Kurniawan, H., Tri
Atmojo, J., Syauqi Mubarok, A., Irene Putri, S., Budi Susila Duarsa, A., &
Anulus, A. (2022). Gambaran Kualitas Hidup Pasien Dengan Chronic
Kidney Disease Yang Menjalani Hemodialisa Di Rsud Dr. MoewardI.
Avicenna : Journal of Health Research, 5(2), 71–76.
[Link]
Anggraini, S. N., & Rizki Amelia. (2021). Pengaruh Terapi Contrast Bath
(Rendam Air Hangat Dan Air Dingin) terhadap Oedema Kaki pada Pasien
Congestive Heart Failure. Health Care : Jurnal Kesehatan, 10(2), 268–277.
[Link]
Universitas Muhammadiyah Gombong
Anita, C. A., & Novitasari, D. (2017). Kepatuhan Pembatasan Asupan Cairan
Terhadap Lama Menjalani Hemodialisa. Prosiding Seminar Nasional Dan
Internasional LPPM Universitas Muhammadiyah Semarang, 2(1), 104–112.
Apriani, R., & Lasmadasari, N. (2020). Asuhan Keperawatan Gangguan
Kelebihan Volume Cairan dengan Manajemen Cairan dan Contrast Bath
pada Pasien Gagal Jantung (CHF) di Wilayah Kerja Puskesmas Jalan Gedang
Tahun 2021. Doctoral Dissertation, STIKes Sapta Bakti, C, 1–132.
Apriliana, B. Dela. (2019). Gambaran Pemberian Terapi Contrast Bath (Rendam
Air Hangat Dan Air Dingin) Untuk Mengurangi Edema Pada Pasien
Congestive Heart Failure (CHF) Di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo
Purwokerto. Akper Yakpermas.
Apriliana, B. Dela. (2020). Gambaran Pemberian Terapi Contrast Bath (Rendam
Air Hangat Dan Air Dingin) Untuk Mengurangi Edema Pada Pasien
Congestive Heart Failure (CHF) Di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo
Purwokerto. Respository Poltekes Yakpermas.
Ariami, P., Zaetun, S., Gunaifi, A., & Diarti, M. W. (2022). Kadar Ureum,
Kreatinin, Serum Iron (SI) dan Total Iron Binding Capacity (TIBC) pada
Pasien Chronic Kidney Disease (CKD) sebelum dan setelah Hemodialisis.
Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS), 9(2), 114.
[Link]
Arikunto, S. (2016). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Rineka
Cipta.
Ariyani, H., Hilmawan, R. G., S, B. L., Nurdianti, R., Hidayat, R., & Puspitasari,
P. (2019). Gambaran Karakteristik Pasien Gagal Ginjal Kronis Di Unit
Hemodialisa Rumah Sakit Umum Dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya. Jurnal
Keperawatan Dan Kebidanan, 3(2), 1–6.
Ariyanto, M. N., Tobas, R. T., Halawa, D. F., & Yulianingsih. (2022). Kepatuhan
Pembatasan Asupan Cairan dengan Kejadian Edema Tungkai Pada Pasien
Gagal Ginjal Kronik di Rumah Sakit Lira Medika Karawang. Prosiding
Seminar Nasional Universitas Borobudur, 2018–2021.
Asti, A. D., Puryanti, W., Agustin, I. M., & Nugroho, I. A. (2021). The Role of
Universitas Muhammadiyah Gombong
Rumination Related to Depression in Hemodialysis Patient. Proceedings of
the 1st Paris Van Java International Seminar on Health, Economics, Social
Science and Humanities (PVJ-ISHESSH 2020), 535, 607–610.
[Link]
Astuti, W., Susanto, G., & Wahyudi, D. A. (2023). Pemberian Pendidikan
Kesehatan Tentang Pembatasan Cairan Di Ruang Hemodialisa Rsud Dr. H.
Abdul Moeloek Provinsi Lampung. Jurnal Kesehatan Tambusai, 4(4), 6945–
6953. [Link]
Bandola, Y. I., Artini, B., & Nancye, P. M. (2023). Hubungan Kepatuhan
Pembatasan Cairan Dengan Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik
Yang Menjalani Hemodialisis. Jurnal Keperawatan, 12(1), 9–16.
[Link]
Barus, S. B., Amelia, K. R., & Cipta, H. J. (2019). Penerapan Metode Seft
Terhadap Kepatuhan Asupan Cairan Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang
Menjalani Hemodialisis Di Rsud Al Ihsan Provinsi Jawa Barat. Jurnal
Kesehatan Budi Luhur : Jurnal Ilmu-Ilmu Kesehatan Masyarakat,
Keperawatan, Dan Kebidanan, 12(1), 29–38.
[Link]
Berman, A. (2016). Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis Kozier & Erb. EGC.
Bosniawan, A. M. A. (2018). Faktor Faktor Determinan Yang Berpengaruh Pada
Kualitas Hidup Penderita Gagal Ginjal Kronik Di Rsud Sukoharjo. Naskah
Publikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2(1), 59809.
[Link]
Budiono, & Ristanti, R. S. (2019). Pengaruh Pemberian Contrast Bath Dengan
Elevasi Kaki 30 Derajat Terhadap Penurunan Derajat Edema Pada Pasien
Gagal Jantung Kongestif. Health Information Jurnal Penelitian, 11, 91–99.
[Link]
Bungin, B. (2016). Metodologi Penelitian Kualitatif. PT. Raja Grafindo Persada.
CDC. (2021). Chronic Kidney Disease in the United States. Clinical Journal of
the American Society of Nephrology, 3(6), 1902–1910.
[Link]
Universitas Muhammadiyah Gombong
CDC. (2022). Chronic Kidney Disease Basics | Chronic Kidney Disease Initiative
| CDC. Centers for Disease Control and Prevention, 22–24.
[Link]
Chairani, C., Susanto, V., Monitari, S., & Marisa, M. (2022). Nilai Hematokrit
pada Pasien Hemodialisa dengan Metode Mikrohematokrit dan Automatik.
JURNAL KESEHATAN PERINTIS (Perintis’s Health Journal), 9(2), 89–93.
[Link]
Chen, T. K., Knicely, D. H., & Grams, M. E. (2019a). Chronic Kidney Disease
Diagnosis and Management. JAMA, 322(13), 1294.
[Link]
Chen, T. K., Knicely, D. H., & Grams, M. E. (2019b). Chronic Kidney Disease
Diagnosis and Management. JAMA, 322(13), 1294.
[Link]
Chorininda, D. (2020). Studi Literatur: Asuhan Keperawatan Pada Pasien Gagal
Ginjal kronik Dengan Masalah Keperawatan Kerusakan Integritas Kulit.
Umpo Repository.
Cockwell, P., & Fisher, L. A. (2020). The global burden of chronic kidney
disease. The Lancet, 395(10225), 662–664. [Link]
6736(19)32977-0
Davies, H., Leslie, G., Jacob, E., & Morgan, D. (2019). Estimation of Body Fluid
Status by Fluid Balance and Body Weight in Critically Ill Adult Patients: A
Systematic Review. Worldviews on Evidence-Based Nursing, 16(6), 470–
477. [Link]
Dharma, K. K. (2013). Metodologi Penelitian Keperawatan : Panduan
Melaksanakan dan Menerapkan Hasil Penelitian. CV. Trans Info Media.
Dwitra, F. D., & Pandiangan, H. (2021). Gambaran Kadar Hemoglobin Pasien
Gagal Ginjal Kronik Sesudah Melakukan Hemodialisis. Jurnal Medika
Hutama, 2(4), 1040–1046.
Falah, R. Al, Khasanah, S., & Maryoto, M. (2024). Asuhan Keperawatan
Hipervolemia pada Ny T dengan Gagal Ginjal Kronik. Jurnal Penelitian
Perawatan Profesional, 6(3), 911–920.
Universitas Muhammadiyah Gombong
[Link]
Fatchur, M. F., Sulastyawati, & Palupi, L. M. (2020). Kombinasi Ankle Pumping
Exercise dan Contrast Bath Terhadap Penurunan Edema Kaki Pada Pasien
Gagal Ginjal Kronik. Indonesian Journal of Nursing Health Science ISSN,
5(1), 1–10.
Fidayanti, A., Muafiro, A., & A, H. N. (2018). KEPATUHAN PEMBATASAN
CAIRAN PADA KLIEN GAGAL GINJAL KRONIS YANG MENJALANI
HEMODIALISA DI RSI JEMURSARI SURABAYA. Jurnal Keperawatan,
XI(2), 126–132. [Link]
Goyal, A., Cusick, A. S., & Bhutta, B. S. (2024). Peripheral Edema. In StatPearls.
[Link]
Guyton, A. C., & Hall, J. E. (2014). Buku Ajar Fisiologi Kedokteran (12th ed.).
EGC.
Hadinata, D., & Lutfi, B. (2022). Patofisiologi (H. Mulyana (ed.)). EDU
Publisher.
Hapsari, P., & Yanti, A. K. E. (2022). Karakteristik Pasien Penyakit Ginjal Kronis
di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar Tahun 2019-2021. Wal’afiat Hospital
Journal, 3(2), 126–138. [Link]
Hayati, R. R., Indrawarti, N., & Lazuardi, N. (2018). Meningkatkan Kepatuhan
Pembatasan Cairan Dengan Edukasi Behaviour Therapy Di Ruang
Hemodialisa Rsud Tugurejo Semarang.
Heriansyah, Humaedi, A., & Widada. (2019). Gambaran Ureum Dan Kreatinin
Pada Pasien Gagal Ginjal Kronis Di Rsud Karawang. Binawan Student
Journal, 01(01), 8–14.
Herlina, S., & Rosaline, M. D. (2021). Kepatuhan Pembatasan Cairan Pada Pasien
Hemodialisis. Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan Dan Kesehatan,
9(1), 46. [Link]
Herwinda, H., Kusumajaya, H., & Faizal, K. M. (2023). Faktor-faktor yang
berhubungan dengan kejadian hipervolemia pada pasien Gagal Ginjal Kronik
yang menjalani hemodialisis di ruang hemodialisa Rumah Sakit Medika
Stannia Sungailiat tahun 2022. Journal of Nursing Practice and Education,
Universitas Muhammadiyah Gombong
3(2), 119–127. [Link]
Hickling, D. R., Sun, T. T., & Wu, X. R. (2021). Anatomy and physiology of the
urinary tract: Relation to host defense and microbial infection. Urinary Tract
Infections: Molecular Pathogenesis and Clinical Management, 3(4), 3–25.
[Link]
Ichwanda, A. R. (2021). ASUHAN KEPERAWATAN MANAJEMEN
HIPERVOLEMIA PADA PASIEN CONGESTIF HEART FAILURE (CHF)
DI RUANG MELATI RSUD Dr. M. YUNUS BENGKULU. Poltekes
Kemenkes Bengkulu.
Irwan. (2016). Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Budi Utama.
Isro’in, L., Munawaroh, S., & Restiani, D. (2024). Self Esteem Dan Kepatuhan
Pembatasan Cairan Pada Pasien Yang Menjalani Hemodialisis Di RSUD Dr.
Harjono Ponorogo. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah, 9(1), 133–141.
Istanti, Y. P. (2021). Faktor-Faktor yang Berkontribusi terhadap Interdialytic
Weight Gains pada Pasien Chronic Kidney Diseases yang Menjalani
Hemodialisis. Mutiata Medika, 11(2), 118–130.
Jafar, N. F., & Budi, A. W. S. (2023). Penerapan Foot Elevation 30 ̊ Terhadap
Penurunan Derajat Oedema Ekstremitas Bawah Pada Pasien Congestif Heart
Failure. Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Dan Kedokteran, 1(2), 207–223.
KEMENKES. (2018). Keputusan Menteri Kesehatan RI Tentang Pedomal Tata
Laksana Gagal Ginjal Kronik. 1–289.
Khan, Y. (2018). Fluid Overload and Diuretics Prescribing in Chronic Kidney
Disease Patients. Value in Health, 21, S69.
[Link]
Khan, Y. H., Sarriff, A., Adnan, A. S., Khan, A. H., & Mallhi, T. H. (2016).
Chronic kidney disease, fluid overload and diuretics: A complicated triangle.
PLoS ONE, 11(7), 1–13. [Link]
Kim, H. J. (2021). Metabolic Acidosis in Chronic Kidney Disease: Pathogenesis,
Clinical Consequences, and Treatment. Electrolyte and Blood Pressure,
19(2), 29–37. [Link]
Kovesdy, C. P. (2022). Epidemiology of chronic kidney disease: an update 2022.
Universitas Muhammadiyah Gombong
Kidney International Supplements, 12(1), 7–11.
[Link]
Kurnia, E. (2021). Kelebihan Volume Cairan Pada Pasien Gagal Ginjal Kronis
yang Menjalani Hemodialisa. Jurnal Penelitian Keperawatan, 4(1), 26–37.
Lent-Schochet, D., & Jialal, I. (2023). Physiology, Edema. In StatPearls.
StatPearls Publishing LLC. [Link]
Made, N., Dwitarini, E., Herawati, S., Studi, P., Dokter, P., Kedokteran, F., &
Udayana, U. (2017). PERBEDAAN KADAR HEMOGLOBIN SEBELUM
DAN SESUDAH. E-Jurnal Medika, 6(4).
Maharani, L. A. D. P. (2020). Gambaran Asuhan Keperawatan Pada Pasien
Gagal Ginjal Kronis Yang Menjalani Hemodialisis Dengan Hipervolemia Di
Ruang Hemodialisa RSUD Mangusada Bandung Tahun 2020. Poltekes
Denpasar.
Mailani, F., Muthmainah, & Purnama, A. J. (2023). Hubungan Self Management
dengan Penambahan Berat Badan Interdialisis pada Pasien Penyakit Ginjal
Kronik yang Menjalani Hemodialisis. Jurnal Kesehatan Medika Saintika,
14(2), 424–436. [Link]
Manggasa, D. D., Agusrianto, A., & Djua, M. F. (2021). Kombinasi Contrast Bath
dengan Foot Massage Menurunkan Edema Kaki Pada Pasien Congestive
Heart Failure. Poltekita : Jurnal Ilmu Kesehatan, 15(1), 19–24.
[Link]
Mardiani, Dahrizal, & Maksuk. (2022). Efektifitas Manajemen Kelebihan Cairan
Terhadap Status Hidrasi Pasien Chronic Kidney Disease ( CKD ) Di Rumah
Sakit Email : maksuk@[Link] The Effectiveness Of
Fluids Exclusion Management On The Hydration Status Of Chronic Kidney
Disease. Journal of Health and Cardiovascular Nursing, 2(1).
[Link]
Melianna, R., & Wiarsih, W. (2019). Hubungan Kepatuhan Pembatasan Cairan
Terhadap Terjadinya Overload Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Post
Hemodialisa Di Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati. JIKO (Jurnal Ilmiah
Keperawatan Orthopedi), 3(1), 37–46. [Link]
Universitas Muhammadiyah Gombong
Mustofa, M., Surendra, M., & Kinanti, R. (2019). Pengembangan Pelatihan
Fisioterapi Contrast Bath Dengan Media Video Pada Mahasiswa Ilmu
Keolahragaan. Jurnal Sport Science, 4(1), 12–21.
Muttaqin, & Sari. (2016). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Perkemihan.
Jakarta: Salemba Medika. Salemba Medika.
Nashir, M. S., Syarivah, U., Rijalis., & Syarifah, U. (2024). Aktivitas Diuretik
Obat Pada Mencit. Jurnal Ilmiah Farmasi Attamru, 05(01), 35–39.
Notoatmodjo, S. (2015). Metodologi Penelitian Kesehatan. Edisi Revisi. (revisi).
Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. (2017). Promosi Kesehatan Dan Perilaku Kesehatan (Revisi).
Rineka Cipta.
Nurani, R. D., & Arianti, M. (2022). Penerapan Posisi Semi Fowler Terhadap
Ketidakefektifan Pola Nafas Pada Pasien Congestive Heart Faillure. Jurnal
Keperawatan Bunda Delima, 4(2). [Link]
Nurrohman, K. (2022). Analisis Asuhan Keperawatan Pada Pasien Gagal Ginjal
Kronik (Ggk) Dengan Masalah Keperawatan Hipervolemia Di Rsud Prof. Dr.
Margono Soekarjo Purwokerto. Repository Universitas Muhammadiyah
Gombong, 1–105.
Oktario, F., Hanan, A., Rahmawati, I., Sujarwo, E., Studi, P., Malang, D. K.,
Keperawatan, J., & Kemenkes, P. (2023). Keperawatan Pada Klien CKD
( Chronic Kidney Disease ) Dengan Masalah Hipervolemia di RSUD Mardi
Waluyo Blitar. Journal Of Social Science Research, 3, 1767–1779.
Panma, Y. (2018). Hubungan Karakteristik Individu dengan Kualitas Hidup
Pasien Hemodialisis. Buletin Kesehatan: Publikasi Ilmiah Bidang
Kesehatan, 2(1), 80–91. [Link]
Potter, P. ., & Perry, A. . (2015). Fundamental Of Nursing: Consep, Proses and
Practice. (8th ed.). Elesevier.
Pratiwi, S. N., & Suryaningsih, R. (2020). Gambaran Klinis Penderita Penyakit
Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis Di RS PKU Muhammadiyah
Surakarta. Universitas Muhammadiyah Surakarta, 3, 427–439.
Priandini, R. P., & Handayani, L. (2023). Faktor - Faktor yang Berhubungan
Universitas Muhammadiyah Gombong
dengan Kualitas Hidup ( Quality Of Life ) Pasien Gagal Ginjal Kronik yang
Menjalani Hemodialisa. Jurnal Pendidikan Tambusai, 7(1), 3332–3338.
Price, S. ., & Wilson, L. . (2016). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit Volume 2 (6th ed.). EGC.
Purnamasari, D., & Musta, M. (2023). Jurnal Keperawatan Berbudaya Sehat
Gambaran Pengelolaan Hipervolemia pada Gagal Jantung Kongestif di
Rumah Sakit. 1(1).
Purwadi, I. K. A. H., Galih, G., & Puspita, D. (2015). Pengaruh Terapi Contrast
Bath (Rendam Air Hangat Dan Air Dingin) Terhadap Edema Kaki Pada
Pasien Penyakit Gagal Jantung Kongestif Di RSUD Ungaran, RSUD
Ambarawa, RSUD Kota Salatiga Dan RSUD Tugurejo Provinsi Jawa
Tengah. Naskah Publikasi.
Putra, I. G. S. S., & Islamiah, A. (2023). Gambaran klinis dan laboratoris
penderita penyakit ginjal kronis yang menjalani hemodialisis di RSUD
Muara Teweh, Barito Utara, Kalimantan Tengah. Intisari Sains Medis, 14(1),
538–542. [Link]
Putri, E., Alini, & Indrawati. (2020). Hubungan Dukungan Keluarga dan
Kebutuhan Spiritual Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Gagal Ginjal Kronik
Dalam Menjalani Terapi Hemodialisis Di RSUD Bangkinang. JURNAL
NERS Research & Learning in Nursing Science, 4(23), 47–55.
Ravani, P., Quinn, R., Fiocco, M., Liu, P., Al-Wahsh, H., Lam, N., Hemmelgarn,
B. R., Manns, B. J., James, M. T., Joanette, Y., & Tonelli, M. (2020).
Association of Age With Risk of Kidney Failure in Adults With Stage IV
Chronic Kidney Disease in Canada. JAMA Network Open, 3(9), e2017150.
[Link]
Reisinger, N., & Berkoben, M. (2019). Volume disorders and assessment.
Nephrology Secrets: Fourth Edition, 487–500. [Link]
0-323-47871-7.00080-0
Ricky Ramadhian, M., & Pahmi, K. (2021). Aktivitas Diuresis Leucaena
leucocephala.L Pada Mencit jantan (Mus musculus). Journal Syifa Sciences
and Clinical Research, 3(1), 19–28. [Link]
Universitas Muhammadiyah Gombong
Riska, W. M., Noor, M. A., Suyanto, S., & Wahyuningsih, I. S. (2023). Pengaruh
Kombinasi Ankle Pump Exercise Dan Elevasi Kaki 30° Terhadap Edema
Kaki Pada Pasien CKD. Jurnal Keperawatan Sisthana, 8(1), 25–36.
[Link]
Riskesdas. (2018). Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian
RI tahun 2018. Kemenkes.
Rosdiana, I., & Cahyati, Y. (2021). Pengaruh Edukasi Terhadap Penambahan
Berat Badan Diantara Dua Waktu Dialisis Pada Pasien Hemodialisis Di Rsud
Kota Tasikmalaya. Buletin Media Informasi, 1, 69–77.
Rosini, D. D., Aini, & Ramadanti, E. (2020). Efektivitas Hemodialisa
Berdasarkan Parameter Hemoglobin, Eritrosit, Dan Hematokrit Pada
Penderita Gagal Ginjal Kronik. Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS),
7(2), 146. [Link]
Sahara, A. (2021). Analisa Praktik Keperawatan pada Tn.L dengan Intervensi
Inovasi Terapi Contrast Bath dan Elevasi Kaki 30° terhadap Penurunan
Derajat Edema pada Pasien Congestive Heart Failur (CHF). Universitas
Muhammadiyah Kalimantan Timur.
Salamah, U. (2023). Analisa Faktor Risiko Kejadian Gagal Ginjal Kronik di
RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu. Universitas Anwar Medika.
Sanjaya, A. A. G. B., Santhi, D. G. D. D., & Lestari, A. A. W. (2019). Gambaran
Anemia Pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik Di RSUP Sanglah Pada Tahun
2016. Jurnal Medika Udayana, 8(6).
Sari, Y. K., Sari, E. A., & Pratiwi, S. H. (2023). Hipervolemia dan Keletihan pada
Pasien Chronic Kidney Disease Stage 5: Sebuah Studi Kasus. MAHESA :
Malahayati Health Student Journal, 3(9), 2605–2618.
[Link]
SDKI. (2018). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia Definisi dan Indikator
Diagnostik. Dewan Pengurus PPNI.
Shadgan, B., Pakravan, A. H., Hoens, A., & Reid, W. D. (2018). Contrast baths,
intramuscular hemodynamics, and oxygenation as monitored by near-
infrared spectroscopy. Journal of Athletic Training, 53(8), 782–787.
Universitas Muhammadiyah Gombong
[Link]
Sholimin, M., Nekada, C. D. Y., & Wiyani, C. (2021). Hubungan Tekanan Darah
Dan Nadi Terhadap Kualitas Hidup Pasien Hemodialisa Di RSUD
Panembahan Senopati Bantul. Hospital Majapahit, 13(1), 71–85.
Siagian, Y., Alit, D. N., & Suraidah. (2021). Analisis Faktor yang Berhubungan
dengan Kepatuhan Pembatasan Asupan Cairan Pasien Hemodialisa. Jurnal
Menara Medika, 4(1), 71–80.
Siagina, Y., & Trialvi, H. (2020). Hubungan Asupan Cairan Dengan Penambahan
Berat Badan Interdialisis Pada Pasien Hemodialisis Di RSUD Kota
Tanjungpinang. Jurnal Ilmiah Keperawatan Stikes Hang Tuah Surbaya,
15(2), 198–206. [Link]
Siska, B., Vestabilivy, E., & Fatkhurrohman, M. (2023). Gambaran Pasien Yang
Mengalami Hipervolemia dengan Gagal Ginjal Kronik : Description of
Patients Experiencing Hypervolemia with Chronic Kidney Failure at RSUD
dr . Chasbullah Abdul Majid , Bekasi City. Jurnal Persada Husada
Indonesia, 10(38), 1–13.
Sitorus, D. Y. (2020). Tingkat Kelelahan Sesudah Menjalani Hemodialisa di RS
Bhayangkara Tebing Tinggi. Universitas sumatera utara.
Siwi, A. S. (2021). Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani
Terapi Hemodialisa. Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Bengkulu, 9(2),
1–9. [Link]
Smeltzer, S. C., & Bare. (2015). Keperawatan Medikal Bedah Brunner and
Suddarth Edisi 12. EGC.
Sumarni, & Fadlilah, S. (2020). Kepatuhan Pembatasan Cairan dan Kualitas
Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik di Ruang Hemodialisis Rs PKU
Muhammadiyah Yogyakarta. Jurnal Keperawatan, 9(2), 118–128.
Sunaedi. (2017). Pokoknya Studi Kasus Pendekatan Kualitatif (PT Kiblat).
Suparmo, S., & Daniel Hasibuan, M. T. (2021). Hubungan Kepatuhan
Pembatasan Cairan Terhadap Terjadinya Edema Post Hemodialisa Pada
Pasien Gagal Ginjal Kronik Di Rumah Sakit Aminah Kota Tangerang.
Indonesian Trust Health Journal, 4(2), 522–528.
Universitas Muhammadiyah Gombong
[Link]
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2019). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia
(1st ed.). DPP PPNI.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (1st ed.). DPP PPNI.
Umah, E. L. (2023). Pengaruh Contrast Bath Terhadap Edema Tungkai Pada
Penderita Chronic Kidney Disease (CKD). Universitas Ngudi Waluyo.
Vaidya, S. R., & Aeddula, N. R. (2022). Chronic Renal Failure. In StatPearls.
StatPearls Publishing LLC. [Link]
Wahyuni, E. S., & Indarti, S. (2019). Hubungan Karakteristik Pengetahuan
Tentang Asupan Natrium dan Cairan dengan Interdialytic Weight Gain
(IDWG) pada Penderita Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis
(HD). Holistik Jurnal Kesehatan, 13(2), 102–113.
[Link]
F&id=9987
Yuda H. T., Lestari, I. A., & Nugroho, F. A. (2021). Gambaran Usia dan
Kepatuhan Diet Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik di Ruang Hemodialisa
RSUD dr. Soedirman Kebumen. Prosiding Urecol, 1(1), 389–393.
Yulianti Simatupang, H., Yemina, L., & Gamayana, Y. (2022). Studi Kasus
Asuhan Keperawatan pada Pasien Penyakit Ginjal Kronis dengan Masalah
Keperawatan Gangguan Integritas Kulit. Jurnal Keperawatan Cikini, 3(2),
47–52. [Link]
Zunayda, F. E. (2018). Analisis Survival Penderita Gagal Ginjal di Unit
Hemodialisa RSUD Dr. R. Sosodoro Djatikoesoemo. Institut Teknologi
Sepuluh Nopember.
Zuriati, S., Suriya, S., & Ananda, S. (2017). Buku Ajar Asuhan keperawatan
medikal bedah Gangguan Pada Sistem Respirasi. Gangguan Pada Sistem
Respirasi Aplikasi Nanda NIC & NOC, 95–114.
Universitas Muhammadiyah Gombong
LAMPIRAN
Universitas Muhammadiyah Gombong
Lampiran 1
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) TERAPI CONTRAST BATH
PENGERTIAN Contrast Bath merupakan hydrotherapy yang
mengkombinasikan air yang bersuhu panas dan bersuhu dingin
(Purwadi et al., 2015; Budiono & Ristanti, 2019)
TUJUAN a. Mengurangi edema
b. Mengurangi nyeri
c. Mengurangi kekakuan pada ekstremitas.
REFERENSI Budiono, & Ristanti, R. S. (2019). Pengaruh Pemberian
Contrast Bath Dengan Elevasi Kaki 30 Derajat Terhadap
Penurunan Derajat Edema Pada Pasien Gagal Jantung
Kongestif. Health Information Jurnal Penelitian, 11, 91–
99. [Link]
Purwadi, I.K.A.H., Galih, G., & Puspita D., (2015). Pengaruh
Terapi Contras Bath (Rendam Air Hangat Dan Dingin)
Terhadap Edema Kaki Pada Pasien Penyakit Gagal Jantung
Kongestif Di RSUD Ungaran, RSUD Ambarawa, RSUD
Salatiga, Dan RSUD Tugurejo Provinsi Jawa Tengah,
Naskah Publikasi
PERSIAPAN Persiapan pasien
1. Memberi salam
2. Memperkenalkan diri
3. Menjelaskan maksud dan tujua
4. Menjaga privacy
5. Membaca doa
Persiapan alat
1. Baskom sebanyak 2 buah berisi air hangat dan air dingin
2. Handuk
3. Jam tangan
4. Pengukur suhu air
Universitas Muhammadiyah Gombong
5. Tisu basah
PROSEDUR 1. Mencuci tangan
2. Menjaga privasi pasien
3. Mengatur posisi pasien duduk di samping tempat tidur
4. Menyiapkan jam tangan untuk mengukur waktu
perendamaan
5. Membersihkan kedua kaki dengan tisu basah
6. Menyiapkan 2 wadah, masing-masing berisi air hangat dan
air dingin sebanyak tiga per empat
7. Memastikan suhu sesuai yaitu 36,6-43,3°C (air hangat) dan
10-20 °C (air dingin)
8. Merendam kaki pasien hingga sebatas betis secara
bergantian
9. Melakukan perendaman selama 5 menit untuk masing-
masing air
10. Mengeringkan kaki dengan handuk
11. Mengobservasi derajat edema
TERMINASI 1. Menanyakan perasaan pasien/evaluasi tindakan
2. Menyampaikan hasil
3. Merapikan pasien
4. Membereskan alat
5. Mencuci Tangan
6. Menyampaikan rencana Tindak Lanjut
7. Berpamitan
8. Dokumentasi
UNIT
TERKAIT
Universitas Muhammadiyah Gombong
Lampiran 2
Lembar Observasi
“ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN CHRONIC KIDNEY DISEASE
(CKD) DENGAN DIAGNOSA KEPERAWATAN
UTAMA HIPERVOLEMIA DI RSUD Dr. SOEDIRMAN KEBUMEN”.
Hipervolemia Hari Ke- Derajat Edema Hari Ke-
Kode Responden
1 2 3 1 2 3
1
2
3
4
5
Universitas Muhammadiyah Gombong
Lampiran 3
SURAT PERMOHONAN KESEDIAAN MENJADI RESPONDEN
Kepada
Yth. Calon Responden Penelitian
Di RSUD dr. Soedirman Kebumen
Dengan hormat
Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Rudi Eryanto
NIM : 202303159
Adalah mahasiswa Program Profesi Ners UNIVERSITAS Muhammadiyah
Gombong yang akan melakukan penelitian dengan judul “Asuhan Keperawatan
Pada Pasien Chronic Kidney Disease (CKD) Dengan Diagnosa Keperawatan
Utama Hipervolemia di RSUD dr. Soedirman Kebumen”.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi adanya penurunan
hypervolemia pada pasien gagal ginjal kronis Di RSUD Dr. Soedirman
Kebumen. Informasi yang diberikan akan dirahasiakan hanya untuk kepentingan
penelitian. Apabila Bapak/Ibu/Sdra/Sdri menyetujui maka mohon kesediaan untuk
menandatangani lembar persetujuan, dan menjawab pertanyaan yang akan saya
berikan. Peran Bapak/Ibu/Sdra/Sdri merupakan sumbangan yang berarti dalam
perkembangan ilmu pengetahuan
Demikian permohonan izin ini saya ajukan, atas perhatian dan kesediaan
Bapak/Ibu/Sdra/Sdri, saya ucapkan terima kasih.
Peneliti,
Rudi Eryanto
Universitas Muhammadiyah Gombong
Lampiran 4
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Menyatakan bersedia menjadi informan penelitian yang dilakukan oleh
mahasiswa Program Profesi Ners UNIVERSITAS Muhammadiyah Gombong
yang akan melakukan penelitian dengan judul “Asuhan Keperawatan Pada
Pasien Chronic Kidney Disease (CKD) Dengan Diagnosa Keperawatan Utama
Hipervolemia di RSUD dr. Soedirman Kebumen”.
Saya mengerti bahwa penelitian ini tidak menimbulkan dampak negatif dan data
mengenai diri saya dalam penelitiann ini dijaga kerahasiaanya oleh peneliti.
Semua berkas yang mencantumkan identitas saya hanya untuk keperluan
pengolahan data dan bila sudah tidak digunakan akan dimusnahkan. Hanya
peneliti yang dapat mengetahui kerahasiaan data penelitian.
Demikian, secara sukarela dan tidak ada unsur paksaan dari siapapun, saya
bersedia untuk berperan serta dalam penelitian ini.
Kebumen,......................2024
Responden
(.......................................)
Universitas Muhammadiyah Gombong
Lampiran 5
REKAPITULASI DATA
Hipervolemia Hari Ke- Derajat Edema Hari Ke-
Kode Responden
1 2 3 1 2 3
Tn.A 8% 5% (hipervolemia 3% II (pitting edema 4 I (pitting edema 2 mm, I (pitting
(hypervolemia berat) (hypervolemia mm, waktu kembali waktu kembali 3 detik) edema 1 mm,
berat) ringan) 5 detik) waktu kembali
3 detik)
Tn.P 5% 3% (hipervolemia 1% I (pitting edema 2 I (pitting edema 1 mm, Tidak ada
(hypervolemia ringan) (hypervolemia mm, waktu kembali waktu kembali 3 detik)
berat) ringan) 3 detik)
Ny.J 3% 3% Tidak ada I (pitting edema 3 I (pitting edema 1 mm, Tidak ada
(hypervolemia (hypervolemia (isovolemia) mm, waktu kembali waktu kembali 3 detik)
ringan)
ringan) 3 detik)
Tn.J 7% 4% 2% II (pitting edema 4 I (pitting edema 3 I (pitting
(hypervolemia (hypervolemia (hypervolemia mm, waktu kembali mm, waktu edema 1 mm,
ringan)
berat ringan) 5 detik) kembali 3 detik) waktu kembali
3 detik)
Ny.M 4% 1% Tidak ada II (pitting edema 3, I (pitting edema 2 mm, I (pitting
(hypervolemia (hypervolemia (isovolemia) waktu kembali 5 waktu kembali 3 detik) edema 1 mm,
ringan)
ringan) detik waktu kembali
3 detik)
Universitas Muhammadiyah Gombong
LEMBAR KEGIATAN BIMBINGAN
Nama Mahasiswa : Rudi Eryanto
NIM 202303159
Prodi : Profesi Ners
Pembimbing : Irmawan Andri Nugroho, M. Kep
Judul : Asuhan Keperawatan Pada Pasien Chronic Kidnay
Disease (CKD) Dengan Diagnose Keperawatan Utama
Hypervolemia Di RSUD Dr. Soedirman Kebumen
Hari/Tanggal Topik/ Materi dan Tanda Paraf
Bimbingan saran Tangan Pembimbing
Pembimbing Mahasiswa
BAB I
Jumat 10 1. Perlu di tambahkan lagi
November penjelasan mengapa pasien
2023 GGK mengalami
hypervolemia
2. Kemudian perlu di
tambahkan juga penjelasan
mengapa rendam kaki bisa
membantu mengatasi
hypervolemia
3. Gunakan istilah yang
konsisten, mau pakai CKG
atau GGK
BAB 2
Kamis 16 1. Pada pembahasan contras
November
2023 bath tambahkan minimal 3
hasil penelitian yang
menujukan bahwa Tindakan
ini efektif untuk
mengatasihipervolemia pad
pasien CKD
2. Sertakan alasan ilmiah
mengapa Tindakan ini bisa
mengatasi hipervilemia
Universitas Muhammadiyah Gombong
Selasa 21 BAB 2
November
Teori kontras bath masih perlu
2023
di tambahkan
BAB 3
Selasa 21 a. Kriteria inklusi
November 1. Pasien didiagnosa dokter
2023
mengalami gagal ginjal
kronik (CKD)
2. Pasien sadar penuh dengan
GCS 15
3. Pasien mengalami masalah
keperawatan hipervolemia
4. Pasien berusia 30-60 tahun
b. Focus study kasus
Memberikan asuhan
keperawatan hypervolemia
pada pasien CKD dengan
penerapan inovasi Tindakan
keperawatan Terapi
Contrast Bath
c. Hasil ukur:
Dilakukan sesuai SOP, atau
tidak dilakukan
BAB 3 sudah cukup
Selasa 28
November Lanjut lengkapi lampiran dan
2023 daftar pustaka
Konsul BAB 4
Jumat 14 Mei 1. Tambahkan program apa saja
2024
dan keunggualan ruangan
dalam merawat pasien CKD
2. Pengkajian di lengkapi,
Universitas Muhammadiyah Gombong
keluhan utama, Riwayat
Kesehatan, pola fungsional
focus pengkajian fisik, dan
pemeriksaan penunjang
3. Pembahasan jangan
mengulang dan mengikutu
tujuan khusus
Rabu, 5 Juni Konsul BAB 4
2024 1. Pembahasan studi kasus dan
evaluasi masih kurang di
tambahkan dulu
2. Lanjut lengkapi daftar Pustaka
dan lampiran lampiran
Selasa, 2 Juli Konsul BAB 4
2024 1. Bab 4 sudah cukup
2. Lanjut Turnitin
Kamis, 11 Konsul BAB 5 dan Hasil
Juni 2024 Turnitin
1. File di gabung jadi satu
dari awal sampai akhir
2. Kirim lembar
pengesahan dan
bimbingan untuk di
tanda tangan
Mengetahui
Ketua Program Studi
PendidikanProfesi Ners
Program Profesi
(Wuri Utami, M. Kep)
Universitas Muhammadiyah Gombong
LEMBAR REVISI
MAHASISWA : Rudi Eryanto
PENGUJI : Fajar Agung Nugroho, MNS
JUDUL : Asuhan Keperawatan Pada Pasien Chronic Kidnay
Disease (CKD) Dengan Diagnose Keperawatan Utama
Hypervolemia Di RSUD Dr. Soedirman Kebumen
BAB HAL SARAN PARAF
3 1. Manfaat contras bath untuk melancarkan
sirkulasi peredaran darah bukan membuka pori
pori
2. Pasien di lakukan contras bath sebelum di
lakukan hemodialisa
3. Pada saat implementasi Tindakan contras bath
sebaiknya tidak menggunakan ruangan yang
ber AC guna untuk mestabilkan suhu air yang
akan di.
4. Sebelum melakukan contras bath dan
hemodialisa tetukan dulu IDWG (Intradialitik
Weight Gain) pada pasien
5. Cara melakukan observasi/ evaluasi pada
pasien yang talah di lakukan Tindakan contras
bath berapa menit/jam setelah terapi tersevut
6. ACC di lanjutkan untuk BAB selanjutnya
4 1. Perbaiki penulisan dan di sesuaikan
dan
2. Tambahkan di saran tuliskan kenapa tidak
5
mengambil diagnosa utama tentang gangguan
pola nafas gunakan
Universitas Muhammadiyah Gombong
LEMBAR REVISI
MAHASISWA : Rudi Eryanto
PENGUJI : Irmawan Andri Nugroho, [Link]
JUDUL : Asuhan Keperawatan Pada Pasien Chronic Kidnay
Disease (CKD) Dengan Diagnose Keperawatan Utama
Hypervolemia Di RSUD Dr. Soedirman Kebumen
BAB HAL SARAN PARAF
1. Penulisan di perbaiki masih ada yang
menggunakn huruf Arial dan times roman
2. Lampiran di gabungkan biar bisa di baca/
dilihat
4 1. Tambahkan jurnal dari penguji atau
pembimbing cari di goolge scolar
Universitas Muhammadiyah Gombong
Universitas Muhammadiyah Gombong
ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. A DENGAN MASALAH
KEPERAWATAN UTAMA HIPERVOLEMIA PADA CHRONIC KIDNEY
DISEASE (CKD)
DI BANGSAL CEMPAKA RSUD Dr. SOEDIRMAN KEBUMEN
Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Tugas Stase Keperawatan Medikal Bedah
Oleh :
RUDI ERYANTO
NIM: 202303159
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GOMBONG
2024
Universitas Muhammadiyah Gombong
ASKEP 1
TANGGAL MASUK : 16/01/2024
TANGGAL PENGKAJIAN : 16/01/2024, WAKTU: 09.00 WIB
PENGKAJIAN
1. Identitas pasien
Nama : Tn. A
Tanggal Lahir : 17/11/1987 (37 tahun)
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : swasta
Status Pernikahan : Menikah
Pendidikan : SMA
No. RM : 012xxx
Alamat : Sidomukti,02/07, Jemur, Kebumen
2. Penanggungjawab pasien
Nama : Tn. C
Umur : 70 th
Alamat : Sidomukti,02/07, Jemur, Kebumen
Pekerjaan : Buruh
3. Keluhan utama : Pasien Mengatakan Kedua Kaki Bengkak,
4. Riwayat kesehatan :
a. Riwayat kesehatan sekarang :
Pasien datang dengan keluhan kedua kaki bengkak dan perut agak
membengkak disertai sesak napas. Pasien mengatakan cepat lelah
terutama bila berjalan. Pasien sudah menjalani terapi hemodialisa sejak
12 September 2023
Saat dikaji: terdapat edema ekstremitas dan asites, pitting edema 4 mm
dengan waktu kembali 5 detik. Pasien nampak lemas, letih, kenaikan
berat badan dari berat badan kering 8 kg (8000ml). pasien tampak lesu,
TD: 184/120 mmHg, Suhu: 36,7 0C, Nadi: 116 x/menit, RR: 24
x/menit, SpO2: 98 %.
b. Riwayat kesehatan dahulu :
Universitas Muhammadiyah Gombong
Pasien mengatakan memiliki riwayat hipertensi yang diderita sejak 5 tahun
yang lalu disertai rasa mual dan muntah. Pasien pernah dirawat di
RSDS pada bulan Juli 2023.
c. Riwayat kesehatan keluarga :
Pasien mengatakan bapaknya menderita hipertensi. Tidak ada penyakit
keturunan seperti DM dan penyakit ginjal dan tidak ada yang
menderita penyakit menular seperti TBC, HIV dan hepatitis
.
Genogram :
Keterangan :
: pasien
: laki - laki
: perempuan
5. Pengkajian pola fungsional menurut Virginia Henderson
a. Pola Pernafasan
Sebelum sakit : pasien mengatakan sebelum sakit tidak ada masalah dalam
bernafas.
Saat dikaji : Pasien mengatakan mengalami sesak napas sehingga
menganggu aktifitasnya
b. Pola Nutrisi
Sebelum sakit : pasien mengatakan sebelum sakit makan normal 3x sehari
disertai lauk dan pauk, makan buah dan minum dalam sehari 2-3
gelas/hari
Universitas Muhammadiyah Gombong
Saat dikaji : pasien mengatakan makan 3x sehari sesuai dengan diit RS,
untuk minum pasien merasa ingin minum terus,
mudah haus karena badan terasa panas, sedangkan pasien harus
membatasi asupan cairan.
c. Eliminasi
Sebelum sakit : Pasien mengatakan BAK 4-6x/hari, berwarna jernih
dan BAB 1x sehari.
Saat dikaji : Pasien mengatakan selama di RS BAB 1x/hari, BAK 2-3
kali/hari.
d. Pola gerak dan keseimbangan
Sebelum sakit : pasien mengatakan sebelum sakit dapat beraktivitas
dan berjalan normal tanpa ada hambatan.
Saat dikaji : Pasien mengatakan bila beraktifitas atau berjalan jauh
akan mudah sesak napas
e. Pola Istirahat dan tidur
Sebelum sakit : pasien mengatakan sebelum sakit istirahat merasa
sangat cukup, kurang lebih dapat tidur 7 sampai 8 jam pada malam dan
siang hari.
Saat dikaji : Pasien mengatakan tidur 7-8 jam pada malam hari dan
siang hari, pasien merasa lelah tidak hilang meskipun telah tidur
f. Pola Bepakaian
Sebelum sakit : Pasien mengatakan dapat berpakaian sendiri tanpa
dibantu orang lain.
Saat dikaji : Pasien mengatakan masih dapat berpakaian secara mandiri
tanpa bantuan orang lain
g. Pola Rasa Aman dan Nyaman
Sebelum sakit : Pasien mengatakan merasakan lebih nyaman di rumah.
Saat dikaji : Pasien mengatakan merasakan tidak nyaman di rumah
sakit karena suasana yang terlalu ramai.
h. Pola Mempertahankan Sirkulasi
Sebelum sakit : Pasien mengatakan saat dingin mengenakan pakaian
tebal / selimut dan saat panas pasien mengenakan pakaian tipis /
menyalakan kipas angin.
Universitas Muhammadiyah Gombong
Saat dikaji : pasien mengatakan mudah merasa panas akan tetapi tidak
demam, klien mengurangi rasa panas dengan pakaian tipis atau
mengelap tubuhnya dengan air dingin.
i. Pola Personal Hygiene
Sebelum sakit : pasien mengatakan sebelum sakit dapat menjaga
kebersihan diri secara mandiri tanpa bantuan orang lain.
Saat dikaji : pasien mengatakan sebagian dibantu keluarga untuk
menjaga kebersihan dirinya.
j. Pola Komunikasi
Sebelum sakit : Pasien mengatakan dapat berkomunikasi dengan
normal dalam sehari - hari dengan menggunakan bahasa daerah dan
Indonesia.
Saat dikaji : Pasien mengatakan dapat berkomunikasi dengan normal
dalam sehari - hari dengan menggunakan bahasa daerah dan Indonesia.
k. Pola Spiritual
Sebelum sakit : Pasien mengatakan sering jamaah di masjid.
Saat dikaji : Pasien mengatakan solat di tempat tidur.
l. Pola Bekerja
Sebelum sakit : Pasien mengatakan pernah bekerja di RM Padang di
papua
Saat dikaji : Pasien mengatakan tidak dapat melakukan aktivitas hanya
bisa berbaring ditempat tidur.
m. Pola Rekreasi
Sebelum sakit : Pasien mengatakan setiap hari selalu berkumpul
dengan keluarga kecilnya untuk ngobrol.
Saat dikaji : Pasien mengatakan hanya tiduran dan jarang ngobrol
dengan keluarga.
n. Belajar
Sebelum sakit : Pasien mengatakan jika sakit periksa ke dokter
keluarga / mantri.
Saat dikaji : Pasien mengatakan sudah tahu tentang penyakitnya dari
dokter spesialis.
6. Pemeriksaan fisik (head to toe)
a. Kesadaran : Composmenitis (GCS 15: E4M6V5)
Universitas Muhammadiyah Gombong
b. TTV :
TD : 184/120 mmHg
Suhu : 36,7 0C
Nadi : 116 x/menit RR
: 24 x/menit
Spo2 : 98 %
c. Berat Badan: 70 kg, BB kering: 62 kg
d. Tinggi Badan: 168 cm
e. Pemeriksaan head to toe
1) Kepala : Bentuk mesochepal, kulit kepala bersih, tidak ada lesi.
2) Mata : Konjungtiva anemis, sklera anikterik, respon cahaya
baik, tidak ada gangguan penglihatan.
3) Hidung : Bersih, tidak ada polip, penciuman normal.
4) Mulut : Tidak ada stomatitis, membran mukosa kering.
5) Telinga : Bersih, tidak ada gangguan pendengaran.
6) Leher : Tidak ada pembesaran kalenjer tiroid, JVP.
7) Paru-paru
Inspeksi : Simetris, tidak ada jejas
Palpasi : Tidak ada retraksi dinding
dada Perkusi : Sonor
Auskultasi : Vesikuler
8) Jantung
Inspeksi : Tidak ada jejas
Palpasi : Iktus cordis tidak
teraba Perkusi : Pekak.
Auskultasi : S1 S2 normal
9) Abdomen
Inspeksi : terdapat asites
Auskultasi : Terdengar adanya bising usus 12
x/menit. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
Perkusi : Thympani.
10) Genetalia : Tidak ada luka di genetalia, terdapat pembesaran
scrotum
11) Ekstremitas
Universitas Muhammadiyah Gombong
Atas : Tidak ada edema
Bawah : terdapat pembengkakan pada kedua kaki dengan
derajat II, akral teraba dingin, pitting edema 4 mm
dengan waktu kembali 5 detik.
f. Pemeriksaan penunjang
Hasil pemeriksaan lab pada tanggal 16/01/2024, Jam 11.00 WIB
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan
PAKET DARAH OTOMATIS
Hemoglobin 5,4 g/dL 11,7 – 15,5
Leukosit 9,3 10^3/uI 3,6 – 11,0
Hematokrit 17 % 35 – 47
Eritrosit 2,5 10^6/uI 3,80 – 5, 20
Trombosit 17710^3/uI 150 – 440
MCH 27 pg 26 – 34
MCHC 33 g/dL 32 – 36
MCF 85 fL 80 - 100
DIFFCOUNT
Eosnofil 4,25 % 2–4
Basofil 0,6 % 0–1
Netrofil 62,50 % 50 – 70
Limfosit 18,20 % 22 – 40
Monosit 3,50 % 2–8
Absolut Neutrofil Count 4,76 10^3/uI 1,80 – 8,00
Absolut Limfosit Count 2,20 10^3/uI 0,9 – 5,2
Neutrophil Limfosit Rasio 3,64
KIMIA KLINIK
Ureum 225mg/dL 10 – 50
Creatinin 15,73 mg/dL 0,6 – 1,2
GDS 125mg/dL 80-100
SGPT 22,6 µ/L <42
Golongan Darah A
Hasil pemeriksaan rontgen pada tanggal 16/01/2024, Jam 11.30 WIB
didapatkan kesimpulan terdapat Cardiomegali, Ukuran COR normal
g. Terapi medis
- IVFD NaCl 8 tpm
- Amlodipin 1x1 10 mg
- irbesartan 1x1 300 mg
- Etabion 2x1
- CaCo3 3x1
Universitas Muhammadiyah Gombong
MASALAH KEPERAWATAN
1. Analisa data
NO DATA FOKUS ETIOLOGI PROBLEM
1 Ds : Gangguan mekanisme hipervolemia
- Pasien mengatakan regulasi
kedua kaki bengkak
Do :
- Terlihat pasien
berbaring di tempat
tidur
- Terlihat kedua kaki
bengkak
- Terdapat pitting
odem 4 mm
- Terdapat acites
- BB kering : 62 kg
- BB : 70 kg
- TTV : TD : 184/120
mmHg, N : 116
x/mnt, RR : 24
x/mnt, Spo2 : 98 %
- Creatinin 15,73
mg/dL
- Ureum 225 mg/dl
2 Ds : Penurunan energi Pola napas tidak efektif
- Pasien mengatakan
sesak nafas
Do :
- Terlihat pasien
lemas
- RR 24 x/menit
Spo2 98%
- CRT > 5 detik
- Akral teraba dingin
- Warna kulit pucat
- HB : 5,4 g/dL
3 Ds: Kondisi fisologis Keletihan
- Pasien mengatakan
cepat lelah
- Pasien mengatakan
Universitas Muhammadiyah Gombong
keletihan tidak
menurun meskipun
telah tidur
Do:
- Kondisi umum
sedang
- Pasien tampak lesu
TTV: TD: 184/120
mmHg, Nadi: 116x/
menit, RR: 24x/ menit,
S: 36,7°C, SpO2: 98%
- Terdapat edema
ekstremitas dan
asites
- HB: 5,4 g/dl
2. Diagnosa Keperawatan
a. Hipervolemia (D.0022) b.d. gangguan mekanisme regulasi
b. Pola nafas tidak efektif (D.0005) b.d penurunan energy
c. Keletihan (D.0057) b.d. kondisi fisiologis
3. Intervensi Keperawatan
No dx SLKI INTERVENSI / SIKI
1. Setelah diberikan tindakan keperawatan 3x24 Manajemen Hipervolemia
jam diharapkan masalah keperawatan (l.03114)
Hipervolemia dapat teratasi dengan kriteria Observasi
hasil : - Periksa tanda dan gejala
Keseimbangan cairan (L.03020) hipervolemia (mis.
Indikator meningkat
Ekspektasi: Awal Target Ortopnea, dispnea, edema,
Asupan cairan 2 5 jvp/cvp meningkat, refleks
Haluaran urin 2 5 hepatojugular positif,
Kelembaban 2 5 suara nafas tambahan)
membrane - Identifikasi penyebab
mukosa hipervolemia.
- Monitor status
Keterangan: hemodinamik (
1: Menurun [Link] jantung,
2: Cukup menurun tekanan darah, MAP,
3: Sedang CVP, PAP, PCWP, CO),
4: Cukup meningkat jika tersedia
5: Meningkat - Monitor intake dan output
Indikator Awal Target cairan.
Edema 2 5 - Monitor tanda
Dehidrasi 2 5
Universitas Muhammadiyah Gombong
Asites 2 5 hemokonsentrasi ( mis.
Kadar natrium, BUN,
No dx SLKI INTERVENSI / SIKI
Keterangan: hematokrit, berat jenis
1: Meningkat urne)
2: Cukup meningkat - Monitor kecepatan infus
3: Sedang secara ketat
4: Cukup menurun - Monitor efek samping
5: Menurun diuretik ( mis. Hipotensi
ortortostatik, hipovolemia,
hipokalemia,
hiponatremia)
Terapeutik
- Timbang berat badan
Keterangan: setiap hari pada waktu
1: Memburuk yang sama
2: Cukup memburuk - Batasi asupan cairan dan
3: Sedang garam.
4: Cukup membaik - Tinggikan kepala tempat
5: Membaik tidur 30-40º/ setengah
duduk
Edukasi
- Anjurkan melapor jika
keluaran urim <0,5
ml/kg/jam dalam 6 jam
- Anjurkan melapor jika BB
bertambah > 1 kg dalam
sehari
- Anjurkan cara mengukur
dan catat asupan dan
keluaran cairan
- Anjurkan cara membatasi
cairan
- Anjurkan untuk
melakukan hemodialisa
sesuai jadwal.
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian
diuretik.
- Kolaborasi penggantian
kehilangan kalium akibat
diuretik
- Kolaborasi pemberian
continuous renal
replacement therapy
(CRRT) ,jika perlu
Universitas Muhammadiyah Gombong
2 Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemen Jalan Napas
selama 5 kali pertemuan diharapkan pola (I.01011)
napas teratasi dengan kriteria hasil: Observasi:
Pola Napas (L.01004) - Monitor pola napas
(frekuensi, kedalaman dan
upaya napas)
Indikator Awal Target Terapeutik:
Tekanan darah 2 5 - Atur posisi semi fowler
Denyut nadi 2 5 - Berikan minum hangat
radial secukupnya
No dx Berat Badan 2 5
Indikator SLKI Awal Tujuan INTERVENSI / SIKI
Verbalisasi 3: sedang
kepulihan 3 5 - Berikan oksigen
Frekuensi 2 5 1:
energy 4: cukup
Tenaga
napas memburuk2 membaik
5
Kemampuan melakukan 2: cukup3 5:5
aktivitas rutin memburuk membaik
Motivasi 3: sedang
3 5
Keletihan Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemen Energy
b.d. selama 3x24 jam diharapkan tingkat keletihan (I.03114):
kondisi menurun dengan kriteria hasil: Observasi
fisiologis Tingkat keletihan (L.03020) - Identifikasi gangguan
(D0057) fungsi tubuh yang
mangakibatkan kelelahan.
Indikator Awal Tujuan - Monitor kelelahan fisik
Verbalisasi Lelah 2 5 dan emosional.
Lesu 2 5 - Monitor pola dan jam
tidur.
Keterangan Terapeutik
1: menurun - Sediakan lingkungan
2: cukup menurun nyaman dan rendah
3: sedang stimulus.
4: cukup meningkat Edukasi
5: meningkat - Anjurkan melakukan
aktivitas secara bertahap
- Anjurkan klien untuk
mengulangi latihan
Keterangan distraksi relaksasi yang
1: meningkat
diajarkan perawat
2: cukup meningkat
Kolaborasi
3: sedang
4: cukup menurun Kolaborasi dengan ahli gizi
5: menurun tentang cara meningkatkan
asupan makanan
Indikator A T Keterangan
Dispnea 3 5 1: 4: cukup
meningkat menurun
2: cukup 5:
meningkat menurun
Universitas Muhammadiyah Gombong
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari/Tgl/J DX Implementasi Respon Paraf
am
Selasa, 16 1 Memonitor TTV dan BB S: Pasien mengatakan lemas Rudi
Januari O:
2024 - TD: 184/120 mmHg
09.00 - Nadi: 116x/menit
- RR: 24x/menit
- S: 36,7°C
- Sp02: 98%
- BB kering : 62 Kg
- BB: 70 kg
09.05 2 Mengidentifikasi pola napas DS: Pasien mengatakan sesak napas Rudi
DO: RR: 24x/menit
09.05 3 Mengidentifikasi keletihan DS: Pasien mengatakan lelah dan kurang tidur Rudi
DO: pasien tampak lesu
10.00 3 Mengajarkan latihan pernapasan DS: pasien mengatakan bersedia Rudi
DO: pasien kooperatif
10.10 2 Memberikan oksigen DS: pasien mengatakan bersedia Rudi
DO: pasien terpasang oksigenasi nasal kanul 4
lpm
10.10 1,2 Mengatur posisi pasien S : mengatakan lebih nyaman Rudi
O : Posisi tidur ½ duduk (semi fowler)
10.15 1 Memberikan terapi obat S: Pasien bersedia untuk diberi obat, tidak Rudi
memiliki riwayat alergi obat.
O:
- IVFD NaCl 8 tpm
- Amlodipin 1x1 10 mg
- irbesartan 1x1 300 mg
- Etabion 2x1
- CaCo3 3x1
Universitas Muhammadiyah Gombong
Hari/Tgl/J DX Implementasi Respon Paraf
am
10.45 1 memonitor tanda hypervolemia S: pasien mengatkan kedua kakinya bengkak Rudi
O: Kaki kanan dan kiri tampak bengkak pitting
oedem +4, acites
11.00 1 Memonitor input dan output S: Pasien mengatakan haus Rudi
O: Input 2060 cc, output 1250 cc
11.45 1 Mengajarkan Terapi Contrast Bath S: Pasien mengatakan sudah paham setelah Rudi
diajarkan terapi Contrast Bath
O: Pasien tampak sudah paham dan
mengikuti langkah-langkah yang diajarkan
13.00 1 Memonitor CRT dan turgor kulit S: Pasien mengatakan lemas Rudi
O: CRT> 2 detik, kulit kering
14.00 1 Memonitor Balance cairan = input- output Input : Rudi
Infus= 500 cc
Air (makan dan Minum)= 1200 cc
Obat injeksi= 10 cc
Air metabolism: 5ccx 70kg=350 cc
Total input= 2060 cc
Output:
Urin= 100 cc
Feses=100 cc
IWL= 15 x BB= 15 x 70= 1050 cc
Total output= 1400 cc
Balance cairan= Input-output=2060cc-1250 cc=
(+)810 cc
14.00 1,2,3 Menganjurkan untuk istirahat yang cukup DS: pasien mengatakan masih lemas Rudi
DO: pasien kooperatif
Rabu, 17 1 Memonitor TTV dan BB S: Pasien mengatakan masih lemas Rudi
Januari O:
2024 - TD: 165/110 mmHg
Universitas Muhammadiyah Gombong
Hari/Tgl/J DX Implementasi Respon Paraf
am
14.00 - Nadi: 105x/menit
- RR: 22x/menit
- S: 36,4°C
- Sp02: 98%
- BB kering : 62 Kg
- BB : 68kg
14.05 2 Mengidentifikasi pola napas DS: Pasien mengatakan sesak napas berkurang Rudi
DO: RR: 22x/menit
14.05 3 Mengidentifikasi keletihan DS: pasien mengatakan lelah berkurang Rudi
DO: pasien tampak agak segar
14.00 3 Mengajarkan latihan pernapasan DS: pasien mengatakan senang melakukannya Rudi
DO: pasien tampak antusias
14.10 2 Memberikan oksigen DS: pasien mengatakan bersedia Rudi
DO: pasien terpasang oksigenasi nasal kanul 4
lpm
14.10 2 Mengatur posisi pasien S : mengatakan lebih nyaman Rudi
O : Posisi tidur ½ duduk (semi fowler)
14.15 1 Memberikan terapi obat S: Pasien bersedia untuk diberi obat, tidak Rudi
memiliki riwayat alergi obat.
O:
- IVFD NaCl 8 tpm
- Amlodipin 1x1 10 mg
- irbesartan 1x1 300 mg
- Etabion 2x1
- CaCo3 3x1
14.45 1 Monitor tanda hypervolemia S: pasien mengatkan kedua kakinya bengkak Rudi
O: Kaki kanan dan kiri tampak bengkak pitting
oedem +2, acites
15.00 1 Memonitor input dan output S: Pasien mengatakan masih sering kehausan Rudi
O: Input 1900 cc, output 1220cc
Universitas Muhammadiyah Gombong
Hari/Tgl/J DX Implementasi Respon Paraf
am
15.45 1 Mengajarkan Terapi Contrast Bath S: Pasien mengatakan sudah paham setelah Rudi
diajarkan terapi Contrast Bath
O: Pasien melakukan secara tepat
16.00 1 Memonitor CRT dan turgor kulit S: Pasien mengatakan masih lemes Rudi
O: CRT> 2 detik, kulit kering
17.00 1 Memonitor Balance cairan = input- output Input : Rudi
Infus= 500 cc
Air (makan dan Minum)= 1050 cc
Obat injeksi= 10 cc
Air metabolism: 5ccx68 kg=340 cc
Total input= 1900 cc
Output:
Urin= 200 cc
IWL= 15 x BB= 15 x 68= 1020cc
Total output= 1220 cc
Balance cairan= Input-output=1900cc-1220 cc=
(+) 680cc
18.15 1,2,3 Menganjurkan untuk istirahat yang cukup DS: pasien mengatakan masih lemas Rudi
DO: pasien kooperatif
Kamis, 18 1 Memonitor TTV dan BB S: Pasien mengatakan sudah tidak lemas lagi Rudi
Januari O:
2024 - TD: 149/100mmHg
09.00 - Nadi: 98x/menit
- RR: 18x/menit
- S: 36,5°C
- Sp02: 99%
- BB kering : 62 Kg
- BB: 65 kg
09.05 2 Mengidentifikasi pola napas DS: Pasien mengatakan sudah tidak sesak Rudi
napas lagi
Universitas Muhammadiyah Gombong
Hari/Tgl/J DX Implementasi Respon Paraf
am
DO: RR: 18x/menit
09.05 3 Mengidentifikasi keletihan DS: Pasien mengatakan sudah tidak lelah Rudi
DO: pasien tampak lebih segar
10.00 3 Mengajarkan latihan pernapasan DS: pasien mengatakan bersedia Rudi
DO: pasien kooperatif
10.10 2 Memberikan oksigen DS: pasien mengatakan bersedia Rudi
DO: pasien terpasang oksigenasi nasal kanul 4
lpm
10.10 2 Mengatur posisi pasien S : mengatakan lebih nyaman Rudi
O : Posisi tidur ½ duduk (semi fowler)
10.15 1 Memberikan terapi obat S: Pasien bersedia untuk diberi obat, tidak Rudi
memiliki riwayat alergi obat.
O:
- IVFD NaCl 8 tpm
- Amlodipin 1x1 10 mg
- irbesartan 1x1 300 mg
- Etabion 2x1
- CaCo3 3x1
10.45 1 Monitor tanda hypervolemia S: pasien mengatkan kedua kakinya sudah Rudi
tidak terlalu bengkak
O: Kaki kanan dan kiri tampak bengkak pitting
oedem +1, acites berkurang
11.00 1 Memonitor input dan output S: Pasien mengatakan sudah mampu Rudi
mengontrol hausnya
O: Input 1685cc, output 1325 cc
11.45 1 Mengajarkan Terapi Contrast Bath S: Pasien mengatakan sudah paham setelah Rudi
diajarkan terapi Contrast Bath
O: Pasien mampu melakukannya secara
benar
Universitas Muhammadiyah Gombong
Hari/Tgl/J DX Implementasi Respon Paraf
am
13.00 1 Memonitor CRT dan turgor kulit S: Pasien mengatakan lemas menurun Rudi
O: CRT<2 detik, kulit elastis
14.00 1 Memonitor Balance cairan = input- output Input : Rudi
Infus= 500 cc
Air (makan dan Minum)= 850cc
Obat injeksi= 10 cc
Air metabolism: 5ccx 65kg=325 cc
Total input= 1685 cc
Output:
Urin= 250 cc
Feses=100 cc
IWL= 15 x BB= 15 x 65= 975 cc
Total output= 1175 cc
Balance cairan= Input-output=1685cc-1325
cc= (+)360 cc
14.00 1,2,3 Menganjurkan untuk istirahat yang cukup DS: pasien mengatakan lebih segar Rudi
DO: pasien kooperatif
Universitas Muhammadiyah Gombong
2.6 EVALUASI
Kamis, 18 Januari 2024
No. Tanggal/ No Dx Evaluasi Paraf
jam
1. Kamis, 1 S:
18 - Pasien mengatakan kedua kaki sudah tidak terlalu bengkak
Januari Rudi
2024
Jam O:
14.30 - Terlihat pasien berbaring di tempat tidur namun tampak lebih segar
- Bengkak pada Kedua kaki menurun dengan derajat I
- Terdapat pitting odem 1 mm dengan waktu kembali 3 detik
- Asites menurun
- BB kering : 62 kg
- BB : 65 kg
- TTV : TD : 149/100 mmHg, N : 98 x/mnt, RR : 18 x/mnt, Spo2 : 99 %
A: masalah hypervolemia teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi:
- Pembatasan cairan dan melaksanakan diit yang dianjurkan
- Terapi contrast bath secara rutin
Universitas Muhammadiyah Gombong
No. Tanggal/ No Dx Evaluasi Paraf
jam
2 Kamis, 2 S:
18 - Pasien mengatakan sudah tidak sesak napas Rudi
Januari
2024
Jam O:
14.30 - Tidak tampak sesak napas
- RR 18 x/menit
- Spo2 99% dengan oksigen
- CRT < 2 detik
- Akral teraba dingin
A: masalah sesak napas teratasi
P: Lanjutkan intervensi:
- Pantau status pernapasan
- Manajemen jalan napas
Universitas Muhammadiyah Gombong
No. Tanggal/ No Dx Evaluasi Paraf
jam
3 Kamis, 3 S:
18 - Pasien mengatakan sudah tidak mudah lelah saat berkativitas dan berjalan Rudi
Januari
2024
Jam O:
14.30 - Pasien tampak lebih segar
- Pasien tidak sesak napas
- Pasien mampu melakukan ADL tanpa merasa lelah
A: masalah keletihan teratasi
P: Lanjutkan intervensi:
- Berikan waktu istirahat yang cukup
Universitas Muhammadiyah Gombong
PEMBAHASAN
Chronic Kidney Disease (CKD) adalah keadaan kerusakan ginjal
dimana ginjal mengalami kehilangan fungsi yang progresif dan irreversibel
(Pranowo et al, 2016). Penderita gagal ginjal yang sudah pada stadium akhir
atau end stage renal disease (ESDR) memerlukan terapi ginjal pengganti yaitu
hemodialisis. Jumlah pasien hemodialisis dari tahun ke tahun semakin
meningkat, dan pada tahun 2016 terdapat 25.446 pasien baru yang menjalani
hemodialisis dan 52.835 pasien yang aktif menjalani hemodialisis (Kemenkes,
2018). Hemodialisis merupakan suatu cara untuk mengganti fungsi ginjal
dengan mengeluarkan produk sisa metabolisme tubuh, air dan menjaga
keseimbangan elektrolit melalui membran semipermiabel yang disebut dializer
(Kallenbach et al. 2015 Dalam Kamasita, Systriana Esi, 2018). Ketika pasien
memulai hemodialisis, maka saat itulah pasien harus merubah seluruh aspek
dalam kehidupannya. Selain harus mendatangi unit hemodialisis selama 2-3
kali dalam satu minggu, pasien juga harus konsisten mengkonsumsi obat,
memodifikasi gaya hidup seperti diet makanan, mengatur intake cairan, dan
mengukur balance cairan setiap hari. Masalah lain yang muncul seperti
penurunan hemoglobin juga harus diantisipasi.
Peran perawat terhadap pasien Chronic Kidney Disease (CKD) yang
menjalani hemodialisis rutin juga sangat penting dan dibutuhkan. Perawat
sebagai pemberi pelayanan kesehatan yang paling lama kontak dengan pasien,
juga dengan peran uniknya sebagai petugas yang memberi pemenuhan
kebutuhan bio-psikososio-kultural-spiritual, diharapkan mampu memberikan
motivasi pada pasien agar patuh terhadap anjuran kesehatan dan rutin
menjalani hemodialisis (Syamsiah, 2011). Setiap pasien CKD atau gagal ginjal
harus menjalani terapi hemodialisa selama 3sampai 5 jam dalam 2 sampai 3
hari dalam satu minggu sehingga pasien tersebut mengalami masalah rasa
haus. Rasa haus itu sendiri adalah keinginan yang disadari terhadap kebutuhan
terhadap cairan tubuh, rasa haus pada pasien CKD juga terjadi akibat dalam
masalh cairan merupakan masalah penting pada saat pasien menjalan terapi
hemodialisa. Rasa haus yang dirasakan oleh pasien yang mengakibatkan
pasien tersbut tidak mematuhi diet cairan sehingga mengakibatkan kelebihan
cairan atau overload cairan dalam tubuh pasien.
Universitas Muhammadiyah Gombong
Salah satu diagnosa keperawatan pada pasien CKD diantaranya yaitu
hipervolemia dan dilakukan tindakan monitor input dan output serta
membatasi cairan yang masuk pada pasien. Keseimbangan cairan tubuh
dihitung berdasarkan jumlah cairan yang masuk and jumlah cairan yang
keluar. Kebutuhan cairan dapat dihitung dengan menggunakan cara
perhitungan balance cairan. Untuk menghitung IWL dengan rumus
(15xBB/hr). Rumus balance cairan adalah (intake-output). Tindakan ini
dilakukan untuk mengetahui apakah cairan yang dikonsumsi oleh pasien sudah
balance atau tidak (Sari,2016).
Asupan cairan pada pasien GGK dibatasi sesuai dengan hasil
pengukuran kebutuhan cairan pasien. Dengan menggunakan rumus kebutuhan
cairan pada pasien GGK yaitu jumlah urin/ 24 jam ditambah dengan 500- 700
ml. Pembatasan cairan bertujuan untuk mengurangi kelebihan cairan, jika
tidak dikurangi dapat menjadi edema, hipertensi, dan hipertrovi ventrikel kiri
(Istanti, 2018).
Salah satu cara pasien untuk menurunkan hypervolemia adalah terapi
Contrast Bath. Terapi ini dengan cara merendam kaki sebatas betis secara
bergantian menggunakan air hangat bersuhu 36,6- 43,3°C yang dilanjutkan
dengan air dingin bersuhu 10 – 20 °C (Purwadi et al., 2015). Manfaat contras
bath pada kaki edema yaitu menurunkan tekanan hidrostatik intra vena agar
cairan yang berada di intersitial akan kembali ke vena. Selain itu, efek
fisiologis yang dihasilkan dari terapi ini yaitu meningkatkan aliran darah dan
oksigenasi jaringan untuk mempercepat penyembuhan dan meningkatkan
fungsi anggota tubuh (Shadgan et al., 2018). Proses Contrast Bath adalah
salah satu bentuk hidroterapi yang melibatkan perendaman berulang kali
anggota tubuh ke dalam air panas dan dingin. Terapi ini dilakukan pada
kecepatan, suhu, dan waktu tertentu. Peralihan berulang antara kedua suhu
tersebut dapat menyebabkan penyempitan dan pelebaran pembuluh darah,
yang menyebabkan efek pompa. Hal ini diyakini oleh beberapa orang dapat
meningkatkan sirkulasi ke jaringan di seluruh tubuh (Mustofa et al., 2019)
Pada pasien CKD sangat memerlukan dukungan keluarga, karena
tanpa dukungan keluarga, pengetahuan dan sikap pasien dia tidak akan mampu
mematuhi program diet yang sudah ditentukan (Riyanti, 2017). Diet rendah
natrium bertujuan untuk membantu menghilangkan retensi garam atau air
Universitas Muhammadiyah Gombong
dalam jaringan tubuh dan menurunkan tekanan darah. Garam mengandung
unsur natrium yang bersifat menahan air, serta konsumsi garam dapat
menyebabkan tumpukan cairan dalam tubuh dan akan mengurangi rasa haus
(Colvi, 2015)
Asuhan keperawatan yang dilakukan terhadap pasien Tn. A
dilakukan selama 3 hari dengan diagnosa medis CKD didapatkan diagnosa
keperawatan utama yang muncul yaitu hipervolemia b.d Gangguan
mekanisme regulasi. Setelah dilakukan tindakan Contrast Bath dapat
diketahui bahwa hypervolemia pasien menurun, dengan derajat I, pitting
edema +1 mm, bengkak pada kedua kaki dan asites menurun.
Universitas Muhammadiyah Gombong
DAFTAR PUSTAKA
Astuti, P., Herawati, T., & Kariasa, I. made. (2018). Faktor-faktor yang Berhubungan
Dengan Self Management pada Pasien Hemodialisis di Kota Bekasi. Health
Care Nursing Journal, 1.
Fajri, A. N., Sulastri, & Kristini, P. (2020). Pengaruh Terapi Ice Cube ’ S Sebagai
Evidance Based Nursing Untuk Mengurangi Rasa Haus Pada Pasien.
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan Universitas Muhammadiyah
Surakarta, 1(3), 11– 15.
Isroin, L. (2016). Manajemen Cairan Pada Pasien Hemodialisis Untuk Meningkatkan
Kualitas Hidup. Journal UMY, 1–138.
Mustofa, M., Surendra, M., & Kinanti, R. (2019). Pengembangan Pelatihan
Fisioterapi Contrast Bath Dengan Media Video Pada Mahasiswa Ilmu
Keolahragaan. Jurnal Sport Science, 4(1), 12–21.
Purwadi, I. K. A. H., Galih, G., & Puspita, D. (2015). Pengaruh Terapi Contrast Bath
(Rendam Air Hangat Dan Air Dingin) Terhadap Edema Kaki Pada Pasien
Penyakit Gagal Jantung Kongestif Di RSUD Ungaran, RSUD Ambarawa, RSUD
Kota Salatiga Dan RSUD Tugurejo Provinsi Jawa Tengah. Naskah Publikasi.
SDKI. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Edisi 1
SLKI. (2016). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Edisi 1
Srianti, N. M., Sukmandari, N. M. A., Putu, S., Ayu, A., Dewi, P., Badung, R. S. D.
M., Studi, P., Ners, P., Bina, S., & Bali, U. (2021). Perbedaan Tekanan
Darah. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, Volume 4 No 1, Februari
2022 Hal 173 – 184
Universitas Muhammadiyah Gombong
ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. P DENGAN MASALAH
KEPERAWATAN UTAMA HIPERVOLEMIA PADA CHRONIC KIDNEY
DISEASE (CKD)
DI BANGSAL CEMPAKA RSUD Dr. SOEDIRMAN KEBUMEN
Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Tugas Stase Keperawatan Medikal Bedah
Oleh :
RUDI ERYANTO
NIM: 202303159
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GOMBONG
2024
Universitas Muhammadiyah Gombong
ASKEP 2
TANGGAL MASUK : 24/01/2024
TANGGAL PENGKAJIAN : 24/01/2024, WAKTU: 14.00 WIB
PENGKAJIAN
7. Identitas pasien
Nama : Tn. P
Tanggal Lahir : 08/08/1971 (53 tahun)
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Swasta
Status Pernikahan : Menikah
Pendidikan : SD
No. RM : 0025xx
Alamat : Gesikan 02/02 Kebumen
8. Penanggungjawab pasien
Nama : Ny.S
Umur : 50 th
Alamat : Gesikan 02/02 Kebumen
Pekerjaan : IRT
9. Keluhan utama : Pasien Mengatakan Kedua Kaki Bengkak
10. Riwayat kesehatan :
d. Riwayat kesehatan sekarang :
Pasien datang dengan keluhan kedua kaki bengkak di sertai sesak nafas
sejak 3 hari yang lalu. Makan minum berkurang, mulut terasa pahit,
perut terasa sebah, badan lemas, letih, lesu. Pasien mual dan muntah
dengan frekuensi 9 kali, kenaikan berat badan saat ini dari berat badan
kering 5 kg (5000 ml). pasien tampak pucat hasil hb 8,9 gr/dl, TD:
142/96 mmHg, Suhu: 36,40C, Nadi: 100 x/menit, RR: 24 x/menit,
Spo2: 96 %
e. Riwayat kesehatan dahulu :
Pasien mengatakan pernah dirawat di RS pada tahun 2013 karena nyeri
lutut dengan diagnosis medis osteoarthrithis
Universitas Muhammadiyah Gombong
Pasien juga pernah dirawat pada tahun 2023 dengan diagnose
hipertensi dan Diabetes Mellitus.
f. Riwayat kesehatan keluarga :
Pasien mengatakan anaknya yang kedua menderita hipertensi.
Keluarga tidak ada yang menderita penyakit menular seperti TB, HIV
dan hepatitis
.
Genogram :
Keterangan :
: pasien
: perempuan
: laki-laki
11. Pengkajian pola fungsional menurut Virginia Henderson
o. Pola Pernafasan
Sebelum sakit : pasien mengatakan sebelum sakit tidak ada masalah
dalam bernafas.
Saat dikaji : Pasien mengatakan mengalami sesak napas sehingga
menganggu aktifitasnya
p. Pola Nutrisi
Sebelum sakit : pasien mengatakan sebelum sakit makan normal 3x
sehari disertai lauk dan pauk, makan buah dan minum dalam sehari 2-3
gelas/hari
Universitas Muhammadiyah Gombong
Saat dikaji : pasien mengatakan makan 3x sehari tapi nafsu makan
menurun dan hanya menghabiskan ¼ porsi, sedangkan minum pasien 4
gelas per hari
q. Eliminasi
Sebelum sakit : Pasien mengatakan BAK 10x/hari, berwarna jernih dan
BAB 1x sehari.
Saat dikaji : Pasien terpasang DC dengan keluaran urine 200 cc, BAB
1x/hari
r. Pola gerak dan keseimbangan
Sebelum sakit : pasien mengatakan sebelum sakit dapat beraktivitas
dan berjalan normal tanpa ada hambatan.
Saat dikaji : Pasien mengatakan bila beraktifitas atau berjalan jauh
akan mudah sesak napas
s. Pola Istirahat dan tidur
Sebelum sakit : pasien mengatakan sebelum sakit istirahat merasa
sangat cukup, kurang lebih dapat tidur 8 sampai 10 jam pada malam
dan siang hari.
Saat dikaji : Pasien mengatakan tidur terganggu karena sesak napas
t. Pola Bepakaian
Sebelum sakit : Pasien mengatakan dapat berpakaian sendiri tanpa
dibantu orang lain.
Saat dikaji : Pasien mengatakan masih dapat berpakaian secara mandiri
tanpa bantuan orang lain
u. Pola Rasa Aman dan Nyaman
Sebelum sakit : Pasien mengatakan merasakan lebih nyaman di rumah.
Saat dikaji : Pasien mengatakan merasakan tidak nyaman di rumah
sakit karena suasana yang terlalu ramai.
v. Pola Mempertahankan Sirkulasi
Sebelum sakit : Pasien mengatakan saat dingin mengenakan pakaian
tebal / selimut dan saat panas pasien mengenakan pakaian tipis /
menyalakan kipas angin.
Saat dikaji : pasien mengatakan mudah merasa panas akan tetapi tidak
demam, klien mengurangi rasa panas dengan pakaian tipis atau
mengelap tubuhnya dengan air dingin.
Universitas Muhammadiyah Gombong
w. Pola Personal Hygiene
Sebelum sakit : pasien mengatakan sebelum sakit dapat menjaga
kebersihan diri secara mandiri tanpa bantuan orang lain.
Saat dikaji : pasien mengatakan sebagian dibantu keluarga untuk
menjaga kebersihan dirinya.
x. Pola Komunikasi
Sebelum sakit : Pasien mengatakan dapat berkomunikasi dengan
normal dalam sehari - hari dengan menggunakan bahasa daerah dan
Indonesia.
Saat dikaji : Pasien mengatakan dapat berkomunikasi dengan normal
dalam sehari - hari dengan menggunakan bahasa daerah dan Indonesia.
y. Pola Spiritual
Sebelum sakit : Pasien mengatakan sering jamaah di masjid.
Saat dikaji : Pasien mengatakan solat di tempat tidur.
z. Pola Bekerja
Sebelum sakit : Pasien mengatakan sehari-hari bekerja sebagai
pedagang
Saat dikaji : Pasien mengatakan tidak dapat melakukan aktivitas hanya
bisa berbaring ditempat tidur.
aa. Pola Rekreasi
Sebelum sakit : Pasien mengatakan setiap hari selalu berkumpul
dengan keluarga dan tetangga untuk ngobrol.
Saat dikaji : Pasien mengatakan hanya tiduran dan jarang ngobrol
dengan keluarga.
bb. Belajar
Sebelum sakit : Pasien mengatakan jika sakit periksa ke dokter
keluarga / mantri.
Saat dikaji : Pasien mengatakan sudah tahu tentang penyakitnya dari
dokter spesialis.
12. Pemeriksaan fisik (head to toe)
a. Kesadaran : Composmenitis (E4,M6,V5=15)
b. TTV :
TD : 142/96 mmHg
Universitas Muhammadiyah Gombong
Suhu : 36,4 0C
Nadi : 100 x/menit
RR : 26 x/menit
Spo2 : 96 %
h. Berat Badan: 50 kg, BB kering: 45 kg
i. Tinggi Badan: 165 cm
j. Pemeriksaan head to toe
12) Kepala : Bentuk mesochepal, kulit kepala bersih, tidak ada lesi.
13) Mata : Konjungtiva anemis, sklera anikterik, respon cahaya
baik, tidak ada gangguan penglihatan.
14) Hidung : Bersih, tidak ada polip, penciuman normal.
15) Mulut : Tidak ada stomatitis, membran mukosa kering.
16) Telinga : Bersih, tidak ada gangguan pendengaran.
17) Leher : Tidak ada pembesaran kalenjer tiroid, JVP.
18) Paru-paru
Inspeksi : Simetris, tidak ada jejas
Palpasi : Tidak ada retraksi dinding dada
Perkusi : Sonor
Auskultasi : Vesikuler
19) Jantung
Inspeksi : Tidak ada jejas
Palpasi : Iktus cordis tidak teraba
Perkusi : Pekak.
Auskultasi : S1 S2 normal
20) Abdomen
Inspeksi : tidak terdapat asites
Auskultasi : Terdengar adanya bising usus 12
x/menit. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
Perkusi : Thympani.
21) Genetalia : Tidak ada luka di genetalia, tidak ada kelainan
genetalia, terpasang DC no 16
22) Ekstremitas
Atas : Tidak ada edema
Universitas Muhammadiyah Gombong
Bawah : terdapat pembengkakan pada kedua kaki dengan
derajat I, akral teraba dingin, pitting edema 2 mm,
dengan waktu kembali 3 detik
k. Pemeriksaan penunjang
Hasil pemeriksaan lab pada tanggal 23/01/2024, Jam 13.30 WIB
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan
PAKET DARAH OTOMATIS
Hemoglobin 8,9 g/dL 11,7 – 15,5
Leukosit 13,8 10^3/uI 3,6 – 11,0
Hematokrit 27 % 35 – 47
Eritrosit 2,9 10^6/uI 3,80 – 5, 20
Trombosit 198 10^3/uI 150 – 440
MCH 29 pg 26 – 34
MCHC 35 g/dL 32 – 36
MCF 82 fL 80 - 100
DIFFCOUNT
Eosnofil 4,20 % 2–4
Basofil 0,80 % 0–1
Netrofil 71,30 % 50 – 70
Limfosit 19,10 % 22 – 40
Monosit 4,10 % 2–8
Absolut Neutrofil Count 5,46 10^3/uI 1,80 – 8,00
Absolut Limfosit Count 1,46 10^3/uI 0,9 – 5,2
Neutrophil Limfosit Rasio 3,74
KIMIA KLINIK
Ureum 209 mg/dL 10 – 50
Creatinin 7,49 mg/dL 0,6 – 1,2
GDS 140 mg/dL 80-100
SGOT 10,3 µ/L <37
SGPT 15,0 µ/L <42
Hasil pemeriksaan rontgen pada tanggal 23/01/2024, Jam 13.30 WIB
didapatkan kesimpulan terdapat Cardiomegali, pulmo tampak normal,
arterosklerosis
l. Terapi medis
- IVFD Asering 8 tpm
- Pamol 3x1
- Nebulizer 3x1
- Meropenom 3x1 gr
- Furosemid 1x4 mg
- irbesartan 1x1 300
- Omeprazol 1x1
mg
- Nocid 3x1
- Asam folat 3x1
- Bicnat 3x1
- CaCO3 3x500 mg
Universitas Muhammadiyah Gombong
MASALAH KEPERAWATAN
4. Analisa data
NO DATA FOKUS ETIOLOGI PROBLEM
1 Ds : Gangguan mekanisme hipervolemia
- Pasien mengatakan regulasi
kedua kaki bengkak
Do :
- Terlihat pasien
berbaring di tempat
tidur
- Terlihat kedua kaki
bengkak
- Terdapat pitting
odem 2 mm dengan
waktu kembali 3
detik
- Tampak acites
- BB kering : 45 kg
- BB : 50 kg
- TTV : TD : 142/96
mmHg, N : 100
x/mnt, RR : 26
x/mnt, Spo2 : 96 %
- Creatinin 7,49
mg/dL
- Ureum 209 mg/dl
2 Ds : Penurunan energi Pola nafas tidak efektif
- Pasien mengatakan
sesak nafas
Do :
- Terlihat pasien
lemas
- RR 26 x/menit
- Spo2 96% dengan
oksigen
- CRT > 5 detik
- Akral teraba dingin
- Warna kulit pucat
- HB : 8,9 g/dL
3 Ds : Gangguan Nausea
Universitas Muhammadiyah Gombong
- Pasien mengatakan biokimiawi
tidak nafsu makan (uremia)
dan mual
Do :
- Terlihat kulit pasien
kering dan pucat
- Ureum 209 mg/dl
- Creatinin 7,49
mg/dL
- Terlihat makan
hanya ¼ porsi
- Tampak mual mual
- Saliva meningkat
5. Diagnosa Keperawatan
d. Hipervolemia (D.0022) b.d. gangguan mekanisme regulasi
e. Pola nafas tidak efektif (D.0005) b.d penurunan energy
f. Nausea (D.0076) b.d. gangguan biokimiawi (uremia)
6. Intervensi Keperawatan
No
SLKI INTERVENSI / SIKI
dx
1. Setelah diberikan tindakan keperawatan 3x24 Manajemen Hipervolemia
jam diharapkan masalah keperawatan (l.03114)
Hipervolemia dapat teratasi dengan kriteria Observasi
hasil : - Periksa tanda dan gejala
Keseimbangan cairan (L.03020) hipervolemia (mis. Ortopnea,
Indikator meningkat
Ekspektasi: Awal Target dispnea, edema, jvp/cvp
Asupan cairan 2 5 meningkat, refleks
Haluaran urin 2 5 hepatojugular positif, suara
Kelembaban 2 5 nafas tambahan)
membrane
- Identifikasi penyebab
mukosa
hipervolemia.
- Monitor status hemodinamik
Keterangan: ( [Link] jantung, tekanan
1: Menurun darah, MAP, CVP, PAP,
2: Cukup menurun PCWP, CO), jika tersedia
3: Sedang - Monitor intake dan output
4: Cukup meningkat cairan.
5:Indikator
Meningkat Awal Target - Monitor tanda hemokonsentrasi
Edema 2 5 ( mis. Kadar natrium, BUN,
Dehidrasi 2 5 hematokrit, berat jenis urne)
Asites 2 5
- Monitor kecepatan infus secara
ketat
Keterangan: - Monitor efek samping diuretik (
Universitas Muhammadiyah Gombong
No
SLKI INTERVENSI / SIKI
dx
1: Meningkat mis. Hipotensi ortortostatik,
2: Cukup meningkat hipovolemia, hipokalemia,
3: Sedang hiponatremia)
4: Cukup menurun Terapeutik
5: Menurun - Timbang berat badan setiap
hari pada waktu yang sama
- Batasi asupan cairan dan
garam.
- Tinggikan kepala tempat tidur
30-40º/ setengah duduk
Keterangan: Edukasi
1: Memburuk - Anjurkan melapor jika keluaran
2: Cukup memburuk urim <0,5 ml/kg/jam dalam 6
3: Sedang jam
4: Cukup membaik - Anjurkan melapor jika BB
5: Membaik bertambah > 1 kg dalam sehari
- Anjurkan cara mengukur dan
catat asupan dan keluaran
cairan
- Anjurkan cara membatasi
cairan
- Anjurkan untuk melakukan
hemodialisa sesuai jadwal.
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian diuretik.
- Kolaborasi penggantian
kehilangan kalium akibat
diuretik
- Kolaborasi pemberian
continuous renal replacement
therapy (CRRT) ,jika perlu
2 Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemen Jalan Napas
selama 5 kali pertemuan diharapkan pola (I.01011)
napas teratasi dengan kriteria hasil: Observasi:
Pola Napas (L.01004) - Monitor pola napas (frekuensi,
Indikator A T Keterangan kedalaman dan upaya napas)
Dispnea 3 5 1: 4: cukup Terapeutik:
meningkat menurun - Atur posisi semi fowler
2: cukup 5: - Berikan minum hangat
meningkat menurun secukupnya
3: sedang - Berikan oksigen
Frekuensi 2 5 1: 4: cukup
napas memburuk membaik
2: cukup 5:
memburuk membaik
3: sedang
Universitas Muhammadiyah Gombong
3 Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemen Mual (I.03117)
selama 3 x 24 jam diharapkan masalah nausea Observasi
teratasi dengan kriteria hasil :
Identifikasi dampak mual
Tingkat Nausea (L.12111) terhadap kualitas hidup
Indikator Awal Target
No
Tekanan darah SLKI
2 5 INTERVENSI / SIKI
dx
Denyut nadi 2 5
Indikator A T Keterangan (misal nafsu makan,
radial
Keluhan mual aktivitas, kinerja, tanggung
Berat Badan 2 2 5 5 1 = Meningkat
Perasaan ingin muntah 2 5 2=Cukup jawab peran, dan tidur)
Perasaan asam di 2 5 meningkat Identifikasi faktor
mulut 3 = Sedang penyebab mual (misal
Jumlah saliva 2 5 4=Cukup pengobatan dan prosedur)
menurun Monitor mual (misal
5 = Menurun frekuensi, durasi dan
Universitas Muhammadiyah Gombong
Tingkat Nausea (L.12111) tingkat keparahan)
Monitor asupan nutrisi dan
kalori
Terapeutik
Kendalikan faktor
lingkungan penyebab mual
(misal bau tak sedap, suara,
dan rangsangan visual yang
tidak menyenangkan)
Berikan makanan dingin,
cairan bening, tidak berbau
Indikator A T Keterangan dan tidak berwarna, jika
Pucat 2 5 1 = Memburuk perlu.
2 = Cukup memburuk
3 = Sedang Edukasi
4 = Cukup membaik
5 = Membaik Anjurkan istirahat dan tidur
yang cukup
Anjurkan sering
membersihkan mulut,
kecuali jika merangsang
mual
Anjurkan makanan tinggi
karbohidrat dan rendah
lemah
Ajarkan penggunaan teknik
nonfarmakologis untuk
mengatasi mual (misal
biofeedback, hipnosis,
relaksasi, terapi musik,
Kolaborasi
Kolaborasikan dengan
dokter tentang obat
antimual (bila perlu)
Universitas Muhammadiyah Gombong
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari/Tgl/Jam DX Implementasi Respon Paraf
Rabu, 24 1 Memonitor TTV dan BB S: Pasien mengatakan lemas Rudi
Januari 2024 O:
14.00 - TD: 142/96 mmHg
- Nadi: 100x/menit
- RR: 26x/menit
- S: 36,4°C
- Sp02: 96%
- BB kering : 45Kg
- BB saat ini 50 kg
14.05 2 Mengidentifikasi pola napas DS: Pasien mengatakan sesak napas Rudi
DO: RR: 26x/menit
14.05 3 Mengidentifikasi mual DS: pasien mengatakan mual Rudi
DO: anoreksia, tampak mual-mual, kulit pucat
14.00 3 Menganjurkan sering membersihkan mulut DS: pasien mengatakan bersedia Rudi
DO: pasien kooperatif
14.10 2 Memberikan oksigen non rebreathing mask 15 lpm DS: pasien mengatakan bersedia Rudi
DO: pasien terpasang oksigenasi NRM 15 lpm
14.10 1,2 Mengatur posisi pasien S : mengatakan lebih nyaman Rudi
O : Posisi tidur ½ duduk (semi fowler)
14.15 1 Memberikan terapi obat S: Pasien bersedia untuk diberi obat, tidak Rudi
memiliki riwayat alergi obat.
O:
- IVFD Asering 8 tpm
- Nebulizer 3x1
- Furosemid 1x4 mg
- Omeprazol 1x1
- Nocid 3x1
- Bicnat 3x1
- Pamol 3x1
Universitas Muhammadiyah Gombong
Hari/Tgl/Jam DX Implementasi Respon Paraf
- Meropenom 3x1 gr
- irbesartan 1x1 300 mg
- Asam folat 3x1
- CaCO3 3x500 mg
14.45 1 Monitor tanda hypervolemia S: pasien mengatkan kedua kakinya bengkak Rudi
O: Kaki kanan dan kiri tampak bengkak pitting
oedem +2, acites
15.00 1 Memonitor input dan output S: Pasien mengatakan sering haus Rudi
O: Input 1670 cc, output 1000cc
15.45 1 Mengajarkan Terapi Contrast Bath S: Pasien mengatakan sudah paham setelah Rudi
diajarkan terapi Contrast Bath
O: Pasien tampak sudah mengerti dengan
apa yang diajarkan dan melakukan sesuai
arahan
16.00 1 Memonitor CRT dan turgor kulit S: Pasien mengatakan lemas Rudi
O: CRT> 2 detik, kulit kering
17.00 1 Memonitor Balance cairan = input- output Input : Rudi
Infus= 500 cc
Air (makan dan Minum)= 900 cc
Obat injeksi= 20 cc
Air metabolism: 5ccx50 kg=250 cc
Total input= 1670 cc
Output:
Urin= 200 cc
Feses=50 cc
IWL= 15 x BB= 15 x 50= 750 cc
Total output= 1000 cc
Balance cairan= Input-output=1670cc-1000 cc=
(+)670 cc
18.00 1,2,3 Menganjurkan untuk istirahat yang cukup DS: pasien mengatakan masih lemas Rudi
Universitas Muhammadiyah Gombong
Hari/Tgl/Jam DX Implementasi Respon Paraf
DO: pasien kooperatif
Kamis, 25 1 Memonitor TTV dan BB S: Pasien mengatakan masih lemas Rudi
Januari 2024 O:
14.00 - TD: 150/90 mmHg
- Nadi: 102x/menit
- RR: 24x/menit
- S: 36,8°C
- Sp02: 97%
- BB kering : 45 Kg
- BB saat ini: 48 kg
14.05 2 Mengidentifikasi pola napas DS: Pasien mengatakan masih sesak napas Rudi
DO: RR: 24x/menit
14.05 3 Mengidentifikasi mual DS: pasien mengatakan masih mual Rudi
DO: anoreksia, tampak mual-mual, kulit pucat
14.00 3 Menganjurkan sering membersihkan mulut DS: pasien mengatakan bersedia Rudi
DO: pasien kooperatif
14.10 2 Memberikan oksigen NRM 15 tpm DS: pasien mengatakan bersedia Rudi
DO: pasien terpasang oksigenasi NRM 15 lpm
14.10 2 Mengatur posisi pasien S : mengatakan lebih nyaman Rudi
O : Posisi tidur ½ duduk (semi fowler)
14.15 1 Memberikan terapi obat S: Pasien bersedia untuk diberi obat, tidak Rudi
memiliki riwayat alergi obat.
O:
- IVFD Asering 8 tpm
- Nebulizer 3x1
- Furosemid 1x4 mg
- Omeprazol 1x1
- Nocid 3x1
- Bicnat 3x1
- Pamol 3x1
- Meropenom 3x1 gr
Universitas Muhammadiyah Gombong
Hari/Tgl/Jam DX Implementasi Respon Paraf
- irbesartan 1x1 300 mg
- Asam folat 3x1
- CaCO3 3x500 mg
14.45 1 Monitor tanda hypervolemia S: pasien mengatkan kedua kakinya bengkak Rudi
O: Kaki kanan dan kiri tampak bengkak pitting
oedem +1
15.00 1 Memonitor input dan output S: Pasien mengatakan minum air putih hanya Rudi
setengah gelas kecil
O: Input 1460 cc, output 970cc
15.45 1 Mengajarkan Terapi Contrast Bath S: Pasien mengatakan sudah paham setelah Rudi
diajarkan terapi Contrast Bath
O: Pasien melakukan sesuai dengan apa
yang diajarkan
16.00 1 Memonitor CRT dan turgor kulit S: Pasien mengatakan masih lemes Rudi
O: CRT> 2 detik, kulit kering
17.00 1 Memonitor Balance cairan = input- output Input : Rudi
Infus= 500 cc
Air (makan dan Minum)= 700 cc
Obat injeksi= 20 cc
Air metabolism: 5ccx 48kg=240 cc
Total input= 1460 cc
Output:
Urin= 250 cc
IWL= 15 x BB= 15 x 48= 720 cc
Total output= 970 cc
Balance cairan= Input-output=1460cc-970cc=
(+)490cc
18.00 1,2,3 Menganjurkan untuk istirahat yang cukup DS: pasien mengatakan masih lemas Rudi
DO: pasien kooperatif
1 Memonitor TTV dan BB S: Pasien mengatakan lemes berkurang Rudi
Universitas Muhammadiyah Gombong
Hari/Tgl/Jam DX Implementasi Respon Paraf
Jumat, 26 O:
Januari 2024 - TD: 135/ 80 mmHg
14.00 - Nadi: 92x/menit
- RR: 20x/menit
- S: 36,5°C
- Sp02: 98%
- BB kering : 45 Kg
- BB saat ini: 46 kg
14.05 2 Mengidentifikasi pola napas DS: Pasien mengatakan sesak napas berkurang Rudi
DO: RR: 20x/menit
14.05 3 Mengidentifikasi mual DS: pasien mengatakan mual berkurang Rudi
DO: nafsu makan membaik, kulit tidak pucat
14.00 3 Menganjurkan sering membersihkan mulut DS: pasien mengatakan bersedia Rudi
DO: pasien kooperatif
14.10 2 Memberikan oksigen nRM DS: pasien mengatakan bersedia Rudi
DO: pasien terpasang oksigenasi nRM 15 lpm
14.10 2 Mengatur posisi pasien S : mengatakan lebih nyaman Rudi
O : Posisi tidur ½ duduk (semi fowler)
14.15 1 Memberikan terapi obat S: Pasien bersedia untuk diberi obat, tidak Rudi
memiliki riwayat alergi obat.
O:
- IVFD Asering 8 tpm
- Nebulizer 3x1
- Furosemid 1x4 mg
- Omeprazol 1x1
- Nocid 3x1
- Bicnat 3x1
- Pamol 3x1
- Meropenom 3x1 gr
- irbesartan 1x1 300 mg
- Asam folat 3x1
Universitas Muhammadiyah Gombong
Hari/Tgl/Jam DX Implementasi Respon Paraf
- CaCO3 3x500 mg
14.45 1 Monitor tanda hypervolemia S: pasien mengatkan kedua kakinya sudah Rudi
tidak bengkak
O: tidak ada edema pada kedua tungkai kaki
15.00 1 Memonitor input dan output S: Pasien mengatakan minum air putih hanya Rudi
setengah gelas kecil
O: Input 1500 cc, output 1110cc
15.45 1 Mengajarkan Terapi Contrast Bath S: Pasien mengatakan sudah paham setelah Rudi
diajarkan terapi Contrast Bath
O: Pasien tampak melakukan sesuai dengan
apa yang diajarkan
16.00 1 Memonitor CRT dan turgor kulit S: Pasien mengatakan lemas berkurang Rudi
O: CRT< 2 detik, kulit elastis
17.00 1 Memonitor Balance cairan = input- output Input : Rudi
Infus= 500 cc
Air (makan dan Minum)= 750 cc
Obat injeksi= 20 cc
Air metabolism: 5ccx46kg=230 cc
Total input= 1500 cc
Output:
Urin= 300 cc
Feses=100cc
IWL= 15 x BB= 15 x 46= 690 cc
Total output= 1110 cc
Balance cairan= Input-output=1500cc-1110
cc= (+)390 cc
17.30 1,2,3 Menganjurkan untuk istirahat yang cukup DS: pasien mengatakan lemas berkurang Rudi
DO: pasien kooperatif
Universitas Muhammadiyah Gombong
2.6 EVALUASI
Jumat, 26 januari 2024
No. Tanggal/ No Dx Evaluasi Paraf
jam
1. Jumat, 1 S:
26 - Pasien mengatakan kedua kaki sudah tidak bengkak
Januari Rudi
2024
Jam O:
18.00 - Terlihat pasien berbaring di tempat tidur
- Tidak ada Bengkak pada Kedua kaki
- BB kering : 45 kg
- BB saat ini : 46 kg
- TTV : TD : 135/80 mmHg, N : 92 x/mnt, RR : 20 x/mnt, Spo2 : 98 %
A: masalah hypervolemia teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi:
- Pembatasan cairan dan melaksanakan diit yang dianjurkan
- Terapi contrast bath secara rutin
Universitas Muhammadiyah Gombong
No. Tanggal/ No Dx Evaluasi Paraf
jam
2 Jumat, 2 S:
26 - Pasien mengatakan sesak napas berkurang Rudi
Januari
2024
Jam O:
18.00 - Tidak tampak sesak napas
- RR 20 x/menit
- Spo2 98%
- CRT > 2 detik
- Akral teraba dingin
A: masalah sesak napas teratasi sebagian
P: Lanjutkan intervensi:
- Pantau status pernapasan
- Manajemen jalan napas
Universitas Muhammadiyah Gombong
No. Tanggal/ No Dx Evaluasi Paraf
jam
3 Jumat, 3 S:
26 - Pasien mengatakan nafsu makan membaik dan mual menurun Rudi
Januari
2024
Jam O:
18.00 - Terlihat menghabiskan makan sesuai porsi
- Sudah tidak tampak mual
- Produksi saliva menurun
A: masalah mual teratasi sebagian
P: Lanjutkan intervensi:
- Berikan makan makanan yang hangat
- Berikan waktu istirahat yang cukup
Universitas Muhammadiyah Gombong
PEMBAHASAN
Chronic Kidney Disease (CKD) adalah keadaan kerusakan ginjal
dimana ginjal mengalami kehilangan fungsi yang progresif dan irreversibel
(Pranowo et al, 2016). Penderita gagal ginjal yang sudah pada stadium akhir
atau end stage renal disease (ESDR) memerlukan terapi ginjal pengganti yaitu
hemodialisis. Jumlah pasien hemodialisis dari tahun ke tahun semakin
meningkat, dan pada tahun 2016 terdapat 25.446 pasien baru yang menjalani
hemodialisis dan 52.835 pasien yang aktif menjalani hemodialisis (Kemenkes,
2018). Hemodialisis merupakan suatu cara untuk mengganti fungsi ginjal
dengan mengeluarkan produk sisa metabolisme tubuh, air dan menjaga
keseimbangan elektrolit melalui membran semipermiabel yang disebut dializer
(Kallenbach et al. 2015 Dalam Kamasita, Systriana Esi, 2018). Ketika pasien
memulai hemodialisis, maka saat itulah pasien harus merubah seluruh aspek
dalam kehidupannya. Selain harus mendatangi unit hemodialisis selama 2-3
kali dalam satu minggu, pasien juga harus konsisten mengkonsumsi obat,
memodifikasi gaya hidup seperti diet makanan, mengatur intake cairan, dan
mengukur balance cairan setiap hari. Masalah lain yang muncul seperti
penurunan hemoglobin juga harus diantisipasi.
Peran perawat terhadap pasien Chronic Kidney Disease (CKD) yang
menjalani hemodialisis rutin juga sangat penting dan dibutuhkan. Perawat
sebagai pemberi pelayanan kesehatan yang paling lama kontak dengan pasien,
juga dengan peran uniknya sebagai petugas yang memberi pemenuhan
kebutuhan bio-psikososio-kultural-spiritual, diharapkan mampu memberikan
motivasi pada pasien agar patuh terhadap anjuran kesehatan dan rutin
menjalani hemodialisis (Syamsiah, 2011). Setiap pasien CKD atau gagal ginjal
harus menjalani terapi hemodialisa selama 3 sampai 5 jam dalam 2 sampai 3
hari dalam satu minggu sehingga pasien tersebut mengalami masalah rasa
haus. Rasa haus itu sendiri adalah keinginan yang disadari terhadap kebutuhan
terhadap cairan tubuh, rasa haus pada pasien CKD juga terjadi akibat dalam
masalh cairan merupakan masalah penting pada saat pasien menjalan terapi
hemodialisa. Rasa haus yang dirasakan oleh pasien yang mengakibatkan
pasien tersbut tidak mematuhi diet cairan sehingga mengakibatkan kelebihan
cairan atau overload cairan dalam tubuh pasien.
Universitas Muhammadiyah Gombong
Salah satu diagnosa keperawatan pada pasien CKD diantaranya yaitu
hipervolemia dan dilakukan tindakan monitor input dan output serta
membatasi cairan yang masuk pada pasien. Keseimbangan cairan tubuh
dihitung berdasarkan jumlah cairan yang masuk and jumlah cairan yang
keluar. Kebutuhan cairan dapat dihitung dengan menggunakan cara
perhitungan balance cairan. Untuk menghitung IWL dengan rumus
(15xBB/hr). Rumus balance cairan adalah (intake-output). Tindakan ini
dilakukan untuk mengetahui apakah cairan yang dikonsumsi oleh pasien sudah
balance atau tidak (Sari,2016).
Asupan cairan pada pasien GGK dibatasi sesuai dengan hasil
pengukuran kebutuhan cairan pasien. Dengan menggunakan rumus kebutuhan
cairan pada pasien GGK yaitu jumlah urin/ 24 jam ditambah dengan 500- 700
ml. Pembatasan cairan bertujuan untuk mengurangi kelebihan cairan, jika
tidak dikurangi dapat menjadi edema, hipertensi, dan hipertrovi ventrikel kiri
(Istanti, 2018).
Salah satu cara pasien untuk menurunkan hypervolemia adalah terapi
Contrast Bath. Terapi ini dengan cara merendam kaki sebatas betis secara
bergantian menggunakan air hangat bersuhu 36,6- 43,3°C yang dilanjutkan
dengan air dingin bersuhu 10 – 20 °C (Purwadi et al., 2015). Manfaat contras
bath pada kaki edema yaitu menurunkan tekanan hidrostatik intra vena agar
cairan yang berada di intersitial akan kembali ke vena. Selain itu, efek
fisiologis yang dihasilkan dari terapi ini yaitu meningkatkan aliran darah dan
oksigenasi jaringan untuk mempercepat penyembuhan dan meningkatkan
fungsi anggota tubuh (Shadgan et al., 2018). Proses Contrast Bath adalah
salah satu bentuk hidroterapi yang melibatkan perendaman berulang kali
anggota tubuh ke dalam air panas dan dingin. Terapi ini dilakukan pada
kecepatan, suhu, dan waktu tertentu. Peralihan berulang antara kedua suhu
tersebut dapat menyebabkan penyempitan dan pelebaran pembuluh darah,
yang menyebabkan efek pompa. Hal ini diyakini oleh beberapa orang dapat
meningkatkan sirkulasi ke jaringan di seluruh tubuh (Mustofa et al., 2019)
Pada pasien CKD sangat memerlukan dukungan keluarga, karena
tanpa dukungan keluarga, pengetahuan dan sikap pasien dia tidak akan mampu
mematuhi program diet yang sudah ditentukan (Riyanti, 2017). Diet rendah
natrium bertujuan untuk membantu menghilangkan retensi garam atau air
Universitas Muhammadiyah Gombong
dalam jaringan tubuh dan menurunkan tekanan darah. Garam mengandung
unsur natrium yang bersifat menahan air, serta konsumsi garam dapat
menyebabkan tumpukan cairan dalam tubuh dan akan mengurangi rasa haus
(Colvi, 2015)
Asuhan keperawatan yang dilakukan terhadap pasien Tn. P
dilakukan selama 3 hari dengan diagnosa medis CKD didapatkan diagnosa
keperawatan utama yang muncul yaitu hipervolemia b.d Gangguan
mekanisme regulasi. Setelah dilakukan tindakan Contrast Bath selama tiga
hari berturut-turut, dapat diketahui bahwa hypervolemia pasien menurun, dan
tidak ada bengkak pada kedua kaki.
Universitas Muhammadiyah Gombong
DAFTAR PUSTAKA
Astuti, P., Herawati, T., & Kariasa, I. made. (2018). Faktor-faktor yang Berhubungan
Dengan Self Management pada Pasien Hemodialisis di Kota Bekasi. Health
Care Nursing Journal, 1.
Fajri, A. N., Sulastri, & Kristini, P. (2020). Pengaruh Terapi Ice Cube ’ S Sebagai
Evidance Based Nursing Untuk Mengurangi Rasa Haus Pada Pasien.
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan Universitas Muhammadiyah
Surakarta, 1(3), 11– 15.
Isroin, L. (2016). Manajemen Cairan Pada Pasien Hemodialisis Untuk Meningkatkan
Kualitas Hidup. Journal UMY, 1–138.
Mustofa, M., Surendra, M., & Kinanti, R. (2019). Pengembangan Pelatihan
Fisioterapi Contrast Bath Dengan Media Video Pada Mahasiswa Ilmu
Keolahragaan. Jurnal Sport Science, 4(1), 12–21.
Purwadi, I. K. A. H., Galih, G., & Puspita, D. (2015). Pengaruh Terapi Contrast Bath
(Rendam Air Hangat Dan Air Dingin) Terhadap Edema Kaki Pada Pasien
Penyakit Gagal Jantung Kongestif Di RSUD Ungaran, RSUD Ambarawa, RSUD
Kota Salatiga Dan RSUD Tugurejo Provinsi Jawa Tengah. Naskah Publikasi.
SDKI. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Edisi 1
SIKI. (2016). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Edisi 1
SLKI. (2016). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Edisi 1
Srianti, N. M., Sukmandari, N. M. A., Putu, S., Ayu, A., Dewi, P., Badung, R. S. D.
M., Studi, P., Ners, P., Bina, S., & Bali, U. (2021). Perbedaan Tekanan
Darah. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, Volume 4 No 1, Februari
2022 Hal 173 – 184
Universitas Muhammadiyah Gombong
ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. J DENGAN MASALAH
KEPERAWATAN UTAMA HIPERVOLEMIA PADA CHRONIC KIDNEY
DISEASE (CKD)
DI BANGSAL CEMPAKA RSUD Dr. SOEDIRMAN KEBUMEN
Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Tugas Stase Keperawatan Medikal Bedah
Oleh :
RUDI ERYANTO
NIM: 202303159
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI
NERS FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GOMBONG
2024
Universitas Muhammadiyah Gombong
ASKEP 3
2.1 PENGKAJIAN
Tanggal Masuk : 25 Januari 2024
Tanggal pengkajian : 25 Januari 2024/ Waktu: 13.00 Wib
1. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. J
Usia : 47 Tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Pedagang
Alamat : Jatisari 3/1 Kebumen
Diagnosa Medis : CKD
[Link] : 0463x.x
2. IDENTITAS PENANGGUNG JAWAB
Nama : Sdr. T
Usia : 19 Tahun
Hub. dengan psn : Anak
Alamat : jatisari 3/1 Kebumen
3. KELUAHAN UTAMA
Pasien mengatakan lemes, kedua kaki bengkak
4. RIWAYAT KESEHATAN
a. RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG
Pasien datang ke IGD RS pada tanggal 24 Januari 2024 Jam 21.10
WIB dengan keluhan kedua kaki bengkak sejak 1 minggu yang lalu,
perut kembung, badan lemas, pusing.
Saat dilakukan pengkajian tanggal 25 Januari 2024 di dapatkan hasil
pemeriksaan TTV : TD: 175/84, Nadi : 112x/mnt, S: 36,8ºC RR: 22
x/mnt SpO2 98%.pemeriksan lab hemoglobin 4,2 gr/dl, klien tampak
pucat, CRT > 2 detik, akral [Link] oedem 3 mm pada kedua kaki
dengan waktu kembali 3 detik
Universitas Muhammadiyah Gombong
b. RIWAYAT KESEHATAN DAHULU
Pasien memiliki riwayat sakit Hipertensi sebelum terdiagnosa CKD.
Menjalani therapi cuci darah setiap hari sabtu di pelayanan hemodialisa
RSDS Berlangsung sudah sejak 1 bulan ini.
Tidak memiliki riwayat alergi makanan maupun obat.
c. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
Riwayat penyakit keluarga
Dikeluarga pasien tidak ada yang menderita sakit stroke, sesak nafas,
kanker, TBC maupun sakit seperti pasien.
Kakek dan Nenek dari ibu pasien meninggal dengan diabetes militus
Genogram :
Keterangan :
Laki Laki :
Perempuan:
Meninggal :
Tinggal serumah :
:
Pasien
5. POLA FUNGSIONAL (VIRGINIA HANDERSON)
1. Pola Oksigenasi
Universitas Muhammadiyah Gombong
Sebelum Sakit : Pasien tidak sesak nafas, dapat bernafas
dengan normal tanpa alat bantu pernafasan
Saat dikaji : Pasien mengatakan bernafas agak berat, RR :
22 x/mnt
2. Pola Nutrisi
Sebelum Dirawat : Pasien mengatakan sudah menjalani pola diit
penderita gagal ginjal dari RS
Saat dikaji : Pasien mengatakan makan satu porsi tidak
habis, makan sesuai diet dari RS yaitu diet CKD, pembatasan minum
500ml/24 jam
3. Pola Eliminasi
Sebelum Dirawat :
BAK : Pasien mengatakan BAK 5-6 x/hari volume kurang
lebih 1000ml/hari
BAB : pasien mengatakan BAB lancar setiap hari dan tidak
ada gangguan (konsistensi lunak)
Saat di RS :
BAK : Terpasang DC, BAK sedikit hanya 100ml/24jam,
warna kuning pekat
BAB : Belum BAB
4. Pola Aktifitas
Sebelum Sakit : Sehari hari pasien seorang pedagang, dalam
melakukan aktifitasnya pasien dapat melakukannya secara mandiri.
Saat Sakit : Aktivitas dibantu keluarga
5. Pola Istirahat Tidur
Sebelum Sakit : Pasien biasa tidur 7-8 Jam/ hari tanpa ada
gangguan tidur, tanpa bantuan obat
Saat Sakit : Pasien mengatakan sulit untuk tidur
6. Pola mempertahankan suhu
Universitas Muhammadiyah Gombong
Sebelum Sakit : Pasien mengatakan jika dingin memakai
selimut. Jika udara panas pasien hanya memakai kaos dan menyerap
keringat
Saat Sakit : Suhu tubuh : 36,8ºC, Kamar Ber AC 23ºC
7. Pola Berpakaian
Sebelum Sakit : Pasien mengatakan dapat mengenakan baju
sendiri
Saat Sakit : Pasien dibantu keluarga
8. Pola Gerak dan Keseimbangan
Sebelum Sakit : Pasien dapat bergerak bebas sesuai keinginan
Saat dikaji : Pasien hanya di tempat tidur, kaki oedem +3
pada kedua kaki
9. Pola Personal Higiene
Sebelum Sakit : Pasien mengatakan sebelum sakit mandi
sendiri 2x sehari
Saat Sakit : Pasien mengatakan mandi dengan diseka di
tempat tidur
10. Pola Komunikasi
Sebelum Sakit : Pasien mengatakan lancar dalam
berkomunikasi setiap harinya, komunikasi menggunakan bahasa
daerah Jawa dan bahasa Indonesia
Saat dikaji : Pasien berkomunikasi baik, ada kontak mata
11. Pola Rasa Aman Nyaman
Sebelum Sakit : Pasien mengatakan tidak pernah ada keluhan
seperti ini sebelumnya. Mengatakan Pusing cekot cekot jika bagun
tidur dan bergerak
Saat dikaji : Pasien mengatakan lemas, lelah
12. Pola Spiritual
Sebelum Sakit : Pasien mengatakan beragama Islam
Universitas Muhammadiyah Gombong
Saat Sakit : Pasien mengatakan sholat hanya bisa dilakukan
dengan tiduran di tempat tidur
13. Pola Rekreasi
Sebelum Sakit : Menonton TV, bercanda dengan ank
cucu Saat Sakit : Sesekali menyalakan TV di ruangan
14. Pola Belajar
Sebelum Sakit : Pasien mendapatkan informasi informasi dari
TV, tetangga
Saat Sakit : Pasien bertanya, mencari tau informasi
penyakitnya kepada perawat, dokter
6. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Sedang
Kesadaran : Composmentis
TTV
Tekanan Darah : 175/84 mmHg
Nadi : 112 x/mnt
Suhu Tubuh : 36,8 ºC
Pernafasan : 22 x/mnt
Kepala : Bentuk mesocepal, rambut hitam, kulit kepala
bersih Muka : Simetris, tidak ada kelainan.
Mata : Bentuk simetris, konjungtiva anemis, tidak ada gangguan
penglihatan
Hidung : Tidak ada secret, tidak ada sinusitis. tidak ada napas
cuping hidung, tidak ada gangguan penciuman
Mulut : Simetris, mukosa bibir kering, tidak ada stomatitis, tidak ada
gangguan menelan
Telinga : Bentuk simetris, tidak ada lesi, tidak ada sekret yang keluar
dari kedua telinga, tidak terdapat massa, daun telinga bersih, fungsi
pendengaran normal.
Leher : Tidak ada pembesaran vena jugularis dan Tidak ada
pembesaran kelenjar tiroid
Universitas Muhammadiyah Gombong
Dada (Jantung)
I : Ictus cordis tidak tampak pada ICS IV-V midclavicula sinistra
P : Tidak ada nyeri tekan, teraba ictus cordis pada ICS 5 garis mid
clavikula sinistra.
P : Terdengar suara pekak, intercosta 2 garis parasternal dektra,
intercosta 2 garis parasternal sinistra, sampai intercosta 4 garis parasternal
sinistra, dan intercosta 5 garis mid klavikula sinistra.
A : Terdengar S1-S2 terpisah, regular.
Dada (Paru paru)
I : Simetris kanan dan kiri, pada saat inspirasi dan ekspirasi tidak ada
retraksi dinding dada kanan dan kiri, tidak ada otot bantu nafas.
P : Tidak ada nyeri tekan, teraba gerak dada kanan dan kiri simetris.
P : Sonor
A : Suara nafas vesikuler, RR= 22x/ menit
Abdomen
I : Tidak ada bekas luka, warna kulit konsisten dengan yang lain,
umbilikus bersih, perut tampak kembung/membesar
A : Terdengar peristaltik usus ± 10x /menit di kuadran 3.
P : Terdengar redup pada kuadran pertama bagian limfe, pada kuadran
kedua terdengar timpani pada bagian lambung, pada kuadran ketiga dan
keempat terdengar redup.
P : Tidak ada nyeri tekan, terdengar pekak, penumpukan cairan/acites
tidak ada pembesaran hati di kuadran 1 (kanan atas), dan tidak ada
pembesaran limfa di kuadran 2 (kiri atas)
Ekstremitas
Ekstremitas atas
terpasang infus dengan IV plug pada tangan kanan, CRT kurang dari 3
detik dan pada tangan kiri terdapat akses vaskuler AV fistula
Ekstremitas bawah
Edema di kedua kaki dengan pitting edema 3 mm dan waktu kembali 3
detik (derajat I)
Universitas Muhammadiyah Gombong
Kekuatan otot
5 5
5 5
Keterangan :
0 : Tidak ada kekuatan otot sama sekali
1 : 10% dari kekuatan otot normal, tidak ada gerakan yang terlihat,
namun kontraksi otot hanya dapat dilihat atau dipalpasi
2 : 25% dari kekuatan otot normal, otot dapat bergerak melawan
gravitasi dengan bantuan total
3 : 50% dari kekuatan otot normal, bergerak normal melawan
gravitasi, tidak mampu menahan tahanan minimal
4 : 75% dari kekuatan normal, mampu menahan gaya gravitasi
dengan penuh dan tahanan minimal
5 : 100% kekuatan otot, mampu menahan gaya gravitasi dan
tahanan maksimal.
Kulit : tampak pucat, tidak ada lesi, luka
Genetalia : Pasien seorang wanita, terpasang DC no 22
7. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tanggal 24 Januari 2024
No Jenis Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal
Hematologi (Darah Lengkap
1 HB 6.2 gr/dl 11,7 – 15,5
2 Leukosit 9.16 rb/ul 3,8 – 10,6
3 Eritrosit 1.64 juta/L 4,4 – 5,9
4 Trombosit 458 rb/ul 150 – 440
5 Haematokrit 13.0 % 40 – 52
6 MCH 24.9 Pg 26 – 34
7 MCHC 31.8 g/dl 32 – 36
8 MCV 78.3 Fl 80 – 100
Hematologi ( Hitung Jenis )
1 Basofil 0.5 % 0,0 – 1,0
2 Eosinofil 2.5 % 2,0 – 4,0
Universitas Muhammadiyah Gombong
3 Neutrofil 75 % 50,0 – 70,0
4 Limfosit 14.7 % 25,0 – 40,0
5 Monosit 7.3 % 2,0 – 8,0
Kimia ( Diabetes )
1 GDS 110 mg/dl 70 – 105
Kimia ( Faal Ginjal )
1 Ureum 66 mg/dl 15 – 39
2 Creatinin 5.10 mg/dl 0,9 – 1,3
Kimia ( Faal hati )
1 SGOT 8.40 u/l 0 – 50
2 SGPT 13.4 u/l 0 – 50
3 Elektrolit
4 Natrium 133.2 mEq/L 135-147
5 Kalium 4.00 mEq/L 3.5-5.0
8. EKG
Tanggal 24 Januari 2024
HR : 115 x/mnt
R-R : 570 ms
P-R : 189 ms
QRS : 67 ms
Kesimpulan :
Sinus tacicardia
9. TERAPI MEDIS
Infus IV plug
Oksigen nasal kanula 3 l/mnt
Injekasi Furosemide 2 ampul/6 jam/ iv
Amlodipine 10 mg/24 jam/ oral
10. DIIT
Rendah garam rendah lemak
Universitas Muhammadiyah Gombong
2.2 MASALAH KEPERAWATAN
1. ANALISA DATA
No. Data Fokus Etiologi Problem
1 DS: Gangguan mekanisme regulasi Hipervolemia
- Pasien mengatakan bengkak pada kaki kanan dan ( D0022)
kirinya.
- Pasien mengatakan perutnya kembung
- Pasien mengatakan haluaran urin hanya sedikit,
keluaran urin hanya 100 ml/24 jam.
DO:
- Asites (+)
- Terdapat edema pada kaki kiri dan kanan (+3)
- TTV
TD: 175/84 mmHg, Nadi: 112x/ menit
RR: 22x/ menit, S: 36,4°C, SpO2: 98%
- Hb: 4.2 gr/dL
- BB kering : 55 kg
- BB : 58 kg
2 DS: Penurunan konsentrasi Perfusi perifer tidak
- Pasien mengatakan badannya lemas,pusing hemoglobin efektif (D0009)
DO:
- konjungtiva anemis
- Muka tampak pucat
- Akral dingin
Universitas Muhammadiyah Gombong
No. Data Fokus Etiologi Problem
- CRT >2 detik
- HB: 4,2 g/dl
3 Ds: Kondisi fisologis Keletihan (D.0057)
- Pasien mengatakan lelah
- Pasien mengatakan keletihan tidak menurun meskipun
telah tidur
- Pasien merasa kurang tidur
Do:
- Kondisi umum sedang
- Pasien tampak lesu
TTV: TD: 175/84 mmHg, Nadi: 112x/ menit, RR: 22x/
menit, S: 36,4°C, SpO2: 98%
- Terdapat edema ekstremitas dan asites
- HB: 4,2 g/dl
2. PRIORITAS DIAGNOSIS KEPERAWATAN
1. Hipervolemia b.d Gangguan mekanisme regulasi (D.0022)
2. Perfusi perifer tidak efektif b.d penurunan konsentrasi hemoglobin (D0009)
3. Keletihan b.d. kondisi fisiologis (D0057)
Universitas Muhammadiyah Gombong
2.4 INTERVENSI KEPERAWATAN
No. Diagnosa SLKI SIKI
Keperawatan
1 Hipervolemia b.d Manajemen Hipervolemia (l.03114)
Setelah diberikan tindakan keperawatan 3x24 jam
Gangguan diharapkan masalah keperawatan Hipervolemia Observasi
mekanisme regulasi dapat teratasi dengan kriteria hasil : - Periksa tanda dan gejala hipervolemia (mis.
(D.0022) Keseimbangan cairan (L.03020) Ortopnea, dispnea, edema, jvp/cvp
Ekspektasi: meningkat meningkat, refleks hepatojugular positif,
suara nafas tambahan)
Indikator Awal Target - Identifikasi penyebab hipervolemia.
- Monitor status hemodinamik ( [Link]
Asupan cairan 2 5 jantung, tekanan darah, MAP, CVP, PAP,
Haluaran urin 2 5 PCWP, CO), jika tersedia
- Monitor intake dan output cairan.
Kelembaban 2 5 - Monitor tanda hemokonsentrasi ( mis. Kadar
membrane natrium, BUN, hematokrit, berat jenis urne)
mukosa
Keterangan: - Monitor kecepatan infus secara ketat
1: Menurun - Monitor efek samping diuretik ( mis.
2: Cukup menurun Hipotensi ortortostatik, hipovolemia,
3: Sedang hipokalemia, hiponatremia)
4: Cukup meningkat Terapeutik
5: Meningkat - Timbang berat badan setiap hari pada waktu
yang sama
- Batasi asupan cairan dan garam.
Indikator Awal Target - Tinggikan kepala tempat tidur 30-40º/
setengah duduk
Edema 2 5
Edukasi
- Anjurkan melapor jika keluaran urim <0,5
Universitas Muhammadiyah Gombong
No. Diagnosa SLKI SIKI
Keperawatan
Dehidrasi 2 5 ml/kg/jam dalam 6 jam
- Anjurkan melapor jika BB bertambah > 1 kg
Asites 2 5 dalam sehari
Keterangan: - Anjurkan cara mengukur dan catat asupan
1: Meningkat dan keluaran cairan
2: Cukup meningkat - Anjurkan cara membatasi cairan
3: Sedang - Anjurkan untuk melakukan hemodialisa
4: Cukup menurun sesuai jadwal.
5: Menurun Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian diuretik.
Indikator Awal Target - Kolaborasi penggantian kehilangan kalium
akibat diuretik
Tekanan darah 2 5 - Kolaborasi pemberian continuous renal
Denyut nadi 2 5 replacement therapy (CRRT) ,jika perlu
radial
Berat Badan 2 5
Keterangan:
1: Memburuk
2: Cukup memburuk
3: Sedang
4: Cukup membaik
5: Membaik
Universitas Muhammadiyah Gombong
No. Diagnosa SLKI SIKI
Keperawatan
2 Perfusi perifer tidak Setelah diberikan tindakan keperawatan 3x24 Perawatan Sirkulasi (I.02068)
efektif b.d jam diharapkan masalah keperawatan Risiko Observasi
penurunan perfusi perifer tidak efektif dapat teratasi - Periksa sirkulasi perifer (mis. pengisian
konsentrasi dengan kriteria hasil : kapiler, warna kulit, suhu/akral)
hemoglobin (D0009) - Identifikasi faktor risiko gangguan sirkulasi (
Perfusi Perifer (L.02011) mis. Diabetas, rokok, orangtua hipertensi,
Indikator Awa l Tujuan dan kadar colestrol tinggi)
- Monitor panas ,kemerahan , nyeri atau
Warna kulit pucat 2 4 bengkak pada ekstermitas
Pengisian kapiler 2 4 Terapeutik
- Hindari pemasangan ingfus atau
Akral 2 4 pengambilan darah di area keterbatasan
perfusi .
Turgor kulit 2 4
- Hindari pengkuran tekananpada ekstermitas
Keterangan: dengan keterbatasan perfusi
1: Meningkat - Hindari penekanan dan pemasangan
2: Cukup meningkat tornikuet pada area yang cedera .
3: Sedang - Lakukan pencegahan infeksi
4: Cukup meningkat - Lakukan perawatan kaki dan kuku
5: Membaik - Lakukan hidrasi
Edukasi
- Anjurkan berhenti merokok
- Anjurkan berolahraga rutin
Manajemen Hipovolemia (I.03116):
Universitas Muhammadiyah Gombong
No. Diagnosa SLKI SIKI
Keperawatan
- Kolaborasi pemberian produk darah
- Kolaborasi pemberian cairan IV isotonis
3 Keletihan b.d. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama Manajemen Energy (I.03114):
kondisi fisiologis 3x24 jam diharapkan tingkat keletihan Observasi
menurun dengan kriteria hasil: - Identifikasi gangguan fungsi tubuh yang
(D0057) Tingkat keletihan (L.03020) mangakibatkan kelelahan.
Indikator Awal Tujuan - Monitor kelelahan fisik dan emosional.
Verbalisasi kepulihan 3 4 - Monitor pola dan jam tidur.
energy - Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama
melakukan aktivitas.
Tenaga 2 4
Terapeutik
Kemampuan 3 4
melakukan aktivitas - Sediakan lingkungan nyaman dan rendah
rutin stimulus.
Motivasi 3 4 - Berikan aktivitas distraksi yang
Keterangan menenangkan.
1: menurun Edukasi
2: cukup menurun - Anjurkan melakukan aktivitas secara
bertahap
3: sedang
- Anjurkan klien untuk mengulangi latihan
4: cukup meningkat distraksi relaksasi yang diajarkan perawat
5: meningkat - Anjurkan menghubungi perawat jika tanda
dan gejala kelelahan tidak berkurang
Universitas Muhammadiyah Gombong
No. Diagnosa SLKI SIKI
Keperawatan
Indikator Awal Tujuan Kolaborasi
Verbalisasi lelah 2 4
Kolaborasi dengan ahli gizi tentang cara
Lesu 2 4
meningkatkan asupan makanan
Keterangan
1: meningkat
2: cukup meningkat
3: sedang
4: cukup menurun
5: menurun
Indikator Awal Tujuan
Selera makan 3 4
Pola istirahat 3 4
Keterangan
1: memburuk
2: cukup memburuk
3: sedang
4: cukup membaik
5: membaik
Universitas Muhammadiyah Gombong
2.5 IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari/Tgl/ DX Implementasi Respon Paraf
Jam
Pasien post HD jam 12.00 WIB, tranfusi masuk 2
kolf di unit HD
kamis, 25 1 Memonitor TTV dan BB S: Pasien mengatakan lemas Rudi
Januari O:
2024 - TD: 175/84 mmHg
13.00 - Nadi: 112x/menit
- RR: 22x/menit
- S: 36,8°C
- Sp02: 98%
- BB : 58 Kg
3 Mengidentifikasi keletihan DS: Pasien mengatakan lelah dan kurang
tidur
DO: pasien tampak lesu
3 Mengajarkan latihan pernapasan DS: pasien mengatakan bersedia
DO: pasien kooperatif
1 Mengatur posisi tidur pasien S : mengatakan lebih nyaman
O : Posisi tidur ½ duduk
Terpasang Oksigen 3 L/mnt dengna nasal
kanul
13.15 1 Memberikan terapi obat S: Pasien bersedia untuk diberi obat, tidak Rudi
memiliki riwayat alergi obat.
O: Injeksi furosemid 40 mg, iv
13.45 1 Monitor tanda hipervolemia S: pasien mengatkan kedua kakinya Rudi
bengkak
O: Kaki kanan dan kiri tampak bengkak
Universitas Muhammadiyah Gombong
Hari/Tgl/ DX Implementasi Respon Paraf
Jam
pitting oedem +3, acites
14.00 1,2 Memonitor input dan output S: Pasien mengatakan minum air putih Rudi
hanya setengah gelas kecil
O: Input 1248 cc, output 1220 cc
14.45 1 Mengajarkan Terapi Contrast Bath S: Pasien mengatakan sudah paham Rudi
setelah diajarkan terapi Contrast Bath
O: Pasien tampak sudah paham dengan
apa yang diajarkan
15.00 1,2 Memonitor CRT dan turgor kulit S: Pasien mengatakan lemas berkurang Rudi
O: CRT> 2 detik, kulit kering
16.00 1,2 Memonitor Balance cairan = input- output Input : Rudi
Infus= 500 cc ( cateter iv plug )
Transfusi darah= 200 cc
Air metabolisme= 5cc x BB= 5 cc x 58
= 290 cc
Minum= 250 cc
Obat injeksi= 8 cc
Total input= 1248 cc
Output:
Urin= 250 cc
Universitas Muhammadiyah Gombong
Hari/Tgl/ DX Implementasi Respon Paraf
Jam
Feses= 100 cc
IWL= 15 x BB= 15 x 58= 870 cc
Total output= 1220 cc
Balance cairan= Input-output=1248 cc-
1220 cc= (+)28 cc.
16.30 2 Memberikan transfusi darah S:Klien mengatakan bersedia untuk Rudi
dilakukan transfusi darah
O: Transfusi darah ke 3 PRC Golongan
darah B RH positif. Sebelum nya injeksi
Forosemid 40 mg/iv
17.00 2 Mengobservasi pemberian tranfusi darah 15 menit Darah lancar tidak ada alergi Rudi
17.30 2 Mengobservasi pemberian transfusi darah 1 jam Darah lancar tidak ada alergi Rudi
pertama
Jumat, 26 1 Memonitor TTV dan BB S: Pasien mengatakan lemas berkurang Rudi
Januari O:
2024 - TD: 150/80 mmHg
13.00 - Nadi: 100x/menit
- RR: 20x/menit
- S: 36,8°C
- Sp02: 98%
BB : 56 Kg
3 Mengidentifikasi keletihan DS: Pasien mengatakan lelah sedikit
berkurang dan tidur bertambah
DO: pasien tampak lebih segar
Universitas Muhammadiyah Gombong
Hari/Tgl/ DX Implementasi Respon Paraf
Jam
3 Mengajarkan latihan pernapasan DS: pasien mengatakan bersedia
DO: pasien kooperatif dan mampu
melakukan secara mandiri
1 Mengatur posisi tidur pasien S : mengatakan lebih nyaman
O : Posisi tidur ½ duduk
Terpasang Oksigen 3 L/mnt dengna nasal
kanul
13.15 1 Memberikan terapi obat S: Pasien bersedia untuk diberi obat, tidak Rudi
memiliki riwayat alergi obat.
O: Injeksi furosemid 40 mg, iv
13.45 1 Monitor tanda hipervolemia S: pasien mengatkan kedua kakinya Rudi
bengkak
O: Kaki kanan dan kiri tampak bengkak
pitting oedem +1, acites menurun
14.00 1,2 Memonitor input dan output S: Pasien mengatakan minum air putih Rudi
hanya setengah gelas kecil
O: Input 1138 cc, output 1040 cc
14.45 1 Mengajarkan Terapi Contrast Bath S: Pasien mengatakan sudah paham Rudi
setelah diajarkan terapi Contrast Bath
O: Pasien tampak melakukan sesuai
dengan apa yang diajarkan
15.00 1,2 Memonitor CRT dan turgor kulit S: Pasien mengatakan lemas berkurang Rudi
O: CRT> 2 detik, kulit kering
16.00 1,2 Memonitor Balance cairan = input- output Input : Rudi
Infus= 500 cc ( cateter iv plug )
Universitas Muhammadiyah Gombong
Hari/Tgl/ DX Implementasi Respon Paraf
Jam
Minum= 350 cc
Obat injeksi= 8 cc
Air metabolisme= 5cc x BB= 5 cc x 56
= 280 cc
Total input= 1138 cc
Output:
Urin= 200 cc
IWL= 15 x BB= 15 x 56= 840 cc
Total output= 1040 cc
Balance cairan= Input-output=1138cc-
1040 cc= (+)98cc.
18.00 1,2 Mengkaji keluhan S: Pasien mengatakan lemas berkurang, Rudi
Memonitor TTV dan BB pusing berkurang nafas lebih lega
O:
- TD: 143/75 mmHg
- Nadi: 98x/menit
- RR: 20x/menit
- S: 36,5°C
- Sp02: 98%
- BB : 52 Kg
Kaki kanan dan kiri oedem, Pitting
Universitas Muhammadiyah Gombong
Hari/Tgl/ DX Implementasi Respon Paraf
Jam
oedem +2
Sabtu, 27 1 Memonitor TTV dan BB S: Pasien mengatakan lebih berenergi Rudi
Januari O:
2024 - TD: 145/80 mmHg
14.00 - Nadi: 90x/menit
- RR: 20x/menit
- S: 36,6°C
- Sp02: 98%
BB : 52 Kg
3 Mengidentifikasi keletihan DS: Pasien mengatakan tidak begitu lelah
dan tidur nyenyak
DO: pasien tampak lebih segar
3 Mengajarkan latihan pernapasan DS: pasien mengatakan bersedia
DO: pasien kooperatif dan mampu
melakukan secara mandiri
1 Mengatur posisi tidur pasien S : mengatakan lebih nyaman
O : Posisi tidur ½ duduk, oksigen tidak
terpasang
13.15 1 Memberikan terapi obat S: Pasien bersedia untuk diberi obat, tidak Rudi
memiliki riwayat alergi obat.
O: Injeksi furosemid 40 mg, iv
13.45 1 Monitor tanda hipervolemia S: pasien mengatkan kedua kakinya Rudi
bengkak
O: Kaki kanan dan kiri tidak ada edema,
tidak ada asites
Universitas Muhammadiyah Gombong
Hari/Tgl/ DX Implementasi Respon Paraf
Jam
14.00 1,2 Memonitor input dan output S: Pasien mengatakan minum air putih Rudi
hanya setengah gelas kecil
O: Balance cairan= Input-output=1068 cc-
1030 cc
14.45 1 Mengajarkan Terapi Contrast Bath S: Pasien mengatakan bersedia Rudi
melakukan terapi Contrast Bath
O: Pasien melakukan sesuai dengan apa
yang diajarkan dan akan melakukan
rutin di rumah
15.00 1,2 Memonitor CRT dan turgor kulit S: Pasien mengatakan lemas berkurang Rudi
O: CRT< 2 detik, kulit elastis
16.00 1,2 Memonitor Balance cairan = input- output Input : Rudi
Infus= 500 cc ( cateter iv plug )
Minum= 300 cc
Obat injeksi= 8 cc
Air metabolisme= 5cc x BB= 5 cc x 52 =
260 cc
Total input= 1068 cc
Output:
Urin= 200 cc
Feses= 50
IWL= 15 x BB= 15 x 52= 780 cc
Total output= 1030 cc
Balance cairan= Input-output=1068 cc-
1030 cc= (+)38 cc.
17.00 1,2 Mengkaji keluhan S: Pasien mengatakan lemas berkurang, Rudi
Memonitor TTV dan BB pusing berkurang nafas lebih lega
Universitas Muhammadiyah Gombong
Hari/Tgl/ DX Implementasi Respon Paraf
Jam
O:
- TD: 140/87 mmHg
- Nadi: 82x/menit
- RR: 20x/menit
- S: 36,6°C
- Sp02: 99%
- BB : 52 Kg (BB kering 55 kg)
Kaki kanan dan kiri tidak oedem,
tidak terdapat Pitting oedem
Universitas Muhammadiyah Gombong
2.6 EVALUASI
Sabtu, 27 januari 2024
No. Tanggal/ Diagnosis Evaluasi Paraf
jam keperawatan
1. Sabtu 27 Hipervolemia b.d S:
Januari - Klien mengatakan sudah tidak ada bengkak pada kedua kaki
2024 O: Rudi
Jam - Sudah tidak ada bengkak di kedua kaki
18.00 - Tidak ada asites
- TTV
TD: 145/80 mmHg
Nadi: 90x/menit
RR: 20x/menit
S: 36,6°C
Sp02: 98%
A : Masalah keperawatan hypervolemia teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
- Monitor tanda-tanda vital
- Monitor intake dan output cairan
- Batasi asupan cairan dan garam
- Lakukan terapi Contrast Bath secara rutim
Universitas Muhammadiyah Gombong
No. Tanggal/ Diagnosis Evaluasi Paraf
jam keperawatan
2 Sabtu, Perfusi perifer tidak S: Klien mengatakan lemas berkurang, tidak pusing, sudah
27 efektif b.d penurunan mampu sedikit melakukan aktivitas Rudi
januari konsentrasi O: CRT < 3 detik, akral hangat, kulit sudah tidak pucat, Hb klien
2024 hemoglobin setelah dilakukan 3x transfusi meningkat menjadi 8.8 gr/dl
Jam A: Perfusi jaringan perifer tidak efektif teratasi sebagian
18.00
P: Lanjutkan intervensi
- Periksa sirkulasi perifer (mis. pengisian kapiler, warna kulit,
suhu/akral)
- Berikan cairan IV isotonis
- Kolaborasi pemberian produk darah
3 Sabtu, Keletihan b.d S: Klien mengatakan lemas berkurang, tidak pusing, tidak sesak
27 kondisi fisiologis napas, dan tidur nyenyak Rudi
januari O: pasien tampak lebih
2024 segar A: keletihan teratasi
Jam sebagian P: Lanjutkan
18.00
intervensi
Batasi intake cairan
Lakukan latihan pernapasan secara rutin
Universitas Muhammadiyah Gombong
PEMBAHASAN
Chronic Kidney Disease (CKD) adalah keadaan kerusakan ginjal
dimana ginjal mengalami kehilangan fungsi yang progresif dan irreversibel
(Pranowo et al, 2016). Penderita gagal ginjal yang sudah pada stadium akhir
atau end stage renal disease (ESDR) memerlukan terapi ginjal pengganti yaitu
hemodialisis. Jumlah pasien hemodialisis dari tahun ke tahun semakin
meningkat, dan pada tahun 2016 terdapat 25.446 pasien baru yang menjalani
hemodialisis dan 52.835 pasien yang aktif menjalani hemodialisis (Kemenkes,
2018). Hemodialisis merupakan suatu cara untuk mengganti fungsi ginjal
dengan mengeluarkan produk sisa metabolisme tubuh, air dan menjaga
keseimbangan elektrolit melalui membran semipermiabel yang disebut dializer
(Kallenbach et al. 2015 Dalam Kamasita, Systriana Esi, 2018). Ketika pasien
memulai hemodialisis, maka saat itulah pasien harus merubah seluruh aspek
dalam kehidupannya. Selain harus mendatangi unit hemodialisis selama 2-3
kali dalam satu minggu, pasien juga harus konsisten mengkonsumsi obat,
memodifikasi gaya hidup seperti diet makanan, mengatur intake cairan, dan
mengukur balance cairan setiap hari. Masalah lain yang muncul seperti
penurunan hemoglobin juga harus diantisipasi.
Peran perawat terhadap pasien Chronic Kidney Disease (CKD) yang
menjalani hemodialisis rutin juga sangat penting dan dibutuhkan. Perawat
sebagai pemberi pelayanan kesehatan yang paling lama kontak dengan pasien,
juga dengan peran uniknya sebagai petugas yang memberi pemenuhan
kebutuhan bio-psikososio-kultural-spiritual, diharapkan mampu memberikan
motivasi pada pasien agar patuh terhadap anjuran kesehatan dan rutin
menjalani hemodialisis (Syamsiah, 2011). Setiap pasien CKD atau gagal ginjal
harus menjalani terapi hemodialisa selama 3
sampai 5 jam dalam 2 sampai 3 hari dalam satu minggu sehingga pasien
tersebut mengalami masalah rasa haus. Rasa haus itu sendiri adalah keinginan
yang disadari terhadap kebutuhan terhadap cairan tubuh, rasa haus pada pasien
CKD juga terjadi akibat dalam masalh cairan merupakan masalah penting
pada saat pasien menjalan terapi hemodialisa. Rasa haus yang dirasakan oleh
pasien yang mengakibatkan pasien tersbut tidak mematuhi diet cairan
Universitas Muhammadiyah Gombong
sehingga mengakibatkan kelebihan cairan atau overload cairan dalam tubuh
pasien.
Salah satu diagnosa keperawatan pada pasien CKD diantaranya yaitu
hipervolemia dan dilakukan tindakan monitor input dan output serta
membatasi cairan yang masuk pada pasien. Keseimbangan cairan tubuh
dihitung berdasarkan jumlah cairan yang masuk and jumlah cairan yang
keluar. Kebutuhan cairan dapat dihitung dengan menggunakan cara
perhitungan balance cairan. Untuk menghitung IWL dengan rumus
(15xBB/hr). Rumus balance cairan adalah (intake-output). Tindakan ini
dilakukan untuk mengetahui apakah cairan yang dikonsumsi oleh pasien sudah
balance atau tidak (Sari,2016).
Asupan cairan pada pasien GGK dibatasi sesuai dengan hasil
pengukuran kebutuhan cairan pasien. Dengan menggunakan rumus kebutuhan
cairan pada pasien GGK yaitu jumlah urin/ 24 jam ditambah dengan 500- 700
ml. Pembatasan cairan bertujuan untuk mengurangi kelebihan cairan, jika
tidak dikurangi dapat menjadi edema, hipertensi, dan hipertrovi ventrikel kiri
(Istanti, 2018).
Salah satu cara pasien untuk menurunkan hypervolemia adalah terapi
Contrast Bath. Terapi ini dengan cara merendam kaki sebatas betis secara
bergantian menggunakan air hangat bersuhu 36,6- 43,3°C yang dilanjutkan
dengan air dingin bersuhu 10 – 20 °C (Purwadi et al., 2015). Manfaat contras
bath pada kaki edema yaitu menurunkan tekanan hidrostatik intra vena agar
cairan yang berada di intersitial akan kembali ke vena. Selain itu, efek
fisiologis yang dihasilkan dari terapi ini yaitu meningkatkan aliran darah dan
oksigenasi jaringan untuk mempercepat penyembuhan dan meningkatkan
fungsi anggota tubuh (Shadgan et al., 2018). Proses Contrast Bath adalah
salah satu bentuk hidroterapi yang melibatkan perendaman berulang kali
anggota tubuh ke dalam air panas dan dingin. Terapi ini dilakukan pada
kecepatan, suhu, dan waktu tertentu. Peralihan berulang antara kedua suhu
tersebut dapat menyebabkan penyempitan dan pelebaran pembuluh darah,
yang menyebabkan efek pompa. Hal ini diyakini oleh beberapa orang dapat
meningkatkan sirkulasi ke jaringan di seluruh tubuh (Mustofa et al., 2019)
Pada pasien CKD sangat memerlukan dukungan keluarga, karena
tanpa dukungan keluarga, pengetahuan dan sikap pasien dia tidak akan mampu
Universitas Muhammadiyah Gombong
mematuhi program diet yang sudah ditentukan (Riyanti, 2017). Diet rendah
natrium bertujuan untuk membantu menghilangkan retensi garam atau air
dalam jaringan tubuh dan menurunkan tekanan darah. Garam mengandung
unsur natrium yang bersifat menahan air, serta konsumsi garam dapat
menyebabkan tumpukan cairan dalam tubuh dan akan mengurangi rasa haus
(Colvi, 2015)
Asuhan keperawatan yang dilakukan terhadap pasien Ny.J
dilakukan selama 3 hari dengan diagnosa medis CKD didapatkan diagnosa
keperawatan utama yang muncul yaitu hipervolemia b.d Gangguan
mekanisme regulasi. Setelah dilakukan tindakan Contrast Bath dapat
diketahui bahwa hypervolemia pasien menurun, dengan derajat I, pitting
edema +1 mm, bengkak pada kedua kaki dan asites menurun.
Universitas Muhammadiyah Gombong
DAFTAR PUSTAKA
Debora,Oda.(2019).Proses Keperawatan dan Pemeriksaan [Link]:
Salemba Medika.
Joice [Link].(2014).Keperawatan Medikal Bedah. Edisi [Link]:
Elsevier
Herdman, T. Heather dkk (2015), Diagnosis Keperawatan Definisi
Klasifikasi 2015-2017 Edisi 10. Jakarta : EGC
Nurlina. (2018). Penerapan Asuhan Keperawatan Pada Pasien Ny. Y dengan
Gagal Ginjal Kronik (GGK) Dalam Pemenuhan Kebutuhan
Cairan dan Elektrolit di Ruang Hemodialisa RSUD Labuang
Baji Makassar. Jurnal Media Keperawatan Politeknik
Kesehatan Makassar Vol. 9 No. 02 2018. E-ISSN:2622-0148,
P-ISSN: 2087-0035
Potter.(2020). Dasar Dasar Keperawatan, Volume 2 Edisi 9. Singapure:
Elsevier
Sari, L.R. (2016). Upaya Mencegah Kelebihan Volume Cairan Pada Pasien
Chronic Kidney Desease. Jurnal E-Keperawatan.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2018). Standar Diagnosa Keperawatan
Indonesia Definisi dan Indikator Diagnostik. Jakarta: Dewan
Pengurus PPNI.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan
Indonesia : Definisi dan Tindakan Keperawatan. Jakarta:
DPP PPNI.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan
Indoneasia (SLKI): Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan.
Jakarta: DPP PPNI.
Universitas Muhammadiyah Gombong
ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. J DENGAN MASALAH
KEPERAWATAN UTAMA HIPERVOLEMIA PADA CHRONIC KIDNEY
DISEASE (CKD)
DI BANGSAL CEMPAKA RSUD Dr. SOEDIRMAN KEBUMEN
Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Tugas Stase Keperawatan Medikal Bedah
Oleh :
RUDI ERYANTO
NIM: 202303159
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GOMBONG
2024
Universitas Muhammadiyah Gombong
ASKEP 4
TANGGAL MASUK : 31/01/2024
TANGGAL PENGKAJIAN : 01/02/2024, WAKTU : 08.00 WIB
PENGKAJIAN
13. Identitas pasien
Nama : Tn. J
Tanggal Lahir : 02/08/1976 (47 tahun)
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Swasta
Status Pernikahan : Menikah
Pendidikan : SMP
No. RM : 031xxx
Alamat : Tanjungseto 6/1 Kutowinangun
14. Penanggungjawab pasien
Nama : Ny.S
Umur : 45 th
Alamat : Tanjungseto 6/1 Kutowinangun
Pekerjaan : IRT
15. Keluhan utama : pasien mengatakan kedua kaki bengkak
16. Riwayat kesehatan :
g. Riwayat kesehatan sekarang :
Pasien datang dengan keluhan kedua kaki bengkak di sertai sesak
nafas, mual dan muntah. Keluhan dirasakan sejak dua hari sebelum
masuk RS. Pasien mengatakan lemas dan tidak nafsu makan, dan
kadang-kadang merasa pusing jika tekanan darahnya sedang tinggi.
Pasien tampak pucat hasil hb 8,9 gr/dl, TD: 150/80 mmHg, Suhu:
36,60C, Nadi: 94 x/menit, RR: 26 x/menit, Spo2: 96 %
h. Riwayat kesehatan dahulu :
Pasien mengatakan memiliki riwayat hipertensi dan pasien juga pernah
dirawat di RS karena mual dan muntah
i. Riwayat kesehatan keluarga :
Universitas Muhammadiyah Gombong
Pasien mengatakan keluarganya tidak ada yang mengalami hal serupa
seperti pasien, tidak memiliki riwayat hipertensi, DM, penyakit ginjal
maupun penyakit jantung
Pasien mengatakan keluarganya tidak ada yang menderita penyakit
menular seperti TB, HIV dan hepatitis
.
Genogram :
Keterangan :
: pasien
: perempuan
: laki-laki
17. Pengkajian pola fungsional menurut Virginia Henderson
cc. Pola Pernafasan
Sebelum sakit : pasien mengatakan sebelum sakit tidak ada masalah dalam
bernafas.
Saat dikaji : Pasien mengatakan mengalami sesak napas sehingga
menganggu aktifitasnya
dd. Pola Nutrisi
Sebelum sakit : pasien mengatakan sebelum sakit makan normal 3x sehari
disertai lauk dan pauk, makan buah dan minum dalam sehari 2-3
gelas/hari
Universitas Muhammadiyah Gombong
Saat dikaji : pasien mengatakan makan 3x sehari tapi nafsu makan
menurun dan hanya menghabiskan ¼ porsi, sedangkan minum pasien 5
gelas per hari
ee. Eliminasi
Sebelum sakit : Pasien mengatakan BAK 5-6x/hari, berwarna jernih
dan BAB 1x sehari.
Saat dikaji : Pasien terpasang DC No.18 dengan keluaran urine 200 cc,
BAB 1x/hari
ff. Pola gerak dan keseimbangan
Sebelum sakit : pasien mengatakan sebelum sakit dapat beraktivitas
dan berjalan normal tanpa ada hambatan.
Saat dikaji : Pasien mengatakan bila beraktifitas atau berjalan jauh
akan mudah sesak napas
gg. Pola Istirahat dan tidur
Sebelum sakit : pasien mengatakan sebelum sakit istirahat merasa
sangat cukup, kurang lebih dapat tidur 8 sampai 10 jam pada malam
dan siang hari.
Saat dikaji : Pasien mengatakan tidur terganggu karena sesak napas
hh. Pola Bepakaian
Sebelum sakit : Pasien mengatakan dapat berpakaian sendiri tanpa
dibantu orang lain.
Saat dikaji : Pasien mengatakan masih dapat berpakaian secara mandiri
tanpa bantuan orang lain
ii. Pola Rasa Aman dan Nyaman
Sebelum sakit : Pasien mengatakan merasakan lebih nyaman di rumah.
Saat dikaji : Pasien mengatakan merasakan tidak nyaman di rumah
sakit karena suasana yang terlalu ramai.
jj. Pola Mempertahankan Sirkulasi
Sebelum sakit : Pasien mengatakan saat dingin mengenakan pakaian
tebal / selimut dan saat panas pasien mengenakan pakaian tipis /
menyalakan kipas angin.
Saat dikaji : pasien mengatakan mudah merasa panas akan tetapi tidak
demam, klien mengurangi rasa panas dengan pakaian tipis atau
mengelap tubuhnya dengan air dingin.
Universitas Muhammadiyah Gombong
kk. Pola Personal Hygiene
Sebelum sakit : pasien mengatakan sebelum sakit dapat menjaga
kebersihan diri secara mandiri tanpa bantuan orang lain.
Saat dikaji : pasien mengatakan sebagian dibantu keluarga untuk
menjaga kebersihan dirinya.
ll. Pola Komunikasi
Sebelum sakit : Pasien mengatakan dapat berkomunikasi dengan
normal dalam sehari - hari dengan menggunakan bahasa daerah dan
Indonesia.
Saat dikaji : Pasien mengatakan dapat berkomunikasi dengan normal
dalam sehari - hari dengan menggunakan bahasa daerah dan Indonesia.
mm. Pola Spiritual
Sebelum sakit : Pasien mengatakan sering jamaah di masjid.
Saat dikaji : Pasien mengatakan solat di tempat tidur.
nn. Pola Bekerja
Sebelum sakit : Pasien mengatakan sehari-hari bekerja sebagai
karyawan swasta
Saat dikaji : Pasien mengatakan tidak dapat melakukan aktivitas hanya
bisa berbaring ditempat tidur.
oo. Pola Rekreasi
Sebelum sakit : Pasien mengatakan setiap hari selalu berkumpul
dengan keluarga dan tetangga untuk ngobrol.
Saat dikaji : Pasien mengatakan hanya tiduran dan jarang ngobrol
dengan keluarga.
pp. Belajar
Sebelum sakit : Pasien mengatakan jika sakit periksa ke dokter
keluarga / mantri.
Saat dikaji : Pasien mengatakan sudah tahu tentang penyakitnya dari
dokter spesialis.
18. Pemeriksaan fisik (head to toe)
a. Kesadaran : Composmenitis (E4,M6,V5=15)
b. TTV :
TD : 150/80 mmHg
Suhu : 36,2 0C
Universitas Muhammadiyah Gombong
Nadi : 94 x/menit
RR : 26 x/menit
Spo2 : 96 %
m. Berat Badan: 55 kg, BB kering: 48 kg
n. Tinggi Badan: 155 cm
o. Pemeriksaan head to toe
23) Kepala : Bentuk mesochepal, kulit kepala bersih, tidak ada lesi.
24) Mata : Konjungtiva anemis, sklera anikterik, respon cahaya
baik, tidak ada gangguan penglihatan.
25) Hidung : Bersih, tidak ada polip, penciuman normal.
26) Mulut : Tidak ada stomatitis, membran mukosa kering.
27) Telinga : Bersih, tidak ada gangguan pendengaran.
28) Leher : Tidak ada pembesaran kalenjer tiroid, tampak adanya
pembesaran JVP.
29) Paru-paru
Inspeksi : Simetris, tidak ada jejas
Palpasi : Tidak ada retraksi dinding
dada Perkusi : Sonor
Auskultasi : Vesikuler
30) Jantung
Inspeksi : Tidak ada jejas
Palpasi : Iktus cordis tidak
teraba Perkusi : Pekak.
Auskultasi : S1 S2 normal
31) Abdomen
Inspeksi : terdapat asites
Auskultasi : Terdengar adanya bising usus 12
x/menit. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
Perkusi : Thympani.
32) Genetalia : Tidak ada luka di genetalia, tidak ada kelainan
genetalia, terpasang DC no 18
33) Ekstremitas
Atas : Tidak ada edema
Universitas Muhammadiyah Gombong
Bawah : terdapat pembengkakan pada kedua kaki dengan
derajat II, akral teraba dingin, pitting edema 3 mm,
dengan waktu kembali 5 detik
p. Pemeriksaan penunjang
Hasil pemeriksaan lab pada tanggal 31/01/2024, Jam 11.00 WIB
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan
PAKET DARAH OTOMATIS
Hemoglobin 8,2 g/dL 11,7 – 15,5
Leukosit 18,9 10^3/uI 3,6 – 11,0
Hematokrit 26,7 % 35 – 47
Eritrosit 2,18 10^6/uI 3,80 – 5, 20
Trombosit 321 10^3/uI 150 – 440
MCH 28 pg 26 – 34
MCHC 33 g/dL 32 – 36
MCF 91 fL 80 - 100
DIFFCOUNT
Eosnofil 3,20 % 2–4
Basofil 0,76 % 0–1
Netrofil 68,30 % 50 – 70
Limfosit 18,30 % 22 – 40
Monosit 5,50 % 2–8
Absolut Neutrofil Count 6,75 10^3/uI 1,80 – 8,00
Absolut Limfosit Count 2,62 10^3/uI 0,9 – 5,2
Neutrophil Limfosit Rasio 3,64
KIMIA KLINIK
Ureum 376 mg/dL 10 – 50
Creatinin 21,70 mg/dL 0,6 – 1,2
SGOT 16 µ/L <37
SGPT 11 µ/L <42
Golongan Darah O
Hasil pemeriksaan rontgen pada tanggal 31/01/2024, Jam 12.30 WIB
didapatkan kesimpulan terdapat Cardiomegali, edema pulmonal
q. Terapi medis
- IVFD NaCl 10 tpm
- Inj ondansetron 4mg 3x1
- Inj omz 1x1 40 mg
Universitas Muhammadiyah Gombong
MASALAH KEPERAWATAN
7. Analisa data
NO DATA FOKUS ETIOLOGI PROBLEM
1 Ds : Gangguan mekanisme hipervolemia
- Pasien mengatakan regulasi
kedua kaki bengkak
Do :
- Terlihat pasien
berbaring di tempat
tidur
- Terlihat kedua kaki
bengkak
- Asites
- pitting odem 4 mm
dengan waktu
kembali 5 detik
(derajat II)
- BB kering : 48 kg
- BB saat ini : 55 kg
- TTV : TD : 150/80
mmHg, N : 94 x/mnt,
RR : 26 x/mnt,
Spo2 : 96 %
- Creatinin 21,70
mg/dL
- Ureum 376 mg/dl
2 Ds : Penurunan energi Pola nafas tidak efektif
- Pasien mengatakan
sesak nafas
Do :
- Terlihat pasien
lemas
- RR 26 x/menit
- Spo2 96% dengan
oksigen
- CRT > 2 detik
- Akral teraba dingin
- Warna kulit pucat
- HB : 8,2 g/dL
3 Ds : Gangguan biokimiawi Nausea
- Pasien mengatakan (uremia)
tidak nafsu makan
dan mual
Do :
- Terlihat kulit pasien
kering dan pucat
Universitas Muhammadiyah Gombong
- Ureum 376 mg/dl
- Creatinin 21,70
mg/dL
- Terlihat makan
hanya ¼ porsi
- Tampak mual mual
- Saliva meningkat
8. Diagnosa Keperawatan
g. Hipervolemia (D.0022) b.d. gangguan mekanisme regulasi
h. Pola nafas tidak efektif (D.0005) b.d penurunan energy
i. Nausea (D.0076) b.d. gangguan biokimiawi (uremia)
9. Intervensi Keperawatan
No
SLKI INTERVENSI / SIKI
dx
1. Setelah diberikan tindakan keperawatan 3x24 Manajemen Hipervolemia
jam diharapkan masalah keperawatan (l.03114)
Hipervolemia dapat teratasi dengan kriteria Observasi
hasil : - Periksa tanda dan gejala
Keseimbangan cairan (L.03020) hipervolemia (mis. Ortopnea,
Ekspektasi: meningkat dispnea, edema, jvp/cvp
Indikator Awal Target meningkat, refleks
Asupan cairan 2 5 hepatojugular positif, suara
Haluaran urin 2 5 nafas tambahan)
Kelembaban 2 5 - Identifikasi penyebab
membrane hipervolemia.
mukosa - Monitor status hemodinamik
Keterangan: ( [Link] jantung, tekanan
1: Menurun darah, MAP, CVP, PAP,
2: Cukup menurun PCWP, CO), jika tersedia
3: Sedang - Monitor intake dan output
4: Cukup meningkat cairan.
5: Meningkat - Monitor tanda hemokonsentrasi
Indikator Awal Target ( mis. Kadar natrium, BUN,
Edema 2 5 hematokrit, berat jenis urne)
Dehidrasi 2 5 - Monitor kecepatan infus secara
Asites 2 5 ketat
Keterangan: - Monitor efek samping diuretik (
1: Meningkat mis. Hipotensi ortortostatik,
2: Cukup meningkat hipovolemia, hipokalemia,
3: Sedang hiponatremia)
4: Cukup menurun Terapeutik
5: Menurun - Timbang berat badan setiap
Indikator Awal Target hari pada waktu yang sama
Tekanan darah 2 5 - Batasi asupan cairan dan
Denyut nadi 2 5 garam.
radial - Tinggikan kepala tempat tidur
Berat Badan 2 5 30-40º/ setengah duduk
Universitas Muhammadiyah Gombong
No
SLKI INTERVENSI / SIKI
dx
Keterangan: Edukasi
1: Memburuk - Anjurkan melapor jika keluaran
2: Cukup memburuk urim <0,5 ml/kg/jam dalam 6
3: Sedang jam
4: Cukup membaik - Anjurkan melapor jika BB
5: Membaik bertambah > 1 kg dalam sehari
- Anjurkan cara mengukur dan
catat asupan dan keluaran
cairan
- Anjurkan cara membatasi
cairan
- Anjurkan untuk melakukan
hemodialisa sesuai jadwal.
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian diuretik.
- Kolaborasi penggantian
kehilangan kalium akibat
diuretik
- Kolaborasi pemberian
continuous renal replacement
therapy (CRRT) ,jika perlu
2 Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemen Jalan Napas
selama 5 kali pertemuan diharapkan pola (I.01011)
napas teratasi dengan kriteria hasil: Observasi:
Pola Napas (L.01004) - Monitor pola napas (frekuensi,
Indikator A T Keterangan kedalaman dan upaya napas)
Dispnea 3 4 1: 4: cukup Terapeutik:
meningkat menurun - Atur posisi semi fowler
2: cukup 5: - Berikan minum hangat
meningkat menurun secukupnya
3: sedang - Berikan oksigen
Frekuensi 2 4 1: 4: cukup
napas memburuk membaik
2: cukup 5:
memburuk membaik
3: sedang
3 etelah dilakukan tindakan keperawatan selama Manajemen Mual (I.03117)
3 x 24 jam diharapkan masalah nausea teratasi Observasi
dengan kriteria hasil :
Identifikasi dampak mual
Tingkat Nausea (L.12111) terhadap kualitas hidup
(misal nafsu makan,
Indikator A T Keterangan aktivitas, kinerja, tanggung
Keluhan mual 2 5 1 = Meningkat jawab peran, dan tidur)
Perasaan ingin muntah 2 5 2=Cukup Identifikasi faktor
Perasaan asam di 2 5 meningkat penyebab mual (misal
mulut 3 = Sedang pengobatan dan prosedur)
Jumlah saliva 2 5 4=Cukup Monitor mual (misal
menurun frekuensi, durasi dan
5 = Menurun tingkat keparahan)
Monitor asupan nutrisi dan
No
SLKI INTERVENSI / SIKI
dx
Universitas Muhammadiyah Gombong
Tingkat Nausea (L.12111) kalori
Terapeutik
Kendalikan faktor
lingkungan penyebab mual
Indikator A T Keterangan
(misal bau tak sedap, suara,
Pucat 2 5 1 = Memburuk
dan rangsangan visual yang
2 = Cukup memburuk
tidak menyenangkan)
3 = Sedang
Berikan makanan dingin,
4 = Cukup membaik
cairan bening, tidak berbau
5 = Membaik
dan tidak berwarna, jika
perlu.
Edukasi
Anjurkan istirahat dan tidur
yang cukup
Anjurkan sering
membersihkan mulut,
kecuali jika merangsang
mual
Anjurkan makanan tinggi
karbohidrat dan rendah
lemah
Ajarkan penggunaan teknik
nonfarmakologis untuk
mengatasi mual (misal
biofeedback, hipnosis,
relaksasi, terapi musik,
Kolaborasi
Kolaborasikan dengan
dokter tentang obat
antimual (bila perlu)
Universitas Muhammadiyah Gombong
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari/Tgl/Jam DX Implementasi Respon Paraf
Kamis, 01 Feb 1 Memonitor TTV dan BB S: Pasien mengatakan lemas Rudi
2024 O:
08.00 - TD: 150/80 mmHg
- Nadi: 94x/menit
- RR: 26x/menit
- S: 36,2°C
- Sp02: 96%
- BB kering : 48Kg
- BB saat ini 55kg
08.05 2 Mengidentifikasi pola napas DS: Pasien mengatakan sesak napas Rudi
DO: RR: 26x/menit
08.05 3 Mengidentifikasi mual DS: pasien mengatakan mual Rudi
DO: anoreksia, tampak mual-mual, kulit pucat
08.05 3 Menganjurkan sering membersihkan mulut DS: pasien mengatakan bersedia Rudi
DO: pasien kooperatif
08.10 2 Memberikan oksigen nasal kanul 4 lpm DS: pasien mengatakan bersedia Rudi
DO: pasien terpasang oksigenasi nasal kanul 4
lpm
08.10 1,2 Mengatur posisi pasien S : mengatakan lebih nyaman Rudi
O : Posisi tidur ½ duduk (semi fowler)
08.15 1 Memberikan terapi obat S: Pasien bersedia untuk diberi obat, tidak Rudi
memiliki riwayat alergi obat.
O:
- IVFD NaCl 10 tpm
- Inj omz 1x1 40 mg
- Inj ondansetron 4mg 3x1
08.45 1 Monitor tanda hypervolemia S: pasien mengatkan kedua kakinya bengkak Rudi
O: Kaki kanan dan kiri tampak bengkak pitting
oedem 4 mm dan kembali dengan waktu 5
Universitas Muhammadiyah Gombong
Hari/Tgl/Jam DX Implementasi Respon Paraf
detik, terdapat asites
09.00 1 Memonitor input dan output S: Pasien mengatakan sering haus Rudi
O: Input 1585cc, output 1075cc
09.45 1 Mengajarkan Terapi Contrast Bath S: Pasien mengatakan sudah paham setelah Rudi
diajarkan terapi Contrast Bath
O: Pasien tampak sudah paham dengan apa
yang diajarkan
10.00 1 Memonitor CRT dan membrane mukosa S: Pasien mengatakan lemas Rudi
O: CRT> 2 detik, kulit kering
10.10 1 Memonitor Balance cairan = input- output Input : Rudi
Infus= 500 cc
Air (makan dan Minum)= 800 cc
Obat injeksi= 10 cc
Air metabolism: 5ccx55 kg=275 cc
Total input= 1585 cc
Output:
Urin= 200 cc
Feses=50 cc
IWL= 15 x BB= 15 x 55= 825 cc
Total output= 1075 cc
Balance cairan= Input-output=1585cc-1075cc=
(+)510 cc
11.00 1,2,3 Menganjurkan untuk istirahat yang cukup DS: pasien mengatakan masih lemas Rudi
DO: pasien kooperatif
Jumat, 02 Januari 1 Memonitor TTV dan BB S: Pasien mengatakan masih lemas Rudi
2024 O:
14.00 - TD: 147/90 mmHg
- Nadi: 80x/menit
- RR: 22x/menit
- S: 36,6°C
Universitas Muhammadiyah Gombong
Hari/Tgl/Jam DX Implementasi Respon Paraf
- Sp02: 98%
- BB kering : 48 Kg
- BB saat ini: 52 kg
14.05 2 Mengidentifikasi pola napas DS: Pasien mengatakan masih sesak napas Rudi
DO: RR: 22x/menit
14.05 3 Mengidentifikasi mual DS: pasien mengatakan masih mual Rudi
DO: anoreksia, tampak mual-mual, kulit pucat
14.00 3 Menganjurkan sering membersihkan mulut DS: pasien mengatakan bersedia Rudi
DO: pasien kooperatif
14.10 2 Memberikan oksigen nasal kanul 4 lpm DS: pasien mengatakan bersedia Rudi
DO: pasien terpasang oksigenasi nasal kanul 4
lpm
14.10 2 Mengatur posisi pasien S : mengatakan lebih nyaman Rudi
O : Posisi tidur ½ duduk (semi fowler)
14.15 1 Memberikan terapi obat S: Pasien bersedia untuk diberi obat, tidak Rudi
memiliki riwayat alergi obat.
O:
- IVFD NaCl 10 tpm
- Inj omz 1x1 40 mg
- Inj ondansetron 4mg 3x1
14.45 1 Monitor tanda hypervolemia S: pasien mengatkan kedua kakinya bengkak Rudi
O: Kaki kanan dan kiri tampak bengkak pitting
oedem +3 dan kembali dengan waktu 3 detik,
asites menurun
15.00 1 Memonitor input dan output S: Pasien mengatakan masih sering haus Rudi
O: Input 1270 cc, output 980cc
15.45 1 Mengajarkan Terapi Contrast Bath S: Pasien mengatakan akan melakukan Rudi
sesuai yang diajarkan terapi Contrast Bath
O: Pasien tampak melakukan terapi sesuai
dengan apa yang diajarkan
Universitas Muhammadiyah Gombong
Hari/Tgl/Jam DX Implementasi Respon Paraf
16.00 1 Memonitor CRT dan membrane mukosa S: Pasien mengatakan masih lemes Rudi
O: CRT> 2 detik, kulit kering
16.30 1 Memonitor Balance cairan = input- output Input : Rudi
Infus= 500 cc
Air (makan dan Minum)= 500 cc
Obat injeksi= 10 cc
Air metabolism: 5ccx 52kg=260 cc
Total input= 1270 cc
Output:
Urin= 200 cc
IWL= 15 x BB= 15 x 52= 780 cc
Total output= 980 cc
Balance cairan= Input-output=1270cc-980cc=
(+)290cc
17.00 1,2,3 Menganjurkan untuk istirahat yang cukup DS: pasien mengatakan masih lemas Rudi
DO: pasien kooperatif
Sabtu, 03 1 Memonitor TTV dan BB S: Pasien mengatakan lemes berkurang Rudi
Februari 2024 O:
08.30 - TD: 138/ 90 mmHg
- Nadi: 90x/menit
- RR: 20x/menit
- S: 36,7°C
- Sp02: 99%
- BB kering : 48 Kg
- BB saat ini: 50 kg
08.35 2 Mengidentifikasi pola napas DS: Pasien mengatakan sesak napas berkurang Rudi
DO: RR: 20x/menit
08.45 3 Mengidentifikasi mual DS: pasien mengatakan mual berkurang Rudi
DO: nafsu makan membaik, kulit tidak pucat
09.00 3 Menganjurkan sering membersihkan mulut DS: pasien mengatakan bersedia Rudi
Universitas Muhammadiyah Gombong
Hari/Tgl/Jam DX Implementasi Respon Paraf
DO: pasien kooperatif
09.10 2 Memberikan oksigen nasal kanul 4 lpm DS: pasien mengatakan bersedia Rudi
DO: pasien terpasang oksigenasi nasal kanul 4
lpm
09.10 2 Mengatur posisi pasien S : mengatakan lebih nyaman Rudi
O : Posisi tidur ½ duduk (semi fowler)
09.15 1 Memberikan terapi obat S: Pasien bersedia untuk diberi obat, tidak Rudi
memiliki riwayat alergi obat.
O:
- IVFD NaCl 10 tpm
- Inj omz 1x1 40 mg
- Inj ondansetron 4mg 3x1
09.45 1 Monitor tanda hypervolemia S: pasien mengatkan kedua kakinya sudah Rudi
tidak terlalu bengkak bengkak
O: terdapat edema kedua kaki derajat I (pitting
edema 1 mm dengan waktu kembali 3 detik)
10.00 1 Memonitor input dan output S: Pasien mengatakan minum air putih hanya Rudi
setengah gelas kecil
O: Input 1260 cc, output 1110cc
10.45 1 Mengajarkan Terapi Contrast Bath S: Pasien mengatakan sudah paham setelah Rudi
diajarkan terapi Contrast Bath
O: Pasien tampak melakukan terapi sesuai
dengan apa yang diajarkan
11.30 1 Memonitor CRT dan turgor kulit S: Pasien mengatakan lemas berkurang Rudi
O: CRT< 2 detik, kulit elastasis
13.00 1 Memonitor Balance cairan = input- output Input : Rudi
Infus= 500 cc
Air (makan dan Minum)= 500 cc
Obat injeksi= 10 cc
Air metabolism: 5ccx50kg=250 cc
Universitas Muhammadiyah Gombong
Hari/Tgl/Jam DX Implementasi Respon Paraf
Total input= 1260 cc
Output:
Urin= 250 cc
Feses=100cc
IWL= 15 x BB= 15 x50= 750 cc
Total output= 1100 cc
Balance cairan= Input-output=1260cc-1100
cc= (+)160 cc
13.30 1,2,3 Menganjurkan untuk istirahat yang cukup DS: pasien mengatakan lemas berkurang Rudi
DO: pasien kooperatif
2.6 EVALUASI
Sabtu, 03 Februari 2024
No. Tanggal/ No Dx Evaluasi Paraf
jam
1. Sabtu, 03 1 S:
Februari - Pasien mengatakan kedua kaki sudah tidak terlalu bengkak
2024 Rudi
Jam
14.00 O:
- Terlihat pasien berbaring di tempat tidur
- Kedua kaki edema derajat I (pitting edema 1 mm dengan waktu kembali 3 detik)
- Asites menurun
- BB kering : 48 kg
- BB saat ini : 50 kg
- TTV : TD : 138/90 mmHg, N : 90 x/mnt, RR : 20 x/mnt, Spo2 : 99 %
Universitas Muhammadiyah Gombong
No. Tanggal/ No Dx Evaluasi Paraf
jam
A: masalah hypervolemia teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi:
- Pembatasan cairan dan melaksanakan diit yang dianjurkan
- Terapi contrast bath secara rutin
2 Sabtu, 03 2 S:
Februari - Pasien mengatakan sesak napas berkurang Rudi
2024
Jam
14.00 O:
- Tidak tampak sesak napas
- RR 20 x/menit
- Spo2 99%
- CRT < 2 detik
- Akral teraba dingin
A: masalah sesak napas teratasi sebagian
P: Lanjutkan intervensi:
- Pantau status pernapasan
- Manajemen jalan napas
Universitas Muhammadiyah Gombong
No. Tanggal/ No Dx Evaluasi Paraf
jam
3 Sabtu, 03 3 S:
Februari - Pasien mengatakan nafsu makan membaik dan mual menurun Rudi
2024
Jam
14.00 O:
- Terlihat menghabiskan makan sesuai porsi
- Sudah tidak tampak mual
- Produksi saliva menurun
A: masalah mual teratasi sebagian
P: Lanjutkan intervensi:
- Berikan makan makanan yang hangat
- Berikan waktu istirahat yang cukup
Universitas Muhammadiyah Gombong
PEMBAHASAN
Chronic Kidney Disease (CKD) adalah keadaan kerusakan ginjal
dimana ginjal mengalami kehilangan fungsi yang progresif dan irreversibel
(Pranowo et al, 2016). Penderita gagal ginjal yang sudah pada stadium akhir
atau end stage renal disease (ESDR) memerlukan terapi ginjal pengganti yaitu
hemodialisis. Jumlah pasien hemodialisis dari tahun ke tahun semakin
meningkat, dan pada tahun 2016 terdapat 25.446 pasien baru yang menjalani
hemodialisis dan 52.835 pasien yang aktif menjalani hemodialisis (Kemenkes,
2018). Hemodialisis merupakan suatu cara untuk mengganti fungsi ginjal
dengan mengeluarkan produk sisa metabolisme tubuh, air dan menjaga
keseimbangan elektrolit melalui membran semipermiabel yang disebut dializer
(Kallenbach et al. 2015 Dalam Kamasita, Systriana Esi, 2018). Ketika pasien
memulai hemodialisis, maka saat itulah pasien harus merubah seluruh aspek
dalam kehidupannya. Selain harus mendatangi unit hemodialisis selama 2-3
kali dalam satu minggu, pasien juga harus konsisten mengkonsumsi obat,
memodifikasi gaya hidup seperti diet makanan, mengatur intake cairan, dan
mengukur balance cairan setiap hari. Masalah lain yang muncul seperti
penurunan hemoglobin juga harus diantisipasi.
Peran perawat terhadap pasien Chronic Kidney Disease (CKD) yang
menjalani hemodialisis rutin juga sangat penting dan dibutuhkan. Perawat
sebagai pemberi pelayanan kesehatan yang paling lama kontak dengan pasien,
juga dengan peran uniknya sebagai petugas yang memberi pemenuhan
kebutuhan bio-psikososio-kultural-spiritual, diharapkan mampu memberikan
motivasi pada pasien agar patuh terhadap anjuran kesehatan dan rutin
menjalani hemodialisis (Syamsiah, 2011). Setiap pasien CKD atau gagal ginjal
harus menjalani terapi hemodialisa selama 3sampai 5 jam dalam 2 sampai 3
hari dalam satu minggu sehingga pasien tersebut mengalami masalah rasa
haus. Rasa haus itu sendiri adalah keinginan yang disadari terhadap kebutuhan
terhadap cairan tubuh, rasa haus pada pasien CKD juga terjadi akibat dalam
masalh cairan merupakan masalah penting pada saat pasien menjalan terapi
hemodialisa. Rasa haus yang dirasakan oleh pasien yang mengakibatkan
pasien tersbut tidak mematuhi diet cairan sehingga mengakibatkan kelebihan
cairan atau overload cairan dalam tubuh pasien.
Universitas Muhammadiyah Gombong
Salah satu diagnosa keperawatan pada pasien CKD diantaranya yaitu
hipervolemia dan dilakukan tindakan monitor input dan output serta
membatasi cairan yang masuk pada pasien. Keseimbangan cairan tubuh
dihitung berdasarkan jumlah cairan yang masuk and jumlah cairan yang
keluar. Kebutuhan cairan dapat dihitung dengan menggunakan cara
perhitungan balance cairan. Untuk menghitung IWL dengan rumus
(15xBB/hr). Rumus balance cairan adalah (intake-output). Tindakan ini
dilakukan untuk mengetahui apakah cairan yang dikonsumsi oleh pasien sudah
balance atau tidak (Sari,2016).
Asupan cairan pada pasien GGK dibatasi sesuai dengan hasil
pengukuran kebutuhan cairan pasien. Dengan menggunakan rumus kebutuhan
cairan pada pasien GGK yaitu jumlah urin/ 24 jam ditambah dengan 500- 700
ml. Pembatasan cairan bertujuan untuk mengurangi kelebihan cairan, jika
tidak dikurangi dapat menjadi edema, hipertensi, dan hipertrovi ventrikel kiri
(Istanti, 2018).
Salah satu cara pasien untuk menurunkan hypervolemia adalah terapi
Contrast Bath. Terapi ini dengan cara merendam kaki sebatas betis secara
bergantian menggunakan air hangat bersuhu 36,6- 43,3°C yang dilanjutkan
dengan air dingin bersuhu 10 – 20 °C (Purwadi et al., 2015). Manfaat contras
bath pada kaki edema yaitu menurunkan tekanan hidrostatik intra vena agar
cairan yang berada di intersitial akan kembali ke vena. Selain itu, efek
fisiologis yang dihasilkan dari terapi ini yaitu meningkatkan aliran darah dan
oksigenasi jaringan untuk mempercepat penyembuhan dan meningkatkan
fungsi anggota tubuh (Shadgan et al., 2018). Proses Contrast Bath adalah
salah satu bentuk hidroterapi yang melibatkan perendaman berulang kali
anggota tubuh ke dalam air panas dan dingin. Terapi ini dilakukan pada
kecepatan, suhu, dan waktu tertentu. Peralihan berulang antara kedua suhu
tersebut dapat menyebabkan penyempitan dan pelebaran pembuluh darah,
yang menyebabkan efek pompa. Hal ini diyakini oleh beberapa orang dapat
meningkatkan sirkulasi ke jaringan di seluruh tubuh (Mustofa et al., 2019)
Pada pasien CKD sangat memerlukan dukungan keluarga, karena
tanpa dukungan keluarga, pengetahuan dan sikap pasien dia tidak akan mampu
mematuhi program diet yang sudah ditentukan (Riyanti, 2017). Diet rendah
natrium bertujuan untuk membantu menghilangkan retensi garam atau air
Universitas Muhammadiyah Gombong
dalam jaringan tubuh dan menurunkan tekanan darah. Garam mengandung
unsur natrium yang bersifat menahan air, serta konsumsi garam dapat
menyebabkan tumpukan cairan dalam tubuh dan akan mengurangi rasa haus
(Colvi, 2015)
Asuhan keperawatan yang dilakukan terhadap pasien Tn. J
dilakukan selama 3 hari dengan diagnosa medis CKD didapatkan diagnosa
keperawatan utama yang muncul yaitu hipervolemia b.d Gangguan
mekanisme regulasi. Setelah dilakukan tindakan Contrast Bath selama tiga
hari berturut-turut, dapat diketahui bahwa hypervolemia pasien menurun,
dengan tidak ada pembengkakan di kedua kaki
Universitas Muhammadiyah Gombong
DAFTAR PUSTAKA
Astuti, P., Herawati, T., & Kariasa, I. made. (2018). Faktor-faktor yang Berhubungan
Dengan Self Management pada Pasien Hemodialisis di Kota Bekasi. Health
Care Nursing Journal, 1.
Fajri, A. N., Sulastri, & Kristini, P. (2020). Pengaruh Terapi Ice Cube ’ S Sebagai
Evidance Based Nursing Untuk Mengurangi Rasa Haus Pada Pasien.
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan Universitas Muhammadiyah
Surakarta, 1(3), 11– 15.
Isroin, L. (2016). Manajemen Cairan Pada Pasien Hemodialisis Untuk Meningkatkan
Kualitas Hidup. Journal UMY, 1–138.
Mustofa, M., Surendra, M., & Kinanti, R. (2019). Pengembangan Pelatihan
Fisioterapi Contrast Bath Dengan Media Video Pada Mahasiswa Ilmu
Keolahragaan. Jurnal Sport Science, 4(1), 12–21.
Purwadi, I. K. A. H., Galih, G., & Puspita, D. (2015). Pengaruh Terapi Contrast Bath
(Rendam Air Hangat Dan Air Dingin) Terhadap Edema Kaki Pada Pasien
Penyakit Gagal Jantung Kongestif Di RSUD Ungaran, RSUD Ambarawa, RSUD
Kota Salatiga Dan RSUD Tugurejo Provinsi Jawa Tengah. Naskah Publikasi.
SDKI. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Edisi 1
SDKI. (2018). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia Definisi dan Indikator
Diagnostik. Dewan Pengurus PPNI.
Shadgan, B., Pakravan, A. H., Hoens, A., & Reid, W. D. (2018). Contrast baths,
intramuscular hemodynamics, and oxygenation as monitored by near-infrared
spectroscopy. Journal of Athletic Training, 53(8), 782–787.
[Link]
SIKI. (2016). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Edisi 1
SLKI. (2016). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Edisi 1
Srianti, N. M., Sukmandari, N. M. A., Putu, S., Ayu, A., Dewi, P., Badung, R. S. D.
M., Studi, P., Ners, P., Bina, S., & Bali, U. (2021). Perbedaan Tekanan
Darah. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, Volume 4 No 1, Februari
2022 Hal 173 – 184
Universitas Muhammadiyah Gombong
ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. M DENGAN MASALAH
KEPERAWATAN UTAMA HIPERVOLEMIA PADA CHRONIC KIDNEY
DISEASE (CKD)
DI BANGSAL CEMPAKA RSUD Dr. SOEDIRMAN KEBUMEN
Disusun Guna Memenuhi Salah Satu Tugas Stase Keperawatan Medikal Bedah
Oleh :
RUDI ERYANTO
NIM: 202303159
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GOMBONG
2024
Universitas Muhammadiyah Gombong
ASKEP 5
TANGGAL MASUK : 29/01/2024
TANGGAL PENGKAJIAN : 29/01/2024, WAKTU: 13.00 WIB
PENGKAJIAN
19. Identitas pasien
Nama : Ny. M
Tanggal Lahir : 01/03/1970 (54 tahun)
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : IRT
Status Pernikahan : Menikah
Pendidikan : SD
No. RM : 51xxxx
Alamat : Karangsambung 2/1 kebumen
20. Penanggungjawab pasien
Nama : Tn. P
Umur : 55 th
Alamat : Karangsambung 2/1 kebumen
Pekerjaan : Swasta
21. Keluhan utama : pasien mengatakan kedua kaki
bengkak,
22. Riwayat kesehatan :
j. Riwayat kesehatan sekarang :
Pasien datang dengan keluhan kedua kaki bengkak di sertai sesak
nafas, lemas, letih, lesu tidak nafsu makan, kenaikan berat badan dari
berat badan kering 7 kg (7000ml). pasien tampak pucat hasil hb 8,4
gr/dl, TD: 150/75 mmHg, Suhu: 36,2 0C, Nadi: 80 x/menit, RR: 24
x/menit, Spo2: 98 %
k. Riwayat kesehatan dahulu :
Pasien mengatakan memiliki riwayat hipertensi.
l. Riwayat kesehatan keluarga :
Universitas Muhammadiyah Gombong
Pasien mengatakan keluarganya tidak ada yang memiliki penyakit yang
sama dengan pasien. Tidak ada penyakit keturunan seperti DM dan
hipertensi.
.
Genogram :
Keterangan :
: pasien
: perempuan meninggal
: laki - laki
: laki – laki meninggal
: perempuan
23. Pengkajian pola fungsional menurut Virginia Henderson
qq. Pola Pernafasan
Sebelum sakit : Pasien mengatakan bernafas normal.
Saat dikaji : Pasien mengatakan mengalami sesak napas terpasang o2 4lpm
nasal kanul
rr. Pola Nutrisi
Sebelum sakit : Pasien mengatakan makan sehari 3x dengan porsi sedang,
minum 4-6 gelas/hari.
Saat dikaji : Pasien mengatakan sedikit tapi sering untuk minum dan
makanan yang di berikan RS.
Universitas Muhammadiyah Gombong
ss. Eliminasi
Sebelum sakit : Pasien mengatakan BAK sedikit, berwarna jernih dan
BAB 1x sehari.
Saat dikaji : Pasien mengatakan selama di RS belum BAB 1x/hari,
BAK 3-4 kali/hari.
tt. Pola aktivitas
Sebelum sakit : Pasien mengatakan beraktifitas sangat susah karena
sesak nafas
Saat dikaji : Pasien mengatakan tidak dapat beraktifitas seperti
biasanya hanya berbaring ditempat tidur karena rasanya lemas dan
sesak nafas
uu. Pola Istirahat
Sebelum sakit : Pasien mengatakan tidur malam sekitar jam 10 malam
bangun jam 4.
Saat dikaji : Pasien mengatakan susah tidur.
vv. Pola Bepakaian
Sebelum sakit : Pasien mengatakan dapat berpakaian sendiri tanpa
dibantu orang lain.
Saat dikaji : Pasien mengatakan berpakaian dibantu oleh orang lain.
ww. Pola Rasa Aman dan Nyaman
Sebelum sakit : Pasien mengatakan merasakan lebih nyaman di rumah.
Saat dikaji : Pasien mengatakan merasakan tidak nyaman di rumah
sakit karena suasana yang terlalu ramai.
xx. Pola Mempertahankan Sirkulasi
Sebelum sakit : Pasien mengatakan saat dingin mengenakan pakaian
tebal / selimut dan saat panas pasien mengenakan pakaian tipis /
menyalakan kipas angin.
Saat dikaji : Pasien mengatakan gerah dan memakai kemeja.
yy. Pola Personal Hygiene
Sebelum sakit : Pasien mengatakan mandi 2x/hari, gosok gigi 2x/hari
dan keramas 2x/minggu.
Saat dikaji : Pasien mengatakan hanya di seka dibantu oleh keluarga.
zz. Pola Komunikasi
Universitas Muhammadiyah Gombong
Sebelum sakit : Pasien mengatakan dapat berkomunikasi dengan normal
dalam sehari - hari dengan menggunakan bahasa daerah dan Indonesia.
Saat dikaji : Pasien mengatakan dapat berkomunikasi dengan normal
dalam sehari - hari dengan menggunakan bahasa daerah dan Indonesia.
aaa. Pola Spiritual
Sebelum sakit : Pasien mengatakan sering jamaah di masjid.
Saat dikaji : Pasien mengatakan solat di tempat tidur.
bbb. Pola Bekerja
Sebelum sakit : Pasien mengatakan dapat melakukan aktivitas pekerjaan
rumah setiap hari.
Saat dikaji : Pasien mengatakan tidak dapat melakukan aktivitas hanya
bisa berbaring ditempat tidur.
ccc. Pola Rekreasi
Sebelum sakit : Pasien mengatakan setiap hari selalu berkumpul dengan
keluarga kecilnya untuk ngobrol.
Saat dikaji : Pasien mengatakan hanya tiduran dan jarang ngobrol dengan
keluarga.
ddd. Belajar
Sebelum sakit : Pasien mengatakan jika sakit periksa ke dokter keluarga /
mantri.
Saat dikaji : Pasien mengatakan sudah tahu tentang penyakitnya dari
dokter spesialis.
24. Pemeriksaan fisik (head to toe)
a. Kesadaran : Composmentis
b. TTV :
TD : 150/75 mmHg
Suhu : 36,2 0C
Nadi : 80 x/menit
RR : 24 x/menit
Spo2 : 98 %
r. Pemeriksaan head to toe
34) Kepala : Bentuk mesochepal, kulit kepala bersih, tidak ada lesi.
Universitas Muhammadiyah Gombong
35) Mata : Konjungtiva anemis, sklera anikterik, respon cahaya
baik, tidak ada gangguan penglihatan.
36) Hidung : Bersih, tidak ada polip, penciuman normal.
37) Mulut : Tidak ada stomatitis, membran mukosa kering.
38) Telinga : Bersih, tidak ada gangguan pendengaran.
39) Leher : Tidak ada pembesaran kalenjer tiroid, JVP.
40) Paru-paru
Inspeksi : Simetris, tidak ada jejas
Palpasi : Tidak ada retraksi dinding
dada Perkusi : Sonor
Auskultasi : Vesikuler
41) Jantung
Inspeksi : Tidak ada jejas
Palpasi : Iktus cordis tidak
teraba Perkusi : Pekak.
Auskultasi : S1 S2 normal
42) Abdomen
Inspeksi : Bentuk simetris.
Auskultasi : Terdengar adanya bising usus 12
x/menit. Palpasi : Tidak ada nyeri tekan.
Perkusi : Thympani.
43) Genetalia : Tidak ada kelainan genetalia.
44) Ekstremitas
Atas : Terpasang infus asering pada tangan kiri 12 tpm.
Bawah : terdapat pembengkakan pada kedua kaki dengan
pitting edema 3 mm dan waktu kembali 5 detik
(derajat II), akral teraba dingin CRT > 2 detik.
s. Pemeriksaan penunjang
Hasil pemeriksaan lab pada tanggal 28/01/2024, Jam 12.00 WIB
Pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Rujukan
PAKET DARAH OTOMATIS
Hemoglobin 8,4 g/dL 11,7 – 15,5
Leukosit 7,7 10^3/uI 3,6 – 11,0
Hematokrit 24 % 35 – 47
Universitas Muhammadiyah Gombong
Eritrosit 2,9 10^6/uI 3,80 – 5, 20
Trombosit 317 10^3/uI 150 – 440
MCH 29 pg 26 – 34
MCHC 35 g/dL 32 – 36
MCF 82 fL 80 - 100
DIFFCOUNT
Eosnofil 4,20 % 2–4
Basofil 0,80 % 0–1
Netrofil 71,30 % 50 – 70
Limfosit 17,30 % 22 – 40
Monosit 4,10 % 2–8
Absolut Neutrofil Count 5,46 10^3/uI 1,80 – 8,00
Absolut Limfosit Count 1,46 10^3/uI 0,9 – 5,2
Neutrophil Limfosit Rasio 3,74
KIMIA KLINIK
Ureum 157 mg/dL 10 – 50
Creatinin 11,23 mg/dL 0,6 – 1,2
t. Terapi medis
- IUFD Asering 12 tpm
- Resfar 1x1 200 mg
- Lansoprazole 1x1 30 mg
- irbesartan 1x1 300 mg
- Etabion 2x1
- Cilactan 2x1
MASALAH KEPERAWATAN
10. Analisa data
NO DATA FOKUS ETIOLOGI PROBLEM
1 Ds : Gangguan hipervolemia
- Pasien mengatakan mekanisme regulasi
kedua kaki bengkak
Do :
- Terlihat pasien
berbaring di tempat
tidur
- Terlihat kedua kaki
bengkak
- Terdapat pitting
odem 3mm dengan
waktu kembali 5
Universitas Muhammadiyah Gombong
detik (derajat II)
- Tampak acites
- BB kering : 55 kg
- BB: 59 kg
- TTV : TD : 150/75
mmHg, N : 80
x/mnt, RR : 24
x/mnt, Spo2 : 98 %
- Creatinin 11,23
mg/dL
- Ureum 157 mg/dl
2 Ds : Penurunan energi Pola nafas tidak efektif
- Pasien mengatakan
sesak nafas
Do :
- Terlihat pasien
lemas
- RR 24 x/menit
- Spo2 98% dengan
oksigen
- CRT > 5 detik
- Akral teraba dingin
- Warna kulit pucat
- HB : 8,4 g/Dl
3 Ds : Gangguan Nausea
- Pasien mengatakan biokimiawi
tidak nafsu makan (uremia)
dan mual
Do :
- Terlihat kulit pasien
kering dan pucat
- Ureum 157 mg/dl
- Creatinin 11,23
mg/dL
- Terlihat makan
hanya ¼ porsi
- Tampak mual mual
- Saliva meningkat
11. Diagnosa Keperawatan
j. Hipervolemia (D.0022) b.d. gangguan mekanisme regulasi
Universitas Muhammadiyah Gombong
Universitas Muhammadiyah Gombong
k. Pola nafas tidak efektif (D.0005) b.d penurunan energy
l. Nausea (D.0076) b.d. gangguan biokimiawi (uremia)
12. Intervensi Keperawatan
No
SLKI INTERVENSI / SIKI
dx
1. Setelah diberikan tindakan keperawatan 3x24 Manajemen Hipervolemia
jam diharapkan masalah keperawatan (l.03114)
Hipervolemia dapat teratasi dengan kriteria Observasi
hasil : - Periksa tanda dan gejala
Keseimbangan cairan (L.03020) hipervolemia (mis. Ortopnea,
Ekspektasi: meningkat dispnea, edema, jvp/cvp
Indikator Awal Target meningkat, refleks
Asupan cairan 2 5 hepatojugular positif, suara
Haluaran urin 2 5 nafas tambahan)
Kelembaban 2 5 - Identifikasi penyebab
membrane hipervolemia.
mukosa - Monitor status hemodinamik
Keterangan: ( [Link] jantung, tekanan
1: Menurun darah, MAP, CVP, PAP,
2: Cukup menurun PCWP, CO), jika tersedia
3: Sedang - Monitor intake dan output
4: Cukup meningkat cairan.
5: Meningkat - Monitor tanda hemokonsentrasi
Indikator Awal Target ( mis. Kadar natrium, BUN,
Edema 2 5 hematokrit, berat jenis urne)
Dehidrasi 2 5 - Monitor kecepatan infus secara
Asites 2 5 ketat
Keterangan: - Monitor efek samping diuretik (
1: Meningkat mis. Hipotensi ortortostatik,
2: Cukup meningkat hipovolemia, hipokalemia,
3: Sedang hiponatremia)
4: Cukup menurun Terapeutik
5: Menurun - Timbang berat badan setiap
Indikator Awal Target hari pada waktu yang sama
Tekanan darah 2 5 - Batasi asupan cairan dan
Denyut nadi 2 5 garam.
radial - Tinggikan kepala tempat tidur
Berat Badan 2 5 30-40º/ setengah duduk
Keterangan: Edukasi
1: Memburuk - Anjurkan melapor jika keluaran
2: Cukup memburuk urim <0,5 ml/kg/jam dalam 6
3: Sedang jam
4: Cukup membaik - Anjurkan melapor jika BB
5: Membaik bertambah > 1 kg dalam sehari
- Anjurkan cara mengukur dan
catat asupan dan keluaran
cairan
- Anjurkan cara membatasi
cairan
- Anjurkan untuk melakukan
Universitas Muhammadiyah Gombong
No
SLKI INTERVENSI / SIKI
dx
hemodialisa sesuai jadwal.
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian diuretik.
- Kolaborasi penggantian
kehilangan kalium akibat
diuretik
- Kolaborasi pemberian
continuous renal replacement
therapy (CRRT) ,jika perlu
2 Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemen Jalan Napas
selama 5 kali pertemuan diharapkan pola (I.01011)
napas teratasi dengan kriteria hasil: Observasi:
Pola Napas (L.01004) - Monitor pola napas (frekuensi,
Indikator A T Keterangan kedalaman dan upaya napas)
Dispnea 3 5 1: 4: cukup Terapeutik:
meningkat menurun - Atur posisi semi fowler
2: cukup 5: - Berikan minum hangat
meningkat menurun secukupnya
3: sedang - Berikan oksigen
Frekuensi 2 5 1: 4: cukup
napas memburuk membaik
2: cukup 5:
memburuk membaik
3: sedang
3 Setelah dilakukan tindakan keperawatan Manajemen Mual (I.03117)
selama 3 x 24 jam diharapkan masalah nausea Observasi
teratasi dengan kriteria hasil :
Identifikasi dampak mual
Tingkat Nausea (L.12111) terhadap kualitas hidup
(misal nafsu makan,
aktivitas, kinerja, tanggung
Indikator A T Keterangan jawab peran, dan tidur)
Keluhan mual 2 5 1 = Meningkat Identifikasi faktor
Perasaan ingin muntah 2 5 2=Cukup penyebab mual (misal
Perasaan asam di 2 5 meningkat pengobatan dan prosedur)
mulut 3 = Sedang Monitor mual (misal
Jumlah saliva 2 5 4=Cukup frekuensi, durasi dan
menurun tingkat keparahan)
5 = Menurun Monitor asupan nutrisi dan
Tingkat Nausea (L.12111) kalori
Terapeutik
Indikator A T Keterangan Kendalikan faktor
Pucat 2 5 1 = Memburuk lingkungan penyebab mual
2 = Cukup memburuk (misal bau tak sedap, suara,
3 = Sedang dan rangsangan visual yang
4 = Cukup membaik tidak menyenangkan)
5 = Membaik Berikan makanan dingin,
cairan bening, tidak berbau
dan tidak berwarna, jika
perlu.
Universitas Muhammadiyah Gombong
No
SLKI INTERVENSI / SIKI
dx
Edukasi
Anjurkan istirahat dan tidur
yang cukup
Anjurkan sering
membersihkan mulut,
kecuali jika merangsang
mual
Anjurkan makanan tinggi
karbohidrat dan rendah
lemah
Ajarkan penggunaan teknik
nonfarmakologis untuk
mengatasi mual (misal
biofeedback, hipnosis,
relaksasi, terapi musik,
Kolaborasi
Kolaborasikan dengan
dokter tentang obat
antimual (bila perlu)
Universitas Muhammadiyah Gombong
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari/Tgl/J DX Implementasi Respon Paraf
am
Senin, 29 1 Memonitor TTV dan BB S: Pasien mengatakan lemas Rudi
Januari O:
2024 - TD: 150/75 mmHg
14.00 - Nadi: 80x/menit
- RR: 24x/menit
- S: 36,2°C
- Sp02: 98%
- BB kering : 55 Kg
- BB : 59 kg
14.05 2 Mengidentifikasi pola napas DS: Pasien mengatakan sesak napas Rudi
DO: RR: 24x/menit
14.05 3 Mengidentifikasi mual DS: pasien mengatakan mual Rudi
DO: anoreksia, tampak mual-mual, kulit pucat
14.00 3 Menganjurkan sering membersihkan mulut DS: pasien mengatakan bersedia Rudi
DO: pasien kooperatif
14.10 2 Memberikan oksigen DS: pasien mengatakan bersedia Rudi
DO: pasien terpasang oksigenasi nasal kanul 4
lpm
14.10 2 Mengatur posisi pasien S : mengatakan lebih nyaman Rudi
O : Posisi tidur ½ duduk (semi fowler)
14.15 1 Memberikan terapi obat S: Pasien bersedia untuk diberi obat, tidak Rudi
memiliki riwayat alergi obat.
O:
- IUFD Asering 12 tpm
- Resfar 1x1 200 mg
- Lansoprazole 1x1 30 mg
- irbesartan 1x1 300 mg
- Etabion 2x1
Universitas Muhammadiyah Gombong
Hari/Tgl/J DX Implementasi Respon Paraf
am
- Cilactan 2x1
14.45 1 Monitor tanda hypervolemia S: pasien mengatkan kedua kakinya bengkak Rudi
O: Kaki kanan dan kiri tampak bengkak pitting
oedem +3, acites
15.00 1 Memonitor input dan output S: Pasien mengatakan minum air putih hanya Rudi
setengah gelas kecil
O: Input 1805 cc, output 1105cc
15.45 1 Mengajarkan Terapi Contrast Bath S: Pasien mengatakan sudah paham setelah Rudi
diajarkan terapi Contrast Bath
O: Pasien tampak sudah paham dengan apa
yang diajarkan
16.00 1 Memonitor CRT dan turgor kulit S: Pasien mengatakan lemas Rudi
O: CRT> 2 detik, kulit kering
17.00 1 Memonitor Balance cairan = input- output Input : Rudi
Infus= 500 cc
Air (makan dan Minum)= 1000 cc
Obat injeksi= 10 cc
Air metabolism: 5ccx59 kg=295 cc
Total input= 1805 cc
Output:
Urin= 220 cc
IWL= 15 x BB= 15 x 59= 885 cc
Total output= 1105 cc
Balance cairan= Input-output=1805cc-1105 cc=
(+)700 cc
17.00 1,2,3 Menganjurkan untuk istirahat yang cukup DS: pasien mengatakan masih lemas Rudi
DO: pasien kooperatif
Selasa, 30 1 Memonitor TTV dan BB S: Pasien mengatakan masih lemas Rudi
Januari O:
Universitas Muhammadiyah Gombong
Hari/Tgl/J DX Implementasi Respon Paraf
am
2024 - TD: 148/80 mmHg
14.00 - Nadi: 90x/menit
- RR: 22x/menit
- S: 36,8°C
- Sp02: 98%
- BB kering : 55 Kg
- BB : 56 kg
14.05 2 Mengidentifikasi pola napas DS: Pasien mengatakan sesak napas berkurang Rudi
DO: RR: 22x/menit
14.05 3 Mengidentifikasi mual DS: pasien mengatakan masih mual Rudi
DO: anoreksia, tampak mual-mual, kulit pucat
14.00 3 Menganjurkan sering membersihkan mulut DS: pasien mengatakan bersedia Rudi
DO: pasien kooperatif
14.10 2 Memberikan oksigen DS: pasien mengatakan bersedia Rudi
DO: pasien terpasang oksigenasi nasal kanul 4
lpm
14.10 2 Mengatur posisi pasien S : mengatakan lebih nyaman Rudi
O : Posisi tidur ½ duduk (semi fowler)
14.15 1 Memberikan terapi obat S: Pasien bersedia untuk diberi obat, tidak Rudi
memiliki riwayat alergi obat.
O:
- IUFD Asering 12 tpm
- Resfar 1x1 200 mg
- Lansoprazole 1x1 30 mg
- irbesartan 1x1 300 mg
- Etabion 2x1
- Cilactan 2x1
14.45 1 Monitor tanda hypervolemia S: pasien mengatkan kedua kakinya bengkak Rudi
O: Kaki kanan dan kiri tampak bengkak pitting
oedem +2, acites
Universitas Muhammadiyah Gombong
Hari/Tgl/J DX Implementasi Respon Paraf
am
15.00 1 Memonitor input dan output S: Pasien mengatakan minum air putih hanya Rudi
setengah gelas kecil
O: Input 1642,5 cc, output 1097,5cc
15.45 1 Mengajarkan Terapi Contrast Bath S: Pasien mengatakan akan melakukan Rudi
terapi Contrast Bath
O: Pasien tampak melakukan terapi sesuai
dengan apa yang diajarkan
16.00 1 Memonitor CRT dan turgor kulit S: Pasien mengatakan masih lemes Rudi
O: CRT> 2 detik, kulit kering
17.00 1 Memonitor Balance cairan = input- output Input : Rudi
Infus= 500 cc
Air (makan dan Minum)= 850 cc
Obat injeksi= 10 cc
Air metabolism: 5ccx56,5 kg=282,5 cc
Total input= 1642,5 cc
Output:
Urin= 250 cc
IWL= 15 x BB= 15 x 56,5= 847,5 cc
Total output= 1097,5 cc
Balance cairan= Input-output=1642,5cc-1097,5
cc= (+)545 cc
17.00 1,2,3 Menganjurkan untuk istirahat yang cukup DS: pasien mengatakan masih lemas Rudi
DO: pasien kooperatif
Rabu, 31 1 Memonitor TTV dan BB S: Pasien mengatakan lemes berkurang Rudi
Januari O:
2024 - TD: 140/72 mmHg
14.00 - Nadi: 88x/menit
- RR: 20x/menit
- S: 36,4°C
Universitas Muhammadiyah Gombong
Hari/Tgl/J DX Implementasi Respon Paraf
am
- Sp02: 99%
- BB kering : 55 Kg
BB pre HD: 59 kg
14.05 2 Mengidentifikasi pola napas DS: Pasien mengatakan sesak napas berkurang Rudi
DO: RR: 20x/menit
14.05 3 Mengidentifikasi mual DS: pasien mengatakan mual berkurang Rudi
DO: nafsu makan membaik, kulit tidak pucat
14.00 3 Menganjurkan sering membersihkan mulut DS: pasien mengatakan bersedia Rudi
DO: pasien kooperatif
14.10 2 Memberikan oksigen DS: pasien mengatakan bersedia Rudi
DO: pasien terpasang oksigenasi nasal kanul 4
lpm
14.10 2 Mengatur posisi pasien S : mengatakan lebih nyaman Rudi
O : Posisi tidur ½ duduk (semi fowler)
14.15 1 Memberikan terapi obat S: Pasien bersedia untuk diberi obat, tidak Rudi
memiliki riwayat alergi obat.
O:
- IUFD Asering 12 tpm
- Resfar 1x1 200 mg
- Lansoprazole 1x1 30 mg
- irbesartan 1x1 300 mg
- Etabion 2x1
Cilactan 2x1
14.45 1 Monitor tanda hypervolemia S: pasien mengatkan kedua kakinya bengkak Rudi
O: Kaki kanan dan kiri tampak bengkak pitting
oedem +1
15.00 1 Memonitor input dan output S: Pasien mengatakan minum air putih hanya Rudi
setengah gelas kecil
O: Input 1530 cc, output 1310 cc
15.45 1 Mengajarkan Terapi Contrast Bath S: Pasien mengatakan akan melakukan Rudi
Universitas Muhammadiyah Gombong
Hari/Tgl/J DX Implementasi Respon Paraf
am
terapi terapi Contrast Bath
O: Pasien tampak melakukan terapi sesuai
dengan apa yang diajarkan
16.00 1 Memonitor CRT dan turgor kulit S: Pasien mengatakan lemas berkurang Rudi
O: CRT> 2 detik, kulit kering
17.00 1 Memonitor Balance cairan = input- output Input : Rudi
Infus= 500 cc
Air (makan dan Minum)= 750 cc
Obat injeksi= 10 cc
Air metabolism: 5ccx54 kg=270 cc
Total input= 1530 cc
Output:
Urin= 400 cc
Feses=100 cc
IWL= 15 x BB= 15 x 54= 810 cc
Total output= 1310 cc
Balance cairan= Input-output=1755cc-1310
cc= (+)220 cc
17.30 1,2,3 Menganjurkan untuk istirahat yang cukup DS: pasien mengatakan lemas berkurang Rudi
DO: pasien kooperatif
Universitas Muhammadiyah Gombong
2.6 EVALUASI
Rabu, 31 januari 2024
No. Tanggal/ No Dx Evaluasi Paraf
jam
1. Rabu, 31 1 S:
Januari - Pasien mengatakan kedua kaki sudah tidak terlalu bengkak
2024 Rudi
Jam
18.00 O:
- Terlihat pasien berbaring di tempat tidur
- Bengkak pada Kedua kaki menurun
- Terdapat pitting odem 1 mm dengan waktu kembali 3 detik
- Asites menurun
- BB kering : 55 kg
- BB pre : 59 kg
- TTV : TD : 140/72mmHg, N : 88 x/mnt, RR : 20 x/mnt, Spo2 : 99 %
A: masalah hypervolemia teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi:
- Pembatasan cairan dan melaksanakan diit yang dianjurkan
- Terapi contrast bath secara rutin
Universitas Muhammadiyah Gombong
No. Tanggal/ No Dx Evaluasi Paraf
jam
2 Rabu, 31 2 S:
Januari - Pasien mengatakan sesak napas berkurang Rudi
2024
Jam
18.30 O:
- Tidak tampak sesak napas
- RR 20 x/menit
- Spo2 99% dengan oksigen
- CRT > 2 detik
- Akral teraba dingin
A: masalah sesak napas teratasi sebagian
P: Lanjutkan intervensi:
- Pantau status pernapasan
- Manajemen jalan napas
Universitas Muhammadiyah Gombong
No. Tanggal/ No Dx Evaluasi Paraf
jam
3 Rabu, 31 3 S:
Januari - Pasien mengatakan nafsu makan membaik dan mual menurun Rudi
2024
Jam
17.30 O:
- Terlihat menghabiskan makan sesuai porsi
- Sudah tidak tampak mual
- Produksi saliva menurun
A: masalah mual teratasi sebagian
P: Lanjutkan intervensi:
- Berikan makan makanan yang hangat
- Berikan waktu istirahat yang cukup
Universitas Muhammadiyah Gombong
PEMBAHASAN
Chronic Kidney Disease (CKD) adalah keadaan kerusakan ginjal
dimana ginjal mengalami kehilangan fungsi yang progresif dan
irreversibel (Pranowo et al, 2016). Penderita gagal ginjal yang sudah pada
stadium akhir atau end stage renal disease (ESDR) memerlukan terapi
ginjal pengganti yaitu hemodialisis. Jumlah pasien hemodialisis dari tahun
ke tahun semakin meningkat, dan pada tahun 2016 terdapat 25.446 pasien
baru yang menjalani hemodialisis dan 52.835 pasien yang aktif menjalani
hemodialisis (Kemenkes, 2018). Hemodialisis merupakan suatu cara untuk
mengganti fungsi ginjal dengan mengeluarkan produk sisa metabolisme
tubuh, air dan menjaga keseimbangan elektrolit melalui membran
semipermiabel yang disebut dializer (Kallenbach et al. 2015 Dalam
Kamasita, Systriana Esi, 2018). Ketika pasien memulai hemodialisis, maka
saat itulah pasien harus merubah seluruh aspek dalam kehidupannya.
Selain harus mendatangi unit hemodialisis selama 2-3 kali dalam satu
minggu, pasien juga harus konsisten mengkonsumsi obat, memodifikasi
gaya hidup seperti diet makanan, mengatur intake cairan, dan mengukur
balance cairan setiap hari. Masalah lain yang muncul seperti penurunan
hemoglobin juga harus diantisipasi.
Peran perawat terhadap pasien Chronic Kidney Disease (CKD)
yang menjalani hemodialisis rutin juga sangat penting dan dibutuhkan.
Perawat sebagai pemberi pelayanan kesehatan yang paling lama kontak
dengan pasien, juga dengan peran uniknya sebagai petugas yang memberi
pemenuhan kebutuhan bio-psikososio-kultural-spiritual, diharapkan
mampu memberikan motivasi pada pasien agar patuh terhadap anjuran
kesehatan dan rutin menjalani hemodialisis (Syamsiah, 2011). Setiap
pasien CKD atau gagal ginjal harus menjalani terapi hemodialisa selama 3
sampai 5 jam dalam 2 sampai 3 hari dalam satu minggu sehingga pasien
tersebut mengalami masalah rasa haus. Rasa haus itu sendiri adalah
Universitas Muhammadiyah Gombong
keinginan yang disadari terhadap kebutuhan terhadap cairan tubuh, rasa
haus pada pasien CKD juga terjadi akibat dalam masalh cairan merupakan
masalah penting pada saat pasien menjalan terapi hemodialisa. Rasa haus
yang dirasakan oleh pasien yang mengakibatkan pasien tersbut tidak
mematuhi diet cairan sehingga mengakibatkan kelebihan cairan atau
overload cairan dalam tubuh pasien.
Salah satu diagnosa keperawatan pada pasien CKD diantaranya
yaitu hipervolemia dan dilakukan tindakan monitor input dan output serta
membatasi cairan yang masuk pada pasien. Keseimbangan cairan tubuh
dihitung berdasarkan jumlah cairan yang masuk and jumlah cairan yang
keluar. Kebutuhan cairan dapat dihitung dengan menggunakan cara
perhitungan balance cairan. Untuk menghitung IWL dengan rumus
(15xBB/hr). Rumus balance cairan adalah (intake-output). Tindakan ini
dilakukan untuk mengetahui apakah cairan yang dikonsumsi oleh pasien
sudah balance atau tidak (Sari,2016).
Asupan cairan pada pasien GGK dibatasi sesuai dengan hasil
pengukuran kebutuhan cairan pasien. Dengan menggunakan rumus
kebutuhan cairan pada pasien GGK yaitu jumlah urin/ 24 jam ditambah
dengan 500- 700 ml. Pembatasan cairan bertujuan untuk mengurangi
kelebihan cairan, jika tidak dikurangi dapat menjadi edema, hipertensi, dan
hipertrovi ventrikel kiri (Istanti, 2018).
Salah satu cara pasien untuk menurunkan hypervolemia adalah
terapi Contrast Bath. Terapi ini dengan cara merendam kaki sebatas betis
secara bergantian menggunakan air hangat bersuhu 36,6- 43,3°C yang
dilanjutkan dengan air dingin bersuhu 10 – 20 °C (Purwadi et al., 2015).
Manfaat contras bath pada kaki edema yaitu menurunkan tekanan
hidrostatik intra vena agar cairan yang berada di intersitial akan kembali
ke vena. Selain itu, efek fisiologis yang dihasilkan dari terapi ini yaitu
meningkatkan aliran darah dan oksigenasi jaringan untuk mempercepat
penyembuhan dan meningkatkan fungsi anggota tubuh (Shadgan et al.,
2018). Proses Contrast Bath adalah salah satu bentuk hidroterapi yang
Universitas Muhammadiyah Gombong
melibatkan perendaman berulang kali anggota tubuh ke dalam air panas
dan dingin. Terapi ini dilakukan pada kecepatan, suhu, dan waktu tertentu.
Peralihan berulang antara kedua suhu tersebut dapat menyebabkan
penyempitan dan pelebaran pembuluh darah, yang menyebabkan efek
pompa. Hal ini diyakini oleh beberapa orang dapat meningkatkan sirkulasi
ke jaringan di seluruh tubuh (Mustofa et al., 2019)
Pada pasien CKD sangat memerlukan dukungan keluarga, karena
tanpa dukungan keluarga, pengetahuan dan sikap pasien dia tidak akan
mampu mematuhi program diet yang sudah ditentukan (Riyanti, 2017).
Diet rendah natrium bertujuan untuk membantu menghilangkan retensi
garam atau air dalam jaringan tubuh dan menurunkan tekanan darah.
Garam mengandung unsur natrium yang bersifat menahan air, serta
konsumsi garam dapat menyebabkan tumpukan cairan dalam tubuh dan
akan mengurangi rasa haus (Colvi, 2015)
Asuhan keperawatan yang dilakukan terhadap pasien Ny.M
dilakukan selama 3 hari dengan diagnosa medis CKD didapatkan
diagnosa keperawatan utama yang muncul yaitu hipervolemia b.d
Gangguan mekanisme regulasi. Setelah dilakukan tindakan Contrast Bath
selama tiga hari berturut-turut, dapat diketahui bahwa hypervolemia
pasien menurun, dengan tidak ada pembengkakan di kedua kaki
Pada pasien CKD sangat memerlukan dukungan keluarga, karena
tanpa dukungan keluarga, pengetahuan dan sikap pasien dia tidak akan
mampu mematuhi program diet yang sudah ditentukan (Riyanti, 2017).
Diet rendah natrium bertujuan untuk membantu menghilangkan retensi
garam atau air dalam jaringan tubuh dan menurunkan tekanan darah.
Garam mengandung unsur natrium yang bersifat menahan air, serta
konsumsi garam dapat menyebabkan tumpukan cairan dalam tubuh dan
akan mengurangi rasa haus (Colvi, 2015)
Asuhan keperawatan yang dilakukan terhadap pasien Ny. M di
ruang Al Mukmin dilakukan selama 3 hari dengan diagnosa medis CKD
didapatkan diagnosa keperawatan utama yang muncul yaitu hipervolemia
Universitas Muhammadiyah Gombong
b.d Gangguan mekanisme regulasi. Setelah dilakukan tindakan Contrast
Bath selama tiga hari berturut-turut, dapat diketahui bahwa hypervolemia
pasien menurun, dengan edema derajat I
Universitas Muhammadiyah Gombong
DAFTAR PUSTAKA
Astuti, P., Herawati, T., & Kariasa, I. made. (2018). Faktor-faktor yang
Berhubungan Dengan Self Management pada Pasien Hemodialisis di
Kota Bekasi. Health Care Nursing Journal, 1.
Fajri, A. N., Sulastri, & Kristini, P. (2020). Pengaruh Terapi Ice Cube ’ S Sebagai
Evidance Based Nursing Untuk Mengurangi Rasa Haus Pada Pasien.
Prosiding Seminar Nasional Keperawatan Universitas Muhammadiyah
Surakarta, 1(3), 11– 15.
Isroin, L. (2016). Manajemen Cairan Pada Pasien Hemodialisis Untuk
Meningkatkan Kualitas Hidup. Journal UMY, 1–138.
SDKI. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Edisi 1
SIKI. (2016). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Edisi 1
SLKI. (2016). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Edisi 1
Srianti, N. M., Sukmandari, N. M. A., Putu, S., Ayu, A., Dewi, P., Badung, R. S.
D. M., Studi, P., Ners, P., Bina, S., & Bali, U. (2021). Perbedaan
Tekanan Darah. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, Volume 4 No 1,
Februari 2022 Hal 173 – 184
Universitas Muhammadiyah Gombong