individu LGBT [ Lehman & Thornwel ].
Tingkat penolakan, dan penerimaan terhadap
LGBT
sangat tergantung pada faktor faktor di
atas.
LGBT di Indonesia masih merupakan hal yang tabu khususnya bagi kelompok
yang pemikirannya didasari agama. Sebagian besar menghujat perilaku dan orientasi
seksual kelompok LGBT ini. MUI bahkan sudah mengeluarkan fatwa yang menolak praktek
hubungan badan dan perkawinan sesama jenis.
Ada juga sebagian masyarakat bersikap netral, menerima keadaan LGBT namun
tidak mendukung LGBT melakukan kegiatan secara terbuka. Kelompok ini beranggapan
semua orang mempunyai hak yang sama untuk hidup, memenuhi hak hak sebagai
manusia namun tetap mempertimbangkan konteks lokal. Sedangkan kelompok yang
pendukung adalah kelompok LGBT, para aktivist dan penggerak kesetaraan yang
menginginkan LGBT juga punya hak yang sama tanpa batasan dalam konteks apapun,
termasuk dalam perkawinan sejenis.
2.3. Praktek dan Sikap Terhadap Kelompok
LGBT
Pada umumnya kelompok LGBT yang terbuka di Indonesia masih mengalami banyak
kekerasan dan diskriminasi dalam kesempatan kerja dan tempat tinggal, pendidikan,
kesehatan dan kesejahteraan [UNDP,2014]. LGBT sulit mengakses pekerjaan, terutama
pekerjaan di sektor formal, karena banyak pemberi kerja yang homophobic dan karena
lingkungan (pada umumnya) tidak ramah terhadap kaum LGBT. Sementara, mereka yang
berhasil mendapatkan pekerjaan juga kerap mengalami perlakuan diskriminatif seperti
dihina, dijauhi, diancam, dan bahkan mengalami kekerasan secara fisik (ILO,2014].
Dalam dunia kerja, kelompok LGBT yang masih tertutup, dalam situasi tertentu masih
dapat masuk ke dunia kerja tanpa diskriminasi berarti, hal sebaliknya terjadi pada
kelompok yang terbuka. Oleh karena itu LGBT yang terbuka lebih banyak
mengembangkan diri pada situasi pekerjaan yang tidak begitu terikat dengan norma-
norma seperti menjadi wirausaha mandiri. Sedangkan kelompok transgender (waria)
adalah kelompok yang paling banyak mendapatkan diskriminasi karena penampilannya
yang berbeda. Kelompok ini banyak mengembangkan diri pada sektor –sektor informal
seperti salon, industri kreatif, hiburan dan beberapa diantaranya masuk dalam dunia
prostitusi.
Kelompok LGBT umumya mengharapkan perlakuan yang lebih seimbang dan adil
dari Pemerintah, mereka ingin orientasi seksual dan perilaku seksual tidak menjadi
hambatan bagi mereka dalam bermasyarakat, berkarya, berprestasi dan berkontribusi
dalam pembangunan. Masyarakat sendiri masih memiliki stigma terkait dengan LGBT,
khususnya akibat paparan media yang berlebihan dan tindak laku LGBT itu sendiri
yang mendatangkan kekhwatiran, seperti kasus HIV AIDS, dan kasus kejahatan seksual
pada anak, ditambah lagi berlawanan
dengan pemikiran yang dilandasi
agama.