0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan124 halaman

Senam Anti Hipertensi untuk Lansia

Dokumen ini membahas tentang hipertensi sebagai masalah kesehatan utama yang disebabkan oleh penuaan dan faktor risiko lainnya. Senam hipertensi diusulkan sebagai terapi untuk menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi, dengan bukti bahwa aktivitas fisik dapat meningkatkan kesehatan jantung dan sirkulasi. Penelitian menunjukkan bahwa senam hipertensi efektif dalam menurunkan tekanan darah, terutama pada lansia di UPT Puskesmas Amplas Medan.

Diunggah oleh

yadi siregar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan124 halaman

Senam Anti Hipertensi untuk Lansia

Dokumen ini membahas tentang hipertensi sebagai masalah kesehatan utama yang disebabkan oleh penuaan dan faktor risiko lainnya. Senam hipertensi diusulkan sebagai terapi untuk menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi, dengan bukti bahwa aktivitas fisik dapat meningkatkan kesehatan jantung dan sirkulasi. Penelitian menunjukkan bahwa senam hipertensi efektif dalam menurunkan tekanan darah, terutama pada lansia di UPT Puskesmas Amplas Medan.

Diunggah oleh

yadi siregar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penuaan adalah penyebab utama hipertensi, yang disebabkan oleh perubahan

fisiologis yang melemahkan kekuatan pemompaan jantung dan membuat arteri besar

menjadi kaku dan tidak mampu melebar saat jantung memompa dara h melalui arteri

tersebut. Olah raga mempunyai efek menurunkan tekanan darah pada penderita

hipertensi akibat gerakannya (Yesi Arisandi dan Mardiah, 2022).

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik dengan

konsisten diatas 140/90 mmHg. Diagnosis hipertensi tidak berdasarkan peningkatan

tekanan darah yang hanya sekali. Tekanan darah harus diukur dalam posisi duduk dan

berbaring (Surasono,2005)

Peningkatan tekanan darah pada pembuluh darah yang menyebabkan

kenaikan tekanan darah sistolik sebesar 140 mmHg dan tekanan darah diastolik

sebesar 90 mmHg disebut dengan hipertensi. Menurut perkiraan, hipertensi adalah

penyebab utama kematian di seluruh dunia, merenggut nyawa sekitar 8 miliar orang

setiap tahunnya (Zatul Haefa, Hamdana, dan Amirullah 2019).

Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2019, salah satu

penyebab kematian terbesar di Dunia adalah Hipertensi. Hipertensi membunuh

sekitar 8 miliar orang di seluruh dunia setiap tahun, termasuk hampir 1,5 juta orang

1
Asia Timur Selatan. Diperkirakan 1,28 miliar orang dewasa berusia 30-79 tahun di

seluruh dunia menderita hipertensi, sebagian besar ( dua per tiga) ttinggal di negara

berpenghasilan rendah dan menengah. Diperkirakan 46% orang dewasa dengan

hipertensi tidak menyadari bahwa mereka memiliki kondisi tersebut. Kurang dari

separu orang dewasa (42%) dengan hipertensi di diagnosis dan di obati. Sekitar 1 dari

5 orang dewasa (21%) dengan hipertensi dapat mengendalikannya. Menurut

Kemenkes RI (2018), kasus hipertensi di Indonesia terjadi sebanyak 8,4% dari

seluruh jumlah penduduk Indonesia dan kasus hipertensi tertinggi berada di Provinsi

Sulawesi Utara dan dengan 13,2% dan terendah berada di Provinsi Papua dengan

4,4%. Prevalensi hipertensi di Provinsi Sumatera Utara mencapai 6,7% dari jumlah

penduduk di Sumatera Utara mencapai 6,7% dari jumlah penduduk di Sumatera

Utara. Jumlah penduduk Sumatera Utara yang menderita hipertensi mencapai 12,42j t

jiwa. Tersebar di beberapa Kabupaten Sumatera Utara. Penderita hipertensi di UPT

Puskesmas Amplas selama tahun 2022 sebanyak 1.413 orang (UPT. Puskesmas

Amplas Medan, 2022).

Faktor penyebab terjadinya hipertensi diantaranya umur, jenis kelamin, stress,

merokok, kurang aktivitas fisik, obesitas, mengkonsumsi garam berlebihan, dan

mengkonsumsi alcohol (Rahajeng, 2013 dalam Ahmad et al., 2021). Penderita

hipertensi biasanya mengalami manifestasi klinis seperti mengalami nyeri kepala

kadang-kadang disertai mual dan muntah akibat peningkatan tekanan darah,

penglihatan menjadi kabur akibat kerusakan retina, dan gejala lain yang sering

2
ditemukan adalah epitaksis, mudah marah, suka tidur, mata berkunang-kunang 3

telinga berdengung dan rasa berat di tengkuk. Jika penyakit hipertensi dibiarkan akan

menyebabkan masalah lebih lanjut seperti penyakit jantung, dan gagal ginjal

(Nuraini, 2015). Terjadinya hipertensi juga disebabkan karena ketidakpatuhan pasien

yang menyebabkan kegagalan terapi, hal tersebut bisa berdampak pada memburuknya

kesehatan pasienyang menyebabkan teradinya komplikasi serta kerusakan pada organ

tubuh lainnya (Ahmad et al, 2021).

Tanda dan gejala hipertensi kebanyakan penderita hipertensi tidak merasakan

tanda dan gejala apapun. Tekanan darah yang sangat tinggi dapat menyebabkan sakit

kepala, penglihatan kabur, nyeri dada dan gejala lainnya. (...)

salah satu yang dapat menurunkan hipertensi adalah melakukan terapi senam

anti hipertensi untuk menurunkan tekanan darah pada Tn.T

Senam hipertensi menurut Totok Hernawan dan Fahrun Nur Rosyid (2017)

merupakan salah satu jenis aktivitas fisik yang berusaha meningkatkan aliran oksigen

dan darah ke rangka dan otot aktif, khususnya otot jantung. Olahraga menyebabkan

peningkatan denyut jantung, yang pada gilirannya menyebabkan peningkatan curah

jantung dan volum e sekuncup karena meningkatkan kebutuhan sel akan oksigen

untuk proses penciptaan energi. Akibatnya, tekanan darah akan meningkat. Setelah

istirahat 30 hingga 120 menit, pembuluh darah akan melebar sehingga menyebabkan

penurunan aliran darah sebentar. Setelahnya, tekanan darah akan kembali normal

seperti sebelum beraktivitas. Berolahraga secara konsisten dan teratur akan membuat

3
pembuluh darah Anda lebih elastis dan penurunan tekanan darah bertahan lebih lama.

Aktivitas fisik memberikan efek relaksasi pada pembuluh darah sehingga

menurunkan tekanan darah setelah berolahraga. Oleh karena itu, tekanan dara h akan

menurun dengan melebarkan pembuluh darah.

Kelebihan yang dimiliki senam hipertensi yaitu menyatukan beberapa unsur

relaksasi, unsur refleksi, unsur musik, dan aerobik. Pada unsur relaksasi pada saat

pemanasan dan pendinginan menggunakan cara slow deep breathing (nafas dalam),

sehingga tubuh aka n menjadi rileks, dalam senam hipertensi terdapat gerakan yang

menstimulasi titik-titik refleksi sehingga unsur refleksi dapat memperlancar oksgen,

nutrisi dan peredaran darah, unsur musik sat melakukan senam hipertensi tentunya

akan di iringi oleh musik yang dimana akan musik dapat membuat pikiran lebih

tenang dan jiwa menjadi gembira, sedangkan unsur aerobik dapat membuat tubuh

mengeluarkan keringat dan membakar lemak (Edi sulistianto et al, 2021)

Pengaruh senam untuk menurunkan Tingkat hipertensi sama dengan

penelitian yang dilakukan oleh Margiyati adanya efek dari senam lansia terhadap

penurunan tekanan darah pada lansia pasien hipertensi, 91,67% responden mengalami

penurunan rata-rata tekanan darah sistolik 10,69 mmHg dan diastolic 6,11 mmHg.

Berdasarkan hasil penelitian Mutia Agustiani Moonti dkk, (2022) dalam jurnal

yang berjudul Senam Hipertensi Untuk Penderita Hipertensi, berdasarkan hasil jurnal

oleh peneliti didapatkan hasil bahwa Hasil penelitian menunjukkan rata-rata tekanan

darah sistolik sebelum senam hipertensi lansia 151.86 mmHg, diastolik 95,04 mmHg

4
dan rata-rata tekanan darah sistolik sesudah senam hipertensi lansia 91,20 mmHg,

diastolik 91,18 mmHg. Senam hipertensi lansia berpengaruh terhadap tekanan darah

lansia hipertensi. Hal ini sejalan dengan penelitian Siti Atiqa dkk, (2023) dalam jurnal

yang berjudul Pengaruh Senam Hipertensi pada Lansia berdasarkan hasil penelitian

menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan dilakukan Senam Hipertensi terhadap

penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi. Berdasarkan penelitian yang

dilakukan oleh wahyuni dkk, (2023) dengan judul jurnal Pengaruh Senam Hipertensi

terhadap tekanan darah lansia penderita hipertensi bahwa senam hipertensi efektif

dilakukan pada pasien hipertensi.

Penatalaksaan hipertensi dapat dilakukan dengan beberapa cara diantaranya

adalah melakukan tindakan promotif yaitu memberikan pendidikan kesehatan dengan

melakukan penyuluhan tentang pola hidup yang sehat untuk mengurangi resiko

kardiovaskuler, yang kedua tindakan preventif yaitu pencegahan dengan cara

membatasi konsumsi garam agar dapat membantu terapi farmakologi menurunkan

tekanan darah melakukan aktivitas fisik dengan melakukan olahraga secara teratur

yang bertujuan untuk membuat aliran darah lancer dan aliran darah menjadi lebih

terkendali, yang ketiga kuratif yaitu dengan melakukan terapi farmakologi sesuai

dengan resep dokter seperti beta blokers, captopril, amlodipin dan lain-lain. Yang ke

empat rehabilitative yaitu seorang perawat juga dapat memberikan edukasi kesehatan

kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya penggunaan obat untuk mencegah

5
terjadinya komplikasi serta melakukan kontrol rutin yang bertujuan untuk

mengantisipasi terjadinya tekanan darah tinggi (Ahmad et al., 2021)

Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis tertarik melakukan

implementasi terapi senam anti hipertensi pada pasien penderita hipertensi dalam

menurunkan tekanan darah.

Ruang lingkup

A. Tujuan karya tulis ilmiah

1. Tujuan Umum

Mengimplementasikan pemberian senam anti hipertensi sebagai Upaya

menstabilkan tekanan darah pada lansia di UPT Puskesmas Amplas Medan.

2. Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:a

Mampu melakukan pengkajian pada implementasi keperawatan

pemberian senam anti hipertensi sebagai upaya menstabilkan

tekanan darah pada lansia di UPT Puskesmas Amplas Medan.

1. Mampu melakukan pengkajian keperawatan keluarga Dengan

Terapi senam anti hipertensi Pada Tn.T Dengan Hipertensi Di

Wilayah Kerja UPT Puskesmas Amplas Medan.

6
2. Mampu menegakkan diagnosa keperawatan keluarga Dengan

Terapi senam anti hiprtensi Pada Tn.T Dengan Hipertensi Di

Wilayah Kerja UPT Puskesmas Amplas Medan.

3. Menyusun perencanaan keperawatan keluarga Dengan Terapi

senam anti hipertensi Pada Tn.T Dengan Hipertensi Di Wilayah

Kerja UPT Puskesmas Amplas Medan.

4. C. Batasan Masalah

Berdasarkan penelitian (Mutia Agustina Moonti.,2022) yang berjudul

Senam Hipertensi Untuk Penderita Hipertensi, Berdasarkan hasil

penelitian maka disimpulkan bahwa senam hipertensi lansia

berpengaruh terhadap tekanan darah lansia hipertensi. Maka rumusan

masalah yaitu Pemberian senam anti hipertensi untuk lansia Pada Tn.

T Dengan Hipertensi Di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Amplas

Medan.

7
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Pengertian Keluarga

Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan

keterikatan aturan dan emosional dan individu mempunyai peran masing- masing

yang merupakan bagian dari keluarga (friedman, 2010).(Buku Asuhan Keperawatan

Keluarga)

2. Fungsi Keluarga

Secara umum fungsi keluarga (Friedman, 2010) adalah sebagai berikut:

1. Fungsi afektif adalah fungsi keluarga yang utama untuk mengajarkan segala

sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga berhubungan dengan orang

lain di luar rumah.

2. Fungsi sosialisasi dan tempat bersosialisasi adalah fungsi mengembangkan

dan tempat melatih anak untuk berkehidupan social sebelum meninggalkan

rumah untuk berhubungan dengan orang lain di luar rumah

8
3. Fungsi reproduksi adalah fungsi untuk mempertahankan generasi dan

menjaga kelangsungan keluarga.

4. Fungsi ekonomi yaitu keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan

keluarga secara ekonomi dan tempat untuk mengembangkan kemampuan

individu meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

5. Fungsi keperawatan atau pemeliharaan kesehatan yaitu fungsi untuk

memeprtahankan keadaan kesehatan anggota keluarga agar tetap memiliki

produktifitas tinggi. Ini dikembangkan menjadi tugas di bidang kesehatan.

3. Konsep Peran Keluarga

Peran keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat,

kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu. Peran

individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga,

kelompok, dan masyarakat (Friedman, 2010)

Menurut Friedman (2010) peran keluarga dapat diklasifikasi menjadi dua

kategori, yaitu peran formal dan peran informal. Peran formal adalah peran eksplisit

yang terkadung dalam struktur peran keluarga. Peran informal bersifat tidak tampak

dan diharapkan memenuhi kebutuhan emosional keluarga dan memelihara

keseimbangan keluarga. Berbagai peranan yang terdapat dalam keluaraga adalah:

1. Peran forma

9
Peran parental dan pernikahan, diidetifikasi menjadi delapan peran yaitu peran

sebagai provider (penyedia), peran sebagai pengatur rumah tangga, peran

perawatan anak, peran sosialisasi anak, peran rekreasi, peran persaudaraan

(kindship), peran terapeutik (memenuhi kebutuhan afektif), dan peran seksual.

2. Peran informal

Terdapat berbagai peran informal yaitu peran pendorong, pengharmonis,

insiator-kontributor, pendamai, pioner keluarga, penghibur, pengasuh keluarga, dan

perantara keluarga.

Sedangkan Effendi (2002) membagi peran keluarga sebagai berikut:

1. Peranan ayah.

Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anaknya, berperan sebagai pencari

nafkah, pendidik, pelindung, dan pemberian rasa aman, sebagai kepala

keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota

keluarga masyarakat dari lingkungannya.

2. Peranan ibu

Ibu sebagai istri dari suami dan anak-anaknya. Mempunyai peranan untuk

mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-anaknya,

pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta

10
sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat

berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.

3. Peranan anak

Anak-anaknya melaksanakan peranan psiko-sosial sesuai dengan tingkat

perkembangan baik fisik, sosial, dan spiritual.

4. Peranan Keluarga Dalam Memberikan Perawatan Kesehatan Keluarga

Keluarga berperan dalam memberikan perawatan kesehatan yang terapeutik

kepada anggota keluarga yang menderita suatu penyakit. Perawatan adalah suatu

usaha yang berdasarkan kemanusiaan untuk meningkatkan. pertumbuhan dan

perkembangan bagi terwujudnya manusia yang sehat seutuhnya (Depkes RI, 2008).

Penelitian dari Prasetyawan (2008) secara umum, penderita. yang mendapatkan

perhatian dan pertolongan yang mereka butuhkan dari seseorang atau keluarga

biasanya cenderung lebih mudah mengikuti nasehat medis daripada penderita yang

kurang mendapatkan dukungan sosial (peran keluarga). Menurut La, Groca (1998)

yang dikutip oleh Prasetyawan (2008) bahwa keluarga memainkan peranan yang

sangat penting dalam pengelolaan medis pada salah satu anggota keluarga yang sakit.

1 . Tujuan perwatan individu dalam konteks keluarga

11
1) Teratasinya masalah yang dihadapi individu yang ada kaitannya dengan

latar belakang keluarganya.

2) Teratasinya masalah yang dihadapi individu dengan dukungan, bantuan

atau pemeranan keluarga.

3) Terlaksananya pemberian asuhan keperawatan yang paripurna kepada

sasaran individu dari keluarganya, sebagai tindak lanjut pelayanan rawat inap

maupun jalan.

4) Meningkatkan kesadaran keluarga dan anggota keluarganya yang belum

mencari pelayanan untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan dasar yang

tersedia.

5) Meningkatkan kemampuan individu dan keluarganya dalam mengatasi

masalah kesehatannya secara mandiri.

2. Tugas keluarga di dalam menanggulangi masalah kesehatan:

Menurut Bailon dan Maglaya (1978) yang dikutip Efendi, F & Makhfudli

(2009) secara umum keluarga mampu melaksanakan lima tugas kesehatan

keluarga, yaitu:

1) Mengenal masalah kesehatan keluarga

Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan karena

tanpa kesehatan segala sesuatu tidak akan berartidan karena kesehatnlah

12
kadang seluruh kekuatan sumber daya dan dan keluarga habis. Orang tua

perlu mengenal keadaan kesehatan dan perubahan- perubahan yang dialami

keluarga. Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara

tidak langsung menjadi perhatian keluarga atau orang tua.

2) Memutuskan tindakan kesehatn yang tepat bagi keluarga Tugas ini

merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang tepat

sesuai keadaan keluarga, dengan pertimbangan siapa diantara keluarga yang

memepunyai kramampuan memeutuskan untuk menentukan tindakan

keluarga.

3) Memberi perawatan kepada anggota keluarga yang sakit Ketika

memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang sakit, keluarga harus

mengetahui hal-hal sebagai berikut:

(1) Keadaan penyakit

(2) Sifat dan perkembangan perawat yang diperlukan untuk perawatan

(3) Keberadaan fasilitas yang diperlukan untuk perawatan

(4) Sumber-sumber yang ada dalam keluarga

(5) Sikap keluarga terhadap yang skait

4) Memodifikasi lingkungan rumah yang sehat

13
Ketika memodifikasi lingkungan rumah yang sehat kepada anggota keluarga

yang sakit, keluarga harus mengetahui hal-hal sebagai berikut:

(1) Sumber-sumber keluarga yang dimiliki

(2) Manfaat pemeliharaan lingkungan

(3) Pentingnya hiegiene sanitasi

(4) Upaya pencegahan penyakit

(5) Sikap atau pandangan keluarga

(6) Kekeompakan antara anggota keluarga

5) Memanfaatkan fasilitas Pelayanan Kesehatan Masyarakat Ketika merujuk

anggota keluarga ke fasilitas kesehatan, keluarga harus mengetahui hal-hal

berikut ini:

(1) Keberadaan fasilitas kesehatan

(2) Keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh dari fasilitas kesehatan

(3) Tingkat kepercayaan keluarga terhadap petugas dan fasilitas kesehatan.

(4) Pengalaman yang kuranmg baik terhadap petugas dan fasilitas kesehatan

(5) Fasilitas kesehatan yang ada terjangkau oleh keluarga

14
B. Konsep Teori Hipertensi

1. Defenisi Hipertensi

Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular yang paling umum dan

banyak diderita oleh masyarakat salah satunya orang dewasa. Penyakit

hipertensi yang diderita dapat menjadi penyebab seseorang mengalami

kematian dengan keluhan dan tanpa keluhan karena penyakit ini sering

disebut sebagai silent killer. Seorang yang menderita dan terdiagnosis

mengalami hipertensi atau tekanan darah tinggi bila angka sistol mencapai ≥

140 mmHg dan diastole ≥ 90 mmHg. Hipertensi dapat dicegah dan dikontrol

nilainya apabila penderita menjalankan terapi farmakologis maupun

nonfarmakologis. Salah satu terapi farmakologis dengan meminum obat

penurun tekanan darah dan terapi nonfarmakologisnya dapat melakukan

aktivitas fisik. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan

informasi dan melakukan latihan nonfarmakologis untuk penderita hipertensi

melalui senam hipertensi sebagai salah satu upaya untuk mengatasi masalah

hipertensi pada orang dewasa. Metode pengabdian masyarakat ini dilakukan

dengan memberikan edukasi kesehatan dan dilanjut dengan melakukan

demonstrasi senam anti hipertensi diiringi dengan musik. Hasil yang dicapai

menunjukan bahwa orang dewasa yang mengalami hipertensi setelah

dilakukan pendidikan kesehatan dan dilakukannya senam anti hipertensi,

menambah wawasan baik dari pengetahuan, sikap maupun keterampilan.

15
Kesimpulan bahwa pendidikan kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan

sasaran dan kegiatan senam yang dilakukan dapat dilakukan secara rutin

untuk mencegah terjadinya peningkatan tekanan darah (Chandra Tri

Wahyudi,2022)

Hipertensi atau tekanan darah tinggi ialah kondisi dimana terjadi

ketika tekanan darah seseorang diatas nilai normal. Tekanan darah seseorang

dibagi menjadi tekanan sistolik yaitu darah yang keluar dari jantung untuk

segera diedarkan ke seluruh tubuh dan tekanan diastolik merupakan darah

yang masuk ke jantung dalam keadaan istirahat. Tekanan darah yang normal

ialah tekanan darah yang memiliki angka sistol≤ 140 mmHg serta diastol≤ 90

mmHg. Pengukuran tekanan darah ini dapat dilakukan dengan menggunakan

alat sphygnomanometer yang dapat dibantu dengan stetoskop serta digital

sesuai dengan standar British Society of Hipertension (Kemenkes RI, 2019).

2. Etiologi

Pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab spesifik.

Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan curah jantung atau peningkatan

tekanan perifer. Akan tetapi, ada beberapa faktor yang mempengaruhi

terjadinya hipertensi, Menurut: (Aspiani, 2021) adalah:

16
1. Usia, pengidap hipertensi yang berusia lebih dari 35 tahun meningkatkan

insidensi penyakit arteri dan kematian premature

2. Jenis kelamin, insidens terjadi hipertensi pada pria pada umumnya lebih

tinggi dibandingkan dengan wanita. Namun, terjadinya hipertensi pada wanita

mulai meningkat pada usia paru baya, sehingga pada usia diatas 65 tahun

insidens pada wanita lebih tinggi

3. Genetik, suatu kondisi yang terjadi kar ena adanya faktor keturunan dari

keluarga

4. Kebiasaan hidup seperti:

a. Mengonsumsi garam, berlebihan (lebih dari 30 gr) dapat

menyebabkan peningkatan tekanan darah dengan cepat pada beberapa orang,

khususnya bagi penderita diabetes, penderita hipertensi ringan,dan lansia

b. Obesitas, terkait dengan tingkat insulin yang tinggi dapat

mengakibatkan tekanan darah meningkat

c. Stres, karena kondisi emosi yang tidak stabil juga memicu

terjadinya tekanan darah tinggi

d. Kebiasaan merokok, dapat meningkatkan resiko diabetes, serangan

jantung, dan stroke. Oleh karena itu kebiasaan merokok yang dianjurkan

17
dengan stres yang terus menerus akan memicu penyakit yang berhubungan

dengan jantung dan darah

e. Mengonsumsi alkohol yang berlebihan juga dapat menyebabkan

tekanan darah tingggi Pada lanjut usia penyebab hipertensi disebabkan oleh

terjadinya perubahan pada elastisitas dinding aorta menurun, katup jantung

menebal dan menjadi kaku, kemampuan jantung memompa darah, kehilangan

elastisitas pembuluhm darah, dan meningkatkan resistensi pembuluh dar ah

perifer (Aspiani, 2021).

3. Manifestasi Klinis

Kontraksi jantung mengakibatkan gaya tekan terhadap darah yang

kemudian disebut tekanan darah. Tekanan darah diartikan sebagai kekutatan

yang dihasilkan oleh darah terhadap setiap satuan luas dinding pembuluh dan

hampir selalu dinyatakan dalam milimeter air raksa (mmHg).

Faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah atrial sistemik

1. Hemodinamika (curah jantung resistensi vascular)

2. System saraf simpatis

3. System renin angiotensin aldosterone

4. Fungsi ginjal (keseimbangan elektrokit)

5. Faktor hormonal (hormon korteks adrenal/vasopressin/tiroid)

18
6. Faktor penghambat (knin-kalikrein/prostaglandin/histamin)

Manifestasi klinis dari hipertensi menurut (sukandar,2019). Antara lain

penderita hipertensi primer yang sederhana pada umumnya tidak disertai

gejala dan penderita hipertensi sekunder dapat disertai gejala suatu

penyakit.

Bila timbul gejala, penyakit ini sudah lanjut. Gejala klasik yaitu sakit

kepala, epistaksis, pusing dan tinnitus yang diduga berhubungan dengan

naiknya tekanan darah, ternyata sama seringnya dengan yang terdapat

pada yang tidak darah tinggi. Namun gejala sakit kepala sewaktu bangun

tidur, mata kabur, depresi, dan nocturia, ternyata meningkatkan pada

hipertensi yang tidak diobati. Empat sekuele utama akibat hipertensi

adalah stroke, infark miokard, gagal ginjal dan ensefalopati ( Tambayong,

2020)

Untuk mengetahui keberadaan hipertensi, pengukuran tekanan darah

harus dilakukan dalam keadaan duduk rileks atau berbaring selama 5

menit. Apabila hasil pengukuran menunjukkan angka 140/90 mmHg atau

lebih, hal ini dapat diartikan sebagai keberadaan hipertensi, terapi

diagnostik tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan satu kali pengukuran

saja. Jika pada pengukuran pertama hasilnya tinggi, maka tekanan darah

diukur Kembali sebanyak 2 kali pada 2 hari berikutnya untuk meyakinkan

adanya hipertensi.

19
Pada dasarnya dugaan kuat seseorang menderita hipertensi terjadi

apabila terdapat hal-hal berikut:

1. Riwayat hipertensi dalam keluarga

Apabila kedua orangtua mengidap hipertensi, kemungkinan

besar yang bersangkutan akan mengidap hipertensi (primer). Selain itu

periksalah juga apakah dalam keluarga ada yang mengalami penyakit

jantung, stroke, penyakit ginjal, kencing manis, atau kolesterol tinggi.

2. Umur penderita

Hipertensi primer biasanya muncul pada mereka yang berumur

antara 25-45 tahun, hanya sekitar 20% saja yang mengalami hipertensi

pada usia dibawah 25 tahun atau diatas 45 tahun.

3. Data faktor resiko

Ada tidak nya faktor-faktor hipertensi, seperti:perokok, suka

mengonsumsi alcohol, obesitas, setres, dan kebiasaan mengonsumsi

makanan asin.

4. Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang lain

tidak sesuai dilakukan, kecuali jika anda mencurigai keberadaan

hipertensi sekunder. Pemeriksaan tersebut meliputi:

a) Pemeriksaan urine

20
Dilakukan untuk mengetahui keberadaan protein dan

sel sel darah merah (eritrosit) yang menandai kerusakan

ginjal. Kadar gula untuk mendeteksi kencing manis

juga sebaiknya diperiksa.

b) Pemeriksaan darah

Dilakukan umtuk mengetahui fungsi ginjal, termasuk

mengukur kadar ureum dan kreatinin. Kadar kalium

dalam urine akan tinggi jika terdapat penyakit

aldosteronisme primer, karna tumor kortaks kelenjar

adrenal yang dapat memicu hipertensi. Kadar kalsium

yang tinggi berhubungan dengan hipertiroidisme.

Melalui pemeriksaan ini, kadar gula darah dan kolestrol

juga di ukur.

Berikut adalah nilsi normal beberapa pemeriksaan

dalam mg/dl: a. ureum: 15-50. b. kreatinin: 0,6-1,3c.

asam urat: 3,4-7 (pria) 2,4-5,7 (Wanita)b. glukosa

sewaktu: kurang dari 150e. glukosa puasa: 70-100f.

glukosa 2 jam setelah puasa: kurang dari 150g.

kolestrol total; 140-200h. kolesterol HDL: diatas 45i.

kolestrol LDL dan trikliserida: kurang dari 150j.

kalium: 3,3-5,1 mEq/Lk. Natrium: 135-155 mEq/LI.

Kalsium: 8,8-10,2 mEq/L.

21
5. Pemeriksaan lain

Ada berbagai jenis pemeriksaan lain yang dapat dilakukan

untuk mendukung diagnosis hipertensi. Pemeriksaan foto dada dan

rekam jantung (EKG) dilakukan untuk mengetahui lamanya menderita

hipertensi dan komplikasinya terhadap jantung (sehingga dapat

menilai adanya kelainan jantung juga). Pemeriksaan Ultrasonografi

(USG) dilakukan untuk menilai apakah ada kelainan ginjal, anuerisma

(pelebaran arteri) pada bagian perut, tumor di kelenjar

[Link] Resonance Angiography (MRA) dilakukan untuk

melihat kelancaran aliran darah.

6. Pemeriksaan komplikasi

Setelah diagnosis ditegakkan, dilakukan pemeriksaan terhadap organ

utama, terutama pembuluh darah, jantung, otak, dan ginjal, karena

komplikasi sering terjadi pada organ-organ tersebut. Komplikasi

hipertensi terjadi karena peningkatan tekanan darah yang merusak

organ-organ target. Untuk mengetahui ada tidaknya kompikasi maka

sebaiknya anda melakukan berbagai pemeriksaan di bawah ini, yaitu:

a. Pemeriksaan mata

Untuk mengetahui kelainan organ atau pembuluh darah,

biasanya dilakukan pemeriksaan pada pembuluh darah retina

22
(selaput peka cahaya pada permukaan dalam bagian belakang

mata), yang merupakan satu-satunya bagian tubuh yang secara

langsung bisa menunjukkan adanya efek dari hipertensi

terhadap arteriolar (pembuluh darah kecil) Ini berdasarkan

anggapan bahwa perubahan yang terjadi di dalam retina mirip

dengan perubahan yang terjadi di dalam pembuluh darah

lainnya di dalam tubuh, seperti ginjal. Untuk memeriksa retina

digunakan alat oftalmoskopi Dengan menentukan derajat

kerusakan retina (retinopati), maka bisa ditentukan beratnya

hipertensi

b. Pemeriksaan jantung

Perubahan didalam jantung, terutama pembesaran jantung bisa

diketahui dengan pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) dan

foto rontgen dada. Pada stadium awal, perubahan tersebut bisa

ditemukan melalui pemeriksaan ekokardiografi (pemeriksaan

dengan gelombang ultrasonik untuk menggambarkan keadaan

jantung) Bunyi jantung yang abnormal (disebut bunyi jantung

keempat), bisa didengar melalui stetoskop dan merupakan

perubahan jantung paling awal yang terjadi akibat tekanan

darah tinggi.

23
c. Pemeriksaan ginjal

Petunjuk awal adanya kerusakan ginjal bisa diketahui terutama

melalui pemeriksaan air kemih. Adanya sel-sel darah, gula dan

albumin (sejenis protein) dalam air kemih bisa merupakan

petunjuk adanya kerusakan ginjal. Dalam pemeriksa digunakan

stetoskop yang ditempelkan di atas perut un mendengarkan

adanya bruit (suara yang terjadi karena dana) mengalir melalui

arteri yang menuju ginjal, yang mengalami penyempitan). Atau

dilakukan analisis air kemih dan rontgen atau USG ginjal.

Untuk mengetahui penyebab penyakit feokromositoma, maka

di dalam air kemih bisa ditemukan adanya bahan-bahan hasil

penguraian hormon epinefrin dan norepinefrin. Biasa nya

hormon tersebut juga menyebabkan gejala sakit kepala,

kecemasan, palpitasi (jantung berdebar- debar), keringat yang

berlebihan, tremor (gemetar), dan pucat.

d. Pemeriksaan rutin

Untuk mengetahui penyebab lain bisa dilakukan pemeriksaan

rutin tertentu, misalnya mengukur kadar kalium dalam darah

bisa membantu menemukan adanya keadaan

hiperaldosteronisme. Kadar potasium darah yang rendah

mengindikasikan kemungkinan kelenjar adrenal yang terlalu

24
[Link] mengukur perbedaan tekanan darah pada kedua

lengan dan tungkai bisa membantu menemukan adanya

kelainan arteri besar (koartasio aorta).

e. Pemeriksaan otak

Jika hipertensi sudah berat dan kronis dapat timbul komplikasi

pada otak serta menyebabkan stroke dan pikun (dementia).

Hasil yang diharapkan dalam pemeriksaan hipertensi yaitu

menurunkann tekanan darah untuk mencegah terjadinya resiko

terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung

dan kerusakan ginjal. (Buku farmakoterapi kardiovaskuler dan

renal)

4. Patofisiologi

Patofisiologi hipertensi masih banyak terdapat ketidakpastian.

Sebagian kecil pasien (2%-5%) menderita penyakit ginjal atau adrenal sebagai

penyebab meningkatnya tekanan darah. Pada sisanya tidak dijumpai

penyebabnya dan keadaan ini disebut hipertensi esensial. Beberapa

mekanisme fisiologis terlibat dalam mempertahankan tekanan darah yang

normal, dan gangguan pada mekanisme ini dapat menyebabkan terjadinya

hipertensi esensial.

25
Hipertensi merupakan penyimpangan heterogen yang dihasilkan baik

dari penyebab yang spesifik (hipertensi sekunder) atau dari mekanisme

patofisiologi sebuah etiologi yang belum diketahui (hipertensi

primer/esensial). Hipertensi sekunder menyumbang kurang dari 10 % kasus,

dan Sebagian besar kasus ini disebabkan oleh penyakit ginjal kronis atau

penyakit renovascular. Kondisi lain yang menyebabkan hipertensi sekunder

meliputi pheochromocytoma, sindrom cushing, hipertiroidisme,

hiperparatoidisme, aldosterinosme primer, kehamilan, apnea tidur obstruktif,

dan koarktasio aorta. Beberapa obat yang dapat meningkatkan tekanan darah

termasuk kortikosteroid, estrogen, obat anti inflamasi nonsteroidal (NSAID),

amfetamin, sibutramine, siklosporin, tacrolimus, eritropoietin, dan

venlafaxine. Beberapa faktor yang berkontribusi dalam peningkatan hipertensi

primer,termasuk:

1. Kelainan humoral melibatkan system renin-angiotensin aldosteron,

hormon natriuretik, atau hyperinsulinemia, sistem renin-angiotensin

merupakan system endokrin yang paling penting dalam mengontrol

tekanan darah. Renin disekresi dari apparat jukstaglomerular ginjal

sebagai penyeimbang terhadap kurangnya perfusi glomerular atau

kurangnya asupan garam. Renin betanggung jawab dalam konversi

substrat renin (angiotensinogen) menjadi angiotensin II di paru paru

oleh angiotensin converting enzim (ACE). Angiotensin II di

26
merupakan vasokonstriktor kuat dan mengakibatkan peningkatan

tekanan darah. Sedangkan hormon natriuretik merupakakan hormon

yang diproduksi oleh atrium jantung sebagai hasil dari peningkatan

volum darah. Efeknya ialah meningkatnya eksresi garam dan air dari

ginjal (diuretik alamiah). Gangguan pada sistem ini dapat

mengakibatkan retensi cairan dan hipertensi.

2. Gangguan patologis dalam SSP, serabut saraf otonom, reseptor

adrenergic, atau baroreseptor. Stimulasi system saraf otonom dapat

menyebabkan konstriksi arteriola dan dilatasi arteroila.

3. Kelainan baik dalam proses autoreregulatori ginjal atau jaringan untuk

eksresi natrium, volume plasma, dan penyempitan aorta.

4. Kekurangan sintesis lokal dalam substansi-substansi vasodilatasi

dalamendotelium pembuluh darah, seperti prostasiklin, bradikinin, dan

nitran oksida, atau peningkatan produksi zat-zat vasoconstricting

seperti angiotensin II dan endotelin I.

5. Asupan sodium yang tinggi dan peningkatan sirkulasi hormon

natriuretic.

6. Penghambatan transport natrium intraseluler, mengakibatkan tekanan

darah.

7. Peningkatan konsentrasi intraseluler kalsium, yang me nyebabkan

perubahan fungsi otot polos pembuluh darah dan peningkatan

27
resistensi pembuluh darah perifer. (Buku farmakoterapi kardiovaskuler

dan renal)

5. Pemeriksaan penunjang

Menurut Asikin et al., (2016) mengatakan bahwa dibutuhkan

pemeriksaan secara menyeluruh untuk menegakkan diagnosa dan menentukan

derajat keparahan dari hipertensi. Adapun pemeriksaaan yang dapat dilakukan

yaitu pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan diagnostik yang dikemukakan

oleh Sahrudi dan Anam (2021) yaitu:

a. Pemeriksaan Laboratorium

1) Pada pemeriksaan urinalisis biasanya ditemukan protein, sel darah

merah, atau sel darah putih yang menandakan penyakit ginjal dan diabetes

jika ditemukan glukosa dalam darah.

2) Jika terdapat kadar kalium serum kurang dari 3,5 mEq/L dapat

mengindikasikan adanya disfungsi adrenal.

3) Kadar blood urine nitrogen (BUN) normal atau meningkat hingga lebih

dari 20 mg/dl dan kadar kreatinin serum normal atau meningkat hingga

lebih dari 1.5 mg/dl menunjukkan adanya penyakit ginjal.

b. Pemeriksaan Diagnostik

28
1) Urografi eksretori dapat menunjukkan atrofi ginjal, mengindikasikan

penyakit ginjal kronis; satu ginjal 1,6 cm lebih pendek dibandingkan

ginjal yang lain. Menandakan penyakit ginjal unilateral.

2) Foto rontgen toraks dapat menunjukkan kardiomegali.

3) Arteriografi ginjal dapat menunjukkan stenosis arteri ginjal.

4) Elektrokardiografi (EKG) dapat menunjukkan hipertrofi ventrikel kiri.

5) Oftalmoskopi menunjukkan adanya luka arteriovenal, ensefalopati

hipertensi dan papiledema.

6. Komplikasi

Hipertensi yang tidak ditanggulani dalam jangka panjang akan menyebabkan

kerusakan arteri di dalam tubuh sampai organ yang mendapatkan suplai darah dari

arteri tersebut. Komplikasi hipertensi dapat terjadi pada organ – organ tubuh menurut

(Wijaya & Putri, 2019), sebagai berikut :

a. Jantung

Hipertensi dapat menyebabkan gagal jantung dan penyakit jantung

coroner. Pada penderita hipertensi, beban kerja jantung akan meningkat,

otot jantung akan mengendor dan berkurang elastisitasnya, yang disebut

dekompensasi. Akibat, jantung tidak lagi mampu memompa sehingga

banyaknya cairan yang tertahan di paru maupun jaringan tubuh lain yang

29
dapat 13 menyebabkan sesak nafas atau oedema. Kondisi ini disebut juga

gagal jantung.

b. Otak

Komplikasi hipertensi pada otak, menimbulkan resiko stroke, apabila

tidak diobati resiko terkena stroke 7 kali lebih besar.

c. Ginjal

Hipertensi juga menyebabkan kerusakan ginjal, hipertensi dapat

menyebabkan kerusakan sistem penyaringan di dalam ginjal akibat lambat

laun ginjal tidak mampu membuang zat – zat yang dibutuhkan tubuh yang

masuk melalui aliran darah dan terjadi penumpukkan di dalam tubuh.

d. Mata

Hipertensi dapat mengakibatkan terjadinya retinopati hipertensi dan

dapat menimbulkan kebutaan.

8. Pemeriksaan Dignostik

Pemeriksaan diagnostik menurut (Aspiani, 2020).

a. Hemoglobin/Hematokrit

Untuk mengkaji hubungan darah sel – sel terhadap volume

cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor resiko seperti

: hipokoagulabilitas, anemia.

30
b. Blood Urea Nitrogen (BUN)/Kreatinin

Gunanya untuk memberi informasi tentang perfusi/fungsi

ginjal.

c. Glukosa

Hiperglikemia (Diabetes melitus adalah pencetus hipertensi

dapat diakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin.

d. Urinalisa

Darah, protein, glukosa, mengisyaratkan disfungsi ginjal dan

ada diabetes melitus.

e. Ekg

Dapat menunjukkan pola regangan, dimana luas, 14

peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit

jantung, hipertensi.

10. Penatalaksanaan

1. Penatalaksanaan farmakologis

2. Penatalaksanaan non farmakologis (diet)

Penatalaksanaan non farmakologis (diet) sering sebagai pelengkap

penatalaksanaan farmakologis, selain pemberian obat-obatan

antihipertensi perlu terapi dietetic dan merubah gaya hidup

(Yogiantoro, 2019)

31
Tujuan dari penatalaksanaan diet:

a. Membantu menurunkan tekanan darah secara bertahap dan

mempertahankan tekanan darah menuju normal.

b. Mampu menurunkan tekanan darah secara multifaktoral

c. Menurunkan faktor resiko lain seperti BB berlebih, tinggi nya

kadar asam lemak, kolesterol dalam darah.

d. Mendukung pengobatan penyakit penyerta seperti penyakit

ginjal, dan DM.

Prinsip diet penatalaksanaan hipertensi:

a. Makanan beraneka ragam dan gizi seimbang

b. Jenis dan komposisi makanan disesuaikan dengan kondisi

penderita.

c. Jumlah garam dibatasi sesuai dengan Kesehatan penderita dan

jenis makanan dalam daftar diet. Konsumsi garam dapur tidak

lebih dari ¼-½ sendok teh/hari atau dapat menggunakan garam

lain diluar natrium. (Yogiantoro, 2020).

B. KONSEP ANTI HIPERTENSI

1. Pengertian senam anti hipertensi

32
Hipertensi merupakan senam aktifitas fisik yang dapat

dilakukan dimana gerakan senam khusus penderita hipertensi yang

dilakukan selama 20 menit dengan tahapan 5 menit latihan pemanasan,

10 menit gerakan peralihan, dan 5 menit gerakan pendinginan. Dengan

Gerakan dan tahapan waktu tersebut akan membuat jalan pembuluh

darah melebar sehingga bisa juga menurunkan lemak ditubuh, jadi

selain dapat manfaat menurunkan tensi juga dapat menurunkan lemak

di tubuh yang mana jika dilakukan secara rutin dan tidak berlebihan

maka tubuh akan semakin ideal dan sehat ( hermawan & rosyid,2020 )

2. Tujuan senam anti hipertensi

Senam anti hipertensi tentu memiliki tujuan untuk mampu

melatih dan mendorong kerja jantung untuk bekerja secara optimal

sehingga berdampak kepada terjadinya penurunan tekanan darah

(Anwari, 2019). Aktivitas senam ini tentu diharapkan akan berguna

untuk penatalaksanaan hipertensi sehingga permeabilitas membran

meningkat pada otot yang berkontraksi, sehingga ketika pelaksanaan

senam dapat dilakukan secara teratur akan mempengaruhi dan

memperbaiki pengaturan tekanan darah (Kusumaningtiar, 2021).

3. Evidence based nursing

33
Bersarkan hasil penelitan dalam beberapa jurnal, penulis

mendapatkan data sebagai berikut:

1. Menurut hasil penelitian (Sudaryanto, 2024) bahwa

setelah diberikan intervensi berupa senam anti

hipertensi mayoritas tekanan darah lansia mengalami

penurunan yaitu sebanyak 12 orang (34%) memiliki

tekanan darah 120-130 mmHg, sebanyak 14 orang

(40%) tekanan darahnya 131-159 mmHg, dan sebanyak

9 orang (26%) tekanan darahnya lebih dari 160 mmHg.

Hasil pengabdian masyarakat tentang manajemen

hipertensi di Desa Galeh ini bahwa sebelum dan

setelah pemberian SENSASI tekanan darah lansia

mengalami penurunan. Selain itu peserta sangat

antusias dalam mengikuti semua gerakan senam anti

hipertensi serta tingkat pengetahuan lansia juga

mengalami peningkatan dari hasil observasi dan setelah

diberikan penyuluhan kesehetan mengenai manajemen

penyakit hipertensi para peserta tampak antusias dan

aktif dalam tanya jawab

2. Menurut (Siti Atiqa,2023) hasil penelitian dalam jurnal

yang berjudul pengaruh senam hipertensi pada lansia

hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa adanya

34
pengaruh senam hipertensi terhadap perubahan tekanan

darah pada lansia penderita hipertensi

3. Menurut (Wahyuni dkk,2023) hasil penelitian pengaruh

senam hipertensi terhadap tekanan darah penderita

hipertensi pada lansia di Posyandu Melati Pemulutan

Selatan Tahun 2022, yang artinya senam hipertensi

efektif dilakukan pada pasien hipertensi.

4. Hasil penelitian (mutia Agustina moonti,2022) Setelah

dilakukan upaya senam hipertensi, tekanan darah pada

penderita hipertensi mengalami penurunan

dibandingkan sebelum melakukan senam hipertensi.

Sejalan dengan hasil teori Sylvia (2003) dalam

(Sumartini, 2019) bahwa senam hipertensi artinya

olahraga yang dibuat yang selalu mengutamakan

kemampuan jantung, gerakan otot besar serta

kelenturan sendi serta menghirup oksigen sebesar

mungkin kedalam paru-paru. Manfaat lain yang dapat

dirasakan setelah dilakukannya senam hipertensi tentu

akan meningkatkan perasaan sehat dan meningkatkan

kemampuan untuk mengatasi rasa stress serta dapat

menurunnya tekanan darah, berkurangnya frekuensi

35
saat istirahat, berkurangnya obesitas dan menurunnya

resistensi insulin.

5. Menurut hasil (Yeni Gumiati,2024) Berdasarkan data

hasil implementasi di atas, Adapun data pasien sebelum

dilakukan implementasi yaitu pasien mengatakan kedua

kaki bengkak, sedangkan data pasien setalah dilakukan

implementasi yaitu pasien mengatakan keluhan

bengkak pada kaki berkurang dan tensi pun mulai turun

yaitu 140/ 90 mmhg, dengan demikian, dapat

disimpulkan bahwa senam hipertensi mempunyai

dampak terhadap penurunan tekanan darah pada

individu penderita hipertensi.

 Standart Oprasional prosedur

NO Gerakan Pemanasan Gerakan Inti Gerakan pendingin


1. 1) Tekuk kepala 1) Lakukan Gerakan 1) Kedua kaki

36
kesamping, lalu seperti jalan dibuka selebar
tahan dengan ditempat dengan bahu,
tangan pada sisi lambaian kedua lingkarkan 1
yang sama tangan searah tangan ke leher
dengan arah dengan sisi kaki dan tahan
kepala. Tahan yang diangkat. dengan tangan
dengan Lakukan perlahan lainnya.
hitungan 1-8 dan hindarin Hitungan 1-8
kali hitungan, hentakan. kali dan
lalu bergantian 2) Buka kedua lakukan dengan
dengan sisi lain. tangan dengan sisi lainnya.
2) Tautkan jari- jemari menggepal 2) Posisi tetap,
jari kedua dan kaki dibuka tautkan kedua
tangan dan selebar bahu. tangan lalu
angkat lurus Kedua kepalan Gerakan ke
keatas kepala tangan bertemu samping dengan
dengan posisi dan ulangi Gerakan
kedua kaki Gerakan setengah
dibuka selebar semampunya putaran.
bahu. Tahan sambil mengatur Hitungan 1-8
dengan 1-8 kali nafas. kali lalu
hitungan. 3) Kedua kaki arahkan tangan
Rasakan tarikan dibuka agak lebar kesisi lainnya
bahu dan lalu angkat tangan dan tahan
punggung. menyerong. Sisi dengan
kaki yang searah hitungan yang
dengan tangan sama.
sedikit ditekuk.

37
Tangan
diletakkan di
pinggang dan
kepala searah
dengan Gerakan
tangan. Tahan 1-8
kali hitungan lalu
ganti dengan sisi
lainnya.
4) Gerakan hampir
sama dengan
sebelumnya, tapi
jari menggepal
dan kedua tangan
diangkat keatas.
Lakukan
bergantian secara
perlahan dan
semampunya.
5) Hampir sama
dengan Gerakan
inti 1. Tapi kaki
dibuang ke
samping. Kedua
tangan dengan
jemari mengepal
kearah yang
berlawanan.

38
Ulangi dengan
sisi bergantian.
6) Kedua kaki
dibuka lebar dari
bahu, satu lutut
agak di tekuk dan
tangan yang
searah lutut di
pinggang. Tangan
sisi yang lain
lurus kearah lutut
yang di tekuk.
Ulangi Gerakan
kearah sebaliknya
dan lakukan
semampunya.

C. Proses Keperawatan

a. Pengkajian

Pada tahap awal, seorang perawat mulai mengumpulkan informasi

tentang keluarga yang dibinanya melalui pengkajian. Tahap pengkajian ini

adalah proses sistematis pengumpulan data dari berbagai sumber untuk

mendengarkan dan menentukan status kesehatan keluarga (Lyer et al., 1996

dalam Setiawan. 2016 dalam Buku A). Hal-hal yang perlu dikaji dalam

keluarga:

39
1) Data dasar keluarga

a) Nama Kepala Keluarga

Diisi dengan nama kepala keluarga.

b) Usia

Diisi dengan usia kepala keluarga dan dilengkapi dengan tanggal lahir

kepala keluarga

c) Alamat dan telepon

Diisi dengan alamat dan nomor telepon, ditulis dengan lengkap. jika

terdapat nomor telepon rumah dan handphone maka dituliskan

semuanya.

d) Pekerjaan Kepala Keluarga

Diisi dengan pekerjaan kepala keluarga saat dilakukan pengkajian.

e) Pendidikan kepala keluarga

Diisi dengan pendidikan terakhir yang telah ditempuh oleh kepala

keluarga.

f) Komposisi Keluarga

40
Diisi dengan membuat kolom nama dimulai dari usia yang paling tua,

jenis kelamin, hubungan dengan kepala keluarga, tempat dan tanggal

lahir. pekerjaan dan pendidikan.

g) Genogram Menggambarkan struktur keluarga dengan menggunakan

simbol-simbol yang umum dalam membuat genogram.

h) Tipe keluarga Menjelaskan mengenai jenis tipe terbentuk keluarga

beserta kendala atau masalah masa yang terjadi dengan jenis tipe

pembentuk keluarga tersebut.

i) Suku Bangsa

Mengkaji asal suku bangsa keluarga.

j) Agama Mengkaji agama yang dianut oleh keluarga serta

kepercayaan yang dapat mempengaruhi kesehatan.

k) Status Sosial Ekonomi Keluarga

Status sosial ekonomi keluarga merupakan ilustrasi pekerjaan

pendidikan dan pendapatan. Memuat informasi tentang pencarian

nafkah dalam keluarga, siapa memberi bantuan untuk memenuhi

kebutuhan keluarga, tentang keadekuatan pendapatan, mensupport

keluarga serta bagaimana keluarga mengatur pendapatan pengeluaran

mereka.

41
1) Aktivitas rekreasi keluarga Identifikasi tipe dan aktivitas keluarga

serta beberapa sering hal tersebut dilakukan. rekreasi keluarga tidak

hanya dilihat kapan saja keluarga pergi bersama-sama untuk

mengunjungi tempat rekreasi namun dengan menonton TV dan

mendengarkan radio juga merupakan aktivitas rekreasi.

2) Riwayat dan tahap perkembangan keluarga

a) Tahap perkembangan keluarga saat ini

Tahap perkembangan keluarga saat ini apakah keluarga berada pada

tahap keluarga dengan anak sekolah, keluarga dengan lansia dan

sebagainya.

b) Tahap perkembangan keluarga yg belum terpenuhi Menjelaskan

mengenai tugas perkembangan yang belum terpenuhi oleh keluarga

serta kendala mengapa tugas perkembangan tersebut belum terpenuhi.

3) Riwayat Kesehatan Keluarga

a) Riwayat keluarga inti

Riwayat kesehatan pada keluarga inti yang meliputi riwayat penyakit

keturunan, riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga

penyakit, terhadap pencegahan penyakit dan pengalaman-pengalaman

terhadap pelayanan kesehatan.

42
b) Riwayat keluarga sebelumnya

Misalnya riwayat dari kedua orang tua, termasuk riwayat

kesehatannya.

4) Data Lingkungan

a) Karakteristik rumah

Karakteristik rumah ini berisi denah rumah, status kepemilikan dan

deskripsi keadaan rumah secara menyeluruh. Identifikasi luas rumah,

tipe rumah, jumlah ruangan, jenis septic tank, jarak septic tank dengan

sumber air minum yang digunakan.

b) Karakteristik tetangga dan komunitas

Menjelaskan mengenai karakteristik tetangga meliputi urban, sub-

urban, pedesaan hunian, industri, agraris, bagaimana keamanan jalan

yang digunakan. Karakteristik komunitas setempat, budaya setempat.

c) Mobilitas Geografis keluarga

Mobilitas geografis mencakup berapa lama keluarga tinggal di daerah

tersebut.

d) Perkumpulan keluarga dan interaksi komunitas Menjelaskan

mengenai waktu yang digunakan oleh keluarga untuk berkumpul serta

43
perkumpulan keluarga yang ada dan sejauh mana keluarga

interaksinya dengan masyarakat.

e) Sistem pendukung keluarga

Sistem pendukung keluarga merupakan jumlah jumlah anggota

keluarga yang sehat, fasilitas-fasilitas yang dimiliki keluarga untuk

menunjang kesehatan. Sistem pendukung keluarga untuk penunjang

kesehatan.

5) Struktur Keluarga

a) Pola komunikasi keluarga

Menjelaskan mengenai cara/pola herkomunikasi antara anggota

keluarga. Adapun observasi dari kesemua anggota keluarga dalam

berhubungan, bagaimana kekuatan dari fungsi dan disfungsi

komunikasi. Sebagai contoh. kejelasan dan keterbukaan dalam

menyampaikan informasi dan perasaan, seberapa baik anggota

keluarga menjadi pendengar, frekuensi terjadinya perdebatan sebab

penyampaian informasi yang tidak kuat, maupun klasifikasi emosinya

apakah konstruktif atau destruktif.

b) Struktur kekuatan keluarga

44
Bagaimana proses pengambilan keputusan keputusan: konsensus bila

perbedaan masih dapat disatukan, proses pengambilan keputusan yang

paling sehat, akomodasi bila perbedaan tidak dapat disatukan (tawar

menawar, kompromi, paksaan) de facto bila keputusan diserahkan

kepada yang melaksanakan. Kesimpulannya bagaimana kemampuan

anggota keluarga mengendalikan dan mempengaruhi orang lain untuk

mengubah perilaku.

c) Struktur peran

Dalam struktur peran ini menjelaskan mengenai pelaksanaan peran.

Semisal, apakah terdapat konflik di dalam peran, bagaimanakah

perasaan individu terhadap perannya maupun apakah peran ini berlaku

secara dinamis.

Jika ada masalah di dalam peran, siapa yang mempengaruhi anggota

keluarga dalam penyelesaiannya.

d) Nilai atau norma keluarga

Menjelaskan mengenai nilai-nilai kebudayaan yang dianut oleh

keluarga, nilai inti keluarga seperti orientasi dan goal masa depan.

Bagaimana nilai dan norma menjadi suatu

6) Fungsi Keluarga

45
a) Fungsi afektif

Hal yang perlu dikaji yaitu gambaran diri anggota keluarga, perasaan

memiliki dan dimiliki dalam keluarga, dukungan keluarga terhadap

anggota keluarga lainnya, bagaimana kehangatan tercipta pada

anggota keluarga dan bagaimana keluarga mengembangkan sikap

saling menghargai.

b) Fungsi sosialisasi

Hal yang perlu dikaji bagaimana membesarkan anak, siapa yang

melakukan, adakah budaya budaya yang mempengaruhi pola

pengasuhan dan bagaimana keamanan dalam memberikan pengasuhan.

c) Fungsi Perawatan Kesehatan

Hal yang perlu dikaji adalah menjelaskan sejauh mana keluarga

menyediakan makanan, pakaian, perlindungan serta merawat anggota

keluarga yang sakit. Sejauh mana pengetahuan keluarga mengenai

sehat-sakit.

d) Fungsi reproduksi

Hal yang perlu dikaji mengenai fungsi reproduksi adalah berapa

jumlah anak, bagaimana keluarga merencanakan jumlah anggota

keluarga.

46
e) Fungsi Ekonomi

Hal yang perlu dikaji mengenai sejauh mana keluarga memenuhinya

kebutuhan sandang, pangan dan papan.

8) Pemeriksaan fisik pada hipertensi Sahrudi dan Anam (2021)

mengemukakan bahwa biasanya pengkajian pasien hipertensi berfokus

pada:

(1) Riwayat kesehatan

Kaji keluhan dan riwayat kesehatan pasien, apakah pasien mengeluh

sakit kepala di pagi hari, nyeri servikal, pusing. keletihan, palpitasi,

nyeri dada, dispnea, penglihatan kabur. kaji apakah pasien memiliki

riwayat hipertensi; penyakit ginjal, diabetes, gagal jantung, penyakit

ginjal dalam keluarga. Penggunaan obat-obatan,

(2) Pemeriksaan fisik

(a) Kaji tanda tanda vital pasien, mencakup tekanan darah. nadi apikal

dan perifer. biasanya ditemukan, nadi kuat berdenyut, edema perifer

pada tahap akhir dan hemoragik.

47
(b) Papiledema pada mata di tahap akhir jika terdapat retinopati

hipertensi.

(c) Adanya massa abdomen berdenyut menunjukkan adanya aneurisme

abdomen.

(d) Peningkatan tekanan darah minimal dua kali pemeriksaan berturut-

turut setelah skrining awal.

(e) Bising pada aorta abdomen dan arteri femoral atau karotis.

b. Diagnosa Keperawatan

Setelah data dari hasil pengkajian didapatkan maka langkah

selanjutnya yaitu data disusun sehingga ada gambaran tentang status atau

keadaaan dan hal-hal yang menyebabkan keadaan tersebut. Sesudah itu perlu

dilihat hubungan data yang satu dengan data yang lain serta pengaruhnya

terhadap kesehatan anggota keluarga dan perkembangan keluarga. Melalui

pertimbangan yang logis berdasarkan atas fakta/data perawat mengambil

kesimpulan yang disebut masalah keperawatan (Husnaniyah. D et al., 2022).

Husnaniyah.D et al., (2022) mengemukakan diagnosis keperawatan

keluarga merupakan respon keluarga terhadap masalah kesehatan yang

dialami, yang dapat diatasi dengan tindakan keperawatan secara mandiri

48
maupun kolektif yang terdiri dari Problem, Etiologi, dan Symptom (PES).

Problem (masalah) adalah suatu pernyataan tidak terpenuhinya kebutuhan

dasar manusia yang dialami keluarga atau anggota keluarga. Etiologi

(penyebab) adalah suatu pernyataan yang dapat menyebabkan masalah.

Symptom (tanda dan gejala) adalah sekumpulan data objektif dan subyektif

yang diperoleh perawat dari keluarga yang mendukung masalah dan

penyebab.

Tipologi atau sifat dari diagnosis keperawatan keluarga adalah aktual,

risiko, dan potensial/wellness. Tipologi diagnosa keperawatan keluarga

bersifat aktual menunjukkan keadaan yang nyata yang sedang dialami oleh

keluarga dan memerlukan bantuan dari perawat dengan cepat. Diagnosa

bersifat risiko merupakan masalah yang belum terjadi saat pengkajian, namun

dapat menjadi masalah aktual bila tidak dilakukan tindakan pencegahan

dengan tepat. Diagnosis potensial/welness merupakan proses pencapaian

tingkat fungsi yang lebih tinggi Keadaan dimana keluarga sejahtera yang

sudah mampu memenuhi kebutuhan kesehatan dan mempunyai sumber

penunjang kesehatan yang memungkinkan dapat ditingkatkan (Husnaniyah. D

et al., 2022).

Husnaniyah.D et al.. (2022) mengatakan ada tiga macam diagnosis

yang bisa kita dapatkan dalam keperawatan keluarga yaitu:

49
1) Diagnosis individu: yang dialami oleh individu keluarga tersebut,

contoh gangguan bersihan jalan nafas, gangguan pola tidur, defisit

nutrisi.

2) Diagnosis interpersonal: diagnosis yang menyangkut hubungan

antara anggota keluarga, contoh pola komunikasi tidak efektif,

menyusui tidak efektif dan gangguan pola asuh.

3) Diagnosis keluarga: diagnosis keluarga sebagai suatu kesatuan,

disini kita melihat respons keluarga sebagai satu kesatuan dalam

menghadapi masalah kesehatan. Contoh: ketidakmampuan koping

keluarga dan gangguan proses keluarga.

a) Prioritas Diagnosis Keperawatan Keluarga

Dalam satu keluarga perawat dapat menentukan masalah lebih dari

satu diagnosis keperawatan, karena data hasil pengkajian yang

didapatkan meliputi data yang didapatkan dari seluruh anggota

keluarga. Tidak mungkin seluruh masalah tersebut diselesaikan dalam

satu waktu secara bersamaan. Oleh karena itu perawat perlu

menentukan prioritas terhadap diagnosis keperawatan keluarga yang

ada dengan menggunakan skala prioritas auhan keperawatan keluarga.

Prioritas masalah adalah memprioritaskan masalah berdasarkan urutan

melalui perhitungan skor. Skala yang digunakan memiliki 4 kriteria,

50
masing-masing kriteria memiliki skor dan bobot yang berbeda disertai

dengan pembenaran/alasan penentuan skala tersebut.

Tabel Skoring Diagnosis Keperawatan Menurut Bailon dan Maglaya (1978)

No Kriteria Skor Bobot Pembenaran

1 Sifat masalah: 3 1
a. Aktual
2
b. Risiko
1
c. Keadaan
sejahtera/diagn
osis sehat
2 Kemungkinan 2 2
masalah dapat diubah:
1
a. Mudah
0
b. Sebagian
c. Tidak dapat
3 Potensi masalah untuk 3 1
dicegah:
2
a. Tinggi
1
b. Cukup
c. Rendah
4 Menonjolnya masalah: 2 1
a. Masalah
1
dirasakan dan
0
harus segera
ditangani

51
b. Ada masalah
tetapi tidak
perlu ditangani
c. Masalah tidak
dirasakan

Skoring

1) Tentukan skore untuk setiap kriteria.

2) Skore dibagi dengan makna tertinggi dan kalikanlah dengan

bobot.

Skore: angka tertinggi X bobot

3) Jumlahkan skore untuk semua criteria

c. Fokus Intervensi (SIKI)

Intervensi keperawatan merupakan segala bentuk terapi yang

dikerjakan oleh perawat yang didasarkan pada pengetahuan dan penilaian

klinis untuk mencapai peningkatan, pencegahan dan pemulihan kesehatan

klien individu, keluarga dan komunitas (Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2016).

Perencanaan keperawatan keluarga merupakan sekumpulan perbuatan

dari tindakan yang didesain oleh perawat yang bermanfaat untuk membantu

keluarga dalam mengatasi masalah keperawatan dengan melibatkan seluruh

52
anggota keluarga. Dalam definisi lain, perencanaan adalah sebuah proses

penyusunan berbagai intervensi keperawatan yang dibutuhkan untuk

mengurangi, menurunkan, ataupun mencegah masalah- masalah klien

(Husnaniyah.D et al., 2022).

Adapun tujuan dari perencanaan keperawatan keluarga ini sebagai

sarana komunikasi antarperawat dalam memberikan layanan dan akses pada

keluarga, mendokumentasikan proses dan kriteria hasil sebagai pedoman bagi

perawat dalam melakukan tindakan kepada keluarga, melakukan evaluasi,

serta meningkatkan kesinambungan askep yang diberikan pada keluarga

(Husnaniyah.D et al., 2022).

d. Implementasi Keperawatan

Husnaniyah, Pet al., (2022) mengemukakan bahwa tindakan

keperawatan keluarga merupakan tindakan yang dilakukan oleh perawat untuk

membantu, mengatasi atau menangani kepentingan klien, keluarga dan

komunitas. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kondisi fisik, emosional,

psikososial, budaya dan lingkungan tempat mereka mencari pertolongan.

Adapun tujuan pelaksanaan ini adalah membantu klien mencpai beberapa

tujuan yang telah ditetapkan seperti peningkatan kualitas layanan kesehatan,

pencegahan beragam penyakit, pemulihan kesehatan maupun fasilitator

koping.

53
e. Evaluasi Keperawatan

Husnaniyah, et al., (2022) mengemukakan bahwa evaluasi

keperawatan merupakan tahap akhir dari rangkaian proses keperawatan yang

berguna apakah tujuan dari tindakan keperawatan yang telah dilakukan

tercapai atu perlu pendekatan lain.

54
BAB III

TINJAUAN KASUS

FORMAT PENGKAJIAN

KEPERAWATAN KELUARGA

1. DATA UMUM

1) Nama Keluarga : Tn. T

2) Usia : 78 thn

3) Alamat : Jalan Garu III NO.89

4) [Link] : 082274168576

N Nama Hub. JK Usia Pend. Kerja Status TTV Status

o [Link] Saat Gizi Imunisasi

Ini (TB,BB,BMI) Dasar

1. Ny. S Istri Perempuan 65 SMA Dagang TB: 160cm TD:130/80


BB: 76 Kg mmHg
2. Tn. A Anak Laki laki 31 S1 Guru TB : 176 cm TD :
Pendidikan BB : 80 Kg 120/80

55
mmHg
3. Ny. R Anak Perempuan 26 S1 Apotik TB: 160Cm TD:
Farmasi BB : 65Kg 110/80
mmHg
5) Komposisi Keluarga :

Genogram:

Keterangan

56
= Laki-laki = garis perkawinan

= perempuan = garis keturunan

= klien = garis serumah

= meninggal

6) Tipe Keluarga :Tipe keluarga Tn. T dan Ny. S adalah keluarga

inti yang

terdiri dari ayah, ibu dan 2 orang anak. Saat ini

didalam satu rumah ada Tn. T

7) Suku : Suku bangsa Keluarga Tn. T merupakan keturunan

asli suku

Jawa, keluarga Tn. T semua lahir di Kebumen, tidak

ada kebudayaan dari suku yang ada pada keluarga

Tn. T yang bertentangan dengan masalah kesehatan.

Bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa

jawa.

8) Agama : Seluruh anggota keluarga Tn. T beragama

islam yang taat

beribadah dalam menjalankan Sholat 5 waktu.

57
9) Status Sosial Keluarga :sumber pendapatan keluarga berdasarkan dari

jasa berjualan warung kopi dengan

perbulannya Rp. 900.000.

10) Aktivitas Rekreasi Keluarga : Keluarga tidak pernah rekreasi secara khusus

atau rutin

hanya kadang kadang saja jika ada acara yang

berhubungan dengan keluarga besar. Jika ada

waktu luang keluarga menghabiskan untuk

menonton tv, berbincangbincang dengan

tetangga.

2. RIWAYAT DAN TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA

1) Tahap Perkembangan Keluarga Saat ini :

Keluarga Tn. T dan Ny. S merupakan keluarga tahap VIII atau tahap akhir

yaitu keluarga usia lanjut yang belum melepas anaknya berkeluarga dan

keduanya berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidup anak-anaknya.

a) Mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan Tn. T mengatakan

b) dalam memenuhi kepuasan hidup yaitu dengan melihat anak, baik-baik

saja dan tidak ada masalah. Memuaskan kehidupan yang lain dengan

cara mendapatkan sesuatu yang dibutuhkan dengan usahanya sendiri.

58
b) Menyesuaikan dengan pendapatan yang menurun Tn. T mengatakan untuk

menyesuaikan dengan pendapatan yang menurun biasanya keluarga selalu

berkomunikasi dan mempergunakan uang dengan hati-hati, untuk

melangsungkan kehidupan yang layak dan sehat.

c) Mempertahankan hubungan perkawinan Tn. T mengatakan selama

pernikahannya dengan Ny. S tidak pernah mengalami masalah yang cukup

besar yang dapat membuat pernikahan berantakan. Jika ada masalah Tn. T

selalu menyelesaikan dengan baik-baik bersama istri dan anak-anaknya.

d) Mempertahankan ikatan keluarga antar generasi Tn. T mengatakan dalam

mempertahankan hubungan dengan anak-anaknya yaitu dengan selalu

berkomunikasi dan membicarakan jika ada masalah yang sekiranya di

keluarga harus diselesaikan dengan cara bermusyawarah.

2) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi :

Keluarga Tn. T dan Ny. S sudah melewati semua tahap yaitu dari tahap pra

sekolah, tahap melepas anak dan sekarang tahap usia lanjut yang tinggal

menunggu kedua anaknya melepas masa lajang dan masa gadisnya. Tn. T

mengatakan untuk menyesuaikan diri terhadap kehilangan pasangan belum

dirasakan karena masih bersama dengan Ny. S hingga saat ini, tetapi Tn. T

mengatakan harus siap jika salah satu dari mereka harus ditinggal untuk

selamanya.

59
3) Riwayat keluarga inti :

Tn.T menderita hipertensi sejak 2 tahun yang lalu sedangkan istri Tn.T tidak

menderita penyakit hanya saja terkadang sering merasa pegal jika bekerja terlalu

keras.

4) Riwayat keluarga sebelumnya :

Nenek dan ibu Tn. T tidak memiliki riwayat hipertensi. Adik Keenam Tn. T

meninggal di usia 23 Tahun dikarenakan kecelakaan lalu lintas.

3. LINGKUNGAN

Rumah dan Sanitasi Lingkungan PHBS Di Rumah Tangga


 Kondisi Rumah Jika ada Bunifas Persalinan ditolong
Type Rumah : Permanen oleh tenaga kesehatan : ya/tidak
Lantai :Plester  Jika ada bayi Memberi ASI Eksklusif :
Kepemilikan rumah : Sendiri ya/tidak
 Ventilasi  Jika ada balita Menimbang balita tiap
Baik (10-15% dari luas lantai ) : ya bulan : ya/tidak
Jendela setiap hari dibuka : ya  Menggunakan air bersih
Penecahayaan rumah : Baik Untuk makan dan minum : ya
 Saluran Buang Untuk kebersihan sendiri : ya
Limbah : Tertutup Cuci tangan dengan air bersih & sabun
 Air Bersih : ya
Sumber air bersih :PAM  Pembuangan sampah

60
sebutkan : Membuang sampah pada tempatnya
Kualitas air : jernih : ya
 Jamban memenuhi syarat  Menjaga lingkungan rumah
Kepemilikan : ya Tampak bersih : ya
Jenis jamban : Leher angsa  Mengkonsumsi lauk dan pauk
Jarak septi tank dengan sumber air : 5 Tiap hari : ya
km  Menggunakan jamban sehat :ya
 Tempat sampah  Memberantas jentik di rumah sekali
Kepemilikan tempat sampah : ya seminggu : ya
Jenis : Tertutup  Makan buah dan sayur setiap hari
 Rasio Luas Bangunan Rumah : ya
Jumlah anggota keluarga (8m2/orang)  Melakukan aktivitas fisik setiap
: ya hari :
ya
 Tidak merokok didalam rumah
: ya
Penggunaan alkohol dan Napza
:
Tidak

4. STRUKTUR KELUARGA

1) Pola komunikasi keluarga :

Tn.T mengatakan pola komunikasi dalam keluarga dilakukan secara

terbuka, Tn.T mengatakan bila ada masalah selalu terbuka dan

membicarakannya dengan istrinya karena saat ini hanyalah istrinya tempat

keluh [Link] kekuatan keluarga :

61
2) Struktur peran :

Tn.T dan Ny.S merupakan anggota masyarakat Medan Amplas. Oleh

karena itu jika ada kegiatan di lingkungan Tn.T dan Ny.S ikut serta dalam

kegiatan seperti kerja bakti. Tn.T berperan sebagai kepala keluarga, Ny.S

berperan sebagai istri dan ibu

3) Nilai dan norma budaya :

Nilai dan norma yang dianut oleh keluarga Tn.T yaitu nilai-nilai adat

istiadat melayu. Tn.T selalu menekankan pada anaknya untuk

mengembangkan sikap sopan santun, saling menghormati, menghargai,

dan saling menolong.

5. FUNGSI KELUARAGA

1) Fungsi Afektif :

Pada Saat melakukan pengkajian keluarga Tn.T terlihat rukun bila

sedang berkumpul dirumah, saling menyayangi, saling mengasihi, saling

memiliki, dan juga saling menghargai, sehingga memberikan kesan bahwa

keluarga Tn.T adalah keluarga yang harmonis.

2) Fungsi Sosialisasi :

Interaksi antara keluarga Tn.T dengan lingkungan sekitarnya sangat

baik. Hal ini terbukti dengan keluarga Tn.T selalu mengikuti kegiatan seperti

kerja bakti dan pengkajian rutin, dan apabila ada waktu senggang Tn.T sering

mengobrol dengan tetangga selain itu Tn.T juga tampak bersikap saling

menghormati satu sama lain dengan tetangga sekitar.

62
3) Fungsi Perawatan Keluarga :

1) Adakah perhatian keluarga kepada anggotanya yang menderita sakit :

Ada

2) Apakah keluarga mengetahui masalah kesehatan yang dialami anggota dalam

keluarganya : Ya

3) Apakah keluarga mengetahui penyebab masalah kesehatan yang dialami

anggota dalam keluarganya : Ya

4) Apakah keluarga mengetahui tanda dan gejala masalah kesehatan yang dialami

anggota dalam keluarganya : Ya

5) Apakah keluarga mengetahui akibat masalah kesehatan yang dialami anggota

dalam keluarganya bila tidak diobati/dirawat : Ya

6) Pada siapa keluarga bisa menggali infromasi tentang masalah kesehatan yang

dialami anggota keluarganya :Tenaga kesehatan

7) Keyakinan keluarga tentang masalah kesehatan yang dialami anggota

keluarganya : Tidak terpikir

8) Apakah keluarga melakukan upaya peningkatan kesehatan yang dialami

anggota keluarganya secara aktif : (bagaimana bentuk tindakan upaya

peningkatan kesehatan) : Tidak

9) Apakah keluarga mengetahui kebutuhan pengobatan masalah kesehatan yang

dialami anggota keluarganya : Tidak

10) Apakah keluarga dapat melakukan cara merawat anggota keluarga dengan

63
masalah kesehatan yang dialaminya : Ya

11) Apakah keluarga dapat melakukan pencegahan masalah kesehatan yang

dialami anggota keluarganya :Ya

12) Apakah keluarga mampu memelihara atau memodifikasi lingkungan yang

mendukung kesehatan anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan :

Ya

13) Apakah keluarga mampu menggali dan memanfaatkan sumber di masyarakat

untuk mengatasi masalah kesehatan keluarga : Ya

6. STRESS DAN KOPING KELUARGA

1) Stressor jangka pendek :

Tn.T mengatakan adanya nyeri tengkuk

2) Stressor jangka panjang :

Tn.T mengatakan khawatir karna tekanan darah nya yang tinggi dan

akan terkena stroke seperti tetangganya

3) Kemampuan keluarga berespon terhadap masalah :

Keluarga Tn.T memikirkan tentang adanya penyakit yang diderita Tn.T,

tetapi respon keluarga kurang tanggap

4) Strategi adaptasi disfungsional :

Berdasarkan indentifikasi tidak ditemukan stress adaptasi

disfungsional

64
7. HARAPAN KELUARGA

Keluarga senang dengan adanya kehadiran perawat, keluarga berharap

perawat dapat membantu mengatasi masalah kesehatan yang terjadi pada

Tn.T, karena informasi yang disampaikan menambah wawasan tentang

kesehatan

8. KEMANDIRIAN KELUARGA

KEMANDIRIAN KELUARGA
Kriteria : Kemandirian I : Jika memenuhi kriteria
1) Menerima petugas puskesmas 1&2
2) Menerima yankes sesuai rencana Kemandirian II : Jika memenuhi
3) Menyatakan masalah kesehatan kriteria 1&5
secara benar Kemandirian III : Jika memenuhi
4) Memanfaatkan faskes sesuai kriteria 1&6
anjuran Kemandirian IV : Jika memenuhi
5) Melaksanakan perawatan sederhana kriteria 1&7
sesuai anjuran
6) Melaksanakan tindakan pencegahan
secara aktif
7) Melaksanakan tindakan promotif
secara aktif
Kategori :

Kemandirian I Kemandirian III

Kemandirian II Kemandirian IV

65
9. PENGKAJIAN FISIK INDIVIDU

Anggota Tn.T Ny.S Tn.A Ny.R


keluarga
Nyeri Ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
spesifik :
Lokasi Tn.T mengatakan Tidak ada Tidak ada Tidak ada
nyeri dibagian
tengkuk
Tipe Akut - - -
Durasi Kurang lebih Tidak ada Tidak ada Tidak ada
sekitar 3 menitan
Intensitas 5 - - -
Status Tn.T Ny. S Tn. A Ny. R
mental :
Bingung Tn. T mengatakan Tidak ada Tidsk ada Tidak ada
bingung karena
tidak mengetahui
bagaimana cara
mengatasi

66
nyerinya.
Cemas Tn. T mengatakan Tidak ada Tidak ada Tidak ada
cemas karena rasa
nyeri tersebut. Dan
sulit untuk tidur.
Disorientasi Tn.T Tidak Ny. S tidak Tn.A Tidak Ny. R tidak
mengalami mengalami mengalami mengalami
disorientasi disorientasi disorientasi disorientasi
Menarik diri Tn.T tidak menarik Ny. S tidak Tn.A tidak Ny.R tidak
diri dari menarik diri menarik diri menarik diri
lingkungan dan dari dari dari
keluarga lingkungan lingkungan lingkungan
dan keluarga dan keluarga dan keluarga
Sistem Tn.T Ny.S Tn.A Ny.R
integumen :
Sianosis Tidak terdapat Tidak Tidak Tidak
sianosis pada Tn.T terdapat terdapat terdapat
sianosis sianosis sianosis
pada Ny.S pada Tn.A pada Ny. R
Akral dingin Akral teraba Akral teraba Akral teraba Akral teraba
hangat hangat hangat hangat
Diaporesis Tn. T tidak Ny. S tidak Tn. A tidak Ny.R tidak
mengalami mengalami mengalami mengalami
diaporesis. diaporesis. diaporesis. diaporesis.
Jaundice Tidak ada jaundice Tidak ada Tidak ada Tidak ada
pada Tn.T jaundice jaundice jaundice
pada Ny.S pada Tn.A pada Ny.R
Luka Tidak terdapat luka Tidak Tidak Tidak
pada Tn.T terdapat luka terdapat luka terdapat luka

67
pada Ny.S pada Tn.A pada Ny.R
Mukosa bibir Mukosa bibir Mukosa Mukosa Mukosa
kering kering pada Tn.T bibir kering bibir kering bibir kering
pada Ny.S pada Tn.A pada Ny.R
Kapiler refil <3 detik <3 detik <3 detik <3 detik
time
Lebih >2 detik
Sistem Tn.T Ny.S Tn.A Ny.R
pernafasan :
Stridor Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Wheezing Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Ronchi Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Akumulasi Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
sputum
Sistem Tn.T Ny.S Tn.A Ny.R
perkemihan :
Disuria Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Hematuria Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Frekuensi 4-5x/hari 4-5x/hari 4-5x/hari 4-5x/hari
Retensi Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Inkontinesia Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Sistem Tn.T Ny.S Tn.A Ny.R
muskoleketal
:
Tonus otot Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
kurang gangguan pada gangguan gangguan gangguan
tonus otot pada tonus pada tonus pada tonus
otot otot otot
Paraliasis Tn.T tidak Ny.S tidak Tn.A tidak Ny.R tidak

68
mengalami mengalami mengalami mengalami
paralisis paralisis paralisis paralisis
Hemiparesis Tn.T tidak Ny.S tidak Tn.A tidak Ny.R tidak
mengalami mengalami mengalami mengalami
hemiparesis hemiparesis hemiparesis hemiparesis
ROM Kurang ROM pada Tn.T ROM pada ROM pada ROM pada
normal Ny.S normal Tn.A normal Ny.R normal
Gangguan Tn.T merasakan Ny.S Tn.A Ny.R
keseimbangan pusing dan lemah merasakan merasakan merasakan
pusing dan pusing dan pusing dan
lemah lemah lemah
Sistem Tn.T Ny.S Tn.A Ny.R
pencernaan:
Intake cairan Intake cairan pada Intake cairan Intake cairan Intake cairan
kurang Tn.T terpenuhi pada Ny.S pada Tn.A pada Ny.R
terpenuhi terpenuhi terpenuhi
Mual/muntah Tn.T tidak ada Ny.S tidak Tn.A tidak Ny.R tidak
mengalami ada ada ada
mual/muntah mengalami mengalami mengalami
mual/muntah mual/muntah mual/muntah
Nyeri perut Tn.T tidak Ny.S tidak Tn.A tidak Ny.R tidak
merasakan nyeri merasakan merasakan merasakan
perut nyeri perut nyeri perut nyeri perut
Muntah darah Tn.T tidak Ny.S tidak Tn.A tidak Ny.R tidak
mengalami muntah mengalami mengalami mengalami
darah muntah muntah muntah
darah darah darah
Flatus Tn.T mengalami Ny.S Tn.A Ny.R
flatus yang normal mengalami mengalami mengalami

69
flatus yang flatus yang flatus yang
normal normal normal
Distensi Tn.T tidak ada Ny.S tidak Tn.A tidak Ny.R tidak
abdomen distensi abdomen ada distensi ada distensi ada distensi
abdomen abdomen abdomen
Colostomy Tn.T tidak Ny.S tidak Tn.A tidak Ny.R tidak
terpasang terpasang terpasang terpasang
colostomy colostomy colostomy colostomy
Diare Tn.T tidak Ny.S tidak Tn.A tidak Ny.R tidak
mengalami diare mengalami mengalami mengalami
diare diare diare
Konstipasi Tidak mengalami Tidak Tidak Tidak
konstipasi mengalami mengalami mengalami
konstipasi konstipasi konstipasi
Bising usus Bising usus normal Bising usus Bising usus Bising usus
normal normal normal
Terpasang Tidak terpasang Tidak Tidak Tidak
sonde sonde terpasang terpasang terpasang
sonde sonde sonde
Sistem Tn.T Ny.S Tn.A Ny.R
pesyarafan :
Nyeri kepala Tn.T mengatakan Ny.S tidak Tn.A tidak Ny.R tidak
tidak memiliki merasakan merasakan merasakan
nyeri kepala nyeri kepala nyeri kepala nyeri kepala
namun Tn.T
merasakan nyeri
tengkuk
Pusing Tn.T mengatakan Ny.S tidak Tn.A tidak Ny.R tidak
pusing ketika merasakan merasakan merasakan

70
bangun pagi hari pusing pusing pusing
Tremor Tn.T tidak merasa Ny.S tidak Tn.A tidak Ny.R tidak
tremor merasa merasa merasa
tremor tremor tremor
Reflek pupil Tn.T reflek pupil Ny.S reflek Tn.A reflek Ny.R reflek
anisokor isokor pupil isokor pupil isokor pupil isokor

Paraliasis: Tidak mengalami Tidak Tidak Tidak


lengan paraliasis mengalami mengalami mengalami
kiri/lengan paraliasis paraliasis paraliasis
kanan/kaki
kanan
Anestesi Tidak ada anestesi Tidak ada Tidak ada Tidak ada
daerah perifer daerah perifer anestesi anestesi anestesi
daerah daerah daerah
perifer perifer perifer
Riwayat Tn.T Ny.S Tn.A Ny.R
pengobatan :
Alergi obat Tidak ada riwayat Tidak ada Tidak ada Tidak ada
alergi obat riwayat riwayat riwayat
alergi obat alergi obat alergi obat
Jenis obat yang Amlodipine 5 mg Tidak ada Tidak ada Tidak ada
dikonsumsi

71
10. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan penunjang Tn.T Ny.S Tn.A Ny.R


GDP/2JPP/Acak Tidak ada Tidak Tidak Tidak
ada ada ada
Asam urat Tidak ada Tidak Tidak Tidak
ada ada ada
Cholesterol Tidak ada Tidak Tidak Tidak
ada ada ada
Hemoglobin Tidak ada Tidak Tidak Tidak
ada ada ada

11. FORMAT ANALISA DATA

NO. Data penunjang Diagnosa


1. DS: Tn.T mengatakan adanya Nyeri akut ( D.0077 )
nyeri tengkuk.
DO:
TD: 180/100 mmHg
Tn.T tampak memegangi tengkuk
2. DS: Tn.T mengatakan sulit tidur Gangguan pola tidur berhubungan
ketika malam hari. dengan kurang kontrol tidur ( D.0055
DO: )
TD : 180/100 mmHg
Tn. T tampak mengantuk ketika

72
siang hari.

12. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis D.0077

2. Gangguan pola tidur berhubungan dengan kurang kontrol tidur

D.0055

13. MENENTUKAN SKALA PRIORITAS

Pola tidur tidak efektif

Kriteria Bobot Perhit Skor pembenaran

Sifat Masalah : 1 (skor/angka 3 Sifat masalah

a) Aktual tertinggi) 2 Tn.T bersifat

b) Resiko x bobot 1 potensial

c) Potensial 1/3x1:

0,3

Kemungkinan 2 (skor/angka 2 Kemungkinan

masalah dapat tertinggi) 1 masalah Tn. T

diubah : x bobot 0 dapat dirubah

a) Mudah

73
Seluruhnya 2/1x2:2 sebagian

b) Sebagian

c) Tidak Dapat

Potensial masalah 1 (skor/angka 3 Potensial

dapat dicegah : tertinggi) 2 masalah cukup

a) Tinggi x bobot 1 dapat dicegah

b) Cukup 3/1x2:2 oleh Tn. T

c) Rendah

Menonjolnya 1 (skor/angka 2 Menonjolnya

Masalah: tertinggi) 1 masalah yang

a) Dirasakan dan x bobot 0 dirasakan Tn.T

segera 2/2x1: 1 segera

ditangani ditangani

b) Dirasakan tapi

tidak perlu

segera

ditangani

c) Tidak

dirasakan

Total skor 3,3

74
Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis

Kriteria Bobot Perhit Skor Pembenaran

Sifat Masalah : 1 (skor/angka 3 Tn.T merasa

a) Aktual tertinggi) 2 nyeri tengkuk

b) Resiko x bobot 1 bagian

c) potensial 3/3x1=1 belakang

Kemungkinan 2 (skor/angka 2 Masalah

masalah dapat tertinggi) 1 kesehatan yang

diubah : x bobot 0 dirasakan oleh

a) Mudah Tn.T dapat

Seluruhnya 2/2x2=2 diatasi

b) Sebagian

c) Tidak Dapat

Potensial masalah 1 (skor/angka 3 Masalah masih

dapat dicegah : tertinggi) 2 bisa dapat

a) Tinggi x bobot 1 dicegah agar

b) Cukup tidak

c) Rendah 2/3x1=0,6 berkelanjutan

Menonjolnya 1 (skor/angka 2 Masalah

75
Masalah: tertinggi) 1 hipertensi

a) Dirasakan dan x bobot 0 sangat

segera ditangani dirasakan oleh

b) Dirasakan tapi 2/1x1=2 klien dan

tidak perlu segera segera

ditangani ditangani agar

c) Tidak dirasakan tidak

menimbulkan

hal yang tidak

diinginkan.

Skor 5,6

76
14. FORMAT RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

Data Diagnosa SLKI SIKI


keperawatan (Kode & Hasil) (Kode & Hasil)
1.)DS: Tn.T Nyeri akut Tingkat nyeri Manajemen nyeri
mengatakan berhubungan dengan (L.08066) (I.08238)
adanya nyeri agen pencedera Setelah dilakukan Observasi:
tengkuk. fisiologis (D.0077) tindakan keperawatan -identifikasi skala
7x24 jam diharapkan nyeri
DO: Tingkat nyeri -identifikasi respon
TD: 170/90 mmHg menurun dengan nyeri non verbal
kriteria hasil -identifikasi pengaruh
1. Keluhan nyeri nyeri pada kualitas
menurun hidup.
2. Meringis menurun Teraupetik:
3. Kesulitan tidur -fasilitasi istirahat dan
menurun tidur
4. Tekanan darah -pertimba ngkan jenis
membaik dan sumber nyeri
dalam pemilihan
strategi meredakan
neri
-kontrol lingkungan
yang memperberat

77
rasa nyeri (mis: suhu
ruangan,
pencahayaan,
kebisingan.
Edukasi:
-jelaskan penyebab,
periode, dan pemicu
nyeri
-jelaskan strategi
meredakan nyeri
-anjurkan memonitor
nyeri secara mandiri
-anjurkan
menggunakan
analgetik secara tepat
-ajarkan teknik
nonfarmakologis
untuk mengurangi
rasa nyeri
2. DS: Tn.T Gangguan pola tidur Pola tidur (L.05045) Dukungan tidur
mengatakan sulit (D.0055) setelah dilakukan ( I.09265)
tidur ketika malam tindakan keperawatan Observasi:
hari. 7x24 jam diharapkan -identifikasi faktor
pola tidur menurun: pengganggu tidur
DO: -Keluhan kesulitan ( fisik atau
TD : 180/100 tidur cukup menurun: psikologis )
mmHg 4 -identifikasi pola
Tn. T tampak -Keluhan tidak puas aktifitas dan tidur

78
mengantuk ketika tidur cukup menurun: -identifikasi makanan
siang hari. 4 dan minuman yang
-Keluhan istirahat menggangu tidur
tidak cukup cukup (mis: kopi, teh, makan
menurun: 4 mendekati waktu
tidur, minum air yang
banyak sebelum tidur)
Teraupetik:
-batasi waktu tidur
siang jika perlu
-fasilitasi
menghilangkan stres
sebelum tidur
terapkan jadwal tidur
rutin.
Edukasi:
-jelaskan pentingnya
tidur cukup selama
sakit
-aanjurkan menepati
kebiasaan waktu tidur
-anjurkan
menghindari
makanan/minuman
yang mengganggu
tidur.

79
15. FORMAT CATATAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

TANGGAL DIAGNOSA IMPLEMENTASI EVALUASI


KEPERAWATAN
10/ 01/2024 Nyeri Akut 1. Menanyakan S: pasien
HARI D.0077 kepada Tn.T mengatakan nyeri
PERTAMA tentang lokasi, tengkuk bagian
karakter, durasi, belakang.
frekuensi nyeri. O: pasien tampak
2. Mengidentifikasi memegangi
skala nyeri. tengkuknya.
3. Menjelaskan TD: 170/90 mmHg
kepada Tn.T T: 36,5°C
bahwa penyebab RR: 20x/menit
rasa nyeri tersebut Hr: 92x/menit
akibat dari
penyempitan A: masalah belum
pembuluh darah teratasi
akibat dari P: intervensi

80
vasokontriksi dilanjutkan dihari
pembuluh darah ke 2
akan
menyebabkan
peningkatan
tekanan vaskuler
serebral.
4. Mengajarkan
teknik senam anti
hipertensi yang
dimulai dengan
gerakan
pemanasan yaitu
- Tekuk kepala ke
samping, lalu
tahan dengan
tangan pada sisi
yang sama dengan
arah kepala.
Tahan dengan
hitungan 1-8, lalu
bergantian dengan
sisi lain.
- Tautkan jari jari
kedua tangan dan
angkat lurus ke
atas kepala
dengan posisi

81
kedua kaki dibuka
selebar bahu.
Tahan dengan 1-8
hitungan.
5. Dilanjutkan
dengan gerakan
inti yaitu
- Lakukan
gerakan seperti
jalan di tempat
dengan lambaian
kedua tangan
searah dengan sisi
kaki yang
diangkat. Lakukan
perlahan dan
hindarin hentakan.
- Buka kedua
tangan dengan
jemari menggepal
dan kaki dibuka
selebar bahu.
Kedua kepalan
tangan bertemu
dan ulangi
gerakan
semampunya
sambil mengatur

82
nafas.
- Kedua kaki
dibuka agak lebar
lalu angkat tangan
dengan
menyerong. Sisi
kaki yang searah
dengan tangan
sedikit ditekuk.
Tangan diletakkan
dipinggang dan
kepala searah
dengan gerakan
tangan. Tahan 1-8
hitungan lalu
ganti dengan sisi
lainnya.
- Gerakan hampir
sama dengan
sebelumnya. Tapi
jari menggepal
dan kedua tangan
diangkat ke atas.
Lakukan
bergantian secara
perlahan dan
semampunya.
- hampir

83
menyerupai
dengan gerakan
inti yang pertama
tapi kaki di buang
kesamping, kedua
tangan denga
jemari yang
menggepal ke
arah yang
berlawanan.
Ulangi dengan sisi
bergantian
- Kedua kaki
dibuka lebar dari
bahu, 1 agak lutut
ditekuk dan
tangan yang
searah lutut di
pinggang, tangan
sisi yang lain
lurus searah lutut
yang di tekuk,
ulangi arah yang
sebaliknya, dan
lakukan dengan
semampunya.
6. Setelah gerakan
inti masuk ke

84
gerakan pendingin
yaitu
- Kedua kaki
dibuka selebar
bahu, lingkarkan
1 tangan ke leher
dan tahan dengan
tangan yang
lainnya. Hitungan
1-8 kali dan
lakukan pada sisi
lainnya
- Posisi tetap,
tautkan kedua
tangan lalu
gerakkan
kesamping
dengan gerakan
setengah putaran.
Tahan sampai 1-8
kali hitungan lalu
arahkan tangan
kesisi lainnya dan
tahan dengan
hitungan yang
sama.
11/ 01/2024 Nyeri akut D.0077 1. Menanyakan S: pasien
HARI kepada Tn.T mengatakan

85
KEDUA tentang lokasi, adanya nyeri
karakter, durasi, tengkuk
frekuensi nyeri. O : pasien tampak
2. Mengidentifikasi memegangi
skala nyeri. tengkuk
3. Menjelaskan TD: 170/90 mmHg
kepada Tn.T T : 36,5 ̊ C
bahwa penyebab RR : 20x/ menit
rasa nyeri tersebut HR: 92x/menit
akibat dari A : masalah belum
penyempitan teratasi
pembuluh darah P : intervensi
akibat dari dilanjutkan di hari
vasokontriksi ke 3
pembuluh darah
akan
menyebabkan
peningkatan
tekanan vaskuler
serebral.
4. Mengajarkan
teknik senam anti
hipertensi yang
dimulai dengan
gerakan
pemanasan yaitu
- Tekuk kepala ke
samping, lalu

86
tahan dengan
tangan pada sisi
yang sama dengan
arah kepala.
Tahan dengan
hitungan 1-8, lalu
bergantian dengan
sisi lain.
- Tautkan jari jari
kedua tangan dan
angkat lurus ke
atas kepala
dengan posisi
kedua kaki dibuka
selebar bahu.
Tahan dengan 1-8
hitungan.
5. Dilanjutkan
dengan gerakan
inti yaitu
- Lakukan
gerakan seperti
jalan di tempat
dengan lambaian
kedua tangan
searah dengan sisi
kaki yang
diangkat. Lakukan

87
perlahan dan
hindarin hentakan.
- Buka kedua
tangan dengan
jemari menggepal
dan kaki dibuka
selebar bahu.
Kedua kepalan
tangan bertemu
dan ulangi
gerakan
semampunya
sambil mengatur
nafas.
- Kedua kaki
dibuka agak lebar
lalu angkat tangan
dengan
menyerong. Sisi
kaki yang searah
dengan tangan
sedikit ditekuk.
Tangan diletakkan
dipinggang dan
kepala searah
dengan gerakan
tangan. Tahan 1-8
hitungan lalu

88
ganti dengan sisi
lainnya.
- Gerakan hampir
sama dengan
sebelumnya. Tapi
jari menggepal
dan kedua tangan
diangkat ke atas.
Lakukan
bergantian secara
perlahan dan
semampunya.
- hampir
menyerupai
dengan gerakan
inti yang pertama
tapi kaki di buang
kesamping, kedua
tangan denga
jemari yang
menggepal ke
arah yang
berlawanan.
Ulangi dengan sisi
bergantian
- Kedua kaki
dibuka lebar dari
bahu, 1 agak lutut

89
ditekuk dan
tangan yang
searah lutut di
pinggang, tangan
sisi yang lain
lurus searah lutut
yang di tekuk,
ulangi arah yang
sebaliknya, dan
lakukan dengan
semampunya.
6. Setelah gerakan
inti masuk ke
gerakan pendingin
yaitu
- Kedua kaki
dibuka selebar
bahu, lingkarkan
1 tangan ke leher
dan tahan dengan
tangan yang
lainnya. Hitungan
1-8 kali dan
lakukan pada sisi
lainnya
- Posisi tetap,
tautkan kedua
tangan lalu

90
gerakkan
kesamping
dengan gerakan
setengah putaran.
Tahan sampai 1-8
kali hitungan lalu
arahkan tangan
kesisi lainnya dan
tahan dengan
hitungan yang
sama.

91
12/ 01/2024 Nyeri akut 1. Mengajarkan teknik S: pasien
HARI D.0077 senam anti hipertensi mengatakn nyeri
KETIGA yang dilakukan secara tengkuk sudah
mandiri yang dimulai sedikit berkurang
dengan gerakan O : pasien tampak
pemanasan yaitu tidak memegangi
- Tekuk kepala ke tengkuk lagi
samping, lalu tahan TD: 165/80
dengan tangan pada mmHg
sisi yang sama dengan T : 36 ̊ C
arah kepala. Tahan RR : 20x/ menit
dengan hitungan 1-8, HR : 90x/ menit
lalu bergantian dengan A : masalah belum
sisi lain. teratasi
- Tautkan jari jari P : intervensi
kedua tangan dan dilanjutkan di hari
angkat lurus ke atas ke 4
kepala dengan posisi
kedua kaki dibuka
selebar bahu. Tahan
dengan 1-8 hitungan.
2. Dilanjutkan dengan
gerakan inti yaitu
- Lakukan gerakan
seperti jalan di tempat
dengan lambaian
kedua tangan searah
dengan sisi kaki yang

92
diangkat. Lakukan
perlahan dan hindarin
hentakan.
- Buka kedua tangan
dengan jemari
menggepal dan kaki
dibuka selebar bahu.
Kedua kepalan tangan
bertemu dan ulangi
gerakan semampunya
sambil mengatur
nafas.
- Kedua kaki dibuka
agak lebar lalu angkat
tangan dengan
menyerong. Sisi kaki
yang searah dengan
tangan sedikit ditekuk.
Tangan diletakkan
dipinggang dan kepala
searah dengan gerakan
tangan. Tahan 1-8
hitungan lalu ganti
dengan sisi lainnya.
- Gerakan hampir
sama dengan
sebelumnya. Tapi jari
menggepal dan kedua

93
tangan diangkat ke
atas. Lakukan
bergantian secara
perlahan dan
semampunya.
- hampir menyerupai
dengan gerakan inti
yang pertama tapi kaki
di buang kesamping,
kedua tangan denga
jemari yang
menggepal ke arah
yang berlawanan.
Ulangi dengan sisi
bergantian
- Kedua kaki dibuka
lebar dari bahu, 1 agak
lutut ditekuk dan
tangan yang searah
lutut di pinggang,
tangan sisi yang lain
lurus searah lutut yang
di tekuk, ulangi arah
yang sebaliknya, dan
lakukan dengan
semampunya.
3. Setelah gerakan inti
masuk ke gerakan

94
pendingin yaitu
- Kedua kaki dibuka
selebar bahu,
lingkarkan 1 tangan ke
leher dan tahan
dengan tangan yang
lainnya. Hitungan 1-8
kali dan lakukan pada
sisi lainnya
- Posisi tetap, tautkan
kedua tangan lalu
gerakkan kesamping
dengan gerakan
setengah putaran.
Tahan sampai 1-8 kali
hitungan lalu arahkan
tangan kesisi lainnya
dan tahan dengan
hitungan yang sama.
13/01/2024 Nyeri akut 1. Melakukan teknik S: pasien
HARI D.0077 senam anti hipertensi mengatakn nyeri
KEEMPAT yang dilakukan secara tengkuk sudah
mandiri yang dimulai berkurang
dengan gerakan O : pasien tampak
pemanasan yaitu tidak memegangi
- Tekuk kepala ke tengkuk lagi
samping, lalu tahan TD: 150/80
dengan tangan pada mmHg

95
sisi yang sama dengan T : 36 ̊ C
arah kepala. Tahan RR : 20x/ menit
dengan hitungan 1-8, HR : 90x/ menit
lalu bergantian dengan A : masalah
sisi lain. teratasi sebagian
- Tautkan jari jari P : intervensi
kedua tangan dan dilanjutkan di hari
angkat lurus ke atas ke 5
kepala dengan posisi
kedua kaki dibuka
selebar bahu. Tahan
dengan 1-8 hitungan.
2. Dilanjutkan dengan
gerakan inti yaitu
- Lakukan gerakan
seperti jalan di tempat
dengan lambaian
kedua tangan searah
dengan sisi kaki yang
diangkat. Lakukan
perlahan dan hindarin
hentakan.
- Buka kedua tangan
dengan jemari
menggepal dan kaki
dibuka selebar bahu.
Kedua kepalan tangan
bertemu dan ulangi

96
gerakan semampunya
sambil mengatur
nafas.
- Kedua kaki dibuka
agak lebar lalu angkat
tangan dengan
menyerong. Sisi kaki
yang searah dengan
tangan sedikit ditekuk.
Tangan diletakkan
dipinggang dan kepala
searah dengan gerakan
tangan. Tahan 1-8
hitungan lalu ganti
dengan sisi lainnya.
- Gerakan hampir
sama dengan
sebelumnya. Tapi jari
menggepal dan kedua
tangan diangkat ke
atas. Lakukan
bergantian secara
perlahan dan
semampunya.
- hampir menyerupai
dengan gerakan inti
yang pertama tapi kaki
di buang kesamping,

97
kedua tangan denga
jemari yang
menggepal ke arah
yang berlawanan.
Ulangi dengan sisi
bergantian
- Kedua kaki dibuka
lebar dari bahu, 1 agak
lutut ditekuk dan
tangan yang searah
lutut di pinggang,
tangan sisi yang lain
lurus searah lutut yang
di tekuk, ulangi arah
yang sebaliknya, dan
lakukan dengan
semampunya.
3. Setelah gerakan inti
masuk ke gerakan
pendingin yaitu
- Kedua kaki dibuka
selebar bahu,
lingkarkan 1 tangan ke
leher dan tahan
dengan tangan yang
lainnya. Hitungan 1-8
kali dan lakukan pada
sisi lainnya

98
- Posisi tetap, tautkan
kedua tangan lalu
gerakkan kesamping
dengan gerakan
setengah putaran.
Tahan sampai 1-8 kali
hitungan lalu arahkan
tangan kesisi lainnya
dan tahan dengan
hitungan yang sama.

14/ Nyeri akut 1. Menanyakan S: pasien mengatakn


01/2024 D.0077 kabar pasien nyeri tengkuk sudah
HARI apakah hari ini berkurang
KELIMA semakin sehat O : pasien tampak
setelah dilakukan tidak memegangi
nya senam anti tengkuk lagi
hipertensi TD: 150/80 mmHg
2. Melakukan teknik T : 36 ̊ C
senam anti RR : 20x/ menit
hipertensi yang HR : 90x/ menit
dilakukan secara A : masalah teratasi
mandiri yang sebagian
dimulai dengan P : intervensi
gerakan dihentikan di hari ke 5
pemanasan yaitu
- Tekuk kepala ke
samping, lalu

99
tahan dengan
tangan pada sisi
yang sama dengan
arah kepala.
Tahan dengan
hitungan 1-8, lalu
bergantian dengan
sisi lain.
- Tautkan jari jari
kedua tangan dan
angkat lurus ke
atas kepala
dengan posisi
kedua kaki dibuka
selebar bahu.
Tahan dengan 1-8
hitungan.
1. Dilanjutkan
dengan gerakan
inti yaitu
- Lakukan
gerakan seperti
jalan di tempat
dengan lambaian
kedua tangan
searah dengan sisi
kaki yang
diangkat. Lakukan

100
perlahan dan
hindarin hentakan.
- Buka kedua
tangan dengan
jemari menggepal
dan kaki dibuka
selebar bahu.
Kedua kepalan
tangan bertemu
dan ulangi
gerakan
semampunya
sambil mengatur
nafas.
- Kedua kaki
dibuka agak lebar
lalu angkat tangan
dengan
menyerong. Sisi
kaki yang searah
dengan tangan
sedikit ditekuk.
Tangan diletakkan
dipinggang dan
kepala searah
dengan gerakan
tangan. Tahan 1-8
hitungan lalu

101
ganti dengan sisi
lainnya.
- Gerakan hampir
sama dengan
sebelumnya. Tapi
jari menggepal
dan kedua tangan
diangkat ke atas.
Lakukan
bergantian secara
perlahan dan
semampunya.
- hampir
menyerupai
dengan gerakan
inti yang pertama
tapi kaki di buang
kesamping, kedua
tangan denga
jemari yang
menggepal ke
arah yang
berlawanan.
Ulangi dengan sisi
bergantian
- Kedua kaki
dibuka lebar dari
bahu, 1 agak lutut

102
ditekuk dan
tangan yang
searah lutut di
pinggang, tangan
sisi yang lain
lurus searah lutut
yang di tekuk,
ulangi arah yang
sebaliknya, dan
lakukan dengan
semampunya.
2. Setelah gerakan
inti masuk ke
gerakan pendingin
yaitu
- Kedua kaki
dibuka selebar
bahu, lingkarkan 1
tangan ke leher
dan tahan dengan
tangan yang
lainnya. Hitungan
1-8 kali dan
lakukan pada sisi
lainnya
- Posisi tetap, tautkan
kedua tangan lalu
gerakkan kesamping

103
dengan gerakan setengah
putaran. Tahan sampai 1-
8 kali hitungan lalu
arahkan tangan kesisi
lainnya dan tahan dengan
hitungan yang sama.

BAB IV

PEMBAHASAN

Tekanan darah pada pasien hipertensi di pelayanan kesehatan UPT Puskesmas

amplas dengan 6x kunjungan dan di mulai dari tanggal 10 januari 2024 sampai

tanggal 16 januari 2024, dimana pembahasan ini yang berisi sesuai dengan tiap fase

104
dalam proses keperawatan yang meliputi : Pengkajian keperawatan Setelah penulis

melakukan penerapan senam anti hipertensi kepada Tn.T untuk menurunkan rawatan,

menegakkan diagnosa keperawatan, membuat perencanaan, pelaksanaan dan

evaluasi.

A. Pengkajian

Pengkajian keperawatan pada kasus ini dilakukan pada 1 pasien dilakukan

dengan 6x kunjungan dan dimulai dari tanggal 10 januari 2024 sampai tanggal

16 januari 2024. Hasil pengkajian pada Tn.T yaitu:

Tn. T berusia 78 tahun, jenis kelamin laki laki, pekerjaan berjualan warung

kopi, pendidikan terakhir SMA dengan diagnosa medis hipertensi dengan

keluhan malam sulit tidur, nyeri tengkuk dan kepala merasa pusing. Dan

terjadi peningkatan tekanan darah 170/90 mmHg. Pada riwayat penyakit

keluarga pasien dan keluarga mengatakan tidak ada yang menderita penyakit

yang sama dengan Tn.T. Klien mengatakan sering mengkonsumsi obat

amlodipine 5mg. Dengan ini penulis menerapkan terapi senam anti hipertensi

untuk menurunkan tekanan darah unruk meredakan nyeri.

B. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan merupakan penilaian klinis mengenai respon pasien

terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya baik yang

berlangsung actual maupun poitensial. ( Tim Pokja SDKI DPP PPNI,

2017)Berdasarkan data hasil pengkajian dan hasil observasi, pada pasien

105
ditemukan 2 diagnosa keperawatan yang dasar penegakkannya menggunakan

SIKI, SLKI, SDKI 2017.

Berikut masalah keperawatan klien.

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis. Penegakan

dilakukan berdasarkan SDKI (2017) dengan data subjektif pasien

mengatakan nyeri di tengkuk belakang terutama setelah bangun tidur,

bagaimana cara mengatasi rasa nyeri karena sulit tidur, pasien mengatakan

sudah menderira hipertensi sejak 2 tahun yang lalu dan berhenti

mengkonsumsi amlodipine 5 mg sejak 2 bulan yang lalu. Rasa nyeri sudah

berlangsung sejak 7 hari yang lalu dan pasien tampak bingung bagaimana

mengatasi rasa nyeri dan cemas karena tidak bisa tidur malam. TTV : TD :

170/90 mmHg, Temperatur: 36,5 ° C, nadi: 88x/menit, pernapasan:

20x/menit, skala nyeri: 5.

2. Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga

mengenal masalah kesehatan. Penegakan dilakukan berdasarkan SDKI

(2017) dengan data subjektif pasien mengatakan sulit tidur ketika

malam hari, dan pasien tampak mengantuk ketika di siang hari. TTV:

TD: 180/90 mmHg, Temperatur: 36,5 ̊ c, Nadi: 88x/menit, pernafasan:

22x/menit

C. Intervensi

106
Keperawatan Berdasarkan data diagnosa keperawatan yang telah

ditegakkan, tahap ini penulis akan membahas beterkaitan antara perencanaan

yang dibuat dengan teori yang dipakai.

1. Perencanaan asuhan keperawatan yang dilakukan pada pasien

dengan masalah keperawatan nyeri akut berhubungan dengan agen

pencedera fisiologis dengan intervensi berdasarkan dengan kriteria

hasil berdasarkan SLKI yaitu: tingkat nyeri L.08066 dengan

perencanaan (manajemen nyeri L.08238) :

 identifikasi lokasi

 karakteristik

 durasi

 frekuensi

 kualitas

 intensitas nyeri

 identifikasi skala nyeri

 berikan nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri

 jelaskan penyebab dan pemicu nyeri,

 jelaskan strategi meredakan nyeri dengan teknik nonfarmakologis

untuk mengurangi rasa nyeri seperti memberikan terapi senam anti

hipertensi pada lansia dan menjelasakan bagaimana cara melakukan

terapi senam anti hipertensi pada lansia dan menjelaskan manfaat

dari terapi senam anti hipertensi pada lansia tersebut.

107
2. Rencana asuhan keperawatan pada diagnosa gangguan pola

tidur dengan intervensi dengan berdasarkan kriteria hasil

menurut SLKI (2017) yaitu: Pola tidur (L.05045) dengan

perencanaan

 Keluhan kesulitan tidur

 Keluhan tidak puas tidur

 Keluhan istirahat tidak cukup

D. Implementasi

Implementasi merupakan tahap ke empat dari proses keperawatan

yang dimulai setelah perawat menyusun rencana keperawatan

(potter&perry,2010).

Pelaksanaan tindakan keperawatan pada pasien dilaksanakan

dalam waktu yang berbeda. Asuhan atau pelaksanaan tindakan keperawatan

pada pasien dilaksanakan mulai tanggal 10 januari 2024 sampai tanggal 14

januari 2024 dengan 4 kali kunjungan

Berdasarkan perencanaan yang dibuat, penulis melaksanakan tindakan

keperawatan yang sesuai untuk mengatasi masalah keperawatan nyeri akut

berhubungan dengan agen pencedera fisiologis ditandai dengan pasien

mengatakan merasa nyeri di tengkuk bagian belakang setelah bangun tidur

pagi, mengatakan bahwa bingung bagaimana mengatasi rasa nyeri dan pasien

tampak meringis karena sulit tidur, pasien juga mengatakan meminum obat

108
hanya saat merasakan sakit saja dan pasien tampak bingung bagaimana cara

mengatasi rasa nyeri karena tidak bisa tidur malam. TTV: 160/90 mmHg,

Temperatur: 36,5°C, RR: 92x/menit, HR: 22x/menit, skala nyeri 5.

1. kunjungan kerumah pasien pada hari pertama tanggal 10 januari

2024

Perawatan perencanaan yang dilakukan sebagai berikut: menanyakan kepada

Tn.T tentang lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi nyeri, mengindentifikasi

skala nyeri. Menjelaskan kepada Tn.T bahwa penyebab nyeri tersebut akibat

dari penyempitan pembuluh darah akibat dari vasokontriksi pembuluh darah

akan menyebabkan peningkatan tekanan vaskuler selebral. Memberikan

strategi meredakan nyeri Tn.T dengan memberikan Senam Anti Hipertensi

dengan frekuensi 1x sehari dengan durasi waktu 15-20 menit di pagi hari

selama 5 hari. Dalam penerapan ini akan dilakukan pemeriksaan tekanan

darah kepada Tn.T sebelum dan sesudah diberikan Senam Anti Hipertensi.

Adapun prosedur pemberian senam anti hipertensi yang dilakukan di pagi hari

selama 5 hari dalam waktu 15-20 menit dengan Gerakan pemanasan terlebih

dahulu, lalu masuk ke Gerakan inti, dan diakhirin dengan Gerakan

pendingin/penutupan.

2. Kunjungan kerumah pasien pada hari kedua, 11 Januari 2024

109
Menanyakan kepada pasien apakah ada perubahan setelah melakukan terapi

senam anti hipertensi. Melakukan pemeriksaan tekanan darah sebelum dan

sesudah dilakukan terapi senam anti hipertensi dan menemani Tn.T

melakukan terapi Senam anti hipertensi selama 10-20 menit. Prosedur dari

terapi senam anti hipertensi yang dilakukan Tn.T adalah diawali dengan

gerakan pemanasan yaitu:

 Tekuk kepala kesamping, lalu tahan dengan tangan pada sisi yang

sama dengan arah kepala lalu bergantian dengan sisi lain.

 Tautkan jari-jari kedua tangan dan angkat lurus keatas kepala dengan

posisi kedua kaki dibuka selebar bahu, tahan dengan hitungan 1-8

hitungan. Rasakan tarikan bahu dan punggung.

Dilanjutkan dengan Gerakan inti yaitu:

 Lakukan Gerakan seperti jalan ditempat dengan lambaian kedua

tangan searah dengan sisi kaki yang diangkat, lakukan perlahan dan

hindari hentakan.

 Buka kedua tangan dengan jemari menggepal dan kaki dibuka selebar

bahu. Kedua kepalan tangan bertemu dan ulangi Gerakan

semampunya sambil mengatur nafas

 Kedua kaki dibuka agak lebar lalu angkat tangan menyerong. sisi kaki

yang searah dengan tangan sedikit di tekuk. Tangan di letakkan di

110
pinggang dan kepala searah dengan Gerakan tangan. Tahan 1-8

hitungan lalu ganti dengan sisi lainnya.

 Gerakan hampir sama dengan yang sebelumnya, tapi jari menggepal

dan kedua tangan diangkat ke atas. Lalukan bergantian secara

perlahan dan semampunya.

 Hampir sama dengan Gerakan inti 1, tapi kaki di buang ke samping ke

samping. Kedua tangan dengan jemari mengepal ke arah yang

berlawanan. Ulangi dengan sisi bergantian.

 Kedua kaki dibuka lebar dari bahu, satu lutut agak ditekuk dan tangan

yang searah lutut di tekuk dan tangan searah lutut di pinggang.

Tangan sisi yang lain lurus kea rah lutut yang di tekuk. Ulangi

Gerakan kearah sebaliknya dan lakukan semampunya.

Dan diakhiri dengan Gerakan pendingin

 Kedua kaki dibuka selebar bahu, lingkarkan satu tangan ke leher dan

tahan dengan tangan lainnya. Hitungan 1-8 kali dan lakukan pada sisi

lainnya.

 Posisi tetap, tautkan kedua tangan lalu gerakkan ke samping dengan

Gerakan setengah putaran. Tahan 1-8 hitungan yang sama.

3. Kunjungan ketiga, 13 Januari 2024

Menanyakan kepada pasien apakah masi ada keluhan nyeri setelah

melakukan terapi senam anti hipertensi. Melakukan pemeriksaan tekanan

111
darah sebelum dan sesudah melakukan terapi senam anti hipertensi dan

menemaninya melakukan terapi senam anti hipertensi selama 10-20 menit.

Prosedur dari terapi senam anti hipertensi yang dilakukan oleh Tn.T adalah

diawali dengan gerakan pemanasan yaitu:

 Tekuk kepala kesamping, lalu tahan dengan tangan pada sisi yang

sama dengan arah kepala lalu bergantian dengan sisi lain.

 Tautkan jari-jari kedua tangan dan angkat lurus keatas kepala dengan

posisi kedua kaki dibuka selebar bahu, tahan dengan hitungan 1-8

hitungan. Rasakan tarikan bahu dan punggung.

Dilanjutkan dengan Gerakan inti yaitu:

 Lakukan Gerakan seperti jalan ditempat dengan lambaian kedua

tangan searah dengan sisi kaki yang diangkat, lakukan perlahan dan

hindari hentakan.

 Buka kedua tangan dengan jemari menggepal dan kaki dibuka selebar

bahu. Kedua kepalan tangan bertemu dan ulangi Gerakan

semampunya sambil mengatur nafas

 Kedua kaki dibuka agak lebar lalu angkat tangan menyerong. sisi kaki

yang searah dengan tangan sedikit di tekuk. Tangan di letakkan di

pinggang dan kepala searah dengan Gerakan tangan. Tahan 1-8

hitungan lalu ganti dengan sisi lainnya.

112
 Gerakan hampir sama dengan yang sebelumnya, tapi jari menggepal

dan kedua tangan diangkat ke atas. Lalukan bergantian secara

perlahan dan semampunya.

 Hampir sama dengan Gerakan inti 1, tapi kaki di buang ke samping ke

samping. Kedua tangan dengan jemari mengepal ke arah yang

berlawanan. Ulangi dengan sisi bergantian.

 Kedua kaki dibuka lebar dari bahu, satu lutut agak ditekuk dan tangan

yang searah lutut di tekuk dan tangan searah lutut di pinggang.

Tangan sisi yang lain lurus kea rah lutut yang di tekuk. Ulangi

Gerakan kearah sebaliknya dan lakukan semampunya.

Dan diakhiri dengan Gerakan pendingin

 Kedua kaki dibuka selebar bahu, lingkarkan satu tangan ke leher dan

tahan dengan tangan lainnya. Hitungan 1-8 kali dan lakukan pada sisi

lainnya.

 Posisi tetap, tautkan kedua tangan lalu gerakkan ke samping dengan

Gerakan setengah putaran. Tahan 1-8 hitungan yang sama.

4. Kunjungan keempat, 14 Januari 2024

Menanyakan kepada pasien apakah masi ada keluhan nyeri setelah

melakukan terapi senam anti hipertensi. Melakukan pemeriksaan tekanan

darah sebelum dan sesudah melakukan terapi senam anti hipertensi dan

menemaninya melakukan terapi senam anti hipertensi selama 10-20 menit.

113
Prosedur dari terapi senam anti hipertensi yang dilakukan oleh Tn.T adalah

diawali dengan gerakan pemanasan yaitu:

 Tekuk kepala kesamping, lalu tahan dengan tangan pada sisi yang

sama dengan arah kepala lalu bergantian dengan sisi lain.

 Tautkan jari-jari kedua tangan dan angkat lurus keatas kepala dengan

posisi kedua kaki dibuka selebar bahu, tahan dengan hitungan 1-8

hitungan. Rasakan tarikan bahu dan punggung.

Dilanjutkan dengan Gerakan inti yaitu:

 Lakukan Gerakan seperti jalan ditempat dengan lambaian kedua

tangan searah dengan sisi kaki yang diangkat, lakukan perlahan dan

hindari hentakan.

 Buka kedua tangan dengan jemari menggepal dan kaki dibuka selebar

bahu. Kedua kepalan tangan bertemu dan ulangi Gerakan

semampunya sambil mengatur nafas

 Kedua kaki dibuka agak lebar lalu angkat tangan menyerong. sisi kaki

yang searah dengan tangan sedikit di tekuk. Tangan di letakkan di

pinggang dan kepala searah dengan Gerakan tangan. Tahan 1-8

hitungan lalu ganti dengan sisi lainnya.

 Gerakan hampir sama dengan yang sebelumnya, tapi jari menggepal

dan kedua tangan diangkat ke atas. Lalukan bergantian secara

perlahan dan semampunya.

114
 Hampir sama dengan Gerakan inti 1, tapi kaki di buang ke samping ke

samping. Kedua tangan dengan jemari mengepal ke arah yang

berlawanan. Ulangi dengan sisi bergantian.

 Kedua kaki dibuka lebar dari bahu, satu lutut agak ditekuk dan tangan

yang searah lutut di tekuk dan tangan searah lutut di pinggang.

Tangan sisi yang lain lurus kea rah lutut yang di tekuk. Ulangi

Gerakan kearah sebaliknya dan lakukan semampunya.

Dan diakhiri dengan Gerakan pendingin

 Kedua kaki dibuka selebar bahu, lingkarkan satu tangan ke leher dan

tahan dengan tangan lainnya. Hitungan 1-8 kali dan lakukan pada sisi

lainnya.

 Posisi tetap, tautkan kedua tangan lalu gerakkan ke samping dengan

Gerakan setengah putaran. Tahan 1-8 hitungan yang sama.

5. Kunjungan kelima, 15 Januari 2024

Menanyakan kepada pasien apakah kemarin sudah ada melakukan terapi

senam anti hipertensi secara mandiri dan masi ada keluhan nyeri setelah

melakukan terapi senam anti hipertensi. Melakukan pemeriksaan tekanan

darah sebelum dan sesudah melakukan terapi senam anti hipertensi dan

menemaninya melakukan terapi senam anti hipertensi selama 10-20 menit.

Prosedur dari terapi senam anti hipertensi yang dilakukan oleh Tn.T adalah

diawali dengan gerakan pemanasan yaitu:

115
 Tekuk kepala kesamping, lalu tahan dengan tangan pada sisi yang

sama dengan arah kepala lalu bergantian dengan sisi lain.

 Tautkan jari-jari kedua tangan dan angkat lurus keatas kepala dengan

posisi kedua kaki dibuka selebar bahu, tahan dengan hitungan 1-8

hitungan. Rasakan tarikan bahu dan punggung.

Dilanjutkan dengan Gerakan inti yaitu:

 Lakukan Gerakan seperti jalan ditempat dengan lambaian kedua

tangan searah dengan sisi kaki yang diangkat, lakukan perlahan dan

hindari hentakan.

 Buka kedua tangan dengan jemari menggepal dan kaki dibuka selebar

bahu. Kedua kepalan tangan bertemu dan ulangi Gerakan

semampunya sambil mengatur nafas

 Kedua kaki dibuka agak lebar lalu angkat tangan menyerong. sisi kaki

yang searah dengan tangan sedikit di tekuk. Tangan di letakkan di

pinggang dan kepala searah dengan Gerakan tangan. Tahan 1-8

hitungan lalu ganti dengan sisi lainnya.

 Gerakan hampir sama dengan yang sebelumnya, tapi jari menggepal

dan kedua tangan diangkat ke atas. Lalukan bergantian secara

perlahan dan semampunya.

 Hampir sama dengan Gerakan inti 1, tapi kaki di buang ke samping ke

samping. Kedua tangan dengan jemari mengepal ke arah yang

berlawanan. Ulangi dengan sisi bergantian.

116
 Kedua kaki dibuka lebar dari bahu, satu lutut agak ditekuk dan tangan

yang searah lutut di tekuk dan tangan searah lutut di pinggang.

Tangan sisi yang lain lurus kea rah lutut yang di tekuk. Ulangi

Gerakan kearah sebaliknya dan lakukan semampunya.

Dan diakhiri dengan Gerakan pendingin

 Kedua kaki dibuka selebar bahu, lingkarkan satu tangan ke leher dan

tahan dengan tangan lainnya. Hitungan 1-8 kali dan lakukan pada sisi

lainnya.

 Posisi tetap, tautkan kedua tangan lalu gerakkan ke samping dengan

Gerakan setengah putaran. Tahan 1-8 hitungan yang sama.

[Link]

Setelah melaksanakan implementasi keperawatan pada pasien

hipertensi dengan mengimplementasikan terapi senam anti hipertensi

ditemukan hasil Dimana tekanan darah Tn.T sebelum melaksanakan

terapi Senam anti hipertensi dan setelah dilakukan terapi Senam anti

hipertensi dari hari pertama sampai hari ke kelima ditemukan adanya

perubahan tekanan darah Tn.T, Dari 170/90 mmHg hingga 150/80

mmHg. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yeni gumiati (2024)

dengan judul Asuhan Keperawatan Pada Pasien Hipertensi Dengan

Intervensi Terapi Senam Hipertensi Terhadap Penurunan Tekanan

Darah yang menyatakan bahwa Berdasarkan hasil penulis melakukan

117
implementasi dengan menganjurkan pasien untuk melakukan senam

hipertensi secara rutin selama tiga hari berturut-turut dari tanggal 09

januari s.d 11 Januari 2024 didapatkan perbedaan antara kondisi

sebelum dan sesudah dilakukan implementasi.

BAB V

KESIMPULAN & SARAN

118
A. Kesimpulan

Berdasarkan asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada Tn.T

selama 5 hari pada tanggal 10 Januari 2024 sampai 14 Januari 2024 dengan

kasus hipertensi dengan terapi senam anti hipertensi pada lansia untuk

menurunkan tekanan darah pada Tn.T Pada hari pertama tanggal 10 Januari

2024 dilakukan kontrak waktu dan keluarga untuk melakukan teknik terapi

senam anti hepertensi dan memberikan edukasi kepada keluarga dengan

menerapkan teknik terapi senam anti hipertensi pada Tn.T dalam

menurunkan tekanan darah dari 170/90 mmHg hingga menjadi 150/80

mmHg. setelah di terapkan implementasi terapi senam anti hipertensi TD

170/90 mmHg skala. hari ke dua tanggal 11 Januari 2024 TD 170/90

mmHg, setelah diterapkan implementasi terapi senam anti hipertensi,

intervensi dilanjutkan dihari ketiga masalah belum teratasi. Di hari ketiga

tanggal 12 Januari 2024 dikaji ulang hasil evaluasi tekanan darah sudah

mulai menurun TD 165/80 mmHg,Intervensi dilanjutkan di hari ke empat

masalah belum teratasi. Di hari ke empat tanggal 13 Januari 2024 TD.15/80

mmHg. intervensi dilanjutkan kelima masalah teratasi sebagian. Di hari

terahir tanggal 14 Januari 2024 TD.150/80 mmHg intervensi dihentikan

masalah teratasi.

B. Saran

1. Bagi Puskesmas

119
Bagi pihak puskesmas agar meningkatkan penanganan pasien hipertensi

terutama kerja sama dengan semua tenaga kesehatan dalam hal edukasi

untuk pasien dan keluarga mengenai pola hidup dan juga pola kebiasaan

pada pasien hipertensi.

2. Bagi Pasien Diharapkan pasien dapat mengubah pola hidup dan pola

kebiasaan. Rutin melakukan cek kesehatan secara rutin karena merupakan

tindakan yang sangat penting dilakukan untuk mengetahui kesehatan

terutama tekanan darah.

3. Bagi Keluarga Pasien Diharapkan keluarga pasien bisa berperan sebagai

support sistem bagi pasien dan keluarga lainnya agar tetap terjaga

kerukunan dan kedamaian.

4. Bagi Penulis Selanjutnya Diharapkan penulis selanjutnya dapat

menggunakan waktu seefektif mungkin dan dapat lebih teliti dalam

melakukan pengkajian serta pengolahan data yang menyeluruh dengan

tepat dan akurat sehingga dapat memberikan asuhan keperawatan pada

pasien secara maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Sulistianto, edi., wirakhmi, ikit netra & susanto, amin. (2021). pengaruh senam

hipertensi terhadap penurunan tekanan darah di Desa penerusan

120
kulon wilayah kerja Puskesmas Sususkan 2 Kabupaten

Banjarnegara.1(3)

Susanto, S. E., & Wibowo, T. H. (2022). Effectiveness of Giving Deep Relaxation To

Reduce Pain in. Jurnal Inovasi Penelitian, 3(4), 5841–5846.

[Link]

Ulfa, U. M., Rahman, H. F., & Fauzi, A. K. (2022). Pengaruh Senam Hipertensi

Terhadap Tekanan Darah Pada Frekuensi Nadi Dan Kolesterol Pada

Klien Hipertensi Di Puskesmas Jabung Sisir Probolinggo. Jurnal

Keperawatan Profesional (Jkl), 10(1), 1–13.

Https://[Link]/Https://[Link]/10.33650/Jkp.V10i1.3407

Kementrian Kesehatan, Hasil Riskesdas 2018 diakses pada tanggal 02 November

2018 di [Link]

Rahmiati, C., & Zurijah, T. (2020). Pengaruh Senam Lansia Terhadap Tekanan

Darah Pada Lansia Dengan Hipertensi. Jurnal Penjaskesrek, 7(2),

204–217

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosa Keperawatan

Indonesia.

JakartaSelatan: Dewan Pengurus Pusat Persatuan

Perawat Nasional Indonesia

121
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan

Indonesia.

Jakarta Selatan: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat

Nasional Indonesia.

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan

Indonesia.

Jakarta Selatan: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat

Nasional Indonesia.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

122
Nama : Lidya Apriani

Tempat/ Tanggal lahir : Medan, 25 April 2023

Jenis kelamin : Perempuan

Anak ke : 1 dari 3 bersaudara

Agama : Islam

Alamat : Jl Metrologi Gg Meteorologi 6

No Hp : 083199455980

Nama Orang Tua

Nama Ayah : Dedi Marzoni

Pekerjaan Ayah : Wiraswasta

Nama Ibu : Lina Ika Yanti

Pekerjaan Ibu : Ibu rumah tangga

Riwayat Pendidikan

123
SD N 060930 : 2009-2015

SMP Swasta Darma Medan : 2015-2018

SMA Swasta Unggulan Al-Manar Medan : 2018- 2021

STIKes Malahayati Medan : 2021- 2024

124

Anda mungkin juga menyukai