Senam Anti Hipertensi untuk Lansia
Senam Anti Hipertensi untuk Lansia
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
fisiologis yang melemahkan kekuatan pemompaan jantung dan membuat arteri besar
menjadi kaku dan tidak mampu melebar saat jantung memompa dara h melalui arteri
tersebut. Olah raga mempunyai efek menurunkan tekanan darah pada penderita
tekanan darah yang hanya sekali. Tekanan darah harus diukur dalam posisi duduk dan
berbaring (Surasono,2005)
kenaikan tekanan darah sistolik sebesar 140 mmHg dan tekanan darah diastolik
penyebab utama kematian di seluruh dunia, merenggut nyawa sekitar 8 miliar orang
Menurut World Health Organization (WHO) pada tahun 2019, salah satu
sekitar 8 miliar orang di seluruh dunia setiap tahun, termasuk hampir 1,5 juta orang
1
Asia Timur Selatan. Diperkirakan 1,28 miliar orang dewasa berusia 30-79 tahun di
seluruh dunia menderita hipertensi, sebagian besar ( dua per tiga) ttinggal di negara
hipertensi tidak menyadari bahwa mereka memiliki kondisi tersebut. Kurang dari
separu orang dewasa (42%) dengan hipertensi di diagnosis dan di obati. Sekitar 1 dari
seluruh jumlah penduduk Indonesia dan kasus hipertensi tertinggi berada di Provinsi
Sulawesi Utara dan dengan 13,2% dan terendah berada di Provinsi Papua dengan
4,4%. Prevalensi hipertensi di Provinsi Sumatera Utara mencapai 6,7% dari jumlah
Utara. Jumlah penduduk Sumatera Utara yang menderita hipertensi mencapai 12,42j t
Puskesmas Amplas selama tahun 2022 sebanyak 1.413 orang (UPT. Puskesmas
penglihatan menjadi kabur akibat kerusakan retina, dan gejala lain yang sering
2
ditemukan adalah epitaksis, mudah marah, suka tidur, mata berkunang-kunang 3
telinga berdengung dan rasa berat di tengkuk. Jika penyakit hipertensi dibiarkan akan
menyebabkan masalah lebih lanjut seperti penyakit jantung, dan gagal ginjal
yang menyebabkan kegagalan terapi, hal tersebut bisa berdampak pada memburuknya
tanda dan gejala apapun. Tekanan darah yang sangat tinggi dapat menyebabkan sakit
salah satu yang dapat menurunkan hipertensi adalah melakukan terapi senam
Senam hipertensi menurut Totok Hernawan dan Fahrun Nur Rosyid (2017)
merupakan salah satu jenis aktivitas fisik yang berusaha meningkatkan aliran oksigen
dan darah ke rangka dan otot aktif, khususnya otot jantung. Olahraga menyebabkan
jantung dan volum e sekuncup karena meningkatkan kebutuhan sel akan oksigen
untuk proses penciptaan energi. Akibatnya, tekanan darah akan meningkat. Setelah
istirahat 30 hingga 120 menit, pembuluh darah akan melebar sehingga menyebabkan
penurunan aliran darah sebentar. Setelahnya, tekanan darah akan kembali normal
seperti sebelum beraktivitas. Berolahraga secara konsisten dan teratur akan membuat
3
pembuluh darah Anda lebih elastis dan penurunan tekanan darah bertahan lebih lama.
menurunkan tekanan darah setelah berolahraga. Oleh karena itu, tekanan dara h akan
relaksasi, unsur refleksi, unsur musik, dan aerobik. Pada unsur relaksasi pada saat
pemanasan dan pendinginan menggunakan cara slow deep breathing (nafas dalam),
sehingga tubuh aka n menjadi rileks, dalam senam hipertensi terdapat gerakan yang
nutrisi dan peredaran darah, unsur musik sat melakukan senam hipertensi tentunya
akan di iringi oleh musik yang dimana akan musik dapat membuat pikiran lebih
tenang dan jiwa menjadi gembira, sedangkan unsur aerobik dapat membuat tubuh
penelitian yang dilakukan oleh Margiyati adanya efek dari senam lansia terhadap
penurunan tekanan darah pada lansia pasien hipertensi, 91,67% responden mengalami
penurunan rata-rata tekanan darah sistolik 10,69 mmHg dan diastolic 6,11 mmHg.
Berdasarkan hasil penelitian Mutia Agustiani Moonti dkk, (2022) dalam jurnal
yang berjudul Senam Hipertensi Untuk Penderita Hipertensi, berdasarkan hasil jurnal
oleh peneliti didapatkan hasil bahwa Hasil penelitian menunjukkan rata-rata tekanan
darah sistolik sebelum senam hipertensi lansia 151.86 mmHg, diastolik 95,04 mmHg
4
dan rata-rata tekanan darah sistolik sesudah senam hipertensi lansia 91,20 mmHg,
diastolik 91,18 mmHg. Senam hipertensi lansia berpengaruh terhadap tekanan darah
lansia hipertensi. Hal ini sejalan dengan penelitian Siti Atiqa dkk, (2023) dalam jurnal
yang berjudul Pengaruh Senam Hipertensi pada Lansia berdasarkan hasil penelitian
dilakukan oleh wahyuni dkk, (2023) dengan judul jurnal Pengaruh Senam Hipertensi
terhadap tekanan darah lansia penderita hipertensi bahwa senam hipertensi efektif
melakukan penyuluhan tentang pola hidup yang sehat untuk mengurangi resiko
tekanan darah melakukan aktivitas fisik dengan melakukan olahraga secara teratur
yang bertujuan untuk membuat aliran darah lancer dan aliran darah menjadi lebih
terkendali, yang ketiga kuratif yaitu dengan melakukan terapi farmakologi sesuai
dengan resep dokter seperti beta blokers, captopril, amlodipin dan lain-lain. Yang ke
empat rehabilitative yaitu seorang perawat juga dapat memberikan edukasi kesehatan
kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya penggunaan obat untuk mencegah
5
terjadinya komplikasi serta melakukan kontrol rutin yang bertujuan untuk
implementasi terapi senam anti hipertensi pada pasien penderita hipertensi dalam
Ruang lingkup
1. Tujuan Umum
2. Tujuan Khusus
berikut:a
6
2. Mampu menegakkan diagnosa keperawatan keluarga Dengan
4. C. Batasan Masalah
masalah yaitu Pemberian senam anti hipertensi untuk lansia Pada Tn.
Medan.
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengertian Keluarga
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan
keterikatan aturan dan emosional dan individu mempunyai peran masing- masing
Keluarga)
2. Fungsi Keluarga
1. Fungsi afektif adalah fungsi keluarga yang utama untuk mengajarkan segala
8
3. Fungsi reproduksi adalah fungsi untuk mempertahankan generasi dan
kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu. Peran
individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga,
kategori, yaitu peran formal dan peran informal. Peran formal adalah peran eksplisit
yang terkadung dalam struktur peran keluarga. Peran informal bersifat tidak tampak
1. Peran forma
9
Peran parental dan pernikahan, diidetifikasi menjadi delapan peran yaitu peran
2. Peran informal
perantara keluarga.
1. Peranan ayah.
Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anaknya, berperan sebagai pencari
2. Peranan ibu
Ibu sebagai istri dari suami dan anak-anaknya. Mempunyai peranan untuk
pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta
10
sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga ibu dapat
3. Peranan anak
kepada anggota keluarga yang menderita suatu penyakit. Perawatan adalah suatu
perkembangan bagi terwujudnya manusia yang sehat seutuhnya (Depkes RI, 2008).
perhatian dan pertolongan yang mereka butuhkan dari seseorang atau keluarga
biasanya cenderung lebih mudah mengikuti nasehat medis daripada penderita yang
kurang mendapatkan dukungan sosial (peran keluarga). Menurut La, Groca (1998)
yang dikutip oleh Prasetyawan (2008) bahwa keluarga memainkan peranan yang
sangat penting dalam pengelolaan medis pada salah satu anggota keluarga yang sakit.
11
1) Teratasinya masalah yang dihadapi individu yang ada kaitannya dengan
sasaran individu dari keluarganya, sebagai tindak lanjut pelayanan rawat inap
maupun jalan.
tersedia.
Menurut Bailon dan Maglaya (1978) yang dikutip Efendi, F & Makhfudli
keluarga, yaitu:
12
kadang seluruh kekuatan sumber daya dan dan keluarga habis. Orang tua
merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari pertolongan yang tepat
keluarga.
13
Ketika memodifikasi lingkungan rumah yang sehat kepada anggota keluarga
berikut ini:
(4) Pengalaman yang kuranmg baik terhadap petugas dan fasilitas kesehatan
14
B. Konsep Teori Hipertensi
1. Defenisi Hipertensi
kematian dengan keluhan dan tanpa keluhan karena penyakit ini sering
mengalami hipertensi atau tekanan darah tinggi bila angka sistol mencapai ≥
140 mmHg dan diastole ≥ 90 mmHg. Hipertensi dapat dicegah dan dikontrol
melalui senam hipertensi sebagai salah satu upaya untuk mengatasi masalah
demonstrasi senam anti hipertensi diiringi dengan musik. Hasil yang dicapai
15
Kesimpulan bahwa pendidikan kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan
sasaran dan kegiatan senam yang dilakukan dapat dilakukan secara rutin
Wahyudi,2022)
ketika tekanan darah seseorang diatas nilai normal. Tekanan darah seseorang
dibagi menjadi tekanan sistolik yaitu darah yang keluar dari jantung untuk
yang masuk ke jantung dalam keadaan istirahat. Tekanan darah yang normal
ialah tekanan darah yang memiliki angka sistol≤ 140 mmHg serta diastol≤ 90
2. Etiologi
16
1. Usia, pengidap hipertensi yang berusia lebih dari 35 tahun meningkatkan
2. Jenis kelamin, insidens terjadi hipertensi pada pria pada umumnya lebih
mulai meningkat pada usia paru baya, sehingga pada usia diatas 65 tahun
3. Genetik, suatu kondisi yang terjadi kar ena adanya faktor keturunan dari
keluarga
jantung, dan stroke. Oleh karena itu kebiasaan merokok yang dianjurkan
17
dengan stres yang terus menerus akan memicu penyakit yang berhubungan
tekanan darah tingggi Pada lanjut usia penyebab hipertensi disebabkan oleh
3. Manifestasi Klinis
yang dihasilkan oleh darah terhadap setiap satuan luas dinding pembuluh dan
18
6. Faktor penghambat (knin-kalikrein/prostaglandin/histamin)
penyakit.
Bila timbul gejala, penyakit ini sudah lanjut. Gejala klasik yaitu sakit
pada yang tidak darah tinggi. Namun gejala sakit kepala sewaktu bangun
2020)
saja. Jika pada pengukuran pertama hasilnya tinggi, maka tekanan darah
adanya hipertensi.
19
Pada dasarnya dugaan kuat seseorang menderita hipertensi terjadi
2. Umur penderita
antara 25-45 tahun, hanya sekitar 20% saja yang mengalami hipertensi
makanan asin.
4. Pemeriksaan laboratorium
a) Pemeriksaan urine
20
Dilakukan untuk mengetahui keberadaan protein dan
b) Pemeriksaan darah
juga di ukur.
21
5. Pemeriksaan lain
6. Pemeriksaan komplikasi
a. Pemeriksaan mata
22
(selaput peka cahaya pada permukaan dalam bagian belakang
hipertensi
b. Pemeriksaan jantung
darah tinggi.
23
c. Pemeriksaan ginjal
d. Pemeriksaan rutin
24
[Link] mengukur perbedaan tekanan darah pada kedua
e. Pemeriksaan otak
renal)
4. Patofisiologi
Sebagian kecil pasien (2%-5%) menderita penyakit ginjal atau adrenal sebagai
hipertensi esensial.
25
Hipertensi merupakan penyimpangan heterogen yang dihasilkan baik
dan Sebagian besar kasus ini disebabkan oleh penyakit ginjal kronis atau
dan koarktasio aorta. Beberapa obat yang dapat meningkatkan tekanan darah
primer,termasuk:
26
merupakan vasokonstriktor kuat dan mengakibatkan peningkatan
volum darah. Efeknya ialah meningkatnya eksresi garam dan air dari
natriuretic.
darah.
27
resistensi pembuluh darah perifer. (Buku farmakoterapi kardiovaskuler
dan renal)
5. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
merah, atau sel darah putih yang menandakan penyakit ginjal dan diabetes
2) Jika terdapat kadar kalium serum kurang dari 3,5 mEq/L dapat
3) Kadar blood urine nitrogen (BUN) normal atau meningkat hingga lebih
dari 20 mg/dl dan kadar kreatinin serum normal atau meningkat hingga
b. Pemeriksaan Diagnostik
28
1) Urografi eksretori dapat menunjukkan atrofi ginjal, mengindikasikan
6. Komplikasi
kerusakan arteri di dalam tubuh sampai organ yang mendapatkan suplai darah dari
arteri tersebut. Komplikasi hipertensi dapat terjadi pada organ – organ tubuh menurut
a. Jantung
banyaknya cairan yang tertahan di paru maupun jaringan tubuh lain yang
29
dapat 13 menyebabkan sesak nafas atau oedema. Kondisi ini disebut juga
gagal jantung.
b. Otak
c. Ginjal
laun ginjal tidak mampu membuang zat – zat yang dibutuhkan tubuh yang
d. Mata
8. Pemeriksaan Dignostik
a. Hemoglobin/Hematokrit
: hipokoagulabilitas, anemia.
30
b. Blood Urea Nitrogen (BUN)/Kreatinin
ginjal.
c. Glukosa
d. Urinalisa
e. Ekg
jantung, hipertensi.
10. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan farmakologis
(Yogiantoro, 2019)
31
Tujuan dari penatalaksanaan diet:
penderita.
32
Hipertensi merupakan senam aktifitas fisik yang dapat
di tubuh yang mana jika dilakukan secara rutin dan tidak berlebihan
maka tubuh akan semakin ideal dan sehat ( hermawan & rosyid,2020 )
33
Bersarkan hasil penelitan dalam beberapa jurnal, penulis
34
pengaruh senam hipertensi terhadap perubahan tekanan
35
saat istirahat, berkurangnya obesitas dan menurunnya
resistensi insulin.
36
kesamping, lalu seperti jalan dibuka selebar
tahan dengan ditempat dengan bahu,
tangan pada sisi lambaian kedua lingkarkan 1
yang sama tangan searah tangan ke leher
dengan arah dengan sisi kaki dan tahan
kepala. Tahan yang diangkat. dengan tangan
dengan Lakukan perlahan lainnya.
hitungan 1-8 dan hindarin Hitungan 1-8
kali hitungan, hentakan. kali dan
lalu bergantian 2) Buka kedua lakukan dengan
dengan sisi lain. tangan dengan sisi lainnya.
2) Tautkan jari- jemari menggepal 2) Posisi tetap,
jari kedua dan kaki dibuka tautkan kedua
tangan dan selebar bahu. tangan lalu
angkat lurus Kedua kepalan Gerakan ke
keatas kepala tangan bertemu samping dengan
dengan posisi dan ulangi Gerakan
kedua kaki Gerakan setengah
dibuka selebar semampunya putaran.
bahu. Tahan sambil mengatur Hitungan 1-8
dengan 1-8 kali nafas. kali lalu
hitungan. 3) Kedua kaki arahkan tangan
Rasakan tarikan dibuka agak lebar kesisi lainnya
bahu dan lalu angkat tangan dan tahan
punggung. menyerong. Sisi dengan
kaki yang searah hitungan yang
dengan tangan sama.
sedikit ditekuk.
37
Tangan
diletakkan di
pinggang dan
kepala searah
dengan Gerakan
tangan. Tahan 1-8
kali hitungan lalu
ganti dengan sisi
lainnya.
4) Gerakan hampir
sama dengan
sebelumnya, tapi
jari menggepal
dan kedua tangan
diangkat keatas.
Lakukan
bergantian secara
perlahan dan
semampunya.
5) Hampir sama
dengan Gerakan
inti 1. Tapi kaki
dibuang ke
samping. Kedua
tangan dengan
jemari mengepal
kearah yang
berlawanan.
38
Ulangi dengan
sisi bergantian.
6) Kedua kaki
dibuka lebar dari
bahu, satu lutut
agak di tekuk dan
tangan yang
searah lutut di
pinggang. Tangan
sisi yang lain
lurus kearah lutut
yang di tekuk.
Ulangi Gerakan
kearah sebaliknya
dan lakukan
semampunya.
C. Proses Keperawatan
a. Pengkajian
dalam Setiawan. 2016 dalam Buku A). Hal-hal yang perlu dikaji dalam
keluarga:
39
1) Data dasar keluarga
b) Usia
Diisi dengan usia kepala keluarga dan dilengkapi dengan tanggal lahir
kepala keluarga
Diisi dengan alamat dan nomor telepon, ditulis dengan lengkap. jika
semuanya.
keluarga.
f) Komposisi Keluarga
40
Diisi dengan membuat kolom nama dimulai dari usia yang paling tua,
beserta kendala atau masalah masa yang terjadi dengan jenis tipe
i) Suku Bangsa
mereka.
41
1) Aktivitas rekreasi keluarga Identifikasi tipe dan aktivitas keluarga
sebagainya.
42
b) Riwayat keluarga sebelumnya
kesehatannya.
4) Data Lingkungan
a) Karakteristik rumah
tipe rumah, jumlah ruangan, jenis septic tank, jarak septic tank dengan
tersebut.
43
perkumpulan keluarga yang ada dan sejauh mana keluarga
kesehatan.
5) Struktur Keluarga
44
Bagaimana proses pengambilan keputusan keputusan: konsensus bila
mengubah perilaku.
c) Struktur peran
secara dinamis.
keluarga, nilai inti keluarga seperti orientasi dan goal masa depan.
6) Fungsi Keluarga
45
a) Fungsi afektif
Hal yang perlu dikaji yaitu gambaran diri anggota keluarga, perasaan
saling menghargai.
b) Fungsi sosialisasi
sehat-sakit.
d) Fungsi reproduksi
keluarga.
46
e) Fungsi Ekonomi
pada:
(a) Kaji tanda tanda vital pasien, mencakup tekanan darah. nadi apikal
47
(b) Papiledema pada mata di tahap akhir jika terdapat retinopati
hipertensi.
abdomen.
(e) Bising pada aorta abdomen dan arteri femoral atau karotis.
b. Diagnosa Keperawatan
selanjutnya yaitu data disusun sehingga ada gambaran tentang status atau
keadaaan dan hal-hal yang menyebabkan keadaan tersebut. Sesudah itu perlu
dilihat hubungan data yang satu dengan data yang lain serta pengaruhnya
48
maupun kolektif yang terdiri dari Problem, Etiologi, dan Symptom (PES).
Symptom (tanda dan gejala) adalah sekumpulan data objektif dan subyektif
penyebab.
bersifat aktual menunjukkan keadaan yang nyata yang sedang dialami oleh
bersifat risiko merupakan masalah yang belum terjadi saat pengkajian, namun
tingkat fungsi yang lebih tinggi Keadaan dimana keluarga sejahtera yang
et al., 2022).
49
1) Diagnosis individu: yang dialami oleh individu keluarga tersebut,
nutrisi.
50
masing-masing kriteria memiliki skor dan bobot yang berbeda disertai
1 Sifat masalah: 3 1
a. Aktual
2
b. Risiko
1
c. Keadaan
sejahtera/diagn
osis sehat
2 Kemungkinan 2 2
masalah dapat diubah:
1
a. Mudah
0
b. Sebagian
c. Tidak dapat
3 Potensi masalah untuk 3 1
dicegah:
2
a. Tinggi
1
b. Cukup
c. Rendah
4 Menonjolnya masalah: 2 1
a. Masalah
1
dirasakan dan
0
harus segera
ditangani
51
b. Ada masalah
tetapi tidak
perlu ditangani
c. Masalah tidak
dirasakan
Skoring
bobot.
klien individu, keluarga dan komunitas (Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2016).
dari tindakan yang didesain oleh perawat yang bermanfaat untuk membantu
52
anggota keluarga. Dalam definisi lain, perencanaan adalah sebuah proses
d. Implementasi Keperawatan
koping.
53
e. Evaluasi Keperawatan
54
BAB III
TINJAUAN KASUS
FORMAT PENGKAJIAN
KEPERAWATAN KELUARGA
1. DATA UMUM
2) Usia : 78 thn
4) [Link] : 082274168576
55
mmHg
3. Ny. R Anak Perempuan 26 S1 Apotik TB: 160Cm TD:
Farmasi BB : 65Kg 110/80
mmHg
5) Komposisi Keluarga :
Genogram:
Keterangan
56
= Laki-laki = garis perkawinan
= meninggal
inti yang
asli suku
jawa.
57
9) Status Sosial Keluarga :sumber pendapatan keluarga berdasarkan dari
10) Aktivitas Rekreasi Keluarga : Keluarga tidak pernah rekreasi secara khusus
atau rutin
tetangga.
Keluarga Tn. T dan Ny. S merupakan keluarga tahap VIII atau tahap akhir
yaitu keluarga usia lanjut yang belum melepas anaknya berkeluarga dan
saja dan tidak ada masalah. Memuaskan kehidupan yang lain dengan
58
b) Menyesuaikan dengan pendapatan yang menurun Tn. T mengatakan untuk
besar yang dapat membuat pernikahan berantakan. Jika ada masalah Tn. T
Keluarga Tn. T dan Ny. S sudah melewati semua tahap yaitu dari tahap pra
sekolah, tahap melepas anak dan sekarang tahap usia lanjut yang tinggal
menunggu kedua anaknya melepas masa lajang dan masa gadisnya. Tn. T
dirasakan karena masih bersama dengan Ny. S hingga saat ini, tetapi Tn. T
mengatakan harus siap jika salah satu dari mereka harus ditinggal untuk
selamanya.
59
3) Riwayat keluarga inti :
Tn.T menderita hipertensi sejak 2 tahun yang lalu sedangkan istri Tn.T tidak
menderita penyakit hanya saja terkadang sering merasa pegal jika bekerja terlalu
keras.
Nenek dan ibu Tn. T tidak memiliki riwayat hipertensi. Adik Keenam Tn. T
3. LINGKUNGAN
60
sebutkan : Membuang sampah pada tempatnya
Kualitas air : jernih : ya
Jamban memenuhi syarat Menjaga lingkungan rumah
Kepemilikan : ya Tampak bersih : ya
Jenis jamban : Leher angsa Mengkonsumsi lauk dan pauk
Jarak septi tank dengan sumber air : 5 Tiap hari : ya
km Menggunakan jamban sehat :ya
Tempat sampah Memberantas jentik di rumah sekali
Kepemilikan tempat sampah : ya seminggu : ya
Jenis : Tertutup Makan buah dan sayur setiap hari
Rasio Luas Bangunan Rumah : ya
Jumlah anggota keluarga (8m2/orang) Melakukan aktivitas fisik setiap
: ya hari :
ya
Tidak merokok didalam rumah
: ya
Penggunaan alkohol dan Napza
:
Tidak
4. STRUKTUR KELUARGA
61
2) Struktur peran :
karena itu jika ada kegiatan di lingkungan Tn.T dan Ny.S ikut serta dalam
kegiatan seperti kerja bakti. Tn.T berperan sebagai kepala keluarga, Ny.S
Nilai dan norma yang dianut oleh keluarga Tn.T yaitu nilai-nilai adat
5. FUNGSI KELUARAGA
1) Fungsi Afektif :
2) Fungsi Sosialisasi :
baik. Hal ini terbukti dengan keluarga Tn.T selalu mengikuti kegiatan seperti
kerja bakti dan pengkajian rutin, dan apabila ada waktu senggang Tn.T sering
mengobrol dengan tetangga selain itu Tn.T juga tampak bersikap saling
62
3) Fungsi Perawatan Keluarga :
Ada
keluarganya : Ya
4) Apakah keluarga mengetahui tanda dan gejala masalah kesehatan yang dialami
6) Pada siapa keluarga bisa menggali infromasi tentang masalah kesehatan yang
10) Apakah keluarga dapat melakukan cara merawat anggota keluarga dengan
63
masalah kesehatan yang dialaminya : Ya
Ya
Tn.T mengatakan khawatir karna tekanan darah nya yang tinggi dan
disfungsional
64
7. HARAPAN KELUARGA
kesehatan
8. KEMANDIRIAN KELUARGA
KEMANDIRIAN KELUARGA
Kriteria : Kemandirian I : Jika memenuhi kriteria
1) Menerima petugas puskesmas 1&2
2) Menerima yankes sesuai rencana Kemandirian II : Jika memenuhi
3) Menyatakan masalah kesehatan kriteria 1&5
secara benar Kemandirian III : Jika memenuhi
4) Memanfaatkan faskes sesuai kriteria 1&6
anjuran Kemandirian IV : Jika memenuhi
5) Melaksanakan perawatan sederhana kriteria 1&7
sesuai anjuran
6) Melaksanakan tindakan pencegahan
secara aktif
7) Melaksanakan tindakan promotif
secara aktif
Kategori :
Kemandirian II Kemandirian IV
65
9. PENGKAJIAN FISIK INDIVIDU
66
nyerinya.
Cemas Tn. T mengatakan Tidak ada Tidak ada Tidak ada
cemas karena rasa
nyeri tersebut. Dan
sulit untuk tidur.
Disorientasi Tn.T Tidak Ny. S tidak Tn.A Tidak Ny. R tidak
mengalami mengalami mengalami mengalami
disorientasi disorientasi disorientasi disorientasi
Menarik diri Tn.T tidak menarik Ny. S tidak Tn.A tidak Ny.R tidak
diri dari menarik diri menarik diri menarik diri
lingkungan dan dari dari dari
keluarga lingkungan lingkungan lingkungan
dan keluarga dan keluarga dan keluarga
Sistem Tn.T Ny.S Tn.A Ny.R
integumen :
Sianosis Tidak terdapat Tidak Tidak Tidak
sianosis pada Tn.T terdapat terdapat terdapat
sianosis sianosis sianosis
pada Ny.S pada Tn.A pada Ny. R
Akral dingin Akral teraba Akral teraba Akral teraba Akral teraba
hangat hangat hangat hangat
Diaporesis Tn. T tidak Ny. S tidak Tn. A tidak Ny.R tidak
mengalami mengalami mengalami mengalami
diaporesis. diaporesis. diaporesis. diaporesis.
Jaundice Tidak ada jaundice Tidak ada Tidak ada Tidak ada
pada Tn.T jaundice jaundice jaundice
pada Ny.S pada Tn.A pada Ny.R
Luka Tidak terdapat luka Tidak Tidak Tidak
pada Tn.T terdapat luka terdapat luka terdapat luka
67
pada Ny.S pada Tn.A pada Ny.R
Mukosa bibir Mukosa bibir Mukosa Mukosa Mukosa
kering kering pada Tn.T bibir kering bibir kering bibir kering
pada Ny.S pada Tn.A pada Ny.R
Kapiler refil <3 detik <3 detik <3 detik <3 detik
time
Lebih >2 detik
Sistem Tn.T Ny.S Tn.A Ny.R
pernafasan :
Stridor Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Wheezing Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Ronchi Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Akumulasi Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
sputum
Sistem Tn.T Ny.S Tn.A Ny.R
perkemihan :
Disuria Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Hematuria Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Frekuensi 4-5x/hari 4-5x/hari 4-5x/hari 4-5x/hari
Retensi Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Inkontinesia Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
Sistem Tn.T Ny.S Tn.A Ny.R
muskoleketal
:
Tonus otot Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
kurang gangguan pada gangguan gangguan gangguan
tonus otot pada tonus pada tonus pada tonus
otot otot otot
Paraliasis Tn.T tidak Ny.S tidak Tn.A tidak Ny.R tidak
68
mengalami mengalami mengalami mengalami
paralisis paralisis paralisis paralisis
Hemiparesis Tn.T tidak Ny.S tidak Tn.A tidak Ny.R tidak
mengalami mengalami mengalami mengalami
hemiparesis hemiparesis hemiparesis hemiparesis
ROM Kurang ROM pada Tn.T ROM pada ROM pada ROM pada
normal Ny.S normal Tn.A normal Ny.R normal
Gangguan Tn.T merasakan Ny.S Tn.A Ny.R
keseimbangan pusing dan lemah merasakan merasakan merasakan
pusing dan pusing dan pusing dan
lemah lemah lemah
Sistem Tn.T Ny.S Tn.A Ny.R
pencernaan:
Intake cairan Intake cairan pada Intake cairan Intake cairan Intake cairan
kurang Tn.T terpenuhi pada Ny.S pada Tn.A pada Ny.R
terpenuhi terpenuhi terpenuhi
Mual/muntah Tn.T tidak ada Ny.S tidak Tn.A tidak Ny.R tidak
mengalami ada ada ada
mual/muntah mengalami mengalami mengalami
mual/muntah mual/muntah mual/muntah
Nyeri perut Tn.T tidak Ny.S tidak Tn.A tidak Ny.R tidak
merasakan nyeri merasakan merasakan merasakan
perut nyeri perut nyeri perut nyeri perut
Muntah darah Tn.T tidak Ny.S tidak Tn.A tidak Ny.R tidak
mengalami muntah mengalami mengalami mengalami
darah muntah muntah muntah
darah darah darah
Flatus Tn.T mengalami Ny.S Tn.A Ny.R
flatus yang normal mengalami mengalami mengalami
69
flatus yang flatus yang flatus yang
normal normal normal
Distensi Tn.T tidak ada Ny.S tidak Tn.A tidak Ny.R tidak
abdomen distensi abdomen ada distensi ada distensi ada distensi
abdomen abdomen abdomen
Colostomy Tn.T tidak Ny.S tidak Tn.A tidak Ny.R tidak
terpasang terpasang terpasang terpasang
colostomy colostomy colostomy colostomy
Diare Tn.T tidak Ny.S tidak Tn.A tidak Ny.R tidak
mengalami diare mengalami mengalami mengalami
diare diare diare
Konstipasi Tidak mengalami Tidak Tidak Tidak
konstipasi mengalami mengalami mengalami
konstipasi konstipasi konstipasi
Bising usus Bising usus normal Bising usus Bising usus Bising usus
normal normal normal
Terpasang Tidak terpasang Tidak Tidak Tidak
sonde sonde terpasang terpasang terpasang
sonde sonde sonde
Sistem Tn.T Ny.S Tn.A Ny.R
pesyarafan :
Nyeri kepala Tn.T mengatakan Ny.S tidak Tn.A tidak Ny.R tidak
tidak memiliki merasakan merasakan merasakan
nyeri kepala nyeri kepala nyeri kepala nyeri kepala
namun Tn.T
merasakan nyeri
tengkuk
Pusing Tn.T mengatakan Ny.S tidak Tn.A tidak Ny.R tidak
pusing ketika merasakan merasakan merasakan
70
bangun pagi hari pusing pusing pusing
Tremor Tn.T tidak merasa Ny.S tidak Tn.A tidak Ny.R tidak
tremor merasa merasa merasa
tremor tremor tremor
Reflek pupil Tn.T reflek pupil Ny.S reflek Tn.A reflek Ny.R reflek
anisokor isokor pupil isokor pupil isokor pupil isokor
71
10. PEMERIKSAAN PENUNJANG
72
siang hari.
D.0055
c) Potensial 1/3x1:
0,3
a) Mudah
73
Seluruhnya 2/1x2:2 sebagian
b) Sebagian
c) Tidak Dapat
c) Rendah
ditangani ditangani
b) Dirasakan tapi
tidak perlu
segera
ditangani
c) Tidak
dirasakan
74
Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis
b) Sebagian
c) Tidak Dapat
b) Cukup tidak
75
Masalah: tertinggi) 1 hipertensi
menimbulkan
diinginkan.
Skor 5,6
76
14. FORMAT RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
77
rasa nyeri (mis: suhu
ruangan,
pencahayaan,
kebisingan.
Edukasi:
-jelaskan penyebab,
periode, dan pemicu
nyeri
-jelaskan strategi
meredakan nyeri
-anjurkan memonitor
nyeri secara mandiri
-anjurkan
menggunakan
analgetik secara tepat
-ajarkan teknik
nonfarmakologis
untuk mengurangi
rasa nyeri
2. DS: Tn.T Gangguan pola tidur Pola tidur (L.05045) Dukungan tidur
mengatakan sulit (D.0055) setelah dilakukan ( I.09265)
tidur ketika malam tindakan keperawatan Observasi:
hari. 7x24 jam diharapkan -identifikasi faktor
pola tidur menurun: pengganggu tidur
DO: -Keluhan kesulitan ( fisik atau
TD : 180/100 tidur cukup menurun: psikologis )
mmHg 4 -identifikasi pola
Tn. T tampak -Keluhan tidak puas aktifitas dan tidur
78
mengantuk ketika tidur cukup menurun: -identifikasi makanan
siang hari. 4 dan minuman yang
-Keluhan istirahat menggangu tidur
tidak cukup cukup (mis: kopi, teh, makan
menurun: 4 mendekati waktu
tidur, minum air yang
banyak sebelum tidur)
Teraupetik:
-batasi waktu tidur
siang jika perlu
-fasilitasi
menghilangkan stres
sebelum tidur
terapkan jadwal tidur
rutin.
Edukasi:
-jelaskan pentingnya
tidur cukup selama
sakit
-aanjurkan menepati
kebiasaan waktu tidur
-anjurkan
menghindari
makanan/minuman
yang mengganggu
tidur.
79
15. FORMAT CATATAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA
80
vasokontriksi dilanjutkan dihari
pembuluh darah ke 2
akan
menyebabkan
peningkatan
tekanan vaskuler
serebral.
4. Mengajarkan
teknik senam anti
hipertensi yang
dimulai dengan
gerakan
pemanasan yaitu
- Tekuk kepala ke
samping, lalu
tahan dengan
tangan pada sisi
yang sama dengan
arah kepala.
Tahan dengan
hitungan 1-8, lalu
bergantian dengan
sisi lain.
- Tautkan jari jari
kedua tangan dan
angkat lurus ke
atas kepala
dengan posisi
81
kedua kaki dibuka
selebar bahu.
Tahan dengan 1-8
hitungan.
5. Dilanjutkan
dengan gerakan
inti yaitu
- Lakukan
gerakan seperti
jalan di tempat
dengan lambaian
kedua tangan
searah dengan sisi
kaki yang
diangkat. Lakukan
perlahan dan
hindarin hentakan.
- Buka kedua
tangan dengan
jemari menggepal
dan kaki dibuka
selebar bahu.
Kedua kepalan
tangan bertemu
dan ulangi
gerakan
semampunya
sambil mengatur
82
nafas.
- Kedua kaki
dibuka agak lebar
lalu angkat tangan
dengan
menyerong. Sisi
kaki yang searah
dengan tangan
sedikit ditekuk.
Tangan diletakkan
dipinggang dan
kepala searah
dengan gerakan
tangan. Tahan 1-8
hitungan lalu
ganti dengan sisi
lainnya.
- Gerakan hampir
sama dengan
sebelumnya. Tapi
jari menggepal
dan kedua tangan
diangkat ke atas.
Lakukan
bergantian secara
perlahan dan
semampunya.
- hampir
83
menyerupai
dengan gerakan
inti yang pertama
tapi kaki di buang
kesamping, kedua
tangan denga
jemari yang
menggepal ke
arah yang
berlawanan.
Ulangi dengan sisi
bergantian
- Kedua kaki
dibuka lebar dari
bahu, 1 agak lutut
ditekuk dan
tangan yang
searah lutut di
pinggang, tangan
sisi yang lain
lurus searah lutut
yang di tekuk,
ulangi arah yang
sebaliknya, dan
lakukan dengan
semampunya.
6. Setelah gerakan
inti masuk ke
84
gerakan pendingin
yaitu
- Kedua kaki
dibuka selebar
bahu, lingkarkan
1 tangan ke leher
dan tahan dengan
tangan yang
lainnya. Hitungan
1-8 kali dan
lakukan pada sisi
lainnya
- Posisi tetap,
tautkan kedua
tangan lalu
gerakkan
kesamping
dengan gerakan
setengah putaran.
Tahan sampai 1-8
kali hitungan lalu
arahkan tangan
kesisi lainnya dan
tahan dengan
hitungan yang
sama.
11/ 01/2024 Nyeri akut D.0077 1. Menanyakan S: pasien
HARI kepada Tn.T mengatakan
85
KEDUA tentang lokasi, adanya nyeri
karakter, durasi, tengkuk
frekuensi nyeri. O : pasien tampak
2. Mengidentifikasi memegangi
skala nyeri. tengkuk
3. Menjelaskan TD: 170/90 mmHg
kepada Tn.T T : 36,5 ̊ C
bahwa penyebab RR : 20x/ menit
rasa nyeri tersebut HR: 92x/menit
akibat dari A : masalah belum
penyempitan teratasi
pembuluh darah P : intervensi
akibat dari dilanjutkan di hari
vasokontriksi ke 3
pembuluh darah
akan
menyebabkan
peningkatan
tekanan vaskuler
serebral.
4. Mengajarkan
teknik senam anti
hipertensi yang
dimulai dengan
gerakan
pemanasan yaitu
- Tekuk kepala ke
samping, lalu
86
tahan dengan
tangan pada sisi
yang sama dengan
arah kepala.
Tahan dengan
hitungan 1-8, lalu
bergantian dengan
sisi lain.
- Tautkan jari jari
kedua tangan dan
angkat lurus ke
atas kepala
dengan posisi
kedua kaki dibuka
selebar bahu.
Tahan dengan 1-8
hitungan.
5. Dilanjutkan
dengan gerakan
inti yaitu
- Lakukan
gerakan seperti
jalan di tempat
dengan lambaian
kedua tangan
searah dengan sisi
kaki yang
diangkat. Lakukan
87
perlahan dan
hindarin hentakan.
- Buka kedua
tangan dengan
jemari menggepal
dan kaki dibuka
selebar bahu.
Kedua kepalan
tangan bertemu
dan ulangi
gerakan
semampunya
sambil mengatur
nafas.
- Kedua kaki
dibuka agak lebar
lalu angkat tangan
dengan
menyerong. Sisi
kaki yang searah
dengan tangan
sedikit ditekuk.
Tangan diletakkan
dipinggang dan
kepala searah
dengan gerakan
tangan. Tahan 1-8
hitungan lalu
88
ganti dengan sisi
lainnya.
- Gerakan hampir
sama dengan
sebelumnya. Tapi
jari menggepal
dan kedua tangan
diangkat ke atas.
Lakukan
bergantian secara
perlahan dan
semampunya.
- hampir
menyerupai
dengan gerakan
inti yang pertama
tapi kaki di buang
kesamping, kedua
tangan denga
jemari yang
menggepal ke
arah yang
berlawanan.
Ulangi dengan sisi
bergantian
- Kedua kaki
dibuka lebar dari
bahu, 1 agak lutut
89
ditekuk dan
tangan yang
searah lutut di
pinggang, tangan
sisi yang lain
lurus searah lutut
yang di tekuk,
ulangi arah yang
sebaliknya, dan
lakukan dengan
semampunya.
6. Setelah gerakan
inti masuk ke
gerakan pendingin
yaitu
- Kedua kaki
dibuka selebar
bahu, lingkarkan
1 tangan ke leher
dan tahan dengan
tangan yang
lainnya. Hitungan
1-8 kali dan
lakukan pada sisi
lainnya
- Posisi tetap,
tautkan kedua
tangan lalu
90
gerakkan
kesamping
dengan gerakan
setengah putaran.
Tahan sampai 1-8
kali hitungan lalu
arahkan tangan
kesisi lainnya dan
tahan dengan
hitungan yang
sama.
91
12/ 01/2024 Nyeri akut 1. Mengajarkan teknik S: pasien
HARI D.0077 senam anti hipertensi mengatakn nyeri
KETIGA yang dilakukan secara tengkuk sudah
mandiri yang dimulai sedikit berkurang
dengan gerakan O : pasien tampak
pemanasan yaitu tidak memegangi
- Tekuk kepala ke tengkuk lagi
samping, lalu tahan TD: 165/80
dengan tangan pada mmHg
sisi yang sama dengan T : 36 ̊ C
arah kepala. Tahan RR : 20x/ menit
dengan hitungan 1-8, HR : 90x/ menit
lalu bergantian dengan A : masalah belum
sisi lain. teratasi
- Tautkan jari jari P : intervensi
kedua tangan dan dilanjutkan di hari
angkat lurus ke atas ke 4
kepala dengan posisi
kedua kaki dibuka
selebar bahu. Tahan
dengan 1-8 hitungan.
2. Dilanjutkan dengan
gerakan inti yaitu
- Lakukan gerakan
seperti jalan di tempat
dengan lambaian
kedua tangan searah
dengan sisi kaki yang
92
diangkat. Lakukan
perlahan dan hindarin
hentakan.
- Buka kedua tangan
dengan jemari
menggepal dan kaki
dibuka selebar bahu.
Kedua kepalan tangan
bertemu dan ulangi
gerakan semampunya
sambil mengatur
nafas.
- Kedua kaki dibuka
agak lebar lalu angkat
tangan dengan
menyerong. Sisi kaki
yang searah dengan
tangan sedikit ditekuk.
Tangan diletakkan
dipinggang dan kepala
searah dengan gerakan
tangan. Tahan 1-8
hitungan lalu ganti
dengan sisi lainnya.
- Gerakan hampir
sama dengan
sebelumnya. Tapi jari
menggepal dan kedua
93
tangan diangkat ke
atas. Lakukan
bergantian secara
perlahan dan
semampunya.
- hampir menyerupai
dengan gerakan inti
yang pertama tapi kaki
di buang kesamping,
kedua tangan denga
jemari yang
menggepal ke arah
yang berlawanan.
Ulangi dengan sisi
bergantian
- Kedua kaki dibuka
lebar dari bahu, 1 agak
lutut ditekuk dan
tangan yang searah
lutut di pinggang,
tangan sisi yang lain
lurus searah lutut yang
di tekuk, ulangi arah
yang sebaliknya, dan
lakukan dengan
semampunya.
3. Setelah gerakan inti
masuk ke gerakan
94
pendingin yaitu
- Kedua kaki dibuka
selebar bahu,
lingkarkan 1 tangan ke
leher dan tahan
dengan tangan yang
lainnya. Hitungan 1-8
kali dan lakukan pada
sisi lainnya
- Posisi tetap, tautkan
kedua tangan lalu
gerakkan kesamping
dengan gerakan
setengah putaran.
Tahan sampai 1-8 kali
hitungan lalu arahkan
tangan kesisi lainnya
dan tahan dengan
hitungan yang sama.
13/01/2024 Nyeri akut 1. Melakukan teknik S: pasien
HARI D.0077 senam anti hipertensi mengatakn nyeri
KEEMPAT yang dilakukan secara tengkuk sudah
mandiri yang dimulai berkurang
dengan gerakan O : pasien tampak
pemanasan yaitu tidak memegangi
- Tekuk kepala ke tengkuk lagi
samping, lalu tahan TD: 150/80
dengan tangan pada mmHg
95
sisi yang sama dengan T : 36 ̊ C
arah kepala. Tahan RR : 20x/ menit
dengan hitungan 1-8, HR : 90x/ menit
lalu bergantian dengan A : masalah
sisi lain. teratasi sebagian
- Tautkan jari jari P : intervensi
kedua tangan dan dilanjutkan di hari
angkat lurus ke atas ke 5
kepala dengan posisi
kedua kaki dibuka
selebar bahu. Tahan
dengan 1-8 hitungan.
2. Dilanjutkan dengan
gerakan inti yaitu
- Lakukan gerakan
seperti jalan di tempat
dengan lambaian
kedua tangan searah
dengan sisi kaki yang
diangkat. Lakukan
perlahan dan hindarin
hentakan.
- Buka kedua tangan
dengan jemari
menggepal dan kaki
dibuka selebar bahu.
Kedua kepalan tangan
bertemu dan ulangi
96
gerakan semampunya
sambil mengatur
nafas.
- Kedua kaki dibuka
agak lebar lalu angkat
tangan dengan
menyerong. Sisi kaki
yang searah dengan
tangan sedikit ditekuk.
Tangan diletakkan
dipinggang dan kepala
searah dengan gerakan
tangan. Tahan 1-8
hitungan lalu ganti
dengan sisi lainnya.
- Gerakan hampir
sama dengan
sebelumnya. Tapi jari
menggepal dan kedua
tangan diangkat ke
atas. Lakukan
bergantian secara
perlahan dan
semampunya.
- hampir menyerupai
dengan gerakan inti
yang pertama tapi kaki
di buang kesamping,
97
kedua tangan denga
jemari yang
menggepal ke arah
yang berlawanan.
Ulangi dengan sisi
bergantian
- Kedua kaki dibuka
lebar dari bahu, 1 agak
lutut ditekuk dan
tangan yang searah
lutut di pinggang,
tangan sisi yang lain
lurus searah lutut yang
di tekuk, ulangi arah
yang sebaliknya, dan
lakukan dengan
semampunya.
3. Setelah gerakan inti
masuk ke gerakan
pendingin yaitu
- Kedua kaki dibuka
selebar bahu,
lingkarkan 1 tangan ke
leher dan tahan
dengan tangan yang
lainnya. Hitungan 1-8
kali dan lakukan pada
sisi lainnya
98
- Posisi tetap, tautkan
kedua tangan lalu
gerakkan kesamping
dengan gerakan
setengah putaran.
Tahan sampai 1-8 kali
hitungan lalu arahkan
tangan kesisi lainnya
dan tahan dengan
hitungan yang sama.
99
tahan dengan
tangan pada sisi
yang sama dengan
arah kepala.
Tahan dengan
hitungan 1-8, lalu
bergantian dengan
sisi lain.
- Tautkan jari jari
kedua tangan dan
angkat lurus ke
atas kepala
dengan posisi
kedua kaki dibuka
selebar bahu.
Tahan dengan 1-8
hitungan.
1. Dilanjutkan
dengan gerakan
inti yaitu
- Lakukan
gerakan seperti
jalan di tempat
dengan lambaian
kedua tangan
searah dengan sisi
kaki yang
diangkat. Lakukan
100
perlahan dan
hindarin hentakan.
- Buka kedua
tangan dengan
jemari menggepal
dan kaki dibuka
selebar bahu.
Kedua kepalan
tangan bertemu
dan ulangi
gerakan
semampunya
sambil mengatur
nafas.
- Kedua kaki
dibuka agak lebar
lalu angkat tangan
dengan
menyerong. Sisi
kaki yang searah
dengan tangan
sedikit ditekuk.
Tangan diletakkan
dipinggang dan
kepala searah
dengan gerakan
tangan. Tahan 1-8
hitungan lalu
101
ganti dengan sisi
lainnya.
- Gerakan hampir
sama dengan
sebelumnya. Tapi
jari menggepal
dan kedua tangan
diangkat ke atas.
Lakukan
bergantian secara
perlahan dan
semampunya.
- hampir
menyerupai
dengan gerakan
inti yang pertama
tapi kaki di buang
kesamping, kedua
tangan denga
jemari yang
menggepal ke
arah yang
berlawanan.
Ulangi dengan sisi
bergantian
- Kedua kaki
dibuka lebar dari
bahu, 1 agak lutut
102
ditekuk dan
tangan yang
searah lutut di
pinggang, tangan
sisi yang lain
lurus searah lutut
yang di tekuk,
ulangi arah yang
sebaliknya, dan
lakukan dengan
semampunya.
2. Setelah gerakan
inti masuk ke
gerakan pendingin
yaitu
- Kedua kaki
dibuka selebar
bahu, lingkarkan 1
tangan ke leher
dan tahan dengan
tangan yang
lainnya. Hitungan
1-8 kali dan
lakukan pada sisi
lainnya
- Posisi tetap, tautkan
kedua tangan lalu
gerakkan kesamping
103
dengan gerakan setengah
putaran. Tahan sampai 1-
8 kali hitungan lalu
arahkan tangan kesisi
lainnya dan tahan dengan
hitungan yang sama.
BAB IV
PEMBAHASAN
amplas dengan 6x kunjungan dan di mulai dari tanggal 10 januari 2024 sampai
tanggal 16 januari 2024, dimana pembahasan ini yang berisi sesuai dengan tiap fase
104
dalam proses keperawatan yang meliputi : Pengkajian keperawatan Setelah penulis
melakukan penerapan senam anti hipertensi kepada Tn.T untuk menurunkan rawatan,
evaluasi.
A. Pengkajian
dengan 6x kunjungan dan dimulai dari tanggal 10 januari 2024 sampai tanggal
Tn. T berusia 78 tahun, jenis kelamin laki laki, pekerjaan berjualan warung
keluhan malam sulit tidur, nyeri tengkuk dan kepala merasa pusing. Dan
keluarga pasien dan keluarga mengatakan tidak ada yang menderita penyakit
amlodipine 5mg. Dengan ini penulis menerapkan terapi senam anti hipertensi
B. Diagnosa Keperawatan
terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya baik yang
105
ditemukan 2 diagnosa keperawatan yang dasar penegakkannya menggunakan
bagaimana cara mengatasi rasa nyeri karena sulit tidur, pasien mengatakan
berlangsung sejak 7 hari yang lalu dan pasien tampak bingung bagaimana
mengatasi rasa nyeri dan cemas karena tidak bisa tidur malam. TTV : TD :
malam hari, dan pasien tampak mengantuk ketika di siang hari. TTV:
22x/menit
C. Intervensi
106
Keperawatan Berdasarkan data diagnosa keperawatan yang telah
identifikasi lokasi
karakteristik
durasi
frekuensi
kualitas
intensitas nyeri
107
2. Rencana asuhan keperawatan pada diagnosa gangguan pola
perencanaan
D. Implementasi
(potter&perry,2010).
pagi, mengatakan bahwa bingung bagaimana mengatasi rasa nyeri dan pasien
tampak meringis karena sulit tidur, pasien juga mengatakan meminum obat
108
hanya saat merasakan sakit saja dan pasien tampak bingung bagaimana cara
mengatasi rasa nyeri karena tidak bisa tidur malam. TTV: 160/90 mmHg,
2024
skala nyeri. Menjelaskan kepada Tn.T bahwa penyebab nyeri tersebut akibat
dengan frekuensi 1x sehari dengan durasi waktu 15-20 menit di pagi hari
darah kepada Tn.T sebelum dan sesudah diberikan Senam Anti Hipertensi.
Adapun prosedur pemberian senam anti hipertensi yang dilakukan di pagi hari
selama 5 hari dalam waktu 15-20 menit dengan Gerakan pemanasan terlebih
pendingin/penutupan.
109
Menanyakan kepada pasien apakah ada perubahan setelah melakukan terapi
melakukan terapi Senam anti hipertensi selama 10-20 menit. Prosedur dari
terapi senam anti hipertensi yang dilakukan Tn.T adalah diawali dengan
Tekuk kepala kesamping, lalu tahan dengan tangan pada sisi yang
Tautkan jari-jari kedua tangan dan angkat lurus keatas kepala dengan
posisi kedua kaki dibuka selebar bahu, tahan dengan hitungan 1-8
tangan searah dengan sisi kaki yang diangkat, lakukan perlahan dan
hindari hentakan.
Buka kedua tangan dengan jemari menggepal dan kaki dibuka selebar
Kedua kaki dibuka agak lebar lalu angkat tangan menyerong. sisi kaki
110
pinggang dan kepala searah dengan Gerakan tangan. Tahan 1-8
Kedua kaki dibuka lebar dari bahu, satu lutut agak ditekuk dan tangan
Tangan sisi yang lain lurus kea rah lutut yang di tekuk. Ulangi
Kedua kaki dibuka selebar bahu, lingkarkan satu tangan ke leher dan
tahan dengan tangan lainnya. Hitungan 1-8 kali dan lakukan pada sisi
lainnya.
111
darah sebelum dan sesudah melakukan terapi senam anti hipertensi dan
Prosedur dari terapi senam anti hipertensi yang dilakukan oleh Tn.T adalah
Tekuk kepala kesamping, lalu tahan dengan tangan pada sisi yang
Tautkan jari-jari kedua tangan dan angkat lurus keatas kepala dengan
posisi kedua kaki dibuka selebar bahu, tahan dengan hitungan 1-8
tangan searah dengan sisi kaki yang diangkat, lakukan perlahan dan
hindari hentakan.
Buka kedua tangan dengan jemari menggepal dan kaki dibuka selebar
Kedua kaki dibuka agak lebar lalu angkat tangan menyerong. sisi kaki
112
Gerakan hampir sama dengan yang sebelumnya, tapi jari menggepal
Kedua kaki dibuka lebar dari bahu, satu lutut agak ditekuk dan tangan
Tangan sisi yang lain lurus kea rah lutut yang di tekuk. Ulangi
Kedua kaki dibuka selebar bahu, lingkarkan satu tangan ke leher dan
tahan dengan tangan lainnya. Hitungan 1-8 kali dan lakukan pada sisi
lainnya.
darah sebelum dan sesudah melakukan terapi senam anti hipertensi dan
113
Prosedur dari terapi senam anti hipertensi yang dilakukan oleh Tn.T adalah
Tekuk kepala kesamping, lalu tahan dengan tangan pada sisi yang
Tautkan jari-jari kedua tangan dan angkat lurus keatas kepala dengan
posisi kedua kaki dibuka selebar bahu, tahan dengan hitungan 1-8
tangan searah dengan sisi kaki yang diangkat, lakukan perlahan dan
hindari hentakan.
Buka kedua tangan dengan jemari menggepal dan kaki dibuka selebar
Kedua kaki dibuka agak lebar lalu angkat tangan menyerong. sisi kaki
114
Hampir sama dengan Gerakan inti 1, tapi kaki di buang ke samping ke
Kedua kaki dibuka lebar dari bahu, satu lutut agak ditekuk dan tangan
Tangan sisi yang lain lurus kea rah lutut yang di tekuk. Ulangi
Kedua kaki dibuka selebar bahu, lingkarkan satu tangan ke leher dan
tahan dengan tangan lainnya. Hitungan 1-8 kali dan lakukan pada sisi
lainnya.
senam anti hipertensi secara mandiri dan masi ada keluhan nyeri setelah
darah sebelum dan sesudah melakukan terapi senam anti hipertensi dan
Prosedur dari terapi senam anti hipertensi yang dilakukan oleh Tn.T adalah
115
Tekuk kepala kesamping, lalu tahan dengan tangan pada sisi yang
Tautkan jari-jari kedua tangan dan angkat lurus keatas kepala dengan
posisi kedua kaki dibuka selebar bahu, tahan dengan hitungan 1-8
tangan searah dengan sisi kaki yang diangkat, lakukan perlahan dan
hindari hentakan.
Buka kedua tangan dengan jemari menggepal dan kaki dibuka selebar
Kedua kaki dibuka agak lebar lalu angkat tangan menyerong. sisi kaki
116
Kedua kaki dibuka lebar dari bahu, satu lutut agak ditekuk dan tangan
Tangan sisi yang lain lurus kea rah lutut yang di tekuk. Ulangi
Kedua kaki dibuka selebar bahu, lingkarkan satu tangan ke leher dan
tahan dengan tangan lainnya. Hitungan 1-8 kali dan lakukan pada sisi
lainnya.
[Link]
terapi Senam anti hipertensi dan setelah dilakukan terapi Senam anti
mmHg. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yeni gumiati (2024)
117
implementasi dengan menganjurkan pasien untuk melakukan senam
BAB V
118
A. Kesimpulan
selama 5 hari pada tanggal 10 Januari 2024 sampai 14 Januari 2024 dengan
kasus hipertensi dengan terapi senam anti hipertensi pada lansia untuk
menurunkan tekanan darah pada Tn.T Pada hari pertama tanggal 10 Januari
2024 dilakukan kontrak waktu dan keluarga untuk melakukan teknik terapi
tanggal 12 Januari 2024 dikaji ulang hasil evaluasi tekanan darah sudah
masalah teratasi.
B. Saran
1. Bagi Puskesmas
119
Bagi pihak puskesmas agar meningkatkan penanganan pasien hipertensi
terutama kerja sama dengan semua tenaga kesehatan dalam hal edukasi
untuk pasien dan keluarga mengenai pola hidup dan juga pola kebiasaan
2. Bagi Pasien Diharapkan pasien dapat mengubah pola hidup dan pola
support sistem bagi pasien dan keluarga lainnya agar tetap terjaga
DAFTAR PUSTAKA
Sulistianto, edi., wirakhmi, ikit netra & susanto, amin. (2021). pengaruh senam
120
kulon wilayah kerja Puskesmas Sususkan 2 Kabupaten
Banjarnegara.1(3)
[Link]
Ulfa, U. M., Rahman, H. F., & Fauzi, A. K. (2022). Pengaruh Senam Hipertensi
Https://[Link]/Https://[Link]/10.33650/Jkp.V10i1.3407
2018 di [Link]
Rahmiati, C., & Zurijah, T. (2020). Pengaruh Senam Lansia Terhadap Tekanan
204–217
Indonesia.
121
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan
Indonesia.
Nasional Indonesia.
Indonesia.
Nasional Indonesia.
122
Nama : Lidya Apriani
Agama : Islam
No Hp : 083199455980
Riwayat Pendidikan
123
SD N 060930 : 2009-2015
124