SOSCIED Vol. 7 No.
2 November 2024
p-ISSN : 2622-8866
e-ISSN : 2721-9550
PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH
MATEMATIS SISWA MATERI SISTEM PERSAMAAN
LINEAR DUA VARIABEL MELALUI PENERAPAN
MODEL PROBLEM BASED LEARNING
IMPROVEMENT OF PROBLEM SOLVING ABILITIES STUDENT
MATHEMATICAL MATERIAL ON SYSTEM OF EQUATIONS LINEAR
TWO VARIABLES THROUGH THE APPLICATION OF THE
PROBLEM BASED LEARNING MODEL
James U. L. Mangobi1, Marvel G. Maukar2, Marsela M. Poluan3
1
ABSTRACT
Universitas Negeri Manado
Jalan Kampus Unima This research aims to examine the difference in improving mathematical problem solving
Minahasa, Sulawesi Utara abilities in the System of Linear Equations Two Variables material for students who applied
jamesmangobi@[Link] the Problem Based Learning model and students who applied the Direct Instruction model.
This research uses a quasi-experimental method, with a pretest-posttest control group
2
Universitas Negeri Manado design. The subjects in this research were 20 students in class VIIIA as the control class
Jalan Kampus Unima and 20 students in class VIIIB as the experimental class. Both classes are homogeneous
Minahasa, Sulawesi Utara and the same. Gain data analysis using the t-test concluded that there was a difference in
marvelgracem@[Link]
the increase in the mathematical problem solving abilities of SPLDV material for students
3
Universitas Negeri Manado who applied the Problem Based Learning model and students who applied the Direct
Jalan Kampus Unima Instruction model. The results of the analysis of the level of students' mathematical problem
Minahasa, Sulawesi Utara solving abilities that apply the problem based learning model in the experimental class can
poluanmarsela@[Link] be seen from the achievement of the KKM. Where 85% of students have been able to reach
the KKM, while 15% of students are still below the KKM. This shows that the application
of the problem based model has a better influence on increasing students' mathematical
problem solving abilities.
Keywords : Problem Based Learning Model, System of Linear Equations in Two
Variables, Mathematical Problem Solving Ability
1. PENDAHULUAN
Matematika adalah ilmu yang diajarkan di semua tingkat pendidikan, karena matematika berguna
untuk segala hal dalam kehidupan setiap hari mulai dari hal-hal sederhana sampai hal-hal rumit[1].
Dengan belajar matematika, siswa dilatih untuk berpikir kritis, logis, kreatif dan juga mampu
berkolaborasi dalam memecahkan permasalahan[2]. Kemampuan siswa dalam memecahkan
permasalahan merupakan salah satu tujuan pembelajaran matematika[3]. Kemampuan memecahkan
masalah sangat penting bagi siswa, bukan hanya dalam matematika tetapi juga dalam bidang studi lain
bahkan pun dalam kehidupan sehari-hari[4]. Namun pada kenyataannya, memecahkan masalah
merupakan salah satu kemampuan yang sulit untuk dipelajari oleh siswa[5].
Salah satu permasalahan dalam pembelajaran matematika di SMP Kristen 17 Tatengesan, bahwa
kemampuan pemecahan masalah matematis siswa masih tergolong rendah khususnya pada materi
Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) dikarenakan siswa kurang memahami materi yang
dipelajari sehingga mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal berbentuk cerita, dan model
pembelajaran yang diterapkan masih teacher-centered learning, dalam hal ini ialah model Direct
Instruction (DI) sehingga siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran dan kurang memahami
masalah, serta mendeskripsikan masalah menjadi model matematika. Hal ini dapat dilihat dari
pencapaian nilai rata-rata hasil belajar siswa pada semester ganjil Tahun Pelajaran 2021/2022 adalah
James U. L. Mangobi, dkk/PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA MATERI SISTEM
PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL MELALUI PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING
SOSCIED Vol. 7 No. 2 November 2024
p-ISSN : 2622-8866
e-ISSN : 2721-9550
52.74 dan persentase ketuntasan klasikal 17,4% dari 23 siswa dengan Kriteria Ketuntasan Minimal
(KKM) adalah 70.
Kurangnya kemampuan dalam memecahkan masalah mengakibatkan rendahnya hasil belajar dan
juga ketidakcapaian KKM. Kondisi tersebut apabila terus dibiarkan akan berdampak buruk terhadap
kualitas pembelajaran matematika sehingga lebih sulit dalam meningkatkan hasil belajar mereka bahkan
tidak tercapainya tujuan pembelajaran.
Untuk mengatasi masalah ini, pembelajaran yang tepat diperlukan yang dapat melibatkan siswa
secara langsung dalam pemecahan masalah. Model Problem Based Learning (PBL) merupakan salah
satu model pembelajaran yang diduga relevan. Dengan mengajarkan siswa untuk bekerja sama dalam
memecahkan masalah, model PBL ini dapat membuat sasana belajar yang aktif[6]. Siswa dapat belajar
tentang masalah di dunia nyata melalui pengajaran ini. Ini dapat mendorong mereka untuk berpikir dan
bernalar sehingga mereka dapat memahami materi dan dapat memecahkan masalah atau soal-soal secara
individual.
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi perbedaannpeningkatannkemampuan
pemecahannmasalah matematissmateri SPLDV siswa yang diterapkan modellPBL dengan siswaayang
diterapkan modellDI. Penelitian ini kiranya dapat memberi manfaat kepada siswa, guru, sekolah, dan
peneliti.
2. KAJIAN PUSTAKA
Deskripsi Teoritis
a. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa
Kesumawati menjelaskan bahwasanya kemampuan memecahkan masalah matematis
termasuk kemampuan dalam mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui, ditanyakan, kemampuan
untuk Menyusun model matematika, kemampuan untuk memilih dan membuat strategi solusi, dan
kemampuan untuk menjelaskan dan mengecek keakuratan jawaban yang diperoleh[7]. Menurut
Siswono, pemecahan masalah yaitu upaya seseorang dalam merespon atau mengatasi masalah atau
kendala ketika suatu jawaban belum diketahui dengan jelas[8].
b. Model Problem Based Learning (PBL)
ProblemmBaseddLearningg(PBL) yaitu modellpembelajarannyanggmenempatkan peserta
didik sebagai pusat proses belajar melalui pemberian masalah dari dunia nyata diawal
pembelajaran[9]. Model PBL merupakan model pembelajaran dengan cara siswa diperhadapkan
dengan berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupan nyata dan mencoba memecahkan
masalah tersebut[10]. Selain itu, menurut Taufik, PBL merupakan salah satu model pembelajaran
inovatif yang dapat mendorong siswa untuk terlibat aktif serta mandiri dalam mengembangkan
kemampuan menyelesaikan permasalahan melalui mencari informasi, sehingga memperoleh jalan
keluar dengan logis dan valid[11].
c. Model Direct Instruction (DI)
Trianto menyatakan bahwa Direct Instruction merupakan suatu model pembelajaran yang
dibuat khusus untuk membantu siswa memperoleh informasi deklaratif dan pengetahuan yang
tertata rapih, bisa diajarkan melalui pola aktivitas langkah demi langkah dan bertahap[12].
Kerangka Berpikir
Salah satu yang perlu dikembangkan dalam pembelajaran matematika adalah kemampuan untuk
menyelesaikan masalah. Pada kenyataanya masih terdapat permasalahan yang dihadapi oleh siswa,
kemampuan siswa dalam memecahkan masalah masih belum optimal, sehingga menyulitkan mereka
Marsela M. Poluan, dkk/PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA MATERI SISTEM PERSAMAAN
LINEAR DUA VARIABEL MELALUI PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING
SOSCIED Vol. 7 No. 2 November 2024
p-ISSN : 2622-8866
e-ISSN : 2721-9550
untuk mengatasi kesulitan dalam mata pelajaran matematika. Pada intinya pembelajaran adalah usaha
yang sengaja diciptakan untuk membuat suasana lingkungan dimana kegiatan belajar dapat terlaksana.
Proses mengembangkan lingkungan belajar bagi siswa yang memaksimalkan keterampilan dan
proses pemecahan masalah maematika sejalan dengan tujuan pembelajaran di sekolah dikenal sebagai
pembelajaran matematika. Pemecahan masalah merupakan aspek penting dalam pembelajaran
matematika.
Model pengajaran dan sumber belajar sama pentingnya dengan komponen lain dalam kegiatan
belajar mengajar karena kedunnya merupakan komponen pengajaran. Penggunaan model dan sumber
belajar yang tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran dapat menghambat pencapaian tujuan yang telah
ditetapkan.
Teori PBL dapat digunakan karena memberikan latihan untuk meningkatkan kemampuan siswa.
Teori modul ini juga berfungsi sebagai sumber belajar yang memungkinkan siswa menggunakan
berbagai strategi pemecahan masalah untuk belajar dengan kecepatan mereka sendiri.
3. METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini menggunakan metode quasi experiment dengan rancangan penelitian pretest
posttest controllgroup design.
Tabel 1. Pretest-Posttest Control Group Designn
Kelompokk Tes Awal Perlakuann Tes Akhir
EEksperimen (E) x
kKontrol (K) y
Sumber: Sugiyono (2013)[18]
Keterangan:
E : Kelas eksperimenl
K : Kelas kontrolk
x : Perlakuan di kelas eksperimen yaitu penerapan model PBLl
y : Perlakuan di kelas eksperimen yaitu penerapan model DIn
: Tes awalluntukikelas eksperiment
: Tes awaliuntuklkelas kontroli
: Tes akhirluntuk kelas eksperimenk
: Teslakhirluntuk kelas kontroli
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Kristen 17 Tatengesan, yang berada di Kabupaten Minahasa
Tenggara, Provinsi SulawesiiUtara, pada semesterrganjil tahun pelajaran 2023/2024. Dengan populasi
siswaakelassVIII, dimana kelas VIIIA sebagai kelompok kontrol dan kelas VIIIB yang merupakan
kelompok eksperimen.
Instrumen yang digunakan pada penelitian ini yaitu tes berbentuk soal cerita pada materi SPLDV,
yang sudah diuji validitas dan reliabilitas. Prosedur penelitian meliputi dua tahapan, yaitu persiapan dan
pelaksanaan. Teknik dalam mengumpulkan data yang dilakukan yaitu siswa di kelompok ekperimen
dan kelompok kontrol diberikan tes yang memuat empat soal uraian yang disesuaikan dengan indicator
kemampuan pemecahan masalah. Setelah diberikannya soal, selanjutnya dilakukan penskoran
berdasarkan rubrik penskoran yang ada.
Marsela M. Poluan, dkk/PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA MATERI SISTEM PERSAMAAN
LINEAR DUA VARIABEL MELALUI PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING
SOSCIED Vol. 7 No. 2 November 2024
p-ISSN : 2622-8866
e-ISSN : 2721-9550
Tabel 2. Rubrik [Link] Kemampuan [Link] Matematis
Aspek yang dinilai Skor Keterangann
0 Tidakimencantumkan informasi diketahuiidaniditanyakan pada soal
1 Menulis informasi diketahui dan ditanyakan dalam soal, tetapi salah.
2 Menulis salah satu informasi diketahui dan ditanyakan dalam soal.
Memahami Masalah
Menulis informasi diketahui dan ditanyakan pada soal namun salah satunya
3
tidak tepat
4 Menulis dengan benar informasi yang diketahui dan ditanyakan pada soal
0 Tidak menuliskan rencana penyelesaian
1 Menulis seluruh model matematika, namun dengan kesalahan
Merencanakan
2 Menulis semua model matematika, tetapi lebih dari 50% isinya salah
penyelesaian
3 Menulis semua model matematika, tetapi kesalahannya di bawah 50%
4 Menulis smua model matematika dan semua isinya benar
0 Tidak membuat langkah penyelesaian
1 Langkah yang benar kurang dari 25%
Melaksanakan
2 Langkah yang benar antara 25% hingga 50%
rencana
3 Langkah yang benar antara 50% hingga 75%
4 Langkah yang benar antara lebih dari 75%
0 Tidak melaksanakan pemeriksaan
1 Menuliskan pemeriksaan, tetapi seluruh langkahnya tidak tepat
Memeriksa kembali 2 Menuliskan kesimpulan, namun lebih dari 50% kesalahannya
hasil penyelesaian Melaksanakan pemeriksaan dengan detail serta menemukan kebenaran
3
pemecahan masalah penyelesaian
Melaksanakan pemeriksaan dengan detail, menentukan kebenaran serta
4
membuat kesimpulan dari penyelesaian
[19]
Sumber : Mutia (2019)
Data yang dianalisis meliput skor pretest, posttest, dan skor gain dari hasil tes kemampuan dalam
memecahkan masalah yang diberikan bagi peserta didik pada kedua kelompok eksperimen dan kontrol.
Teknik analisis data menggunakan dua metode, yaitu analisis data statistik yang mencakup uji prasyarat
(seperti uji normalitas yang menggunakan uji Liliefors dengan bantuan software Microsoft Excel[20], uji
homogenitas varians menggunakan uji-F[21], dan uji hipotesis dengan menggunakan uji perbedaan rata-
rata dua kelompok[22]). Selain itu peneliti menganalisis tingkat kemampuan pemecahan masalah
matematis siswa setelah diberi perlakuan PBL. Setiap pertanyaan memiliki empat bobot indikator
penilaian, jumlah perolehan bobot dibagi dengan bobot maksimun 64 dan kemudian dikalikan dengan
100. Adapun untuk menghitung skor, digunakan rumus sebagai berikut:
Skor = × 100 (1)
Setiap siswa diberi kategori kemampuan menyelesaikan masalah matematik berdasarkan skor
mereka.
Tabel 3. Kategori Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa
Nilai KategoriiPenilaian
90 − 100 Sangatibaik
80 − 89 Baik
70 − 79 Cukup
≤ 69 Kurang
Sumber: Asdamayanti et al. (2023)[23]
Marsela M. Poluan, dkk/PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA MATERI SISTEM PERSAMAAN
LINEAR DUA VARIABEL MELALUI PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING
SOSCIED Vol. 7 No. 2 November 2024
p-ISSN : 2622-8866
e-ISSN : 2721-9550
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Hasil Penelitian
Tabel 4. DeskripsilStatistikiDatalPretest, Posttes, daniGaini
Jumlah Std.
Kelompokk Minimum Maximum Mean Varians
Siswa Deviation
Eksperimenl 20 14 24 19,2 2,76 7,64
Pretestt
Kontroll 20 14 22 18,35 2,46 6,03
Eksperimenn 20 35 60 51,3 6,81 46,43
Posttestt
Kontroll 20 32 56 46,55 7,12 50,68
Eksperimen 20 19 38 32,1 5,34 28,52
Gainn
Kontrol 20 16 35 28,2 5,33 28,38
Sumber: Diolah (2024)
Analisis Data Pretest, Posttest, dan Gain (Peningkatan)
a. Data Pretest
1) Uji Normalitas
Tabel 5. Hasil Uji Normalitas
Kelompok Mean Keterangan
Eksperimen 19,2 0,0881 0,190 Normal
Kontrol 18,35 0,1057 0,190 Normal
Sumber: Diolah (2024)
Berdasarkan hasil uji kenormalan data pretest kelompok eksperimen, didapat = 0,0881
dan = 0,190. Karena < , sehingga tidak dapat ditolak, menunjukkan data
pretest kelompok eksperimen berasalldariipopulasiiyang berdistribusiinormal. Begitu pula dengan
kelompokikontrol, didapat = 0,1057 dan = 0,190. Karena < , sehingga
tidak dapat ditolak, yang berarti data pretest untuk kelompok kontroliberasalidari populasilyang
memiliki distribusi normal.
2) Uji HomogenitasiVarians
Tabel 6. HasillUjiiHomogenitas Varians
Kelompok Keterangan
Eksperimen dan Kontrol 1,2676 2,168 Homogen
Sumber: Diolah, 2024
Berdasarkan hasil pengujian diperoleh = 1,2676 dan = 2,168. Karena <
, maka tidak dapat ditolak. Artinya, data pretest kemampuan dalam memecahkan masalah
matematis siswa memiliki varians yang sama.
Marsela M. Poluan, dkk/PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA MATERI SISTEM PERSAMAAN
LINEAR DUA VARIABEL MELALUI PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING
SOSCIED Vol. 7 No. 2 November 2024
p-ISSN : 2622-8866
e-ISSN : 2721-9550
3) Uji PerbedaaniRata-RataiDua Kelompok Tidak Berpasangan
Data pretest dari kelompok eksperimen dan kelompok kontrol memiliki varians yang sama dan
berasal dari populasi dengan distribusi normal, menurut pengujian kenormalan data dan homogenitas
varians yang dilakukan pada data pretest kedua kelompok. Oleh karena itu, uji perbedaan rata-rata dua
kelompok tidak berpasangan (statistik uji-t) dilakukan di langkah selanjutnya dengan tingkat
signifikansi = 0,05.
Tabel 7. Hasil Uji Perbedaan Rata-Rata Dua Kelompok Tidak Berpasangan
Kelompok
Eksperimen dan Kontrol 1,028 1,6859
Sumber: Diolah, 2024
Hasil pengujian ini diperoleh = 1,028 dan = 1,6859. Karena < ,
maka tidak dapat ditolak. Artinya, kemampuan awal pemecahan masalah matematis siswa yang
diterapkan model PBL sama dengan siswa yang diterapkan dengan model DI.
b. Data Posttest
1) Uji Normalitas
Tabel 8. Hasil Uji Normalitas
Kelompok Mean Keterangan
Eksperimen 51,3 0,1054 0,190 Normal
Kontrol 46,55 0,1331 0,190 Normal
Sumber: Diolah, 2024
Pengujian normalitas data posttest untuk kelompok eksperimen, didapat = 0,1054 dan
= 0,190. Karena < , maka tidak dapat ditolak, yang artinyaidata posttest
kelompokieksperimeniberasal dari populasilyang berdistribusilnormal. Begitu juga hasiliuji kenormalan
data posttest kelompok kontrol, diperoleh = 0,1331 dan = 0,190. Karena <
, maka maka tidak dapat ditolak. Artinya, data posttest kelompoklkontrolitersebut berasalidari
populasilberdistribusiinormal.
2) Uji Homogenitass
Tabel 9. Hasil UjilHomogenitaslVarians
Kelompok Keterangan
Eksperimenldan Kontroll 1,0915 2,168 Homogen
Sumber: Diolah, 2024
Marsela M. Poluan, dkk/PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA MATERI SISTEM PERSAMAAN
LINEAR DUA VARIABEL MELALUI PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING
SOSCIED Vol. 7 No. 2 November 2024
p-ISSN : 2622-8866
e-ISSN : 2721-9550
Hasil pengujian diperoleh = 1,0915 dan = 2,168. Karena < , maka
tidak dapat ditolak. Hal ini berarti bahwasanya data posttest kemampuanlpemecahanlmasalah
matematisisiswa memilikiivariansiyanglhomogen.
3) UjiiPerbedaan Rata-RatalDua Kelompok Tidak Berpasangan
Berdasarkan uji kenormalan data serta uji homogenitas varians yang sudah dilakukan pada data
posttest kelompokleksperimen danlkelompokkkontrol, menunjukkan bahwalkedualkelompok tersebut
berasal dari populasi yang berdistribusi normal dengan varians yang sama, kemudian dilakukan uji
perbedaan rata-rata dualkelompok tidak berpasanganl(Statistik Uji-t) dengan arah uji satu arah pada
taraf nyata = 0,05.
Tabel 10. HasiliUji Perbedaan Rata-Rata Dua Kelompok Tidak Berpasangan
Kelompok
Eksperimen dan Kontrol 2,156 1,6859
Sumber: Diolah, 2024
Hasil pengujian ini diperoleh = 2,156 dan = 1,6859. Karena > ,
sehingga ditolak, yang berarti kemampuan akhir pemecahan masalah matematis siswa yang
diterapkan model PBL tidak sama dengan siswa yang diterapkan dengan model DI.
c. Data Gain
1) Uji Normalitas
Uji kenormalan data yang digunakan adalah uji Liliefors. Perhitungan untuk pengujian ini dibantu
oleh software Microsoft Excel.
Tabel 11. Hasil Uji Normalitas
Kelompok Mean Keterangan
Eksperimen 32,1 0,1406 0,190 Normal
Kontrol 28,2 0,1831 0,190 Normal
Sumber: Diolah, 2024
Hasil uji kenormalan data gain kelompok eksperimen, diperoleh = 0,1406 dan =
0,190. Karena < , maka tidak dapat ditolak, yang artinya data gain kelompok
eksperimen berasal dari populasi yang memiliki distribusi normal. Begitu juga hasil uji normalitas data
gain kelompok kontrol, diperoleh = 0,1831 dan = 0,190. Karena < ,
maka maka tidak dapat ditolak. Artinya, data gain kelompok kontrol berasal dari populasi
berdistribusi normal.
Marsela M. Poluan, dkk/PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA MATERI SISTEM PERSAMAAN
LINEAR DUA VARIABEL MELALUI PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING
SOSCIED Vol. 7 No. 2 November 2024
p-ISSN : 2622-8866
e-ISSN : 2721-9550
2) Uji Homogenitas
Uji Fisher (Uji-F) digunakan untuk menguji homogenitas varians data gain kelompok eksperimen
dan kelompok kontrol.
Tabel 12. Hasil Uji Homogenitas Varians
Kelompok Keterangan
Eksperimen dan Kontrol 1,0048 2,168 Homogen
Sumber: Diolah, 2024
Hasil pengujian diperoleh = 1,0048 dan = 2,168. Karena < , maka
tidak dapat ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa data gain kemampuan pemecahan masalah
matematis siswa memiliki varians homogen.
3) Pengujian Hipotesis
Berdasarkan pengujian normalitas dan pengujian homogenitas varians yang telah dibuat pada data
gain untuk kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, diketahui data gain pada kedua kelompok
tersebut berasal dari populasi yang berdistribusi normal dengan varians yang sama. Oleh karena itu,
dilakukan pengujian hipotesis dengan Uji Perbedaan Rata-rata Dua Kelompok Tidak Berpasangan (Uji-
t) Pihak Kanan dengan tingkat signifikansi = 0,05.
Tabel 13. Hasil Uji Hipotesis
Kelompok
Eksperimen dan Kontrol 2,3123 1,6859
Sumber: Diolah, 2024
Hasil pengujian hipotesis diperoleh = 2,3123 dan = 1,6859. Karena >
, maka ditolak. Artinya, terdapat perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah
matematis materi SPLDV siswa yang diterapkan model PBL dengan siswa yang diterapkan model DI.
Analisis Tingkat Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kelompok Eksperimen
Berdasarkan analisis tingkat kemampuan pemecahan masalah matematis pada kelompok
eksperimen setelah diberikan perlakuan model PBL yang skornya telah diubah ke skala 100, diperoleh
hasil sebagai berikut: 3 siswa (15%) termasuk di kategori kurang, 5 siswa (25%) ada di kategori cukup,
8 siswa (40%) ada di kategori baik, dan 4 siswa (20%) ada di kategori sangat baik. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa 85% siswa untuk kelompok ekspeimen telah mencapai nilai KKM dan 15% gagal
mencapai nilai KKM yang telah ditetapkan.
Berdasarkan hasil pengolahan data melalui pengujian hipotesis dan analisis tingkat kemampuan
siswa dalan memecahkan masalah setelah diterapkannya model PBL pada kelas eksperimen,
menunjukkan bahwa dengan diterapkannya model PBL dalam pembelajaran materi SPLDV bisa
meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memecahkan suatu permasalahan. Peningkatan ini
disebabkan oleh penerapan model PBL dapat memberikan pengaruh yang lebih baik dalam proses
pembelajaran. Dengan menerapkan model PBL dapat menjadikan pembelajaran bermakna. Siswa
Marsela M. Poluan, dkk/PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA MATERI SISTEM PERSAMAAN
LINEAR DUA VARIABEL MELALUI PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING
SOSCIED Vol. 7 No. 2 November 2024
p-ISSN : 2622-8866
e-ISSN : 2721-9550
terdorong untuk terlibat aktif dan mandiri selama proses pembelajaran, dapat mengembangkan
hubungan interpersonal siswa dalam bekerja kelompok, serta dapat meningkatkan kemampuan
memecahkan masalah.
5. KESIMPULAN
Berdasarkanlhasil analisisldata yang telahldilakukanlbisa disimpulkan bahwa terdapatlperbedaan
peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis materi SPLDVssiswa yang diterapkan model
PBL dengan siswa yang diterapkan model DI.
UCAPAN TERIMAKASIH
Diucapkan terima kasihlkepada semuaipihaklyang turut membantuidalam penelitianiini. Peneliti
berharap model Problem Based Learning (PBL) pada materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel
(SPLDV) dapat digunakan para waktu pada saat kegiatan belajar mengajar.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Yolanda, F., & Wahyuni, P. (2020). Pengembangan bahan ajar berbantuan macromedia flash.
SJME (Supremum Journal of Mathematics Education), 4(2), 170.
[2] Manurung, O., Runtu, P. V. J., & Halean, V. (2020). Profil Krativitas Siswa Dalam Penyelesaian
Masalah Matematika Pada Materi Segiempat Ditinjau Dari Gaya Kognitif. In JSME (Jurnal Sains,
Matematika & Edukasi) (Vol. 8, Issue 1).
[3] Andesma, T., & Anggraini, R. D. (2019). Penerapan pbl untuk meningkatkan kemampuan
pemecahan masalah matematis siswa kelas x tkr 1 smk muhammadiyah 1 pekanbaru. Jurnal
Prinsip Pendidikan Matematika, 2(1), 12.
[4] Maesari, C., Marta, R., & Yusnira, Y. (2019). Penerapan model pembelajaran problem solving
untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa sekolah dasar. Journal
on Teacher Education, 1(1), 92–102.
[5] Rinaldi, E., & Afriansyah, E. A. (2019). Perbandingan kemampuan pemecahan masalah matematis
siswa antara problem centered learning dan problem based learning. NUMERICAL: Jurnal
Matematika Dan Pendidikan Matematika, 3(1), 9–18.
[6] Monica, H., Kesumawati, N., & Septiati, E. (2019). Pengaruh model problem based learning
terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis dan keyakinan matematis siswa. MaPan:
Jurnal Matematika Dan Pembelajaran, 7(1), 155–166.
[7] Nurwahid, M., & Shodikin, A. (2021). Komparasi Model Pembelajaran Problem Based Learning
dan Inquiry Based Learning Ditinjau dari Kemampuan Pemahaman Konsep dan Pemecahan
Masalah Matematika Siswa dalam Pembelajaran Segiempat. Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan
Matematika, 5(3), 2219.
[8] Alhadad, I., Hamid, H., Tonra, W. S., & Siddik, R. (2020). Penerapan Problem Based Learning
(PBL) untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa pada Sistem
Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV). Delta-Pi: Jurnal Matematika Dan Pendidikan
Matematika, 9(2), 224.
[9] Rahmadani. (2019). Metode Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learnig (Pbl).
Lantanida Journal, 7(1), 75–86.
[10] Mayasari, A., Arifudin, O., & Juliawati, E. (2022). Implementasi Model Problem Based Learning
(PBL) Dalam Meningkatkan Keaktifan Pembelajaran. Jurnal Tahsinia, 3(2), 169.
Marsela M. Poluan, dkk/PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA MATERI SISTEM PERSAMAAN
LINEAR DUA VARIABEL MELALUI PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING
SOSCIED Vol. 7 No. 2 November 2024
p-ISSN : 2622-8866
e-ISSN : 2721-9550
[11] Algiranto, A. (2021). Pengembangan lembar kerja siswa fisika berbasis problem based learning
untuk meningkatkan partisipasi dan hasil belajar siswa sma kelas x. Jurnal Perspektif Pendidikan,
15(1), 69–80.
[12] Iswara, E., & Sundayana, R. (2021). Penerapan model pembelajaran problem posing dan direct
instruction dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Plusminus:
Jurnal Pendidikan Matematika, 1(2), 226.
[13] Ningsih, E., Anggraini, R. D., & Kartini. (2023). Penerapan Model Problem Based Learning untuk
Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa kelas VII-E SMP Negeri 23
Pekanbaru. Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan Matematika, 7(3), 2258.
[14] Pauweni, K. A. Y., & Iskandar, M. E. B. (2020). Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah
Matematika Melalui Model Problem-Based Learning Pada Materi Bilangan Pecahan. Euler:
Jurnal Ilmiah Matematika, Sains Dan Teknologi, 8(1), 23–28.
[15] Putri, R. S., Suryani, M., & Jufri, L. H. (2019). Pengaruh penerapan model problem based learning
terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika siswa. Mosharafa: Jurnal Pendidikan
Matematika, 8(2), 339.
[16] Noviantii, E., Yuanita, P., & Maimunah. (2020). Pembelajaran berbasis masalah dalam
meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika. Journal of Education and Learning
Mathematics Research (JELMaR), 1(1), 73.
[17] Pandiangan, L. W. H., & Surya, E. (2020). Penerapan Problem Based Learning Untuk
Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa kelas VIII SMP Swasta Santa
Maria Medan. Inspiratif: Jurnal Pendidikan Matematika, 6(1), 11.
[18] Sugiyono. (2013). Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta.
[19] Mutia. (2019). Penerapan Model Pembelajaran Treffinger Untuk Meningkatkan Kemampuan
Pemecahan Masalah Matematis Siswa Sekolah Menengah Pertama. Universitas Islam Negeri Ar-
Raniry.
[20] Hajaroh, S., & Raehanah. (2021). Statistika Pendidikan (Teori dan Praktik). Sanabil.
[21] Payadnya, I. P. A. A., & Jayantika, I. G. A. N. T. (2018). Panduan penelitian eksperimen beserta
analisis statistik dengan SPSS. Deepublish.
[22] Muhid, A. (2019). Analisis Statistik 5 Langkah Praktis Analisis Statistik dengan SPSS for
Windows. Zifatama Jawara.
[23] Asdamayanti, N., Nasution, E. Y. P., & Sari, M. (2023). Analisis kemampuan pemecahan masalah
matematis siswa Madrasah Aliyah pada materi SPLTV. Jurnal Cendekia: Jurnal Pendidikan
Matematika, 7(2), 1141–1152.
Marsela M. Poluan, dkk/PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA MATERI SISTEM PERSAMAAN
LINEAR DUA VARIABEL MELALUI PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING