0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan10 halaman

Keanekaragaman Fauna di FKIP Mulawarman

Penelitian ini mengeksplorasi keanekaragaman fauna di Kampus FKIP Gunung Kelua Universitas Mulawarman dengan menemukan 46 spesies dari berbagai kelas, termasuk insekta, arachnida, mamalia, dan lainnya. Hasil menunjukkan bahwa kelas insekta memiliki tingkat keanekaragaman tertinggi dengan nilai 2,00, sedangkan kelas lainnya seperti arachnida dan mamalia memiliki tingkat keanekaragaman rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar berbasis kearifan lokal untuk pendidikan biologi.

Diunggah oleh

Amin Adil Ada
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan10 halaman

Keanekaragaman Fauna di FKIP Mulawarman

Penelitian ini mengeksplorasi keanekaragaman fauna di Kampus FKIP Gunung Kelua Universitas Mulawarman dengan menemukan 46 spesies dari berbagai kelas, termasuk insekta, arachnida, mamalia, dan lainnya. Hasil menunjukkan bahwa kelas insekta memiliki tingkat keanekaragaman tertinggi dengan nilai 2,00, sedangkan kelas lainnya seperti arachnida dan mamalia memiliki tingkat keanekaragaman rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar berbasis kearifan lokal untuk pendidikan biologi.

Diunggah oleh

Amin Adil Ada
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BIOEDUKASI Jurnal Pendidikan Biologi e ISSN 2442-9805

Universitas Muhammadiyah Metro p ISSN 2086-4701

KEANEKARAGAMAN FAUNA KAMPUS FKIP GUNUNG


KELUA UNIVERSITAS MULAWARMAN SEBAGAI BAHAN
AJAR BERBASIS KEARIFAN LOKAL
Ruqoyyah Nasution 1
Teguh Pribadi 2*
Volta Kelik Setiawan 3
Indah Rahmawati 4
Reynaldi Ferdhani Harrits 5
1, 2, 3, 4
Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Mulawarman
5
Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik, Universitas Mulawarman
E-mail: oya_nasution@[Link].id1, teguhpribadi064@gmail.com2*,
voltakelliksetiawan@gmail.com3, indahrahmawati672@gmail.com4,
reynaldiferdhaniharrits@gmail.com5

Abstract: Indonesia is nicknamed a megadiversity country for its rich fauna. Faunal diversity
is the main asset in utilizing fauna. One way to find out data on fauna diversity is by taking
an inventory. This research aims to determine the level of diversity and explore fauna in the
campus area which can then be developed into teaching materials for students based on local
wisdom. The research was conducted at the Faculty of Teacher Training and
Education, Gunung Kelua campus, Mulawarman University, Samarinda. The research was
conducted for 2 months, March-June 2023. Data collection techniques in the field used
descriptive explorative methods. Based on the research carried out, results were
obtained from 46 species from various classes. namely insects, arachnids, mammals,
gastropods, crustaceans, Aves, Pisces, reptiles and amphibians. In the insect class, the most
can be found in the Faculty of Teacher Training and Education, Gunung Kelua area, with a
total of 25 species, that is, the diversity level reaches 2.00 in the medium category.
Arachinida 5 species with a low level of diversity because it is only 0.40. Mammals and
reptiles have the same level of diversity, which is both low with a diversity value of only 0.08
with 1 species found. Meanwhile, gastropods and pieces have a low level of diversity because
the diversity value is 0.24, and 3 species were found. Two species of crustaceans were found,
the diversity value was 0.16 so it was categorized as low. Likewise, aves
are categorized as low, because only 4 species were found with a diversity value of only
0.32. Meanwhile, the Amphibian class with only 2 species found was categorized as
low with a value of 0.16.

Kata kunci: Bahan Ajar, Fauna, Keanekaragaman

PENDAHULUAN berkembang untuk membentuk ciri dan


Indonesia mendapat julukan sifat masing-masing spesies. Adapun untuk
sebagai negara megadiversity dalam mengetahui data keanekaragaman fauna ini
kekayaan faunannya. Keanekaragaman salah satu caranya ialah dengan
fauna menjadi aset yang utama dalam inventarisasi. Inventarisasi merupakan
pemanfaatan fauna. Jika karakteristik setiap kegiatan pengumpulan dan penyusunan
komponen fauna dapat dijelaskan, maka data dan fakta. Pendataan keanekaragaman
pemanfaatnayan akan lebih maksimal. fauna perlu dilakukan sebagai data awal
Keanekaragaman sendiri disebabkan oleh dan data acuan untuk pengelolaan suatu
berbagai faktor sehingga, yaitu faktor Kawasan.
geografi atau faktor ekologi, serta temporal Universitas Mulawarman
dan dimensi (waktu). Faktor-faktor ini merupakan salah satu universitas yang
terserap ke dalam setiap spesies dan berada di Samarinda, Kalimantan Timur.
R. Nasution, T. Pribadi, V. K. Setiawan, I. Rahmawati & R. F. Harrits,
KEANEKARAGAMAN....

Pada awalnya Universitas Mulawarman METODE


hanya memiliki 4 fakultas dan seiring Penelitian ini dilakukan di kawasan
berjalan waktu terjadinya penambahan Kampus FKIP Gunung Kelua, Universitas
menjadi total 14 Fakultas, salah satunya Mulawarman, Samarinda. Penelitian
adalah Fakultas Keguruan dan Ilmu dilakukan selama 2 bulan, yakni Maret-Juni
Pendidikan yang disingkat FKIP. FKIP 2023. Teknik Pengumpulan data
memiliki 3 wilayah yang terbagi di 3 dilapangan menggunakan metode
tempat, yaitu FKIP Gunung Kelua sebagai eksplorfatif deskriftip. Ekploratif
Kampus Utama sedangkan Kampus lainnya merupakan pelacakan atau penjelajahan
berada di jalan Pahlawan dan jalan untuk mencari, mengumpulkan, dan
Banggeris. meneliti fauna di tempat penelitian. Setiap
Kampus FKIP Gunung Kelua dalam spesies yang ditemukan, dicatat, difoto
kondisi aktif perkuliahannya banyak untuk keperluan klasifikasi. Kemudian,
aktivitas manusia yang berinteraksi data spesies yang sudah ditemukan,
langsung dengan habitat berbagai jenis dikumpulkan, lalu diidentifikasi dan
fauna. Hal ini dapat mempengaruhi diklasifikasikan berdasarkan kelas.
keanekaragaman fauna dikarenakan dapat Peneliti menggunakan Teknik
menganggu habitat fauna yang ada di analisis data eksploratif. Menurut Janah
kawasan, serta minimnya informasi baru dkk., (2018) jenis penelitian yang
tentang keanekaragaman pada kawasan ini. digunakan adalah studi penelitian
Sehingga perlu adanya penelitian terbaru eksplorasi merupakan salah satu jenis
tentang inventaris keanekaragaman fauna penelitian dengan tujuan adalah untuk
yang ada dikawasan Kampus Utama FKIP memberikan definisi kecil atau penjelasan
Gunung Kelua Universitas Mulawarman. suatu konsep atau pola digunakan dalam
Hasil dari penelitian ini akan penelitian. Hasil identifikasi akan
dijadikan sebagai sumber belajar yang ditabulasikan dalam bentuk data yang
disusun berupa Lembar Kerja Peserta Didik disusun berdasarkan nama ilmiah, nama
(LKPD) dan data yang telah dikumpulkan daerah, dan kelas.
dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk
mengetahui nama ilmiah, spesies, manfaat
dan perannya (Prasetyo, 2023). LKPD HASIL
digunakan untuk menunjang keaktifan
peserta didik, dan menumbuhkan minat,
serta membuat kegiatan pembelajaran
dikelas lebih terarah dan efektif. LKPD
yang akan dibuat menggunakan model
berbasis (Edi & Rosnawati, 2021).
Penelitian tentang keanekaragamn
fauan dikawasan kampus FKIP Gunung
Kelua Universitas Mulawarman ini sangat
penting untuk dilakukan,karena bertujuan
untuk menegtahui tingkat keanekaragamn
dan mengeksplore fauna dikawasan Gambar 1. Keanekaragaman Fauna
kampusyang selanjutnya dapat
dikembangkan menjadi bahan ajar pada Berdasarkan penelitian yang
siswa dengan berbasis kearifan lokal. dilakukan, didapatkan hasil 46 spesies dari
berbagai kelas. Adapun kelas yang didapat
ialah insekta, arachnida, mamalia,
gastropoda, crustacea, aves, pisces, reptil

BIOEDUKASI VOL 15. NO. 1 MEI 2024


81
R. Nasution, T. Pribadi, V. K. Setiawan, I. Rahmawati & R. F. Harrits,
KEANEKARAGAMAN....

dan amphibi. Pada kelas yang telah diteliti, 10


Kumbang Daun
Kumbang Daun
kelas insekta yang paling banyak di dapat (Chrysolina polita)
11 Tawon Tumbuhan
dikawasan FKIP Gunung Kelua, dengan Tawon Bunga
(Vespula squamosa)
jumlah spesiesnya 25 yaitu tingkat 12 Semut Api
keanekaragaman mencapai 2,00 dengan Semut Merah
(Solenopsis invicta)
kategori sedang. Arachinida 5 spesies 13
Kecapung
Fragile forktail
dengan tingkat keanekaragaman rendah (Ischnura posita)
14 Kumbang tanduk
karena hanya 0,40. Mamalia dan Reptil Kumbang Badak (Asiatic rhinoceros
memiliki tingkat keanekaragaman yang beetle)
sama, yakni sama-sama rendah dengan nilai 15 Kupu-kupu yoeman
Kupu-Kupu
keragamannya hanya 0,08 dengan 1 spesies (Cirrochroa aoris)
yang ditemukan. Sedangkan gastropoda 16 Capung rawa meah
Capung Sayap
(Agrionoptera
dan pieces memiliki tingkat Merah
insignis)
keanekaragaman yang rendah karena nilai 17 Kumbang bau
keanekaragamnya sebesar 0,24 dan Kumbang Bau
(Pentatomoidea)
ditemukan 3 spesies. Pada Crustacea 18
Ngengat Ganal
kupu-kupu gajah
ditemukan 2 spesies, nilai (Attacus atlas)
19 Tawon (Trypoxylon
keanekaragamnya 0,16 sehingga Tawon Sengat
collinum)
dikategorikan rendah. Begitupun dengan 20 Belalang setandu
aves yang dikategorikan rendah, karena Belalang
(Hierodula
Sembah
hanya 4 spesies yang ditemukan dengan patellifera)
nilai keanekaragaman hanya mencapai 21 semut penenun
Semut Kroto (Oecophylla
0,32. Sementara itu pada kelas Amphibi smaragdina )
dengan hanya ditemukan 2 spesies 22 Kumbang Baji
dikatagorikan rendah dengan nilai 0,16. Kumbang Besi
(Ripiphoridae)
23 Laron Laron (Isoptera)
PEMBAHASAN 24 Belalang Semut
Belalang Semut (Odontomantis
Tabel 1. Data Insecta planiceps)
No Nama Lokal Nama Ilmiah 25 Belalang kukus hijau
1 Serangga Kapuk Belalang Kukus (Atractomorpha
Bapak Pucung (Dysdercus crenulata)
cingulatus)
2 Kumbang Koksi
Kumbang Kepik (Coccinella Berdasarkan penelitian yang telah
transversalis) dilakukan, kelas insekta yang memililki
3 Kupu-kupu Macan tingkat keaneragaman yang paling banyak
Kupu Loreng Tutul (Phalanta dibandingkan kelas lain, Hal ini terbukti
phalantha)
4 Kupu-kupu Kayu
dengan apa yang dilakukan oleh peneliti di
Kupu Kayu kawasan FKIP Gunung Kelua dengan
(Prosotas dubiosa)
5 Kepik Kaki Daun dengan jumlah spesiesnya 25 dan tingkat
Hama Jeruk (Acanthocephala keanekaragaman mencapai 2,00 yang
femorata) termasuk kategori sedang. Kondisi
6 Kumbang Daun Biru
Kumbang Biru
(Agelastica alni)
lingkungan di kawasan Kampus sangat
7 Belalang Rumput cocok dengan daya dukung hidup insekta,
Belalang Hijau
(Oxya japonica) karena masih banyak berbagai tumbuhan
8 Capung Merah yang hidup. Selain itu kondisi tanah yang
Capung Habang (Neurothemis lembab dan ditumbuhi berbagai jenis
terminata)
9 Scarlet Dwarf
tanaman membuat insekta dapat
Ketinting beradaptasi dilingkungan Kampus dengan
(Nannophya
Habang
pygmaea) cepat. Serangga dalam suatu ekosistem

BIOEDUKASI VOL 15. NO. 1 MEI 2024


82
R. Nasution, T. Pribadi, V. K. Setiawan, I. Rahmawati & R. F. Harrits,
KEANEKARAGAMAN....

merupakan suatu kelompok biota yang Tabel 2. Data Arachinida


memiliki peranan penting untuk No Nama Lokal Nama Ilmiah
memelihara keseimbangan atau kestabilan 1 Laba-Laba Semak Laba-laba lynx
(Oxyopes salticus)
ekosistem karena memiliki sebaran yang
2 Laba-Laba Laba-laba pelompat
merata dalam tingkatan trofik, Menurut Peloncat (Cosmophasis
(Haryono., dkk, 2021), Insekta adalah micarioides)
hewan dengan kehidupannya yang mampu 3 Laba-Laba Laba-laba pelompat
untuk hidup dimanapun, baik di dalam Peloncat (Plexippus paykulli)
4 Laba-Laba Laba-laba pelompat
tanah ataupun diatas permukaan tanah.
Peloncat (Icius Sp)
Serangga ini juga mampu hidup dalam
kondisi dimanapun bahkan tanpa udara
Laba-laba tergolong dalam filum
(oksigen) dikarenakan serangga mampu
Arthropoda, subfilum Chelicerata, kelas
membuat variasi dengan caranya sendiri
Arachnidadan ordo Araneae. Di dunia ada
dari segala kondisi untuk beradaptasi
sekitar 43.678 spesies laba-laba yang telah
dengan lingkungan. Beberapa faktor
diidentifikasi, digolongkan kedalam 111
terhadap lingkungan dapat dipengaruhi
suku, 3600 genus (Susilo, dkk., 2021).
dalam kehidupan, yaitu faktor makro
Peranan laba-laba dalam ekosistem adalah
(seperti jenis tumbuhan, geologi, tempat
sebagai agen pengendali hayati (biokontrol)
terlalu tinggi, penggunaan lahan, dan iklim)
terhadap serangga hama, dan bioindikator
dan faktor mikro (kelembapan tanah,
terhadap perubahan lingkungan
ketebalan serasah, pH, kepadatan tanah,
(Mahalakshmi & Jeyaparvathi 2014). Laba-
kandungan bahan organik, jenis tanah, dan
laba hidup sebagai pemangsa terutama
kesuburan
memangsa serangga sehingga berperan
Menurut (Apriliana., dkk, 2019)
dalam mengendalikan populasi serangga.
Keberadaan bunga dan tanaman yang
Laba-laba adalah predator polifag sehingga
beranekaragam menjadi habitat hidup bagi
berpotensi untuk mengendalikan serangga
banyak jenis serangga. Didaerah
hama.
Potrobangsan, keanekaragaman insecta
Berdasarkan hasil pengamatan,
cukup banyak karena faktor abiotik dan
didapat Arachinida 5 spesies dengan
biotik yang mendukung perkembangan
tingkat keanekaragaman rendah karena
insecta di tempat tersebut. Faktor biotik
hanya bernilai 0,40 (Susilo, dkk., 2021).
meliputi tumbuhan dan hewan yang ada di
Biodiversitas laba-laba dapat digunakan
lingkungan, sehingga nantinya faktor-
untuk mendeteksi perubahan lingkungan
faktor tersebut dapat memperbanyak
dan menggambarkan keadaan suatu
jumlah jenis serangga tanah yang ada di
ekosistem masih terpelihara baik, sedang,
suatu lingkungan tertentu
atau sudah tidak sesuai untuk habitat laba-
Serangga merupakan hewan yang
laba. Indeks Biodivesitas tinggi dapat
memiliki peranan penting dalam sebuah
menunjukkan bahwa ekosistem masih
ekosistem. Menurut Taradipha, (2019)
terjaga baik untuk mendukung kehidupan
peranan serangga dalam ekosistem
laba-laba. dengan kata lain, habitat di
diantaranya adalah sebagai polinator,
kawasan Kampus sudah tidak cocok
dekomposer, predator dan parasitoid.
dikarenakan banyaknya kawasan yang
Keberadaan serangga pada suatu tempat
sudah banyak diakses manusia serta
dapat menjadi indikator biodiversitas,
lingkungan. Kampus yang dibersihkan
kesehatan ekosistem, dan degradasi
setiap harinya. Selain itu rendahnya tingkat
lanskap.
mangsa membuat laba-laba sukar untuk
bertahan hidup, hal ini sesuai dengan
(Hajariyah., dkk, 2020), dan Rachmawati

BIOEDUKASI VOL 15. NO. 1 MEI 2024


83
R. Nasution, T. Pribadi, V. K. Setiawan, I. Rahmawati & R. F. Harrits,
KEANEKARAGAMAN....

(2013), Laba-laba dapat dijumpai di tempat Tabel 4. Data Gastropoda


yang jarang terjangkau oleh manusia N Nama Lokal Nama Ilmiah
seperti di atas pohon, di bawah batu, tepi o
1 Keong mas (Pomacea
sungai, rawa bakau, atau pada serasah daun. Keong Mas
canaliculata)
Umumnya laba-laba banyak menempati 2 Siput Setengah
daerah dengan vegetasi rapat yang Siput Telanjang Telanjang (Parmarion
memiliki lebih banyak sumber makanan. martensi)
Tempat dengan vegetasi lebat pada 3 Siput kebun (Cornu
Keong Sawah
aspersum)
umumnya memiliki kondisi lingkungan
lebih stabil dibandingkan dengan tempat
yang tandus atau terbuka. Pada tempat Berdasarkan hasil pengamatan yang
dengan vegetasi lebat sering dihuni telah dilakukan, Gastropoda memiliki
berbagai jenis laba-laba tingkat keanekaragaman yang rendah
karena nilai keanekaragam sebesar 0,24 dan
Tabel 3. Data Aves hanya ditemukan 3 spesies. Gastropoda
N Nama Lokal Nama Ilmiah sendiri merupakan hewan yang memiliki
o tubuh lunak, gastropoda umumnya memilik
1 Burung Gereja (Passer cangkang tapi tidak bisa dipungkiri ada
Burung Gereja
montanus) beberapa spesies gastropoda yang hanya
2 Burung Merpati memiliki cangkang kecil ataupun tidak
Burung Merpati
(Columba livia) memiliki cangkang. Gastropoda memiliki
3 Burung Tekukur
Burung Tekukur antena dibagian kepalanya dan apabila
(Spilopelia chinensis)
4 Burung Jalak
bergerak meninggalkan jejak berupa lendir
Burung Jalak (Acridotheres yang berfungsi untuk menjaga kelembaban
javanicus) tubuh, sehingga tidak mengering dan mati.
Menurut Heryanto (2014), umumnya
Berdasarkan Pengamatan gastropoda hidup menempel pada pohon,
didapatkan aves yang dikategorikan semak, batu, batang pohon roboh dan
rendah, karena hanya 4 spesies yang serasah serta sebagian besar gastropoda
ditemukan dengan nilai keanekaragaman hidup serasah yang tebal.
hanya mencapai 0.32. Kondisi kawasan
Kampus yang kurang mendukung untuk Tabel 5. Data Mamalia
hidup membuat aves sulit ditemukan pada N Nama Lokal Nama Ilmiah
o
kawasan Kampus FKIP Gunung Kelua, 1 Kucing kampung (Felis
Umumnya, kawasan Kampus lebih Kucing kampung
silvestris)
didomasi oleh gedung dan minim
pepohonan sebagai tempat tinggal burung. Menurut Pirie (2022), kucing
Menurut (Kurniawan., dkk, 2019), domestik merupakan salah satu mamalia
Penyebaran jenis-jenis burung sangat darat yang penyebarannya paling luas.
dipengaruhi oleh habitat tempat hidup Ditambah meningkatnya popularitas
burung, meliputi adaptasi burung terhadap kucing sebagai hewan peliharaan yang
lingkungan, kompetisi, strata vegetasi, menggantikan anjing sebagai hewan
ketersediaan pakan dan seleksi alam seperti pendamping manusia. Berdasarkan hasil
ditemukan didaerah hutan, laut, perkotaan, pengamatan, Mamalia memiliki tingkat
dan perdesaan. Beberapa kawasan hutan keanekaragaman rendah dengan nilai
lebih banyak dijumpai berbagai jenis keragamannya hanya 0,08 dengan 1 spesies
burung diantaranya di hutan dataran tinggi saja yang ditemukan. Meskipun tingkatnya
seperti hutan gunung. masuk ke kategori rendah hanya kucing

BIOEDUKASI VOL 15. NO. 1 MEI 2024


84
R. Nasution, T. Pribadi, V. K. Setiawan, I. Rahmawati & R. F. Harrits,
KEANEKARAGAMAN....

yang mampu beradaptasi di kawasan Tabel 8. Data Reptil


Kampus FKIP Gunung Kelua. N Nama Lokal Nama Ilmiah
o
1 Biawak air tawar
Tabel 6. Data Crustacea Nyambek
(Varanus salvator)
N Nama Lokal Nama Ilmiah
o
1 Kepiting air tawar Reptil memiliki tingkat
Yuyu
(Gecarcinucidae) keanekaragaman rendah dengan nilai
2 Udang Udang (Caridea) keragamannya hanya 0,08 dengan 1 spesies
saja yang ditemukan. Ekosistem lembab
Crustacea hanya ditemukan 2 seperti danau dan kolam merupakan tempat
spesies, nilai keanekaragaman hanya 0,16 yang paling banyak ditinggali oleh jenis
sehingga dikategorikan rendah. Crustacea reptil seperti biawak. Kawasan Kampus
bersifat karnivor tetapi dapat pula bersifat FKIP dengan vegetasi lebat dan kondisi
pemakan bangkai dan pemakan segala kelembapan yang cukup stabil membuat
(omnivor). Crustacea memiliki pergerakan biawak air tawar (Varanus salvator) dapat
yang tinggi untuk bersembunyi di dalam bertahan hidup. Namun, faktor kawasan
lubang yang dibuatnya. Hal ini menjadi Kampus FKIP yang lembab tersebut
faktor yang mempengaruhi jumlah menjadi salah satu pemicu rendahnya nilai
crustacea sangat kecil pada suatu perairan. keberagaman reptilnya. Dikarenakan
(Rahayu, dkk., 2017). terdapat jenis reptil yang memang hanya
memiliki bentuk adaptasi dengan habitat
Tabel 7. Data Pisces agroforestri. Agroforestri merupakan
N Nama Lokal Nama Ilmiah
tempat yang cenderung kering. Menurut
o
1 Ikan Gabus (Channa (Fatmawati, dkk., 2021), reptil lebih
Ikan Haruan banyak tinggal di daerah tropik
striata)
2 Ikan Guppy dibandingkan dengan daerah dingin atau
Ikan Guppy
(Poecilia reticulate) lembap. Dengan kondisi morfologi tubuh
3 Ikan Nila yang bersisik dapat membantu
Ikan Nila (Oreochromis meminimalkan banyaknya kehilangan air
niloticus) dari tubuh, sehingga reptil dapat bertahan di
habitat yang kering.
Pisces memiliki tingkat
keanekaragaman yang rendah karena nilai Tabel 9. Data Amphibi
keanekaragamnnya sebesar 0,24 dan hanya N Nama Lokal Nama Ilmiah
ditemukan 3 spesies. Menurut ahli o
taksonomi, ikan adalah hewan bertulang 1 Kodok (Bufo
Kodok
belakang atau vertebrata yang mempunyai melanostictus)
2 Katak (Fejervarya
ciri yaitu sirip, bernafas dengan insang dan Katak
limnocharis)
hidup di air. Definisi ini digunakan untuk
mempermudah dalam membuat klasifikasi
untuk membedakan antara ikan dengan Amphibi dengan hanya ditemukan 2
kelompok organisme lainnya spesies dikategorikan rendah dengan nilai
(Burhanuddin, 2014). 0,16. Lingkungan FKIP Gungung Kelua
termasuk kedalam lingkungan dengan
kondisi lembab, terutama pada malam hari.
Kelas Amphibi yang ditemukan berupa
spesies Kodok ( (Bufo melanostictus) dan
Katak (Fejervarya limnocharis). Amfibi
merupakan salah satu hewan bertulang

BIOEDUKASI VOL 15. NO. 1 MEI 2024


85
R. Nasution, T. Pribadi, V. K. Setiawan, I. Rahmawati & R. F. Harrits,
KEANEKARAGAMAN....

belakang (Vertebrate) dan bersifat Tabel 10. Hasil Uji Validasi Ahli
poikiloterm (Rofiq, dkk., 2021). N Aspek yang dinilai Nomer soal
Lingkungan FKIP Gungun Kelua o 1 2 3 4 5
memberikan ruang yang baik, seperti
1 Materi ✓
adanya selokan dan kolam. Hal tersebut [Link] sesuai dengan
merupakan pendukung bagi aktivitas hidup indikator
amphibi. Kodok (Bufo melanostictus) ✓
[Link] yang di
sangat mudah ditemukan pada lingkungan tanyakan sesuai
kampus, Adhiaramanti & Sukiya (2016) dengan kompetensi
Spesies ini punya tempat tinggalnya yang yang diukur
selalu dekat tempat dengan aktivitas
2 Konstruksi ✓
manusia, dengan substrat tempat tinggal
[Link] di rumuskan
berupa serasah, kolam, parit, dan bawah dengan singkat,
pohon. Fejervarya cancrivora adalah jelas dan tegas
sebuah spesies katak yang cukup besar
[Link] pedoman ✓
dengan lipatan atau benjolan memanjang penskoran
sejajar dengan sumbu tubuh. Menutupi [Link] pedoman ✓
kulit lembut benjolan atau lipatan penskoran
memanjang dan menipis. Katak ini
ditemukan disekitar kolam terutama pada 3 Bahasa ✓
saat malam hari. [Link] yang
Hasil penelitian keanekaragaman sesuai dengan
fauna kampus FKIP Gunung Kelua kaidah Bahasa
Universitas Mulawarman, akan digunakan Indonesia
sebagai perangkat ajar yaitu LKPD. LKPD [Link] ✓
digunakan untuk menunjang keaktifan bahasa yang
peserta didik, dan menumbuhkan minat, komunikatif
serta membuat kegiatan pembelajaran [Link] ✓
dikelas lebih terarah dan efektif. LKPD menggunakan
yang akan dibuat menggunakan model Bahasa
berbasis (Edi & Rosnawati, 2021). daerah/berlaku
Sehingga terbentuknya proses kegiatan setempat
pembelajaran yang lebih aktif dan berpusat [Link] ✓
pada siswa guna menciptakanpemikiran tanda baca
yang kritis terkait kondisi
lingkunagnsekitar yang menjadi habitat Keterangan:
berbagai fauna.
1. : berarti “Tidak baik”
2. : berarti “Kurang baik”
3. : berarti “Cukup baik”
4. : berarti “Baik”
5. : berarti “Sangat baik

BIOEDUKASI VOL 15. NO. 1 MEI 2024


86
R. Nasution, T. Pribadi, V. K. Setiawan, I. Rahmawati & R. F. Harrits,
KEANEKARAGAMAN....

KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang
dilakukan, didapatkan, hasil 46 spesies dari
berbagai kelas. Adapun kelas yang didapat
ialah insekta, arachnida, mamalia,
gastropoda, crustacea, aves, pisces, reptil
dan amphibi. Pada kelas yang telah diteliti,
kelas insekta yang paling banyak di dapat
dikawasan FKIP Gunung Kelua, dengan
jumlah spesiesnya 25 yaitu tingkat
keanekaragaman mencapai 2,00 dengan
kategori sedang. Arachinida 5 spesies
dengan tingkat keanekaragaman rendah
karena hanya 0,40. Mamalia dan Reptil
Gambar 1. LKPD Bagian Depan memiliki tingkat keanekaragaman yang
sama, yakni sama-sama rendah dengan nilai
keragamannya hanya 0,08 dengan 1 spesies
yang ditemukan. Sedangkan gastropoda
dan pieces memiliki tingkat
keanekaragaman yang rendah karena nilai
keanekaragamnya sebesar 0,24 dan
ditemukan 3 spesies. Pada Crustacea
ditemukan 2 spesies, nilai
keanekaragamnya 0,16 sehingga
dikategorikan rendah. Begitupun dengan
aves yang dikategorikan rendah, karena
hanya 4 spesies yang ditemukan dengan
nilai keanekaragaman hanya mencapai
0,32. Sementara itu pada kelas Amphibi
dengan hanya ditemukan 2 spesies
dikatagorikan rendah dengan nilai 0,16.

Gambar 2. LKPD Bagian Isi SARAN


Peneliti selanjutnya, dapat
LKPD yang kami rancang terdiri menggunakan metode yang berbeda, dan
atas 3 bagian utama,yakni pada bagian dapat mengambil sampel yang lebih
depan, yang berisi judul kegiatan, indikator mendetail. Guru atau tenaga pendidik
capaian kompetensi, tujuan pembelajaran, lainnya, dapat menggunakan data ini
dan petujuk teknis terkait pengerjaan sebagai sumber belajar dan mengetahui
LKPD, bagianselanjutnya pada bagian informasi mengenai hewan.
Awal yang berisi identitas kelas, mata
pelajaran hingga nama soal, dan bagain isi DAFTAR RUJUKAN
berupa beberapa bahanbacaan yang akan di Adhiaramanti, T., & Sukiya, S. 2016.
jadikan soal. Keanekaragaman Anggota Ordo
Anura di Lingkungan Universitas
Negeri Yogyakarta. Kingdom (The
Journal of Biological Studies). 5(6):
62-72.

BIOEDUKASI VOL 15. NO. 1 MEI 2024


87
R. Nasution, T. Pribadi, V. K. Setiawan, I. Rahmawati & R. F. Harrits,
KEANEKARAGAMAN....

Apriliana, A., Oktafianingsih, dkk. 2019. Cagar Alam Pananjung


Keanekaragaman insecta serasah Pangandaran. Titian Ilmu: Jurnal
daun di daerah potrobangsan dengan Ilmiah Multi Sciences. 11(1): 37-44.
metode sampel acak Mahalakshmi R & Jeyaparvathi S. 2014.
sederhana. Proceeding of Biology Diversity of spider fauna in the cotton
Education. 3(1): 202-207. feld of Thailakulam, Virudhunagar
Burhanuddin, A. I. 2014. Ikhtiologi, Ikan District, Tamil Nadu, India. The
dan Segala Aspek Kehidupannya. Journal of Zoology Studies. 1(1):12–
Yogyakarta: Deepublish. 18.
Edi, S., & Rosnawati, R. 2021. Pirie, T. J., Thomas, R. L., & Fellowes, M.
Kemampuan Berpikir Kritis Siswa D. 2022. Pet cats (Felis catus) from
Dalam Pembelajaran Matematika urban boundaries use different
Model Discovery Learning. Jnpm habitats, have larger home ranges and
(Jurnal Nasional Pendidikan kill more prey than cats from the
Matematika). 5(2): 234-246. suburbs. Landscape and Urban
Fatmawati, N. A., Bainah, S. D., Rusita., Planning. 220 (104338): 1-10.
Yulia, R. F., dan Indra, G. F. 2021. Prasetyo, I. Y., Zen, S., & Pratiwi, D. 2023.
Keanekaragaman Jenis Reptil di Keragaman Famili Arecaceae Di
Laboratorium Lapang Terpadu, Taman Nasional Way Kambas
Universitas Lampung. Jurnal Rimba Sebagai Sumber Belajar Kurikulum
Lestari. 1(2): 114-123. Merdeka. BIOEDUKASI (Jurnal
Hajariyah, H., Nukmal, N., Pratami, G., & Pendidikan Biologi). 14(2): 283-291.
Kanedi, M. 2020. The Diversity And Rachmawati, D. 2013. Karakteristik
Abundance Of Spiders (Arachnida) Habitat dan Keanekaragaman
In Liwa Botanical Garden. Jurnal Arachnida Famili Araneidae di Cagar
Ilmiah Biologi Eksperimen dan Alam Tukung Gede Serang
Keanekaragaman Hayati. 7(2): 9-18. Banten. Prosiding SEMIRATA
Haryono, Andi, D. R. A. M., & Muh, R. T. 2013. 1(1): 213-216.
J. R. 2021. Identifikasi Serangga Rahayu, S. M., Wiryanto, W., & Sunarto, S.
Tanah di Perkebunan Sokemboi 2017. Keanekaragaman Jenis
Ronting Kecamatan Lamba Leda Krustasea Di Kawasan Mangrove
Kabupaten Manggarai Timur. Jurnal Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah
Celebes Biodiversitas. 4(2): 47-52. (Biodiversity of Crustacea in
Heryanto. 2014. Keanekaragaman dan Mangrove Area, Purworejo Regency,
Kepadatan Gastropoda Terestrial di Central Java). Jurnal Sains
Perkebunan Bogorejo Kecamatan Dasar. 6(1): 57-65.
Gedongtataan Kabupaten Pesawaran Rofiq. A., Usman, U., & Wahyuni, I. 2021.
Provinsi Lampung. Zoo Keanekaragaman Amfibi (Ordo
Indonesia. 22(1): 23-29. Anura) Berdasarkan Tipe Habitat Di
Janah, A. F., Wiyanto, W., & Hartono, H. Taman Wisata Alam Pulau Sangiang.
2018. Penerapan peta konsep IPA In Seminar Nasional Biologi. 9(1):
terpadu untuk mengukur minds-on 202-213.
and hands-on activity siswa Sekolah Susilo, H., Hakim, M. N., & Setiawan, U.
Menengah Pertama. UPEJ Unnes 2021. Biodiversitas Laba-Laba
Physics Education Journal. 7(2): 9- Arachnida (Araneae) Di Kawasan
21. Ekosistem Desa Wisata Banyubiru
Kurniawan, I. S., Tapilouw, F. S., Hidayat, Kecamatan Labuan Kabupaten
T., & Setiawan, W. 2019. Pandeglang. Jurnal Lingkungan Dan
Keanekaragaman Aves di Kawasan

BIOEDUKASI VOL 15. NO. 1 MEI 2024


88
R. Nasution, T. Pribadi, V. K. Setiawan, I. Rahmawati & R. F. Harrits,
KEANEKARAGAMAN....

Sumberdaya Alam
(JURNALIS). 4(1): 56-69.
Taradipha, M. R. R. 2019. Karakteristik
Lingkungan Terhadap Komunitas
Serangga (Environmental
Characteristics Of Insect
Community). Jurnal Pengelolaan
Sumberdaya Alam dan Lingkungan
(Journal of Natural Resources and
Environmental Management). 9(2):
394-404.

BIOEDUKASI VOL 15. NO. 1 MEI 2024


89

Anda mungkin juga menyukai