0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan7 halaman

Pengaruh PBL terhadap Keterampilan Berpikir Kritis

Penelitian ini mengeksplorasi pengaruh model pembelajaran berbasis masalah (PBL) terhadap keterampilan berpikir kritis mahasiswa PGSD di STKIP NU Indramayu. Hasil analisis menunjukkan bahwa penerapan model PBL memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keterampilan berpikir kritis, dengan nilai F hitung 61,324 dan signifikansi 0,000. Penelitian ini menekankan pentingnya metode pembelajaran yang inovatif untuk meningkatkan partisipasi dan pemahaman mahasiswa.

Diunggah oleh

Seruan Berkat Laia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan7 halaman

Pengaruh PBL terhadap Keterampilan Berpikir Kritis

Penelitian ini mengeksplorasi pengaruh model pembelajaran berbasis masalah (PBL) terhadap keterampilan berpikir kritis mahasiswa PGSD di STKIP NU Indramayu. Hasil analisis menunjukkan bahwa penerapan model PBL memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keterampilan berpikir kritis, dengan nilai F hitung 61,324 dan signifikansi 0,000. Penelitian ini menekankan pentingnya metode pembelajaran yang inovatif untuk meningkatkan partisipasi dan pemahaman mahasiswa.

Diunggah oleh

Seruan Berkat Laia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan KALUNI

Volume 2 – 2019
26 Januari 2019
DOI: [Link]

PENGARUH IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN


BERBASIS MASALAH (PBL) TERHADAP KETERAMPILAN
BERPIKIR KRITIS MAHASISWA PGSD

Khoimatun
Dede Hadiansah
Program Studi PGSD STKIP NU Indramayu
khoimatun.83@[Link] - 085321672683

Abstract. The background of this research is that there are academic problems of students at the
time of learning that need to be studied and solutions sought include: lack of enthusiasm of
students in learning, students tend to be passive in learning, and low desire of students to ask
questions. This study aims to determine the effect of the PBL Model on Most Critical Thinking
PGSD Students at the Nahdlatul Ulama Teacher Training and Education College in Indramayu.
This research method uses a simple linear model performed on first semester students of PGSD
Study Program at the School of Teacher Training and Education Nahdlatul Ulama Indramayu T.A
2017/2018 in pedagogical courses with a total of 38 students. This study uses two types of
variables, namely: 1) independent variables: Problem Based Learning (PBL) Model (X), 2)
dependent variable: Critical Thinking (Y). Data collection for PBL Model and Critical Thinking
variables using the questionnaire method with a Likert scale. The validity of the data is obtained
through validity and reliability tests. Testing requirements analysis includes normality test using
SPSS 16. Data analysis techniques used to test hypotheses using simple linear regression analysis
to determine the significance of the influence of PBL Model on Critical Thinking used coefficient
test. The results showed that there was a positive and significant influence on the application of
the PBL Model to Critical Thinking using SPSS showing F count = 61,324 with a significance
level / probability of 0,000 <0.05 Critical Thinking. So that it can be concluded that the PBL
model influences the Critical Thinking of STKIP NU Indramayu Students.

Keywords: PBL Model, Critical Thinking, PGSD students

How to cite: Khoimatun, K., & Hadiansah, D. (2019). Pengaruh implementasi model
pembelajaran berbasis masalah (PBL) terhadap keterampilan berpikir kritis mahasiswa PGSD.
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan KALUNI, Vol. 2, 195-201. Jakarta: LPPM Universitas
Indraprasta PGRI. [Link]

PENDAHULUAN

Pembelajaran merupakan suatu proses interaksi antara Dosen dan Mahasiswa beserta
unsur yang ada di dalamnya. Dosen merupakan faktor yang paling dominan yang menentukan
kualitas pembelajaran. Kualitas pembelajaran yang baik, tentu akan menghasilkan hasil belajar
yang baik pula. Menurut Rusman (2012: 148) dalam sistem pembelajaran Dosen dituntut untuk
mampu memilih metode pembelajaran yang tepat, mampu memilih dan menggunakan fasilitas
pembelajaran, mampu memilih dan menggunakan alat evaluasi, mampu mengelola pembelajaran
di kelas maupun di laboratorium, menguasai materi, dan memahami karakter Mahasiswa. Salah
satu tuntutan Dosen tersebut adalah mampu memilih metode pembelajaran yang tepat untuk
mengajar. Apabila metode pembelajaran yang digunakan Dosen itu tepat maka pencapaian

- 195 -
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan KALUNI
Volume 2 – 2019
26 Januari 2019
DOI: [Link]

tujuan pembelajaran akan lebih mudah tercapai, sehingga nilai ketuntasan belajar Mahasiswa
akan meningkat, minat dan motivasi belajar Mahasiswa juga akan meningkat dan akan tercipta
suasana pembelajaran yang menyenangkan.
Menurut Glazer (2001) menyatakan bahwa PBL menekankan belajar sebagai proses
yang melibatkan pemecahan masalah dan berpikir kritis dalam konteks yang sebenarnya.
Glazer selanjutnya mengemukakan bahwa PBL memberikan kesempatan kepada Mahasiswa
untuk mempelajari hal lebih luas yang berfokus pada mempersiapkan Mahasiswa untuk
menjadi warga negara yang aktif dan bertanggung jawab. Melalui PBL Mahasiswa
memperoleh pengalaman dalam menangani masalah-masalah yang realistis, dan menekanan
pada penggunaan komunikasi, kerjasama, dan sumber-sumber yang ada untuk merumuskan ide
dan mengembangkan keterampilan penalaran. Untuk dapat membangun keterampilan berpikir
kritis, Dosen dapat memberikan pengalaman belajar dengan mendesain proses pembelajaran.
Dosen mendesain pembelajaran dengan memberikan permasalahan yang melibatkan
keterampilan berpikir Mahasiswa dan melibatkan proses menganalisis berdasarkan
permasalahan yang sebenarnya. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah
Problem Based Learning (PBL) atau pembelajaran berbasis masalah. Hasil penelitian
Abdullah dan Ridwan (2008) menyatakan model PBL dapat meningkatkan hasil belajar
Mahasiswa pada aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Hasil penelitian Oon-Seng Tan
(2008) menyatakan PBL dapat mengantar kan Mahasiswa untuk menyelesaikan permasalahan
hidup melalui proses menemukan, belajar dan berpikir secara independen. Dari standar
profesinal tersebut jelaslah bahwa keterampilan sosial dan berpikir kritis diperlukan bagi
mahasiswa PGSD sesuai dengan satandar ke empat dan ke tujuh.

Model Pembelajaran Problem Based Learning

Problem Based Learning adalah seperangkat model mengajar yang menggunakan


masalah sebagai fokus untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, materi, dan
pengaturan diri. PBL merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah
dunia nyata sebagai suatu konteks bagi peserta didik untuk belajar tentang cara berpikir kritis
dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang
esensial dari materi pelajaran. PBL merupakan pembelajaran berdasarkan teori kognitif yang
didalamnya termasuk teori belajar konstruktivisme. Menurut teori konstruktivisme, keterampilan
berpikir dan memecahkan masalah dapat dikembangkan jika peserta didik melakukan sendiri,
menemukan, dan memindahkan kekomplekan pengetahuan yang ada.
Anita Woolfolk (2007:352) mengatakan: The goals of problem based learning are to
help students develop flexible knowl- edge that can be applied in many situa- tions, in contrast
to inert knowledge. .... other goals of problem based learning are to enhance intrinsic
motivation and skills in problem solving, collaboration, and self directed lifelong learning.
Menurut Arends (2008:55), langkah- langkah dalam melaksanakan PBL ada 5 fase
yaitu (1) mengorientasi Mahasiswa pada masalah; (2) mengorganisasi Mahasiswa untuk
meneliti; (3) membantu investigasi mandiri dan berkelompok; (4) mengembangkan dan
menyajikan hasil karya; (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.,
permasalahan yang digunakan dalam PBL adalah permasalahan yang dihadapi di dunia nyata.
Meskipun kemampuan individual dituntut bagi setiap Mahasiswa, tetapi dalam proses belajar
dalam PBL Mahasiswa belajar dalam kelompok untuk memahami persoalan yang dihadapi.
Kemudian Mahasiswa belajar secara individu untuk memperoleh informasi tambahan yang
berhubungan dengan pemecahan masalah. Peran Dosen dalam PBL yaitu sebagai fasilitator
dalam proses pembe- lajaran.

- 196 -
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan KALUNI
Volume 2 – 2019
26 Januari 2019
DOI: [Link]

Keterampilan Berpikir Kritis (Critical Thinking Skill)

Berpikir merupakan aktivitas yang melibatkan proses memanipulasi dan merubah


informasi yang ada dalam ingatan. Pada saat berpikir, kita berpikir untuk membentuk suatu
konsep, pertimbangan, berpikir kritis, membuat keputusan, berpikir kreatif dan memecahkan
masalah. Menurut [Link] dalam Nitko dan Brookhart (2011:232): .....Critical thinking is
reasonable, reflective thinking that is focused on deciding what to belief or do...
Berpikir kritis bersifat reasonable dan berpikir reflektif yang difokuskan pada
memutuskan apa yang harus dipercayai dan apa yang harus dilakukan. Artinya ketika
menggunakan berpikir kritis akan dapat memutuskan dengan tepat apa yang seharusnya
dipercayai dan apa yang harus dilakukan. Berpikir kritis merupakan proses intelektual dan penuh
konsep akan keterampilan yaitu (1) mengaplikasikan; (2) menganalisa; (3) mensintesa; (4)
mengevaluasi darimana suatu informasi diperoleh; (5) atau mengeneralisasi hasil dari proses
observasi, pengalaman, refleksi, penalaran, atau komunikasi sebagai dasar untuk dipercaya dan
apa yang akan dilakukan (Paul, 2008: 4). Seorang pemikir kritis menerapkan standar-standar
berpikir pada elemen-elemen penalaran dalam mengembangkan ciri-ciri intelektual. Standar
intelektual harus diterapkan pada elemen- elemen berpikir sebagai proses belajar dalam
mengembangkan ciri-ciri intelektual.
Berdasarkan hasil observasi dilapangan bahwa terdapat beberapa permasalahan
akademik mahaMahasiswa pada saat pembelajaran yang perlu dikaji dan dicari solusinya
diantaranya: 1) kurangnya antusias mahaMahasiswa dalam pembelajaran, 2) mahaMahasiswa
cenderung bersifat pasif dalam pembelajaran, 3) rendahnya keinginan mahaMahasiswa untuk
bertanya. Dari permasalahan yang ada tentunya dapat mempengaruhi rendahnya nilai akademik
mahaMahasiswa dikarenakan mereka kurang berpikir kritis pada saat perkuliahan sehingga
banyak materi yang mereka belum pahami pada saat perkuliahan maupun pada kehidupan
mereka ketika sudah berada pada dunia pembelajaran sesungguhnya. Untuk menjawab
permasalah yang ada, tampaknya belum ada titik terang sesuai berdasarkan tujuan
pembelajaran dengan kualitas pembelajaran yang diselenggarakann diperDosenan tinggi
khususnya di STKIP NU Indramayu prodi PGSD, maka sangatlah penting perencanaan dibuat
dan dilaksanakan dengan menggunakan strategi pembelajaran yang inovatif sehingga dapat
mengatasi masalah tersebut, salah satu strategi tersebut yaitu dengan implementasi model
pembelajaran berbasis masalah (problem based learning).

METODE

Metode penelitian ini merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan
dan kegunaan tertentu. Menurut Sugiyono (2010) Metode Deskriptif adalah suatu metode yang
berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui
data atau sampel yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa melakukan analisis dan
membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum .
Dilihat dari tujuan penelitiannya, jenis penelitian ini dapat dikategorikan sebagai
penelitian deskriptif analitis, yaitu yaitu suatu metode penelitian dengan mengungkapkan
masalah yang ada, mengolah data, menganalisis, meneliti dan menginterprestasikan serta
membuat kesimpulan dan memberi saran yang kemudian disusun pembahasannya secara
sistematis dilanjutkan dengan menganalisis untuk mencari hubungan, kaitan dan pengaruh
antara variabel yang satu dengan variabel yang lain. Paradigma penelitian yang digunakan yaitu
paradigma korelasi dan regresi sederhana.

- 197 -
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan KALUNI
Volume 2 – 2019
26 Januari 2019
DOI: [Link]

Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah Mahasiswa aktif semester II
Prodi S1 PGSD STKIP NU Indramayu 1 kelas dengan jumlah Mahasiswa 38. Adapun mata
kuliah yang dijadikan fokus penelitian adalah mata kuliah Pedagogika. Instrumen yang
digunakan untuk mendapatkan data yang diinginkan dalam dalam penelitian ini yaitu, berupa
lembar angket, wawancara, dan lembar pengamatan. Pengumpulan data dilakukan melalui
pretest, posttest, pengisian angket, observasi, dan wawancara. Data yang diolah adalah data
pretest dan postest yang dikumpulkan selama proses pembelajaran berlangsung. Data yang
diperoleh kemudian dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut: Uji normalitas,
Pengujian hipotesis, Uji-F dan Uji-t.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Sebelum analisis statistik inferensia dilakukan, perlu dilakukan uji prasyarat analisis
terlebih dahulu. Sesuai dengan teknik analisis yang akan dipakai untuk menguji hipotesis dalam
penelitian ini maka dilakuakan uji prasyarat analisis yaitu dengan uji normalitas variansi dari
masing-masing sampel. Berikut hasil uji prasyarat yang dilakukan.
1) Uji Normalitas
Uji normalitas yang digunakan adalah uji Kolmogrof Smirnov. Kriteria pengujian yaitu data
berasal dari populasi yang berdistribusi normal jika nilai signifikansi probabilitas (p>0,05), dan
populasi tidak berdistribusi normal apabila p < signifikansi α=0,05 (Susetio, 2012).

Tabel 1. Normalitas Model Regresi ke-1


Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Berpikirkritis .121 38 .176 .967 38 .317
a. Lilliefors Significance Correction

Berdasarkan tabel 1 normalitas diatas, nilai signifikansinya adalah 0,176 lebih besar dari nilai α,
sehingga dapat dikatakan data model regresi yang pertama bersifat normal.

2) Analisis Regresi Model PBL terhadap Berpikir Kritis

Tabel 2. Model Summary Model Ke-1


Model Summary
Adjusted R Std. Error of the
Model R R Square Square Estimate
1 .794a .630 .620 5.090
a. Predictors: (Constant), Model PBL

Dari tabel 2 tampak besarnya nilai korelasi /hubungan (R) yaitu 0,794, dan koefisien
determinasi sebesar 0,630 yang mengandung pengertian bahwa pengaruh variabel bebas (Model
PBL) terhadap variabel terikat ke 1 (Berpikir Kritis) adalah sebesar 63,0%, sedangkan sisanya
37,0% dipengaruhi oleh variabel lain.

- 198 -
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan KALUNI
Volume 2 – 2019
26 Januari 2019
DOI: [Link]

Tabel 3. Anova Model Ke-1


ANOVAb
Sum of Mean
Model Squares Df Square F Sig.
1 Regression 1588.933 1 1588.933 61.324 .000a
Residual 932.778 36 25.910
Total 2521.711 37
a. Predictors: (Constant), Model PBL
b. Dependent Variable: Berpikir Kritis
Pada tabel 3 anova terlihat bahwa F hitung = 61,324 dengan tingkat signifikansi /probabilitas
0,000 < 0,05, maka model regresi dapat dipakai untuk memprediksi variabel partisipasi

Tabel 4. Coefficient Model Ke-1


Coefficientsa
Standardized
Unstandardized Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) 21.550 6.345 3.396 .002
Model PBL .859 .110 .794 7.831 .000
a. Dependent Variable: Berpikir Kritis

Berdasarkan tabel 4 di atas, nilai konstant (a) adalah 21,550, sedangkan nilai Model PBL (b)
adalah 0,859, sehingga dapat dinyatakan dalam persamaan berikut:
Y = a + bX atau 21,550 + 0,859 X
Hipotesis:
1. Ho: Tidak ada pengaruh signifikan variabel Model PBL (X) terhadap variabel Berpikir
Kritis (Y1)
2. H1: Terdapat pengaruh signifikan antara variabel Model PBL (X) terhadap variabel
Berpikir Kritis (Y1).
Berdasarkan tabel Tabel 4 coefficient nilai t hitung = 7,831 dengan nilai signifikansi 0,000 <
0,05, dengan demikian Ho ditolak dan H1 diterima sehingga dapat dinyatakan ada pengaruh
secara signifikan variabel Model PBL (X) terhadap variabel Berpikir Kritis (Y).

Pembahasan

Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) berdasarkan hasil penelitian jika
dilihat pada table 4 memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ketarampilan berpikir kritis
dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Model pembelajaran Problem Base Learning (PBL) jika
ditinjau dari teoretis dan empiris juga memiliki pengaruh terhadap keterampilan berpikir kritis.
Dalam penelitian Masek (2011: 215) mengenai “The Effect of Problem Based Learning
on Critical Thinking Ability: A Theoretical and Empirical Review” mengungkapkan bahwa (1)
proses pembelajaran dalam model PBL mendukung perkembangan berpikir kritis Mahasiswa
(2) bukti empiris secara umum tidak dapat disimpulkan dalam penjelasan efek PBL pada

- 199 -
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan KALUNI
Volume 2 – 2019
26 Januari 2019
DOI: [Link]

kemampuan berpikir kritis Mahasiswa, khususnya di luar bidang medis, 3) beberapa bukti
menunjukkan bahwa PBL membutuhkan paparan jangka panjang untuk menumbuhkan
kemampuan berpikir kritis Mahasiswa, 4) ada beberapa kemungkinan juga mempengaruhi
hubungan PBL dan berpikir kritis seperti usia, jenis kelamin, prestasi akademik, dan latar
belakang pendidikan.
Berdasarkan penelitian Rani Nopia, dkk (2016) Hasil perhitungan yang telah dilakukan
bahwa hasil uji normalitas data gain kedua kelas diperoleh P-value>0,05 maka H0 diterima.
Dapat disimpulkan bahwa nilai gain yang diperoleh pada penelitian ini berdistribusi normal.
Selanjutnya pengujian yang dilakukan yaitu uji homogenitas untuk mengetahui hogen tidaknya
sampel yang dipilih, dan hasil yang diperoleh dari uji homogenitas gain yaitu P-value>0,05
yang dapat disimpulkan bahwa sampel yang dipilih pada kedua kelas merupakan sampel yang
homogen. Adapun nilai rata-rata posttest pada kelas eksperimen yaitu 69 sedangkan nilai
posttest kelas kontrol yaitu sebesar 44.5, dan selisih dari nilai rata-rata posttest kedua kelas yaitu
24.5. Dari perolehan data tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPA dengan
menerapkan model PBL lebih meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa dibandingkan
dengan peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa yang mengikuti pembelajaran
konvensional.
Hasil penelitian Sianturi Aprilita, dkk (2018) menunjukkan bahwa nilai rata-rata
kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model
Problem Based Learning sebesar 81,50, sementara nilai rata-rata kemampuan berpikir kritis
matematis siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional hanya sebesar 73,17, sehingga
diperoleh selisih nilai rata-rata kemampuan berpikir kritis matematis siswa kelas eksperimen
dan kelas control sebesar 8,33. Berdasarkan uji hipotesis diperoleh nilai t hitung = 2,59 dan
ttabel = 1,672 dengan dk = 58 dan taraf signifikansi 05,0 sehingga terlihat bahwa thitung >
ttabel yaitu 2,59 > 1,672. Hal ini berarti bahwa kemampuan berpikir kritis matematis siswa yang
mengikuti pembelajaran dengan model Problem Based Learning lebih tinggi dibandingkan
dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional.

PENUTUP

Berdasarkan analisis data dan pembahasan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan
sebagai berikut: Melalui implementasi model problem based learning dalam pembelajaran
pedagogik materi masalah-masalah pokok pendidikan terdapat pengaruh yang positif dan
signifikan antara model pbl terhadap berpikir kritis Mahasiswa PGSD STKIP NU Indramayu
dengan nilai t hitung = 7,831 dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05.

DAFTAR PUSTAKA

Arends, Richard. (2008). Learning to Teach. Penerjemah: Helly Prajitno & Sri Mulyani.
New York: McGraw Hill Company.
Arikunto, S (2010) Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi [Link]:
Rineka Cipta.
Barret, Terry (2005). Understanding Problem Based Learning. [online].Tersedia: http:// [22
– 03 -2007]
Bremer, C.D. & Smith, J, (2004). Teaching Social Skills. National Center on Secondary
Education and Transition Information Brief, 3 (5).
Cartledge & Milburn. (1992). Keterampilan Sosial. Jakarta: Tiga Serangkai

- 200 -
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan KALUNI
Volume 2 – 2019
26 Januari 2019
DOI: [Link]

Dewi, Sari., Sumarmi., & Amirudin, Ach (2016). Penerapan Model Pembelajaran Problem
Based Learning untuk Meningkatkan Keaktifan dan Keterampilan Sosial Mahasiswa
Kelas V SDN Tangkil 01 Wlingi. Jurnal Pendidikan, 1(3); 281-288.
Ficher A. (2008). Berpikir Kritis Sebuah Pengantar. Jakarta: Erlangga.
Glazer, E. (2001). Problem based instruction. In M. Orey (Ed.), Emerging perspective on
learning, teaching, and technology. Diambil dari http//[Link]/
epltt/[Link].
Lambertus (2009) Pentingnya Melatih Berpikir Kritis Dalam Pembelajaran Matematika Di SD.
Forum Pendidikan. Vol. 28, Nomor 2, [Link]
Liu, Min. (2005). Motivating Students Through Problem-based Learning. University of Texas:
Austin. [online]. Tersedia: http:// [22-03-2007]
Masek, Alias & Yamin, Sulaiman. (2011). The Effect of Problem Based Learning on Critical
Thinking Ability: A Theoretical and Empirical Review. International Review of Social
Sciences and Humanities, 2(1); 215-221.
Muijs, D. dan Reynolds, D. ( 2008). Effective Teaching. Yugyakarta: Pustaka Belajar.
Mulyasa. (2007). Menjadi Dosen Profesional. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Mustaji, (2012). Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis Dan Kreatif Dalam Pembelajaran.
(Online). Tersedia: [Link]
dan-kreatif-dalam-pembelajaran. [8 agustus 2018]
Nicol, D.J. dan Dick, D.M. (2006). Formative Assessment and Self-Regulated Learning: A
Model and Seven Principles of Good Feedback Practice. 31, (2), 199-218.
Nitko, J.A., & Brookhart, M. S. (2011). Educational assesment of student. Boston: Pearson
Education.
Nopia Rani, Julia, Sujana A (2016) Pengaruh Model Problem Based Learning Terhadap
Berpikir Kritis Siswa Sekolah Dasar Pada Materi Daur Air. Jurnal Pena Ilmiah: Vol. 1,
No. 1
Paul, R., & Elder, L. (2008). Miniatur guide to critical thinking concepts and tools. Dillon
Beach: Foundation for Critical Thinking Press
Rusman. (2012). Model - Model Pembelajaran. Jakarta. Rajawali Pres.
Sianturi Aprilita, Sipayung Natalia Tetty, Simorangkir Argareta M F (2018). Pengaruh Model
Problem Based Learning (PBL) terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Siswa
SMPN 5 Sumbul. UNION: Jurnal Pendidikan Matematika. Vol 6 No. 1.
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.
Bandung: Alfabeta.
Sumarmo, U. (2006). Kemandirian Belajar: Apa, Mengapa, dan Bagaimana Dikembangkan
pada Peserta Didik. Bandung. FMIPA UPI.
Suprapto. (2007). Menggunakan keterampilan berpikir untuk meningkatkan mutu pembelajaran.
[Link] (di unduh 25 Juli 2018)
Suriadi, (2006). Pembelajaran dengan pendekatan discovery yang menekankan aspek analogi
untuk meningkatkan pemahaman matematik dan kemampuan berpikir kritis Mahasiswa
SMA. Tesis pada PPS UPI: Tidak diterbitkan.
Tan, O.S. (2008). Problem-based learning and creativity. Singapore: Cengage Learn- ing.
Taufik amir, M. (2013). Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning. Jakarta: Kencana.
Velve, B. P at al. (2006). Development Of Critical Thinking In Occupational Therapy
[Link] Carolina University, USA. Vol. 13 No. 1 Hal. 59.

- 201 -

Anda mungkin juga menyukai