BAB II
KAJIAN TEORI
2. 1 Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL)
Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) merupakan metode pembelajaran yang berfokus
pada siswa dengan cara melibatkan mereka dalam proyek nyata. Proyek-proyek ini
dirancang untuk menjawab pertanyaan atau menyelesaikan masalah yang kompleks.
Menurut Thomas (2000), PjBL memberikan siswa kesempatan untuk belajar secara
mandiri dan membangun pengetahuan lewat proyek yang berhubungan dengan dunia
nyata. Dalam proses ini, siswa aktif berpartisipasi dalam eksplorasi, kerja sama, dan
refleksi.
2. 2 Teori Konstruktivisme dalam PjBL
Landasan filosofis PjBL sangat dipengaruhi oleh teori konstruktivisme, terutama dari
pemikiran Piaget dan Vygotsky. Piaget berpendapat bahwa siswa membentuk pemahaman
mereka dengan berinteraksi aktif dengan lingkungan dan melalui pengalaman. Di sisi lain,
Vygotsky menekankan pentingnya interaksi sosial dan peran bahasa dalam proses
pembelajaran. Konsep Zone of Proximal Development (ZPD) mengindikasikan bahwa
pembelajaran dapat lebih efektif ketika siswa mendapatkan bantuan untuk mencapai
kemampuan yang belum bisa mereka raih sendiri.
2. 3 Teori Pembelajaran Experiential
Kolb (1984) mengemukakan teori pembelajaran experiential yang mengungkapkan bahwa
pengalaman langsung adalah cara terbaik untuk belajar, melalui empat tahap: pengalaman
konkret, refleksi, konseptualisasi abstrak, dan eksperimen aktif. PjBL sesuai dengan teori
ini karena memberikan siswa peluang untuk mengalami, menilai, dan mengembangkan
pengetahuan dari pengalaman nyata.
2. 4 Teori Pembelajaran Sosial dan Kolaboratif
Bandura (1986) menyatakan bahwa belajar tidak hanya terjadi lewat pengalaman
langsung, tetapi juga melalui pengamatan dan interaksi sosial. Prinsip ini diadopsi dalam
PjBL dengan mengorganisir siswa ke dalam tim kolaboratif yang mendorong diskusi,
pembagian tugas, dan tanggung jawab bersama. Kerja sama juga memperkuat
keterampilan sosial yang penting untuk perkembangan total siswa.
2. 5 Teori Self-Determination dalam Konteks PjBL
Deci dan Ryan (2000) melalui Teori Self-Determination menjelaskan bahwa motivasi
intrinsic siswa akan meningkat ketika kebutuhan dasar mereka—yaitu otonomi,
kompetensi, dan keterkaitan sosial—terpenuhi. PjBL menciptakan lingkungan belajar
yang mendukung ketiga aspek ini dengan memberi siswa kesempatan untuk memilih,
bertanggung jawab, dan bekerja sama dalam proyek-proyek yang relevan bagi kehidupan
mereka.
Referensi Utama 1:
Thomas, J. W. (2000). A Review of Research on Project-Based Learning. The Autodesk
Foundation.
Referensi Utama 2:
Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society: The Development of Higher Psychological
Processes. Harvard University Press.
Referensi Utama 3:
Kolb, D. A. (1984). Experiential Learning: Experience as the Source of Learning and
Development. Prentice Hall.
Referensi Utama 4:
Bandura, A. (1986). Social Foundations of Thought and Action: A Social Cognitive Theory.
Prentice-Hall.
Referensi Utama 5:
Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The “What” and “Why” of Goal Pursuits: Human Needs
and the Self-Determination of Behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227–268.