0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
64 tayangan4 halaman

Konflik di Kelas Natsuka dan Ayaka

Natsuka terluka parah setelah berkelahi dengan Ayaka dan harus segera dibawa ke rumah sakit oleh sahabatnya, Tomo. Meskipun Natsuka merasa takut akan kemarahan pamannya, dia akhirnya dirawat di rumah sakit di mana Sensei Yoshida mengekspresikan kekhawatirannya. Setelah perawatan, Natsuka pulang dengan sepupunya, Aoiki, sambil merenungkan rasa bersalahnya.

Diunggah oleh

futukhalarifin43
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
64 tayangan4 halaman

Konflik di Kelas Natsuka dan Ayaka

Natsuka terluka parah setelah berkelahi dengan Ayaka dan harus segera dibawa ke rumah sakit oleh sahabatnya, Tomo. Meskipun Natsuka merasa takut akan kemarahan pamannya, dia akhirnya dirawat di rumah sakit di mana Sensei Yoshida mengekspresikan kekhawatirannya. Setelah perawatan, Natsuka pulang dengan sepupunya, Aoiki, sambil merenungkan rasa bersalahnya.

Diunggah oleh

futukhalarifin43
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROLOG

SCENE 1

INT – RUANG KELAS – DAY

Natsuka di Ruangan kelas ini gelap, hanya nyala lilin yang menerangi, itu pun cuma
beberapa karena sisanya sudah terjatuh akibat perkelahian. Natsuka-berdiri

Ayaka

(berkelahi)

Heyy Jangan macam-macam denganku

Nasuka

Oh, God, SAKITTT

SCENE 2

INT – POJOK RUANG KELAS – DAY

Natsuka melihat darah menetes terus dari tangan kirinya. Lalu Natsuka duduk di pojok dekat
meja guru sambil mengeluh kesakitan. Sedangkan ayaka memegang perutnya yang natsuka
sepak ketika dia menerjang dan menggoreskan pisau kecil. Natsuka dan ayaka – duduk

SCENE 3

INT – DARI PINTU MASUK RUANG KELAS – DAY

Seorang yang lugas masuk ke dalam ruangan. Tubuh orang itu bertabrakan dengan teman-
teman natsuka yang berebutan hendak keluar pintu, hingga beberapa tubuh terjungkal
jatuh. Sosok lugas itu berlari menghampiri natsuka dan berteriak dengan panik.

Tomo

Natchan!!!

(memanggil antara cemas dan lega)

Natsuka tersenyum

Tomo
Ya ampun! Apa yang dia lakukan padamu!!!

Tomo, , cepat mengeluarkan kain dari balik jas yang dikenakannya dan segera membalut
tanganku yang terus berdarah.

SCENE 4s

"Tomo...," erangku, "sakit!!!"

Mendadak dari balik pintu lain, muncul sosok laki-laki besar.

Dengan sigap, laki-laki itu menghidupkan lampu ruangan dan segera berjongkok ke arahku
untuk memeriksa lenganku.

"Gawat, Natsuka harus segera dibawa ke rumah sakit. Darahnya sebanyak ini."

"Jangan rumah sakit!!!" cegahku dengan miris. Rumah sakit mengingatkanku pada Kei yang
sedang dirawat di sana dan pada kemarahan Ojisan (paman).

"Tomo, segera bawa Natchan ke rumah sakit!" perintah laki-laki di sisiku itu. Laki-laki itu
segera berpindah dan memeriksa keadaan Ayaka yang masih tersuruk di lantai sambil
memegangi perutnya.

"Kalau yang ini tidak apa-apa...," ujarnya tampak lega. Dan, darah itu masih mengucur deras
dari tanganku. Tomo dengan sigap menarik benda tipis dari tasku. Oi, bukan... itu ternyata
ponsel milikku. Dia tampak tergesa-gesa dan memencet beberapa nomor di ponsel milikku.

"Tomo, jangan rumah sakit...," erangku dengan begitu banyak kelebatan bayang-bayang
buruk tentang rumah sakit.

"Harus rumah sakit. Tanganmu harus segera ditangani!"

Oke... ini tidak adil untukku.

"Tomo, ke rumah sakit tidak akan memperbaiki keadaan tanganku...."

Hmm... mungkin sedikit akan memperbaikinya, tapi apa temanku yang satu ini tidak berpikir
kalau Ojisan pasti murka. Dan, tubuhku sudah menggigil, membayangkan kemarahan Ojisan
di kelebatan pikiranku.
Aoiki tampak menunggu di ruang tunggu rumah sakit. Kalian akan tahu apa yang dilakukan
Tomo-sahabatku-pada sepupuku yang satu itu, yang bahkan kalau boleh aku memilih, aduh
jangan Aoiki deh yang datang ke sini? Aku sendiri paling tidak kuat melihat mata sipitnya
yang akan menikamku-sebenarnya tidak persis seperti itu sih, tapi suerr! Kalau mata Aoiki
itu diibaratkan pisau, maka matanya benar-benar seperti mata pisau.

Aku tertatih-tatih keluar dari kamar rumah sakit, dengan tangan terbebat perban yang
masih baru. Mataku menatap Aoiki dan satu orang lagi di sisinya yang sangat aku kenali.
Sensei (guru) Yoshida. Alamaki Aku merinding.

"Kamu baik-baik saja, Natsuka?" Sensei Yoshida segera menghampiriku dengan cemas.
"Tanganmu tidak apa-apa?"

"Tidak apa-apa...," jawabku berbohong.

"Tapi, ini tidak bisa berakhir begitu saja, Natsuka. Kamu harus menjelaskannya pada Ibu
nanti."

Oh yeah, itulah hal yang benar-benar TIDAK AKU TUNGGU.

"Sensei Yoshida," Aoiki segera membungkuk ke arah guruku tersebut, "Maafkanlah kelakuan
sepupuku ini. Aku benar-benar tidak menyangka Natsuka membuat masalah sampai seperti
ini,"

"Ah, Aoiki. Sudahlah, sekarang lebih baik Natsuka dibawa pulang. Tangannya harus benar-
benar dipastikan tidak apa-apa dan mendapat perawatan yang baik," ucap Sensei Yoshida.

Setelah berbasa-basi sejenak, Sensei Yoshida pamit, dan malam pun sudah sangat beranjak
jauh. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Di tempat ini, hanya ada aku dan Aoiki-
sayangnya, Tomo sudah lebih dahulu pulang mengantarkan Ayaka. Bersama Aoiki tidaklah
menyenangkan karena aku tidak tahu kapan dia siap meledak.

"Kita pulang, Natchan," ujar Aoiki padaku dan segera memapahku meninggalkan rumah
sakit ini. Aoiki segera memanggil taksi lewat ponsel-nya. Dalam lima menit, sebuah taksi
menjemput dan membawa kami membelah jalanan Tokyo, mengantar kami pulang kembali
ke rumah.
Kami sama-sama diam dalam taksi dan aku merasa begitu bersalah pada Aoiki. Lampu-
lampu malam di Tokyo berkelap-kelip tampak indah. Aku juga melihat supermarket 24 jam
yang sesekali kami lewati dan itu mengingatkan diriku pada satu setengah tahun yang
lalu.....

Anda mungkin juga menyukai