0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan11 halaman

Pendidikan Nilai dan Moral dalam PKN

Modul ini membahas karakteristik Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) sebagai pendidikan nilai dan moral, menekankan pentingnya internalisasi nilai dalam proses belajar yang berlangsung dalam konteks budaya masyarakat. PKN bertujuan untuk membentuk individu yang berkeadaban dan mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan yang demokratis dan berkeadilan. Selain itu, modul ini juga menyoroti tantangan yang dihadapi dalam penerapan nilai moral di masyarakat dan pentingnya pendidikan moral yang komprehensif untuk mengatasi masalah sosial yang ada.

Diunggah oleh

niwayan purnamiasih
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan11 halaman

Pendidikan Nilai dan Moral dalam PKN

Modul ini membahas karakteristik Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) sebagai pendidikan nilai dan moral, menekankan pentingnya internalisasi nilai dalam proses belajar yang berlangsung dalam konteks budaya masyarakat. PKN bertujuan untuk membentuk individu yang berkeadaban dan mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan yang demokratis dan berkeadilan. Selain itu, modul ini juga menyoroti tantangan yang dihadapi dalam penerapan nilai moral di masyarakat dan pentingnya pendidikan moral yang komprehensif untuk mengatasi masalah sosial yang ada.

Diunggah oleh

niwayan purnamiasih
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Modul 2 : KARAKTERISTIK PKN SEBAGAI PENDIDIKAN NILAI DAN MORAL

KB 1 : pendekatan PKN sebagai pendidikan nilai dan moral


Hermann (1972), mengemukakan suatu prinsip yang sangat mendasar, yakni bahwa "value is
neither tought or cought, it is learned, yang artinya bahwa substansi nilai tidaklah semata-
mata ditangkap dan diajarkan tetapi lebih jauh, nilai dicerna dalam arti ditangkap,
diinternalisasi, dan dibukukan sebagai bagian yang melekat dalam kualitas pribadi seseorang
melalui proses belajar. Adalah suatu kenyataan bahwa proses belajar memang tidaklah terjadi
dalam ruang bebas budaya tetapi dalam masyarakat yang syarat-budaya karena kita hidup
dalam kehidupan masyarakat yang berkebudayaan. Oleh karena itu memang betul bahwa
proses pendidikan pada dasarnya merupakan proses pembudayaan atau enkulturasi untuk
menghasilkan manusia yang berkeadaban, termasuk di dalamnya yang berbudaya.
Dalam latar kehidupan masyarakat, proses pendidikan nilai sudah berlangsung dalam
kehidupan masyarakat dalam berbagai bentuk tradisi.
Sebagai salah satu unsur kebudayaan (Kuncaraningrat: 1978) kesenian pada dasarnya
merupakan produk budaya masyarakat yang melukiskan penghayatan tentang nilai yang
berkembang dalam lingkungan masyarakat pada masing-masing jamannya.

sebagai prinsip pendidikan ditegaskan hal-hal sebagai berikut :


1) Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif
dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan
kemajemukan bangsa.
2) Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistematik dengan sistem
3) Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan terbuka
dan multimakna peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
4) Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan dan
mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran.
5) Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca, menulis, dan
berhitung bagi segenap warga masyarakat
6) Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat
melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.

Bagaimana Pkn sebagai Mata Pelajaran yang Memiliki Misi adalah Pendidikan Nilai dan
Moral? Khusus mengenai pendidikan nilai dalam Penjelasan Pasal 37 Undang-undang
Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional secara
khusus tidak menyebutkan, namun secara implisit, antara lain tercakup dalam muatan
pendidikan kewarganegaraan, yang secara substantif dan pedagogis mempunyai mist
mengembangkan peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan rasa
cinta tanah air.

Dalam konteks kehidupan masyarakat, kita melihat betapa masih besarnya kesenjangan
antara konsep dan muatan nilai yang tercermin dalam sumber-sumber normatif konstitusional
dengan fenomena sosial, kultural, politik, ideologis, dan religiositas dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara Rt sampai dengan saat ini. Dalam media masa
tercetak, tersiar, dan jaringan internet setiap saat kita menyaksikan kondisi paradoksal antara
nilai dan fakta, seperti kekerasan, pelanggaran lalu lintas, kebohongan publik, arogansi
kekuasaan, korupsi kolektif, kolusi dengan menggunakan baju profesionalisme, nepotisme
lokal dan institusional, penyalahgunaan wewenang, konflik antar pemeluk agama, pemalsuan
ijazah, konflik buruh dengan majikan, konflik antara rakyat dengan penguasa, demonstrasi
yang cenderung merusak, koalisi antar partai secara kontekstual dan musiman, politik uang,
kecurangan dalam pelaksanaan pemilu dan pilkada, otonomi daerah yang berdampak
tumbulinya etnosentrisme, dan lainnya.

Jika kita menganalisis misi utama hidup bernegara Indonesia, kita dapat mengambil makna
dari pernyataan "Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia"
dalam teks Proklamasi; dan "Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah
Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah
Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan
ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
keadilan sosial...dst, dalam alinea ke empat Pembukaan UUD 1945; serta kata-kata retoris "
Bangunlah jiwanya. bangunlah badannya untuk Indonesia raya" dalam Lagu Kebangsaan
Indonesia Raya. sungguh mencerminkan bahwa kita sebagai bangsa Indonesia adalah suatu
keniscayaan yang eksistensi dan perkembangannya harus selalu diupayakan dengan
komitmen nilai kebangsaan yang sangat tinggi.

Dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke empat, dinyatakan dengan tegas bahwa Pemerintah
Negara Indonesia dibentuk antara lain untuk "mencerdaskan kehidupan bangsa". Untuk
mendapatkan kehidupan bangsa yang cerdas dalam arti yang luas tentu diperlukan warga
negara yang cerdas juga dalam arti yang luas. Upaya untuk mencerdaskan warga negara dapat
ditempuh melalui program pendidikan nasional. sebagaimana hal tersebut tersurat dalam
Pasal 31 UUD 45 ayat (3) (Amandemen keempat 10 Agustus 2002), "Pemerintah
mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan
keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa
yang diatur dengan undang- undang". Secara psikologis dan sosial yang dimaksudkan cerdas
itu bukanlah hanya cerdas rasional tetapi juga cerdas emosional, cerdas sosial, dan cerdas
spiritual, (Sanusi: 1998, Winataputra: 2001).

Secara umum yang dimaksud dengan pembudayaan adalah proses pengembangan nilai,
norma dan moral dalam diri individu melalui proses perlibatan peserta didik dalam proses
pendidikan yang merupakan bagian integral dari proses kebudayaan bangsa Indonesia.
Selanjutnya dapat ditekankan pula bahwa proses pembudayaan harus menuju ke arah
kemajuan dalam adab dan budaya persatuan Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika,
dengan tetap mengakomodasikan unsur-unsur yang dinilai baru, yang secara substantif
bersumber dari kebudayaan asing. Semua itu harus dilakukan dalam rangka mengembangkan
atau memperkaya kebudayaan asli serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia.

Secara lebih rinci masalah perilaku moral yang ada dalam masyarakat barat adalah sebagai
berikut.
1. Vandalime dan kekerasan (Piolence and candalism).
2. Mencuri (Stealing).
3. Menyontek (Cheating).
4. Tidak hormat pada pejabat publik (Disrespect for authority)
5. Kekejaman terhadap teman seusia (Peer cruelty).
6. Menyerang keyakinan orang lain yang berbeda (Bigotry). Bicara kasar tak pantas (Bad
language).
8. Perkosaan dan pelecehan seksual (Sexual precosity and abuse).
9. Bertambahnya orientasi pada diri sendiri dan menurunnya tanggung jawab sebagai
warganegara (increasing self-centeredness and declining civic responsibility)
10. Perilaku merusak diri sendiri (Self-destructive behavior).
Melihat keadaan seperti itu dirasakan perlunya upaya pendidikan nilai moral yang dilakukan
secara menyeluruh dengan pertimbangan sebagai berikut.
1. Pendidikan nilai merupakan suatu kebutuhan sosiokultural yang jelas dan mendesak bagi
kelangsungan kehidupan yang berkeadaban.
2. Pewarisan nilai antar generasi dan dalam satu generasi merupakan wahana sosiopsikologis
dan selalu menjadi tugas dari proses peradaban.
3. Peranan sekolah sebagai wahana psikopedagogis dan sosiopedagogis yang berfungsi
sebagai pendidik moral menjadi semakin penting, pada saat dimana hanya sebagian kecil
anak yang mendapat pendidikan moral dari orang tuanya dan peranan lembaga keagamaan
semakin kecil.
4. Dalam setiap masyarakat terdapat landasan etika umum, yang bersifat universal melintasi
batas ruang dan waktu, sekalipun dalam masyarakat pluralistik yang mengandung banyak
potensi terjadinya konflik nilai.
5. Demokrasi mempunyai kebutuhan khusus akan pendidikan moral karena inti dari
demokrasi adalah pemerintahan yang berakar dari rakyat, dilakukan oleh wakil pembawa
amanah rakyat, dan mengusung komitmen mewujudkan keadilan dankesejahteraan rakyat.
6. Pertanyaan yang selalu dihadapi baik individu maupun masyarakat adalah pertanyaan
moral.
7. Terdapat dukungan yang mendasar dan luas bagi pendidikan nilai di sekolah. 8. Komitmen
yang kuat terhadap pendidikan moral sangatlah esensial untuk menarik dan membina guru-
guru yang berkeadaban dan profesional.
9. Pendidikan nilai adalah pekerjaan yang dapat dan harus dilakukan sebagai suatu
keniscayaan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta bermasyarakat global.

Dilihat dari substansi dan prosesnya, menurut Lickona (1992: 53-63) yang perlu
dikembangkan dalam rangka pendidikan nilai tersebut adalah nilai karakater yang baik (good
character) yang di dalamnya mengandung tiga dimensi nilai moral sebagai berikut.
Dimensi Wawasan Moral
1. Wawasan Moral (Moral Knowing) yang mencakup:
2. Kesadaran moral (Moral awareness)

Wawasan nilai moral (Knowing moral values)


1. Kemampuan mengambil pandangan orang lain (Perspective taking),
2. Penalaran moral (Moral reasoning).
3. Mengambil keputusan (Decision-making).
4. Pemahamn diri sendiri (Self-knowledge)

Dimensi Perasaan Moral


1. Perasaan Moral (Moral Feeling) yang mencakup
2. Kata hati atau nurani (Conscience)
3. Harapan dirisendiri (Self-esteem)
4. Merasakan diri orang lain (Empathy).
5. Cinta kebaikan (Loving the good).
6. Kontroldiri (Self-control).
7. Merasakan diri sendiri (Humility).

Dimensi Perilaku Moral


1. Perilaku Moral (Moral Action) yang mencakup:
2. Kompetensi (Competence).
3. Kemauan (Will).
4. Kebiasaan (Habit)

Dalam isi dan prosesnya masing-masing memiliki keunikan, Pendidikan agama berisikan
pendidikan nilai yang menyangkut sikap, keyakinan dan perilaku dalam hubungan manusia
dengan khaliq Tuhan Yang Maha Esa dan hubungan manusia dengan manusia lain dan alam
semesta. Pendidikan kewarganegaraan berisikan pendidikan nilai yang menyangkut sikap,
keyakinan dan perilaku dalam hubungan manusia dengan negaranya, masyarakatnya, dan
bangsanya. Pendidikan bahasa dan seni berisikan pendidikan nilai yang menyangkut
pemaknaan dan penghargaan terhadap harmoni (keindahan, keserasian) dalam hubungan
antar mamusia dan alam semesta. Oleh karena itu pendidikan nilai di Indonesia bersifat tidak
sekuler karena negara tidak melepaskan pendidikan milai keagamaan dari tanggungjawabnya.
Dalam konteks ito maka pendidikan nilai moral di Indonesia mencakup nilai moral
Keagamaan dan nilai moral sosial dan nilai sosioestetika.

Dari kajian dan bahasan terhadap konsep, isi dan strategi pendidikan nilai di dunia Barat yang
lebih cenderung bersifat sekuler dan berpijak serta bermuara pada perkembangan monal
kognitif, kiranya terdapat beberapa hal yang dapat diadaptasikan bagi kepentingan
pendidikan nilai di Indonesia dengan mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut.
Secara konstitusional demokrasi Indonesia adalah demokrasi yang Theisti atau demokrasi
yang her Ketuhanan Yang Maha Esa. Oleh karena itu pendidikan mlai bagi Indonesia
seyogyanya berpijak pada nilai-nilai keagamaan, nilai-nilai demokrasi yang ber-Ketuhanan
Yang Maha Esa, dan nilai sosial-kultural yang ber Bhinneka Tunggal Ika. Dalam konteks ini
maka teori perkembangan moral dari Piaget dan Kohlberg yang dapat diadaptasikan adalah
terhadap nilai moral sosial-kultural selain nilai yang berkenaan dengan keyakinan atau aqidah
keagamaan yang tidak selamanya dapat atau boleh dirasionalkan.

Konsepsi pendidikan nilai moral Piaget yang menitikberatkan pada pengembangan


kemampuan mengambil keputusan dan memecahkan masalah moral dalam kehidupan dapat
diadaptasikan dalam pendidikan nilai di Indonesia dalam konteks demokrasi konstitusional
Indonesia dan konteks sosial-kultural masyarakat Indonesia yang ber Bhinneka Tunggal Ika
termasuk dalam keyakinan agama.

Konsepsi pendidikan nilai moral Kohlberg yang menitikberatkan pada penalaran moral
melalui pendekatan klarifikasi nilai yang memberi kebebasan kepada individu peserta didik
untuk memilih posisi moral, dapat digunakan dalam konteks pembahasan nilai selain nilai
aqidah sesuai dengan keyakinan agama masing-masing. Sedangkan teori tingkatan dan
tahapan perkembangan moral Kohlberg secara konseptual dapat digunakan sebagai salah satu
landasan bagi pengembangan paradigma penelitian perkembangan moral bagi orang
Indonesia.

Kerangka konseptual komponen Good Character dari Lickona yang membagi karakter
menjadi wawasan moral, perasaan moral, dan perilaku moral dapat dipakai untuk
mengklasifikasi nilai moral dalam pendidikan nilai di Indonesia dengan menambahkan ke
dalam masing-masing dimensi itu aspek nilai yang berkenaan dengan konteks keagamaan
seperti wawasan Ketuhanan Yang Maha Esa dalam dimensi Wawasan Moral, perasaan
mengabdi kepada Tuhan yang Maha Esa dalam dimeri Perasaan Moral, dan perilaku moral
kekhalifahan dalam dimensi Perilaku Moral.

Kesemua teori pendidikan nilai Barat antara lain teori Piaget, Kohlberg, dan Lickona dapat
digunakan sebagai sumber akademis dalam membangun desain penelitian pendidikan nilai di
Indonesia dengan cara mengambil secara adaptif sesuai denga konteks sosial-kultural dan
sosial-religius masyarakat Indonesia.

KB 2 : pendidikan nilai dan moral dalam standar isi PKN di sd

Dalam ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk pendidikan dasar
dan menengah, memurut Permendiknas No. 22 Tahun 2006 secara umum meliputi substansi
kurikuler yang di dalamnya mengandung nilai dan moral sebagai berikut.
1. Persatuan dan Kesatuan bangsa, meliputi: Hidup rukun dalam perbedaan, Cinta
lingkungan, Kebanggaan sebagai bangsa Indonesia, Sumpah Pemuda, Keutuhan Negara
Kesatuan Republik Indonesia, Partisipasi dalam pembelaan negara, Sikap positif terhadap
Negara Kesatuan Republik Indonesia, Keterbukaan dan jaminan keadilan
2. Norma, hukum dan peraturan, meliputi: Tertib dalam kehidupan keluarga, Tata tertib di
sekolah, Norma yang berlaku di masyarakat, Peraturan-peraturan daerah, Norma-norma
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Sistim hukum dan peradilan nasional, Hukum dan
peradilan internasional
3. Hak asasi manusia meliputi: Hak dan kewajiban anak. Hak dan kewajiban anggota
masyarakat, Instrumen nasional dan internasional HAM, Pemajuan, penghormatan dan
perlindungan HAM
4. Kebutuhan warga negara meliputi: Hidup gotong-royong, Harga diri sebagai warga
masyarakat, Kebebasan berorganisasi. Kemerdekaan mengeluarkan pendapat, Menghargai
keputusan bersama, Prestasi diri, Persamaan kedudukan warga negara
5. Konstitusi Negara meliputi: Proklamasi kemerdekaan dan konstitusi yang pertama,
Konstitusi-konstitusi yang pernah digunakan di Indonesia, Hubungan dasar negara dengan
konstitusi
6. Kekuasaan dan Politik, meliputi: Pemerintahan desa dan kecamatan Pemerintahan daerah
dan otonomi, Pemerintah pusat, Demokrasi dan sistem politik, Budaya politik, Budaya
demokrasi menuju masyarakat madani, Sistem pemerintahan. Pers dalam masyarakat
demokrasi
7. Pancasila meliputi: kedudukan Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi negara, Proses
perumusan Pancasila sebagai dasar negara. Pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan
sehari-hari, Pancasila sebagai ideologi terbuka
8. Globalisasi meliputi: Globalisasi di lingkungannya, Politik luar negeri Indonesia di era
globalisasi, Dampak globalisasi, Hubungan internasional dan organisasi internasional, dan
Mengevaluasi globalisasi."

KB 3 : hubungan interaktif pengembangan nilai dan moral dalam PKn Sd

Hubungan interaktif proses pengembangan nilai dan moral dengan proses pendidikan di
sekolah harus dilihat dalam paradigma pendidikan nilai secara konseptual dan operasional.
Konsep-konsep "values education, moral education, education for virtues" yang secara
teoritik, oleh Lickona (1992) diperkenalkan sebagai program dan proses pendidikan yang
tujuannya selain mengembangkan pikiran, atau menurut Bloom untuk mengembangkan nilai
dan sikap. Seperti dikutip oleh Lickona (1992) Theodore Roosevelt (mantan Presiden USA)
dan Bill Honing (Superintendent of Public Instruction California) memberi landasan
pentingnya pendidikan nilai di Amerika. Roosevelt, mengatakan bahwa "Mendidik orang.
hanya tertuju pada pikirannya dan bukan moralnya, sama dengan mendidikkan keburukan
kepada masyarakat". Sementara itu, Honing mengatakan bahwa "Bandul telah berayun
kembali dari ide romantika yang memandang bahwa semua nilai kemasyarakatan adalah
ancaman. Tetapi para pendidik telah lama mengikuti masa kegilaan itu, yang pada akhirnya
berujung pada peserta didik ethically illiterate." Dua kutipan tersebut memberikan landasan
bahwa pendidik di dunia Barat mempunyai keyakinan bahwa pendidikan nilai, etika, moral
sangat penting sebagai salah satu wahana sosiopedagogis dalam menjamin kelangsungan
hidup masyarakat, bangsa, dan negara.

Hal tersebut juga tampaknya dipicu oleh kenyataan meningkatnya permasalahan moral dalam
masyarakat yang merentang dari sikap rakus dan tidak jujur sampai pada aneka kriminalitas
dan perilaku merusak diri sendiri seperti narkoba dan bunuh diri.

Berpijak dengan penuh kesadaran pada pemikiran tersebut, sejak dini sekolah diharapkan
mampu mengambil peran yang aktif dalam merancang dan melaksanakan pendidikan nilai
moral yang bersumber dari kebajikan dan keadaban demokrasi. Dengan kata lain pendidikan
nilai dalam dunia barat adalah pendidikan nilai yang bertolak dari dan bermuara pada nilai-
nilai sosial-kultural demokrasi. Sedangkan nila yang bersumber dari agama bukanlah
tanggung jawab negara, karena memang dunia barat yang sekuler dengan tegas memisahkan
urusan agama sebagai urusan pribadi bukan urusan publik. Pendidikan nilai di dunia Barat
secara konseptual berlandaskan pada teori perkembangan moral Piaget dan Kohlberg.

Secara teoritik nilai moral berkembang secara psikologis dalam diri individu mengikuti
perkembangan usia dan konteks sosial. Dalam kaitannya dengan usia, Piaget merumuskan
perkembangan kesadaran dan pelaksanaan aturan sebagai berikut. Piaget membagi beberapa
tahapan dalam dua domain yakni kesadaran mengenai aturan dan pelaksanaan aturan.

Tahapan pada domain kesadaran mengenai aturan:


1. Usia 0-2 tahun: Pada usia ini aturan dirasakan sebagai hal yang tidak bersifat memaksa
2. Usia 2-8 tahun: Pada usia aturan disikapi sebagai hal yang bersifat sakral dan diterima
tanpa pemikiran Usia 3. 8-12 tahun: Pada usia ini aturan diterima sebagai hasil kesepakatan

Tahapan pada domain pelaksanaan aturan:


1. Usia 0-2 tahun: Pada usia ini aturan dilakukan sebagai hal yang hanya bersifat motorik saja
2. Usia 2-6 tahun: Pada usia ini aturan dilakukan sebagai perilaku yang lebih ber orientasi diri
sendiri
3. Usia 6-10 tahun: Pada usia ini aturan diterima sebagai perwujudan dari kesepakatan
4. Usia 10-12 tahun: Pada usia ini aturan diterima sebagai ketentuan yang sudah dihimpun

Bertolak dari teorinya itu Piaget menyimpulkan bahwa pendidikan sekolah seyogianya
menitikberatkan pada pengembangan kemampuan mengambil keputusan (decision making
skills) dan memecahkan masalah (problem solving) dan membina perkembangan moral
dengan cara menuntut para peserta didik untuk mengembangkan aturan berdasarkan
keadilan/kepatutan (fairness).

Di lain pihak, Lawrence Kohlberg. Professor pada Harvard University, USA, sejak tahun
1969 selama 18 tahun ia mengadakan penelitian tentang perkembangan moral berlandaskan
teori perkembangan kognitif Piaget. Ia mengajukan postulat atau anggapan dasar bahwa anak
membangun cara berpikir melalui pengalaman termasuk pengertian konsep moral seperti
keadilan hak, persamaan, dan kesejahteraan manusia. Penelitian yang dilakukannya
memusatkan perhatian pada kelompok usia di atas usia yang diteliti oleh Piaget.
Dari penelitiannya itu Kohlberg merumuskan adanya tiga tingkat (level) yang terdiri atas
enam tahap (stage) perkembangan moral seperti berikut.
1. Tingkat 1: Prakonvensional (Preconventional)
a. Tahap 1: Orientasi hukuman dan kepatuhan Ciri moralita pada tahap ini adalah apapun
yang pada akhirnya mendapat pujian atau dihadiahi adalah baik, dan apapun yang pada
akhirnya dikenai hukuman adalah buruk.

b. Tahap 2: Orientasi instrumental nisbi Ciri moralita pada tahap ini adalah seseorang berbuat
baik apabila orang lain berbuat baik padanya, dan yang baik itu adalah sesuatu bila satu sama
lain berbuat hal yang sama
2. Tingkat II: Konvensional (Conventional) a. Tahap 3: Orientasi kesepakatan timbal balik.
Ciri utama moralita pada tahap ini adalah bahwa sesuatu hal dipandang baik dengan
pertimbangan untuk memenuhi anggapan orang lain baik atau baik karena memang
disepakati.

b. Tahap 4: Orientasi hukum dan ketertiban Ciri utama moralita pada tahap ini adalah bawa
sesuatu hal yang baik itu adalah yang diatur oleh hukum dalam masyarakat dan dikerjakan
sebagai pemenuhan kewajiban sesuai dengan norma hukum tersebut.

3. Tingkat 111: Poskonvensional (Postconventional)


a. Tahap 5: Orientasi kontrak sosial legalistik. Ciri utama moralita adalah bahwa sesuatu
dinilai baik bila sesuai dengan kesepakatan umum dan diterima oleh masyarakat sebagai
kebenaran konsensual.

b. Tahap 6: Orientasi prinsip etika universal. Ciri utama moralita pada tahap ini adalah bahwa
sesuatu dianggap baik bila telah menjadi prinsip etika yang bersifat universal dari mana
norma dan aturan dijabarkan.

pendekatan pendidikan nilai yang ditawarkan oleh Kohlberg sama dengan yang ditawarkan
Piaget dalam hal fokusinya terhadap perilaku moral yang dilandasi oleh penalarian moral,
namun berbeda dalam hal titik berat pembelajarannya di mana Piaget menitikberatkan pada
pengembangan kemampuan mengambil keputusan dan memecahkan masalah, sedangkan
Kohlberg menitikberatkan pada pemilihan nilai yang dipegang terkait dengan alternatif
pemecahan terhadap suatu dilema moral melalui proses klarifikasi bernalar.
Kedua teori perkembangan moral ini memiliki visi dan misi yang sama dan sampai dengan
saat ini menjadi landasan dan kerangka berpikir pendidikan nilai di dunia barat yang dengan
jelas menitikberatkan pada peranan pikiran manusia dalam mengendalikan perilaku
moralnya. Tampak jelas di situ bahwa pendidikan nilai atas dasar teori Piaget dan Kohlberg
tersebut sangat kental dengan pendidikan nilai yang bersifat sekuler tidak mempertimbangkan
bahwa di dunia ini ada nilai religius yang melandasi kehidupan individu dan masyarakat yang
tidak bisa sepenuhnya didekati secara rasional.

Anda mungkin juga menyukai