P-ISSN: 1979 – 6668
e-ISSN: 2807 – 1379
Vol. 17, No. 1 Maret 2023
DOI: 10.30595/jkp.v17i1.16037
PROJEK PENGUATAN PROFIL PELAJAR PANCASILA PADA
KURIKULUM MERDEKA PERSPEKTIF PROGRESIVISME
Eka Putri Ningsih*1, Noor Alfi Fajriyani2, Rinna Wahyuny3, Fildza Malahati4
1,2,3,4Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
Article Info ABSTRACT
Article history: Analyzing the project to strengthen the profile of Pancasila students in the
independent curriculum using the perspective of progressivism to understand and
Published Mar 31, 2023 change the perspective of learning in the independent curriculum is the goal of this
study. The recent implementation of the independent curriculum is the author's
reason for analyzing and studying it using progressivism analysis. Progressivism
philosophy is one of the schools of educational philosophy. Progressivism itself
Keywords: arises because of the opposition to traditional education, the demands of the times
are supported by the development of science and technology, progress is also
Projek Penguatan Profil Pelajar needed in education. This study uses qualitative research with a phenomenology
Pancasila approach using library study data collection methods presented using descriptive.
Kurikulum Merdeka The results of this study are the project to strengthen the profile of Pancasila
Progresivisme students to become reformers in the independent curriculum. The profile of
Pancasila students in the independent curriculum is aligned with the philosophy of
progressivism which requires a good change of direction, in the learning process
emphasizing direct experience, practice of taking action, emphasizing student
freedom. to improve personal quality and provide space to develop talents and
abilities that are latent in students
.
Corresponding Author:
Eka Putri Ningsih,
Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah,
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga,
Jl. Marsda Adisucipto, Papringan, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
E-mail: 21204082012@[Link]
How to Cite:
Ningsih, E.P., & Maemonah. (2023). Projek Pengutatan Profil Pelajar Pancasila pada Kurikulum Merdeka
Perspektif Progresivisme. Khazanah Pendidikan-Jurnal Ilmiah Kependidikan (JIK), 17 (1). 163-170.
© 2023 by the authors; licensee FKIP UMP. This article is an open access article distributed under the terms
and conditions of the Creative Commons Attribution License ([Link]
163
164 Ningsih, Maemonah. P5 pada Kurikulum Merdeka Perspektif Progresivisme …
1. PENDAHULUAN
Kurikulum merdeka terdapat dua struktur kegiatan, kegiatan rutin yang terdapat dalam
pembelajaran serta terjadwal berdasarkan muatan pelajaran yang terstruktur merupakan kegiatan
pertama, projek untuk penguatan profil pelajar Pancasila menjadi bagian dari kegiatan kedua
dalam pembelajaran. Pelaksanaan kurikulum merdeka yang dicanankan oleh menteri pendidikan
Indonesia yang dalamnya memuat “projek pengutan profil pelajar Pancasila” dalam muatan
tersebut diperlukan filsafat progresivisme dalam memahami dan mengubah cara pandang
pendidikan yang dirancang guna mencapai tujuan pendidikan untuk mewujudkan Indonesia maju
dalam mempersiapkan bonus demografi. Kurikulum merdeka belajar diartikan sebagai kegiatan
berproses dan menjadi sebuah aspek yang foundamental dalam pendidikan. Semua keseluruhan
proses belajar merupakann bagian penting dari proses pembelajaran. Havighurst mengemukakan
“living is learning” merupakan padangan mengenai belajar merupakan suatu hal yang penting
untuk dibahas (Abdiyah, 2021).
Pembelajaran berbasis project based learning dalam proses pembelajaran kurikulum
merdeka menjadi hal yang diunggulkan dalam kurikulum merdeka karena pembelajaran
kurikulum merdeka merupakan pembelajaran dengan berbasis projek penguatan profil pelajar
Pancasila. Tetapi tidak pula menggantikan pendekatan problem based learning yang menjadi ciri
pembelajaran pada kurikulum 2013. Pendekatan pembelajaran didasari pada kegiatan belajar dan
tugas langsung yang berakitan dengan kehidupan peserta didik, memberikan peserta didik
tantangan nyata untuk dipecahkan dan dikerjakan dengan kelompok ialah gambaran Goodman
dan Stivers menggambarkan project based learning (Goodman, Brandon, & Stivers, 2010).
Ruang lingkup pendidikan yakni berupa kecakapan hidup, pembelajaran berbasis kompetensi
dan proses pembelajaran yang diharapkan menghasilkan produk yang bernilai (Murniarti, 2016).
Project based learning atau pembelajaran berbasis proyek merupakan pengembanagn
pembelajaran berbasi masalah atau problem based learning yang menitik beratkan contextual
teaching and learning process berupa konsep yang membantu pendidik menghubungkan materi
pembelajaran dengan situasi dunia nyata peserta didik untuk mendorong peserta didik
mengunakan pengetahuan yang dimiliki peserta didik guna diaplikasikan serta diterapkan dalam
kehidupan sebagai masyarakat sosial.
Undang- undang Nomor 20 Tahun 2003 berkenaan dengan sistem pendidikan nasional
(UU Sisdiknas), “Keterbatasan teknologi dan peningkatan otomatisasi membutuhkan sumber
daya manusia dengan kemampuan memecahkan masalah, ketrampilan pengetahuan dan sosial
menjadi semakin penting sementara kebutuhan ketrampilan fisik menjadi berkurang”
(Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, 2021). Pesatnya perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi saat ini telah menyebabkan banyak perubahan yang cepat di berbagai
bidang kehidupan Kreativitas serta inovasi menjadi kunci yang sangat penting untuk memastikan
pembangunan Indonesia yang berkelanjutan. Pembelajaran dalam kurikulum merdeka
merupakan sebuah perwujudan pembelajaran yang berpusat pada siswa (Student centered
learning) (Jenderal et al., 2020; Kementrian Pendidikan Kebudaya”an Riset dan Teknologi,
2021; Shodik, 2021). Filosofi dari Ki Hajar Dewantara terkait hakikat pendidikan ialah
mensejahterahkan lahir dan batin sejalan dengan olah hati (Etika), olah pikir (literasi), olah karsa
(estetika) dan olah raga (kinestetik).
Kurikulum merdaka berfokus pada konten penting agar siswa memiliki waktu yang cukup
untuk memperdalam konsep dan memperkuat ketrampilan (Nurani, Anggraini, Misiyanto, &
Mulia, 2022). Pelaksanaan kurikulum merdeka menawarkan materi yang esensial serta
pengembangan kompetensi peserta didik sesuai tahap perkembangan anak. Pendidik dapat
mengajar sesuai dengan kinerja dan perkembangan peserta didik. Sekolah memiliki kewenangan
untuk mengembangkan dan melaksanakan kurikulum dan pembelajaran sesuai dengan
karakteristik satuan pendidikan dan peserta didik. Kurikulum merdeka dalam proses belajar
Khazanah Pendidikan Volume 17, No 1, Maret 2023, hal. 163-170 165
memiliki pembelajaran dengan kegiatan berbasis projek, mendukung pengembangan karakter
dan kompetensi profil pelajar Pancasila oleh peserta didik karena pembelajaran dilakukan dengan
memberikan kesempatan yang luas kepada peserta didik secara aktif melakukan refleksi terhadap
isu-isu aktual seperti isu lingkungan, kesehatan dan lainnya.
Tahun 1800-an muncul gerakan oposisi atas pendidikan tradisional di Amerika Serikat
dipicu pendapat masyarakat terutama akademisi terakait sekolah yang gagal dalam mengimbagi
perubahan hidup yang cepat didalam masyarakat Amerika sendiri. Progresivisme sebagai aliran
pendidikan yang diperkuat filsafat sosial John Dewey, para pendidik progresivisme
mereformasikan pendidikan yang tradisional yang menekankan subjek tertentu dengan
menghendaki penerapan sosial dalam dunia pendidikan (Nanuru, 2013). Secara positif
menanggapi keterkaitan yang ada pada ilmu pengetahuan dan teknologi setelah gerakan reformis
Amerikan menjadi awal kelahiran aliran progresivisme. Progresivisme merupakan filsafat
pendidikan yang memiliki kesesuaian dengan kurikulum merdeka. Keterhubungan antara
keduanya berupa cara pandang pendidikan bahwa setiap insan memiliki komptensi dalam
menyeselaikan suatu masalah (Mustaghfiroh, 2020; Shodik, 2021). Progresivisme menurut
etimologi dimaknai sebagai pendidikan yang memiliki sarana kemajuan atau kebebasan peserta
didik itulah yang menjadi focus penting pendidikan (Wikandaru, 2012). Progresivisme
mengangkat isu sosial lingkungan yang terjadi disekitar untuk menjadi pembelajaran seperti
kaitannya kurikulum merdeka yang memiliki prinsip kontekstual.
Literatur yang relevan dengan penulisan penelitaian ini adalah arkitel yang ditulis oleh
Siti Mustaghfiroh dengan judul “Konsep “Merdeka Belajar” Perspektif Aliran Progresivisme
John Dewey” menunjukkan konsep merdeka belajar memiliki arah serta tujuan yang sama seperti
aliran filsafat pendidikan progresivisme John Dewey (Mustaghfiroh, 2020). Dalam artikel yang
berjudul “American Progressive education and the scooling of poor children: A brief history of
a philosophy in practice” Model pendidikan progresif Dewey memiliki pengaruh luas,
menginspirasi kurikulum berbasis permainan di sekolah-sekolah kecil di seluruh Amerika (Garte,
2017). Sedangkan literatur terdahulu lain yang ditulis Ahmad Shodik berjudul “Merdeka Belajar:
Menurut Perspektif John Dewey” didasari oleh kemerdekaan dan kebebasan kepada peserta didik
penting untuk ditekankan serta dijelaskan pada aliran progresivisme (Shodik, 2021).
Penelitian ini berupaya menganalisis projek pengutatan profil pelajar Pancasila pada
kurikulum merdeka dalam perspektif progresivisme. Projek pengutan profil pelajar Pancasila
dalam penelitian ini yang dianalisis menggunakan filsafat progresivisme menjadi hal yang
berbeda dari penelilitian sebelumnya yang membahas kurikulum merdeka dan implementasinya.
Belum banyak yang membahas projek penguatan profil pelajar Pancasila dengan analisis filsafat
progresivisme. Implikasi yang positif diharapkan dapat menambah dan mengubah cara pandang
pembaca berakitan dengan projek penguatan Pancasila dalam kurikulum merdeka dan menjadi
referensi baru bagi peneliti selanjutnya.
2. METODE
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Pendekatanya phenomenology
menggunakan metode pengumpulan data studi Pustaka disajikan menggunakan deskriptif
(Sugiyono, 2019). Danzin dan Lincoln meyatakan penelitian kualitatif ialah penelitian dengan
menggunakan latar belakang alamiah, bermaksud menjelaskan fenomena yang terjadi dengan
melibatkan berbagai metode dalam penelitian kualitatif (Sidiq Umar & Choiri, 2019). Sumber
utama yang dijadiakan acuan oleh penulis adalah “Panduan Pengembangan Projek Penguatan
Profil Pelajar Pancasaila Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, (SD/MI, SMP/MTs,
SMA/MA) (Sufyadi et al., 2021) dan Experience & Education (John Dewey)(Dewey, 1997).
Buku, artike jurnal, prosiding dan loporan menjadi Sumber sekunder literatur yang relevan
dengan permasalahan dan tujuan penelitian.
166 Ningsih, Maemonah. P5 pada Kurikulum Merdeka Perspektif Progresivisme …
Google schoolar dan website kemendikbud:[Link]
merdeka menjadi situs pengambilan data penelitian melalui pencarian yang ditentukan supaya
sesuai dengan tujuan penulisan penelitian. Projek penguatan profil pelajar Pancasila, kurikulum
merdeka ditingkat sekolah dasar dan filsafat progresivisme menjadi kata kunci dalam pencarian
sumber. Selanjutnya data yang diperoreh dari literatur dianalisis menggunakan metode analisis
isi. Analisis isi adalah cara mempelajari data untuk mengambil konsep mengenai penelitian yang
sedang dilakukan. Hal ini dilakukan untuk mencari tahu apa yang menjadi pertanyaan peneliti
dengan menentukan sumber yang relevan dengan literatur membagi data untuk digunakan dalam
menganalisi, menyederhakan dan memperjelas isi analisis untuk menjelaskan data yang
didapatkan dengan dasar teori.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada umumnya hasil penelitian dideskripsikan terlebih dahulu, kemudian ada bagian
Projek penguatan profil pelajar Pancasila sudah dilaksanakan oleh sekolah penggerak yakni pada
tingkat SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA yang dilaksanakan dengan pembelajaran intrakulikuler
serta ekstrakulikuler, pembiasaan budaya sekolah, serta budaya kerja (Safitri, Wulandari, &
Herlambang, 2022). Jumlah sekolah dasar yang menjadi sekolah penggerak di seluruh Indonesia
berjumlah 6.199 dengan Visi “ Terwujudnya guru pendidikan dasar yang mulia, professional,
dan sejahtera untuk membentuk insan yang berakarakter dan berlandaskan gotong
royong”(Direktorat Guru Pendidikan dasar, 2022). Wujud dari pelajar Indonesia sebagai pelajar
sepanjang hayat yaitu pelajar dengan kemampuan kompetensi global serta berprilaku
berdasaarkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila yakni beriman, bertakwa kepada
Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebhinekaan global, bergotong royong, mandiri
bernalar kritis dan kreatif yang termasuk dalam enam ciri utama profil pelajar Pancasila hal
tersebut merupakan pengertian pelajar Pancasila (Zuchron, 2021).
Tercapainya kemajuan dan kemandirian Indonesia yang sesuai dengan identitas bangsa
yang berdasarkan asas gotong royong merupakan landasan dalam merumuskan kebijakan
pendidikan dan pembentukan kebudayaan serta melaksanakan pembangunan. Dengan
memprioritaskan inovasi melalui pembelajaran lintas disiplin ilmu guna mengamati serta
memikirkan sebuah pemecahan masalah menghadapi permasalah lingkungan yang demikian itu
merupakan salah satu tujuan adanya projek penguatan profil pelajar Pancasila. Pembelajaran
dengan pendekatan berbasis projek (Project based learnin) digunakan dalam projek penguatan
profil pelajar Pancasila) (Sufyadi et al., 2021). Tahap pelaksanaan projek dimuai dari
perencanaan proyek yang sesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan lembaga sekolah (Mery,
Martono, Halidjah, & Hartoyo, 2022). Karakter dan kemampuan dibangun dalam proses belajara
melalu budaya datuan pendidikan, pembelajaran intrakulikuler, projek penguatan profil
Pancasila, maupun ektrakulikuler.
Langkah dalam memulai projek penguatan pancasila dilakukan melalui enam tahapan
yang pertama memahami projek penguatan profil pelajar Pancasila. Berkaitan dengan pengertian
serta maksud dari profil pelajar pancasila, serta perlunya projek penguatan profil pelajar
Pancasila dalam pendidikan. Langkah kedua menyiapkan ekosistem sekolah, berkaitan dengan
keperluan yang perlu disiapkan dalam budaya satuan pendidikan serta apa peranan anggota
organisasi dalam satuaan pendidikan untuk melaksanakan projek. Langkah ketiga yakni
mendesain projek penguatan profil pelajar Pancasila, berisikan tahapan perencaan terkait alur
rangcangan alokasi waktu pembentukan tim fasilitator projek, melakukan identifikasi kesiapan
satuan pendidikan untuk menjalankan projek, kemudian menentukan dimensi serta tema projek,
menyusun modul projek, menentukan tema sesuai dengan tujuan projek dan merancang topik
alur aktivitas dan asesmen projek. Mengelola projek penguatan profil pelajar Pancasila menjadi
tahapan keempat dalam langkah- langkah projek profil berkaitan dengan bagaimana pelaksaan
projek agar dapat dilakukan dengan optimal serta memastikan tambahan yang perlu diberikan
Khazanah Pendidikan Volume 17, No 1, Maret 2023, hal. 163-170 167
untuk menguatkan dan meningkatkan projek penguatan profil pelajar Pancasila oleh tim
fasilitator. mendokumentasikan serta melaporkan hasil dari projek penguatan profil pelajar
Pancasila dengan cara mengoleksi dan mengelola hasil asesmen serta menyusun rapor ialah tahap
kelima dalam langkah memulai projek penguatan profil pelajar Pancasila. Keenam melakukan
evaluasi serta tindak lanjut projek penguatan profil pelajar pancasila menggunakan prinsip
evaluasi implementasi projek serta tindak lanjut seta keberlanjutan projek.
Profil pelajar Pancasila dibuat menjawab satu pertanyaan yang umum pertanyakan, yaitu
“Profil (kompetensi) apa yang akan dibentuk di sistem pendidikan Indonesia” (Sufyadi et al.,
2021). Dengan adanya profil pelajar pancasila diharapkan peserta didik dapat terlibat dalam
pembangunan berkelanjutan dalam menghadapi globalisasi demikian pula tantangan bonus
demografi. Pengembangan kurikulum dan progam baru akan lebih efektif jika didadarkan pada
prinsip-prinsip demokrasi dan pembagian kerja yang beralasan (Plate, 2012). Enam kompetensi
yang dimiliki profil pelajar Pancasila yang dibentuk sebagai dimensi yang menunjukkan profil
pelajar pancasila tidak hanya focus pada kemampuan pengetahuan literasi dan numerasi, tetapi
sikap serta perilaku sejalan dengan identitas diri sebagai bangsa Indonesia. Prinsip holistic,
kontekstual, berpusat kepada peserta didik, eksploratif ialah prinsip yang ada dimiliki projek
penguatan profil pelajar Pancasila (Sufyadi et al., 2021).
Projek penguatan profil pelajar Pancasila menjadi bagian kurikulum yang mewujudkan
karakter yang dingin dibangun di kurikulum merdeka berupa karakter profil pelajar pancasila
dimana pembelajaran dilakukan pada berbagai mata pelajaran dengan melakukan observasi dan
refleksi terhadap solusi terhadap permasalahan lingkungan. Pendekatan pembalajaran projek
based learning yang digukanan dalam projek penguatan profil pelajar Pancasila dikembangkan
melalui bahsan terkait isu-isu actual dan kontekstual, digunakan untuk menopang pengembangan
karakter. Projek pengutan profil pelajar pancasila menawarkan kesempatan anak-anak untuk
belajar dalam situasi informal, stuktur pembelajar yang fleksibel, peserta didik yang interaktif
dan terkait langsung atau kontekstual untuk memperkuat kompetensi yang diinginkan oleh profil
pelajar Pancasila. Pembelajaran dilakukan dengan memberikan anak batas waktu yang telah
ditentukan untuk mengahasilkan produk atau aksi.
Projek penguatan profil pelajar Pancasila menawarkan kesempatan untuk “mengalami
pengetahuan” sebagai proses pembentukan karakter, serta kesempatan belajar peserta didik
berkaitan tenatang lingkungan Progresivisme merupakan produk ketidakpuasan terhadap
pendidikan tradisional (Dewey, 1997). Selaras proyek penguatan profil penguatan pelajar
pancasila ialah suatu perwujudan pembelajaran dimana siswa menjadi pusat dalam proses
pembelajaran (Student centered learning) (Jenderal et al., 2020; Kementrian Pendidikan
Kebudayaan Riset dan Teknologi, 2021; Shodik, 2021).Penerapan proyek penguatan profil
pelajara pancasila memerlukan Kerjasama yang terjadi diantara para pemerintah, pendidik dan
peserta didik dalam menyusun, menyanpaikan dan menerima dalam menyukseskan pelakasaan
proyek penguatan profil pelajar pancasila (Kahfi, 2022). Dalam projek penguatan profil pelajar
pancasila mempunyai kunci atau inti yakni beberapa prinsip berupa pembelajaran yang holistic,
kontekstual, berpusat pada peserta didik, serta eksploratif.
Progressivism was largely conceived as response by democratic reform movement to the
problem and paradoxes evident in the gilden age (Bohan, 2003). Progressivism dipahami sebagai
tanggapan oleh gerakan reformasi demokrasi terhadap masalah dan paradoks yang terlihat jelas
di usia emas selaras dengan pengembangan kurikulum merdeka yang hadir sebagai
penyempurnaan kurikulum darurat pasca covid untuk menanggulangi learning gap di Indonesia
untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Progresivisme percaya bahwa kurikulum harus
dirancang agar menarik dan mendidik, dan harus terus berubah agar tetap inovatif. (Yunus,
2016). Setalah berjalan hampir satu tahun kemendikbud telah melakukan evaluasi terhadap
kurikulum darurat yang menunjukkan peningkatan Menggunakan kurikulum 2013 akan
memberikan hasil penilaian yang lebih baik daripada menggunakan kurikulum penuh. Namun,
168 Ningsih, Maemonah. P5 pada Kurikulum Merdeka Perspektif Progresivisme …
ini tidak masalah jika seorang anak berasal dari keluarga berpenghasilan rendah (Aditomo,
2021). Proyek penguatan profil pelajar pancasila hadir menjadi bagian dari salah satu perwujudan
profil pelajar pancasila yang ada dalam kurikulum merdaka. Ki Hajar Dewantara mempunyai
pemikiran merdeka belajar dengan melaksanakan pendidikan berdasarkan kepada kodrat alam.
(Pangestu & Rochmat, 2021) dimana pembelajaran dilaksankan untuk menumbuhkan jiwa dan
raga perserta didik melalui kebudayaan sehingga peserta didik dapat mengatasi permasalahannya
dengan kemampuannya sendiri.
Pendidikan adalah sebuah proses kehidupan untuk memperoleh pengtahuan secara
kumulatif mengenai makna dan nilai ialah makna pendidikan dari John Dewey. “Dewey interpret
education as the scientific method by means of which man studies the world, ecquires
cumulatively knowledge of meaning and values, these outcomes, howeve, being data for critical
study and intelligent living”(Dewey, 1997). Dimana menurut John Dewey dalam pendidikan
progresivisme lebih menekankan pada peserta didik serta minat peserta didik dibanding pada
mata pelajaran itu sendiri. Progvesivisme ialah sebuah teori yang mucul sebab pendidikan yang
tradisional berupa pembelajaran yang menekankan pada subjek tertentu dan otoriter. Pada
dasarnya progresivisme menekankan beberapa prinsip antara lain: 1) Peserta didik,berperan
dalam proses pendidikan dari awal hingga berakhir 2) Peserta didik adalah suatu yang akfif bukan
pasif yang dilibatkan secara langsung pada pembelajaran, 3) fasilitator, pembimbing, dan
pengarah merupakan peran dari guru, 4) mencipkan iklim yang bersifat kooperatif dan
demokratif, harus diciptakan sekolah 5) focus pada aktivitas pembelajaran berupa pemecahan
masalah bukan untuk mengajarkan materi kajian.
Progresivisme sebagai pandangan hidup mempunyai sifat-sifat fleksibel, curious (ingin
mengetahui, menyelidiki) dan toleran (open minded). John Dewey kaitanya dengan
progresivisme lebih banyak menekankan pada siswa dan minat mereka daripada subjek pelajaran
itu sendiri. Sehingga memunculkan“Child centered curriculum” dan “Child centered school”.
Sumber daya atau alat yang siap untuk mengembangkan ketrampilan peserta didik, sehingga
mereka dapat menghadapi semua tantangan kehidupan pragmatis merupakan bagian dari
progresivisme pendidikan. Artinya pendidikan harus membuat peserta didik mampu
memecahkan permasalahan yang terjadi di lingukangn supaya pendidikan memberikan
kebermanfaatan bagi peserta didik. Progresivisme terfokus kepada peserta didik dengan
melibatkan anak seperti orang dewasa yang produktif yang menghendaki implementasi sosial
dalam dunia pendidikan.
Pelaksanaa proyek pengembangan profil pelajar pancasila dilakukan dalam satu tahun
ajaran didasari isu yang relevan terjadi di lingkungan peserta didik, dengan memilih tema yang
diberikan oleh tim fasilitas bersama pimpinan satuan pendidikan (Direktorat Guru Pendidikan
Dasar, 2022). Delapan tema utama yang dipersiapkan dalam projek penguatan profil pelajar
Pancasila tidak semua dipilih untuk dijalankan tapi t dipilih berdasarkan kebutuhan peserta didik
pada sekolah dasar seperti 1) Gaya hidup berkelanjutan, 2) Kearifan lokal, 3) Bhineka Tunggal
Ika, 4) bangunlah jiwa dan raganya, 5) Rekayasa dan teknologi, dan 6) Kewirausahaan. Hal ini
menjelaskan anak dapat membentuk dan mencari secara alami pemecahan masalah atas apa yang
dialami disesuaikan dengan tingkat perkembanagan anak. Kurikulum merdeka projek penguatan
profil pelajar pancasila memberikan pembelajaran dengn memberi kesempatan lebih luas kepada
peserta didik secara aktif mengeksplorasi isu-isu aktual yang dapat disesuaikan denga apa yang
terjadi oleh anak.
4. SIMPULAN
Simpulan dari Projek penguatan profil pelajar pancasila dalam kurikulum merdeka ialah
hal baru dalam dunia pendidikan yang perlu dikaji dalam persfektif progresivisme untuk
membuka pengetahuan baru mengenai pembelajaran yang akan dilaksanakan di Indonesia secara
Khazanah Pendidikan Volume 17, No 1, Maret 2023, hal. 163-170 169
pragmatis. Sebab kurikulum merdeka selaras dengan filsafat progvesivisme yang dikemukakan
oleh John Dewey, “Interpret education as the scientific method by means of which man studies
the world, ecquires cumulatively knowledge of meaning and values, these outcomes, howeve,
being data for critical study and intelligent living”. Dimaksudkan Pendidikan ialah sebuah
metode ilmiah untuk mempelajari dunia, agar mendapatkan pengalaman belajar secara kumulatif
mengenai nilai untuk menjadikan peserta didik memiliki kualitas hidup yang terus maju
(progress). Progresivisme selaras pula dengan prinsip-prinsip projek penguatan profil pelajar
Pancasila yang holistic, kontesktual, berpusat pada peserta didik dan eksploratif. Dengan tema
utama yang disajikan berkaitan mendukung pembentukan karakter profil Pancasila.
Filsafat progresivisme memandang pula pembelajaran yang dialami langsung oleh peserta
didik harus memberikan makna dengan maksud agar anak mampu mengatasi dan memecahkan
masalah yang akan dialami anak ketika berada dalam lingkungan sosial masyarakat untuk
menjawab tantangan globalisasi dan mempersiapkan bonus demografi. Progresivisme yang
merupakan teori pendidikan yang memfokuskan “kemajuan” atau liberalisasi peserta didik
sebagai focus penting dalam pendidikan. Kemajuan atau progress diartikan pendidikan dalam
pandangan progresivisme ini beranjak dari pendidikan tradisional yang selalu menekankan
otoritas teks atau pelajaran. Pandangan progresivisme memandang pendidikan tradisional
memiliki banyak kelemahan karena secara alamiah manusia dibekali kemampuan untuk dapat
menghadapi dan mengatasi masalah yang mengancam keberadaannya. Yang demikian itu juga
termsuk dari tujuan adanya projek penguatan profil pelajar Pancasila..
5. DAFTAR PUSTAKA
Abdiyah, L. (2021). Penerapan Teori Konstruktivistik Dalam Pembelajaran Tematik Di Sekolah
Dasar. Else (Elementary School Education Journal, 5.
Aditomo, A. (2021). Kajian Akademik Kurikulum Untuk Pemulihan Pembelajaran (1st Ed.).
Jakarta: Pusat Kurikulum Dan Pembelajaran Badan Standar Kurikulum, Dan Asesmen
Pendidikan Kementrian Pedidikan, Kebudayaan, Riset , Dan Teknologi.
Bohan, C. H. (2003). Early Vanguards Of Progressive Education: The Committee Of Ten, Early
Vanguards Of Progressive Education: The Committee Of Ten, The Committee Of Seven, And
Social Education The Committee Of Seven, And Social Education. Retrieved From
Https://[Link]/Mse_Facpub
Dewey, J. (1997). Experience And Education (John Dewey). New York: Kappa Delta Pi.
Direktorat Guru Pendidikan Dasar. (2022). Data Sekolah Penggerak.
Garte, R. (2017). American Progressive Education And The Schooling Of Poor Children: A Brief
History Of A Philosophy In Practice. International Journal Of Progressive Education (Vol.
13).
Goodman, Brandon, & Stivers. (2010). Project-Based Learning.
Jenderal, D., Tinggi, P., Pendidikan, K., & Kebudayaan, D. (2020). Buku Panduan Merdeka
Belajar-Kampus Merdeka.
Kahfi, A. (2022). Implementasi Profil Pelajar Pancasila Dan Implikasinya Terhadap Karakter
Siswa Di Sekolah Implementation Of Pancasila Student Profile And Implications For
Student Character At School.
Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset Dan Teknologi. (2021). Naskah Akademik
Rancangan Undang-Undang Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Mery, M., Martono, M., Halidjah, S., & Hartoyo, A. (2022). Sinergi Peserta Didik Dalam Proyek
Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Jurnal Basicedu, 6(5), 7840–7849. Retrieved From
Https://[Link]/10.31004/Basicedu.V6i5.3617
170 Ningsih, Maemonah. P5 pada Kurikulum Merdeka Perspektif Progresivisme …
Murniarti, E. (2016). Penerapan Metode Project Based Learning Dalam Pembelajaran. Univ.
Kristen Indones.
Mustaghfiroh, S. (2020). Konsep ‘Merdeka Belajar’ Perspektif Aliran Progresivisme John
Dewey. Jurnal Studi Guru Dan Pembelajaran, 3(1), 142–147.
Nanuru, R. F. (2013). Progresivisme Pendidikan Dan Relevansinya Di Indonesia. Jurnal Uniera
, 2(2).
Nurani, D., Anggraini, L., Misiyanto, & Mulia, R. K. (2022). Serba-Serbi Kurikulum Merdeka
Kekhasan Sekolah Dasar. Jakarta.
Pangestu, D. A., & Rochmat, S. (2021). Filosofi Merdeka Belajar Berdasarkan Perspektif Pendiri
Bangsa. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 6(1), 78–92. Retrieved From
Https://[Link]/10.24832/Jpnk.V6i1.1823
Plate, R. (2012). The Evolution Of Curriculum Development In The Context Of Increasing Social
And Environmental Complexity. Creative Education, 03(08), 1311–1319. Retrieved From
Https://[Link]/10.4236/Ce.2012.38192
Safitri, A., Wulandari, D., & Herlambang, Y. T. (2022). Proyek Penguatan Profil Pelajar
Pancasila: Sebuah Orientasi Baru Pendidikan Dalam Meningkatkan Karakter Siswa
Indonesia. Jurnal Basicedu, 6(4), 7076–7086. Retrieved From
Https://[Link]/10.31004/Basicedu.V6i4.3274
Shodik, A. (2021). Merdeka Belajar: Menurut Perspektif John Dewey. Seuneubok Lada Jurnal
Ilmu-Ilmu Sejarah, Sosial, Budaya Dan Kependidikan, 8(2), 206–217.
Sidiq Umar, & Choiri, Moh. M. (2019). Metode Penelitian Kualitatif Di Bidang Pendidikan
(Anwar Mujahidin). Ponorogo: Cv. Nata Karya.
Sufyadi, S., Harjatanaya, T. Y., Adiprima, P., Satria, M. R., Andiarti, A., & Herutami, I. (2021).
Panduan Pengembangan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Jenjang Pendidikan
Dasar Dan Menengah (Sd/Mi, Smp/Mts, Sma/Ma). Jakarta.
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D. Bandung: Alphabet.
Wikandaru, R. (2012). Aliran Pendidikan Progresivisme Dan Kontribusinya Dalam
Pengembangan Pendidikan Pancasila Di Indonesia. Jurnal Ilmiah Civis, Ii(1).
Yunus, H. A. (2016). Telaah Aliran Pendidikan Progresivisme Dan Esensialisme Dalam
Prespektif Filsafat Pendidikan. Jurnal Cakrawala Pendas, 2(1).
Zuchron, D. (2021). Tunas Pancasila 2021. Jakarta: Direktorat Sekolah Dasar Direktorat
Jenderal Paud, Dikdas Dan Dikmen Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset Dan
Teknologi.