chapter two
Pertemuan yang Tak Terduga
Kabut tebal masih menggantung di Distrik Bayangan ketika Zan Arkweyl
melangkah keluar dari kedai tua. Bisikan tentang hadiah besar dari Sang
Raja terus mengusik pikirannya—sebuah misi untuk memburu naga
legendaris di Hutan Terlarang. Uang itu cukup untuk membebaskannya
dari kehidupan sebagai pembunuh bayaran. Jika ia berhasil.
Masalahnya, Hutan Terlarang hanyalah mitos. Tak ada peta yang
menunjukkannya, tak ada saksi mata yang dapat dipercaya. Zan
menggeram dalam hati, Aku butuh petunjuk. Dan itu berarti ia harus
bekerja sama dengan orang lain—sesuatu yang selalu ia hindari.
Di sudut kota yang sepi, langkahnya tiba-tiba terhenti. Seorang pria
bertubuh besar dengan zirah mengkilap dan pedang raksasa di
punggungnya menghadang di depannya. Di belakang pria itu, tiga sosok
lain berdiri—seorang pemanah, seorang perempuan berjubah, dan
seorang pria berbadan tegap berbalut baja.
"Kau pasti si pembunuh bayaran terkenal itu," suara pria besar itu
bergema. "Yang konon bisa menghabisi seratus monster dalam
sekali serangan?"
Zan diam, tangannya dengan refleks bergerak mendekati belatinya. Pria
itu tersenyum lebar. "Tenang, aku bukan musuhmu. Namaku Asha
Van Berth—seorang petarung dan pemimpin kelompok ini." Ia
menunjuk ke belakangnya. "Bergabunglah dengan kami."
Zan memandangi mereka satu per satu.
Seorang pria berambut pirang dengan busur di punggungnya melangkah
maju, wajahnya berseri seperti anak kecil yang menemukan mainan baru.
"Hai! Aku Gal Tu Defort!" Ia mengedipkan mata. "Eh, kenapa
wajahmu begitu serius? Oh iya, kau memakai topeng—aku bahkan
tak bisa melihat wajahmu!"
Zan mengabaikan candanya, matanya beralih ke dua anggota lainnya.
Perempuan berjubah biru itu mengangguk dingin. "Lanivera Rya.
Penyembuh."
Pria terakhir—berbadan besar dengan zirah tebal dan perisai raksasa—
mengangguk mantap. "Gilangthor Durnhald. Pelindung." Suaranya
berat bagai gema dari dalam gua.
"Kalian tahu letak hutannya?" tanya Zan singkat.
"Tidak sepenuhnya," jawab Asha. "Tapi kami memiliki petunjuk."
Lanivera mengangkat tangannya. Sebuah kristal biru di genggamannya
memancarkan cahaya redup. "Kristal ini bereaksi terhadap energi
sihir kuno. Semakin dekat dengan hutan, semakin terang
sinarnya."
Gilangthor menambahkan dengan suara berat, "Selain itu, ada kabar
tentang suku kuno di pegunungan barat yang masih menyembah
naga tersebut."
"Jadi, apa rencananya?" tanya Zan dengan nada skeptis.
"Kita ikuti petunjuk kristal ini," kata Asha. "Pergi ke pegunungan
barat, temui suku itu, dan..."
"Lalu paksa mereka memberitahu lokasi hutannya!" sela Gal
dengan semangat.
Zan menghela napas. Rencana yang berantakan. Tapi setidaknya lebih
baik daripada tak memiliki petunjuk sama sekali. Mungkin kita bisa
memulai dari desa-desa terdekat untuk mengumpulkan informasi tentang
naga itu.
Namun, di tengah perjalanan, kristal itu tiba-tiba bereaksi secara aneh—
justru memancing perhatian monster-monster liar yang mengintai di
kegelapan.
Tanpa mereka sadari, petualangan yang seharusnya sederhana telah
berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Dan kristal misterius
itu mungkin bukan sekadar petunjuk, melainkan kunci dari malapetaka
yang akan segera menimpa mereka.