BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Telaah Pustaka
1. Higiene Sanitasi
Penyehatan makanan merupakan suatu usaha untuk menjaga
keamanan makanan agar tidak menimbulkan bahaya. Upaya pengamanan
atau higiene dan sanitasi makanan pada dasarnya meliputi orang yang
menangani makanan, tempat penyelenggaraan makanan, peralatan
pengolahan makanan, proses pengolahan makanan, penyimpanan
makanan, dan penyajian makanan (Purnomo & Adiono, 2009).
Higiene adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan
melindungi kebersihan subyeknya, seperti mencuci tangan dengan dengan
air bersih dan sabun untuk melindungi kebersihan tangan, mencuci piring
untuk melindungi kebersihan piring, serta membuang bagian makanan
yang rusak untuk melindungi keutuhan makanan secara keseluruhan.
Penanganan makanan secara higiene bertujuan untuk mengendalikan
keberadaan pathogen dalam makanan. Masalah higiene tidak dapat
dipisahkan dari masalah sanitasi.
Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang
menitikberatkan kegiatan pada usaha kesehatan lingkungan hidup. Upaya
pemeliharaan agar seseorang, makanan, tempat kerja, dan peralatan tetap
12
13
higienis (sehat) serta bebas pencemaran yang diakibatkan oleh bakteri,
serangga, atau binatang lainnya.
Pada kegiatan pengolahan makanan, sanitasi dan higiene
dilaksanakan bersama-sama. Kebiasaan hidup bersih dan bekerja bersih
sangat membantu dalam mengolah makanan yang bersih pula.
Higiene dan Sanitasi merupakan suatu tindakan atau upaya untuk
meningkatkan kebersihan dan kesehatan melalui pemeliharaan dini setiap
individu dan faktor lingkungan yang mempengaruhi agar terhindar dari
kuman penyebab penyakit (Marlinae dkk., 2019). Mikroba yang mungkin
tumbuh yaitu kapang, khamir atau bakteri. Mutu makanan yang baik akan
menurun nilainya apabila ditempatkan pada wadah yang kurang bersih.
Higiene dan sanitasi makanan bertujuan untuk mengendalikan faktor
makanan, tempat, dan perlengkapannya yang dapat atau mungkin dapat
menimbulkan penyakit atau gangguan kesehatan lainnya (Wayansari dkk.,
2018).
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 1096/MENKES/PER/VI/2011 tentang Higiene Sanitasi Jasaboga,
higiene dan sanitasi adalah upaya untuk mengendalikan faktor risiko
terjadinya kontaminasi terhadap makanan yang berasal dari bahan
makanan, orang, tempat, dan peralatan agar aman dikonsumsi. Persyaratan
higiene sanitasi adalah ketentuan-ketentuan teknis kesehatan yang
14
ditetapkan terhadap produk jasaboga dan perlengkapannya yang meliputi
persyaratan bakteriologis, kimia, dan fisika (Kemenkes RI, 2011).
2. Sanitasi Peralatan Makan
Peralatan makan merupakan alat yang kontak langsung dengan
bahan makanan, sehingga kebersihan peralatan makan harus diperhatikan
(Marissa & Arifin, 2012).
Sanitasi makanan adalah salah satu usaha pencegahan yang
menitikberatkan kegiatan dan tindakan untuk membebaskan makanan dari
segala bahaya yang dapat mengganggu atau merusak kesehatan dimulai
dari sebelum proses produksi, selama proses pengolahan, penyimpanan,
pengangkutan, hingga makanan disajikan kepada konsumen. Sanitasi
makanan bertujuan untuk menjamin keamanan makanan, mencegah
konsumen dari penyakit, mencegah penjualan makanan yang akan
merugikan konsumen, dan mengurangi kerusakan makanan (Wayansari
dkk., 2018).
Kebersihan alat makan sangat penting karena berpengaruh terhadap
kualitas makanan dan minuman. Alat makan yang tidak dicuci dengan
bersih dapat menjadi tempat berkembangbiak organisme yang dapat
mencemari makanan yang akan diletakkan di atasnya. Semua peralatan
makan yang memiliki peluang bersentuhan langsung dengan makanan
harus selalu dalam keadaan bersih dan tidak ada sisa makanan yang
tertinggal.
15
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
1096/MENKES/PER/VI/2011 tentang Higiene Sanitasi Jasaboga,
persyaratan angka kuman pada peralatan makan tidak boleh lebih dari 0
koloni/cm2 (Kemenkes RI, 2011).
Menurut penelitian Tumelap, (2011) pencemaran sering ditemukan
pada penyelenggaraan makanan di institusi yang belum memahami cara
penanganan makanan yang tepat. Oleh karena itu, pengelola makanan
harus mengetahui prinsip sanitasi yang benar dalam penyelenggaraan
makanan. Salah satu persyaratan higiene dan sanitasi makanan adalah
kebersihan peralatan pengolahan dan penyajian makanan atau sanitasi
makanan (food hygiene).
Menurut Permenkes RI Nomor 1096/MENKES/PER/VI/2011
tentang Higiene Sanitasi Jasaboga peralatan makan harus memenuhi
persyaratan sebagai berikut :
a. Peralatan tidak rusak, gompel, retak dan tidak menimbulkan
pencemaran terhadap makanan.
b. Permukaan yang kontak langsung dengan makanan harus conus atau
tidak ada sudut mati, rata, halus dan mudah dibersihkan.
c. Peralatan harus dalam keadaan bersih sebelum digunakan.
d. Peralatan yang kontak langsung dengan makanan yang siap disajikan
tidak boleh mengandung angka kuman yang melebihi ambang batas
dan tidak boleh mengandung E. coli per cm2 permukaan alat.
16
3. Teknik Pencucian Piring
Teknik pencucian piring merupakan faktor yang mempengaruhi
bilangan bakteri atau mikroorganisme pada peralatan makan. Teknik
pencucian yang salah dapat meningkatkan risiko tercemarnya makanan
oleh bakteri atau mikroorganisme.
Teknik pencucian piring yang benar melalui beberapa tahap yaitu
pemisahan kotoran atau sisa makanan dari peralatan makan, perendaman,
pencucian, pembilasan dengan air bersih dan mengalir, perendaman
dengan air kaporit, penirisan, perendaman dengan air panas 82 – 1000C,
dan pengeringan. Teknik pencucian yang benar akan menghasilkan
pencucian yang sehat dan aman (Marisdayana dkk., 2017).
Teknik pencucian yang benar akan memberikan hasil pencucian
yang sehat dan aman. Tahapan-tahapan pencucian yang perlu dilakukan
agar hasil pencucian sehat dan aman, sebagai berikut :
a. Scraping (membuang sisa kotoran), yaitu memisahkan sisa kotoran
dan sisa-sisa makanan yang terdapat pada peralatan yang akan dicuci,
seperti sisa makanan di atas piring, gelas, sendok dan lain-lain.
Kotoran tersebut dikumpulkan di tempat sampah (kantong plastik)
selanjutnya diikat dan dibuang di tempat sampah kedap air
(drum/tong plastik tertutup). Penanganan sampah yang rapi perlu
diperhatikan untuk mencegah pengotoran pada pencucian yang
berakibat tersumbatnya saluran limbah.
17
b. Flusing (merendam dalam air), yaitu mengguyur air ke dalam
peralatan yang akan dicuci sehingga terendam seluruh permukaan
peralatan. Perendaman peralatan dapat juga dilakukan tidak dalam
bak, tetapi kurang efektif, karena tidak seluruh bagian alat dapat
terendam sempurna. Perendaman dimaksudkan untuk memberi
kesempatan peresapan air ke dalam sisa makanan yang menempel
atau mengeras (karena sudah lama) sehingga menjadi mudah untuk
dibersihkan atau terlepas dari permukaan alat.
c. Washing (mencuci dengan deterjen), yaitu mencuci peralatan dengan
cara menggosok dan melarutkan sisa makanan dengan zat pencuci
atau detejen. Deterjen yang baik yaitu terdiri dari deterjen cair atau
bubuk, karena deterjen sangat mudah larut dalam air, sehingga
sedikit kemungkinan membekas pada alat yang dicuci. Pada tahap ini
digunakan sabun, tapas atau zat pembuang bau (abu gosok, karbon,
atau air jeruk nipis).
d. Rinsing (membilas dengan air bersih), yaitu mencuci peralatan yang
telah digosok deterjen sampai bersih dengan cara dibilas dengan air
bersih. Pada tahap ini penggunaan air harus banyak, mengalir dan
selalu diganti. Setiap peralatan yang dibersihkan dibilas dengan cara
menggosok-gosok dengan tangan sampai terasa kesat, tidak licin.
Apabila masih terasa licin berarti masih terdapat sisa-sisa lemak atau
18
sisa-sisa deterjen dan kemungkinan mengandung bau amis atau
anyir.
e. Sanitizing/Desinfection (membebashamakan), yaitu untuk
membebashamakan peralatan setelah proses pencucian. Peralatan
yang selesai dicuci perlu dijamin aman dari mikroba dengan cara
sanitasi atau yang dikenal dengan istilah desinfeksi.
Cara desinfeksi yang umum dilakukan yaitu:
1) Dengan rendaman air panas 1000C selama 2 menit
2) Dengan larutan klor aktif (50 ppm)
3) Dengan udara panas (oven)
4) Dengan sinar ultraviolet (sinar matahari pagi jam 9 – 11) atau
peralatan elektrik yang menghasilkan sinar ultraviolet.
5) Dengan uap panas panas (stem) yang biasanya terdapat pada
mesin cuci piring (dish washing machine).
f. Towelling (mengeringkan), yaitu mengusap kain lap bersih atau
mengeringkan dengan menggunakan kain atau handuk dengan
maksud untuk menghilangkan sisa-sisa kotoran yang mungkin masih
menempel sebagai akibat proses pencucian seperti noda detergen,
noda klor dan sebagainya. Prinsip menggunakan lap pada alat yang
sudah dicuci bersih sebenarnya tidak boleh dilakukan, karena akan
terjadi pencemaran sekunder (rekomendasi). Toweling ini dapat
19
dilakukan dengan syarat bahwa lap yang digunakan harus steril serta
sering diganti. (Wayansari dkk., 2018)
4. Bakteri
Bakteri adalah salah satu golongan organisme prokariotik yang
berdiameter 1 µm dan tidak memiliki membran inti. Bakteri dapat
dibedakan menjadi tiga bentuk yang bermacam-macam yaitu bulat
(coccus), batang (bacil), dan spiral. Selain dari bentuknya, bakteri juga
dibedakan menurut sifat gramnya yaitu bakteri gram positif dan bakteri
gram negatif.
Bakteri memiliki informasi genetik berupa DNA yang berbentuk
lingkaran. Daerah khusus sel yang mengandung DNA disebut nukleoid.
Pada DNA bakteri tidak mempunyai intron dan hanya tersusun atas akson.
Bakteri juga memiliki DNA ekstrakromosomal yang tergabung menjadi
plasmid serta berbentuk kecil dan sirkuler. Bakteri memiliki beberapa
kelompok bakteri dikenal sebagai agen penyebab infeksi dan penyakit,
sedangkan kelompok lainnya dapat memberikan manfaat di bidang pangan,
pengobatan, dan industri (Jawetz dkk., 2004).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri yaitu :
a. Suhu, bakteri akan tumbuh optimal pada suhu tubuh manusia. Namun
ada beberapa bakteri yang dapat tumbuh di lingkungan ekstrem.
Berdasarkan perbedaan suhu, bakteri dibedakan menjadi beberapa
golongan yaitu:
20
1) Bakteri psikrofil yang dapat tumbuh pada suhu optimum 150C
dan tidak tumbuh pada suhu kamar (250C). Bakteri ini sering
ditemukan di daerah kutub.
2) Bakteri psikotrof atau bakteri psikrofil fakultatif dapat tumbuh
pada suhu optimum 20 – 300C dan tidak dapat tumbuh pada
suhu > 400C. Bakteri ini terdapat dalam makanan yang
disimpan pada suhu rendah.
3) Bakteri mesofil merupakan bakteri yang paling banyak ditemui
yang tumbuh optimal pada suhu 25 – 400C. Bakteri ini dapat
beradaptasi untuk hidup dan tumbuh pada suhu optimum. Suhu
optimum bakteri pathogen pada umumnya sekitar 370C.
Contoh bakteri mesofil adalah Staphylococcus epidermis.
4) Bakteri termofil dapat tumbuh pada suhu 50 – 600C dan tidak
dapat tumbuh pada suhu < 450C. Bakteri ini biasanya tahan
terhadap panas dan dapat bertahan dalam makanan kaleng.
b. pH yang cocok untuk bakteri agar tumbuh subur adalah pada pH 6,5
– 7,5. Sangat sedikit bakteri yang dapat tumbuh pada pH asam.
c. Tekanan osmotik adalah proses masuknya air ke dalam sel bakteri
dengan cara osmosis. Tekanan osmotik yang tinggi dapat
menyebabkan air keluar dari dalam sel sehingga menyebabkan
terjadinya plasmolisis yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri.
d. Menurut kebutuhan oksigen, bakteri dapat dibedakan menjadi :
21
1) Aerob obligat yaitu bakteri yang membutuhkan oksigen
sebagai syarat utama untuk tumbuh.
2) Mikroaerofil yaitu bakteri yang tumbuh optimal dengan pada
oksigen rendah.
3) Anaerob obligat yaitu bakteri yang hanya bisa tumbuh jika
tidak ada oksigen.
4) Anaerob fakultatif yaitu bakteri yang menggunakan oksigen
apabila ada oksigen, tetapi terus tumbuh apabila oksigen tidak
cukup tersedia.
e. Media pertumbuhan adalah media nutrisi yang disisipkan untuk
pertumbuhan bakteri. Media harus mengandung sumber karbon,
nitrogen, fosfor, sulfur, dan bahan organik (Wulandari, 2017)
5. Angka Kuman Piring Makan
Kuman adalah suatu makhluk hidup yang terdiri dari satu sel dan
dapat memperbanyak diri dengan cepat, terutama apabila berada pada
kondisi dan media yang menyediakan makanan untuk kuman tersebut.
Kuman dapat berkembang biak dalam waktu yang sangat singkat. (Hapsari,
2015)
Angka kuman adalah angka yang menunjukkan adanya
mikroorganisme baik pathogen maupun non pathogen berdasarkan pada
pengamatan secara visual atu menggunakan kaca pembesar pada media
22
tanam yang diperiksa. Bakteri yang ada di dalam peralatan makan antar
lain Escherichia coli (Marissa & Arifin, 2012).
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor
1096/MENKES/PER/VI/2011 tentang Higiene Sanitasi Jasaboga,
persyaratan angka kuman pada peralatan makan tidak boleh lebih dari 0
koloni/cm2 (Kemenkes RI, 2011).
Angka kuman pada alat makan dapat diketahui dengan
menggunakan pemeriksaan angka kuman usap alat makan. Adapun cara
pengambilan sampel kuman alat makan piring menurut Buku Panduan
Praktik Program Studi DIV Jurusan Kesehatan Lingkungan dalam
penelitian Fitriani, (2017) adalah sebagai berikut :
a. Menyiapkan alat makan yang akan diambil sampelnya
b. Menyiapkan mika atau plastik transparan berlubang dengan ukuran
2 × 5 cm lalu sterilkan dengan menggunakan alkohol.
c. Meletakkan mika tersebut pada permukaan piring yang akan diambil
sampelnya.
d. Mencelupkan 1 buah lidi kapas steril pada PBS, tempelkan lidi kapas
pada dinding tabung agar tidak terlalu basah.
e. Mengoleskan lidi kapas tersebut pada permukaan piring di dalam
lubang mika transparan.
f. Memasukkan lidi kapas tersebut pada PBS secara aseptis.
23
g. Mengulangi pengambilan sampel dengan mengoleskan lidi kapas
kering pada permukaan piring di dalam lubang mika transparan yang
sudah diolesi dengan lidi kapas basah.
h. Memasukkan lidi kapas ke dalam PBS sebanyak 10 ml.
i. Sampel siap diperiksa di laboratorium.
Setelah sampel kuman piring diambil, selanjutnya adalah
pemeriksaan angka kuman yaitu dengan cara :
a. Memanaskan PCA menggunakan panci berisi air sampai cair.
b. Menyiapkan petridish, lampu spritus, spidol, sampel, pipet steril dan
larutan pengencer.
c. Mengambil sampel dengan pipet steril sebanyak 1 ml, kemudian
memasukkan ke dalam larutan pengencer 10-1 dan mencampur
hingga homogen.
d. Mengambil sampel dari pengencer 10-1 sebanyak 2 ml, 1 ml ditanam
ke petridish 10-1, 1 ml dimasukkan ke pengencer 10-2 kemudian
mencampur hingga homogen.
e. Mengambil sampel dari pengencer 10-2 sebanyak 2 ml, 1 ml ditanam
ke petridish 10-2, 1 ml dimasukkan ke pengencer 10-3 kemudian
mencampur hingga homogen.
f. Mengambil sampel dari pengencer 10-3 sebanyak 1 ml ditanam ke
petridish 10-3.
24
g. Membuat kontrol dengan mengisi petridish dengan pengencer steril
sebanyak 1 ml.
h. Menuangkan PCA steril ke dalam masing-masing petridish
sebanyak 15 ml dengan suhu 45-500C.
i. Menggoyangkan petridish secara perlahan agar pertumbuhan bakteri
koloni merata, kemudian ditunggu sampai beku.
j. Membungkus petridish menggunakan kertas saring dengan posisi
petridish dibalik lalu beri label nama dan waktu pengeraman.
k. Mengeramkan bakteri di inkubator pada suhu 370C selama 2 × 24
jam.
l. Membaca jumlah koloni kuman yang tumbuh pada petridish
menggunakan Coloni Counter.
m. Mencatat hasil dan menghitung angka kuman
(K1 − K) × 101 + (K2 − K) × 102 + (K3 − K) × 103
3
= Koloni/cm2
Rumus 1. Angka Kuman Piring Makan
Keterangan :
K1 : Jumlah koloni pada petridish 10-1
K2 : Jumlah koloni pada petridish 10-2
K3 : Jumlah koloni pada petridish 10-3
K : Jumlah koloni pada petridish kontrol
25
6. Sabun Cuci Piring
Sabun merupakan senyawa natrium atau kalium dan asam lemak
dari minyak nabati atau hewani berbentuk padat, lunak, atau cair, serta
berbusa. Sabun dapat mencuci kotoran dan minyak dari permukaan serat
karena memiliki struktur kimia dimana bagian dari rantai (ionnya) bersifat
hidrofilik dan rantai karbonnya bersifat hidrofobik (Khairiady, 2017).
Setiap molekul sabun memiliki gugus hidrofil dan hidrofob ditulis
sebagai RCOOK+. Bagian yang berperan aktif dalam sifat deterjennya
(busa) ialah RCOO–. Fungsi dari sabun ialah sebagai pembersih untuk
menghilangkan kotoran pada piring dan alat lainnya.
a. Karakteristik sabun
Sesuai perkembangan zaman, sabun memiliki karakteristik
menurut bentuknya, antara lain :
1) Sabun cair, terbuat dari minyak kelapa dan/atau minyak
lainnya, menggunakan alkali Kalium Hidroksida (KOH),
berbentuk cair yang tidak akan mengental pada suhu kamar.
2) Sabun lunak, terbuat dari minyak kelapa dan/atau minyak
lainnya yang bersifat tidak jenuh, menggunakan alkali KOH,
berbentuk pasta dan akan larut saat dicampurkan pada air.
3) Sabun keras, terbuat dari lemak netral padat atau dari minyak
yang telah keras dengan proses hidrogenasi, menggunakan
alkali Natrium Hidroksida (NaOH), dan sukar larut dalam air.
26
b. Bahan yang umum digunakan untuk membuat sabun, yaitu :
1) Asam lemak
Di dalam lemak ataupun minyak terdapat kandungan
trigliserida atau asam lemak yang dapat dimanfaatkan dalam
proses pembuatan sabun. Asam lemak yang terdisosiasi
sebagian dalam air merupakan asam lemah, sedangkan
trigliserida adalah komponen utama dalam minyak dan lemak
yang memiliki kombinasi dengan berbagai jenis lemak dan
berikatan dengan gugus gliserol yang dinamakan asam lemak
bebas.
2) Senyawa Alkali
Senyawa alkali adalah garam-garam terlarut dari logam
alkali. Alkali yang sering dimanfaatkan untuk proses
pembuatan sabun yaitu Natrium Hidroksida (NaOH) dan
Kalium Hidroksida (KOH). Kedua senyawa tersebut memiliki
sfat basa kuat. NaOH sering dimanfaatkan pada proses
membuat sabun padat, sedangkan KOH dimanfaatkan untuk
proses pembuatan sabun yang bersifat cair. Senyawa ini
memiliki banyak aplikasi industri dan niche, sebagian besar
memanfaatkan sifat korosif dan reaktivitasnya terhadap asam.
Senyawa KOH penting sebagai perkursor dalam pembuatan
sabun yang paling lembut dan cair serta berbagai bahan kimia
27
yang mengandung kalium. Karena kelembutan dan kelarutan
yang lebih besar, sabun kalium membutuhkan lebih sedikit air
untuk mencairkan, dan dengan demikian dapat berisi agen
pembersih lebih banyak dibandingkan sabun cair natrium.
KOH merupakan senyawa yang bersifat higroskopis
(menyerap uap air). KOH memiliki kelarutan yang tinggi
dalam air yaitu 1100 g/L, reaksi yang dihasilkan bersifat
eksotermik (melepas panas) dan memiliki sifat mudah
terionkan menjadi ion-ionnya (Istiqomah dkk., 2016).
3) Air
Air merupakan zat kimia yang memiliki rumus H2O. Air
tidak berasa, berwarna, maupun berbau. Pada penelitian ini, air
digunakan sebagai pelarut dan pengencer dalam proses
pembuatan sabun (Fauzi dkk., 2019).
4) Zat Aditif
Zat aditif yang paling umum ditambahkan dalam proses
pembuatan sabun adalah pewangi, pewarna, dan garam (NaCl).
Pewangi adalah suatu zat yang dicampurkan pada sabun untuk
menutupi bau tidak enak dari sabun dan memberikan aroma
yang harum pada sabun. Pewarna digunakan untuk
memberikan warna pada sabun agar produk lebih menarik.
Natrium Klorida (NaCl) merupakan kunci dalam proses
28
pembuatan sabun, dimana apabila ditambahkan dalam jumlah
yang banyak NaCl akan menghasilkan tekstur sabun yang
keras. NaCl yang digunakan harus murni agar mendapatkan
hasil sabun dengan kualitas yang bagus.
5) Gliserin Monostearat (GMS)
Gliserin adalah campuran dari asam stearat dan gliserol
yang akan menghasilkan zat yang digunakan sebagai bahan
pengemulsi alami. Selain digunakan sebagai bahan aditif dalam
makanan, gliserin juga dimanfaatkan dalam produk kosmetik
dan sabun. Gliserin biasanya berbentuk cairan tidak berwarna
hingga kuning, tidak berbau, berasa manis, bertekstur kental,
dan bersifat higroskopis.
Pemanfaatan gliserin diantaranya sebagai bahan
pembuatan sabun, deterjen, dan ester gliserol; bahan pembuat
produk farmasi, kosmetik, makanan, minuman; sebagai bahan
tambahan pangan (pengemulsi, pengental, penstabil);
pembuatan cat, resin, dan kertas; sebagai pembasah pada
tembakau.
6) Surfaktan
Bahan surfaktan memiliki kemampuan untuk
mengangkat kotoran. Bahan ini juga merupakan penghasil busa
pada sabun. Bahan surfaktan yang sering digunakan dalam
29
pembuatan sabun adalah Emal 20C, Emal TD, Texapon, dan
sebagainya.
Pada penelitian ini, surfaktan yang digunakan adalah
Sodium Lauril Sulfat (SLS) yang memiliki nama dagang yaitu
Texapon merupakan larutan surfaktan yang memiliki bentuk
berupa gel dengan warna bening, memiliki daya pembersih,
dan merupakan bahan yang dapat menghasilkan busa (Arwati
& Anggraini, 2016)
c. Cara Kerja Sabun
Sabun yang dilarutkan dalam air akan menguraikan ion-ion,
hal ini menyebabkan tegangan permukaan air berkurang. Permukaan
alat makan yang hendak dibersihkan dibasahi dengan air terlebih
dahulu. Buih air sabun akan membantu mengapungkan kotoran di
dalam air. Di sisi lain, bagian hidrokarbon dalam sabun yang larut
dalam minyak akan mengikat kotoran berminyak, sedangkan ion
yang hanya larut dalam air akan terlepas dari permukaan alat yang
sedang dibersihkan dan tersebar di dalam air.
Persyaratan mutu baku air sabun cuci piring ditetapkan menurut
SNI 06-20148-1990 dapat dilihat pada Tabel 2.
30
Tabel 1. Persyaratan Mutu Sabun Cuci Piring (SNI 06-2048-1990)
No Parameter Kualitas SNI
1. pH 8 – 11
2. Alkali bebas Maksimal 0,1%
3. Total asam lemak Minimal 15%
Sumber : Pratiwi & Setyaningsih, 2014
d. Pembuatan sabun Pencuci Piring
Menurut penelitian Putro & Utami, (2011) pembuatan sabun
pencuci piring dapat dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
1) Siapkan erlenmeyer, batang pengaduk, stirrer, termometer,
statif, kertas saring, larutan KOH, texapon, gliserin, minyak
jelantah pemurnian, dan ekstrak daun serai.
2) Pembuatan larutan KOH
a) Siapkan neraca analitik, gelas beaker, batang pengaduk,
labu ukur 100 ml, aquadest, dan KOH.
b) Timbang padatan KOH sebanyak 40 gram.
c) Larutkan padatan KOH dengan aquadest menggunakan
gelas beaker.
d) Encerkan larutan KOH ke dalam labu ukur 100 ml hingga
tanda tera.
e) Gojog larutan agar homogen.
3) Siapkan 3 buah erlenmeyer, beri label Formula 1, Formula 2,
dan Formula 3.
31
4) Masukkan 50 ml minyak hasil pemurnian dan pada masing-
masing erlenmeyer.
5) Tambahkan masing-masing 25 ml larutan KOH 40% ke dalam
3 buah erlenmeyer yang berisi minyak yang sudah dimurnikan.
6) Panaskan campuran tersebut hingga suhu 700C, dan aduk
menggunakan stirrer selama 80 menit.
7) Tambahkan masing-masing 10 gram Sodium Lauril Sulfat
(SLS) atau Texapon ke dalam campuran pada ketiga
erlenmeyer. Aduk menggunakan stirrer selama 5 menit.
8) Tambahkan masing-masing 15 ml gliserin pada ketiga
erlenmeyer campuran tersebut. Aduk menggunakan stirrer
selama 5 menit.
9) Tambahkan aquadest masing-masing sebanyak 50 ml pada
ketiga formula sabun dan aduk selama 5 menit.
10) Mendinginkan sabun yang sudah jadi.
11) Sabun pencuci piring siap digunakan.
7. Serai
Serai atau sereh umumnya dikenal sebagai tumbuhan yang akar dan
batangnya sering digunakan sebagai rempah penyedap masakan. Selain itu,
serai juga dipercaya dapat menjadi tanaman obat. Daun dan akar serai
mengandung alkaloid, saponin, tanin, polifenol, dan flavonoid, serta daun
32
tumbuhan tumbuhan serai mengandung minyak atsiri yang terdiri dari
berbagai senyawa dengan bau yang khas (Kawengian dkk., 2017).
Serai (Cymbopogon citratus) dikenal juga dengan nama serai dapur
(Indonesia), sereh (Sunda), dan bubu (Halmahera). Serai merupakan
tumbuhan yang masuk ke dalam famili rumput-rumputan atau Poaceae.
Tanaman ini dikenal dengan istilah lemongrass karena memiliki bau yang
kuat seperti lemon, sering ditemukan tumbuh alami di negara-negara tropis.
Varietas Cymbopogon citratus dibudidayakan dan berasal dari Guatemala
dan Indonesia. Serai umumnya tumbuh sebagai tanaman liar di tepi jalan
atau kebun, tetapi dapat ditanam dalam berbagai kondisi di daerah tropis
yang lembab, cukup sinar matahari, dan bercurah hujan relatif tinggi.
Tanaman serai genus Cymbopogon meliputi hampir 80 spesies, tetapi
hanya beberapa jenis yang menghasilkan minyak atsiri yang mempunyai
arti ekonomi dalam perdagangan.
Tanaman serai dapur memiliki habitus berupa tanaman tahunan
(perennial) yang hidup secara liar dan berbatang semu (stolonifera) yang
membentuk rumpun tebal serta mempunyai aroma yang kuat dan wangi,
morfologi akarnya berimpang pendek dan berwarna coklat muda. Serai
memiliki daun memanjang seperti pita, semakin ke ujung semakin runcing
dan berwarna hijau dengan panjang 0,6 – 1,2 m yang tersusun pada stolon
(Mangelep, 2018)
33
Klasifikasi tanaman serai dapur :
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Sub Kelas : Commelinidae
Ordo : Poales
Famili : Poaceae
Sub Family : Panicoideae
Genus : Cymbopogon
Spesies : Cymbopogon citratus
Gambar 1. Serai Dapur
Tanaman serai dapur (Cymbopogon citratus) mampu menghasilkan
minyak atsiri dengan kadar sitronellal 30 – 45% dan geraniol 65 – 90%.
Pada tanaman sereh dapur sendiri terbagi atas beberapa bagian yang
34
menghasilkan minyak atsiri yaitu pada daun, batang, dan akar tanaman
(Wilis dkk., 2017).
Daun serai mengandung 0,4% minyak atsiri dengan komponen
yang terdiri dari sitral, sitronelol (66 – 85%), α-pinen, kamfen, sabinen,
mirsen, β-felandren, p-simen, limonen, cis-osimen, terpinol, sitroonelal,
borneol, terpinen-4-ol, α-terpinol, geaniol, farnesol, metil heptenon, n-
desialdehida, dipenren, metil, heptenon, bornilasetat, terpinil asetat,
sitronelil asetat, geranil asetat, β-kariofelin oksida (Putri, 2018).
Pada penelitian Zaituni dkk., (2016) melakukan penyulingan batang
dan daun serai untuk mengetahui mutu minyak atsiri yang dihasilkan dari
bagian batang dan daun serai dapur dengan metode penyulingan air dan
uap. Hasil rata-rata rendemen didapatkan dari perhitungan bobot minyak
atsiri yang dihasilkan terhadap bobot bahan baku yaitu batang dan daun
serai yang dinyatakan dalam persen menunjukkan bahwa minyak atsiri
pada daun serai menghasilkan rendemen 10 kali lipat lebih besar dari
batang yaitu 0,39990%, sedangkan rendemen minyak hasil penyulingan
bagian batang adalah 0,03933%.
a. Pemanfaatan Tanaman Serai Dapur
Tanaman serai sering dimanfaatkan oleh manusia,
diantaranya :
1) Sebagai komposisi makanan
35
2) Kosmetik, sering digunakan sebagai salah satu bahan untuk
aroma sabun, deterjen, dan parfum.
3) Anti fungi : tanaman ini aktif membunuh beberapa
Dermatophytes, seperti Trichophyton mentagrophytes,
Trichophyton rubrum, Epidermophyton floccosum, dan
Microsporum gypseum.
4) Anti malaria : ekstrak minyak dari serai dapat menekan
pertumbuhan Plasmodium berghei hingga 86,6%.
5) Anti inflamasi : Minyak atsiri dari tumbuhan ini terbukti
memberi efek kematian terhadap bakteri Bacillus subtilis,
Eschericia coli, Staphylococcus aureus, Salmonella paratyphy,
Shigella flexneri.
6) Antibakteri: minyak serai dikenal dengan aktivitas antibakteri
berspektrum luas. Selain itu, minyak serai efektif digunakan
untuk menghambat Listeria monocytogenes, Salmonella
typhimurium, Escherechia colli, Shigella dysenteria, Bacillus
cereus, Staphylococcus aureus (Fitriani, 2017). Minyak atsiri
berperan sebagai antibakteri dengan cara mengganggu proses
terbentuknya membran sel sehingga tidak terbentuk sempurna
(Sefriyanti dkk., 2020). Adapun kandungan yang diduga
berperan adalah α citral (geranial) dan β citral (netral).
36
b. Kandungan Tanaman Serai Dapur
Menurut Apriangga (2014), kandungan yang terdapat pada
daun serai (Cymbopogon citratus) meliputi :
1) Kandungan nutrisi yang terdapat pada daun serai antara lain :
karbohidrat (55%) yang menunjukkan bahwa serai merupakan
sumber energi yang baik, protein (4,56%), serat (9,28%), dan
energi yang bisa didapatkan adalah 360,5 kal/100 gram.
2) Mineral yang terkandung pada serai, meliputi fosfor (124
ppm), magnesium (226 ppm), kalsium, besi (43 ppm), mangan
(25 ppm), dan zink (16 ppm).
3) Kandungan fitokimia yang memiliki efek pengobatan dalam
serai adalah alkoloid, flavonoid, saponin, tanin, anthtaquinon,
steroid, asam fenol (derivat caffeic dan p-counaric) dan flavon
glikosida (derivat apigenin dan luteolin).
c. Ekstrak Serai
Pembuatan ekstrak serai dapat dilakukan dengan berbagai cara
baik dengan cara destilasi (penguapan) atau cara sederhana.
1) Metode distilasi
Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Fitriani, (2017)
pembuatan ekstrak serai dapat dilakukan dengan tahapan
sebagai berikut :
37
a) Menyiapkan serai yang akan digunakan, kemudian
mencuci serai hingga bersih.
b) Memasukkan 15 liter air ke dalam destilator.
c) Memasukkan serai ke dalam destilator
d) Memanaskan air hingga mendidih.
e) Uap dari rebusan tersebut akan naik menuju kondensor,
bercampur dengan air kemudian turun ke tabung
pengumpul minyak.
f) Menampung minyak yang masih bercampur dengan air
sulingan ke dalam corong pemisah.
g) Memisahkan minyak serai dan air menggunakan corong
pemisah.
h) Minyak serai hasil pemisahan siap digunakan sebagai
bahan pembuat sabun pencuci piring.
2) Metode sederhana
Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh Afrozi dkk.,
(2017) pembuatan ekstrak daun serai dapat dilakukan sebagai
berikut :
a) Daun serai sebanyak 64 gram direndam dengan 30 mL
air selama sehari semalam.
b) Daun serai kemudian dipotong kecil-kecil dan
dimasukkan kedalam blender untuk dihaluskan.
38
c) Daun serai diblender sampai halus selama 15 menit.
d) Kemudian bubur daun serai dibungkus dengan kain dan
dicelupkan kedalam 50 mL air, lalu diperas untuk di
ambil ekstraknya.
8. Minyak Jelantah
Minyak goreng merupakan salah satu bahan pangan yang sangat
penting bagi manusia dalam kehidupan sehari-hari untuk keperluan
memasak makanan (Chandra dkk., 2020). Minyak goreng berasal dari
lemak tumbuhan atau hewan yang dimurnikan dan berbentuk cair dalam
suhu kamar dan biasanya digunakan sebagai media menggoreng bahan
pangan, penambah cita rasa, atau shortening yang membentuk struktur
pada pembuatan roti. Komposisi terbanyak dari minyak goreng adalah
lemak.
Sebagian besar lemak dalam makanan (termasuk minyak goreng)
berbentuk trigliserida dimana jika terurai maka akan berubah menjadi
molekul gliserol dan tiga molekul asam lemak bebas. Semakin banyak
trigliserida yang terurai maka semakin banyak asam lemak bebas yang
dihasilkan. Pada proses oksidasi lebih lanjut, asam lemak bebas ini akan
menyebabkan minyak berbau tengik.
Minyak jelantah adalah minyak sisa hasil penggorengan yang telah
digunakan berulang-ulang. Minyak akan menerima banyak panas selama
39
pemakaian, sehingga dapat memutus ikatan rangkap yang menyebabkan
terbentuknya asam lemak bebas yang tinggi (Qolby dkk., 2013).
Selama penggorengan minyak goreng akan mengalami pemanasan
pada suhu tinggi sekitar 170 – 1800C dalam waktu yang cukup lama. Hal
ini akan menyebabkan terjadinya proses oksidasi, hidrolisis, dan
polimerisasi yang menghasilkan senyawa-senyawa hasil degradasi minyak
seperti keton, aldehid, dan polimer yang dapat berdampak buruk bagi
kesehatan manusia. Proses-proses tersebut menyebabkan kerusakan pada
minyak goreng (Afrozi dkk., 2017).
Kerusakan utama adalah timbulnya bau dan rasa tengik, sedangkan
kerusakan lain diantaranya peningkatan kadar asam bebas (FFA), bilangan
iodin (Iv), timbulnya kekentalan minyak, adanya busa, serta terdapat
bumbu dan kotoran sisa dari bahan yang digoreng. Kerusakan minyak
goreng yang berlangsung selama penggorengan akan menurunkan nilai gizi
dan mutu bahan yang digoreng (Depkes RI, 2014).
Minyak jelantah bersifat karsinogenik yang dalam jangka waktu
panjang dapat menimbulkan penyakit, seperti kanker dan penyempitan
pembuluh darah apabila dikonsumsi dalam jumlah yang banyak. Minyak
jelantah yang sudah tidak memiliki nilai ekonomis tersebut apabila dibuang
dapat mencemari lingkungan. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah
mengurangi kandungan kontaminan pada minyak jelantah dengan
pemurnian melalui proses penyaringan. Hasil pemurnian minyak jelantah
40
tersebut dapat dimanfaatkan kembali sebagai pembuatan sabun cuci piring,
dan sebagainya.
Pemurnian merupakan tahap pertama dari proses pemanfaatan
kembali minyak goreng bekas, dimana hasilnya dapat digunakan kembali
sebagai minyak goreng atau sebagai bahan pembuatan sabun cuci piring.
Tujuan utama pemurnian minyak goreng ini adalah menghilangkan rasa
dan bau tidak enak dan warna yang kurang menarik.
Pemurnian minyak goreng meliputi 3 tahap yaitu :
a. Penghilangan Kotoran (Despicing)
Penghilangan bumbu (kotoran) merupakan proses
pengendapan dan pemisahan kotoran akibat bumbu dari bahan
pangan yang bertujuan untuk menghilangkan partikel halus
tersuspensi atau berbentuk koloid seperti protein, karbohidrat, garam,
gula, dan bumbu rempah-rempah.
Pada penelitian ini, penghilangan kotoran dilakukan dengan
menyiapkan 200 ml minyak jelantah yang akan dimurnikan.
Selanjutnya menyaring minyak jelantah menggunakan kertas saring
hingga didapatkan minyak jelantah yang bersih dari kotoran.
b. Netralisasi
Netralisasi adalah suatu proses untuk memisahkan asam lemak
bebas dari minyak atau lemak dengan cara mereaksikan
menggunakan basa atau pereaksi lain sehingga membentuk sabun.
41
Selain itu, penggunaan basa membantu mengurangi zat warna dan
kotoran yang berupa getah atau lendir dalam minyak.
Pada penelitian ini, basa yang digunakan untuk tahap
netralisasi adalah Kalium Hidroksida (KOH) 15%. Pembuatan
larutan KOH 15% dilakukan dengan melarutkan padatan KOH
sebanyak 15 gram ke dalam 100 ml aquadest. Menurut penelitian
Putro & Utami, (2011) tahap netralisasi dilakukan dengan
memanaskan minyak jelantah yang telah melalui proses despicing
pada suhu 700C. Selanjutnya, menambahkan larutan KOH 15%
sedikit demi sedikit hingga pH menjadi minyak netral (pH = 7)
dengan melakukan pengadukan secara konstan selama 10 menit.
mendiamkan hingga minyak agak dingin, kemudian menyaring
menggunakan kertas saring, untuk memisahkan minyak dari kotoran.
c. Pemucatan (Bleaching)
Pemucatan adalah proses pemurnian untuk menghilangkan zat-
zat yang tidak diinginkan dalam minyak. Pemucatan ini dilakukan
dengan mencampurkan sejumlah kecil adsorben, seperti tanah serap,
lempung aktif, karbon aktif, atau menggunakan bahan kimia.
Pada proses bleaching dilakukan dengan memanaskan minyak
yang sudah dinetralisasi hingga suhu 700C. Memasukkan karbon
aktif sebanyak 15 gram ke dalam minyak, lalu mengaduk
menggunakan stirrer selama 30 menit. Setelah itu mendiamkan
42
beberapa saat agar minyak dingin lalu menyaring menggunakan
kertas saring untuk memisahkan karbon aktif hingga mendapatkan
minyak yang bersih. Minyak jelantah yang sudah dimurnikan dapat
digunakan untuk membuat sabun pencuci piring. (Putro & Utami,
2011)
9. Karbon Aktif
Karbon aktif merupakan suatu bahan padat yang berpori dan umumnya
diperoleh dari hasil pembakaran kayu, tempurung kelapa, atau bahan lainnya
yang mengandung unsur karbon. Adsorben atau bahan penyerap berupa
karbon aktif yang digunakan pada proses pemurnian minyak dapat
meningkatkan kembali mutu minyak goreng bekas, dimana karbon aktif akan
bereaksi menyerap warna yang membuat minyak bekas menjadi keruh (Putro
& Utami, 2011).
Karbon aktif merupakan adsorben yang banyak digunakan. Karbon
aktif termasuk salah satu produk lanjutan dari karbon tempurung kelapa yang
bernilai ekonomi relatif tinggi. Pada proses ini karbon tempurung kelapa
ditumbuk sampai berbentuk serbuk, yang bertujuan untuk memperluas
spesifik karbon dan diayak dengan ukuran 240 mesh. Pengayakan berfungsi
untuk menyeragamkan ukuran partikel serbuk karbon tempurung kelapa.
Kekeruhan minyak jelantah berkurang (bertambah sedikit jernih)
karena partikel penyebab kekeruhan dapat diserap oleh tempurung kelapa
meskipun hanya sebagian kecil. Perlakuan dengan adsorben dari tempurung
43
kelapa pada berbagai metode perlakuan awal dapat meningkatkan kualitas
minyak jelantah, ditinjau dari kadar FFA, PV, dan warna minyak. Semakin
banyak massa adsorben yang digunakan maka akan menurunkan bilangan
peroksida dan massa adsorben yang efektif dalam pemurnian minyak jelantah
yaitu 10 gram dengan bilangan peroksida 1,53 meq/Kg (Waluyo dkk., 2020).
44
B. Kerangka Konsep
Angka kuman 1. Proses Pencucian :
piring makan a. Penghilangan kotoran
b. Perendaman dengan air
c. Pencucian dengan sabun
d. Pembilasan dengan air mengalir
e. Pengeringan/penirisan di rak
Angka kuman piring
makan setelah perlakuan
Penambahan 8,7%, 16,7%, dan 20%
ekstrak daun serai pada sabun
antibakteri
Penurunan angka kuman
piring
Bahan aktif yang terkandung dalam
daun serai
Keterangan :
: Variabel yang tidak diteliti
: Variabel yang diteliti
Gambar 2. Kerangka Konsep
45
C. Hipotesis
1. Hipotesis Mayor
Ada penurunan jumlah angka kuman pada peralatan makan piring setelah
penggunaan sabun limbah minyak jelantah dan ekstrak daun serai.
2. Hipotesis Minor
a. Ada penurunan jumlah angka kuman piring setelah penggunaan
sabun minyak jelantah dan 8,7% ekstrak daun serai.
b. Ada penurunan jumlah angka kuman piring setelah penggunaan
sabun minyak jelantah dan 16,7% ekstrak daun serai.
c. Ada penurunan jumlah angka kuman piring setelah penggunaan
sabun minyak jelantah dan 20% ekstrak daun serai.
d. Ada formula sabun minyak jelantah dan ekstrak daun serai yang
efektif menurunkan angka kuman piring.