BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Prestasi Belajar
2.1.1. Pengertian Prestasi Belajar
Menurut Rosyid (2020), Prestasi belajar adalah
hasil dari suatu kegiatan pembelajaran dengan
perubahan yang dicapai seseorang. Tingkat
keberhasilan tersebut dinyatakan dalam bentuk
simbol, angka, huruf, maupun kalimat dengan
standaisasi yang telah ditetapkan. Hasil belajar ini
dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam
menentukan prestasi belajar peserta didik, hasil ini
juga dapat dimaknai sebagai pencapaian
pemahaman terkait dengan materi atau lokal
tertentu yang telah disampaikan oleh guru dan
dipelajari oleh siswa.
Menurut Suryabrata (2006), Prestasi belajar
merupakan perumusan nilai akhir peserta didik yang
dapat diberikan oleh pengajar berupa kemajuan
siswa setelah proses belajar yang dilaluinya selama
masa tertentu. Sedangkan menurut Muhibbin (dalam
Marbun, 2018) Prestasi belajar merupakan
keberhasilan siswa dalam mempelajari materi
pelajaran di sekolah yang kemudian dinyatakan
dalam bentuk skor atau nilai dari hasil ujian
mengenai materi pelajaran tertentu.
Berdasarkan definisi dari beberapa tokoh di atas
dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah
hasil akhir yang diperoleh oleh siswa setelah melalui
proses belajar dan ujian di sekolah, yang dapat
dinyatakan dalam bentuk huruf atau angka yang oleh
guru selaku pengajar dan pendidik bagi siswa.
2.1.2. Aspek-aspek Prestasi Belajar
Menurut Susanti (2019) prestasi belajar terdiri
dari lima aspek antara lain:
1. Kemampuan informasi verbal
Kapabilitas informasi verbal ialah
kemampuan yang dimiliki oleh individu untuk
menyampaikan secara lisan pengetahuan yang
dimilikinya tentang fakta tertentu yang
diketahuinya. Dalam aplikasinya informasi verbal
dapat diperoleh dengan membaca buku dan
sebagainya. Informasi tersebut diklasifikasikan
sebagai suatu fakta, asas dan nama dapat
digeneralisasi. Misalnya apakah siswa mampu
menyampaikan teori yang telah dijelaskan oleh
guru atau pengajar yang bersangkutan, ketika
proses belajar di kelas berlangsung.
2. Kemampuan Intelektual
Intelek berasal dari kata “intellect” yang
artinya Proses kognitif atau berpikir, daya yang
berhubungan serta kemampuan untuk menilai
dan mempertimbangan, kemampuan mental dan
intelegensi individu. Kemampuan intelektual
dapat berupa kapasitas secara umum dari
kesadaran individu dalam berpikir, penyesuaian
diri, pemecahkan masalah dengan bijaksana,
tepat dan cepat, baik yang dialami oleh dirinya
ataupun lingkungan sekitarnya. Kemampuan
intelektual yang ada pada setiap individu dapat
diidentifikasikan dengan memerhatikan sikap
kecerdasannya (intellegent behavior).
3. Strategi kognitif
Strategi kognitif adalah kapabilitas atau
kemampuan yang dimiliki individu yang bertugas
untuk mengatur bagaimana cara siswa
mengelola belajarnya, baik ketika sedang
mengingat ataupun berfikir tentang
pembelajarannya. Hal ini juga merupakan proses
pengendali atau pengatur pelaksanaan tindakan
yang akan dilakukan individu dalam proses
pembelajarannya. Strategi kognitif ini juga dapat
berupa kemampuan internal individu yang
terorganisasi yang dapat membantu individu
dalam melaksanakan proses belajar baik dalam
proses berpikirnya, pemecahan masalah yang
dihadapi hingga pengambilan keputusaan yang
dilakukan oleh individu.
4. Sikap
Menurut Berkowiz (1972), sikap dapat
dikelompokan menjadi tiga konsep pemikiran
yaitu sikap merupakan suatu bentuk
pertimbangan berupa reaksi dari perasaan yang
dirasakan terhadap objek tertentu yang bersifat
kontributif atau sebaliknya. Kedua, sikap
bermakna semacam kesiapan untuk bertindak
terhadap objek tertentu dengan cara tersendiri.
Ketiga, sikap adalah suatu bentuk dari komponen
berpikir, merasakan dan bertindak yang
ketiganya saling bertautan dan berhubungan
dalam memahami, merasakan dan berperilaku
terhadap suatu objek. Sehingga dapat
didefinisikan secara umum bahwa sikap adalah
sebuah tanggapan yang dimulai dengan reaksi
yang bersifat tertutup atau belum terpapar pada
rangsangan atau objek namun setelah adanya
proses belajar yang berkualitas maka individu
dapat memainkan peran kemanusiaannya di
lingkungan masyarakatnya dengan baik
(Murfiah,2017).
5. Keterampilan motorik
Keterampilan merupakan suatu kemampuan
yang melibatkan akal, fikiran, ide ataupun
kreatifitas dalam mengerjakannya. Keterampilan
dapat berupa membuat dan mengubah sesuatu
hingga memiliki makna yang dapat menghasilkan
value dari hasil dari aktivitas yang dilakukan.
Keterampilan dalam diri seseorang dapat
dikembangkan dengan melatihnya secara terus
menerus hingga dapat membuat seseorang
menjadi profesional atau ahli di bidang tertentu.
Keterampilan motorik berupa kemampuan yang
meliputi kecepatan, ketepatan, dan kelincahan
gerakan otot serta anggota badan yang dapat
diperlihatkan seperti pada menggunaan alat-alat
peraga kimia seperti gelas ukur, buret
laboratorium atau corong pemisah.
Dari penjelasan diatas disimpulkan
aspek-aspek prestasi belajar antara lain meliputi
Kemampuan informasi verbal, Kemampuan
Intelektual, Strategi kognitif, sikap yang
dihasilkan dari proses belajar dan Keterampilan
motorik yang diperoleh sebagai hasil dari proses
pembelajaran yang telah dilalui oleh seorang
individu.
2.1.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi
Belajar
Menurut Susanti (2019), prestasi belajar
dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:
1. Faktor Hereditas
Faktor ini dapat bermakna sebagai
pemindahan atau pewarisan ciri biologis tertentu
dari kedua orang tua yang dapat juga diartikan
sebagai pembawaan. Pembawaan merupakan
konsep yang dipercayai bahwa adanya potensi
dasar manusia akan berkembang sendiri seiring
dengan adanya interaksi dengan lingkungan.
Faktor ini ialah faktor yang berasal dari dalam
yang dapat berpengaruh terhadap
perkembangan atau perubahan individu yang
lebih condong pada bentuk atau karakteristik
individu yang diturunkan oleh kedua orang tua.
Faktor yang bersifat genetik ini dapat pula
dimaknai sebagai daya atau potensi baik secara
fisik maupun psikis yang dimiliki oleh individu
sejak masa sebelum kelahiran yang bersifat
alamiah.
2. Motivasi
Sardiman (2004) mendefinisikan motivasi
belajar sebagai keseluruhan daya penggerak di
dalam diri siswa yang dapat menghasilkan
aktivitas belajar dan menjamin kelangsungan
dari aktivitas belajar tersebut yang kemudian
dapat memberikan arah pada aktivitas belajar
yang membuat tujuan belajar yang dikehendaki
menjadi terlaksana. Motivasi pada siswa dapat
mempengaruhi kerja keras siswa untuk
mendapatkan nilai hasil akhir, sehingga ketika
menemukan hambatan peserta didik akan tetap
berusaha menyelesaikan sampai akhir sehingga
dapat memiliki nilai hasil belajar yang baik.
Motivasi diibaratkan sebagai dorongan bagi
individu untuk terus bergerak dan berusaha
dalam mencapai tujuan dalam proses belajarnya
(Wahyuni, 2010).
3. Gaya Belajar
Gaya belajar merupakan preferensi yang
berbeda yang dimiliki oleh setiap individu dalam
melakukan proses belajarnya. Misalnya ada yang
lebih menyukai informasi yang berbentuk
gambar, ada pula yang suka belajar pada malam
hari, ada pula yang suka belajar berkelompok,
belajar sambil mendengarkan musik dan lain
sebagainya. Gaya belajar yang dipilih oleh
seseorang umumnya merupakan cara yang
paling efisien dalam mempelajari informasi baru,
khususnya gaya belajar yang berkaitan dengan
preferensi dan modalitas fisik yaitu visual,
auditori dan kinestetik.
4. Lingkungan Belajar
Lingkungan belajar merupakan tempat atau
area yang menyatakan kondisi saat proses
belajar berlangsung baik pada lingkungan
sekolah ataupun lingkungan rumah. Dalam
lingkungan belajarnya siswa hidup dalam
berinteraksi dengan lingkungannya, sehingga
tidak bisa terhindarkan dari lingkungan alamiah
dan lingkungan sosial atau budaya. Keduanya
mempunyai pengaruh yang kuat terhadap proses
belajar dan hasil belajar siswa di sekolah
(Djamarah, 2011). Lingkungan belajar pada
prinsipnya digunakan untuk menciptakan
pengalaman yang tidak terbatas di ruang kelas
saja, tetapi di luar ruang kelas pun dapat terjadi.
Lingkungan belajar dapat pula terjadi di dalam
dunia teknologi atau dunia virtual.
Menurut Eggen (2012), iklim ruang kelas
yang positif sangat penting dalam proses
pembelajaran, karena tidak ada strategi
pengajaran atau model pembelajaran yang
efektif jika iklim ruang kelasnya negatif bahkan
tidak kondusif untuk siswa belajar.
5. Bakat dan minat
Menurut Susanti (2019), Bakat merupakan
potensial yang dibawa oleh individu sejak lahir
dan ada kaitannya dengan kegiatan yang
disenangi oleh individu dan terkait dengan
perceptuality, psikomotor dan intelektualitas.
Perkembangan bakat dapat dimiliki oleh siswa
secara individual (Sunarto & Hartono, 2018).
Sedangkan minat adalah kecenderungan yang
menetap pada individu yang membuatnya
menjadi cenderung pada bidang atau fashion
tertentu yang dapat menimbulkan rasa senang
ketika berada pada bidang tersebut yang
kemudian menjadi sumber motivasi seseorang
untuk melakukan apa yang ingin dilakukannya.
Minat berhubungan dengan kepuasan, ketika
minat melahirkan manfaat yang tinggi maka
kepuasan akan meningkat begitupun sebaliknya.
6. Strategi Pembelajaran
Strategi belajar adalah suatu rencana
tindakan atau serangkaian aktivitas yang
termasuk didalamnya menggunakan metode dan
bermanfaatnya berbagai potensi daya atau
kekuatan dalam proses belajar. Dalam konteks
pembelajaran konstruktivitas strategi
pembelajaran yang digunakan selalu mengarah
pada penggunaan pendekatan yang berpusat
pada siswa (students cented learning).
pembelajaran pendekatan berpusat pada siswa
memungkinkan siswa selalu terlibat dalam setiap
aktivitas pembelajaran, mengerjakan proyek,
menulis, berdiskusi membantu teman yang
dalam kesusahan atau melakukan eksperimen.
Dengan demikian siswa akan terlibat secara
langsung dan termotivasi untuk belajar dengan
baik dan memecahkan masalah dengan tepat
(Susanti, 2019).
Lebih lanjut Hermawan (2010), menjelaskan
bahwa keberhasilan studi atas prestasi belajar
siswa dipengaruhi oleh faktor dari dalam dan dari
luar siswa. Faktor dari dalam mencakup
kecerdasan, strategi belajar, motivasi dan
sebagainya. Sedangkan faktor eksternal meliputi
fasilitas belajar, cara mengajar guru, sistem
pemberian feedback (umpan balik), dan
sebagainya.
Berdasarkan penjabaran faktor prestasi
belajar di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi
belajar dipengaruhi oleh Faktor kecerdasan,
Hereditas, motivasi, Gaya Belajar, lingkungan
belajar, fasilitas/sarana belajar, metode
mengajar guru, adanya umpan balik, bakat minat
dan strategi pembelajaran.
2.1.4. Prestasi Belajar Dalam Perspektif Islam
Prestasi belajar dalam perspektif islam tidak
dapat terpisahkan dari perbuatan belajar itu sendiri,
karena belajar merupakan suatu proses. Sedangkan
prestasi belajar merupakan hasil dari proses
pembelajaran tersebut. Berikut adalah beberapa ayat
yang berkaitan dengan proses belajar antara lain :
QS. Al-Mujaadilah Ayat 11
Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila
dikatakan padamu: “berlapang-lapanglah dalam
majelis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan
memberi kelapangan untukmu. Dan apabila
dikatakan:“ berdirilah kamu”, maka berdirilah,
niscaya Allah akan meninggikan orang-orang
yang beriman di antaramu dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan
Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.”
Menurut Basyir (2017) makna dari ayat diatas
ditujukan kepada orang-orang yang beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya serta menjalankan syariat-Nya.
Dalam ayat tersebut dikatakan apabila Allah telah
memeritahkan kepada orang beriman untuk
melapangkan satu sama lain dalam majelis, maka
hendaknya setiap orang yang beriman dapat
memenuhi seruan tersebut, sehingga Allah pun akan
membalasnya dengan memberikan kelapangan
kepada orang memenuhinya dengan kelapangan
atau pertolongannya baik di dunia maupun akhirat.
Kemudian apabila diperintahkan untuk berdiri dari
majelis karena suatu urusan yang berupa kebaikan
bagi setiap orang, maka hendaknya mereka berdiri
maka Allah pun akan meninggikan derajat atau
kedudukan bagi orang mukmin yang mukhlis di
antara mereka, Allah pun akan meninggikan
kedudukan bagi orang yang berilmu dengan pahala
yang banyak yang akan membuat Allah ridho atasnya.
Sungguh Allah mengetahui segala perbuatan
manusia bahkan yang tersembunyi sekalipun. Dan
Allah akan membalas setiap perbuatan baik manusia.
Ayat ini pun mengisyaratkan tentang kedudukan,
keistimewaan dan tingginya derajat orang yang
berilmu.
QS. Ar-Ra’d Ayat 11
Artinya: “Bagi manusia ada malaikat-malaikat
yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan
di belakangnya mereka menjaganya atas
perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak
mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga
mereka mengubah keadaan yang ada pada diri
mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki
keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada
yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada
pelindung bagi mereka selain Dia.”
Menurut Basyir (2017) makna dari ayat diatas
adalah bahwa Allah mempunyai malaikat yang selalu
mengikuti manusia secara bergiliran baik dari depan
dan belakang manusia atas perintah Alah. Malaikat
tersebut mencatat setiap perbuatan baik atau buruk
yang dilakukan manusia. Sungguh Allah tidak akan
mengubah nasib yang telah diberikan-Nya kepada
suatu kaum kecuali apabila kaum tersebut mau
berusaha akan hal itu. Ayat ini menegaskan agar
setiap mukmim senantiasa mau berusaha untuk
mengapai kebaikan bagi dunia dan akhiratnya.
Namun apabila Allah menghendaki keburukan pada
kelompok manusia maka tidak ada tempat untuk
menghindar dari-Nya. Melainkan hanya Allah sebagai
pelindung dan pengurus dari setiap urusan manusia.
QS. Al-Baqarah Ayat 148
Artinya: “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya
(sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka
berlomba-lombalah kamu (dalam membuat)
kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah
akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari
kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas
segala sesuatu.”
Menurut Basyir (2017) makna dari ayat
diatas dimaksudkan bahwa masing-masing dari
tiap umat mempunyai kiblat di mana mereka
menghadap kepadanya di dalam sholat. Maka
kalian wahai orang-orang yang mukmin
hendaklah berlombalah kalian dalam melakukan
amal-amal kebaikan yang telah Allah syariatkan
di dalam agama-Nya. Allah mengumpulkan akan
mengumpulkan setiap manusia pada Hari Kiamat
dari tempat atau belahan bumi manapun
manusia itu berasal, karena sungguh Allah Maha
berkuasa atas segala sesuatu.
Dalam praktiknya prestasi belajar tidak dapat
terpisahkan dari perbuatan belajar itu sendiri,
karena belajar merupakan suatu proses.
Sedangkan prestasi belajar merupakan hasil dari
proses pembelajaran tersebut. Ketika seseorang
melakukan proses belajar untuk menuntut ilmu
maka pahala kebaikan akan didapat olehnya,
karena menuntut ilmu merupakan satu perkara
yang sangat dicintai oleh Allah sehingga Allah
akan menaikkan derajat dan memuliakan
orang-orang yang berilmu.
Seseorang yang belajar untuk menuntut ilmu
akan menjadikannya mulia dihadapan Allah dan
atas izin Allah pun akan senantiasa menjaganya
ketika hendak menuntut ilmu karena Allah. Oleh
sebab itu,hendaknya setiap manusia dapat
memanfaatkan setiap waktu luang yang
diberikan oleh Allah untuk berlomba-lomba dan
selalu bersemangat untuk belajar guna
memperkaya ilmu pengetahuannya. Dengan ilmu
tersebut seseorang dapat beramal dengan benar
sesuai dengan ketentuan syariat, bermanfaat
bagi orang bayak dan dapat beramal salih
dengan menyampaikan apa yang telah
diketahuinya kepada orang lain.
2.2. Adiksi Internet
2.2.1. Pengertian Adiksi Internet
Menurut Shaw dan Black (2008), Adiksi
Internet merupakan ketergantungan yang
dialami oleh individu yang diikuti dengan
kesenangan secara berlebihan dan tidak
terkendali yang dapat membuat pelakunya untuk
terus online yang pada akhirnya akan
menyebabkan seseorang dapat mengalami suatu
gangguan atau distress.
Young dan Abreu (2017) mendefinisikan
adiksi internet sebagai suatu istilah yang
mencakup perilaku dan permasalahan kendali
impuls. Lebih lanjut Mustafa (2011) berpendapat
bahwa adiksi internet adalah gangguan kendali
impuls yang dapat membuat pengguna
mengalami ketagihan, sehingga pengguna
menjadi sulit berhenti seperti judi patologis.
Sedangkan Griffiths (2007), mendefinisikan
adiksi internet sebagai tingkah laku adiksi yang
meliputi interaksi yang terjadi antara manusia
dengan mesin tanpa disertai dengan
penggunaan obat-obatan.
Berdasarkan penjelasan dari para ahli, dapat
disimpulkan bahwa adiksi internet adalah suatu
kebiasaan untuk terus online yang sudah
menjadi keharusan untuk dilakukan oleh individu
demi mendapatkan kesenangan tanpa
mempertimbangkan manfaat yang didapat,
sehingga apabila penggunaan internet
dihentikan akan menimbulkan perasaan tidak
nyaman atau bahkan menimbulkan suatu
gangguan psikologis.
2.2.2. Aspek-aspek Adiksi Internet
Menurut Young (1998) adiksi internet terdiri dari
enam aspek antara lain:
A. Ciri khas (salience)
Aspek salience ini berkaitan dengan timbulnya
pemikiran individu secara berlebihan dan terang-
terangan terhadap internet, yang dapat membuat
individu berfantasi dan berkhayal mengenai internet.
B. Penggunaan yang berlebihan(excessive use)
Hilangnya pengertian tentang penggunaan waktu
yang tepat dan mulai mengabaikan kebutuhan dasar
kehidupan. Aspek ini juga diikuti dengan individu
yang cenderung akan merahasiakan waktu online
nya dari keluarga atau orang terdekat.
C. Antisipasi (anticipation)
Antisipasi ini dapat terjadi apabila individu
menggunakan internet sebagai bentuk coping dari
masalah yang dialami, atau sebagai media pelarian
diri dari masalah yang tengah dihadapi. Hal ini
mengakibatkan individu secara bertahan menjadikan
kegiatan berinternet sebagai kagiatan yang dianggap
pokok dalam hidupnya sehingga akan secara
dominan mengisi ruang pemikiran individu, perasaan
yang dialami dan perilaku dari individu.
D. Mengabaikan pekerjaan (neglect to work)
Individu dengan adiksi internet dapat
mengabaikan pekerjaannya karena aktivitas internet,
hal ini akan membuat produktivitas dan kualitas kerja
yang menurun.
E. Kurang kontrol (lack of control)
Kegagalan dalam mengendalikan diri berakibat
pada bertambahnya pula intensitas dan waktu yang
dihabiskan untuk melakukan kegiatan berinternet
baik berupa durasi atau pun frekuensi yang
digunakan dalam penggunaan internet.
F. Pengabaian kehidupan sosial (neglect to
social life)
Pengabaikan kehidupan sosial terjadi pada
individu yang dengan sengaja mengurangi kegiatan
sosial atau atau menghindari interaksi dengan
lingkungan hanya untuk mengakses internet.
Ditandai dengan individu yang lebih banyak
menggunakan waktunya untuk melakukan kegiatan
yang ada kaitannya dengan internet dan
meminimalisir kegiatan di luar aktivitas yang
berhubungan dengan internet, hal inilah yang
membuat individu menjadi pribadi yang cenderung
mengabaikan aktivitas sosialnya (Young & black,
2017).
Lebih lanjut menurut Gross (2012), aspek- aspek
dari adiksi internet dibagi menjadi 7 aspek antara
lain :
A. Salience
Salience terjadi ketika berkaitan dengan
timbulnya pemikiran individu secara berlebihan dan
terang-terangan terhadap internet, yang dapat
membuat individu berfantasi dan berkhayal
mengenai internet walaupun tidak tengah mengakses
perangkat internet tersebut.
B. Mood modification
Aspek modifikasi suasana hati dapat menjurus
pada pengalaman individu itu sendiri yang
merupakan hasil dari berinternet yang telah
dilakukan yang juga dapat memperlihatkan strategi
coping yang dilakukannya.
C. Tolerance
Aspek ini berupa suatu proses dimana terjadinya
peningkatan intensitas penggunaan internet individu
mulai terjadi yang kemudian berefek pada perubahan
dari suasana hati individu.
D. Withdrawal symptoms
Aspek ini dapat berupa perasaan tidak nyaman
yang terjadi akibat penggunaan internet yang
dikurangi atau terhenti, sehingga membuat individu
mudah marah, cemas, bosan, gugup atau kehilangan
minat dan kesenangan dalam melakukan aktivitas
lain atau merasa terlepas dari dirinya sendiri.
E. Conflict
Aspek dari pada konflik ini mengacu pada
masalah yang terjadi pada pengguna internet
terhadap lingkungan di sekitarnya atau dapat berupa
permasalahan yang terjadi dari dalam diri sendiri
yang disebabkan karena sering menghabiskan waktu
untuk berinternet.
F. Relapse
Relapse yaitu kecenderungan terulangnya lagi
pola berinternet yang tidak tepat setelah adanya
kendali. Hal ini dapat terjadi pada seseorang yang
mencoba untuk berhenti menggunakan internet
secara berlebih tetapi disertai dengan perasaan yang
tidak nyaman sehingga mulai menggunakannya lagi
(Gross, 2012).
Berdasarkan pemahaman di atas dapat
disimpulkan bahwa adiksi internet terdiri dari
beberapa aspek yang meliputi ciri khas (salience),
Penggunaan yang berlebihan (excessive use),
Antisipasi (anticipation), Mengabaikan pekerjaan
(neglect to work), Kurang kontrol (lack of control),
Mengabaikan kehidupan sosial (neglect to social life),
Mood modification, Tolerance, Withdrawal symptoms,
Conflict dan Relapse.
2.2.3. Faktor-Faktor Adiksi internet
Menurut Young dan Black (2017) adiksi internet
terdiri dari beberapa faktor yang meliputi:
A. Faktor Konten/isi
Faktor konten/isi merupakan faktor
memegang peranan besar bagi penyebab
terjadinya adiksi pada seseorang , faktor ini
berkaitan persentase dari banyak orang yang
membutuhkan penanganan klinis yang
mengakses konten berupa video atau game
online. Berbagai konten yang dinilai
menyenangkan dapat di akses secara mudah bagi
setiap orang secara online. Konten sendiri
merupakan bahan mentah dari pada kecanduan
internet tersebut, sedangkan medium internet
merupakan jarum suntik yang yang dapat
menghantarkan konten ke dalam sistem saraf
kita untuk dikonsumsi. Apabila seseorang telah
memperoleh kepuasannya dalam mengakses
suatu konten tertentu dengan mudah maka
seseorang akan menjadi lebih tertarik terhadap
konten lainnya yang biasanya bersifat ilegal atau
sulit ditemukan, kerena hal tersebut dapat
memicu keingintahuan lebih di dalam diri individu
untuk mencoba sesuatu yang baru.
B. Faktor proses dan akses/ketersediaan
Internet dapat menjadi suatu sarana bagi
individu yang ingin menunjukkan kekuatan
pribadinya, seperti saat memerankan sebuah
persona tertentu sesuai dengan yang
diinginkannya. Individu yang juga sering
berfantasi atau berkhayal dalam hal seksualitas
dapat menjadikan internet sebagai suatu sarana
yang sangat mendukung untuk mewujudkan
fantasi seksualnya dengan mudah. Berbagai
game online yang juga memungkinkan terjadinya
interaktivitas sosial dan permainan membuat
individu akan semakin menarik perhatian
seseorang untuk terus memainkannya. Hal ini
dapat terjadi karena sebagian besar game
berbasis internet menambahkan elemen-elemen
yang menarik seperti interaksi sosial, kompetisi
real time, tantangan, prestasi dan lain
sebagainya.
C. Faktor Reinforcement/reward
Faktor Reinforcement/reward merupakan
suatu unsur yang paling signifikan yang berperan
pada sifat adiktif internet dan ternologi media
lainnya. Internet dapat berfungsi sebagai suatu
penguatan dengan rasio yang berubah-ubah.
Baik berupa gaming, konten seksual, surel,
belanja, atau sekedar berseluncur untuk mencari
mencari informasi umum ataupun mencari
berbagai konten menarik lainnya semakin
memperkuat suasana perasaan atau
menstimulasi seseorang untuk terus
menggunakannya sehingga semakin memperkuat
siklus adiktif seseorang.
D. Faktor Sosial
Internet dapat suatu sarana sosial yang dapat
menghubungkan sekaligus dapat mengisolasi
seseorang. Seseorang yang telah memiliki
hubungan sosial yang baik dengan lingkungan
secara nyata dapat memperkuat hubungan yang
telah terjalin dengan menggunakan sosial media
yang dapat diakses dengan mudah. Sedangkan
bagi individu yang cenderung memiliki masalah
dalam lingkungan sosialnya baik dalam hal
emosional dan lain sebagainya dapat
memanfaatkan internet sebagai suatu sarana
untuk mengurangi hubungan interaksinya secara
langsung. Internet yang diakses oleh seseorang
dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan dan
kenyamanan diri yang dirasakan seseorang, hal
inilah yang dapat membuat seseorang dapat
mengalami adiksi secara bertahap.
E. Faktor gen-D
Ketika menyangkut teknologi internet dan
digital, anak-anak remaja saat ini sudah
dibesarkan oleh teknologi secara nyata.
Kecanggihan internet, mudahnya akses internet
dan luasnya jangkauan dari internet ini sendiri
membuat anak-anak ataupun remaja saat ini
dikenal dengan Gen-D (Generation Digital).
seiring dengan kemajuan teknologi yang terus
meningkat , hal ini membuat anak- anak dan para
remaja menjadi semakin terbiasa dalam
mengaplikasikannya secara mulus sehingga
mereka memiliki dasar pengetahuan internet dan
digital yang lebih kuat dibandingkan dengan
orang tuanya. Sehingga orang tua seringkali
memiliki sedikit atau bahkan minim pengetahuan
tentang yang diakses oleh anaknya dan
bagaimana internet itu sendiri bekerja sehingga
orang tua seringkali tidak menyadari tingkat
aktivitas atau penyalahgunaan internet yang
dapat dilakukan oleh anak-anaknya (Young &
Black, 2017).
Berdasarkan penjelasan faktor adiksi internet
di atas dapat disimpulkan bahwa adiksi internet
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu Faktor
Konten/isi, Faktor proses dan akses/ketersediaan,
Faktor Reinforcement/reward, Faktor Sosial dan
Faktor gen-D.
2.2.4. Dampak Adiksi Internet
Menurut Kustiawan dan Utomo (2019),
kecanduan internet dapat menimbulkan
beberapa dampak yang merugikan bagi pelakunya
antara lain :
1. Konten dalam internet seperti game online sering
kali disertai dengan latar belakang atau konten
yang berupa kekerasan, sehingga memicu anak
untuk meningkatkan pemikiran yang agresif baik
dalam perasaannya atau perilaku, dan dapat
membuat turunnya prososial anak untuk
membantu orang lain.
2. Terlalu banyak menggunakan internet dapat
membuat individu menjadi terisolasi dari
lingkungan sosial dan kurang menghabiskan
waktunya untuk aktivitas lain seperti melakukan
pekerjaan rumah, membaca buku, berolahraga,
dan berinteraksi dengan keluarga.
3. Beberapa konten internet yang mengandung
nilai-nilai yang tidak bermoral. Terlebih jika dilihat
dari game online yang mengarah pada perilaku
kekerasan, dendam dan agresif yang justru akan
diberikan pujian dan penghargaan.
4. Internet dapat menimbulkan kebingungan pada
individu antara realitas kehidupannya dengan
dunia fantasinya selama penggunaan internet.
5. Kinerja akademik yang mengalami penurunan.
Berbagai studi telah menunjukkan bahwa individu
yang terus menghabiskan waktunya untuk
bermain internet dengan kendali yang tidak
terkontrol akan diikuti dengan prestasi belajarnya
yang makin memburuk.
6. Internet dapat berefek pada kesehatan yang
merugikan bagi individu, seperti gangguan
postural, kejang, obesitas, gangguan otot dan
rangka.
Lebih lanjut Young (2017), menjelaskan
beberapa dampak atau konsekuensi yang lazim
terjadi pada seseorang yang mengalami adiksi
internet, antara lain:
1. Utang finansial yang berkaitan dengan biaya
peralatan dan layanan internet.
2. Absen dari pekerjaan, sekolah (dipecat, diskors,
dikeluarkan dari sekolah)
3. Ide atau upaya bunuh diri atau benar-benar
bunuh diri sampai meninggal.
4. Tidak memiliki hubungan interpersonal yang
bermakna.
5. Kecanggungan sosial.
6. Gizi buruk.
7. Higiene yang buruk.
8. Konflik keluarga.
9. Spiritualitas atau kesehatan emosional rendah.
10. Gagal memenuhi kewajiban dan tanggung jawab
pribadi.
Berdasarkan paparan di atas dapat disimpulkan
bahwa adiksi internet dapat menimbulkan beberapa
dampak yang merugikan antara lain: meningkatnya
pikiran agresif baik dalam perasaan dan perilaku,
penurunan prososial, membuat anak terisolasi dari
lingkungan sosial, mengarahkan pada perilaku
kekerasan, menimbulkan kebingungan antara
realitas dengan fantasi, prestasi akademik dan
kesehatan yang menurun, utang finansial, absen dari
pekerjaan/sekolah, munculnya ide untuk menyakiti
diri sendiri, hubungan interpersonal yang buruk,
kecanggungan sosial, gizi buruk, higiene yang buruk,
konflik keluarga, menurunkan spiritualitas dan
kesehatan emosional serta kegagalan dalam
memenuhi kewajiban dan tanggung jawab pribadi.
2.2.5. Adiksi Internet Dalam Perspektif Islam
Adiksi internet dalam Al-Qur’an tidak disebutkan
secara langsung dalam penggunaannya, akan tetapi
dalam aplikasinya adiksi internet berkaitan erat
dengan perbuatan membuang-buang waktu untuk
aktivitas yang tidak bermanfaat dan sia-sia. Dalam
hal ini seseorang yang mengalami adisi internet
tentunya akan banyak menghabiskan waktunya
untuk terus mengakses internet dalam
kesehariannya yang tanpa disadari akan berujung
pada hilangnya kesempatan untuk melakukan ibadah
atau aktivitas lain yang membawa kebaikan bagi
dirinya baik di dunia maupun akhirat.
Berikut adalah ayat yang membahas tentang
waktu yang berkaitan dengan kerugian apabila
seseorang melakukan aktivitas yang tidak membawa
manfaat bagi dirinya, yaitu terdapat dalam Surat
Al-Asr ayat 1-3 yang berbunyi:
Artinya : “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu
benar-benar berada dalam kerugian. kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan
amal shalih dan nasehat menasehati supaya
mentaati kebenaran dan nasehat menasehati
supaya menetapi kesabaran.”
Menurut Basyir (2017) makna dari ayat
diatas yaitu pada ayat pertama dan kedua Allah
bersumpah dengan masa, karena berisikan
keajaiban atas kekuasaan Allah yang
menunjukkan kebesaran-Nya, bahwa manusia itu
benar-benar berada dalam kebinasaan dan
kerugian. Namun seorang hamba tidak boleh
bersumpah atas nama selain Allah kerena
bersumpah dengan selain Allah adalah syirik.
Pada ayat ketiga Kecuali pada orang-orang yang
beriman kepada Allah dan mengerjakan amal
shalih, lalu mereka menasehati satu sama lain
supaya berpegang teguh dengan kebenaran dan
melakukan ketaatan, serta bersabar atas hal itu.
Dalam Quran Surat Al-Asr ayat 1-3 dapat
disimpulkan bahwa islam adalah agama yang
sangat menghargai setiap detik, menit, jam dan
setiap hari yang senantiasa dilalui oleh manusia.
Hal ini ditandai dengan sumpah Allah terhadap
waktu yang menandakan bahwa Allah
menginginkan agar manusia dapat
memanfaatkan waktu yang diberikan kepadanya
dengan sebaik mungkin. Menghindari perbuatan
yang sia-sia dan melakukan berbagai hal yang
dapat membawa kemaslahatan bagi hidupnya.
Seseorang yang mengalami adiksi internet akan
menghabiskan waktunya dengan melakukan
sesuatu secara berlebih dan tidak
memperhatikan manfaat yang akan didapat, hal
tentu ini akan membawa kerugian bagi manusia.
Tanpa sadar seseorang yang selalu
menghabiskan waktunya untuk hal yang sia-sia
akan kehilangan kesempatan dan waktunya
untuk beramal salih.
2.3. Hubungan Antara Adiksi Internet dengan
Prestasi Belajar
Menurut Susanti (2019) prestasi belajar
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor
hereditas, motivasi, gaya belajar, lingkungan belajar,
bakat dan minat serta strategi pembelajaran. Salah
satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar
siswa adalah lingkungan belajar. Lingkungan belajar
merupakan tempat yang menyatakan kondisi saat
terjadi proses belajar atau pembelajaran. Lingkungan
tersebut dapat terjadi di lingkungan sekolah dan
lingkungan rumah. Lingkungan belajar pada
prinsipnya digunakan untuk menciptakan
pengalaman yang tidak hanya terbatas di ruang kelas
saja, tetapi di luar ruang kelas. Lingkungan belajar ini
dapat terjadi di dalam dunia teknologi dan virtual. Di
tengah pandemi covid-19, saat ini internet digunakan
sebagai media pembelajaran sekaligus lingkungan
belajar bagi siswa, hal ini membuat siswa semakin
sering berinteraksi dengan internet yang kemudian
mengakibatkan terjadinya adiksi internet pada siswa.
Kemudian young (1998) adalah yang pertama
menemukan bahwa penggunaan eksesif internet
untuk alasan-alasan non-akademik dan
non-profesional berkaitan dengan efek-efek merusak
pada kinerja akademik dan profesional. Sehingga
individu yang mengalami adiksi internet akan
mencurahkan banyak waktu untuk penggunaan
internet seperti memeriksa surel, bermain game ,
ikut ambil bagian di ruang obrolan online, atau
berselancar di website yang kemudian akan
mengakibatkan kegagalan serius di bidang akademik
siswa (Young, 2017).
Sejalan dengan hasil penelitian terbaru yang
dilakukan oleh Das dan Mallik (2021) yang berjudul
“Internet Addiction in relation to Learning
Achievement of Post Graduate level students”
dengan sampel sebanyak 417 peserta menggunakan
teknik sampel random berstrata proporsional dan uji
analisis korelasi pearson yang menunjukkan adanya
hubungan yang signifikan antara adiksi internet
dengan prestasi belajar siswa. Kemudian penelitian
yang dilakukan oleh Mohamed dan Bernouss (2020)
yang berjudul “A cross sectional study on Internat
Addiction amoung Moroccan hight school student, it’s
prevalence and association with poor scholastic
performance” yang dilakukan terhadap 305 siswa
dengan teknik analsis Chi-square yang menunjukkan
bahwa prevalensi adiksi internet di kalangan sekolah
menengah Maroko adalah 15,80%. Hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa adiksi internet
mempengaruhi kehidupan akademik siswa dan
berpotensi merugikan di bidang lain seperti kondisi
kesehatan, kegiatan sosial dan hubungan dengan
keluarga.
Lebih lanjut Pintrich (2000) menjelaskan, ada
empat aspek yang mempengaruhi prestasi individu
yaitu Mastery Approach, Mastery Avoidance,
Performance Approach dan Performance Avoidance
yang dikenal dengan teori prestasi atau achievement
goal theory. Keempat aspek tersebut menunjukkan
perbedaan cara mencapai kesuksesan dan
perbedaan alasan ketertarikan dalam belajar.
Mastery Approach merupakan aspek yang
menunjukkan cara mencapai kesuksesan belajar
dengan mencapai penguasaan pada materi yang
diterima sehingga membuat siswa berfokus pada
proses yang dijalaninya. Mastery Avoidance
merupakan aspek yang menunjukkan pengelakan
penguasaan pada materi yang diterima atau
pergeseran dari proses ke hasil. Performance
Approach merupakan aspek yang menunjukkan
perbuatan yang dilakukan untuk mencapai hasil yang
diinginkan dengan menunjukkan kemampuan yang
ada pada dirinya kepada orang disekitarnya.
Performance Avoidance menunjukkan pengelakan
perbuatan yang dilakukan untuk menghindar dari
memperlihatkan ketidakmampuan yang dimiliki
kepada orang disekitarnya (Wentzel & Wigfield,
2009).
Mastery Avoidance (pengelakan penguasaan)
dalam prestasi belajar dapat terjadi pada individu
yang mengalami adiksi internet (Wentzel & Wigfield,
2009). Seseorang yang mengalami adiksi internet
akan mengalami perubahan dalam tujuan kinerjanya
yang akan membuatnya lalai dalam proses
pembelajaran hingga melupakan apa yang menjadi
tujuan pembelajarannya. melalaikan tugas yang
diberikan, kehilangan fokus dalam belajar hingga
mengabaikan tanggung jawab yang diberikan
kepadanya. Hal inilah yang dapat menyebabkan
seseorang yang mengalami adiksi internet dapat
mengalami penurunan dalam prestasi belajarnya.
2.4. Kerangka konseptual
Gambar 1
Kerangka konseptual
Variabel Bebas Variabel terikat
Adiksi Internet Prestasi Belajar
1. Salience 1. Hereditas
2. Penggunaan 2. Motivasi
berlebihan 3. Gaya belajar
3. Antisipasi 4. Lingkungan belajar
4. Mengabaikan 5. Bakat dan minat
pekerjaan 6. Strategi belajar
5. Kurang kontrol
6. Mengabaikan
kehidupan sosial
Menurut Young (2017) salah satu faktor yang
mempengaruhi prestasi belajar dan akademik siswa
adalah adiksi internet.
2.5. Hipotesis
Berdasarkan penjelasan diatas, hipotesis yang
digunakan dalam penelitian ini yaitu adanya
hubungan antara adiksi internet dengan prestasi
belajar pada siswa Kelas XII SMK Teknologi Nasional
Palembang.