BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teoritis
1. Keaktifan
a. Pengertian Keaktifan
Proses pembelajaran pada hakekatnya untuk mengembangkan aktivitas
dan kreatifitas peserta didik melalui berbagai interaksi dan pengalaman belajar.
Keaktifan belajar siswa merupakan unsur dasar yang penting bagi keberhasilan
proses pembelajaran. Keaktifan adalah kegiatan yang bersifat fisik maupun
mental, yaitu berbuat dan berfikir sebagai suatu rangkaian yang tidak dapat
dipisahkan (Sardiman, 2013:98). Belajar yang berhasil harus melalui berbagai
macam aktifitas, baik aktifitas fisik maupun psikis. Aktivitas fisik adalah siswa
giat aktif dengan anggota badan, membuat sesuatu, bermain maupun bekerja, ia
tidak hanya duduk dan mendengarkan, melihat atau hanya pasif. Siswa yang
memiliki aktifitas psikis (kejiwaan) adalah jika daya jiwanya bekerja sebanyak–
banyaknya atau banyak berfungsi dalam rangka pembelajaran.
Keaktifan siswa dalam kegiatan belajar tidak lain adalah untuk
mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri. Mereka aktif membangun
pemahaman atas persoalan atau segala sesuatu yang mereka hadapi dalam proses
pembelajaran. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia aktif berarti giat (bekerja,
berusaha). Keaktifan diartikan sebagai hal atau keadaan dimana siswa dapat aktif.
Rousseau dalam (Sardiman, 2013:95) menyatakan bahwa setiap orang yang
belajar harus aktif sendiri, tanpa ada aktifitas proses pembelajaran tidak akan
terjadi.
Thorndike (Dimyati, 2014:45) mengemukakan keaktifan belajar siswa
dalam belajar dengan hukum “law of exercise”-nya menyatakan bahwa belajar
memerlukan adanya latihan-latihan dan Mc Keachie (Dimyati, 2014:45).
menyatakan berkenaan dengan prinsip keaktifan mengemukakan bahwa individu
merupakan “manusia belajar yang aktif selalu ingin tahu” Segala pengetahuan
harus diperoleh dengan pengamatan sendiri, pengalaman sendiri, penyelidikan
sendiri, dengan bekerja sendiri dengan fasilitas yang diciptakan sendiri , baik
secara rohani maupun teknik.
4
5
b. Klasifikasi Keaktifan
Banyak jenis aktivitas yang dapat dilakukan oleh siswa di sekolah.
Aktivitas siswa tidak hanya mendengarkan dan mencatat seperti yang lazim
terdapat di sekolah – sekolah tradisonal. Jenis – jenis aktivitas siswa dalam
belajar adalah sebagai berikut (Sardiman, 2013:99).
1) Visual activities, yang termasuk didalamnya misalnya membaca,
memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain.
2) Oral activities, seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran,
mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi.
3) Listening activities, sebagai contoh mendengarkan: percakapan, diskusi ,
musik, pidato.
4) Writing activities, seperti menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin.
5) Drawing activities, misalnya menggambar, membuat grafik, peta, diagram.
6) Motor activities, yang termasuk didalamnya antara lain: melakukan
percobaan, membuat konstruksi, bermain.
7) Mental activities, sebagai contoh misalnya: menanggapi, mengingat,
memecahkan soal, menganalisa, mengambil keputusan.
8) Emotional activities, seperti: menaruh minat, merasa bosan, gembira,
bersemangat, bergairah, tenang.
Salah satu penilaian proses pembelajaran adalah melihat sejauh mana
keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar. Nana Sudjana (2015:
61) menyatakan keaktifan siswa dapat dilihat dalam hal: (1) turut serta dalam
melaksanakan tugas belajarnya; (2) terlibat dalam pemecahan masalah; (3)
Bertanya kepada siswa lain atau guru apabila tidak memahami persoalan yang
dihadapinya; (4) Berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk
pemecahan masalah;(5) Melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk
guru;(6) Menilai kemampuan dirinya dan hasil– hasil yang diperolehnya; (7)
Melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah yang sejenis; (8) Kesempatan
menggunakan atau menerapkan apa yang diperoleh dalam menyelesaikan tugas
atau persoalan yang dihadapinya.
6
c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keaktifan
Keaktifan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang
mempengaruhi keaktifan belajar siswa adalah
1) Memberikan motivasi atau menarik perhatian peserta didik, sehingga mereka
berperan aktif dalam kegiatan pembelajaran;
2) Menjelaskan tujuan instruksional (kemampuan dasar kepada peserta didik);
3) Mengingatkan kompetensi belajar kepada peserta didik;
4) Memberikan stimulus (masalah, topik, dan konsep yang akan dipelajari);
5) Memberikan petunjuk kepada peserta didik cara mempelajari;
6) Memunculkan aktifitas, partisipasi peserta didik dalam kegiatan
pembelajaran,
7) Memberikan umpan balik (feedback);
8) Melakukan tagihan-tagihan kepada peserta didik berupa tes sehingga
kemampuan peserta didik selalu terpantau dan terukur;
9) Menyimpulkan setiap materi yang disampaikan diakhir pembelajaran.
Keaktifan dapat ditingkatkan dan diperbaiki dalam keterlibatan siswa pada
saat belajar. Hal tersebut seperti dijelaskan oleh Moh. Uzer Usman (2013:26-27)
cara untuk memperbaiki keterlibatan siswa diantaranya yaitu abadikan waktu yang
lebih banyak untuk kegiatan belajar mengajar, tingkatkan partisipasi siswa secara
efektif dalam kegiatan belajar mengajar, serta berikanlah pengajaran yang jelas
dan tepat sesuai dengan tujuan mengajar yang akan dicapai. Selain memperbaiki
keterliban siswa juga dijelaskan cara meningkatkan keterlibatan siswa atau
keaktifan siswa dalam belajar. Cara meningkatkan keterlibatan atau keaktifan
siswa dalam belajar adalah mengenali dan membantu anak-anak yang kurang
terlibat dan menyelidiki penyebabnya dan usaha apa yang bisa dilakukan untuk
meningkatkan keaktifan siswa, sesuaikan pengajaran dengan kebutuhan-
kebutuhan individual siswa. Hal ini sangat penting untuk meningkatkan usaha dan
keinginan siswa untuk berfikir secara aktif dalam kegiatan belajar.
Indikator keaktifan belajar sebagai berikut.
1. Aktif membaca materi pembelajaran.
2. Aktif mencatat materi pembelajaran yang disampaikan guru.
3. Aktif mencari informasi materi pembelajaran dari berbagai sumber.
4. Aktif bertanya tentang materi pembelajaran
7
5. Aktif menjawab pertanyaan.
6. Aktif berpendapat tentang materi pembelajaran.
7. Aktif mengerjakan tugas yang diberikan guru.
8. Aktif menyerahkan tugas selesai dikerjakan.
2. Belajar
a. Pengertian Belajar
Sebagai landasan penguraian mengenai apa yang dimaksud dengan belajar,
terlebih dahulu akan dikemukakan beberapa definisi:
Winkel (2014:87) mengemukakan, bahwa belajar adalah suatu perubahan
di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi
yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian.
Dari definisi di atas dapat dikemukakan adanya beberapa elemen penting
yang mencirikan tentang belajar, yaitu:
a). Belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau
pengalaman. Dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan
atau perkembangan tidak dianggap sebagai hasil belajar, seperti perubahan-
perubahan yang terjadi pada seorang bayi.
b). Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai
aspek kepribadian, baik pisik maupun psikis, seperti: perubahan dalam pengertian,
pemecahan suatu masalah atau berpikir, keterampilan kecakapan, kebiasaan, atau
sikap.
Belajar merupakan proses dasar perkembangan hidup manusia. Dengan
belajar manusia akan melakukan perubahan kualitas individu, sehingga tingkah
lakunya berkembang. Semua aktivitas dan prestasi hidup manusia tidak lain
adalah hasil belajar. Kita hidup dan bekerja menurut apa yang telah dipelajari.
Belajar itu bukanlah sekedar pengalaman.
Belajar adalah suatu proses dan bukan suatu hasil. Oleh karena itu
berlangsung secara aktif dan interaktif dengan menggunakan berbagai bentuk
perubahan untuk mencapai suatu tujuan. Maka guru haruslah memberikan
rangsangan dalam rangka membimbing siswa untuk melakukan kegiatan belajar.
Proses belajar berbeda dengan proses kematangan. Kematangan adalah
proses sedemikian hingga tingkah laku dimodifikasi sebagai akibat dan
pertumbuhan dalam perkembangan struktur serta fungsi-fungsi jasmani. Dengan
8
demikian tidak setiap perubahan tingkah laku pada diri individu merupakan hasil
belajar.
Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses
perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya, dalam
memenuhi kebutuhan hidup.
b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Dalam belajar banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dari
sekian banyak faktor yang mempengaruhi belajar, menurut Tabrani (2012:27),
dapat digolongkan menjadi tiga faktor:
1. Faktor Stimuli Belajar
Yang dimaksud stimuli belajar di sini yaitu segala hal di luar individu
yang merangsang individu untuk mengadakan reaksi atau perubahan belajar.
Stimuli dalam hal ini mencangkup material penugasan, serta suasana lingkungan
eksternal yang harus diterima atau dipelajari oleh siswa. Berikut ini dikemukakan
beberapa hal yang berhubungan dengan faktor-faktor belajar:
1) Panjangnya bahan pelajaran.
Panjangnya bahan pelajaran berhubungan dengan banyaknya bahan
pelajaran. Semakin panjang bahan pelajaran, semakin panjang pula waktu yang
diperlukan oleh siswa untuk mempelajarinya. Bahan yang terlalu panjang atau
terlalu banyak dapat menyebabkan kesulitan siswa dalam belajar. Kesulitan siswa
itu tidak semata-mata karena panjangnya waktu untuk belajar, melainkan lebih
berhubungan dengan faktor kelemahan atau faktor kejenuhan siswa dalam
menghadapi atau mengerjakan bahan yang banyak.
2) Kesulitan bahan pelajaran.
Tiap-tiap bahan pelajaran mempunyai tingkat kesulitan yang berbeda.
Tingkat sulit bahan pelajaran makin lambat orang mempelajarinya. Bahan yang
sulit memerlukan aktivitas belajar yang lebih intensif, sedangkan bahan yang
sederhana mempengaruhi intensitas belajar seseorang.
3) Beratnya bahan pelajaran.
Belajar memerlukan modal pengalaman yang diperoleh dari belajar
sebelumnya. Modal pengalaman itu dapat berupa penguasaan bahasa,
pengetahuan dan prinsip-prinsip. Modal pengalaman itu menentukan keberartian
bahan yang dipelajari pada waktu sekarang. Bahan yang berarti adalah bahan yang
9
dapat dikenali. Bahan yang berarti memungkinkan siswa untuk belajar, karena
siswa dapat mengenalnya. Bahan yang tanpa arti, sukar dikenali akibat tidak ada
perhatian siswa terhadap bahan itu.
4) Berat ringannya tugas
Mengenalinya berat ringannya tugas, hal ini erat kaitanya dengan tingkat
kemampuan siswa. Tugas yang sama kesukaranya berbeda bagi masing-masing
siswa. Hal ini disebabkan karena kapasitas intelektual serta pengalaman mereka
yang tidak sama. Boleh jadi pula, berat ringannya tugas berhubungan dengan usia
siswa. Ini berarti bahwa kematangan individu ikut menjadi indikator atas berat
atau ringannya tugas bagi siswa yang bersangkutan.
5). Suasana lingkungan eksternal
Suasana lingkunngan eksternal menyangkut banyak hal antara lain: cuaca,
waktu, kondisi, tempat, penerangan dan sebagainya. Faktor-faktor ini
mempengaruhi sikap dan interaksi siswa dalam aktivitas belajarnya, sebab siswa
yang belajar adalah interaksi dengan lingkungannya.
1. Faktor Metode Belajar
Faktor metode belajar menyangkut hal-hal sebagai berikut:
a) Kegiatan berlatih dan praktik
Berlatih dapat diberikan secara marathon (non stop) atau secara distribusi
(dengan selingan waktu istirahat). Latihan yang diberikan secara marathon dapat
melelahkan dan membosankan sedangkan latihan yang didistribusi menjamin
terpeliharanya stamina dan kegairahan belajar. Jam pelajaran yang terlalu panjang
kurang efektif, semakin pendek distribusi waktu untuk latihan semakin efektif
latihan itu. Latihan memerlukan waktu istirahat yang sedang, lamanya tergantung
tugas atau ketrampilan yang dipelajari atau lamanya waktu pelaksanaan seluruh
kegiatan.
b) Resitasi selama belajar
Kombinasi lamanya dengan resitasi (transfer belajar) sangat bermanfaat
untuk meningkatkan kemampuan membaca itu maupun untuk menghafalkan tanpa
melihat bacaannya. Jika setelah menguasai suatu bagian dapat melanjutkan ke
bagian selanjutnya. Resitasi sangat cocok diterapkan pada belajar membaca dan
menghafal.
10
c) Pengenalan tentang hasil belajar
Dalam proses belajar, sering mengabaikan tentang perkembangan hasil
belajar selama dalam belum belajarnya. Hasil penelitian para ahli psikologi
menunjukkan bahwa pengenalan seorang terhadap hasil atau kemajuan belajarnya
adalah penting, karena dengan mengetahui yang telah dicapai seseorang akan
lebih berusaha meningkatkan hasil belajar selanjutnya.
d) Bimbingan dalam belajar.
Bimbingan yang terlalu banyak yang diberikan oleh seorang guru atau
orang lain cenderung membuat siswa tergantung. Bimbingan menjadi dapat
diberikan dalam batas yang diperlukan siswa. Hal yang paling penting yaitu
perlunya pemberian modal kecakapan pada individu. Sehingga yang bersangkutan
dapat melaksanakan tugas yang diberikan dengan sedikit saja bantuan dari pihak
lain.
1. Faktor Individual
Kecuali faktor stimulasi dan metode balajar, faktor individual sangat besar
pengaruhnya terhadap belajar siswa. Adapun faktor itu menyangkut hal-hal
sebagai berikut:
a) Kematangan
Kematangan dicapai individu dari proses pertumbuhan psikologisnya.
Kematangan terjadi akibat perubahan kuantitatif di dalam struktur jasmani
dibarengi dengan perubahan kuantitatif terhadap struktur tersebut. Kematangan
memberi kondisi pada fungsi psikologis termasuk sistem saraf dan otak menjadi
berkembang.
b) Minat
Menurut Slameto, minat adalah kecenderungan yang tetap untuk
memperhatikan dan memegang beberapa kegiatan yang diminati seseorang,
diperhatikan terus menerus yang disertai rasa senang. (Slameto, 2012:57).
Minat besar pengaruhnya terhadap prestasi belajar, karena apabila bahan
pelajaran tidak diminati siswa siswi tersebut akan malas dalam belajarnya. Jika
terdapat siswa yang kurang minat terhadap belajar biarkan atau dapatlah
diusahakan agar ia lebih mempunyai minat yang lebih besar dengan menjelaskan
hal-hal yang menarik.
11
c). Bakat
Masih menurut Slameto, bakat adalah kemampuan untuk belajar. Karena
kemampuan itu baru terealisir menjadi kecakapan yang nyata setelah belajar dan
berlatih. (Slameto, 2012:59)
Bakat itu juga mempengaruhi prestasi belajar siswa jika bahan pelajaran
sesuai dengan bakat siswa, hasil, pelajaran akan lebih baik karena ia akan senang
terhadap bahan pelajaran tersebut, selanjutnya mereka akan lebih giat lagi, oleh
karena itu penting sekali untuk mengetahui bakat dari siswa dan menempatkan
siswa di sekolah yang sesuai dengan bakatnya.
d) Kesiapan.
Kesiapan itu timbul dari siswa itu sendiri dan juga berhubungan dengan
kesiapan pisik dan mental serta siswa yang bersangkutan. Dengan sudah siapnya
untuk menerima pelajaran, hasil pelajaran akan lebih baik, lain halnya apabila
belum siap menerima pelajaran. Prestasi yang dihasilkan akan lebih rendah.
Dengan demikian faktor kesiapan juga berpengaruh pada prestasi siswa.
e) Faktor usia kronologis
Pertambahan dalam usia selalu dibarengi dengan proses pertumbuhan dan
perkembangan. Semakin tua usia anak semakin meningkat pula kematangan
berbagai fungsi Fisiologisnya. Anak yang lebih tua lebih kuat, lebih besar, lebih
sanggup melaksanakan tugas-tugas yang lebih berat, lebih mampu mengarahkan
energi dan perhatianya dalam waktu yang lebih lama, lebih memiliki koordinasi
gerak kebiasaan kerja dan ingatan yang lebih baik dan tingkat kemampuan belajar
siswa.
f) Faktor perbedaan jenis kelamin
Hingga saat ini belum ada petunjuk yang menguatkan tentang adanya
perbedaan skill, sikap, minat, temperamen, bakat dan pola-pola tingkah laku
sebagai akibat dari perbedaan jenis kelamin.
g) Pengalaman sebelumnya
Pengalaman yang diperoleh individu ikut mempengaruhi belajar yang
bersangkutan, terutama dalam hal transfer belajarnya.
h) Kondisi kesehatan rohani
Gangguan terhadap cacat-cacat mental pada seseorang sangat mengganggu
belajar orang yang bersangkutan.
12
i) Motivasi
Motivasi yang berhubungan dengan kebutuhan, motif dan tujuan, sangat
mempengaruhi kegiatan dan hasil belajar. Motivasi adalah sangat penting bagi
proses belajar karena motivasi menggerakan organisme, mengarahkan tindakan
serta memilih tujuan belajar yang dirasakan penting bagi siswa.
2. Materi Membatik
a. Mengenal Batik Nusantara
Sejak masa lalu Indonesia telah menggunakan produk batik sebagai alat
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mulai dari pakaian hingga kebutuhan
ritual budaya. Dalam sejarahnya, secara magis pemilihan teknik rintang warna
(resist dyeing) pada batik ditujukan untuk mengundang keterlibatan roh
pelindung guna menolak pengaruh roh jahat. Para ahli meneliti berdasarkan
lukisan-lukisan yang ada pada dinding goa-goa di Indonesia. Kegiatan merintang
warna ini sudah dilakukan oleh manusia purba. Gambar yang paling sering
muncul adalah gambar tapak tangan yang dibubuhi pigmen merah. Jadi, dapat
digambarkan bahwa teknik perintangan warna pada pembuatan kain batik ini
dipengaruhi oleh konsep kepercayaan.
Dari teknik perintang warna tersebut, sejak dahulu pula masyarakat
Indonesia telah mengenal kain jumputan atau ikat pelangi atau sasirangan atau
ikat celup (tie dye). Dalam perkembangannya batik menjadi kegiatan berkarya
dengan teknik yang sama yaitu merintang kain. Teknik membatik merupakan
media yang dapat mempresentasikan bentuk yang lebih lentur, rinci, rajin, tapi
juga mudah. Teknik batik tepat untuk mempresentasikan bentuk-bentuk flora,
fauna, serta sifat-sifat bentuk rumit lainnya.
Gambar 2.1 Batik Bentuk Flora
Pada batik terdapat ragam hias yang beraneka rupa. Ragam hias batik
merupakan ekspresi yang menyatakan keadaan diri dan lingkungan penciptanya.
13
Ragam hias diciptakan atas dasar imajinasi perorangan ataupun kelompok.
Hampir secara keseluruhan, ragam hias batik dapat menceritakan tujuan atau
harapan perorangan atau kelompok tadi. Apabila ragam hias yang diciptakan
dipakai berulang-ulang dan terus-menerus maka akan menjadi sebuah kebiasan
yang lama kelamaan pula akan terbentuk tradisi dari sekelompok masyarakat
tertentu.
Berdasarkan perkembangannya, ragam hias batik sangat dipengaruhi oleh
budaya luar sehingga dihasilkan corak batik yang beraneka ragam. Berdasarkan
wilayah penyebaran motif pada kain batik dan dilihat juga dari periode
perkembangan batik di Indonesia, batik dapat dibagi menjadi dua, yaitu batik
pedalaman atau sering disebut dengan klasik dan batik pesisir. Kedua istilah batik
ini tidak hanya berlaku pada masa dahulu, tetap berlangsung hingga saat ini.
Pembeda kedua istilah batik ini terdapat pada cara pembuatannya dan motif atau
corak yang ada pada kain batik tersebut. Untuk lebih jelasnya, perhatikan uraian
berikut.
a. Batik Pedalaman (Klasik)
Batik pedalaman adalah pengkategorian batik yang berkembang di masa
lalu. Dahulu pembatik-pembatik hanya ditemui di daerah pedalaman. Selain itu,
juga tidak sembarang orang dapat melakukan proses pembatikan, sehingga jarang
dijumpai di lingkungan masyarakat luas.
Pada masa kejayaan kerajaan di Indonesia seperti Majapahit, kain batik
hanya ditemui di kalangan raja-raja saja dan hanya petinggi kraton yang boleh
mengenakan kain batik. Oleh karena itu pembatik hanya dapat dijumpai di
lingkungan keraton. Batik keraton adalah batik yang tumbuh dan berkembang di
atas dasar-dasar filsafat kebudayaan Jawa yang mengacu pada nilai-nilai spiritual.
Batik tersebut terdapat harmonisasi antara alam semesta yang tertib, serasi, dan
seimbang.
Para pembatik keraton membuat batik dengan cara yang tidak biasa, yaitu
menggunakan banyak proses dan ritual pembatikan. Para pembatik kraton ibarat
ibadah, suatu seni tinggi yang patuh pada aturan serta arahan arsitokrat Jawa.
Istilah-istilah batik pun mulai dikenal sejak jaman ini dan hampir semuanya
menggunakan istilah dalam bahasa Jawa. Ragam hias yang diciptakan pun
bernuansa kontemplatif, tertib, simetris, bertata warna terbatas seperti hitam, biru
14
tua (wedelan), dan soga/coklat. Ragam hias ini memiliki makna simbolik yang
beragam. Oleh karena itu batik dikenal masyarakat sebagai kebudayaan nenek
moyang dari daerah Jawa. Batik pedalaman sering disebut juga sebagai batik
klasik. Hal ini sesuai dengan beberapa alasan di atas. Namun akibat
perkembangan masyarakat, maka batik dapat keluar dari kalangan keraton dan
menyebar ke seluruh pelosok tanah air, sejalan dengan adanya integrasi budaya.
b. Batik Pesisir
Batik pesisir adalah batik yang berkembang di masyarakat yang tinggal di
luar benteng keraton, sebagai akibat dari pengaruh budaya daerah di luar Pulau
Jawa. Selain itu, adanya pengaruh budaya asing seperti Cina dan India, termasuk
agama Hindu dan Budha, hal ini menyebabkan batik tumbuh dengan berbagai
corak yang beraneka ragam. Para pembatik daerah pesisir merupakan rakyat jelata
yang membatik sebagai pekerjaan sambilan (pengisi waktu luang) yang sangat
bebas aturan, tanpa patokan teknis. Oleh sebab itu, ragam hias yang diciptakan
cenderung bebas, spontan, dan kasar dibandingkan dengan batik keraton.
Para pembatik pesisir lebih menyukai cara-cara yang dapat mengeksplorasi
batik seluas-luasnya sehingga banyak ditemui warna-warna yang tidak pernah
dijumpai pada batik pedalaman/klasik.
Warna-warna yang digunakan mengikuti selera masyarakat luas yang
bersifat dinamis, seperti merah, biru, hijau, kuning, bahkan ada pula yang oranye,
ungu, dan warna-warna muda lainnya.
Ragam hias pada karya batik Indonesia sangat banyak. Tentunya masing-
masing motif memiliki makna sesuai dengan budaya masing-masing daerah. Di
bawah ini ditampilkan beberapa motif dengan makna simboliknya
Motif trumtum, merupakan lambang cinta kasih yang tulus tanpa syarat,
abadi, dan semakin lama semakin terasa subur berkembang (tumaruntum). Motif
bunga dan tumbuhan memiliki makna untuk selalu menjaga kelestarian alam.
Bicara mengenai batik tak lengkap rasanya apabila tidak membahas
mengenai ragam motif batik khas berbagai daerah di Indonesia. Berikut beberapa
motif batik yang populer di Indonesia.
15
1. Batik Megamendung
Gambar 2.2 Motif Batik Megamendung
Batik Megamendung merupakan motif kain batik khas daerah Cirebon.
Motif batik Megamendung sangat khas dengan bentuk awan besar berwarna cerah
dan mencolok. Beberapa warna yang umum digunakan pada batik Megamendung
adalah biru, merah tua, ungu, dan hijau tua.
2. Batik Tujuh Rupa Pekalongan
Gambar 2.3 Motif Batik Tujuh Rupa Pekalongan
Pekalongan merupakan salah satu daerah yang terkenal sebagai daerah
pengrajin batik dan pusat batik. Berbagai motif batik yang elegan banyak
dihasilkan di kota Pekalongan. Ciri khas batik Pekalongan yakni didominasi
dengan motif tumbuh-tumbuhan dan hewan. Batik Pekalongan akan sangat cantik
apabila dikombinasikan dengan pakaian berbahan polos.
3. Batik Parang Rusak
Gambar 2.4 Motif Batik Parang Rusak
16
Motif batik ini pasti sering sekali kalian lihat. Motif batik Parang Rusak
merupakan motif batik yang sangat populer di kalangan pecinta batik. Motif batik
Parang Rusak mengandung arti mendalam, yakni peperangan manusia dalam
melawan sifat buruk dan nafsu selama hidup. Batik Parang Rusak sangat sering
digunakan untuk berbagai kerajinan berbahan batik.
4. Batik Keraton
Gambar 2.5 Motif Batik Keraton
Batik Keraton merupakan batik yang awalnya dibuat oleh para putri dan
pengrajin batik yang ada di lingkungan Keraton. Motif batik Keraton ini sangat
kental dengan nuansa elegan, sakral dan sarat akan filosofi kehidupan. Karenanya,
dulu batik Keraton hanya boleh digunakan oleh sebagian orang saja.
5. Batik Priyangan Tasikmalaya
Gambar 2.6 Motif Batik Priyangan
Batik Priyangan Tasikmalaya terkenal dengan ciri khasnya yang memiliki
corak yang rapat, rapi, dan berkelas. Dominasi motif rumput dan tumbuh-
tumbuhan menjadi identitas utama batik Priyangan.
17
6. Batik Lasem
Gambar 2.7 Motif Batik Lasem
Batik Lasem adalah batik yang berasal dari daerah bernama Lasem yang
terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Batik Lasem memiliki ciri
khas warna merah menyala. Hal ini disebabkan karena batik Lasem sangat
dipengaruhi oleh kebudayaan Cina.
7. Batik Bali
Gambar 2.8 Motif Batik Bali
Ragam batik khas Pulau Dewata ini juga tak kalah populer, lho! Motif
batik Bali banyak terinspirasi dari berbagai hewan seperti kura-kura, burung
bangau, dan rusa. Warna-warna yang digunakan pada batik Bali juga dominan
warna cerah, seperti biru, kuning, dan ungu.
18
8. Batik Pring Sedapur Magetan
Gambar 2.9 Motif Batik Pring Sedapur
Batik Pring Sedapur Magetan merupakan pilihan batik dengan motif
sederhana dan simpel. Meskipun begitu, batik Pring Sedapur sarat akan makna
filosofis. Motif batik ini didominasi oleh gambar-gambar tanaman bambu yang
mengandung arti hidup rukun dan tentram.
9. Batik Malang
Gambar 2.10 Motif Batik Malang
Kota Malang, Jawa Timur juga punya motif batik kebanggaan. Batik
Malang memiliki ciri khas warna cerah. Motif batik Malang juga unik, yakni
kombinasi gambar-gambar candi yang ada di kota tersebut.
10. Batik Betawi
Gambar 2.11 Motif Batik Betawi
Pilihan warna-warna cerah yang mencolok dipadukan dengan motif unik
khas Betawi seperti ondel-ondel, pucuk rebung, nusa kelapa, dan gambang
kromong menjadi ciri khas batik Betawi.
19
b. Membuat Pola Batik
Apa yang pertama kali kita lakukan ketika pertama kali membuat sebuah
batik ? Pertama kali yang harus dilakukan adalah membuat perencanaan. Salah
satu langkah perencanaan tersebut adalah membuat gambar pola atau gambar
rencana. Dalam membuat gambar pola atau rencana ada beberapa cara
diantaranya adalah :
1. Menjiplak
Menjiplak adalah pembuatan pola yang dilakukan dengan cara
menduplikasi pola yang sudah ada. Penjiplakan dilakukan dalam rangka untuk
memperbanyak desain motif ke atas kain yang akan dibuat batik. Jadi menjiplak
dilakukan untuk memindahkan gambar rencana di atas kertas ke kain mori.
Langkah/ cara menjiplak adalah sebagai berikut :
a. Gambar pola diletakkan diatas meja
b. Diatas gambar pola diletakkan kain mori yang akan dibuat batik.
(langkah ini hanya untuk membuat satu kali duplikasi/ jiplakan)
c. Mori dijepit/ dipaku agar tidak bergeser atau berubah posisi.
d. Pada permukaan mori digambar sesuai pola yang diterawang dengan
menggunakan pensil. Pekerjaan ini biasanya disebut dengan mola.
e. Apabila akan melakukan lebih dari satu duplikasi maka pada setiap lembar
mori diatasnya kita letakkan kertas karbon sesuai dengan jumlah mori
yang akan diduplikasi, berikutnya pada tumpukan paling atas diletakkan
gambar pola/ rencana dan digambar ulang pola tersebut dengan pensil
sambil ditekan.
2. Mencontoh
Mencontoh adalah menduplikasi pola secara langsung dengan cara melihat
pola yang sudah ada ke atas mori. Dengan demikian goresan satu batik dengan
batik yang lain tidak sama dengan aslinya.
3. Merancang
Merancang sering disebut juga mendesain. Dalam membatik diperlukan
desain. Bagaimana cara mendesain batik ? Berikut adalah cara mendesain batik
secara sederhana ;
1. Tentukan bidang yang akan dihias.
2. Buatlah rancangan garis besar hiasan pokoknya.
20
3. Buatlah pola motif hiasan pokok.
4. Lengkapi pola pokok dengan motif-motif pelengkap.
5. Warnai pola sesuai yang diinginkan.
Gambar 2.12 Membuat Pola Batik pada Kain
c. Proses Pembuatan Batik
a) Bahan Produksi Batik
Bahan utama yang digunakan dalam membatik adalah kain katun putih,
malam, dan zat pewarna sintetis atau alami.
1) Kain putih
Kain katun putih yang biasa digunakan adalah kain primissima, kain
prima, kain merses, kain sutra, dan katun doby. Kain katun lebih mudah menyerap
zat warna dengan baik dibanding jenis poliester. Di bawah ini beberapa contoh
kain katun.
2) Malam/Lilin
Lilin yang biasa disebut malam ialah bahan yang dipergunakan untuk
membatik. Sebelum digunakan, lillin atau malam harus dicairkan terlebih dahulu
dengan cara dipanaskan di atas kompor. Malam yang dipergunakan untuk
membatik berbeda dengan malam atau lilin biasa. Malam untuk membatik bersifat
cepat menyerap, pada kain tidak mudah copot saat pencelupan, tetapi dapat
dengan mudah lepas ketika proses pelorotan Lilin malam dalam proses pembuatan
batik tulis berfungsi untuk merintang warna agar tidak masuk ke dalam serat kain
di bagian yang tidak dikehendaki. Bagian yang akan diwarnai dibiarkan tidak
ditutupi malam.
3) Zat Pewarna Batik
Pewarna batik terdapat dua jenis yaitu pewarna sintetis dan pewarna alami.
Pewarna sintetis berbentuk bubuk, penggunaannya harus dilarutkan air terlebih
dahulu. Pewarna sintetis untuk batik terdiri dari napthol, indigosol, reaktif, dan
21
frozen. Sedangkan pewarna alami berbentuk padat yang direbus dalam beberapa
jam, hingga menghasilkan ekstrak zat warna alamnya. Pewarna alami di antaranya
kayu secang, kulit manggis, daun indigo, dan jelawe.
b) Alat Produksi Batik
Peralatan batik terdiri dari berbagai macam, namun yang utama adalah
kompor, wajan, dan canting.
1) Canting
Canting adalah alat yang dipakai untuk memindahkan atau mengambil
cairan. Canting terdiri dari canting tulis dan canting cap. Canting berfungsi
semacam pena, yang diisi lilin malam cair sebagai tintanya.
Canting tulis terdiri dari beberapa cecek (lubang), ada yang terdiri dari satu
dengan berbagai ukuran kecil, sedang dan besar. Selain itu, ada yang memiliki
cucuk 2 dan cucuk 3. Bahkan, perkembangan teknologi telah menggerakkan
generasi muda untuk menciptakan canting yang dapat dikendalikan dengan listrik.
Canting jenis ini tidak membutuhkan kompor untuk memanaskan malam.
Canting cap adalah alat yang terbuat dari tembaga yang dibentuk sesuai
dengan gambar atau motif yang dikehendaki. Motif pada cap cenderung
pengulangan. Cap digunakan dengan maksud mengejar harga jual yang lebih
murah dan waktu produksi yang lebih cepat. Membatik dengan cap harus dialasi
dengan bahan berlapis-lapis yang berisi karung, spon, kain, dan plastik. Spon
digunakan untuk menampung air, agar alas dalam keadan lembab, untuk
mempercepat kekeringan malam saat dicap ke atas kain. Selain itu dibutuhkan
wajan malam tersendiri yang berukuran bulat dan lebar, yang dapat menampung
alat cap yang digunakan
2) Kompor
Kompor adalah alat untuk membuat api untuk memanaskan lilin malam.
Kompor yang biasa digunakan adalah kompor dengan bahan bakar minyak.
Namun sekarang ini juga telah banyak digunakan kompor jenis listrik dan gas
mengingat bahan bakar minyak tanah semakin sulit dicari. Wajan ialah perkakas
yang digunakan untuk mencairkan malam. Wajan dibuat dari logam baja, atau
tanah liat. Wajan sebaiknya bertangkai supaya mudah diangkat dan diturunkan
dari perapian tanpa menggunakan alat lain.
22
Adapun alat lain yang digunakan dalam membatik di antaranya dingklik;
kursi pendek, pemidangan atau gawangan untuk membentangkan kain, bandul
timah untuk pemberat kain, pola batik, ember, panci, dan wadah penampung
limbah malam.
Dalam proses pembuatan batik dikenal ada tiga teknik, yaitu teknik cap,
teknik tulis, serta teknik campuran cap dan tulis. Batik dengan teknik cap
diperuntukkan dalam pembuatan batik dengan bentuk pengulangan motif. Motif
yang dibuat diperhitungkan dengan ilmu ukur sehingga hasilnya akan sesuai
dengan keinginan. Batik cap tidak memerlukan pola di atas kertas. Dengan
menggunakan cap, pengrajin sudah mengetahui secara pasti pola yang akan
dihasilkan.
Batik tulis dikerjakan dengan menggunakan canting dalam membentuk
gambar awal pada permukaan kain. Bentuk gambar pada batik tulis nampak lebih
luwes dengan ukuran garis motif yang relatif bisa lebih kecil dibandingkan dengan
batik cap. Meskipun demikian, batik tulis dapat pula dibuat mengulang bentuk.
Oleh sebab itu, diperlukan pola yang dibuat pada kertas pola dengan ukuran
sebesar kain. Gambar batik tulis bisa dilihat pada kedua sisi kain. Gambar tampak
lebih rata (tembus bolak-balik), terutama batik tulis yang halus. Sementara itu
batik dengan teknik campuran cap dan tulis diperuntukkan untuk meningkatkan
kuantitas produksi pesanan. Tujuannya agar pekerjaan menjadi lebih cepat dan
mudah.
Proses pembuatan batik tulis terdiri dari berbagai versi sesuai kebiasaan
dan kebutuhan pengrajin di masing-masing daerah. Istilah yang digunakan dalam
pembatikan biasanya menggunakan istilah dalam bahasa Jawa.
Proses pembatikan dapat diuraikan sebagai berikut.
a. Nganji : Pemberian kanji setelah kain dicuci. Kegiatan pemberian kanji dapat
dilakukan sesuai keinginan dan kebiasaan.
b. Ngemplong : Penghalusan permukaan kain dengan cara dipukul-pukul
menggunakan alat pemukul dari kayu agar kain tidak kaku dan mudah
menyerap malam dan warna.
c. Nyungging : Membuat pola di atas kertas.
d. Nuaplak : Menjiplak pola dari kertas ke kain.
e. Nglowong : Memberi lilin/malam pada kain sesuai pola.
23
f. Ngiseni : Memberi isian motif ke dalam pola besar.
g. Nembok : Penutupan pada bagian-bagian tertentu dengan malam agar tetap
berwarna putih saat dilorot.
h. Nyolet : Memberi warna dengan kuas atau kayu dengan ujung spon.
i. Nyelup : Memberi warna pada kain dengan pencelupan.
j. Mopok : Memberi isian pada latar belakang pola.
k. Nglorod : Membuang lilin/malam yang sudah tidak diperlukan lagi agar motif
batik terlihat.
l. Nanahi : Memberi isian dengan malam pada latar belakang pola.
m. Selanjutnya dapat dilakukan pencelupan warna terakhir dan pelorotan.
Gambar 2.11 Alat-alat Membatik
Gambar 2.13 Alat-alat Membatik
c) Cara Membuat Batik
Sebelum membuat batik seharusnya adalah mempersiapkan alat dan bahan
diantaranya adalah:
1. Kain mori (bisa terbuat dari sutra atau katun)
2. Canting sebagai alat pembentuk motif
3. Gawangan (tempat untuk menyampirkan kain)
4. Lilin/malam yang dicairkan
5. Panci/wajan kecil dan kompor kecil untuk memanaskan
6. Larutan pewarna
Adapun tahapan-tahapan dalam pembuatan proses batik tulis ini adalah:
1. Langkah pertama adalah membuat desain batik yang biasa disebut molani.
2. Setelah selesai melakukan molani, langkah kedua adalah melukis dengan lilin
(malam) menggunakan canting (dikandangi/dicentangi) dengan mengikuti
pola tersebut.
24
3. Tahap selanjutnya, menutupi dengan lilin malam bagian-bagian yang akan
tetap berwarna putih (tidak berwarna).
4. Tahap berikutnya, proses pewarnaan pertama pada bagian yang tidak tertutup
oleh lilin dengan mencelupkan kain tersebut pada warna tertentu.
5. Setelah dicelupkan, kain tersebut dijemur dan dikeringkan.
6. Setelah kering, kembali melakukan proses pembatikan yaitu melukis dengan
lilin malam menggunakan canting untuk menutup bagian yang akan tetap
dipertahankan pada pewarnaan yang pertama.
7. Kemudian, dilanjutkan dengan proses pencelupan warna yang kedua.
8. Proses berikutnya, menghilangkan lilin malam dari kain tersebut dengan cara
meletakkan kain tersebut dengan air panas diatas tungku.
9. Setelah kain bersih dari lilin dan kering, dapat dilakukan kembali proses
pembatikan dengan penutupan lilin (menggunakan alat canting) untuk
menahan warna pertama dan
kedua.
10. Proses membuka dan menutup lilin malam dapat dilakukan berulangkali
sesuai dengan banyaknya warna dan kompleksitas motif yang diinginkan.
11. Proses selanjutnya adalah nglorot, dimana kain yang telah berubah warna
direbus air panas. Tujuannya adalah untuk menghilangkan lapisan lilin,
sehingga motif yang yang telah digambar sebelumnya terlihat jelas.
12. Proses terakhir adalah mencuci kain batik tersebut dan kemudian
mengeringkannya dengan menjemurnya sebelum dapat digunakan dan
dipakai.
Gambar 2.14 Membatik
25
3. Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi merupakan metode mengajar yang sangat efektif
untuk membantu siswa dalam mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan
seperti:bagaimana cara membuatnya? Terdiri dari bahan apa? Bagaimana cara
mengaturnya? Bagaimana proses bekerjanya?.Setiap mata pelajaran dalam proses
belajar mengajar, sering kali guru hanya memakai metode ceramah dan
[Link] pendapat ahli tentang pengertian metode demonstrasi antara lain :
Tabrani Rusyan (2014:106) mengatakan bahwa metode demonstrasi adalah
merupakan pertunjukan tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda
sampai pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan. Demonstrasi adalah cara
mengajar dimana seorang guru menunjukkan atau memperlihatkan suatu proses
(Roestyah,N.K, 2012: 83).
Sehubungan dengan pengertian di atas dapat dinyatakan bahwa metode
demonstrasi adalah menunjukkan proses terjadinya sesuatu, agar pemahaman
siswa terhadap pelajaran akan lebih berkesan secara mendalam sehingga
membentuk pengertian dengan baik dan sempurna serta hasil belajar yang lebih
baik. Karena itu, demonstrasi dapat dibagi menjadi dua tujuan (Suprijanto
2012:143).
1. Demonstrasi cara
Menunjukkan bagaimana mengerjakan sesuatu, ini termasuk bahan-bahan
yang digunakan dalam pekerjaan yang sedang diajarkan, memperlihatkan apa
yang dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya, serta menjelaskan setiap
langkah mengerjakannya.
2. Demonstrasi hasil
Menunjukkan hasil dari beberapa praktik dengan menggunakan bukti-bukti
yang dapat dilihat, didengar, dan dirasakan.
4. Sintaksis Model Pembelajaran Membatik Melalui Teknik Demonstrasi.
Sintaksis model pembelajaran membatik melalui teknik demonstrasi
di kelas VII F sebagai berikut :
Fase 1 : Menyampaikan a. Peserta didik disiapkan secara fisik dan psikis
tujuan dan mempersiapkan untuk mengikuti pembelajaran dengan
peserta didik berdoa, menanyakan kehadiran peserta didik,
kebersihan dan kerapian kelas, kesiapan buku
26
tulis dan sumber belajar.
b. Melakukan apersepsi dengan tanya jawab
mengenai materi pola batik.
c. Menyampaikan kompetensi dasar dan tujuan
pembelajaran yang akan dicapai.
d. Guru membimbing peserta didik melalui tanya-
jawab tentang manfaat proses pembelajaran.
e. Guru menjelaskan teknik penilaian.
Fase 2 : Menyajikan a. Menjelaskan materi KD 4.2 Merancang, membuat,
informasi dan menyajikan produk kerajinan dari bahan serat dan
tekstil yang kreatif dan inovatif, sesuai dengan potensi
daerah setempat pada indikator merancang pola
batik di atas kain.
b. Guru menjelaskan langkah - langkah
pembelajaran menggunakan teknik demonstrasi.
Fase 3 : Mengorganisir a. Guru membagi siswa menjadi 6 kelompok, tiap
peserta didik ke dalam tim kelompok terdiri dari 5-6 siswa.
– tim belajar b. Guru membagikan gambar pola batik yang
berbeda kepada masing-masing kelompok.
c. Siswa mengamati gambar pola batik yang
dibagikan guru.
d. Guru memerintahkan tiap-tiap kelompok siswa
untuk menggambar pola batik di atas kain, yaitu :
Kelompok 1 : Menggambar pola batik
megamendung
Kelompok 2 : Menggambar pola batik parang
rusak
Kelompok 3 : Menggambar pola batik keraton
Kelompok 4 : Menggambar pola batik Bali
Kelompok 5 : Menggambar pola batik pring
sedapur
Kelompok 6 : Menggambar pola batik Betawi
27
Fase 4 : Membantu kerja a. Siswa sebagai wakil kelompok 1, 2 , 3, 4, 5 dan
tim dan belajar 6 mempresentasikan pekerjaannya kemudian
memasang hasil pekerjaannya di papan tulis
secara bergiliran.
b. Guru memberikan tanggapan.
Fase 5 : Mengevaluasi a. Guru membagikan lembar kerja kepada masing-
masing kelompok.
b. Guru memberikan evaluasi.
Fase 6 : Memberikan Guru memberikan penilaian
pengakuan atau
penghargaan
B. Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah teknik demonstrasi dapat
meningkatkan keaktifan belajar Prakarya materi membatik pada siswa kelas VII
F semester 1 tahun pelajaran 2017/2018 di SMP Negeri 5 Trenggalek.