Pengaruh Faktor UTAUT 2 pada Mobile Banking Syariah
Pengaruh Faktor UTAUT 2 pada Mobile Banking Syariah
Abstract
One of the biggest challenges that islamic mobile banking is facing today is that the number
of users is far less than that of conventional mobile banking. This research aims to analyze
the influence of the modified UTAUT 2 model’s factors on the use of islamic mobile banking.
The research population is muslim Generation Z who are users of islamic mobile banking in
Semarang, filtered into 100 samples using purposive sampling approach. The data collection
method is questionnaire using Likert scale measurement. The analysis technique used in this
study is Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) using SmartPLS 3
application. The results show that the intention of muslim Generation Z in Semarang to use
islamic mobile banking is positively and significantly influenced by Performance Expectancy,
Hedonic Motivation, Price Value, Habit, Perceived Credibility, and Religiosity, but not influenced
by Effort Expectancy, Social Influence, and Facilitating Conditions. The results also find that
Habit and Behavioral Intention affect the actual use of islamic mobile banking positively and
significantly, while Facilitating Conditions has no influence at all. The implication of this study
is for islamic banks to evaluate the development and maximization of the important factors
of islamic mobile banking to increase competitive advantage in facing financial technology
innovation competition.
Abstrak
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi mobile banking syariah saat ini adalah jumlah
pengguna yang jauh lebih sedikit dibandingkan mobile banking konvensional. Menguji dan
menganalisis pengaruh faktor-faktor model UTAUT 2 yang dimodifikasi terhadap penggunaan
mobile banking syariah pada nasabah menjadi fokus dan tujuan utama penelitian. Populasi
153
Annisa Elyana Dewi and Purbayu Budi Santoso
penelitian adalah Generasi Z muslim pengguna mobile banking syariah di Kota Semarang
yang disaring menjadi 100 sampel melalui pendekatan sampling purposive. Data dikumpulkan
melalui kuesioner yang diukur menggunakan skala likert. Teknik analisis yang digunakan
dalam penelitian adalah Partial Least Squares-Structural Equation Modelling (PLS-SEM)
menggunakan aplikasi SmartPLS 3. Hasil penelitian menunjukkan niat Generasi Z muslim
di Kota Semarang untuk menggunakan mobile banking syariah secara positif signifikan
dipengaruhi oleh Performance Expectancy, Hedonic Motivation, Price Value, Habit, Perceived
Credibility, dan Religiusitas, tapi tidak dipengaruhi Effort Expectancy, Social Influence, dan
Facilitating Conditions. Ditemukan pula bahwa Habit dan Behavioral Intention berpengaruh
positif dan signifikan terhadap penggunaan aktual mobile banking syariah, sementara
Facilitating Conditions tidak berpengaruh sama sekali.
PENDAHULUAN
Perkembangan zaman dan teknologi membuka kesempatan bagi masyarakat
untuk mengakses berbagai fasilitas penunjang kehidupan secara digital. Digitalisasi
kini merambah berbagai sektor, termasuk sektor keuangan. Penyediaan aplikasi
mobile banking menjadi salah satu strategi yang diterapkan oleh perbankan sebagai
respon terhadap kemajuan teknologi dan dinamika masyarakat. Bank Indonesia
(2023) mengungkapkan mobile banking meraup 8 miliar transaksi pada 2022 dan
konsisten menjadi saluran berbasis teknologi dengan transaksi tertinggi dalam lima
tahun terakhir. Era digitalisasi mendorong sengitnya persaingan antar perbankan
dan besarnya tantangan yang dihadapi mobile banking syariah.
Populix (2022) mengungkap bahwa BSI Mobile menjadi satu-satunya mobile
banking syariah yang mampu masuk sepuluh besar aplikasi mobile banking dengan
pengguna aktif terbanyak di Indonesia sedangkan sembilan lainnya merupakan
mobile banking konvensional. BSI Mobile mengakumulasi 4,44 juta pengguna pada
tahun 2022 (BSI, 2022). Mobile banking syariah terbesar selanjutnya masih tertinggal
jauh, yaitu Muamalat DIN dengan 400 ribu pengguna pada tahun 2023 sedangkan
BCA Syariah Mobile memiliki 82 ribu pengguna pada tahun 2022 (Jatmiko, 2022;
Yuliastuti, 2023). Angka tersebut masih jauh dari jumlah pengguna BCA Mobile yang
mencapai 25,4 juta pengguna aktif atau BRImo yang memiliki 22,37 juta pengguna
aktif pada tahun 2022 (Damara, 2022; Syahputra, 2022).
Bank syariah sebenarnya memiliki modal besar di Indonesia mengingat tingginya
populasi muslim, Provinsi Jawa Tengah saja populasi muslimnya melebihi 30 juta jiwa
(Kemendagri dalam Kusnandar, 2022). Ditambah lagi populasi Generasi Z yang memiliki
keterikatan sangat tinggi dengan digital liftstyle di Kota Semarang adalah tertinggi kelima
di Jawa Tengah (BPS Kota Semarang, 2022). Pengguna mobile banking syariah di Kota
Semarang baru mencapai 37% berdasarkan pra-survey meskipun secara keseluruhan
mobile banking telah digunakan 90% pengguna aplikasi keuangan (Populix, 2022).
Berbagai penelitian terdahulu yang meneliti niat dan penggunaan mobile banking
menggunakan konstruk UTAUT 2 yang mencakup performance dan effort expectancy,
hedonic motivation, price value, social influence, habit, dan facilitating conditions.
Diperoleh hasil yang saling berkontradiksi satu sama lain, sebut saja penelitian
Nopiani & Putra (2021), Premi & Widyaningrum (2020), Raza, Shah, & Ali (2019),
serta Yuliana & Aprianingsih (2022). Penelitian Suhartanto, Dean, Ismail, & Sundari
(2020) mengungkapkan bahwa religiusitas dapat menjelaskan niat penggunaan mobile
banking. Penelitian ini memadukan UTAUT 2 dengan faktor perceived credibility dan
religiusitas yang belum ditemukan pada penelitian sebelumnya.
Tujuan utama diadakannya penelitian ini adalah untuk menganalisis
faktor-faktor di balik penggunaan mobile banking syariah dengan pendekatan
UTAUT 2 pada Generasi Z muslim di Kota Semarang. Hasil penelitian ini dapat
memperkaya khazanah akademik dalam bidang serupa dan menjadi referensi
dalam merumuskan kebijakan dan strategi untuk memaksimalkan keunggulan
kompetitif mobile banking syariah.
KAJIAN LITERATUR
Islamic Mobile Banking
Performance Expectancy
Effort Expectancy
Social Influence
Sosial influence adalah persepsi individu mengenai seberapa kuat orang-
orang di sekitar individu yang dianggapnya penting yakin bahwa suatu sistem atau
teknologi harus digunakan Venkatesh et al. (2003). Individu tidak hanya bergantung
pada opini yang dibentuknya sendiri tapi juga pada opini dari orang-orang yang
dianggapnya penting. Gagasan tersebut didukung dengan hasil penelitian Farah et al.
(2018), Islam et al. (2019), Nopiani & Putra (2021), Premi & Widyaningrum (2020),
dan Samsudeen et al. (2022). Opini orang lain dapat menggiring niat nasabah untuk
menggunakan mobile banking syariah menjadi lebih besar sehingga dorongan yang
semakin banyak atau intens dari orang-orang yang dipercaya nasabah juga akan
berbanding lurus dengan niat nasabah untuk mengaplikasikan mobile banking
syariah dalam aktivitas keuangannya.
H3: Social Influence berpengaruh positif terhadap Behavioral Intention.
Facilitating Conditions
Facilitating conditions berkaitan dengan kehadiran lingkungan organisasional
dan dukungan teknis yang diyakini individu mampu mendukung dan mengurangi
hambatan yang mungkin terjadi dalam penggunaan sistem atau teknologi tertentu
(Venkatesh et al., 2003). Kehadiran facilitating conditions dapat membantu
nasabah mengakses mobile banking dengan lancar dan mengurangi hambatan
infrastruktur teknologi. Adanya facilitating conditions mengurangi kekhawatiran
akan terjadinya masalah ketika sudah menggunakan mobile banking syariah di masa
depan. Facilitating conditions seringkali ditemukan menjadi faktor yang mampu
memberikan pengaruh positif kepada behavioral intention (Anandia & Aisyah, 2023;
Islam et al., 2019; Premi & Widyaningrum, 2020; Raza et al., 2019; Samsudeen et al.,
2022; Yuliana & Aprianingsih, 2022) dan use behavior (Nopiani & Putra, 2021; Premi
& Widyaningrum, 2020).
Hedonic Motivations
Price Value
seperti Farah et al. (2018), Nopiani & Putra (2021), Raza et al. (2019), Yuliana &
Aprianingsih (2022).
H7: Price Value berpengaruh positif terhadap Behavioral Intention.
Habit
Perceived Credibility
Perceived credibility didefinisikan sebagai keyakinan individu bahwa
penggunaan mobile banking terhindar dari kemungkinan risiko, adanya jaminan
privasi dan keamanan, serta kepercayaan nasabah bahwa layanan mobile banking
dapat diandalkan dan kredibel (Yuliana & Aprianingsih, 2022). Masalah keamanan,
privasi, risiko, serta kepercayaan kepada pihak bank sangat serius bagi nasabah
mengingat semua masalah tersebut berhubungan dengan uang yang disimpan
nasabah dalam bank. Pengaruh positif dari perceived credibility terhadap behavioral
intention dibuktikan oleh Islam et al. (2019) serta Yuliana & Aprianingsih (2022).
H10: Perceived Credibility berpengaruh positif terhadap Behavioral
Intention.
Religiusitas
diperintahkan dalam agama (Muflih, 2023). Niat untuk beribadah kepada Allah
SWT sudah sepatutnya menjadi landasan semua aktivitas yang dilakukan seorang
muslim, beserta dengan pertimbangan kemaslahatan sebagai konsekuensi dari
aktivitas. Pengaruh religiusitas kepada penerimaan dan pemakaian mobile banking
syariah dapat dibuktikan melalui penelitian Muflih (2023) dan Suhartanto et al.
(2020) mengungkapkan bahwa religiusitas adalah faktor penting berpengaruh
positif terhadap behavioral intention.
H11: Religiusitas berpengaruh positif terhadap Behavioral Intention.
Behavioral Intention
Behavioral Intention merupakan niatan, perkiraan, atau rencana seseorang
untuk melakukan atau melanjutkan sesuatu di hari, bulan, atau bahkan tahun
berikutnya (Venkatesh et al., 2003). Behavioral intention merupakan salah satu
bagian terkuat dari proses pemikiran kognitif yang kemudian melahirkan tindakan
sebenarnya dalam tujuan menyelesaikan aktivitas keuangan. Tindakan sebenarnya
yang dilakukan secara sadar dapat dijelaskan oleh behavioral intention sehingga
behavioral intention dapat menjadi dasar yang baik untuk memprediksi penggunaan
teknologi oleh nasabah mobile banking syariah. Hubungan positif behavioral intention
dan use behavior berhasil dibuktikan oleh Anandia & Aisyah (2023), Nopiani & Putra
(2021), Rahmiati et al. (2022), Raza et al. (2019), dan Suhartanto et al. (2020). H12:
Behavioral Intention berpengaruh positif terhadap Use Behavior.
METODE PENELITIAN
Penelitian berjenis kuantitatif dengan data yang diambil menggunakan metode
kuesioner. Responden memperoleh akses kepada kuesioner secara online melalui
sarana Google Forms. Penetapan populasi penelitian didasarkan karakteristik
pengguna mobile banking syariah yang terhitung sebagai Generasi Z muslim di
Kota Semarang. Teknik sampling berbasis non- probabilitas beserta pendekatan
sampling purposive dimanfaatkan sebagai metode untuk menyaring sampel dari
populasi dengan pertimbangan kriteria:
(1) Generasi Z (kelahiran tahun 1997 – 2012) berusia 17 tahun atau lebih;
(2) Beragama Islam; (3) Pengguna aktif atau pernah menggunakan mobile banking
syariah; dan (4) Berdomisili di Kota Semarang.
Jumlah populasi yang akurat dan rinci tidak dapat diketahui sehigga ukuran
sampel ditentukan berdasarkan rumus Lemeshow (dalam Riyanto & Hatmawan,
2020). Perolehan ukuran sampel berdasarkan rumus tersebut adalah 96. Terkumpul
100 sampel setelah penyebaran kuesioner kepada responden sehingga ukuran
sampel ditetapkan adalah 100 sampel.
Keterangan: n = Sampel
Z = Nilai distribusi
normal P = Maksimal
estimasi
d = Tingkat kesalahan pengambilan sampel
PEMBAHASAN
Demografi Responden
23-25 tahun 8 8%
Jenis Kelamin Perempuan 67 67%
Laki-laki 37 37%
Domisili Banyumanik 16 16%
Candisari 2 2%
Gajahmungkur 1 1%
Gayamsari 2 2%
Genuk 2 2%
Gunungpati 15 15%
Mijen 3 3%
Ngaliyan 5 5%
Pedurungan 3 3%
Semarang Barat 5 5%
Semarang Selatan 1 1%
Semarang Tengah 3 3%
Semarang Timur 17 17%
Semarang Utara 1 1%
Tembalang 24 24%
BSI Mobile 70 70%
Rp 3.000.000 - Rp 4.000.000 4 4%
Rp 4.000.000 - Rp 5.000.000 1 1%
> Rp 5.000.000 2 2%
Outer Model
Tabel 2
Hasil Uji Convergent Validity dan Construct Reliability Indikator
(2021). Nilai di antara kedua kriteria tersebut yang diindikasikan oleh Hair et al.
(2016) sebagai reliabilitas sesungguhnya dengan itu juga berada di atas 0,70.
Evaluasi terhadap discriminant validity memiliki peran sebagai pembuktian
tidak adanya korelasi tinggi antar indikator dan variabel yang berbeda. Tabel 3
menyajikan hasil pengujian di mana semua nilai akar kuadrat AVE dari setiap variabel
lebih tinggi daripada korelasi antar variabel sebagaimana kriteria Fornell-Larcker
(dalam Ghozali, 2021), maka semua variabel dalam model memiliki perbedaan
secara konseptual da empiris.
Tabel 3
Hasil Uji Kriteria Fornell-Larcker
BI EE FC HB HM PC PE PV RG SI UB
BI 0,905
EE 0,646 0,846
FC 0,724 0,772 0,828
HB 0,792 0,689 0,688 0,853
HM 0,792 0,623 0,693 0,710 0,884
PC 0,779 0,666 0,746 0,694 0,697 0,862
PE 0,636 0,578 0,580 0,569 0,523 0,555 0,792
PV 0,796 0,607 0,659 0,750 0,738 0,722 0,529 0,921
RG 0,655 0,515 0,595 0,581 0,551 0,599 0,519 0,508 0,765
SI 0,670 0,495 0,642 0,712 0,669 0,608 0,372 0,658 0,456 0,862
UB 0,800 0,603 0,663 0,844 0,726 0,656 0,501 0,714 0,580 0,747 0,865
Inner Model
Data sampel yang telah lulus kriteria validitas dan reliabilitas kemudian
dievaluasi kembali pada tahap inner model untuk menguji hubungan antar variabel.
Tabel 4 memperlihatkan bahwa behavioral intention dijelaskan sebesar 81,6% oleh
faktor-faktor dalam model penelitian dan use behavior dijelaskan sebesar 76% oleh
faktor-faktor dalam model. Nilai R2 yang diperoleh berada di atas batas 0,75 yang
diartikan sebagai model struktural kuat (Hair et al., 2016).
Ghozali (2021) merekomendasikan kriteria Q2 sebagai penguji kekuatan
prediktif model. Tabel 4 menunjukkan bahwa nilai Q2 berada di atas 0 dengan jarak
Tabel 4
Hasil Uji R-Square dan Predictive Relevance
Variabel R2 Q²
Behavioral Intention (BI) 0,816 0,627
Use Behavior (UB) 0,760 0,550
Popovič, 2014). Jumlah pengguna mobile banking syariah dan literasi keuangan
syariah yang relatif kecil turut menyebabkan orang-orang yang bisa menjadi
sumber pengaruh sedikit dan belum terbentuk opini masyarakat bahwa mbanking
syariah lebih unggul dan layak dipilih dibanding alternatif layanan perbankan dan
keuangan lainnya (Anandia & Aisyah, 2023). Meskipun memperoleh dukungan
dari berbagai penelitian, hasil ini bertolak belakang dengan temuan Islam et al.
(2019) dan Premi & Widyaningrum, (2020).
Faktor terakhir yang tidak mempengaruhi behavioral intention adalah
facilitating conditions. Generasi Z memiliki kemampuan kognitif dan memori baik
untuk memproses teknologi (Venkatesh et al., 2012). Nasabah tidak perlu memikirkan
tentang kompatibilitas dengan internet atau smartphone, perlunya pengetahuan
khusus, atau langkah penggunaan mobile banking syariah yang sebenarnya singkat
dan transaksi dapat selesai dalam beberapa klik saja (Lee, Lee, & Rha, 2019). Hasil
penelitin ini memperoleh dukungan dari penelitian Farah et al. (2018) dan namun
berkontradiksi dengan penelitian Yuliana & Aprianingsih (2022) dan Samsudeen et
al. (2022).
Facilitating conditions juga tidak berpengaruh terhadap use behavior. Generasi
Z memiliki kemampuan kognitif dan pengalaman dalam berteknologi (Venkatesh et
al., 2012) sehingga dukungan eksternal tidak diperlukan. Sifat dari mobile banking
syariah yang mengharuskan nasabah mengoperasikannya secara mandiri juga
menyebabkan nasabah berpikir bahwa penyelesaian aktivitas keuangan melalui
mobile banking syariah tidak membutuhkan pendampingan atau bimbingan
organisasional atau pihak lain (Baptista dan Oliveira, 2015). Hasil penelitian ini turut
didukung penelitian Anandia & Aisyah (2023) tapi berkontradiksi dengan penelitian
Nopiani & Putra (2021) dan Premi & Widyaningrum (2020).
Pengujian hipotesis ini membuktikan bahwa hedonic motivation berpengaruh
positif dan signifikan terhadap behavioral intention. Pengaruh ini disebabkan
adanya keinginan untuk menggunakan sesuatu yang terbaru, inovatif, dan modern
(Venkatesh et al., 2012). Farah et al. (2018) dan Samsudeen et al. (2020) juga
menambahkan bahwa desain yang menarik pada aplikasi mobile banking dapat
mempengaruhi perilaku niat individu, apalagi mobile banking dipandang sebagai
alternatif transaksi yang tidak memakan waktu dan proses panjang. Keinginan
untuk mengulang penggunaan mobile banking syariah juga timbul karena mobile
banking syariah memberikan otonomi dan rasa kompeten bagi penggunanya karena
nasabah bisa mengontrol dan menyelesaikan aktivitas keuangan sendiri sehingga
dirasa lebih menyenangkan dan memuaskan (Lowry, Gaskin, Twyman, Hammer, &
Roberts, 2013).
Faktor selanjutnya yang memberikan pengaruh signifikan yang positif pada
behavioral intention adalah price value. Manusia memiliki sifat ekonomis yang selalu
mempertimbangkan keuntungan dan kerugian moneter sebagai pertimbangan
yang rasional. Penelitian Raza et al. (2019), Nopiani & Putra (2021), dan Yuliana &
Aprianingsih (2022) memperkuat pentingnya peran price value bagi nasabah dalam
menentukan pilihan karena terdapat biaya atau tarif yang harus ditanggung setiap
terjadinya transaksi. Tarif tersebut semakin menumpuk seiring berjalannya waktu
dan intensitas transaksi sehingga nasabah tidak ingin tarif menjadi beban yang
mengalahkan manfaat mobile banking syariah.
Habit adalah faktor lainnya yang berpengaruh positif signifikan pada
behavioral intention. Penggunaan berulang dapat menimbulkan pandangan yang
positif terhadap teknologi yang akhirnya akan menciptakan asosiasi tindakan
tersebut dengan motivasi kembali menggunakan teknologi yang tersimpan dalam
pikiran nasabah (Venkatesh et al., 2012). Niat penggunaan kembali semakin besar
karena kebiasaan merupakan cara yang efektif dalam membangun pengalaman dan
pengetahuan yang memudahkan penyelesaian aktivitas transaksi di masa depan
(Yen & Wu, 2016). Temuan ini diperkuat penelitian Raza et al. (2019), Rahmiati et
al. (2022), Samsudeen et al. (2020), serta Raza et al. (2019) yang turut menemukan
pengaruh signifikan dengan arah yang positif dari habit pada behavioral intention.
Habit juga terbukti secara signifikan dan positif memberikan pengaruh pada
use behavior. Semua kondisi, perkataan, atau stimulus lainnya dapat menimbulkan
penggunaan aktual secara otomatis (Venkatesh et al., 2012; Premi & Widyaningrum,
2019; Rahmiati et al., 2022). Nasabah yang telah terbiasa menggunakan mobile
banking syariah mungkin telah terbentuk ketergantungan sehingga respon otomatis
mengarah pada satu aplikasi tertentu, terlebih keterikatan kuat Generasi Z dengan
smartphone yang mendukung munculnya rasa kebutuhan akan aplikasi di dalamnya
termasuk mobile banking syariah (Anandia & Aisyah, 2023; Baabdullah, Alalwan,
Rana, Patil, & Dwivedi, 2019).
Pengaruh terhadap behavioral intention yang positif dan signifikan juga
terbukti berasal dari faktor perceived credibility. Mobile banking syariah merupakan
aplikasi yang dapat mengontrol pergerakan uang nasabah sehingga diperlukan
adanya jaminan keamanan, privasi, dan kerahasiaan agar nasabah memiliki kemauan
menggunakan mobile banking syariah, terutama karena teknologi membuka peluang
resiko cyber crime (Yuliana & Aprianingsih, 2022). Penelitian Islam et al. (2019) juga
mendukung temuan pengaruh positif dan signifikan perceived credibility karena
kasus yang berpotensi membahayakan uang dan data pribadi dapat menghilangkan
kepercayaan nasabah terhadap bank dan pada akhirnya juga mengurangi behavioral
intention mereka.
Faktor terakhir yang ditemukan mampu menjadi prediktor yang positif dan
signifikan bagi behavioral intention adalah religiusitas. Kesesuaian dengan prinsip
syariah dan fitur-fitur islami merupakan aspek yang paling diunggulkan dalam
memasarkan mobile banking syariah sehingga lebih menarik bagi muslim yang
menginginkan solusi layanan keuangan berbasis syariah dan halal. Suhartanto et al.
(2020) dan Muflih (2023) menemukan bahwa mobile banking syariah dipandang
sebagai salah satu sarana dalam menerapkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-
hari bagi muslim dengan religiusitas tinggi.
Terakhir, use behavior dipengaruhi secara positif signifikan oleh behavioral
intention. Niatan yang ada dalam diri individu merupakan refleksi seberapa besar
determinasi dan komitmen dari upaya yang rela dilakukan agar suatu perilaku dapat
terwujud secara aktual (Farah et al., 2018). Nopiani & Putra (2021) menemukan
bahwa dalam konteks penggunaan mobile banking syariah secara berkelanjutan,
kepemilikan akun dan aplikasi harus disertai dengan adanya niat dalam diri nasabah
agar penggunaan aktual mobile banking syariah dapat terwujud. Behavioral intention
merupakan salah satu faktor yang secara konsisten terbukti mampu menjadi
prediktor kuat use behavior (Farah et al., 2018; Premi & Widyaningrum, 2020; Raza
et al., 2019; Suhartanto et al., 2020).
SIMPULAN
Modifikasi model UTAUT 2 dengan penambahan faktor perceived credibility
dan religiusitas terbukti berhasil menghasilkan model yang kuat dalam memprediksi
alasan di balik niat dan perilaku dalam penggunaan mobile banking syariah di Kota
Semarang. Penelitian menyimpulkan bahwa niat untuk menggunakan mobile banking
syariah bagi Generasi Z muslim dipengaruhi oleh performance expectancy, hedonic
motivation, price value, habit, perceived credibility, dan religiusitas sementara
penggunaan aktualnya dipengaruhi oleh habit dan behavioral intention.
Tiga faktor yang tidak mampu menghasilkan dampak pada behavioral intention
dan use behavior adalah facilitating conditions, social influence, dan effort expectancy.
Pengalaman, kemampuan, dan keterikatan Generasi Z muslim dengan digital lifestyle
beserta sifat sensitif dari masalah keuangan personal memainkan peran krusial di
balik tidak berpengaruhnya faktor- faktor tersebut. Implikasi praktis dari penelitian
adalah agar bank syariah menekankan kegunaan mobile banking syariah dalam
pemasaran kepada nasabah, mempromosikan biaya/tarif yang bersaing, serta
menaruh fokus pada reliabilitas sistem keamanan serta memperbaiki tampilan dan
fitur secara berkala untuk memaksimalkan pengalaman nasabah.
DAFTAR PUSTAKA
Anandia, F. B., & Aisyah, E. N. (2023). Analisis Penerapan Model Utaut2 Terhadap
Penggunaan Mobile Banking Pada Bank Syariah. Management Studies and
Entrepreneurship Journal, 4(1), 264–275.
Baabdullah, A. M., Alalwan, A. A., Rana, N. P., Patil, P., & Dwivedi, Y. K. (2019). An
integrated model for m-banking adoption in Saudi Arabia. International
Journal of Bank Marketing, 37(2), 452–478.
Baptista, G., & Oliviera, T. (2015). Understanding Mobile Banking: The Unified Theory
of Acceptance and Use of Technology Combined with Cultural Moderators.
Computers in Human Behavior, 50, 418–430.
BPS Kota Semarang. (2022). Kota Semarang dalam Angka 2022. Semarang. BSI.
(2022). Kinerja Makin Solid, Laba BSI di Kuartal III Tumbuh 42%.
Retrieved from h t t p s : / / w w w. b a n kb s i . c o . i d /
news- update/berita/kinerja-makin-solid-laba-bsi-di-kuartal-iii-tumbuh-
42#:~:text=Hal ini terlihat dari lonjakan,naik sebesar 43%25 secara yoy.
Farah, M. F., Hasni, M. J. S., & Abbas, A. K. (2018). Mobile-banking adoption: empirical
evidence from the banking sector in Pakistan. International Journal of Bank
Marketing, 36(7), 1386–1413.
Fattah, H., & Riodini, I. (2022). Fintech dalam Sistem Keuangan Islam: Sebuah
Pengantar. In Fachrurazi (Ed.), Fintech dalam Keuangan Islam: Teori dan
Praktik (pp. 1–15). Jakarta: PT Publica Indonesia Utama.
Ghozali, I. (2015). Partial Least Squares Konsep, Teknik dan Aplikasi Menggunakan
Program SmartPLS 3.0 Untuk Penelitian Empiris edisi 2. In Semarang: Badan
Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang: Badan Penerbit Universitas
Diponegoro.
Gupta, K. P., Manrai, R., & Goel, U. (2019). Factors influencing adoption of payments
banks by Indian customers: extending UTAUT with perceived credibility.
Journal of Asia Business Studies, 13(2), 173–195.
Hair, J. F. J., Hult, G. T. M., Ringle, C. M., & Sarstedt, M. (2016). A Primer on Partial Least
Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) (Second). Los Angeles:
Sage.
Hair, J. F., Risher, J. J., Sarstedt, M., & Ringle, C. M. (2019). When to use and how to
report the results of PLS-SEM. European Business Review, 31(1), 2–24.
Islam, M. S., Karia, N., Khaleel, M., Fauzi, F. B. A., Soliman, M. S. M., Khalid, J., … Al
Mamun, M. A. (2019). Intention to Adopt Mobile Banking in Bangladesh:
An Empirical Study of Emerging Economy. International Journal of Business
Information Systems, 31(1), 1.
Lee, J. M., Lee, B., & Rha, J. Y. (2019). Determinants of Mobile Payment Usage and the
Moderating Effect of Gender: Extending the UTAUT Model with Privacy Risk.
International Journal of Electronic Commerce Studies, 10(1), 43–64.
Lowry, P. B., Gaskin, J. E., Twyman, N. W., Hammer, B., & Roberts, T. L. (2013). Taking
“fun and games” seriously: Proposing the hedonic-motivation system
adoption model (HMSAM). Journal of the Association for Information Systems,
14(11), 617–671.
Oliveira, T., Faria, M., Thomas, M. A., & Popovič, A. (2014). Extending the understanding
of mobile banking adoption: When UTAUT meets TTF and ITM. International
Journal of Information Management, 34(5), 689–703.
Populix. (2022). Consumer Preference Towards Banking and E-Wallet Apps. Jakarta.
Mobile Banking Terhadap Use Behavior Melalui Pendekatan Model Utaut 2 (Studi
Pada Nasabah KCU BCA Malang). Capital: Jurnal Ekonomi Dan Manajemen,
3(2), 139–159.
Rahmiati, Susanto, P., Hasan, A., & Pujani, V. (2022). Understanding Use Behavior
in Mobile Banking: An Extended of UTAUT Perspective. AFEBI Management
and Business Review, 7(1), 39–48.
Raza, S. A., Shah, N., & Ali, M. (2019). Acceptance of mobile banking in Islamic banks:
evidence from modified UTAUT model. Journal of Islamic Marketing, 10(1),
357–376. h
Riyanto, S., & Hatmawan, A. A. (2020). Metode Riset Penelitian Kuantitatif Penelitian
Di Bidang Manajemen, Teknik, Pendidikan dan Eksperimen. Sleman: Penerbit
Deepublish.
Samsudeen, S. N., Selvaratnam, G., & Mohamed, A. H. H. (2022). Intention to use mobile
banking services: an Islamic banking customers’ perspective from Sri Lanka.
Journal of Islamic Marketing, 13(2), 410–433.
Suhartanto, D., Dean, D., Ismail, T. A. T., & Sundari, R. (2020). Mobile banking adoption
in Islamic banks: Integrating TAM model and religiosity- intention model.
Journal of Islamic Marketing, 11(6), 1405–1418.
Venkatesh, V., Morris, M. G., Davis, G. B., & Davis, F. D. (2003). User acceptance of
information technology: Toward a unified view. MIS Quarterly: Management
Information Systems, 27(3), 425–478.
Venkatesh, V., Thong, J. Y. L., & Xu, X. (2012). Consumer Acceptance And Use Of
Information Technology: Extending The Unified Theory Of Acceptance And
Use Of Technology. MIS Quarterly, 36(1), 157–178.
Yen, Y.-S., & Wu, F.-S. (2016). Predicting the adoption of mobile financial services:
The impacts of perceived mobility and personal habit. Computers in Human
Behavior, 65, 31–42.
Yuliana, P. D., & Aprianingsih, A. (2022). Factors involved in adopting mobile banking
for Sharia Banking Sector using UTAUT 2. Jurnal Keuangan Dan Perbankan,
26(1), 184–207.