100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
138 tayangan20 halaman

Asuhan Kebidanan pada Neonatus RDS

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan mengenai asuhan kebidanan pada neonatus, bayi, dan balita dengan sindrom gangguan pernapasan (RDS). Laporan ini mencakup latar belakang, tujuan, dan konsep dasar manajemen asuhan kebidanan, serta penanganan yang diperlukan untuk neonatus yang mengalami RDS. Penulis berharap laporan ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi pembaca.

Diunggah oleh

Andi Syahria
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
138 tayangan20 halaman

Asuhan Kebidanan pada Neonatus RDS

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan mengenai asuhan kebidanan pada neonatus, bayi, dan balita dengan sindrom gangguan pernapasan (RDS). Laporan ini mencakup latar belakang, tujuan, dan konsep dasar manajemen asuhan kebidanan, serta penanganan yang diperlukan untuk neonatus yang mengalami RDS. Penulis berharap laporan ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan bagi pembaca.

Diunggah oleh

Andi Syahria
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEBIDANAN PADA NEONATUS, BAYI DAN BALITA


“SYNDROM GANGGUAN PERNAPASAN”

DISUSUN OLEH :
NAELA FAROKHA
NIM P07224222007

PRODI D-III KEBIDANAN SAMARINDA JURUSAN KEBIDANAN


POLTEKKES KEMENKES KALIMANTAN TIMUR
KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
TAHUN AJARAN 2024/2025
LEMBAR PENGESAHAN
ASUHAN KEBIDANAN PADA NEONATUS, BAYI DAN BALITA DENGAN
SYNDROM GANGGUAN PERNAPASAN

Asuhan kebidanan pada Neonatus, Bayi dan Balita dengan “Syndrom Gangguan Pernapasan” ini
telah di periksa dan disetujui oleh pembimbing ruangan dan pembimbing institusi,
diRSUD Abdoel Wahab Sjahranie

Samarinda, 5 Mei 2025

Mahasiswa

NAELA FAROKHA
NIM. P07224222007

Mengetahui,

Pembimbing Institusi, Pembimbing Ruangan,

NIP. NIP.
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesempatan pada
kami untuk menyelesaikan laporan kasus yang berjudul “laporan pendahuluan asuhan
kebidanan pada bayi baru lahir dengan syndrom gangguan pernapasan” ini dapat
diselesaikan tepat pada waktunya.
Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada dosen pengampu. Dosen
Pembibing dan pembimbing ruangan yang sudah membantu saya dalam menyelesaikan laporan
ini. Dan semoga laporan ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan kepada para pembaca.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih memiliki kekurangan, untuk itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif sehingga dapat menyempurnakan
laporan ini.

Samarinda, 5 Mei 2025

Naela Farokha
NIM.P07224222007
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................................ii

LEMBAR PENGESAHAN......................................................................................................iii

DAFTAR ISI.............................................................................................................................iv

BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................................1

A. Latar Belakang...............................................................................................................1
B. Tujuan ............................................................................................................................2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................................4

A. Konsep Dasar Teori........................................................................................................4


B. Konsep Dasar Manajemen Asuhan Kebidanan Trimester I...........................................13

BAB III TINJAUAN KASUS..................................................................................................33

BAB IV PENUTUP..................................................................................................................37

A. Kesimpulan.....................................................................................................................37
B. Saran ..............................................................................................................................37

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................38
BAB I
PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Respiratory Distress Syndrome (RDS) ialah keadaan dimana terdapat gangguan
sistem respiratori pada neonatus yang disebabkan oleh kurangnya surfaktan terlebih pada
bayi yang kurang bulan. Surfaktan merupakan zat yang mampu menurunkan tegangan
pada dinding alveoli [Link] dengan Respiratory Distress Syndrome masih
menjadi masalah kesehatan dalam masyarakat yang signifikan secara menyeluruh karena
efek yang ditimbulkan, baik efek dalam jangka yang pendek maupun dalam jangka
panjang (Pp. Skp, & ULTA Suminto, 2017)
Penyakit RDS ini disebabkan karena imaturitas fungsi organ pada bayi dengan
keadaan alveoli yang masih berukuran kecil sehingga membuat alveoli tersebut tidak
dapat mengembang secara sempurna karena dinding dada yang masih lemah dan
kurangnya produksi cairan surfaktan (Agrina dkk, 2016).Kekurangan cairan surfaktan
dapat membuat alveolus menjadi kolaps sehingga membuat ventilasi menurun dan akan
mengakibatkan terjadinya peningkatan usaha nafas yang menimbulkan pergerakan otot-
otot bantu pernafasan serta pernafasan cuping hidung.
Menurut WHO pada tahun 2015, angka prevalensi terjadinya BBLR (Berat
Badan Lahir Rendah ) adalah 14.6% dari semua kelahiran di seluruh dunia. Menurut
(Kemenkes RI, 2019), penyebab terjadinya kematian neonatal terbanyak di Indonesia
adalah kondisi BBLR yang berkisar 35,3% atau sebanyak 7.150 bayi. Berdasarkan
prevalensi data yang didapatkan pada proporsi BBLR kurang dari 2.500 gram pada anak
umur 0 – 59 bulan, didapatkan bahwa angka kejadian BBLR di Indonesia didapatkan
prevalensi 6,2% (RISKESDAS, 2018). Data yang diperoleh, prevalensi angka kejadian
BBLR di Jawa Timur diketahui mencapai 3 3,7% atau sebanyak 20.627 bayi. Sedangkan
prevalensi angka kejadian BBLR di kota Surabaya mencapai 1,3% atau sebanyak 550
bayi (Dinkes Jatim, 2020). Salah satu komplikasi yang terjadi pada neonatus dengan
BBLR adalah penyakit RDS. Penyakit ini menjadi salah satu penyebab kematian pada
bayi yang lahir secara prematur dengan berat badan lahir rendah.
Penanganan pada neonatus yang mengalami gangguan sistem pernafasan
memerlukan suatu unit perawatan intensif dan penatalaksanaan yang optimal agar tidak
menambah perburukan kondisi dan komplikasi pada neonatus. Oleh karena itu peran
perawat dalam masalah Respiratory Distress Syndrome yaitu dengan memonitor pola
nafas (frekuensi napas, kedalaman, usaha nafas), memonitor bunyi tambahan,
mempertahankan kepatenan jalan nafas dengan menggunakan cara head-tilt dan chin-lift,
memposisikan semi fowler atau fowler, memberikan terapi oksigen yang memiliki tujuan
untuk mencukupi kebutuhan oksigen bayi dan observasi tanda- tanda vital (SIKI, 2018).
b. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mendeskripsikan pelaksanaan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan
syndrom gangguan pernapasan dengan menggunakan pola pikir ilmiah melalui
pendekatan manajemen kebidanan menurut Varney.

2. Tujuan Khusus
a. Menjelaskan konsep dasar teori bayi baru lahir dengan syndrom gangguan
pernapasan
b. Menjelaskan konsep dasar manajemen asuhan kebidanan pada bayi baru lahir
dengan syndrom gangguan pernapasan berdasarkan 7 langkah Varney.
c. Melaksanakan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan syndrom gangguan
pernapasan dengan pendekatan Varney, yang terdiri dari:
1) Melakukan pengkajian
2) Menginterpretasikan data dasar
3) Mengidentifikasi diagnosis/ masalah potensial
4) Mengidentifikasi kebutuhan tindakan segera
5) Mengembangkan rencana intervensi
6) Melakukan tindakan sesuai dengan rencana intervensi
7) Melakukan evaluasi atas tindakan yang telah dilakukan
d. Mendeskripsikan pelaksanaan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan
syndrom gangguan pernapasan dalam bentuk catatan SOAP.
c. Rumusan Masalah
Bagaimanakah gambaran asuhan kebidanan pada bayi respiratory distress
syndrome dengan pola napas tidak efektif
A. Konsep Dasar Manajemen Pada Bayi Baru Lahir Dengan Syndrom Gangguan
Pernapasan

1. PENGKAJIAN.

Tanggal Pengkajian :
Waktu Pengkajian :
Tempat Pengkajian :
Nama Pengkaji :

A. Data Subjektif
1. Identitas
a. Identitas klien
Nama :
Umur/tanggal/jam lahir : Insidens sindrom gangguan pemapasan
(RDS) biasa menyerang pada bayi baru lahir
dengan kurang bulan (Maryunani, 2010)
Jenis kelamin : perempuan / laki - laki
Tanggal MRS :
Diagnosa medis :

b. Identitas orang tua

Nama Ayah :
Nama Ibu :
Usia Ayah / Ibu :
Pendidikan Ayah / Ibu :
Pekerjaan Ayah / Ibu : Pekerjaan fisik banyak dihubungkan dengan
peranan seorang ibu yang mempunyai
pekerjaan tambahan diluar pekerjaan rumah
tangga dalam upaya meningkatkan pendapatan
keluarga. Beratnya pekerjaan ibu selama
kehamilan dapat menimbulkan terjadinya
prematuritas karena ibu tidak dapat beristirahat
dan hal terssebut dapat mempengaruhi
janinnya yang sedang kandungannya.
(Manuaba, 2018)
Agama :
Suku/ bangsa : Negara bagian yang mempunyai populasi
penduduk kota besar, atau banyak terdapat
kemiskinan, mempunyai insiden paling tinggi
(obsetri William,2016)
Alamat :

2. Alasan MRS dan Keluhan Utama

a. Alasan MRS
Alasan MRS adalah untuk dilakukan perawatan.
b. Keluhan Utama
Pada kasus sindrom gangguan pernapasan (RDS) keluhan utama
adalah bayi lahir prematur <37 minggu terdapat sianosis,
pernafasan cuping hidung, retraksi dada serta terdapat bunyi
merintih atauu grunting pada bayi saat bernafas sejak bayi lahir
(Arief ZR, 2010)

3. Riwayat Kesehatan Klien

c. Riwayat Kesehatan Sekarang


 Riwayat perjalanan penyakit dan upaya untuk mengatasi
d. Riwayat Kesehatan Yang Lalu
 Riwayat Kehamilan dan Kelahiran
- Riwayat Antenatal
Ibu hamil dengan hipertensi atau diabetes merupakan
salah satu faktor sindrom gangguan pernapasan (RDS) pada
bayi (Pramanik, 2015).
- Riwayat Intrantal

Bayi yang lahir premature dengan umur kehamilan <37)


minggu meningkatkan insidens sindrom gangguan pernapasan
(RDS) karena terjadi immaturitas paru (NHLBI, 2015).
- Riwayat Postnatal
 Riwayat Imunisasi
 Riwayat Alergi
 Riwayat Penyakit Yang Pernah Di Derita
 Riwayat Operasi/Pembedahan
 Riwayat Tumbuh Kembang

4. Riwayat Kesehatan Keluarga

a. Riwayat Penyakit Menular


b. Riwayat Penyakit Menurun :
Salah satu penyebab hipoksia
intrauteri oleh janin adalah akibat
penyakit jantung atau pernafasan
( asma) yang diderita oleh ibu ( buku
ajar kebidanan myles,2009)

c. Riwayat Penyakit Menahun


d. Pola Fungsional Kesehatan
5. Pola Fungsional

Pola Keterangan
Pernapasan Pada kasus bayi dengan RDS akan terjadi sesak nafas, pernafasan
cuping hidung, merintih, pernafasan cepat 60/menit, aktivitas menurun
sidertai atoni atau hipotonoj, sejak bayi lahir

Nutrisi Bayi dengan RDS biasanya memerlukan alat bantu unuk memenuhi
nutrisinya dengan cara ASI diperas dan dapat diberikan melalui ogt
atau dot, lalu kaji apakah bayi tersedak atau tidak
Eliminasi BAB dan BAK dari bayi yang meliputi frekuensi, warna serta keluhan.

Istirahat Bayi dengan RDS sering mengalami pola tidur yang tidak teratur dan
sering terbangun karena kesulitan bernapas menyebabkan
ketidaknyamanan saat tidur. Bayi bisa terbangun lebih sering karena
kadar oksigen rendah atau napas pendek.

Aktivitas Bayi lebih banyak tidur, Bayi memiliki aktivitas yang minim karena
lemah. (Soepardan,Suryani. 2019)
Personal Pada bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) personal hygine
Hygiene juga perlu dikaji sebab kebersihan pada bayi sangat diutamakan untuk
pencegahan infeksi. (Soepardan, Suryani.2019)

6. Riwayat Psosiokultural spiritual


(Depkes, 2019) dalam salmah (2017) menyatakan bahwa kehamilan yang tak
diinginkan bisa berdampak kepada kesehatan mental, baik ibu maupun bapaknya.
a. Komposisi fungsi,dan hubungan keluarga
b. Keadaan lingkungan rumah dan sekitar
c. Kultur dan kepercayaan yang membengaruhi kesehatan

b. DATA OBYEKTIF

1. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum
Keadaan Umum : Baik/Lemas
Kesadaran : composmentis / apatis / somnolen / sopor
koma/ delirium

Tanda Vital :

Tekanan Darah :-

Nadi : Dinilai untuk penilaian frekuensi denyut


jantung secara normal pada bayi baru lahir
antara 120-160 x/menit. Pada bayi BBLR
denyut jantung berkisar 100-140 x/menit
(Hidayat, 2017)

Pernapasan : >60 kali/menit

Suhu : Pada bayi baru lahir untuk senantiasa


memberikan kehangatan agar tidak
terjadinya hipotermia Suhu tubuh normal
bayi baru lahir berkisar 36,5ᴼC - 37,5ᴼC.
(sarwono 2018 )
[Link]

a. Panjang badan : 48-52 cm


b. Berat badan : 2500 – 4000 gram
c. Lingkar lengan : Matondang, dkk (2000) menyatakan pada anak berumur
1-5 tahun, LILA saja sudah dapat menunjukkan status gizi, dengan interpretasi
sbb :
• < 12,5 cm : gizi buruk (merah)
• 12,5-13,5 cm : gizi kurang (kuning)
• >13,5 cm : gizi baik (hijau)
d. Lingkar kepala :33 – 35 cm (Marmi dan Kukuh, 2014)
• Circumferensia suboccipito bregmatica : 32 cm
• Circumferensia fronto oksipito : 34 cm
• Circumferensia mento oksipito bregmatica : 35 cm
e. Lingkar dada : 30 – 38 cm
f. Lingkar perut : 28 – 33 cm

2. Pemeriksaa fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan secara head to toe mulai dari inspeksi, palpasi,
auskultasi dan perkusi.
Kulit :
- Warna kulit terihat biru menunjukan bahwa keadaan
bayi buruk dengan angka penilaian 0 Pada penilaian
apgar (Trisna Yulianti, Karnilan Lestari Ningsi Sam,
dkk,2019).
- Adanya sianosis pada evaluasi warna kulit menunjukan
adanya tanda tanda asfiksia ( ilmu kebidanan,sarwono
prawirohardjo tahun 2010 )
- Pada apnea sekunder, warna bayi berubah dari biru ke
putih karena bayi baru lahir menutup sirkulasi perifer
sebagai upaya memaksimalkan aliran darah ke organ-
organ, seperti jantung, ginjal, adrenal( Helen Varney,
2007 hal.901)

Kepala
- Bentuk simetris, warna rambut hitam tipis, keadaan
kotor dan tidak ada odema, tidak ada chepalhematoma,
tidak terdapat caput, tidak nyeri tekan, UUK dan
UUBteraba datar, sutura sagitalis, sutura korona, dan
sutura lamboidra teraba normal, tidak ada molase pada
bagian tulang kepala bayi, fontanel mayor teraba datar
dan tidak ada massa

Wajah :
- Simetris/tidak, ada / tidak oedem
- Pada bayi baru lahir bayi cenderung wajahnya tanpa
ekspresi (pelayanan kesehatan maternal dan
neonatal,sarwono prawirohardjo,2006)
Mata :
- Simetris/tidak, ada/tidak strabismus, penglihatan, eflek
pupil. Conjungtiva anemis/pucat pada pasien thypoid.
Telinga :
- Simetris/tidak, ada atau tidak serumen/cairan, fungsi
pendengaran baik/tidak.
Hidung :
- Simetris/tidak, ada/tidak benjolan, ada/tidak
pernafasan cuping hidung, ada/tidak peradangan.
- Adanya pernafasan cuping hidung menandakan bahwa
bayi baru lahir mengalami gawat nafas (at a glance
neonatologi,2009)
Mulut :
- Simetris/tidak, warna bibir, Mukosa bibir pecah-pecah,
kering, lidah kotor, lidah putih, dan tepinya
kemerahan.
- Terlihat adanya pernafasan megap megap (ilmu
kebidanan sarwono prawirohardjo,2010)
- Adanya sianosis central yang terjadi pada bibir bayi (At
a glance neonatologi,2009)
Leher :
- Simetris/tidak, ada/tidak pembengkakan kelenjar tiroid,
limfe, dan jugularis.
Dada :
- Bentuk dada simetris/tidak, ada/tidak menggunakan
otot bantu pernafasan, ada/tidak suara nafas tambahan.
- Adanya retraksi didinding dada menandakan bahwa
bayi baru lahir mengalami gawat nafas (At a glance
neonatologi,2009)
Abdomen :
- Bentuk simetris/tidak, ada/tidak bekas luka operasi,
ada/tidak massa. Terdapat nyeri tekan pada epigastrum,
hipertimpani.
Genetalia eksterna :-
Anus :
- Berlubang/ tidak , ada/tidak odema , ada/tidak kelainan,
ada/tidaknya keluarnya mekonium
Ekstremitas :
- Simetris/tidak, jari lengkap/tidak, cavillary refill time
kembali kurang dari 2 [Link].
- Pada RDS yang berlanjut, bayi akan terlihat lemas
(pelayanan kesehatan maternal dan neonatal,sarwono
prawirohardjo,2010)
- Pada penilaian APGAR tonus otot yang lemas
menunjukan bayi dalam keadaan kurang baik (obstetri
fisiologi UNPAD,1983)
-
Pemeriksaan neurologis/refleks

Refleks moro :
- Pada bayi RDS refleksmoro
negative. (pelayanan kesehatan
maternal dan neonatal, sarwono
prawirohardjo, 2010)
Refleks tonic neck :
- Pada bayi RDS refleks tonic
neck negative. (pelayanan
kesehatan maternal danneonatal,
sarwono prawirohardjo, 2010).
Refleks rooting :
- Pada bayi RDS refleks rooting
negative (pelayanan kesehatan
maternal dan neonatal,sarwono
prawirohardjo,2010).
Refleks sucking :
- Pada bayi RDS Refleks sucking
negative (pelayanan
kesehatan maternal dan
neonatal, sarwono
prawirohardjo, 2010)
Refleks graps (plantar & palmar grasp) :

- Pada bayi RDS reflex graps


negative (pelayanan kesehatan
maternal dan neonatal,sarwono
prawirohardjo,2010)

Refleks babinski ` :

- Pada bayi RDS reflex babinski


Negatif (pelayanan kesehatan
maternal dan neonatal, sarwono
prawirohardjo, 2010)

2. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium :
b. Pemeriksaan Darah :
c. Pemeriksaan Fungsi Paru :
d. Pemeriksaan Fungsi
Kardiovaskuler :

3. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan Foto Rontgen :

II. INTERPRETASI DATA DASAR


Diagnosis: NKB/NCB/NLB , KMK/SMK/BMK, Usia …….. (jam/hari) dengan .....

Contoh:NKB-SMK,Usia 1 jam dengan RDS

Keterangan : NKB : Neonatus kurang bulan


NCB : Neonatus cukup bulan
NLB : Neonatus lebih bulan
KMK : Kecil Masa Kehamilan
SMK : Sesuai Masa Kehamilan
BMK : Besar Masa Kehamilan
 Bayi usia ….. (bulan) dengan …………….
 Balita usia …… (tahun) dengan …………….
 Anak usia …….. (tahun) dengan ……………………
Masalah : bayi lahir dengan mengalami RDS

Pada kasus bayi dengan RDS mengalami gangguan pernafasan dan biasa
mengalami refleks rooting, sucking.

Kebutuhan: pemberian oksigen segera

III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL


I. Kebocoran Alveoli

Apabila dicurigai terjadi kebocomn udara (pneumothorak,


pneumomediastinum, pneumopericardium, emfisema intersisiel), pada
bayi dengan RDS yang tiba-tiba memburuk dengan gejala klinikal
hipotensi, apnea, atau bradikardi atau adanya asidosis yang menetap.
II. Perdarahan Intrakranial Dan Leukomalacia Periventrikular
Perdarahan intraventrikuler terjadi pada 20-40% bayi prematur
dengan frekuensi terbanyak pada bayi RDS dengan ventilasi mekanik.

 Hipoksia pada organ vital.


 Kejang.
 Sepsis

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN TINDAKAN SEGERA

Pada kasus BBLR dengan RDS yang terjadi di Bidan Praktik


Mandiri maka tindakan segera yang tepat dilakukan yaitu merujuk pasien
ketempat pelayanan kesehatan yang lebih memadai seperti Rumah Sakit.

A. INTERVENSI
1. Informasikan hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarga!
Rasional :Penyampaian dan penjelasan kepada ibu dan
keluarga mengenai hasil pemeriksaan sangat
penting agar ibu dan keluarga dapat mengetahui
perkembangan Kesehatan bayinya.

2. Lakukan informed concent!


Rasional :Setiap tindakan yang diberikan harus
diberitahu kepada ibu dan keluarga
melalui
lembar informed concent. Sehingga ibu dan
keluarga berhak menentukan keputusan klinik
yang akan diambil dan dapat dipakai bahan
pertanggung jawaban.

3. Pantau suhu dalam incubator!


Rasional : suhu dalam incubator harus sering dipantau,
mengingat bayi masih dalam masa transisi.

4. Observasi TTV!
Rasional : kondisi bayi dengan RDS harus selalu
dipantau, mengingat kondisi bayi sangat lemah,
rentan kehilangan suhu tubuh,dan bayi mengalami
takipneu,sewaktu-waktu TTV bayi bisa berubah.

5. Pantau tetesan infus dan aliran oksigen!


Rasional : Bayi BBLR dengan RDS sangat perlu untuk
selalu dipantau. Karena sebelumnya telah
mengalami kolaps paru yang membuat oksigenasi
jaringan pada tubuhnya menurun yang
menyebabkan metabolisme anaerobik dengan
penimbunan asam laktat asam organik dan
berakhir dengan asidosis metabolik.
6. Kolaborasi dengan dokter spesialis anak terkait dengan pemasangan
sonde dan pemberian antibiotik penisilin 50.000-100.000 IU/kgBB/hari!
Rasional : bayi BBLR dengan RDS mengalami refleks
rooting, sucking, dan swallowing yang lemah,
sehingga perlu dipasang sonde agar bayi
mendapat nutrisi yang adekuat. Pemberian
antibiotik perlu untuk mencegah
terjadinya infeksi.
7. Berikan ASI personde tiap 2 jam !

Rasional : bayi membutuhkan nutrisi yang


adekuat untuk pertumbuhan dan
perkembangan.

VI. IMPLEMENTASI
Pelaksanaan dilakukan dengan efisien dan aman sesuai dengan
rencana asuhan yang telah disusun. Pelaksanaan ini bisa dilakukan
seluruhnya oleh bidan atau sebagian dikerjakan oleh klien atau
anggota tim kesehatan lainnya.

VII. EVALUASI

Evaluasi merupakan penilaian tentang keberhasilan dan keefektifan


asuhan kebidanan yang telah dilakukan. Evaluasi didokumentasikan
dalam bentuk SOAP.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diperoleh dari asuhan kebidanan pada bayi dengan
syndrome gangguan pernapasan sebagai berikut :
a. Pengkajian data yang dilakukan dalam kasus tersebut telah terfokus pada data-data
yang dibutuhkan dalam membantu menegakkan diagnosis.
b. Proses analisis data atau interpretasi data, telah sesuai dengan data-data yang
menunjang serta sesuai dengan ketetapan nomenklatur dalam kebidanan.
c. Rencana dan pelaksanaan asuhan kebidanan yang diberikan dalam asuhan bayi
dengan sydrom gangguan pernapasan ini telah sesuai dengan kebutuhan klien dan
terfokus terhadap kebutuhan klien.
d. Evaluasi yang dilakukan dalam asuhan kebidanan dilakukan secara langsung
setelah pelaksanaan asuhan kebidanan, hal ini dilakukan untuk menilai secara
langsung keberhasilan dan keefektifan asuhan yang diberikan.

B. Saran
Diharapkan bidan dapat terus termotivasi untuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilannya yang tiada batasnya.

Klien / keluarga mampu menerima dengan baik pelayanan yang diberikan oleh
petugas kesehatan, Serta mampu memahami situasi dan kondisi selama proses
perawatan bayi dengan sydrom ganguan pernapasan, maupun tindakan-tindakan yang
dilakukan oleh Nakes dalam membantu proses perawatan bayi baru lahir fisiologi.
DAFTAR PUSTAKA

Dewi, A. S., & Hartono, A. (2018). Faktor Risiko Sindrom Distres Pernapasan pada Bayi Baru
Lahir. Jurnal Keperawatan Anak Indonesia, 4(1), 35–41.

Utami, N. M., & Sari, R. P. (2020). Hubungan Usia Kehamilan dengan Kejadian Respiratory
Distress Syndrome pada Neonatus. Jurnal Kebidanan Indonesia, 11(2), 120–127.

Prawirohardjo, S. (2009). Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.

Manuaba, I. B. G. (2010). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk
Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.

Yanti, L. A. E., & Fauziah, D. (2016). Asuhan Keperawatan Neonatus, Bayi, dan Balita. Jakarta:
Salemba Medika.

Anda mungkin juga menyukai