Program PKB Guru MI Miftahul Ulum
Program PKB Guru MI Miftahul Ulum
YAYASAN ATTAQWIYAH
MIS MIFTAHUL ULUM MEGU CILIK
TERAKREDITASI A
SK NOMOR : 02.00/128/SK/BAN-SM/IX/2018
Jl. Fatahillah No. 08 Blok Galgadung RT. 02 RW. 03 Desa Megu Cilik
Kecamatan Weru Kabupaten Cirebon Jawa Barat Kode 45154
NSM : [Link].0076
Website : [Link]
LEMBAR PENGESAHAN
ii
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim.
Seraya memanjatkan puji syukur ke Hadirat-Nya. Atas segala nikmat yang dikaruniakan-Nya.
Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan atas kekasih-Nya Nabi Muhammad SAW yang
ditugaskan menyampaikan risalah-Nya, juga kepada keluarga serta segenap sahabatnya.
Semoga bermanfaat
iii
DAFTAR ISI
C. Tujuan ................................................................................................................................... 2
A. Pengertian PKB..................................................................................................................... 3
iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pengembangan diri adalah upaya-upaya yang dilakukan guru untuk meningkatkan
profesionalismenya agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan peraturan perundang-
undangan atau kebijakan pendidikan nasional serta perkembangan [Link]
pengembangan diri terdiri dari diklat fungsional dan kegiatan kolektif guru untuk
meningkatkan kompetensi dan/atau keprofesian guru. Diklat fungsional adalah kegiatan
guru dalam mengikuti pendidikan atau latihan yang bertujuan untuk meningkatkan
keprofesionalan guru dalam kurun waktu [Link] kegiatan kolektif guru adalah
kegiatan guru dalam mengikuti kegiatan pertermuan ilmiah atau kegiatan bersama yang
bertujuan untuk meningkatkan keprofesianalan guru.
Peran strategis guru tersebut menuntut pembinaan dan pengembangan yang terus-
menerus melalui pelatihan, pendampingan, supervisi atau pengawasan baik akademik
maupun manajerial. Supervisi pengajaran yang dilakukan oleh kepala madrasah melalui
kelompok kerja guru madrasah dan pengawas secara kontinyu perlu diarahkan pada upaya-
upaya yang sifatnya memberikan kesempatan kepada para guru untuk berkembang secara
profesional, sehingga mereka lebih mampu melaksanakan tugas pokoknya Peningkatan
kualitas pembelajaran memiliki makna yang strategis dan berdampak positif berupa
peningkatan kemampuan dalam menyelesaikan masalah pendidikan dan pembelajaran
yang dihadapi secara nyata, peningkatan kualitas siswa, proses dan hasil belajar,
peningkatan profesionalitas pendidik, dan penerapan prinsip pembelajaran berbasis
penelitian. Salah satu penyebab hasil belajar siswa yang rendah adalah terbatasnya
kesempatan guru dan tenaga kependidikan untuk mendapatkan pelatihan dalam jabatan
(in-service training) yang berkelanjutan, bermutu dan terjangkau.
Oleh karena itu dibutuhkan perhatian yang lebih pada program PKB yangtelah ada
yaitu lebih fokus dibawah Kementerian Agama terkait dengan Pengembangan keprofesian
berkelanjutan (PKB) yang diperuntukan bagi Guru dan Tenaga Kependidikan madrasah
baik PNS dan atau non PNS yang tersebar di 34 Provinsi.
B. Dasar Hukum
1. Pembukaan UUD 1945:“….melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah
indonesia, mencerdaskan kehidupan bangsa”.
1
2. Pasal 28 ayat (1) UUD’45:
Setiap orang berhak … mendapatkan pendidikan dan manfaat dari ilmu pengetahuan
dan teknologi, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya demi
kesejahteraan umat manusia.
3. Pasal 31 UUD’45:
Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, Untuk dapat melaksanakan proses
pendidikan sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945, maka di sekolah/madrasah
diperlukan : Guru Profesional.
C. Tujuan
1. Memfasilitasi guru untuk terus memutakhirkan kompetensi yang menjadi tuntutan ke
depan berkaitan dengan profesinya.
2. Memotivasi guru agar memiliki komitmen melaksanakan tugas pokok dan fungsinya
sebagai tenaga profesional.
3. Mengangkat citra, harkat, martabat profesi guru, rasa hormat dan bangga kepada
penyandang profesi guru.
2
BAB II
Lingkup Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan
3
C. Manfaat Adanya PKB
PKB sebenarnya tidak hanya meningkatkan kompetensi bagi guru, tapi ada banyak
manfaat yang bisa didapatkan dari program pengembangan ini untuk orang tua, siswa,
sekolah, hingga masyarakat luas.
Manfaat pengembangan keprofesian pertama adalah bagi guru. Dengan mengikuti
PKB, guru diharapkan dapat mengembangkan kompetensi dan ilmu pengetahuan agar semua
tugas hingga proses pembelajaran menjadi lebih baik serta mampu membimbing peserta didik
secara maksimal untuk mengejar cita-citanya.
Lalu, manfaat PKB bagi peserta didik ialah mendapatkan jaminan pengajaran yang
disesuaikan dengan kemampuan siswa dan bersifat efektif.
Sedangkan manfaat PKB bagi sekolah yakni mendapatkan kredibilitas tinggi sebagai
lembaga pendidikan karena semua tenaga pendidiknya sudah lebih profesional karena
kemampuan guru dan peserta didik yang meningkat pesat.
Manfaat PKB bagi orang tua ialah adanya jaminan kualitas pendidikan yang akan
diberikan untuk anak agar siap berperan ke lapisan masyarakat.
4
2. Publikasi Ilmiah
Kontribusi guru terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan proses pembelajaran di
sekolah dapat dilakukan dengan membuat dan mempublikasikan karya tulis ilmiah. Untuk
mempublikasikan karya ilmiah, pemerintah membaginya dalam tiga kelompok, seperti:
a. Publikasi Ilmiah mengenai hasil penelitian ilmu pendidikan formal berupa makalah
tinjauan ilmiah, artikel ilmiah, tulisan ilmiah populer, dan sebagainya.
b. Guru dapat menjadi narasumber untuk kegiatan seminar, diskusi ilmiah, atau
lokakarya di berbagai tingkatan.
c. Guru dapat membuat pedoman dan buku teks pelajaran.
3. Karya Inovatif
Dalam karya inovatif, guru dapat berkontribusi dalam pengembangan dan modifikasi
terhadap peningkatan dan kualitas pembelajaran. Adapun karya-karya yang bisa
dilakukan yakni:
a. Membuat karya seni
b. Menciptakan karya di bidang sains yang dapat dimodifikasi oleh siswa
c. Mengembangkan model pembelajaran yang atraktif, efektif, dan kreatif
Meskipun program ini sudah disusun sedemikian rupa, nyatanya tingkat partisipasi
guru dalam dalam menjalankan berbagai jenis PKB cukup rendah. Hal ini dikarenakan
tugas guru yang terlampau banyak, jadwal mengajar yang pada, hingga masalah keluarga
membuat mereka tidak memiliki waktu yang cukup untuk mulai mengikuti semua
kegiatan PKB.
Selain itu, sebagian guru lebih memilih membuat rangkuman materi seadanya
dibandingkan harus memodifikasi materi dengan memanfaatkan perangkat media. Hal
ini dikarenakan semua pekerjaan guru kurang dihargai.
Untuk mengatas tersebut, ada baiknya sekolah, dinas pendidikan, atau pemerintah
mulai memenuhi kuota tenaga pendidik agar resiko guru mengajar mata peljaran yang
tidak sesuai dengan yang ia kuasai dapat dkurangi. Ini menjadi langkah awal agar guru
dapat memiliki waktu yang cukup untuk mengikuti semua kegiatan PKB.
Selanjutnya membiasakan untuk menghargai pekerjaan guru sekecil apapun, pihak
sekolah dapat memberikan reward kepada guru yang dapat menjadi inovator dalam
mengembangkan sistem pengajaran yang efektif. Cara ini bisa membuat guru lain terpacu
dan mulai membuat karya inovatif yang dapat memajukan pendidikan dan meningkatkan
kemampuan peserta didik.
5
BAB III
PROGRAM PKB GURU
6
LAMPIRAN PROGRAM PKB GURU
1. IN HOUSE TRAINING IKM
Abstrak
Kurikulum merdeka saat ini menjadi salah satu upaya pemerintah dalam mempercepat proses transformasi
pendidikan di Indonesia ke arah yang lebih baik. Dalam implementasinya tentu perlu dipahami oleh guru
sebagai pemeran utama pelaksana kurikulum. Artikel pengabdian ini memaparkan hasil pelaksanaan In
House Training(IHT) Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) di Komite Pembelajaran yang ada pada
empat sekolah penggerak di Kabupaten Garut. Keempat sekolah penggerak ini merupakan satuan
pendidikan pelaksana IKM pada Program Sekolah Penggerak angkatan pertama. Pelaksanaan melalui
empat tahap yakni: 1) pemberian materi melalui pelatihan dan workshop, 2) pendampingan penyusunan
perangkat ajar, 3) implementasi perangkat ajar yang telah disusun, dan 4) refleksi kegiatan. Refleksi
kegiatan dilakukan dengan mengisi instrumen refleksi. Hasil refleksi menunjukkah bahwa sebagian
besar guru mengalami kendala keterbatasan waktu dalam menyusun perangkat ajar. Tiga topik terbanyak
yang dianggap paling menantang diantaranya terkait penyusunan visi misi dan program sekolah,
penyusunan Kurikulum Operasional Sekolah, dan penyusunan modul ajar.
1 Pendahuluan
2. Metodologi
Kegiatan pengabdian yang telah dilakukan ini berbentuk kegiatan In House Training (IHT)
beserta pendampingan dan refleksi kegiatan. Pengabdian dilakukan di empat satuan pendidikan jenjang
SMP pelaksana Program Sekolah Penggerak di Kabupaten Garut. Keempat sekolah ini terdiri dari dua
sekolah negeri dan dua sekolah swasta. Pelaksanaan Pengabdian meliputi empat tahapan, yaitu: 1)
pemberian materi melalui pelatihan dan workshop, 2) pendampingan penyusunan perangkat ajar, 3)
implementasi perangkat ajar yang telah disusun, dan 4) refleksi kegiatan. Di akhir kegiatan, yakni
bagian refleksi, digunakan instrumen refleksi dengan menggunakan google form untuk merefleksikan
proses pembelajaran dan implementasi di lapangan.
.
3. Hasil dan Pembahasan
Pelaksanaan IHT pada tahap pertama yakni pelatihan dan workshop dilakukanpertama kali di MI
MMiftahul Ulum Megu Cilik. Pelaksanaan dilakukan pada tanggal 09 September 2023di aula MI Miftahul
Ulum Megu Cilik. Kegiatan dihadiri oleh pengawas, kepala sekolah, perwakilan dari komite sekolah,
serta semua dewan guru sebagai peserta.
Pelaksanaan pelatihan di MI Miftahul Ulum Megu Cilik dihadiri oleh 30 orang peserta.
yang merupakan bagian dari Komite Pembelajaran pelaksana IKM. Pada kegiatan pelatihan ini ada
beberapa materi yang dibahas, diantaranya: orientasi kurikulum merdeka, pembelajaran dengan
paradigma baru, perancangan projek penguatanProfil Pelajar Pancasila, pemahaman mengenai capaian
pembelajaran, penyusunan alur tujuan pembelajaran (ATP), penyusunan kurikulum operasional satuan
pendidikan (KOSP), pengenalan learning management system (LMS), dan penggunaan platform
merdeka mengajar (PMM). Peserta sangat antusias mengikuti pelatihan meskipun ada beberapa
kekhawatiran dalam melaksanakan IKM terutama dalam hal perencanaan pembelajaran dan
pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Perencanaan pembelajaran pada kurikulum
merdeka ini tertuang dalam Modul Ajar (Rahimah, 2022).
Pelatihan yang kedua dilaksanakan di MI Miftahul Ulum Megu Cilik pada tanggal 09 September
2023 Pelatihan ini diikuti oleh 30 orang peserta yang mana sebagian besar peserta sudah melaksanakan
8
IKM pada tahun 2023. Hanya ada empat orang guru yang baru melaksanakan di tahun ini sehingga
kegiatan pelatihan lebih pada penguatan komitepembelajaran yang sudah ada. Kegiatan IHT difokuskan
pada penelaahan KOSP dan penyusunan perangkat pembelajaran kurikulum merdeka.
Pelatihan yang ketiga dilaksanakan di MI Miftahul Ulum Megu Cilik pada tanggal . Kegiatan
pelatihan dihadiri oleh 29 peserta yang terdiri dar seluruh dewan guru MI Miftahul Ulum. Materi
yang dibahas pada pelatihan ini difokuskan pada penyusunan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) dan
Modul Ajar. Kendala yang ditemukan pada satuanpendidikan ini adalah belum tersedianya alur
tujuan pembelajaran yang utuh untuk
satu fase. Padahal di jenjang SMP hanya ada satu fase pembelajaran yakni fase D. Oleh karena itu
perlu ada koordinasi pada setiap guru mata pelajaran yang sama untuk menentukan alur tujuan
pembelajaran yang akan digunakan di sekolah.
Gambar 3. Diskusi Penyusunan Alur Tujuan Pembelajaran Tiap Mata Pelajaran diMI Miftahul
Ulum Megu Cilik
Pelatihan yang keempat dilaksanakan di MI Miftahul Ulum Megu Cilik pada tanggal 09
September 2023. Di sekolah ini hampir sama dengan komite pembelajaran di MI Miftahul Ulum
Megu Cilik yang mana sebagian besar gurunya telah melaksanakan IKM ditahun pertama sehingga
benar-benar baru mempelajari isi dari Kurikulum Merdeka. Pada pelatihan di sekolah ini juga
difokuskan pada penyusunan ATP dan Modul Ajar. Alur Tujuan Pembelajaran dan Modul Ajar ini
memang perlu disusun sendiri oleh guru agar lebih fleksibel dan kontekstual.
9
Gambar 4. Pelatihan IKM di MI Miftahul Megu Cilik
Tahap kedua adalah kegiatan pendampingan penyusunan perangkat ajar.
Pada saat pelaksanaan pelatihan atau workshop di tahap pertama, tentunya guru tidak bisa
menyelesaikan secara langsung perangkat pembelajarannya. Guru perlu didampingi dalam
penyelesaian penyusunan perangkat pembelajaran. Penulis sekaligus Fasilitator Program Sekolah
Penggerak melakukan pendampingan dengan memantau dokumen perangkat ajar yang dikumpulkan
melalui google drive. Guru diarahkan untuk menggunakan akun [Link] sehingga terbiasa dalam
memanfaatkan fasilitas digital yang ada di sekolah terutama Platform Merdeka Mengajar (PMM). Dari
hasil pendampingan ternyata masih banyak guru yang kesulitan dalam menyusun perangkat ajar.
Sampai dengan tengah tahun pelajaran 2022/2023 pengumpulan dokumen perangkat ajar dari setiap
satuan pendidikan yang didampingi hanya berkisar 60-70% saja. Hal ini menjadi catatan untuk
dievaluasi dan diperbaiki kembali di tahun berikutnya.
Pada tahap ketiga adalah implementasi perangkat ajar yang disusun. Melaluikegiatan diskusi
pada Forum Pokja Manajemen Operasional (PMO) tingkat sekolah diperoleh informasi mengenai
implementasi yang telah dilakukan oleh guru di dalam kelasnya masing-masing. Seluruh guru telah
melaksanakan pembelajaran sesuai dengan perangkat pembelajaran yang telah dilakukan. Sebagian
besar guru juga sudah melaksanakan penyesuaian pembelajaran berdasarkan hasil asesmen awal yang
telah dilakukan.
Pada tahap keempat dilakukan refleksi untuk mengukur sejauh mana pelaksanaan IHT di satuan
pendidikan masing-masing. Berdasarkan hasil refleksi diperoleh bahwa:
1) Guru-guru sudah mempelajari mengenai KOSP, CP, TAPI, ATP, dan Modul Ajar
2) Guru semakin memahami mengenai kurikulum merdeka
3) Guru merasa senang dan bersemangat saat melaksanakan In House Training
4) Guru memperoleh kendala waktu dalam menyelesaikan tugas-tugas pada kegiatan In House
Training
5) Ada beberapa topik yang dianggap paling menantang pada saat IHT diantaranya: menyusun
visi misi satuan pendidikan, KOSP, Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, merancang
Tujuan Pembelajaran, danmerancang Alur Tujuan Pembelajaran
4. Kesimpulan
11
Daftar Pustaka
12
JADWAL KEGIATAN IN HOUSE TRAINING
Merdeka
merdeka M.A
13
2. KARYA INOVATIF “JURNAL PENELITIAN”
Nur Ardiyanti
Madrasah Ibtidaiyah Miftahul Ulum Megu Cilik Nurardiyanti576@[Link]
Abstract
This study examines the role of teachers in handling and preventing bullying at the Madrasah Ibtidaiyah
level. This research uses descriptive qualitative method. Where qualitative research is research that aims to
understand a phenomenon experienced by a person such as a phenomenon about behavior, perception,
motivation, by describing it in the form of words and language in a special natural context. Data collection
techniques used in this study were observation, interviews, and documentation. The population in this study
were all teachers at MI Miftahul Ulum Megu Cilik. The criteria for the subjects in this study were all
teachers who taught on average more than 3 years totaling about 6 teachers. The data analysis techniques
used in this study were data reduction, data presentation and inductive data analysis conclusions. Data
analysis is done by reducing data, presenting data and drawing conclusions. The validity of the data was
used by means of triangulation. The results of the study show that the forms of bullying that occur in MI
Miftahul Ulum Megu Cilik are in the form of verbal and physical bullying. The teacher's role in preventing
bullying is carried out in various ways, for example by way of group or classical guidance, individual
guidance, conducting coaching activities at the end of the semester and the beginning of the semester, if
bullying is in the severecategory the teacher will collaborate with parents in advising students. about
bullying behavior. The teacher also provides input to parents about the dangers of bullying behavior so that
parents can always monitor their children's behavior.
Abstrak
Penelitian ini mengkaji tentang peran guru dalam penanganan dan pencegahan perilaku bullying di tingkat
Madrasah Ibtidaiyah. Penelitian ini menggunakan metode kulitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Kriteria subjek dalam
penelitian ini adalah semua guru di MI Miftahul Ulum Megu Cilik yang rata-rata mengajar lebih dari 3
tahun berjumlah 6 guru., Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu reduksi
data, penyajian data dan penarikan kesimpulan analisis data bersifat induktif. Dari hasil penelitian
menunjukan bahwasanya bentuk-bentuk perilaku bullying yang terjadi di MI Miftahul Ulum Megu Cilik
yaitu berupa bullying verbal dan fisik. Peran guru dalam pencegahan tindakan bullying dilakukan dengan
berbagai cara misalnya dengan cara pengarahan secara kelompok atau klasikal, bimbingan secara individu,
melakukan kegiatan pembinaan di akhir semester serta awal semester, jika perbuatan bullying masuk dalam
kategori parah guru akan berkolaborasi dengan orang tua dalam menasehati siswa-siswi tentang perilaku
bullying. Guru juga memberi masukan kepada orang tua tentang bahaya perilaku bullying agar orang tua
dapat selalu memantau perilaku anak.
Kata kunci: peran guru; bullying; Madrasah Ibtidaiyah.
Pendidikan merupakan kebutuhan ilmiah setiap manusia dan program pemerintah. Dimana di dalam
14
pendidikan terjadi interaksi antara guru dan siswa Pendidikan berperan penting dalam membentuk
kecerdasan dan perilaku moral siswa-siswi. Pendidikan membentuk siswa-siswi dalam menghadapi setiap
tantangan yang ada. Pendidikan sendiri merupakan proses dari yang tidak tahu menjadi tahu. Menjadi orang
yang berpendidikan berarti manusia menjadi proses perubahan yang berketerusan yang dari tidak tahu
menjadi tahu (Danim, 2011).
Pendidikan merupakan salah satu kendaraan untuk merubah kehidupan suatu bangsa. Dalam artian,
suatu bangsa terlihat berkembang atau maju dilihat dari pendidikan yang sedang berproses atau berjalan
didalamnya, maka pendidikan diangap sangat penting karena kemajuansuatu bangsa dilihat dari tingkat
pendidikanya dan pendidikan merupakan pondasi dalam kemajuan suatu bangsa. Indonesia walaupun
terhitung negara berkembang, Indonesia mempunyai cita-cita untuk meningkatkan pendidikan bangsa lewat
pendidikan. yang telah diatur dalam UU No.20 Tahun 2003 pasal 5 ayat 4 tentang Sistem Pendidikan
Nasional bahwa semua warga negara memiliki potensi, mereka berhak secara khusus mendapatkan hak
pendidikan.
Di Negara Indonesia sendiri pendidikan formal terbagi menjadi tiga yaitu Sekolah Dasar (SD/MI),
Sekolah Menengah Pertama (SMP/MTs) dan Sekolah Menengah Atas (SMA, SMK, MA). Di dalam sebuah
sekolah tentunya bukan hanya terjadi proses pembelajaran, tetapi juga terjadi proses interaksi antar siswa-
siswi dimana setiap individu memiliki karakter dan sifat yang berbeda, hal-hal yang sering terjadi di
lingkungan sekolah di luar pembelajaran yaitu perilaku bullying dimana individu yang merasa kuat selalu
menindas yang lemah dan perilaku bullying ini nampaknya masih cukup sulit untuk dipisahkan dari
lingkungan sekolah yang ada di Indonesia.
Menurut Komisi Perlindungan Anak (KPAI), Indonesia merupakan negara dengan kasus bullying di
sekolah yang paling banyak pelaporan masyarakat ke komisi perlindungan anak. KPAI mencatat 369
pelaporan terkait masalah tersebut, 25 % dari jumlah tersebut merupakan pelaporan di bidang Pendidikan
yaitu sebanyak 1.480 kasus. Kasus yang dilaporkan hanya sebagian kecil dari kasus yang terjadi, tidak sedikit
tindak kekerasan terhadap anak yang tidak dilaporkan (Setyawan, 2015).
15
Menurut Semai Jiwa Amini (Sejiwa, 2008) dampak yang terjadi akibat perilaku bullying ialah
menyendiri, menangis, minta pindah sekolah, konsentrasi anak berkurang, prestasi belajar menurun, tidak
mau bersosialisasi, anak jadi penakut, gelisah, berbohong, depresi, menjadi pendiam, tidak bersemangat,
menyendiri, sensitif, cemas, mudah tersinggung, hingga menimbulkan gangguan mental. Bullying tidak
hanya berdampak pada korban, tetapi juga pada pelaku. Tindakan mengintimidasi itu juga berakibat buruk
bagi korban, saksi, bahkan bagi si pelakunya itu sendiri.
Kata Bullying berasal dari bahasa Inggris, yaitu dari kata bull yang berarti banteng yang senang
merunduk kesana-kemari. Secara etimologis, kata bully berarti penggertak, orang yang mengganggu orang
yang lemah. Di sisi lain, definisi tentang bullying seacara terminologi yaitu “keinginan untuk menyakiti,
hasrat ini dilakukan dengan senang hati oleh pelakunya dan kerugiaan yang cukup berat bagi korbanya”.
Pelaku bullying biasanya lebih menonjol dari korban bullying baik dari segi pergaulan, fisik, perilaku sering
berusaha untuk menunjukan kekuatannya kepada para teman-temanya (Astuti,2008)
Perilaku bullying dibagi menjadi empat kategori. a) Kontak verbal langsung (mengancam,
mempermalukan, pelecehan fisik, panggilan telepon bersyarat, atau panggilan telepon asli). b) Perilaku
nonverbal langsung (mata cerah, menjulurkan lidah, ekspresi wajah yang tidak tepat, kata-kata kasar atau
intimidasi, biasanya disertai dengan intimidasi fisik atau verbal); c) Perilaku nonverbal tidak langsung
(diam, fitnah seseorang untuk melukaipersahabatan, sengaja dipojokkan atau diabaikan, mengirim pesan
tentang terorisme); d) Pelecehan seksual (diklasifikasikan sebagai perilaku ofensif fisik atau verbal)
(Ariesto,2009).
Faktor penyebab terjadinya bullying adalah a) Hubungan keluarga. Pengganggu biasanya berasal dari
latar belakang keluarga yang bermasalah dan hubungan keluarga yang sering menyelesaikan masalah
dengan kekerasan, agresi sehingga anak akan mengamati dan mencoba tindakan tersebut di luar. Sehingga
banyak anak yang akan mengamati bahwa dia memiliki kekuatan untuk bisa digunakan dalam
menyelesaikan suatu masalah; b) sekolah, pihak sekolah yang mengabaikan perilaku bullying akan
mendapatkan bahwa anak-anak yang mempunyai kebiasaan bullying akan dapat berbuat seingin hatinya.
Bullying berkembang dengan pesat dalam lingkungan sekolah yang sering memberikan masukan negatif
pada siswanya, misalnya berupa hukuman yang tidak membangun sehingga tidak mengembangkan rasa
menghargai dan menghormati antar sesama anggota sekolah; c) Faktor kelompok teman sebaya dalam
pergaulan sekolah atau lingkungan rumah terkadang menyebabkan terjadinya perilaku bullying. Beberapa
anak masuk atau melakukan tindakan bullying agar anak dapat
16
diterima dalam kelompok tersebut meski kadang individu ataupun anak merasa kurang nyaman dalam
melakukan tindakan tersebut d) Kondisi lingkungan sosial dapat pula menjadi penyebab perilaku bullying,
salah satunya yaitu kemiskinan. Banyak sekali di lingkungan sekolah terjadi pemalakan, hal tersebut
dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pelaku bullying.
e) Tayangan televisi dan media internet memberikan anak-anak pola tiruan perilaku bullying dimana mereka
mendapatkan contoh perilaku bullying dari tontonan televisi yang tidak mendidik (Ariesto,2009). Survei
yang dilakukan kompas memperlihatkan bahwa 56% menirukan perbuatan-perbuatan yang dilakukan dalam
adegan film serta kata-katanya (42%).
Perilaku bullying sendiri sebenarnya dapat di cegah dengan pengarahan ataupun pembinaan dari
seorang guru, karena fungsi guru bukan hanya mengajar peserta didik tapi juga membina akhlak dan
perilaku siswa-siswi. Menurut Suparlan (2006) Guru memiliki satu kesatuan peran dan fungsi yang tak
terpisahkan, antara kemampuan mendidik, membimbing, mengajar, dan melatih. Keempat kemampuan
tersebut merupakan kemampuan integrativ, yang satu sama lain tak dapat dipisahkan dengan yang lain.
Secara komprehensif sebenarnya guru harus memiliki keempat kemampuan tersebut secara
utuh. Meskipun kemampuan mendidik harus lebih dominan. Dari sisi lain, guru sering
dicitrakan memiliki peran ganda yang dikenal dengan EMASLIMDEF (educator, manager, administrator,
supervisor, leader, innovator, dinamisator, evaluator, dan fasilitator). EMASLIM lebih merupakan peran
kepala sekolah. Akan tetapi, dalam skala mikro di kelas, peran itu juga harus dimiliki oleh
para guru. Educator merupakan peran yang utama dan terutama, khususnya untuk peserta
didik pada jenjang pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs). Peran ini lebih tampak sebagai teladan
bagi peserta didik, sebagai role model, memberikan contoh dalam hal sikap dan perilaku dalam membentuk
kepribadian peserta didik sesuai norma yang berlaku di masyarakat. Sebagai manager, pendidik memiliki
peran untuk menegakkan ketentuan dan tata tertib yang telah disepakati bersama di sekolah,
memberikan arahan atau rambu- rambu ketentuan agar tata tertib di sekolah dapat dilaksanakan
dengan sebaik-baiknya oleh warga sekolah. Dalam hal ini guru juga mempunyai peran dalam membentuk
kepribadian seorang peserta didik salah satunya yaitu dalam hal penanganan dan pencegahan bullying.
17
Dikarenakan banyak sekali guru yang belum menerapkan hal ini karena masih fokus dalam hanya
membentuk pembelajaran saja padahal hal ini sangat penting sekali karena salah satu tugas seorang guru
yaitu untuk membentuk kepribadian yang baik bagi peserta didiknya. Dalam hal ini pihak sekolah sebagai
tempat anak-anak berinteraksi harus mempunyai cara ataupun keterampilan agar anak-anak tidak
melakukan perilaku bullying. Disini peran pihak guru sangat dibutuhkan dalam pencegahan dan penanganan
kasus bullying. Oleh karena itu peneliti ingin meneliti tentang bentuk-bentuk bullying yang terjadi serta
peran guru dalam penanganan dan pencegahan perilaku bullying di tingkat Madrasah Ibtidaiyah.
Metode
Jenis penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu penelitian deskriptif kualitatif, karena
dalam penjelasan ini diungkap kejadian dengan apa yang terjadi di lapangan secara nyata ataupun apa
adanya, seperti dengan kejadian yang ada. Metode penelitian kualitatif merupakan suatu cara atau metode
penelitian di gunakan dalam meneliti subjek sesuai dengan fakta yang ada di lapangan, disini peneliti adalah
instrumen kunci ataupun yang utama, teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
observasi, wawancara dan dokumentasi. Populasi dalam penelitian ini adalah semua guru di MI Miftahul
Ulum Megu Cilik. Kriteria subjek dalam penelitian ini adalah semua guru yang rata-rata mengajar lebih
dari 3 tahun untuk keabsahan data yang dilakukan secara triangulasi (gabungan), Adapun teknik analisis
data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan
analisis data yang bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada
generalisasi” (Sugiyono, 2005)
Hasil
Bentuk Bullying Yang Terjadi
Perilaku bullying yang terjadi sebenarnya hampir atau banyak terjadi namun tidak disadari ataupun
dilihat oleh seorang guru dan warga sekolah ataupun kalangan siswa-siswi itu sendiri. Secara dasar
bullying terbagi menjadi tiga. Bullying adalah bullying fisik, psikis dan verbal (Chakrawati, 2015).
Salah satu bentuk bullying yang terjadi di MI Miftahul Ulum Megu Cilik yaitu bullying fisik dan verbal,
bentuk bullying secara fisik yaitu: memukul, menarik, mendorong, menendang, dan bentuk bullying verbal
seperti: mengejek, menyoraki, memanggil yang bukan nama aslinya, serta membentak. Bentuk bullying
psikis berupa mendiamkan dan menjauhi serta menolak berkomunikasi. Hal ini di dapat dari hasil
wawancara salah satu guru di MI Miftahul Ulum Megu Cilik:
“Yang sering terjadi kenakalan atau bullying itu, ya itu saya sering lihat anak-anak mukul mukulan
terus manggil itu bukan pakai nama panggilanya tapi nama dari orang tuanya, bahkan ada anak yang
punya julukannya masing-masing.”
18
Guru merupakan pembimbing dimana berdasarkan pengalaman serta pengetahuanya tentang
pembelajaran mereka harus bertanggung jawab terhadap pendidikan dan perkembangan siswa-siswinya
(Mandiri, 2017). Berdasarkan dari pengamatan serta pengumpulan data guru di MI Miftahul Ulum Megu
Cilik telah mengupayakan pencegahan dan penanganan bullying melalui video motivasi, pengarahan secara
klasikal, pengarahan secara individual dan menyisipkan nilai-nilai karakter dalam setiap muatan mata
pelajaran. Dalam pelaksanaannya guru juga selalu melibatkan orang tua siswa jika memang permasalahan
siswa cukup sulit biasanya guru akan berkunjung kerumahnya. Berikut hasil wawancara kepada para guru
tentang tindakan pencegahan perilaku bullying di sekolah.
2 AA Kalau dari saya sih mereka akan ada hukuman jika mereka ada yang salah satunya
saling menyakiti antar siswa.
3 AL Saya suka memberikan mereka atau saya ajak mereka melihat video salah satunya
video motivasi ataupun video tentang kebaikan-kebaikan seseorang.
4 NN Kalau dalam hal bullying saya selalu memberikan nasehat-nasehat kecil memberikan
mereka ceramah tentang pentingnya kebaikan tidak boleh saling menyakiti. Saat
penerimaan rapor juga pas ada orang tuanya semua nya saya beri nasehat.
5 ET Memberikan hukuman, jadi kalau saya dikenal dengan memberikan hukuman,
tapi masih batas wajar, itu saya lakukan agar anak-anak tidak berbuat seenaknya.
6 PD Memberikan mereka motivasi agar selalu berbuat baik jangan sampai ada
yang
19
berperilaku bullying. Lalu melatih mereka untu saling mengobrol, temapat duduk saya
acak agar bisa rukun satu sama lain, dan saya selalu mengajarkan mereka untuk saling
menanyakan kabar.
Hasil di lapangan yang dilakukan peneliti, bimbingan individual dilakukan secara mandiri
kepada siswa dan bimbingan secara klasikal dilakukan oleh guru di dalam kelas yang besar.
Seperti “jangan ada yang pernah menyakiti siapapun di sini, harus saling menyayangi” dan untuk
pengarahan individu “kamu tidak boleh melakukan perbuatan yang menyakitkan teman-teman”
siswa-siswi diberi arahan sebelum pelajaran dimulai tentang bagaimana cara siswa bersikap
terhadap teman nya membantu sesama teman nya dan tidak melakukan tindakan-tindakan
kekerasan, mengobrol dan menanyakan kabar dan keadaan sesama teman hal ini diberikan secara
terus menerus di awal pembelajaran cara ini dilakukan untuk mengembangkan empati sesama
teman yang ada di kelas, Mengarahkan dan memberikan pengertian kepada siswa tentang perilaku
bullying, baik yang melakukan ataupun menjadi korban dalam perilaku bullying. Hal seperti ini
dilaksanakan ketika suatu perilaku bullying terjadi saat pembelajaran, sehingga pengarahan pun
dilakukan secara bersama atau di dalam kelas. Hal tersebut dilakukan kepada korban berupa
motivasi dan juga dilakukan kepada pelaku berupa nasehat- nasehat tentang perilaku bullying agar
bisa menjadi anak yang baik tanpa melakuan perilaku bullying kepada seseorang.
bullying.
20
2 AA Memberikan arahan secara kelompok didalam kelas, langsung satu kelas saya
peringatkan semua itu
3 AL Ya saya tegur, tapi kalau udah bullying itu langsung saya panggil orang tua
nya juga
4 NN Saya tegur, nanti saya nasehatin di hadapan teman-temanya biar jadi
pembinaan di usia mereka
5 ET Saya kasih hukuman, saya nasehatin di depan orang tuanya kalau bullying bagi
saya nanti itu jadinya sikap kalau terus-terusan
6 PD Kalau dari saya, ya saya tegur kemudian orang tua saya panggil kalau memang
itu
sudah parah
Tabel. 2 Hasil wawancara kepada guru tentang penanganan perilaku bullying
Pembahasan
Dalam penelitian ini bentuk perilaku bullying yang terjdi ditingkat Madrasah Ibtidaiyah yaitu
secara fisik berupa memukul, verbal memanggil dengan nama orang tua nya, psikis dengan cara
menjauhi dan mendiamkan temanya atau tidak mau diajak komunikasi Secara dasar bullying
terbagi menjadi tiga. Bullying adalah bullying fisik, psikis dan verbal (Chakrawati, 2015).
Dalam pencegahan perilaku bullying guru menjelaskan kepada peserta didik untuk selalu
berbuat baik dengan sesama, selalu memotivasi untuk berperilaku baik dan memberi hukuman
yang mendidik kepada para pelaku bullying dan memberi mereka motivasi untuk tidak melakukan
bullying lagi. Perilaku bullying di sekolah dapat dicegah dengan membetuk kepribadian dan
karakter yang baik bagi siswa-siswi. Guru selalu memberi peringatan dengan tegas ketika terjadi
perilaku bullying. Guru sangat penting dalam memberi peranan dan contoh baik dalam mengurangi
perilaku bullying peserta didik (Hendriati,2009). Dalam penelitian ini perilaku guru memberikan
juga pengaruh kepada perilaku bullying peserta didik. Guru yang memiliki perilaku interpersonal
baik akan menurunkan tingkat perilaku bullying pada siswa sebagaimana menurut (Darajat,2005)
Pekerjaan guru dapat dipandang suatu profesi yang secara keseluruhan harus memiliki kepribadian
yang baik dan mental yang tangguh, karena mereka dapat menjadi contoh bagi siswnya dan
masyarakat sekitarnya. Dzakiyh drajat mengemukakan tentang kepribadian guru sebagai
berikut “setiap guru hendaknya mempunyai
21
kepribadian yang akan di contoh dan diteladani oleh anak didiknya, baik secara sengaja maupun
tidak. Berbagai pencegahan merupakan bagian dari upaya preventif. Hal ini karena upaya tersebut
dilakukan untuk melatih, mematangkan sikap dan karakter siswa serta diharapkan dapat mencegah
siswa dalam melakukan tindak kekerasan bullying. Hal tersebut sesuai dengan pendapat (Muis &
Mufidah 2018) yang menegaskan bahwa langkah ini dimaksudkan untuk mencegah timbulnya
masalah bullying di sekolah dan dalam diri siswa sehingga dapat menghambat perkembangannya.
Dalam penanganan bullying guru bekerjasama dan berkoordinasi dengan wali murid.
Koordinasi dilakukan dalam satu semester biasanya di awal semester dan akhir semester
koordinasi dilakukan untuk memantau perkembangangan perilaku peserta didik. Pada saat
pelaksanan penanganan bullying seorang guru harus memiliki pengetahuan tentang tindakan
bullying pengetahuan serta cara menanganinya. Hal ini diharapkan guru dapat menangani dan
mengidentifikasi perilaku bullying yang terjadi dikalangan siswa-siswi (Mandy & Sascha,2012).
Selain itu dalam tindakan penanganan bullying guru selalu menegur, menasehati pelaku dan korban
diberikan sanksi serta pelaku akan dipanggil kedua orang tuanya Selain itu upaya tersebut
dilakukan untuk memberikan efek jera pada pelaku. Hal ini sesuai pendapat (Muis & Mufidah
2018) bahwa dalam hal ini, guru harus segera menangani permasalahan hingga tuntas. Baik itu
penanganan terhadap pelaku, korban, reinforce, dll yang terlibat bullying. Termasuk juga
pengetasan dalam masalah konsekuensi yang akan diterimanya dari sekolah, karena
melanggarperaturan dan disiplin sekolah.
Pengetahuan yang baik diperoleh dari pengalaman yang didapatkan oleh guru khususnya
tentang perilaku bullying. Pengalaman guru terhadap bullying dimasa kecil akan mempengaruhi
cara mereka untuk menangani perilaku bullying (Jihan et al,2013). Pengarahan secara kelompok
atau individu dilakukan saat pembelajaran berlangsung, hal ini dilakukan agar semua peserta didik
mendengarkan tentang perilaku bullying. Tergantung dari masalah yang dihadapi oleh guru, jika
hanya masalah yang biasa dan tidak terlalu berat guru bisa menyelesaikanya secara bersama atau
klasikal, sedangkan jika berat guru akan menyelesaikanya dengan cara memamnggil siswanya.
Model pembelajaran guru dalam pencegahan perilaku bullying dapat menentukan respon siswa
dalam perilaku bullying, salah satunya yaitu saat melakukan agenda classmeting, guru dapat
melakukanya selama beberapa hari disetiap jam hal ini digunakan untuk mencegah serta
mengurangi perilaku bullying disekolah (Elisabeth, 2014).
22
Berdasarkan data hasil penelitian melalui teknik wawancara, dan observasi, terdapat berbagai
upaya tindak lanjut yang dilakukan guru dalam mengatasi bullying antar siswa. Upaya yang
dimaksud meliputi: 1) tetap memantau siswa di lingkungan sekolah; 2) memanggil orang tua siswa;
3) melakukan koordinasi dengan setiap guru kelas. Upaya yang dimaksud di atas merupakan bagian
dari upaya preservatif karena upaya ini dilakukan untuk menindaklanjuti pelaku dan korban
bullying agar tetap di kontrol dan di awasi sehingga siswa tersebut tidak mengulangi perbuatan
tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat (Muis dan Mufidah (2018) bahwa setelah masalah bullying
selesai, maka perlu dilakukan pemeliharaan terhadap segala sesuatu yang positif dari diri siswa agar
tetap utuh, tidak rusak, dan tetap dalam keadaan semula, serta mengusahakan agar hal-hal tersebut
bertambah lebih baik dan berkembang.
Kesimpulan
Dari hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa guru memiliki peran dalam pencegahan
dan penanganan perilaku bullying, guru merupakan bagian dari kegiatan peserta didik di sekolah
bukan hanya menjadi seorang pendidik tetapi juga mengamati perilaku keseharian mereka di
sekolah. Dari hasil penelitian di lapangan, guru bisa melakukan beberapa tindakan untuk mencegah
dan menangani perilaku bullying di sekolah, menjelaskan kepada siswa-siswi untuk selalu
berperilaku baik dengan sesama, selalu memotivasi untuk berperilaku baik dan memberi hukuman
kepada siswa-siswi yang melakukan tindakan tidak baik kepada sesama temanya. Perilaku bullying
di sekolah dapat dicegah dengan membentuk sikap, karakter dan kepribadian peserta didik dengan
cara berkoordinasi atau bekerjasama dengan wali murid. Koordinasi yang dilakukan wali kelas
atau guru kelas biasanya dilakukan dua kali dalam satu semester yaitu ketika penerimaan rapor
pembelajaran. satu kali pada awal semester, serta satu kali saat akhir semester. Guru kelas
menyampaikan perkembangan sifat, nilai dan tingkah laku siswa-siswinya kepada orang tua wali.
Pembinaan secara kelompok atau klasikal dan individu maupun pribadi. Pengarahan ini dilakukan
di dalam kelas saat ada pembelajran dan disitu
23
disisipkan atau dinasehati tentang bahaya perilaku bullying baik untuk pelaku maupun korban.
Tergantung dari masalah apa yang dihadapi oleh guru terkait dengan bullying siswa- siswinya jika
masalah bullying yang terjadi secara biasa guru hanya melakukan pembinaan di dalam kelas secara
bersama atau klasikal namun jika perilaku bullying yang dilakukan melebihi batas guru akan
melakukan tindakan dengan memanggil siswa yang bersangkutan secara individu untuk dilakukan
pembinaan Hal-hal yang dilakukan tersebut merupakan upaya dan penanganan dalam perilaku
bullying di sekolah.
Saran
Bagi peneliti lainnya yang ingin melakukan penelitian yang sama disarankan untuk melakukan
survey lebih mendalam dan untuk melakukan penelitian di tingkat Madrasah Tsanawiyah ataupun
Madrasah Aliyah, karena mengingat kepribadian anak yang mulai berbeda di usia tersebut dan
juga harus melakukan cara penanganan yang lebih ekstra.
Referensi
Ariesto (2009). Pelaksanaan Program Antibullying Teacher Empowerment.
Astuti, P.R. (2008). Meredam Bullying: 3 Cara Efektif Menanggulangi Kekerasan Pada Anak.
Jakarta: PT Grasindo.
Chakrawati, F. (2015). Bullying Siapa Takut? Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri
Coloroso, B. (2007). Stop Bullying: Memutus Mata Rantai Kekerasan Anak dari Prasekolah
hingga SMU (Terjemahan). Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta
Jonathan, Sarwono. (2006). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu
Mandiri. (2017). Peran Guru Dalam Mengatasi Perilaku Bullying PadaSiswa Kelas Atas di SD
Muhammadiyah 6 Surakarta. Skripsi. Universitas Muhammadiyah Surakarta.
24
Mandy G., dan Sascha H. (2012). Correlates of teachers’ ways of handling bullying.
School Psychology International, 34(3) 299–312
25
3. PROGRAM TASHIH DAN TAHSIN METODE UMMI
26
4. SOSIALISASI KEGIATAN AKREDITASI OLEH Drs. H. DENI OCTAVIANA, [Link].I
(Pengawas Madrasah)
27
5. WORKSHOP IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA DI KELAS 3
28
6. WORKSHOP IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA DI KELAS 6
29