0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan63 halaman

Prioritas Pengelolaan Dana Desa

Skripsi ini membahas pengelolaan dana desa dalam pemberdayaan masyarakat di Desa Batee Timoh, dengan fokus pada efektivitas alokasi dana untuk pembangunan dan pemberdayaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dana desa lebih banyak digunakan untuk pembangunan fisik daripada pemberdayaan ekonomi, dan pelaksanaan pengelolaan dana belum sesuai dengan peraturan pemerintah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan melibatkan perangkat desa serta masyarakat sebagai informan.

Diunggah oleh

Arihul Riski
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan63 halaman

Prioritas Pengelolaan Dana Desa

Skripsi ini membahas pengelolaan dana desa dalam pemberdayaan masyarakat di Desa Batee Timoh, dengan fokus pada efektivitas alokasi dana untuk pembangunan dan pemberdayaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dana desa lebih banyak digunakan untuk pembangunan fisik daripada pemberdayaan ekonomi, dan pelaksanaan pengelolaan dana belum sesuai dengan peraturan pemerintah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan melibatkan perangkat desa serta masyarakat sebagai informan.

Diunggah oleh

Arihul Riski
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGELOLAAN DANA DESA DALAM PEMBERDAYAAN

MASYARAKAT DESA BATEE TIMOH

SKRIPSI

Diajukan Untuk Menempuh Ujian Sarjana


Pada Program Studi Akuntansi
Universitas Islam Kebangsaan Indonesia

Oleh:
ASYIFA RAHMAH
NPM: 200262201201

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM KEBANGSAAN INDONESIA
BIREUEN
2024

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah

memberikan kemampuan untuk penulis, sehingga dapat membuat skripsi ini.

Kemudian salam dan sejahtera penulis sampaikan kepada baginda Nabi Muhammad

SAW dimana kehadirannya menjadi lentera bagi ummat manusia secara

komprehensif sehingga terciptanya kedamaian dan ketinggian makna ilmu

pengetahuan di dunia ini. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis memilih judul

skripsi ini adalah “Pengelolaan Dana Desa Dalam Pemberdayaan Masyarakat

Desa Batee Timoh”.

Selanjutnya pada kesempatan ini perkenankanlah penulis mengucapkan

terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Prof. Dr. Apridar, S.E., [Link] selaku Rektor Universitas Islam Kebangsaan

Indonesia

2. Dr. Syaripuddin, S.E., [Link] selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Islam Kebangsaan Indonesia.

3. Murni, S.E., [Link] selaku Ketua Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Islam Kebangsaan Indonesia.

4. Imam Malik, S.E., [Link] selaku Dosen Pembimbing Pertama yang sudah

banyak memberikan masukan dalam skripsi ini.

5. Dr. Mai Simahatie, M.M selaku Dosen Pembimbing Kedua yang sudah

banyak memberikan masukan dalam skripsi ini.

i
6. Tgk. H. Lutfi, [Link].i selaku Dosen Pembahas Pertama yang sudah banyak

memberikan kritik dan saran dalam penyempurnaan skripsi ini.

7. Emalia Ariska, S.E., M.S.M selaku Dosen Pembahas Kedua yang sudah banyak

memberikan kritik dan saran dalam penyempurnaan skripsi ini.

8. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam

Kebangsaan Indonesia beserta seluruh staf pengajar yang telah memberikan

ilmunya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan program perkuliahan ini.

9. Teristimewa bagi Ayahanda dan Ibunda yang telah memberikan motivasi,

membimbing, memberikan dorongan dan semangat serta pengorbanan yang

begitu besar kepada penulis.

10. Seluruh teman-teman seperjuangan pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi

dan Bisnis Universitas Islam Kebangsaan Indonesia yang telah memberi

semangat dan bantuan dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna, untuk itu

saran dan kritikan yang sifatnya membangun sangat penulis butuhkan demi

kesempurnaan tulisan ini.

Bireuen, Juni 2024


Penulis,

Asyifa Rahmah
NPM: 200262201201

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................ i


DAFTAR ISI........................................................................................................ iii
DAFTAR TABEL................................................................................................ iv
DAFTAR GAMBAR........................................................................................... v

BAB I PENDAHULUAN.............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang Masalah................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................ 3
1.3 Pembatasan Masalah..................................................................... 4
1.4 Tujuan Penelitian........................................................................... 4
1.5 Manfaat Penelitian ........................................................................ 4
1.6 Sistematika Penelitian................................................................... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 7


2.1 Kajian Penelitian Terdahulu.......................................................... 7
2.2 Landasan Teori.............................................................................. 10
2.2.1 Teori Agency ................................................................. 10
2.2.2 Pengertian Akuntansi ..................................................... 12
2.2.3 Dana Desa....................................................................... 15
[Link] Pengertian Dana Desa ........................................ 15
[Link] Tujuan Dana Desa ............................................. 17
[Link] Pengelolaan Dana Desa ..................................... 18
[Link] Prinsip Pengelolaan Dana Desa ......................... 19
[Link] Faktor Penghambat Pengelolaan Dana Desa...... 21
2.2.4 Pemberdayaan Masyarakat ............................................... 22
2.3 Kerangka Pemikiran ..................................................................... 25

BAB III METODE PENELITIAN................................................................. 27

3.1 Jenis Penelitian.............................................................................. 27


3.2 Tempat Penelitian ......................................................................... 28
3.3 Instrumen Penelitian ..................................................................... 28
3.4 Sampel Sumber Penelitian ............................................................ 29
3.5 Teknik Pengumpulan Data............................................................ 30
3.6 Teknik Analisis Data .................................................................... 31
3.7 Rencana Pengujian Keabsahan Data............................................. 32

iii
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.......................................................... 35

4.1 Hasil............................................................................................... 35
4.1.1 Gambaran Umum Penelitian ............................................ 35
4.1.2 Pengujian Keabsahan Data ............................................... 37
4.1.3 Pengelolaan Dana Desa dalam Pemberdayaan Masyarakat
Batee Timoh.......................................................................... 37
4.1.4 Pelaksanaan Pengelolaan Dana Desa dalam Pemberda-
yaan Masyarakat Batee Timoh ......................................... 43
4.2 Pembahasan................................................................................... 47

BAB V PENUTUP.......................................................................................... 49

5.1 Kesimpulan.................................................................................... 49
5.2 Saran ............................................................................................. 49

DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 51

iv

iii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ............................................................................. 7

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran ......................................................................... 26

vi
ABSTRAK

Nama : Asyifa Rahmah


Program Studi : Akuntansi
Judul : Pengaruh Pengelolaan Dana Desa Dalam Pemberdayaan
Masyarakat Desa Batee Timoh

Penelitian ini betujuan untuk mengetahui dan menganlisis pengelolaan dana desa
dalam pemberdayaan masyarakat Desa Batee Timoh. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode kualitatif dengan jumlah informan yang diambil yaitu
perangkat desa dan masyarakat. Hasil penelitian menyatakan bahwa di Desa Batee
Timoh Dana Desa banyak direalisasikan pada bidang pelaksanaan pembangunan
desa dan bidang penyelenggaraan pemerintah desa sedangkan untuk bidang
pemberdayaan masyarakat desa serta bidang pembinaan masyarakat desa jumlah
alokasi yang direalisasikan masih rendah. Artinya penyaluran Dana Desa belum
efektif pada bidang pemberdayaan berbasis ekonomi, hal ini terjadi karena masih
banyak diprioritaskan pada pembangunan fisik sehingga masyarakat lebih banyak
menganggarkan untuk infrastruktur. Pelaksanaan pengelolaan dana desa belum
dijalankan sesuai dengan peaturan pemerintah yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 60
Tahun 2014 tentang Dana Desa, dimana alokasi dana desa banyak disalurkan ke
bagian pembangunan fisik dan infrastruktur atau tidak disamaratakan ke semua
bagian yang sudah ditetapkan.

Kata Kunci : Pengelolaan Dana Desa, Pemberdayaan Masyarakat

vii
ABSTRACT

Name : Asyifa Rahmah


Study Program: Accounting
Title : The Influence of Village Fund Management in Empowering the
Batee Timoh Village Community

This research aims to determine and analyze the management of village funds in
empowering the Batee Timoh Village community. The method used in this research is
a qualitative method with the number of informants taken, namely village officials
and the community. The results of the research state that in Batee Timoh Village
Village Funds are mostly realized in the field of implementing village development
and the field of administering village government, while in the field of empowering
village communities and developing village communities the amount of allocation
realized is still low. This means that the distribution of Village Funds has not been
effective in the field of economic-based empowerment, this happens because physical
development is still prioritized so that the community budgets more for
infrastructure. The implementation of village fund management has not been carried
out in accordance with government regulations, namely Government Regulation
Number 60 of 2014 concerning Village Funds, where the allocation of village funds
is mostly channeled to the physical development and infrastructure section or is not
distributed evenly across all designated sections.

Keywords: Village Fund Management, Community Empowerment

viii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pemerintah Indonesia pada saat terus berusaha melakukan peningkatan

pelaksanaan pembangunan nasional agar pertumbuhan pembangunan daerah serta

pembangunan desa dan kota semakin seimbang, namun pada pelaksanaannya masih

ada beberapa masalah seperti ketidaksesuaian pembangunan antara desa dengan kota

di Indonesia. Menanggapi permasalahan tersebut, pemerintah membuat strategi untuk

mengatasi ketidaksesuaian pembangunan yaitu dengan adanya dana desa.

Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 tentang

Pengelolaan Keuangan Desa, dana desa dapat diartikan dana yang bersumber dari

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi desa yang

ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/ Kota dan

digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah, pelaksanaan

pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat. Dana

desa yang mulai dijalankan pada tahun 2015 memberikan kepastian hukum terhadap

pertimbangan keuangan desa dan kabupaten/kota, desa memiliki jatah yang

digunakan untuk mengelola dana desa (Shuha, 2018).

Melalui dana desa, desa dapat berperan lebih aktif dalam mengelola

penyelenggaraan pemerintah, pelaksanaan pembangunan, pembinaan

kemasyarakatan, serta pemberdayaan masyarakat. Menurut Arens (2015) untuk

penerapan dana desa dan tercapainya pengelolaan dana desa, diharapkan masyarakat

1
2

ikut berpatisipasi dalam seluruh kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah desa. Dana

desa yang diberikan kepada desa akan dikelola oleh pemerintah desa, agar tujuan

adanya dana desa dapat tercapai. Tahap pengelolaan dana desa sama halnya dengan

pengelolaan keuangan desa, menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113

Tahun 2014 Pasal 1 Ayat (6) tentang Pengelolaan Keuangan Desa, menjelaskan

bahwa Pengelolaan keuangan desa adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi

perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan dan pertanggungjawaban

keuangan desa (Kerihi, 2020).

Desa Batee Timoh merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan

Jeumpa, Kabupaten Bireuen. Peneliti memilih Desa Batee Timoh sebagai tempat

penelitian karena di desa ini terdapat permasalah dalam pengelolaan dana desa. Desa

Batee Timoh menjadi salah satu desa yang juga sudah menerima aliran Dana Desa

sejak disahkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dan

Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber dari

APBN. Dana Desa sejak disahkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang

Desa dan Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2014 tentang Dana Desa yang

Bersumber dari APBN.

Dana Desa yang bersumber dari APBN ini diharapkan mampu memenuhi

kebutuhan masyarakat Desa Batee Timoh terutama pada bidang pemberdayaan

masyarakat Desa. Hal ini menunjukan bahwa bidang pemberdayaan merupakan

fokus utama desa dalam meningkatkan pendapatan masyarakat desa agar tercapainya

kesejahteraan masyarakat atau perubahan yang lebih baik kedepannya. Bidang

Pemberdayaan pada desa Batee Timoh memiliki beberapa program yang menjadi
3

prioritas dalam upaya meningkatkan pendapatan bagi masyarakat diantaranya

Pembangunan BUMDES dan juga bantuan alat tangkap nelayan.

Berdasarkan hasil wawancara awal yang dilakukan oleh peneliti diketahui

bahwa terdapat permasalahan yang terjadi di Desa Bate Timoh yaitu pada pendirian

dan Pembangunan BUMDES pada tahun 2022, dimana hal tersebut belum

terealisasikan dengan baik sehingga dananya dikembalikan pada kopdit desa.

Kemudian permasalahan lainnya yaitu bantuan alat tangkap nelayan yang seharusnya

juga direalisasikan menggunkan dana desa melalui bidang pemberdayaan juga tidak

kunjung diberikan, sehingga melayan menggunakan biaya pinjaman untuk

melangkapi alat alat tangkap tersebut. Artinya pengelolaan dana desa dalam bidang

pemberdayaan di Desa Batee Timoh, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen belum

berjalan maksimal dan belum sesuai dengan Permendagri nomor 113 tahun 2014

tentang Pengelolaan Keuangan Desa dan Permendagri nomor 114 tahun 2014 tentang

Pedoman Pembangunan Desa yang dalam hal ini peneliti lebih terfokuskan dalam

bidang pemberdayaan.

Menurut Harjono (2019) dalam pengelolaan dana desa juga harus ada

transparansi, dimana akses untuk memperoleh pengelolaan dana desa juga harus

dibuka, sehingga masyarakat desa tidak khawatir penggunaan dana desa untuk

keperluan apa saja. Di dalam pelaksanaan program atau kegiatan yang berasal dari

dana desa terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh pemerintah desa, sehingga

proses pengelolaan dana desa menjadi terhambat atau belum maksimal. Hal tersebut

disebabkan oleh sumber daya perangkat desa yang belum paham mengenai standar

akuntansi pemerintah desa dalam pengelolaan keuangan desa khususnya pengelolaan


4

dana desa yang memiliki beberapa tahapan mulai dari perencanaan hingga

pertanggungjawaban yang dilakukan oleh pemerintah desa. Sehingga ketidakjelasan

tersebut mengakibatkan pengelolaan dana desa yang tidak transparasi, tidak efektif

dan banyak laporan keuangan yang tidak jelas atau dicatat dengan baik.

Berdasarkan uraian tersebut maka penulis tertarik untuk meneliti dengan

judul “Pengelolaan Dana Desa Dalam Pemberdayaan Masyarakat Desa Batee

Timoh”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan pertimbangan pemikiran dan latar belakang penelitian dikaitkan

maka penelitian ini merumuskan masalah yaitu:

1. Bagaimana pengelolaan Dana Desa dalam pemberdayaan masyarakat

Desa Batee Timoh?

2. Apakah pelaksanaan pengelolaan Dana Desa telah sesuai dengan

Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa?

1.3 Pembatasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, batasan masalah dalam penelitian

ini yaitu mengenai bagaimana pengelolaan dana desa di Desa Bate Timoh dan

disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah dan juga upaya dari pemerintah desa

tersebut dalam memberdayakan masyarakat desa melalui dana desa.

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan yang ingin dicapai dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut:


5

1. Untuk mengetahui pengelolaan Dana Desa dalam pemberdayaan

masyarakat Desa Batee Timoh.

2. Untuk mengetahui apakah pelaksanaan pengelolaan Dana Desa telah sesuai

dengan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa.

1.5 Manfaat Penelitian

Suatu penelitian ilmiah tentunya dapat bermanfaat baik secara teoritis

maupun praktis seperti berikut ini:

1. Manfaat Teoritis

Diharapkan mampu menambah wawasan untuk peneliti berikutnya tentang

seperti apa pengelolaan dana desa dalam pemberdayaan masyarakat Desa.

Dapat digunakan sebagai bahan perbandingan ataupun bisa ditingkatkan

lebih dalam dan bisa berguna sebagai pedoman atau referensi bagi

penelitian yang sejenis.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi penulis

Dapat menambah wawasan serta pengajaran langsung mengenai

pengelolaan dana desa serta cara pemberdayaan masyarakat Desa.

b. Manfaat bagi pemerintah

Hasil tersebut diharapkan bisa jadi pertimbangan untuk Pemerintah

Desa mengenai bagaimana cara pengelolaan ADD yang baik, Serta

masukan tentang bagaimana pemberdayaan masyarakat. Hasil ini juga

dapat berguna sebagai tambahan untuk Pemerintah Desa Harapan agar

pengelolaan ADD bisa dilaksanakan berdasarkan pada aturan.


6

1.6 Sistematika Penelitian

Tugas Akhir ini nantinya akan disusun dengan sistematika penulisan sebagai

berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Bab pendahuluan, terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah,

pembatasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan

sistematika penelitian.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Membahas mengenai teori yang digunakan dalam penelitian ini antara

lain dana desa, pemberdayaan dan lainnya.

BAB III METODELOGI PENELITIAN

Membahas langkah proses atau tahapan dalam pengumpulan data dan

analisis data

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bagian ini berisi penjelasan tentang hasil penelitian dan

menguraikan pembahasan sesuai hasil penelitian.

BAB V PENUTUP

Bab ini berisi kesimpulan dan saran pada kegiatan tugas akhir yang

dilakukan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kajian Penelitian Terdahulu

Dasar atau acuan yang berupa teori-teori melalui hasil berbagai penelitian

sebelumnya merupakan hal yang sangat perlu dan dapat dijadikan sebagai data

pendukung. Dalam hal ini, fokus penelitian terdahulu yang dijadikan acuan adalah

terkait dengan Pengelolaan Dana Desa. Kajian terhadap hasil penelitian terdahulu

yang relevan dalam penelitian ini berupa skripsi dan jurnal-jurnal. Berikut ini hasil

kajian hasil yang relevan, meliputi :

Tabel 2.1
Kajian Penelitian Terdahulu
No Peneliti Judul Penelitian Hasil Penelitian
1 Rahayu Pengelolaan Dana Desa Hasil penelitian menunjukan
(2019) Dalam Pemberdayaan bahwa Desa Damit
Masyarakat Desa Di Kecamatan Pasir Belengkong
Desa Damit Kecamatan Kabupaten Paser telah
Pasir Belengkong melaksanakan pengelolaan
Kabupaten Paser Dana Desa meskipun belum
maksimal dalam perencanaan
Dana Desa. Perencanaan
Dana Desa masih terhambat
oleh sumber daya manusia
yang rendah, diketahui dari
hasil musrenbangdes yang
monoton tiap tahunnya.
Pelaksanaan Dana Desa
dilaksanakan dengan efektif
dan efisien. Penatausahaan,
pelaporan dan
pertanggungjawaban
pemerintah desa dalam
pengelolaan Dana Desa
dilaksanakan sesuai dengan
aturan atau regulasi dari
pemerintah yang berlaku.

7
8

Adapun faktor penghambat


yaitu kondisi alam,
peraturan/regulasi dari
pemerintah dan ketentuan
wajib pajak terkait
pengelolaan Dana Desa,
sedangkan faktor pendukung
meliputi partisipasi
masyarakat dan semangat
gotong royong yang tinggi.
2 Kerihi Pengelolaan Dana Desa Hasil penelitian menemukan
(2020) Dalam Bidang bahwa adanya program-
Pemberdayaan (Studi program yang belum ada
Kasus Desa Nekbaun, dilaksanakan atau
Kecamatan Amarasi dilaksanakan dengan baik
Barat, Kabupaten seperti BUMDES dan Taman
Kupang Eden karena pengelolaan
dana desa di dalamnya bidang
pemberdayaan belum
menerapkan prinsip
transparansi, akuntabilitas,
partisipan, dan ketaatan dan
disiplin anggaran dengan baik
dan benar. Hal ini disebabkan
oleh beberapa hal
diantaranya; Kurangnya
pemahaman aparat desa
mengenai pengelolaan dana
desa khususnya di bidang
pemberdayaan, kurangnya
tingkat partisipasi masyarakat
juga dalam pelaksanaan
program, kurangnya
pengawasan dari tingkat
kabupaten atau provinsi juga
menyebabkan pemerintah
desa lalai dalam menjalankan
tugasnya dan tanggung
jawab, kurangnya pelatihan
dan sosialisasi menjadi salah
satu kendala dalam
pengelolaan dana
desaprosesnya, di sisi lain ada
oknum yang ingin
memanfaatkan dana yang
bersumber dari tersebut
9

APBN, dan yang terakhir


merupakan permasalahan
klasik yang terdapat hampir
di setiap desa. Tenaga
manusia yang kurang
berkualitas disebabkan oleh
sedikitnya masyarakat yang
mengenyam pendidikan
tinggi.
3 Fisabilillah et al., Pengelolaan Dana Hasil penelitian menunjukkan
(2020) Desa dalam bahwa hasil pengelolaan dana
Pemberdayaan desa bisa digunakan untuk
Masyarakat pemberdayaan lingkungan,
ekonomi, dan masyarakat.
Dengan menekankan
partisipasi masyarakat
sebagai kuncinya melalui
peran Stakeholder agar
program yang direncanakan
bisa berjaan efektif.
4 Rahmawati Pengelolaan Dana Desa Hasil peneltian menunjukkan
(2021) untuk Pemberdayaan bahwa pengelolaan Dana
Masyarakat Desa Mulya Desa Mulya Subur belum
Subur Kecamatan menerapkan asas pengelolaan
Pangkalan Lesung Dana Desa secara maksimal.
Kabupaten Pelalawan Hal ini dikarenakan pada
penerapan asas partisipatif
masih terkendala dengan
kurangnya dalam membuka
ruang bagi peran serta
masyarakat. Selain itu,
partisipasi dari masyarakat
masih bersifat pasif. Dalam
pengelolaan Dana Desa juga
masih memfokuskan pada
kegiatan pembangunan fisik.
5 Firmansyah et al, Pengelolaan Dana Desa Hasil penelitian menunjukkan
(2023) dalam Pemberdayaan bahwa faktor-faktor
Masyarakat Desa pendukung pengelolaan dana
desa dalam memberdayakan
penduduk desa di Desa
Mandala Kecamatan Wera
adalah dukungan untuk
kebijakan dan/atau peraturan,
sosialisasi, fasilitas, dan
infrastruktur. Faktor
10

penghambat adalah
kurangnya sumber daya
manusia dan kurangnya
partisipasi penduduk desa.

Berdasarkan uraian penelitian sebelumnya diketahui bahwa persamaan

penelitian penulis dengan penelitian sebelumnya yaitu terletak pada objek penelitian.

Sedangkan perbedaan penelitian penulis dengan penelitian sebelumnya yaitu pada

lokasi penelitiannya.

2.2 Kajian Teori

2.2.1 Teori Agency

Menurut Jensen & Meckling, teori keagenan (Agency Theory) sebagai suatu

kontrak dimana satu orang atau lebih (prinsipal) meminta pihak lainnya (agen) untuk

melaksanakan sejumlah pekerjaan atas nama prinsipal yang melibatkan

pendelegasian pertanggung jawaban atas decision making atau tugas tertentu kepada

agen (manajer) sesuai dengan kontrak kerja yang telah disepakati. Manajer sebagai

pengelola perusahaan lebih banyak mengetahui informasi dalam internal dan prospek

perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemegang saham. Oleh karena

itu, Seorang manajer memberikan informasi mengenai kondisi perusahaan yang

sebenarnya melalui pengungkapan informasi akuntansi seperti laporan keuangan

(Clara, 2017).

Untuk mengawasi perilaku manajer (agen) apakah sudah menjalankan

kewajiban sesuai dengan keinginan principal, maka laporan keuangan yang dibuat

oleh manajer dapat diaudit oleh pihak yang independen dan dalam hal ini adalah
11

auditor. Auditor melakukan fungsi pengawasan pekerjaan manajer melalui sebuah

sarana yaitu laporan tahunan. Tugas auditor adalah memberikan opini atas laporan

keuangan tersebut, mengenai kewajarannya. Selain memberikan opini atas hasil

audit, auditor juga harus mempertimbangkan akan kelangsungan hidup perusahaan

(Indira & Praptitorini, 2011).

Eisenhardt (2019) menyatakan bahwa teori agensi menggunakan tiga asumsi

sifat manusia. Pertama, manusia pada umumnya mengutamakan kepentingan dirinya

sendiri dengan mengabaikan kepentingan orang lain. Kedua, manusia memiliki daya

pikir terbatas mengenai persepsi masa yang akan datang (bounded rationality).

Ketiga, manusia selalu menghindari risiko. Dengan demikian, dapat disimpulkan

bahwa seorang manajer akan mengambil tindakan yang lebih menguntungkan diri

sendiri dibandingkan dengan kepentingan perusahaan. Dalam kaitannya dengan

penerimaan opini audit going concern, agen (manajemen) bertanggung jawab

menjalankan perusahaan dan menghasilkan laporan keuangan sebagai bentuk

pertanggungjawaban manajemen. Informasi lebih banyak diketahui oleh agen

dibandingkan pemilik karena agen diberi wewenang oleh prinsipal untuk melakukan

kegiatan operasional perusahaan. Baik prinsipal maupun agen diasumsikan orang

ekonomi rasional dan semata-mata termotivasi oleh kepentingan pribadi. Agen

mungkin akan takut mengungkapkan informasi yang tidak diharapkan oleh pemilik,

sehingga terdapat kecenderungan untuk memanipulasi laporan keuangan. Maka dari

itu diperlukan pihak ketiga yang independen yaitu auditor.

Auditor dianggap mampu menghubungkan kepentingan pemilik (prinsipal)

dan pihak agen (manajemen) dalam melakukan pengawasan terhadap kinerja


12

manajemen. Tugas dari auditor adalah memberikan jasa untuk menilai laporan

keuangan yang dibuat oleh agen, mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut.

Auditor juga harus mengungkapkan permasalahan going concern yang dihadapi

perusahaan. Apabila auditor meragukan kemampuan perusahaan dalam

mempertahankan kelangsungan usahanya, auditor perlu memberikan opini atas

perusahaan tersebut. Opini yang dikeluarkan auditor harus berkualitas yang ditandai

dengan semakin objektif dan transparan informasi keuangan perusahaan (Arens,

2015).

2.2.2 Pengertian Akuntansi

Akuntansi merupakan suatu proses mencatat, mengklasifikasikan, meringkas,

mengelola dan menyajikan data, transaksi serta kejadian yang berhubungan dengan

keuangan sehingga dapat digunakan oleh orang yang menggunakannya dengan

mudah dimengerti untuk pengambilan suatu keputusan serta tujuan lainnya.

Akuntansi berasal dari kata asing accounting yang artinya dalam bahasa Indonesia

adalah menghitung atau mempertanggungjawabkan. Setiawan (2018) akuntansi

didefinisikan sebagai suatu kegiatan jasa yang fungsinya adalah menyediakan

informasi kuantitatif, khususnya yang berkaitan dengan keuangan. Informasi tersebut

diharapkan dapat menjadi masukan dalam proses pegambilan keputusan ekonomik

dan rasional. Berikut merupakan beberapa contoh keputusan ekonomik adalah

sebagai berikut :

1. Menerima atau menolak permintaan kredit (bagi bank atau lembaga keuangan

lain yang sedang mempertimbangkan permintaan kredit dari nasabah atau colon

nasabahnya).
13

2. Melepas kembali atau mempertahankan saham (surat tanda pemikiran pada

persero terbatas) yang sekarang dimiliki.

3. Mengeluarkan saham atau obligasi untuk menarik dana dari masyarakat.

Akuntansi terdiri dari tiga komponen utama yaitu sebagai berikut :

a. Input (masukan): berupa transaksi, yaitu peristiwa bisnis yang bersifat

keuangan.

b. Proses (prosedur): meliputi berbagai fungsi mulai dari pengidentifikasi

transaksi sampai dengan penyajian informasi keuangan. Proses utama

akuntansi adalah pencatatan yang terdiri dari dua fungsi yaitu penjumlahan

dan pemindah bukuan.

c. Outuput (keluaran): berupa informasi keuangan seperti laporan laba rugi,

laporan perubahan ekuitas, perubahan posisi keuangan, dan laporan arus kas.

Menurut Sumarsan (2018) akuntansi adalah suatu seni untuk mengumpulkan,

mengidentifikasikan, mengklasifikasikan, mencatat transaksi serta kejadian yang

berhubungan dengan keuangan, sihingga dapat menghasilkan informasi yaitu laporan

keuangan yang dapat digunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. metode

pencatatan, penggolongan, analisa dan pengendalian transaksi serta kegiatan-

kegiatan keuangan, kemudian melaporkan hasilnya. Kegiatan akuntansi, diantaranya:

1. Pengidentifikasian dan pengukuran data yang relevan untuk suatau pengambilan

keputusan.

2. Pemrosesan data yang bersangkutan kemudian pelaporan informasi yang

dihasilkan.

3. Pengkomunikasian informasi kepada pemakai laporan.


14

Fungsi utama dari akuntansi di sebuah perusahaan adalah untuk mengetahui

informasi tentang keuangan yang ada diperusahaan tersebut. Dari laporan akuntansi

dapat melihat perubahan keuangan suatu perusahaan yang terjadi di perusahaan, baik

itu rugi ataupun untung. Akuntansi sangat identik dengan perhitungan atau keluar

masuknya uang di suatu perusahaan, jadi seorang akuntan harus dapat

memperhitungkan biaya-biaya yang akan dikeluarkan perusahaan untuk

mengembangkan usahanya. Laporan akuntansi juga berfungsi untuk seorang

manager dalam mengambil keputusan apa yang akan dilakukan untuk kedepannya

agar perusahaan tersebut terus mendapat untung besar.

Sedangkan tujuan utama akuntansi adalah menyajikan informasi ekonomi

dari suatu kesatuan ekonomi kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Informasi

tersebut dapat berupa laporan keuangan. Untuk mempersipakan laporan keuangan

yang akurat agar dapat dimanfaatkan oleh pimpinan, manajer, pengambilan

kebijakan, dan pihak berkepentingan lainnya, seperti pemegang saham, kreditur atau

pemilik. Pencatatan harian yang terlibat dalam proses ini dikenal dengan istilah

pembukuan.

2.2.3 Dana Desa

[Link] Pengertian Dana Desa

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, desa

diberikan kewenangan untuk mengatur dan mengurus kewenangannya sesuai dengan

kebutuhan. Hal itu berarti dana desa akan digunakan untuk mendanai keseluruhan

kewenangan desa sesuai dengan kebutuhan dan prioritas dana desa tersebut. Dana

desa merupakan dana yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara
15

yang diperuntukkan bagi desa yang di transfer melalui anggaran pendapatan dan

belanja daerah kabupaten/kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan

pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan dan

pemberdayaan masyarakat. Pemerintah menganggarkan dana desa secara nasional

dalam APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) setiap tahunnya yang

bersumber dari belanja pemerintah dengan mengefektifkan program yang berbasis

desa secara merata dan berkeadilan.

Desa memiliki peran yang penting, khususnya dalam pelaksanaan tugas

didalam pelayanan publik. Desentralisasi kewenangan yang lebih besar disertai

dengan pembiayaan dan bantuan sarana dan prasarana yang memadai mutlak

diperlukan guna penguatan otonomi desa menuju kemandirian desa. Dengan

diterbitkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, posisi

pemerintahan desa semakin menjadi kuat. Kehadiran Undang-Undang No 6 Tahun

2014 Tentang Desa tersebut disamping merupakan penguatan status desa sebagai

pemerintahan masyarakat, sekaligus juga sebagai basis untuk memajukan masyarakat

dan pemberdayaan masyarakat desa.

Dalam peraturan menteri juga telah diatur bahwa dana desa diprioritaskan

untuk membiayai pelaksanaan program dan kegiatan berskala lokal desa bidang

pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa. Prioritas penggunaan dana

desa didasarkan pada prinsip-prinsip: keadilan, dengan mengutamakan hak atau

kepentingan seluruh warga desa tanpa membeda-bedakan; kebutuhan prioritas,

dengan mendahulukan yang kepentingan desa yang lebih mendesak, lebih

dibutuhkan dan berhubungan langsung dengan kepentingan sebagian besar


16

masyarakat desa; dan tipologi desa, dengan mempertimbangkan keadaan dan

kenyataan karakteristik geografis, sosiologis, antropologis, ekonomi, dan ekologi

desa yang khas, serta perubahan atau perkembangan kemajuan desa (Saputra, 2019).

Menurut buku saku dana desa yang diterbitkan oleh Menteri Keuangan 2017

mendefinisikan dana desa sebagai anggaran yang berasal dari APBN yang ditujukan

khusus untuk desa dalam rangka untuk melakukan pembangunan dan pemberdayaan

masyarakat melalui dana APBD Kota/Kabupaten. Menurut Peraturan Pemerintah

Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa adalah dana yang bersumber dari

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi Desa yang

ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/ Kota dan

digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan

pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat.

Sementara itu menurut Lili (2018) dana desa ialah dana yang diterima desa

setiap tahun yang berasal dari APBN yang sengaja diberikan untuk desa dengan cara

mentransfernya langsung lewat APBD Kabupaten/Kota yang dipakai untuk mendanai

segala proses penyelenggaraan urusan pemerintahan atau pembangunan desa dan

memberdayakan semua masyarakat pedesaan.

[Link] Tujuan Dana Desa

Dalam UU Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, yaitu adanya komitmen

negara dalam melindungi dan memberdayakan desa agar menjadi kuat, maju, mandiri

dan demokratis sehingga dapat menciptakan landasan yang kuat dalam melaksanakan

pemerintahan dan pembangunan menuju masyarakat yang adil, makmur dan


17

sejahtera. Selanjutnya juga diharapkan akan terwujudnya desa yang mandiri dimana

(Wisnu, 2019):

1. Desa bukan hanya sekedar sebagai objek penerima manfaat, melainkan sebagai

subyek pemberi manfaat bagi warga masyarakat setempat.

2. Sebagai komponen desa mempunyai rasa kebersamaan dan gerakan untuk

mengembangkan aset lokal sebagai sumber penghidupan.

3. Desa mempunyai kemampuan menghasilkan dan mencukupi kebutuhan dan

kepentingan masyarakat setempat seperti pangan, energi dan layanan dasar.

4. Sebagai cita-cita jangka panjang, desa mampu menyediakan lapangan pekerjaan,

menyediakan sumber-sumber pendapatan bagi masyarakat serta menghasilkan

pendapatan asli desa dalam jumlah yang memadai.

Dana desa dimaksudkan untuk membiayai program pemerinah desa dalam

melaksanakan kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat

desa. Dengan tujuan dana desa itu sendiri adalah (Wisnu, 2019):

1. Menanggulangi kemiskinan dan mengurangi kesenjangan.

2. Meningkatkan perencanaan dan penganggaran pembangunan ditingkat desa dan

pemberdayaan masyarakat.

3. Meningkatkan pembangunan infrastruktur dan pelayanan masyarakat desa.

4. Meningkatkan pengamanan nilai-nilai keagamaan, sosial, budaya dalam rangka

mewujudkan peningkatan kesejahteraan sosial.

5. Mendorong peningkatan keswadayaan dan gotong royong masyarakat.

6. Meningkatakan pendapatan desa dan masyarakat desa melalui Badan Usaha

Milik Desa (BUMDES).


18

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan dari dana desa

adalah memberikan service kepada penduduk umum di desa-desa, mengangkat

kemiskinan, meningkatkan ekonomi desa, menghilangkan perbedaan dalam bidang

pembangunan antar desa, menguatkan penduduk desa sebagai subyek pembaharuan.

[Link] Pengelolaan Dana Desa

Pemahaman megenai pengelolaan dana desa didesa menjadi aspek penting

dan mendasar yang harus dimiliki oleh para pemangku kepentingan di level

pemerintah desa, khusussnya perangkat desa, dalam mewujudkan transparasi dan

akuntabilitas keuangan desa. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor

113 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Keuangan Desa, pengelolaan dana desa itu

harus dilakukan secara transparan, akuntabel, partisipatif, tertib, dan disiplin

anggaran. Pengelolaan keuangan desa trdiri dari tim Tim Rencana Kegiatan

Pembangunan Desa (RKPDes) dan dilanjutkan menuju realisasinya (Harjono et al.,

2019).

Dari uraian diatas, dapat kita lihat bahwa tim Tim Rencana Kegiatan

Pembangunan Desa (RKPDes) membuat Rencana Anggaran Biaya (RAB) sesuai

dengan rapat pemerintahan desa dan musyawarah pembangunan desa dan disetujui

oleh Badan Pemusyawaratan Desa (BPD) setelah Rencana Kerja Pemerintah (RKP)

selesai maka diverifikasi oleh kecamatan untuk mendapatkan surat telah

dilaksanakan verifikasi untuk ke kabupaten. Setelah dilakukan verifikasi dan evaluasi

oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) maka, dibuatlah Peraturan

Desa (Perdes).
19

Segala kegiatan yang akan dilakukan harus sesuai dengan perdes. Pelaksana

Teknis Pengelola Keuangan Desa (PTPKD) membantu dan memverifikasi dana yang

akan dicairkan oleh bendahara dan disalurkan ke Tim Pengelola Kegiatan (TPK),

sesuai dengan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) dari TPK. Tim TPK

melaksanakan kegiatan sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang sudah

diperdeskan sebagai laporan pertanggungjawaban kegiatan, setiap kegiatan harus

dilengkapi dengan Surat Pertanggungjawaban (SPJ) berupa surat penawaran. Semua

kegiatan diawasi oleh kepala desa selaku kuasa pengguna anggaran.

[Link] Prinsip Pengelolaan Dana Desa

Kekuasaan Pengelola Dana Desa dipegang oleh Kepala Desa. Namun dalam

pelaksanaannya, Kepala Desa dibantu oleh perangkat desa sehingga pelaksanaan

pengelola dana desa dilaksanakan secara bersama-sama oleh Kepala Desa dan

Pelaksana Teknis Pengelolaan Keuangan Desa (PTPKD). Menurut Rukminto (2019)

menyatakan bahwa dalam mengatur pengelolaan Dana Desa harus sesuai dengan

prinsip Dana Desa yaitu:

1. Semua aktivitas yang dibiayai Dana Desa diprogramkan, diimplementasikan serta

dimonitoring dengan transparan sesuai prinsip dari masyarakat, oleh masyarakat,

dan untuk masyarakat.

2. Semua aktivitas wajib akui menurut manajerial, umum serta undang-undang.

3. Dana Desa dilakukan dilaksanakan melalui dasar ekonomis, teratur serta terarah.

4. Aktivitas yang didanai oleh Dana Desa sungguh transparan guna menambah

prasarana umum yang berguna untuk melayani masyarakat dalam hal mencukupi
20

kebutuhan pokok, memperkokoh organisasi desa yang diperlukan oleh warga

masyarakat yang diputuskan lewat musyawarah.

5. Dana Desa wajib ditulis di APBDesa dan proses penganggarannya mengikuti

mekanisme yang berlaku.

Sementara itu menurut Zaki (2018) keuangan desa dikelola berdasarkan asas

ADD yaitu:

1. Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 60 l ahun 2014 tentang Dana Desa Yang

Bersumber dari APBN mengatur bahwa dana desa merupakan dana yang

bersumber dari APBN.

2. Peraturan tentang keuangan negara, antara lain Undangundang Nomor 17 Tahun

2003 tentang Keuangan Negara, Undang undang Nomor I Tahun 2004 tentang

Perbendaharaan Negara, Undang-undang 31 Tahun 1999 Undang-undang No 20

Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Peraturan

Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Desa, dan Permendagri Nomor 113

Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa.

Berdasarkan penjelasan yang telah disebutkan, maka prinsip penggunaan

anggaran desa pada umumnya berhubungan dengan dana desa yang nantinya harus

dilaporkan ke pemerintah dan juga negara sesuai dengan peraturan yang berlaku,

baik itu berupa peraturan pemerintah ataupun undang-undang. Peraturan Bupati

Kabupaten Aceh Utara No. 18 Tahun 2020 tentang Pengalokasian Alokasi Dana

Gampong dipergunakan untuk pembangunan dan penyelenggaraan pemerintahan.

Pembangunan Desa yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Pembinaan lembaga kemasyarakatan Desa


21

2. Penyelenggaraan kerukunan antar umat beragama.

3. Pembinaan kerukunan masyarakat beragama.

4. Pembinaan keseniana dan sosial budaya

5. Peningkatan pendidikan dasar

6. Penanggulangan kemiskinan

7. Pengadaan infrastruktur desa seperti prasarana pemerintah, prasarana

perhubungan.

8. Peningkatan kesehatan masyarakat.

[Link] Faktor Penghambat Pengelolaan Dana Desa

Dalam menjalankan program dana desa, tentunya tidak mudah, bahkan ada

yang menjadi penghambat dalam menjalankan program dana desa. Menurut Sari et

al., (2018) menyatakan bahwa faktor penghambat pengelolaan dana desa yaitu:

1. Rendahnya Sinkronisasi Antara Perencanaan di Tingkat Desa Dan Kecamatan

2. Jumlah Dana Desa penunjang operasional administrasi pemerintah terbatas

3. Kurangnya intensitas sosialisasi Dana Desa pada masyarakat.

Berdasarkan uraian yang telah disebutkan diatas dapat disimpulkan bahwa

faktor penghambat pengelolaan alokasi dana desa adalah jumlah anggaran dan

sumber daya manusia. Jumlah anggaran yang terbatas serta sumber daya manusia

seperti masyarakat dan juga perangkat desa.

[Link] Dana Desa dan Pemberdayaan Masyarakat

Dalam UU Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, yaitu adanya komitmen

negara dalam melindungi dan memberdayakan desa agar menjadi kuat, maju, mandiri
22

dan demokratis sehingga dapat menciptakan landasan yang kuat dalam melaksanakan

pemerintahan dan pembangunan menuju masyarakat yang adil, makmur dan

sejahtera. Selanjutnya juga diharapkan akan terwujudnya desa yang mandiri dimana

desa bukan hanya sekedar sebagai objek penerima manfaat, melainkan sebagai

subyek pemberi manfaat bagi warga masyarakat setempat. Sebagai komponen desa

mempunyai rasa kebersamaan dan gerakan untuk mengembangkan aset lokal sebagai

sumber penghidupan dan kehidupan bagi warga masyarakat dan juga desa

mempunyai kemampuan menghasilkan dan mencukupi kebutuhan dan kepentingan

masyarakat setempat seperti pangan, energi dan layanan dasar. Serta desa sebagai

cita-cita jangka panjang, desa mampu menyediakan lapangan pekerjaan,

menyediakan sumber-sumber pendapatan bagi masyarakat serta menghasilkan

pendapatan asli desa dalam jumlah yang memadai.

Dana desa dimaksudkan untuk membiayai program pemerinah desa dalam

melaksanakan kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat

desa. Dengan tujuan dana desa itu sendiri adalah:

1. Menanggulangi kemiskinan dan mengurangi kesenjangan.

2. Meningkatkan perencanaan dan penganggaran pembangunan ditingkat desa dan

pemberdayaan masyarakat.

3. Meningkatkan pembangunan infrastruktur dan pelayanan masyarakat desa.

4. Meningkatkan pengamanan nilai-nilai keagamaan, sosial, budaya dalam rangka

mewujudkan peningkatan kesejahteraan sosial.

5. Mendorong peningkatan keswadayaan dan gotong royong masyarakat.


23

6. Meningkatakan pendapatan desa dan masyarakat desa melalui Badan Usaha

Milik Desa (BUMDesa).

Tujuan pemanfaatan dana desa untuk pemberdayaan masyarakat desa

sangatlah penting, karena pemberdayaan masyarakat pada dasarnya bertujuan untuk

membantu mengembangkan masyarakat yang lemah dan miskin. Dimana dengan

adanya dana desa proses memberdayakan kelompok-kelompok masyarakat tersebut

menjadi lebih efisien. Sehingga masyarakat dapat lebih mandiri dan dapat memenuhi

kebutuhan dasar hidup mereka dan juga sanggup berperan serta dalam

pengembangan masyarakat.

Menurut Suharto (2017) tujuan utama pemberdayaan masyarakat adalah

memperkuat kekuasaan masyarakat khususnya kelompok lemah yang memiliki

ketidakberdayaan, baik karena kondisi internal (misalnya persepsi mereka sendiri),

maupun karena kondisi eksternal (misalnya ditindas oleh struktur sosial yang tidak

adil). Ada beberapa kelompok yang dapat dikategorikan sebagai kelompok lemah

atau tidak berdaya meliputi:

1. Kelompok lemah secara struktural, naik lemah secara kelas, gender, maupun

etnis.

2. Kelompok lemah khusus, seperti manula, anak-anak, dan remaja penyandang

cacat, gay, lesbian, dan masyarakat terasing.

3. Kelompok lemah secara personal, yakni mereka yang mengalami masalah

pribadi atau keluarga.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan yang ingin di capai dari

pemberdayaan masyarakat menggunakan dana desa adalah untuk membentuk


24

individu dan masyarakat menjadi mandiri. Kemandirian tersebut meliputi kemadirian

berpikir, bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan tersebut.

2.2.4 Pemberdayaan Masyarakat

Menurut Zaki (2018) pemberdayaan masyarakat dapat diartikan sebagai

upaya untuk memulihkan atau meningkatkan kemampuan suatu komunitas untuk

mampu berbuat sesuai dengan harkat dan martabat mereka dalam melaksanakan hak-

hak dan tanggung jawabnya selaku anggota masyarakat. Menurut Sumpeno (2019)

pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan oleh unsur yang berasal dari luar tatanan

terhadap suatu tatanan, agar tatanan tersebut mampu berkembang secara mandiri.

Dengan kata lain, pemberdayaan sebagai upaya perbaikan wujud interkoneksitas

yang terdapat di dalam suatu tatanan dan atau upaya penyempurnaan terhadap

elemen atau komponen tatanan yang ditujukan agar tatanan dapat berkembang secara

mandiri. Jadi pemberdayaan adalah upaya yang ditujukan agar suatu tatanan dapat

mencapai suatu kondisi yang memungkinkan untuk membangun dirinya sendiri.

Menurut Rukminto (2019) pemberdayaan pada intinya membantu masyarakat

memperoleh daya untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan

ia lakukan yang terkait dengan diri mereka, termasuk mengurangi efek hambatan

pribadi dan social dalam melakukan tindakan. Hal ini dilakukan melalui peningkatan

kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunakan daya yang ia miliki, antara

lain melalui transfer daya dari lingkungan. Pembedayaan masyarakat merupakan

proses pembangunan yang mana masyarakat memiliki inisiatif untuk melalui proses

kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri.


25

Pemberdayaan masyarakat juga merupakan strategi yang bertujuan mengajak

penduduk miskin agar bersama-sama berpartisipasi dalam kegiatan pengambilan

keputusan seperti upaya penanggulangan kemiskinan yang mereka alami sendiri,

pemberdayaan masyarakat itu masyarakat sendiri yang harus aktif dalam setiap

kegiatannya agar masyarakat memiliki pengalam sendiri dalam memberdayakan

masyarakat itu sendiri (Dwidjowijoto, 2017).

Menurut Sumodiningrat (2019) pemberdayaan masyarakat memerlukan

kepedulian yang diwujudkan dalam kemitraan dan kebersamaan pihak yang sudah

maju dengan pihak yang belum berkembang. Dalam hal ini pemberdayaan

merupakan suatu proses perubahan ketergantungan menjadi kemandirian. Sedangkan

Suhendra (2018) berpendapat bahwa pemberdayaan masyarakat adalah sebuah

aktivitas untuk saling berhubungan, mandiri, untuk terus mempengaruhi partisipasi

seluruh kemampuan yang ada dengan berangsur-angsur menggunakan masukan

seluruh potensi, hubungan pemerintah dan masyarakat harus seimbang dikarenakan

dengan hubungan baik yang terjalin dapat mendorong seluruh kegiatan yang

direncanakan sebelumnya dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Pemberdayaan masyarakat memiliki tujuan dua arah, yaitu melepaskan

belenggu kemiskinan, keterbelakangan dan memperkuat posisi lapisan masyarakat

dalam struktur kekuasaan. Pemberdayaan adalah sebuah proses dan tujuan. Sebagai

proses, pemberdayaan adalah serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan

atau keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat, termasuk individu-individu

yang mengalami masalah kemiskinan. Sebagai tujuan, maka pemberdayaan merujuk

pada keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh sebuah perubahan sosial; yaitu
26

masyarakat yang berdaya, memiliki kekuasaan atau mempunyai pengetahuan dan

kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, baik yang bersifat fisik, ekonomi

maupun sosial seperti memiliki kepecayaan diri, mampu menyampaikan aspirasi,

mempunyai mata pencaharian, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan mandiri

dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya.

Menurut Sumaryadi (2018) tujuan pemberdayaan masyarakat pada dasarnya

adalah membantu pengembangan manusiawi yang otentik dan integral dari

masyarakat yang lemah, miskin, marjinal dan kaum kecil dan memberdayakan

kelompok-kelompok masyarakat tersebut secara sosio ekonomis sehingga mereka

dapat lebih mandiri dan dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka, namun

sanggup berperan serta dalam pengembangan masyarakat.

2.3 Kerangka Pemikiran

Kerangka pikir sebagai metodologi singkat untuk mempermudah proses

memahami masalah yang dibahas. Diharapkan menghasilkan data yang benar-benar

valid. Untuk mempermudah alur kerangka pikir maka dibentuk dalam sebuah bagan

yang memperjelas proses yang akan dilakukan seperti dibawah ini.

Desa Bate Timoh

Pengelolaan
Dana Desa Bate Timoh

Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun


2014 tentang Dana Desa
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran
27

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode penelitian

kualitatif. Penelitian kualitatif adalah riset yang bersifat deskriptif dan cenderung

menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif

subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan

metode-metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang oleh sejumlah

individu atau sekelompok orang dianggap berasal dari masalah sosial atau

kemanusiaan (Jamaluddin, 2019).

Proses penelitian kualitatif ini melibatkan upaya-upaya penting, seperti

mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan prosedur-prosedur, mengumpulkan data

yang spesifik dari para partisipan, menganalisis data secara induktif mulai dari tema-

tema yang khusus ke tema-tema umum, dan menafsirkan makna data. Laporan akhir

untuk penelitian ini memiliki struktur atau kerangka yang fleksibel (Cresweell dalam

Jamaluddin, 2019). Berikut adalah proses pelaksanaan penelitian kualitatif :

1. Menentukan fenomena yang akan dikaji

2. Menggunakan metode kualitatif untuk memperoleh data

3. Mencari pola-pola dalam data

4. Validasi kesimpulan awal dengan mengulang data atau mengumpulkan lebih

banyak data

5. Mendaur ulang (Recycle) melalui proses atau data

27
28

3.2 Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Desa Batee Timoh, Kecamatan Jeumpa Kabupaten

Bireuen. Alasan peneliti memilih lokasi tersebut karena pada observasi awal dan

wawancara awal yang peneliti lakukan bahwa terlihat adanya permasalahan

pengelolaan dan desa, berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat.

3.3 Instrumen Penelitian

Menurut Sugiyono (2018) instrumen penelitian adalah alat bantu yang dipilih

dan digunakan oleh peneliti dalam melakukan kegiatannya untuk mengumpulkan

data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya. Instrumen

yang digunakan oleh peneliti dalam hal ini adalah instrumen pokok dan instrumen

penunjang. Instrumen pokok adalah peneliti itu sendiri, sedangkan instrumen

penunjang adalah pedoman observasi dan pedoman wawancara. Kemudian key

person dalam penelitian ini adalah perangkat desa dan masyarakat yang tingga di

Desa Bate Timoh yang ikut atau tidak dalam menerima manfaat Dana Desa.

1. Instrumen pokok dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri.

Peneliti sebagai instrumen dapat berhubungan langsung dengan responden dan

mampu memahami serta menilai berbagai bentuk dari interaksi di lapangan.

Menurut Moleong (2017) kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif adalah

ia sekaligus merupakan perencana, pelaksana, pengumpulan data, analisis,

penafsir data, pada akhirnya ia menjadi pelapor hasil penelitiannya.

2. Instrumen kedua dalam penelitian ini adalah dengan metode wawancara.

Secara umum, penyusunan instrumen pengumpulan data berupa pedoman

wawancara dilakukan dengan tahap-tahap berikut ini:


29

a. Mengadakan identifikasi terhadap variabel-variabel yang ada di dalam

rumusan judul penelitian atau yang tertera di dalam problematika

penelitian.

b. Menjabarkan variabel menjadi sub atau bagian variabel.

c. Mencari indikator setiap sub atau bagian variabel

d. Menderetkan deskriptor menjadi butir-butir instrumen.

e. Melengkapi instrumen dengan pedoman atau instruksi dan kata pengantar

3. Instrumen ketiga dalam penelitian ini adalah dengan observasi. Secara umum,

penyusunan instrumen pengumpulan data berupa observasi dilakukan dengan

tahap-tahap berikut ini :

a. Mengadakan identifikasi terhadap variabel-variabel yang ada di dalam

rumusan judul penelitian atau yang tertera di dalam problematika

penelitian.

b. Menjabarkan variabel menjadi sub atau bagian variabel. C

c. Mencari indikator setiap sub atau bagian variabel.

d. Menderetkan deskriptor menjadi butir-butir instrumen.

e. Melengkapi instrumen dengan pedoman atau instruksi dan kata pengantar

(Arikunto, 2017).

3.4 Sampel Sumber Data

Sampel adalah sebagian dari populasi yang karakteristiknya hendak diteliti.

Sampel dalam penelitian kualitatif bukan dinamakan responden, tetapi sebagai

narasumber, atau partisipan, informan, teman dan guru dalam penelitian. Sampel

dalam penelitian kualitatif juga bukan disebut sampel statistik, tetapi sampel teoritis,
30

karena tujuan penelitian kualitatif adalah untuk menghasilkan teori (Ghazali, 2018).

Dalam penelitian ini, karena mengingat keterbatasan waktu dan kesempatan peneliti,

maka peneliti akan mengambil informan penelitian yang terdiri dari perangkat desa

dan masyarakat.

Sumber data yang diperoleh yaitu sumber data yang primer atau data yang

didapatkan dilapangan, dan sumber data sekunder yaitu data kepastian. Meleong

(2017) adapun sumber data yang dugunakan dalam penelitian ini:

1. Sumber data primer adalah merupakan sumber utama, yang diperoleh dari hasil

wawancara dan tindakan dari sumber pengamatan yang dilakukan secara sadar,

terarah dan bertujuan untuk memperoleh suatu informasi yang diperlukan.

Sumber data primer dalam penelitian diperoleh dari hasil wawancara dengan

perangkat desa dan masyarakat.

2. Sumber data sekunder adalah merupakan sumber data tambahan yang diperoleh

peneliti melalui sumber tertulis, dokumentasi, foto, dan data statistic mendukung

berhasilnya sebuah penelitian. Adapun data sekunder dalam penelitian ini yaitu

data-data dari jurnal, buku, dokumentasi serta foto dengan informan penelitian.

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data dan informasi yang lengkap dan akurat maka penulis

menggunakan teknik-teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti teknik yang

digunakan peneliti ini adalah :

1. Observasi

Dalam teknik pengumpulan data, observasi merupakan suatu kegiatan atau

pengamatan langsung pada objek penelitian sehingga diperoleh data yang sesuai.
31

Penulis melakukan pengamatan langsung dilapangan juga mengunjungi yaitu

desa Batee Timoh untuk mengamati secara langsung hal-hal yang berhubungan

dengan kualitas pelayanan (Soehartono, 2018). Observasi merupakan setiap

kegiatan untuk melaksanakan pengukuran yaitu pengamatan dengan

menggunakan inders penglihatan yang berarti tidak mengajukan pertanyaan-

pertanyaan. Observasi yang peneliti lakukan yaitu observasi non-partisipan yaitu

peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen. Observasi dilaku

kan di desa Batee Timoh, untuk mengamati terkait permasalahan dalam penelitia

n. Penulis melakukan observasi beberapa bulan dengan mengamati kegiatan

pemberdayaan masyarakat di Desa tersebut.

2. Wawancara (interview)

Wawancara merupakan pengumpulan data dengan cara mengajukan pertanyaan

kepada informan yang telah ditentukan sebelumnya untuk mendapatkan hasil

wawancara. Soehartono (2018) menjelaskan wawancara (interview) merupakan

pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara langsung oleh

pewawancara (pengumpul data) kepada responden, dari jawaban-jawaban

responden dicatat atau direkam dengan alat perekam suara. Wawancara ditujuka

n kepada perangkat desa, masyarakat dan yang terlibat dalam pemberdayaan

masyarakat, guna mendapatkan keterangan dan informasi untuk data-data peneli

tian mengenai. Alat yang peneliti gunakan dalam wawancara yaitu berupa catata

n dan telepon seluler untuk merekam suara.


32

3. Dokumentasi dan Kepustakaan

Teknik ini dilakukan untuk mendapatkan data sekunder sebagai pelengkap data

primer dengan cara mempelajari dan menganalisis buku-buku, dokumen arsip,

atau informasi relevan lainnya dari internet dan lainnya berkenaan dengan

kebijakan penelitian ini. Soerhartono (2018) menjelaskan bahwa dokumentasi

merupakan teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan kepada

subjek penelitian. Di dalam penelitian ini penulis mengumpulkan informasi

melalui dokumentasi yang didapat dari Kepala Desa, seperti Struktur Organisasi,

Visi dan Misi. Kemudian penulis mengambil foto di lokasi penelitian.

3.6 Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan teknik yang sangat penting dalam suatu penelitian,

data yang di analisis secara kualitatit. Serta kutipan dari hasil wawancara yang

ditampilkan untuk mendukung analisis, analisis data yang digunakan dalam

memecahkan masalah yang timbul dari penelitian sejak awal sampai selesainya

pengumpulan data. Proses penelitian dengan menggunakan metode analisis interaktif

yang menurut moeloeng (2018) melalui empat tahap pengumpulan data sebagai

berikut.

1. Data koleksi

Yaitu merupakan data yang telah didapatkan dilapangan. Koleksi data

merupakan suatu tahapan dalam proses penelitian yang sangat penting karena

hanya dengan mendapatkan data yang tepat maka proses penelitian akan

berlangsung sampai peneliti mendapatkan jawaban dari perumusan masalah

yang sudah ditetapkan.


33

2. Reduksi Data

Data yang diperoleh dari lapangan kemudiam di reduksi, dirangkum dan

kemudian dipilih-pilih menurut kepentingan (pokok) difokuskan untuk dipilih

yang terpenting. Reduksi data dilakukan terus-menerus selama proses penelitian

berlangsung. Data yang tidak diperlukan disortir agar memberi kemudahan

dalam penampilan, penyajian serta untuk menarik kseimpulan sementara.

3. Penyajian Data

Penyajian data domaksudkan dengan lebih dipermudah bagi peneliti untuk dapat

melihat gambaran secara keseluruhan atau bagian-bagian tertentu dari data

penelitian.

4. Penarikan Kesimpulan atau Verifikasi

Pada penelitian kualitatif, verifikasi data dilakukan secara terus-menerus

sepanjang proses penelitian dilakukan. Sejak pertama memasuki lapangan dan

selama proses pengimpulan data, peneliti berusaha untuk menganalisis dan

mencari makna dari kata yang dilakukan.

3.7 Rencana Pengujian Keabsahan Data

Untuk menguji keabsahan data yang didapat sehingga benar-benar sesuai

dengan tujuan dan maksud penelitian, maka peneliti menggunakan teknik triangulasi.

Triangulasi data adalah teknik pemeriksaan data yang memanfaatkan sesuatu yang

lain di luar data tersebut untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding data

tersebut (Moleong, 2017).

Adapun triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi

dengan sumber dan metode, yang berarti membandingkan dan mengecek derajat
34

balik kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang

berbeda dalam metode kualitatif (Moleong, 2017). Hal ini dapat peneliti capai

dengan jalan sebagai berikut:

1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.

2. Membendingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang

dikatakannya secara pribadi.

3. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat

dan pandangan orang seperti orang yang berpendidikan lebih tinggi atau ahli

dalam bidang yang sedang diteliti.

Teknik uji keabsahan lain yang digunakan oleh peneliti adalah perpanjangan

keikutsertaan. Menurut Moleong (2017) perpanjangan keikutsertaan berarti peneliti

tinggal di lapangan penelitian sampai kejenuhan pengumpulan data tercapai. Dalam

hal ini, peneliti memperpanjang atau menambah waktu wawancara dan observasi

terhadap kedua subjek agar data mencapai kejenuhan.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Nama Gampong Batee Timoh dulunya mempunyai dua buah nama sebelum

Batee Timoh, pada tahun 1930 M beberapa keluarga yang mengungsi dari Aceh

Besar (Kuta Raja), sehingga disebuah kuala (sekarang Kula Raja) menelusuri jalan

kaki, dan mereka berteduh di suatu tempat dan membuka lahan tempat bermukim,

mereka mencetus nama tersebut dengan nama Seuneubok Aceh, karena terdiri dari

orang-orang Aceh dan tempat itu banyak buluk. Batee Timoh adalah sebuah

Gampong yang memiliki wilayah geografis, perbatasan-perbatasan dan penduduk

tetap dipimpin oleh seorang Keuchik.

Sejarah kepemimpinan Gampong di mulai pada tahun 1930 sampai dengan

tahun 1940 pucuk kepemimpinan di pegang oleh Petua Amien, kemudian pada tahun

1940 sampai dengan tahun 1953 sistem pemerintahan di pimpin oleh Tgk. Taawi,

kemudian pada tahun 1953 sampai dengan tahun 1965 sistem pemerintahan di

pimpin oleh Mahmud, selanjutnya pada tahun 1965 sampai dengan tahun 1968

sistem pemerintahan di pegang oleh Keuchik Adam dan kemudian pada tahun 1968

sampai dengan tahun 1971 sistem pemerintahan di lanjutkan oleh Keuchik M. Amin

[Link]. Kemudian pada tahun 1971 sampai dengan tahun 1974 sistem pemerintahan

di pimpin oleh Keuchik Abu Bakar, sedangkan pada tahun 1974 sampai dengan

tahun 1978 sistem pemerintahan di pimpin oleh Keuchik M. Daud Adam,

[Link], kemudian pada tahun 1998 sampai dengan tahun 2001 sistem pemerintahan di

35
7
36

pimpin oleh Keuchik M. Iswani, kemudian pada tahun 2001 sampai dengan tahun

2013 pemerintahan kembali di pimpin oleh Keuchik M. Iswani, dan pada tahun 2014

Gampong Batee Timoh di Pimpin oleh Keuchik Baharuddin sebagai penjabat

sementara. Pada tahun 2015 dan sekarang di Pimpin oleh Saiful Anwar [Link]

dengan semangat yang besar serta dukungan dari masyarakat yang begitu antusias

dalam mengawasi setiap jalannya roda pemerintahan membuat aparatur Gampong

aktif dalam menjalankan dan memajukan Gampong.

Tatanan Kehidupan Gampong Batee Timoh sangat kental dengan sikap

solidaritas sesama, dimana kegiatan-kegiatan yang berbaur dengan sosial masyarakat

sangat berjalan dan terpelihara, hal itu terjadi karena ada ikatan emosional

keagamaan yang sangat kuat antara sesama masyarakat dimana dalam agama Islam

sangat ditekankan untuk saling berkasih sayang, membantu meringankan beban

saudaranya dan dituntut pula untuk membina dan memelihara hubungan Islamiyah

antar sesama. Atas dasar inilah sehingga tumbuhnya motivasi masyarakat untuk

saling melakukan interaksi dengan baik.

Kondisi Ekonomi Masyarakat Bate Timoh, untuk mata pencaharian mayoritas

masyarakat Batee Timoh adalah sebagai petani dan nelayan, sedangkan sebagaian

lainnya tersebar pada mata pencaharian sebagai Pegawai Negeri Sipil, Pedagang,

Wiraswasta serta buruh usaha lainnya. Dalam hal pertanian masyarakat Desa Batee

Timoh yang mayoritas masyarakat tanam adalah padi. Hasil laut yang diperoleh

nelayan biasanya didistribusikan langsung ke konsumen dengan cara menjual ikan

segar dalam keranjang rotan. Ikan yang biasa ditangkap berupa ikan tongkol, ikan

tarakan dan ikan-ikan lain dengan ukuran kecil hingga sedang. Ikan yang tersisa tak
37

terjual dimanfaatkan petani dan nelayan selain dapat memenuhi kebutuhan juga

dapat memberikan peluang pekerjaan pada masyarakat sehingga dapat mengurangi

angka pengangguran.

4.1.2 Pengelolaan Dana Desa dalam Pemberdayaan Masyarakat Batee Timoh

Pengelolaan dana desa merupakan bagian dari pengelolaan keuangan desa

dalam APBDesa, meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan dan

pertanggungjawaban. Semua proses ini dijalankan oleh pemerintah desa didampingi

oleh Tim pendamping dari pemerintah, serta partisipasi masyarakat dalam

pengawasan dana desa. Pada tahapan perencanaan merupakan tahap awal dalam

kegiatan pengelolaan Alokasi Dana Desa, pada tahap perencanaannya pertama, tiap

desa melakukan musyawarah desa untuk menampung usulan-usulan masyarakat

mengenai program apa saja yang akan dilakukan (Peraturan Pemerintah Nomor 60

Tahun 2014 tentang Dana Desa). Pemerintah desa membahas tentang perencanaan

pembangunan desa yang meliputi RPJM dan RKP Desa yang sudah disusun dan

dilaksanakan melalui Musrenbangdes. Rancangan RKP Desa meliputi Rencana

Kegiatan dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang telah disetujui.

Kemudian BPD menyelenggarakan Musrenbangdes yang dilakukan untuk

membahas dan menyepakati bersama mengenai rancangan RKP Desa dan juga untuk

membahas tentang prioritas program kerja yang akan dilakukan pada tahun yang

berkenaan sesuai dengan usulan masyarakat. Rancangan peraturan desa untuk RKP

Desa dibahas dan disepakati bersama oleh Kepala Desa, Aparatur Desa serta BPD

untuk ditetapkan menajdi peraturan desa tentang RKP Desa (BPKP, 2023).
38

Berdasarkan hasil wawancara dengan Camat Kecamatan Kota Juang Bapak

Musni Syahputra, [Link]., [Link] menjelaskan bahwa tahap perencanaan

pengelolaan ADD di Desa Batee Timoh Kecamatan Kota Juang adalah sebagai

berikut:

a. Pemerintah Desa melakukan musyawarah desa (Musdes) yang melibatkan

masyarakat, dan aparatur desa

b. Kepala desa beserta aparatur desa menentukan skala prioritas mengenai

anggaran yanag akan direalisasikan untuk aktivitas kegiatan yang dilakukan

pada tahun berjalan

c. Sekdes dan Aparatur Desa menyususn Raperdes tentang APB Desa yang

kemudian dibahas bersama oleh BPD dan Kepala Desa untuk Disetujui.

d. Hasil Raperdes selanjutnya dibahas lebih lanjut secara detail dan jelas pada

kegiatan Musyawarah Perencanaan dan Pembangunan (Musrenbang) yang

dilakukan Bupati melalui Camat.

e. Pihak pemerintahan Kabupaten (Bupati melalui Camat) mengevaluasi setiap

Raperdes yang diajukan oleh setiap desa sesuai dengan Peraturan Bupati.

f. Hasil evaluasi selanjutnya diserahkan kembali kepada masing- masing desa

g. Desa menerima hasil evaluasi dan melakukan penyusunan kembali serta

perbaikan untuk dijadikan Peraturan Desa (Perdes).

Sementara pada tahap perencanaan pengelolaan ADD di setiap desa di Desa

Batee Timoh ada tim khusus yang dibentuk untuk menyususn Raperdes. Hal ini

sesuai dengan hasil wawancara dengan Camat Kecamatan Kota Juang Bapak

Musni Syahputra, [Link]., [Link] menjelaskan bahwa:


39

“Di setiap desa yang ada di Desa Batee Timoh dalam melakukan
perencanaan pengelolaan alokasi dana mempunyai tim sendiri yang
dibentuk untuk menyusun Raperdes tentang APB Desa yang terdiri dari
ketua koordinator, sekretaris, bendahara dan anggota.” (Wawancara, 25
April 2024)
Sekretaris Camat juga menyatakan bahwa pemerintah desa dalam melakukan

perencanaan pengalokasian dana desa sesuai dengan peraturan yang berlaku. Namun

pada prosedur yang dilakukan kegiatan perencanaan pengalokasian dana desa belum

sepenuhnya sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dimana pemerintah desa dalam

melakukan kegiatan musyawarah desa (Musdes) kurangnya melibatkan masyarakat,

musyawarah dilakukan dengan aparatur desa saja seperti Kepala Desa, Sekretaris

Desa, Kaur, Kadus serta Tokoh Masyarakat, sehingga program anggaran yang

dijalankan pada tahun berjalan tidak sesuai denga kebutuhan masyarakat.

Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan beberapa masyarakat desa

di Desa Batee Timoh Kota Juang yaitu ibu Zahara yang menjelaskan bahwa:

“Kurangnya keterlibatan kami dalam musyawarah kegiatan perencanaan


pengalokasian dana desa yang dilakukan setiap desa pada tahun berjalan dan
biasanya kami hanya mengikuti sekali pada Musyawarah Rencana
Pembangunan (Musrenbang) desa, itu pun jika ada undangan”. (Wawancara,
25 April 2024).

Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) desa adalah forum

musyawarah tahunan para pemangku kepentingan (stakeholders) desa untuk

menyepakati Rencana Kerja Pembangunan Desa (RKP Desa) tahun anggaran

yang direncanakan (Rianingsih, 2018). Musrenbang diselenggarakan oleh lembaga

publik, yaitu pemerintah desa, bekerja sama dengan warga dan para pemangku

kepentingan lainnya. Musrenbang yang bermakna akan mampu membangun

kesepahaman tentang kepentingan dan kemajuan desa, dengan cara memotret


40

potensi dan sumber-sumber pembangunan yang baik dari dalam maupun luar desa

(Rianingsih, 2018).

Setiap dilaksanakan Musrenbang, pemerintah desa yang ada di Desa Batee

Timoh biasanya bekerja sama dengan kaur-kaur dan BPD untuk mengumpulkan

lembaga masyarakat seperti kepala dusun, imum desa, tokoh masyarakat, anggota

PKK serta beberapa masyarakat yang bisa memberi pendapat terhadap kegiatan

perencanaan alokasi dana desa, dalam hal ini pemerintah desa membatasi peserta

yang ikut Musrenbang guna untuk kelancaran musyawarah yang dilakukan. Hal ini

sesuai dengan penjelasan dari kepala desa Batee Timoh bapak Siful Anwar M. Nur

yaitu sebagai berikut:

“Dalam melakukan Musrenbang kami membatasi peserta yang ikut


musyawarah, hal ini supaya kegiatan musyawarah yang dilakukan lancar,
setidaknya sudah ada perwakilan dari kaur-kaur, masyarakat, tokoh
masyarakat, imum gampong serta anggota PKK untuk memberikan
masukan tentang perencanaan serta pembangunan di desa. Pembangunan
tidak akan bergerak maju apabila salah satu saja dari kompenen tata
pemerintahan tidak berperan atau berpatisipasi dan yang terpenting dalam
Muresbang adalah adanya partisipasi dan transparansi dari pihak perangkat
desa”. (Wawancara, 27 April 2024).
Berdasarkan observasi pada pemerintahan desa di desa Batee Timoh bahwa

pemerintah desa telah mewujudkan prinsip partisipasi dan transparansi dalam

melakukan perencanaan pengalokasian dana desa. Prinsip partisipasi dapat dilihat

dari komitmen pemerintah desa yang selalu mengundang beberapa lembaga

masyarakat serta kalangan masyarakat untuk ikut berpatisipasi dalam kegiatan

Musrenbang. Sedangkan prinsip transparansi terlihat dari adanya peraturan desa

(Perdes) yang dibuat setelah hasil Musrenbang dan yang telah disepakati bersama.

Dan pemerintah desa di Desa Batee Timoh selalu menginformasikan hasil dari
41

Musrenbang melalui Peraturan Desa (Perdes) yang ditempel di papan informasi

pengumuman desa, hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan kepala Desa

Batee Timoh bapak Siful Anwar M. Nur yaitu:

“Hasil dan kesimpulan akhir dari kegiatan Musrenbang, selanjutnya kami


tempel di papan informasi pengumuman desa supaya untuk dapat dilihat
oleh masyarakat secara keseluruhannya dan jika ada saran dan tanggapan
masyarakat boleh melapor ke kantor desa mengenai kegiatan perencanaan
pengalokasian dana desa, aparatur desa terbuka menerima pendapat atau
saran yang berikan masyarakat akan tetapi aparatur desa juga akan memilah
pendapat amanakah yang paling penting dan efisien dan kami juga harus
memikirkan dari segi anggaran dananya”. (Wawancara, 27 April 2024).
ADD ini diharapkan bisa membantu masyarakat dalam mewujudkan desa

yang maju, dan sejahtera. Dari perencanaan yang dibuat, desa yang ada di Desa

Batee Timoh berusaha untuk memberikan terbaik kepada masyarakat. Sesuai

dengan apa yang dikatakan oleh KASI Pemberdayaan Masyarakat Gampong

(PMG), Bapak Ali, mengatakan:

“Menjadi peran pemerintah desa dalam melakukan perencanaan


pengalokasian dana desa dan belanja desa, pemerintah desa memang
mengelola dari perencanaan sampai denga pelaksanaan hal ini sesuai
dengan tugas pokok dan fungsi perangkat desa”.(Wawancara, 28 April
2024)
Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Pedoman

Pembangunan Desa, mengatakan bahwa pemerintah desa adalah kepala desa atau

yang disebut dengan nama lain dibantu perangkat desa sebagai unsur

penyelenggaraan pemerintahan desa. Dalam pasal 52 ayat 1 bahwa, kepala desa

mengoordinasikan kegiatan pembangunan desa yang dilaksanakan oleh perangkat

desa atau unsur masyarakat desa. Jadi, jelas bahwa pemerintah desa

menyelenggarakan dan mengusahakan semua kepentingan masyarakat yang ada di

desa pimpinannya. Belanja Desa merupakan semua pengeluaran dari rekening desa
42

yang merupakan kewajiban desa dalam 1 (satu) tahun anggaran yang tidak akan

diperoleh pembayarannya kembali oleh desa. Belanja desa dipergunakan dalam

rangka mendanai penyelenggaraan kewenangan desa.

Pada tahap perencanaan pengelolaan ADD di bidang pemberdayaan

masyarakat pemerintah desa Batee Timoh masih belum memprioritaskan

pengunaan ADD untuk bidang pemberdayaan masyarakat, pemerintah desa hanya

memrioritaskan pengunaan ADD pada bidang pembangunan fisik atau

infrastruktur. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan ibu Ramziah selaku

masyarakat desa di Desa Batee Timoh sebagai berikut :

“Kurangnya porsi Alokasi Dana Desa yang direalisasikan pemerintah Desa


untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat, kebanyakan Alokasi Dana Desa
itu direalisasikan hanya untuk pembangunan fisik saja misalnya: jalan,
kantor desa, gorong- gorong dan lainyya, padahal jika pemberdayaan
masyarakat dijadikan prioritas setidaknya bisa mempengaruhi keadaan
ekonomi, pemanfaatan potensi dan kesejahteraan masyarakat sendiri”.
(Wawancara, 27 April 2024)

Maka dalam hal ini butuh kesadaran pemerintah desa untuk mulai

memprioritaskan ADD untuk kegiatan dan program-program pemberdayaan

masyarakat, pada tahap penyadaran ini butuh peran dari semua pihak terutama

masyarakat untuk memberikan penyadaran kepada pemerintah Desa pentingnya

program pemberdayaan masyarakat untuk memajukan Desa dan mensejahterakan

masyarakat itu sendiri.

4.1.3 Pelaksanaan Pengelolaan Dana Desa dalam Pemberdayaan Masyarakat

Batee Timoh

Dalam pelaksanaan pengeloaan ADD terdapat prinsip umum yang harus

ditaati yang mencakup penerimaan dan pengeluaran. Prinsip ini diantaranya bahwa
43

seluruh penerimaan dan pengeluaran desa dilaksanakan melalui Rekening Kas Desa

yang ditandatangani oleh Kepala Desa dan Bendahara Desa. Di setiap desa Batee

Timoh dalam melakukan pelaksanaan pengelolaan alokasi dana desa, bendahara

desa dapat menyimpan uang dalam kas desa pada jumlah tertentu untuk memenuhi

kebutuhan operasional pemerintah desa. Batasan jumlah uang yang disimpan dalam

kas desa itu sesuai dengan peraturan yang ditetapkan bupati. Hal ini sesuai dengan

hasil wawancara dengan Kasi Pembangunan yaitu Jamaluddn, [Link] mengatakan

bahwa:

“Dalam kegiatan pelaksanaanya setiap dana yang disalurkan oleh


pemerintah pusat ke desa itu diserahkan kepada bendahara desa selanjutnya
bendahara desa menyimpan uang ke dalam kas desa dengan jumlah tertentu
dengan sepengetahuan oleh pemerintah desa”. (Wawancara, 28 April 2024)
Untuk kegiatan dilapangan, pemerintah desa di Permukiman Mesjid

Trienggadeng membentuk tim pengelolaan kegiatan. Yang dibawahi langsung oleh

kaur-kaur pemerintahan desa yang dikoordinator oleh Sekretaris Desa. Tim ini

terdiri dari beberapa anggota yang bertugas untuk menjalankan, mengawasi, dan

melaporkan segala kegiatan dari pelaksanaan pengelolaan ADD serta program

kerja yang ada [Link] pelaksana tingkat desa melakukan kegiatan dengan

prinsip transparan dan akuntabel kepada masyarakat dengan membuat papan

informasi terhadap kegiatan fisik dilokasi kegiatan. Dalam pelaksanaan kegiatan

tim pelaksana desa melaporkan ke pihak tim pelaksana kecamatan lalu ke tim

pelaksana Kabupaten. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil wawancara dengan

bendahara desa Batee Timoh sebagai berikut:

“Adanya tim khusus yang dibuat oleh pemerintah desa dalam rangka
mengawasi bersama pelaksanan pengalokasian dana desa, setiap tim
mempunyai wewenang untuk melapor kegiatan pelaksanaan kepada tim
44

pelaksana kecamatan maupun tim pelaksana kabupaten”. (Wawancara, 28


April 2024)
Berbagai kegiatan dan penelolaan keuangan yang telah dituangkan dalam

APB Desa, mulai dari proses Musrenbang, penetapan RKP Desa hingga penetapan

APB Desa. Setelah proses perencanaan selesai dilakukan maka akan ada hasil

dokumen APB Desa sebagai dasar penyelenggaraan pemerintah desa selama 1

(satu) tahun. Setiap kegiatan yang dilaksanakan pemerintah desa harus tercantum

dalam APB Desa pada tahun tersebut. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara

Sekretaris desa Batee Timoh menyatakan:

“Setiap kegiatan yang dilaksanakan pemerintah desa harus tercantum


dalam APB Desa yang telah direncanakan selama 1 (satu) tahun setelah
itu baru bisa direalisasikan untuk program kegiatan”. (Wawancara, 28 April
2024)
APB Desa menjadi dasar dalam hal keuangan pemerintah selama 1 tahun

berjalan. Pada tahap pelaksanaan pemerintah desa melakukan apa yang telah

disusun dalam APB Desa. Berbagai kegiatan dilaksanakan oleh pemerintah desa

dalam pengelolaan alokasi dana desa. Pelaksanaan APB Desa dan keuangan desa

Batee Timoh Kecamatan Kota Juang terdiri dari pelaksanaan atas penerimaan desa

serta pelaksanaan atas belanja dan pembiayaan desa. Pelaksanaan penerimaan desa

terkait dengan berbagai kegiatan dan pendapatan yang mengakibatkan

bertambahnya kas desa. Sedangkan pelaksanaan belanja dan pembiayaan desa yaitu

semua jenis pengeluaran yang mengakibatkan pengurangan terhada kas desa.

Dalam pelaksanaanya, bendahara desa dapat menyimpan uang dalam kas

desa pada jumlah tertentu untuk memenuhi kebutuhan operasional pemerintahan

desa. Batasan jumlah uang tunai yang disimpan dalam kas desa ditetapkan

sesuai dengan peraturan Bupati/Wali kota (BPKP, 2015). Menurut penjelasan dari
45

beberapa bendahara desa Batee Timoh, batasan jumlah uang tunai yang disimpan

dalam kas desa itu berbeda-beda tergantung dari pelaksanaanya, akan tetapi

setiap desa wajib menyimpan uang minimal sebesar Rp.1.000.000 (satu juta

rupiah) saja.

Pelaksanaan pengelolaan ADD di desa Batee Timoh dalam pemberdayaan

masyarakat masih dalam proses pemahaman. Dimana adanya kendala dalam

proses pemahaman tugas pokok dan fungsi perangkat Desa dan Pedaming Desa

tersebut masih kurang, sehingga untuk menjalankan kegiatan pemanfaatan potensi

Desa masih perlu di musyawarahkan kembali. Hal ini dikatakan penting dalam

tahap pelaksanaan ini adalah lebih kepada pengorganisasian, penanaman

pemahaman perangkat Desa, supaya tidak terjadi miskomunikasi pendamping Desa

dengan pemerintah Desa. Pemerintah Desa juga harus sering memberikan

pemahaman kepada masyarakat untuk diberdayakan guna memajukan Desa dan

meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat itu sendiri. Sehingga perencanaan

pengelolaan ADD dalam pemberdayaan Masyarakat akan lebih maksimal.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana

Desa, pelaksanaan pengelolaan dana desa belum dijalankan sesuai dengan peaturan

pemerintah, dimana alokasi dana desa banyak disalurkan ke bagian pembangunan

fisik dan infrastruktur atau tidak disamaratakan ke semua bagian yang sudah

ditetapkan. Padahal ADD dapat digunakan oleh masyarakat untuk kegiatan

pemberdayaan dalam mendorong produktivitas. Dengan adanya kegiatan

pemberdayaan dapat mendorong tergalinya pontensi-potensi yang dimiliki

masyarakat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


46

Dampak ADD terhadap pemberdayaan masyarakat dan pemerintahan desa.

Pada aspek pengalokasian ADD, sebagian besar penggunaan ADD lebih banyak

diarahkan pada kegiatan fisik (pembangunan sarana dan prasarana fisik), kemudian

untuk penambahan kesejahteraan perangkat desa dalam bentuk tunjangan serta untuk

kegiatan rutin. Pembangunan fisik dilakukan agar masyarakat dapat menggunakan

sarana infrastruktur yang ada untuk menunjang aktivitas kehidupan sehari-hari.

Adanya ADD pembangunan fisik di desa bisa dilakukan sesuai kebutuhan

masyarakat. Pembangunan yang disesuaikan dengan kebutuhan desa masing-masing

dapat membantu masyarakat dalam memperoleh akses dan fasilitas yang memadai

dan benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat desa.

ADD dapat mendorong peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan

masyarakat desa apabila diaktifkan secara insetif dan efektif. Kesejahteraan

masyarakat dapat diukur dengan kemampuan masyarakat dalam memenuhi

kebutuhan material dan spiritual. Pembangunan ditujukan untuk mengurangi

berbagai kesenjangan desa dan kota dalam peningkatan perekonomian di desa.

Adanya ADD memberikan kesempatan bagi desa untuk melakukan pembangunan

dan pemerintahannya sendiri. Kesempatan ini memungkinkan pembangunan sarana,

fasilitas, dan infrastruktur desa menjadi lebih baik sesuai dengan kebutuhan masing-

masing desa.

4.1.4 Pengujian Keabsahan Data

Pengujian keabsahan data dilakukan untuk mendapatkan data yang akurat dan

terpercaya, maka peneliti melakukan pemeriksaan keabsahan data dengan cara

triangulasi dengan sumber dan triangulasi dengan metode.


47

1. Triangulasi sumber

Dalam triangulasi sumber ini, peneliti menggunakan beberapa orang

informan tambahan selain informan utama untuk mengecek kebenaran dari informan

utama. Dalam penelitian ini informan utama perangkat desa dan informan tambahan

yaitu masyarakat. Pada triangulasi sumber penulis menemukan bahwa di dalam

pengelolaan dana desa belum ada arahan pemerintah desa dalam pemberdayaan.

Oleh karena itu berdasarkan wawancara dengan informan tambahan menyatakan

bahwa pemerintah desa harus memiliki kesadaran untuk mulai memprioritaskan

ADD untuk kegiatan dan program-program pemberdayaan masyarakat.

2. Triangulasi metode

Dalam trialngulasi metode ini, penulis mengumpulkan data-data dengan

melakukan wawancara bersama informan penelitian. Sehingga hasil yang didapatkan

dalam penelitian sangat valid dan mempunyai keabsahan data yang kuat.

Berdasarkan hasil temuan dan data dilapangan didapatkan bahwa pelaksanaan

pengelolaan ADD di desa Batee Timoh dalam pemberdayaan masyarakat masih

dalam proses musyawarah. Masih banyak kendala yang harus diselesaikan oleh

pemerintah daerah, seperti membekali pemerintah desa mengenai pemahaman akan

tugas pokok dan fungsi perangkat Desa dan Pedamping Desa tersebut mengenai

pengelolaan ADD, sehingga untuk menjalankan kegiatan pemanfaatan potensi Desa

masih perlu di musyawarahkan kembali. Pemerintah Desa juga harus sering

memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk diberdayakan guna memajukan

Desa dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat itu sendiri.


48

4.2 Pembahasan

Berbicara mengenai kebijakan pemerintahan tentang Alokasi Dana Desa,

tentunya tidak terlepas dari bagaimana peran pemerintah desa dalam

menyelenggarakan aktifitas-aktifitas pemberdayaan masyarakat melalui Alokasi

Dana Desa, karena pemerintah desa menjadi jembatan terhadap masyarakat desa itu

sendiri dalam melakukan aktifitas untuk dapat membantu kehidupan perekonomian

dan kepentingan masyarakat secara umum. Selain itu, segala aktifitas maupun

program kebijakan yang dilakukan pemerintah desa diharapkan mampu menciptakan

perubahan bagi masyarakat, khususnya dalam bidang perekonomian dan

kesejahteraan masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat di Desa Bate Timoh selama ini dapat katakan

belum berjalan secara maksimal hal ini dapat dilihat dari sediktnya ADD yang

direalisasikan pada bidang pemberdayaan masyarakat. Alokasi Dana Dana pada

bidang pemberdayaan masyarakat itu lebih banyak dianggarkan pada kegiatan

peningkatan kapasitas perangkat desa, kegiatan yang dilakukan seperti pelatihan

tahyiz mayit, pelatihan kader-kader desa dan sosialisasi Kamtibmas, pada bidang

kegiatan ini semua desa Batee Timoh mengalokasikan dananya. Sedangkan realisasi

ADD yang dianggarkan pada kegiatan pemberdayaan berbasis ekonomi hanya sedikit

bahkan ada desa yang tidak mengalokasi dana desa terhadap kegiatan pemberdayaan

ekonomi. Pada kegiatan pemberdayaan ekonomi kegiatan yang dilakukan seperti

pelatihan koperasi, pelatihan keterampilan UMKM.


BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan mengenai Pengelolaan Dana Desa Dalam

Pemberdayaan Masyarakat di Desa Batee Timoh Kecamatan Kota Juang maka dapat

di tarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Di Desa Batee Timoh Dana Desa banyak direalisasikan pada bidang

pelaksanaan pembangunan desa dan bidang penyelenggaraan pemerintah desa

sedangkan untuk bidang pemberdayaan masyarakat desa serta bidang

pembinaan masyarakat desa jumlah alokasi yang direalisasikan masih rendah.

Artinya penyaluran Dana Desa belum efektif pada bidang pemberdayaan

berbasis ekonomi, hal ini terjadi karena masih banyak diprioritaskan pada

pembangunan fisik sehingga masyarakat lebih banyak menganggarkan untuk

infrastruktur.

2. Pelaksanaan pengelolaan dana desa belum dijalankan sesuai dengan peaturan

pemerintah yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana

Desa, dimana alokasi dana desa banyak disalurkan ke bagian pembangunan

fisik dan infrastruktur atau tidak disamaratakan ke semua bagian yang sudah

ditetapkan.

5.2 Saran

Setelah melaksanakan penelitian di desa Batee Timoh , maka penulis

memiliki beberapa saran, yakni:

7
49
50

1. Untuk pemerintah desa seharusnya program ADD lebih mengarahkan kepada

pemberdayaan ekonomi masyarakat bukan terfokus pada operasional desa dan

benar-benar dikelola dengan baik sehingga dapat meningkatkan pendapatan

masyarakat.

2. Masyarakat desa untuk kedepannya harus memiliki kemauan dan kerjasama yang

baik dengan pemerintah dalam upaya meningkatkan kemandirian supaya

terlaksananya kegiatan pemberdayaan dari pengelolaan ADD yang direalisasikan

setiap tahunnya

3. Diharapkan untuk peneliti selanjutnya, mampu mengidentifikasi program-program

yang telah dilaksanakan oleh pemerintah desa. Agar dapat memberikan gambaran

spesifik mengenai program-program yang direalisasikan di desa.


51

DAFTAR PUSTAKA

Arens, A. (2015). Auditing & Issurance Service: An Intgreted Approach. New


Jersey: Prentince

Arikunto, S. (2018). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka


Cipta

Clara, S. (2017). Pengaruh Kualitas Audit, Financial Distress, Debt Default terhadap
Penerimaan Opini Audit Going Concern. Journal Economicus. 3(1), 62–76.

Dwidjowijoto, R. (2017). Manajemen Pemberdayaan: Sebuah Pengantar dan


Panduan Untuk Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: PT Elex Media
Komputindo

Eisenhardt. (2019). Ketepatan Waktu Penyampaian Laporan Keuangan. Terbit 18


Agustus 2019. ([Link]

Firmansyah., H., Muhammadon., & Budiman, A. (2023). Pengelolaan Dana Desa


dalam Pemberdayaan Masyarakat Desa. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan
(JISIP). Vol. 7 No. 2

Ghazali, I. (2018). Aplikasi Analisis Multivarate Dengan Program IBM SPSS 21.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Harjono., Adrian., Ilham, M. (2019). Pengaruh Pengelolaan Dana Desa Dalam


Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat. Jurnal Ekonomika. Vol.12, No.9.
Hulu, Y., Harahap, R.H., & Nasution, M.A. (2018). Pengelolaan Dana Desa dalam
Pemberdayaan Masyarakat Desa. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial. 10 (1)

Indira, J., & Praptitorini, M. (2011). Analisis Pengaruh Kualitas Audit, Debt Default,
Dan Opinion Shopping Terhadap Penerimaan Opini Going Concern.
Simposium Nasional Akuntansi. 8(1), 78–93.

Jamaluddin, A. (2019). Metode Penelitian Administrasi Publik. Yogyakarta: Gava


Media

Kerihi, ASY. (2020). Pengelolaan Dana Desa Dalam Bidang Pemberdayaan (Studi
Kasus Desa Nekbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang). Jurnal
Akuntansi Dan Keuangan. Volume 8, Nomor 2

51
52

Lili, A.M. (2018). Pengelolaan Alokasi Dana Desa Dalam Upaya Meningkatkan
Pembangunan Ekonomi Masyarakat di Desa Magmagen Karya, Kecamatan
Lumar. Artikel Ilmiah Universitas Tanjung Pura

Moleong, J.L. (2017). Metode Penelitian Kualitatif: Bandung. Remaja Rosdakarya.

Rahayu, S. (2019). Pengelolaan Dana Desa Dalam Pemberdayaan Masyarakat Desa


Di Desa Damit Kecamatan Pasir Belengkong Kabupaten Paser. E-Journal
Ilmu Pemerintahan, 7 (4)
Rukminto, A. (2019). Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan intervensi
Komunitas. Yogyakarta: Fakultas Ekonomi UI.
Saputra, I.W. (2019). Efektivitas Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) pada
Lambean Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli Tahun 2009-2014.
Skripsi. Fakultas Ilmu Sosial Politik. UNPAD
Setiawan. (2018). Transfer Pricing dan Risikonya terhadap Penerimaan Negara.
Retrieved from [Link].

Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:


Alfabeta.

Sumaryadi. (2018). Perencanaan Pembangunan Daerah Otonom dan Pemberdayaan


Masyarakat. Jakarta: CV Citra Utama.

Sumpeno, W. (2019). Perencanaan Desa Terpadu. Banda Aceh: Reinforcement


Action and Development.

Sumarsan, T. (2018). Akuntansi Dasar dan Aplikasi Dalam Bisnis. Jakarta: Indeks.

Suharto, E. (2017). Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat Kajian


Strategi Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerja Sosial. Bandung:
PT Refika Aditama.

Shuha, K. (2018). Analisis Pengelolaan Dana Desa (Studi Kasus Pada Desa-Desa
Selingkungan Kecamatan Lubuk Alung Kabupaten Padang Pariaman). Jurnal
Ekonomika. Vol.12, No.9.

Wisnu, T. A. (2019). Implementasi Kebijakan Dana Desa Di Kabupaten Semarang.


Skripsi. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. UNNES

Zaki, S. (2018). Prospek Pengembangan Desa. Bandung: Fokusmedia.


53

Lampiran 1.
PEDOMAN WAWANCARA

1. Bagaimana Tanggapan Bapak/Ibu Mengenai pengelolaan Dana Desa Yang Di

Alokasikan Di Desa Batee Timoh Kecamatan Kota Juang Kabupaten Bireuen?

2. Bagaimanakah proses pelaksanaan pengelolaan Dana Desa yang Yang Ada Di

Desa Batee Timoh Kecamatan Kota Juang Kabupaten Bireuen.

3. Bagiamana pandangan bapak/ibu mengenai ADD terhadap kegiatan

pemberdayaan masyarakat yang ada di Desa Batee Timoh Kecamatan Kota Juang

Kabupaten Bireuen?

4. Apa saran bapak bagi aparatur desa dalam mengelola ADD baik dari segi

pembangunan infrastruktur dan kegiatan pemberdayaan yang berbasis ekonomi?

5. Bagaimana tanggapan bapak mengenai pemanfaatan dana desa (dana gampong)

untuk mengurangi tingkat kemiskinan.


54

Lampiran 2.

DOKUMENTASI FOTO PENELITIAN

Anda mungkin juga menyukai