PENGELOLAAN DANA DESA DALAM PEMBERDAYAAN
MASYARAKAT DESA BATEE TIMOH
SKRIPSI
Diajukan Untuk Menempuh Ujian Sarjana
Pada Program Studi Akuntansi
Universitas Islam Kebangsaan Indonesia
Oleh:
ASYIFA RAHMAH
NPM: 200262201201
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM KEBANGSAAN INDONESIA
BIREUEN
2024
1
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan kemampuan untuk penulis, sehingga dapat membuat skripsi ini.
Kemudian salam dan sejahtera penulis sampaikan kepada baginda Nabi Muhammad
SAW dimana kehadirannya menjadi lentera bagi ummat manusia secara
komprehensif sehingga terciptanya kedamaian dan ketinggian makna ilmu
pengetahuan di dunia ini. Untuk itu dalam kesempatan ini penulis memilih judul
skripsi ini adalah “Pengelolaan Dana Desa Dalam Pemberdayaan Masyarakat
Desa Batee Timoh”.
Selanjutnya pada kesempatan ini perkenankanlah penulis mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Prof. Dr. Apridar, S.E., [Link] selaku Rektor Universitas Islam Kebangsaan
Indonesia
2. Dr. Syaripuddin, S.E., [Link] selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Islam Kebangsaan Indonesia.
3. Murni, S.E., [Link] selaku Ketua Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Islam Kebangsaan Indonesia.
4. Imam Malik, S.E., [Link] selaku Dosen Pembimbing Pertama yang sudah
banyak memberikan masukan dalam skripsi ini.
5. Dr. Mai Simahatie, M.M selaku Dosen Pembimbing Kedua yang sudah
banyak memberikan masukan dalam skripsi ini.
i
6. Tgk. H. Lutfi, [Link].i selaku Dosen Pembahas Pertama yang sudah banyak
memberikan kritik dan saran dalam penyempurnaan skripsi ini.
7. Emalia Ariska, S.E., M.S.M selaku Dosen Pembahas Kedua yang sudah banyak
memberikan kritik dan saran dalam penyempurnaan skripsi ini.
8. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam
Kebangsaan Indonesia beserta seluruh staf pengajar yang telah memberikan
ilmunya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan program perkuliahan ini.
9. Teristimewa bagi Ayahanda dan Ibunda yang telah memberikan motivasi,
membimbing, memberikan dorongan dan semangat serta pengorbanan yang
begitu besar kepada penulis.
10. Seluruh teman-teman seperjuangan pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi
dan Bisnis Universitas Islam Kebangsaan Indonesia yang telah memberi
semangat dan bantuan dalam penyelesaian skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna, untuk itu
saran dan kritikan yang sifatnya membangun sangat penulis butuhkan demi
kesempurnaan tulisan ini.
Bireuen, Juni 2024
Penulis,
Asyifa Rahmah
NPM: 200262201201
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................ i
DAFTAR ISI........................................................................................................ iii
DAFTAR TABEL................................................................................................ iv
DAFTAR GAMBAR........................................................................................... v
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang Masalah................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................ 3
1.3 Pembatasan Masalah..................................................................... 4
1.4 Tujuan Penelitian........................................................................... 4
1.5 Manfaat Penelitian ........................................................................ 4
1.6 Sistematika Penelitian................................................................... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 7
2.1 Kajian Penelitian Terdahulu.......................................................... 7
2.2 Landasan Teori.............................................................................. 10
2.2.1 Teori Agency ................................................................. 10
2.2.2 Pengertian Akuntansi ..................................................... 12
2.2.3 Dana Desa....................................................................... 15
[Link] Pengertian Dana Desa ........................................ 15
[Link] Tujuan Dana Desa ............................................. 17
[Link] Pengelolaan Dana Desa ..................................... 18
[Link] Prinsip Pengelolaan Dana Desa ......................... 19
[Link] Faktor Penghambat Pengelolaan Dana Desa...... 21
2.2.4 Pemberdayaan Masyarakat ............................................... 22
2.3 Kerangka Pemikiran ..................................................................... 25
BAB III METODE PENELITIAN................................................................. 27
3.1 Jenis Penelitian.............................................................................. 27
3.2 Tempat Penelitian ......................................................................... 28
3.3 Instrumen Penelitian ..................................................................... 28
3.4 Sampel Sumber Penelitian ............................................................ 29
3.5 Teknik Pengumpulan Data............................................................ 30
3.6 Teknik Analisis Data .................................................................... 31
3.7 Rencana Pengujian Keabsahan Data............................................. 32
iii
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN.......................................................... 35
4.1 Hasil............................................................................................... 35
4.1.1 Gambaran Umum Penelitian ............................................ 35
4.1.2 Pengujian Keabsahan Data ............................................... 37
4.1.3 Pengelolaan Dana Desa dalam Pemberdayaan Masyarakat
Batee Timoh.......................................................................... 37
4.1.4 Pelaksanaan Pengelolaan Dana Desa dalam Pemberda-
yaan Masyarakat Batee Timoh ......................................... 43
4.2 Pembahasan................................................................................... 47
BAB V PENUTUP.......................................................................................... 49
5.1 Kesimpulan.................................................................................... 49
5.2 Saran ............................................................................................. 49
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... 51
iv
iii
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ............................................................................. 7
v
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran ......................................................................... 26
vi
ABSTRAK
Nama : Asyifa Rahmah
Program Studi : Akuntansi
Judul : Pengaruh Pengelolaan Dana Desa Dalam Pemberdayaan
Masyarakat Desa Batee Timoh
Penelitian ini betujuan untuk mengetahui dan menganlisis pengelolaan dana desa
dalam pemberdayaan masyarakat Desa Batee Timoh. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode kualitatif dengan jumlah informan yang diambil yaitu
perangkat desa dan masyarakat. Hasil penelitian menyatakan bahwa di Desa Batee
Timoh Dana Desa banyak direalisasikan pada bidang pelaksanaan pembangunan
desa dan bidang penyelenggaraan pemerintah desa sedangkan untuk bidang
pemberdayaan masyarakat desa serta bidang pembinaan masyarakat desa jumlah
alokasi yang direalisasikan masih rendah. Artinya penyaluran Dana Desa belum
efektif pada bidang pemberdayaan berbasis ekonomi, hal ini terjadi karena masih
banyak diprioritaskan pada pembangunan fisik sehingga masyarakat lebih banyak
menganggarkan untuk infrastruktur. Pelaksanaan pengelolaan dana desa belum
dijalankan sesuai dengan peaturan pemerintah yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 60
Tahun 2014 tentang Dana Desa, dimana alokasi dana desa banyak disalurkan ke
bagian pembangunan fisik dan infrastruktur atau tidak disamaratakan ke semua
bagian yang sudah ditetapkan.
Kata Kunci : Pengelolaan Dana Desa, Pemberdayaan Masyarakat
vii
ABSTRACT
Name : Asyifa Rahmah
Study Program: Accounting
Title : The Influence of Village Fund Management in Empowering the
Batee Timoh Village Community
This research aims to determine and analyze the management of village funds in
empowering the Batee Timoh Village community. The method used in this research is
a qualitative method with the number of informants taken, namely village officials
and the community. The results of the research state that in Batee Timoh Village
Village Funds are mostly realized in the field of implementing village development
and the field of administering village government, while in the field of empowering
village communities and developing village communities the amount of allocation
realized is still low. This means that the distribution of Village Funds has not been
effective in the field of economic-based empowerment, this happens because physical
development is still prioritized so that the community budgets more for
infrastructure. The implementation of village fund management has not been carried
out in accordance with government regulations, namely Government Regulation
Number 60 of 2014 concerning Village Funds, where the allocation of village funds
is mostly channeled to the physical development and infrastructure section or is not
distributed evenly across all designated sections.
Keywords: Village Fund Management, Community Empowerment
viii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pemerintah Indonesia pada saat terus berusaha melakukan peningkatan
pelaksanaan pembangunan nasional agar pertumbuhan pembangunan daerah serta
pembangunan desa dan kota semakin seimbang, namun pada pelaksanaannya masih
ada beberapa masalah seperti ketidaksesuaian pembangunan antara desa dengan kota
di Indonesia. Menanggapi permasalahan tersebut, pemerintah membuat strategi untuk
mengatasi ketidaksesuaian pembangunan yaitu dengan adanya dana desa.
Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 tentang
Pengelolaan Keuangan Desa, dana desa dapat diartikan dana yang bersumber dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi desa yang
ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/ Kota dan
digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintah, pelaksanaan
pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat. Dana
desa yang mulai dijalankan pada tahun 2015 memberikan kepastian hukum terhadap
pertimbangan keuangan desa dan kabupaten/kota, desa memiliki jatah yang
digunakan untuk mengelola dana desa (Shuha, 2018).
Melalui dana desa, desa dapat berperan lebih aktif dalam mengelola
penyelenggaraan pemerintah, pelaksanaan pembangunan, pembinaan
kemasyarakatan, serta pemberdayaan masyarakat. Menurut Arens (2015) untuk
penerapan dana desa dan tercapainya pengelolaan dana desa, diharapkan masyarakat
1
2
ikut berpatisipasi dalam seluruh kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah desa. Dana
desa yang diberikan kepada desa akan dikelola oleh pemerintah desa, agar tujuan
adanya dana desa dapat tercapai. Tahap pengelolaan dana desa sama halnya dengan
pengelolaan keuangan desa, menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113
Tahun 2014 Pasal 1 Ayat (6) tentang Pengelolaan Keuangan Desa, menjelaskan
bahwa Pengelolaan keuangan desa adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi
perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan dan pertanggungjawaban
keuangan desa (Kerihi, 2020).
Desa Batee Timoh merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan
Jeumpa, Kabupaten Bireuen. Peneliti memilih Desa Batee Timoh sebagai tempat
penelitian karena di desa ini terdapat permasalah dalam pengelolaan dana desa. Desa
Batee Timoh menjadi salah satu desa yang juga sudah menerima aliran Dana Desa
sejak disahkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dan
Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber dari
APBN. Dana Desa sejak disahkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang
Desa dan Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2014 tentang Dana Desa yang
Bersumber dari APBN.
Dana Desa yang bersumber dari APBN ini diharapkan mampu memenuhi
kebutuhan masyarakat Desa Batee Timoh terutama pada bidang pemberdayaan
masyarakat Desa. Hal ini menunjukan bahwa bidang pemberdayaan merupakan
fokus utama desa dalam meningkatkan pendapatan masyarakat desa agar tercapainya
kesejahteraan masyarakat atau perubahan yang lebih baik kedepannya. Bidang
Pemberdayaan pada desa Batee Timoh memiliki beberapa program yang menjadi
3
prioritas dalam upaya meningkatkan pendapatan bagi masyarakat diantaranya
Pembangunan BUMDES dan juga bantuan alat tangkap nelayan.
Berdasarkan hasil wawancara awal yang dilakukan oleh peneliti diketahui
bahwa terdapat permasalahan yang terjadi di Desa Bate Timoh yaitu pada pendirian
dan Pembangunan BUMDES pada tahun 2022, dimana hal tersebut belum
terealisasikan dengan baik sehingga dananya dikembalikan pada kopdit desa.
Kemudian permasalahan lainnya yaitu bantuan alat tangkap nelayan yang seharusnya
juga direalisasikan menggunkan dana desa melalui bidang pemberdayaan juga tidak
kunjung diberikan, sehingga melayan menggunakan biaya pinjaman untuk
melangkapi alat alat tangkap tersebut. Artinya pengelolaan dana desa dalam bidang
pemberdayaan di Desa Batee Timoh, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen belum
berjalan maksimal dan belum sesuai dengan Permendagri nomor 113 tahun 2014
tentang Pengelolaan Keuangan Desa dan Permendagri nomor 114 tahun 2014 tentang
Pedoman Pembangunan Desa yang dalam hal ini peneliti lebih terfokuskan dalam
bidang pemberdayaan.
Menurut Harjono (2019) dalam pengelolaan dana desa juga harus ada
transparansi, dimana akses untuk memperoleh pengelolaan dana desa juga harus
dibuka, sehingga masyarakat desa tidak khawatir penggunaan dana desa untuk
keperluan apa saja. Di dalam pelaksanaan program atau kegiatan yang berasal dari
dana desa terdapat beberapa kendala yang dihadapi oleh pemerintah desa, sehingga
proses pengelolaan dana desa menjadi terhambat atau belum maksimal. Hal tersebut
disebabkan oleh sumber daya perangkat desa yang belum paham mengenai standar
akuntansi pemerintah desa dalam pengelolaan keuangan desa khususnya pengelolaan
4
dana desa yang memiliki beberapa tahapan mulai dari perencanaan hingga
pertanggungjawaban yang dilakukan oleh pemerintah desa. Sehingga ketidakjelasan
tersebut mengakibatkan pengelolaan dana desa yang tidak transparasi, tidak efektif
dan banyak laporan keuangan yang tidak jelas atau dicatat dengan baik.
Berdasarkan uraian tersebut maka penulis tertarik untuk meneliti dengan
judul “Pengelolaan Dana Desa Dalam Pemberdayaan Masyarakat Desa Batee
Timoh”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pertimbangan pemikiran dan latar belakang penelitian dikaitkan
maka penelitian ini merumuskan masalah yaitu:
1. Bagaimana pengelolaan Dana Desa dalam pemberdayaan masyarakat
Desa Batee Timoh?
2. Apakah pelaksanaan pengelolaan Dana Desa telah sesuai dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa?
1.3 Pembatasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, batasan masalah dalam penelitian
ini yaitu mengenai bagaimana pengelolaan dana desa di Desa Bate Timoh dan
disesuaikan dengan Peraturan Pemerintah dan juga upaya dari pemerintah desa
tersebut dalam memberdayakan masyarakat desa melalui dana desa.
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan yang ingin dicapai dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
5
1. Untuk mengetahui pengelolaan Dana Desa dalam pemberdayaan
masyarakat Desa Batee Timoh.
2. Untuk mengetahui apakah pelaksanaan pengelolaan Dana Desa telah sesuai
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa.
1.5 Manfaat Penelitian
Suatu penelitian ilmiah tentunya dapat bermanfaat baik secara teoritis
maupun praktis seperti berikut ini:
1. Manfaat Teoritis
Diharapkan mampu menambah wawasan untuk peneliti berikutnya tentang
seperti apa pengelolaan dana desa dalam pemberdayaan masyarakat Desa.
Dapat digunakan sebagai bahan perbandingan ataupun bisa ditingkatkan
lebih dalam dan bisa berguna sebagai pedoman atau referensi bagi
penelitian yang sejenis.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi penulis
Dapat menambah wawasan serta pengajaran langsung mengenai
pengelolaan dana desa serta cara pemberdayaan masyarakat Desa.
b. Manfaat bagi pemerintah
Hasil tersebut diharapkan bisa jadi pertimbangan untuk Pemerintah
Desa mengenai bagaimana cara pengelolaan ADD yang baik, Serta
masukan tentang bagaimana pemberdayaan masyarakat. Hasil ini juga
dapat berguna sebagai tambahan untuk Pemerintah Desa Harapan agar
pengelolaan ADD bisa dilaksanakan berdasarkan pada aturan.
6
1.6 Sistematika Penelitian
Tugas Akhir ini nantinya akan disusun dengan sistematika penulisan sebagai
berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Bab pendahuluan, terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah,
pembatasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan
sistematika penelitian.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Membahas mengenai teori yang digunakan dalam penelitian ini antara
lain dana desa, pemberdayaan dan lainnya.
BAB III METODELOGI PENELITIAN
Membahas langkah proses atau tahapan dalam pengumpulan data dan
analisis data
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bagian ini berisi penjelasan tentang hasil penelitian dan
menguraikan pembahasan sesuai hasil penelitian.
BAB V PENUTUP
Bab ini berisi kesimpulan dan saran pada kegiatan tugas akhir yang
dilakukan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kajian Penelitian Terdahulu
Dasar atau acuan yang berupa teori-teori melalui hasil berbagai penelitian
sebelumnya merupakan hal yang sangat perlu dan dapat dijadikan sebagai data
pendukung. Dalam hal ini, fokus penelitian terdahulu yang dijadikan acuan adalah
terkait dengan Pengelolaan Dana Desa. Kajian terhadap hasil penelitian terdahulu
yang relevan dalam penelitian ini berupa skripsi dan jurnal-jurnal. Berikut ini hasil
kajian hasil yang relevan, meliputi :
Tabel 2.1
Kajian Penelitian Terdahulu
No Peneliti Judul Penelitian Hasil Penelitian
1 Rahayu Pengelolaan Dana Desa Hasil penelitian menunjukan
(2019) Dalam Pemberdayaan bahwa Desa Damit
Masyarakat Desa Di Kecamatan Pasir Belengkong
Desa Damit Kecamatan Kabupaten Paser telah
Pasir Belengkong melaksanakan pengelolaan
Kabupaten Paser Dana Desa meskipun belum
maksimal dalam perencanaan
Dana Desa. Perencanaan
Dana Desa masih terhambat
oleh sumber daya manusia
yang rendah, diketahui dari
hasil musrenbangdes yang
monoton tiap tahunnya.
Pelaksanaan Dana Desa
dilaksanakan dengan efektif
dan efisien. Penatausahaan,
pelaporan dan
pertanggungjawaban
pemerintah desa dalam
pengelolaan Dana Desa
dilaksanakan sesuai dengan
aturan atau regulasi dari
pemerintah yang berlaku.
7
8
Adapun faktor penghambat
yaitu kondisi alam,
peraturan/regulasi dari
pemerintah dan ketentuan
wajib pajak terkait
pengelolaan Dana Desa,
sedangkan faktor pendukung
meliputi partisipasi
masyarakat dan semangat
gotong royong yang tinggi.
2 Kerihi Pengelolaan Dana Desa Hasil penelitian menemukan
(2020) Dalam Bidang bahwa adanya program-
Pemberdayaan (Studi program yang belum ada
Kasus Desa Nekbaun, dilaksanakan atau
Kecamatan Amarasi dilaksanakan dengan baik
Barat, Kabupaten seperti BUMDES dan Taman
Kupang Eden karena pengelolaan
dana desa di dalamnya bidang
pemberdayaan belum
menerapkan prinsip
transparansi, akuntabilitas,
partisipan, dan ketaatan dan
disiplin anggaran dengan baik
dan benar. Hal ini disebabkan
oleh beberapa hal
diantaranya; Kurangnya
pemahaman aparat desa
mengenai pengelolaan dana
desa khususnya di bidang
pemberdayaan, kurangnya
tingkat partisipasi masyarakat
juga dalam pelaksanaan
program, kurangnya
pengawasan dari tingkat
kabupaten atau provinsi juga
menyebabkan pemerintah
desa lalai dalam menjalankan
tugasnya dan tanggung
jawab, kurangnya pelatihan
dan sosialisasi menjadi salah
satu kendala dalam
pengelolaan dana
desaprosesnya, di sisi lain ada
oknum yang ingin
memanfaatkan dana yang
bersumber dari tersebut
9
APBN, dan yang terakhir
merupakan permasalahan
klasik yang terdapat hampir
di setiap desa. Tenaga
manusia yang kurang
berkualitas disebabkan oleh
sedikitnya masyarakat yang
mengenyam pendidikan
tinggi.
3 Fisabilillah et al., Pengelolaan Dana Hasil penelitian menunjukkan
(2020) Desa dalam bahwa hasil pengelolaan dana
Pemberdayaan desa bisa digunakan untuk
Masyarakat pemberdayaan lingkungan,
ekonomi, dan masyarakat.
Dengan menekankan
partisipasi masyarakat
sebagai kuncinya melalui
peran Stakeholder agar
program yang direncanakan
bisa berjaan efektif.
4 Rahmawati Pengelolaan Dana Desa Hasil peneltian menunjukkan
(2021) untuk Pemberdayaan bahwa pengelolaan Dana
Masyarakat Desa Mulya Desa Mulya Subur belum
Subur Kecamatan menerapkan asas pengelolaan
Pangkalan Lesung Dana Desa secara maksimal.
Kabupaten Pelalawan Hal ini dikarenakan pada
penerapan asas partisipatif
masih terkendala dengan
kurangnya dalam membuka
ruang bagi peran serta
masyarakat. Selain itu,
partisipasi dari masyarakat
masih bersifat pasif. Dalam
pengelolaan Dana Desa juga
masih memfokuskan pada
kegiatan pembangunan fisik.
5 Firmansyah et al, Pengelolaan Dana Desa Hasil penelitian menunjukkan
(2023) dalam Pemberdayaan bahwa faktor-faktor
Masyarakat Desa pendukung pengelolaan dana
desa dalam memberdayakan
penduduk desa di Desa
Mandala Kecamatan Wera
adalah dukungan untuk
kebijakan dan/atau peraturan,
sosialisasi, fasilitas, dan
infrastruktur. Faktor
10
penghambat adalah
kurangnya sumber daya
manusia dan kurangnya
partisipasi penduduk desa.
Berdasarkan uraian penelitian sebelumnya diketahui bahwa persamaan
penelitian penulis dengan penelitian sebelumnya yaitu terletak pada objek penelitian.
Sedangkan perbedaan penelitian penulis dengan penelitian sebelumnya yaitu pada
lokasi penelitiannya.
2.2 Kajian Teori
2.2.1 Teori Agency
Menurut Jensen & Meckling, teori keagenan (Agency Theory) sebagai suatu
kontrak dimana satu orang atau lebih (prinsipal) meminta pihak lainnya (agen) untuk
melaksanakan sejumlah pekerjaan atas nama prinsipal yang melibatkan
pendelegasian pertanggung jawaban atas decision making atau tugas tertentu kepada
agen (manajer) sesuai dengan kontrak kerja yang telah disepakati. Manajer sebagai
pengelola perusahaan lebih banyak mengetahui informasi dalam internal dan prospek
perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan pemegang saham. Oleh karena
itu, Seorang manajer memberikan informasi mengenai kondisi perusahaan yang
sebenarnya melalui pengungkapan informasi akuntansi seperti laporan keuangan
(Clara, 2017).
Untuk mengawasi perilaku manajer (agen) apakah sudah menjalankan
kewajiban sesuai dengan keinginan principal, maka laporan keuangan yang dibuat
oleh manajer dapat diaudit oleh pihak yang independen dan dalam hal ini adalah
11
auditor. Auditor melakukan fungsi pengawasan pekerjaan manajer melalui sebuah
sarana yaitu laporan tahunan. Tugas auditor adalah memberikan opini atas laporan
keuangan tersebut, mengenai kewajarannya. Selain memberikan opini atas hasil
audit, auditor juga harus mempertimbangkan akan kelangsungan hidup perusahaan
(Indira & Praptitorini, 2011).
Eisenhardt (2019) menyatakan bahwa teori agensi menggunakan tiga asumsi
sifat manusia. Pertama, manusia pada umumnya mengutamakan kepentingan dirinya
sendiri dengan mengabaikan kepentingan orang lain. Kedua, manusia memiliki daya
pikir terbatas mengenai persepsi masa yang akan datang (bounded rationality).
Ketiga, manusia selalu menghindari risiko. Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa seorang manajer akan mengambil tindakan yang lebih menguntungkan diri
sendiri dibandingkan dengan kepentingan perusahaan. Dalam kaitannya dengan
penerimaan opini audit going concern, agen (manajemen) bertanggung jawab
menjalankan perusahaan dan menghasilkan laporan keuangan sebagai bentuk
pertanggungjawaban manajemen. Informasi lebih banyak diketahui oleh agen
dibandingkan pemilik karena agen diberi wewenang oleh prinsipal untuk melakukan
kegiatan operasional perusahaan. Baik prinsipal maupun agen diasumsikan orang
ekonomi rasional dan semata-mata termotivasi oleh kepentingan pribadi. Agen
mungkin akan takut mengungkapkan informasi yang tidak diharapkan oleh pemilik,
sehingga terdapat kecenderungan untuk memanipulasi laporan keuangan. Maka dari
itu diperlukan pihak ketiga yang independen yaitu auditor.
Auditor dianggap mampu menghubungkan kepentingan pemilik (prinsipal)
dan pihak agen (manajemen) dalam melakukan pengawasan terhadap kinerja
12
manajemen. Tugas dari auditor adalah memberikan jasa untuk menilai laporan
keuangan yang dibuat oleh agen, mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut.
Auditor juga harus mengungkapkan permasalahan going concern yang dihadapi
perusahaan. Apabila auditor meragukan kemampuan perusahaan dalam
mempertahankan kelangsungan usahanya, auditor perlu memberikan opini atas
perusahaan tersebut. Opini yang dikeluarkan auditor harus berkualitas yang ditandai
dengan semakin objektif dan transparan informasi keuangan perusahaan (Arens,
2015).
2.2.2 Pengertian Akuntansi
Akuntansi merupakan suatu proses mencatat, mengklasifikasikan, meringkas,
mengelola dan menyajikan data, transaksi serta kejadian yang berhubungan dengan
keuangan sehingga dapat digunakan oleh orang yang menggunakannya dengan
mudah dimengerti untuk pengambilan suatu keputusan serta tujuan lainnya.
Akuntansi berasal dari kata asing accounting yang artinya dalam bahasa Indonesia
adalah menghitung atau mempertanggungjawabkan. Setiawan (2018) akuntansi
didefinisikan sebagai suatu kegiatan jasa yang fungsinya adalah menyediakan
informasi kuantitatif, khususnya yang berkaitan dengan keuangan. Informasi tersebut
diharapkan dapat menjadi masukan dalam proses pegambilan keputusan ekonomik
dan rasional. Berikut merupakan beberapa contoh keputusan ekonomik adalah
sebagai berikut :
1. Menerima atau menolak permintaan kredit (bagi bank atau lembaga keuangan
lain yang sedang mempertimbangkan permintaan kredit dari nasabah atau colon
nasabahnya).
13
2. Melepas kembali atau mempertahankan saham (surat tanda pemikiran pada
persero terbatas) yang sekarang dimiliki.
3. Mengeluarkan saham atau obligasi untuk menarik dana dari masyarakat.
Akuntansi terdiri dari tiga komponen utama yaitu sebagai berikut :
a. Input (masukan): berupa transaksi, yaitu peristiwa bisnis yang bersifat
keuangan.
b. Proses (prosedur): meliputi berbagai fungsi mulai dari pengidentifikasi
transaksi sampai dengan penyajian informasi keuangan. Proses utama
akuntansi adalah pencatatan yang terdiri dari dua fungsi yaitu penjumlahan
dan pemindah bukuan.
c. Outuput (keluaran): berupa informasi keuangan seperti laporan laba rugi,
laporan perubahan ekuitas, perubahan posisi keuangan, dan laporan arus kas.
Menurut Sumarsan (2018) akuntansi adalah suatu seni untuk mengumpulkan,
mengidentifikasikan, mengklasifikasikan, mencatat transaksi serta kejadian yang
berhubungan dengan keuangan, sihingga dapat menghasilkan informasi yaitu laporan
keuangan yang dapat digunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. metode
pencatatan, penggolongan, analisa dan pengendalian transaksi serta kegiatan-
kegiatan keuangan, kemudian melaporkan hasilnya. Kegiatan akuntansi, diantaranya:
1. Pengidentifikasian dan pengukuran data yang relevan untuk suatau pengambilan
keputusan.
2. Pemrosesan data yang bersangkutan kemudian pelaporan informasi yang
dihasilkan.
3. Pengkomunikasian informasi kepada pemakai laporan.
14
Fungsi utama dari akuntansi di sebuah perusahaan adalah untuk mengetahui
informasi tentang keuangan yang ada diperusahaan tersebut. Dari laporan akuntansi
dapat melihat perubahan keuangan suatu perusahaan yang terjadi di perusahaan, baik
itu rugi ataupun untung. Akuntansi sangat identik dengan perhitungan atau keluar
masuknya uang di suatu perusahaan, jadi seorang akuntan harus dapat
memperhitungkan biaya-biaya yang akan dikeluarkan perusahaan untuk
mengembangkan usahanya. Laporan akuntansi juga berfungsi untuk seorang
manager dalam mengambil keputusan apa yang akan dilakukan untuk kedepannya
agar perusahaan tersebut terus mendapat untung besar.
Sedangkan tujuan utama akuntansi adalah menyajikan informasi ekonomi
dari suatu kesatuan ekonomi kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Informasi
tersebut dapat berupa laporan keuangan. Untuk mempersipakan laporan keuangan
yang akurat agar dapat dimanfaatkan oleh pimpinan, manajer, pengambilan
kebijakan, dan pihak berkepentingan lainnya, seperti pemegang saham, kreditur atau
pemilik. Pencatatan harian yang terlibat dalam proses ini dikenal dengan istilah
pembukuan.
2.2.3 Dana Desa
[Link] Pengertian Dana Desa
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, desa
diberikan kewenangan untuk mengatur dan mengurus kewenangannya sesuai dengan
kebutuhan. Hal itu berarti dana desa akan digunakan untuk mendanai keseluruhan
kewenangan desa sesuai dengan kebutuhan dan prioritas dana desa tersebut. Dana
desa merupakan dana yang bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara
15
yang diperuntukkan bagi desa yang di transfer melalui anggaran pendapatan dan
belanja daerah kabupaten/kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan
pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan dan
pemberdayaan masyarakat. Pemerintah menganggarkan dana desa secara nasional
dalam APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) setiap tahunnya yang
bersumber dari belanja pemerintah dengan mengefektifkan program yang berbasis
desa secara merata dan berkeadilan.
Desa memiliki peran yang penting, khususnya dalam pelaksanaan tugas
didalam pelayanan publik. Desentralisasi kewenangan yang lebih besar disertai
dengan pembiayaan dan bantuan sarana dan prasarana yang memadai mutlak
diperlukan guna penguatan otonomi desa menuju kemandirian desa. Dengan
diterbitkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, posisi
pemerintahan desa semakin menjadi kuat. Kehadiran Undang-Undang No 6 Tahun
2014 Tentang Desa tersebut disamping merupakan penguatan status desa sebagai
pemerintahan masyarakat, sekaligus juga sebagai basis untuk memajukan masyarakat
dan pemberdayaan masyarakat desa.
Dalam peraturan menteri juga telah diatur bahwa dana desa diprioritaskan
untuk membiayai pelaksanaan program dan kegiatan berskala lokal desa bidang
pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakat desa. Prioritas penggunaan dana
desa didasarkan pada prinsip-prinsip: keadilan, dengan mengutamakan hak atau
kepentingan seluruh warga desa tanpa membeda-bedakan; kebutuhan prioritas,
dengan mendahulukan yang kepentingan desa yang lebih mendesak, lebih
dibutuhkan dan berhubungan langsung dengan kepentingan sebagian besar
16
masyarakat desa; dan tipologi desa, dengan mempertimbangkan keadaan dan
kenyataan karakteristik geografis, sosiologis, antropologis, ekonomi, dan ekologi
desa yang khas, serta perubahan atau perkembangan kemajuan desa (Saputra, 2019).
Menurut buku saku dana desa yang diterbitkan oleh Menteri Keuangan 2017
mendefinisikan dana desa sebagai anggaran yang berasal dari APBN yang ditujukan
khusus untuk desa dalam rangka untuk melakukan pembangunan dan pemberdayaan
masyarakat melalui dana APBD Kota/Kabupaten. Menurut Peraturan Pemerintah
Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa adalah dana yang bersumber dari
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi Desa yang
ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/ Kota dan
digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan
pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat.
Sementara itu menurut Lili (2018) dana desa ialah dana yang diterima desa
setiap tahun yang berasal dari APBN yang sengaja diberikan untuk desa dengan cara
mentransfernya langsung lewat APBD Kabupaten/Kota yang dipakai untuk mendanai
segala proses penyelenggaraan urusan pemerintahan atau pembangunan desa dan
memberdayakan semua masyarakat pedesaan.
[Link] Tujuan Dana Desa
Dalam UU Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, yaitu adanya komitmen
negara dalam melindungi dan memberdayakan desa agar menjadi kuat, maju, mandiri
dan demokratis sehingga dapat menciptakan landasan yang kuat dalam melaksanakan
pemerintahan dan pembangunan menuju masyarakat yang adil, makmur dan
17
sejahtera. Selanjutnya juga diharapkan akan terwujudnya desa yang mandiri dimana
(Wisnu, 2019):
1. Desa bukan hanya sekedar sebagai objek penerima manfaat, melainkan sebagai
subyek pemberi manfaat bagi warga masyarakat setempat.
2. Sebagai komponen desa mempunyai rasa kebersamaan dan gerakan untuk
mengembangkan aset lokal sebagai sumber penghidupan.
3. Desa mempunyai kemampuan menghasilkan dan mencukupi kebutuhan dan
kepentingan masyarakat setempat seperti pangan, energi dan layanan dasar.
4. Sebagai cita-cita jangka panjang, desa mampu menyediakan lapangan pekerjaan,
menyediakan sumber-sumber pendapatan bagi masyarakat serta menghasilkan
pendapatan asli desa dalam jumlah yang memadai.
Dana desa dimaksudkan untuk membiayai program pemerinah desa dalam
melaksanakan kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat
desa. Dengan tujuan dana desa itu sendiri adalah (Wisnu, 2019):
1. Menanggulangi kemiskinan dan mengurangi kesenjangan.
2. Meningkatkan perencanaan dan penganggaran pembangunan ditingkat desa dan
pemberdayaan masyarakat.
3. Meningkatkan pembangunan infrastruktur dan pelayanan masyarakat desa.
4. Meningkatkan pengamanan nilai-nilai keagamaan, sosial, budaya dalam rangka
mewujudkan peningkatan kesejahteraan sosial.
5. Mendorong peningkatan keswadayaan dan gotong royong masyarakat.
6. Meningkatakan pendapatan desa dan masyarakat desa melalui Badan Usaha
Milik Desa (BUMDES).
18
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa tujuan dari dana desa
adalah memberikan service kepada penduduk umum di desa-desa, mengangkat
kemiskinan, meningkatkan ekonomi desa, menghilangkan perbedaan dalam bidang
pembangunan antar desa, menguatkan penduduk desa sebagai subyek pembaharuan.
[Link] Pengelolaan Dana Desa
Pemahaman megenai pengelolaan dana desa didesa menjadi aspek penting
dan mendasar yang harus dimiliki oleh para pemangku kepentingan di level
pemerintah desa, khusussnya perangkat desa, dalam mewujudkan transparasi dan
akuntabilitas keuangan desa. Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor
113 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Keuangan Desa, pengelolaan dana desa itu
harus dilakukan secara transparan, akuntabel, partisipatif, tertib, dan disiplin
anggaran. Pengelolaan keuangan desa trdiri dari tim Tim Rencana Kegiatan
Pembangunan Desa (RKPDes) dan dilanjutkan menuju realisasinya (Harjono et al.,
2019).
Dari uraian diatas, dapat kita lihat bahwa tim Tim Rencana Kegiatan
Pembangunan Desa (RKPDes) membuat Rencana Anggaran Biaya (RAB) sesuai
dengan rapat pemerintahan desa dan musyawarah pembangunan desa dan disetujui
oleh Badan Pemusyawaratan Desa (BPD) setelah Rencana Kerja Pemerintah (RKP)
selesai maka diverifikasi oleh kecamatan untuk mendapatkan surat telah
dilaksanakan verifikasi untuk ke kabupaten. Setelah dilakukan verifikasi dan evaluasi
oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) maka, dibuatlah Peraturan
Desa (Perdes).
19
Segala kegiatan yang akan dilakukan harus sesuai dengan perdes. Pelaksana
Teknis Pengelola Keuangan Desa (PTPKD) membantu dan memverifikasi dana yang
akan dicairkan oleh bendahara dan disalurkan ke Tim Pengelola Kegiatan (TPK),
sesuai dengan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) dari TPK. Tim TPK
melaksanakan kegiatan sesuai dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang sudah
diperdeskan sebagai laporan pertanggungjawaban kegiatan, setiap kegiatan harus
dilengkapi dengan Surat Pertanggungjawaban (SPJ) berupa surat penawaran. Semua
kegiatan diawasi oleh kepala desa selaku kuasa pengguna anggaran.
[Link] Prinsip Pengelolaan Dana Desa
Kekuasaan Pengelola Dana Desa dipegang oleh Kepala Desa. Namun dalam
pelaksanaannya, Kepala Desa dibantu oleh perangkat desa sehingga pelaksanaan
pengelola dana desa dilaksanakan secara bersama-sama oleh Kepala Desa dan
Pelaksana Teknis Pengelolaan Keuangan Desa (PTPKD). Menurut Rukminto (2019)
menyatakan bahwa dalam mengatur pengelolaan Dana Desa harus sesuai dengan
prinsip Dana Desa yaitu:
1. Semua aktivitas yang dibiayai Dana Desa diprogramkan, diimplementasikan serta
dimonitoring dengan transparan sesuai prinsip dari masyarakat, oleh masyarakat,
dan untuk masyarakat.
2. Semua aktivitas wajib akui menurut manajerial, umum serta undang-undang.
3. Dana Desa dilakukan dilaksanakan melalui dasar ekonomis, teratur serta terarah.
4. Aktivitas yang didanai oleh Dana Desa sungguh transparan guna menambah
prasarana umum yang berguna untuk melayani masyarakat dalam hal mencukupi
20
kebutuhan pokok, memperkokoh organisasi desa yang diperlukan oleh warga
masyarakat yang diputuskan lewat musyawarah.
5. Dana Desa wajib ditulis di APBDesa dan proses penganggarannya mengikuti
mekanisme yang berlaku.
Sementara itu menurut Zaki (2018) keuangan desa dikelola berdasarkan asas
ADD yaitu:
1. Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 60 l ahun 2014 tentang Dana Desa Yang
Bersumber dari APBN mengatur bahwa dana desa merupakan dana yang
bersumber dari APBN.
2. Peraturan tentang keuangan negara, antara lain Undangundang Nomor 17 Tahun
2003 tentang Keuangan Negara, Undang undang Nomor I Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara, Undang-undang 31 Tahun 1999 Undang-undang No 20
Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Peraturan
Pemerintah Nomor 43 Tahun 2014 tentang Desa, dan Permendagri Nomor 113
Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa.
Berdasarkan penjelasan yang telah disebutkan, maka prinsip penggunaan
anggaran desa pada umumnya berhubungan dengan dana desa yang nantinya harus
dilaporkan ke pemerintah dan juga negara sesuai dengan peraturan yang berlaku,
baik itu berupa peraturan pemerintah ataupun undang-undang. Peraturan Bupati
Kabupaten Aceh Utara No. 18 Tahun 2020 tentang Pengalokasian Alokasi Dana
Gampong dipergunakan untuk pembangunan dan penyelenggaraan pemerintahan.
Pembangunan Desa yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Pembinaan lembaga kemasyarakatan Desa
21
2. Penyelenggaraan kerukunan antar umat beragama.
3. Pembinaan kerukunan masyarakat beragama.
4. Pembinaan keseniana dan sosial budaya
5. Peningkatan pendidikan dasar
6. Penanggulangan kemiskinan
7. Pengadaan infrastruktur desa seperti prasarana pemerintah, prasarana
perhubungan.
8. Peningkatan kesehatan masyarakat.
[Link] Faktor Penghambat Pengelolaan Dana Desa
Dalam menjalankan program dana desa, tentunya tidak mudah, bahkan ada
yang menjadi penghambat dalam menjalankan program dana desa. Menurut Sari et
al., (2018) menyatakan bahwa faktor penghambat pengelolaan dana desa yaitu:
1. Rendahnya Sinkronisasi Antara Perencanaan di Tingkat Desa Dan Kecamatan
2. Jumlah Dana Desa penunjang operasional administrasi pemerintah terbatas
3. Kurangnya intensitas sosialisasi Dana Desa pada masyarakat.
Berdasarkan uraian yang telah disebutkan diatas dapat disimpulkan bahwa
faktor penghambat pengelolaan alokasi dana desa adalah jumlah anggaran dan
sumber daya manusia. Jumlah anggaran yang terbatas serta sumber daya manusia
seperti masyarakat dan juga perangkat desa.
[Link] Dana Desa dan Pemberdayaan Masyarakat
Dalam UU Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, yaitu adanya komitmen
negara dalam melindungi dan memberdayakan desa agar menjadi kuat, maju, mandiri
22
dan demokratis sehingga dapat menciptakan landasan yang kuat dalam melaksanakan
pemerintahan dan pembangunan menuju masyarakat yang adil, makmur dan
sejahtera. Selanjutnya juga diharapkan akan terwujudnya desa yang mandiri dimana
desa bukan hanya sekedar sebagai objek penerima manfaat, melainkan sebagai
subyek pemberi manfaat bagi warga masyarakat setempat. Sebagai komponen desa
mempunyai rasa kebersamaan dan gerakan untuk mengembangkan aset lokal sebagai
sumber penghidupan dan kehidupan bagi warga masyarakat dan juga desa
mempunyai kemampuan menghasilkan dan mencukupi kebutuhan dan kepentingan
masyarakat setempat seperti pangan, energi dan layanan dasar. Serta desa sebagai
cita-cita jangka panjang, desa mampu menyediakan lapangan pekerjaan,
menyediakan sumber-sumber pendapatan bagi masyarakat serta menghasilkan
pendapatan asli desa dalam jumlah yang memadai.
Dana desa dimaksudkan untuk membiayai program pemerinah desa dalam
melaksanakan kegiatan pemerintahan, pembangunan dan pemberdayaan masyarakat
desa. Dengan tujuan dana desa itu sendiri adalah:
1. Menanggulangi kemiskinan dan mengurangi kesenjangan.
2. Meningkatkan perencanaan dan penganggaran pembangunan ditingkat desa dan
pemberdayaan masyarakat.
3. Meningkatkan pembangunan infrastruktur dan pelayanan masyarakat desa.
4. Meningkatkan pengamanan nilai-nilai keagamaan, sosial, budaya dalam rangka
mewujudkan peningkatan kesejahteraan sosial.
5. Mendorong peningkatan keswadayaan dan gotong royong masyarakat.
23
6. Meningkatakan pendapatan desa dan masyarakat desa melalui Badan Usaha
Milik Desa (BUMDesa).
Tujuan pemanfaatan dana desa untuk pemberdayaan masyarakat desa
sangatlah penting, karena pemberdayaan masyarakat pada dasarnya bertujuan untuk
membantu mengembangkan masyarakat yang lemah dan miskin. Dimana dengan
adanya dana desa proses memberdayakan kelompok-kelompok masyarakat tersebut
menjadi lebih efisien. Sehingga masyarakat dapat lebih mandiri dan dapat memenuhi
kebutuhan dasar hidup mereka dan juga sanggup berperan serta dalam
pengembangan masyarakat.
Menurut Suharto (2017) tujuan utama pemberdayaan masyarakat adalah
memperkuat kekuasaan masyarakat khususnya kelompok lemah yang memiliki
ketidakberdayaan, baik karena kondisi internal (misalnya persepsi mereka sendiri),
maupun karena kondisi eksternal (misalnya ditindas oleh struktur sosial yang tidak
adil). Ada beberapa kelompok yang dapat dikategorikan sebagai kelompok lemah
atau tidak berdaya meliputi:
1. Kelompok lemah secara struktural, naik lemah secara kelas, gender, maupun
etnis.
2. Kelompok lemah khusus, seperti manula, anak-anak, dan remaja penyandang
cacat, gay, lesbian, dan masyarakat terasing.
3. Kelompok lemah secara personal, yakni mereka yang mengalami masalah
pribadi atau keluarga.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tujuan yang ingin di capai dari
pemberdayaan masyarakat menggunakan dana desa adalah untuk membentuk
24
individu dan masyarakat menjadi mandiri. Kemandirian tersebut meliputi kemadirian
berpikir, bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan tersebut.
2.2.4 Pemberdayaan Masyarakat
Menurut Zaki (2018) pemberdayaan masyarakat dapat diartikan sebagai
upaya untuk memulihkan atau meningkatkan kemampuan suatu komunitas untuk
mampu berbuat sesuai dengan harkat dan martabat mereka dalam melaksanakan hak-
hak dan tanggung jawabnya selaku anggota masyarakat. Menurut Sumpeno (2019)
pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan oleh unsur yang berasal dari luar tatanan
terhadap suatu tatanan, agar tatanan tersebut mampu berkembang secara mandiri.
Dengan kata lain, pemberdayaan sebagai upaya perbaikan wujud interkoneksitas
yang terdapat di dalam suatu tatanan dan atau upaya penyempurnaan terhadap
elemen atau komponen tatanan yang ditujukan agar tatanan dapat berkembang secara
mandiri. Jadi pemberdayaan adalah upaya yang ditujukan agar suatu tatanan dapat
mencapai suatu kondisi yang memungkinkan untuk membangun dirinya sendiri.
Menurut Rukminto (2019) pemberdayaan pada intinya membantu masyarakat
memperoleh daya untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan yang akan
ia lakukan yang terkait dengan diri mereka, termasuk mengurangi efek hambatan
pribadi dan social dalam melakukan tindakan. Hal ini dilakukan melalui peningkatan
kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunakan daya yang ia miliki, antara
lain melalui transfer daya dari lingkungan. Pembedayaan masyarakat merupakan
proses pembangunan yang mana masyarakat memiliki inisiatif untuk melalui proses
kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri.
25
Pemberdayaan masyarakat juga merupakan strategi yang bertujuan mengajak
penduduk miskin agar bersama-sama berpartisipasi dalam kegiatan pengambilan
keputusan seperti upaya penanggulangan kemiskinan yang mereka alami sendiri,
pemberdayaan masyarakat itu masyarakat sendiri yang harus aktif dalam setiap
kegiatannya agar masyarakat memiliki pengalam sendiri dalam memberdayakan
masyarakat itu sendiri (Dwidjowijoto, 2017).
Menurut Sumodiningrat (2019) pemberdayaan masyarakat memerlukan
kepedulian yang diwujudkan dalam kemitraan dan kebersamaan pihak yang sudah
maju dengan pihak yang belum berkembang. Dalam hal ini pemberdayaan
merupakan suatu proses perubahan ketergantungan menjadi kemandirian. Sedangkan
Suhendra (2018) berpendapat bahwa pemberdayaan masyarakat adalah sebuah
aktivitas untuk saling berhubungan, mandiri, untuk terus mempengaruhi partisipasi
seluruh kemampuan yang ada dengan berangsur-angsur menggunakan masukan
seluruh potensi, hubungan pemerintah dan masyarakat harus seimbang dikarenakan
dengan hubungan baik yang terjalin dapat mendorong seluruh kegiatan yang
direncanakan sebelumnya dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Pemberdayaan masyarakat memiliki tujuan dua arah, yaitu melepaskan
belenggu kemiskinan, keterbelakangan dan memperkuat posisi lapisan masyarakat
dalam struktur kekuasaan. Pemberdayaan adalah sebuah proses dan tujuan. Sebagai
proses, pemberdayaan adalah serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan
atau keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat, termasuk individu-individu
yang mengalami masalah kemiskinan. Sebagai tujuan, maka pemberdayaan merujuk
pada keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh sebuah perubahan sosial; yaitu
26
masyarakat yang berdaya, memiliki kekuasaan atau mempunyai pengetahuan dan
kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, baik yang bersifat fisik, ekonomi
maupun sosial seperti memiliki kepecayaan diri, mampu menyampaikan aspirasi,
mempunyai mata pencaharian, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan mandiri
dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya.
Menurut Sumaryadi (2018) tujuan pemberdayaan masyarakat pada dasarnya
adalah membantu pengembangan manusiawi yang otentik dan integral dari
masyarakat yang lemah, miskin, marjinal dan kaum kecil dan memberdayakan
kelompok-kelompok masyarakat tersebut secara sosio ekonomis sehingga mereka
dapat lebih mandiri dan dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup mereka, namun
sanggup berperan serta dalam pengembangan masyarakat.
2.3 Kerangka Pemikiran
Kerangka pikir sebagai metodologi singkat untuk mempermudah proses
memahami masalah yang dibahas. Diharapkan menghasilkan data yang benar-benar
valid. Untuk mempermudah alur kerangka pikir maka dibentuk dalam sebuah bagan
yang memperjelas proses yang akan dilakukan seperti dibawah ini.
Desa Bate Timoh
Pengelolaan
Dana Desa Bate Timoh
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun
2014 tentang Dana Desa
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran
27
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Dalam penulisan skripsi ini penulis menggunakan metode penelitian
kualitatif. Penelitian kualitatif adalah riset yang bersifat deskriptif dan cenderung
menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna (perspektif
subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan
metode-metode untuk mengeksplorasi dan memahami makna yang oleh sejumlah
individu atau sekelompok orang dianggap berasal dari masalah sosial atau
kemanusiaan (Jamaluddin, 2019).
Proses penelitian kualitatif ini melibatkan upaya-upaya penting, seperti
mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan prosedur-prosedur, mengumpulkan data
yang spesifik dari para partisipan, menganalisis data secara induktif mulai dari tema-
tema yang khusus ke tema-tema umum, dan menafsirkan makna data. Laporan akhir
untuk penelitian ini memiliki struktur atau kerangka yang fleksibel (Cresweell dalam
Jamaluddin, 2019). Berikut adalah proses pelaksanaan penelitian kualitatif :
1. Menentukan fenomena yang akan dikaji
2. Menggunakan metode kualitatif untuk memperoleh data
3. Mencari pola-pola dalam data
4. Validasi kesimpulan awal dengan mengulang data atau mengumpulkan lebih
banyak data
5. Mendaur ulang (Recycle) melalui proses atau data
27
28
3.2 Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Batee Timoh, Kecamatan Jeumpa Kabupaten
Bireuen. Alasan peneliti memilih lokasi tersebut karena pada observasi awal dan
wawancara awal yang peneliti lakukan bahwa terlihat adanya permasalahan
pengelolaan dan desa, berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat.
3.3 Instrumen Penelitian
Menurut Sugiyono (2018) instrumen penelitian adalah alat bantu yang dipilih
dan digunakan oleh peneliti dalam melakukan kegiatannya untuk mengumpulkan
data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah olehnya. Instrumen
yang digunakan oleh peneliti dalam hal ini adalah instrumen pokok dan instrumen
penunjang. Instrumen pokok adalah peneliti itu sendiri, sedangkan instrumen
penunjang adalah pedoman observasi dan pedoman wawancara. Kemudian key
person dalam penelitian ini adalah perangkat desa dan masyarakat yang tingga di
Desa Bate Timoh yang ikut atau tidak dalam menerima manfaat Dana Desa.
1. Instrumen pokok dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri.
Peneliti sebagai instrumen dapat berhubungan langsung dengan responden dan
mampu memahami serta menilai berbagai bentuk dari interaksi di lapangan.
Menurut Moleong (2017) kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif adalah
ia sekaligus merupakan perencana, pelaksana, pengumpulan data, analisis,
penafsir data, pada akhirnya ia menjadi pelapor hasil penelitiannya.
2. Instrumen kedua dalam penelitian ini adalah dengan metode wawancara.
Secara umum, penyusunan instrumen pengumpulan data berupa pedoman
wawancara dilakukan dengan tahap-tahap berikut ini:
29
a. Mengadakan identifikasi terhadap variabel-variabel yang ada di dalam
rumusan judul penelitian atau yang tertera di dalam problematika
penelitian.
b. Menjabarkan variabel menjadi sub atau bagian variabel.
c. Mencari indikator setiap sub atau bagian variabel
d. Menderetkan deskriptor menjadi butir-butir instrumen.
e. Melengkapi instrumen dengan pedoman atau instruksi dan kata pengantar
3. Instrumen ketiga dalam penelitian ini adalah dengan observasi. Secara umum,
penyusunan instrumen pengumpulan data berupa observasi dilakukan dengan
tahap-tahap berikut ini :
a. Mengadakan identifikasi terhadap variabel-variabel yang ada di dalam
rumusan judul penelitian atau yang tertera di dalam problematika
penelitian.
b. Menjabarkan variabel menjadi sub atau bagian variabel. C
c. Mencari indikator setiap sub atau bagian variabel.
d. Menderetkan deskriptor menjadi butir-butir instrumen.
e. Melengkapi instrumen dengan pedoman atau instruksi dan kata pengantar
(Arikunto, 2017).
3.4 Sampel Sumber Data
Sampel adalah sebagian dari populasi yang karakteristiknya hendak diteliti.
Sampel dalam penelitian kualitatif bukan dinamakan responden, tetapi sebagai
narasumber, atau partisipan, informan, teman dan guru dalam penelitian. Sampel
dalam penelitian kualitatif juga bukan disebut sampel statistik, tetapi sampel teoritis,
30
karena tujuan penelitian kualitatif adalah untuk menghasilkan teori (Ghazali, 2018).
Dalam penelitian ini, karena mengingat keterbatasan waktu dan kesempatan peneliti,
maka peneliti akan mengambil informan penelitian yang terdiri dari perangkat desa
dan masyarakat.
Sumber data yang diperoleh yaitu sumber data yang primer atau data yang
didapatkan dilapangan, dan sumber data sekunder yaitu data kepastian. Meleong
(2017) adapun sumber data yang dugunakan dalam penelitian ini:
1. Sumber data primer adalah merupakan sumber utama, yang diperoleh dari hasil
wawancara dan tindakan dari sumber pengamatan yang dilakukan secara sadar,
terarah dan bertujuan untuk memperoleh suatu informasi yang diperlukan.
Sumber data primer dalam penelitian diperoleh dari hasil wawancara dengan
perangkat desa dan masyarakat.
2. Sumber data sekunder adalah merupakan sumber data tambahan yang diperoleh
peneliti melalui sumber tertulis, dokumentasi, foto, dan data statistic mendukung
berhasilnya sebuah penelitian. Adapun data sekunder dalam penelitian ini yaitu
data-data dari jurnal, buku, dokumentasi serta foto dengan informan penelitian.
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data dan informasi yang lengkap dan akurat maka penulis
menggunakan teknik-teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti teknik yang
digunakan peneliti ini adalah :
1. Observasi
Dalam teknik pengumpulan data, observasi merupakan suatu kegiatan atau
pengamatan langsung pada objek penelitian sehingga diperoleh data yang sesuai.
31
Penulis melakukan pengamatan langsung dilapangan juga mengunjungi yaitu
desa Batee Timoh untuk mengamati secara langsung hal-hal yang berhubungan
dengan kualitas pelayanan (Soehartono, 2018). Observasi merupakan setiap
kegiatan untuk melaksanakan pengukuran yaitu pengamatan dengan
menggunakan inders penglihatan yang berarti tidak mengajukan pertanyaan-
pertanyaan. Observasi yang peneliti lakukan yaitu observasi non-partisipan yaitu
peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen. Observasi dilaku
kan di desa Batee Timoh, untuk mengamati terkait permasalahan dalam penelitia
n. Penulis melakukan observasi beberapa bulan dengan mengamati kegiatan
pemberdayaan masyarakat di Desa tersebut.
2. Wawancara (interview)
Wawancara merupakan pengumpulan data dengan cara mengajukan pertanyaan
kepada informan yang telah ditentukan sebelumnya untuk mendapatkan hasil
wawancara. Soehartono (2018) menjelaskan wawancara (interview) merupakan
pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan secara langsung oleh
pewawancara (pengumpul data) kepada responden, dari jawaban-jawaban
responden dicatat atau direkam dengan alat perekam suara. Wawancara ditujuka
n kepada perangkat desa, masyarakat dan yang terlibat dalam pemberdayaan
masyarakat, guna mendapatkan keterangan dan informasi untuk data-data peneli
tian mengenai. Alat yang peneliti gunakan dalam wawancara yaitu berupa catata
n dan telepon seluler untuk merekam suara.
32
3. Dokumentasi dan Kepustakaan
Teknik ini dilakukan untuk mendapatkan data sekunder sebagai pelengkap data
primer dengan cara mempelajari dan menganalisis buku-buku, dokumen arsip,
atau informasi relevan lainnya dari internet dan lainnya berkenaan dengan
kebijakan penelitian ini. Soerhartono (2018) menjelaskan bahwa dokumentasi
merupakan teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan kepada
subjek penelitian. Di dalam penelitian ini penulis mengumpulkan informasi
melalui dokumentasi yang didapat dari Kepala Desa, seperti Struktur Organisasi,
Visi dan Misi. Kemudian penulis mengambil foto di lokasi penelitian.
3.6 Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan teknik yang sangat penting dalam suatu penelitian,
data yang di analisis secara kualitatit. Serta kutipan dari hasil wawancara yang
ditampilkan untuk mendukung analisis, analisis data yang digunakan dalam
memecahkan masalah yang timbul dari penelitian sejak awal sampai selesainya
pengumpulan data. Proses penelitian dengan menggunakan metode analisis interaktif
yang menurut moeloeng (2018) melalui empat tahap pengumpulan data sebagai
berikut.
1. Data koleksi
Yaitu merupakan data yang telah didapatkan dilapangan. Koleksi data
merupakan suatu tahapan dalam proses penelitian yang sangat penting karena
hanya dengan mendapatkan data yang tepat maka proses penelitian akan
berlangsung sampai peneliti mendapatkan jawaban dari perumusan masalah
yang sudah ditetapkan.
33
2. Reduksi Data
Data yang diperoleh dari lapangan kemudiam di reduksi, dirangkum dan
kemudian dipilih-pilih menurut kepentingan (pokok) difokuskan untuk dipilih
yang terpenting. Reduksi data dilakukan terus-menerus selama proses penelitian
berlangsung. Data yang tidak diperlukan disortir agar memberi kemudahan
dalam penampilan, penyajian serta untuk menarik kseimpulan sementara.
3. Penyajian Data
Penyajian data domaksudkan dengan lebih dipermudah bagi peneliti untuk dapat
melihat gambaran secara keseluruhan atau bagian-bagian tertentu dari data
penelitian.
4. Penarikan Kesimpulan atau Verifikasi
Pada penelitian kualitatif, verifikasi data dilakukan secara terus-menerus
sepanjang proses penelitian dilakukan. Sejak pertama memasuki lapangan dan
selama proses pengimpulan data, peneliti berusaha untuk menganalisis dan
mencari makna dari kata yang dilakukan.
3.7 Rencana Pengujian Keabsahan Data
Untuk menguji keabsahan data yang didapat sehingga benar-benar sesuai
dengan tujuan dan maksud penelitian, maka peneliti menggunakan teknik triangulasi.
Triangulasi data adalah teknik pemeriksaan data yang memanfaatkan sesuatu yang
lain di luar data tersebut untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding data
tersebut (Moleong, 2017).
Adapun triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi
dengan sumber dan metode, yang berarti membandingkan dan mengecek derajat
34
balik kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang
berbeda dalam metode kualitatif (Moleong, 2017). Hal ini dapat peneliti capai
dengan jalan sebagai berikut:
1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.
2. Membendingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang
dikatakannya secara pribadi.
3. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai pendapat
dan pandangan orang seperti orang yang berpendidikan lebih tinggi atau ahli
dalam bidang yang sedang diteliti.
Teknik uji keabsahan lain yang digunakan oleh peneliti adalah perpanjangan
keikutsertaan. Menurut Moleong (2017) perpanjangan keikutsertaan berarti peneliti
tinggal di lapangan penelitian sampai kejenuhan pengumpulan data tercapai. Dalam
hal ini, peneliti memperpanjang atau menambah waktu wawancara dan observasi
terhadap kedua subjek agar data mencapai kejenuhan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Nama Gampong Batee Timoh dulunya mempunyai dua buah nama sebelum
Batee Timoh, pada tahun 1930 M beberapa keluarga yang mengungsi dari Aceh
Besar (Kuta Raja), sehingga disebuah kuala (sekarang Kula Raja) menelusuri jalan
kaki, dan mereka berteduh di suatu tempat dan membuka lahan tempat bermukim,
mereka mencetus nama tersebut dengan nama Seuneubok Aceh, karena terdiri dari
orang-orang Aceh dan tempat itu banyak buluk. Batee Timoh adalah sebuah
Gampong yang memiliki wilayah geografis, perbatasan-perbatasan dan penduduk
tetap dipimpin oleh seorang Keuchik.
Sejarah kepemimpinan Gampong di mulai pada tahun 1930 sampai dengan
tahun 1940 pucuk kepemimpinan di pegang oleh Petua Amien, kemudian pada tahun
1940 sampai dengan tahun 1953 sistem pemerintahan di pimpin oleh Tgk. Taawi,
kemudian pada tahun 1953 sampai dengan tahun 1965 sistem pemerintahan di
pimpin oleh Mahmud, selanjutnya pada tahun 1965 sampai dengan tahun 1968
sistem pemerintahan di pegang oleh Keuchik Adam dan kemudian pada tahun 1968
sampai dengan tahun 1971 sistem pemerintahan di lanjutkan oleh Keuchik M. Amin
[Link]. Kemudian pada tahun 1971 sampai dengan tahun 1974 sistem pemerintahan
di pimpin oleh Keuchik Abu Bakar, sedangkan pada tahun 1974 sampai dengan
tahun 1978 sistem pemerintahan di pimpin oleh Keuchik M. Daud Adam,
[Link], kemudian pada tahun 1998 sampai dengan tahun 2001 sistem pemerintahan di
35
7
36
pimpin oleh Keuchik M. Iswani, kemudian pada tahun 2001 sampai dengan tahun
2013 pemerintahan kembali di pimpin oleh Keuchik M. Iswani, dan pada tahun 2014
Gampong Batee Timoh di Pimpin oleh Keuchik Baharuddin sebagai penjabat
sementara. Pada tahun 2015 dan sekarang di Pimpin oleh Saiful Anwar [Link]
dengan semangat yang besar serta dukungan dari masyarakat yang begitu antusias
dalam mengawasi setiap jalannya roda pemerintahan membuat aparatur Gampong
aktif dalam menjalankan dan memajukan Gampong.
Tatanan Kehidupan Gampong Batee Timoh sangat kental dengan sikap
solidaritas sesama, dimana kegiatan-kegiatan yang berbaur dengan sosial masyarakat
sangat berjalan dan terpelihara, hal itu terjadi karena ada ikatan emosional
keagamaan yang sangat kuat antara sesama masyarakat dimana dalam agama Islam
sangat ditekankan untuk saling berkasih sayang, membantu meringankan beban
saudaranya dan dituntut pula untuk membina dan memelihara hubungan Islamiyah
antar sesama. Atas dasar inilah sehingga tumbuhnya motivasi masyarakat untuk
saling melakukan interaksi dengan baik.
Kondisi Ekonomi Masyarakat Bate Timoh, untuk mata pencaharian mayoritas
masyarakat Batee Timoh adalah sebagai petani dan nelayan, sedangkan sebagaian
lainnya tersebar pada mata pencaharian sebagai Pegawai Negeri Sipil, Pedagang,
Wiraswasta serta buruh usaha lainnya. Dalam hal pertanian masyarakat Desa Batee
Timoh yang mayoritas masyarakat tanam adalah padi. Hasil laut yang diperoleh
nelayan biasanya didistribusikan langsung ke konsumen dengan cara menjual ikan
segar dalam keranjang rotan. Ikan yang biasa ditangkap berupa ikan tongkol, ikan
tarakan dan ikan-ikan lain dengan ukuran kecil hingga sedang. Ikan yang tersisa tak
37
terjual dimanfaatkan petani dan nelayan selain dapat memenuhi kebutuhan juga
dapat memberikan peluang pekerjaan pada masyarakat sehingga dapat mengurangi
angka pengangguran.
4.1.2 Pengelolaan Dana Desa dalam Pemberdayaan Masyarakat Batee Timoh
Pengelolaan dana desa merupakan bagian dari pengelolaan keuangan desa
dalam APBDesa, meliputi perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan dan
pertanggungjawaban. Semua proses ini dijalankan oleh pemerintah desa didampingi
oleh Tim pendamping dari pemerintah, serta partisipasi masyarakat dalam
pengawasan dana desa. Pada tahapan perencanaan merupakan tahap awal dalam
kegiatan pengelolaan Alokasi Dana Desa, pada tahap perencanaannya pertama, tiap
desa melakukan musyawarah desa untuk menampung usulan-usulan masyarakat
mengenai program apa saja yang akan dilakukan (Peraturan Pemerintah Nomor 60
Tahun 2014 tentang Dana Desa). Pemerintah desa membahas tentang perencanaan
pembangunan desa yang meliputi RPJM dan RKP Desa yang sudah disusun dan
dilaksanakan melalui Musrenbangdes. Rancangan RKP Desa meliputi Rencana
Kegiatan dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang telah disetujui.
Kemudian BPD menyelenggarakan Musrenbangdes yang dilakukan untuk
membahas dan menyepakati bersama mengenai rancangan RKP Desa dan juga untuk
membahas tentang prioritas program kerja yang akan dilakukan pada tahun yang
berkenaan sesuai dengan usulan masyarakat. Rancangan peraturan desa untuk RKP
Desa dibahas dan disepakati bersama oleh Kepala Desa, Aparatur Desa serta BPD
untuk ditetapkan menajdi peraturan desa tentang RKP Desa (BPKP, 2023).
38
Berdasarkan hasil wawancara dengan Camat Kecamatan Kota Juang Bapak
Musni Syahputra, [Link]., [Link] menjelaskan bahwa tahap perencanaan
pengelolaan ADD di Desa Batee Timoh Kecamatan Kota Juang adalah sebagai
berikut:
a. Pemerintah Desa melakukan musyawarah desa (Musdes) yang melibatkan
masyarakat, dan aparatur desa
b. Kepala desa beserta aparatur desa menentukan skala prioritas mengenai
anggaran yanag akan direalisasikan untuk aktivitas kegiatan yang dilakukan
pada tahun berjalan
c. Sekdes dan Aparatur Desa menyususn Raperdes tentang APB Desa yang
kemudian dibahas bersama oleh BPD dan Kepala Desa untuk Disetujui.
d. Hasil Raperdes selanjutnya dibahas lebih lanjut secara detail dan jelas pada
kegiatan Musyawarah Perencanaan dan Pembangunan (Musrenbang) yang
dilakukan Bupati melalui Camat.
e. Pihak pemerintahan Kabupaten (Bupati melalui Camat) mengevaluasi setiap
Raperdes yang diajukan oleh setiap desa sesuai dengan Peraturan Bupati.
f. Hasil evaluasi selanjutnya diserahkan kembali kepada masing- masing desa
g. Desa menerima hasil evaluasi dan melakukan penyusunan kembali serta
perbaikan untuk dijadikan Peraturan Desa (Perdes).
Sementara pada tahap perencanaan pengelolaan ADD di setiap desa di Desa
Batee Timoh ada tim khusus yang dibentuk untuk menyususn Raperdes. Hal ini
sesuai dengan hasil wawancara dengan Camat Kecamatan Kota Juang Bapak
Musni Syahputra, [Link]., [Link] menjelaskan bahwa:
39
“Di setiap desa yang ada di Desa Batee Timoh dalam melakukan
perencanaan pengelolaan alokasi dana mempunyai tim sendiri yang
dibentuk untuk menyusun Raperdes tentang APB Desa yang terdiri dari
ketua koordinator, sekretaris, bendahara dan anggota.” (Wawancara, 25
April 2024)
Sekretaris Camat juga menyatakan bahwa pemerintah desa dalam melakukan
perencanaan pengalokasian dana desa sesuai dengan peraturan yang berlaku. Namun
pada prosedur yang dilakukan kegiatan perencanaan pengalokasian dana desa belum
sepenuhnya sesuai dengan peraturan yang berlaku. Dimana pemerintah desa dalam
melakukan kegiatan musyawarah desa (Musdes) kurangnya melibatkan masyarakat,
musyawarah dilakukan dengan aparatur desa saja seperti Kepala Desa, Sekretaris
Desa, Kaur, Kadus serta Tokoh Masyarakat, sehingga program anggaran yang
dijalankan pada tahun berjalan tidak sesuai denga kebutuhan masyarakat.
Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan beberapa masyarakat desa
di Desa Batee Timoh Kota Juang yaitu ibu Zahara yang menjelaskan bahwa:
“Kurangnya keterlibatan kami dalam musyawarah kegiatan perencanaan
pengalokasian dana desa yang dilakukan setiap desa pada tahun berjalan dan
biasanya kami hanya mengikuti sekali pada Musyawarah Rencana
Pembangunan (Musrenbang) desa, itu pun jika ada undangan”. (Wawancara,
25 April 2024).
Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) desa adalah forum
musyawarah tahunan para pemangku kepentingan (stakeholders) desa untuk
menyepakati Rencana Kerja Pembangunan Desa (RKP Desa) tahun anggaran
yang direncanakan (Rianingsih, 2018). Musrenbang diselenggarakan oleh lembaga
publik, yaitu pemerintah desa, bekerja sama dengan warga dan para pemangku
kepentingan lainnya. Musrenbang yang bermakna akan mampu membangun
kesepahaman tentang kepentingan dan kemajuan desa, dengan cara memotret
40
potensi dan sumber-sumber pembangunan yang baik dari dalam maupun luar desa
(Rianingsih, 2018).
Setiap dilaksanakan Musrenbang, pemerintah desa yang ada di Desa Batee
Timoh biasanya bekerja sama dengan kaur-kaur dan BPD untuk mengumpulkan
lembaga masyarakat seperti kepala dusun, imum desa, tokoh masyarakat, anggota
PKK serta beberapa masyarakat yang bisa memberi pendapat terhadap kegiatan
perencanaan alokasi dana desa, dalam hal ini pemerintah desa membatasi peserta
yang ikut Musrenbang guna untuk kelancaran musyawarah yang dilakukan. Hal ini
sesuai dengan penjelasan dari kepala desa Batee Timoh bapak Siful Anwar M. Nur
yaitu sebagai berikut:
“Dalam melakukan Musrenbang kami membatasi peserta yang ikut
musyawarah, hal ini supaya kegiatan musyawarah yang dilakukan lancar,
setidaknya sudah ada perwakilan dari kaur-kaur, masyarakat, tokoh
masyarakat, imum gampong serta anggota PKK untuk memberikan
masukan tentang perencanaan serta pembangunan di desa. Pembangunan
tidak akan bergerak maju apabila salah satu saja dari kompenen tata
pemerintahan tidak berperan atau berpatisipasi dan yang terpenting dalam
Muresbang adalah adanya partisipasi dan transparansi dari pihak perangkat
desa”. (Wawancara, 27 April 2024).
Berdasarkan observasi pada pemerintahan desa di desa Batee Timoh bahwa
pemerintah desa telah mewujudkan prinsip partisipasi dan transparansi dalam
melakukan perencanaan pengalokasian dana desa. Prinsip partisipasi dapat dilihat
dari komitmen pemerintah desa yang selalu mengundang beberapa lembaga
masyarakat serta kalangan masyarakat untuk ikut berpatisipasi dalam kegiatan
Musrenbang. Sedangkan prinsip transparansi terlihat dari adanya peraturan desa
(Perdes) yang dibuat setelah hasil Musrenbang dan yang telah disepakati bersama.
Dan pemerintah desa di Desa Batee Timoh selalu menginformasikan hasil dari
41
Musrenbang melalui Peraturan Desa (Perdes) yang ditempel di papan informasi
pengumuman desa, hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan kepala Desa
Batee Timoh bapak Siful Anwar M. Nur yaitu:
“Hasil dan kesimpulan akhir dari kegiatan Musrenbang, selanjutnya kami
tempel di papan informasi pengumuman desa supaya untuk dapat dilihat
oleh masyarakat secara keseluruhannya dan jika ada saran dan tanggapan
masyarakat boleh melapor ke kantor desa mengenai kegiatan perencanaan
pengalokasian dana desa, aparatur desa terbuka menerima pendapat atau
saran yang berikan masyarakat akan tetapi aparatur desa juga akan memilah
pendapat amanakah yang paling penting dan efisien dan kami juga harus
memikirkan dari segi anggaran dananya”. (Wawancara, 27 April 2024).
ADD ini diharapkan bisa membantu masyarakat dalam mewujudkan desa
yang maju, dan sejahtera. Dari perencanaan yang dibuat, desa yang ada di Desa
Batee Timoh berusaha untuk memberikan terbaik kepada masyarakat. Sesuai
dengan apa yang dikatakan oleh KASI Pemberdayaan Masyarakat Gampong
(PMG), Bapak Ali, mengatakan:
“Menjadi peran pemerintah desa dalam melakukan perencanaan
pengalokasian dana desa dan belanja desa, pemerintah desa memang
mengelola dari perencanaan sampai denga pelaksanaan hal ini sesuai
dengan tugas pokok dan fungsi perangkat desa”.(Wawancara, 28 April
2024)
Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri tentang Pedoman
Pembangunan Desa, mengatakan bahwa pemerintah desa adalah kepala desa atau
yang disebut dengan nama lain dibantu perangkat desa sebagai unsur
penyelenggaraan pemerintahan desa. Dalam pasal 52 ayat 1 bahwa, kepala desa
mengoordinasikan kegiatan pembangunan desa yang dilaksanakan oleh perangkat
desa atau unsur masyarakat desa. Jadi, jelas bahwa pemerintah desa
menyelenggarakan dan mengusahakan semua kepentingan masyarakat yang ada di
desa pimpinannya. Belanja Desa merupakan semua pengeluaran dari rekening desa
42
yang merupakan kewajiban desa dalam 1 (satu) tahun anggaran yang tidak akan
diperoleh pembayarannya kembali oleh desa. Belanja desa dipergunakan dalam
rangka mendanai penyelenggaraan kewenangan desa.
Pada tahap perencanaan pengelolaan ADD di bidang pemberdayaan
masyarakat pemerintah desa Batee Timoh masih belum memprioritaskan
pengunaan ADD untuk bidang pemberdayaan masyarakat, pemerintah desa hanya
memrioritaskan pengunaan ADD pada bidang pembangunan fisik atau
infrastruktur. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan ibu Ramziah selaku
masyarakat desa di Desa Batee Timoh sebagai berikut :
“Kurangnya porsi Alokasi Dana Desa yang direalisasikan pemerintah Desa
untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat, kebanyakan Alokasi Dana Desa
itu direalisasikan hanya untuk pembangunan fisik saja misalnya: jalan,
kantor desa, gorong- gorong dan lainyya, padahal jika pemberdayaan
masyarakat dijadikan prioritas setidaknya bisa mempengaruhi keadaan
ekonomi, pemanfaatan potensi dan kesejahteraan masyarakat sendiri”.
(Wawancara, 27 April 2024)
Maka dalam hal ini butuh kesadaran pemerintah desa untuk mulai
memprioritaskan ADD untuk kegiatan dan program-program pemberdayaan
masyarakat, pada tahap penyadaran ini butuh peran dari semua pihak terutama
masyarakat untuk memberikan penyadaran kepada pemerintah Desa pentingnya
program pemberdayaan masyarakat untuk memajukan Desa dan mensejahterakan
masyarakat itu sendiri.
4.1.3 Pelaksanaan Pengelolaan Dana Desa dalam Pemberdayaan Masyarakat
Batee Timoh
Dalam pelaksanaan pengeloaan ADD terdapat prinsip umum yang harus
ditaati yang mencakup penerimaan dan pengeluaran. Prinsip ini diantaranya bahwa
43
seluruh penerimaan dan pengeluaran desa dilaksanakan melalui Rekening Kas Desa
yang ditandatangani oleh Kepala Desa dan Bendahara Desa. Di setiap desa Batee
Timoh dalam melakukan pelaksanaan pengelolaan alokasi dana desa, bendahara
desa dapat menyimpan uang dalam kas desa pada jumlah tertentu untuk memenuhi
kebutuhan operasional pemerintah desa. Batasan jumlah uang yang disimpan dalam
kas desa itu sesuai dengan peraturan yang ditetapkan bupati. Hal ini sesuai dengan
hasil wawancara dengan Kasi Pembangunan yaitu Jamaluddn, [Link] mengatakan
bahwa:
“Dalam kegiatan pelaksanaanya setiap dana yang disalurkan oleh
pemerintah pusat ke desa itu diserahkan kepada bendahara desa selanjutnya
bendahara desa menyimpan uang ke dalam kas desa dengan jumlah tertentu
dengan sepengetahuan oleh pemerintah desa”. (Wawancara, 28 April 2024)
Untuk kegiatan dilapangan, pemerintah desa di Permukiman Mesjid
Trienggadeng membentuk tim pengelolaan kegiatan. Yang dibawahi langsung oleh
kaur-kaur pemerintahan desa yang dikoordinator oleh Sekretaris Desa. Tim ini
terdiri dari beberapa anggota yang bertugas untuk menjalankan, mengawasi, dan
melaporkan segala kegiatan dari pelaksanaan pengelolaan ADD serta program
kerja yang ada [Link] pelaksana tingkat desa melakukan kegiatan dengan
prinsip transparan dan akuntabel kepada masyarakat dengan membuat papan
informasi terhadap kegiatan fisik dilokasi kegiatan. Dalam pelaksanaan kegiatan
tim pelaksana desa melaporkan ke pihak tim pelaksana kecamatan lalu ke tim
pelaksana Kabupaten. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil wawancara dengan
bendahara desa Batee Timoh sebagai berikut:
“Adanya tim khusus yang dibuat oleh pemerintah desa dalam rangka
mengawasi bersama pelaksanan pengalokasian dana desa, setiap tim
mempunyai wewenang untuk melapor kegiatan pelaksanaan kepada tim
44
pelaksana kecamatan maupun tim pelaksana kabupaten”. (Wawancara, 28
April 2024)
Berbagai kegiatan dan penelolaan keuangan yang telah dituangkan dalam
APB Desa, mulai dari proses Musrenbang, penetapan RKP Desa hingga penetapan
APB Desa. Setelah proses perencanaan selesai dilakukan maka akan ada hasil
dokumen APB Desa sebagai dasar penyelenggaraan pemerintah desa selama 1
(satu) tahun. Setiap kegiatan yang dilaksanakan pemerintah desa harus tercantum
dalam APB Desa pada tahun tersebut. Hal ini sesuai dengan hasil wawancara
Sekretaris desa Batee Timoh menyatakan:
“Setiap kegiatan yang dilaksanakan pemerintah desa harus tercantum
dalam APB Desa yang telah direncanakan selama 1 (satu) tahun setelah
itu baru bisa direalisasikan untuk program kegiatan”. (Wawancara, 28 April
2024)
APB Desa menjadi dasar dalam hal keuangan pemerintah selama 1 tahun
berjalan. Pada tahap pelaksanaan pemerintah desa melakukan apa yang telah
disusun dalam APB Desa. Berbagai kegiatan dilaksanakan oleh pemerintah desa
dalam pengelolaan alokasi dana desa. Pelaksanaan APB Desa dan keuangan desa
Batee Timoh Kecamatan Kota Juang terdiri dari pelaksanaan atas penerimaan desa
serta pelaksanaan atas belanja dan pembiayaan desa. Pelaksanaan penerimaan desa
terkait dengan berbagai kegiatan dan pendapatan yang mengakibatkan
bertambahnya kas desa. Sedangkan pelaksanaan belanja dan pembiayaan desa yaitu
semua jenis pengeluaran yang mengakibatkan pengurangan terhada kas desa.
Dalam pelaksanaanya, bendahara desa dapat menyimpan uang dalam kas
desa pada jumlah tertentu untuk memenuhi kebutuhan operasional pemerintahan
desa. Batasan jumlah uang tunai yang disimpan dalam kas desa ditetapkan
sesuai dengan peraturan Bupati/Wali kota (BPKP, 2015). Menurut penjelasan dari
45
beberapa bendahara desa Batee Timoh, batasan jumlah uang tunai yang disimpan
dalam kas desa itu berbeda-beda tergantung dari pelaksanaanya, akan tetapi
setiap desa wajib menyimpan uang minimal sebesar Rp.1.000.000 (satu juta
rupiah) saja.
Pelaksanaan pengelolaan ADD di desa Batee Timoh dalam pemberdayaan
masyarakat masih dalam proses pemahaman. Dimana adanya kendala dalam
proses pemahaman tugas pokok dan fungsi perangkat Desa dan Pedaming Desa
tersebut masih kurang, sehingga untuk menjalankan kegiatan pemanfaatan potensi
Desa masih perlu di musyawarahkan kembali. Hal ini dikatakan penting dalam
tahap pelaksanaan ini adalah lebih kepada pengorganisasian, penanaman
pemahaman perangkat Desa, supaya tidak terjadi miskomunikasi pendamping Desa
dengan pemerintah Desa. Pemerintah Desa juga harus sering memberikan
pemahaman kepada masyarakat untuk diberdayakan guna memajukan Desa dan
meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat itu sendiri. Sehingga perencanaan
pengelolaan ADD dalam pemberdayaan Masyarakat akan lebih maksimal.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana
Desa, pelaksanaan pengelolaan dana desa belum dijalankan sesuai dengan peaturan
pemerintah, dimana alokasi dana desa banyak disalurkan ke bagian pembangunan
fisik dan infrastruktur atau tidak disamaratakan ke semua bagian yang sudah
ditetapkan. Padahal ADD dapat digunakan oleh masyarakat untuk kegiatan
pemberdayaan dalam mendorong produktivitas. Dengan adanya kegiatan
pemberdayaan dapat mendorong tergalinya pontensi-potensi yang dimiliki
masyarakat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
46
Dampak ADD terhadap pemberdayaan masyarakat dan pemerintahan desa.
Pada aspek pengalokasian ADD, sebagian besar penggunaan ADD lebih banyak
diarahkan pada kegiatan fisik (pembangunan sarana dan prasarana fisik), kemudian
untuk penambahan kesejahteraan perangkat desa dalam bentuk tunjangan serta untuk
kegiatan rutin. Pembangunan fisik dilakukan agar masyarakat dapat menggunakan
sarana infrastruktur yang ada untuk menunjang aktivitas kehidupan sehari-hari.
Adanya ADD pembangunan fisik di desa bisa dilakukan sesuai kebutuhan
masyarakat. Pembangunan yang disesuaikan dengan kebutuhan desa masing-masing
dapat membantu masyarakat dalam memperoleh akses dan fasilitas yang memadai
dan benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat desa.
ADD dapat mendorong peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan
masyarakat desa apabila diaktifkan secara insetif dan efektif. Kesejahteraan
masyarakat dapat diukur dengan kemampuan masyarakat dalam memenuhi
kebutuhan material dan spiritual. Pembangunan ditujukan untuk mengurangi
berbagai kesenjangan desa dan kota dalam peningkatan perekonomian di desa.
Adanya ADD memberikan kesempatan bagi desa untuk melakukan pembangunan
dan pemerintahannya sendiri. Kesempatan ini memungkinkan pembangunan sarana,
fasilitas, dan infrastruktur desa menjadi lebih baik sesuai dengan kebutuhan masing-
masing desa.
4.1.4 Pengujian Keabsahan Data
Pengujian keabsahan data dilakukan untuk mendapatkan data yang akurat dan
terpercaya, maka peneliti melakukan pemeriksaan keabsahan data dengan cara
triangulasi dengan sumber dan triangulasi dengan metode.
47
1. Triangulasi sumber
Dalam triangulasi sumber ini, peneliti menggunakan beberapa orang
informan tambahan selain informan utama untuk mengecek kebenaran dari informan
utama. Dalam penelitian ini informan utama perangkat desa dan informan tambahan
yaitu masyarakat. Pada triangulasi sumber penulis menemukan bahwa di dalam
pengelolaan dana desa belum ada arahan pemerintah desa dalam pemberdayaan.
Oleh karena itu berdasarkan wawancara dengan informan tambahan menyatakan
bahwa pemerintah desa harus memiliki kesadaran untuk mulai memprioritaskan
ADD untuk kegiatan dan program-program pemberdayaan masyarakat.
2. Triangulasi metode
Dalam trialngulasi metode ini, penulis mengumpulkan data-data dengan
melakukan wawancara bersama informan penelitian. Sehingga hasil yang didapatkan
dalam penelitian sangat valid dan mempunyai keabsahan data yang kuat.
Berdasarkan hasil temuan dan data dilapangan didapatkan bahwa pelaksanaan
pengelolaan ADD di desa Batee Timoh dalam pemberdayaan masyarakat masih
dalam proses musyawarah. Masih banyak kendala yang harus diselesaikan oleh
pemerintah daerah, seperti membekali pemerintah desa mengenai pemahaman akan
tugas pokok dan fungsi perangkat Desa dan Pedamping Desa tersebut mengenai
pengelolaan ADD, sehingga untuk menjalankan kegiatan pemanfaatan potensi Desa
masih perlu di musyawarahkan kembali. Pemerintah Desa juga harus sering
memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk diberdayakan guna memajukan
Desa dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat itu sendiri.
48
4.2 Pembahasan
Berbicara mengenai kebijakan pemerintahan tentang Alokasi Dana Desa,
tentunya tidak terlepas dari bagaimana peran pemerintah desa dalam
menyelenggarakan aktifitas-aktifitas pemberdayaan masyarakat melalui Alokasi
Dana Desa, karena pemerintah desa menjadi jembatan terhadap masyarakat desa itu
sendiri dalam melakukan aktifitas untuk dapat membantu kehidupan perekonomian
dan kepentingan masyarakat secara umum. Selain itu, segala aktifitas maupun
program kebijakan yang dilakukan pemerintah desa diharapkan mampu menciptakan
perubahan bagi masyarakat, khususnya dalam bidang perekonomian dan
kesejahteraan masyarakat.
Pemberdayaan masyarakat di Desa Bate Timoh selama ini dapat katakan
belum berjalan secara maksimal hal ini dapat dilihat dari sediktnya ADD yang
direalisasikan pada bidang pemberdayaan masyarakat. Alokasi Dana Dana pada
bidang pemberdayaan masyarakat itu lebih banyak dianggarkan pada kegiatan
peningkatan kapasitas perangkat desa, kegiatan yang dilakukan seperti pelatihan
tahyiz mayit, pelatihan kader-kader desa dan sosialisasi Kamtibmas, pada bidang
kegiatan ini semua desa Batee Timoh mengalokasikan dananya. Sedangkan realisasi
ADD yang dianggarkan pada kegiatan pemberdayaan berbasis ekonomi hanya sedikit
bahkan ada desa yang tidak mengalokasi dana desa terhadap kegiatan pemberdayaan
ekonomi. Pada kegiatan pemberdayaan ekonomi kegiatan yang dilakukan seperti
pelatihan koperasi, pelatihan keterampilan UMKM.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan mengenai Pengelolaan Dana Desa Dalam
Pemberdayaan Masyarakat di Desa Batee Timoh Kecamatan Kota Juang maka dapat
di tarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Di Desa Batee Timoh Dana Desa banyak direalisasikan pada bidang
pelaksanaan pembangunan desa dan bidang penyelenggaraan pemerintah desa
sedangkan untuk bidang pemberdayaan masyarakat desa serta bidang
pembinaan masyarakat desa jumlah alokasi yang direalisasikan masih rendah.
Artinya penyaluran Dana Desa belum efektif pada bidang pemberdayaan
berbasis ekonomi, hal ini terjadi karena masih banyak diprioritaskan pada
pembangunan fisik sehingga masyarakat lebih banyak menganggarkan untuk
infrastruktur.
2. Pelaksanaan pengelolaan dana desa belum dijalankan sesuai dengan peaturan
pemerintah yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana
Desa, dimana alokasi dana desa banyak disalurkan ke bagian pembangunan
fisik dan infrastruktur atau tidak disamaratakan ke semua bagian yang sudah
ditetapkan.
5.2 Saran
Setelah melaksanakan penelitian di desa Batee Timoh , maka penulis
memiliki beberapa saran, yakni:
7
49
50
1. Untuk pemerintah desa seharusnya program ADD lebih mengarahkan kepada
pemberdayaan ekonomi masyarakat bukan terfokus pada operasional desa dan
benar-benar dikelola dengan baik sehingga dapat meningkatkan pendapatan
masyarakat.
2. Masyarakat desa untuk kedepannya harus memiliki kemauan dan kerjasama yang
baik dengan pemerintah dalam upaya meningkatkan kemandirian supaya
terlaksananya kegiatan pemberdayaan dari pengelolaan ADD yang direalisasikan
setiap tahunnya
3. Diharapkan untuk peneliti selanjutnya, mampu mengidentifikasi program-program
yang telah dilaksanakan oleh pemerintah desa. Agar dapat memberikan gambaran
spesifik mengenai program-program yang direalisasikan di desa.
51
DAFTAR PUSTAKA
Arens, A. (2015). Auditing & Issurance Service: An Intgreted Approach. New
Jersey: Prentince
Arikunto, S. (2018). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka
Cipta
Clara, S. (2017). Pengaruh Kualitas Audit, Financial Distress, Debt Default terhadap
Penerimaan Opini Audit Going Concern. Journal Economicus. 3(1), 62–76.
Dwidjowijoto, R. (2017). Manajemen Pemberdayaan: Sebuah Pengantar dan
Panduan Untuk Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta: PT Elex Media
Komputindo
Eisenhardt. (2019). Ketepatan Waktu Penyampaian Laporan Keuangan. Terbit 18
Agustus 2019. ([Link]
Firmansyah., H., Muhammadon., & Budiman, A. (2023). Pengelolaan Dana Desa
dalam Pemberdayaan Masyarakat Desa. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan
(JISIP). Vol. 7 No. 2
Ghazali, I. (2018). Aplikasi Analisis Multivarate Dengan Program IBM SPSS 21.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Harjono., Adrian., Ilham, M. (2019). Pengaruh Pengelolaan Dana Desa Dalam
Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat. Jurnal Ekonomika. Vol.12, No.9.
Hulu, Y., Harahap, R.H., & Nasution, M.A. (2018). Pengelolaan Dana Desa dalam
Pemberdayaan Masyarakat Desa. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial. 10 (1)
Indira, J., & Praptitorini, M. (2011). Analisis Pengaruh Kualitas Audit, Debt Default,
Dan Opinion Shopping Terhadap Penerimaan Opini Going Concern.
Simposium Nasional Akuntansi. 8(1), 78–93.
Jamaluddin, A. (2019). Metode Penelitian Administrasi Publik. Yogyakarta: Gava
Media
Kerihi, ASY. (2020). Pengelolaan Dana Desa Dalam Bidang Pemberdayaan (Studi
Kasus Desa Nekbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang). Jurnal
Akuntansi Dan Keuangan. Volume 8, Nomor 2
51
52
Lili, A.M. (2018). Pengelolaan Alokasi Dana Desa Dalam Upaya Meningkatkan
Pembangunan Ekonomi Masyarakat di Desa Magmagen Karya, Kecamatan
Lumar. Artikel Ilmiah Universitas Tanjung Pura
Moleong, J.L. (2017). Metode Penelitian Kualitatif: Bandung. Remaja Rosdakarya.
Rahayu, S. (2019). Pengelolaan Dana Desa Dalam Pemberdayaan Masyarakat Desa
Di Desa Damit Kecamatan Pasir Belengkong Kabupaten Paser. E-Journal
Ilmu Pemerintahan, 7 (4)
Rukminto, A. (2019). Pemberdayaan, Pengembangan Masyarakat dan intervensi
Komunitas. Yogyakarta: Fakultas Ekonomi UI.
Saputra, I.W. (2019). Efektivitas Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) pada
Lambean Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli Tahun 2009-2014.
Skripsi. Fakultas Ilmu Sosial Politik. UNPAD
Setiawan. (2018). Transfer Pricing dan Risikonya terhadap Penerimaan Negara.
Retrieved from [Link].
Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Sumaryadi. (2018). Perencanaan Pembangunan Daerah Otonom dan Pemberdayaan
Masyarakat. Jakarta: CV Citra Utama.
Sumpeno, W. (2019). Perencanaan Desa Terpadu. Banda Aceh: Reinforcement
Action and Development.
Sumarsan, T. (2018). Akuntansi Dasar dan Aplikasi Dalam Bisnis. Jakarta: Indeks.
Suharto, E. (2017). Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat Kajian
Strategi Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerja Sosial. Bandung:
PT Refika Aditama.
Shuha, K. (2018). Analisis Pengelolaan Dana Desa (Studi Kasus Pada Desa-Desa
Selingkungan Kecamatan Lubuk Alung Kabupaten Padang Pariaman). Jurnal
Ekonomika. Vol.12, No.9.
Wisnu, T. A. (2019). Implementasi Kebijakan Dana Desa Di Kabupaten Semarang.
Skripsi. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. UNNES
Zaki, S. (2018). Prospek Pengembangan Desa. Bandung: Fokusmedia.
53
Lampiran 1.
PEDOMAN WAWANCARA
1. Bagaimana Tanggapan Bapak/Ibu Mengenai pengelolaan Dana Desa Yang Di
Alokasikan Di Desa Batee Timoh Kecamatan Kota Juang Kabupaten Bireuen?
2. Bagaimanakah proses pelaksanaan pengelolaan Dana Desa yang Yang Ada Di
Desa Batee Timoh Kecamatan Kota Juang Kabupaten Bireuen.
3. Bagiamana pandangan bapak/ibu mengenai ADD terhadap kegiatan
pemberdayaan masyarakat yang ada di Desa Batee Timoh Kecamatan Kota Juang
Kabupaten Bireuen?
4. Apa saran bapak bagi aparatur desa dalam mengelola ADD baik dari segi
pembangunan infrastruktur dan kegiatan pemberdayaan yang berbasis ekonomi?
5. Bagaimana tanggapan bapak mengenai pemanfaatan dana desa (dana gampong)
untuk mengurangi tingkat kemiskinan.
54
Lampiran 2.
DOKUMENTASI FOTO PENELITIAN