0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan41 halaman

Pengaruh Brand Image pada Wisata Asia Farm

Dokumen ini adalah proposal penelitian yang bertujuan untuk menganalisis pengaruh brand image terhadap minat kunjungan wisatawan di objek wisata Asia Farm Hay Day Pekanbaru. Penelitian ini mengidentifikasi pentingnya citra merek dalam menarik minat pengunjung dan mencatat peningkatan jumlah kunjungan sejak dibuka pada tahun 2019. Peneliti berharap hasil penelitian dapat memberikan wawasan bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan praktik pemasaran pariwisata.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan41 halaman

Pengaruh Brand Image pada Wisata Asia Farm

Dokumen ini adalah proposal penelitian yang bertujuan untuk menganalisis pengaruh brand image terhadap minat kunjungan wisatawan di objek wisata Asia Farm Hay Day Pekanbaru. Penelitian ini mengidentifikasi pentingnya citra merek dalam menarik minat pengunjung dan mencatat peningkatan jumlah kunjungan sejak dibuka pada tahun 2019. Peneliti berharap hasil penelitian dapat memberikan wawasan bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan praktik pemasaran pariwisata.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS RIAU

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

PEKANBARU

PENGARUH BRAND IMAGE TERHADAP MINAT KUNJUNGAN

WISATAWAN DI OBJEK WISATA ASIA FARM HAY DAY

PEKANBARU

PROPOSAL

OLEH

ANNISA PUTRI NARITA

1801112557

PROGRAM STUDI USAHA ILMU PERJALANAN WISATA

JURUSAN ILMU ADMINISTRASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

PEKANBARU

2021

1
Judul : Pengaruh Brand Image Terhadap Minat Kunjungan Wisatawan di

Objek Wisata Asia Farm Hay Day Pekanbaru

A. Latar Belakang Penelitian

Sektor pariwisata kini telah memberi pengaruh terhadap ekonomi negara.

Dalam sektor ekonomi, pariwisata telah menjadi penyumbang devisa,

meningkatkan pendapatan, kesempatan kerja dan mendorong perkembangan

usaha kecil (Mill, 2000: 171). Indonesia memiliki potensi yang besar pada sektor

pariwisata disetiap wilayahnya. Begitu juga dengan wilayah Provinsi Riau,

dengan Ibukota Pekanbaru. Kota Pekanbaru memiliki berbagai destinasi wisata

yang tersebar di berbagai kecamatannya sehingga dapat menarik wisatawan. Hal

ini sesuai dengan pernyataan Yanto (2017) yang menyatakan bahwa kota

pekanbaru memiliki kawasan objek wisata rekreasi, objek wisata budaya, objek

wisata minat khusus, objek wisata religi, objek wisata sejarah dan objek wisata

budaya.

Salah satu objek wisata yang ada di pekanbaru adalah objek wisata Asia Farm

Hay day. Asia Farm Hay day merupakan suatu objek wisata yang diresmikan pada

21 April 2019. Objek wisata ini terletak di Jalan Badak, Sail, Kecamatan Tenayan

Raya. Objek wisata ini terinspirasi dari sebuah game online yang bernama Hay

day dengan menyajikan tema utamanya wisata dan edukasi (Edi, 2020 dalam

[Link], 2020).

Edi (2020) menyatakan bahwa, Asia Farm merupakan tempat wisata yang

memiliki koleksi hewan ternak terlengkap di Pekanbaru ([Link], 2020).

Pernyataan ini didukung oleh adanya berbagai macam jenis hewan ternak seperti

1
sapi, kambing, domba, kuda, unggas, kelinci, ikan, dan jenis lainnya yang terdapat

didalam objek wisata tersebut. Selain di sajikannya wahana edukasi perternakan,

terdapat juga wahana edukasi pertanian, playground, bangunan-bangunan yang

bertemakan Negara Eropa dan Jepang, food court dan lainnya. Sejak awal

diresmikan, jumlah pengunjung ke objek wisata Asia Farm mengalami

peningkatan hingga Desember 2020. Berikut adalah data jumlah kunjungan pada

objek wisata Asia Farm tahun 2019 dan 2020 :

Tabel 1. Jumlah Pengunjung Asia Farm 2019 dan 2020

Tahun Bulan Jumlah Total


Pengunjung Pengunjung
2019 Mei 11.372 155.105
Juni 13.529
Juli 15.371
Agustus 18.594
September 20.673
Oktober 22.398
November 25.285
Desember 27.253
2020 Januari 14.749 192.897
Februari 19.980
Maret 10.098
April 8.827
Mei 9.093
Juni 10.760
Juli 11.228
Agustus 17.908
September 21.278
Oktober 22.530
November 22.876
Desember 23.750
Sumber : Data Kunjungan Asia Farm (Sulistyowati et all., 2021)

Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa kunjungan objek wisata Asia Farm

pada tahun 2019 dengan total pengunjung 155.105 orang mengalami peningkatan

2
dari bulan Mei hingga bulan Desember. Sedangkan pada tahun 2020 pengunjung

pada objek wisata Asia Farm mengalami peningkatan dari tahun 2019 dengan

total pengunjung 192.897 orang, tetapi mengalami fluktuatif dari bulan Januari

hingga bulan Desember. Meskipun pada tahun 2020 jumlah pengunjung

mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya, sudah seharusnya pihak pengelola

melakukan upaya untuk dapat tetap menarik minat wisatawan berkunjung agar

terus meningkat. Hal tersebut didasarkan dari pernyataan Suharto (2019)

wisatawan akan melakukan kunjungan kesebuah destinasi wisata karena adanya

minat yang timbul dari dalam diri untuk melakukan kunjungan wisata.

Suryabrata (1998) dalam Mauludin (2017), menyatakan bahwa minat

kunjungan sebagai kecenderungan dalam diri individu untuk tertarik pada suatu

objek atau menyenangi suatu objek. Minat kunjungan biasanya di tandai dengan

adanya ketertarikan pada suatu objek. Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan

bahwa minta kunjungan adalah suatu keinginan yang timbul akibat adanya

ketertarikan dan rasa senang dalam diri seorang wisatawan untuk mengunjungi

suatu destinasi wisata.

Kotler et all., (2006) menyatakan bahwa minat berkunjung pada wisatawan

dapat diasumsikan sama dengan minat beli pada konsumen yang diukur oleh

indikator yang sama (Munawwaroh, 2018). Hal ini didukung dengan adanya

persamaan perilaku pada wisatawan dan konsumen. Terdapat persamaan

pertimbangan antara wisatawan dan konsumen dalam memutuskan melakukan

kunjungan dan pembelian.

Suatu destinasi wisata yang dikunjungi oleh wisatawan dapat dipandang

sebagai konsumen sementara (Pitana & Ketut, 2009: 184). Menurut Kotler &

3
Keller (2003), bahwa minat beli konsumen adalah sebuah perilaku konsumen

dimana konsumen mempunyai keinginan dalam membeli dan memilih produk,

berdasarkan pengalaman dalam memilih, menggunakan, dan mengkonsumsi atau

bahkan menginginkan suatu produk (Mahmudah & Endang, 2018). Minat beli

seseorang dapat dipengaruhi dengan adanya dorongan dalam diri seseorang

tersebut berupa suatu pandangan terhadap produk atau jasa tertentu yang

ditawarkan oleh perusahaan. Hal itu berakibat adanya persaingan antara

perusahaan-perusahaan dalam mendapatkan minat konsumen terhadap produk

atau jasa yang ditawarkan.

Suatu cara untuk mendapatkan minat dari konsumen, perusahaan harus

melakukan pengenalan terhadap produk atau jasa terlebih dahulu dengan cara

meningkatkan brand image atau citra merek produk atau jasa tersebut. Seluruh

perusahaan berlomba-lomba untuk membangun citra merek yang kuat, disukai,

dan unik (Kotler & Keller, 2008: 14). Menurut Supriyanto & Ernawaty (2010),

menyatakan bahwa brand image adalah persepsi sebuah merek yang dikaitkan

dengan sikap pasar yang meliputi tingkat kesukaan dan manfaat yang

dipersepsikan bila nanti menggunakannya (Saputri, 2017).

Suatu citra merek atau brand image yang terkenal baik oleh pembeli akan

menimbulkan sebuah minat terhadap suatu produk (Adriana & Ngatno, 2020). Hal

ini didukung oleh pernyataan Judisseno (2019: 103) bahwa semakin kuat brand

image, semakin konsumen terbantu untuk bisa membedakan suatu produk atau

jasa dari produk atau jasa lainnya. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan

bahwa brand image merupakan suatu kondisi konsumen yang memiliki perasaan

dan gagasan tentang suatu brand image yang bersifat krusial terhadap konsumen

4
dalam menentukan pilihannya. Ketika suatu brand image memiliki nilai yang

positif bagi konsumen maka konsumen tidak segan akan membayar mahal untuk

mendapatkan produk dengan brand image tersebut sehingga akan menambah

minat konsumen untuk membeli produk atau jasa.

Brand image yang dimiliki oleh objek wisata Asia Farm Hay Day Pekanbaru

memiliki peran penting terhadap minat kunjungan wisatawan ke objek wisata

tersebut. Jika wisatawan memiliki pandangan pada suatu brand memiliki image

yang lebih unggul dari objek wisata lainnya maka wisatawan akan memilih untuk

mengunjungi objek wisata yang memiliki brand image yang dianggapnya terbaik.

Hal ini didasarkan pada kesimpulan dari penelitian Permatasari & Astri (2020)

bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada brand image terhadap minat

kunjungan Hotel Aston sebesar 68,4%.

Berdasarkan fenomena tersebut peneliti tertarik untuk mengetahui seberapa

besar pengaruh brand image terhadap minat kunjungan wisatawan di objek wisata

Asia Farm Hay Day Pekanbaru. Untuk itu peneliti bermaksud melakukan

penelitian dengan judul penelitian “Pengaruh Brand Image Terhadap Minat

Kunjungan Wisatawan di Objek Wisata Asia Farm Hay Day Pekanbaru”.

B. Rumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan adanya latar belakang masalah tersebut, dapat dirumuskan

masalah yang akan diteliti sebagai berikut :

1) Apakah brand image memiliki pengaruh terhadap minat kunjungan wisatawan

di objek wisata Asia Farm Hay Day Pekanbaru?

5
2) Seberapa besar pengaruh dari brand image terhadap minat kunjungan

wisatawan di objek wisata Asia Farm Hay Day Pekanbaru?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan pada latar belakang dan rumusan masalah tersebut, penelitian ini

memiliki tujuan yaitu :

1) Untuk mengetahui apakah brand image memiliki pengaruh terhadap minat

kunjungan wisatawan di objek wisata Asia Farm Hay Day Pekanbaru

2) Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari brand image terhadap minat

kunjungan wisatawan di objek wisata Asia Farm Hay Day Pekanbaru

D. Manfaat Penelitian

1) Manfaat Teoritis

Dapat memberikan wawasan yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu

pengetahuan khususnya dalam bidang pengaruh brand image terhadap minat

kunjungan wisatawan. Serta diharapkan dapat digunakan untuk menguatkan teori

yang ada khususnya mengenai brand image terhadap minat kunjungan.

2) Manfaat Praktis

a) Bagi penulis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambahkan pengetahuan dan wawasan

yang luas bagi peneliti dalam bidang pemasaran pariwisata mengenai brand

image terhadap miant kunjungan wisatawan.

b) Bagi pihak Universitas Riau

6
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi yang ada di

perpustakaan sehingga dapat membantu rekan mahasiswa lainnya dalam

pengetahuan mengenai pengaruh brand image terhadap minat kunjungan

wisatawan.

c) Bagi Perusahaan

Hasil penelitian ini diharapkan akan bermanfaat untuk pihak perusahaan yang

nantinya dapat menjadi pertimbangan dalam memecahkan masalah mengenai

pengaruh brand image terhadap minat kunjungan wisatawan guna meningkatkan

kunjungan wisatawan.

E. Landasan Teori

1. Brand Image

Persaingan yang terjadi pada industri pariwisata saat ini akan mengakibatkan

banyak perusahaan yang akan kehilangan konsumennya. Untuk dapat bertahan

dan memenangkan persaingan, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah

dengan memberikan citra khusus bagi konsumen melalui persaingan merek atau

brand. Dengan adanya pembentukan citra merek atau brand image yang kuat

maka konsumen akan mudah untuk dapat membedakan sautu produk atau jasa

lainnya. Dengan brand image yang kuat dapat membangun sikap positif

konsumen terhadap suatu produk atau jasa (Judisseno, 2019: 103).

Merek (brand) merupakan produk yang memiliki sifat tidak nyata (intangible

product), merek tidak dapat dilihat namun dapat diukur dan dapat dilihat citra

(image) dari merek tresebut. Pengukuran merek dapat diukur melalui pendapat,

kesan, dan tanggapan seseorang dengan tujuan untuk mengetahui secara pasti apa

7
yang ada didalam pikiran setiap individu mengenai suatu objek (Novianti dan

Ridwan, 2011). Menurut Wiratnaya (2014) citra merek merupakan suatu

kepercayaan yang dimiliki oleh seorang konsumen terhadap suatu merek pada

produk yang telah dihasilkan oleh suatu perusahaan.

Menurut Supriyanto dan Ernawaty (2010), brand image adalah persepsi

sebuah merek yang dikaitkan dengan sikap pasar yang meliputi tingkat kesukaan

dan manfaat yang dipersepsikan bila nanti menggunakannya (Saputri, 2017).

Sedangkan menurut Kartajaya (2005: 6) mengemukakan bahwa citra merek

adalah gebyar dari seluruh asosiasi yang terkait pada suatu merek yang sudah ada

dibenak konsumen (Wiratnaya, 2014). Citra merek merupakan syarat dari merek

yang kuat (Kotler, 2007 dalam Dwiputranto et all., 2017). Dari pernyataan diatas

dapat disimpulkan bahwa citra merek adalah sebuah persepsi yang di bentuk oleh

konsumen terhadap suatu produk atau jasa.

Menurut Kartajaya (2004) menyatakan bahwa terdapat empat hal pokok yang

harus diperhatikan pada suatu merek, yaitu :

1) Recognition

Recognition merupakan tingkat dikenalnya sebuah merek oleh konsumen. Jika

konsumen tidak mengenal merek dari sebuah produk maka produk dengan merek

yang tidak dikenal tersebut harus dijual dengan cara menggunakan harga yang

murah.

2) Reputation

Reputation merupakan suatu tingkat reputasi yang dimiliki pada sebuah merek

karena lebih memiliki track record yang baik. Jika sebuah produk banyak disukai

oleh konsumen maka produk tersebut akan lebih mudah untuk dijual dan jika

8
sebuah produk memiliki persepsi yang baik oleh konsumen maka akan memiliki

reputasi yang positif.

3) Affinity

Affinity merupakan sesuatu yang timbul antara sebuah merek dan konsumen

akibat adanya hubungan emosional.

4) Loyalty

Loyalty merupakan ukuran mengenai seberapa besar kesetiaan konsumen

terhadap merek produk yang digunakan (Wiratnaya, 2014)

Terdapat faktor – faktor pembentuk citra merek (Schiffman & Kanuk 2011)

adalah sebagai berikut :

1) Kualitas atau Mutu. Mengenai hal yang berhubungan dengan kualitas produk

barang atau jasa yang ditawarkan oleh produsen dnegan merek tertentu.

2) Dapat dipercaya dan diandalkan. Mengenai hal yang berkaitan dengan persepsi

yang dibentuk oleh konsumen terhadap merek produk yang dikonsumsi.

3) Kegunaan atau manfaat. Mengenai hal yang berkaitan dengan pemanfaatan

fungsi terhadap suatu produk barang atau jasa oleh konsumen.

4) Pelayanan. Mengenai hal yang berkaitan dengan tugas produsen dalam

melayani konsumen.

5) Resiko. Mengenai hal yang berhubungan dengan dampak yang akan diterima

oleh konsumen. Dampak tersebut dapat berupa keuntungan atau kerugian pada

suatu produk yang di konsumsi.

9
6) Harga. Mengenai hal yang berkaitan dengan royalnya konsumen terhadap suatu

produk untuk mempengaruhi produk tersebut, juga dapat mempengaruhi citra

jangka panjang. Konsumen akan mengeluarkan biaya yang tinggi untuk sebuah

produk.

7) Citra yang dimiliki oleh merek. Mengenai hal yang berkaitan dengan

pandangan, kesepakatan, informasi dan persepsidari suatu merek produk

tertentu (Saputri, 2017).

Pada dasarnya terdapat beberapa faktor yang memepengaruhi brand image.

Faktor tersebut memiliki kaitan dan hubungan antara yang satu dengan yang

lainnya. Menurut Aaker (2002) faktor-faktor tersebut antara lain, sebagai berikut :

1) Kepribadian merek, adalah ketika konsumen yang telah menggunakan suatu

produk atau jasa tertentu secara tetap maka akan membangun sebuah komitmen

terhadap brand image produk atau jasa tersebut.

2) Loyalitas merek, adalah ketika konsumen memiliki pandangan terhadap suatu

merek bahwa merek tersebut memiliki perbedaan dari merek lainnya sehingga

citra merek akan melekat terus pada memori konsumen tersebut dan konsumen

akan membangun kesetiaan terhadap merek tersebut.

3) Kesadaran merek, adalah ketika konsumen mampu untuk mengingat kembali

atau mengenali merek pada suatu produk.

4) Kesan kualitas, adalah ketika konsumen memiliki tanggapan terhadap suatu

produk mengenai kualitas dan keunggulan yang sesuai dengan merek produk

tersebut (Syahrudin & Sri, 2017).

Citra merek atau brand image memiliki tiga komponen (Simamora, 2004

dalam Lestari dan Okta, 2018) yaitu :

10
1) Citra pembuatan (corporate image)

Corporate image adalah kumpulan dari asosiasi yang terkait dengan tanggapan

yang diberikan oleh konsumen kepada perusahaan yang memproduksi suatu

produk atau jasa.

2) Citra pemakai (user image)

User image adalah kumpulan dari asosiasi yang terkait dengan tanggapan yang

diberikan oleh konsumen terhadap suatu individu yang menggunakan suatu

produk barang atau jasa. Pandangan tersebut dapat dilihat dari individu itu sendiri,

gaya hidup, kepribadian dan status sosial individu tersebut.

3) Citra produk (product image)

Product image adalah kumpulan dari asosiasi yang terkait dengan tanggapan

yang diberikan oleh konsumen kepada suatu produk atau jasa. Pandangan tersebut

dapat dilihat dari atribut produk berupa ciri dari suatu produk atau jasa, manfaat

terhadap konsumen, dan jaminan yang diberikan oleh produk atau jasa tersebut.

Asosiasi merek adalah kumpulan konsep atau gambaran objek yang melekat

dalam memori konsumen. Menurut Swasty (2016) dalam Saputri (2017),

menyatakan bahwa asosiasi tersebut datang dalam berbagai bentuk serta

merefleksikan berbagai karakteristik dari suatu produk. Terdapat tiga hal yang

dapat membedakan sebuah citra merek yang satu dengan yang lainnya sehingga

konsumen dapat mengukur perbedaan antara suatu citra merek terhadap citra

merek lainnya (Keller, 1993), antara lain sebagai berikut :

1) Keunggulan asosiasi merek (Favourability of brand association)

Keunggulan asosiasi merek adalah bagaimana suatu merek mendapatkan

kepercayaan dari konsumen mengenai janji-janji yang terdapat pada suatu merek,

11
dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen sehingga tercipta brand

image dalam benak konsumen serta konsumen membentuk sebuah sikap yang

positif terhadap suatu merek tersebut.

2) Kekuatan asosiasi merek (Strenght of brand association)

Kekuatan asosiasi merek adalah salah satu faktor pembentuk citra merek

menjadi kuat. Kekuatan asosiasi pada suatu merek yang dipengaruhi dengan

bagaimana tanggapan konsumen mengenai informasi yang didapatkan dan

bagaimana informasi tersebut dapat dipertahankan sebagai bagian dari suatu

merek.

3) Keunikan asosiasi merek (Uniqueness of brand association)

Suatu cara untuk dapat bersaing dan menjadi pertimbangan dalam memilih

suatu merek oleh konsumen maka suatu merek tersebut harus memiliki kekuatan

dan keunikan. Dengan adanya keunikan pada suatu merek akan lebih

memudahkan konsumen dalam membedakan sebuah merek pada suatu produk

sehingga akan memberikan citra yang berbeda di setiap merek (Lestari & Okta,

2018)

2. Minat Kunjungan

Menurut Suryabrata (1998), minat kunjungan adalah sebagai kecenderungan

dalam diri individu untuk tertarik pada suatu objek atau menyenangi suatu objek

(Mauludin, 2017). Amalia (2020) menyatakan bahwa minat kunjungan

meruapakan kecenderungan jiwa yang mendorong seseorang mengunjungi dan

memanfaatkan suatu objek. Minat kunjungan biasanya di tandai dengan adanya

12
ketertarikan pada suatu objek. Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa

minta kunjungan adalah suatu keinginan yang timbul akibat adanya ketertarikan

dan rasa senang dalam diri seorang wisatawan untuk mengunjungi suatu destinasi

wisata.

Kotler et all., (2006) menyatakan bahwa minat berkunjung pada wisatawan

dapat disamakan dengan minat beli pada konsumen yang diukur oleh indikator

yang sama (Munawwaroh, 2018). Menurut Schiffman dan Kanuk (1997) dalam

Lestari dan Okta (2018), menyatakan bahwa minat beli merupakan suatu sikap

senang terhadap objek yang membuat individu berusaha untuk mendapatkan

objek tersebut dengan cara membayar atau dengan pengorbanan. Sedangkan

menurut Kotler dan Keller (2003) bahwa minat beli konsumen adalah sebuah

perilaku konsumen yang memiliki keinginan dalam membeli dan memilih produk

didasarkan pada pengalaman dalam hal memilih, menggunakan, mengkonsumsi

dan menginginkan suatu produk (Mahmudah & Endang, 2018). Minat beli

seseorang dapat dipengaruhi dengan adanya dorongan dalam diri seseorang

tersebut berupa suatu pandangan terhadap produk atau jasa tertentu yang

ditawarkan oleh perusahaan.

Menurut Kotler et all., (dalam Veronika, 2016) terdapat faktor-faktor

pembentuk suatu minat beli konsumen, antara lain sebagai berikut :

1) Sikap orang lain, terdapat dua hal yang diakibatkan oleh adanya pengaruh dari

sifat orang lain kepada konsumen terhadap suatu produk. Pertama, konsumen

tersebut akan memberi tanggapan negatif terhadap suatu produk. Kedua, akan

ada motivasi yang timbul dalam diri konsumen untuk menuruti keinginan

orang lain.

13
2) Situasi yang tidak terantisipasi, faktor yang mempengaruhi perubahan

keinginan konsumen dalam pembelian yang didasarkan oleh pemikiran

konsumen tersebut. Hal ini didasarkan pada kepercayaan diri konsumen

terhadap keputusan pembelian suatu produk, dengan memerhatikan beberapa

hal sebagai berikut :

a) Keputusan merek

b) Keputusan Pemasok

c) Keputusan kuantitas

d) Keputusan waktu

e) Keputusan dalam metode pembayaran.

Menurut Schiffman dan Kanuk (2007), terdapat berbagai aspek dalam mint beli

pada konsumen, diantaranya sebagai berikut :

1) Tertarik untuk mencari informasi tentang produk

Pada saat konsumen mulai menaruh perhatian terhadap suatu produk atau jasa,

konsumen akan melakukan pencarian informasi yang banyak tentang produk atua

jasa tersebut. Pencarian informasi ini dapat dilakukan dengan mencari bahan baca

mengenai produk atau jasa, mengumpulkan informasi dari orang lain, atau

mengunjungi langsung perusahaan untuk mendapatkan informasi yang lebih

lengkap mengenai produk atau jasa tersebut.

2) Mempertimbangkan untuk membeli

Pada saat konsumen telah mengumpulkan banyak informasi mengenai produk

atau jasa yang diinginkan lalu mulai timbul rasa tertarik untuk memiliki produk

tersebut. Konsumen akan melakukan pertimbangan untuk membeli produk

14
tersebut, biasanya pertimbangan dapat didasarkan pada harga, merek, manfaat dan

lainnya.

3) Tertarik untuk mencoba

Setelah konsumen melakukan pertimbangan dalam berbagai hal, konsumen

akan melakukan evaluasi terhadap produk tersebut. Konsumen akan menilai

produk atua jasa tersebut sehingga akan menimbulkan rasa tertarik ingin mencoba

produk atau jasa.

4) Ingin mengetahui produk

Setelah timbulnya rasa tertarik ingin mencoba suatu produk atau jasa,

konsumen akan memiliki keinginan untuk mengetahui lebih jauh mengenai

produk atau jasa tersebut untuk memantapkan konsumen dalam melakukan

pembelian.

5) Ingin memiliki produk

Pada akhirnya, konsumen akan memiliki hasrat yang kuat pada produk yang

dianggap dapat memberikan manfaat yang diinginkan oleh konsumen tersebut

dari suatu produk atau jasa. Sehingga konsumen akan mengambil keputusan untuk

melakukan pembelian terhadap produk atau jasa tersebut. (Wahyuningsih, 2020)

Pada minat beli konsumen terdapat beberapa tahapan dengan konsep AIDA

(Assael, 2002), diantaranya sebagai berikut :

15
1) Attention, adalah tahapan pada konsumen menaruh perhatian pada suatu

produk atau jasa, selanjutnya konsumen akan menilai produk atau jasa yang

ditawarkan.

2) Interest, adalah tahapan pada konsumen yang mulai timbul minat beli terhadap

suatu produk atau jasa setelah melakukan pengamatan yang terperinci terhadap

produk atau jasa tersebut.

3) Desire, adalah tahapan pada konsumen yang mulai timbul rasa keinginan dan

hasrat yang kuat ingin memiliki suatu produk atau jasa.

4) Action, adalah tahapan terakhir pada konsumen akan melakukan pembelian

terhadap produk atau jasa yang ditawarkan. (Himawan, 2016)

Pada konsep AIDA mengenai tahapan-tahapan minat beli dapat disimpulkan

bahwa konsumen akan mimiliki keinginan terhadap suatu produk atau jasa, lalu

konsumen akan mulai sadar atas keinginannya dan mulai menilai produk atau jasa

yang diminati dan akhirnya konsumen akan melakukan pembelian terhadap

produk atau jasa yang diinginkan. Selain adanya tahapan dalam minat beli,

terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi minat beli tersebut (Abdurachman,

2004, dalam Sari, 2020), yaitu sebagai berikut :

1) Faktor kualitas, konsumen akan melakukan pertimbangan meliputi kualitas dan

manfaat bagi konsumen itu sendiri dalam menentukan produk atua jasa yang

akan dibeli.

2) Faktor brand, salah satu atribut produk yang memberikan kepuasan emosional

kepada konsumen terhadap suatu produk atau jasa.

16
3) Faktor kemasan, biasanya konsumen akan langsung menilai suatu produk dari

tampilan luarnya setelahnya apabila timbul ketertarikan konsumen pada produk

tersebut maka konsumen akan menilai produk tersebut lebih dalam lagi.

4) Faktor harga, pengorbanan konsumen dalam bentuk materiel untuk

memperoleh produk atau jasa yang diinginkan.

5) Faktor acuan, adanya pengaruh dari eksternal pada konsumen sehingga dapat

mempengaruhi minat konsumen pada suatu produk atau jasa.

Terdapat beberapa indikator yang dapat menjadi pengukuran untuk minat beli

(Ferdinand, 2006), antara lain sebagai berikut :

1) Minat transaksional, adalah kecenderungan wisatawan dalam mengunjungi

sebuah objek wisata pada kurun waktu terdekat.

2) Minat referensial, adalah kecenderungan wisatawan dalam memberikan

rekomendasi terhadap sebuah objek wisata kepada orang lain.

3) Minat preferensial, adalah suatu perilaku wisatawan yang menjadikan sebuah

objek wisata yang telah dikunjungi sebagai pilihan yang utama.

4) Minat eksploratif, adalah suatu perilaku wisatawan yang mengumpulkan

informasi mengenai atribut produk yang meliputi harga, merek, kemasan,

kualitas, dan label dari sebuah objek wisata. (Nugroho, 2019)

3. Wisatawan

Wisatawan merupakan faktor yang memiliki pengaruh dominan terhadap

produk pariwisata (Nuriata, 2017: 36). Hal ini didukung oleh adanya UU No. 10

Tahun 2009 pasal 1 ayat 2, yang menyatakan bahwa wisatawan adalah orang yang

melakukan wisata (Arjana, 2020: 6). Biasanya wisatawan akan datang kesuatu

daerah dalam jangka waktu tertentu, dengan memanfaatkan sumber daya dan

17
fasilitas yang ada serta membayar untuk berbagai keperluan lalu meninggalkan

daerah tersebut untuk kembali ke tempat asalnya. Menurut Arjana (2020: 66)

menyatakan bahwa wisatawan adalah seorang atau sekelompok orang yang

melakukan perjalanan atau berwisata dengan tujuan tertentu dalam melakukan

perjalanannya.

Umumnya wisatawan memiliki prinsip dalam melakukan perjalanannya, yaitu

mencari kesenangan dengan melakukan berbagai macam perjalanan seperti

kunjungan ke suatu objek wisata tetapi wisatawan tersebut tidak memiliki tujuan

mencari nafkah ataupun pekerjaan. Orang yang melakukan kegiatan wisata

biasanya berasal dari golongan ekonomi yang sudah mapan sehingga terdapat

sebagian tabungan yang ditujukan untuk bersenang-senang (Arjana, 2020: 13).

Jika wisatawan melakukan kegiatan wisata atau berlibur dengan tujuan ke daerah

lain ataupun tetap didaerahnya maka wisatawan tersebut akan mengeluarkan

banyak biaya untuk membeli keperluan selama masa liburannya sehingga akan

berdampak pada ekonomi di daerah tersebut. Hal ini didukung oleh Cohen (1984)

yang menyatakan bahwa terdapat dampak dari adanya kegiatan wisata yang

dilakukan oleh wisatawan, diantaranya sebagai berikut :

1) Dampak terhadap penerimaan devisa

2) Dampak terhadap pendapatan masyarakat

3) Dampak pada kesempatan kerja

4) Dampak terhadap harga-harga

5) Dampak terhadap distribusi manfaat atau keuntungan

6) Dampak terhadap kepemilikan dan control

7) Dampak terhadap pembangunan

18
8) Dampak terhadap pendapatan pemerintah. (Pitana dan Ketut, 2009: 185)

Wisatawan memiliki sifat perjalanan dan ruang lingkup pada saat perjalanan

wisata itu dilakukan. Berdasarkan hal tersebut wisatawan dapat diklasifikasikan

(Suwena & Gusti, 2017:41), sebagai berikut:

1) Foreign tourist, yaitu orang asing yang melakukan perjalanan wisata dengan

mendatangi negara lain yang bukan merupakan negara asalnya.

2) Domestic foreign tourist, yaitu orang asing yang bertempat tinggal pada suatu

negara dan melakukan perjalanan wisata di wilayah negara tempat ia tinggal.

3) Domestic tourist, yaitu seseorang yang merupakan warga negara asli di suatu

negara dan melakukan perjalanan wisata di wilayah negaranya.

4) Indigenous foreign tourist, yaitu seorang yang merupakan warga negara asli

disuatu negara tertentu, memiliki pekerjaan atau jabatan yang

mengharuskannya menetap di negara lain. Seseorang tersebut pulang ke negara

asalnya dan melakukan perjalanan wisata di negara asalnya.

5) Transit tourist, yaitu jenis wisatawan yang melakukan perjalanan wisata

dengan menggunakan transportasi baik darat, laut ataupun udara yang

megharuskannya singgah ditempat pemberhentian transportasi tersebut tidak

atas keinginannya sendiri.

6) Bussiness tourist, yaitu orang asing atau bukan yang melakukan suatu

perjalanan untuk tujuan lain selain berwisata, tetapi akan melakukan perjalanan

wisata ketika tujuan utamanya telah selesai.

Menurut Arjana (2020: 67), menyatakan bahwa terdapat faktor-faktor yang

mempengaruhi kecenderungan peningkatan jumlah wisatawan dalam negeri dan

mancanegara, antara lain sebagai berikut :

19
1) Adanya waktu luang yang dimiliki oleh manusia sehingga upaya untuk

mengatasi kejenuhan tersebut dengan melakukan kegiatan wisata.

2) Adanya peningkatan ekonomi pada masyarakat sehingga banyak bermunculan

ekonomi kelas menengah.

3) Membaiknya perekonomian didunia.

4) Terjalinnya hubungan internasional yang baik, secara bilateral ataupun

multilateral.

5) Adanya pemberian insentif dari perusahaan kepada karyawan yang mendorong

para karyawan melakukan pariwisata rombongan.

6) Adanya pengembangan dan promosi dalam industry pariwisata yang semakin

banyak.

7) Adanya perkembangan transportasi yang terjangkau sehingga memudahkan

orang untuk melakukan perjalanan.

8) Adanya perkembangan dalam industry kreatif yang meningkatkan produk-

produk wisata untuk hiburan.

4. Wisata Edukasi

Wisata edukasi menjadi salah satu konsep wisata dengan adanya perpaduan

antara kegiatan pembelajaran dengan kegiatan beriwisata. Menurut Rodger (1998)

menyatakan bahwa wisata edukasi sebagai suatu program yang dilakukan oleh

seseorang atau sekelompok orang dalam kegiatan perjalanan wisata di suatu

tempat yang memiliki tujuan mendapatkan ilmu baru melalui pembelajaran secara

langsung pada tempat yang dikunjungi (Priyanto et all., 2018). Tujuan utama dari

adanya kegiatan wisata edukasi ini adalah memberikan kepuasan dan pengetahuan

baru kepada wisatawan (Priyanto et all., 2018). Dari pernyataan-pernyataan

20
diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan adanya wisata edukasi, diharapkan

agar dapat menjadi salah satu media pembelajaran yang dapat menarik minat

anak-anak ataupun orang dewasa untuk menambah pengetahuan melalui kegiatan

berwisata.

Wisata edukasi merupakan suatu kegiatan wisata yang menerapkan pendidikan

secara informal untuk mendapatkan pengetahuan kepada wisatawan yang

berkunjung ke suatu objek wisata. Pada objek wisata tersebut pengunjung dapat

melakukan kegiatan wisata serta belajar dengan menggunakan metode

pembelajaran yang menyenangkan sehingga proses pembelajaran lebih mudah

untuk dipahami dan diingat oleh wisatawan. Menurut Rahmawati (2013), program

wisata edukasi dapat berupa ekowisata (ecotourism), wisata sejarah (heritage

tourism), desa wisata, wisata komunitas dan pertukaran siswa antar institusi

pendidikan (student exchange) (Siburian et all., 2017).

Pada kota Pekanbaru terdapat beberapa wisata edukasi, salah satunya yaitu

objek wisata Asia Farm Hay Day. Hal ini didukung dengan pernyataan bahwa

terdapat tempat rekreasi baru di kota Pekanbaru, bernama Asia Farm Hay Day

yang merupakan tempat wisata edukasi resmi dibuka pada Minggu, 21 April 2019

([Link], 2019). Letak dari objek wisata Asia Farm ini berada

di Jalan Badak Ujung, Sail, Kecamatan Tenayan Raya. Menurut Edi (2020) bahwa

Asia Farm dibangun terinspirasi dari sebuah game yang sangat terkenal yaitu Hay

Day dengan menyajikan konsep utama wisata dan edukasi ([Link],

2020).

F. Penelitian Terdahulu

21
No Nama Peneliti Judul Penelitian Hasil Penelitian
1. Shienta Ayu Pengaruh Brand Hasil penelitian ini, brand
Permatasari, Dr. Astri Image Terhadap image Hotel Aston Pasteur
Wulandari, S.E., M.M Minat Kunjung memiliki rata-rata
Hotel Aston persentase sebesar 84,125%
Tahun 2020 yang memiliki kriteria
sangat baik, minat kunjung
Hotel Aston Pasteur
memiliki rata-rata
persentase sebesar 82,375%
yang memiliki kriteria
sangat baik. Hasil uji
koefisien determinasi
diperoleh 0,684 yang
artinya brand image
berpengaruh terhadap minat
kunjung sebesar 68,4%.

Analisis Pengaruh Hasil penelitian ini,


2. Febrian Andrologi Brand Image dan menunjukkan bahwa brand
Brand Awareness image dan brand awareness
Terhadap Brand berpengaruh positif dan
Loyalty dan signifikan terhadap brand
Dampaknya loyalty, selanjutnya brand
Terhadap Brand loyalty diterima sebagai
Equity media intervening dalam
memediasi brand image dan
brand awareness terhadap
brand equity.
3. Valensia Alvionita Pengaruh Brand Hasil penelitian ini,
Wijaya, Roswita Image E- diperoleh hasil regresi linear
Oktavianti Commerce yaitu Y=1,827 + 0,754X
Terhadap Minat dan tingkat signifikansi
Beli Konsumen 0,000 yang berarti
(Survei Pada menyatakan adanya
Pelanggan pengaruh yang signifikan
Tokopedia) antara brand image e-

22
commerce terhadap minat
beli konsumen dikatakan
sangat kuat, dibuktikan oleh
uji koefisien korelasi
sebesar 0,836.
4. I Nyoman Wiratnaya Pengaruh Citra Hasil dari penelitian ini,
Merek Terhadap adanya pengaruh yang
Minat Beli signifikan dari brand image
Wisatawan Pada terhadap motivasi
Komaneka pembelian di Komaneka
Resorts & SPA Resorts &Spa Group, Ubud,
Group di Gianyar dengan R Squared
Kawasan 0,616. Ini berarti 61,6% dari
Pariwisata Ubud, tingkat pembelian turis
Gianyar dipengaruhi oleh brand
image, dan 38,4%
dipengaruhi oleh faktor lain.

Pengaruh Citra Hasil dari penelitian ini,


5. Wulan Mudmainnah Merek, Harga, menunjukkan bahwa uji
dan Kualitas secara simultan (uji F)
Produk Oriflame ternyata hasil penelitian
Terhadap Minat membuktikan bahwa semua
Beli Mahasiswi variabel bebas yaitu citra
Fakultas Ekonomi merek (X1), kualitas produk
dan Bisnis Islam (X2) dan harga (X3)
bersama-sama mempunyai
pengaruh yang signifikan
terhadap variabel terikat
yaitu minat beli (Y).
Diketahui nilai F hitung
(21,787) > F tabel (2,70).
Berdasarkan analisis secara
persial atau individu (uji T),
variabel bebas X (citra
merek, kualitas produk dan
harga) yang mempunyai
pengaruh paling dominan

23
terhadap variabel terikat Y
(minat beli) adalah variabel
harga dengan nilai T hitung
(2,500) > T tabel (1,661).

G. Kerangka Berpikir Penelitian

Brand Image

Keunggulan Asosiasi Kekuatan Asosiasi Keunikan Asosiasi


Merek Merek Merek

Minat kunjungan
Minat Minat Minat Minat
Transaksional Referensial Preferensial Exploratif
Solusi Brand Image Pada Asia Farm Hay Day Pekanbaru

Sumber : Olahan peneliti diadopsi dari Keller (2003) dan Ferdinand (2006)

H. Metode Penelitian

1. Desain Penelitian

24
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif

dengan metode kuantitatif. Menurut Sugiyono (2002), bahwa penelitian deskriptif

adalah jenis penelitian yang memiliki tujuan untuk mengetahui nilai variabel

mandiri, baik dengan satu variabel atapun lebih (independen) (Mauludin, 2017).

Penelitian ini digunakan untuk menganalisis data yang dilakukan dengan cara

mendeskripsikan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa membuat

kesimpulan yang berlaku untuk umum (Mauludin, 2017). Penelitian kuantitatif

adalah sebuah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme.

Penelitian ini digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel,

mengumpulkan data dengan menggunakan instrument penelitian, analisis data

yang bersifat kuantitatif atau statistik, serta memiliki tujuan untuk menguji

hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2013: 8).

Pada penelitian ini terdapat dua variabel, diantaranya variabel bebas

(independent) yaitu brand image dan variabel terikat (dependent). Dalam

penelitian ini memiliki sasaran populasi yaitu seluruh wisatawan yang

mengunjungi objek wisata Asia Farm Hay Day Pekanbaru pada tahun 2020

sebesar 192.897 orang. Teknik yang digunakan untuk pengambilan sampel pada

penelitian ini yaitu teknik sampling probabilitas, dengan memberikan peluang

yang sama bagi setiap unsur populasi menjadi anggota sampel (Sugiyono, 2013:

82). Penelitian ini menggunakan jenis teknik simple random sampling yang

merupakan pengambilan anggota sampel dari populasi secara acak tanpa

memperhatikam strata yang ada (Sujarweni dan Lila, 2019: 14).

Penentuan dalam jumlah sampel yang akan diteliti ditentukan menggunakan

rumus slovin, yaitu sebagai berikut :

25
N
n= 2
1+ Ne

Keterangan:

n = Jumlah sampel

N = Jumlah populasi

e = Standar eror

Jadi,

n = Jumlah sampel

N = 192.897

e = 10%

N
n= 2
1+ N e

192.897
n= 2
1+ 192.897(0 , 1)

n = 99,9 dibulatkan menjadi 100

Hipotesis pada penelitian ini menggunakan hipotesa deskriptif berupa hiptesis

nol (Ho) dan hipotesis alternatif (Ha). Hipotesa deskriptif adalah hipotesa yang

memiliki tujuan menggambarkan karakteristik suatu sampel menurut variabel

tertentu (Siyoto dan Ali, 2015: 18). Sehingga hipotesa pada penelitian ini sebagai

berikut :

- Ho : tidak terdapat pengaruh signifikan antara variabel independen terahadap

variabel dependen.

26
- Ha : terdapat pengaruh yang posistif dan signifikan antara variabel independen

terhadap variabel dependen.

2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di objek wisata Asia Farm Hay Day dengan alamat

Jalan Badak Ujung, Sail, Kec. Tenayan Raya, Kota Pekanbaru, Prov. Riau.

Adapun penelitian ini dilaksanakan mulai dari bulan September 2021 hingga

bulan Januari 2022.

3. Jenis Data Penelitian

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data kuantitatif. Siyoto

dan Ali (2015: 59) menyatakan bahwa data kuantitatif adalah data yang berbentuk

angka atau bilangan sehingga dapat diolah atau dianalisis menggunakan teknik

perhitungan statistika.

4. Sumber Data Penelitian

Pada penelitian ini sumber data meliputi :

1) Data primer, merupakan data yang diperoleh langsung oleh peneliti dari

sumber datanya. Dalam penelitian ini, data primer bersumber dari hasil

kuesioner yang akan disebarkan kepada sampel.

5. Teknik Pengumpulan Data Penelitian

1) Kuesioner

Pada penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa kuesioner

atau angket. Menurut Sugiyono (2013: 142) bahwa kuesioner atau angket

merupakan salah satu teknik dalam pengumpulan data yang dilakukan dengan

27
cara memberikan beberapa pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden

untuk dijawab.

2) Studi Pustaka

Studi pustaka merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan mempelajari

literatur yang ada sehingga dapat menunjang dan melengkapi data yang

diperlukan serta dapat berguna bagi penyusun penelitian ini (Andrologi, 2014).

Pada penelitian ini studi pustaka berasal dari buku, jurnal, dan skripsi yang

relevan dengan penelitian ini dengan tujuan untuk mengetahui landasan teori yang

berhubungan dengan permasalahan penelitian.

6. Alat Pengumpulan Penelitian

Jenis alat pengumpulan penelitian dalam penelitian ini adalah kuesioner.

Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan dalam bentuk tulisan yang digunakan

untuk mendapatkan informasi dari responden (Yusat, 2016). Selanjutnya data

diukur dengan menggunakan skala likert. Menurut Sujarweni dan Lila (2019: 5)

bahwa skala likert merupakan sejumlah pertanyaan atau pernyataan yang

menunjukkan tingkat kesetujuan responden atau ketidaksetujuan responden

terhadap subjek, obejk ataupun kejadian tertentu. Skala likert pada kuesioner

menggunakan lima angka penilaian, yaitu:

Tabel 2. Kategori Angket Berdasarkan Skala Likert

Option Pertanyaan Positif


Sangat Tidak Setuju 1
Tidak Setuju 2
Cukup Setuju 3
Setuju 4
Sangat Setuju 5
Sumber : Yusat (2016)

7. Teknik Analisis Data Penelitian

28
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teknik analisis data yaitu dengan

Structural Equation Modeling (SEM). Structural Equation Modeling (SEM)

merupakan salah satu jenis analisis multivariate dalam ilmu sosial (Sholihin &

Dwi, 2013: 2). Menurut Ginting (2009), menyatakan bahwa Structural Equation

Modeling (SEM) adalah salah satu teknik statistik multivariat yang merupakan

kombinasi antara faktor dengan analisis regresi dengan tujuan untuk menguji

hubungan-hubungan antar variabel yang ada pada sebuah model, baik itu antara

indikator dengan konstruknya ataupun hubungan antar konstruk. Structural

Equation Modeling (SEM) merupakan teknik statistika yang digunakan untuk

membangun dan menguji model statistik yang biasanya berbentuk model sebab-

akibat dengan adanya perubahan pada satu variabel sehingga berdampak pada

variabel lainnya (Islamia, 2017).

8. Operasional Variabel

Variabel Sub-variabel Indikator Pengumpulan


Data
Brand Image Keunggulan 1. Nama objek wisata Asia Kuesioner
asosiasi Farm mudah diingat dan dengan skala
merek diucapkan likert
(Favourabilit 2. Asia Farm mudah dikenal
y of brand oleh masyarakat
association) 3. Asia Farm paling diminati
oleh wisatawan
4. Asia Farm dapat
memberikan manfaat
5. Asia Farm dapat
memberikan kepuasan
6. Asia Farm terkenal di Kota
Pekanbaru

29
Kekuatan 1. Asia Farm memiliki atraksi
asosiasi wisata yang menarik
merek 2. Asia Farm memiliki fasilitas
(Strenght of yang memadai
brand 3. Harga tiket yang terjangkau
association) 4. Lokasi Asia Farm mudah
diakses

Keunikan 1. Asia Farm memiliki banyak


asosiasi variasi atraksi wisata
merek 2. Asia Farm memiliki citra
(Uniqueness yang baik
of brand 3. Asia Farm lebih dikenal
association) dengan objek wisata
edukasi pertanian dan
peternakan
4. Asia Farm satu satunya
objek wisata di Kota
Pekanbaru dengan hewan
ternak dan pertanian yang
lengkap
Minat Minat 1. Akan berkunjung dalam Kuesioner
Kunjungan transaksional waktu dekat dengan skala
2. Akan berkunjung kembali likert
Minat 1. Akan merekomendasikan
referensial Asia Farm kepada keluarga
2. Akan mengunggah
pengalaman dalam bentuk
foto atau pun cerita di
media sosial
Minat 1. Akan menjadikan Asia
preferensial Farm sebagai objek wisata
prioritas pertama
dikunjungi
Minat 1. Akan mencari tahu tentang
eksploratif biaya masuk Asia Farm

30
2. Akan mencari tahu tentang
atraksi wisata yang ada di
Asia Farm
3. Akan mencari tahu tentang
pengalaman di Asia Farm
melalui orang lain
4. Akan mencari tahu tentang
pengalaman Asia Farm
melalui media sosial
5. Akan mencari tahu
keunggulan yang dimiliki
Asia Farm
Sumber: Olahan peneliti diadopsi dari Ferdinand (2006) dan Keller (1993)

I. Sistematika Tugas Akhir

Pada penelitian ini terdapat sistematika penulisan laporan dari penelitian yang

akan dilaksanakan, antara lain sebagai berikut :

BAB I : Pendahuluan

Pada bab ini akan menjelaskan tentang latar belakang penelitian, rumusan

masalah penelitian, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian.

BAB II : Tinjauan Pustaka

Pada bab ini akan menjeleskan tentang beberapa teori yang digunakan oleh

peneliti yang akan mendasari pada penelitian ini. Teori yang digunakan brupa

teori brand image, teori minat kunjungan, teori wisatawan, dan teori wisata

edukasi. Serta akan menjelaskan mengenai penelitian terdahulu melalui tabel.

BAB III : Metode Penelitian

Pada bab ini akan diuraikan mengenai desain penelitian, lokasi dan waktu

penelitian, jenis data penelitian, sumber data penelitian, teknik pengumpulan data

penelitian, alat pengumpulan data penelitian, teknik analisis data penelitian, dan

operasional variabel.

31
BAB IV : Hasil Penelitian

Pada bab ini akan dijabarkan mengenai gambaran umum dari tempat

dilakukannya penelitian dan pembahasan hasil penelitian yang telah dilakukan di

objek wisata Asia Farm Hay Day Pekanbaru.

BAB V : Penutup

Pada bab terakhir dalam penelitian ini, akan membahas tentang kesimpulan

mengenai hasil dari penelitian yang telah dilakukan dan membahas mengenai

pemberian saran oleh peneliti untuk perbaikan terhadap pengelola objek dengan

didasarkan pada hasil penelitian yang telah dilakukan.

32
J. Daftar Pustaka

Amalia, Arumi. 2020. Minat Kunjung Pemustaka di Dinas Kepustakaan dan


Arsip Daerah Kabupaten Sarolangun. Skripsi. Diterbitkan. Fakultas Adab
dan Humaniora. Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin: Jambi.
Andriana, Nadya Calista dan Ngatno. 2020. Pengaruh Brand Image dan Brand
Trust Terhadap Keputusan Pembelian Melalui Minat Beli Sebagai Variabel
Intervening (Studi Pada Konsumen Sariayu Martha Tilaar di Kota
Semarang). Jurnal Administrasi Bisnis. 9 (1).
Andrologi, Febrian. 2014. Analisis Pengaruh Brand Image dan Brand Awareness
Terhadap Band Loyalty dan Dampaknya Terhadap Brand Equity. Skripsi.
Diterbitkan. Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Universitas Diponegoro:
Semarang.
Arjana, I Gusti Bagus. 2020. Geografi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Depok: Rajawali Pers.
Dwiputranto, M. Reza Hariedh., Alvi Purwanti Alwie., dan Marhadi. 2017.
Pengaruh Brand Image dan Product Quality Terhadap Brand Love dan
Brand Loyalty Pada Pengguna Mobil Honda Jazz di Kota Pekanbaru. JOM
Fekon. 4 (1): 297 – 310.
Ginting, Dahlia Br. 2009. Structural Equation Model (SEM). Media Informatika.
8 (3): 121 – 134.
Himawan, Adrian Hira. 2016. Pengaruh Kualitas Produk, Citra Merek, dan
Promosi Terhadap Minat Beli Notebook Acer (Studi Kasus Pada
Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta). Skripsi. Diterbitkan. Fakultas
Ekonomi. Universitas Negeri Yogyakarta: Yogyakarta.
Islamia, Trisna. 2017. Metode Structural Equational Model (SEM) Dalam
Menganalisis Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Mahasiswa di Tinjau
Dari Karakteristik Lingkungan Kampus. Skripsi. Diterbitkan. Fakultas

33
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Sumatera Utara:
Medan
Judisseno, Rimsky K. 2019. Branding Destinasi dan Promosi Pariwisata. Jakarta:
PT Gramedia.
Kotler, Philip. dan Kevin Lane Keller. 2009. Manajemen Pemasaran (Edisi 13,
Jilid 1). Jakarta: 2008.
Lestari, Nilam Ayu dan Okta Karneli. 2018. Pengaruh Citra Merek dan Kualitas
Produk Terhadap Minat Beli Konsumen Sepeda Motor Honda Scoopy
(SUrvei Konsumen Pada [Link] Dinamik Nusantara Duri). JOM
FISIP. 5 (2): 1 – 10.
Mahmudah, Riva Atul dan Endang Sutrisna. 2018. Pengaruh Iklan dan Citra
Merel Terhadap Minat Beli Konsumen Pada KFC Metropolitan City
Pekanbaru. JOM FISIP. 5 (2): 1 – 12.
Mauludin, Rivan. 2017. Pengaruh Atraksi Wisata Terhadap Minat Berkunjung
Wisatawan ke Daya Tarik Wisata Waduk Darma Kabupaten Kuningan.
Jurnal Manajemen Resort dan Leisure. 14 (2): 57 – 67.
Mill, Robert Christie. 2000. The Tourism International Business. (Tri Budhi
Satrio, Terjemahan). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Mudmainnah, Wulan. 2018. Pengaruh Citra Merek, Harga, dan Kualitas Produk
Oriflame Terhadap Minat Beli Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisinis
Islam. Skripsi. Diterbitkan. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Institut
Agama Islam Negeri (IAIN) Palopo: Palopo.
Munawwaroh, Putri Raudatul dan Evawani Elysa Lubis. 2018. Pengaruh Terpaan
Media Pada Akun Instagram @Exploresiak Terhadap Minat Kunjungan
Wisata Ke Siak Sri Indrapura. JOM FISIP. 5 (1) :1 – 13.
Novianti, Ranny Achni dan Ridwan Purnama. 2011. Pengaruh Shopping
Experience Terhadap Brand Image Kawasan Objek Wisata Belanja Batik
Trusmi (Survei Terhadap Pengunjung Kawasan Objek Wisata Belanja Batik
Kabupaten Cirebon). Tourism and Hospitality Essentials (THE) Journal.
1 (2): 121 – 135.
Nugroho, Andi. 2019. Pengaruh Intensitas Penggunaan Media Sosial Instagram
Terhadap Minat Berkunjung ke Tempat Wisata di Kabupaten Magelang
Tahun 2019 (Studi pada Mahasiswa Universitas Tidar Magelang Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan). Skripsi. Diterbitkan. Fakultas Dakwah.
Institut Agama Islam Negeri Salatiga: Salatiga.
Nuriata. 2019. Perencanaan dan Pelaksanaan Perjalanan Wisata Konsep dan
Aplikasi. Bandung: Alfabeta.
Permatasari, Shienta Ayu dan Astri Wulandari. 2020. Pengaruh Brand Image
Terhadap Minat Kunjung Hotel Aston Tahun 2020. e-Proceeding of Applied
Science. 6 (2): 2782 – 2791.

34
Pitana, I Gde. dan I ketut Surya Diarta. 2009. Pengantar Ilmu Pariwisata.
Yogyakarta: Andi.
Priiyanto, Rahmat., Didin Syarifuddin., dan Sopa Martina. 2018. Perancangan
Model Wisata Edukasi di Objek Wisata Kampung Tulip. Jurnal ABDIMAS
BSI. 1 (1): 32 – 38.
Saputri, Tika Maya. 2017. Pengaruh Brand Image Terhadap Minat Kunjungan
Ulang Layanan Kesehatan Pada Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Paru
Dungus Madiun Tahun 2017. Skripsi. Diterbitkan. Program Studi Kesehatan
Masyarakat. Stikes Bhakti Husada Mulia Madiun: Madiun.
Sari, Baiq Silvi Dwi Nurmala. 2020. Pengaruh Lokasi dan Harga Terhadap
Minat Beli Konsumen Pada Perumahan [Link] Lombok Inti. Skripsi.
Diterbitkan. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas
Muhammadiyah Mataram: Mataram.
Sholihin, Mahfud dan Dwi Ratmo. 2013. Analisis SEM-PLS Dengan WarpPLS
3.0 Untuk Hubungan Nonlinier Dalam Penelitian Sosial dan Bisnis.
Yogyakarta: Penerbit ANDI.
Siburian, Mordahai., Devi Roza K. Kausar., dan Riza Firmansyah. 2017. Strategi
Pengembangan Wisata Edukasi di Godong Ijod Depok Dengan Experiential
Marketing. Journal of Tourism Destination and Attraction. 5 (1): 11 – 17.
Siyoto, Sandu dan Ali Sodik. 2015. Dasar Metodologi Penelitian. Yogyakarta:
Literasi Media Publishing. Tersedia dari Z-Library.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D. Bandung:
Alfabeta. Tersedia dari Z-Library.
Suharto. 2019. Minat Kunjungan Wisatawan Mueseum Gunung Api Merapi.
Jurnal Media wisata. 17 (1): 1180 – 1185.
Sujarweni, V. Wiratna dan Lila Retnani Utami, 2019. The Master Book Of SPSS
Pintar Mengolah Data Statistik Untuk Segala Keperluan Secara Otodidak.
Yogyakarta: STARTUP.
Sulistyowati, Ta Atika., Almasdi Syahza., dan Hardisem Syabrus. 2021. Analisis
Dampak Pengembangan Pariwisata Asia Farm Terhadap Perekonomian
Masyarakat Sekitar di Kecamatan Tenayan Raya. JOM FKIP. 8 (1): 1 – 10.
Suwena, I Ketut dan I Gusti Ngurah WIdyatmaja. 2017. Pengetahuan Dasar Ilmu
Pariwisata. Bali: Pustaka Larasan. Tersedia dari Z-Library.
Syahrudin, David Ali dan Sri Suryoko. 2017. Pengaruh Brand Image dan
Kualitas Produk Terhadap Pengambilan Keputusan Smartphone Samsung.
Jurnal Administrasi Bisnis. 6 (3): 1 – 7.
Veronika. 2016. Pengaruh Iklan dan Brand Image Terhadap Minat Beli
Konsumen Dengan Brand Image sebagai Variabel Mediasi. Skripsi.
Diterbitkan. Fakultas Ekonomi. Universitas Sanata Dharma: Yogyakarta.

35
Wahyuningsih. 2020. Pengaruh Promosi, Minat Beli dan Kualitas Pelayanan
Terhadap Keputusan Pembelian Pada Konsumen Shopee. Skripsi.
Diterbitkan. Fakultas Ekonomi. Universitas Semarang: Semarang.
Wijaya, Valensia Alvionita dan Roswita Oktavianti. 2018. Pengaruh Brand
Image E-Commerce Terhadap Minat Beli Konsumen (Survei Pada
Pelanggan Tokopedia). Prologia. 2 (2): 531 – 537.
Wiratnaya, I Nyoman. 2014. Pengaruh Citra Merek Terhadap Minat Beli
Wisatawan Pada Komaneka Resorts & SPA Group di Kawasan PAriwisata
Ubud, Gianyar. Jurnal Ilmiah Hospitality Management. 4 (2): 133 – 148.
Yanto, Yopi dan Febri Yuliani. 2017. Pengelolaan Objek Wisata Masjid Raya
Pekanbaru Sebagai Destinasi Wisata Kota Pekanbaru. JOM FISIP.
4 (1): 1 – 13.

Yusat, M. 2016. Pengaruh Brand Image dan Kualitas Produk Terhadap


Kepuasan Pelanggan Pada CV. Galigo Food di Kota Makassar. Skripsi.
Diterbitkan. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Universitas Islam Negeri
Alauddin Makassar: Makassar.
[Link]
asia-farm-serasa-berada-di-game-hay-day. Diakses tanggal 15 Mei 2021
pukul 21.00 WIB.
[Link]
pekanbaru-seakan-berada-di-eropa. Diakses tanggal 17 Mei 2021
pukul 14.00 WIB

36
LAMPIRAN

Kuesioner Penelitian

“Pengaruh Brand Image Terhadap Minat Kunjungan

Wisatawan di Objek Wisata Asia Farm Hay Day

Pekanbaru”

A. Identitas Responden

Isilah identitas (data diri responden) dengan benra dan lengkap pada tempat
yang telah disediakan
Nama :
Jenis Kelamin : 1. Laki-Laki 2. Perempuan
Usia :
Pekerjaan :
1. Pegawai Negeri 5. Buruh/Tukang/Petani
2. Pegawai Swasta 6. Ibu Rumah Tangga
3. TNI/POLRI 7. Pelajar/Mahasiswa
4. Pedagang/Wiraswasta

Pernah berkunjung ke Objek Wisata Asia Fram :


1. Pernah
2. Tidak Pernah

37
B. Pengisian Kuesioner
Petunjuk Pengisian kuesioner :
1. Jawablah pertanyaan dengan memberi tanda centang (V) pada alternative
jawaban sesuai dengan pendapat Bapak/Ibu/Sdr/i
Keterangan jawaban :
STS : Sangat Tidak Setuju
TS : Tidak Setuju
CS : Cukup Setuju
ST : Setuju
SS : Sangat Setuju

Kode Jawaban
No. Pernyataan
STS TS CS ST SS
A. BRAND IMAGE
1. Nama dari objek wisata Asia Farm mudah
diingat
2. Nama dari objek wisata Asia Farm mudah
diucapkan
3. Objek wisata Asia Farm mudah dikenal
4. Objek wisata Asia Farm menjadi objek
wisata yang paling diminati di Kota
Pekanbaru
5. Objek wisata Asia Farm memberikan
manfaat
6. Objek wisata Asia Farm memberikan
kepuasan
7. Objek wisata Asia Farm terkenal di Kota
Pekanbaru
8. Objek wisata Asia Farm memiliki atraksi
wisata yang menarik
9. Objek wisata Asia Farm memiliki fasilitas
yang memadai

38
10. Objek wisata Asia Farm memiliki harga
tiket yang terjangkau
11. Objek wisata Asia Farm mudah diakses
12. Objek wisata Asia Farm memiliki banyak
variasi atraksi wisata
13. Objek wisata Asia Farm memiliki citra
yang baik
14. Objek wisata Asia Farm lebih dikenal
dengan objek wisata edukasi peternakan
15. Objek wisata Asia Farm menjadi satu-
satunya objek wisata di Kota Pekanbaru
dengan hewan ternak yang lengkap
16. Objek wisata Asia Farm lebih dikenal
dengan objek wisata edukasi pertanian
17. Objek wisata Asia Farm menjadi satu-
satunya objek wisata di Kota Pekanbaru
dengan pertanian yang lengkap
B. MINAT KUNJUNGAN
1. Akan mengunjungi objek wisata Asia
Farm dalam waktu dekat
2. Akan berkunjung kembali ke objek wisata
Asia Farm
3. Akan merekomendasikan objek wisata
Asia Farm kepada keluarga
4. Akan mengunggah pengalaman dalam
bentuk foto ataupun cerita di media sosial
5. Akan menjadikan objek wisata Asia Farm
sebagai objek wisata prioritas pertama
yang akan dikunjungi
6. Akan mencari tahu tentang biaya masuk
objek wisata Asia Farm
7. Akan mencari tahu tentang atraksi wisata

39
yang ada di objek wisata Asia Farm
8. Akan mencari tahu tentang keunggulan
dari objek wisata Asia Farm
9. Akan mencari tahu tentang pengalaman
dari objek wisata Asia Farm melalui orang
lain
10. Akan mencari tahu tentang pengalaman
dari objek wisata Asia Farm melalui media
sosial

40

Anda mungkin juga menyukai