0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan24 halaman

Program BIAS Imunisasi SD Manggis

Dokumen ini menjelaskan pelaksanaan Program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) di beberapa SD di Wilayah Kerja Manggis I, yang bertujuan untuk meningkatkan kekebalan masyarakat terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Selain itu, terdapat juga laporan tentang tracing penyakit menular seperti campak dan diare, yang mencakup latar belakang, gambaran kegiatan, serta upaya pencegahan dan pengendalian. Kegiatan ini diharapkan dapat memutus rantai penularan penyakit dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

Diunggah oleh

bellasyahda17
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan24 halaman

Program BIAS Imunisasi SD Manggis

Dokumen ini menjelaskan pelaksanaan Program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) di beberapa SD di Wilayah Kerja Manggis I, yang bertujuan untuk meningkatkan kekebalan masyarakat terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Selain itu, terdapat juga laporan tentang tracing penyakit menular seperti campak dan diare, yang mencakup latar belakang, gambaran kegiatan, serta upaya pencegahan dan pengendalian. Kegiatan ini diharapkan dapat memutus rantai penularan penyakit dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

Diunggah oleh

bellasyahda17
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PPP

Bias
Tgl. Kegiatan 1 November 2023/ Sintia Dewi /P/7 Tahun
Judul Laporan Program BIAS di SDN 1 Manggis di Wilayah Kerja Manggis I
Bulan imunisasi anak sekolah (BIAS) adalah suatu
program pemerintah yang menyelenggarakan imunisasi ulangan
pada siswa SD pada suatu wilayah kerja pada bulan tertentu
yang ditentukan oleh pemerintah setempat.
Penyakit menular tidak mengenal batas wilayah
administrasi, sehingga menyulitkan pemberantasannya. Dengan
tersedianya vaksin yang dapat mencegah penyakit menular
tertentu, maka tindakan pencegahan berpindahnya penyakit
darisatu daerah atau negara ke negara lain dapat dilakukan
dalamwaktu relatif singkat dengan hasil yang efektif.
Imunisasi merupakan upaya prioritas yang dapat
dipilih, mengingat bahwa imunisasi merupakan upaya yang
paling cost effective dan diperlukan oleh semua daerah. Mulai
tahun 1977, upaya imunisasi diperluas menjadi Program
Pengembangan Imunisasi
Latar Belakang dalam rangka pencegahan penularan terhadap Penyakit yang
Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) yaitu, :
 tuberculosis,
 difteri,
 pertusis,
 campak,
 polio,
 tetanus serta
 hepatitis B.
Upaya imunisasi perlu terus ditingkatkan untuk mencapai
tingkat population imunity (kekebalan masyarakat) yang
tinggi sehingga dapat memutuskan rantai penularan PD3I.
Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi, upaya
imunisasi dapat semakin efektif dan efisien dengan harapan
dapat memberikan sumbangan yang nyata bagi kesejahteraan
anak, ibu serta masyarakat lainnya

Gambaran Kegiatan Kegiatan dilakukan pada 1 November 2023 di di SDN 1 Manggis


Kegiatan ini diharapkan mampu untuk mencapai
Monitoring dan
tingkat population imunity (kekebalan masyarakat) yang
Evaluasi
tinggi sehingga dapat memutuskan rantai penularan PD3I

Tgl. Kegiatan 1 November 2023/ Juniarta /L/8 Tahun


Judul Laporan Program BIAS di SDN 1 Manggis di Wilayah Kerja Manggis I
Bulan imunisasi anak sekolah (BIAS) adalah suatu
program pemerintah yang menyelenggarakan imunisasi ulangan
pada siswa SD pada suatu wilayah kerja pada bulan tertentu
yang ditentukan oleh pemerintah setempat.
Penyakit menular tidak mengenal batas wilayah
administrasi, sehingga menyulitkan pemberantasannya. Dengan
tersedianya vaksin yang dapat mencegah penyakit menular
tertentu, maka tindakan pencegahan berpindahnya penyakit
darisatu daerah atau negara ke negara lain dapat dilakukan
dalamwaktu relatif singkat dengan hasil yang efektif.
Imunisasi merupakan upaya prioritas yang dapat
dipilih, mengingat bahwa imunisasi merupakan upaya yang
paling cost effective dan diperlukan oleh semua daerah. Mulai
tahun 1977, upaya imunisasi diperluas menjadi Program
Pengembangan Imunisasi
Latar Belakang dalam rangka pencegahan penularan terhadap Penyakit yang
Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) yaitu, :
 tuberculosis,
 difteri,
 pertusis,
 campak,
 polio,
 tetanus serta
 hepatitis B.
Upaya imunisasi perlu terus ditingkatkan untuk mencapai
tingkat population imunity (kekebalan masyarakat) yang
tinggi sehingga dapat memutuskan rantai penularan PD3I.
Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi, upaya
imunisasi dapat semakin efektif dan efisien dengan harapan
dapat memberikan sumbangan yang nyata bagi kesejahteraan
anak, ibu serta masyarakat lainnya
Gambaran Kegiatan Kegiatan dilakukan pada 1 November 2023 di di SDN 2 Manggis
Kegiatan ini diharapkan mampu untuk mencapai
Monitoring dan
tingkat population imunity (kekebalan masyarakat) yang
Evaluasi
tinggi sehingga dapat memutuskan rantai penularan PD3I

Tgl. Kegiatan 2 November 2023/ Julian wijana /L/8 Tahun


Judul Laporan Program BIAS di SDN 4 Manggis di Wilayah Kerja Manggis I
Latar Belakang Bulan imunisasi anak sekolah (BIAS) adalah suatu
program pemerintah yang menyelenggarakan imunisasi ulangan
pada siswa SD pada suatu wilayah kerja pada bulan tertentu
yang ditentukan oleh pemerintah setempat.
Penyakit menular tidak mengenal batas wilayah
administrasi, sehingga menyulitkan pemberantasannya. Dengan
tersedianya vaksin yang dapat mencegah penyakit menular
tertentu, maka tindakan pencegahan berpindahnya penyakit
darisatu daerah atau negara ke negara lain dapat dilakukan
dalamwaktu relatif singkat dengan hasil yang efektif.
Imunisasi merupakan upaya prioritas yang dapat
dipilih, mengingat bahwa imunisasi merupakan upaya yang
paling cost effective dan diperlukan oleh semua daerah. Mulai
tahun 1977, upaya imunisasi diperluas menjadi Program
Pengembangan Imunisasi
dalam rangka pencegahan penularan terhadap Penyakit yang
Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) yaitu, :
 tuberculosis,
 difteri,
 pertusis,
 campak,
 polio,
 tetanus serta
 hepatitis B.
Upaya imunisasi perlu terus ditingkatkan untuk mencapai
tingkat population imunity (kekebalan masyarakat) yang
tinggi sehingga dapat memutuskan rantai penularan PD3I.
Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi, upaya
imunisasi dapat semakin efektif dan efisien dengan harapan
dapat memberikan sumbangan yang nyata bagi kesejahteraan
anak, ibu serta masyarakat lainnya

Gambaran Kegiatan Kegiatan dilakukan pada 2 November 2023 di di SDN 4 Manggis


Kegiatan ini diharapkan mampu untuk mencapai
Monitoring dan
tingkat population imunity (kekebalan masyarakat) yang
Evaluasi
tinggi sehingga dapat memutuskan rantai penularan PD3I

Tgl. Kegiatan 3 November 2023/ Yuni Devita/P/7 Tahun


Judul Laporan Program BIAS di SDN 2 Ulakan di Wilayah Kerja Manggis I
Latar Belakang Bulan imunisasi anak sekolah (BIAS) adalah suatu
program pemerintah yang menyelenggarakan imunisasi ulangan
pada siswa SD pada suatu wilayah kerja pada bulan tertentu
yang ditentukan oleh pemerintah setempat.
Penyakit menular tidak mengenal batas wilayah
administrasi, sehingga menyulitkan pemberantasannya. Dengan
tersedianya vaksin yang dapat mencegah penyakit menular
tertentu, maka tindakan pencegahan berpindahnya penyakit
darisatu daerah atau negara ke negara lain dapat dilakukan
dalamwaktu relatif singkat dengan hasil yang efektif.
Imunisasi merupakan upaya prioritas yang dapat
dipilih, mengingat bahwa imunisasi merupakan upaya yang
paling cost effective dan diperlukan oleh semua daerah. Mulai
tahun 1977, upaya imunisasi diperluas menjadi Program
Pengembangan Imunisasi
dalam rangka pencegahan penularan terhadap Penyakit yang
Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) yaitu, :
 tuberculosis,
 difteri,
 pertusis,
 campak,
 polio,
 tetanus serta
 hepatitis B.
Upaya imunisasi perlu terus ditingkatkan untuk mencapai
tingkat population imunity (kekebalan masyarakat) yang
tinggi sehingga dapat memutuskan rantai penularan PD3I.
Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi, upaya
imunisasi dapat semakin efektif dan efisien dengan harapan
dapat memberikan sumbangan yang nyata bagi kesejahteraan
anak, ibu serta masyarakat lainnya

Gambaran Kegiatan Kegiatan dilakukan pada 3 November 2023 di di SDN 2 Ulakan


Kegiatan ini diharapkan mampu untuk mencapai
Monitoring dan
tingkat population imunity (kekebalan masyarakat) yang
Evaluasi
tinggi sehingga dapat memutuskan rantai penularan PD3I

Tgl. Kegiatan 4 November 2023/ Devita dewi /P/7 Tahun


Judul Laporan Program BIAS di SDN 5 Padangbai di Wilayah Kerja Manggis I
Latar Belakang Bulan imunisasi anak sekolah (BIAS) adalah suatu
program pemerintah yang menyelenggarakan imunisasi ulangan
pada siswa SD pada suatu wilayah kerja pada bulan tertentu
yang ditentukan oleh pemerintah setempat.
Penyakit menular tidak mengenal batas wilayah
administrasi, sehingga menyulitkan pemberantasannya. Dengan
tersedianya vaksin yang dapat mencegah penyakit menular
tertentu, maka tindakan pencegahan berpindahnya penyakit
darisatu daerah atau negara ke negara lain dapat dilakukan
dalamwaktu relatif singkat dengan hasil yang efektif.
Imunisasi merupakan upaya prioritas yang dapat
dipilih, mengingat bahwa imunisasi merupakan upaya yang
paling cost effective dan diperlukan oleh semua daerah. Mulai
tahun 1977, upaya imunisasi diperluas menjadi Program
Pengembangan Imunisasi
dalam rangka pencegahan penularan terhadap Penyakit yang
Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) yaitu, :
 tuberculosis,
 difteri,
 pertusis,
 campak,
 polio,
 tetanus serta
 hepatitis B.
Upaya imunisasi perlu terus ditingkatkan untuk mencapai
tingkat population imunity (kekebalan masyarakat) yang
tinggi sehingga dapat memutuskan rantai penularan PD3I.
Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi, upaya
imunisasi dapat semakin efektif dan efisien dengan harapan
dapat memberikan sumbangan yang nyata bagi kesejahteraan
anak, ibu serta masyarakat lainnya

Gambaran Kegiatan Kegiatan dilakukan pada 4 November 2023 di di SDN 5


Padangbai
Kegiatan ini diharapkan mampu untuk mencapai
Monitoring dan
tingkat population imunity (kekebalan masyarakat) yang
Evaluasi
tinggi sehingga dapat memutuskan rantai penularan PD3I

TRACING PENYAKIT MENULAR

1. CAMPAK
Tgl. Kegiatan 12 Oktober 2023/ Km Austin Radeva/L/8 Bulan
Pemeriksaan Screening pada penderita anak-anak dengan suspek
Judul Laporan
campak di Wilayah Kerja Manggis I
Latar Belakang Campak yang disebut juga dengan morbili, measles atau
rubeola adalah suatu penyakit infeksi akut yang sangat menular,
disebabkan oleh paramixovirus. Penyakit ini ditularkan melalui
percikan liur (droplet) yang terhirup, yang ditandai oleh tiga
stadium, kataral, erupsi serta konvalensi. Virus morbili terdapat
di dalam sekret nasofaring dan darah selama stadium kataral
sampai 24 jam setelah timbul bercak di kulit. Komplikasi yang
dapat terjadi adalah bronkopneumonia, otitis media,
laringotrakheobronkitis (croup), dan ensefalitis akut yang terjadi
sekitar 1 dari 1000 kasus.
Virus campak berada dalam lendir di hidung dan
tenggorokan orang yang terinfeksi, sehingga penularan biasanya
terjadi melalui udara dan pernapasan (batuk dan bersin). Virus
ditularkan secara langsung dari droplet infeksi. Setelah terinfeksi
dengan virus, dibutuhkan beberapa hari untuk gejala muncul.
Virus tetap aktif dan menular pada permukaan yang terinfeksi
sampai dua jam. Penularan campak terjadi begitu mudah bahwa
siapa saja yang tidak diimunisasi mungkin akan mendapatkan
penyakit ini pada akhirnya. Transmisi campak terutama dari
orang ke orang melalui droplet pernapasan besar. Transmisi
udara melalu aerosol droplet nuklei telah didokumentasi
diwilayah tertutup (misalnya kantor ruang pemeriksaan) hingga 2
jam orang yang terkena campak menduduki daerah tersebut.
Campak sangat menular dengan >90% tingkat serangan sekunder
dikalangan orang yang rentan. Campak dapat ditularkan 4 hari
sebelum dan 4 hari setelah onset dari ruam. Penularan
maksimum terjadi dari timbulnya prodromal pada 3-4 hari
pertama ruam.
Gejala yang nampak pada penderita campak antara lain:
Demam dengan suhu yang tinggi serta selsema, mata merah
(konjungtivitis), berair, dan sensitif pada cahaya (fotofobia),
nyeri tenggorokan, hidung meler (Koriza), batuk (Cough), bercak
Koplik, nyeri otot.
Imunisasi campak bertujuan sebagai pencegahan, diberikan
pada usia 9 bulan dan dosis ulangan (second opportunity pada
crash program campak) pada usia 6-59 bulan serta saat SD kelas
1-6.
Pada campak tanpa komplikasi tatalaksana bersifat suportif,
berupa tirah baring, antipiretik. Vitamin A dapat berfungsi
sebagai imunomodulator yang meningkatkan respons antibodi
terhadap virus campak. Pemberian vitamin A dapat menurunkan
angka kejadian komplikasi seperti diare dan pneumonia.5
Vitamin A diberikan satu kali per hari selama 2 hari

Kegiatan dilakukan pada hari Jumat, 12 Oktober 2023 di


Posyandu Labuhan Desa Antiga. Kegiatan dilakukan pada pasien
Gambaran Kegiatan dengan keluhan ruam merah menyerupai Campak. Pasien akan
dilakukan pemeriksaan pemeriksaan dan tatalaksana.

Kegiatan ini diharapkan mampu mencegah timbulnya KLB


Monitoring dan
campak dan dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan
Evaluasi
imunisasi campak di wilayah kerja UPTD Manggis I

2. diare
11 Desember 2023/ Ni Kadek Ayuwynee Purnami Dewi/P/1
Tgl. Kegiatan
tahun 11 Bulan
Pemeriksaan Screening pada penderita anak-anak dengan suspek
Judul Laporan
Diare di Wilayah Kerja Manggis I
Berdasarkan data dari UNICEF, disebutkan bahwa diare masih
menjadi penyebab utama kematian yang terjadi pada anak-anak.
Diperkirakan kematian akibat diare adalah 9% dari seluruh
kematian pada balita di dunia pada tahun 2019 dengan perkiraan
sekitar 484.000 anak-anak meninggal tiap tahunnya. Pemerintah
telah membuat tatalaksana untuk mengendalikan penyakit diare
di Indonesia. Berbagai program seperti penyuluhan terkait
sanitasi dan perilaku hidup bersih dan sehat juga dilakukan
dengan tujuan untuk mencegah dan meminimalisir risiko terkena
diare. Artikel ini dibuat dengan menggunakan metode penelitian
kualitatif dengan teknik kajian literatur. Program pencegahan dan
pengendalian diare yang sudah dibuat oleh pemerintah sudah
dilaksanakan dan cukup membantu menunurunkan angka kasus
Latar Belakang diare. Namun, tetap ada beberapa aspek yang harus menjadi
diperbaiki. Baik dari tatalaksana diare ataupun langkah
pencegahan berbasis lingkungan dan sanitasi.

Upaya pengendalian diare dapat dilakukan dengan berbagai cara


dan program. Baik yang berfokus pada individu ataupun
lingkungan. Salah satu pengendalian diare yang berfokus pada
individu ada LINTAS Diare yakni lima langkah tuntaskan diare.
Lima langkah yang dimaksud adalah pemberian oralit, pemberian
zinc selama 10 hari berturut-turut, pemberian ASI dan MP ASI,
pemberian antibiotik, dan pemberian nasihat kepada orang tua
dan wali anak

Kegiatan dilakukan pada 11 Desember 2023 di Puskesmas


Manggis 1. Kegiatan dilakukan pada pasien dengan keluhan
Gambaran Kegiatan diare. Pasien akan dilakukan pemeriksaan pemeriksaan dan
tatalaksana.

Kegiatan ini diharapkan mampu mencegah timbulnya KLB diare


Monitoring dan
dan dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan sanitasi di
Evaluasi
wilayah kerja UPTD Manggis I

PENAPISAN TB (5)
1.
Tgl. Kegiatan 09 November 2023/NMN/P/50 thn/BD Luhur, Padangbai
Judul Laporan Screening Pasien Susp. TB
Latar Belakang Tuberkulosis (TBC) adalah suatu penyakit menular yang sebagian
disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tubercolosis. TB
merupakan penyakit airborne infection atau penyakit yang
penyebarannya melalui udara. Penularan terjadi ketika pasien TB
batuk atau bersin tanpa menutup mulut dan hidungnya, sehingga
percikan dahak pasien (droplet/percik renik) yang jatuh akan
menyebarkan kuman TB ke udara. Infeksi terjadi apabila droplet
tersebut terhirup oleh seseorang yang rentan melalui mulut atau
hidung, saluran pernafasan atas, bronkus hingga mencapai alveoli
dan dapat menyebar kebagian tubuh lain melalui peredaran darah
pembuluh limfe, atau langsung ke organ terdekatnya.
Seseorang ditetapkan sebagai tersangka TB apabila ditemukan
beberapa gejala Tuberkulosis. Gejala umum yang sering dirasakan
pasien TB yaitu
- Batuk lebih dari 2 minggu secara terus menerus. Selain dapat
disertai dahak, batuk dapat juga disertai dengan darah.
- Demam lebih dari sebulan dan kadang disertai meriang pada
malam hari.
- Nafsu makan berkurang. Bila terjadi pada anak, maka dapat
mengganggu pertumbuhan anak dan mengakibatkan
pertumbuhannya tidak sesuai dengan usia anak tersebut.
- Penurunan berat badan
- Badan terasa kurang fit/enak (malaise), lemah, dan lesu.
Menurut Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis, terdapat 2
tahap pengobatan tuberkulosis:
a. Tahap Awal: Pengobatan diberikan setiap hari. Panduan
pengobatan pada tahap ini agar secara efektif menurunkan
jumlah kuman yang ada dalam tubuh pasien serta
meminimalisir pengaruh dari sebagian kecil kuman yang
sudah resisten ketika pasien sebelum dilakukan pengobatan.
Pengobatan tahap awal dilakukan selama 2 bulan.
b. Tahap Lanjutan: merupakan tahap untuk membunuh sisa-
sisa kuman yang di dalam tubuh sehingga dapat mencegah
mengalami kambuh

Pada tahun 2022 total insiden Tuberkulosis paru di Indonesia


sebesar 824.000 kasus atau setara dengan 301 per 100.000
penduduk. Tuberkulosis paru masih menjadi perhatian khusus
masalah kesehatan. Menurut Laporan Nasional Tuberkulosis paru
total (Case Notifiation Rate) CNR 153 per 100.000 penduduk di
tahun 2021. Angka keberhasilan pengobatan Tuberkulosis paru
tahun 2021 sebesar 46%, jika dibandingkan dengan target
keberhasilan pengobatan Tuberkulosis paru sebesar 75% maka
dalam hal ini belum sesuai dengan target keberhasilan pengobatan
Tuberkulosis paru.

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan diatas, maka penting


dilakukan pemeriksaan pada pasien dengan gejala dan dicurigai
Gambaran Kegiatan sebagai pengidap TB. Kegiatan penapisan dilakukan pada
pelayanan Poliklinik setiap hari dari pukul 08.00-selesai WITA.
Pasien akan dilakukan pemeriksaan dahak sputum dan akan
dipantau sampai hasil keluar. Selama menunggu, pasien juga
diberikan obat batuk dan vitamin.
Kegiatan diharapkan mampu mendeteksi secara dini pasien yang
dicurigai mengalami infeksi TB dan cepat mendapatkan
Monitoring dan pengobatan. Disamping itu, diharapkan mampu mengurangi
Evaluasi penularan dari penyakit TB. Setiap bulannya data pasien akan
direkapitulasi, meliputi jumlah pasien, identitas lengkap dan hasil
pemeriksaannya.

2.
Tgl. Kegiatan 08 November 2023/P/68 thn/BD Abiancanang, Ulakan
Judul Laporan Screening Pasien Susp. TB
Latar Belakang Tuberkulosis (TBC) adalah suatu penyakit menular yang sebagian
disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tubercolosis. TB
merupakan penyakit airborne infection atau penyakit yang
penyebarannya melalui udara. Penularan terjadi ketika pasien TB
batuk atau bersin tanpa menutup mulut dan hidungnya, sehingga
percikan dahak pasien (droplet/percik renik) yang jatuh akan
menyebarkan kuman TB ke udara. Infeksi terjadi apabila droplet
tersebut terhirup oleh seseorang yang rentan melalui mulut atau
hidung, saluran pernafasan atas, bronkus hingga mencapai alveoli
dan dapat menyebar kebagian tubuh lain melalui peredaran darah
pembuluh limfe, atau langsung ke organ terdekatnya.
Seseorang ditetapkan sebagai tersangka TB apabila ditemukan
beberapa gejala Tuberkulosis. Gejala umum yang sering dirasakan
pasien TB yaitu
- Batuk lebih dari 2 minggu secara terus menerus. Selain dapat
disertai dahak, batuk dapat juga disertai dengan darah.
- Demam lebih dari sebulan dan kadang disertai meriang pada
malam hari.
- Nafsu makan berkurang. Bila terjadi pada anak, maka dapat
mengganggu pertumbuhan anak dan mengakibatkan
pertumbuhannya tidak sesuai dengan usia anak tersebut.
- Penurunan berat badan
- Badan terasa kurang fit/enak (malaise), lemah, dan lesu.
Menurut Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis, terdapat 2
tahap pengobatan tuberkulosis:
a. Tahap Awal: Pengobatan diberikan setiap hari. Panduan
pengobatan pada tahap ini agar secara efektif
menurunkan jumlah kuman yang ada dalam tubuh pasien
serta meminimalisir pengaruh dari sebagian kecil kuman
yang sudah resisten ketika pasien sebelum dilakukan
pengobatan. Pengobatan tahap awal dilakukan selama 2
bulan.
b. Tahap Lanjutan: merupakan tahap untuk membunuh
sisa-sisa kuman yang di dalam tubuh sehingga dapat
mencegah mengalami kambuh

Pada tahun 2022 total insiden Tuberkulosis paru di Indonesia


sebesar 824.000 kasus atau setara dengan 301 per 100.000
penduduk. Tuberkulosis paru masih menjadi perhatian khusus
masalah kesehatan. Menurut Laporan Nasional Tuberkulosis paru
total (Case Notifiation Rate) CNR 153 per 100.000 penduduk di
tahun 2021. Angka keberhasilan pengobatan Tuberkulosis paru
tahun 2021 sebesar 46%, jika dibandingkan dengan target
keberhasilan pengobatan Tuberkulosis paru sebesar 75% maka
dalam hal ini belum sesuai dengan target keberhasilan pengobatan
Tuberkulosis paru.

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan diatas, maka penting


dilakukan pemeriksaan pada pasien dengan gejala dan dicurigai
Gambaran Kegiatan sebagai pengidap TB. Kegiatan penapisan dilakukan pada
pelayanan Poliklinik setiap hari dari pukul 08.00-selesai WITA.
Pasien akan dilakukan pemeriksaan dahak sputum dan akan
dipantau sampai hasil keluar. Selama menunggu, pasien juga
diberikan obat batuk dan vitamin.
Kegiatan diharapkan mampu mendeteksi secara dini pasien yang
dicurigai mengalami infeksi TB dan cepat mendapatkan
Monitoring dan pengobatan. Disamping itu, diharapkan mampu mengurangi
Evaluasi penularan dari penyakit TB. Setiap bulannya data pasien akan
direkapitulasi, meliputi jumlah pasien, identitas lengkap dan hasil
pemeriksaannya.

3.

Tgl. Kegiatan 08 November 2023/NNS/P/33 thn/BD Luhur Padangbai

Judul Laporan Screening Pasien Susp. TB


Latar Belakang Penyakit Tubercolusis (TB) adalah penyakit menular langsung yang
disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tubercolusis. Tuberculosis
merupakan masalah kesehatan, baik dari sisi angka kematian
(mortalitas), angka kejadian penyakit (morbiditas), maupun
diagnosis dan terapinya. Bersama dengan HIV/AIDS, Malaria dan
TB Paru merupakan penyakit yang pengendaliannya menjadi
komitmen global dalam program SDGs. Diperkirakan sekitar
sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium
Tuberculosis (Kemenkes RI, 2018).
Seseorang ditetapkan sebagai tersangka TB apabila ditemukan
beberapa gejala Tuberkulosis. Gejala umum yang sering dirasakan
pasien TB yaitu
- Batuk lebih dari 2 minggu secara terus menerus. Selain dapat
disertai dahak, batuk dapat juga disertai dengan darah.
- Demam lebih dari sebulan dan kadang disertai meriang pada
malam hari.
- Nafsu makan berkurang. Bila terjadi pada anak, maka dapat
mengganggu pertumbuhan anak dan mengakibatkan
pertumbuhannya tidak sesuai dengan usia anak tersebut.
- Penurunan berat badan
- Badan terasa kurang fit/enak (malaise), lemah, dan lesu.
Menurut Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis, terdapat 2
tahap pengobatan tuberkulosis:
a. Tahap Awal: Pengobatan diberikan setiap hari. Panduan
pengobatan pada tahap ini agar secara efektif
menurunkan jumlah kuman yang ada dalam tubuh pasien
serta meminimalisir pengaruh dari sebagian kecil kuman
yang sudah resisten ketika pasien sebelum dilakukan
pengobatan. Pengobatan tahap awal dilakukan selama 2
bulan.
b. Tahap Lanjutan: merupakan tahap untuk membunuh
sisa-sisa kuman yang di dalam tubuh sehingga dapat
mencegah mengalami kambuh

Pada tahun 2022 total insiden Tuberkulosis paru di Indonesia


sebesar 824.000 kasus atau setara dengan 301 per 100.000
penduduk. Tuberkulosis paru masih menjadi perhatian khusus
masalah kesehatan. Menurut Laporan Nasional Tuberkulosis paru
total (Case Notifiation Rate) CNR 153 per 100.000 penduduk di
tahun 2021. Angka keberhasilan pengobatan Tuberkulosis paru
tahun 2021 sebesar 46%, jika dibandingkan dengan target
keberhasilan pengobatan Tuberkulosis paru sebesar 75% maka
dalam hal ini belum sesuai dengan target keberhasilan pengobatan
Tuberkulosis paru.

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan diatas, maka penting


dilakukan pemeriksaan pada pasien dengan gejala dan dicurigai
Gambaran Kegiatan sebagai pengidap TB. Kegiatan penapisan dilakukan pada
pelayanan Poliklinik setiap hari dari pukul 08.00-selesai WITA.
Pasien akan dilakukan pemeriksaan dahak sputum dan akan
dipantau sampai hasil keluar. Selama menunggu, pasien juga
diberikan obat batuk dan vitamin.
Kegiatan diharapkan mampu mendeteksi secara dini pasien yang
dicurigai mengalami infeksi TB dan cepat mendapatkan
Monitoring dan pengobatan. Disamping itu, diharapkan mampu mengurangi
Evaluasi penularan dari penyakit TB. Setiap bulannya data pasien akan
direkapitulasi, meliputi jumlah pasien, identitas lengkap dan hasil
pemeriksaannya.

4.
Tgl. Kegiatan 06 November 2023/NKK/P/61 thn/BD Bengkel Antiga Kelog
Judul Laporan Screening Pasien Susp. TB
Latar Belakang Tuberkulosis (TBC) adalah suatu penyakit menular yang sebagian
disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tubercolosis. TB
merupakan penyakit airborne infection atau penyakit yang
penyebarannya melalui udara. Penularan terjadi ketika pasien TB
batuk atau bersin tanpa menutup mulut dan hidungnya, sehingga
percikan dahak pasien (droplet/percik renik) yang jatuh akan
menyebarkan kuman TB ke udara. Infeksi terjadi apabila droplet
tersebut terhirup oleh seseorang yang rentan melalui mulut atau
hidung, saluran pernafasan atas, bronkus hingga mencapai alveoli
dan dapat menyebar kebagian tubuh lain melalui peredaran darah
pembuluh limfe, atau langsung ke organ terdekatnya.
Seseorang ditetapkan sebagai tersangka TB apabila ditemukan
beberapa gejala Tuberkulosis. Gejala umum yang sering dirasakan
pasien TB yaitu
- Batuk lebih dari 2 minggu secara terus menerus. Selain dapat
disertai dahak, batuk dapat juga disertai dengan darah.
- Demam lebih dari sebulan dan kadang disertai meriang pada
malam hari.
- Nafsu makan berkurang. Bila terjadi pada anak, maka dapat
mengganggu pertumbuhan anak dan mengakibatkan
pertumbuhannya tidak sesuai dengan usia anak tersebut.
- Penurunan berat badan
- Badan terasa kurang fit/enak (malaise), lemah, dan lesu.
Menurut Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis, terdapat 2
tahap pengobatan tuberkulosis:
a. Tahap Awal: Pengobatan diberikan setiap hari. Panduan
pengobatan pada tahap ini agar secara efektif
menurunkan jumlah kuman yang ada dalam tubuh pasien
serta meminimalisir pengaruh dari sebagian kecil kuman
yang sudah resisten ketika pasien sebelum dilakukan
pengobatan. Pengobatan tahap awal dilakukan selama 2
bulan.
b. Tahap Lanjutan: merupakan tahap untuk membunuh
sisa-sisa kuman yang di dalam tubuh sehingga dapat
mencegah mengalami kambuh

Pada tahun 2022 total insiden Tuberkulosis paru di Indonesia


sebesar 824.000 kasus atau setara dengan 301 per 100.000
penduduk. Tuberkulosis paru masih menjadi perhatian khusus
masalah kesehatan. Menurut Laporan Nasional Tuberkulosis paru
total (Case Notifiation Rate) CNR 153 per 100.000 penduduk di
tahun 2021. Angka keberhasilan pengobatan Tuberkulosis paru
tahun 2021 sebesar 46%, jika dibandingkan dengan target
keberhasilan pengobatan Tuberkulosis paru sebesar 75% maka
dalam hal ini belum sesuai dengan target keberhasilan pengobatan
Tuberkulosis paru.

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan diatas, maka penting


dilakukan pemeriksaan pada pasien dengan gejala dan dicurigai
Gambaran Kegiatan sebagai pengidap TB. Kegiatan penapisan dilakukan pada
pelayanan Poliklinik setiap hari dari pukul 08.00-selesai WITA.
Pasien akan dilakukan pemeriksaan dahak sputum dan akan
dipantau sampai hasil keluar. Selama menunggu, pasien juga
diberikan obat batuk dan vitamin.
Kegiatan diharapkan mampu mendeteksi secara dini pasien yang
dicurigai mengalami infeksi TB dan cepat mendapatkan
Monitoring dan pengobatan. Disamping itu, diharapkan mampu mengurangi
Evaluasi penularan dari penyakit TB. Setiap bulannya data pasien akan
direkapitulasi, meliputi jumlah pasien, identitas lengkap dan hasil
pemeriksaannya.
5.
Tgl. Kegiatan 27 Oktober 2023/IYLA/L/27 thn/Kelod Antiga
Judul Laporan Screening Pasien Susp. TB
Latar Belakang Tuberkulosis paru merupakan penyakit yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosa. Penularannya penyakit ini percikan
droplet pada saat orang yang terinfeksi bersin maupun batuk.
Tuberkulosis paru harus melakukan pengobatan secara rutin selama
6 bulan, jika kurang dari 6 bulan atau tidak tuntas maka tahap
pengobatannya diulang dari semula dan akan lama sembuh dari
penyakit ini bahkan dapat menyebabkan kematian (Kemenkes,
2016).
Seseorang ditetapkan sebagai tersangka TB apabila ditemukan
beberapa gejala Tuberkulosis. Gejala umum yang sering dirasakan
pasien TB yaitu
- Batuk lebih dari 2 minggu secara terus menerus. Selain dapat
disertai dahak, batuk dapat juga disertai dengan darah.
- Demam lebih dari sebulan dan kadang disertai meriang pada
malam hari.
- Nafsu makan berkurang. Bila terjadi pada anak, maka dapat
mengganggu pertumbuhan anak dan mengakibatkan
pertumbuhannya tidak sesuai dengan usia anak tersebut.
- Penurunan berat badan
- Badan terasa kurang fit/enak (malaise), lemah, dan lesu.
Menurut Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis, terdapat 2
tahap pengobatan tuberkulosis:
a. Tahap Awal: Pengobatan diberikan setiap hari. Panduan
pengobatan pada tahap ini agar secara efektif menurunkan
jumlah kuman yang ada dalam tubuh pasien serta
meminimalisir pengaruh dari sebagian kecil kuman yang
sudah resisten ketika pasien sebelum dilakukan pengobatan.
Pengobatan tahap awal dilakukan selama 2 bulan.
b. Tahap Lanjutan: merupakan tahap untuk membunuh sisa-
sisa kuman yang di dalam tubuh sehingga dapat mencegah
mengalami kambuh

Pada tahun 2022 total insiden Tuberkulosis paru di Indonesia


sebesar 824.000 kasus atau setara dengan 301 per 100.000
penduduk. Tuberkulosis paru masih menjadi perhatian khusus
masalah kesehatan. Menurut Laporan Nasional Tuberkulosis paru
total (Case Notifiation Rate) CNR 153 per 100.000 penduduk di
tahun 2021. Angka keberhasilan pengobatan Tuberkulosis paru
tahun 2021 sebesar 46%, jika dibandingkan dengan target
keberhasilan pengobatan Tuberkulosis paru sebesar 75% maka
dalam hal ini belum sesuai dengan target keberhasilan pengobatan
Tuberkulosis paru.

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan diatas, maka penting


dilakukan pemeriksaan pada pasien dengan gejala dan dicurigai
Gambaran Kegiatan sebagai pengidap TB. Kegiatan penapisan dilakukan pada
pelayanan Poliklinik setiap hari dari pukul 08.00-selesai WITA.
Pasien akan dilakukan pemeriksaan dahak sputum dan akan
dipantau sampai hasil keluar. Selama menunggu, pasien juga
diberikan obat batuk dan vitamin.
Kegiatan diharapkan mampu mendeteksi secara dini pasien yang
dicurigai mengalami infeksi TB dan cepat mendapatkan
Monitoring dan pengobatan. Disamping itu, diharapkan mampu mengurangi
Evaluasi penularan dari penyakit TB. Setiap bulannya data pasien akan
direkapitulasi, meliputi jumlah pasien, identitas lengkap dan hasil
pemeriksaannya.
PENGOBATAN TB (5)

1.
7 November 2023/ INR/ P/ 63 Thn/BD Kelod Antiga 
Tgl. Kegiatan
Bakteriologi positif
Judul Laporan Konseling TB, Pemberian OAT, dan Pengawasan Minum Obat
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang disebabkan oleh
bakteri Mycrobacterium Tuberculosis dan merupakan penyakit
kronik menular. Mycrobacterium Tuberculosis berbentuk batang
dan bersifat tahan asam dan dikenal dengan BTA (Basil Tahan
Asam).
Angka Kejadian TB di seluruh dunia pada tahun 2017 adalah
9,6 juta dengan jumlah kematian 1,5 juta orang. Angka Prevalensi
TB di Indonesia adalah 1.600.000 dengan estimasi insiden
1.000.000 kasus pertahun setelah Negara india. Indonesia
merupakan Negara dengan kasus TB terbanyak nomor dua di dunia.
Survey yang sudah diadakan terdapat 0,65% dari penduduk
indonesia menderita TB. Sedangkan kasus yang bisa dideteksi
sekitar 33% penderita TB. Selain itu, 26% masyarakat yang dapat
Latar Belakang mengetahui mengidentifikasi tanda dan gejala umum TB, dan 19%
orang yang mengetahui bahwa pengobatan TB adalah gratis (WHO,
2017).
Ada 2 tahap dalam Pengobatan TB yaitu: Tahap pertama
pengobatan (intensif) 2-3 bulan. Pada tahap ini pasien akan
mendapat obat setiap hari pengawasan secara langsung untuk
mencegah terjadinya resistensi obat. Tahap kedua adalah tahap
lanjutan yaitu 4-6 bulan
Peningkatan kasus TB Paru dapat disebabkan oleh kurangnya
pengetahuan masyarakat mengenai tanda, gejala, cara penularan,
dan pengobatan TB paru, mencakup keteraturan dalam konsumsi
obat dan peran PMO.

Gambaran Kegiatan Pasien merupakan seorang perempuan 38 tahun dengan keluhan


awal batuk berdahak lebih dari 2 minggu disertai keringat dingin di
malam hari. Sudah dilakukan pengobatan secara mandiri dan
pengobatan di dokter namun keluhan batuk masih dialami. Pasien
dilakukan pemeriksaan sputum BTA SPS namun hasil negatif.
Kemudian dilakukan rujukan ke Faskes Rujukan Tingkat Lanjut.
Hasil foto thoraks mendukung TB sehingga pasien didiagnosa
dengan TB. Pasien diberikan obat sesuai dengan BB pasien yaitu
OAT kategori 1, 3 KDT
Konseling ini berjalan dengan [Link] pasien TB
Monitoring dan
meminum obat dengan teratur. Dilakukan evaluasi pengobatan tiap
Evaluasi
bulannya saat pasien datang ke puskemas mengambil obat.

2
28 Oktober 2023/ IKW/ L/ 53 Thn/BD Luhur Padangbai 
Tgl. Kegiatan
Bakteriologi positif
Judul Laporan Konseling TB, Pemberian OAT, dan Pengawasan Minum Obat
Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang disebabkan oleh
bakteri Mycrobacterium Tuberculosis dan merupakan penyakit
kronik menular. Mycrobacterium Tuberculosis berbentuk batang
dan bersifat tahan asam dan dikenal dengan BTA (Basil Tahan
Asam).
Angka Kejadian TB di seluruh dunia pada tahun 2017 adalah
9,6 juta dengan jumlah kematian 1,5 juta orang. Angka Prevalensi
TB di Indonesia adalah 1.600.000 dengan estimasi insiden
1.000.000 kasus pertahun setelah Negara india. Indonesia
merupakan Negara dengan kasus TB terbanyak nomor dua di dunia.
Survey yang sudah diadakan terdapat 0,65% dari penduduk
indonesia menderita TB. Sedangkan kasus yang bisa dideteksi
sekitar 33% penderita TB. Selain itu, 26% masyarakat yang dapat
mengetahui mengidentifikasi tanda dan gejala umum TB, dan 19%
orang yang mengetahui bahwa pengobatan TB adalah gratis (WHO,
2017).
Ada 2 tahap dalam Pengobatan TB yaitu: Tahap pertama
pengobatan (intensif) 2-3 bulan. Pada tahap ini pasien akan
mendapat obat setiap hari pengawasan secara langsung untuk
mencegah terjadinya resistensi obat. Tahap kedua adalah tahap
lanjutan yaitu 4-6 bulan
Peningkatan kasus TB Paru dapat disebabkan oleh kurangnya
pengetahuan masyarakat mengenai tanda, gejala, cara penularan,
dan pengobatan TB paru, mencakup keteraturan dalam konsumsi
obat dan peran PMO.

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang ada, selain


pemberian obat TB pada pasien terdiagnosis TB Baru maka penting
untuk pemberian konseling, infromasi dan edukasi mengenai
pemahaman tentang penyakit TB Paru, pentingnya keteraturan
dalam konsumsi obat, dan pentingnya peran PMO. Kegiatan
Gambaran Kegiatan pemberian KIE ini akan berlangsung bersamaan dengan pelayanan
di Poliklinik UPTD Puskesmas Karangasem I. Pada pasien ini,
diberikan obat sesuai dengan BB pasien yaitu OAT kategori 1, 3
KDT

Konseling ini berjalan dengan [Link] pasien TB


Monitoring dan
meminum obat dengan teratur. Dilakukan evaluasi pengobatan tiap
Evaluasi
bulannya saat pasien datang ke puskemas mengambil obat.

3
04 Oktober 2023/ IKR/ L/ 68 Thn/BD Tengah Ulakan
Tgl. Kegiatan
Bakteriologi positif
Judul Laporan Konseling TB, Pemberian OAT, dan Pengawasan Minum Obat
Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang disebabkan oleh
bakteri Mycrobacterium Tuberculosis dan merupakan penyakit
kronik menular. Mycrobacterium Tuberculosis berbentuk batang
dan bersifat tahan asam dan dikenal dengan BTA (Basil Tahan
Asam).
Angka Kejadian TB di seluruh dunia pada tahun 2017 adalah
9,6 juta dengan jumlah kematian 1,5 juta orang. Angka Prevalensi
TB di Indonesia adalah 1.600.000 dengan estimasi insiden
1.000.000 kasus pertahun setelah Negara india. Indonesia
merupakan Negara dengan kasus TB terbanyak nomor dua di dunia.
Survey yang sudah diadakan terdapat 0,65% dari penduduk
indonesia menderita TB. Sedangkan kasus yang bisa dideteksi
sekitar 33% penderita TB. Selain itu, 26% masyarakat yang dapat
mengetahui mengidentifikasi tanda dan gejala umum TB, dan 19%
orang yang mengetahui bahwa pengobatan TB adalah gratis (WHO,
2017).
Ada 2 tahap dalam Pengobatan TB yaitu: Tahap pertama
pengobatan (intensif) 2-3 bulan. Pada tahap ini pasien akan
mendapat obat setiap hari pengawasan secara langsung untuk
mencegah terjadinya resistensi obat. Tahap kedua adalah tahap
lanjutan yaitu 4-6 bulan
Peningkatan kasus TB Paru dapat disebabkan oleh kurangnya
pengetahuan masyarakat mengenai tanda, gejala, cara penularan,
dan pengobatan TB paru, mencakup keteraturan dalam konsumsi
obat dan peran PMO.

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang ada, selain


pemberian obat TB pada pasien terdiagnosis TB Baru maka penting
untuk pemberian konseling, infromasi dan edukasi mengenai
pemahaman tentang penyakit TB Paru, pentingnya keteraturan
dalam konsumsi obat, dan pentingnya peran PMO. Kegiatan
Gambaran Kegiatan pemberian KIE ini akan berlangsung bersamaan dengan pelayanan
di Poliklinik UPTD Puskesmas Karangasem I. Pada pasien ini,
diberikan obat sesuai dengan BB pasien yaitu OAT kategori 1, 3
KDT

Konseling ini berjalan dengan [Link] pasien TB


Monitoring dan
meminum obat dengan teratur. Dilakukan evaluasi pengobatan tiap
Evaluasi
bulannya saat pasien datang ke puskemas mengambil obat.

4
23 September 2023/ IWS/ L/ 78 Thn/BD Yeh Poh  Bakteriologi
Tgl. Kegiatan
positif
Judul Laporan Konseling TB, Pemberian OAT, dan Pengawasan Minum Obat
Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang disebabkan oleh
bakteri Mycrobacterium Tuberculosis dan merupakan penyakit
kronik menular. Mycrobacterium Tuberculosis berbentuk batang
dan bersifat tahan asam dan dikenal dengan BTA (Basil Tahan
Asam).
Angka Kejadian TB di seluruh dunia pada tahun 2017 adalah
9,6 juta dengan jumlah kematian 1,5 juta orang. Angka Prevalensi
TB di Indonesia adalah 1.600.000 dengan estimasi insiden
1.000.000 kasus pertahun setelah Negara india. Indonesia
merupakan Negara dengan kasus TB terbanyak nomor dua di dunia.
Survey yang sudah diadakan terdapat 0,65% dari penduduk
indonesia menderita TB. Sedangkan kasus yang bisa dideteksi
sekitar 33% penderita TB. Selain itu, 26% masyarakat yang dapat
mengetahui mengidentifikasi tanda dan gejala umum TB, dan 19%
orang yang mengetahui bahwa pengobatan TB adalah gratis (WHO,
2017).
Ada 2 tahap dalam Pengobatan TB yaitu: Tahap pertama
pengobatan (intensif) 2-3 bulan. Pada tahap ini pasien akan
mendapat obat setiap hari pengawasan secara langsung untuk
mencegah terjadinya resistensi obat. Tahap kedua adalah tahap
lanjutan yaitu 4-6 bulan
Peningkatan kasus TB Paru dapat disebabkan oleh kurangnya
pengetahuan masyarakat mengenai tanda, gejala, cara penularan,
dan pengobatan TB paru, mencakup keteraturan dalam konsumsi
obat dan peran PMO.

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang ada, selain


pemberian obat TB pada pasien terdiagnosis TB Baru maka penting
untuk pemberian konseling, infromasi dan edukasi mengenai
pemahaman tentang penyakit TB Paru, pentingnya keteraturan
dalam konsumsi obat, dan pentingnya peran PMO. Kegiatan
Gambaran Kegiatan pemberian KIE ini akan berlangsung bersamaan dengan pelayanan
di Poliklinik UPTD Puskesmas Karangasem I. Pada pasien ini,
diberikan obat sesuai dengan BB pasien yaitu OAT kategori 1, 3
KDT

Konseling ini berjalan dengan [Link] pasien TB


Monitoring dan
meminum obat dengan teratur. Dilakukan evaluasi pengobatan tiap
Evaluasi
bulannya saat pasien datang ke puskemas mengambil obat.

5
30 Agustus 2023/ NNS/ P/ 62 Thn/BD Pakel Gegelang
Tgl. Kegiatan
Bakteriologi positif
Judul Laporan Konseling TB, Pemberian OAT, dan Pengawasan Minum Obat
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang disebabkan oleh
bakteri Mycrobacterium Tuberculosis dan merupakan penyakit
kronik menular. Mycrobacterium Tuberculosis berbentuk batang
dan bersifat tahan asam dan dikenal dengan BTA (Basil Tahan
Asam).
Angka Kejadian TB di seluruh dunia pada tahun 2017 adalah
9,6 juta dengan jumlah kematian 1,5 juta orang. Angka Prevalensi
TB di Indonesia adalah 1.600.000 dengan estimasi insiden
1.000.000 kasus pertahun setelah Negara india. Indonesia
merupakan Negara dengan kasus TB terbanyak nomor dua di dunia.
Survey yang sudah diadakan terdapat 0,65% dari penduduk
indonesia menderita TB. Sedangkan kasus yang bisa dideteksi
sekitar 33% penderita TB. Selain itu, 26% masyarakat yang dapat
Latar Belakang mengetahui mengidentifikasi tanda dan gejala umum TB, dan 19%
orang yang mengetahui bahwa pengobatan TB adalah gratis (WHO,
2017).
Ada 2 tahap dalam Pengobatan TB yaitu: Tahap pertama
pengobatan (intensif) 2-3 bulan. Pada tahap ini pasien akan
mendapat obat setiap hari pengawasan secara langsung untuk
mencegah terjadinya resistensi obat. Tahap kedua adalah tahap
lanjutan yaitu 4-6 bulan
Peningkatan kasus TB Paru dapat disebabkan oleh kurangnya
pengetahuan masyarakat mengenai tanda, gejala, cara penularan,
dan pengobatan TB paru, mencakup keteraturan dalam konsumsi
obat dan peran PMO.

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang ada, selain


pemberian obat TB pada pasien terdiagnosis TB Baru maka penting
untuk pemberian konseling, infromasi dan edukasi mengenai
pemahaman tentang penyakit TB Paru, pentingnya keteraturan
dalam konsumsi obat, dan pentingnya peran PMO. Kegiatan
Gambaran Kegiatan pemberian KIE ini akan berlangsung bersamaan dengan pelayanan
di Poliklinik UPTD Puskesmas Karangasem I. Pada pasien ini,
diberikan obat sesuai dengan BB pasien yaitu OAT kategori 1, 3
KDT

Konseling ini berjalan dengan [Link] pasien TB


Monitoring dan
meminum obat dengan teratur. Dilakukan evaluasi pengobatan tiap
Evaluasi
bulannya saat pasien datang ke puskemas mengambil obat.

Anda mungkin juga menyukai