See discussions, stats, and author profiles for this publication at: [Link]
net/publication/265739561
Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
Article
CITATIONS READS
3 2,703
8 authors, including:
Agus Pramono James M. Roshetko
Forestry Research and Development Agency Consultative Group on International Agricultural Research
28 PUBLICATIONS 217 CITATIONS 164 PUBLICATIONS 3,576 CITATIONS
SEE PROFILE SEE PROFILE
All content following this page was uploaded by Agus Pramono on 24 November 2017.
The user has requested enhancement of the downloaded file.
Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
Panduan Lapangan untuk Petani
Agus Astho Pramono
M. Anis Fauzi
Nurin Widyani
Ika Heriansyah
James M. Roshetko
Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
Panduan Lapangan untuk Petani
Agus Astho Pramono
M. Anis Fauzi
Nurin Widyani
Ika Heriansyah
James M. Roshetko
© 2010 Center for International Forestry Research
ISBN: 978-602-8693-19-6
Pramono, A.A., Fauzi, M.A., Widyani, N., Heriansyah, I. dan Roshetko, J.M. 2010. Pengelolaan
hutan jati rakyat: panduan lapangan untuk petani. CIFOR, Bogor, Indonesia.
Foto: A. Astho Pramono, M. Anis Fauzi, Philip Manalu dan Illa Anggraeni
Ilustrasi: A. Astho Pramono
Tata letak: Rahadian Danil
CIFOR
Jl. CIFOR, Situ Gede
Bogor Barat 16115
Indonesia
T +62 (251) 8622-622
F +62 (251) 8622-100
E cifor@[Link]
[Link]
Daftar Isi
Kata Pengantar dari Penerbit iv
Kata Pengantar dari Penulis vii
1. Pendahuluan 1
2. Silvikultur Jati 5
3. Penyiapan Benih 9
3.1. Pengumpulan benih 10
3.2. Penanganan benih 16
4. Pembuatan Bibit 17
4.1. Bibit dari benih 17
4.2. Bibit dari setek pucuk 21
4.3. Bibit dari sumber lainnya 24
5. Penanaman 29
5.1. Perancangan pola tanam 29
5.2. Persiapan lahan 36
5.3. Penanaman 38
6. Pemeliharaan Tegakan 43
6.1. Pembersihan gulma 43
6.2. Pemupukan 44
6.3. Penyulaman 44
6.4. Pemangkasan 45
6.5. Penjarangan 48
6.6. Pemeliharaan terubusan 52
6.7. Pengendalian hama dan penyakit 53
7. Pemanenan 61
Bahan Bacaan 65
Daftar Nama Jenis 69
Keterangan Istilah 71
Lampiran 75
Kata Pengantar dari Penerbit
Hutan rakyat dapat diartikan sebagai tanaman kayu yang ditanam
pada lahan-lahan milik masyarakat. Keberadaan hutan rakyat di
Indonesia semakin penting karena turut menyumbang pasokan
kebutuhan kayu bagi industri perkayuan. Disamping itu hutan rakyat
merupakan salah satu sarana dalam upaya peningkatan kesejahteraan
masyarakat, khususnya yang tinggal di pedesaan.
The Center for International Forestry Research (CIFOR) memberikan
perhatian yang cukup besar terhadap upaya pengembangan hutan
jati rakyat di Indonesia. Pengembangan hutan rakyat sejalan dengan
misi CIFOR dan sudah menjadi salah satu kegiatan utama yang kini
termasuk ke dalam domain penelitian (research domain) 3, yaitu
”Improving livelihoods through smallholder and community forestry”.
Ada tiga output utama yang ingin dihasilkan dari Research Domain
3; yaitu yang berkaitan dengan penyempurnaan aspek teknis dalam
pengelolaan hutan (tanaman) rakyat dan hutan kemasyarakatan;
penyempurnaan model-model pengusahaan, khususnya
kelembagaan masyarakat; dan penyempurnaan kebijakan-kebijakan
untuk menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif bagi masyarakat.
Buku Panduan Pengelolaan Hutan Jati Rakyat ini merupakan salah
satu bentuk output penelitian yang berkaitan dengan aspek teknis
pengelolaan hutan rakyat, dalam hal ini aspek silvikultur. Buku
ini disusun berdasarkan hasil pembelajaran dari kegiatan proyek
penelitian ”Peningkatan Manfaat Ekonomi Usaha Hutan Jati Rakyat
dalam Sistem Agroforestri di Indonesia” yang didanai oleh The
Australian Center for International Agricultural Research (ACIAR), kode
proyek No FST/2005/177. Penyusunan buku dilakukan oleh mitra
penelitian dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan,
The World Agroforesrty Center (ICRAF), Winrock International dan
Kelompok Kerja Hutan Lestari, Kabupaten Gunungkidul.
v
Pada kesempatan ini kami ingin menyampaikan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu
penyusunan buku panduan ini, khususnya kepada:
• ACIAR yang telah mendanai proyek penelitian ini.
• Para penulis dari lembaga penelitian mitra yang telah
melaksanakan kegiatan penelitian dan penyusunan buku ini, serta
staf lainnya yang telah memberikan saran dan koreksi, baik secara
substansial maupun redaksional, khususnya kepada Saudara
Gerhard Manurung, Iwan Kurniawan, Alfan Gunawan Ahmad,
Rikola Fedri, Lia Dahlia, Philip Manalu, Illa Anggraeni, Triwilaida dan
Muhammad Zanzibar.
• Para tokoh masyarakat dan perwakilan kelompok tani di lokasi
penelitian di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta atas peran
sertanya di dalam kegiatan pengujian kepraktisan buku panduan
ini, khususnya kepada para petani seperti yang tertulis pada
Lampiran 1.
• Para penyuluh kehutanan di lingkup Kabupaten Gunungkidul,
yang telah turut serta di dalam pengujian kepraktisan buku
panduan ini, khususnya kepada Bapak Sudiarno, Sunyoto,
Adiya PW, Toto Karyoto, Pranowo, Subiyantoro, Supriyadi, dan
Y. Bambang Endratno.
• Saudara Beni Silalahi, Taufik J. Purwanto, dan Purnomo
Sumardamto dari Dinas Kehutanan Kabupaten Gunungkidul,
Yogyakarta atas segala dukungan dan fasilitasinya di dalam
pengujian buku panduan ini.
• Puslitbang Sumber Daya Hutan Perhutani Cepu, yang telah
memberikan masukan mengenai teknik persemaian.
• Pihak-pihak lain yang telah terlibat di dalam pembahasan serta
pencetakan buku panduan ini, yang tidak dapat kami sebutkan
satu-persatu.
vi
Kami berharap agar buku panduan ini bermanfaat bagi para petani
hutan jati rakyat, para penyuluh, akademisi serta masyarakat pada
umumnya, sebagai bahan panduan dalam upaya peningkatan
produktivitas hutan jati rakyat.
Bogor, 2010
Atas nama Penerbit
Dede Rohadi
Pemimpin Proyek
Penelitian ACIAR FST/2005/177
Peningkatan Manfaat Ekonomi Usaha Hutan Rakyat Jati
dalam Sistem Agroforestri di Indonesia
Kata Pengantar dari Penulis
Dewasa ini, menanam kayu telah menjadi pilihan investasi yang
menguntungkan bagi masyarakat. Adalah jati (Tectona grandis L.f.),
penghasil kayu mewah yang telah menjadi daya tarik petani di
Kabupaten Gunungkidul untuk mengubah lahan tandus mereka
menjadi kebun sumber uang. Dimulai sejak dasawarsa 1960-an
oleh beberapa petani perintis, pohon-pohon jati telah berperan
sebagai tabungan jangka panjang untuk keperluan rumah tangga
yang membutuhkan biaya besar. Namun demikian, produktivitas
dan kualitas kayu yang rendah menjadi kendala untuk mendapatkan
keuntungan maksimal dari hutan jati mereka.
Teknik silvikultur merupakan salah satu kunci dalam peningkatan
produktivitas hutan jati rakyat. Walau jati telah ratusan tahun akrab
dengan kehidupan petani di Jawa, namun umumnya petani masih
miskin pengetahuan tentang bagaimana sebenarnya teknik yang
tepat untuk mengelola hutan jati. Pada umumnya petani masih
menggunakan pola ”tanam dan biarkan tumbuh sendiri”. Teknik
pemangkasan atau pruning, pemeliharaan trubusan atau singling dan
penjarangan atau thinning masih merupakan bahasa asing di dalam
kosa kata mereka.
Berawal dari perkembangan hutan jati rakyat di Gunungkidul, buku
panduan ini muncul untuk memenuhi kehausan petani akan ilmu
pengetahuan dan petunjuk praktis dalam membangun tegakan jati
idaman yang bisa dikelola sendiri dan mampu menjadi tumpuan
ekonomi rumah tangga. Pohon-pohon jati yang tertata rapi dengan
kualitas baik seperti milik Perhutani menjadi salah satu impian dari
sebagian petani pengelola hutan jati rakyat. Buku yang sengaja
dikemas dengan bahasa sederhana ini, diharapkan dapat memandu
petani untuk mewujudkan impian-impian tersebut. Melalui buku ini,
diharapkan kualitas tegakan dan harga jual jati rakyat akan meningkat
secara nyata.
viii
Hutan jati rakyat adalah fokus buku ini, karena hutan rakyat memiliki
ciri yang berbeda dari hutan tanaman pada umumnya. Permasalahan-
permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan hutan rakyat yang
kadang spesifik antar lokasi seringkali tidak terjawab oleh buku-buku
pedoman yang ada selama ini. Bagaimana mengatur jarak tanam
jati pada lahan berbatu, dan bagaimana teknik penjarangan pada
tegakan yang umurnya tidak seragam, adalah beberapa hal yang
dicoba dijawab oleh buku ini. Adopsi dari pola tebang butuh dan
beberapa kearifan tradisional juga dikemukakan di sini.
Teknik yang disampaikan dalam buku ini merupakan hasil
kumpulan berbagai informasi dari studi pustaka, komunikasi pribadi
dengan pakar, peneliti, praktisi pengelola jati di Perum Perhutani,
pengalaman petani dan penyuluh kehutanan di Kabupaten
Gunungkidul, serta pengalaman penulis sendiri. Sebagian informasi
di dalam buku ini juga dihasilkan dari kegiatan proyek penelitian
ACIAR berjudul “Peningkatan Manfaat Ekonomi Usaha Hutan Rakyat
Jati dalam Sistem Agroforestri di Indonesia” yang melibatkan peneliti-
peneliti dari CIFOR, ICRAF, Winrock International, International Center
for Applied Finance and Economics (InterCAFE) - IPB, Badan Litbang
Kehutanan, Australian National University, dan Kelompok Kerja (Pokja)
Hutan Rakyat Lestari, Kabupaten Gunungkidul.
Semoga buku panduan ini dapat meningkatkan pengetahuan teknik
silvikultur untuk petani jati di manapun, dan juga bermanfaat bagi
para pengambil kebijakan, peneliti, penyuluh, dan semua pihak yang
menaruh perhatian pada jati dan budidayanya.
Bogor, 2010
Penulis
1
Pendahuluan
Mengapa hutan jati rakyat?
• Jati (Tectona grandis L.f.) dikenal sebagai kayu komersial bermutu
tinggi, termasuk dalam suku Verbenaceae. Daerah sebaran asli dari
jati meliputi India, Myanmar, dan Thailand.
• Jati pertama kali ditanam di Indonesia (di Pulau Jawa)
diperkirakan pada abad ke 2 Masehi, yang dilakukan oleh para
penyebar agama Hindu. Saat ini jati telah dikenal secara luas dan
dikembangkan oleh pemerintah, swasta, dan petani.
• Tanaman ini telah banyak dikembangkan, bahkan di beberapa
tempat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan
tradisional masyarakat.
• Di Indonesia, tanaman jati secara khusus berpotensi
meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani,
pedagang, dan industri
pengolahan. Secara umum
berperan dalam pembangunan
daerah dan nasional.
• Kayu jati dan hasil olahannya
memiliki wilayah pemasaran
yang luas, di luar maupun di
dalam negeri.
• Tanaman jati memiliki masa
tebang yang panjang sehingga
memiliki fungsi lingkungan
dalam pengaturan tata air
(hidrologi) dan iklim lokal.
2 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
Gambar 1.1. Hutan jati rakyat : Indah, bermanfaat bagi lingkungan, dan
menjadi penghasilan untuk masa depan
• Kualitas kayunya yang tinggi, memungkinkan hasil olahannya
untuk digunakan dalam jangka waktu yang lama.
• Hampir seluruh bagian dari tanaman jati dapat dimanfaatkan,
bahkan salah satu jenis ulatnya (Hyblaea puera) di beberapa
daerah menjadi makanan sumber protein yang disukai
masyarakat.
Untuk siapa panduan ini?
Panduan ini diutamakan bagi petani pengelola hutan jati, dan
diharapkan juga bermanfaat bagi penyuluh, peneliti, pemerhati, dan
pembuat kebijakan.
Mengapa panduan ini dibutuhkan?
• Pengelolaan hutan jati rakyat umumnya dilaksanakan secara
tradisional, sehingga mutu dan jumlah kayu yang dihasilkan
masih rendah.
Pendahuluan | 3
• Petani masih sulit memperoleh informasi teknis tentang
pengelolaan jati, sehingga teknik yang benar belum banyak
diterapkan di hutan rakyat.
• Informasi tentang pengelolaan jati yang tersedia saat ini
kebanyakan masih ditulis dalam bahasa yang ilmiah, sehingga
sulit dipahami, kurang menarik dan kurang praktis untuk petani.
• Berdasarkan uraian di atas, diperlukan suatu buku panduan
khusus untuk hutan jati rakyat yang mudah dipahami, ditulis
dalam bahasa yang sederhana, dan menarik.
Apakah ruang lingkup panduan ini?
• Buku ini dibuat sebagai panduan untuk meningkatkan mutu
hutan jati rakyat melalui penerapan teknik budidaya (silvikultur)
yang baik, dimulai dari pemilihan benih, pembibitan, penanaman,
pemeliharaan sampai pemanenan.
• Teknik pengelolaan jati yang dikemukakan adalah teknik yang
tidak memerlukan biaya mahal dan sederhana sehingga mudah
untuk dilaksanakan oleh petani.
• Panduan ini meliputi pedoman pengembangan jati rakyat, baik
hutan sejenis, campuran, maupun tumpangsari.
2
Silvikultur Jati
Apa yang dimaksud dengan silvikultur?
Silvikultur mempunyai beberapa arti yaitu:
• Ilmu dan seni dalam budidaya tanaman hutan yang didasarkan
pada pengetahuan tentang pohon hutan.
• Kegiatan yang berkenaan dengan pembangunan, pengaturan
pertumbuhan, susunan jenis tanaman, dan kualitas tegakan hutan.
Adakah kaitan antara kegiatan silvikultur
dengan nilai jual kayu jati?
Nilai jual pohon jati ditentukan oleh kualitas pohon yang dicirikan
dengan: ukuran dan kelurusan batang, tinggi batang bebas cabang,
kelurusan serat kayu, dan ada tidaknya cacat kayu. Perlakuan
silvikultur yang tepat akan mampu meningkatkan mutu pohon jati
sehingga meningkatkan nilai jualnya, misalnya:
a. Penggunaan bibit unggul akan menghasilkan pohon yang
tumbuh cepat dan berbatang lurus.
b. Pemangkasan cabang (pruning) pada saat jati berumur muda akan
menghasilkan batang tanpa cacat mata kayu, dan batang bebas
cabang tinggi,
c. Penjarangan (thinning) akan mengurangi persaingan antara
pohon dalam memperoleh makanan (hara) dari tanah dan cahaya,
sehingga mempercepat pertumbuhan diameter batang.
d. Pemupukan pada tanaman jati akan mempercepat pertumbuhan
sehingga menghasilkan kayu yang berukuran besar.
6 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
e. Pengendalian hama dan penyakit akan menjamin pohon
tumbuh sehat dan normal sehingga menghasilkan kayu yang
berukuran besar dan bebas dari cacat.
Kegiatan apa saja yang termasuk
silvikultur jati?
Kegiatan yang termasuk dalam praktek silvikultur meliputi:
a. Pengadaan benih dan bibit berkualitas.
b. Persiapan lahan, yaitu lahan diolah agar sesuai
untuk ditanami bibit jati sehingga bibit
dapat tumbuh baik sampai menjadi pohon
dewasa.
c. Pengaturan jarak tanam, yaitu jarak antar
tanaman diatur agar pemeliharaan lebih
mudah dan pertumbuhan pohon lebih
cepat.
d. Pemupukan, yaitu penambahan
kandungan makanan (hara) ke dalam tanah
sehingga pohon jati lebih subur dan sehat.
e. Pemangkasan, yaitu penghilangan
atau pemotongan cabang-cabang pada
batang utama ketika umur muda, untuk
meningkatkan ketinggian batang bebas
cabang dan mengurangi mata kayu.
f. Penjarangan, yaitu penebangan
untuk memperlebar jarak tanam
atau mengurangi jumlah pohon agar
pertumbuhan dalam suatu area lebih
Gambar 2.1. Perlakuan silvikultur
merata, dan mutunya meningkat. yang tepat menghasilkan pohon
g. Pencegahan dan penanggulangan jati bermutu tinggi
hama penyakit.
h. Pemanenan, yaitu penebangan pohon
untuk dimanfaatkan hasil kayunya.
Keterangan lebih rinci akan dibahas dalam bagian selanjutnya.
Silvikultur Jati | 7
Penanaman
Persiapan lahan
Pemeliharaan
Pengadaan benih dan bibit
Pemanenan
Gambar 2.2. Tahapan kegiatan silvikultur jati
3
Penyiapan Benih
Mengapa benih harus dipersiapkan?
• Pertumbuhan dan penampilan fisik suatu pohon dipengaruhi oleh
faktor keturunan dari induknya (faktor genetik) dan pengaruh
lingkungan.
• Tegakan jati yang sehat, tumbuh cepat, dan menghasilkan kayu
yang berkualitas dapat diperoleh dari benih yang induknya
berkualitas (benih unggul).
• Benih yang unggul akan menunjukkan pertumbuhan
yang maksimal jika ditanam pada lahan yang sesuai bagi
pertumbuhannya.
• Sebaliknya benih unggul dapat menghasilkan pertumbuhan yang
kurang baik jika ditanam pada lahan yang tidak sesuai.
• Untuk mendapatkan bibit berkualitas yang sesuai dengan lahan
petani, dan sesuai dengan waktu penanaman, maka pengadaan
benih perlu direncanakan dan dilaksanakan dengan baik.
Gambar 3.1. Benih dan bibit jati
10 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
3.1. Pengumpulan benih
Dari mana benih dikumpulkan?
• Benih yang terbaik hendaknya berasal dari kebun benih (Kebun
Pangkas, Kebun Benih Semai, Kebun Benih Klon).
• Jika sulit diperoleh, benih bisa diperoleh dari areal produksi benih,
atau dari tegakan benih (areal produksi benih, tegakan benih
teridentifikasi, tegakan benih terseleksi).
• Jika membeli benih, sebaiknya membeli benih unggul
bersertifikat, atau berasal dari sumber yang dapat dipercaya.
• Usahakan benih berasal dari sumber benih yang memiliki kondisi
ekologis (ketinggian tempat, iklim, dan tanah) yang mirip dengan
lokasi yang akan ditanami.
• Misalnya petani di Gunungkidul yang
memiliki lahan kering, tanahnya berkapur,
dengan ketinggian tempat 0-400 m dpl,
sebaiknya menggunakan benih dari
daerah-daerah yang memiliki kondisi mirip
Gunungkidul.
• Jika petani sulit mendapatkan benih dari
sumber benih bersertifikat, cara paling
mudah dan murah untuk memperoleh benih
adalah dengan mengumpulkannya dari
pohon benih (pohon induk lokal terbaik di
lokasi tersebut).
Apakah pohon benih itu?
Pohon benih adalah pohon yang dipilih dan
dipelihara sebagai penghasil benih.
Gambar 3.2. Pohon benih jati
(Pohon plus di Perum Perhutani)
Penyiapan Benih | 11
Kelas Sumber Benih
Sumber benih adalah asal dari mana benih dikumpulkan, dapat berupa:
• sejumlah pohon terpilih pada suatu hamparan lahan (misal pohon-
pohon yang dipilih di lahan petani atau pohon-pohon yang dipilih di
hutan alam), atau
• sekelompok pohon yang tumbuh bersama dalam satu area.
Menurut Peraturan Menteri Kehutanan No: P.01/Menhut-II/2009, sumber
benih tanaman hutan dikelompokkan menjadi 7 kelas.
Penjelasan sederhana dari tujuh kelas sumber benih tersebut adalah:
1. Tegakan benih teridentifikasi (TBT), yaitu sumber benih yang
tegakannya memiliki mutu seperti tegakan rata-rata. Tegakan benih
ini ditunjuk dari hutan alam atau hutan tanaman. Lokasinya terdata
dengan tepat.
2. Tegakan benih terseleksi (TBS), yaitu sumber benih yang berasal dari
TBT. Mutu tegakannya lebih baik dari tegakan rata-rata.
3. Areal produksi benih (APB), yaitu tegakan yang dibangun (ditanam)
khusus sebagai sumber benih. APB juga dapat berasal dari TBT atau
TBS yang telah mengalami penjarangan (pohon-pohon yang tidak
bagus ditebang).
4. Tegakan benih provenan (TBP), yaitu sumber benih yang dibangun
dari benih yang dikumpulkan dari daerah sebaran asli (provenan).
5. Kebun Benih Semai (KBS), yaitu sumber benih yang dibangun dari biji
berasal dari pohon plus (pohon pilihan yang berpenampilan bagus).
6. Kebun Benih Klon (KBK), yaitu sumber benih yang dibangun dari
bahan vegetatif (selain biji misal: batang, daun atau akar) dari
pohon plus.
7. Kebun Benih Pangkas (KP), yaitu sumber bahan vegetatif (untuk setek
atau kultur jaringan) yang dibangun dari bahan generatif (biji) atau
vegetatif dari pohon yang berasal dari KBK atau KBS.
Dari sumber benih di atas, yang disebut lebih belakangan memiliki
kualitas benih yang lebih bagus.
12 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
Bagaimana cara memilih pohon benih?
• Pilih pohon berpenampilan unggul jika dibandingkan dengan
pohon-pohon di sekitarnya, yaitu memiliki ciri:
a. diameter batang dan tinggi pohon di atas rata-rata,
b. batangnya lurus,
c. batang bebas cabangnya tinggi,
d. tajuknya (cabang beserta daun-daunnya) sehat dan seimbang,
e. bebas dari hama dan penyakit,
f. kualitas kayunya bagus (misal: bulat dan serat kayunya lurus),
g. telah dewasa dan mampu menghasilkan benih.
• Pada tegakan jati yang tidak seumur, hati-hati dalam
menggunakan ukuran diameter dan tinggi pohon dalam memilih
pohon benih.
• Pada tegakan yang tidak seumur, pohon yang memiliki diameter
besar belum tentu menunjukkan kualitas yang unggul, tetapi
mungkin karena umurnya lebih tua.
• Pada tegakan seumur, diameter dan tinggi pohon merupakan ciri
yang penting dalam pemilihan pohon benih.
Tajuk sehat
dan seimbang
Bebas cabang Batang lurus dan
tinggi diameternya besar
(A) (B)
Gambar 3.3. Contoh cara memilih pohon benih
(A) pohon jati yang tidak layak menjadi pohon benih
(B) pohon jati yang dapat ditunjuk sebagai pohon benih
Penyiapan Benih | 13
Bisakah memilih pohon benih dari kebun atau hutan
di sekitar kita?
Bisa, asal dapat memenuhi beberapa persyaratan berikut:
• Jangan memilih pohon benih yang tumbuh sendirian (di
sekitarnya tidak ada pohon jati dewasa lainnya, jika ada pohon jati
lain jaraknya lebih dari 100 m), walaupun pohon tersebut besar
dan lurus.
• Pohon yang tumbuh sendirian benihnya merupakan hasil
penyerbukan sendiri, sehingga kemungkinan besar berkualitas
buruk.
• Hindari memilih pohon benih dari kebun yang sebagian besar
pohon jatinya berpenampilan buruk, abnormal, atau berpenyakit.
• Jika petani membangun kebun jati yang benihnya berasal
dari satu pohon, maka sebaiknya tidak menunjuk pohon di
kebun tersebut sebagai pohon benih, karena pohon-pohonnya
berkerabat dekat, walaupun penampilannya bagus.
Kapan dan bagaimana memanen benih?
• Buah jati yang telah masak pada umumnya dapat dipanen pada
bulan September - Oktober.
• Pohon induk hendaknya sudah cukup dewasa yaitu minimal
pernah berbuah dua atau tiga kali.
• Pohon jati mulai menghasilkan benih pada umur 12-15 tahun.
Pada pohon jati terubusan, pohon dapat menghasilkan benih
pada umur yang lebih muda.
• Untuk meningkatkan kualitas benih, pengambilan benih dilakukan
secara merata dari semua bagian tajuk (atas, samping, dan bawah),
karena bagian-bagian ini mungkin terserbuki pada waktu atau
oleh pohon induk yang berbeda.
• Bersihkan lantai hutan sekitar pohon induk. Hamparkan alas
(terpal atau plastik) di lantai hutan di bawah tajuk pohon induk
untuk menampung benih yang jatuh.
14 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
Satu pohon di
kebun petani c
Satu pohon di Satu pohon di
kebun petani b kebun petani d
Satu pohon di
Satu pohon di kebun petani e
kebun petani a Benih dari lima pohon
dari Kelompok Tani A
Benih dari lima pohon
dari Kelompok Tani B
Campuran benih dari 25 pohon
induk dari lima kelompok tani
Benih dari lima pohon
dari Kelompok Tani C
Diedarkan kembali
Benih dari lima pohon ke para petani
Benih dari lima pohon
dari Kelompok Tani D dari Kelompok Tani E
Gambar 3.4. Teknik pengumpulan benih bermutu melalui gabungan
kelompok tani
Penyiapan Benih | 15
• Pohon dipanjat kemudian dahan digoyang-goyang. Benih yang
telah masak akan berjatuhan di atas alas yang telah disediakan
• Disarankan untuk tidak mengumpulkan benih dari jatuhan alami,
karena belum tentu berasal dari pohon terdekat (pohon benih
yang dipilih).
• Pengumpulan benih di lantai hutan (dari jatuhan alami) boleh
dilakukan pada tegakan benih, APB, atau kebun benih. Semua
pohon pada tegakan ini dianggap sebagai pohon induk
berkualitas, sehingga setiap benih merupakan hasil perkawinan
dari pohon induk yang baik.
• Hindari memperoleh benih hanya dari satu pohon, walaupun
pohon ini mampu menyediakan benih dalam jumlah yang
mencukupi kebutuhan.
• Benih yang berasal dari satu pohon akan memiliki kualitas yang
rendah. Benih ini jika ditanam bersamaan di dalam satu area akan
menghasilkan hutan yang tidak tahan terhadap serangan wabah
hama/penyakit dan perubahan iklim, serta tidak bisa digunakan
sebagai sumber benih.
• Usahakan benih diperoleh dari minimal 10 pohon induk yang tidak
berkerabat dekat (tidak memiliki sejarah dari induk yang sama).
Lebih baik jika diperoleh dari 30-50 pohon.
• Untuk menghindari pengadaan benih dari induk yang berkerabat
dekat, sebaiknya hanya dipilih satu pohon benih untuk setiap
lahan yang dikelola oleh satu petani.
• Perlu kerjasama antar petani atau kelompok tani dalam
mengumpulkan benih. Bila setiap kelompok tani memiliki lima
pohon benih (dari lima lahan petani), maka dengan tukar menukar
benih antar lima kelompok tani maka dapat diperoleh benih dari
25 pohon induk yang tidak berkerabat dekat.
16 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
3.2. Penanganan benih
Bagaimana menangani benih?
• Pilihlah benih yang sehat dan telah masak. Benih jati yang telah
masak dicirikan dengan warna coklat gelap. Buah yang belum
masak berwarna agak putih terang.
• Benih dikeringkan dengan cara dijemur pada suatu areal datar
untuk mendapatkan sinar matahari secara langsung.
• Penjemuran dilakukan selama 1-2 hari penuh pada cuaca cerah.
Dengan cara ini akan dihasilkan benih dengan kadar air
sekitar 12%.
• Setelah kering, benih dibersihkan
dengan cara mengupas mahkotanya,
dan memisahkan kotoran atau serasah
yang tercampur dalam benih.
• Benih yang sudah berlubang-lubang
(bopeng) tidak selalu menandakan
bahwa benih tersebut berkualitas
buruk. Benih seperti ini sering lebih
mudah berkecambah karena telah
mengalami skarifikasi (penipisan kulit
benih) secara alami.
• Di dalam satu kg benih jati biasanya
berisi sekitar 1.500 butir. Ukuran besar
atau kecil tidak menunjukkan baik Gambar 3.5. Benih bopeng, yang
atau buruknya mutu suatu benih. telah mengalami penipisan kulit
secara alami
Bagaimana menyimpan benih?
• Benih yang telah kering disimpan dalam wadah plastik.
• Ruang simpan hendaknya kering dan sejuk. Jika memungkinkan
gunakanlah ruangan ber-AC.
• Benih sebaiknya disimpan paling lama 2 tahun.
4
Pembuatan Bibit
4.1. Bibit dari benih
Bagaimana cara mengecambahkan benih?
• Benih jati merupakan jenis benih yang sulit berkecambah, karena
kulit benihnya sulit ditembus oleh air dan udara yang merupakan
syarat utama untuk perkecambahan.
• Agar benih jati cepat berkecambah, diperlukan kondisi dan
perlakuan tertentu yang bisa melunakkan kulit benih agar udara
dan air dapat masuk ke dalam benih.
• Upaya yang dilakukan sebelum penaburan, agar benih cepat
berkecambah, dikenal sebagai perlakuan pendahuluan.
Bagaimana perlakuan pendahuluannya?
• Benih disterilkan (dibebaskan dari hama dan penyakit) terlebih
dahulu dengan cara dijemur sampai kering.
• Pilih salah satu cara perlakuan pendahuluan berikut ini:
a. Benih direndam selama 3 x 24 jam dalam air mengalir,
kemudian tiriskan benih selama 2 hari.
b. Benih direndam selama 3 hari dalam air tergenang yang selalu
diganti setiap hari, kemudian tiriskan benih selama
2 hari.
c. Benih direndam dalam air dingin selama satu hari, kemudian
benih dikeringkan dengan dijemur di bawah terik matahari
satu hari. Hal tersebut diulang kurang lebih selama 4-5 hari.
18 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
d. Benih setiap hari direndam dalam air dingin selama satu
jam kemudian dipindah ke dalam air panas selama 1 jam
selanjutnya dikering-anginkan. Hal ini dilakukan selama 1
minggu.
e. Benih direndam dalam larutan Asam Sulfat pekat (H2SO4)
selama 15 menit, kemudian dicuci dengan menggunakan air,
dan tiriskan selama 1 malam.
f. Benih direndam dalam air dingin selama dua malam kemudian
dijemur di bawah sinar matahari selama 1 hari.
• Cara-cara tersebut di atas bisa pula dikombinasikan antara teknik
satu dengan teknik lainnya sehingga diperoleh keberhasilan semai
benih yang maksimal.
Bagaimana cara menyemaikannya?
• Siapkan media tabur yaitu pasir. Pasir yang baik tidak terlalu kasar
atau terlalu halus serta tidak banyak tercampur tanah.
• Media disterilkan dengan cara dijemur sampai kering dan
dicampur nematisida (racun pembunuh cacing).
• Kemudian media tabur disiram air secara merata.
• Benih yang telah diberi perlakuan pendahuluan dimasukkan ke
media tabur, dengan posisi bekas tangkai buah menghadap ke
bawah.
• Benih ditanam sedalam diameter benih, kemudian ditaburi pasir
sehingga punggung benih terbenam sekitar 1-2 cm di dalam
media.
• Media ditutup dengan selapis jerami agar media tidak hanyut
ketika disiram air (Lihat Gambar 4.1).
• Media disiram air.
• Bedeng/bak tabur ditutup sungkup plastik, namun jika suhu
sudah tinggi (misalnya cuaca cerah di musim kemarau) maka
sungkup tidak diperlukan.
• Bedeng tabur dipelihara dengan selalu dibersihkan dari gulma dan
disiram setiap hari agar media tidak sampai kering.
Pembuatan Bibit | 19
1 2
Jerami
Benih
Media
Pasir
3 4
Gambar 4.1. Teknik penanaman benih pada media tabur
• Setelah lima sampai tujuh hari sejak penaburan, maka benih
di media tabur akan mulai berkecambah. Perkecambahan
biasanya tidak serentak, karena masih bisa dijumpai benih yang
berkecambah pada hari ke 100.
Bagaimana menyapih kecambah?
• Siapkan media semai berupa campuran tanah humus (tanah
lapisan atas) dan kompos dengan perbandingan 2:1; atau pupuk
kandang dan tanah humus (2:3); atau kompos, tanah humus, dan
sekam padi (2:1:1).
• Media dijemur dan dicampur dengan fungisida (racun pembunuh
jamur) agar steril, kemudian ditempatkan pada kantong semai.
• Kecambah siap disapih setelah berumur 3-5 hari atau dicirikan
dengan terbentuknya sepasang daun muda yang belum
membuka penuh (Lihat Gambar 4.2).
20 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
Gambar 4.2. Kecambah yang telah siap disapih
• Penyapihan dapat dilakukan pada waktu pagi (sebelum jam 10.00)
atau sore (sesudah jam 15.00).
• Untuk memudahkan penyapihan, media dibasahi terlebih dahulu.
• Media di sekitar dan di bawah kecambah diangkat dengan
menggunakan ranting atau bambu berbentuk pipih untuk
mengambil kecambah beserta akar-akarnya.
• Angkat kecambah dengan memegang daun atau lembaganya,
kemudian langsung ditanam pada media tanam yang telah
dibasahi dan dilubangi.
• Jika kecambah yang disapih jumlahnya banyak, kecambah tidak
langsung ditanam tetapi bisa ditampung dahulu di dalam wadah
berisi air.
• Siram media dan benih dengan pancaran air yang halus.
Pembuatan Bibit | 21
4.2. Bibit dari setek pucuk
Dari mana bahan setek diperoleh?
• Bahan setek yang berupa pucuk dapat diperoleh dari terubusan,
bibit, atau kebun pangkas.
• Sumber setek tersebut hendaknya dari pohon yang berkualitas
bagus atau klon terpilih.
Apakah klon itu?
Klon adalah sekumpulan pohon atau bibit yang berkualitas
genetik (kualitas yang diturunkan dari induknya) sama persis,
karena merupakan hasil perbanyakan vegetatif (pembibitan tidak
menggunakan benih) dari satu batang pohon. Pembibitan untuk
memperbanyak klon dilakukan melalui setek, cangkok, okulasi, atau
kultur jaringan.
Gambar 4.3. Kebun pangkas jati, bahan setek pucuk jati dan penanamannya
22 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
Bagaimana memilih dan menyiapkan bahan tanaman
untuk setek?
• Bahan setek berupa pucuk yang berumur 2-3 minggu yang
memiliki ciri-ciri: batang masih berbulu, agak silindris, warna hijau
cerah, memiliki tiga pasang daun, panjang antara 5-7 cm.
• Pilih pucuk yang tumbuh tegak ke atas (tunas orthotroph), hindari
tunas yang tumbuh menyamping.
• Setelah pucuk diambil, tiap helai daun dipotong dan disisakan
1/3 nya.
• Pangkal setek pucuk dipotong miring dengan pisau tajam (cutter).
• Pangkal setek dicelupkan dalam larutan Indole Butyric Acid (IBA)
selama 5-10 menit. Konsentrasi IBA yang dipakai adalah 0,02 gr
IBA yang dilarutkan dalam sekitar 2 sendok NaOH atau alkohol
kemudian dicampur air menjadi 1 liter.
Bagaimana cara menanam setek?
• Siapkan media yang berupa campuran pasir, kompos dan tanah
lapisan atas dengan perbandingan 2:3:1, yang dimasukkan ke
dalam polibag berukuran 10 x 15 cm.
• Polibag sebaiknya bening (tembus pandang) agar dapat diketahui
jika akar telah tumbuh.
• Polibag ditata di dalam bedeng berupa tanah rata yang tidak
tergenang air jika bibit disiram. Bedeng semai sebaiknya berada
pada area yang ternaungi (di bawah tegakan atau paranet/
shading net).
• Agar pangkal setek tidak terluka ketika ditanam maka media
dalam polibag dilubangi terlebih dahulu dengan menggunakan
ranting.
• Setek yang telah dicelupkan dalam larutan IBA ditanam pada
lubang tersebut.
• Media disiram dengan air.
• Bedeng setek ditutupi sungkup plastik dengan ketinggian
sungkup +½ m (Gambar 4.4).
Pembuatan Bibit | 23
1 Buat rangka sungkup dari bambu, kemudian polibag ditata di dalamnya
2 Kedua ujung rangka ditutup rapat dengan plastik
3 Tutup dengan plastik yang bisa dibuka tutup
4 Sungkup plastik transparan yang tertutup rapat dapat menjaga kelembaban
bedeng setek tetap tinggi
Gambar 4.4. Teknik pembuatan sungkup plastik untuk bedeng setek
24 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
• Kondisi lingkungan yang baik untuk perakaran setek jati adalah:
kelembaban di atas 80% dan suhu berkisar antara 24-32o C.
• Selama pemeliharaan, penyiraman dilakukan dua kali sehari, yaitu
pada pagi dan sore hari.
• Jika terjadi gejala adanya serangan jamur, semprot setek dengan
fungisida (racun pembasmi jamur).
Bagaimana penanganan setek setelah berakar?
Sebelum ditanam di lapangan, setek harus secara bertahap dibiasakan
untuk hidup di lingkungan kering dan terbuka yang berbeda dengan
kondisi di sungkup. Caranya adalah:
• Setek yang berakar dipisahkan dan dikumpulkan dalam satu
bedeng tersendiri. Bedeng ini masih berada pada area ternaungi.
• Setek yang belum berakar juga dikumpulkan dalam bedeng
lainnya untuk dilanjutkan proses perakarannya.
• Setek yang berakar dibiarkan beradaptasi pada bedeng yang baru
dengan sungkup tertutup selama 3 hari.
• Sungkup dibuka secara bertahap diawali dengan dibuka 10 cm.
Setiap hari sungkup dibuka lebih lebar + 10 cm, terus menerus
hingga pada umur 2 minggu sungkup telah terbuka penuh.
• Biarkan bibit setek pada area ternaungi tanpa sungkup selama
2 minggu.
• Selanjutnya bibit hasil biakan setek ini dipindah ke area terbuka
hingga siap tanam.
4.3. Bibit dari sumber lainnya
Adakah cara pengadaan bibit lainnya?
Ada, yaitu bibit dari anakan alami dan dari stump. Ada beberapa
cara lain lagi yang membutuhkan teknologi dan biaya tinggi untuk
membibitkan jati, antara lain dengan kultur jaringan.
Pembuatan Bibit | 25
Gambar 4.5. Anakan alami yang dapat dijumpai di kebun jati
Bagaimana cara menyiapkan bibit dari anakan alami?
• Bahan cabutan diambil dari anakan yang tumbuh rapat di areal
tanaman jati.
• Bibit yang siap dipindahkan adalah yang sudah mempunyai 2-3
pasang daun, berdaun sehat, berbatang lurus dan seimbang.
• Anakan ini dicabut pada musim hujan, daun dikurangi separuhnya
dan sebagian akar tunggangnya dipotong, kemudian langsung
ditanam di polibag.
• Setelah berumur 3-4 bulan di persemaian, bibit siap ditanam.
Apakah stump itu?
• Stump adalah bibit yang berasal dari semai yang telah
dihilangkan seluruh daun dan bulu-bulu akarnya sehingga yang
tersisa hanya sebagian batang dan sebagian akar utama.
26 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
• Stump dapat digunakan untuk memindahkan bibit atau anakan
alami yang sudah cukup besar dengan diameter batang 2-3 cm.
• Stump juga dapat digunakan untuk mempermudah pengiriman
bibit, karena lebih ringan dan ringkas ketika dikirimkan.
Bagaimana cara membuat stump?
• Bibit atau anakan dicabut dan pertahankan agar akar masih cukup
panjang.
• Batang dan akar tunggang dipotong. Batang disisakan sekitar
3-4 cm dan akar disisakan sekitar 15-20 cm. Bulu-bulu akar juga
dipotong.
• Untuk pengiriman, stump dibungkus dengan bahan yang lembap,
misalnya pelepah pisang.
• Sebelum ditanam di lapangan, tumbuhkan dahulu stump di
polibag dan tempatkan pada lingkungan yang ternaungi.
3-4 cm
15-20 cm
Gambar 4.6. Cara membuat stump jati
Pembuatan Bibit | 27
• Jika dari stump tumbuh tunas lebih dari satu, pilihlah salah satu
tunas yang tumbuhnya paling baik untuk dijadikan batang utama.
Tunas-tunas yang lain dipangkas.
• Bibit siap ditanam setelah daun dan akar tumbuh baik dan kuat.
Bagaimana cara memelihara bibit di persemaian?
• Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan meliputi penyiraman,
pemupukan, penyiangan, pemangkasan (pewiwilan), pemotongan
akar yang keluar dari polibag, penjarangan, dan pemberantasan
hama penyakit.
• Penyiraman dilakukan dua kali sehari pada pagi dan sore hari, atau
minimal satu kali sehari di sore hari.
• Pemupukan dilakukan pada umur 1 bulan setelah penyapihan
dengan menggunakan pupuk NPK, dan diulang pada umur
2 bulan, dengan dosis 2 gr per bibit (sekitar ½ sendok teh)
setiap pemupukan.
• Penyiangan dilakukan dengan membersihkan gulma yang berada
di dalam polibag maupun yang berada di sela-sela antar polibag.
• Pemangkasan dilakukan setelah bibit berketinggian
+20 cm dengan membuang daun-daun tua, kering, busuk,
atau berpenyakit, dan sisakan tiga pasang daun teratas.
Gambar 4.7. Bibit jati muda di persemaian
28 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
• Akar yang keluar dari polibag dipotong secara rutin agar akar tidak
menembus ke dalam tanah. Pemotongan terakhir minimal 1–2
minggu sebelum bibit didistribusikan.
• Jarak antar bibit perlu dijarangkan apabila antar bibit sudah saling
bersinggungan atau daunnya saling menutupi.
• Pemberantasan hama penyakit akan diterangkan lebih rinci pada
Bagian 6.
Bagaimana ciri bibit yang baik dan siap tanam?
Diameter batang dan tinggi bibit tidak bisa dijadikan acuan untuk
menentukan kualitas bibit.
Ciri bibit yang berkualitas baik dan siap tanam adalah:
• Media sarang dan akarnya kuat mengikat media. Ciri-cirinya
adalah jika bibit dicabut dari polibag maka media dan akar
akan membentuk gumpalan yang utuh namun berpori/tidak
keras padat.
• Batang tunggal, kokoh, dan sudah berkayu. Bibit tumbuh tegak,
antara diameter dan tinggi tampak seimbang.
• Pucuk sehat, daun segar, dan tidak terserang hama atau penyakit.
Daun dan pucuk segar dan sehat
Batang kokoh, berkayu berwarna
kecoklatan
Media sarang, akar kuat mengikat
media (bila dicabut media dan akar
membentuk gumpalan utuh)
Gambar 4.8. Ciri-ciri bibit yang baik dan siap untuk ditanam
5
Penanaman
5.1. Perancangan pola tanam
Bagaimana pola penanaman jati yang sebaiknya
dilakukan oleh petani?
• Beberapa pola tanam yang bisa dikembangkan adalah monokultur
(tanaman sejenis), campuran, dan tumpangsari.
• Penentuan pola tanam jati ini hendaknya mempertimbangkan
kondisi lahan dan tujuan penggunaan lahan.
• Pada lahan subur, pengembangan hutan jati sebaiknya
menggunakan pola tanam tumpangsari, karena dapat
memaksimalkan keuntungan dari pemanfaatan lahan. Selain kayu,
petani juga memperoleh keuntungan dari hasil pertanian.
• Pada tanah tidak subur, berbatu-batu, dan miring sebaiknya
dimanfaatkan untuk pola monokultur atau campuran, sehingga
penanaman pohon juga bertujuan untuk memperbaiki kualitas
tanah serta mencegah tanah longsor dan erosi.
• Untuk menambah keanekaragaman produk agar dapat diperoleh
pendapatan jangka pendek, menengah, dan jangka panjang
sebaiknya pola yang dikembangkan adalah campuran atau
tumpangsari.
• Jika lokasi lahan jauh dari tempat tinggal, atau pemilik lahan
tidak memiliki cukup tenaga kerja untuk melakukan kegiatan
pemeliharaan rutin, maka pola tanam monokultur, atau campuran
lebih tepat dibanding dengan memilih pola tumpangsari.
30 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
Gambar 5.1. Hutan jati rakyat dikelola dengan pola tanam monokultur
Bagaimana pola penanaman monokultur?
• Pada pola monokultur hanya terdapat satu jenis tanaman saja
yang ditanam.
• Pola ini sering dipilih jika pemilik lahan kurang membutuhkan
sumber penghasilan lainnya, misalnya untuk tanaman pertanian,
atau tidak memiliki cukup tenaga kerja untuk mengelola lahan
secara intensif.
• Alasan lainnya adalah, pemilik mempunyai lahan yang luas atau
mempunyai pekerjaan dan/atau sumber pendapatan lain yang
cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Apa kelebihan dan kelemahan pola tanam
monokultur?
• Keuntungan pola ini adalah dengan luasan yang sama akan
diperoleh volume kayu yang lebih banyak, kualitas yang lebih baik
dan seragam dibandingkan dengan pola penanaman campuran
atau tumpangsari.
• Pengelolaan juga lebih mudah karena jenis tanamannya seragam.
Penanaman | 31
• Pola ini memiliki kelemahan, yaitu apabila terjadi serangan hama
dan penyakit, penyebarannya lebih mudah meluas.
• Karena kebutuhan haranya sama, maka persaingan antar pohon
untuk mendapatkan hara pada pola monokultur lebih tinggi dari
pada pola campuran.
Apa yang dimaksud pola penanaman tumpangsari?
• Sistem penanaman
tumpangsari adalah
penanaman jati (tanaman
pokok) yang dikombinasikan
dengan tanaman pertanian/
semusim di dalam satu area.
• Di masyarakat, pola ini dapat
diterapkan di lahan tegalan
atau di pematang sawah.
Gambar 5.2. Jati yang dikelola secara tumpangsari di Gunungkidul
32 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
• Keuntungan dari sistem tumpangsari adalah disamping
mendapatkan hasil kayu, petani juga memperoleh hasil jangka
pendek, berupa panen dari tanaman yang ditumpangsarikan,
seperti jagung, kacang tanah, singkong, talas, nilam, dan empon-
emponan (kunir, jahe, temuireng, dll).
• Kegiatan pengolahan tanah dan pemupukan ketika merawat
tanaman semusim berpengaruh baik terhadap pertumbuhan
jati. Pemangkasan akar jati yang terjadi ketika pengolahan tanah
menurut pengalaman petani juga memacu pertumbuhan
pohon jati.
• Sebaiknya hindari tumpangsari dengan tanaman suku Solanaceae
(terong-terongan) ketika jati masih muda. Tanaman ini bisa
menjadi sarana penularan (inang) penyakit layu (keterangan lebih
lengkap lihat Bagian 6).
• Pola tumpangsari juga dapat dikombinasikan dengan tanaman
perkebunan (misal: kakao atau kelapa sawit).
Apa yang dimaksud dengan hutan campuran?
Hutan campuran adalah lahan yang ditanami berbagai jenis
pepohonan, baik seumur maupun tidak seumur yang memiliki ciri-ciri
sebagai hutan.
Gambar 5.3. Hutan dengan pola tanam campuran
Penanaman | 33
Apa kelebihan dan kelemahan hutan campuran?
• Hutan campuran terdiri dari beberapa jenis pohon dengan masa
tebang yang sama atau berbeda, dan memiliki tinggi tajuk yang
berbeda. Pola tanam seperti ini memiliki kelebihan, antara lain:
a. lebih tahan terhadap gangguan hama penyakit,
b. penggunaan ruang tumbuh maupun sistem perakarannya
lebih baik,
c. variasi lahan dapat dimanfaatkan secara maksimal,
d. lebih tahan terhadap terpaan angin, dan
e. selain untuk tujuan produksi juga cocok untuk perbaikan
kualitas lahan dan lingkungan.
• Perbedaan daur tebang dan/atau kombinasi dengan tanaman
penghasil produk non-kayu menambah keanekaragaman
(diversifikasi) penghasilan untuk jangka pendek, menengah,
dan panjang.
• Pola ini dapat menghasilkan produk yang lebih mampu mengikuti
perbedaan atau perubahan permintaan pasar.
• Pola tanam ini memiliki kelemahan, antara lain, jika bibit
jati ditanam berdampingan dengan tanaman yang tumbuh
cepat (misal akasia, sengon) maka tanaman jati akan kalah
bersaing untuk mendapatkan makanan dan cahaya, sehingga
pertumbuhan jati bisa terhambat.
• Karena masa tebang yang berbeda, jika tidak dilakukan secara
hati-hati maka penebangan akan merusak tanaman lain di
sekitarnya.
Jenis-jenis tanaman apa yang sebaiknya
dikombinasikan dengan jati di hutan campuran?
Pemilihan jenis pohon yang akan dikombinasikan dengan jati
disesuaikan dengan tujuan penanaman dan kondisi lahan.
• Agar dapat tumbuh dengan baik, dipilih jenis-jenis pohon yang
sesuai dengan iklim dan kondisi lahannya. Misal:
34 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
-- pada daerah dataran tinggi, pohon yang ditanam bersamaan
dengan jati hendaknya adalah jenis-jenis yang cocok di
tempat tinggi, misalnya: mindi (Melia azedarach), waru gunung
(Hibiscus macrophyllus), atau suren (Toona sp), sedangkan pada
lahan yang beriklim kering dapat dikombinasikan dengan
tanaman yang dapat tumbuh baik di tempat kering, misal
cendana (Santalum album) (Lihat Tabel 5.1).
-- pada lahan yang relatif subur bisa dikombinasikan dengan
tanaman yang tumbuh cepat, seperti sengon (Paraserianthes
falcataria), gmelina (Gmelina arborea), atau jenis lainnya.
• Untuk berjaga-jaga terhadap berbagai macam kebutuhan,
dan untuk menghasilkan pendapatan jangka menengah dan
panjang, perlu dipertimbangkan susunan jenis yang akan ditanam
berdasarkan produk dan masa tebangnya. Jati dapat ditanam
bersamaan dengan salah satu atau beberapa jenis pohon seperti:
-- pohon lambat tumbuh lainnya (mahoni, sonokeling), untuk
berjaga-jaga terhadap perubahan kebutuhan pasar.
-- pohon cepat tumbuh (sengon, gmelina), untuk menyediakan
kebutuhan jangka menengah.
-- penghasil buah buahan dan sayuran (mangga, durian, petai,
melinjo, kemiri), untuk mendapatkan penghasilan jangka
pendek (bulanan atau tahunan).
-- pakan ternak dan kayu bakar (tayuman/Bauhinia purpurea,
lamtoro/Leucaena leucocephala, kaliandra/Caliandra
calothyrsus, gamal/gliriside/Gliricidia sepium), atau
-- penghasil komoditi non kayu lainnya (misal cendana).
• Untuk tujuan menjaga dan memperbaiki kualitas lahan dan
lingkungan perlu dipertimbangkan komposisi jenis, berdasarkan
tinggi rendahnya tajuk dan manfaatnya terhadap lahan. Misal:
-- jenis-jenis yang dapat menyuburkan tanah (jenis polong-
polongan: lamtoro, turi),
-- memiliki akar yang dalam untuk menahan longsor (misal:
kemiri, petai, mahoni), atau
-- hindari jenis-jenis pohon yang rakus air (misal: pinus).
Penanaman | 35
• Selain variasi jenis, jika jati difungsikan sebagai tabungan untuk
keperluan mendadak, maka pohon jati dapat dirancang agar
memiliki umur yang berbeda sehingga kebutuhan bisa dipenuhi
secara berkelanjutan dengan penerapan pola tebang pilih.
Tabel 5.1. Kesesuaian jenis-jenis pohon dengan tempat tumbuh (ketinggian
tempat dan curah hujan)
Ketinggian Iklim kering Iklim basah
tempat (Curah hujan < 2000 (Curah hujan > 2000
(m dpl) mm/thn) mm/thn)
Dataran Akor, alpukat, bayur, beringin, Akor, asem, beringin, bungur,
rendah cemara laut, durian, gamal, durian, gmelina, hantap,
gmelina, hantap, huru, huru, jabon, jarak, kemiri,
(<350)
jambu biji, jarak pagar, kihiang, mahoni, mangium,
jeruk bali, johar, kedaung, mindi, nangka, pepaya, pulai,
kemiri, kelapa, kepel, keranji, salak, saninten, sengon,
lamtoro, mahoni, mangga, sirsak, sukun, sungkai, suren,
matoa, mimba, mindi, trembesi, turi, ulin
nangka, pepaya, pulai,
rambutan, randu, salak,
sirsak, sonokeling, suren,
tayuman/kupu-kupu, tisuk/
waru gunung, trembesi, turi
Dataran Akor, alpukat, aren, beringin, Akor, asem, alpukat,
medium durian, gamal, gmelina, beringin, bungur, belimbing,
hantap, huru, jarak pagar, cempedak, cempaka,
(350 – 700)
jambu biji, jambu mente, cengkeh, damar, delima,
jeruk, johar, kaliandra, kapok, durian, duku, gmelina,
kedaung, kedondong, huru, hantap, jabon, jarak,
kemiri, kelapa, kayu afrika, jeruk, jambu air, jambu biji,
keranji, kelapa, lamtoro, jengkol, kedondong, kelapa
lengkeng, mahoni, mangga, sawit, kakao, kaliandra, karet,
mimba, mindi, nangka, kelapa, kemiri, kihiang, kopi
pepaya, picung, pinus, pulai, robusta, lengkeng, mahoni,
rambutan, randu, rasamala, manggis, mangium, melinjo,
sonokeling, suren, salak, mindi, nangka, pepaya,
sukun, sirsak, tisuk, petai, pinus, pisang, pulai,
trembesi, turi rambutan, rasamala, salak,
saninten, sawo, sengon,
sirsak, srikaya, sukun,
sungkai, suren, trembesi,
turi, ulin
36 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
Ketinggian Iklim kering Iklim basah
tempat (Curah hujan < 2000 (Curah hujan > 2000
(m dpl) mm/thn) mm/thn)
Dataran Alpukat, apel, aren, beringin, Asem, alpukat, beringin,
tinggi gamal, gmelina, hantap, huru, bungur, cengkeh, damar,
jambu biji, jarak pagar, jeruk, gmelina, huru, hantap, jabon,
( > 700)
johar, kaliandra, kayu afrika, jambu air, jambu biji, jarak,
kedondong, kelapa, kemiri, jeruk, kaliandra, kedondong,
keranji, kesambi, kopi arabika, kemiri, kesambi, kesemek,
lamtoro, lengkeng, mahoni, kihiang, kina, kopi arabika,
mindi, mangga, manglid, lengkeng, mahoni, mindi,
nanas, nangka, pepaya, nangka, pepaya, pinus, pulai,
picung, pinus, pulai, randu, rasamala, saninten, sawo,
rasamala, sukun, sirsak, suren, sengon, sirsak, srikaya, sukun,
terap, tisuk, trembesi, weru suren, teh, trembesi, weru
Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2006), Mindawati dkk. (2006),
Soerianegara dan Lemmens (1994), dan dari berbagai sumber
5.2. Persiapan lahan
Apa saja yang perlu dilakukan dalam persiapan lahan
untuk penanaman jati?
Kegiatan persiapan lahan antara lain meliputi: pemilihan lokasi,
pembersihan lahan dari semak dan akar-akar gulma, pembongkaran
tunggak, pembalikan tanah, penghancuran bongkahan tanah, dan
penyingkiran batu.
Mengapa persiapan lahan diperlukan?
Persiapan lahan diperlukan agar lahan menjadi tempat tumbuh yang
baik untuk jati. Pembersihan lahan dan pengolahan tanah antara
lain berfungsi untuk mengurangi tumbuhan pengganggu (gulma),
memperbaiki kualitas tanah. Pembersihan lahan juga ditujukan untuk
mengurangi naungan, karena jati termasuk tumbuhan yang tidak
tahan naungan.
Penanaman | 37
Bagaimana memilih lahan yang cocok untuk jati?
Secara alami pohon jati dapat tumbuh pada lahan-lahan yang berada
di tepi pantai hingga daerah tinggi (1.000 m dpl), beriklim kering
maupun basah (curah hujan 1.250-3.000 mm/th), dan pada tanah
berjenis regusol-grumosol. Namun, untuk mendapatkan tegakan jati
yang menghasilkan kayu berkualitas tinggi, pilihlah lahan yang:
• memiliki kandungan kapur dan lempung-liat cukup tinggi,
• memiliki perbedaan musim kemarau dan musim penghujan
yang nyata,
• berada pada ketinggian kurang dari 700 m dpl.
Gambar 5.4. Lahan terasering di Gunungkidul
Tanah kami miring dan berbatu, bagaimana
pengolahannya?
• Tanah miring memiliki risiko terjadi longsor dan erosi sehingga
lapisan tanah yang subur cepat terkikis atau hanyut, untuk itu
sebaiknya dibuat terasering.
• Batu dimanfaatkan untuk pematang/penguat teras.
• Pada tanah yang banyak mengandung batu dapat dikembangkan
pola hutan jati monokultur atau campuran. Dengan pola ini
pengolahan tanah tidak sesering pola tumpangsari.
38 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
5.3. Penanaman
Apa saja kegiatan persiapan penanaman?
Persiapan penanaman meliputi:
• Pengaturan jarak tanam,
• Pembuatan dan pemasangan ajir, dan
• Pembuatan lubang tanam.
Berapa seharusnya jarak tanam jati?
• Pada pola monokultur jarak tanam yang
sering digunakan adalah 2,5 x 2,5 m; 3 x 1 m;
2 x 3 m; dan 3 x 3 m.
• Jarak tanam yang rapat akan menghasilkan
batang yang lebih lurus dan pertumbuhan
meninggi yang lebih cepat, sedangkan jarak
tanam yang lebih lebar akan menghasilkan
diameter batang yang lebih besar.
• Kombinasi yang baik adalah ditanam rapat
pada awal penanaman agar pohon tumbuh
tinggi lurus, kemudian dilakukan penjarangan
agar batang tumbuh membesar.
• Pada sistem tumpangsari, jati dapat ditanam
rapat dalam bentuk larikan. Antar larikan
dibuat jarak yang lebih lebar untuk ditanami
tanaman semusim, misalnya singkong,
Gambar 5.5. Jati yang ditanam
jagung, kedelai, kacang tanah, atau nilam. dengan jarak teratur
Mengapa jarak tanam harus diatur?
• Jarak tanam yang teratur akan memudahkan pemeliharaan dan
pengawasan serta memberikan kesan rapi dan bersih.
• Memberi ruang yang cukup kepada pohon agar dapat
memaksimalkan pertumbuhan tajuk, batang, dan akar.
Penanaman | 39
• Mengurangi persaingan antar pohon dalam mendapatkan air dan
makanan (hara) dari dalam tanah sehingga pohon dapat tumbuh
dengan maksimal.
• Mengurangi persaingan antar pohon dalam mendapatkan cahaya
dan memperbaiki sirkulasi (pertukaran) udara sehingga batang
dan tajuk tumbuh sehat.
• Mengurangi kemungkinan kerusakan pohon akibat terpaan angin
yang kencang.
Bagaimana jika kondisi lahannya tidak
memungkinkan untuk dilakukan pengaturan
jarak tanam?
Untuk daerah-daerah tertentu, yang lahannya berbatu-batu atau
lapisan tanahnya tipis, sering kali bibit tidak dapat ditanam dengan
jarak teratur. Pada lahan seperti ini, kemampuan bibit untuk hidup
juga kecil, sehingga penanamannya adalah:
• Jarak tanam boleh tidak teratur.
• Bibit ditanam dengan jarak tanam
yang rapat (minimal 1 m), pada
tempat-tempat yang lapisan tanahnya
memungkinkan bibit untuk tumbuh
(kedalaman tanah minimal 20 cm).
• Pada lahan seperti ini, bibit akan
terseleksi secara alami. Bibit-bibit yang
kuat atau ditanam pada tempat yang
cocok akan dapat bertahan hidup.
• Setelah berumur sekitar 3-5 tahun,
pohon-pohon yang tumbuh rapat
dan tajuknya telah tumpang tindih
dilakukan penjarangan, yaitu dengan
cara mematikan tanaman yang
penampilan atau pertumbuhannya
buruk, hingga jarak tanamnya menjadi Gambar 5.6. Pada lahan berbatu,
pengaturan jarak tanam sulit
minimal 2 m. dilakukan
40 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
• Penjarangan berikutnya bisa dilihat pada Bagian 6 tentang
penjarangan.
Berapa sebaiknya ukuran lubang tanam?
• Ukuran lubang tanam sebaiknya 30 x 30 x 30 cm.
• Untuk daerah yang berbatu, lubang tanam dapat dibuat dengan
lebar 10-20 cm,dengan menggunakan linggis.
• Di setiap lubang tanam ditancapkan ajir terbuat dari bilahan
bambu atau kayu yang berfungsi untuk menandai lokasi
lubang tanam.
Teknik apa saja yang digunakan dalam
penanaman jati?
• Hutan jati rakyat dapat berasal dari permudaan alami, yaitu
petani mengandalkan anakan yang tumbuh alami di kebun untuk
dipelihara menjadi tegakan dewasa.
• Selain itu, hutan jati juga dapat dibangun melalui permudaan
buatan, yaitu tanaman jati dibesarkan dari benih atau bibit yang
sengaja ditanam pada tempat atau dengan jarak tanam tertentu.
• Dalam permudaan buatan, ada beberapa cara penanaman jati
yaitu: ditanam langsung dengan menabur benih di lahan yang
disebut dengan sistem cemplongan, atau dengan cara menanam
bibit yang berasal dari cabutan atau bibit dari persemaian.
Bagaimana cara penanaman dengan sistem
cemplongan?
• Lahan yang direncanakan ditanami jati, dibuat lubang-lubang
(cemplongan) dengan menggunakan kayu runcing/tugal
atau linggis.
• Benih jati dimasukkan ke dalam lubang cemplongan sebanyak
2-3 biji. Dengan perkiraan dari masing-masing cemplongan akan
tumbuh minimal satu bibit.
Penanaman | 41
• Jika di dalam satu cemplongan tumbuh lebih dari satu bibit, maka
dilakukan seleksi, Seleksi dilakukan ketika bibit berumur 1 tahun
(telah melewati satu musim kemarau). Dipilih satu bibit yang
pertumbuhannya paling bagus, kemudian dipelihara.
• Jika semua bibit di dalam satu cemplongan pertumbuhannya
bagus, maka pilih salah satu bibit yang akan dibiarkan tumbuh, bibit
lainnya dicabut untuk ditanam di cemplongan lain yang bijinya
tidak tumbuh.
Bagaimana cara penanaman dengan
menggunakan bibit?
• Jika dibawa dari persemaian yang letaknya jauh dari lokasi
penanaman, biasanya bibit akan layu akibat kekurangan air selama
perjalanan.
• Bibit tersebut sebaiknya jangan langsung ditanam.
• Bibit dipelihara dekat lokasi penanaman selama 1 minggu, agar
beradaptasi dengan lingkungan penanaman.
• Bibit siap ditanam pada musim hujan atau ketika curah hujan sudah
mencukupi.
• Sebelum penanaman, setiap lubang tanam diberi pupuk dasar
terlebih dahulu dengan menggunakan 1 kg kompos (berasal dari
daun-daunan) atau pupuk kandang (berasal dari kotoran ternak).
• Pastikan bahwa kotoran ternak yang dipakai sudah benar-benar
matang menjadi pupuk agar tidak berbahaya bagi bibit.
• Penanaman dilakukan 2-4 minggu setelah pemberian pupuk dasar.
• Bibit dikeluarkan dari kantung semai secara hati-hati agar media
tanam tetap utuh.
• Kemudian bibit dimasukkan pada lubang tanam, dan ditimbun
dengan tanah yang sebelumnya adalah tanah lapisan atas/humus.
Selanjutnya masukkan tanah yang berasal dari lapisan bawah.
• Tanah dipadatkan dengan cara bibit dipegang pada bagian
batangnya dan tanah di sekitar bibit diinjak perlahan.
• Tempatkan kantung semai pada ujung ajir, sebagai tanda bahwa
bibit telah ditanam dan kantung semai tidak ikut tertanam.
42 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
Tanah lapisan
Tanah lapisan atas /
bawah
humus
30 cm
30 cm
1 2
1 kg pupuk
kandang atau
kompos Tanah lapisan atas/
humus
3 4
Tanah lapisan
bawah Dipadatkan
5 6
Gambar 5.7. Teknik penanaman bibit
6
Pemeliharaan Tegakan
Dalam pemeliharaan tegakan jati, kegiatan-kegiatan
apa saja yang sebaiknya dilakukan?
Agar tegakan jati yang kita miliki dapat tumbuh dengan baik, cepat,
dan menghasilkan kayu yang berkualitas, maka harus dilakukan
kegiatan pemeliharaan yang meliputi: pembersihan gulma,
pemupukan, penyulaman, pemangkasan, penjarangan, pemeliharaan
terubusan, dan pencegahan hama penyakit.
6.1. Pembersihan gulma
Perlukah tanaman bawah, semak atau rumput
dibersihkan dari sekitar pohon jati?
• Ya, perlu. Pada tanaman jati muda, gulma (tanaman pengganggu)
seperti tumbuhan merambat, semak, atau rumput di sekitar
tanaman jati perlu dibersihkan secara rutin, karena gulma
merupakan saingan tanaman dalam memperoleh cahaya, air, dan
unsur hara dalam tanah, dan tumbuhan yang merambat juga
mengganggu pertumbuhan jati, bahkan bisa mematikan.
• Pada tanaman jati dewasa atau setelah tajuk bersinggungan,
pembersihan gulma tidak sesering pada tanaman muda. Gulma
akan mati dengan sendirinya.
• Pembersihan gulma akan lebih berhasil (lebih efektif ) jika tanaman
jati ditumpangsarikan dengan tanaman pertanian. Pengolahan
lahan pada tanaman pertanian sekaligus menjadi kegiatan
pembersihan gulma.
44 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
6.2. Pemupukan
Bagaimana pemupukannya?
• Pemupukan dilakukan pada umur 1, 2 dan 3 tahun dengan
pupuk NPK.
• Dosis pupuk pada tahun pertama 50 gr, tahun kedua 100 gr dan
tahun ketiga 150 gr per pohon.
• Dapat pula digunakan pupuk kandang/kompos dengan takaran
10 kg per lubang tanam.
• Pada lahan yang asam (pH rendah) dan kurang kapur (Ca), areal di
sekitar tanaman perlu diberi kapur tanaman (kapur dolomit) agar
pH-nya naik.
• Pemberian dolomit disarankan hanya pada daerah yang memiliki
pH tanah asam. Dolomit bisa diberikan bersama-sama dengan
pemberian pupuk dasar sebelum penanaman.
• Dosis yang disarankan untuk pemberian kapur dolomit adalah
sekitar 150 sampai 250 gr tiap lubang tanam.
• Sebaiknya pemupukan pada tanaman hutan merupakan satu
kesatuan kegiatan dengan pemupukan tanaman pertanian dalam
pola tumpang sari.
• Teknik pemberian pupuk dapat dengan cara membuat lubang
dengan gejik (pasak kayu) di sebelah kanan-kiri tanaman.
• Dapat pula dengan membuat lubang sedalam 10-15 cm,
melingkari tanaman pokok dengan jarak 0,5-1,5 m dari batang jati
(melingkar selebar tajuk).
6.3. Penyulaman
Mengapa perlu penyulaman?
• Penyulaman adalah kegiatan mengganti tanaman yang mati
dengan bibit baru.
• Penyulaman diperlukan untuk mempertahankan jumlah tanaman
atau kerapatan pohon jati dalam luasan tertentu.
Pemeliharaan Tegakan | 45
• Penyulaman juga berguna untuk mengganti tanaman yang patah,
tidak sehat, atau pertumbuhannya buruk.
• Penyulaman hendaknya dilakukan pada musim hujan.
6.4. Pemangkasan
Mengapa pemangkasan diperlukan?
• Pemangkasan (pruning) merupakan kegiatan pemangkasan
cabang pohon. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan tinggi
bebas cabang dan mengurangi mata kayu dari batang utama.
• Dengan menghilangkan cabang atau ranting yang tidak
diperlukan maka nutrisi pohon (sari makanan)
akan lebih terpusat untuk pertumbuhan pohon
(batang dan tajuk utama).
• Kayu hasil pemangkasan dapat dimanfaatkan
sebagai kayu bakar dan tambahan pendapatan
petani.
• Dapat mengurangi risiko kebakaran hutan.
Tajuk yang bersinggungan dari lantai hutan
hingga tajuk pohon teratas akan memudahkan
api menjalar menjadi besar.
Bagaimana cara pemangkasan?
• Pemangkasan dilakukan mulai tahun ke-3.
• Setengah bagian bawah (50%) dari tinggi total
pohon dibersihkan dari cabang dan ranting.
Pemangkasan cabang yang berlebihan (lebih
dari 50%) dapat menghambat pertumbuhan
pohon jati.
• Pemangkasan dilakukan ketika memasuki awal Gambar 6.1 Pemangkasan
dengan menggunakan
musim hujan, yaitu sekitar bulan Agustus. gunting pangkas atau gergaji
yang disambung galah
• Pemangkasan sebaiknya dilakukan ketika
cabang atau ranting masih berumur muda
(berukuran kecil).
46 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
• Pemotongan cabang sebaiknya sedekat mungkin dengan batang
utama, namun tidak sampai memotong leher cabang. Leher
cabang adalah bagian yang membesar pada pangkal cabang.
• Sisa cabang yang terlalu panjang pada batang akan menyebabkan
cacat mata kayu lepas, atau menjadi sarang bagi hama dan
penyakit. Pemotongan cabang yang terlalu dalam akan
mengakibatkan luka yang besar sehingga lambat tertutup dan
juga berisiko terserang penyakit.
• Pemangkasan dilakukan dengan menggunakan gergaji/gunting
wiwil. Untuk ranting kecil/muda pewiwilan dapat menggunakan
sabit atau golok yang tajam.
• Agar tidak menjadi tempat masuknya hama dan penyakit, bekas
pangkasan dapat ditutup dengan cat atau ter.
Gambar 6.2. Pengaruh sisa pemangkasan cabang terhadap kualitas batang
Pemeliharaan Tegakan | 47
50%
50%
Gambar 6.3. Tinggi cabang yang sebaiknya dipangkas dalam kegiatan
pemangkasan
Gambar 6.4. Beberapa macam alat yang dapat digunakan untuk
pemangkasan cabang
48 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
6.5. Penjarangan
Mengapa pohon harus dijarangkan?
• Pohon yang terlalu rapat mengakibatkan persaingan antar pohon
untuk mendapatkan cahaya, air, dan nutrisi menjadi tinggi dan
berakibat tanaman tumbuh lambat, dan bentuk batangnya tidak
serasi (tinggi kurus).
• Tanaman yang tertekan dan tidak sehat sebaiknya dibuang untuk
memberi kesempatan kepada pohon yang memiliki kualitas baik
(tumbuhnya cepat, sehat, dan batangnya bagus) dapat tumbuh
maksimal.
• Kegiatan ini bertujuan untuk: (1) mencegah pohon yang sakit
agar tidak menularkan penyakitnya ke pohon yang lain, dan (2)
penyebaran (distribusi) tanaman menjadi lebih merata.
• Hasil penjarangan dapat digunakan untuk menambah pendapatan.
Hasil penjarangan yang berdiameter di atas 10 cm dapat digunakan
untuk kayu pertukangan dan yang berukuran lebih kecil untuk
kayu bakar.
Bagaimana cara menjarangkan pohon?
• Pada hutan jati monokultur seumur, penjarangan dilakukan setiap
3-5 tahun sampai pohon berumur 15 tahun. Penjarangan harus
dilakukan lebih sering jika pohon yang ditebang di setiap kegiatan
penjarangan jumlahnya sedikit.
• Setelah berumur lebih dari 15 tahun, penjarangan dilakukan setiap
5-10 tahun.
• Pohon yang dijarangkan (ditebang) adalah pohon yang memiliki ciri:
terserang penyakit, bentuk batangnya cacat atau tumbuh abnormal,
pertumbuhannya lambat atau tertekan, dan bernilai rendah.
• Jika ditemukan jati dengan bentuk batang tidak bagus pada lahan
yang kosong, maka pohon tersebut tidak perlu dijarangi agar pohon
jati tersebar merata. Pohon tersebut dapat juga ditebang kemudian
terubusannya dipelihara. Dengan cara ini menurut pengalaman
Pemeliharaan Tegakan | 49
Gambar 6.5. Pohon yang ditebang dan dipertahankan dalam kegiatan
penjarangan yang ditanam dengan jarak teratur
petani di Gunungkidul dapat dihasilkan batang baru yang
lebih lurus.
• Jumlah pohon yang ditinggalkan setelah penjarangan dapat
didasarkan pada ukuran tinggi pohon yang dipengaruhi oleh
umur dan kesuburan tanah (bonita).
• Berdasarkan tabel penjarangan Perum Perhutani, ketika rata-rata
tinggi pohon 13,5-15,5 m, pohon yang ditinggalkan berjumlah
antara 1.000-1.100 pohon/ha. Pada lahan yang subur, hal ini bisa
dicapai pada umur 7 tahun, sedangkan pada tanah dengan
bonita rendah baru bisa dicapai setelah jati berumur 17 tahun
(Lihat Tabel 6.1).
Tabel 6.1. Pohon tertinggal pada penjarangan berdasarkan kesuburan/
tinggi pohon
Tinggi pohon Jumlah pohon Umur (tergantung Jarak tanam
(m) tertinggal kesuburan tanah) (m)
(pohon/ha) (th)
11,0 - 13,0 1.300 -1.500 5 - 11 2,5 sd 3
13,5 - 15,5 1.000- 1.100 7 - 17 3
15,5 - 17,0 800-850 10 - 21 3,5
17,5 - 21,0 500-550 15 - 34 4 sd 4,5
Sumber : Modifikasi Tabel Penjarangan Perum Perhutani (Perhutani 2001)
50 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
Bagaimana jika pohon jatinya tidak seumur?
• Pada hutan monokultur, seumur, dan jarak tanam teratur,
penjarangan relatif mudah dilaksanakan. Pohon yang tumbuh
lambat atau tertekan akan mudah dibedakan dengan pohon
normal jika pohon jatinya seumur.
• Untuk hutan jati rakyat yang tidak seumur dan jarak tanamnya
tidak teratur, pelaksanaan penjarangan lebih sulit. Pedoman
umum yang dapat dipakai adalah:
a. Pusatkan perhatian pada masing-masing pohon, jika suatu
pohon ditebang, bagaimana kelak pengaruhnya terhadap
pohon-pohon yang ada di sekitarnya, atau bagaimana
pertumbuhannya jika pohon-pohon di sekitarnya yang
ditebang.
b. Jika tajuk saling tumpang tindih, hal ini merupakan tanda
bahwa tegakan harus dijarangi.
c. Tebanglah pohon-pohon yang berada di bawah tajuk pohon
lain (tidak mendapatkan cukup cahaya), berpenyakit, kondisi
atau kualitas batangnya buruk.
d. Pohon tidak perlu ditebang/dijarangi jika hanya tajuk bagian
bawah yang ternaungi.
e. Anakan atau tanaman muda yang berada di tempat terbuka
dibiarkan tetap tumbuh.
f. Untuk menjaga keragaman ukuran/umur pohon, misal
agar diperoleh variasi masa panen, sebaiknya tegakan yang
tertinggal setelah penjarangan diupayakan masih mewakili
berbagai kelas umur/diameter.
• Penjarangan untuk memperbaiki kualitas jati dapat juga dilakukan
terhadap pohon berukuran besar (pohon yang telah laku dijual),
dikenal dengan penjarangan komersial.
• Pola penjarangan ini cocok untuk hutan jati yang difungsikan
sebagai tabungan. Ketika membutuhkan dana, petani tidak selalu
menebang pohon yang terbesar. Pohon yang ditebang dipilih,
agar pohon-pohon yang tertinggal tumbuh optimal dan
tersebar merata.
Pemeliharaan Tegakan | 51
• Penjarangan komersial dilakukan pada:
a. pohon besar untuk membuka tajuk agar pohon-pohon yang
lebih kecil mendapat cahaya lebih banyak sehingga tumbuh
lebih cepat dan sehat,
b. pohon yang jika ditebang akan menyebabkan tajuk pohon
seumur di sekitarnya (yang memiliki bentuk lebih bagus)
berkembang lebih subur dan tumbuh maksimal, atau
c. pohon-pohon yang terlalu rapat.
X C1 X C2 XX X X X X C3 C1 X
Keterangan:
X = Penjarangan non komersial
C = Penjarangan komersial
C1 = Pohon dijarangi untuk membuka tajuk agar tanaman yang potensial dapat
tumbuh optimal
C2= Pohon yang jika ditebang menyebabkan tajuk pohon di sekitarnya
berkembang lebih subur
C3 = Pohon yang terlalu rapat
Gambar 6.6. Contoh penjarangan pada hutan jati tidak seumur
52 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
6.6. Pemeliharaan terubusan
Bagaimana memelihara terubusan dari tunggak jati?
• Tunggak jati bekas tebangan jika dibiarkan akan menghasilkan
terubusan yang dapat dipelihara hingga dewasa.
• Terubusan biasanya mampu tumbuh lebih cepat dari pada pohon
yang berasal dari benih.
Gambar 6.7. Pengelolaan pohon jati dari terubusan bekas tebangan
a) Terubusan saat masih muda, b) Satu batang disisakan untuk tumbuh
menjadi pohon besar
• Karena akar pada terubusan seringkali hanya berkembang di
satu sisi, maka membangun hutan jati dari terubusan memiliki
kelemahan yaitu pohon tidak tahan terhadap terpaan angin dan
kayunya sering berlubang (growong).
• Untuk mengurangi kemungkinan pohon roboh dan kayu
berlubang, maka penebangan pohon hendaknya dilakukan
setinggi permukaan tanah. Dengan cara ini tunggak akan
Pemeliharaan Tegakan | 53
tertimbun tanah dan terubusan pada
tunggak akan memiliki akar yang
tumbuh lebih merata di semua sisi.
• Tunggak yang memiliki terubusan
lebih dari satu sebaiknya
terubusannya dijarangkan.
• Pilih satu terubusan yang paling
potensial yaitu penampilannya
paling sehat, besar, lurus, dan paling
dekat dengan tanah. Terubusan-
terubusan lainnya dipotong pada
pangkal tunggak.
• Penjarangan dilakukan secara rutin
setiap tumbuh terubusan baru, agar
pertumbuhan pohon terpusat pada
terubusan yang terpilih. Gambar 6.8. Terubusan pada
tunggak yang rata dengan tanah
6.7. Pengendalian hama dan penyakit
Hama apa yang sering menyerang tanaman jati?
Hama yang ditemukan menyerang jati adalah:
1. Neotermes tectonae (inger-inger) yaitu sejenis rayap pohon.
Serangan rayap ini menyebabkan pembengkakan (gembol) pada
batang atau cabang. Pohon jati dapat terinfeksi inger-inger pada
umur 3 tahun. Serangannya baru terlihat setelah umur 7 tahun.
Gambar 6.9. Kerusakan kayu yang diakibatkan oleh hama inger-inger
54 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
Gambar 6.10. Ulan-ulan dan kerusakan yang diakibatkan oleh serangannya
2. Penggerek batang jenis Monohammus rusticator (ulan-ulan).
Hama ini dapat menyebabkan lubang, pembengkakan, dan patah
pada batang.
3. Xyleborus destruens (penggerek bubuk kayu basah). Batang
digerek oleh hama ini dengan arah melintang. Apabila kulit
kayu dikelupas tampak lubang-lubang pada kayu dengan
pinggir lubang terdapat noda hitam. Tanaman jati yang diserang
umumnya berumur 5 tahun ke atas.
4. Pyrausta machaeralis, Eutectona machaerallis dan Hyblaea puera
atau ulat jati yang umumnya menyerang daun.
5. Holotrichia helleri dan Lepidiota stigma yang dikenal dengan
nama uret. Uret umumnya menyerang akar bibit jati dan tanaman
muda (umur 1–2 tahun). Tanaman menjadi layu dan akhirnya mati
kering karena akarnya habis.
Pemeliharaan Tegakan | 55
Gambar 6.11. Serangan penggerek bubuk kayu basah menyebabkan kayu
berlubang ke arah dalam (melintang)
Bagaimana mengendalikan serangan inger-inger?
• Meluasnya serangan inger-inger dapat dicegah dengan kegiatan
penjarangan yang teratur.
• Penebangan/penjarangan terhadap pohon yang terserang inger-
inger harus dilakukan sebelum awal musim hujan di saat laron
inger-inger belum keluar.
• Bagian-bagian tanaman yang diserang dipotong dan dibakar.
• Pengendalian secara kimiawi untuk membunuh inger-inger
dapat menggunakan insektisida fumigan phostoxin ¼ tablet atau
menggunakan insektisida berbahan aktif fenpropatrin (Meothrin
50 EC).
Bagaimana mengatasi serangan penggerek batang?
Pengendaliannya dengan insektisida fumigan phostoxin, disuntikkan
pada batang yang terserang melalui lubang-lubang gerek.
Bagaimana pengendalian serangan bubuk kayu
basah?
• Untuk menghindari serangan bubuk kayu basah, sebaiknya jangan
menanam jati di daerah-daerah di mana tidak ada perbedaan yang
nyata antara musim hujan dan musim kemarau.
56 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
• Bila di suatu daerah telah terjadi serangan bubuk kayu secara
hebat, maka di daerah tersebut jangan ditanami jati lagi.
• Lakukan pembersihan gulma di sekitar tanaman, untuk
mengurangi kelembapan.
• Insektisida yang bisa dipakai untuk membasmi penggerek bubuk
kayu basah antara lain Brash 25 EC, Lentrek 400 EC, Dragnet 380
EC, Enborer 100 EC dan Cislin 2,5 EC.
Bagaimana mengatasi serangan ulat jati?
• Menurut pengalaman petani di Gunungkidul, serangan ulat
(Hyblaea puera) tidak berbahaya bagi pohon jati. Serangan hanya
berlangsung sekitar 1 minggu. Ulat jati ketika akan menjadi
kepompong secara alami akan turun dari pohon, biasanya petani
pada pagi hari mengumpulkan ulat-ulat ini untuk dimakan atau
diperdagangkan.
• Cara pengendalian serangan ulat jati adalah
dengan tidak merusak tumbuh-tumbuhan bawah
yang menjadi tempat hidup musuh alami ulat jati,
misalnya burung.
• Secara kimia pengendalian ulat jati dapat dilakukan
dengan menggunakan insektisida berbahan
aktif deltametrin (Decis 2,5 EC), berbahan aktif
permetrin (Ambush 2 EC) dan berbahan aktif lamda
sihalotrien (Matador 25 EC).
Bagaimana pengendalian serangan uret?
Menurut Anggraeni dan Asmaliah (2007) ada beberapa
cara penanggulangannya yaitu:
• Larva dikumpulkan pada saat pengolahan tanah
kemudian dimusnahkan, atau kumbang-kumbang
ditangkap pada malam hari dengan bantuan lampu.
• Campurkan insektisida kimia dengan tanah pada Gambar 6.12. Bibit jati yang
lubang tanam sebelum atau pada saat penanaman. terserang penyakit layu
Pemeliharaan Tegakan | 57
• Contoh insektisida yang dapat digunakan adalah yang berbahan
aktif karbosulfan (Marshal 5G), berbahan aktif karbofuran (Curaterr
3G, Furadan 3G, Petrofur 3G dan Indofuran), berbahan aktif etoprofos
(Rhocap 10G), dan berbahan aktif diazinon (Diazinon 10G).
• Secara tradisional, petani di Gunungkidul membasmi uret antara
lain dengan menggunakan gadung yang diparut, kulit buah
jambe, atau biji mahoni yang dihaluskan kemudian dicampur dan
disiramkan di sekitar lubang atau di seluruh lahan.
Apa saja penyakit yang menyerang jati?
• Penyakit layu yang disebabkan oleh bakteri Pseudomonas
tectonae. Penyakit ini umumnya menyerang bibit jati yang masih
di persemaian atau jati muda di lapangan. Gejala awalnya adalah
adanya bercak-bercak berwarna coklat muda atau tua kemudian
timbul kelayuan pada seluruh daun, dan daun menjadi pucat
kekuningan. Daun dapat layu secara perlahan atau serentak
kemudian rontok dalam waktu singkat.
• Penyakit mati pucuk yang disebabkan oleh
jamur Phoma sp. Penyakit ini biasanya terjadi
pada jati muda. Serangan terjadi di saat daun
jati bersemi dan menyebabkan beberapa
pucuk daun mati. Pertumbuhan tanaman
menjadi tidak lurus dan terhambat.
• Penyakit jamur upas (Corticium salmonicolor).
Penyakit jamur upas sering timbul dan
mudah menular secara cepat pada musim
hujan. Gejala penyakit yang tampak dari
luar, daun jati layu tergantung lemas dengan
warna hitam gelap seperti tersiram air panas.
Terdapat lapisan badan buah yang menebal
pada kulit batang, timbulnya benjolan-
benjolan pada permukaan batang, bagian
kulit dan kayu pecah-pecah dan luka.
Gambar 6.13. Batang dan
daun jati yang terkena
jamur upas
58 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
• Penyakit kanker batang yang disebabkan oleh Nectria
haematococca. Gejala diawali dengan daun layu dan berwarna
hitam gelap, kemudian muncul benjolan lapisan gabus di
permukaan batang. Selanjutnya kulit kayu pecah-pecah, terjadi
luka, dan lubang-lubang memanjang pada batang.
Bagaimana mengendalikan penyakit layu?
• Pengobatan dapat dilakukan apabila serangan masih ringan
yaitu dengan bakterisida yang berbahan aktif streptomisin sulfat
(Agrept 20 WP), berbahan aktif dazomet (Basamid G), dan bahan
aktif asam oksolinik (Starner 20 WP).
• Agar lebih aman, jika tampak gejala penyakit pada tanaman atau
bibit, segera musnahkan bibit tersebut dengan cara dibakar.
• Tumpangsari pada jati muda hendaknya jangan menggunakan
jenis tanaman dari suku Solanaceae (misal: terong, kentang, tomat,
dan cabai) karena sayuran ini dapat menjadi sarana penularan
(inang) penyakit layu bakteri.
Bagaimana mengendalikan penyakit mati pucuk?
Cara pengendaliannya menurut Rahayu (1999) adalah:
• Pada musim hujan, pucuk-pucuk yang terserang segera dipotong
untuk menghindari penularan.
• Kelembapan lingkungan dikurangi dengan memangkas cabang
pohon-pohon.
• Dilakukan pemupukan untuk memacu pertumbuhan tanaman
dan pembentukan tunas baru.
Bagaimana mengendalikan penyakit jamur upas?
Cara pengendaliannya adalah:
• Matikan tanaman lantana yang terdapat di sekitar tanaman jati
karena merupakan sumber infeksi.
• Jarak tanam dijaga melalui penjarangan yang rutin sesuai dengan
ukuran atau umur pohonnya.
Pemeliharaan Tegakan | 59
• Lakukan pengontrolan dan pemangkasan yang teratur.
• Pengendalian dapat dilakukan dengan menggunakan fungisida
yang berbahan aktif karbendazim (Derosal 60 WP) dengan cara
pengolesan atau penyemprotan.
Bagaimana mengendalikan penyakit kanker batang?
Cara pencegahan dan pengendalian serangan kanker batang adalah:
• Lahan di sekitar jati dibersihkan dari tanaman inang seperti
Lantana sp. (kembang telek, tembelekan, atau tahi ayam).
• Jarak tanam diatur agar tanaman terkena cahaya matahari dan
sirkulasi udaranya baik.
• Lakukan pemangkasan secara teratur.
• Bila sudah terjadi serangan maka perlu dilakukan pemberantasan
penyakit dengan cara: batang yang luka dikerok kemudian diolesi
dengan kooltir, TB 192, fungisida Fylomac 0,5%, atau Antimuci
0,5% setiap 3 minggu sekali.
7
Pemanenan
Kapan jati sebaiknya ditebang?
Agar dapat memberikan penghasilan yang maksimal sebaiknya
pohon jati ditebang jika:
• telah cukup dewasa untuk menghasilkan kayu berkualitas baik,
minimal pohon telah berumur sekitar 15-20 tahun;
• harga kayu sedang tinggi.
Bagaimana mengukur volume kayunya?
• Volume pohon berdiri dapat dihitung dengan menggunakan tabel
volume jati, yang disesuaikan dengan kualitas lahan tempat jati
ditanam. Contoh tabel volume jati dapat dilihat di Lampiran 2.
• Diameter batang (Dbh) diukur dari batang setinggi dada (130 cm).
• Perhitungan volume batang kayu /log dapat dilakukan dengan
menghitung rata-rata luas bidang dasar pangkal dan ujung dan
dikalikan dengan panjang batang. Rumusnya adalah:
Volume batang = (¼ x 3,14 x diameter pangkal batang2) +
(¼ x 3,14 x diameter ujung batang2) x 1/2
x panjang batang.
Bagaimana cara menebangnya?
• Tidak disarankan untuk melakukan penebangan pohon pada satu
sisi. Sebaiknya penebangan dilakukan dengan penebangan dua
sisi agar batang jati tidak pecah dan rebahnya pohon lebih terarah.
62 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
Arah rebah pohon
Takik balas
Atap takik rebah
Alas takik rebah
Gambar 7.1. Teknik penebangan pohon dua sisi
• Pertama, tentukan arah rebah pohon untuk meminimalkan
kerusakan pohon lain.
• Sebelum pohon ditebang, cabang dan ranting dikurangi.
• Satu sisi batang digergaji sejajar dengan arah rebah pohon,
disebut takik rebah. Jarak antara alas dan atap takik rebah
maksimal 5 cm.
• Kemudian pada sisi lainnya juga digergaji setinggi atap takik
rebah, sebagai takik balas. (Lihat Gambar 7.1).
Bagaimana pola penebangan hutan jati?
Ada beberapa pola penebangan yang berkaitan dengan sistem
silvikultur yang dapat diterapkan di hutan jati rakyat, yaitu:
• Pola tebang habis. Semua pohon dalam satu area tertentu
ditebang semua. Biasanya dilakukan pada hutan jati seumur
(Gambar 7.2).
• Pola tebang pilih. Pohon yang ditebang dipilih sesuai dengan
kebutuhan. Cara ini umumnya dilakukan pada tegakan jati tidak
seumur, atau hutan campuran. Pola ini juga dapat dipraktekkan
untuk kegiatan tebang butuh atau penjarangan komersial (lihat
penjarangan hutan tidak seumur pada halaman 50-51 dan
Gambar 7.3).
Pemanenan | 63
Gambar 7.2. Pemanenan dengan pola tebang habis
Gambar 7.3. Pemanenan dengan pola tebang pilih
Bahan Bacaan
1. Pendahuluan
Simatupang, M.H. 2000 Some notes on the origin and establishment
of teak forest (Tectona grandis L.f.) in Java, Indonesia. Dalam:
Third Regional Seminar on Teak. Potential and Opportunities in
Marketing and Trade of Plantation Teak Challenge for the New
Millenium. Yogyakarta, Indonesia.
Soerianegara, I. dan Lemmens, R.H.M.J. 1994 Timber trees: major
commercial timbers. Plants Resources of South-East Asia 5(1).
Prosea. Bogor, Indonesia.
Anggraeni, I. dan Asmaliyah 2008 Hama dan penyakit tanaman
jati (Tectona grandis L.f.). Dalam: Hendromono, B. Leksono, A.
dan Setyabudi (eds). Prosiding Seminar Potensi dan Tantangan
Pembudidayaan Jati di Sumatera, 30 November 2007. Puslitbang
Hutan Tanaman. Badan Litbang Kehutanan. Bogor, Indonesia.
2. Silvikultur Jati
Daniel, T. W., Helms, J.A., dan Baker, F.S. 1992 Prinsip-prinsip silvikultur.
University Press, Gadjah Mada. Diterjemahkan oleh Djoko
Marsono, Yogyakarta.
Shepherd, K. R.1986 Plantation silviculture. Martinus Nijhoff Dordrecht,
Netherlands.
Smith, D.M. 1962 The practice of silviculture. 7th Ed. John Wiley & Sons,
New York.
3. Penyiapan Benih
Mulawarman, Roshetko, J.M., Sasongko, S.M. dan Iriantono, D. 2003
Tree seed management – Seed sources, seed collection and seed
handling: a field manual for field workers and farmer. World
Agroforestry Centre dan Winrock International. Bogor, Indonesia.
Nurhasybi 2003 Jati (Tectona grandis L.f.) dalam atlas benih tanaman
hutan Indonesia. Publikasi Khusus (3)8. Balai Penelitian dan
Pengembangan Teknologi Perbenihan. Badan Litbang Kehutanan,
Bogor. Indonesia.
66 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
4. Pembuatan Bibit
Perhutani 2007 Standar Operasional Prosedur (SOP) pembuatan
persemaian Jati Plus Perhutani (JPP). Pusat Penelitian dan
Pengembangan Perum Perhutani, Cepu, Indonesia.
Wibowo, A. 1999 Studi variasi genetik tentang kemampuan perakaran
setek pucuk jati (Tectona grandis L.f.) dari kebun pangkas di Cepu.
Tesis Pasca Sarjana UGM, Yogyakarta. Tidak Dipublikasikan. Hal.
22 – 23.
Mahfudz, M. A. Fauzi, Yuliah, Herawan, T., Prastyono, dan Supriyanto,
H. 2003 Sekilas tentang jati (Tectona grandis L.f.), Puslitbang
Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan, Yogyakarta.
Indonesia.
BPTH Bandung 2000 Buku standar mutu bibit. Berdasar SNI 01-5006.1-
1999. Akasia, ampupu, gmelina, sengon, tusam, meranti dan
tengkawang. Ditjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial,
Departemen Pertanian dan Kehutanan. Bandung, Indonesia.
5. Penanaman
Kosasih, A.S., Bogidarmanti, R. dan Rustaman, B. 2006 Silvikultur hutan
tanaman campuran. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan
Tanaman. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Bogor.
Indonesia.
Hairiah, K., Widianto, Suprayogo, D., et al. 2006 Root effects on
slope stability in Sumberjaya, Lampung, Indonesia. Paper
dipresentasikan dalam International Symposium toward
Sustainable Livelihood and Ecosystems in Mountanious Regions,
Chiang Mai, 7-9 Maret 2006.
Hendromono, Daryono, H. dan Durahim 2005 Pemilihan jenis
pohon untuk rehabilitasi lahan kritis. Dalam: Prosiding ekspose
penerapan hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam. Palembang
15 Desember 2004. Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam.
Badan Litbang Kehutanan, Departemen Kehutanan. Jakarta,
Indonesia.
Soerianegara, I. dan Lemmens, R.H.M.J. 1994 Timber trees: major
commercial timbers. Plant resources of South-East Asia 5(1) Bogor.
Mahfudz, M. A. Fauzi, Yuliah, Herawan, T., Prastyono, dan Supriyanto,
H. 2003 Sekilas tentang jati (Tectona grandis L.f.), Puslitbang
Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan, Yogyakarta.
Indonesia.
Bahan bacaan | 67
Mindawati, N., Widiarti, A. dan Rustaman, B. 2006. Review hasil
penelitian hutan rakyat. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Hutan Tanaman. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan,
Bogor. Indonesia.
6. Pemeliharaan Tegakan
Anggraeni, I., Intari, S.E. dan Darwiati, W. 2006. Hama penyakit hutan
tanaman. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman.
Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Bogor.
Indonesia.
Anggraeni, I. dan Asmaliyah 2008 Hama dan penyakit tanaman
jati (Tectona grandis L.f.). Dalam: Hendromono, B. Leksono, A.
dan Setyabudi (eds). Prosiding seminar potensi dan tantangan
pembudidayaan jati di Sumatera. Palembang, 30 November 2007.
Puslitbang Hutan Tanaman. Badan Litbang Kehutanan, Bogor.
Indonesia.
Axelsson, R. 2008 Forest policy, continuous tree cover forest and
uneven-aged forest management in Sweden’s boreal forest.
Licentiate thesis. Report No 7. The Swedish University of
Agricultural Sciences, Department of Forest Products. Uppsala.
Christopherson, J. Forest thinning and defensible space. University
of Nevada Cooperative Extension. [Link]
publications/files/nr/other/[Link] [18 Agusut 2010].
Degomez, T. 2006 Guidelines for thinning ponderosa pine for
improved forest health and fire prevention. Publication Az1397.
03/2006. The University of Arizona. Tucson, Arizona.
Direktorat Hutan Tanaman Industri 1991 Teknik pembuatan tanaman
jati (Tectona grandis L.f.). Direktorat Jenderal Reboisasi dan
Rehabilitasi Lahan. Departemen Kehutanan. Jakarta, Indonesia.
Hardi, T., Ismail, B., Mahfudz dan Wiraadinata, P. 2005 Hama inger-inger
pada tanaman jati. Dalam: Pengembangan jenis jati unggul untuk
peningkatan produktivitas hutan rakyat. Prosiding Pertemuan
Forum Komunitas Jati IV. Yogyakarta, 14 Oktober 2005. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Badan Litbang
Kehutanan Departemen Kehutanan. Bogor, Indonesia.
Haygreen, J.G. dan Bowyer, J.L. 1996 Forest products and wood
science: an introduction. Third Edition. Iowa University Press.
Iowa, USA.
68 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
Perhutani 2001 Petunjuk pelaksanaan penjarangan hutan tanaman
kayu jati. Cetakan ke-2. Biro Pembinaan Sumberdaya Hutan. PT.
Perhutani (Persero) Unit I Jawa Tengah. Semarang, Indonesia.
Perhutani 2001 Petunjuk pelaksanaan pemeliharaan hutan lanjutan.
Biro Pembinaan Sumberdaya Hutan. PT. Perhutani (Persero) Unit I
Jawa Tengah. Semarang, Indonesia.
Rahayu, S. 1999 Penyakit tanaman hutan di Indonesia: gejala,
penyebab dan teknik pengendaliannya. Kanisius. Yogyakarta,
Indonesia.
Suharti, M. dan Intari, S.E. 1974 Pedoman pengenalan beberapa hama
dan penyakit pada jati (Tectona grandis L.f.). Laporan No. 182.
Lembaga Penelitian Hutan, Bogor. Indonesia.
Sumarna, Y. 2004 Budidaya jati. PT Penebar Swadaya. Jakarta.
Tarumingkeng, R. C. 1973 Serangan inger-inger (Neotermes tectonae
Damm) dan penjarangan sebagai tindakan pemberantasannya
pada jati. Laporan LPH. N0. 158. Bogor. Indonesia.
7. Pemanenan
Perhutani 1999 Pedoman penyelenggaraan tebang habis hutan jati.
PHT 77 seri produksi 122. Perum Perhutani, Jakarta. Indonesia.
Daftar Nama Jenis
Nama daerah Nama ilmiah
Akor Acacia auriculiformis
Alpukat Persea americana
Bayur Pterospermum javanicum
Beringin Ficus benyamina
Cemara Laut Casuarina equisetifolia
Damar Agathis loranthifolia
Durian Durio zibethinus
Gadung Dioscorea hispida
Gamal Gliricidia sepium
Gmelina Gmelina arborea
Hantap Sterculia urselta
Huru Litsea sp
Jambu Biji Psidium guajava
Jarak Pagar Jatropha curcas
Jeruk Bali Citrus maxima
Johar Cassia siamea
Kedaung Parkia roxburghi
Kemiri Aleurites moluccana
Kelapa Cocos nucifera
Kepel Stelechocarpus burahol
Keranji Pongamia pinnata
Kihiang Albizia procera
Kaliandra Calliandra calothyrsus
Kayu Afrika Maesopsis eminii
Kesambi Schleichera oleosa
Lamtoro Leucaena leucocephala
Mahoni Swietenia macrophylla
Mangga Mangifera indica
Mangium Acacia mangium
Matoa Pometia pinnata
Mimba Azadirachta indica
Mindi Melia azedarach
70 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
Nama daerah Nama ilmiah
Nangka Artocarpus heterophyllus
Nanas Ananas comosus
Pepaya Carica papaya
Pinus Pinus merkusii
Pulai Alstonia scholaris
Rambutan Nephelium lappaceum
Randu Ceiba petandra
Rasamala Altingia excelsa
Salak Salacca zalacca
Sirsak Annona muricata
Sonokeling Dalbergia latifolia
Srikaya Annona squamosa
Suren Toona sinensis
Saninten Castanea argentea
Sengon Paraserianthes falcataria
Sungkai Peronema canescen
Tayuman Bauhinia purpurea
Tisuk/Waru Gunung Hibiscus macrophyllus
Trembesi Samanea saman
Turi Sesbania grandiflora
Bungur Lagertromia speciosa
Hantap Sterculia urselta
Jabon Anthocephalus sinensis
Ulin Eusideroxylon zwageri
Weru Albizia procera
Keterangan Istilah
Bebas cabang: Bagian batang utama tanaman yang tidak ditumbuhi
cabang dihitung dari permukaan tanah.
Benih unggul: Benih dengan penampilan fisik yang bersih, tidak
tercampur kotoran, kemasannya utuh (unggul secara fisik),
memiliki daya tumbuh dan daya simpan tinggi (unggul secara
fisiologis), serta mampu menghasilkan pertanaman yang seragam,
pertumbuhannya lebih cepat dari benih yang umumnya beredar
(unggul secara genetik).
Benih bersertifikat: Benih yang dikumpulkan dari sumber benih
bersertifikat (diketahui asal-usul genetiknya, ditetapkan oleh
badan sertifikasi).
Berkerabat dekat: Memiliki hubungan kekeluargaan yang dekat.
Contoh kekerabatan yang sangat dekat adalah benih yang berasal
dari satu pohon induk (benih dari satu induk).
Cangkok: Teknik perbanyakan tanaman dengan cara menumbuhkan
akar pada bagian batang yang telah dikupas kulitnya sampai
lapisan kambium, kemudian membalutnya dengan media
lembab. Cabang yang sudah berakar kemudian dipotong dan
dijadikan bibit tanaman.
Diameter: Garis tengah dari benda berbentuk tabung. Ukuran
diameter batang dapat ditentukan dengan cara mengukur keliling
(lilit) batang kemudian dibagi dengan 3,14.
Ekologis: Bersifat hubungan timbal balik antar makhluk hidup, atau
antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
Generatif: Bagian dari tanaman yang merupakan alat
perkembangbiakan melalui penyerbukan. Bagian generatif dari
pohon adalah bunga, buah, dan benih.
Genetik: Bersifat diturunkan dari pohon induknya.
Grumusol: Merupakan nama dari salah satu jenis tanah. Ciri dari tanah
ini antara lain memiliki kandungan tanah liat tinggi (lebih dari
30%), mempunyai sifat kembang-susut yang tinggi. Grumusol
sering disebut juga sebagai Vertisol atau Margali. Untuk mengenali
apakah jenis tanah di lahan petani termasuk jenis ini atau tidak,
perlu dikonsultasikan dengan ahli tanah.
72 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
Gulma: Segala jenis tanaman yang tidak diinginkan, yang dapat
merusak atau mengganggu pertumbuhan tanaman yang sedang
dibudidayakan.
Hama: Segala jenis hewan yang menimbulkan kerugian pada pohon
hutan dan hasil hutan seperti serangga, tupai, tikus, babi, dan lain-
lain. Jenis yang paling sering menjadi hama adalah serangga.
IBA: Singkatan dari Indole Butyric Acid, suatu zat pengatur tumbuh
yang tergolong dalam kelompok auksin. Zat ini banyak digunakan
untuk memacu pertumbuhan akar dan tunas dalam pembuatan
setek.
Kadar air: Persentase kandungan air di dalam suatu materi (misal
benih, kayu atau tanah). Penentuan persentase didasarkan pada
berat air dan berat materinya.
Kapur Dolomit: Batu kapur yang kemasukan ion magnesium
sehingga unsur kalsiumnya digantikan oleh magnesium, biasa
ditemukan di bukit batu kapur (sering digunakan untuk bahan
keramik, atau pupuk).
Klon: Sekumpulan pohon atau bibit yang kualitas genetiknya sama
persis, karena merupakan hasil perbanyakan vegetatif
(melalui setek, cangkok, okulasi, atau kultur jaringan) dari
satu batang pohon.
Kompos: Pupuk yang terbuat dari pelapukan bagian-bagian tanaman,
misalnya dari serasah, pangkasan daun, atau sampah sayuran.
Kultur jaringan: Teknik pembibitan dengan menggunakan bagian
jaringan atau organ dari suatu tanam yang dibiakkan secara steril
(bebas dari hama penyakit) di dalam ruangan atau
media khusus. Teknik ini menghasilkan tanaman dalam
jumlah banyak, sampai ribuan, dengan sifat yang sama
dengan induknya.
Media tabur: Media yang digunakan untuk mengecambahkan benih
sebelum disapih ke polibag.
Okulasi: Teknik memadukan dua sumber tanaman yang berbeda dan
membentuk tanaman baru. Dalam teknik ini diperlukan sumber
tanaman atas (scion) dan sumber tanaman bawah (root stock).
Scion merupakan mata tunas, pucuk atau ranting berasal dari
tanaman yang memiliki sifat unggul, yang kemudian ditempelkan
atau disambungkan pada tanaman bawah yang merupakan bibit
yang memiliki sistem perakaran kuat dan tahan terhadap hama
penyakit.
Keterangan Istilah | 73
Paranet: Alat pelindung terhadap panas dan cahaya matahari langsung
yang berbentuk seperti jaring atau anyaman, terbuat dari plastik,
dapat dibeli di toko, dan biasanya tersedia dalam berbagai tingkat
kerapatan (tingkat naungan). Sering juga disebut sebagai shading
net.
Penyakit: Penyimpangan dari sifat normal, sehingga tanaman tidak
dapat memberi hasil yang baik, dapat disebabkan oleh bakteri,
virus, jamur, atau cacing.
Penyerbukan sendiri: Penyerbukan sebuah bunga oleh serbuk sari dari
pohon atau klon yang sama.
Perlakuan pendahuluan: Segala macam perlakuan yang diterapkan
pada benih sebelum ditabur, agar benih cepat berkecambah.
Pohon benih: Pohon yang dipilih dan dipelihara sebagai penghasil benih.
Pupuk kandang: Pupuk yang berasal dari kotoran binatang misal dari
kambing, sapi, atau ayam.
Regosol: Merupakan nama dari suatu jenis tanah. Tanah ini cukup
subur, bewarna kelabu. Regosol juga disebut sebagai Inceptisol,
Aluvial, Andosol, dan Gleihumus. Untuk mengenali jenis tanah ini
petani sebaiknya berkonsultasi dengan ahli tanah.
Sarang: Kondisi media yang cukup memiliki rongga-rongga udara
(berpori) namun tidak mudah hancur karena campuran bahan di
dalam media saling mengikat. Contoh media yang sarang antara
lain serbuk sabut kelapa, sekam padi, atau kompos yang dicampur
dengan tanah.
Seresah: Sisa-sisa bagian tanaman yang tidak terpakai. Seresah yang
sering dijumpai di benih antara lain serpihan daun, ranting, tangkai
buah, kelopak, dan biji gulma.
Shadding net: lihat pada penjelasan paranet.
Skarifikasi: Penipisan kulit benih yang keras, sehingga benih lebih
mudah berkecambah, biasanya dilakukan secara mekanis (dengan
alat), kimiawi, atau terjadi secara alami.
Setek: Teknik pembiakan tanaman dengan cara mengambil potongan
dari bagian vegetatif tanaman (pucuk, batang, daun, atau akar)
kemudian ditanam di media untuk ditumbuhkan akar dan daunnya
sehingga menjadi bibit yang siap untuk ditanam.
Stump: Bibit yang berasal dari semai atau anakan alami yang telah
dihilangkan seluruh daun dan bulu-bulu akarnya sehingga yang
tersisa hanya sebagian batang dan sebagian akar utama.
74 | Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
Tajuk: Bagian dari pohon yang merupakan gabungan dari cabang,
ranting, dan daun.
Terasering: Teknik penataan lahan miring yang ditujukan untuk
mencegah erosi dan tanah longsor dengan cara membuat lahan
menjadi bertingkat/berteras.
Terubusan: Tunas atau batang yang tumbuh dari tunggak kayu bekas
tebangan.
Vegetatif: Bagian dari tanaman selain bunga, buah atau benih,
misalnya daun, batang, pucuk, dan akar.
Lampiran
1. Daftar nama dan alamat desa para petani
di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta
yang telah berperanserta di dalam kegiatan
pengujian kepraktisan buku panduan ini
1 Adi Suwito, Desa Giripanggung 24 Joko Narwanto, Desa Sumber
2 Adijulan, Desa Karangduwet 25 Jumirin, Desa Karangduwet
3 Adiyanto, Desa Bejiharjo 26 Jumiya, Desa Bejiharjo
4 Agus Susila, Desa Bejiharjo 27 Karsino, Desa Kedungkeris
5 Ahmadi, Desa Bejiharjo 28 Kismarejo, Desa Candirejo
6 Badarudin, Desa Girisekar 29 Kisno Sakiran, Desa Bejiharjo
7 Bakat, Desa Karangduwet 30 Krida Suyarno, Desa Sumber
8 Citro W, Desa Bejiharjo 31 Kuwadi, Desa Karangduwet
9 Dartasujono, Desa Sumber 32 Lina Juarti, Desa Kepuhsari
10 Dwi, Desa Bejiharjo 33 Mardi Wiyono, Desa Bejiharjo
11 Edi Sudarni, Desa Girisekar 34 Margiyo, Desa Girisekar
12 Giyono Saputro, Desa Bejiharjo 35 Margiyono, Desa Katongan
13 Giyono, Desa Dadapayu 36 Margono, Desa Bejiharjo
14 Hadi Sularno, Desa Giripanggung 37 Margono, Desa Giripurwo
15 Hadiwinoto, Desa Dadapayu 38 Marjono, Desa Candirejo
16 Hardi Subroto, Desa Jeruklegi 39 Markan, Desa Dadapayu
17 Harjo Suwarno, Desa Giripanggung 40 Matsi, Desa Dadapayu
18 Harno Suwito, Desa Kepuhsari 41 Medi Suminarno, Desa Girisekar
19 Harso Suyono, Desa Candirejo 42 Murjiyanti, Desa Bejiharjo
20 Heri Suyatno, Desa Giripanggung 43 N. Basrudin, Desa Bejiharjo
21 Heri, Desa Katongan 44 Ngatino, Desa Bejiharjo
22 Istadi, Desa Bejiharjo 45 Purwitoyo, Desa Dadapayu
23 Jamiyo, Desa Kepuhsari 46 Puryadi, Desa Bejiharjo
Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
47 Ratijo, Desa Giripurwo 72 Supardi, Desa Girisekar
48 Ruhiyem, Desa Kepuhsari 73 Suparman, Desa Giripurwo
49 Sagiyo, Desa Bejiharjo 74 Suparmin S, Desa Sumber
50 Sahirin, Desa Giripurwo 75 Suparmin, Desa Giripurwo
51 Samta, Desa Katongan 76 Suparto, Desa Dadapayu
52 Santhoso, Desa Karangduwet 77 Supoyo, Desa Giripanggung
53 Saryono, Desa Karangduwet 78 Supriyanto, Desa Dengok
54 Sri Daryanti, Desa Bejiharjo 79 Suradal, Desa Kedungkeris
55 Sudardiyanto, Desa Bejiharjo 80 Suradi, Desa Bejiharjo
56 Sugito, Desa Dadapayu 81 Suranto, Desa Katongan
57 Sugito, Desa Kedungkeris 82 Suroyo, Desa Dadapayu
58 Sugiyanto, Desa Giripurwo 83 Sutarno, Desa Bejiharjo
59 Suhani, Desa Bejiharjo 84 Suwandi, Desa Giripanggung
60 Sukimin, Desa Dengok 85 Suwito, Desa Bejiharjo
61 Sukiyardi, Desa Karangduwet 86 Tukijan, Desa Giripurwo
62 Sulistiyono, Desa Bejiharjo 87 Tukirin, Desa Dadapayu
63 Sumadi, Desa Giripanggung 88 Viftin Agustina, Desa Dadapayu
64 Sumanto, Desa Bejiharjo 89 Wadirin, Desa Dengok
65 Sumino, Desa Jeruklegi 90 Wagiya, Desa Kedungkeris
66 Sumiran, Desa Karangduwet 91 Wagiyono, Desa Bejiharjo
67 Sumirdjo, Desa Karangduwet 92 Wahyudi, Desa Katongan
68 Sumirdjo, Desa Karangduwet 93 Warijan, Desa Giripanggung
69 Sunarya, Desa Karangduwet 94 Wasiran, Desa Giripurwo
70 Sunarya, Desa Karangduwet 95 Widiyanto, Desa Dengok
71 Sungkono, Desa Giripanggung 96 Wuhono Hs, Desa Kedungkeris
2. Contoh tabel untuk pendugaan volume kayu berdiri (Tabel Volume von
Wülfing untuk jati di Jawa)
BONITA I
Umur Diameter Tinggi Jumlah Faktor Faktor Volume total Volume Volume berdiri
(th) rata-rata rata-rata Pohon bentuk bentuk berdiri kayu berdiri kayu kayu besar &
(cm) (m) kayu besar kayu kecil besar kecil kayu kecil
total total (m3) (m3) (m3)
10 5,842 5,7912 1.280 0 0,256 0,0000 5,0970 5,0970
20 9,398 8,5344 669 0 0,314 0,0000 12,4594 12,4594
30 12,446 9,7536 435 0 0,365 0,0000 18,8307 18,8307
40 14,986 10,668 332 0,014 0,376 0,8495 23,5030 24,3525
50 17,526 11,5824 262 0,043 0,352 3,1149 25,7683 28,8832
60 19,812 12,192 220 0,086 0,315 7,0792 26,0515 33,1307
70 21,844 12,8016 192 0,125 0,272 11,6099 25,2020 36,8119
80 23,876 13,716 170 0,157 0,225 16,4238 23,5030 39,9268
90 25,654 14,0208 158 0,192 0,197 21,2376 21,8040 43,0416
100 27,178 14,6304 141 0,215 0,169 25,7683 20,2465 46,0149
110 28,448 15,24 133 0,229 0,147 29,4495 18,9723 48,4218
Lampiran
BONITA I / II
Umur Diameter Tinggi Jumlah Faktor Faktor Volume Volume Volume
(th) rata-rata rata-rata Pohon bentuk bentuk total berdiri berdiri berdiri kayu
(cm) (m) kayu besar kayu kecil kayu besar kayu kecil besar & kayu
total total (m3) (m3) kecil (m3)
10 6,35 6,7056 1.114 0 0,239 0,0000 5,6634 5,6634
Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
20 10,16 9,4488 584 0 0,307 0,0000 13,7337 13,7337
30 13,208 11,5824 393 0 0,345 0,0000 21,5208 21,5208
40 16,002 12,8016 296 0,022 0,361 1,6990 27,4673 29,1664
50 18,796 14,3256 231 0,062 0,324 5,6634 29,7327 35,3961
60 21,082 14,9352 197 0,110 0,287 11,3267 29,4495 40,7763
70 23,622 15,8496 165 0,160 0,239 18,4060 27,4673 45,8733
80 25,654 16,4592 147 0,196 0,201 24,6357 25,2020 49,8377
90 27,432 17,3736 135 0,220 0,165 30,5822 22,9366 53,5188
100 29,21 17,9832 125 0,241 0,137 36,2456 20,5297 56,7753
110 30,988 18,5928 115 0,257 0,113 41,3426 18,1228 59,4654
BONITA II
Umur Diameter Tinggi Jumlah Faktor Faktor Volume Volume Volume
(th) rata-rata rata-rata Pohon bentuk bentuk total berdiri berdiri berdiri kayu
(cm) (m) kayu besar kayu kecil kayu besar kayu kecil besar & kayu
total total (m3) (m3) kecil (m3)
10 7,112 8,5344 911 0 0,275 0,0000 8,4951 8,4951
20 11,176 11,8872 483 0 0,317 0,0000 17,8396 17,8396
30 14,732 14,3256 322 0,007 0,334 0,5663 26,1931 26,7594
40 17,78 15,8496 243 0,044 0,328 4,2475 31,4317 35,6792
50 20,32 16,764 201 0,094 0,303 10,1941 32,9891 43,1832
60 23,114 17,6784 166 0,152 0,251 18,6891 30,8654 49,5545
70 25,654 18,8976 142 0,196 0,2 27,1842 27,7505 54,9347
80 27,94 19,812 124 0,229 0,156 35,3961 24,0693 59,4654
90 29,972 20,4216 116 0,256 0,126 42,7584 21,0961 63,8545
100 32,004 21,336 105 0,275 0,104 49,5545 18,6891 68,2436
110 33,782 21,9456 98 0,285 0,089 55,2179 17,2733 72,4911
Lampiran
BONITA II / III
Umur Diameter Tinggi Jumlah Faktor Faktor Volume Volume Volume
(th) rata-rata rata-rata Pohon bentuk bentuk total berdiri berdiri berdiri kayu
(cm) (m) kayu besar kayu kecil kayu besar kayu kecil besar & kayu
total total (m3) (m3) kecil (m3)
10 8,382 10,0584 673 0 0,356 0,0000 13,3089 13,3089
Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
20 12,7 14,3256 381 0 0,356 0,0000 24,6357 24,6357
30 16,51 16,4592 260 0,028 0,353 2,5485 32,4228 34,9713
40 20,066 18,288 194 0,088 0,307 9,9109 34,4050 44,3159
50 23,114 19,812 159 0,150 0,247 19,8218 32,7060 52,5278
60 25,908 20,7264 136 0,201 0,196 29,7327 29,0248 58,7575
70 28,702 21,9456 116 0,243 0,15 40,2099 24,7772 64,9872
80 31,242 22,86 104 0,271 0,114 49,5545 20,8129 70,3674
90 33,528 23,7744 94 0,295 0,092 58,0495 18,1228 76,1723
100 36,068 24,6888 85 0,303 0,78 64,5624 16,7069 81,2693
110 38,608 25,908 76 0,304 0,068 70,2258 15,7158 85,9416
BONITA III
Umur Diameter Tinggi Jumlah Faktor Faktor Volume Volume Volume
(th) rata-rata rata-rata Pohon bentuk bentuk total berdiri berdiri berdiri kayu
(cm) (m) kayu besar kayu kecil kayu besar kayu kecil besar & kayu
total total (m3) (m3) kecil (m3)
10 9,144 11,2776 580 0 0,346 0,0000 14,8663 14,8663
20 14,224 15,8496 310 0,011 0,372 0,8495 29,0248 29,8743
30 18,796 18,5928 208 0,063 0,324 6,7960 34,6881 41,4842
40 22,86 20,7264 154 0,147 0,254 19,2555 33,2723 52,5278
50 26,416 22,2504 125 0,211 0,189 32,2812 28,8832 61,1644
60 29,972 23,7744 104 0,263 0,134 45,8733 23,3614 69,2347
70 33,02 24,9936 91 0,295 0,098 57,4832 19,1139 76,5971
80 35,814 26,2128 81 0,309 0,081 66,2614 17,4149 83,6763
90 38,608 27,1272 73 0,319 0,071 73,9070 16,5654 90,4723
100 41,148 28,3464 67 0,320 0,063 80,9862 15,8574 96,8436
110 43,688 29,5656 62 0,319 0,056 87,4991 15,2911 102,7902
Lampiran
BONITA III / IV
Umur Diameter Tinggi Jumlah Faktor Faktor Volume Volume Volume
(th) rata-rata rata-rata Pohon bentuk bentuk total berdiri berdiri berdiri kayu
(cm) (m) kayu besar kayu kecil kayu besar kayu kecil besar & kayu
total total (m3) (m3) kecil (m3)
10 10,414 13,1064 469 0 0,376 0,0000 19,6802 19,6802
Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
20 16,51 17,9832 243 0,027 0,366 2,5485 34,2634 36,8119
30 21,844 21,0312 161 0,125 0,273 15,8574 34,6881 50,5456
40 26,67 23,1648 120 0,217 0,186 33,6970 28,8832 62,5802
50 30,988 25,2984 96 0,280 0,119 51,2535 21,8040 73,0575
60 35,052 26,8224 80 0,314 0,088 64,8456 18,2644 83,1099
70 38,608 28,0416 69 0,334 0,075 75,6060 16,9901 92,5961
80 41,91 29,2608 62 0,339 0,065 84,6674 16,1406 100,8080
90 44,958 30,48 56 0,343 0,057 93,1624 15,5743 108,7367
100 48,006 31,6992 52 0,341 0,05 101,3743 14,8663 116,2407
110 50,8 32,9184 48 0,340 0,045 109,3030 14,3000 123,6030
BONITA IV
Umur Diameter Tinggi Jumlah Faktor Faktor Volume Volume Volume
(th) rata-rata rata-rata Pohon bentuk bentuk total berdiri berdiri berdiri kayu
(cm) (m) kayu besar kayu kecil kayu besar kayu kecil besar & kayu
total total (m3) (m3) kecil (m3)
10 12,192 14,3256 374 0 0,394 0,0000 24,6357 24,6357
20 19,304 20,1168 184 0,077 0,334 8,7782 38,0862 46,8644
30 25,4 23,7744 128 0,2 0,213 30,8654 32,9891 63,8545
40 30,734 26,2128 98 0,280 0,122 53,2357 23,2198 76,4555
50 35,56 28,0416 79 0,320 0,088 69,9426 19,2555 89,1981
60 39,878 29,5656 66 0,342 0,072 83,5347 17,5564 101,0911
70 44,196 31,0896 58 0,349 0,06 95,7109 16,4238 112,1347
80 48,006 32,6136 51 0,353 0,052 107,0377 15,7158 122,7535
90 51,562 33,8328 46 0,359 0,046 117,2317 15,0079 132,2397
100 55,118 35,3568 42 0,354 0,04 126,5763 14,4416 141,0179
110 58,166 36,576 40 0,351 0,037 134,7882 14,0168 148,8050
Lampiran
BONITA IV / V
Umur Diameter Tinggi Jumlah Faktor Faktor Volume total Volume Volume
(th) rata-rata rata-rata Pohon bentuk bentuk kayu besar kayu kecil berdiri kayu
(cm) (m) kayu besar kayu kecil berdiri (m3) berdiri besar & kayu
total total (m3) kecil (m3)
10 14,478 16,4592 299 0,1 0,426 0,8495 34,5466 35,3961
Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
20 21,844 22,2504 116 0,131 0,286 18,1228 39,6436 57,7664
30 28,448 25,908 113 0,248 0,156 45,8733 28,8832 74,7565
40 34,544 28,3464 84 0,310 0,092 69,3763 20,6713 90,0476
50 39,878 30,48 68 0,339 0,071 88,3486 18,5475 106,8961
60 45,212 32,6136 57 0,354 0,058 105,0555 17,2733 122,3288
70 50,038 34,4424 49 0,361 0,049 120,0634 16,2822 136,3456
80 54,61 35,9664 44 0,365 0,042 134,2219 15,4327 149,6545
90 58,42 37,1856 40 0,368 0,037 146,3981 14,8663 161,2644
100 62,23 38,7096 36 0,369 0,034 157,7248 14,4416 172,1664
110 65,786 39,9288 34 0,364 0,03 167,6357 14,0168 181,6526
BONITA V
Umur Diameter Tinggi Jumlah Faktor Faktor Volume total Volume Volume
(th) rata-rata rata- Pohon bentuk bentuk kayu besar kayu kecil berdiri kayu
(cm) rata (m) kayu besar kayu kecil berdiri (m3) berdiri besar & kayu
total total (m3) kecil (m3)
10 16,51 17,9832 243 0,033 0,44 3,1149 41,2010 44,3159
20 24,13 24,384 146 0,174 0,234 28,3168 38,0862 66,4030
30 31,496 28,0416 99 0,282 0,114 60,8812 24,6357 85,5169
40 38,354 31,0896 73 0,325 0,075 85,5169 19,6802 105,1971
50 44,45 33,528 59 0,345 0,058 106,4713 17,8396 124,3110
60 50,292 35,6616 50 0,356 0,048 124,8773 16,7069 141,5842
70 55,372 37,4904 44 0,358 0,04 141,0179 15,8574 156,8753
80 60,452 39,0144 39 0,360 0,035 155,4595 15,0079 170,4674
90 65,024 40,5384 35 0,361 0,031 168,7684 14,5832 183,3516
100 69,342 41,7576 32 0,360 0,028 180,3783 14,0168 194,3952
110 73,152 43,2816 30 0,540 0,025 190,8555 13,7337 204,5892
Lampiran
BONITA V / VI
Umur Diameter Tinggi Jumlah Faktor Faktor Volume total Volume Volume
(th) rata-rata rata-rata Pohon bentuk bentuk kayu besar kayu kecil berdiri kayu
(cm) (m) kayu besar kayu kecil berdiri (m3) berdiri besar & kayu
total total (m3) kecil (m3)
10 17,78 19,812 221 0,05 0,378 5,3802 41,0594 46,4396
Pengelolaan Hutan Jati Rakyat
20 26,162 26,2128 130 0,203 0,191 37,0951 34,8297 71,9248
30 34,29 30,48 88 0,285 0,091 70,2258 22,5119 92,7377
40 41,402 33,528 66 0,324 0,063 96,8436 18,6891 115,5327
50 48,006 36,2712 53 0,339 0,048 118,9308 16,9901 135,9209
60 54,356 38,7096 45 0,344 0,04 138,7525 15,9990 154,7516
70 60,198 40,2336 39 0,354 0,035 156,3090 15,2911 171,6001
80 65,278 42,0624 35 0,354 0,03 172,7328 14,5832 187,3159
90 70,612 43,2816 31 0,355 0,027 185,7585 14,1584 199,9169
100 75,184 44,8056 28 0,350 0,024 197,9348 13,7337 211,6684
110 78,994 46,3296 27 0,344 0,022 208,9783 13,5921 222,5704
BONITA VI
Umur Diameter Tinggi Jumlah Faktor Faktor Volume total Volume Volume
(th) rata-rata rata-rata Pohon bentuk bentuk kayu besar kayu kecil berdiri kayu
(cm) (m) kayu besar kayu kecil berdiri (m3) berdiri besar & kayu
total total (m3) kecil (m3)
10 19,05 21,0312 202 0,07 0,334 8,4951 40,4931 48,9881
20 27,686 28,0416 122 0,222 0,159 45,5901 32,7060 78,2961
30 36,322 32,6136 81 0,294 0,077 80,1367 20,9545 101,0911
40 44,704 35,9664 59 0,321 0,053 107,3208 17,6980 125,0189
50 51,816 38,7096 48 0,335 0,042 129,9743 16,2822 146,2565
60 58,166 40,8432 41 0,341 0,035 150,0793 15,4327 165,5120
70 64,262 42,9768 35 0,344 0,03 168,7684 14,7248 183,4932
80 70,104 45,1104 31 0,343 0,026 185,1922 14,3000 199,4922
90 75,692 46,6344 28 0,341 0,024 199,6338 13,8753 213,5090
100 80,772 48,1584 26 0,337 0,021 212,6595 13,4505 226,1100
110 85,09 49,3776 24 0,335 0,02 224,5526 13,1673 237,7199
Sumber: Champion, H.G. 1934. Von Wülfing’s Yield Tables for Teak Plantation in Java. Forest Bulletin No 87, Silviculture Series. Delhi: Manager of Publications.
Lampiran
Kebiasaan para pemilik hutan jati rakyat untuk membiarkan jati tumbuh tanpa
pengelolaan telah menyebabkan hutan jati rakyat memiliki kualitas yang rendah.
Berbagai pertanyaan kemudian muncul ketika petani mulai tertarik untuk
mengelola hutan jatinya dengan lebih baik. Buku ini mencoba memberikan
panduan praktis untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Secara
runut dan rinci, buku ini menerangkan tentang teknik pemilihan pohon induk,
pengadaan benih, pembuatan bibit, penanaman, pemupukan, penjarangan,
pemangkasan, pengendalian hama/penyakit, dan pemanenan. Agar lebih mudah
dipahami, teknik-teknik tersebut dilengkapi dengan ilustrasi, foto, atau tabel.
Buku ini agak berbeda dengan buku petunjuk budidaya jati pada umumnya karena
dirancang dengan bahasa yang sederhana untuk petani pengelola hutan jati
rakyat. Permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan hutan jati
rakyat yang kadang spesifik seringkali belum terjawab oleh buku-buku pedoman
yang selama ini ada. Bagaimana menanam jati pada lahan berbatu, bagaimana
teknik penjarangan pada tegakan yang umurnya tidak seragam, bagaimana
memelihara terubusan dari tunggak, dan bagaimana menebang dengan pola
tebang butuh, adalah beberapa hal yang dicoba dijawab oleh buku ini. Beberapa
teknik di dalam buku ini juga merupakan adopsi dari beberapa kearifan tradisional
dari petani jati di Kabupaten Gunungkidul.
[Link] [Link]
Center for International Forestry Research
CIFOR memajukan kesejahteraan manusia, konservasi lingkungan dan kesetaraan
melalui penelitian yang berorientasi pada kebijakan dan praktek kehutanan di negara
berkembang. CIFOR merupakan salah satu dari 15 pusat penelitian dalam Kelompok
Konsultatif bagi Penelitian Pertanian International (Consultative Group on International
Agricultural Research – CGIAR). CIFOR berkantor pusat di Bogor, Indonesia dengan
kantor wilayah di Asia, Afrika dan Amerika Selatan.
View publication stats