0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan12 halaman

Metode Pengambilan Sampel Batubara

Dokumen ini membahas penggolongan metode sampling batubara, termasuk manual dan mekanikal, serta teknik dan alat yang digunakan dalam pengambilan sampel. Selain itu, dijelaskan juga parameter kualitas batubara dan pentingnya teknik sampling yang tepat untuk mendapatkan hasil yang representatif. Proses sampling dianggap krusial dalam menentukan karakteristik dan nilai ekonomi batubara.

Diunggah oleh

adol.heitler29
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
36 tayangan12 halaman

Metode Pengambilan Sampel Batubara

Dokumen ini membahas penggolongan metode sampling batubara, termasuk manual dan mekanikal, serta teknik dan alat yang digunakan dalam pengambilan sampel. Selain itu, dijelaskan juga parameter kualitas batubara dan pentingnya teknik sampling yang tepat untuk mendapatkan hasil yang representatif. Proses sampling dianggap krusial dalam menentukan karakteristik dan nilai ekonomi batubara.

Diunggah oleh

adol.heitler29
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Penggolongan Sampling

3.2.1 Berdasarkan Metode Pelaksanaan


[Link] Manual sampling
Ada beberapa cara pengambilan sample secara manual.
a) Pengambilan sample pada Stop Belt Pengambilan sample cara ini merupakan cara yang
terbaik yaitu dengan mempergunakan peralatan frame yang bentuk dan ukurannya disesuaikan
dengan bentuk belt conveyor dan ukuran batubara tersebut. Pengambilan sample cara ini dapat
dipakai sebagai pembanding dari cara lain terutama dilihat dari kadar abu dan moisture.
Perbedaan hasil ini disebut juga bias. Pengambilan sample cara stopped belt kurang disukai
karena banyak waktu yang terbuang.
b) Pengambilan sample dari Falling Stream Pengambilan sample cara ini ialah mengambil
sample batubara saat batubara itu jatuh dari satu belt ke belt berikutnya dan hanya dapat
dilakukan apabila: Top Size < 63 mm Kecepatan Muat < 100 MT/jam Oleh
karena top size batubara umumnya £ 50 mm maka pengambilan sample cara ini masih
dimungkinkan walaupun kecepatannya + 200 MT/jam. Adapun peralatan yang dipakai adalah
ladle bukan scoop.
c) Pengambilan sample saat belt berjalan (Moving Belt) Pengambilan sample cara ini sangat
sulit dan berbahaya baik untuk fasilitas muat maupun untuk keselamatan tenaga penyampling.
Pengambilan sample cara ini hanya dapat dilakukan apabila: - Top Size < 63 mm
- Kecepatan muat < 100 MT/jam - Ketebalan batubara < 20 cm - Kecepatan
belt < 1.5 m/detik - Batubara terdiri dari satu jenis
d) Pengambilan sample dari Dumptruck / Wagon Pengambilan sample cara ini sangat sulit,
karena terjadi segregasi pada saat transportasi. Pengambilan sample pada dumptruck/wagon
dilakukan dengan peralatan Auger atau membor batubara di dalam truk tersebut. Sebaiknya
pengambilan samplenya dilakukan saat pemuatan ke truk atau saat pembongkaran dari truk ke
stockpile atau hopper.
e) Pengambilan sample dari Stockpile Pengambilan sample dari stockpile sangat sulit sekali,
karena tingginya lapisan batubara dan untuk itu diperlukan peralatan khusus yaitu Auger atau
membor timbunan batubara tersebut. Oleh karena pada umumnya sample yang diambil dari
permukaan saja, maka hasil analisa sample tersebut hanya dapat dipakai sebagai indikasi saja
tidak untuk dinegosiasikan.
[Link] Mechanical sampling
Pengambilan sample secara mekanikal dilakukan pada saat belt tersebut berjalan.
Pengambilannya dapat dilakukan dari atas belt (cross belt sampler) atau dari falling stream. Ada
beberapa tipe alat untuk pengambilan sample cara ini. P.T. Adaro adalah salah satu perusahaan
yang menggunakan cross belt sampling. Dalam penggunaan cara ini yang harus mendapatkan
perhatian adalah alat bantu screpper dan alat pembersih (brush), karena apabila alat tersebut tidak
berfungsi, maka kemungkinan batubara halus akan tertinggal (contoh tidak representative) dan
untuk itu peralatan harus dikontrol secara rutin.
3.2.2 Berdasarkan Teknis Pengambilan
[Link] Core Sampling Sampling batubara dari borehole (drilling) memiliki perbedaan-perbedaan
dengan jenis-jenis sampling yang lainnya. Dimana sample batubara pada jenis sampling ini
diambil secara mekanikal yaitu dengan core. Jadi yang dimaksud dengan core sampling ini lebih
ditujukan bagaimana terhadap prosedur treatment atau penanganan untuk sample yang telah
didapat dari borehole tersebut sampai sample tersebut dikirimkan ke laboratorium. ASTM sendiri
menspesifikasikan prosedure pengambilan sample dari core ini dalam ASTM D 5192 – 95.
Practice for collection of coal samples from core.
Core Sampling terdiri dari :
- Exploration sampling
- Deep drilling
- Shalow drilling
- Pit sample
- Pit drilling
[Link] Channel Sampling
Channel sampling adalah pengambilan sample dari lapisan batubara dengan membuat torehan
memanjang menurut ketebalan batubara atau endapan bahan galian lainnya. Sample ini mewakili
penampang batubara menurut ketebalannya. Sample ini biasanya diambil di sekitar singkapan.
Sebelum melakukan penyampelan, sumuran atau parit memanjang dibuat untuk membuka satu
sisi batubara segar.
Channel sampling terdiri dari :
- Explorasi sampling
- Outcrop sampling
- Pit sampling
- Seam face sampling
[Link] Bulk Sampling
Bulk sampling adalah pengambilan sample dalam jumlah besar yang diambil secara sistematik
dalam interval tertentu. Untuk batubara, bulk sample pada awalnya adalah contoh sebanyak satu
lori (gerobak) pada interval tertentu sepanjang lapisan batubara untuk analisa ukuran dan
pengotor (abu). Tetapi pengertian ini semakin meluas. Tambang-tambang batubara di Indonesia
dapat mengambil lebih dari 100000 ton batubara sebagai sample terutama untuk uji bakar pada
PLTU, termasuk uji penambangan, uji pengolahan, uji pengangkutan, uji pengapalan, dan uji
pemasaran.
Bulk sampling terdiri dari :
- Stasionary sampling
- Stockpile sampling
- Wagon sampling
- Coal truck sampling
- Moving sampling
- Cross belt sampling
- Stop belt sampling
- Falling stream sampling
- Moving bucket sampling

MANUAL SAMPLING

Penerapan manual sampling hanya layak untuk kapasitas kecil, ukuran material relatif kecil dan
umumnya digunakan pada lot yang diam seperti stockpile.

Catatan Lot adalah jumlah keseluruhan material yang akan diambil contohnya. Istilah lain untuk
ini ialah consignment atau [Link] Sejumlah material yang terambil sebagai sample
dari lot dengan alat sampling sebanyak satu kali ambil.

MECHANICAL SAMPLING

Pengambilan contoh batubara menggunakan alat-alat mekanis

Sampling secara mekanis mengumpulkan increment dengan alat mekanis. Sampling dengan cara
ini mempunyai beberapa keuntungan: Menghasilkan sampel dengan presisi secara keseluruhan
yang lebih [Link] mengambil primary increment dari seluruh penampang arus dalam satu
kali [Link] melakukan sampling pada frequency yang dikehendakimampu melakukan on
line reduction dan sub-division dan mengembalikan sisanya ke aliran [Link] sampling
secara mekanis disebut sample cutter.
Dalam industri batubara banyak sekali ditemukan istilah-istilah atau nama –nama yang
menyangkut batubara. Istilah-istilah tersebut biasa muncul dalam kegiatan eksplorasi,
penambangan, handling, loading, transhipment, tender jual beli batubara dan lain sebagainya.
Salah satu istilah atau nama diantaranya adalah parameter kualitas batubara dan basisnya.
Sebenarnya banyak sekali parameter kualitas yang ditentukan dari batubara tersebut dan juga
istilahnya. Diantara istilah tersebut ada yang group dan ada yang individual. Parameter group
contohnya adalah ; Proximate analysis yang di dalamnya terdiri dari parameter : Moisture, Ash,
Volatile Matter, dan Fixed Carbon. Sedangkan yang bersifat individual misalnya Calorific Value,
Chlorine in coal, HGI, Total moisture, dan lain-lain.

Masing-masing parameter tersebut dilaporkan menurut basis yang sudah disepakati oleh dunia
internasional. Fungsinya adalah agar diperoleh suatu bahasa dan persepsi yang sama dalam
menganalisis dan mengevaluasi data-data parameter batubara . Dengan adanya acuan ini maka
tidak akan terjadi persepsi yang keliru dalam menganalisa dan membaca setiap laporan yang
memuat tentang parameter kualitas batubara.

Secara kuantitative kandungan batubara dibagi menjadi 4 bagian yang disebut sebagai
Proximate. Jadi batubara terdiri dari

· Moisture,

Moisture di dalam batubara dapat dibagi menjadai dua bagian yaitu inherent moisture dan
extraneous [Link] moisture adalah moisture yang terkandung dalam batubara dan
tidak dapat menguap atau hilang dengan pengeringan udara atau air drying pada ambien
temperature walaupun batubara tersebut telah dimilling ke ukuran 200 [Link]
moisture adalah moisture yang berasal dari luar dan menempel atau teradsorpsi di permukaan
batubara atau masuk dan tergabung dalam retakan-retakan atau lubang-lubang kecil batubara.
Sumber extraneous moisture ini misalnya ; air dari genangan, air hujan, dan lain-lain.

· Ash (mineral matter)

Mineral matter adalah unsur-unsur yang terikat secara organik dalam rantai carbon sebagai
kation pengganti hidrogen. Unsur ini biasanya ada dalam batubara pada saat pembentukan
batubara yang berasal dari tumbuhan atau pohon pembentuk batubara tersebut. Unsur yang
biasanya ditemukan sebagai mineral matter ini adalah Kalsium, Sodium, dan juga ditemukan besi
dan alumina pada low rank coal.

· Volatile Matter

Volatile matter adalah zat terbang yang terkandung dalam batubara. Zat yang terkandung dalam
volatile matter ini biasanya gas hidrokarbon terutama gas methane. Volaitile matter ini berasal
dari pemecahan struktur molekule batubara pada rantai alifatik pada temperature tertentu. Di
laboratorium sendiri penentuannya dengan cara memanaskan sejumlah batubara pada
temperature 900 derajat Celsius dengan tanpa udara.

· Fixed carbon.
Fixed carbon adalah adalah parameter yang tidak ditentukan secara analisis melainkan
merupakan selisih 100 % dengan jumlah kadar moisture, ash, dan volatile matter. Fixed carbon
ini tidak sama dengan total carbon pada Ultimate. Perbedaan yang cukup jelas adalah bahwa
Fixed carbon merupakan kadar karbon yang pada temperature penetapan volatile matter tidak
menguap. Sedangkan carbon yang menguap pada temperature tersebut termasuk kedalam
volatile matter. Sedangkan total carbon yang ditentukan pada Ultimate analysis merupakan
semua carbon dalam batubara kecuali carbon yang berasal dari karbonat.

Sehingga dalam penentuan proximate ini jumlah persentasinya harus 100 %.

Pada prinsipnya semua parameter yang ditentukan dari batubara ketelitiannya terletak pada
sampling, preparasi, dan analisa laboratorium itu sendiri. Secara filosofi tingkat ketelitian dari
ketiga proses tersebut adalah sebagai berikut:

· Sampling = 80 %,

· Preparasi dan analisa = 20 %.

Hati-hati dalam menerjemahkan filosofi tersebut, karena banyak yang menafsirkan kurang tepat
mengenai filosofi tersebut. Pembagian persentasi tersebut hanya didasarkan atas tingkat
kesukaran dalam mengulang prosesnya atau kesukaran dalam menentukan benar atau salahnya
proses tersebut, jadi bukan ketelitian pengerjaanya. Kalau dilihat dari ketelitiannya tentu saja
ketiga proses tersebut harus mendekati akurat 100 %.

A. Ruang Lingkup Pembahasan

Adapun ruang lingkup yang akan dibahas pada kali ini yaitu mengenai kegiatan sampling pada
Batubara. Bagaimana sampling pada Batubara, metode-metode yang digunakan dalam kegiatan
sampling Batubara, jenis-jenis sampling dan faktor – faktor apa saja yang mempengaruhi dalam
kegiatan sampling Batubara.

B. Pengertian Sampling

Secara umum sampling dapat didefinisikan sebagai “ Suatu proses pengambilan sebagian kecil
contoh dari suatu material sehingga karakteristik contoh material tersebut mewakili keseluruhan
material”.Didalam industri pertambangan batubara, sampling merupakan hal yang sangat
penting, karena merupakan proses yang sangat vital dalam menentukan karakteristik batubara
tersebut. Dalam tahap explorasi, karakteristik batubara merupakan salah satu penentu dalam
studi kelayakan apakah batubara tersebut cukup ekonomis untuk ditambang atau tidak. Begitu
pun dalam tahap produksi dan pengapalan atau penjualan batubara tersebut karakteristik
dijadikan acuan dalam menentukan harga batubara.

C. Faktor – faktor yang menentukan suatu sample dapat dikatakan representative atau
tidak

Teknik Pengambilan sample dan Alat yang digunakan

a. Teknik pengambilan sample


Teknik pengambilan sample harus ditentukan dan disesuaikan dengan kondisi material yang
akan diambil dan alat yang digunakan. Teknik pengambilan sample yang salah, akan
menyebabkan hasil dari sample tersebut bias. Teknik sampling harus betul betul diperhatikan
terutama pada sampling secara manual.
Sebagai contoh, dalam pengambilan sample dari falling stream, shovel atau ladle yang digunakan
harus masuk ke seluruh stream batubara. Apabila hanya sebagian stream yang diambil maka
sample yang diperoleh akan bias.
Selain itu yang perlu diperhatikan adalah muatan sample dalam ladle. Ladle harus terisi sample
secukupnya dan tidak boleh berlebihan (overfill). Pengambilan sample yang overfill juga akan
menyebabkan bias, karena partikel yang besar-besar akan jatuh, dan sebagian besar sample yang
terambil adalah fine coal.
Jadi teknik pengambilan sample harus disesuaikan dengan situasi, kondisi, batubara yang akan
diambil samplenya. Seorang sampler yang profesional harus menguasai teknik sampling yang
disesuaikan dengan situasi dan kondisi batubara yang akan diambil samplenya.

b. Alat yang digunakan

Selain teknik pengambilan sample, yang tak kalah pentingnya yang harus diperhatikan adalah
alat yang digunakan untuk mengambil sample tersebut. Alat yang digunakan untuk melakukan
sampling memiliki ukuran dan bentuk yang ditentukan oleh standard. Penggunaan alat yang
tidak sesuai dengan standard, akan mengakibatkan bias pada sample yang diperoleh dan akan
menyebabkan kesalahan pada hasil analisanya.

Ada 5 jenis alat untuk pengambilan sample secara manual yang biasanya digunakan yaitu :

1. Laddle : Digunakan untuk pengambilan sample dari falling stream

2. Manual Cutter : Digunakan untuk pengambilan sample dari falling stream

3. Scoop : Digunakan untuk pengambilan sample seperti dari bucket WA.

4. Shovel : Digunakan untuk pengambilan sample di stockpile, DT dan lain-lain.

5. Sampling Frame: Digunakan untuk pengambilan sample diatas belt conveyor.

Massa / jumlah sample yang diambil

Massa atau jumlah sample yang diambil tergantung dari ukuran butir atau particle size dari
batubara tersebut. Ketentuan ini juga tergantung pada standard mana yang diikuti. Satuan
pengambilan sample terkecil disebut Increment, dan increment-increment digabungkan
membentuk satu gross sample. Berat minimum sample untuk setiap increment tergantung dari
ukuran butir batubara yang disampling, dan mengikuti persamaan sebagai berikut :

M = 0.06 D

Dimana :

M = Massa / berat per increment (kg)


D = Diameter / particle top size batubara (mm)

Contoh

Berat minimum per increment pada manual sampling untuk ukuran batubara top size 50 mm,
adalah :

M = 0.06 x 50

= 3.00 kg

Sedangkan untuk berat per increment pada mechanical sampling berlaku persamaan sebagai
berikut :

M = C x A / 3.6 V

Dimana :
M = berat per increment (kg)
C = Capacity belt Conveyor(tph)
A = Aperture cutter (m) (min. 3 x top size)
V = Kecepatan belt conveyor (m/det)

Contoh

Berat sample per increment untuk batubara dengan top size 50 mm, dengan loading rate 1000
tph, dan kecepatan belt 4.5 m/s adalah :

M = (1000 x 0.15) / (3.6 x 4.5)= 9.26 kg

Jumlah increment sample yang harus diambil dari setiap lot batubara tergantung dari tonnase lot
batubara tersebut. Untuk menentukan jumlah sample increment, ASTM memberikan 2 standard
perhitungan sebagai berikut :

· Increment untuk satu sampling unit (lot) dengan jumlah lot 1000 ton bagi washed coal

· Increment untuk satu sampling unit (lot) dengan jumlah lot 1000 ton bagi unwashed coal /
unknown coal.

Semakin banyak sample increment yang diambil semakin representative sample tersebut, namun
demikian semakin banyak sample yang dihandle semakin tinggi juga kemungkinan kesalahan
dalam penanganan sample tersebut.

Periode / Interval pengambilan

Faktor ini sangat penting sekali, karena tanpa memperhatikan faktor ini maka sample yang
terambil tidak akan representative walaupun faktor 1 dan 2 telah dipenuhi. Sebagai contoh, kita
mengambil sample loading dengan teknik yang benar dan jumlah sample sesuai dengan standard.
Tapi pengambilan tersebut dilakukan sekaligus diawal loading, dan sudah selesai pada saat
loading masih terus berjalan sampai beberapa jam lagi kedepan. Hal ini akan menyebabkan
sample yang terambil tidak mewakili seluruh lot atau batubara yang diloading, karena mungkin
saja setelah selesai pengambilan sample tadi, tiba-tiba kualitas batubara berubah total dari yang
awal-awal diloading.

Oleh karena itu pengambilan increment sample harus merata dan diambil selama “throughout”
poroses pemindahan batubara tersebut. Dalam istilah sampling cara seperti ini disebut “
Systematic Stratified Sampling”.

D. Jenis – Jenis Sampling

Berdasarkan tempat pengambilan dimana Batubara berada dan tujuanya, sampling dapat dibagi
atas 4 golongan yaitu:

Explorasi sampling dilakukan pada tahap awal pendeteksian kualitas batubara baik dengan
cara channel sampling pada outcrop atau lebih detail lagi dengan cara pemboran atau drilling.
Tujuan dari sampling di tahap ini adalah untuk menentukan karakteristik batubara secara global
yang merupakan pendeteksian awal batubara yang akan di exploitasi.

Pit sampling dilakukan setelah explorasi bahkan bisa hampir bersamaan dengan progress
tambang didalam satu pit atau block penambangan dengan tujuan lebih mendetailkan data yang
sudah ada pada tahap explorasi. Pit sampling ini dilakukan oleh pit control untuk mengetahui
kualitas batubara yang segera akan ditambang, jadi lebih ditujukan untuk mengkontrol kualitas
batubara yang akan ditambang dalam jangka waktu short term. Pit sampling ini juga dapat
dilakukan dengan pemboran juga dengan channel pada face penambangan kalau diperlukan
untuk mengecek kualitas batubara yang dalam progress ditambang.

Production sampling; dilakukan setelah batubara di proses di prosesing plant dimana


proses ini dapat merupakan penggilingan (crushing) pencucian (washing), penyetokan dan lain-
lain. Tujuannya adalah mengetahui secara pasti kualitas batubara yang akan di jual atau dikirim
ke pembeli supaya kualitasnya sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan dan telah disepakati
oleh kedua belah pihak. Dengan diketahuinya kualitas batubara di stockpile atau di penyimpanan
sementara kita dapat menentukan batubara yang mana yang cocok untuk dikirim ke Pembeli
tertentu dengan spesifikasi batubara tertentu pula. Baik dengan cara mencampur (blending)
batubara-batubara yang ada di stockpile atau pun dengan single source dengan memilih kualitas
yang sesuai.

Loading Sampling; dilakukan pada saat batubara dimuat dan dikirim ke pembeli baik
menggunakan barge maupun menggunakan kapal. Biasanya dilakukan oleh independent
company karena kualitas yang ditentukan harus diakui dan dipercaya oleh penjual (Shipper) dan
pembeli (Buyer). Tujuannya adalah menentukan secara pasti kualitas batubara yang dijual yang
nantinya akan menentukan harga batubara itu sendiri karena ada beberapa parameter yang
sifatnya fleksibel sehingga harganya pun fleksibel tergantung kualitas actual pada saat batubara
dikapalkan.

Sampling, preparasi dan analisa sample batubara dengan berbagai tujuan seperti telah dijelaskan
di atas,dilakukan dengan menggunakan standard – standard yang telah ada. Dimana
pemilihannya tergantung keperluannya, biasanya tergantung permintaan pembeli atau calon
pembeli batubara. Standard yang sering digunakan untuk keperluan tersebut diantaranya ; ASTM
(American Society for Testing and Materials), AS (Australian Standard), Internasional Standard,
British Standard, dan banyak lagi yang lainnya yang berlaku baik di kawasan regional maupun
internasional.

Berdasarkan metoda pelaksanaannya sampling dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu;
1. Manual sampling
2. Mechanikal sampling

Cara mekanikal sampling merupakan cara yang lebih disukai karena :

 Conto yang didapat dengan cara ini lebih bisa mewakili populasi dibandingkan dengan
contoh yang didapat dengan cara manual pada umumnya, kecuali stopped-belt sampling.
 Sampling dilakukan tanpa harus mengganggu jalannya operasi, karena sampling
dilakukan terhadap batubara yang berada pada belt conveyor yang sedang berjalan
(moving stream)
 perkiraan presisi yang dicapai dapat diukur
 bias yang mungkin terjadi dapat diukur
 keamanan para sampler lebih terjamin

Stopped-belt sampling merupakan sampling cara manual yang sangat baik untuk dilakukan,
namun sampling cara ini sangat mengganggu jalannya operasi dikarenakan belt conveyor harus
di berhentikan setiap kali mengambil contoh (increment).

Berdasarkan teknis pengambilannya, sampling dapat dibagi menjadi beberapa golongan sebagai
berikut:

Ø Bulk Sampling

Bulk sampling (conto ruah) ini merupakan metode sampling dengan cara mengambil material
dalam jumlah (volume) yang besar, dan umum dilakukan pada semua fase kegiatan (eksplorasi
sampai dengan pengolahan). Pada fase sebelum operasi penambangan, bulk sampling ini
dilakukan untuk mengetahui kadar pada suatu blok atau bidang kerja. Metode bulk sampling ini
juga umum dilakukan untuk uji metalurgi dengan tujuan mengetahui recovery (perolehan) suatu
proses pengolahan. Sedangkan pada kegiatan eksplorasi, salah satu penerapan metode bulk
sampling ini adalah dalam pengambilan conto dengan sumur uji.

Ø Chip sampling

Chip sampling (conto tatahan) adalah salah satu metode sampling dengan cara mengumpulkan
pecahan batuan (rock chip) yang dipecahkan melalui suatu jalur (dengan lebar 15 cm) yang
memotong zona mineralisasi dengan menggunakan palu atau pahat. Jalur sampling tersebut
biasanya bidang horizontal dan pecahan-pecahan batuan tersebut dikumpulkan dalam suatu
kantong conto. Kadang-kadang pengambilan ukuran conto yang seragam (baik ukuran butir,
jumlah, maupun interval) cukup sulit, terutama pada urat-urat yang keras dan brittle (seperti urat
kuarsa), sehingga dapat menimbulkan kesalahan seperti oversampling (salting) jika ukuran
fragmen dengan kadar tinggi relatif lebih banyak daripada fragmen yang low grade.
Ø Channel sampling

Channel sampling adalah suatu metode (cara) pengambilan conto dengan membuat alur
(channel) sepanjang permukaan yang memperlihatkan jejak bijih (mineralisasi). Alur tersebut
dibuat secara teratur dan seragam (lebar 3-10 cm, kedalaman 3-5 cm) secara horizontal, vertikal,
atau tegak lurus kemiringan lapisan (Gambar).

Gambar Sketsa pembuatan channel sampling pada urat (Chaussier et al., 1987)

Gambar Sketsa pembuatan channel sampling pada endapan yang berlapis (Chaussier et al., 1987)

Ada beberapa cara atau pendekatan yang dapat dilakukan dalam mengumpulkan fragmen-
fragmen batuan dalam satu conto atau melakukan pengelompokan conto (sub-channel) yang
tergantung pada tipe (pola) mineralisasi, antara lain :

o Membagi panjang channel dalam interval-interval yang seragam, yang diakibatkan oleh
variasi (distribusi) zona bijih relatif lebar. Contohnya pada pembuatan channel dalam sumur uji
pada endapan laterit atau residual. Membagi panjang channel dalam interval-interval tertentu
yang diakibatkan oleh variasi (distribusi) zona mineralisasi.

o Untuk kemudahan, dimungkinkan penggabungan sub-channel dalam satu analisis kadar atau
dibuat komposit.

o Pada batubara atau endapan berlapis, dapat diambil channel sampling per tebal seam (lapisan)
atau ply per ply (jika terdapat sisipan pengotor).

Ø Grab Sampling

Secara umum, metode grab sampling ini merupakan teknik sampling dengan cara mengambil
bagian dari suatu material (baik di alam maupun dari suatu tumpukan) yang mengandung
mineralisasi secara acak (tanpa seleksi yang khusus). Tingkat ketelitian sampling pada metode
ini relatif mempunyai bias yang cukup besar.

Beberapa kondisi pengambilan conto dengan teknik grab sampling ini antara lain :

ü Pada tumpukan material hasil pembongkaran untuk mendapatkan gambaran umum kadar.

ü Pada material di atas dump truck atau belt conveyor pada transportasi material, dengan tujuan
pengecekan kualitas.

ü Pada fragmen material hasil peledakan pada suatu muka kerja untuk memperoleh kualitas
umum dari material yang diledakkan, dll.

Pemilihan metode sampling dan jumlah conto yang akan diambil tergantung pada beberapa
faktor, antara lain :

· Tipe endapan, pola penyebaran, serta ukuran endapan.

· Tahapan pekerjaan dan prosedur evaluasi,

· Lokasi pengambilan conto (pada zona mineralisasi, alterasi, atau barren),

· Kedalaman pengambilan conto, yang berhubungan dengan letak dan kondisi batuan induk.

· Anggaran untuk sampling dan nilai dari bijih.

E. Kesalahan Yang Mungkin Terjadi Dalam Sampling


Salting, yaitu peningkatan kadar pada conto yang diambil sebagai akibat masuknya
material lain dengan kadar tinggi ke dalam conto.

Dilution, yaitu pengurangan kadar akibatnya masuknya waste ke dalam conto.

Erratic high assay, yaitu kesalahan akibat kekeliruan dalam penentuan posisi (lokasi)
sampling karena tidak memperhatikan kondisi geologi.

Kesalahan dalam analisis kimia, akibat conto yang diambil kurang representatif.

Anda mungkin juga menyukai