0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan13 halaman

Asuhan Keperawatan pada PPOK

Laporan ini membahas asuhan keperawatan pada pasien dengan Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK), termasuk definisi, epidemiologi, etiologi, patofisiologi, gejala klinis, dan penatalaksanaan. PPOK merupakan masalah kesehatan yang signifikan di Indonesia dengan prevalensi tinggi, terutama di kalangan perokok. Penatalaksanaan meliputi pengobatan medis dan keperawatan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan mencegah komplikasi.

Diunggah oleh

putridewiyulia3
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan13 halaman

Asuhan Keperawatan pada PPOK

Laporan ini membahas asuhan keperawatan pada pasien dengan Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK), termasuk definisi, epidemiologi, etiologi, patofisiologi, gejala klinis, dan penatalaksanaan. PPOK merupakan masalah kesehatan yang signifikan di Indonesia dengan prevalensi tinggi, terutama di kalangan perokok. Penatalaksanaan meliputi pengobatan medis dan keperawatan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dan mencegah komplikasi.

Diunggah oleh

putridewiyulia3
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN DENGAN PPOK ( PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIK )

DI RUANG INAP CENDRAWASIH

OLEH :

NI PUTU CANTIKA ARYATI DEWI


249013434

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS PROGRAM


PROFESI SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
WIRA MEDIKA BALI
DENPASAR
2025
A. Konsep Dasar Penyakit

1. Definisi
Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) atau Cronic Obstruction Pulmonary
Disease (COPD) merupakan istilah yang sering digunakan untuk sekelompok
penyakit paru yang berlangsung lama dan ditandai oleh peningkatan resistensi
terhadap aliran udara sebagai gambaran patofisiologi utamanya. PPOK merupakan
salah satu dari kelompok penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan
masyarakat indonesia (Sylvia, 2019).
PPOK merupakan satu kelompok penyakit paru yang mengakibatkan obstruksi
yang menahun dan persisten dari jalan nafas di dalam paru, yang termasuk dalam
kelompok ini adalah : bronkitis menahun, empisema paru, asma terutama yang
menahun, bronkikstasi (Murwani, 2017).

2. Epidemologi
The Asia Pacific CPOD Roundtable Group memperkirakan, jumlah penderita PPOK
sedang hingga berat di negara-negara Asia Pasifik mencapai 56,6 juta penderita
dengan angka prevalensi 6,3 persen
 Angka prevalensi bagi masing-masing negara berkisar 3,5-6,7% antara lain China
dengan angka kasus mencapai 38,160 juta jiwa, jepang (5,014 juta orang), dan
vietnam (2,068 penderita).
 Sementara itu, di Indonesia diperkirakan terdapat 4,8 juta penderita dengan
prevalensi 5,6 persen.
 Kejadian meningkat semakin banyaknya jumlah perokok (90% penderita COPD)
adalah smoker atau ex-smoker)

3. Etiologi
Penyebab PPOK yaitu :
- Merokok
- Polusi Udara dan polusi lingkungan kerja
- Alergi
- Umur, Genetik
4. Patofisiologi
PPOK dapat terjadi oleh karena terjadinya obstruksi jalan nafas yang berlangsung
bertahun-tahun. Salah satu penyakit yang dapat memicu terjadinya PPOK ini adalah
asma. Hipersensitif yang terjadi karena bahan-bahan alergen menyebabkan terjadinya
penyempitan bronkus ataupun bronkiolus akibat bronkospasme, edema mukosa
ataupun hipersekresi mukus yang kental. Karena perubahan anatomis tersebut
menyebabkan kesulitan saat melakukan ekspirasi dan menghasilkan suara mengi.
Apabila asma initerus berlangsung lama, semakin menyempitnya bronkus atau
bronkiolus selama bertahun-tahun dapat menyebabkan PPOK terjadi.
5. Patway

Rokok, Polusi Udara, Polusi Lingkungan

Asma, Bronkitis Kronik, Emfisema

Hipersensitif

Bronkuspasme Pembesaran Kelenjar

Penyempitan Bronkus Betahun- Inflamasi Bronkus Mensekresi Lendir dan


tahun Sel Goblet
Kerusakan pada Dinding Bronkus Terminalis
Fungsi Silia Menurun
PPOK Terjadi Penumpukan Udara

Peningkatan Produksi
Ekspansi Paru Gangguan Pertukaran Gas Lendir

Akumulasi Sekret
Gangguan Proses Ventilasi Kurangnya Suplai Oksigen
Obstruksi Jalan Nafas

PO2 Meningkat CO2 Kontraksi Otot Pernafasan


Menurun Penggunaan Energi untuk Bersihan Jalan Nafas
Pernafasan Meningkat Tidak Efektif

Pola Nafas Tidak Efektif


Intoleransi Aktivitas
6. Klasifikasi
a. Bronkitis Kronis
Adanya gangguan klinis yang di tandai dengan hiperproduksi mukus dari
percabangan bronkus dengan pencerminan bentuk yang menahun.
b. Bronkitis Empisema
Adanya campuran bronkitis menahun dan empisema
c. Asma Kronis dan Bronkitis Asmatis
d. Penyakit TBC yang berkembang menjadi PPOM

7. Gejala Klinis
Batuk adalah keluhan pertama yang biasanya terjadi pada pasien PPOK. Batuk
bersifat produktif yang pada awalnya hilang timbul lalu kemudian berlangsung
lama sepanjang hari.
Gejala-gejala PPOK eksaserbasi akut meliputi :
a. Kelemahan badan
b. Batuk bertambah berat
c. Sesak nafas
d. Whezing

8. Pemeriksaan Dignostik atau Penunjang


a. Pemeriksaan Laboratorium
b. Radiologi
c. Pemeriksaan EKG

9. Prognosis
 Kegagalan respirasi akibat sesak nafas atau dispneu
 Kardiovaskuler yaitu kor pulmonsl aritmea jantung
 PPOK umumnya berjalan secara progresif dalam jangka waktu yang lama,
penderita jadi cacat dan tidak dapat melakukan kegiatan sehari-hari
10. Therapy
Pengobatan terutama ditujukan pada obstruksi jalan nafas atau sesak nafas
 Bronkodilator
- Golongan adrenalin (emipatomemiatik)
- Aminopilin, teopilin
 Antibiotika
Penicillin, tetracikilin, ampicillin
 Indikasi Oksigen
- Pemberian oksigen dilakukan pada hipoksia akut atau menahun yang
tak dapat diatasi dengan obat

11. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan medis dan penatalaksanaan keperawatan dari Penyakit Paru
Obtruksi Kronik adalah :
a. Penatalaksanaan Medis
 Berhenti merokok harus menjadi prioritas
 Pemberian terapi oksigen jangka panjang selama >16 jam memperpanjang
usia pasien dengan gagal nafas kronis
b. Penatalaksanaan Keperawatan
 Mempertahankan patensi jalan nafas
 Membantu tindakan untuk mempermudah pertukaran gas
 Meningkatkan masukan nutrisi
 Mencegah komplikasi memperlambat memburuknya kondisi
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian dilakukan dengan melakukan anamnesa pada pasien. Data-data yang
dikumpulkan atau dikaji meliputi :

1) Identitas Pasien
Pada tahap ini perlu mengetahui tentang nama, umur, jenis kelamin, alamat
rumah, agama, suku bangsa, staus perkawinan, pendidikan terakhir, nomor
registrasi, pekerjaan pasien, dan nama penanggung jawab

2) Pengkajian Primer
a. Airway
Napas pendek ( timbul tersembunyi dengan dispnea sebagai gejala
menonjol pada emfisema) khususnya pada kerja, cuaca atau
berulangnya sulit napas (asma), rasa dada tertekan,
ketidakmampuan untuk bernapas
b. Breathing
Biasanya cepat, dapat lambat, fase ekspirasi memanjang dengan
mendengkur, napas bibir (emfisema), penggunaan otot bantu
pernapasan, bunyi napas mungkin redup dengan ekspirasi mengi,
mnyebar, lembut atau krekels lembab kasar, ronkhi, mengi
sepanjang area paru pada ekspirasi dan kemungkinan selama
inspirasi berlanjut sampai penurunan atau tidak adanya bunyi napas
abnormal.
c. Circulation
Peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi jantung, distensi
vena leher, edema dependen, tidak berhubungan dengan penyakit
jantung, bunyi jantung redup (yang berhubungan dengan
peningkatan diameter AP dada).
d. Disability
Saat istirahat, keletihan, gelisah, kelemahan umum/kehilangan massa
otot.
3) Pengkajian sakunder
a. Keluhan Utama
Keluhan utama merupakan faktor utama yang mendorong pasien mencari
pertolongan atau berobat ke rumah sakit.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien dengan masalah Penyakit Paru Obstruksi Kronikbiasanya akan
diawali dengan adanya tanda-tanda seperti batuk bertambah berat disertai
produksi sputum bertambah , sesak nafas bertambah berat.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Sebelumnya pasien sudah pernah masuk Rumah Sakit, penyakit yang
pernah diderita misalnya asma,
d. Riwayat Penyakit Keluarga
Anggota keluarga pasien mengalami sesak atau mengalami penyakit
gangguan pernafasan
4) Pengkajian Fisik
Pemerikasaan fisik dilakukan untuk mengkaji tingkat pernafasan. Teknik
inspeksi , palpasi , auskultasi, dan perkusi digunakan dalam pemeriksaan fisik
ini.
2. Analisa Data
Data dasar adalah kumpulan data yang berisikan mengenai status
kesehatan klien, kemampuan klien mengelola kesehatan terhadap dirinya sendiri
dan hasil konsultasi dari medis atau profesi kesehatan [Link] fokus adalah
data tentang perubahan-perubahan atau respon klien terhadap kesehatan dan
masalah kesehatannya serta hal-hal yang mencangkup tindakan yang di
laksanakan terhadap klien.
3. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan utama untuk klien dengan masalah PPOK adalah :
a. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hambatan upaya nafas
b. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan
c. Pertukaran Gas berhubungan dengan ketidakseimbangan ventilasi-perkusi
d. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sekresi yang tertahan.
4. Intervensi
No Diagnosa Tujuan dan Intervensi Rasional
Kriteria Hasil
1 Bersihan SLKI : Bersihan SIKI : Manajemen 1. Untuk memonitor pola
Jalan Jalan Nafas Jalan Nafas (L.01011) napas pasien
(L.01001)
Nafas 2. Untuk mengetahui adanya
Setelah dilakukan Observasi:
Tidak asuhan keperawatan 1. Monitor pola suara napas tambahan
Efektif selama 1 x 3jam napas(frekuensi, 3. Agar mengetahui jumlah,
diharapkan bersihan kedalaman, usaha
(D.0001) warna dan aroma sputun
jalan nafas kembali napas)
efektif dengan 2. Monitor bunyi napas 4. Untuk membuka jalan
kriteria hasil : tambahan (gurgling, napas pasien
1. Pasien bisa mengi, wheezing,
5. Untuk membantu
melakukan batuk ronkhi)
3. Monitor sputum ( mengeluarkan dahak
efektif dan
jumlah, warna, 6. Untuk membantu
mengeluarkan aroma) mengencerkan dahak
sputum
Terapeutik: 7. Untuk menjaga kepatenan
2. Tidak ada
4. Posisikan semi fowler napas pasien
suara napas 5. Lakukan fisioterapi 8. Mengedukasi pasien agar
tambahan dada
bisa diterapkan
6. Berikan minum air
3. Frekuensi
hangat 9. Untuk membantu
napas dalam 7. Berikan oksigen membuka jalan napas
batas normal
pasien dan mencairkan
Edukasi:
(16-20 x/menit)
8. Ajarkan teknik dahak
batuk efektif

Kolaborasi:
9. Kolaborasi
pemberian nebulizer
2. Pola nafas SLKI : Pola Nafas SIKI : Manajemen 1. Mengetahui permasalahan
tidak (L.01004) Jalan Nafas (I.01012) pada status pernapasan
efektif 2. Mengetahui ada atau tidaknya
Setelah dilakukan Observasi:
(D.0005) asuhan keperawatan 1. Monitor status bunyi napas tambahan
selama 1 x3jam pernapasan (frekuensi, 3. Mengetahui apakah suara
diharapkan pola kedalaman, usaha
nafas pasien normal atau tidak
nafas efektif dengan napas)
kriteria hasil : 2. Monitor bunyi napas 4. Posisi semi fowler dapat
1. Frekuensi tambahan (wheezing memaksimalkan ekspansi paru
pernafasan normal atau ronchi)
dan menurunkan upaya
(18-30x/mnt) 3. Auskultasi bunyi
2. Tidak ada dispnea napas pernpasan. Ventilasi maksimal
3. Tidak ada Terapeutik: membuka area atelektasis dan
penggunaan otot 4. Posisikan pasien semi
meningkatan gerakan sputum
bantu nafas fowler
4. Irama pernafasan 5. Berikan terapi oksigen ke jalan napas besar untuk
menjadi teratur dikeluarkan
5. Suara auskultasi Edukasi: 5. O2 dapat memenuhi kebutuhan
nafas normal 6. Ajarkan teknik
(vesikular bernapas/relaksasi oksigen sehingga frekuensi
pernapasan kembali normal
Kolaborasi: 6. Relaksasi dapat membuat
7. Kolaborasi pemberian
pasien tenang dan tidak lelah
terapi obat dengan
nebulizer atau 7. Pemberian obat untuk
bronkodilator membantu mempercepat
penyembuhan
3 Gangguan SLKI : Pertukaran SIKI : Pemantauan 1. Untuk memonitor pola
Pertukaran Gas (L.01003) Respirasi (I.01014) napas pasien
Gas 2. Untuk mengetahui adanya
Setelah dilakukan Observasi:
(D.0003) asuhan keperawatan 1. Monitor pola suara napas tambahan
selama 1 x3jam napas(frekuensi, 3. Agar mengetahui jumlah,
diharapkan kedalaman, usaha
warna dan aroma sputun
gangguan pertukaran napas)
gas teratasi dengan 2. Monitor bunyi napas
kriteria hasil : tambahan (gurgling,
1. Dyspnea mengi, wheezing, 4. Agar mengetahui adanya
menurun ronkhi) suara napas tambahan
2. Tidak ada suara 3. Monitor sputum
5. Untuk memantau nilai AGD
napas tambahan ( jumlah, warna,
3. Tidak ada aroma) 6. Untuk memantau frekuensi
tanda-tanda 4. Auskultasi suara napas sesuai dengan kondisi
gelisah napas
pasien
5. Monitor nilai AGD
Terapeutik: 7. Agar pasien mengetahui
6. Atur interval prosedur pengobatan yang
pemantauan respirasi
didapatkannya
sesuai dengan
kondisi pasien

Edukasi:
7. Jelaskan tujuan dan
prosedur pemantauan

4 Intoleransi SLKI : Toleransi SIKI : 1. Mengetahui perkembangan


Aktivitas Aktivitas (L.05047) Terapi Aktivitas
(I.05186) kondisi pasien
(D.0056) Setelah dilakukan Observasi
2. Peningkatkan relaksasi pada
asuhan keperawatan 1. Monitor sistem
selama 1 x3jam kardiorespirasi pasien pasien asma sangat penting
diharapkan selama kegiatan
intoleransi (takikardi, frekuensi agar pasien tidak keletihan
aktivitas pernapasan, dyspnea,
teratasi dengan pucat) 3. Dilakukan secara bertahap
kriteria hasil: Terapeutik
agar ketahanan pasien terjaga
1. Frekuensi 2. Berikan kegiatan
pernapasan pengalihan yang 4. Mengajarkan pasien dapat
saat dan menenangkan untuk
sesudah meningkatkan memberikan kemandirian
beraktivitas relaksasi
normal (18- untuk melakukan tindakan
30x/menit) Edukasi
awal yang harus ia lakukan
2. Frekuensi nadi 3. Anjurkan melakukan
saat dan sesudah aktivitas secara
beraktivitas bertahap
normal (70-
120x/menit)
3. Kemudahan 4. Ajarkan pasien 5. Pemberian obat untuk
bernapas ketika mengenai pengelolaan
beraktivitas kegiatan dan teknik membantu mempercepat
4. Dapat melakukan manajemen waktu
penyembuhan
ADL secara untuk mencegah
kelelahan
mandiri
5. Mampu berpindah Kolaborasi
dengan atau tanpa 5. Delegatif pemberian
bantuan alat therapy obat

5 Implementasi Keperawatan

Implementasi merukan tindakan yang sudah direncanakan dalam rencana tindakan


keperawatan

 Mandiri: aktivitas perawat yang didasarkan pada kemampuan sendiri dan bukan
merupakan petunjuk atau perintah dari petugas kesehatan
 Delegatif: tindakan keperawatan atas instruksi yang diberikan oleh petugas kesehatan
yang berwenang.
 Kolaboratif: tindakan perawat dan petugas kesehatan yang lain dimana didasarkan pada
keputusan bersama. ( implementasi menyesuaikn dengan intervensi )

6 Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari suatu proses keperawatan yang merupakan
perbandingan yang sistematis dan terencanakan kesehatan pasien dengan tujuan yang telah
ditetapkan di lakukan dengan cara melibatkan pasien.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2013. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth.
Jakarta : EGC

Departemen Kesehatan RI . 2019. Pedoman Pengendalian Paru Obstruktif Kronik. Jakarta :


Mentri Kesehatan.

Murwani Arita. 2011. Perawatan Pasien Penyakit Dalam. Yogyakarta : Penerbit Gosyen
Publishing

Potter & [Link] Ajar Fundamental Keperawatan Buku 3, Edisi 7. Jakarta EGC

Price Sylvia Anderson . 2019. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Buku ke Dua
Edisi 4. Jakarta : EGC

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia, Defenisi dan
Indikator Diagnostik, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia, Definisi dan
Tindakan Keperawatan, Edisi 1. Jakarta : DPP PPNI

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia, Definisi dan
Tindakan Keperawatan, Edisi 1. Jakarta : DPP PPNI

Anda mungkin juga menyukai