Krim Anti-Aging Ekstrak Daun Kopi
Krim Anti-Aging Ekstrak Daun Kopi
OLEH:
ROMA YANTI SIHOMBING
NIM: 200205136
Puji dan Syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
AGING”. Proposal ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam
Mutiara Indonesia. Penulis menyadari bahwa dalam proses proposal ini banyak
menerima bantuan, bimbingan serta dorongan dari berbagai pihak sehingga pada
1. Bapak Dr. Parlindungan Purba, S.H., M.M, selaku Ketua Yayasan Sari
Mutiara Medan yang telah menyediakan saran dan prasarana, sehingga proses
2. Ibu Dr. Ivan Elisabeth Purba, [Link], selaku Rektor Universitas Sari Mutiara
Indonesia.
3. Ibu Taruli Rohana Sinaga, SP, M.K.M, Ph.D. selaku Dekan Fakultas Farmasi
4. Ibu apt. Cut Masyithah, [Link], [Link]., selaku Ketua Program Studi Sarjana
Indonesia.
ii
6. Dosen Program Studi Sarjana Farmasi Fakultas Farmasi Dan Ilmu Kesehatan
kepada penulis.
7. Yang paling teristimewa kepada orang tua saya tercinta Bapak Sawiriddon
Indonesia, serta seluruh pihak yang ikut membantu penulis yang tidak dapat
proposal ini belum sempurna. Oleh karena itu penulis dengan besar hati menerima
saran dan kritik yang membangun demi kebaikan ilmu pengetahuan saat ini.
iii
DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PENGESAHAN............................................................................ i
KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................... iv
DAFTAR TABEL ........................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... vii
DAFTAR LAMPIRAN................................................................................... viii
iv
3.4.1 Alat ............................................................................... 26
3.4.2 Bahan ............................................................................ 26
3.5 Sukarelawan ........................................................................... 26
3.6 Penyiapan dan Pengolahan Sampel ...................................... 27
3.6.1 Pengumpulan Sampel ................................................... 27
3.6.2 Identifikasi Sampel........................................................ 27
3.6.3 Pembuatan Simplisia .................................................... 27
3.7 Karakteristik Simplisia .......................................................... 28
3.7.1 Uji Makroskopik .......................................................... 28
3.7.2 Uji Mikroskopik ........................................................... 28
3.7.3 Penentapan Kadar Air Simplisia .................................. 28
3.7.4 Penetapan Kadar Sari Larut Dalam Air......................... 29
3.7.5 Penetapan Kadar Sari Larut Dalam Etanol .................. 29
3.7.6 Penetapan Kadar Abu Total .......................................... 29
3.7.7 Penetapan Kadar Abu Tidak Larut Asam ..................... 29
3.8 Uji Skrining Fitokimia ........................................................... 30
3.8.1 Pemeriksaan Alkaloida ................................................. 30
3.8.2 Pemeriksaan Saponin.................................................... 30
3.8.3 Pemeriksaan Flavonoid ................................................ 30
3.8.4 Pemeriksaan Tanin ....................................................... 31
3.8.5 Pemeriksaan Steroid/triterpenoid ................................. 31
3.9 Proses Ekstraksi ..................................................................... 31
3.10 Formulasi Sediaan Krim ........................................................ 32
3.10.1 Pembuatan Krim.......................................................... 34
3.11 Evaluasi Mutu Sediaan .......................................................... 34
3.11.1 Uji Organoleptis........................................................... 34
3.11.2 Uji Homogenitas.......................................................... 35
3.11.3 Uji Stabilitas................................................................. 35
3.11.4 Uji Tipe Sediaan .......................................................... 35
3.11.5 Uji pH .......................................................................... 35
3.11.6 Uji Viskositas .............................................................. 36
3.11.7 Uji Daya Sebar ............................................................ 36
3.11.8 Uji Iritasi ..................................................................... 36
3.12 Pengujian Anti-aging ............................................................. 36
3.13 Pengukuran Kondisi Kulit ..................................................... 37
3.14 Analisis Data .......................................................................... 38
v
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 3.1 Formula krim ekstrak etanol daun kopi arabika ...........................
Tabel 3.2 Parameter pengukuran dengan Skin analyzer ...............................
vi
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1.1 Kerangka pikir ............................................................................ 5
Gambar 2.1 Tanaman Daun Kopi Arabika (Coffea arabica L) ...................... 7
Gambar 2.2 Daun kopi arabika (Coffea arabica L) ....................................... 8
vii
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Bukti Pembayaran Seminar Proposal......................................... 43
Lampiran 2. Bukti Bimbingan........................................................................ 44
Lampiran 3. Daftar Konsultasi........................................................................ 45
viii
BAB I
PENDAHULUAN
dipengaruhi oleh sejumlah faktor internal dan eksternal yang dapat menyebabkan
perubahan struktural dan fisiologis pada lapisan kulit serta perubahan tampilan
kulit, terutama pada area yang terkena sinar matahari. Untuk melindungi kulit dari
penuaan yang normal dan terjadi pada setiap orang, dan bukan disebabkan oleh
sinar matahari langsung. Perubahan klinis yang terjadi akibat penuaan intrinsik
kulit seperti perlindungan kulit, absorbsi, ekskresi, sekresi, pengaturan suhu, dan
ultraviolet dan tanda-tanda klinis penuaan yang disebabkan oleh faktor ekstrinsik
1
berpenampilan menarik. Namun penggunaan kosmetik yang mengandung bahan
kimia menimbulkan banyak efek samping seperti iritasi kulit, komedo, dan
penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan kanker kulit. Oleh karena itu,
produk kosmetik memerlukan bahan herbal yang mengandung zat aktif sebagai
Krim adalah sediaan setengah padat yang mengandung satu atau lebih
bahan farmasi yang dilarutkan dan disuspensikan dalam bahan awal yang sesuai
dan mengandung sedikitnya 60% air. Krim ada dua jenis, yaitu krim minyak
dalam air (M/A) dan krim air dalam minyak (A/M) (Hilmiati Wahid, 2022).
memiliki mekanisme untuk melindungi diri dari kerusakan akibat radikal bebas
berlebih di dalam tubuh. Namun pada kondisi tertentu, tubuh tidak dapat
sebagai pelindung kulit yang mampu melindungi dari sinar ultraviolet (UV),
Salah satu bahan alam yang melimpah di Indonesia adalah kopi. Kopi
dikonsumsi secara luas diseluruh dunia dengan cita rasa, aroma, warna, dan efek
yang khas bagi kesehatan. Di Indonesia, daun kopi dijadikan sebagai sayur atau
lalap untuk pengobatan hipertensi. Daun kopi arabika mengandung senyawa aktif
tanin, kafein, flavonoid dan polifenol. Asam fenolik dalam daun kopi dapat
2
berfungsi mengeliminasi radikal bebas yang ada di tubuh (Setiawan et al., 2015).
bahwa ekstrak etanol daun kopi arabika memiliki aktivitas antioksidan dengan
nilai IC50 (inhibition concentration) sebesar 19,856 ± 0,126 µg/ml. Penelitian lain
yang dilakukan oleh Hudakova dkk. (2016) menunjukkan bahwa tanaman kopi
arabika memiliki kandungan senyawa fenol dan senyawa flavonoid yang berperan
sebagai antioksidan.
Menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun kopi arabika dengan formulasi sediaan
antioksidan, sehingga memiliki aktivitas anti-aging dengan sel kulit mati yang
dan IL-1b. Daun kopi arabika memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat
arabika (Coffea arabica L) maka dari itu, dilakukakan penelitian daun kopi
3
Berapakah konsentrasi sediaan krim ekstrak etanol daun kopi arabika
dini?
1. Bagi Akademik
2. Bagi Masyarakat
4
1.6 Kerangka Pikir
-Uji alkaloid
-Uji flavonoid
Ekstrak etanol
daun kopi arabika Uji skrining fitokimia -Uji saponin
(Coffea arabica L) -Uji tanin
-Uji steroid/
triterpenoid
Uji organoleptis
-
-Uji homogenitas
-Uji stabilitas
-Uji tipe sediaan
Uji mutu sediaan krim
Formulasi sediaan krim -Uji pH
ekstrak etanol daun -Uji viskositas
kopi arabika (Coffea -Uji daya sebar
arabica L)
-Uji iritasi
3%, 5%, 7%
5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
pendapatan utama tidak kurang dari 1,84 juta keluarga yang sebagian besar
komoditas ekspor penting bagi Indonesia yang mampu menyumbang devisa yang
Kopi arabika (Coffea arabica L.) merupakan salah satu jenis kopi yang
tanaman kopi terfokus pada pengolahan biji kopi, daun kopi dianggap limbah dan
untuk menanam kopi Arabika sekitar 1000-1500 meter dpl serta daerah yang
pohon perdu kecil. Memiliki percabangan yang lentur serta berdaun tipis. Daun
arah. Bentuk daun tanaman kopi lonjong dengan tulang daun yang tegas. Bunga
berwarna putih yang beraroma wangi. Bunga tersebut muncul pada ketiak
daunnya. Buah kopi tersusun dari kulit buah (epicarp), daging buah (mesocarp)
disebut juga pulp, dan kulit tanduk (endocarp). Buah yang terbentuk akan matang
6
selama 7– 11 bulan. Pada umumnya buah kopi memiliki dua biji kopi. Biji kopi
dibungkus kulit keras disebut kulit tanduk (parchment skin). Biji mempunyai alur
pada bagian datarnya. Perakaran tanaman kopi arabika lebih dalam daripada kopi
robusta. Sehingga kopi arabika lebih tahan kering dibandingkan dengan kopi
robusta. Tanaman dapat berakar lebih dalam pada tanah normal, tetapi 90% dari
perakaran tanaman kopi berada pada lapisan tanah diatas 30 cm. Akar tunggang
merupakan jenis akar yang dimiliki oleh tanaman kopi (Sianturi, 2018).
(Dokumentasi Pribadi)
dan lebar sekitar 6 cm. Daun tanaman arabika mengkilap seperti berlapis lilin dan
berwarna hijau. Mata tunas tumbuh diketiak daun dan akan berubah menjadi
cabang atau bunga tergantung kondisi. Daun arabika tua adalah daun yang
berwarna hijau tua dan teksturnya kasar yang tumbuh pada cabang plagiotrop
7
Gambar 2.2 Daun kopi arabika (Coffea arabica L) (Dokumentasi Pribadi)
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Rubiales
Famili : Rubiaceae
Marga : Coffea
Salah satu bagian tanaman yang memiliki manfaat namun masih belum
banyak penelitiannya adalah daun kopi. Daun kopi mempunyai sejumlah manfaat
untuk kesehatan, salah satunya adalah sebagai antidiabetes mellitus. Menurut para
mengurangi risiko penyakit jantung dan diabetes mellitus selain itu daun kopi juga
mengandung antioksidan yang jumlahnya lebih tinggi dibandingkan teh hijau dan
8
teh hitam (Retnaningtyas, 2013). Asam fenolik yang terkandung dalam daun kopi
bebas di dalam tubuh. Setelah dilakukan pengujian dapat terlihat bahwa ekstrak
daun kopi memiliki kandungan antioksidan sekitar 55,43 – 89,78 %. Daun kopi
mengandung kafein yang rendah dan memiliki rasa yang biasa, tidak pahit seperti
teh atau sekuat kopi. Teh yang terbuat dari daun kopi memang belum banyak
risiko serangan jantung dan stroke serta memiliki antioksidan yang tinggi. Kopi
sudah banyak dijadikan masker dan lulur untuk perawatan tubuh dalam produk
Bagian-bagian dari kopi yaitu daun, kulit buah dan biji kopi secara umum
memiliki kandungan senyawa kimia polifenol dan flavonoid. Senyawa ini sudah
dikenal memilki aktivitas antioksidan (Sasmita et al., 2014). Selain itu kopi juga
mengandung alkaloid, tanin dan saponin (Wigati, Pratiwi, Nissa, & Utami, 2018).
2.2 Simplisia
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipakai sebagai obat yang belum
mengalami pengolahan apapun juga atau yang baru mengalami proses setengah
hewani dan simplisia pelikan atau mineral (Fajriyah and Qulub, 2019).
9
2.2.1 Proses Pembuatan Simplisia
bagian tanaman yang akan dipanen. waktu panen yang baik adalah pada
atau menggunakan mesin. Alat yang terbuat dari logam sebaiknya tidak
b. Sortasi basah
Sortasi basah adalah pemilihan hasil panen ketika tanaman masih segar.
bahan asing seperti tanah, kerikil, rumput, batang, daun, akar yang telah
c. Pencucian
yang melekat pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan air bersih,
misalnya air dan mata air, air sumur dan PDAM, karena air untuk mencuci
jika air yang digunakan untuk pencucian kotor, maka jumlah mikroba pada
permukaan bahan simplisia dapat bertambah dan air yang terdapat pada
10
permukaan bahan tersebut dapat mempercepat pertumbuhan mikroba.
Bahan simplisia yang mengandung zat mudah larut dalam air yang
d. Perajangan
mempercepat waktu pengeringan. Akan tetapi irisan yang terlalu tipis juga
e. Pengeringan
11
bila kadar airnya dapat mencapai kurang dan 10%. Hal-hal yang perlu
udara, waktu pengeringan dan luas permukaan bahan. Suhu yang terbaik
pada pengeringan adalah tidak melebihi 60 o, tetapi bahan aktif yang tidak
f. Sortasi kering
g. Penyimpanan
Setelah tahap pengeringan dan sortasi kering selesai maka simplisia perlu
antara simplisia satu dengan lainnya. Untuk persyaratan wadah yang akan
12
simplisia dari cemaran mikroba, kotoran, serangga, penguapan bahan aktif
serta dari pengaruh cahaya, oksigen dan uap air (Melinda, 2014).
2.3 Ekstraksi
dasarnya adalah proses perpindahan massa dari komponen zat padat yang terdapat
pada simplisia ke dalam pelarut organik yang digunakan. Pelarut organik akan
menembus dinding sel dan akan masuk ke dalam rongga sel tumbuhan yang
mengandung zat aktif, yang kemudian akan terlarut dalam pelarut organik pada
luar sel untuk selanjutnya berdifusi ke dalam pelarut (Riza Marjoni, 2016).
1. Cara dingan
a. Maserasi
2016).
b. Perkolasi
13
temperature kamar. Proses perkolasi terjadi dari tahapan
Marjoni, 2016)
2. Cara Panas
a. Refluks
2015).
b. Sokletasi
14
dengan adanya pendingin balik (Istiqomah, 2013). Sokletasi adalah
c. Digesti
(Fadhilaturrahmi, 2015).
d. Infusa
(Fadhilaturrahmi, 2015).
e. Dekokta
15
Dekokta adalah infus pada waktu yang lebih lama (> 30 menit) dan
Penuaan dini merupakan salah satu masalah penampilan yang terjadi pada
kompleks yang dipengaruhi oleh beberapa faktor endogen dan eksogen yang dapat
perubahan dalam tampilan kulit, khususnya pada daerah kulit yang terpapar sinar
matahari. Untuk melidungi kulit dari beberapa kerusakan sel yang dikarenakan
kemampuan kulit untuk melepaskan sel kulit lama untuk diganti sel
kulit baru.
gelambir.
16
e. Warna kulit bercak-bercak akibat berkurangnya daya pigmentasi sel
2.5 Anti-Aging
mencegah proses degeneratif. Dalam hal ini, proses penuaan dan gejalanya
terlihat jelas pada kulit seperti keriput, kulit kasar, dan noda-noda gelap. Krim
Anti-aging atau anti penuaan adalah kosmetik yang memiliki bioaktivitas yang
2013).
dan keriput
2. membuat kulit tampak sehat, cerah, elastis, dan awet muda (Muliyawan dan
Surana, 2013).
17
2.5.3 Antioksidan sebagai Bahan Produk Anti-aging
tubuh yang disebabkan oleh radikal bebas. Sebagai bahan aktif, antioksidan
digunakan untuk melindungi kulit dari kerusakan akibat oksidasi sehingga dapat
menampilkan hasil dalam bentuk angka yang didapatkan akan secara langsung
disesuaikan dengan parameter yang telah diatur sedemikian rupa pada alat. Ketika
hasil muncul dalam bentuk angka, secara bersamaan kriteria hasil pengukuran
muncul dan dapat mengerti dengan oleh operator yang memeriksa ataupun pasien.
Skin analyzer merupakan suatu alat analisis kulit digital, yang dapat
2.8 Krim
mengandung air tidak kurang dari 60 %. Emulsi merupakan campuran dari fase
air dan fase minyak, sehingga dibutuhkan emulgator untuk membentuk emulsi
18
yang baik yaitu keadaan dimana kedua fase dapat bergabung. Tanpa adanya
Selain itu emulgator memiliki peranan penting yaitu sebagai penetrating enhancer
sehingga dapat mempercepat absorbsi dari zat aktif (Nabila, dkk., 2014). Sebagai
a. Stabil selama pemakaian. Oleh karena itu, krim harus bebas dari
inkompatibilitas, stabil pada suhu kamar dan kelembaban yang ada di dalam
kamar.
b. Lunak. Semua bahan dalam keadaan halus dan seluruh produk menjadi lunak
dan homogen.
c. Mudah dipakai. Umumnya krim tipe emulsi adalah yang paling mudah
d. Terdistribusi secara merata. Obat harus terdispersi merata melalui dasar krim
Krim umumnya kurang kental dan lebih ringan daripada salep, sehingga
krim lebih disukai dari pada salep. Umumnya krim mudah menyebar rata dan
karena krim merupakan emulsi minyak dalam air, maka akan lebih mudah
dibersihkan daripada sebagian besar salep. Krim dianggap mempunyai daya tarik
estetik lebih besar karena sifatnya yang tidak berminyak dan kemampuannya
19
2.8.1 Formulasi Krim
emulgator nonionik ini karena emulgator ini bereaksi netral, dapat sedikit
Aktivitasnya relatif tidak dipengaruhi oleh suhu. Selain itu digunakan juga bahan
dari bahan-bahan yang digunakan dalam formula krim pada penelitian ini adalah
a. Bahan pengemulsi
bahan pegemulsi untuk krim, emulsi, dan salep untuk penggunaan topikal.
minyak yang lemah. Bahan ini larut dalam minyak, dan juga sebagian besar
pelarut organik. Meskipun tidak larut dalam air, namun akan cepat terdispersi.
Umumnya bahan ini tidak toksik dan tidak mengiritasi. Konsentrasi yang biasa
digunakan untuk emulasi air dalam minyak adalah 1-15% jika dikombinaikan 1-
10%.
2. Tween 80
berbentuk cairan berminyak berwarna kuning. Bahan ini larut dalam etanol dan
air. Umumnya bahan ini tidak toksik dan tidak mengiritasi. Konsentrasi yang
20
biasa digunakan adalah 1-10%.
b. Bahan emolien
1. Dimethicon
Dimethicon merupakan cairan berwarna jernih atau bening, dan tersedia dalam
berbagai macam viskositas. Bahan ini sangat mudah larut dalam dalam etil asetat,
metil etil keton, minyak mineral, eter, kloroform, dan toluena, larut dalam
isopropil miristat, sedikit larut dalam etanol, praktis tidak larut dalam gliserin,
propilenglikol dan air. Konsentrasi yang biasa digunakan untuk emolien adalah
10-30%.
2. Vaselin Album
Vaselin mempunyai masa yang lunak, lengket, bening, putih, sifat vaselin
ini tetap setelah zat dileburkan dan didiamkan hingga dingin tanpa diaduk.
Kelarutan vaselin yakni praktis tidak larut dalam air dan etanol (95%), larut dalam
kloroform, eter, dan eter minyak tanah. Vaselin sering digunakan sebagai
emollien.
3. Lanolin anhidrat
dalam formulasi farmasi topikal dan kosmetik. Lanolin juga dapat digunakan
sebagai hydrophobic vehicle dalam pembuatan krim air dalam minyak dan salep.
Lanolin berwarna kuning pucat, mempunyai rasa yang manis, dan berbentuk lilin
dengan bau khas yang lemah, lanolin yang dicairkan berupa cairan jernih atau
21
hampir jernih, cairan kuning. Bahan ini sangat mudah larut dalam benzen,
kloroform, eter, dan minyak bumi (petrolatum), sedikit larut dalam etanol dingin
(95%), lebih mudah larut dalam etanol mendidih (95%), praktis tidak larut dalam
air.
c. Bahan Humektan
1. Propilenglikol
untuk ekstrak dan juga pengawet pada berbagai formulasi kosmetik. Bahan ini
nontoksik dan sedikit mengiritasi. Propilen glikol merupakan larutan jernih, tidak
berwarna, dan tidak berbau. Propilen glikol pada sediaan topikal biasa digunakan
2. Gliserin
berwarna, tidak berbau, kental, dan higroskopis. Bahan ini sedikit larut dalam
aseton, praktis tidak larut dalam benzene, kloroform, dan minyak, dapat
bercampur dengan etanol, metanol, dan air. Konsentrasi gliserin yang biasa
1. Asam Stearate
Asam stearat biasa digunakan dalam formulasi sediaan oral dan topikal.
emulsifying agent dan solubilizing agent. Asam stearat merupakan bubuk putih
22
keras, berwarna putih atau agak kuning, sedikit mengkilap, kristal padat putih atau
kekuningan. Bahan ini sangat larut dalam benzene, kloroform, eter, dan larut
dalam etanol (95%), heksana, dan propilenglikol, praktis tidak larut dalam air.
e. Bahan pengawet
1. Metilparaben
aktivitas paling efektif untuk jamur dan kapang. Metilparaben larut dalam air,
etanol 95%, eter (1:10), dan metanol. Bahan ini dapat digunakan tunggal maupun
kombinasi dengan jenis paraben lain. Efektifitas pangawet ini memili rentang pH
4-8. Dalam sediaan topikal, konsentrasi yang umum digunakan adalah 0,02-0,3%.
2. Propilparaben
antara 4-8. Propilparaben sangat efektif terhadap jamur dan kapang. Di samping
itu, propylparaben lebih aktif terhadap bakteri gram positif daripada gram negatif.
ini sangat larut dalam aseton, ester dan minyak, mudah larut dalam etanol dan
metanol, sangat sedikit larut dalam air. Konsentrasi yang biasa digunakan untuk
f. Aquadest
Air murni yang diperoleh dengan cara penyulingan disebut aquadest. Air
23
murni ini dapat diperoleh dengan cara penyulingan, pertukaran ion, osmosis
terbalik, atau dengan cara yang sesuai. Air murni lebih bebas dari kotoran maupun
24
BAB III
METODE PENELITIAN
pembuatan formulasi krim menggunakan ekstrak etanol daun kopi arabika (Coffea
arabica L) dengan konsentrasi 3%, 5% dan 7%. Formulasi krim melalui berbagai
uji mutu sediaan, uji keamanan, dan uji efektivitas krim dengan skin analyzer.
Ilmu Kesehatan Universitas Sari Mutiara Indonesia yang beralamat di Jalan Bakti
Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Maret sampai dengan Mei 2024
3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah daun kopi arabika (Coffea arabica L).
3.3.2 Sampel
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun kopi arabika
25
Tigalingga Kabupaten Dairi, Provinsi Sumatera Utara.
3.4.1 Alat
ukur, kertas perkamen, kertas saring, lumpang porselin, blender, stamfer, neraca
analitik, penangas air, penjepit tabung, tabung reaksi, pipet tetes, spatula, tube
plastik, toples, tissue kering, kaca objek, sudip, serbet, wadah kaca berwarna
gelap, Lemari pengering rotary evaporator, skin analyzer, Oven, pH meter dan
viskometer.
3.4.2 Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Asam stearate, setil
dan daun kopi arabika merupakan komponen yang digunakan dalam penelitian ini.
3.5 Sukarelawan
26
Mengenai sukarelawan adalah orang terdekat dan sering berada disekitar
pengujian sehingga lebih muda diawasi dan diamati bila ada reaksi yang terjadi
daun kopi arabika dengan kriteria yaitu segar, warna hijau tua, utuh, dan tidak
Utara.
daun ditimbang sebagai berat basah sebanyak 5 kg. Bahan ini kemudian
dikeringkan suhu di lemari pengering dan dapat juga dikeringkan dengan cara
disebarkan diatas koran dengan temperatur ± 40ºC hingga kering pada kadar 10%.
27
halus dan disimpan dalam wadah bersih dan tertutup rapat.
tanpa alat. Cara ini dilakukan untuk mencari kekhususan morfologi dan warna
pengenal daun kopi arabika secara umum yang dilakukan melalui pengamatan di
Kadar air ditetapkan dengan cara destilasi toluen. Toluen yang digunakan
ditimbang dan dimasukkan ke dalam labu alas bulat dan ditambahkan toluen yang
mendidih, penyulingan diatur 2 tetes/ detik, lalu 4 tetes/detik. Setelah semua air
keadaan dingin mencapai hingga suhu kamar. Volume air dibaca sesudah toluen
tambahkan 100 ml air jenuh kloroform. Kocok berkali-kali selama 6 jam pertama,
biarkan selama 18 jam. Filtrat disaring dan diuapkan hingga kering dalam cawan
28
dangkal beralas datar yang telah ditara. Residu dipanaskan pada suhu 105°C
hingga bobot tetap, hitung kadar dalam % sari larut air (Utami, 2017).
biarkan selama 18 jam. Filtrat disaring dan diuapkan hingga kering dalam cawan
dangkal beralas datar yang telah ditara. Residu dipanaskan pada suhu 105°C
hingga bobot tetap, hitung kadar dalam % sari larut air (Utami, 2017).
yang telah dipijar dan ditara, pijarkan perlahan-lahan hingga suhu yang
tinggal unsur mineral dan anorganik saja yaitu pada suhu 600 ± 25°C, dinginkan
dan timbang. Kadar abu total dihitung terhadap berat bahan uji, dinyatakan dalam
Abu yang diperoleh pada penetapan kadar abu total dididihkan dengan 25
ml asam klorida encer LP selama 5 menit. Bagian yang tidak larut dalam asam
dikumpulkan, saring melalui kertas saring bebas abu, Kadar abu yang tidak larut
dalam asam dihitung terhadap berat bahan uji, dinyatakan dalam % b/b (Utami,
2017).
29
flavonoid, saponin, tanin, steroid, dan triterpenoid.
klorida 2 N dan 9 ml air suling, dipanaskan diatas penangas air selama 2 menit,
didinginkan dan disaring. Filtrat yang diperoleh dipakai untuk uji alkaloida,
Alkaloid positif jika terjadi endapan atau kekeruhan paling sedikit dua dari
selama 10 detik. Jika terbentuk busa setinggi 1-10 cm yang stabil dan tidak kurang
dari 10 menit dan tidak hilang dengan penambahan 1 tetes asam klorida 2N
5 menit dan disaring dalam keadaan panas, kedalam 5 ml filtrat ditambahkan 0,1 g
serbuk magnesium dan 1 ml asam klorida pekat dan 2 ml amil alkohol, dikocok
dan dibiarkan memisah. Flavonoida positif jika terjadi warna merah atau kuning
30
atau jingga pada lapisan amil alkohol (Rika, 2019).
ml air suling lalu didinginkan dan disaring. Larutan diambil 2 ml ditambahkan 1-2
tetes pereaksi besi (III) klorida 1%. Jika terjadi warna biru kehitaman atau hijau
lalu disaring. Filtrat diuapkan dalam cawan penguap. Pada sisa ditambahkan
hijau menunjukkan adanya steroida, sedangkan warna merah, merah muda atau
dengan perbandingan etanol 1:10. Dituangi dengan 75 bagian sebanyak 3,75 liter
etanol 96%, ditutup, dibiarkan selama 5 hari terlindung dari cahaya sambil sering
diaduk, diserkai, disaring. Ampas dimaserasi lagi dengan 25 bagian sebanyak 1,25
liter etanol 96 % pada bejana tertutup, dibiarkan ditempat sejuk dan terlindung
dari cahaya sambil sering diaduk, diserkai, disaring. Filtrat digabungkan lalu
dibiarkan selama 2 hari untuk proses dekantasi, kemudian dipekatkan dengan alat
rotary evaporator pada suhu 40oC sampai tidak ada lagi cairan yang menetes
31
3.10 Formulasi Sediaan Krim
R/ Asam stearat 5g
Setil Alkohol 5g
Sorbitol 0,2 g
Propilen glikol 3g
Trietanolamin 1g
Parfum qs
Aquades ad 100
Formulasi Modifikasi
Asam stearat 5g
Setil Alkohol 5g
Sorbitol 0,2 g
Propilen glikol 3g
Trietanolamin 1g
Parfum qs
Aquades ad 100 ml
F0 K - F1 F2 F3 K+
32
(3%) (5%) (7%)
1. Ekstrak etanol - 3 5 7
2. Asam stearate 5 5 5 5
3. Setil alkohol 5 5 5 5
7. Trietanolamin 1 1 1 1
Keterangan
F0 : Blanko (Kontrol -)
Sediaan krim akan di buat sebanyak 100 g. Krim dibuat dalam 4 formula
yang dibedakan oleh konsentrasi ekstrak daun kopi arabika, masing-masing krim
mengandung ekstrak daun kopi arabika dengan konsentrasi yang bervariasi yaitu
0%, 3%, 5%, dan 7% masing-masing sebanyak 100 g dalam komposisi basis yang
sama.
33
formula dibagi menjadi dua kategori, fase minyak dan fase air. Fase minyak terdiri
dari asam stearat, setil alkohol dilebur di atas penangas air (massa I). Dan fase air
yang terdiri dari sorbitol, propilen glikol, trietanolamin dan metil paraben
dilarutkan di dalam air panas yang telah ditakar (massa II). Selanjutnya fase
minyak dan fase air dimasukkan dalam lumpang dan digerus terus menerus
secara visual. Dimana spesifikasi krim yang harus dipenuhi adalah memenuhi
bahan transparan lain yang cocok, sediaan harus menunjukkan susunan yang
Metode yang digunakan untuk menjamin sediaan memiliki sifat yang sama
34
pada suhu dingin (4-8°C) kriteria penyimpanan. Selama 24 jam lalu dipindahkan
kedalam oven yang bersuhu 40°C selama 24 jam. Perlakuan ini satu siklus.
Percobaan ini diulang sebanyak enam siklus dievaluasi sediaannya setiap siklus
ditambahkan 1 tetes metil biru, diaduk dengan batang pengaduk. Bila metil biru
tersebar merata berarti sediaan tersebut tipe emulsi m/a, tetapi bila hanya bintik-
bintik biru berarti sediaan tersebut tipe emulsi a/m (Maya, 2020).
3.11.5 Uji pH
masing sampel formula. Pengujian ini dilakukan dengan cara ambil 1 gr sediaan
pada masing-masing sampel formula dan encerkan dengan aquadest 10 ml. diukur
Brookfield. kemudian atur spindle dan kecepatan yang digunakan dan viskometer
(Sigar, 2018).
Uji daya sebar dilakukan dengan menimbang emulgel sebanyak 0,5 gram,
kemudian diletakkan ditengah lempeng kaca bulat berskala dengan diameter kaca
15 cm kemudian ditutupi kaca lain serta diberi beban seberat 50 gram, diamkan
35
selama 1 menit, ditambah lagi beban 100 gram, dan 150 gram. Daya sebar 5 – 7
(Handayani, 2015).
Uji iritasi kulit ini dilakukan terhadap 12 orang dari 15 orang sukarelawan
pada sediaan krim anti-aging dengan cara mengoleskan sediaan pada kulit yang
tipis dibagian belakang telinga dibiarkan selama 24 jam dan dilihat perubahan
yang terjadi berupa gatal, kemerahan, dan pengkasaran pada kulit (Maya, 2020).
tangan yang telah ditandai, krim dioleskan berdasarkan kelompok yang ditetapkan
kondisi kulit diukur setiap minggu selama 4 minggu menggunakan skin analyzer.
Parameter yang diukur meliputi kadar air, jumlah pori dan keriput (Maimunah.,
dkk, 2020)
36
3.13 Pengukuran Kondisi Kulit
Kadar air diukur menggunakan alat moisture checker yang terdapat dalam
konsentrasi dilakukan dengan lima tahap di mulai dari melihat kondisi awal,
2. Pori (Pore)
kali (normal lens) dengan warna lampu sensor biru, pada waktu melakukan
analisa kehalusan kulit, secara otomatis analisa besar pori ikut terbaca. Hasil
3. Keriput (Wrinkle)
normal dengan warna lampu sensor biru. Hasil Uji Pemberian masing
37
setelah 1 minggu, 2 minggu, 3 minggu dan 4 minggu.
Pengukuran Parameter
pengamatan sediaan krim anti aging daun kopi arabika. Data deskriptif kuantitatif
diperoleh dari pengujian organoleptis yang meliputi bentuk, warna dan bau
sediaan dan uji iritasi yang dilakukan setelah pembuatan krim yang ditampilkan
38
BAB IV
Utara menunjukkan bahwa daun kopi arabika yang diteliti termasuk spesies
Coffea arabica [Link] famili Rubiaceae. Hasil indentifikasi dapat dilihat pada
lampiran 1.
berwarna hijau tua, daun berbentuk bulat dengan ujung agak meruncing sampai
bulat dan bagian pinggir bergelombang, dan permukaan daun halus dan
penetapan kadar air, penetapan kadar sari larut dalam air, penetapan kadar sari
larut dalam etanol, penetapan kadar abu total, penetapan kadar abu tidak larut
39
asam. Hasil pemeriksaan karakteristik serbuk simplisia daun kopi arabika dapat
Tabel 4.1 Hasil Pemeriksaan Karakteristik Serbuk Simplisia Daun kopi arabika
bahwa kadar air tidak lebih dari 10%, kadar sari larut dalam air tidak kurang dari
5%, kadar sari larut dalam etanol tidak kurang dari 8%, kadar abu total tidak lebih
dari 4%, kadar abu tidak larut asam tidak lebih dari 1%.
Penetapan kadar air pada simplisia diketahui untuk mengetahui jumlah air
kadar air lebih kecil dari 10%, yaitu sebesar 5,1%. Kadar air melebihi 10% dapat
menjadi media yang baik dalam pertumbuhan mikroba jamur atau serangga, serta
Penetapan kadar sari larut air dilakukan untuk mengetahui jumlah senyawa
yang bersifat polar yang dapat tersari dalam pelarut air kadar sari pelarut air yang
diperoleh 25,92%. Penetapan kadar air sari larut dalam etanol dan untuk tersari
didalam pelarut etanol. Kadar sari larut etanol yang diperoleh adalah 24,73%. Hal
40
ini menunjukkan bahwa senyawa yang larut dalam pelarut air lebih besar dari
pada jumlah senyawa yang terlarut dalam etanol. Metode penentuan kadar sari
larut air maupun etanol bertujuan untuk menentukan sejumlah senyawa yang
terektraksi dalam pelarut dalam sejumlah serbuk simplisia (Rivai, dkk, 2013).
Penetapan kadar abu total dan kadar abu tidak larut asam dari serbuk
simplisia sebesar 3,36% dan 0,60%. Penetapan kadar abu dilakukan untuk
dan K. Kadar abu tidak larut asam untuk mengetahui kadar senyawa anorganik
yang tidak larut dalam asam misalnya silika (Sari & Laoli 2019)
sekunder yang dimiliki daun kopi arabika tertera pada Tabel 4.2.
41
3. Saponin Air panas, dokocok (+) busa setinggi 3cm
selama 10 detik
tanin, steroid, dan triterpenoid serta flavonoid dan saponin. Karena daun kopi
Hasil ekstraksi dari 500 gram serbuk simplisia daun kopi arabika dengan
dengan rotary evaporate dan diperoleh ekstrak kental yaitu sebanyak 87 gram
ekstrak daun kopi arabika yang digunakan adalah konsentrasi 3%, 5% dan 7%.
42
Krim anti-aging tanpa ekstrak etanol daun kopi arabika berwarna putih, krim
coklat muda, krim anti-aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 5%
berwarna coklat kopi, dan krim anti-aging dengan estrak etanol daun kopi
krim anti- aging ekstrak etanol daun kopi arabika dapat dilihat pada tabel 4.3.
Formula Pengamatan
Warna Tekstur Bau Homogenitas
F0 Putih Lembut Rose Homogen
F1 Coklat muda Lembut Rose Homogen
F2 Coklat kopi Lembut Khas daun kopi Homogen
F3 Coklat Tua Lembut Khas daun kopi Homogen
Keterangan :
F0 : Formulasi krim anti- aging tanpa ekstrak etanol daun kopi arabika
(blanko)
F1 : Formulasi krim anti- aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 3%
F2 : Formulasi krim anti- aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 5%
F3 : Formulasi krim anti- aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 7%
43
Hasil pengamatan uji organoleptik sediaan krim ekstrak etanol daun
tersebut dihasilkan karena penambahan ekstrak etanol daun kopi arabika. Bau
yang dihasilkan oleh sediaan krim yaitu bau khas daun kopi arabika dan
pengolesan diatas objek glass (Hanum, 2018). Hasil uji homogenitas tertera
dipindahkan kedalam oven yang bersuhu 40°C selama 24 jam. Perlakuan ini
satu siklus. Percobaan ini diulang sebanyak enam siklus dievaluasi sediaannya
setiap siklus dengan teliti untuk mengetahui adanya perubahan warna, bentuk
dan bau sediaan (Suryani dkk. 2017) dapat dilihat pada tabel 4.4.
44
berbau
4 Putih Semi padat Tidak
berbau
5 Putih Semi padat Tidak
berbau
6 Putih Semi padat Tidak
berbau
45
Formula F3 Siklus Warna Bentuk Bau
(7%) Ke
0 Coklat tua Semi padat Tidak
berbau
1 Coklat tua Semi padat Tidak
berbau
2 Coklat tua Semi padat Tidak
berbau
3 Coklat tua Semi padat Tidak
berbau
4 Coklat tua Semi padat Tidak
berbau
5 Coklat tua Semi padat Tidak
berbau
6 Coklat tua Semi padat Tidak
berbau
Keterangan :
F0 : Formulasi krim anti- aging tanpa ekstrak etanol daun kopi arabika
(blanko)
F1 : Formulasi krim anti- aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 3%
F2 : Formulasi krim anti- aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 5%
F3 : Formulasi krim anti- aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 7%
test (siklus 1-6) tidak mengalami perubahan baik warna, bau dan bentuk dari
sediaan, sehingga krim ini memenuhi standar uji stabilitas. Hasil uji stabilitas
46
Hasil penentuan tipe emulsi suatu sediaan ditentukan dengan
diletakkan diatas objek glass dan ditambahkan metil biru, diaduk dengan
batang pengaduk. Bila metilen biru dapat menyebar merata artinya tipe emulsi
minyak dalam air (m/a), jika warnanya hanya berupa bintik-bintik biru maka
F0 : Formulasi krim anti- aging tanpa ekstrak etanol daun kopi arabika
(blanko)
F1 : Formulasi krim anti- aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 3%
F2 : Formulasi krim anti- aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 5%
F3 : Formulasi krim anti- aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 7%
hasil sediaan krim sesudah penambahan metilen biru dapat larut dan tersebar
merata sehingga tipe emulsi sediaan adalah minyak dalam air (m/a).
Keuntungan dari tipe emulsi minyak dalam air yaitu tersebar dengan mudah
47
pada permukaan kulit, tidak melengket dan pada saat pencucian dapat hilang
dengan mudah (Maya, 2020). Hasil uji tipe emulsi tertera pada Lampiran 18.
4,6-6,0. Hasil pengukuran pH selama 4 minggu dapat dilihat pada tabel 4.6
No Formula Ph
F0 : Formulasi krim anti- aging tanpa ekstrak etanol daun kopi arabika
(blanko)
F1 : Formulasi krim anti- aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 3%
F2 : Formulasi krim anti- aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 5%
F3 : Formulasi krim anti- aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 7%
kopi arabika dapat ditentukan dengan pH meter. Krim anti- aging memiliki
pH yang sesuai dengan kriteria pH kulit yaitu 4,5 – 6,5 sehingga aman untuk
48
yang terlalu basa dapat membuat kulit bersisik (Olivia dkk., 2013). Hasil
Brookfiled, hasil uji viscometer selama 4 minggu dapat dilihat pada Tabel 4.7
F0 : Formulasi krim anti- aging tanpa ekstrak etanol daun kopi arabika
(blanko)
F1 : Formulasi krim anti- aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 3%
F2 : Formulasi krim anti- aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 5%
F3 : Formulasi krim anti- aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 7%
makin sulit sehingga krim akan semakin stabil. Viskositas yang baik pada
49
bentuk sediaan krim berkisar antara 2000 – 50.000 cp (Erwiyani, dkk 2018).
dengan menggunakan beban 150 gram. Hasil pengukuran daya sebar sediaan
krim anti- aging, didapat berkisar antara. Hasil daya sebar selama 4 minggu
F0 : Formulasi krim anti- aging tanpa ekstrak etanol daun kopi arabika
(blanko)
F1 : Formulasi krim anti- aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 3%
F2 : Formulasi krim anti- aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 5%
F3 : Formulasi krim anti- aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 7%
50
Berdasarkan data tabel 4.8 Hasil pengukuran daya sebar, semua
formula telah memenuhi syarat, persyaratan daya sebar sediaan topikal adalah
memiliki diameter berkisar 5-7 cm (Jani, 2020). Pengujian daya sebar selama
penurunan daya sebar sediaan yang dihasilkan (Garg, 2002). Hasil uji daya
dilakukan dengan cara mengoleskan sediaan krim anti- aging pada kulit
memberikan hasil negatif pada parameter reaksi iritasi. Hasil uji iritasi terhadap
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Kemerahan - - - - - - - - - - - -
2 Gatal-gatal - - - - - - - - - - - -
3 Bengkak - - - - - - - - - - - -
Keterangan :
51
+ : Gatal
++ : Kemerahan
+++ : Bengkak
Dari uji hasil iritasi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa sediaan krim anti-
aging yang mengandung ekstrak etanol daun kopi arabika dan yang tidak
mengandung daun kopi arabika (Blanko) aman digunakan. Hasil uji iritasi tertera
persentase kulit para relawan yang membaik akibat penggunaan krim anti-
52
Formula Sukarelawan Nilai Kadar Air %
Kondisi Perawatan Minggu Peningkatan
Awal 1 2 3 4 Kadar air
FO 1 10 11 11 15 15 5%
2 16 16 19 19 20 4%
3 20 20 21 21 24 4%
Rata-rata 15,3 15,6 17 18,3 19,6 4,3%
F1 1 10 11 11 15 16 6%
2 19 20 21 24 25 6%
3 21 21 24 24 26 5%
Rata-rata 16,6 17,3 18,6 21 22,3 5,6%
F2 1 11 11 15 16 19 8%
2 15 16 16 19 21 6%
3 24 24 26 31 31 7%
Rata-rata 16,6 17 19 22 23,6 7%
F3 1 16 16 19 21 25 9%
2 19 21 24 26 29 10%
3 20 21 24 26 31 11%
Rata-rata 18,3 19,3 22,3 24,3 28,3 10%
F4 1 11 11 15 19 24 13%
2 20 21 26 31 36 16%
3 24 26 30 34 39 15%
Rata-rata 18,3 19,3 23,6 28 33 14,6%
Keterangan :
F0 : Formulasi krim anti- aging tanpa ekstrak etanol daun kopi arabika
(blanko)
F1 : Formulasi krim anti- aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 3%
53
F2 : Formulasi krim anti- aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 5%
F3 : Formulasi krim anti- aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 7%
tanpa ekstrak) terjadi peningkatan kadar air rata-rata sebesar 4,3%, untuk F1
(krim anti-aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabikia 3%) mengalami
dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 7%) mengalami peningkatan sebesar
10% dan krim pembanding mengalami peningkatan kadar air sebesar 14,6%.
Grafik nilai kadar air (moisture) pada kulit sukarelawan terdapat pada grafik
4.1.
54
KADAR AIR
35
30
25
20
15
10
0
Kondisi Awal Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4
NilaI Kadar Air
peningkatan kadar air setiap minggunya antar formula namun pada F3 (krim anti-
aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 7%) mengalami peningkatan kadar
4.6.2 Pori
Hasil pengukuran pori ditunjukkan pada tabel berikut. Ukuran pori diukur
dengan menggunakan alat skin analyzer.
Analisa Parameter
Pori (pore) Kecil Beberapa besar Sangat besar
0-19 20-39 40-100
Tabel 4.11 Data Hasil Pengukuran Pori Pada Kulit Sukarelawan
55
F0 1 47 47 46 45 44 6,38%
2 52 51 50 49 48 7,69%
3 53 52 51 50 49 7,54%
F1 1 54 54 53 51 49 9,25%
2 47 47 45 44 43 8,51%
3 44 43 42 41 40 9,09%
F2 1 41 41 40 38 37 9,75%
2 54 53 52 51 49 9,25%
3 43 42 41 40 38 9,30%
F3 1 47 47 45 44 42 10,63%
2 45 44 43 42 40 11,11%
3 48 48 46 45 43 12,5%
F4 1 41 40 38 36 34 17,07%
2 45 44 43 41 39 13,33%
3 41 40 38 37 35 14,63%
Keterangan :
56
F0 : Formulasi krim anti- aging tanpa ekstrak etanol daun kopi arabika
(blanko)
F1 : Formulasi krim anti- aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 3%
F2 : Formulasi krim anti- aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 5%
F3 : Formulasi krim anti- aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 7%
dengan ekstrak etanol daun kopi arabikia 3%) mengalami penurunan pori
sebesar 8,95%, F2 (krim anti-aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika
ekstrak etanol daun kopi arabika 7%) mengalamai penurunan pori sebesar
Grafik nilai penurunan besar pori pada kulit sukarelawan terdapat pada grafik
4.2.
57
PORI
60
50
40
30
20
10
0
Kondisi Awal Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4
Nilai Pori
pori yang sangat signifikan pada minggu keempat. Hal ini menunjukkan krim
kulit.
58
3 34 34 33 32 31 8,82%
Rata-rata 34,3 34 33,3 32,3 31,3 8,74%
F1 1 33 33 32 31 30 9,09%
2 31 31 30 29 28 9,67%
3 32 31 30 29 28 12,5%
Rata-rata 32 31,6 30,6 29,6 28,6 10,42%
F2 1 32 31 30 28 27 15,62%
2 31 30 28 28 26 16,12%
3 29 28 27 26 24 17,24%
Rata-rata 30,6 29,6 28,3 27,3 25,6 16,32%
F3 1 27 26 25 23 21 22,22%
2 26 25 24 23 21 19,23%
3 26 26 25 23 22 15,38%
Rata-rata 26,3 25,6 24,6 23 21,3 18,94%
F4 1 32 31 30 28 26 18,75%
2 28 27 26 25 23 17,85%
3 30 29 27 25 23 23,33%
Rata-rata 30 29 27,6 26 24 19,94%
Keterangan :
F0 : Formulasi krim anti- aging tanpa ekstrak etanol daun kopi arabika
(blanko)
F1 : Formulasi krim anti- aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 3%
F2 : Formulasi krim anti- aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 5%
F3 : Formulasi krim anti- aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 7%
59
Diketahui data pada tabel 4.12 menunjukkan kondisi kulit setelah
F1 (krim anti-aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabikia 3%) mengalami
(krim anti-aging dengan ekstrak etanol daun kopi arabika 7%) mengalamai
penurunan keriput sebesar 19,94%. Grafik nilai penurunan kadar keriput pada
KERIPUT
40
35
30
25
20
15
10
5
0
Kondisi Awal Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4
Nilai Keriput
60
Berdasarkan grafik diatas menunjukkan kondisi keriput selama 4 minggu
adanya perubahan kondisi menjadi lebih baik dari sebelumnya, terjadi penurunan
keriput setiap minggunya antar formula namun pada F3 (krim anti-aging dengan
ekstrak etanol daun kopi arabika 7%) mengalami penurunan keriput pada angka
61
BAB V
5.1 Kesimpulan
tidak mengiritasi.
3. Sediaan krim ekstrak daun kopi arabika (Coffea arabika L.) dengan
minggu.
5.2 Saran
ekstrak etanol daun kopi arabika menjadi bentuk sedian lain seperti sabun
62
DAFTAR PUSTAKA
Ekawati, H., & Hariningsih, Y. (2023). Formulasi Dan Uji Efektivitas Antioksidan
Serum Wajah Ekstrak Kulit Buah Kopi Arabika (Coffea Arabica. L)
Sebagai Anti-Aging. Parapemikir: Jurnal Ilmiah Farmasi, 12(2), 209-216.
Fajriyah, N. N., & Qulub, M. S. (2019, January). Uji parameter standar mutu
simplisia herba seledri (Apium Graveolens L.) dari kabupaten Pekalongan.
In Prosiding University Research Colloquium (pp. 484-489).
Fernando, K. (2021). Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Dan Etil Asetat,
Daun Kelapa Sawit (Elaesis guneensis JACQ) dan Fformulasinya Sebagai
Sediaan Obat Kumur.
Handayani, M., Mita, N., & Ibrahim, A. (2015, June). Formulasi dan optimasi
basis emulgel carbopol 940 dan trietanolamin dengan berbagai variasi
konsentrasi. In Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals
Conferences (Vol. 1, pp. 53-60).
Hanum, T. I. (2018, October). Formulasi dan Uji Aktivitas Krim Ekstrak Beras
Merah (Oryza Nivara L.) Sebagai Antiaging. In Talenta Conference
Series: Tropical Medicine (TM) (Vol. 1, No. 1, pp. 237-244).
Hudakova, J., Marcincakova, D., and Legath, J., 2016, Study of Antioxidant
Effect Types of Coffe, Journal Vol.60, Department of Pharmacology and
Toxicology, University of Veterinary Medicine and Pharmacy.
63
Istiqomah. 2013. Perbandingan Metode Ekstraksi Maserasi Dan Sokletasi
Terhadap Kadar Piperin Buah Cabe Jawa (Piperis retrofracti fructus).
Proposal. Jakarta: Jurusan Farmasi UIN Syarif Hidayatullah.
Kurnia, S., Ropalia, R., & Zasari, M. (2023). Karakterisasi Morfologi Tanaman
Kopi Rakyat di Pulau Bangka. Jurnal Agro Industri Perkebunan, 115-132.
Muliyawan, D., dan Suriana, N. 2013. A-Z Tentang Kosmetik, PT Elex Media
Komputindo, Jakarta.
Naibaho, O. H., Yamlean, P. V., & Wiyono, W. (2013). Pengaruh basis salep
terhadap formulasi sediaan salep ekstrak daun kemangi (Ocimum sanctum
L.) pada kulit punggung kelinci yang dibuat infeksi Staphylococcus
aureus. Pharmacon, 2(2).
Nugrahaeni, F., Fatmawati, S., Nursal, F. K., & Hidayat, V. Y. (2021). Formulasi
dan uji faktor pelindung surya krim ekstrak etanol daun kopi arabika
(Coffea arabica L.). Media Farmasi, 18(2), 87.
Nurhadianty, V., Brahmanti, H., Murlistyarini, S., Khanza, S., Rizkita, C. W., &
Cahyani, C. (2021). Formulasi Krim Anti-Aging Pada Kulit Daerah Tropis
Berbasis Ekstrak Daun Kelor, Minyak Kenanga Dan Minyak Lemon
Sebagai Bioaktif. Journal of Innovation and Applied Technology, 7(1),
1166-1172.
Pristiana, D. Y., Susanti, S., & Nurwantoro, N. (2017). Aktivitas Antioksidan Dan
Kadar Fenol Berbagai Ekstrak Daun Kopi (Coffea sp.): Potensi Aplikasi
Bahan Alami Untuk Fortifikasi Pangan. Jurnal Aplikasi Teknologi
Pangan, 6(2).
64
Purwandari, V., Silitonga, M., Thaib, C. M., & Sitohang, I. K. (2018). Formulasi
Sediaan Krim Lulur Kopi Arabika (Coffea Arabica) Sebagai Anti-
Aging. JURNAL FARMANESIA, 5(1), 50-63.
Puspitasari, A. D., Yuita, N. E., & Sumantri, S. (2017). Krim antioksidan ekstrak
etanol daun kopi Arabika (Coffea Arabica). Jurnal Ilmiah
Teknosains, 3(2).
Rahardjo, P. (2013). Kopi: Panduan Budi Daya dan Pengelolaan Kopi Arabika dan
Robusta. Cetakan kedua. Jakarta: Penebar Swadaya.
Safitri, N. A., Puspita, O. E., & Yurina, V. (2014). Optimasi formula sediaan krim
ekstrak stroberi (Fragaria x ananassa) sebagai krim anti penuaan. Majalah
Kesehatan, 1(4), 235-246.
Shamsuddin, A. M., Sekar, M., & Musa, A. Z. (2018). Formulation and Evaluation
of Novel Antiaging Cream Containing Mangiferin. INTERNATIONAL
RESEARCH JOURNAL OF PHARMACY, 9(6).
Sari, R. P., & Laoli, M. T. (2019). Karakterisasi Simplisia Dan Skrining Fitokimia
Serta Analisis Secara Klt (Kromatografi Lapis Tipis) Daun Dan Kulit Buah
Jeruk Lemon (Citrus Limon (L.) Burm. f.). JIFI (Jurnal Ilmiah Farmasi
Imelda), 2(2), 59-68.
Sinaga, M. A., Asfianti, V., & Gurning, K. (2020). Formulasi Krim Anti-Aging
Dari Ekstrak Etanol Bawang Merah (Allium cepa L.). Herbal Medicine
Journal, 3(1), 12-18.
Solin, H. (2019). Formulasi Sediaan Masker Gel Peel Off Dari Ekstrak Daun
Bidara (Ziziphus Spina-Christi L.) (Doctoral dissertation, Institut
Kesehatan Helvetia).
65
Sugiarti, L. (2017). Analisis tingkat keparahan penyakit karat daun pada tanaman
kopi Arabika di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Winaya
Mukti Tanjungsari. Jagros: Jurnal Agroteknologi Dan Sains (Journal of
Agrotechnology Science), 1(2), 80-89.
Suryani., Putri, A.E.P, Agustyiani, P. 2017. Formulasi dan Uji Stabilitas Sediaan
Gel Ekstrak Terpurifikasi Daun Paliasa (Kleinhovia Hospita L.) yang
Berefek Antioksidan. PHARMACON 6 (3): 157-169.
Utami, Y. P., Umar, A. H., Syahruni, R., & Kadullah, I. (2017). Standardisasi
simplisia dan ekstrak etanol daun leilem (Clerodendrum minahassae
Teisjm. & Binn.). Journal of Pharmaceutical and medicinal sciences, 2(1).
Wahid, H., Karim, S. F., & Sari, N. (2022). Formulasi Sediaan Krim Anti-aging
dari Ekstrak Kolagen Limbah Sisik Ikan Bandeng (Chanos chanos):
Formulation of Anti-aging Cream from Milkfish Scales Waste Collagen
Extract (Chanos chanos). Jurnal Sains dan Kesehatan, 4(4), 428-436.
Wigati, E. I., Pratiwi, E., Nissa, T. F., & Utami, N. F. (2018). Uji karakteristik
fitokimia dan aktivitas antioksidan biji kopi robusta (coffea canephora
pierre) dari Bogor, Bandung dan Garut dengan metode DPPH (1, 1-
diphenyl-2-picrylhydrazyl). FITOFARMAKA: Jurnal Ilmiah Farmasi, 8(1),
59-66.
Wulandari, P. (2016). Uji Stabilitas Fisik dan Kimia Sediaan Krim Ekstrak Etanol
Tumbuhan Paku (Nephrolepis falcata (Cav.) C. Chr.).
66
67
LAMPIRAN
68
Lampiran 2. Surat keterangan layak etik
69
Lampiran 3. Surat pernyataan persetujuan (informed Consent)
SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN
(INFORMED CONSENT)
Nama :
Umur :
Alamat :
penjelasan dari penelitian mengenai prosedur dan manfaat dari penelitian ini
maka saya menyatakan SETUJU untuk ikut serta dalam penelitian dari ROMA
Etanol Daun Kopi Arabika (Coffea arabica L.) Sebagai Anti-Aging” dalam
memberikan efek anti penuaan dini. Saya menyatakan sukarela dan bersedia
untuk mengikuti prosedur penelitian yang telah ditetapkan. Dan tidak akan
Persetujuan ini saya buat dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan dari pihak
sebagaimana mestinya.
Peneliti
70
Lampiran 4. Makroskopik
Lampiran 5. Mikroskopik
71
Kristal kalsium oksalat
Epidermis atas
Serabut sklerenkim
72
Lampiran 6. Bagan pembuatan simplisia dan perhitungan susut pengering
Disortasi, dicuci
dan ditiriskan
Ditimbang berat
basah
4 Kg Daun Kopi Arabika
Dikeringkan di lemari pengering
pada suhu ± 40°C
Disortasi kering
Ditimbang berat kering
2 kg serbuk simplisia
73
Lampiran 7. Proses pembuatan simplisia daun kopi arabika
74
Lampiran 8. Bagan ekstrak etanol daun kopi arabika
Maserasi
75
= 17,4%
76
Lampiran 9. Pembuatan ekstrak etanol daun kopi arabika
77
Lampiran 10. Hasil karakterisasi
1. Penetapan kadar air
78
(W 1−W 2)
Kadar air= ×100 %
(W 1−W 0)
Keterangan :
0,2348
=
5,066
X 100% = 4,68%
Kurs Porselin 2
45,8818−45,5600
Kadar Air (%) = X 100%
45,8818−40,8753
0,3158
=
5,0065
X 100% = 6,30%
Kurs Porselin 3
45,3447−45,1332
Kadar Air (%) = X 100%
45,3447−40,3426
0,2163
=
5,0021
X 100% = 4,32%
4 ,68 % +6 , 30 %+ 4 , 32 %
Rata-rata = = 5,1%
3
79
2. Penetapan kadar sari larut dalam air
80
Berat sari+cawan
1. 5,0040 0,2499
2. 5,0066 0,2628
3. 5,0003 0,2658
Perhitungan :
Cawan 1
0,2499 100
Kadar sari larut (%) = 5,0040 x 20 x 100% = 24,97%
Cawan 2
0,2628 100
Kadar sari larut (%) = 5,0066 x 20 x 100% = 26,24%
Cawan 3
0,2658 100
Kadar sari larut (%) = 5,0003 x 20 x 100% = 26,57%
24 , 97 % +26 , 24 % +26 , 57 %
Rata-rata = = 25,57%
3
3. Penetapan kadar sari larut dalam etanol
81
Berat Simplisia Maserasi selama 24 jam
Berat sari+cawan
No Berat Sampel Berat Sari
82
1. 5,0069 0,233
2. 5,0065 0,2657
3. 5,0040 0,2442
Perhitungan :
Cawan 1
0,233 100
Kadar sari larut (%) = 5,0069 x 20 x 100% = 23,26%
Cawan 2
0,2657 100
Kadar sari larut (%) = 5,0065 x 20 x 100% = 26,53%
Cawan 3
0,2442 100
Kadar sari larut (%) = 5,0040 x 20 x 100% = 24,40%
83
4. Penetapan kadar abu total
84
Berat abu(gr )
% Kadar abu total simplisia = x 100%
berat simplisia(gr )
1. 5,0021 0,1307
2. 5,0010 0,1925
3. 5,0018 0,1821
Perhitungan :
Kurs Porselin 1
0,1307
% Kadar abu total simplisia = x 100% = 2,61%
5,0021
Kurs Poreslin 2
0,1925
% Kadar abu total simplisia = x 100% = 3,84%
5,0010
Kurs Porselin 3
0,1821
% Kadar abu total simplisia = x 100% = 3,6%
5,0018
85
5. Penetapan kadar abu tidak larut asam
Berat Kadar Abu Tidak Larut Asam Hasil Kadar Abu Tidak Larut Asam
86
Berat abu tidak larut asam( gr)
% Kadar abu tidak larut asam = x 100%
berat simplisia( gr )
1. 2,0005 0,0128
2. 2,0003 0,0122
3. 2,0001 0,0119
Kurs Porselin 1
0,0128
% Kadar abu tidak larut asam = x 100% = 0,63%
2,0005
Kurs Porselin 2
0,0122
% Kadar abu tidak larut asam = x 100% = 0,60%
2,0003
Kurs Porselin 3
0,0119
% Kadar abu tidak larut asam = x 100% = 0,59%
2,0001
0 , 63 %+0 , 60 % +0 , 59 %
Rata-rata = = 0,60%
3
87
Lampiran 11. Hasil Skrining
No Metabolite Gambar Hasil
Sekunder
1. Alkaloid +
Endapan
putih pada
mayer
+
Endapan
coklat pada
bouchardat
+
Endapan
merah pada
dragendroff
2. Flavonoid
+
Warna merah
pada lapisan
atas
3. Saponin
+
Terbentuk
busa setinggi
3cm
88
4. Tanin
+
Biru
Kehitaman
5. Steroid/triterpenoid
+
Biru
Kehijauan
89
Lampiran 12. Bagan alir pembuatan krim Anti-Aging Ekstrak Etanol Daun Kopi
Arabika
Bahan
Ditimbang
Digerus konstan
Dasar krim
Ekstrak etanol daun kopi arabika
Ditimbang masing-masing
konsentrasi
90
Lampiran 13 . Alat dan bahan penelitian
91
Lampiran 14. Perhitungan Bahan Pembuatan Krim
Formula 0 (Blanko)
5
Asam stearat = x 100 g = 5
100
gam
5
Setil alkohol = x 100 g = 5 gam
100
0,2
Sorbitol = x 100 g = 0,2 gam
100
3
Propilen glikol = x 100 g = 3 gam
100
0,2
Metil paraben = x 100 g = 0,2 gam
100
1
Trietanolamin = x 100 g = 1 gam
100
Parfum = q.s
Aquadest = ad 100 ml
= 100 – (5+5+0,2+3+0,2+1)
= 100 – 14,4
= 85,6 ml
Formula 1 (3%)
3
Ekstrak etanol daun kopi arabika = x 100 g = 3 gam
100
5
Asam stearat = x 100 g = 5 gam
100
5
Setil alkohol = x 100 g = 5 gam
100
0,2
Sorbitol = x 100 g = 0,2 gam
100
92
3
Propilen glikol = x 100 g = 3 gam
100
0,2
Metil paraben = x 100 g = 0,2 gam
100
1
Trietanolamin = x 100 g = 1 gam
100
Parfum = q.s
Aquadest = ad 100 ml
= 100 – (3+5+5+0,2+3+0,2+1)
= 100 – 17,4
= 82,6 ml
Formula 2 (5%)
5
Ekstrak etanol daun kopi arabika = x 100 g = 5 gam
100
5
Asam stearat = x 100 g = 5 gam
100
5
Setil alkohol = x 100 g = 5 gam
100
0,2
Sorbitol = x 100 g = 0,2 gam
100
3
Propilen glikol = x 100 g = 3 gam
100
0,2
Metil paraben = x 100 g = 0,2 gam
100
1
Trietanolamin = x 100 g = 1 gam
100
Parfum = q.s
Aquadest = ad 100 ml
= 100 – (5+5+5+0,2+3+0,2+1)
= 100 – 19,4
= 80,6 ml
93
Formula 3 (7%)
7
Ekstrak etanol daun kopi arabika = x 100 g = 7 gam
100
5
Asam stearat = x 100 g = 5 gam
100
5
Setil alkohol = x 100 g = 5 gam
100
0,2
Sorbitol = x 100 g = 0,2 gam
100
3
Propilen glikol = x 100 g = 3 gam
100
0,2
Metil paraben = x 100 g = 0,2 gam
100
1
Trietanolamin = x 100 g = 1 gam
100
Parfum = q.s
Aquadest = ad 100 ml
= 100 – (7+5+5+0,2+3+0,2+1)
= 100 – 21,4
= 78,6 ml
94
Lampiran 15. Gambar sediaan krim anti- aging
Blanko F1(3%)
F2 (5%) F3 (7%)
F4 (K+)
95
Lampiran 16. Gambar hasil uji homogenitas
96
Lampiran 19. Gambar hasil uji pH
Blanko F1 (3%)
F2 (5%) F3 (7%)
97
Lampiran 20. Gambar hasil uji viskositas
Blanko F1 (3%)
F2 (5%) F3 (7%)
Telah diketahui :
Nomor spindel = 6
98
Kecepatan = 20 rpm
Faktor perkalian = 500
No Formula Dial
Reading
1 F0 25 25,5 26 27,5 29
2 F1 (3%) 27 28 29 30 31,5
3 F2 (5%) 29 30,5 32 34 36,5
4 F3 (7%) 29,5 31,5 33 35 38
Perhitungan Viskositas :
1.F0 (BLANKO)
Minggu 0 : 25 x 500 = 12.500 centipoise
Minggu 1 : 25,5 x 500 = 12.750 centipoise
Minggu 2 :26 x 500 = 13.000 centipoise
Minggu 3 : 27,5 x 500 = 13.750 centipoise
Minggu 4 : 29 x 500 = 14.500 centipoise
2. F1(3%)
Minggu 0 :27x 500 = 13.500 centipoise
Minggu 1 : 28x 500 = 14.000 centipoise
Minggu 2 :29 x 500 = 14.500 centipoise
Minggu 3 : 30 x 500 = 15.000 centipoise
Minggu 4 : 31,5x 500 = 16.250 centipoise
3.F2 (5%)
Minggu 0 : 29 x 500 = 14.500 centipoise
Minggu 1 : 30,5 x 500 = 15.250 centipoise
Minggu 2 :32x 500 = 16.000 centipoise
Minggu 3 : 34 x 500 = 17.000 centipoise
99
Minggu 4 : 36,5 x 500 = 18.250 centipoise
4. F3(7%)
Minggu 0 :29,5x 500 = 14.750 centipoise
Minggu 1 : 31,5x 500 = 15.750 centipoise
Minggu 2 :33x 500 = 16.500 centipoise
Minggu 3 : 35 x 500 = 17.500 centipoise
Minggu 4 : 38x 500 = 19.000 centipoise
100
Lampiran 22. Gambar hasil uji daya sebar
Blanko F1 (3%)
F2 (5%) F3 (7%)
101
Lampiran 23. Gambar hasil uji iritasi
Pengolesan awal
Blanko
F2 (5%)
102
Pengolesan setelah 24 jam
Blanko
F2(5%)
103
Lampiran 24. Hasil Pengujian Kadar Air Menggunkan Alat Moisture Cheker
Kelompok Formula Konsentrasi 7%
Minggu keempat
104
Lampiran 25. Hasil Pengujian Pori Menggunkan Alat Skin Analyzer Haram
Kondisi awal
Minggu pertama
105
Minggu kedua
Minggu ketiga
Minggu keempat
106
Lampiran 26. Hasil Pengujian Keriput Menggunkan Alat Skin Analyzer Haram
Kondisi awal
107
Minggu pertama
Minggu kedua
108
Minggu ketiga
Minggu keempat
109
110
111
112