BAB II
"Peningkatan Keaktifan Siswa Melalui Metode Project Based Learning pada
Pembelajaran P5 Dengan Tema "Kearifan Lokal" di Kelas IV SD Alam Al Fazza"
Landasan Teori
1. Keaktifan siswa
Keaktifan adalah tingkat keterlibatan atau partisipasi seseorang dalam suatu kegiatan,
yang ditunjukkan melalui inisiatif, antusiasme, serta konsistensi dalam menjalankan tugas atau
peran tertentu. Keaktifan mencerminkan sejauh mana seseorang secara sadar dan aktif
berkontribusi terhadap proses atau tujuan yang sedang dicapai. Menurut Kristin dalam (Natty
et al., 2019) menerangkan bahwa kreativitas merupakan kemampuan yang ada pada seseorang
atau siswa dalam menciptakan sesuatu yang baru dari sebuah ide, dan ide orang tersebut
menciptakan sesuatu yang mempunyai nilai guna. Sehingga dalam sebuah pembelajaran
kemampuan kreativitas sangat di butuhkan untuk menyelesaikan sebuah persoalan yang
ada.(Mahiratin et al., 2024)
Keaktifan diartikan sebagai kegiatan atau keaktifan, jadi segala sesuatu yang dilakukan
atau kegiatan-kegiatan yang terjadi baik fisik maupun non-fisik, merupakan suatu aktivitas.
Keaktifan belajar di artikan juga sebagai suatu kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam
pelaksanaan proses pembelajaran, dimana siswa bekerja atau beperan aktif dalam
pembelajaran, sehingga dengan demikian siswa tersebut memperoleh pengetahuan,
pemahaman dan aspek-aspek lain tentang apa yang dilakukan.(Alawiyah et al., 2023)
Adapun keaktifan siswa dapat dilihat dari: 1) siswa terlibat dalam mengerjakan tugas,
2) ikut dalam memecahkan sutu permasalahan, 3) bertanya kepada guru maupun murid yang
lain tentang persoalan yang belum di pahami, 4) ikut serta mencari informasi guna pemecahan
permasalahan, 5) melaksanakan diskusi sesuai arahan guru, 6) menjadi penilaian atas
kemampuan dirinya, 7) mau melatih diri guna memecahkan masalah atau persoalan yang
serupa, 8) mencoba menerapkan ilmu yang telah didapat dalam proses pemecahan
masalah.(Anggraini & Wulandari, 2020)
Munurut Sardiman keaktifan belajar adalah aktivitas yang bersifat fisik maupun mental,
dimana dalam kegiatan belajar kedua keaktifan tersebut saling berkaitan sehingga akan
mengahasilkan aktivitas belajar yang optimal.(Alawiyah et al., 2023)
2. Metode Project Based Learning (PjBL)
Project Based Learning (PjBL) adalah metode pembelajaran yang berpusat pada peserta
didik, di mana mereka belajar melalui eksplorasi aktif, pemecahan masalah, dan pembuatan
produk atau hasil kerja nyata berdasarkan proyek tertentu. Dalam Project Based Learning,
peserta didik diberikan masalah atau tantangan sebagai titik awal untuk memahami konsep dan
mengembangkan keterampilan, seperti berpikir kritis, kolaborasi, dan kreativitas. Metode ini
dirancang untuk membuat pembelajaran lebih relevan dan bermakna, karena peserta didik
terlibat langsung dalam proses yang menyerupai situasi dunia nyata.
PjBL dapat menumbuhkan sikap disiplin, yang melibatkan peserta didik dalam kegiatan
pemecahan masalah dan tugas-tugas bermakna lainnya, memberikan peluang peserta didik
bekerja secara otonom mengkonturk belajar sendiri, dan puncaknya menghasilkan produk
karya peserta didik sendiri bernilai dan realistik. Model pembelajaran project based learning
didasarkan pada temuan kontruktivis bahwa peserta didik mendapatkan pemahaman materi
yang lebih saat peserta didik secara aktif membangun pemahaman dengan bekerja serta
menggunakan gagasan.(Daaming et al., 2022)
Menurut Trianto (2014:49), tujuan metode PjBL ini memiliki tujuan untuk: 1)
memberikan wawasan yang luas terhadap siswa ketika menghadapi permasalahan secara
langsung; 2) mengembangkan keterampilan serta keahlian berpikir kritis dalam menghadapi
permasalahan yang diterima secara langsung. Jadi, ketika diambil secara garis besar tujuan dari
penerapan metode ini yaitu untuk mengasah serta memberikan kebiasaan kepada siswa dalam
melakukan kegiatan berpikir kritis untk menyelesaikan permasalahan yang diterima. Selain itu
metode ini juga dapat dilakukan sebagai upaya untuk mengembangkan wawasan
siswa.(Anggraini & Wulandari, 2020)
Metode Project Based Learning memiliki kelebihan, antara lain: 1) Melatih siswa dalam
memperluas pemikirannya mengenai masalah dalam kehidupan yang harus diterima; 2)
Memberikan pelatihan langsung kepada siswa dengan cara mengasah serta membiasakan
mereka melakukan berpikir kritis serta keahlian dalam kehidupan sehari-hari; 3) Penyesuaian
dengan prinsip modern yang pelaksanaannya harus dilakukan dengan mengasah keahlian
siswa, baik melalui praktek, teori serta pengaplikasiannya (Djamarah&Zain, 2011:83). Selain
kelebihan yang dimiliki model tersebut juga memiliki kekurangan, antara lain: 1) Sikap aktif
peserta didik dapat menimbulkan situasi kelas yang kurang kondusif, oleh karena itu
memberikan peluang beberapa menit diperlukan untuk membebaskan siswa berdiskusi. Jika
dirasa waktu diskusi mereka sudah cukup maka proses analisa dapat dilakukan dengan tenang;
2) Penerapan alokasi waktu untuk siswa telah diterapkan namun tetap membuat situasi
pengajaran tidak kondusif. Maka pendidik berhak memberikan waktu tambahan secara
bergantian pada tiap kelompok (Trianto, 2014:49).(Anggraini & Wulandari, 2020)
Berdasarkan keunggulan yang dimiliki metode problem based learning, maka metode
ini dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif tindakan untuk meningkatkan aktivitas belajar
dan hasil belajar siswa. Meskipun metode problem based learning memiliki kekurangan, tetapi
hal tersebut hanya berdampak sangat kecil dalam meningkatkan aktivitas belajar dan hasil
belajar siswa. Oleh karena itu, tindakan yang diberikan pada kelas yang akan ditingkatkan
aktivitas belajar dan hasil belajarnya adalah berupa penerapan metode problem based
learning.(- & Widayanti, 2014)
3. Pembelajaran P5 dengan Tema “Kearifan Lokal”
Kurikulum merdeka ini salah satunya adalah Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
(P5) karena untuk mengembalikan moral bangsa yang sudah memulai memudar.(Yunita
Anggraeny et al., 2023) Upaya pengembangan karakter dapat dilaksanakan dengan
menerapkan “profil pelajar Pancasila” yang sesuai dengan karakteristik kurikulum merdeka
(Susilawati et al., 2022). Pembelajaran proyek penguatan profil pelajar Pancasila ini
pembelajaran diluar kelas yang mendukung pembelajaran intrakurikuler, lebih tepat lagi
pembelajaran penguat upaya pencapaian kompetensi dan karakter sesuai dengan profil pelajar
Pancasila yang mengacu pada nilai-nilai Pancasila (Rahmawati et al., 2022). (Susilawati et al.,
2023)
Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) bertujuan untuk mengintegrasikan nilai-
nilai Pancasila ke dalam kegiatan belajar siswa. Dalam pembelajaran P5, tema "Kearifan
Lokal" dipilih untuk memperkenalkan kepada siswa tentang budaya, tradisi, dan nilai-nilai
lokal yang kaya di lingkungan sekitar mereka.
Pembelajaran dengan tema "Kearifan Lokal" dapat mencakup aktivitas seperti:
1. Mengenal budaya lokal: Siswa mempelajari tradisi, kesenian, dan adat istiadat
masyarakat setempat.
2. Pelestarian lingkungan: Siswa diajak untuk memahami hubungan antara kearifan
lokal dan pelestarian lingkungan.
3. Penerapan nilai Pancasila: Menghubungkan kearifan lokal dengan nilai-nilai
Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Metode PjBL sangat relevan untuk diterapkan dalam pembelajaran P5 dengan tema "Kearifan
Lokal" karena beberapa alasan berikut:
1. Meningkatkan motivasi belajar: Proyek yang menarik dan relevan dengan kehidupan
siswa dapat memotivasi mereka untuk aktif terlibat dalam pembelajaran.
2. Mengembangkan keterampilan abad 21: Melalui PjBL, siswa belajar bekerja sama,
berpikir kritis, dan kreatif.
3. Memperdalam pemahaman: Siswa mendapatkan pengalaman langsung dalam
memahami kearifan lokal melalui eksplorasi dan pengembangan proyek.
4. Meningkatkan keterlibatan siswa: Siswa menjadi lebih antusias dan aktif karena
mereka memiliki peran penting dalam proyek yang dikerjakan.
Penerapan metode PjBL dalam pembelajaran P5 dengan tema "Kearifan Lokal" tidak hanya
meningkatkan keaktifan siswa tetapi juga memperkaya pemahaman mereka tentang budaya
lokal dan nilai-nilai Pancasila.
Daftar Pustaka
-, W., & Widayanti, L. (2014). Peningkatan Aktivitas Belajar dan Hasil Belajar Siswa dengan
Metode Problem Based Learning pada Siswa Kelas VIIA MTs Negeri Donomulyo
Kulon Progo Tahun Pelajaran 2012/2013. Jurnal Fisika Indonesia, 17(49), 32–35.
[Link]
Alawiyah, A., Sukron, J., & Firdaus, M. A. (2023). Penerapan Model Pembelajaran
Kooperatif Times Games Tournament untuk Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa
pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Fitrah: Journal of Islamic Education,
4(1), 69–82. [Link]
Anggraini, P. D., & Wulandari, S. S. (2020). Analisis Penggunaan Model Pembelajaran
Project Based Learning Dalam Peningkatan Keaktifan Siswa. Jurnal Pendidikan
Administrasi Perkantoran (JPAP), 9(2), 292–299.
[Link]
Daaming, H., Samintang, & Rus’an. (2022). Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta
Didik Melalui Model Project Based Learning Pada Mata Pelajaran Ips Di Sma Negeri 1
Sarjo Kecamatan Sarjo Kabupaten Pasangkayu. Moderasi: Jurnal Studi Ilmu
Pengetahuan Sosial, 3(1), 1–20. [Link]
Mahiratin, M., Syarifuddin, S., & Kusumawati, Y. (2024). Penerapan Model PjBL (Project
Based Learning) untuk Meningkatan Kretivitas Siswa melalui Mata Pelajaran P5PPRA
pada Kurikulum Merdeka Belajar di Kelas IV MIN Kota Bima. Jurnal Pendidikan Dan
Pembelajaran Indonesia (JPPI), 4(2), 579–590. [Link]
Susilawati, W. O., Anggrayni, M., & Kustina. (2023). Pengembangan Modul P5 (Proyek
Penguatan Profil Pelajar Pancasila) Fase B Tema Kewirausahaan Di Sekolah Dasar.
INNOVATIVE: Journal Of Social Science Research, 3(2), 9799–9812.
Yunita Anggraeny, V., Alfiah Sulalatin, S., & Rahmantika Hadi, F. (2023). Pendidikan
Pancasila Melalui Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Dengan Metode
Project Based Learning (Pjbl) Dalam Aktivitas Siswa Di Sdn 1 Bedingin. Pendas :
Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 8(1), 5701–5716.
[Link]