Desain Pabrik Bahan Bakar Sintetik FT
Desain Pabrik Bahan Bakar Sintetik FT
SKRIPSI
BAGAS TRIYATMOJO
0806456392
FAKULTAS TEKNIK
DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA
DEPOK
JUNI 2012
HALAMAN JUDUL
UNIVERSITAS INDONESIA
SKRIPSI
BAGAS TRIYATMOJO
0806456392
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik
FAKULTAS TEKNIK
DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA
DEPOK
JUNI 2012
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah skripsi ini dapat selesai tepat pada
waktunya. Shalawat serta salam tak lupa penulis panjatkan kepada Rasulullah
SAW, keluarga, sahabatnya, serta umatnya hingga akhir zaman. Penulisan
makalah skripsi dengan judul “Perancangan Pabrik Bahan Bakar Sintetik melalui
Sintesis Fischer – Tropsch Berbahan Baku Gas Sintetis dari Gasifikasi Batubara”
dilakukan dalam rangka memenuhi mata kuliah Skripsi. Penulisan makalah skripsi
ini tak lepas dari bantuan beberapa pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini
penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ir. Dewi Tristantini, MT., Ph.D. sebagai pembimbing skripsi yang telah
banyak membimbing, memberikan pemahaman dan mengarahkan penulis
dalam menyusun makalah skripsi ini;
2. Ibu Rahayu Suharti dan Bapak Ngatno, serta kakak – kakak di rumah, Bian
Adiantoro dan Wisnu Priyambodo, yang senantiasa mendo’akan saya;
3. Rekan penelitian seperjuangan, M. Habiburrohman, yang bersama-sama
dalam susah dan senang selama penelitian.
4. Sahabat – sahabat “keluarga” di kontrakan, Mada, Fazza, Afreza, dan juga
sahabat – sahabat yang sering berkumpul bersama, Adibowo, Hilman,
Harsono, Illyin, Sungging, Ivan dan lainnya, yang selalu berbagi
kebersamaan selama penelitian.
5. Teman – teman seangkatan, DTK 08 yang membersamai penulis selama masa
perkuliahan.
Akhir kata penulis mengharapkan agar makalah skripsi ini bermanfaat dalam
pengembangan ilmu pengetahuan.
Depok, Juni 2012
Penulis
ABSTRAK
Kebutuhan BBM yang semakin meningkat, tidak sebanding dengan semakin menipisnya cadangan
minyak bumi Indonesia. Proses Fischer - Tropsch merupakan proses yang dapat memproduksi
bahan bakar sintetik dengan bahan dasar gas alam maupun batu bara. Perancangan pabrik Fischer -
Tropsch yang terintegrasi dengan proses gasifikasi batu bara ini dilakukan untuk mengetahui
kelayakannya secara teknis dan ekonomis dalam menyediakan bahan bakar sintetik. Pabrik ini
membutuhkan masukan gas sintesis sebesar 671,3 ton/jam, sehingga diperoleh 130,7 ton/jam
produk berupa nafta, distilat dan wax. Berdasarkan analisis keekonomian menggunakan base case,
diperoleh NPV US$ 250,01 juta dengan MARR dan IRR berturut-turut sebesar 11% dan 14,58%,
serta payback period selama 12 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa proyek ini layak dijalankan.
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
vii
ABSTRACT
The increase of fuel demand is not proportional to the depletion of petroleum reserves in
Indonesia. The Fischer - Tropsch synthesis is a process that can produce synthetic fuels with a
basis of natural gas and coal. Integrated Fischer - Tropsch plant design with coal gasification
process is conducted to determine the technical and economic feasibility of providing synthetic
fuels. This plant requires a syngas input of 671.3 ton / h, to obtain 130.1 ton / h to produce
naphtha, distillate and wax. Based on economic analyzes using the base case, NPV of U.S. $
250.01 million is obtained with MARR and IRR respectively by 11% and 14.58%, and payback
period of 12 years. This indicates that the project is viable.
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
viii
DAFTAR ISI
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
ix
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
x
DAFTAR GAMBAR
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
xi
DAFTAR TABEL
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
BAB 1
PENDAHULUAN
1 Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
2
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
3
sintesis Fischer – Tropsch dengan bahan baku gas sintesis yang berasal dari
Batubara menjadi sangat mungkin dilakukan.
Maka dari itu, masih perlu dilakukan studi kelayakan secara ekonomi dan
teknis dari pembangunan pabrik Gasifikasi – Fischer Tropsch ini. Pada studi ini
akan lebih detail dibahas pada bagian teknis Fischer Tropsch plant (pabrik
produksi bahan bakar sintetik), tapi perhitungan kelayakan ekonomi akan
dilakukan setelah diintegrasikan dengan gasification plant. Aplikasi teknologi ini
diharapkan dapat menjadi solusi dalam mengatasi masalah kelangkaan bahan
bakar di Indonesia, selain itu juga menjadi titik terang dalam pengembangan
teknologi serta menjadikan Batubara sebagai alternatif bahan bakar minyak yang
dapat digunakan (ekonomis dan efisien).
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
4
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
5
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Dalam beberapa tahun terakhir ini, ketika jumlah penduduk Indonesia kian
bertambah, produksi minyak dalam negeri justru mengalami penurunan, yang
sebelumnya bisa mencapai di atas satu juta barrel per hari, kini berada di bawah
level satu juta barrel per hari. Hal ini cukup memprihatinkan, ditambah lagi
cadangan minyak bumi di Indonesia kian waktunya kian menurun, dan
diperkirakan cadangan minyak bumi akan habis dalam 12 tahun mendatang, jika
pola konsumsi minyak bumi di Indonesia tidak berubah (ESDM, 2011). Ternyata
tidak hanya di Indonesia, di Timur Tengah pun yang merupakan pemilik cadangan
minyak bumi terbesar di dunia, memiliki kekhawatiran yang sama, kekhawatiran
akan habisnya sumber energi yang tidak dapat diperbarui tersebut.
Menjawab permasalahan tersebut, pada suatu forum riset di Roanoke tahun
2005 lalu, seorang advisor senior di Office of the Secretary of Defense in the
military’s Clean Fuel Initiative, mengatakan bahwa pengembangan energi
alternatif untuk diesel dan bahan bakar motor lainnya yang paling mungkin
berjalan adalah dengan proses Fischer-Tropsch, yaitu mengonversi syngas dari
gas alam atau Batubara menjadi suatu hidrokarbon cair (Harrison, 2005).
5 Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
6
Perbedaan penggunaan metode di atas adalah rasio H2/CO dari gas sintetis
yang dihasilkan berbeda – beda, dapat dilihat dari reaksi di atas, rasio H2/CO dari
Steam reforming adalah 3, CO2 reforming adalah 1, dan Partial Oxidation adalah
2. Kombinasi proses produksi gas sintesis biasanya digunakan untuk
menghasilkan gas sintesis dengan rasio H2/CO yang sesuai dengan kebutuhan
(Laan, 1999). Rasio H2/CO adalah salah satu aspek penting dalam umpan yang
digunakan untuk proses berikutnya setelah pembentukan gas sintetis, yaitu reaksi
Fischer-Tropsch (F-T).
Proses ini merupakan proses pemanfaatan gas alam secara tidak langsung
untuk menghasilkan bahan bakar cair dan bahan-bahan petrokimia, biasa juga
disebut dengan istilah gas to liquid (GTL). Skema teknologi GTL disajikan dalam
Gambar 2.1.
Pembangkit
Listrik
Oksidasi
LPG
Parsial
Proses · Paraffin
Pemurnian Steam
Gas Alam Gas Sintetis Fischer - Fraksi Nafta · Olefin
Gas Reforming
Tropsch · Gasolin
· Pelumas
Udara Ammonia Eter Alkohol Fraksi Wax · Pelarut
· Chemicals
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
7
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
8
hal yang telah divariasikan, seperti mengubah komposisi katalis yang digunakan,
mengubah kondisi operasinya, atau mengintegrasikan proses F-T dengan proses
lainnya.
Sintesis Fischer Tropsch berlangsung secara eksotermis pada suhu 200°-
250°C dan tekanan 25-60 bar (Dry, 1981) untuk menghasilkan rantai hidrokarbon
panjang. Katalis yang umumnya dipakai adalah kobalt (Co) atau besi (Fe) dengan
support alumina atau TiO2, sedangkan promotor yang umum digunakan adalah
rhenium (Re). Untuk menghasilkan produk yang optimal, molar rasio antar H2 dan
CO yang dibutuhkan adalah 2,1 (Tristantini, 2006).
Pada Tabel 2.1 dapat dilihat reaksi-reaksi yang terjadi dalam sintesis
Fischer-Tropsch.
Tabel 2. 1. Reaksi Sintesis Fischer - Tropsch
Reaksi Utama
Reaksi Samping
c. Reaksi Boudouard
2 CO ⇔ C + CO2
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
9
· Desorpsi produk
· Readsorpsi dan reaksi lebih lanjut
Berbagai macam variasi spesi permukaan telah banyak diusulkan untuk
menggambarkan inisiasi pembentukan dan pertumbuhan rantai. Gambar 2.2 yang
diadaptasi dari Schulz dkk dan Roofer-De Pooter (1970) memberi gambaran
pengamatan di permukaan katalis selama sintesis F-T, yang menunjukkan bagian
berupa reaktan teradsorpsi (1,2,3,4,5); intermediet dengan kandungan oksigen
(6,7,8); dan intermediet hidrokarbon (9,10,11,12). Beberapa senyawa tersebut
merupakan monomer yang lebih lanjut memungkinkan bereaksi sehingga
pertumbuhan rantai terjadi (Schulz, 1970)
Gambar 2. 2. Pengamatan Kemisorpsi Spesi selama Sintesis F-T (Sumber : Schulz, 1970)
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
10
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
11
sekitar 0,5. Sedangkan untuk reaktor fixed-bed digunakan untuk rasio H2/CO yang
tinggi, sekitar 2. Untuk reaktor fixed bed, kandungan hidrogen yang tinggi di
dalam gas meningkatkan koefisien perpindahan panas secara signifikan, yang baik
untuk reaksi. Itulah sebabnya reaktor ini kurang cocok apabila digunakan untuk
rasio H2/CO yang rendah (Akgerman, 1990)
Perbedaan lainnya antara kedua jenis reaktor tersebut adalah pada besarnya
konversi per pass, yang erat kaitannya dengan rasio recycle. Ketika banyak
keluaran yang direcycle kembali menjadi umpan segar (fresh feed), maka
besarnya konversi per pass akan menjadi rendah. Berdasarkan data yang ada,
diketahui bahwa besarnya konversi per pass untuk slurry reactor adalah sebesar
80% sedangkan untuk fixed bed reactor adalah sebesar 37%. Rasio recycle untuk
fixed bed reactor sangat besar dibandingkan dengan slurry reactor dan
membutuhkan pendinginan cepat untuk membatasi kenaikan suhu akibat reaksi.
Biasanya fixed bed reactor membutuhkan rasio recycle sebesar 2 (Smith, 1990)
Jumlah katalis yang digunakan dan juga kondisi operasi berbeda untuk
setiap reaktor. Fixed bed reactor memiliki jumlah penggunaan katalis yang lebih
besar daripada slurry reactor. Jumlah katalis yang digunakan berhubungan dengan
space velocity, karena space velocity biasanya dinyatakan dalam per satuan berat
katalis. Space velocity menyatakan besarnya laju alir volumetrik feed yang masuk
ke dalam reaktor dibagi dengan volume katalis, yang artinya berapa kali volume
reaktor feed yang dapat direaksikan tiap satuan waktunya.
Pembentukan deposit karbon dalam reaktor juga menjadi perhitungan dalam
pemilihan reaktor, karena menyangkut kelangsungan reaksi, dapat berjalan secara
kontinu atau tidak. Selain itu juga mengenai deaktivasi katalis, katalis yang telah
digunakan akan berkurang aktivitasnya setelah sekian waktu. Dalam reaktor
slurry, katalis dapat ditambahkan dan diambil begitu saja tanpa perlu mematikan
unit tersebut. Sedangkan penggantian katalis pada fixed bed memerlukan adanya
shutdown (Akgerman, 1990)
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
12
yang umum digunakan untuk sintesis F-T saat ini adalah katalis Fe dan Co.
Penggunaan katalis Fe memberikan konversi yang cukup baik, untuk konsentrasi
Fe yang berkisar antara 5% – 40%, memberikan hasil konversi gas CO 50% –
80%, yaitu dengan penambahan promoter Cu dan K (Cheon, 2010). Sedangkan
banyaknya jumlah Co dapat mempengaruhi banyaknya senyawa bercabang dan
juga paraffin yang dihasilkan (Kumabe, 2010).
2.5.1 Katalis Cobalt (Co)
Katalis berbasis kobalt memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan
katalis berbasis besi. Salah satu keunggulannya adalah kurang aktif untuk reaksi
Water Gas Shift (WGS) dan memiliki hidup lebih lama daripada katalis besi.
Reaksi WGS diperlukan apabila rasio H2/CO tidak cukup besar atau kurang dari
yang diinginkan. Namun apabila rasio H2/CO sudah sesuai, maka reaksi WGS
tersebut tidak dikehendaki, saat itulah katalis Co ini memiliki kelebihan.
Keuntungan kedua adalah bahwa lebih banyak parafin linier diperoleh dengan
katalis kobalt selama sintesis F-T (Li, 2002).
Kobalt nitrat (Co(NO3)3) telah banyak digunakan sebagai perkursor untuk
preparasi support alumina katalis kobalt. prekursor lainnya, seperti Co-asetat, Co-
sitrat dan Co-EDTA telah ditemukan untuk menghasilkan kobalt yang lebih
tersebar, berinteraksi lebih kuat dengan support tersebut (Rosynek, 1991).
Penyangga (TiO2, Al2O3) pada katalis Co berfungsi untuk manambah luas
permukaan, mengurangi deaktifasi katalis, mencegah terjadinya sintering atau
penggabungan dan menambah gasolin (SiO2).
2.5.2 Katalis Besi (Fe)
Katalis berbasis Fe telah banyak digunakan sebagai katalis komersil untuk
sintesis F-T untuk memproduksi sejumlah besar variasi produk paraffin dan
olefin, dari mulai metana hingga wax dengan berat molekul yang tinggi.
Kelebihan utama katalis Fe ini adalah aktivitasnya yang baik terhadap reaksi
WGS, sehingga dapat memperbesar rasio H2/CO dari gas sintetis yang dimiliki,
seperti gas sintetis yang diperoleh dari hasil oksidasi parsial Batubara dan minyak
berat (rasio H2/CO = 1), atau gas sintetik yang berasal dari biomass (Schulz,
1999).
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
13
(2.5)
Persebaran ASF memungkinkan untuk menghitung jumlah maksimum fraksi
C2 hingga C4 yang terbentuk selama reaksi. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 2.4.
yang menggambarkan α diplotkan terhadap selektifitas (Bertocini, 2009) :
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
14
Gambar 2. 4. Selektivitas Produk menurut ASF untuk HC Pendek (Sumber : Bertocini, 2009)
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
15
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
16
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
BAB 3
METODE PERANCANGAN
Flow Sheeting
NME dan
Optimasi
Proses
Perhitungan
Spesifikasi
Peralatan
Analisis
Ekonomi
Kesimpulan
17 Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
18
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
19
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
20
untuk mengetahui dimensi dari tiap peralatan yang ada, serta jumlah unit yang
diperlukan untuk suatu proses agar dapat berjalan dengan lancar.
3.10 Kesimpulan
Berdasarkan studi proses dan ekonomi maka akan diperoleh kesimpulan
apakah pabrik GBFT terintegrasi ini layak untuk dibangun atau tidak. Parameter
proses yang menjadi pertimbangan kelayakan diantaranya adalah kapasitas produk
dan ketersediaan bahan baku. Sedangkan parameter ekonomi diantaranya dengan
melihat nilai NPV, IRR dan payback period yang diperoleh.
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
21
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
21 Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
22
Dapat dilihat pada Tabel 4.2, total kebutuhan bahan bakar cair di pulau
Kalimantan untuk prediksi 15 tahun ke depan adalah sekitar 6,72 juta kilo liter.
Setelah mengetahui total kebutuhan tersebut, ditentukan kapasitas pabrik GBFT
terintegrasi.
Kapasitas pabrik ditargetkan untuk dapat memenuhi sebesar 20% kebutuhan
total bahan bakar cair di pulau Kalimantan, sehingga kapasitas pabrik GBFT
terintegrasi sekisar 1.344.877 kL.
4.1.2 Ketersediaan Bahan Baku Batubara
Pabrik GBFT terintegrasi direncanakan dibangun di daerah Balikpapan,
Kalimantan Timur, karena mempertimbangkan ketersediaan Bahan Baku yang
ada, berupa Batubara. Berikut adalah data-data ketersediaan Batubara di setiap
provinsi di Kalimantan.
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
23
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
24
4.2.1 Reaktor
Berikut ini akan disajikan secara ringkas mengenai seleksi pemilihan reaktor berdasarkan pertimbangan – pertimbangan yang ada.
Tabel 4. 4. Perbandingan Reaktor Slurry dengan Fixed Bed Reactor
Parameter Slurry reactor Bobot Fixed Bed reactor Bobot
Konversi per pass 80% 3 37% 1
Rasio H2/CO untuk rasio rendah, sekitar 0,5 - 1 2 untuk rasio tinggi, sekitar 2. 3
Jumlah katalis 250 kg/m3 3 850 kg/m3 1
Pembentukan karbon rasio H2/CO rendah cenderung membentuk karbon 2 rasio H2/CO lebih sedikit pembentukan karbon 3
Katalis dapat diganti tanpa mengganggu proses 3 diperlukan shutdown untuk penggantian katalis 1
Suhu Operasi dapat dijaga konstan selama reaksi 3 mengalami peningkatan selama reaksi 2
Capital Cost $ 17.1 Millions 2 $ 34 Millions 1
TOTAL 18 TOTAL 12
Keterangan : 1. Kurang; 2. Cukup; 3. Baik; 4. Sangat Baik.
Sumber : Bechtel Group, Inc.
Keterangan Perbandingan reaktor :
1. Kedua reaktor di atas berdasarkan ukuran diameter yang sama, yaitu 4,8 meter.
2. Jumlah katalis diinginkan sesedikit mungkin, agar menghemat biaya (data di atas berdasarkan jumlah produk yang sama).
3. Pembentukan karbon cenderung tidak diinginkan karena dapat menimbulkan hotspot pada reaktor, yang berpotensi bahaya, yaitu suhu
yang tinggi di salah satu titik reaktor (suhu tidak merata).
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
25
4.2.2 Katalis
Katalis merupakan salah satu aspek penting dalam sintesis Fischer –
Tropsch, karena katalis inilah yang mendorong bagaimana cara mendapatkan
produk yang diinginkan dengan kualitas yang baik (selektivitas tinggi, konversi
tinggi, dan lainnya. Katalis F-T disintesis dalam bentuk oksida logamnya dari
logam – logam golongan VIIIB (Fe, Co, Ru, Rh, Ni). Katalis yang umum
digunakan dalam sintesis Fischer – Tropsch adalah katalis Fe dan katalis CO.
Katalis Rh dan Ru secara ekonomis mahal dan katalis Ni memliki selektivitas
yang terlalu tinggi untuk metana (Tristantini, 2006), dan karena pada sintesis FT
ini produk yang diharapkan adalah C5+, maka katalis Ni tidak dilibatkan.
Pada Tabel 4.5. dapat dilihat perbandingan antara katalis Fe dan Co :
Tabel 4. 5. Perbandingan Katalis Fe dengan Co
Parameter Basis Fe Bobot Basis Co Bobot
Konversi 95% 2 94% 2
aktivitas WGS tinggi 2 rendah 3
Kondisi operasi membutuhkan tekanan tinggi agar 2 tekanan rendah untuk 3
lebih aktif (> 20 bar) mengaktifkan (10 bar)
selektifitas cenderung menuju olefin 2 cenderung menuju paraffin 3
rasio H2/CO untuk rasio H2/CO yang rendah 2 untuk rasio H2/CO yang tinggi 3
TOTAL 10 TOTAL 14
Ket : 1. Kurang; 2. Cukup; 3. Baik; 4. Sangat Baik
Sumber : Burtron H. Davis, Dewi Tristantini, C. C. Hall
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
26
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
27
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
28
sekitar 250°C - 300°C. Sebelum memasuki unit pemisahan, produk atas ini
didinginkan terlebih dahulu.
Pendinginan dilakukan secara bertahap, mula – mula pendinginan dilakukan
dengan udara (effluent air cooler), yaitu menggunakan fan hingga mencapai suhu
sekitar 180°C, lalu pendinginan berikutnya dengan fluida pendingin hingga
pencapai suhu kurang lebih 120°C. Pendinginan dilakukan agar hidrokarbon –
hidrokarbon dapat dipisahkan berdasarkan perbedaan boiling pointnya.
Pendinginan diawali dengan udara untuk memperkecil jumlah pendingin yang
digunakan. Suhu akhir pendinginan juga dapat berubah tergantung dari rentang
produk akhir yang diinginkan, antara hidrokarbon gas dengan hidrokarbon cairnya
(Fox, 1990)
Sebelum masuk ke dalam sistem pendinginan, dapat pula dilakukan integrasi
panas, yaitu pendinginan effluent dari reaktor yang masih panas, digunakan
terlebih dahulu untuk memanaskan feed (syngas) sebelum masuk ke dalam
reaktor. Dengan demikian, akan diperoleh efisiensi dari pemanasan feed dalam
reaktor, juga pendinginan effluen yang keluar dari reaktor.
4.3.4 CO2 Removal Unit
Selain hidrokarbon, dari hasil reaksi F-T akan terbentuk komponen lain,
seperti gas CO2, serta uap air. CO2 yang terbawa oleh produk fraksi ringan F-T
harus dihilangkan, karena jumlahnya yang cukup signifikan tersebut akan menjadi
pengotor bagi produk, karena itu diperlukan unit untuk menghilangkan CO2.
Untuk menghilangkan CO2, digunakan metode absorbsi dengan adsorben
amina. Proses ini terdiri atas kolom absorbsi dan kolom regenerasi, serta beberapa
unit penukar panas dan tambahan lainnya.
Dalam kolom absorbsi, amina akan mengabsorb gas CO2 karena terjadi
kontak di dalam kolom, fraksi gas yang keluar melalui bagian atas kolom absorbsi
berupa hidrokarbon ringan bersih tanpa kandungan CO2. Amina yang telah
mengabsorb CO2 diregenerasi pada kolom regenerasi, sehingga diperoleh amina
yang “bersih” dan direcycle ke kolom absorbsi untuk mengabsorb kembali gas
CO2 (Erik, 2007). Keluaran atas dari kolom regenerasi berupa gas CO2 yang
dilepaskan ke udara. Untuk beberapa kasus, gas CO2 yang dilepaskan dikompresi
dan dijadikan fluida superkritis, namun hal tersebut tidak dilakukan di sini.
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
29
Kondisi operasi yang digunakan untuk kolom absorbsi adalah pada tekanan
yang tinggi, agar gas CO2 dapat terabsorbsi ke dalam amina. Kondisi yang
digunakan adalah pada suhu 40°C, tekanan 20 atm. Sedangkan kondisi yang
digunakan pada kolom regenerasi adalah pada 120°C, tekanan 1,5 atm. Pada
Gambar 4.2 dapat dilihat skema unit CO2 Removal (Kohl, 1997).
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
30
Pada Tabel 4.6 dapat dilihat beberapa contoh reaksi dalam proses
hydroprocessing (Scherzer, 1996) :
Tabel 4. 6. Reaksi – Reaksi dalam Hydroprocessing
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
31
Water Steam
Fuel
Gas
F-T Liquids
CO2
Product
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
32
HC Liquid to
R-101
HC Recovery.
5
Catalyst
HC Liquid to
HC Recovery.
3
Syngas 1
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
33
CO2
11
To HC
Recovery Unit
9
Make Up
Amine
8
Rich
Amine
Amine V-202
Lean
V-201
Steam
E-201
Vapor from
7
F-T product
Reboiler
10
Rich Condensate
Amine
Lean
Amine 12
P-201
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
34
V-301 E-301
Distillation Column Condenser
E-301
14
To Naphta
Hydrotreating
13 V-301
15
To Distillate
Hydrotreating
Steam
Feed
Reboiler
Condensate
To Wax
Hydrocracking
16
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
35
Syngas
671.312 kg/hr
Reaktor
Liquid Product Vapor Product
Fischer-
130.688 kg/hr 540.624 kg/hr
Tropsch
Water
Separator 252.924 kg/
hr
Neraca massa secara keseluruhan, dengan kondisi operasi dan fraksi - fraksi
komponennya dapat dilihat pada Tabel 4.8, 4.9, dan 4.10 (nomor aliran dapat
dilihat pada PFD) :
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
36
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
37
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
38
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
39
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
40
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
41
Dari Tabel 4.17 terlihat bahwa TCI untuk pabrik F-T adalah US$ 44 juta dan
TCI untuk pabrik gasifikasi adalah US$ 478 juta. Komponen investasi paling
besar berasal dari pabrik gasifikasi, yaitu sekitar 91% dari TCI. Hal ini cukup
sesuai dengan literatur bahwa produksi syngas (untuk CTL) memiliki komposisi
sekitar 80% atau lebih jika termasuk unit purifikasi didalamnya (Sasol reference
frame, 2003).
4.7.2 Biaya Operasional Tahunan
Biaya operasional tahunan dibagi menjadi dua jenis, fixed dan variable cost,
biaya ini akan dikeluarkan selama pabrik beroperasi. Beberapa asumsi digunakan
untuk menghitung biaya operasional pabrik, yaitu :
· Umur pabrik adalah 20 tahun.
· Dalam 1 tahun, pabrik beroperasi selama 300 hari, 24 jam.
Biaya operasional dihitung dengan perincian sebagai berikut.
[Link] Biaya Bahan Baku dan Utilitas
Pada Tabel 4.18, disajikan biaya bahan baku dan biaya utilitas.
Tabel 4. 18. Biaya Bahan Baku dan Utilitas.
Bahan Baku & Harga per satuan
Kebutuhan Harga per tahun
Utilitas unit
Batubara 3.991.680 ton/tahun $ 90 / ton $ 359.251.200
Air 17.352.335 ton/tahun $ 1 / ton $ 17.352.335
Oksigen [Link] m3/tahun $ 0.178 / m3 $ 225,904,861
Amine 9.846 ton/tahun $1.780 / ton $ 15.308.000
Utilitas Listrik 11.948.735 kW/tahun Rp735 / kW $ 975.549
Total Biaya Bahan Baku dan Utilitas $ 647.001.124
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
42
Biaya tenaga kerja langsung variabel adalah biaya tambahan yang diberikan
perusahaan kepada para pekerja sebagai bonus misalnya tunjangan khusus hari
raya maupun tahunan, biaya lembur, dsb. Biaya variabel ini adalah kurang lebih
20% dari upah pekerja selama setahun. Total variable cost untuk biaya tenaga
kerja langsung adalah 20% x Rp [Link],00 = 230.400.000,00. Maka, total
biaya tenaga kerja langung diberikan pada Tabel 4.20 sebagai berikut :
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
43
Kualifikasi Jumlah Upah per orang/bulan Upah per orang/tahun Total Biaya/tahun
Pimpinan Perusahaan
Presiden Direktur 1 30.000.000 360.000.000 360.000.000
Wakil Presiden Direktur 1 25.000.000 300.000.000 300.000.000
Departemen Produksi
Kepala Departemen 1 10.000.000 120.000.000 120.000.000
Kepala divisi logistik 1 10.000.000 120.000.000 120.000.000
Kepala divisi perawatan 1 10.000.000 120.000.000 120.000.000
Kepala divisi K3 1 10.000.000 120.000.000 120.000.000
Professional Engineer
Electrical engineer 4 6.000.000 72.000.000 288.000.000
Process engineer 3 6.000.000 72.000.000 216.000.000
Corrosion engineer 2 6.000.000 72.000.000 144.000.000
Facilities engineer 2 6.000.000 72.000.000 144.000.000
Safety engineer 2 6.000.000 72.000.000 144.000.000
Divisi Litbang
Kepala litbang 1 5.500.000 66.000.000 66.000.000
Kepala Lab 1 5.500.000 66.000.000 66.000.000
HRD - 7.000.000 84.000.000 84.000.000
Departemen Keuangan - 7.000.000 84.000.000 84.000.000
Humas - 5.500.000 66.000.000 66.000.000
Pemasaran - 5.500.000 66.000.000 66.000.000
Total [Link]
Jadi total biaya tenaga kerja tidak langsung adalah sekitar $ 278.666.
[Link] Biaya Perawatan
Biaya perawatan perlu dianggarkan untuk menjaga proses yang kontinu di
pabrik. Biaya ini meliputi biaya pekerja untuk perawatan dan material yang
diperlukan untuk perawatan pabrik. Sebagai estimasi awal, biaya perawatan
tahunan kurang lebih sekitar 10% dari fixed capital cost (Sinnot, 2005). Biaya
maintenance sebesar 10 % dari total bare module cost $ 35.044.782.
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
44
Total pendapatan adalah $ 922.223.563, maka nilai laba rugi dapat dihitung.
Laba rugi merupakan selisih antara pendapatan dengan total operasional cost.
Karena nilai pendapatan lebih besar, maka pabrik ini memperoleh laba sebesar :
$ 236,24 juta per tahun.
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
45
Untuk mengurangi resiko, maka kita dapat meminjam modal dari bank.
Suku bunga pinjaman dari bank sekitar 11%. Peminjaman modal yang diberikan
oleh bank untuk biasanya sekitar 65-70% dari TCI. Untuk desain pabrik ini akan
dipakai 70% pinjaman modal dari bank dan 30% dari investor. Besar Bunga
peminjaman dari investor adalah sekitar 5%.
Tabel 4.23 dan 4.24 menunjukkan skenario peminjaman dan pengembalian
terhadap masing-masing komposisi modal yang dipinjam.
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
46
200
0
2016
2025
2034
2013
2014
2015
2017
2018
2019
2020
2021
2022
2023
2024
2026
2027
2028
2029
2030
2031
2032
2033
juta US $
-200
-400
-600
-800
Tahun
3500
3000
2500
2000
1500
Juta US $
1000
500
0
-5002010 2015 2020 2025 2030 2035 2040
-1000
-1500
Tahun
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
47
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
48
Dari Gambar 4.8 terlihat bahwa cash flow bernilai negatif atau dengan kata
lain mengalami kerugian. Hal itu sangat wajar mengingat dua tahun pertama
merupakan masa pembangunan pabrik, sehingga hanya terdapat pengeluaran
berupa investasi pendirian pabrik. Sedangkan pada tahun ketiga merupakan
pertama kalinya pabrik beroperasi, sehingga terdapat pengeluaran sebesar biaya
operasional. Pabrik baru mendapat pemasukan pada akhir tahun ketiga dan
menjadi pendapatan (gross income) pada awal tahun berikutnya, yaitu tahun
keempat, sehingga kolom gross income baru terisi pada tahun keempat dan
seterusnya secara stabil.
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
49
Dari Tabel 4.26 didapatkan nilai NPV sekitar $ 373,37 juta. Nilai NPV
positif ini menunjukkan bahwa pabrik ini cukup layak untuk dijalankan.
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
50
Dari Tabel 4.27 terlihat bahwa payback periode terjadi pada tahun antara 12
– 13, artinya payback periodenya membutuhkan waktu sekitar 12 tahun lebih.
Dengan umur manfaat pabrik selama 20 tahun, maka pabrik akan mendapatkan
untung bersih, yaitu setelah pengembalian modal, selama 8 tahun.
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
51
Dari Tabel 4.28 dapat dilihat bahwa BEP tercapai pada tahun ke 6 sampai 7.
(4.1)
BEP dicapai dalam waktu 6,7 tahun, atau pada saat kapasitas 9.010 m3.
4.7.7 Analisis Sensitivitas
Pada analisis keekonomian ini akan dilihat seberapa sensitif pengaruh harga
bahan baku, dan harga jual produk terhadap pabrik GBFT ini.
[Link] Pengaruh harga bahan baku
Harga bahan baku pabrik ini yang paling dominan adalah batubara.
Sehingga yang akan dilihat adalah sensitivitas harga produk akibat perubahan
harga batubara. Perubahan harga batubara perlu dianalisis berdasarkan harga
market dari tahun-tahun sebelumnya. Dengan data tersebut dapat terlihat seberapa
besar fluktuasi harga bahan baku yang masih mungkin terjadi selama pabrik
beroperasi.
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
52
Dalam analisis ini akan dilakukan dilihat pengaruh fluktuasi harga bahan
baku utama hingga 40%, terhadap harga produk.
400.00
200.00
0.00
0.00 0.10 0.20 0.30 0.40 0.50
NPV
-200.00
-400.00
-600.00
-800.00
Kenaikan Batubara
Berdasarkan hasil tersebut, pada kenaikan harga batubara 10% sudah terjadi
penurunan NPV yang cukup besar. Dan untuk kenaikan 20% keatas, nilai NPV
sudah bernilai negatif, artinya sudah tidak layak untuk diinvestasikan. Pada
kenaikan 10% pun IRR turun cukup signifikan. Selisih nilai IRR dengan MARR
sangat kecil, yaitu sekitar 0,93%. Oleh karena itu, jika tidak ada perubahan pada
pendapatan maka kenaikan harga bahan baku batubara harus kurang dari 10% jika
ingin pabrik ini tetap layak untuk diinvestasikan.
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
53
Tabel 4. 30. Sensitivitas NPV dan IRR terhadap harga jual produk
Kenaikan IRR (%) NPV ($ 1.000.000)
0 14.58 250,01
10% 17,06 640,81
20% 19,42 914,34
30% 21,68 1.187,88
40% 23,88 1.461,42
Dari Tabel 4.30 terlihat bahwa nilai NPV dan IRR sangat sensitif terhadap
harga bahan baku utama (distilat). Setiap kenaikan 10% harga bahan baku,
diperoleh rata-rata kenaikan NPV sekitar 1,63 kali dari NPV awal. Setiap
kenaikan harga produk juga akan meningkatkan nilai IRR secara linear, sehingga
dengan nilai MARR yang tetap, selisih IRR dengan MARR akan semakin besar,
yang membuat investasi terhadap pabrik ini akan semakin menguntungkan.
Berdasarkan analisis ini dapat ditarik kesimpulan bahwa investasi pabrik ini
sangat sensitif terhadap harga jual produk utama.
30
25
20
IRR
15
10
0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5
Kenaikan Harga Produk
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
54
1600
1400
1200
1000
NPV
800
600
400
200
0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5
Kenaikan Harga Distilat
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
BAB 5
KESIMPULAN
5.2 Saran
1. Untuk memperkecil penggunaan energi, maka perlu dilakukan Heat
Exchanger Network (HEN), sehingga menurunkan biaya operasional.
2. Perlu dilakukan analisis safety terhadap pekerja dan juga lingkungan
agar pabrik layak dan aman untuk beroperasi.
55 Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
56
DAFTAR REFERENSI
Erik, Lars Oi. (2007). Aspen HYSYS Simulation of CO2 Removal by Amine
Absorption from a Gas Based Power Plant. Norway : Telemark University
College. 73 - 81.
Iglesia, E., dkk. (1992). Selective Fixed-Bed Fischer-Tropsch Synthesis with High
Surface Area Cu and K Promoted Iron / Manganese Spinels. U.S. Patent
5118715.
Kent, R.L., Eisenberg, B. (1976). Better Data for Amine Treating, Hydrocarbon
Processing. vol 55, no.2, 87-90.
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
57
Sinnot, R.K & Towler, Gavin. (2005). Chemical Engineering Design, Elsevier.
United State of America.
Yates, Ian C. and Charles N. Satterfield. (1991). Intrinsic Kinetics of the Fischer-
Tropsch Synthesis on a Cobalt Catalyst, Energy & Fuels, Vol. 5, 168-173.
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
58
LAMPIRAN
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
59
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
60
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
61
[ ( )]
[ ( )]
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
62
Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012