0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan74 halaman

Desain Pabrik Bahan Bakar Sintetik FT

Skripsi ini membahas perancangan pabrik bahan bakar sintetik melalui sintesis Fischer-Tropsch menggunakan gas sintesis dari gasifikasi batubara. Pabrik ini dirancang untuk menghasilkan 130,7 ton/jam produk dengan analisis ekonomi menunjukkan NPV sebesar US$ 250,01 juta dan payback period selama 12 tahun, yang menunjukkan kelayakan proyek. Penelitian ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan BBM yang terus meningkat di Indonesia.

Diunggah oleh

Ariadi Indra Putra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan74 halaman

Desain Pabrik Bahan Bakar Sintetik FT

Skripsi ini membahas perancangan pabrik bahan bakar sintetik melalui sintesis Fischer-Tropsch menggunakan gas sintesis dari gasifikasi batubara. Pabrik ini dirancang untuk menghasilkan 130,7 ton/jam produk dengan analisis ekonomi menunjukkan NPV sebesar US$ 250,01 juta dan payback period selama 12 tahun, yang menunjukkan kelayakan proyek. Penelitian ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan BBM yang terus meningkat di Indonesia.

Diunggah oleh

Ariadi Indra Putra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

UNIVERSITAS INDONESIA

PERANCANGAN PABRIK BAHAN BAKAR SINTETIK


MELALUI SINTESIS FISCHER – TROPSCH
BERBAHAN BAKU GAS SINTESIS
DARI GASIFIKASI BATUBARA

SKRIPSI

BAGAS TRIYATMOJO
0806456392

FAKULTAS TEKNIK
DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA
DEPOK
JUNI 2012

Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012


i

HALAMAN JUDUL

UNIVERSITAS INDONESIA

PERANCANGAN PABRIK BAHAN BAKAR SINTETIK


MELALUI SINTESIS FISCHER – TROPSCH
BERBAHAN BAKU GAS SINTESIS
DARI GASIFIKASI BATUBARA

SKRIPSI

BAGAS TRIYATMOJO
0806456392

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik

FAKULTAS TEKNIK
DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA
DEPOK
JUNI 2012

Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012


ii

Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012


iii

Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012


iv

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah skripsi ini dapat selesai tepat pada
waktunya. Shalawat serta salam tak lupa penulis panjatkan kepada Rasulullah
SAW, keluarga, sahabatnya, serta umatnya hingga akhir zaman. Penulisan
makalah skripsi dengan judul “Perancangan Pabrik Bahan Bakar Sintetik melalui
Sintesis Fischer – Tropsch Berbahan Baku Gas Sintetis dari Gasifikasi Batubara”
dilakukan dalam rangka memenuhi mata kuliah Skripsi. Penulisan makalah skripsi
ini tak lepas dari bantuan beberapa pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini
penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ir. Dewi Tristantini, MT., Ph.D. sebagai pembimbing skripsi yang telah
banyak membimbing, memberikan pemahaman dan mengarahkan penulis
dalam menyusun makalah skripsi ini;
2. Ibu Rahayu Suharti dan Bapak Ngatno, serta kakak – kakak di rumah, Bian
Adiantoro dan Wisnu Priyambodo, yang senantiasa mendo’akan saya;
3. Rekan penelitian seperjuangan, M. Habiburrohman, yang bersama-sama
dalam susah dan senang selama penelitian.
4. Sahabat – sahabat “keluarga” di kontrakan, Mada, Fazza, Afreza, dan juga
sahabat – sahabat yang sering berkumpul bersama, Adibowo, Hilman,
Harsono, Illyin, Sungging, Ivan dan lainnya, yang selalu berbagi
kebersamaan selama penelitian.
5. Teman – teman seangkatan, DTK 08 yang membersamai penulis selama masa
perkuliahan.
Akhir kata penulis mengharapkan agar makalah skripsi ini bermanfaat dalam
pengembangan ilmu pengetahuan.
Depok, Juni 2012

Penulis

Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012


v

Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012


vi

ABSTRAK

Nama : Bagas Triyatmojo


Program Studi : Teknik Kimia
Judul : Perancangan Pabrik Bahan Bakar Sintetik melalui Sintesis Fischer – Tropsch
Berbahan Baku Gas Sintetis dari Gasifikasi Batubara.

Kebutuhan BBM yang semakin meningkat, tidak sebanding dengan semakin menipisnya cadangan
minyak bumi Indonesia. Proses Fischer - Tropsch merupakan proses yang dapat memproduksi
bahan bakar sintetik dengan bahan dasar gas alam maupun batu bara. Perancangan pabrik Fischer -
Tropsch yang terintegrasi dengan proses gasifikasi batu bara ini dilakukan untuk mengetahui
kelayakannya secara teknis dan ekonomis dalam menyediakan bahan bakar sintetik. Pabrik ini
membutuhkan masukan gas sintesis sebesar 671,3 ton/jam, sehingga diperoleh 130,7 ton/jam
produk berupa nafta, distilat dan wax. Berdasarkan analisis keekonomian menggunakan base case,
diperoleh NPV US$ 250,01 juta dengan MARR dan IRR berturut-turut sebesar 11% dan 14,58%,
serta payback period selama 12 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa proyek ini layak dijalankan.

Kata Kunci : Proses Fischer - Tropsch, bahan bakar sintetik, integrasi.

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
vii

ABSTRACT

Name : Bagas Triyatmojo


Study Program : Chemical Engineering
Title : Synthetic Fuel Plant Design through Fischer - Tropsch Synthesis Using Syngas
from Coal Gasification.

The increase of fuel demand is not proportional to the depletion of petroleum reserves in
Indonesia. The Fischer - Tropsch synthesis is a process that can produce synthetic fuels with a
basis of natural gas and coal. Integrated Fischer - Tropsch plant design with coal gasification
process is conducted to determine the technical and economic feasibility of providing synthetic
fuels. This plant requires a syngas input of 671.3 ton / h, to obtain 130.1 ton / h to produce
naphtha, distillate and wax. Based on economic analyzes using the base case, NPV of U.S. $
250.01 million is obtained with MARR and IRR respectively by 11% and 14.58%, and payback
period of 12 years. This indicates that the project is viable.

Key words : Fischer - Tropsch Process, synthetic fuel, integration.

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
viii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. I


HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ............................................... II
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................. III
KATA PENGANTAR ......................................................................................... IV
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI..........................V
ABSTRAK ........................................................................................................... VI
ABSTRACT ....................................................................................................... VII
DAFTAR ISI ..................................................................................................... VIII
DAFTAR GAMBAR .............................................................................................X
DAFTAR TABEL ............................................................................................... XI
BAB 1 PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................. 3
1.3 Tujuan Penelitian.................................................................................... 3
1.4 Batasan Masalah ..................................................................................... 3
1.5 Sistematika Penulisan ............................................................................. 4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 5
2.1 Proses Gas to Liquid (GTL) ................................................................... 5
2.2 Sintesis Fischer-Tropsch ........................................................................ 6
2.3 Mekanisme Reaksi Fischer-Tropsch ...................................................... 8
2.4 Reaktor untuk Sintesis Fischer Tropsch ............................................... 10
2.5 Katalis Dalam Sintesis Fischer Tropsch ............................................... 11
2.5.1 Katalis Cobalt (Co) ........................................................................ 12
2.5.2 Katalis Besi (Fe) ............................................................................ 12
2.6 Selektivitas dan Persebaran Produk Fischer – Tropsch........................ 13
2.7 Pengaruh Kondisi Operasi .................................................................... 14
2.8 Analisis Ekonomi ................................................................................. 15
2.8.1 IRR (Internal Rate of Return) ........................................................ 15
2.8.2 Analisa Net Present Value (NPV) ................................................. 15
2.8.3 Payback period .............................................................................. 16
BAB 3 METODE PERANCANGAN ................................................................ 17
3.1 Studi Literatur ...................................................................................... 18
3.2 Pengumpulan Data Lokasi dan Supply Demand .................................. 18
3.3 Pengumpulan Data Proses .................................................................... 18
3.4 Penentuan Lokasi dan Kapasitas .......................................................... 18
3.5 Seleksi Teknologi ................................................................................. 19
3.6 Flow Sheeting ....................................................................................... 19
3.7 Membuat NME dan melakukan Optimasi ............................................ 19
3.8 Menentukan Spesifikasi Peralatan ....................................................... 19
3.9 Analisis Keekonomian ......................................................................... 20
3.10 Kesimpulan........................................................................................... 20
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................... 21
4.1 Analisis Pasar ....................................................................................... 21
4.1.1 Kebutuhan Bahan Bakar ................................................................ 21
4.1.2 Ketersediaan Bahan Baku Batubara .............................................. 22

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
ix

4.2 Seleksi Teknologi ................................................................................. 23


4.2.1 Reaktor .......................................................................................... 24
4.2.2 Katalis ............................................................................................ 25
4.3 Deskripsi Proses ................................................................................... 26
4.3.1 Steam Drum ................................................................................... 26
4.3.2 Reaktor Slurry ............................................................................... 27
4.3.3 Effluent Cooler .............................................................................. 27
4.3.4 CO2 Removal Unit......................................................................... 28
4.3.5 Hydrocarbon Recovery Unit ......................................................... 29
4.3.6 Hydroprocessing Unit ................................................................... 29
4.4 Flow Sheeting ....................................................................................... 31
4.4.1 Block Flow Diagram (BFD) .......................................................... 31
4.4.2 Process Flow Diagram (PFD) ....................................................... 32
4.5 Neraca Massa dan Energi Proses ......................................................... 35
4.5.1 Neraca Massa Proses ..................................................................... 35
4.5.2 Neraca Energi Proses ..................................................................... 37
4.6 Spesifikasi Peralatan Proses ................................................................. 37
4.6.1 Reaktor Katalitik ........................................................................... 38
4.6.2 Heat Exchanger (HE) .................................................................... 38
4.6.3 CO2 Removal Unit......................................................................... 39
4.6.4 Hydrocarbon Recovery Unit ......................................................... 39
4.7 Analisis Ekonomi ................................................................................. 40
4.7.1 Total Capital Investment ............................................................... 40
4.7.2 Biaya Operasional Tahunan .......................................................... 41
[Link] Biaya Bahan Baku dan Utilitas .............................................. 41
[Link] Biaya Tenaga Kerja Langsung .............................................. 41
[Link] Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung .................................... 43
[Link] Biaya Perawatan .................................................................... 43
[Link] Biaya Asuransi ....................................................................... 44
[Link] Total Production Cost ............................................................ 44
4.7.3 Perhitungan Laba Rugi .................................................................. 44
4.7.4 Peminjaman Modal........................................................................ 44
4.7.5 Cash Flow ...................................................................................... 46
4.7.6 Analisis Kelayakan Investasi......................................................... 48
[Link] Net Present Value .................................................................. 48
[Link] IRR (interest rate of return) .................................................. 49
[Link] Payback Period ...................................................................... 49
[Link] Break Event Point (BEP) ....................................................... 50
4.7.7 Analisis Sensitivitas ...................................................................... 51
[Link] Pengaruh harga bahan baku ................................................... 51
[Link] Pengaruh harga jual produk utama ........................................ 53
BAB 5 KESIMPULAN ....................................................................................... 55
5.1 Kesimpulan........................................................................................... 55
5.2 Saran ..................................................................................................... 55
DAFTAR REFERENSI ...................................................................................... 56
LAMPIRAN ......................................................................................................... 58

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
x

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1. Skema Teknologi Gas To Liquid (GTL) Terintegrasi ....................... 6


Gambar 2. 2. Pengamatan dan Postulat Kemisorpsi Spesi selama Sintesis F-T ..... 9
Gambar 2. 3. Reaktor Slurry ................................................................................. 10
Gambar 2. 4. Selektivitas Produk menurut ASF untuk Hidrokarbon Pendek ....... 14
Gambar 3. 1. Diagram Alir Perancangan .............................................................. 17
Gambar 4. 1. Steam Drum .................................................................................... 26
Gambar 4. 2. Skema Unit CO2 Removal............................................................... 29
Gambar 4. 3. Block Flow Diagram Proses Fischer - Tropsch. ............................. 31
Gambar 4. 4. PFD Reaktor Slurry ......................................................................... 32
Gambar 4. 5. PFD CO2 Removal Unit .................................................................. 33
Gambar 4. 6. PFD Hydrocarbon Recovery Unit ................................................... 34
Gambar 4. 7. Neraca Massa Proses Fischer - Tropsch .......................................... 35
Gambar 4. 8. Grafik Cash Flow ............................................................................ 46
Gambar 4. 9. Grafik ATCF kumulatif ................................................................... 46
Gambar 4. 10. Pengaruh Kenaikan Harga Batubara terhadap NPV ..................... 52
Gambar 4. 11. Pengaruh Kenaikan Harga Jual terhadap NPV ............................. 53
Gambar 4. 12. Pengaruh Kenaikan Harga Jual Distilat terhadap NPV ................. 54

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
xi

DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1. Reaksi Sintesis Fischer - Tropsch ......................................................... 8


Tabel 2. 2. Pengaruh Kondisi Operasi terhadap Selektivitas Produk F-T ............ 15
Tabel 4. 1. Kebutuhan Bahan Bakar Cair di Kalimantan ...................................... 21
Tabel 4. 2. Proyeksi Kebutuhan Bahan Bakar Cair di Kalimantan hingga 2027 .. 22
Tabel 4. 3. Ketersediaan Batubara di Kalimantan................................................. 23
Tabel 4. 4. Perbandingan Reaktor Slurry dengan Fixed Bed Reactor .................. 24
Tabel 4. 5. Perbandingan Katalis Fe dengan Co ................................................... 25
Tabel 4. 6. Reaksi – Reaksi dalam Hydroprocessing ............................................ 30
Tabel 4. 7. Kondisi Operasi Hydroprocessing ...................................................... 30
Tabel 4. 8. Neraca Massa (PFD Reaktor) ............................................................. 36
Tabel 4. 9. Neraca Massa (CO2 Removal Unit) .................................................... 36
Tabel 4. 10 Neraca Massa (HC Recovery Unit) ................................................... 36
Tabel 4. 11. Neraca Energi proses Fischer - Tropsch ........................................... 37
Tabel 4. 12. Spesifikasi Reaktor Slurry ................................................................ 38
Tabel 4. 13. Spesifikasi Heat Exchanger .............................................................. 38
Tabel 4. 14. Spesifikasi CO2 Removal Unit.......................................................... 39
Tabel 4. 15. Spesifikasi Kolom Distilasi............................................................... 39
Tabel 4. 16. Harga Peralatan (CTBM) ..................................................................... 40
Tabel 4. 17. Hasil Perhitungan Total Capital Investment (TCI) ........................... 40
Tabel 4. 18. Biaya Bahan Baku dan Utilitas. ........................................................ 41
Tabel 4. 19. Perincian Upah Tenaga Kerja Langsung .......................................... 42
Tabel 4. 20 Total Biaya Tenaga Kerja Langsung ................................................. 42
Tabel 4. 21. Perincian Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung ............................... 43
Tabel 4. 22. Tabel Perincian Pendapatan .............................................................. 44
Tabel 4. 23. Skenario peminjaman modal kepada bank........................................ 45
Tabel 4. 24. Skenario peminjaman modal kepada investor. ................................. 45
Tabel 4. 25. Perincian cash flow ........................................................................... 47
Tabel 4. 26. Perhitungan NPV Pabrik GBFT terintegrasi ..................................... 48
Tabel 4. 27. Perhitungan payback periode ............................................................ 50
Tabel 4. 28. Perhitungan BEP ............................................................................... 51
Tabel 4. 29. Sensitivitas NPV dan IRR terhadap harga batubara ......................... 52
Tabel 4. 30. Sensitivitas NPV dan IRR terhadap harga jual produk ..................... 53

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Permintaan kebutuhan energi berupa bahan bakar minyak bumi tidak
sebanding dengan jumlah ketersediaan minyak bumi yang semakin menurun. Dari
sekitar 364 juta barel minyak bumi yang diproduksi tiap tahunnya, 66,15% nya
digunakan untuk produksi BBM (Bahan Bakar Minyak) dan sekitar 33% diekspor
sebagai devisa negara. Di lain pihak, Indonesia sendiri masih mengimpor minyak
sekitar 119 juta barel per tahunnya untuk memenuhi kebutuhan minyak di bidang
lainnya, seperti untuk kebutuhan industri (Ditjen Migas, 2010). Dari data tersebut,
terlihat bahwa produksi BBM menghabiskan porsi yang sangat besar dari
produksi minyak bumi, padahal cadangan minyak bumi di Indonesia yang telah
terbukti hanya sekitar 4.230 MMSTB (Juta Stock Tank Barrel). Dengan demikian,
apabila pola konsumsi minyak bumi di Indonesia tidak berubah dan tidak
diusahakan suatu alternatif lainnya, maka diperkirakan cadangan minyak bumi di
Indonesia akan habis dalam 12 tahun mendatang (Kementrian ESDM, 2011).
Usaha yang kini sedang diupayakan pemerintah adalah mengenai konversi
BBM ke BBG (Bahan Bakar Gas), sehingga harapannya konsumsi minyak bumi
akan turun, digantikan dengan gas alam. Namun tentu saja hal tersebut bukanlah
hal yang dapat dilakukan dengan instan. Beberapa kendala yang muncul mengenai
konversi ini di antaranya adalah dibutuhkannya Konverter Kit, sebuah alat yang
dipasang di kendaraan bermotor agar dapat beroperasi dengan BBG. Menurut
Kementerian ESDM, pemerintah baru dapat menyediakan 250.000 konverter kit
hingga tahun 2014, jumlah yang belum seberapa bila dibandingkan dengan
pengguna kendaraan bermotor di Indonesia, yang mencapai total 77 juta
kendaraan bermotor, yang terdiri atas angkutan umum, bis, truk dan sepeda motor
(Badan Pusat Statistik, 2010). Ditambah lagi, bengkel untuk memasang dan
merawat alat konversi BBG tersebut masih terbatas. Sehingga nampaknya untuk
jangka waktu dekat ini, konversi BBM ke BBG tersebut belum dapat berjalan
dengan baik (Kementrian ESDM, 2011).

1 Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
2

Salah satu alternatif lain yang dapat diusahakan di Indonesia untuk


mengatasi menipisnya cadangan minyak bumi adalah dengan memproduksi
sendiri bahan bakar yang diperlukan, yaitu membuat bahan bakar sintetis (fuel
syntetic) dengan bahan baku yang berlimpah, seperti batubara. Salah satu proses
produksi bahan bakar sintetis yang telah dikenal di dunia adalah melalui
serangkaian proses yang disebut Fischer – Tropsch (F-T).
Proses F-T ini merupakan sekumpulan reaksi kimia yang mengubah
campuran gas sintesis atau syngas, yaitu campuran gas H2 dan CO, menjadi
campuran hidrokarbon, termasuk bahan bakar cair sejenis BBM (gasoline dan
diesel) dan BBG (Jager, 1995). Proses F-T ini sudah banyak diterapkan
dibeberapa negara seperti Afrika Selatan (Sasol), Qatar (Exxon), Colorado
(Rentech Inc.), Malaysia (Shell), dll. Syngas yang menjadi bahan baku dapat
diperoleh melalui steam reforming gas alam atau gasifikasi batubara atau
gasifikasi biomassa (Fox, 1990). Proses F-T ini telah menarik perhatian karena
dapat menghasilkan bahan bakar diesel dengan kandungan sulfur yang rendah,
dibandingkan dengan bahan bakar hasil olahan minyak bumi (Tristantini, 2006).
Secara teknis, pabrik F-T dapat berdiri sendiri, namun akan jauh dari
ekonomis. Apabila pabrik F-T berdiri sendiri, maka syngas sebagai bahan baku
harus disimpan dalam tangki apabila belum dimasukkan ke dalam reaktor, dalam
fasa cairnya. Setiap kali syngas akan digunakan, harus dikembalikan menjadi fasa
gas, hal ini akan menjadi tidak ekonomis. Muncul alternatif lain, yaitu dengan
mengintegrasikan pabrik F-T dengan pabrik penghasil syngas, seperti pabrik
gasifikasi Batubara, sehingga syngas dapat dialirkan secara kontinu dari unit
gasifikasi ke unit F-T, dan tidak perlu mengubah fasa syngas menjadi cair ketika
disimpan, juga tidak perlu mengubahnya menjadi gas bila ingin digunakan. Oleh
karena itu, integrasi antara pabrik gasifikasi batubara dengan pabrik F-T memiliki
kelebihan secara ekonomis.
Di Indonesia sendiri, integrasi antara gasifikasi batubara dan F-T belum
pernah ada. Padahal cadangan batubara di Indonesia sangat melimpah apabila
dibandingkan dengan minyak bumi, yaitu sekitar 21 Miliar Ton, serta produksinya
yang meningkat rata-rata 20 juta ton per tahun (ESDM, 2010). Hal itu membuat

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
3

sintesis Fischer – Tropsch dengan bahan baku gas sintesis yang berasal dari
Batubara menjadi sangat mungkin dilakukan.
Maka dari itu, masih perlu dilakukan studi kelayakan secara ekonomi dan
teknis dari pembangunan pabrik Gasifikasi – Fischer Tropsch ini. Pada studi ini
akan lebih detail dibahas pada bagian teknis Fischer Tropsch plant (pabrik
produksi bahan bakar sintetik), tapi perhitungan kelayakan ekonomi akan
dilakukan setelah diintegrasikan dengan gasification plant. Aplikasi teknologi ini
diharapkan dapat menjadi solusi dalam mengatasi masalah kelangkaan bahan
bakar di Indonesia, selain itu juga menjadi titik terang dalam pengembangan
teknologi serta menjadikan Batubara sebagai alternatif bahan bakar minyak yang
dapat digunakan (ekonomis dan efisien).

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah penelitian ini adalah :
a) Bagaimana kelayakan proses produksi dan sistem utilitas pabrik
gasifikasi batubara dan Fischer Tropsch terintegrasi dalam membuat
bahan bakar sintetik di Indonesia?
b) Bagaimana kelayakan ekonomi pabrik gasifikasi batu bara dan Fischer
Tropsch terintegrasi di Indonesia?

1.3 Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk :
a) Mengetahui kelayakan pabrik gasifikasi batubara dan Fischer-Tropsch
terintegrasi di Indonesia dengan merancang proses produksi dan sistem
utilitas pabrik dalam membuat bahan bakar sintetik.
b) Mengetahui kelayakan ekonomi pabrik gasifikasi batubara dan Fischer-
Tropsch terintegrasi di Indonesia.

1.4 Batasan Masalah


Dalam perancangan ini hanya terbatas pada pabrik Fischer Tropsch, yang
mengolah syngas dari hasil gasifikasi Batubara hingga diperoleh fraksi besar nafta
distilat, dan wax.

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
4

1.5 Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan yang digunakan adalah sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini terdiri atas latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian,
pembatasan masalah, dan sistematika penulisan.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini menjelaskan teori – teori mengenai batubara dan detail tahapan
proses gasifikasi sampai menjadi syn gas sesuai spesifikasi kebutuhan.
BAB III : METODE PERANCANGAN
Bab ini terdiri atas tahapan-tahapan perancangan mulai dari penentuan
lokasi sampai analisis keekonomian.
BAB IV : HASIL PERANCANGAN
Bab ini berisi hasil dari perancangan yang berupa lokasi pabrik,
kapasitas, spesifikasi peralatan utama.
BAB V : KESIMPULAN
Bab ini berisi kesimpulan dari seluruh bab yang ada dan merupakan
rangkuman singkat dari pembahasan - pembahasan sebelumnya.

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
5

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Dalam beberapa tahun terakhir ini, ketika jumlah penduduk Indonesia kian
bertambah, produksi minyak dalam negeri justru mengalami penurunan, yang
sebelumnya bisa mencapai di atas satu juta barrel per hari, kini berada di bawah
level satu juta barrel per hari. Hal ini cukup memprihatinkan, ditambah lagi
cadangan minyak bumi di Indonesia kian waktunya kian menurun, dan
diperkirakan cadangan minyak bumi akan habis dalam 12 tahun mendatang, jika
pola konsumsi minyak bumi di Indonesia tidak berubah (ESDM, 2011). Ternyata
tidak hanya di Indonesia, di Timur Tengah pun yang merupakan pemilik cadangan
minyak bumi terbesar di dunia, memiliki kekhawatiran yang sama, kekhawatiran
akan habisnya sumber energi yang tidak dapat diperbarui tersebut.
Menjawab permasalahan tersebut, pada suatu forum riset di Roanoke tahun
2005 lalu, seorang advisor senior di Office of the Secretary of Defense in the
military’s Clean Fuel Initiative, mengatakan bahwa pengembangan energi
alternatif untuk diesel dan bahan bakar motor lainnya yang paling mungkin
berjalan adalah dengan proses Fischer-Tropsch, yaitu mengonversi syngas dari
gas alam atau Batubara menjadi suatu hidrokarbon cair (Harrison, 2005).

2.1 Proses Gas to Liquid (GTL)


Gas alam dapat dimanfaatkan sebagai feedstock untuk industri kimia dan
bahan bakar kendaraan. Konversi gas alam menjadi hidrokarbon (Gas-To-Liquid
atau GTL) saat ini merupakan pembahasan yang menjanjikan dalam industri
energi karena sangat menguntungkan secara ekonomi untuk memanfaatkan gas
alam sebagai sumber bahan bakar yang ramah lingkungan, produk kimia khusus
dan waxes. Batubara dan gas alam dapat diubah menjadi gas sintesis melalui
proses steam reforming, CO2 reforming, dan partial oxydation (Choi, 1997).
Gas sintesis yang dihasilkan dari reformasi gas alam, baik dengan uap air
atau karbon dioksida, atau parsial oksidasi. Reaksi yang terjadi adalah:
Steam reforming CH4 + H2O ↔ CO + 3H2 (2.1)
CO reforming CH4 + CO2 ↔ 2CO + 2H2 (2.2)
2

Partial oxidation CH4 + ½O2 ↔ CO + 2H2 (2.3)

5 Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
6

Perbedaan penggunaan metode di atas adalah rasio H2/CO dari gas sintetis
yang dihasilkan berbeda – beda, dapat dilihat dari reaksi di atas, rasio H2/CO dari
Steam reforming adalah 3, CO2 reforming adalah 1, dan Partial Oxidation adalah
2. Kombinasi proses produksi gas sintesis biasanya digunakan untuk
menghasilkan gas sintesis dengan rasio H2/CO yang sesuai dengan kebutuhan
(Laan, 1999). Rasio H2/CO adalah salah satu aspek penting dalam umpan yang
digunakan untuk proses berikutnya setelah pembentukan gas sintetis, yaitu reaksi
Fischer-Tropsch (F-T).
Proses ini merupakan proses pemanfaatan gas alam secara tidak langsung
untuk menghasilkan bahan bakar cair dan bahan-bahan petrokimia, biasa juga
disebut dengan istilah gas to liquid (GTL). Skema teknologi GTL disajikan dalam
Gambar 2.1.

Pembangkit
Listrik

Proses Fraksi Ringan


Pembuatan Gas
Sintesis

Oksidasi
LPG
Parsial

Proses · Paraffin
Pemurnian Steam
Gas Alam Gas Sintetis Fischer - Fraksi Nafta · Olefin
Gas Reforming
Tropsch · Gasolin

CO2 Middle · Diesel


Reforming H2 Distillate · Jet Fuel

· Pelumas
Udara Ammonia Eter Alkohol Fraksi Wax · Pelarut
· Chemicals

Gambar 2. 1. Skema Teknologi Gas To Liquid (GTL) Terintegrasi (Sumber : Sasol)

2.2 Sintesis Fischer-Tropsch


Sintesis Fischer-Tropsch (F-T) merupakan suatu sintesis yang digunakan
untuk mengubah gas sintetik (syngas), yaitu CO dan H2, menjadi suatu campuran

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
7

hidrokarbon, reaksi berjalan eksotermik dan dibantu dengan penambahan katalis.


Gas sintetik dapat diperoleh dari steam reforming gas alam atau gasifikasi
Batubara dan juga biomassa.
Secara umum, reaksi F-T adalah sebagai berikut : (Mark, 2005)

CO + H2 → (-CH2-)n + H2O ΔH = -159,2 kJ/mol (2.4)


dapat dilihat bahwa reaksi F-T berjalan secara eksotermis. Namun dalam
praktiknya, untuk memulai reaksi F-T tersebut masih dibutuhkan pemanasan pada
suhu rendah (sekitar 200°C), dan juga tekanan yang cukup tinggi (sekitar 15 bar).
Secara umum, alasan mengapa sintesis Fischer Tropsch ini dapat menjadi
solusi masalah energi karena dilihat dari beberapa aspek. Pertama, secara efektif
menggunakan gas alam dan juga Batubara yang cadangannya masih melimpah,
untuk diolah menjadi bahan bakar alternatif dan mengurangi penggunaan minyak
bumi yang semakin menipis. Kedua, sintesis Fischer – Tropsch menyediakan
bahan bakar yang cenderung lebih bersih dan tidak menghasilkan gas buang (NOx,
SOx), karena bahan bakunya hanya terdiri dari CO dan H2 (syngas), tidak seperti
bahan bakar dari minyak bumi yang masih mengandung sulfur dan nitrogen.
Ketiga, lebih ekonomis dalam, karena untuk jumlah produksi yang setara dengan
kilang konvensional, karena selain produk utama dihasilkan pula produk samping
yang dapat digunakan sebagai pembangkit listrik dan memasok kebutuhan listrik
saat produksi (Osamu, 2005).
Sintesis Fischer-Tropsch pertama kali dilakukan pada tahun 1903 oleh P.
Sabatier dan J.D. Senerens, yaitu dengan melakukan hidrogenasi terhadap gas
karbonmonoksida (CO) dengan katalis Ni, untuk menghasilkan gas metana.
Namun yang mematenkannya pertama kali adalah Fischer dan Tropsch pada tahun
1925, karena berhasil membuat hidrokarbon yang memiliki rantai panjang dengan
menggunakan katalis Fe. Kemudian pada tahun 1933, Ruhrchemie
mengembangkan katalis Co untuk mengonversi syngas hasil gasifikasi Batubara.
Pada tahun 1939, katalis Fe menggantikan Co dalam kilang komersial, karena
masalah harga.
Akhirnya, dari tahun 2001 dan berlanjut hingga kini, banyak percobaan yang
dilakukan oleh para peneliti, untuk mengoptimasi proses F-T ini, terutama dari
konversi dan selektivitasnya. Untuk mengoptimalkan kedua hal tersebut, banyak

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
8

hal yang telah divariasikan, seperti mengubah komposisi katalis yang digunakan,
mengubah kondisi operasinya, atau mengintegrasikan proses F-T dengan proses
lainnya.
Sintesis Fischer Tropsch berlangsung secara eksotermis pada suhu 200°-
250°C dan tekanan 25-60 bar (Dry, 1981) untuk menghasilkan rantai hidrokarbon
panjang. Katalis yang umumnya dipakai adalah kobalt (Co) atau besi (Fe) dengan
support alumina atau TiO2, sedangkan promotor yang umum digunakan adalah
rhenium (Re). Untuk menghasilkan produk yang optimal, molar rasio antar H2 dan
CO yang dibutuhkan adalah 2,1 (Tristantini, 2006).
Pada Tabel 2.1 dapat dilihat reaksi-reaksi yang terjadi dalam sintesis
Fischer-Tropsch.
Tabel 2. 1. Reaksi Sintesis Fischer - Tropsch
Reaksi Utama

a. Parafin (2n+1)H2 + nCO → CnH2n+2 + nH2O

b. Olefin 2nH2 + nCO → CnH2n + nH2O

Reaksi Samping

a. Alkohol 2n H2 + nCO → CnH2n+2 O+ (n-1) H2O

b. Coke Deposition H2 + CO → C + H2O

c. Reaksi Boudouard
2 CO ⇔ C + CO2

(Sumber : Laan, 2009)


2.3 Mekanisme Reaksi Fischer-Tropsch
Sintesis Fischer-Tropsch merupakan serangkaian proses katalitik. Karena
reaksi terjadi di permukaan katalis pada antar molekul, fenomena antarmuka
seperti adsorpsi, difusi fisik ke permukaan dan dari permukaan katalis akan
terlibat di dalam proses.
Sintesis F-T merupakan suatu reaksi polimerisasi dengan langkah sebagai
berikut :
· Reaksi adsorpsi
· Inisiasi pembentukan rantai
· Pertumbuhan rantai
· Terminasi pertumbuhan rantai

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
9

· Desorpsi produk
· Readsorpsi dan reaksi lebih lanjut
Berbagai macam variasi spesi permukaan telah banyak diusulkan untuk
menggambarkan inisiasi pembentukan dan pertumbuhan rantai. Gambar 2.2 yang
diadaptasi dari Schulz dkk dan Roofer-De Pooter (1970) memberi gambaran
pengamatan di permukaan katalis selama sintesis F-T, yang menunjukkan bagian
berupa reaktan teradsorpsi (1,2,3,4,5); intermediet dengan kandungan oksigen
(6,7,8); dan intermediet hidrokarbon (9,10,11,12). Beberapa senyawa tersebut
merupakan monomer yang lebih lanjut memungkinkan bereaksi sehingga
pertumbuhan rantai terjadi (Schulz, 1970)

Gambar 2. 2. Pengamatan Kemisorpsi Spesi selama Sintesis F-T (Sumber : Schulz, 1970)

Berdasarkan 6 langkah mekanisme yang disebutkan di atas, terutama poin


ke-3, yaitu pertumbuhan rantai, nampak bahwa produk yang dihasilkan dari
sintesis F-T ini dapat beragam, baik dari panjang pendeknya rantai maupun jenis
senyawa yang dihasilkan, berupa paraffin, olefin, oksigenat, dan lainnya.
Tergantung dari produk apa yang diinginkan, lebih banyak olefin atau paraffin,
maka proses lebih lanjut diperlukan untuk memperoleh kualitas produk yang baik
dengan kuantitas yang besar.

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
10

2.4 Reaktor untuk Sintesis Fischer Tropsch


Reaktor dalam sintesis FT terdapat banyak jenisnya, namun yang akan
dibahas perbedaannya di sini hanya 2, yaitu Slurry Reactor dan Fixed Bed
Reactor, karena kedua reaktor tersebut yang umum digunakan untuk sintesis FT.
Slurry Reactor merupakan reaktor kolom gelembung tiga fasa yang
memanfaatkan katalis sebagai suspensi padatan halus dalam suatu cairan dengan
berat molekul yang tinggi. Untuk produk yang keluar dari reaktor slurry, perlu
dilakukan pemisahan katalis dari produk (recovery), untuk dikembalikan ke dalam
reaktor. Biasanya ditempatkan hydrocyclone setelah reaktor untuk me-recovery
katalis tersebut. Feed berupa syngas (bercampur dengan produk recycle)
dilewatkan melalui sparger, sehingga membentuk gelembung dalam kolom, yang
menjaga katalis tetap berada dalam bentuk suspensi, serta mengaerasi cairan dan
memberikan pengadukan yang cukup untuk terjadinya perpindahan massa dalam
reaktor. Karena reaksi di dalam kolom sangat eksotermis, maka koil pendingin
diperlukan dalam reaktor. Pada Gambar 2.3. dapat dilihat skema reaktor slurry
(Gribik, 2008).

Gambar 2. 3. Reaktor Slurry (Sumber : Gribik, 2008)


Reaktor slurry dan juga fixed bed reactor (reaktor unggun tetap) mempunyai
perbedaan penggunaan dalam hal rasio syngas (H2/CO) yang masuk sebagai feed.
Slurry reactor biasa digunakan untuk syngas dengan rasio H2/CO yang rendah,

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
11

sekitar 0,5. Sedangkan untuk reaktor fixed-bed digunakan untuk rasio H2/CO yang
tinggi, sekitar 2. Untuk reaktor fixed bed, kandungan hidrogen yang tinggi di
dalam gas meningkatkan koefisien perpindahan panas secara signifikan, yang baik
untuk reaksi. Itulah sebabnya reaktor ini kurang cocok apabila digunakan untuk
rasio H2/CO yang rendah (Akgerman, 1990)
Perbedaan lainnya antara kedua jenis reaktor tersebut adalah pada besarnya
konversi per pass, yang erat kaitannya dengan rasio recycle. Ketika banyak
keluaran yang direcycle kembali menjadi umpan segar (fresh feed), maka
besarnya konversi per pass akan menjadi rendah. Berdasarkan data yang ada,
diketahui bahwa besarnya konversi per pass untuk slurry reactor adalah sebesar
80% sedangkan untuk fixed bed reactor adalah sebesar 37%. Rasio recycle untuk
fixed bed reactor sangat besar dibandingkan dengan slurry reactor dan
membutuhkan pendinginan cepat untuk membatasi kenaikan suhu akibat reaksi.
Biasanya fixed bed reactor membutuhkan rasio recycle sebesar 2 (Smith, 1990)
Jumlah katalis yang digunakan dan juga kondisi operasi berbeda untuk
setiap reaktor. Fixed bed reactor memiliki jumlah penggunaan katalis yang lebih
besar daripada slurry reactor. Jumlah katalis yang digunakan berhubungan dengan
space velocity, karena space velocity biasanya dinyatakan dalam per satuan berat
katalis. Space velocity menyatakan besarnya laju alir volumetrik feed yang masuk
ke dalam reaktor dibagi dengan volume katalis, yang artinya berapa kali volume
reaktor feed yang dapat direaksikan tiap satuan waktunya.
Pembentukan deposit karbon dalam reaktor juga menjadi perhitungan dalam
pemilihan reaktor, karena menyangkut kelangsungan reaksi, dapat berjalan secara
kontinu atau tidak. Selain itu juga mengenai deaktivasi katalis, katalis yang telah
digunakan akan berkurang aktivitasnya setelah sekian waktu. Dalam reaktor
slurry, katalis dapat ditambahkan dan diambil begitu saja tanpa perlu mematikan
unit tersebut. Sedangkan penggantian katalis pada fixed bed memerlukan adanya
shutdown (Akgerman, 1990)

2.5 Katalis Dalam Sintesis Fischer Tropsch


Seperti yang telah disebutkan di atas, sintesis F-T merupakan suatu reaksi
katalitik, sehingga keberadaan katalis sangat diperlukan dalam reaksi. Katalis

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
12

yang umum digunakan untuk sintesis F-T saat ini adalah katalis Fe dan Co.
Penggunaan katalis Fe memberikan konversi yang cukup baik, untuk konsentrasi
Fe yang berkisar antara 5% – 40%, memberikan hasil konversi gas CO 50% –
80%, yaitu dengan penambahan promoter Cu dan K (Cheon, 2010). Sedangkan
banyaknya jumlah Co dapat mempengaruhi banyaknya senyawa bercabang dan
juga paraffin yang dihasilkan (Kumabe, 2010).
2.5.1 Katalis Cobalt (Co)
Katalis berbasis kobalt memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan
katalis berbasis besi. Salah satu keunggulannya adalah kurang aktif untuk reaksi
Water Gas Shift (WGS) dan memiliki hidup lebih lama daripada katalis besi.
Reaksi WGS diperlukan apabila rasio H2/CO tidak cukup besar atau kurang dari
yang diinginkan. Namun apabila rasio H2/CO sudah sesuai, maka reaksi WGS
tersebut tidak dikehendaki, saat itulah katalis Co ini memiliki kelebihan.
Keuntungan kedua adalah bahwa lebih banyak parafin linier diperoleh dengan
katalis kobalt selama sintesis F-T (Li, 2002).
Kobalt nitrat (Co(NO3)3) telah banyak digunakan sebagai perkursor untuk
preparasi support alumina katalis kobalt. prekursor lainnya, seperti Co-asetat, Co-
sitrat dan Co-EDTA telah ditemukan untuk menghasilkan kobalt yang lebih
tersebar, berinteraksi lebih kuat dengan support tersebut (Rosynek, 1991).
Penyangga (TiO2, Al2O3) pada katalis Co berfungsi untuk manambah luas
permukaan, mengurangi deaktifasi katalis, mencegah terjadinya sintering atau
penggabungan dan menambah gasolin (SiO2).
2.5.2 Katalis Besi (Fe)
Katalis berbasis Fe telah banyak digunakan sebagai katalis komersil untuk
sintesis F-T untuk memproduksi sejumlah besar variasi produk paraffin dan
olefin, dari mulai metana hingga wax dengan berat molekul yang tinggi.
Kelebihan utama katalis Fe ini adalah aktivitasnya yang baik terhadap reaksi
WGS, sehingga dapat memperbesar rasio H2/CO dari gas sintetis yang dimiliki,
seperti gas sintetis yang diperoleh dari hasil oksidasi parsial Batubara dan minyak
berat (rasio H2/CO = 1), atau gas sintetik yang berasal dari biomass (Schulz,
1999).

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
13

Akan tetapi, katalis Fe itu sendiri membutuhkan penambahan alkali agar


dapat aktif dan stabil. Jenis katalis Fe-alkali ini telah banyak digunakan dalam
industri F-T (Rao, 1992). Selama aktivasi katalis oleh gas sintetis dan proses F-T
berikutnya, beberapa fasa Fe, termasuk logam Fe, Fe karbida, dan oksida dari Fe
bersamaan terdapat dalam kondisi steady state. Keberadaan jenis – jenis Fe
tersebut, yang dipengaruhi oleh kondisi reaksi, dapat mempengaruhi keaktifan
katalis selama reaksi, sehingga dapat menghasilkan produk akhir F-T yang
berbeda – beda (Iglesia, 1999).

2.6 Selektivitas dan Persebaran Produk Fischer – Tropsch


Produk dalam sintesis Fischer – Tropsch membentuk suatu campuran
kompleks yang terdiri dari banyak variasi hidrokarbon, baik dari panjang
rantainya, maupun jenis hidrokarbonnya. Produk utamanya berupa paraffin linear
dan α-olefin. Anderson, adalah orang pertama yang memperkenalkan model
kinetic untuk reaksi F-T. Model kinetic tersebut diturunkan dari model
polimerisasi yang diajukan oleh Schulz dan Flory. Hingga kini dikenal sebagai
distribusi Anderson-Schulz-Flory (ASF)
Menurut Anderson (Anderson, 1958), persebaran produk hidrokarbon dapat
dijelaskan dengan persamaan ASF : mn = (1 – α) αn-1, mn adalah fraksi mol
hidrokarbon dengan panjang rantai n dan α adalah faktor growth probability yang
independen terhadap n, namun untuk hidrokarbon pendek, seperti C1 dan C2, hal
ini tidak berlaku. α menentukan jumlah banyaknya persebaran karbon pada
produk F-T. Rentang α tergantung pada kondisi operasi dan jenis katalis yang
digunakan selama reaksi. Besarnya nilai α tergantung pada laju propagasi (kp) dan
total laju propagasi dengan laju terminasi (kt).

(2.5)
Persebaran ASF memungkinkan untuk menghitung jumlah maksimum fraksi
C2 hingga C4 yang terbentuk selama reaksi. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 2.4.
yang menggambarkan α diplotkan terhadap selektifitas (Bertocini, 2009) :

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
14

Gambar 2. 4. Selektivitas Produk menurut ASF untuk HC Pendek (Sumber : Bertocini, 2009)

Wn adalah fraksi berat dari hidrokarbon. Dapat dilihat bahwa selektivitas


maksimum terhadap metana dapat tercapat pada nilai α yang sangat kecil. C2-C4
maksimum dapat diperoleh pada nilai α sekitar 0,5, sebesar 56% dari total produk.
Seperti yang telah disebutkan di atas, C1 dan C2 tidak mengikuti persebaran
normal ASF.

2.7 Pengaruh Kondisi Operasi


Dalam literatur, variabel proses, seperti tekanan, suhu, rasio H2/CO dan
space velocity, diketahui mempengaruhi produk F-T yang diperoleh, terutama
selektivitas produk (Dry, 1981). Selektifitas terhadap olefin akan bertambah
apabila tekanannya turun, suhu dinaikkan, rasio H2/CO yang rendah, dan space
velocity yang tinggi.
Pada tekanan total yang rendah, kesetimbangan termodinamik akan lebih
lambat terjadi, sedangkan pada kesetimbangan termodinamik sebagian besar
produk yang dihasilkan adalah paraffin. Meningkatnya suhu akan menggeser
produk ke arah hidrokarbon ringan dan juga olefin, untuk katalis Fe dan Co
(Donnelly, 1989; Dry, 1981). Mengubah rasio H2/CO akan menghasilkan
perbandingan yang berbeda antara hidrogen dan karbon yang teradsorpsi di
permukaan katalis, pada rasio yang lebih rendah, aktivitas hidrogenasi akan
menurun, sehingga akan menghasilkan selektivitas yang tinggi terhadap olefin.
Pada Tabel 2.2 disajikan ringkasan pengaruh kondisi operasi terhadap
selektifitas produk Fischer – Tropsch (Roper, 1983) :

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
15

Tabel 2. 2. Pengaruh Kondisi Operasi terhadap Selektivitas Produk F-T


Parameter Panjang Percabangan Selektifitas Selektivitas Deposisi Selektivitas
Rantai Rantai Olefin Alkohol Karbon Metana
Suhu ↓ ↑ * ↓ ↑ ↑
Tekanan ↑ ↓ * ↑ * ↓
Rasio H2/CO ↓ ↑ ↓ ↓ ↓ ↑
Konversi * * ↓ ↓ ↑ ↑
Space Velocity * * ↑ ↑ * ↓
Kandungan alkali ↑ ↓ ↑ ↑ ↑ ↓
(Sumber : Roper, 1983)
Catatan : ↑ bertambah dengan naiknya parameter
↓ berkurang dengan naiknya parameter
* hubungan yang kompleks
2.8 Analisis Ekonomi
Analisis ekonomi diperlukan dalam suatu perancangan pabrik, sebelum
pabrik tersebut dibangun, agar diketahui kelayakan pabrik tersebut secara
ekonomi, dapat memberikan profit atau tidak. Dalam analisis ekonomi ada
beberapa metode analisis yang digunakan, di antaranya adalah IRR, NPV dan
PBP.
2.8.1 IRR (Internal Rate of Return)
Jika laba terhitung dari pabrik (IRR) sama dengan atau lebih besar dari
tingkat keuntungan yang diharapkan (MARR), dan MARR lebih tinggi dari
tingkat bunga bank pada saat dilakukannya penghitungan tersebut, maka
rancangan pabrik tersebut layak untuk direalisasikan. Hal ini dapat dimengerti
karena jika IRR > MARR, maka dapat disimpulkan bahwa laba yang diperoleh
akan lebih besar dengan menginvestasikan uang dalam proyek perancangan pabrik
tersebut dibandingkan dengan hanya menginvestasikan sejumlah uang yang sama
di bank.
2.8.2 Analisa Net Present Value (NPV)
Investasi layak dilakukan apabila investasi yang memiliki nilai NPV > 0.
Hal ini menunjukkan bahwa nilai uang dari laba pabrik tersebut tidak lebih rendah
dari nilai uang yang dikeluarkan sebagai investasi awal pabrik tersebut. Sehingga,
selama umur periode pabrik akan selalu memperoleh keuntungan.

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
16

2.8.3 Payback period


Payback period menunjukkan lama waktu yang diperlukan agar suatu
proyek dapat balik modal, atau dengan kata lain, jumlah akumulasi laba bersih
selama pabrik tersebut dijalankan (telah dikurangi dengan biaya operasional
tahunan) tepat sama dengan jumlah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk
investasi awal pabrik tersebut. Suatu proyek rancangan pabrik akan layak untuk
dilaksanakan jika payback period-nya masih berada dalam jangka waktu
pengoperasian yang dievaluasi pada saat membuat analisa kelayakan tersebut
dengan jumlah laba bersih setelah payback period yang signifikan. Pada
perancangan pabrik GBFT, ketiga parameter tersebut (IRR, NPV dan Payback
Period) akan dihitung, untuk selanjutnya dianalisis kelayakannya.

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
BAB 3
METODE PERANCANGAN

Untuk menganalisis kelayakan pabrik Gasifikasi Batubara dan Fischer


Tropsch (GBFT) terintegrasi, maka perlu dilakukan beberapa tahapan proses atau
aktifitas. Uraian proses yang dijalankan untuk menganalisis kelayakan tersebut
dapat dilihat pada Gambar 3.1.
Studi Literatur

Data Lokasi Data Supply dan Demand Data Proses

Penentuan Lokasi Seleksi


dan Kapasitas Teknologi

Flow Sheeting

NME dan
Optimasi
Proses

Perhitungan
Spesifikasi
Peralatan

Analisis
Ekonomi

Kesimpulan

Gambar 3. 1. Diagram Alir Perancangan

17 Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
18

3.1 Studi Literatur


Studi literatur berisi tentang tinjauan awal mengenai proses Fischer –
Tropsch (F-T), termasuk mekanisme proses dan katalis yang dipergunakan dalam
reaksi tersebut. Dijelaskan pula mengenai kecenderungan terbentuknya produk
serta pengaruh kondisi operasi terhadap selektifitas produk. Selain mengenai
proses F-T, studi literatur juga mencakup analisis lokasi serta data – data supply
and demand.

3.2 Pengumpulan Data Lokasi dan Supply Demand


Data lokasi yang dimaksud di sini adalah data berbagai daerah di Indonesia
yang berpotensi untuk didirikannya pabrik GBFT terintegrasi ini. Potensi dilihat
dari banyaknya sumber daya alam berupa Batubara, yang merupakan bahan baku
utama untuk proses gasifikasi. Selain data lokasi, dikumpulkan pula data supply
dan demand, yaitu data kebutuhan. Kebutuhan di sini adalah kebutuhan berbagai
daerah di Indonesia terhadap bahan bakar minyak, yang akan menjadi target
lokasi pabrik ini akan dibangun guna mencukupi kebutuhan suatu daerah tertentu.
Pengumpulan data lokasi dan supply demand ini dilakukan dengan menggunakan
media internet, melalui situs – situs resmi badan statistik nasional.

3.3 Pengumpulan Data Proses


Pengumpulan data proses di sini adalah membandingkan data – data pabrik
Fischer Tropsch yang sudah berdiri di berbagai belahan dunia, untuk dipelajari
dan diperhitungkan kelebihan dan kekurangannya, yang nantinya akan dijadikan
rujukan untuk menyeleksi teknologi yang akan digunakan pada pabrik yang akan
dirancang. Data – data proses diperoleh melalui jurnal – jurnal internasional
mengenai proses F-T dan juga melalui textbook chemical engineering.

3.4 Penentuan Lokasi dan Kapasitas


Setelah data mengenai lokasi dan supply demand diperoleh, dilakukanlah
penentuan lokasi pabrik akan didirikan. Penentuan lokasi didasarkan pada
ketersediaan bahan baku Batubara dan juga kemudahan untuk mengakses
Batubara tersebut. Selain itu, nilai kalor Batubara menjadi salah satu

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
19

pertimbangan karena nilai kalor Batubara berbeda-beda di tiap daerah. Setelah


lokasi ditentukan, kemudian kapasitas produksi pabrik ditentukan. Kapasitas
pabrik ditentukan dengan target pemenuhan kebutuhan bahan bakar cair di daerah
pabrik akan didirikan. Dalam hal ini, kapasitas pabrik ditargetkan dapat
memenuhi 20% kebutuhan bahan bakar cair di pulau Kalimantan.

3.5 Seleksi Teknologi


Data-data proses yang telah terkumpul, dijadikan acuan untuk memilih
teknologi yang akan digunakan pada desain pabrik GBFT terintegrasi. Teknologi
dipilih berdasarkan kelayakannya, baik itu layak secara teknis, maupun layak
secara ekonomi.

3.6 Flow Sheeting


Flow Sheeting adalah pembuatan bagan alir proses dari pabrik yang akan
didesain. Bagan alir yang dibuat terdiri dari BFD (Block Flow Diagram) dan juga
PFD (Process Flow Diagram). Dengan membuat kedua bagan alir ini, nantinya
akan diketahui peralatan apa saja yang dibutuhkan agar pabrik ini berjalan, baik
itu peralatan dalam proses utama, maupun peralatan pendukung proses.

3.7 Membuat NME dan melakukan Optimasi


Dari bagan alir yang telah ada, dibuat NME-nya (Neraca Massa dan Energi)
untuk mengetahui kelayakan proses secara teknis. Neraca massa dibuat untuk tiap
unit yang terlibat dalam proses, serta neraca massa secara keseluruhan. Setelah
NME dibuat secara lengkap, dilakukan optimasi terhadap keseluruhan proses.
Optimasi ini perlu dilakukan untuk melakukan efisiensi pada beberapa unit yang
dimungkinkan untuk diefisienkan prosesnya, sehingga memperkecil biaya operasi
pabrik yang berjalan.

3.8 Menentukan Spesifikasi Peralatan


Setelah diagram alir dan neraca massa dibuat, kemudian ditentukan
spesifikasi tiap peralatan yang dibutuhkan (sizing equipment). Sizing ini dilakukan

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
20

untuk mengetahui dimensi dari tiap peralatan yang ada, serta jumlah unit yang
diperlukan untuk suatu proses agar dapat berjalan dengan lancar.

3.9 Analisis Keekonomian


Analisis keekonomian dapat dikatakan sebagai komponen utama dalam
pengerjaan desain pabrik GBFT terintegrasi ini. Analisis keekonomian meliputi
data–data berikut :
· biaya investasi yaitu biaya peralatan utama dan peralatan pendukung,
· biaya instalasi alat,
· biaya konstruksi plant,
· biaya pembelian dan instalasi sistem perpipaan,
· biaya pembelian bahan baku,
· biaya pembelian katalis,
· biaya utilitas seperti listrik dan air,
· dan biaya-biaya lainnya.
Dilakukan pula analisis untuk membandingkan keekonomisan pabrik ini
pabrik yang memproduksi bahan bakar minyak di Indonesia. Analisis ekonomi
yang digunakan adalah dengan menghitung nilai IRR, NPV, dan PBP, serta
analisis revenue dan cost.

3.10 Kesimpulan
Berdasarkan studi proses dan ekonomi maka akan diperoleh kesimpulan
apakah pabrik GBFT terintegrasi ini layak untuk dibangun atau tidak. Parameter
proses yang menjadi pertimbangan kelayakan diantaranya adalah kapasitas produk
dan ketersediaan bahan baku. Sedangkan parameter ekonomi diantaranya dengan
melihat nilai NPV, IRR dan payback period yang diperoleh.

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
21

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisis Pasar


Lokasi pabrik Gasifikasi Batubara dan Fischer-Tropsch (GBFT) terintegrasi
direncanakan akan didirikan di daerah Balikpapan, Kalimantan Timur,
berdasarkan pertimbangan ketersediaan bahan baku berupa Batubara di sana.
Berikutnya akan dibahas mengenai analisis pasar berupa supply dan demand
(ketersediaan dan permintaan).
Supply merupakan ketersediaan Batubara di daerah Balikpapan, Kalimantan
Timur, sebagai bahan baku pabrik GBFT terintegrasi. Sedangkan demand
merupakan kebutuhan akan produk akhir pabrik GBFT terintegrasi, berupa bahan
bakar cair, yang setara dengan bahan bakar minyak bumi.
4.1.1 Kebutuhan Bahan Bakar
Besar kebutuhan bahan bakar cair di Pulau Kalimantan, dapat dilihat pada
Tabel 4.1:
Tabel 4. 1. Kebutuhan Bahan Bakar Cair di Kalimantan
Tahun Total Kebutuhan (kL)
2006 2.125.205
2007 2.571.656
2008 2.653.854
2009 2.814.320
Sumber : BPH Migas
Dari data-data di atas, kemudian diproyeksikan hingga kebutuhan 20 tahun
ke depan, dengan asumsi umur manfaat pabrik direncanakan hingga 20 tahun ke
depan. Perhitungan proyeksi dilakukan dengan bantuan software, Ms. Excel. Data
proyeksi dapat dilihat pada tabel 4.2.

21 Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
22

Tabel 4. 2. Proyeksi Kebutuhan Bahan Bakar Cair di Kalimantan hingga 2027


Tahun Total Kebutuhan (kL)
2012 3505855
2013 3720424
2014 3934993
2015 4149562
2016 4364131
2017 4578700
2018 4793269
2019 5007838
2020 5222407
2021 5436975
2022 5651544
2023 5866113
2024 6080682
2025 6295251
2026 6509820
2027 6724389

Dapat dilihat pada Tabel 4.2, total kebutuhan bahan bakar cair di pulau
Kalimantan untuk prediksi 15 tahun ke depan adalah sekitar 6,72 juta kilo liter.
Setelah mengetahui total kebutuhan tersebut, ditentukan kapasitas pabrik GBFT
terintegrasi.
Kapasitas pabrik ditargetkan untuk dapat memenuhi sebesar 20% kebutuhan
total bahan bakar cair di pulau Kalimantan, sehingga kapasitas pabrik GBFT
terintegrasi sekisar 1.344.877 kL.
4.1.2 Ketersediaan Bahan Baku Batubara
Pabrik GBFT terintegrasi direncanakan dibangun di daerah Balikpapan,
Kalimantan Timur, karena mempertimbangkan ketersediaan Bahan Baku yang
ada, berupa Batubara. Berikut adalah data-data ketersediaan Batubara di setiap
provinsi di Kalimantan.

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
23

Tabel 4. 3. Ketersediaan Batubara di Kalimantan


No. Provinsi Kualitas Cadangan
Kelas Kriteria (kal/gr) (juta ton)
1. Kalimantan Barat Kalori Tinggi 6100 – 7100
0,00
Kalori Sangat Tinggi > 7100
2. Kalimantan Tengah Kalori Rendah < 5100
Kalori Sedang 5100 – 6100
48,59
Kalori Tinggi 6100 – 7100
Kalori Sangat Tinggi > 7100
3. Kalimantan Selatan Kalori Rendah < 5100
Kalori Sedang 5100 – 6100
1867,84
Kalori Tinggi 6100 – 7100
Kalori Sangat Tinggi > 7100
4. Kalimantan Timur Kalori Rendah < 5100
Kalori Sedang 5100 – 6100
2071,68
Kalori Tinggi 6100 – 7100
Kalori Sangat Tinggi > 7100
Sumber : Pusat Sumber Daya Geologi (2006)
Ketersediaan Batubara sebagai bahan baku pabrik GBFT terintegrasi, adalah
sangat melimpah di Kalimantan Timur, selain itu juga tidak kalah banyaknya
ketersediaan Batubara di dekatnya, yaitu di Kalimantan Selatan, sehingga
Balikpapan, Kalimantan Timur, dipilih sebagai lokasi berdirinya pabrik.

4.2 Seleksi Teknologi


Teknologi Fischer – Tropsch (F-T) adalah teknologi yang telah tetap
metodenya. Maka yang dipilih di sini bukanlah pemilihan terhadap teknologi,
tetapi terhadap komponen – komponen dalam sintesis Fischer – Tropsch ini. Di
sini, seleksi dilakukan terhadap reaktor dan juga katalis, karena melihat kedua
faktor tersebut yang dapat mempengaruhi variasi dan produk dan hasil yang
diperoleh.

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
24

4.2.1 Reaktor
Berikut ini akan disajikan secara ringkas mengenai seleksi pemilihan reaktor berdasarkan pertimbangan – pertimbangan yang ada.
Tabel 4. 4. Perbandingan Reaktor Slurry dengan Fixed Bed Reactor
Parameter Slurry reactor Bobot Fixed Bed reactor Bobot
Konversi per pass 80% 3 37% 1
Rasio H2/CO untuk rasio rendah, sekitar 0,5 - 1 2 untuk rasio tinggi, sekitar 2. 3
Jumlah katalis 250 kg/m3 3 850 kg/m3 1
Pembentukan karbon rasio H2/CO rendah cenderung membentuk karbon 2 rasio H2/CO lebih sedikit pembentukan karbon 3
Katalis dapat diganti tanpa mengganggu proses 3 diperlukan shutdown untuk penggantian katalis 1
Suhu Operasi dapat dijaga konstan selama reaksi 3 mengalami peningkatan selama reaksi 2
Capital Cost $ 17.1 Millions 2 $ 34 Millions 1
TOTAL 18 TOTAL 12
Keterangan : 1. Kurang; 2. Cukup; 3. Baik; 4. Sangat Baik.
Sumber : Bechtel Group, Inc.
Keterangan Perbandingan reaktor :
1. Kedua reaktor di atas berdasarkan ukuran diameter yang sama, yaitu 4,8 meter.
2. Jumlah katalis diinginkan sesedikit mungkin, agar menghemat biaya (data di atas berdasarkan jumlah produk yang sama).
3. Pembentukan karbon cenderung tidak diinginkan karena dapat menimbulkan hotspot pada reaktor, yang berpotensi bahaya, yaitu suhu
yang tinggi di salah satu titik reaktor (suhu tidak merata).

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
25

4. Penggantian katalis tanpa melakukan shutdown lebih diinginkan, karena


semakin sering suatu pabrik melakukan shutdown, maka biaya akan meningkat
dan juga produksi akan berkurang.
5. Data Capital cost diperoleh berdasarkan ukuran reaktor yang sama untuk
mendapatkan sejumlah produk yang sama.
Berdasarkan penilaian di atas, maka reaktor yang digunakan adalah
SLURRY REACTOR.

4.2.2 Katalis
Katalis merupakan salah satu aspek penting dalam sintesis Fischer –
Tropsch, karena katalis inilah yang mendorong bagaimana cara mendapatkan
produk yang diinginkan dengan kualitas yang baik (selektivitas tinggi, konversi
tinggi, dan lainnya. Katalis F-T disintesis dalam bentuk oksida logamnya dari
logam – logam golongan VIIIB (Fe, Co, Ru, Rh, Ni). Katalis yang umum
digunakan dalam sintesis Fischer – Tropsch adalah katalis Fe dan katalis CO.
Katalis Rh dan Ru secara ekonomis mahal dan katalis Ni memliki selektivitas
yang terlalu tinggi untuk metana (Tristantini, 2006), dan karena pada sintesis FT
ini produk yang diharapkan adalah C5+, maka katalis Ni tidak dilibatkan.
Pada Tabel 4.5. dapat dilihat perbandingan antara katalis Fe dan Co :
Tabel 4. 5. Perbandingan Katalis Fe dengan Co
Parameter Basis Fe Bobot Basis Co Bobot
Konversi 95% 2 94% 2
aktivitas WGS tinggi 2 rendah 3
Kondisi operasi membutuhkan tekanan tinggi agar 2 tekanan rendah untuk 3
lebih aktif (> 20 bar) mengaktifkan (10 bar)
selektifitas cenderung menuju olefin 2 cenderung menuju paraffin 3
rasio H2/CO untuk rasio H2/CO yang rendah 2 untuk rasio H2/CO yang tinggi 3
TOTAL 10 TOTAL 14
Ket : 1. Kurang; 2. Cukup; 3. Baik; 4. Sangat Baik
Sumber : Burtron H. Davis, Dewi Tristantini, C. C. Hall

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
26

Keterangan perbandingan katalis :


1. Aktivitas WGS (Water Gas Shift) dibutuhkan pada kondisi tertentu, misalnya
untuk syngas dengan rasio H2/CO yang rendah, sehingga dapat meningkatkan
rasionya. Rasio H2/CO yang meningkat akan mengarahkan selekfivitas kepada
pembentukan olefin. Sedangkan produk yang diharapkan adalah paraffin.
Sehingga dipilih katalis dengan aktivitas WGS yang rendah, yaitu katalis Co.
2. Kondisi operasi sebagai faktor keamanan. Co dengan tekanan aktivasi yang
lebih rendah, lebih aman dibandingkan dengan Fe.
3. Rasio H2/CO yang dihasilkan dari gasifikasi berbeda, antara batubara, biomass
dan gas alam. Syngas dengan rasio H2/CO yang tinggi, kurang cocok dengan
Fe, karena akan meningkatkan selektivitas ke produk olefin.

4.3 Deskripsi Proses


Pada sub-bab ini akan dijelaskan mengenai alat - alat proses yang digunakan
dalam unit Fischer - Tropsch, disertai dengan kondisi operasinya.
4.3.1 Steam Drum
Steam Drum memiliki 2 fungsi dalam hal ini. Pertama menyediakan BFW
(Boiler Feed Water) sebagai pendingin selama reaksi dalam reaktor F-T, agar
suhu reaksi dapat terjaga konstan, karena reaksi FT bersifat eksotermis, maka
perlu dijaga suhunya agar tidak terjadi overheating. Selain itu juga untuk
menghasilkan steam (MP Steam) yang digunakan untuk sistem utilitas.
Air ditampung di dalam steam drum, yang akan dikeluarkan ke dalam
reaktor, air yang masuk sebagai pendingin akan berubah menjadi steam dan
kembali ke steam drum, yang nantinya steam ini digunakan pula sebagai pemanas
dalam sistem utilitas, sehingga dapat menghemat kebutuhan steam selama proses.
Skema steam drum dapat dilihat pada Gambar 4.1.

Gambar 4. 1. Steam Drum

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
27

4.3.2 Reaktor Slurry


Syngas (CO dan H2) yang telah dilewatkan pada unit penghilang gas asam
(CO2 dan H2S), dikompresi hingga mencapai tekanan yang mendekati tekanan
operasi sintesis Fischer-Tropsch (FT). Syngas yang akan diubah menjadi
hidrokarbon memasuki reaktor slurry, yang diatur pada tekanan sekitar 20 atm
dan suhu 450°F (sekitar 230°C). (Fox, 1990)
Di dalam reaktor akan terjadi reaksi polimerisasi, sehingga terbentuk
panjang rantai dan jenis hidrokarbon yang berbeda, tergantung dari katalis yang
digunakan. Katalis yang digunakan adalah katalis berbasis Kobalt (Co) karena
dengan pertimbangan rasio H2/CO yang tinggi untuk syngas yang berasal dari gas
alam dan batubara, serta tidak diinginkannya reaksi WGS (Water Gas Shift).
Katalis ditambahkan secara berkala tanpa menghentikan proses, karena ada
sebagian katalis yang terbawa keluar bersama produk setelah reaksi.
Sejumlah slurry secara kontinu dikeluarkan dari dalam reaktor menuju
hydrocyclone untuk merecovery produk cair dan mengembalikan slurry ke bagian
bawah reaktor. Hal ini dimaksudkan untuk mengembalikan sejumlah katalis yang
terbawa oleh produk cair. Produk yang dikeluarkan berupa hidrokarbon ringan
(gas dan cair), hingga hidrokarbon berat (wax). Produk berupa hidrokarbon ringan
keluar dari bagian atas reaktor kemudian selanjutnya akan melalui proses
pendinginan dan pemisahan, sehingga terpisah antara gas dan cair. Sedangkan
produk dari bagian bawah reaktor berupa wax, selanjutnya akan masuk ke dalam
wax storage untuk treatment lebih lanjut. (Chang, 1990)
Reaktor slurry ini merupakan unit utama dalam sintetis FT, karena di dalam
reaktor inilah feed berupa syngas mengalami perubahan menjadi hidrokarbon
dengan panjang rantai yang bervariasi. Untuk memaksimalkan produk yang
diinginkan, yaitu berupa hidrokarbon cair, fraksi ringan yang keluar dari reaktor
direcycle kembali, diubah menjadi syngas, lalu dikembalikan ke dalam reaktor,
sedangkan untuk wax akan dihydrocracking, untuk diubah menjadi hidrokarbon
cair.
4.3.3 Effluent Cooler
Produk atas dari reaktor FT berupa hidrokarbon ringan (gas dan cair) dengan
kisaran panjang karbon C1 – C18, keluar dengan suhu yang relatif tinggi, yaitu

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
28

sekitar 250°C - 300°C. Sebelum memasuki unit pemisahan, produk atas ini
didinginkan terlebih dahulu.
Pendinginan dilakukan secara bertahap, mula – mula pendinginan dilakukan
dengan udara (effluent air cooler), yaitu menggunakan fan hingga mencapai suhu
sekitar 180°C, lalu pendinginan berikutnya dengan fluida pendingin hingga
pencapai suhu kurang lebih 120°C. Pendinginan dilakukan agar hidrokarbon –
hidrokarbon dapat dipisahkan berdasarkan perbedaan boiling pointnya.
Pendinginan diawali dengan udara untuk memperkecil jumlah pendingin yang
digunakan. Suhu akhir pendinginan juga dapat berubah tergantung dari rentang
produk akhir yang diinginkan, antara hidrokarbon gas dengan hidrokarbon cairnya
(Fox, 1990)
Sebelum masuk ke dalam sistem pendinginan, dapat pula dilakukan integrasi
panas, yaitu pendinginan effluent dari reaktor yang masih panas, digunakan
terlebih dahulu untuk memanaskan feed (syngas) sebelum masuk ke dalam
reaktor. Dengan demikian, akan diperoleh efisiensi dari pemanasan feed dalam
reaktor, juga pendinginan effluen yang keluar dari reaktor.
4.3.4 CO2 Removal Unit
Selain hidrokarbon, dari hasil reaksi F-T akan terbentuk komponen lain,
seperti gas CO2, serta uap air. CO2 yang terbawa oleh produk fraksi ringan F-T
harus dihilangkan, karena jumlahnya yang cukup signifikan tersebut akan menjadi
pengotor bagi produk, karena itu diperlukan unit untuk menghilangkan CO2.
Untuk menghilangkan CO2, digunakan metode absorbsi dengan adsorben
amina. Proses ini terdiri atas kolom absorbsi dan kolom regenerasi, serta beberapa
unit penukar panas dan tambahan lainnya.
Dalam kolom absorbsi, amina akan mengabsorb gas CO2 karena terjadi
kontak di dalam kolom, fraksi gas yang keluar melalui bagian atas kolom absorbsi
berupa hidrokarbon ringan bersih tanpa kandungan CO2. Amina yang telah
mengabsorb CO2 diregenerasi pada kolom regenerasi, sehingga diperoleh amina
yang “bersih” dan direcycle ke kolom absorbsi untuk mengabsorb kembali gas
CO2 (Erik, 2007). Keluaran atas dari kolom regenerasi berupa gas CO2 yang
dilepaskan ke udara. Untuk beberapa kasus, gas CO2 yang dilepaskan dikompresi
dan dijadikan fluida superkritis, namun hal tersebut tidak dilakukan di sini.

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
29

Kondisi operasi yang digunakan untuk kolom absorbsi adalah pada tekanan
yang tinggi, agar gas CO2 dapat terabsorbsi ke dalam amina. Kondisi yang
digunakan adalah pada suhu 40°C, tekanan 20 atm. Sedangkan kondisi yang
digunakan pada kolom regenerasi adalah pada 120°C, tekanan 1,5 atm. Pada
Gambar 4.2 dapat dilihat skema unit CO2 Removal (Kohl, 1997).

Gambar 4. 2. Skema Unit CO2 Removal (Sumber : Kohl, 1997)


4.3.5 Hydrocarbon Recovery Unit
Unit ini berupa kolom distilasi, yang digunakan untuk memisah-misahkan
produk F-T yang terbentuk. Umpan masuknya berupa hidrokarbon ringan yang
telah dihilangkan kandungan CO2-nya, serta hidrokarbon cair dan juga wax.
Keluaran dari kolom distilasi ini akan diperoleh vapor (C1-C4 dan gas lain),
yang sebagiannya akan direcycle ke reaktor F-T, sedangkan sebagian lainnya akan
dijadikan fuel gas untuk generator dan juga dialirkan menuju hydrogen recovery
unit, untuk menghasilkan hidrogen yang nantinya akan digunakan untuk
hydrotreating dan hydrocracking produk.
Sedangkan keluaran lainnya berupa nafta (C5-C10), C11-C20 parafin dan
olefin, serta C20+ berupa wax, yang masing – masing akan ditreatment untuk
mendapatkan produk hidrokarbon cair yang stabil.
4.3.6 Hydroprocessing Unit
Produk yang keluar dari hydrocarbon recovery unit, sebenarnya sudah
berupa produk jadi, yaitu nafta, distilat dan juga wax. Hydroprocessing unit ini
digunakan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produk yang diinginkan,
yaitu hidrokarbon cair, khususnya nafta dan diesel oil.

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
30

Pada Tabel 4.6 dapat dilihat beberapa contoh reaksi dalam proses
hydroprocessing (Scherzer, 1996) :
Tabel 4. 6. Reaksi – Reaksi dalam Hydroprocessing

(Sumber : Scherzer, 1996)


Hydroprocessing unit di sini terdiri atas 2 unit besar, yaitu hydrotreater dan
hydrocracker. Hydrotreater berfungsi untuk memutuskan ikatan tidak jenuh
(rangkap) pada nafta yang sebagian besar berupa olefin, sehingga diperoleh nafta
yang stabil berupa parafin. Untuk distilat (C11-C20), proses hydrotreating
digunakan untuk meningkatkan produksi minyak diesel.
Hydrocracker adalah unit hydroprocessing lain yang digunakan di sini,
digunakan untuk memutuskan rantai panjang pada wax (C20+), sehingga dapat
memperbesar jumlah nafta dan minyak diesel. Pada Tabel 4.7 disajikan kondisi
operasi yang digunakan untuk hydroprocessing nafta, distilat dan juga wax
Tabel 4. 7. Kondisi Operasi Hydroprocessing
Naphtha Kerosene Diesel VGO Residue
WART (Weighed Average Reactor Temperature)
°F 530 550 575 - 600 680 - 700 700 - 725
°C 277 288 300 - 315 360 - 370 370 - 385
H2 Pressure
psig 250 - 450 250 - 600 600 - 800 800 - 2000 >2000
kPa 1825 - 3204 1825 - 4238 4238 - 5617 5617 - 13891 >13891
LHSV 5 4 2-3 0.8 - 1.5 0.5
H2/Oil Ratio
scf/bbl 350 450 800 1200 >3000
M3/m3 60 80 140 210 >525
(Sumber : Robinson, 2004)

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
31

4.4 Flow Sheeting


Flow Sheeting di sini akan menggambarkan proses F-T secara sederhana, yang akan ditampilkan dalam Block Flow Diagram (BFD),
juga proses F-T yang menggambarkan aliran proses dan besar fraksi tiap komponen dalam aliran – aliran tersebut, yang akan ditampilkan
dalam Process Flow Diagram (PFD).
4.4.1 Block Flow Diagram (BFD)
Block Flow Diagram Fischer – Tropsch Process

Water Steam
Fuel
Gas

F-T Vapors CO2 Removal Hydrocarbon Upgrading


Clean Syngas F-T Synthesis
Unit Recovery Product

F-T Liquids

CO2
Product

SCALE : NO SCALE DRAWER : BAGAS TRIYATMOJO


UNIT :

DATE : JUNE 12, 2012

DTK – FTUI BLOCK FLOW DIAGRAM A4


FISCHER – TROPSCH PROCESS

Gambar 4. 3. Block Flow Diagram Proses Fischer - Tropsch.

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
32

4.4.2 Process Flow Diagram (PFD)


· Reaktor Fischer - Tropsch

V-101 R-101 E-101 V-102


Steam Drum Slurry Reactor Effluent Cooler Separator

MP Steam E-101 HC Vapor to


CO2 Removal
2 4
BFW V-101
V-102

HC Liquid to
R-101
HC Recovery.
5

Catalyst

HC Liquid to
HC Recovery.
3

Syngas 1

SCALE : NO SCALE DRAWER : BAGAS TRIYATMOJO


UNIT :

DATE : JUNE 12, 2012

DTK – FTUI PROCESS FLOW DIAGRAM A4


SLURRY REACTOR

Gambar 4. 4. PFD Reaktor Slurry

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
33

· CO2 Absorber Unit

V-201 E-201 V-202 P-201


Absorber Amine HE Stripper Lean Amine Pump

CO2
11
To HC
Recovery Unit

9
Make Up
Amine

8
Rich

Amine
Amine V-202
Lean
V-201
Steam
E-201
Vapor from
7
F-T product

Reboiler
10

Rich Condensate
Amine
Lean
Amine 12

P-201

SCALE : NO SCALE DRAWER : BAGAS TRIYATMOJO


UNIT :

DATE : JUNE 12, 2012

DTK – FTUI PROCESS FLOW DIAGRAM A4


CO2 REMOVAL UNIT

Gambar 4. 5. PFD CO2 Removal Unit

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
34

· Hydrocarbon Recovery Unit

V-301 E-301
Distillation Column Condenser
E-301

14
To Naphta
Hydrotreating

13 V-301
15
To Distillate
Hydrotreating

Steam

Feed

Reboiler

Condensate

To Wax
Hydrocracking
16

SCALE : NO SCALE DRAWER : BAGAS TRIYATMOJO


UNIT :

DATE : JUNE 12, 2012

DTK – FTUI PROCESS FLOW DIAGRAM A4


HYDROCARBON RECOVERY UNIT

Gambar 4. 6. PFD Hydrocarbon Recovery Unit

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
35

4.5 Neraca Massa dan Energi Proses


4.5.1 Neraca Massa Proses
Neraca massa dalam proses F-T, dapat dilihat pada Gambar 4.7 berikut :

Syngas
671.312 kg/hr

Reaktor
Liquid Product Vapor Product
Fischer-
130.688 kg/hr 540.624 kg/hr
Tropsch

Water
Separator 252.924 kg/
hr

Hydrocarbon & Gases


287.700 kg/hr

CO2 Absorber CO2


Fractionator Unit 109.800 kg/hr

Naphta Distillate Clean Hydrocarbon to FG


24.088 kg/hr 50.723 kg/hr 177.900 kg/hr
Wax
55.877 kg/hr

Gambar 4. 7. Neraca Massa Proses Fischer - Tropsch

Neraca massa secara keseluruhan, dengan kondisi operasi dan fraksi - fraksi
komponennya dapat dilihat pada Tabel 4.8, 4.9, dan 4.10 (nomor aliran dapat
dilihat pada PFD) :

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
36

Tabel 4. 8. Neraca Massa (PFD Reaktor)


Nomor Aliran 1 2 3 4 5
Nama Gas Produk Produk Produk Produk
Aliran Sintesis Atas Bawah Vapor Liquid
Laju Alir Massa (kg/h) 671.312 540.623 130.689 287.700 252.923
Suhu (°C) 230 230 250 80 80
Tekanan (atm) 20 20 20 20 20
Komponen (fraksi massa)
CO 0,6411 0,0663 0,0000 0,1246 0,0000
H2 0,0916 0,0043 0,0000 0,0081 0,0000
CO2 0,1581 0,2225 0,0000 0,4161 0,0023
H2O 0,0232 0,4764 0,0000 0,0180 0,9977
C1 0,0861 0,1374 0,0000 0,2582 0,0000
C2-C4 0,0000 0,0378 0,0000 0,0710 0,0000
C5-C8 0,0000 0,0553 0,0000 0,1039 0,0000
C9-C12 0,0000 0,0000 0,1843 0,0000 0,0000
C13-C20 0,0000 0,0000 0,3881 0,0000 0,0000
C21-C25 0,0000 0,0000 0,1103 0,0000 0,0000
C25+ 0,0000 0,0000 0,3173 0,0000 0,0000

Tabel 4. 9. Neraca Massa (CO2 Removal Unit)


Nomor Aliran 7 8* 9 10 11 12
Nama HC & Amine Clean Rich CO2 Lean
Aliran Gas HC Amine Amine
Laju Alir Massa (kg/h) 287.700 1.246.000 177.900 1.263.959 109.800 1.249.349
Suhu (°C) 80 40 80 122 117 120
Tekanan (atm) 5 5 5 2 2 2
Komponen (fraksi massa)
CO 0,1246 0,0000 0,2014 0,0000 0,0000 0,0000
H2 0,0081 0,0000 0,0148 0,0000 0,0000 0,0000
CO2 0,4161 0,0000 0,0003 0,0142 1,0000 0,0015
H2O 0,0180 0,7100 0,0834 0,6999 0,0000 0,7087
C1 0,2582 0,0000 0,4172 0,0000 0,0000 0,0000
C2-C4 0,0710 0,0000 0,1149 0,0000 0,0000 0,0000
C5-C8 0,1039 0,0000 0,1679 0,0000 0,0000 0,0000
Amine 0,0000 0,2900 0,0000 0,2859 0,0000 0,2898
Keterangan : *bukan aliran per jam, hanya aliran di awal.

Tabel 4. 10 Neraca Massa (HC Recovery Unit)


Nomor Aliran 13 14 15 16
Nama Aliran Produk Bawah Nafta Distilate Wax
Laju Alir Massa (kg/h) 130.689 24.088 50.724 55.877
Suhu (°C) 400 240 340 400
Tekanan (atm) 4,5 4,5 4,6 4,7
Komponen (fraksi massa)
C1 0,0000 0,0000 0,0000 0,0000
C2-C4 0,0000 0,0000 0,0000 0,0000
C5-C8 0,0000 0,0000 0,0000 0,0000
C9-C12 0,1843 1,0000 0,0000 0,0000
C13-C20 0,3881 0,0000 1,0000 0,0000
C21-C25 0,1103 0,0000 0,0000 0,2574
C25+ 0,3173 0,0000 0,0000 0,7426

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
37

4.5.2 Neraca Energi Proses


Tabel 4. 11. Neraca Energi proses Fischer - Tropsch
Reaktor
Neraca Energi Masuk Neraca Energi Keluar
Stream Entalphy (kJ/h) Stream Entalphy (kJ/h)
Stream 2 - 4.919e+09 Cooled Stream 2 - 5.668e+09
Q Cool 2 0.749e+09
Total - 4.919e+09 Total - 4.919e+09
Cooled Stream 2 - 5.668e+09 Stream 4 - 3.954e+09
Stream 5 - 1.714e+09
Total - 5.668e+09 Total - 5.668e+09

CO2 Removal Unit


Neraca Energi Masuk Neraca Energi Keluar
Stream Entalphy (kJ/h) Stream Entalphy (kJ/h)
MEA - 1.280e+09 Pressed MEA - 1.279e+09
Pump Duty 0.001e+09
Total - 1.280e+09 Total - 1.280e+09
MEA - 1.280e+09 Rich MEA - 1.306e+09
Stream 7 0.165e+09 Stream 9 0.192e+09
Total - 1.115e+09 Total - 1.114e+09
Rich MEA - 1.306e+09 Rich MEA to Strip - 1.156e+09
Lean Amine to HE - 1.117e+09 Recycle - 1.268e+09
Total - 2.423e+09 Total - 2.424e+09
Rich MEA to Strip - 1.156e+09 CO2 0.018e+09
Reboiler Duty 0.119e+09 Lean Amine to HE -1.117e+09
Condenser Duty 0.062e+09
Total - 1.037e+09 Total - 1.037e+09

4.6 Spesifikasi Peralatan Proses


Spesifikasi peralatan proses merupakan salah satu aspek utama yang
diperlukan untuk menghitung nilai ekonomis pabrik. Peralatan akan memiliki
harga yang spesifik, berbeda dengan peralatan yang lain. Hal tersebut akan
mempengaruhi secara langsung terhadap biaya investasi maupun biaya
operasional secara keseluruhan.

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
38

4.6.1 Reaktor Katalitik


Reaktor yang digunakan dalam reaksi Fischer - Tropsch adalah reaktor
slurry. Perhitungan spesifikasi reaktor ini menggunakan data kinetik untuk reaksi
Fischer - Tropsch pada reaktor slurry dengan katalis Co. Spesifikasi reaktor
ditampilkan pada Tabel 4.11.
Tabel 4. 12. Spesifikasi Reaktor Slurry
Tag Number Alat Jumlah Unit Spesifikasi Nilai Satuan
Konversi 80 %
Volume Reaktor 412 m3
Reaktor Massa Katalis Total 679 ton
10 unit
Slurry Volume Slurry 281 m3
Diameter Reaktor 6 m
Panjang Reaktor 14,5 m

4.6.2 Heat Exchanger (HE)


Heat Exchanger merupakan alat yang berfungsi untuk menukarkan panas.
Pada pabrik F-T ini dipilih HE jenis shell and tube. Jenis shell and tube paling
umum digunakan dan dapat digunakan untuk semua aliran dengan luas area
pertukaran panas yang besar. Aliran di dalamnya ditentukan adalah aliran counter
current (berlawanan arah). Spesifikasi HE yang digunakan dapat dilihat pada
Tabel 4.12
Tabel 4. 13. Spesifikasi Heat Exchanger
Tag Number Alat Jumlah Unit Spesifikasi Nilai Satuan
Panjang Tube 9 m
Heat Diameter Shell 2,4 m
Reaktor 1 Unit
Exchanger Jumlah Tube 1.673
Heat Transfer Area 1.890 m2
Panjang Tube 11 m
Amine Heat Diameter Shell 3.05 m
CO2 Absorber 1 Unit
Exchanger Jumlah Tube 2.701
Heat Transfer Area 3.731 m2
Panjang Tube 5 m
Heat Diameter Shell 1,6 m
Feed Distilasi 1 Unit
Exchanger Jumlah Tube 736
Heat Transfer Area 461,6 m2

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
39

4.6.3 CO2 Removal Unit


Unit ini diperlukan untuk menghilangkan CO2 dari dalam campuran gas
hidrokarbon, karena dapat mengurangi kemurnian hidrokarbon tersebut. CO2
diabsorbsi dengan menggunakan amina pada kolom absorbsi. Selain kolom
absorbsi, terdapat pula kolom regenerasi yang digunakan untuk me-recycle
kembali amina yang digunakan selama absorbsi. Penentuan spesifikasi peralatan
dilakukan dengan bantuan simulator HYSYS. Pada Tabel 4.13, dapat dilihat
spesifikasi peralatan yang terdapat dalam CO2 removal unit ini.
Tabel 4. 14. Spesifikasi CO2 Removal Unit
Tag Number Alat Jumlah Unit Spesifikasi Nilai Satuan
P Top / P Bottom 450 / 470 kPa
Kolom Suhu Operasi 80 °C
Absorbsi 1 Unit Jumlah Tray 15
(Absorber) Diameter 1,5 m
Tinggi 7,5 m
P Top / P Bottom 190 / 200 kPa
Kolom Suhu Operasi 120 °C
Regenerasi 1 Unit Jumlah Tray 8
(Stripper) Diameter 1,5 m
Tinggi 4 m
Amine Pump 1 Unit Daya 185 kW

4.6.4 Hydrocarbon Recovery Unit


Unit ini digunakan untuk memisahkan komponen - komponen yang terdapat
dalam produk F-T liquid, menjadi nafta, distilat dan juga wax. Unit yang
digunakan berupa kolom distilasi. Penentuan spesifikasi unit ini dilakukan dengan
bantuan simulator HYSYS. Pada Tabel 4.14 berikut dapat dilihat spesifikasi
kolom distilasi yang digunakan.
Tabel 4. 15. Spesifikasi Kolom Distilasi
Tag Number Alat Jumlah Unit Spesifikasi Nilai Satuan
P Top / P Bottom 135 / 225 kPa
T Top / T Bottom 136 / 350 °C
Kolom
1 Unit Jumlah Tray 29
Distilasi
Diameter 1,5 m
Tinggi 14,5 m

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
40

4.7 Analisis Ekonomi


4.7.1 Total Capital Investment
Tabel 4.16 menunjukkan harga setiap peralatan yang digunakan dalam
pabrik GBFT terintegrasi ini, sedangkan pada Tabel 4.17, disajikan investasi total
yang dibutuhkan.
Tabel 4. 16. Harga Peralatan (CTBM)
Equipment No. of Unit Cost/unit ($) Cost ($)
Belt Conveyor 4 50.563 202.255
Roll Mill 4 161.803 647.214
Pin Mill 4 161.803 647.214
Gasifier (include cyclone) 1 241.407.537 241.407.537
Pre cooler WGS 2 391.698 783.397
WGS reactor HT 1 887.505 887.505
Interstage cooler 1 799.983 1.599.966
WGS reactor LT 1 856.886 856.886
Boiler 1 46.653.973 46.653.973
Amine Unit system (11%)* 1 30.730.037 30.730.037
Bare module cost for coal gasification plant 324.564.949

Effluent Cooler 1 293.590 293.590


flash separator 1 42.502 42.502
amine HE 1 390.656 390.656
MEA Pump 1 531.282 531.282
distl. feed heater 1 162.386 162.386
Slurry Reactor 10 2.297.768 22.977.680
Amine System 1 817.537 817.537
Distilasi 1 667.244 667.244
Bare module cost for FT plant 25.882.877
Total bare module cost (CTBM) 350.447.827

Tabel 4. 17. Hasil Perhitungan Total Capital Investment (TCI)


CTBM $ 350.447.827
Csite $ 52.567.174
C building $ 70.089.565
C offsite $ 17.522.391
Contingency $ 52.567.174
Contractor fee $ 10.513.434
CWc $ 52.567.174
TCI $ 606.274.741

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
41

Dari Tabel 4.17 terlihat bahwa TCI untuk pabrik F-T adalah US$ 44 juta dan
TCI untuk pabrik gasifikasi adalah US$ 478 juta. Komponen investasi paling
besar berasal dari pabrik gasifikasi, yaitu sekitar 91% dari TCI. Hal ini cukup
sesuai dengan literatur bahwa produksi syngas (untuk CTL) memiliki komposisi
sekitar 80% atau lebih jika termasuk unit purifikasi didalamnya (Sasol reference
frame, 2003).
4.7.2 Biaya Operasional Tahunan
Biaya operasional tahunan dibagi menjadi dua jenis, fixed dan variable cost,
biaya ini akan dikeluarkan selama pabrik beroperasi. Beberapa asumsi digunakan
untuk menghitung biaya operasional pabrik, yaitu :
· Umur pabrik adalah 20 tahun.
· Dalam 1 tahun, pabrik beroperasi selama 300 hari, 24 jam.
Biaya operasional dihitung dengan perincian sebagai berikut.
[Link] Biaya Bahan Baku dan Utilitas
Pada Tabel 4.18, disajikan biaya bahan baku dan biaya utilitas.
Tabel 4. 18. Biaya Bahan Baku dan Utilitas.
Bahan Baku & Harga per satuan
Kebutuhan Harga per tahun
Utilitas unit
Batubara 3.991.680 ton/tahun $ 90 / ton $ 359.251.200
Air 17.352.335 ton/tahun $ 1 / ton $ 17.352.335
Oksigen [Link] m3/tahun $ 0.178 / m3 $ 225,904,861
Amine 9.846 ton/tahun $1.780 / ton $ 15.308.000
Utilitas Listrik 11.948.735 kW/tahun Rp735 / kW $ 975.549
Total Biaya Bahan Baku dan Utilitas $ 647.001.124

Total biaya bahan baku dan utilitas adalah sebesar $ 647.001.124


[Link] Biaya Tenaga Kerja Langsung
Biaya tenaga kerja langsung merupakan upah karyawan yang secara tetap
dikeluarkan per bulan yang terdiri dari :
a. Operator dengan kualifikasi minimal lulusan D3 dan bertugas untuk
mengontrol proses produksi yang berlangsung di pabrik. Tiap operator
memiliki jam kerja 8 jam sehari, 21 hari dalam sebulan dengan sistem shift.
b. Teknisi dengan kualifikasi minimal lulusan STM dan bertugas untuk
mengawasi dan mengupayakan kerja alat yang optimal. Tiap teknisi
memiliki jam kerja 8 jam sehari, 21 hari dalam sebulandengan sistem shift.

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
42

c. Supervisor dengan kualifikasi minimal lulusan S1 dan bertugas untuk


mengawasi buruh, operator, dan teknisi lapangan. Tiap supervisor memiliki
jam kerja 8 jam sehari, 21 hari dalam sebulan dengan sistem shift.
Upah yang diberikan kepada tenaga kerja setidaknya lebih besar dari batas
upah minimum propinsi (UMRP) Kalimantan Timur. Nilai UMP tersebut pada
tahun 2012 sebesar Rp 1.131.000,00.
Biaya tenaga kerja langsung terbagi atas biaya fixed dan variabel. Biaya
fixed adalah biaya yang nilainya tetap sepanjang tahun, telah memiliki patokan
harga yang tetap untuk setiap detil penjelasan biaya tenaga kerja yang terlibat.
Untuk operator, teknisi dan supervisor jumlah yang tertera dibawah ini telah
memperhitungkan waktu shift. Perinciannya diberikan pada Tabel 4.19 sebagai
berikut.

Tabel 4. 19. Perincian Upah Tenaga Kerja Langsung


Upah per Upah per
Kualifikasi Jumlah Total Biaya/Tahun
Orang/Bulan Orang/Tahun
Operator proses kontrol 12 Rp 2.500.000,00 Rp 30.000.000,00 Rp 360.000.000,00
Operator lapangan 8 Rp 3.000.000,00 Rp 36.000.000,00 Rp 288.000.000,00
Teknisi perawatan 12 Rp 2.500.000,00 Rp 30.000.000,00 Rp 360.000.000,00
Supervisor 4 Rp 3.000.000,00 Rp 36.000.000,00 Rp 144.000.000,00
Total Rp [Link],00

Biaya tenaga kerja langsung variabel adalah biaya tambahan yang diberikan
perusahaan kepada para pekerja sebagai bonus misalnya tunjangan khusus hari
raya maupun tahunan, biaya lembur, dsb. Biaya variabel ini adalah kurang lebih
20% dari upah pekerja selama setahun. Total variable cost untuk biaya tenaga
kerja langsung adalah 20% x Rp [Link],00 = 230.400.000,00. Maka, total
biaya tenaga kerja langung diberikan pada Tabel 4.20 sebagai berikut :

Tabel 4. 20 Total Biaya Tenaga Kerja Langsung

Biaya Tenaga Kerja Langsung Biaya


Fixed cost Rp. 1,152,000,000.00
Variable cost Rp 230.400.000,00
Total Rp. [Link],00

Jadi, total biaya tenaga kerja langsung adalah sebesar Rp [Link],00


atau sekitar $ 153.600,00

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
43

[Link] Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung


Biaya tenaga kerja tidak langsung terdiri atas biaya fixed dan variable.
Perincian biaya kerja tidak langsung dapat dilihat pada Tabel 4.21.

Tabel 4. 21. Perincian Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung

Kualifikasi Jumlah Upah per orang/bulan Upah per orang/tahun Total Biaya/tahun
Pimpinan Perusahaan
Presiden Direktur 1 30.000.000 360.000.000 360.000.000
Wakil Presiden Direktur 1 25.000.000 300.000.000 300.000.000
Departemen Produksi
Kepala Departemen 1 10.000.000 120.000.000 120.000.000
Kepala divisi logistik 1 10.000.000 120.000.000 120.000.000
Kepala divisi perawatan 1 10.000.000 120.000.000 120.000.000
Kepala divisi K3 1 10.000.000 120.000.000 120.000.000
Professional Engineer
Electrical engineer 4 6.000.000 72.000.000 288.000.000
Process engineer 3 6.000.000 72.000.000 216.000.000
Corrosion engineer 2 6.000.000 72.000.000 144.000.000
Facilities engineer 2 6.000.000 72.000.000 144.000.000
Safety engineer 2 6.000.000 72.000.000 144.000.000
Divisi Litbang
Kepala litbang 1 5.500.000 66.000.000 66.000.000
Kepala Lab 1 5.500.000 66.000.000 66.000.000
HRD - 7.000.000 84.000.000 84.000.000
Departemen Keuangan - 7.000.000 84.000.000 84.000.000
Humas - 5.500.000 66.000.000 66.000.000
Pemasaran - 5.500.000 66.000.000 66.000.000
Total [Link]

Jadi total biaya tenaga kerja tidak langsung adalah sekitar $ 278.666.
[Link] Biaya Perawatan
Biaya perawatan perlu dianggarkan untuk menjaga proses yang kontinu di
pabrik. Biaya ini meliputi biaya pekerja untuk perawatan dan material yang
diperlukan untuk perawatan pabrik. Sebagai estimasi awal, biaya perawatan
tahunan kurang lebih sekitar 10% dari fixed capital cost (Sinnot, 2005). Biaya
maintenance sebesar 10 % dari total bare module cost $ 35.044.782.

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
44

[Link] Biaya Asuransi


Biaya asuransi dari buku Seider sebesar 1 % dari total bare module cost,
sehingga biaya asuransi sekitar $ 3.504.478,2.

[Link] Total Production Cost


Total Production Cost merupakan penjumlahan dari = Biaya Bahan Baku
Total + Biaya Tenaga Kerja Langsung + Biaya Tenaga Kerja Tak Langsung +
Biaya Asuransi + Biaya Perawatan :
$ 647.001.124 + $ 153.600 + $ 278.666 + $ 3.504.478 + $ 35.044.782 =
$685.982.652 per tahunnya.
4.7.3 Perhitungan Laba Rugi
Penerimaan per tahun dari pabrik pengolahan air minum dapat dirinci pada
Tabel 4.22 sebagai berikut untuk basis perhitungan satu tahun.

Tabel 4. 22. Perincian Pendapatan


Produk Kapasitas Harga per satuan Unit Harga per tahun
Nafta 173.433 ton/tahun $ 879 / ton $ 152.447.607
Distillate 4.431.518 barrel/tahun $ 92 / barrel $ 407.699.688
Wax 402.307 ton/tahun $ 900 / ton $ 362.076.480
Total $ 922.223.563

Total pendapatan adalah $ 922.223.563, maka nilai laba rugi dapat dihitung.
Laba rugi merupakan selisih antara pendapatan dengan total operasional cost.
Karena nilai pendapatan lebih besar, maka pabrik ini memperoleh laba sebesar :
$ 236,24 juta per tahun.

4.7.4 Peminjaman Modal


Dalam membangun sebuah pabrik, faktor paling utama yang akan ditinjau
adalah apakah pabrik tersebut menguntungkan atau tidak. Untuk itu pabrik harus
dinilai peminjaman modalnya. Dalam perhitungan cash flow dapat dilihat bahwa
total capital investment yang harus dikeluarkan adalah $ 606,28 juta. Pemilik
dapat saja menanamkan modal keseluruhan, namun itu akan sangat beresiko
apabila terjadi sesuatu saat pabrik masih dalam masa aktifnya.

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
45

Untuk mengurangi resiko, maka kita dapat meminjam modal dari bank.
Suku bunga pinjaman dari bank sekitar 11%. Peminjaman modal yang diberikan
oleh bank untuk biasanya sekitar 65-70% dari TCI. Untuk desain pabrik ini akan
dipakai 70% pinjaman modal dari bank dan 30% dari investor. Besar Bunga
peminjaman dari investor adalah sekitar 5%.
Tabel 4.23 dan 4.24 menunjukkan skenario peminjaman dan pengembalian
terhadap masing-masing komposisi modal yang dipinjam.

Tabel 4. 23. Skenario peminjaman modal kepada bank.


($ 1.000.000)
Hutang yang
Tahun Total hutang Interest Hutang + Bunga Sisa Hutang
dibayar
0 424,39 - - - -
1 399,01 46,68 471,08 72,06 399,01
2 370,84 43,89 442,90 72,06 370,84
3 339,57 40,79 411,63 72,06 339,57
4 304,86 37,35 376,93 72,06 304,86
5 266,34 33,53 338,40 72,06 266,34
6 223,57 29,30 295,63 72,06 223,57
7 176,10 24,59 248,16 72,06 176,10
8 123,41 19,37 195,47 72,06 123,41
9 64,92 13,57 136,98 72,06 64,92
10 0,00 7,14 72,06 72,06 0,00

Tabel 4. 24. Skenario peminjaman modal kepada investor.


($ 1.000.000)
Hutang yang
Tahun Total hutang Interest Hutang + Bunga Sisa Hutang
dibayar
0 181,88 - - - -
1 167,42 9,09 190,98 23,55 167,42
2 152,24 8,37 175,79 23,55 152,24
3 136,30 7,61 159,85 23,55 136,30
4 119,56 6,81 143,11 23,55 119,56
5 101,98 5,98 125,53 23,55 101,98
6 83,52 5,10 107,08 23,55 83,52
7 64,15 4,18 87,70 23,55 64,15
8 43,80 3,21 67,35 23,55 43,80
9 22,43 2,19 45,99 23,55 22,43
10 0,00 1,12 23,55 23,55 0,00

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
46

4.7.5 Cash Flow


Cash flow dapat menunjukkan fluktuasi laba yang diperoleh sepanjang umur
pabrik melalui perndapatan bersih. Cara perhitungan adalah dengan
mengurangkan aliran kas masuk dengan aliran kas keluar. Perhitungan aliran kas
masuk melibatkan pendapatan sebelum dipotong pajak, depresiasi, dan nilai
pendapatan setelah dipotong pajak yang disebut after tax cash flow (ATCF).
Pendapatan pada pabrik ini adalah pendapatan dari tiga produk yang dihasilkan
yaitu nafta, wax dan distilat yang ada rinciannya dapat dilihat pada Tabel 4.22.
Tabel 4.25 menunjukkan perhitungan cash flow, dan Gambar 4.8 merupakan
grafik cash flow dari pabrik ini selama umur pabrik.
400

200

0
2016

2025

2034
2013
2014
2015

2017
2018
2019
2020
2021
2022
2023
2024

2026
2027
2028
2029
2030
2031
2032
2033
juta US $

-200

-400

-600

-800
Tahun

Gambar 4. 8. Perubahan Cash Flow terhadap waktu

3500
3000
2500
2000
1500
Juta US $

1000
500
0
-5002010 2015 2020 2025 2030 2035 2040
-1000
-1500
Tahun

Gambar 4. 9. Perubahan ATCF kumulatif terhadap waktu

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
47

Tabel 4. 25. Perincian cash flow

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
48

Dari Gambar 4.8 terlihat bahwa cash flow bernilai negatif atau dengan kata
lain mengalami kerugian. Hal itu sangat wajar mengingat dua tahun pertama
merupakan masa pembangunan pabrik, sehingga hanya terdapat pengeluaran
berupa investasi pendirian pabrik. Sedangkan pada tahun ketiga merupakan
pertama kalinya pabrik beroperasi, sehingga terdapat pengeluaran sebesar biaya
operasional. Pabrik baru mendapat pemasukan pada akhir tahun ketiga dan
menjadi pendapatan (gross income) pada awal tahun berikutnya, yaitu tahun
keempat, sehingga kolom gross income baru terisi pada tahun keempat dan
seterusnya secara stabil.

4.7.6 Analisis Kelayakan Investasi


[Link] Net Present Value
Untuk mengetahui apakah pabrik ini memberikan keuntungan atau tidak
dapat dilihat nilai NPV-nya. Dengan menggunakan prinsip time value of money,
dengan MARR sebesar 11%, nilai NPV dari pabrik sesuai dengan cash flownya
dapat diketahui. Nilai NPV pabrik ini ditunjukan pada Tabel 4.26.

Tabel 4. 26. Perhitungan NPV Pabrik GBFT terintegrasi


Tahun ATCF ($1.000.000) PW ($1.000.000)
0 (606,27) (606,27)
1 (685,98) (618,00)
2 227,19 184,39
3 227,06 166,02
4 226,91 149,47
5 226,74 134,56
6 226,56 121,13
7 226,36 109,03
8 226,13 98,12
9 225,88 88,30
10 225,60 79,45
11 225,30 71,48
12 225,30 64,40
13 225,30 58,02
14 225,30 52,27
15 225,30 47,09
16 225,30 42,42
17 225,09 38,18
18 225,09 34,40
19 225,09 30,99
20 225,09 27,92
NPV 373,37

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
49

Dari Tabel 4.26 didapatkan nilai NPV sekitar $ 373,37 juta. Nilai NPV
positif ini menunjukkan bahwa pabrik ini cukup layak untuk dijalankan.

[Link] IRR (interest rate of return)


Nilai IRR juga dapat menggambarkan besar keuntungan pabrik. Nilai IRR
yang diharapkan adalah lebih besar daripada bunga yang diberikan oleh bank,
IRR pada pabrik ini didapatkan sebesar 15,24%.
Tingkat IRR adalah bunga yang didapatkan ketika ber-investasi di pabrik
yang dimiliki. Berbeda dengan IRR, MARR merupakan tingkat bunga yang
didapatkan ketika meng-investasikan uang di bank (Degarmo, 1997). Dalam teori,
MARR, yang sering disebut sebagai tingkat tarif haruslah dipilih untuk
memaksimumkan kesejahteraan ekonomi suatu organisasi. Dengan berubahnya
jumlah modal yang dapat diinvestasikan serta kesempatan-kesempatan yang
tersedia sejalan dengan perubahan waktu, MARR juga akan berubah.
Berdasarkan pengertiannya, bila nilai IRR lebih besar daripada MARR,
maka pilihan untuk ber-investasi di pabrik lebih dipilih daripada di bank. Pada
analisis profitabilitas, suatu pabrik dikatakan memperoleh keuntungan bila nilai
IRR lebih besar daripada nilai MARR. Berdasarkan perhitungan, didapatkan nilai
IRR sebesar 15,24%. Nilai ini (IRR) lebih besar daripada nilai MARR sebesar
4,24%. Hal ini sesuai dengan harapan bahwa jika nilai IRR > MARR, maka
alternative / rencana tersebut dapat diterima (Timmerhaus, 1990), walaupun
selisihnya hanya sedikit terhadap MARR. Karena nilai IRR lebih besar daripada
MARR pada perhitungan keekonomian pabrik GBFT ini, maka investasi dapat
dilakukan pada pabrik ini untuk mendapatkan keuntungan (profit).

[Link] Payback Period


Payback period adalah waktu yang diperlukan untuk mencapai Net Present
Value bernilai 0. Untuk mendapatkan payback period ini dihitung dengan mencari
nilai NPV setiap tahunnya, seperti tertera pada Tabel 4.27.

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
50

Tabel 4. 27. Perhitungan payback period


dalam juta dollar
tahun
ATCF PW NPV
0 (825,70) (825,70) (825,70)
1 (656,42) (591,37) (1.417,07)
2 253,62 205,85 (1.211,22)
3 253,49 185,35 (1.025,87)
4 253,34 166,88 (858,99)
5 253,18 150,25 (708,74)
6 252,99 135,26 (573,48)
7 252,79 121,76 (451,72)
8 252,57 109,59 (342,12)
9 252,32 98,64 (243,49)
10 252,04 88,76 (154,73)
11 251,73 79,87 (74,86)
12 251,73 71,95 (2,90)
13 251,73 64,82 61,92
14 251,73 58,40 120,32
15 251,73 52,61 172,94
16 251,73 47,40 220,33
17 251,53 42,67 263,00
18 251,53 38,44 301,44
19 251,53 34,63 336,07
20 251,53 31,20 367,27

Dari Tabel 4.27 terlihat bahwa payback periode terjadi pada tahun antara 12
– 13, artinya payback periodenya membutuhkan waktu sekitar 12 tahun lebih.
Dengan umur manfaat pabrik selama 20 tahun, maka pabrik akan mendapatkan
untung bersih, yaitu setelah pengembalian modal, selama 8 tahun.

[Link] Break Event Point (BEP)


Break Event Point adalah titik di saat pengeluaran akan sama dengan
pemasukan pabrik. Dihitung dengan melihat direct production cost dan indirect
production cost dan income penjualannya. BEP dapat dilihat pada data ATCF
kumulatif ketika bernilai nol, seperti tertera pada Tabel 4.28.

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
51

Tabel 4. 28. Perhitungan BEP


tahun ATCF Kumulatif (juta dollar)
0 (606,27)
1 (1.292,26)
2 (1.065,07)
3 (838,01)
4 (611,10)
5 (384,36)
6 (157,80)
7 68,55
8 294,69
9 520,57
10 746,17
11 971,47
12 1.196,76
13 1.422,06
14 1.647,35
15 1.872,65
16 2.097,94
17 2.323,03
18 2.548,12
19 2.773,21
20 2.998,30

Dari Tabel 4.28 dapat dilihat bahwa BEP tercapai pada tahun ke 6 sampai 7.
(4.1)

BEP dicapai dalam waktu 6,7 tahun, atau pada saat kapasitas 9.010 m3.
4.7.7 Analisis Sensitivitas
Pada analisis keekonomian ini akan dilihat seberapa sensitif pengaruh harga
bahan baku, dan harga jual produk terhadap pabrik GBFT ini.
[Link] Pengaruh harga bahan baku
Harga bahan baku pabrik ini yang paling dominan adalah batubara.
Sehingga yang akan dilihat adalah sensitivitas harga produk akibat perubahan
harga batubara. Perubahan harga batubara perlu dianalisis berdasarkan harga
market dari tahun-tahun sebelumnya. Dengan data tersebut dapat terlihat seberapa
besar fluktuasi harga bahan baku yang masih mungkin terjadi selama pabrik
beroperasi.

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
52

Dalam analisis ini akan dilakukan dilihat pengaruh fluktuasi harga bahan
baku utama hingga 40%, terhadap harga produk.

Tabel 4. 29. Sensitivitas NPV dan IRR terhadap harga batubara


Kenaikan IRR (%) NPV ($ 1.000.000)
0 15,24 373,37
10% 12,14 98,98
20% - -174,58
30% - -447,97
40% - -721,37

400.00

200.00

0.00
0.00 0.10 0.20 0.30 0.40 0.50
NPV

-200.00

-400.00

-600.00

-800.00
Kenaikan Batubara

Gambar 4. 10. Pengaruh Kenaikan Harga Batubara terhadap NPV

Berdasarkan hasil tersebut, pada kenaikan harga batubara 10% sudah terjadi
penurunan NPV yang cukup besar. Dan untuk kenaikan 20% keatas, nilai NPV
sudah bernilai negatif, artinya sudah tidak layak untuk diinvestasikan. Pada
kenaikan 10% pun IRR turun cukup signifikan. Selisih nilai IRR dengan MARR
sangat kecil, yaitu sekitar 0,93%. Oleh karena itu, jika tidak ada perubahan pada
pendapatan maka kenaikan harga bahan baku batubara harus kurang dari 10% jika
ingin pabrik ini tetap layak untuk diinvestasikan.

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
53

[Link] Pengaruh harga jual produk utama


Sama seperti pengaruh harga bahan baku, sensitivitas terhadap harga jual
produk terutama distilat juga perlu dipertimbangkan. Pada Gambar 4.11 terlihat
perubahan harga jual produk terhadap perubahan IRR.
Dalam analisis ini akan dilakukan dilihat pengaruh fluktuasi harga jual
produk hingga 40%.

Tabel 4. 30. Sensitivitas NPV dan IRR terhadap harga jual produk
Kenaikan IRR (%) NPV ($ 1.000.000)
0 14.58 250,01
10% 17,06 640,81
20% 19,42 914,34
30% 21,68 1.187,88
40% 23,88 1.461,42

Dari Tabel 4.30 terlihat bahwa nilai NPV dan IRR sangat sensitif terhadap
harga bahan baku utama (distilat). Setiap kenaikan 10% harga bahan baku,
diperoleh rata-rata kenaikan NPV sekitar 1,63 kali dari NPV awal. Setiap
kenaikan harga produk juga akan meningkatkan nilai IRR secara linear, sehingga
dengan nilai MARR yang tetap, selisih IRR dengan MARR akan semakin besar,
yang membuat investasi terhadap pabrik ini akan semakin menguntungkan.
Berdasarkan analisis ini dapat ditarik kesimpulan bahwa investasi pabrik ini
sangat sensitif terhadap harga jual produk utama.
30

25

20
IRR

15

10

0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5
Kenaikan Harga Produk

Gambar 4. 11. Pengaruh Kenaikan Harga Jual Distilat terhadap IRR

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
54

1600
1400

1200

1000
NPV

800

600

400

200

0
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5
Kenaikan Harga Distilat

Gambar 4. 12. Pengaruh Kenaikan Harga Jual Distilat terhadap NPV

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
BAB 5
KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan hasil perancangan pabrik bahan bakar sintetik


melalui sintesis Fischer - Tropsch berbahan baku gas sintesis dari gasifikasi
batubara yang telah dilakukan, diperoleh kesimpulan dan saran sebagai berikut.
5.1 Kesimpulan
1. Kapasitas produksi gas sintesis (syngas) sebesar 16.111 ton/hari. Dengan
syngas tersebut, dihasilkan bahan bakar sintetik melalui proses Fischer-
Tropsch, dengan kapasitas total 37.689 barrel/hari. Kapasitas produksi
untuk distilat sendiri sebesar 13.428 barrel/hari.
2. Dari perhitungan neraca massa dan energi, diperoleh laju kebutuhan
batubara sebesar 13.378 ton/hari. Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi
karena produksi batubara di Kalimantan Timur sebesar 254 ribu ton/hari.
3. Lokasi yang tepat untuk pabrik ini adalah di daerah Kalimantan Timur
dengan mempertimbangkan aspek teknis berupa ketersediaan bahan
baku batubara yang mencapai 4 miliar ton, dengan produksi batubara
sebesar 254ribu ton/hari.
4. Dari perhitungan ekonomi didapatkan TCI untuk pembangunan pabrik
GBFT ini sekitar $ 606 juta (Rp 5,4 triliun), NPV sebesar $ 373,37 juta
(Rp 3,3 triliun), IRR sebesar 15,24%, dan payback periode selama
kurang lebih 12 tahun.
5. Berdasarkan studi yang telah dilakukan, maka pabrik gasifikasi batubara
dan Fischer - Tropsch terintegrasi ini layak untuk diimplementasikan.

5.2 Saran
1. Untuk memperkecil penggunaan energi, maka perlu dilakukan Heat
Exchanger Network (HEN), sehingga menurunkan biaya operasional.
2. Perlu dilakukan analisis safety terhadap pekerja dan juga lingkungan
agar pabrik layak dan aman untuk beroperasi.

55 Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
56

DAFTAR REFERENSI

Bertocini, F., dkk. (2009). Unraveling Molecular Composition of Products from


Cobalt Catalysed Fischer - Tropsch Reaction by Comprehensive Gas
Chromatography. Oil & Gas Science and Technology, vol 64, no. 1, 79 -
90.

Erik, Lars Oi. (2007). Aspen HYSYS Simulation of CO2 Removal by Amine
Absorption from a Gas Based Power Plant. Norway : Telemark University
College. 73 - 81.

Fogler, H. Scott. (2006). Elements of Chemical Reaction Engineering, United


States of America : Prentice Hall.

Fox, J. M. dkk. (1990). The Slurry Phase Fischer-Tropsch Reactor. Pittsburgh :


Bechtel Group, Inc., no. 20586, 317 - 342.

Gribik, Anastasia, dkk. (2008). Kinetic Modelling of a Fischer – Tropsch


Reaction Over a Cobalt Catalyst in a Slurry Bubble Column Reactor for
Incorporation into a Computational Multiphase Dynamics Model. US
Department of Energy National Laboratory.

H. Davis, Burtron. (2007). Fischer – Tropsch Synthesis : Comparisons of


Performance of Iron and Cobalt Catalyst. Ind. Eng. Chem. Res, no. 46,
8938 – 8945.

Iglesia, E., dkk. (1992). Selective Fixed-Bed Fischer-Tropsch Synthesis with High
Surface Area Cu and K Promoted Iron / Manganese Spinels. U.S. Patent
5118715.

Gerard, P. van der Laan, Antonie A. C. M. Beenackers. (1999). Kinetics and


Selectivity of the Fischer-Tropsch synthesis: a Literature Review,
Catalysis Reviews, vol. 41, no. 3-4, pp. 255–318.

Kent, R.L., Eisenberg, B. (1976). Better Data for Amine Treating, Hydrocarbon
Processing. vol 55, no.2, 87-90.

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
57

Perry, Robert H. and Don W. Green. (2007). Perry’s Chemical Engineer’s


Handbook, 6th Edition. New York : McGraw-Hill.

Sinnot, R.K & Towler, Gavin. (2005). Chemical Engineering Design, Elsevier.
United State of America.

Tristantini, Dewi. (2006). Fischer-Tropsch Synthesis from Bio-Syngas Models


Over Cobalt and Cobalt-Iron Alumina Supported Catalysts. Sweden :
Chalmers University of Technology.

Walas, Stanley. (1990). Chemical Process Equipment : Selection and Design,


McGraw-Hill, North America

Yates, Ian C. and Charles N. Satterfield. (1991). Intrinsic Kinetics of the Fischer-
Tropsch Synthesis on a Cobalt Catalyst, Energy & Fuels, Vol. 5, 168-173.

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
58

LAMPIRAN

LAMPIRAN A - SPESIFIKASI PERALATAN


Tag Number E-101
Tipe Shell and Tube Heat Exchanger
Menukarkan panas aliran panas top product aliran dingin
Fungsi
cooling water.
Kondisi operasi
Unit Data Shell Side Tube Side
Fluid Gas Liquid
in out in out
Mass Flow (kg/s) 150,17 150,17 170,97 170,97
Temperatur (K) 523 353 303 373
Material SA -316 SA -316
Pressure drop (kPa) 5.313 963
Spesifikasi Heat Exchanger
Jenis aliran Counter Current
Heat transferred (kJ/s) 51618,29 Heat transfer area (m2) 1890
Tube
D out Tube (m) 0,05 panjang tube (m) 6
D in Tube (m) 0,045 jumlah tube 2509
Shell
D shell (m) 2,94

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
59

LAMPIRAN A - SPESIFIKASI PERALATAN (lanjutan 1)

Tag Number E-201


Tipe Shell and Tube Heat Exchanger
Menukarkan panas aliran dingin Rich MEA dengan aliran
Fungsi
dingin Lean MEA.
Kondisi operasi
Unit Data Shell Side Tube Side
Fluid Liquid Liquid
in out in out
Mass Flow (kg/s) 492,56 492,56 360,83 360,83
Temperatur (K) 393 383 363 377
Material SA -316 SA -316
Pressure drop (kPa) 5.313 963
Spesifikasi Heat Exchanger
Jenis aliran Counter Current
Heat transferred (kJ/s) 19761 Heat transfer area (m2) 3731
Tube
D out Tube (m) 0,05 panjang tube (m) 7
D in Tube (m) 0,045 jumlah tube 4244
Shell
D shell (m) 3,82

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
60

LAMPIRAN A - SPESIFIKASI PERALATAN (lanjutan 2)

Tag Number E-301


Tipe Shell and Tube Heat Exchanger
Menukarkan panas aliran dingin feed distilat dengan aliran
Fungsi
panas steam.
Kondisi operasi
Unit Data Shell Side Tube Side
Fluid Liquid Liquid
in out in out
Mass Flow (kg/s) 177,54 177,54 36,31 36,31
Temperatur (K) 673 643 523 623
Material SA -316 SA -316
Pressure drop (kPa) 5.313 963
Spesifikasi Heat Exchanger
Jenis aliran Counter Current
Heat transferred (kJ/s) 11073 Heat transfer area (m2) 461,63
Tube
D out Tube (m) 0,05 panjang tube (m) 4
D in Tube (m) 0,045 jumlah tube 919
Shell
D shell (m) 1,78

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
61

LAMPIRAN B - MENENTUKAN VOLUME REAKTOR


Beberapa tahap dalam menentukan volume reaktor slurry :
· Menentukan data kinetik reaksi
Data kinetik reaksi diperoleh dari jurnal Kinetic Modelling of a Fischer –
Tropsch Reaction Over a Cobalt Catalyst in a Slurry Bubble Column
Reactor for Incorporation into a Computational Multiphase Dynamics
Model (Gribik, 2008)

dengan a adalah konstanta kinetik dan b adalah koefisien adsorpsi.

[ ( )]

[ ( )]

Dengan memasukkan nilai T, yaitu suhu kondisi operasi reaktor slurry,


pada persamaan di atas, maka dapat diperoleh nilai a dan b, kemudian
diperoleh pula nilai -RCO.
· Menggunakan data kinetik untuk menentukan volume reaktor
Dengan asumsi setiap reaktan tercampur sempurna dalam reaktor slurry,
maka persamaan desain CSTR dapat digunakan. (Fogler, 2008)

Dengan memasukkan besarnya laju alir molar (FAO) dan menentukan


besarnya konversi yang diharapkan (X), serta memasukkan nilai -RCO,
maka volume reaktor dapat diketahui.

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012
62

LAMPIRAN C - CONTOH SIMULASI HYSYS


Berikut ini adalah contoh simulasi yang dilakukan dengan HYSYS untuk CO2 Removal Unit.

Universitas Indonesia
Perancangan pabrik..., Bagas Triyatmojo, FTUI, 2012

Anda mungkin juga menyukai