0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan9 halaman

Arsitektur Kontekstual di YIA 2024

Dokumen ini membahas penerapan pendekatan arsitektur kontekstual pada Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) untuk mencerminkan karakter dan budaya daerah. Penelitian ini mengidentifikasi prinsip-prinsip arsitektur kontekstual yang diterapkan di YIA, seperti permeability, variety, dan legibility, serta menggunakan metodologi kualitatif untuk menganalisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa YIA telah menerapkan sebagian besar prinsip arsitektur kontekstual dalam desainnya.

Diunggah oleh

Farid Syaichoni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan9 halaman

Arsitektur Kontekstual di YIA 2024

Dokumen ini membahas penerapan pendekatan arsitektur kontekstual pada Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) untuk mencerminkan karakter dan budaya daerah. Penelitian ini mengidentifikasi prinsip-prinsip arsitektur kontekstual yang diterapkan di YIA, seperti permeability, variety, dan legibility, serta menggunakan metodologi kualitatif untuk menganalisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa YIA telah menerapkan sebagian besar prinsip arsitektur kontekstual dalam desainnya.

Diunggah oleh

Farid Syaichoni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ISSN: 1411-8912

[Link]

PENERAPAN PENDEKATAN ARSITEKTUR KONTEKSTUAL PADA BANDARA


YOGYAKARTA INTERNATIONAL AIRPORT, KULON PROGO
Hafiid Dirham Gurindam ABSTRAK
Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) memiliki peran
Universitas Muhammadiyah Surakarta penting sebagai pintu gerbang suatu daerah dan simbolis daerah
hafiidirham@[Link] tersebut. Sebagai bandara internasional, YIA menjadi tempat
pertukaran dan pertemuan bagi individiu dari berbagai negara.
Suharyani
Desain bandara memiliki peran signifikan dalam mencerminkan
Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik
Universitas Muhammadiyah Surakarta karakter dan budaya wilayahnya. Pendekatan arsitektur kontekstual
suh892@[Link] menjadi fokus penelitian untuk memahami bagaimana prinsip-
prinsipnya diterapkan pada YIA. Penelitian ini mengidentifikasi
prinsip-prinsip arsitektur kontekstual yang diterapkan pada YIA,
termasuk permeability, variety, legibility, robustness, visual
appropriateness, richness, dan personalization. Metodologi penelitian
menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data
sekunder dan primer, serta analisis data deskriptif. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa YIA telah menerapkan sebagian besar prinsip
arsitektur kontesktual.
KEYWORDS:
arsitektur kontekstual; budaya; bandara

PENDAHULUAN Ada banyak pendekatan arsitektur yang


Bandara tidak hanya berfungsi sebagai mempertimbangkan faktor sosial dan budaya,
pintu gerbang ke suatu negara dan wilayah, namun dalam kasus bandara internasional,
namun juga merupakan bangunan ikonik di kami memperhatikan lokasi dan iklim bandara
wilayah tersebut, yang memberikan kesan dan yang akan dibangun, serta mencerminkan
pengalaman pertama dan terakhir kepada faktor sosial, budaya, dan kemasyarakatan.
pengunjung (Shafiq, 2018). Dengan demikian, Perlu mempertimbangkan pendekatan iklim
gedung bandara menjadi bangunan penting di dan mempertimbangkan arsitektur yang
kawasan, terutama di bandara internasional spesifik konteks.
tempat orang-orang dari seluruh dunia datang Pendekatan Arsitektur Kontekstual telah
dan pergi. Bandara adalah tempat interaksi dan banyak diterapkan pada berbagai proyek
pertemuan di mana orang-orang dari budaya pengembangan bandara di seluruh dunia,
berbeda berkumpul(Caver, 2020). Bandara antara lain Bandara Changi Singapura, Bandara
internasional memainkan peran sosial dan Soekarno-Hatta Jakarta, dan Bandara
budaya yang penting sehingga perhatian dan Internasional Ngurah Rai Bali. Dengan
konteks yang besar harus diberikan pada menerapkan konsep ini, dimungkinkan untuk
desain bangunan. menciptakan bandara unik yang akan menjadi
Desain bandara dapat mencerminkan simbol baru suatu kota atau wilayah.
karakteristik dan budaya unik dari wilayah yang Dalam arsitektur secara umum, arsitektur
dilayaninya. Hal ini dapat dicapai melalui kontekstual mengacu pada kesinambungan
pemanfaatan elemen arsitektur, program seni dan hubungan antara suatu bangunan dengan
dan budaya (Shafiq, 2018). Budaya biasanya lingkungannya. Kata “konteks” berasal dari
digambarkan sebagai seperangkat nilai, sikap, kata Latin textus yang berarti “substansi”,
dan keyakinan bersama yang mendefinisikan textere yang berarti “menjahit bersama-
sekelompok orang manusia, dimana perilaku sama”, dan con yang berarti “dengan”.
bergantung pada kapasitas proses simbolik Contextus adalah kata Latin yang berarti “kain
(Thirsk, 2014). yang dijahit (bahan gabungan)”(Widati, 2015).

482 | SIAR V 2024 : SEMINAR ILMIAH ARSITEKTUR


Hafiid Dirham Gurindam, Suharyani

Begitu juga dengan Bandara International industrialisasi, dan kurang memperhatikan


Yogyakarta Airport yang dimana berfungsi bangunan tua di sekitarnya.
sebagai bandara International. Sebagai Dalam dunia desain arsitektural, konsep
bandara terbesar di Indonesia Bandara dan pendekatan khusus diterapkan untuk
International Yogyakarta Airport juga turut menciptakan desain yang sesuai dengan
serta dalam pelestarian budaya, berlangsung kebutuhan spesifik dan memiliki ciri khas unik
aktivitas sosial, dan juga miliki tujuan yang yang membedakan desain antara arsitek,
berkelanjutan di masa mendatang. lokasi, atau gaya arsitektur tertentu (Baskoro &
Hantono, 2023). Tujuan utama arsitektur
PERMASALAHAN DAN TUJUAN kontekstual adalah menciptakan struktur
Rumusan Masalah bangunan yang tidak hanya dapat berdiri
Berdasarkan pada pemikiran latar sendiri, tetapi juga berkontribusi positif
belakang dan fenomena di atas, terdapat terhadap lingkungan sekitarnya (Alhamdi
rumusan masalah yang akan dibahas sebagai dalam Widati, 2015).
berikut. Menurut Wolford (2004), dalam konteks
1. Bagaimana penerapan pendekatan arsitektur, "konteks" merujuk pada
arsitektur kontekstual pada Yogyakarta kesinambungan dan hubungan antara
International Airport (YIA) ? bangunan dan lingkungannya. Asal kata
"konteks" berasal dari bahasa Latin textus,
2. Apakah Yogyakarta International Airport
yang berarti "substansi", textere yang berarti
(YIA) sudah bisa disebut menerapkan
"menjahit bersama-sama", dan con yang
arsitektur kontekstual ?
berarti "dengan". Secara harfiah, konteksus
Tujuan Penelitian
dalam bahasa Latin mengacu pada kain yang
1. Mengetahui prinsip-prinsip pendekatan dijahit bersama (Widati, 2015).
arsitektur kontekstual yang digunakan pada
bangunan Yogyakarta International Airport
Prinsip Pendekatan Arsitektur Kontekstual
(YIA).
Pada penerapan prinsip Arsitektur
2. Mengidentifikasi apakah bangunan Kontekstual di Bandara Yogyakarta
Yogyakarta International Airport (YIA) International Airport, terdapat beberapa
menerapkan atau tidak pendekatan kriteria fundamental yang dapat dijadikan
arsitektur kontekstual. sebagai acuan untuk menghubungkan
bangunan baru dengan lingkungan sekitarnya.
KAJIAN PUSTAKA Kriteria-kriteria tersebut diterapkan
Arsitektur Kontekstual berdasarkan teori yang dijelaskan oleh Ian
Brent C. Brolin, dalam karyanya Bentley (1985) dalam karyanya yang berjudul
"Architecture in Context," menyoroti Responsive Environment.
pentingnya arsitektur kontekstual, yang Teori tersebut mencakup tujuh kriteria
mencerminkan keinginan dalam desain pokok, yakni: (1) Permeability;
arsitektur untuk mengintegrasikan bangunan mempertimbangkan kemudahan akses dan
baru dengan lingkungannya. Pendapat serupa sirkulasi, (2) Variety; mengakomodasi
diungkapkan oleh Bill Raun, yang menekankan keberagaman fungsi, (3) Legibility; memastikan
bahwa arsitektur kontekstual memerlukan kemudahan identifikasi bangunan dan
keterhubungan antara bangunan dan orientasi, (4) Robustness; memperhitungkan
lingkungannya. ruang-ruang temporal, (5) Richness;
Dantrivani & Hardiyati (2021) memperhatikan kekayaan rasa (material), (6)
menambahkan bahwa keterhubungan Visual Appropriateness; keterkaitann
tersebut dapat dicapai dengan menghadirkan hubungan desain bangunan dengan lingkungan
kembali unsur lingkungan ke dalam desain alam maupun lingkungan bangunan sekitar,
bangunan baru. Konsep "kontekstual" muncul dan (7) Personalization; melibatkan partisipasi
sebagai respons terhadap arsitektur modern aktif antara komunitas dan masyarakat
yang dianggap anti-sejarah, monoton, setempat (Dantrivani & Hardiyati, 2021).

SIAR V 2024 : SEMINAR ILMIAH ARSITEKTUR | 483


Penerapan Pendekatan Arsitektur Kontekstual Pada Bandara Yogyakarta International Airport, Kulon Progo

(P1). Permeability Teori ini menekankan bahwa


Hanya lokasi yang mudah diakses lingkungan binaan (arsitektur dan elemen
yang mampu menyediakan beragam bangunan lainnya) adalah bagian yang
pilihan atau tindakan. Permeability tidak terpisahkan yang memberikan
memiliki dampak fundamental terhadap kontribusi terhadap kehidupan(Kamil,
struktur tata letak dan pengaturan ruang. 2017).
Kualitas permeabilitas dapat dinilai dari (P3). Legibility
sejauh mana variasi sirkulasi yang tersedia Untuk mengevaluasi sejauh mana
di lingkungan tersebut. kemudahan dalam pemahaman tata letak
Hal tersebut terjadi karena suatu area, dapat dilihat dari seberapa
permeability dianggap sebagai aspek kritis mudah orang dapat memahami susunan
dalam merancang lingkungan yang keseluruhannya. Salah satu pendekatan
responsif, maka faktor ini harus yang dapat digunakan untuk
dipertimbangkan sejak awal proses mempermudah pemahaman tata letak
perancangan. Desainer harus membuat adalah dengan mengadopsi teori 5
keputusan mengenai jumlah sirkulasi yang elemen kota yang dikembangkan oleh
dibutuhkan, bagaimana mereka dapat Kevin Lynch sebagai berikut (Ismailiyah et
terkoneksi satu sama lain, arah yang harus al., 2019).
diambil, dan juga cara menetapkan batas • Path atau sirkulasi,
kasar serta blok-blok yang dapat • Edge yang merujuk pada batas-batas
dikembangkan di seluruh lokasi secara wilayah seperti sungai dan pohon,
keseluruhan (Ismailiyah et al., 2019).
• District yang mencakup blok-blok
(P2). Variety
wilayah dengan fungsi serupa,
Ketersediaan tempat yang mudah
diakses menjadi tidak signifikan kecuali • Node yang menandai simpul
jika terdapat beragam fungsi yang dapat pertemuan beberapa kegiatan atau
diakses. Oleh karena itu, variabilitas aktivitas,
(terutama dalam konteks fungsi) • Landmark yang berperan sebagai
merupakan elemen kunci kedua dalam penanda penting dalam suatu
menciptakan lingkungan yang responsif. kawasan. Instalasi seni, citra etnis,
Untuk memaksimalkan variasi fungsi dan aktivitas sosial budaya yang
dalam suatu lokasi, langkah pertama bagi mencerminkan kota tersebut.
seorang perancang adalah memahami (P4). Robustness
jenis fungsi yang dibutuhkan di lokasi Menurut Ian Bentley, konsep
tersebut. Selanjutnya, perlu dipetakan robustness mengacu pada kemampuan
bagaimana sebuah bangunan dapat sistem untuk terus beroperasi secara
mengakomodasi berbagai fungsi secara efisien ketika menghadapi perubahan
kombinatif, dengan mempertimbangkan atau gangguan. Dalam konteks arsitektur,
faktor ekonomi dan fungsi. robustness dapat dijelaskan sebagai
Setelah itu, volume bangunan yang kemampuan suatu bangunan untuk tetap
telah ditentukan akan diuji untuk nyaman dan aman dihuni meskipun
memastikan kemampuannya menampung mengalami perubahan kondisi lingkungan,
berbagai fungsi dengan layak. Dengan seperti perubahan iklim, bencana alam,
demikian, desain dapat diperkembangkan atau perubahan dalam penggunaan.
lebih lanjut sesuai kebutuhan (Ismailiyah Pencapaian robustness ini melibatkan
et al., 2019). Saat ini terminologi urban pendekatan holistik yang memperhatikan
design (desain perkotaan) dan new interaksi antara bangunan, manusia, dan
urbanism (faham urbanisme baru) adalah lingkungan sekitarnya (Ismailiyah et al.,
kurang lebih sama. Kata kunci “Mixed- 2019).
use” (fungsi campuran) adalah ide kuat Manusia memerlukan lingkungan
yang diusung oleh paham ini. yang nyaman dalam melakukan aktivitas,

484 | SIAR V 2024 : SEMINAR ILMIAH ARSITEKTUR


Hafiid Dirham Gurindam, Suharyani

bangunan sebagai tempat berjalannya kekayaan tidak hanya terbatas pada aspek
aktivitas didesain sedemikian rupa harus visual, melainkan juga melibatkan indera
mencapai kenyamanan lingkungan fisik gerak, penciuman, pendengaran, dan
dengan memperhatikan kenyamanan peraba. Beberapa contoh cara untuk
(Rossa et al.,n.d.). mencapai pengalaman sensorik dari sisi
(P5). Visual Appropriate non-visual akan diuraikan (Ismailiyah et
Merujuk pada konsep dalam al., 2019).
arsitektur yang menekankan pentingnya (P7). Personalization
tampilan fisik suatu bangunan sesuai Dalam penjelasan sebelumnya, kita
dengan fungsinya dan konteks lingkungan telah mengeksplorasi berbagai cara untuk
sekitarnya. Ini melibatkan pemilihan mencapai beberapa kualitas yang
elemen desain, gaya arsitektur, dan mendukung responsivitas bangunan dan
material yang sesuai dengan karakteristik lingkungannya. Namun, hal tersebut
dan kebutuhan dari lingkungan dilakukan tanpa mempertimbangkan
sekitarnya. Dengan kata lain, suatu proses ekonomi dan pembentukan
bangunan dianggap visual tepat jika kebijakan masyarakat yang tengah
penampilannya menghormati dan berlangsung. Ini tidak berarti bahwa
berbaurdengan konteks visual sekitarnya pendekatan Responsive Environments
serta menciptakan keselarasan yang mengesampingkan atau meremehkan
memadukan bangunan dengan partisipasi publik. Meskipun demikian,
lingkungannya. terlepas dari sejauh mana tingkat
Perancang membutuhkan indikator partisipasi masyarakat, masih akan ada
yang menunjukkan keterkaitan bangunan pihak yang harus menerima keputusan
yang diamati/didesain dengan yang diambil oleh orang lain dalam
konteksnya; baik hubungan yang kelompoknya. Oleh karena itu, penting
menguatkan dengan mengikuti kondisi untuk menciptakan kondisi yang
yang ada (mirip/similar), maupun memungkinkan setiap pengguna
hubungan yang mudah terlihat dari mempersonalisasi lingkungannya.
kondisi elemen kawasan yang ada Hanya dengan cara ini setiap individu
(contrast). Manapun sikap yang dipilih dapat mencapai kepuasan dan
dari keduanya harus menghasilkan menciptakan ciri khas, jejak, dan nilai yang
hubungan yang selaras/harmonis. unik. Meskipun mencapai personalisasi
Indikator semacam ini disebut contextual yang diinginkan memerlukan usaha besar
cues (Ismailiyah et al., 2019). dan seringkali tidak berhasil, namun
(P6). Richness dalam konteks tahapan lain, personalisasi
Sejauh ini, kita telah membahas juga memiliki urgensi lain yang perlu
langkah- langkah untuk mencapai tata diwujudkan. Personalisasi dapat
letak yang efisien dan desain bangunan membantu menjelaskan pola aktivitas
secara menyeluruh. Meskipun demikian, yang ada dalam suatu masyarakat atau
terdapat aspek rinci yang belum tuntas. tempat.
Seorang perancang harus membuat Secara tidak langsung, personalisasi
keputusan tambahan untuk juga berperan penting terhadap
meningkatkan variasi pengalaman robustness dengan memperkuat ciri khas
sensorik agar menciptakan kenyamanan lingkungan, mencakup beragam kegunaan
bagi pengguna. Bagi banyak orang, yang luas dan berubah secara dinamis
penglihatan merupakan indra yang seiring waktu. Dengan memberikan
dominan, dan banyak informasi diperoleh kesempatan kepada setiap pengguna
melalui indera ini. untuk menampilkan wujud bangunan
Oleh karena itu, pembahasan kali ini yang berbeda, personalisasi dapat
akan lebih fokus pada kekayaan visual. memperjelas fungsi dan kegunaan
Namun, penting untuk dicatat bahwa bangunan (Ismailiyah et al., 2019).

SIAR V 2024 : SEMINAR ILMIAH ARSITEKTUR | 485


Penerapan Pendekatan Arsitektur Kontekstual Pada Bandara Yogyakarta International Airport, Kulon Progo

METODOLOGI PENELITIAN diantaranya Terminal Bandara, Crub, Gedung


Penelitian dilakukan dengan penghubung (Malioboro), Stasiun Bandara.
menggunakan metode penelitian kualitatif Terminal bandara adalah tempat penumpang
berdasarkan pengumpulan data sekunder dan melakukan kepengurusan perjalanan udara
premier yang [Link] merupakan seperti pembelian tiket, pengecekan/
langkah-langkah utama dari penelitian yang pemeriksaan serta tempat menunggu bagi
dilakukan, diantaranya. penumpang. Crub adalah tempat dimana
1. Metode Pengumpulan Data penumpang naik turun dari moda transportasi
Pengumpulan data dilakukan dengan untuk menuju dan meninggalkan bandara.
dua cara. Cara pertama dengan data Gedung penghubung disini menjadi tempat
sekunder yang didapat melalui tinjauan yang menghubungkan antara terminal bandara
atau studi literatur terkait pada penelitian dan crub dengan Stasiun dan tempat parkir
dan artikel pendukung sebagai penunjang bandara. Maka, ruangan pada bangunan
studi literatur. Cara kedua adalah dengan Bandara Internasional Yogyakarta sebagai
data primer yang didapat melalui studi berikut.
lapangan langsung beruoa observasi dan Tabel 1. Area Bandara Internasional Yogyakarta
analisis penulis yang menggambarkan Lantai 1 • Parkir bandara
keadaan faktual di lapangan (Nasution, • Bangunan penghubung (Malioboro)
• Crub
2023).
• Terminal bandara
2. Metode Analisis Data Lantai 2 • Bangunan penghubung (Malioboro)
Analisis data dilakukan menggunakan • Stasiun bandara
metode deskriptif kualitatif yang • Crub
dilakukan menggunakan analisis • Terminal bandara
pendekatan kontekstual yang Setelah mengetahui ruang-ruang yang
dikaitkan dengan elemen-elemen terdapat di Bandara Internasional Yogyakarta
pembentuk ruang dan fasilitas bangunan. kemudian dilakuaknnya observasi dan
3. Metode Penyajian Analisis Data pemaparan hasil yang berdasarkan dengan
Penyajian analisis dilakukan dengan Point Responsive Environment dapat dilihat di
cara objek yang didapat dianalisis dengan bawah ini.
bentuk tabel yang berisi prinsip (P1). Permeability
pendekatan arsitektur kontekstual Permeability merujuk pada
kemudian dikaitkan dengan penerapan kemudahan akses dan sirkulasi di dalam
pada bangunan. dan sekitar bangunan. Bangunan yang
kontekstual harus mempertimbangkan
HASIL DAN PEMBAHASAN kelancaran akses dan sirkulasi bagi semua
Bandara Internasional Yogyakarta orang, baik pejalan kaki, pengguna
memiliki 2 lantai yaitu Lantai dasar dan lantai kendaraan, maupun transportasi umum.
atas yang sama sama berfungsi sebagai
terminal bandara sedangkan secara fungsi
terbagai menjadi 2 fungsi bangunan yang
pertama Air side (sisi udara) dan Land side (sisi
darat). Air side merupakan bagian bandara
yang berhubungan dengan kegiatan take off(
lepas landas) maupun landing (pendaratan),
sedangkan land side yang bungaungan dengan
kedatang penumpang dan pengurusan
Gambar 1. Denah pada area dalam bandara
penumpang. (Sumber: [Link]
Hal ini menyebabkan penilitian dibatasi [Link]/frontend/uploads/defaults/thumbnails/thu
dan berfokus hanya pada bagian land side saja. mbnail_rehizw20200328094258.jpg)
Pada bagian land side terbagai menjadi 3 Yogyakarta International Airport
bagian pada Bandara Internasional Yogyakarta dalam poin permeability sangat terasa

486 | SIAR V 2024 : SEMINAR ILMIAH ARSITEKTUR


Hafiid Dirham Gurindam, Suharyani

pada bagian crub bandara dimana crub Pada area penghubung ini
sendiri menjadi titik awal dimana menghubungkan area crub kedatangan
penumpang datang dan menjadi titik akhir penumpang dengan area parkir dan juga
penumpang meninggalkan bandara. Pada stasiun bandara. Area ini juga dikenal
area ini sering terjadi penumpukan dengan sebutan area Malioboro, karena
penumpang, sehingga untuk merespon dirancang untuk menyerupai kawasan
hal tersebut Yogyakarta International Malioboro di Yogyakarta. Pada area ini
Airport memberikan 2 crub pada lantai memberikan fungsi utama sebagai
bawah dan lantai atas untuk menunjang penghubung bagi penumpang serta
kemudahan akses kendaran pribadi memberikan fungsi tambahan yaitu
maupun umum. menjadi pusat oleh oleh khas lokal di
bandara mulai dari perbelanjaan hingga
kuliner. Area penghubung Bandara YIA
dirancang untuk menjadi pusat kegiatan
ekonomi dan sosial di kawasan
Yogyakarta. Ruang multifungsi ini dapat
menjadi solusi untuk memenuhi prinsip
variety.
(P3). Legibility
Legibility merujuk pada kemudahan
Gambar 2. Crub bagian atas identifikasi bangunan dan orientasi di
(Sumber: dokumentasi penulis, 2023) dalam dan sekitar bangunan. Bangunan
yang kontekstual harus mudah dikenali
Akses pejalan kaki direspon dengan
dan diingat, dengan bentuk, ukuran, atau
sedikitnya bloking dan juga luasnya area
detail arsitektur yang khas. Tata letak
yang diberikan tanpa hambatan sehingga
internal juga harus jelas dan memudahkan
memudahkan pejalan kaki bergerak dan
orientasi pengguna. Bandara Yogyakarta
berpindah. Selain itu 2 crub saling
Internasional Airport meletakkan
terhubung dengan adanya lift, eskalator,
beberapa landmark yang mudah dikenali
dan juga ramp untuk disabilitas.
dan juga detail arsitektur yang khas di
(P2). Variety
beberapa area bandara sebagai berikut.
Variety merujuk pada keberagaman
1. Bangunan Penghubung (Area
fungsi dan aktivitas yang ada di dalam dan Malioboro).
sekitar bangunan. Bangunan yang
kontekstual tidak hanya berfungsi tunggal,
tetapi dapat mengakomodasi berbagai
fungsi dan aktivitas. Hal ini menciptakan
lingkungan yang dinamis, adaptif, dan
menarik.

Gambar 3. Interior gedung penghubung Gambar [Link] tugu jogja yg berada di


(Malioboro) gedung penghubung (area malioboro)
(Sumber: dokumentasi penulis, 2023) (Sumber : dokumentasi penulis, 2023)

SIAR V 2024 : SEMINAR ILMIAH ARSITEKTUR | 487


Penerapan Pendekatan Arsitektur Kontekstual Pada Bandara Yogyakarta International Airport, Kulon Progo

Gambar 9. Motif batik kawung pada atap


Gambar 5. Lampu jalan khas Malioboro drop point
(Sumber : dokumentasi penulis, 2023) (Sumber : [Link]
yogyakarta-international-airport/)
3. Area Terminal Bandara Yogyakarta
International Airport.

Gambar 6. Ornamen khas Yogyakarta pada


atap toko oleh-oleh
(Sumber : dokumentasi penulis, 2023)
2. Area Crub (Drop Point).
Gambar 10. Desain Gumuk pasir di area
check in
(Sumber: dokumentasi penulis, 2023)
(P4). Robustness
Poin aspek robustness menekankan
kemampuan suatu bangunan untuk tetap
nyaman dan aman dihuni dalam
menghadapi perubahan kondisi
lingkungan, seperti perubahan iklim,
bencana alam, atau perubahan
penggunaan. Hal itu dicapai dengan
Gambar 7. Plengkung Gading merespon hubungan antara bangunan,
(Sumber: dokumentasi penulis, 2023) manusia dan alam sekitar.
Bandara Yogyakarta Internasional
Airport terletak di kawasan pesisir dan
juga dekat dengan Gunung Merapi dengan
begitu secara langsung bandara
berbatasan dengan laut. Oleh karena itu,
tantangan yang dihadapi berupa bahaya
bencana alam dan telah mengupayakan
tindakan pencegahan berupa mitigasi
bencana alam sebagai berikut.
1. Mitigasi Banjir
Gambar 8. Plengkung Gading area drop
point lantai atas • Ukuran saluran dibuat yang besar
(Sumber : dokumentasi penulis, 2023) untuk menabung potensi banjir

488 | SIAR V 2024 : SEMINAR ILMIAH ARSITEKTUR


Hafiid Dirham Gurindam, Suharyani

persen kemungkinan terjadi di (P6). Richness


bandara. Kekayaan bukanlah mengenai visual
• Terdapat pond penampungan air semata, namun juga mengenai sense of
sementara dengan volume 43.300 motion (indra gerak), sense of smell (indra
m3. penciuman), sense of hearing (indra
• Saluran bandara juga dapat pendengaran) dan sense of touch (indra
difungsikan sebagai penampung peraba).
(long storage) dengan kapasitas
180.000 m3.
2. Mitigasi Gempa
• Kekuatan bangunan dirancangg
mampu menahan gempa bersekala
8,8 M dengan menggunakan
struktur beton dengan mutu beton
f’c35 Mpa/k 421.
• Pondasi bangunan terminal
Gambar 11. Kolam pada lantai bawah area crub/
menggunakan borepile dengan drop poin
kedalaman 26 meter. (Sumber : Dokumentasi penulis, 2023)
3. Mitigasi Vulkanik Pada area crub/drop poin pada lantai
• Desain atap menggunakan struktur bawah terdapat kolam yang menambah
ekseprien penumpang hal ini memberikan
rangka baja yang mampu menahan
sense of smell (indra penciuman) karena
abu vulkanik dengan tebal 5 cm. terdapat aroma air yang terdapat di lantai
4. Mitigasi Tsunami dasar membuat lingkungan terasa lebih
• Lantai dasar Terminal, berada pada menyenangkan dan menarik untuk
ketinggian 9,25 MSL (Mean Sea dinikmati.
Level). (P7). Personalization
• Lantai 2 Terminal, berada di
ketinggian 21,25 MSL (Mean Sea
Level).
Dengan begini Bandara Yogyakarta
International Airport sudah menerapkan
respon terhadap bahaya bencana apabila
terjadi dikemudian hari.
(P5). Visual Appropriate
Poin aspek ini menekankan visual
yang mampu menciptakan hubungan
antara bangunan dan lingkungan
sekitarnya, serta antara pengguna dan Gambar 12. Desain relief pada pintu masuk
bangunan itu sendiri. Pada aspek ini juga Keberangkatan
ditekankan hubungan bangunan dengan (Sumber : dokumetasi penulis, 2023)
bangunan disekitarnya. Bandara YIA Keterlibatan masyarakat atau
sendiri jauh dari pusat kota dan tergolong komunitas dalam proses desain arsitektur
di daerah non penduduk sehingga dapat menjadi salah satu cara untuk
bangunan bandara ini berdiri sendiri hal mewujudkan personalization.
ini membuat tidak adanya ikatan Keterlibatan ini dapat memberikan
bangunan bandara dengan bangunan lain. kesempatan bagi masyarakat atau
Selain itu dari segi hubungan dengan komunitas agar membuat masyarakat
lingkungan alam sendiri tidak begitu sekitar ikut merasa memiliki. Pada
terlihat dari sisi luar bangunan. Bandara Yogyakarta International Airport

SIAR V 2024 : SEMINAR ILMIAH ARSITEKTUR | 489


Penerapan Pendekatan Arsitektur Kontekstual Pada Bandara Yogyakarta International Airport, Kulon Progo

melibatkan seniman lokal yaitu Yoga Budi DAFTAR PUSTAKA


Wiantro (pengrajin muntilan) memiliki Baskoro, M., & Hantono, D. (2023). <title/>.
karya berupa desain relief yang berada Idealog: Ide Dan Dialog Desain
pada pintu masuk keberangkatan. Indonesia, 7(2), 225.
Tabel 2. Hasil Penelitian Keseluruhan
[Link]
No. Prinsip Pendekatan Yogyakarta
Arsitektur Kontekstual International .455 2
Airport Caver, V. (n.d.). Airports - Cultural
1. Permeability √
2. Variety √ Ambassadors.
3. Legibility √ [Link]
4. Robustness √ Dantrivani, R., & Hardiyati, S. (2021).
5. Visual Appropriate X
6. Richness √ Penerapan Arsitektur Kontekstual
7. Personalization √ Pada Community Learning Center
Hasil dari analisis penelitian ini untuk Anak Putus Sekolah di Kapuk,
menunjukan bahwa bangunan Yogyakrta Jakarta Barat. In Januari (Issue 1).
international airport telah menerapkan 6 [Link]
prinsip dari 7 prinsip pendekatan arsitektur
nthong/ index
kontekstual.
Kamil, E. M. (2017). Pengenalan Metoda Disain
KESIMPULAN DAN SARAN dan Penerapannya pada Studio
Kesimpulan Perancangan Arsitektur. In Jurnal Arsir
Berdasarkan hasil penelitian yang telah (Vol. 1, Issue 1).
dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Nasution, F. (2023). Metode Penelitian
Yogyakarta International Airport (YIA) telah Kualitatif.
menerapkan 6 prinsip-prinsip Responsive Rossa, A., Alfian Firmansyah, M., Zuhri, S., Studi
Environment yang menjadi acuan penerapan
Arsitektur, P., Timur, J., & Rungkut
arsiitketur kontekstual.
Madya, J. (n.d.). Pengaruh Desain
Pertama pada aspek Visual Appropriate
memang dapat dipahami bahwa bangunan ini Fasad Bandara Banyuwangi Terhadap
tergolong baru serta letaknya yang jauh dari Kenyamanan Termal.
pemukiman membuat bangunan ini tidak Ismailiyah, Rumah Tahfidz, P., Lingkungan, P.,
memiliki ikatan atau hubungan dengan Responsif, Y., & Banyumas, B. (2019).
bangunan disekitarnya. Selain itu dari segi Proyek Akhir Sarjana Design Of Tahfidz
hubungan dengan alam desainnya pun juga House With Responsive Environment
tidak saling terhubung karena memang dapat Approach In Baturraden Banyumas.
dipahami sekitar bandara hanya tanaman Shafiq, S. M. (2018). Airports as Portrayers of
pohon pohonan yang tidak memiliki hubungan Regional Character and Culture: A Case
dengan desain bangunan bandara secara Study of Sulaymaniyah International
langsung maupun tidak langsung. Maka dari
Airport.
itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa
[Link]
Yogyakarta International Airport (YIA)
menerapkan pendekatan arsitektur 5.03683
kontekstual berdasarkan acuan 6 aspek yang Thirsk, N. J. (2014). Copyright Page Regional
diterapkan. and Airport Planning Components of
Saran the Aerotropolis.
Penelitian ini perlu dikembangkan dan Widati, T. (n.d.). Pendekatan Kontekstual
disempurnakan lagi. Metode penelitian perlu Dalam Arsitektur Frank Lloyd Wright.
diperdalam guna mengetahui lebih lanjut
terkait prinsip pendekatan arsitektur
kontekstual.

490 | SIAR V 2024 : SEMINAR ILMIAH ARSITEKTUR

Anda mungkin juga menyukai