0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan26 halaman

Asuhan Keperawatan Anak Autisme

Dokumen ini membahas asuhan keperawatan pada anak dengan gangguan autisme, termasuk latar belakang, tujuan, dan tinjauan pustaka mengenai autisme. Penyakit ini ditandai dengan gangguan komunikasi dan interaksi sosial, serta perilaku yang tidak biasa, dengan prevalensi yang meningkat secara global. Penanganan yang tepat dan intervensi dini sangat penting untuk mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup anak autis.

Diunggah oleh

elisaputri142004
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan26 halaman

Asuhan Keperawatan Anak Autisme

Dokumen ini membahas asuhan keperawatan pada anak dengan gangguan autisme, termasuk latar belakang, tujuan, dan tinjauan pustaka mengenai autisme. Penyakit ini ditandai dengan gangguan komunikasi dan interaksi sosial, serta perilaku yang tidak biasa, dengan prevalensi yang meningkat secara global. Penanganan yang tepat dan intervensi dini sangat penting untuk mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup anak autis.

Diunggah oleh

elisaputri142004
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN GANGGUAN KHUSUS

(AUTISME)

OLEH :

ELISA PUTRI (2207201007)

FAIZAH HANUM (2207201052)

AULIA FITRI (2207201079)

NURUL ALIA (2207201065)

SAIRA ISNAINI SARI (2207201072)

PROGAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

STIKES MUHAMMADIYAH LHOKSEMAWE

TAHUN AJARAN 2024


KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan
hidayah-Nyalah sehingga kami dapat menyusun dan menyelesaikan Makalah (ASUHAN
KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN GANGGUAN AUTISME) ini tepat pada
waktu yang telah ditentukan. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas yang diberikan
Dosen Mata Kuliah.
Pada kesempatan ini juga kami berterima kasih atas bimbingan dan masukan dari semua
pihak yang telah memberi kami bantuan wawasan untuk dapat menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari isi makalah ini masih jauh dari kategori sempurna, baik dari segi kalimat, isi
maupun dalam [Link] karena itu, kritik dan saran yang membangun dari dosen
mata kuliah yang bersangkutan dan rekan-rekan semuanya, sangat kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini dan makalah-makalah selanjutnya.

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................................ii
DAFTAR ISI........................................................................................................................iii
BAB 1.....................................................................................................................................1
PENDAHULUAN.................................................................................................................1
1.1 Latar Belakang...................................................................................................................1
1.2 Tujuan Penulisan................................................................................................................2
BAB II....................................................................................................................................3
TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................................................3
2.1 Konsep Penyakit Autisme Pada Anak.......................................................................................3
a) Definisi Autisme………………………………………………………………………………………………………………………
b) Etiologi Autisme……………………………………………………………………………………………………………………..
c) Patofisiologi Atisme……………………………………………………………………………………………………………….
d) Penatalaksanaan Autisme……………………………………………………………………………………………………

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan 12

BAB 3...................................................................................................................................19
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK AUTISME............................................................19
3.1 Asuhan keperawatan pada anak autisme..............................................................................19
a) Pengkajian…………………………………………………………………………………………………………………………….
b) Diagnosa Keperawatan…………………………………………………………………………………………………………
c) Intervensi Keperawatan……………………………………………………………………………………………………….
d) Implementasi Keperawatan………………………………………………………………………………………………….
e) Evaluasi Keperawatan………………………………………………………………………………………………………….

BAB IV PENUTUP.............................................................................................................20
4.1 Kesimpulan……………………………………………………………………………………………………………………………

4.2 Saran……………………………………………………………………………………………………………………………………

DAFTAR
PUSTAKA………………………………………………………………………..

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Autis adalah gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi,
interaksi sosial dan aktivitas imajinasi. Gejalanya mulai nampak sebelum anak berusia
3 tahun, bahkan pada autistic infantile gejalanya sudah ada sejak lahir. Prevalensi
autis di dunia mencapai 10-20 kasus per 10.000 anak atau 0,15-0,20%. Menurut hasil
penelitian yang dilakukan Center for Desease Control and Prevention (CDC) di
Amerika Serikat terjadi peningkatan dari tahun 2002-2008 yaitu sebesar 78%, tahun
2006-2008 yaitu sebesar 23% dan bulan Maret 2013 terjadi peningkatan menjadi
50%. Jumlah penyandang autis di Indonesia mencapai 150.000-200.000 anak dan
jumlah penyandang autis laki-laki lebih banyak empat kali lebih besar dari pada anak
perempuan (Kusumayanti, 2011).
Sampai saat ini penyebab autis belum diketahui secara pasti. Berdasarkan penelitian,
diperkirakan penyebab munculnya gejala autis adalah bahan. metabolit sebagai hasil
proses metabolisme (asam organik) merupakan bahan yang dapat mengganggu fungsi
otak dan keadaan tersebut biasanya didahului dengan gangguan pencernaan.
Penelitian yang dilakukan Rahel, 2018 terdapat kandungan peptida yang tidak normal
dalam urine penderita autisme. Sebagian besar dari peptida yang terkandung dalam
urine tersebut terbentuk karena penderita mengonsumsi gluten atau kasein, atau
keduanya. Bagian yang tidak dapat terpisah dari peptida, yang disebut beta-
casomorphin dan gliadinomorphin, adalah zat yang mirip dengan opioid. Zat ini
memiliki efek sama seperti heroin atau morfin dan akan menimbulkan gejala sama
seperti pecandu heroin
Penelitian menurut Sofia, 2017 Makanan anak autis pada umumnya sama dengan
makanan untuk anak normal lainnya, yaitu harus memenuhi gizi seimbang dan tetap
harus memperhatikan aspek pemilihan makanan. Konsumsi gluten dan kasein perlu
dihindari karena penderita autis umumnya tidak tahan terhadap gluten dan kasein.
Gluten dan kasein dapat mempengaruhi sistem susunan syaraf pusat, dapat
menimbulkan diare, dan dapat meningkatkan hiperaktivitas yang berpengaruh pada
tingkah laku mereka.

1
Perilaku autis ada 2 jenis yaitu perilaku yang eksesif (berlebihan) dan perilaku deficit
(berkekurangan). Perilaku ekesif adalah perilaku yang hiperaktif dan tantrum
(mengamuk) seperti menjerit, mengepak, menggigit, mencakar, memukul dan
termasuk juga menyakiti diri sendiri (self abuse). Perilaku defisit adalah perilaku yang
menimbulkan gangguan bicara atau kurangnya perilaku sosial seperti tertawa atau
menangis tanpa sebab atau melamun (Pratiwi, 2019)
Menurut Mashabi dan Tajudin (2019), secara sederhana masalah yang sering terdapat
pada penyandang autis adalah sebagai berikut yaitu kurangnya kemampuan untuk
berkomunikasi seperti berbicara dan berbahasa, terjadi ketidaknormalan dalam hal
menerima rangsangan melalui panca indra (pendengaran, pengelihatan, perabaan dan
lain-lain), masalah gerak motorik, kelemahan kognitif, perilaku yang tidak biasa,
masalah fisik. Jika anak autis terlambat atau tidak mendapat intervensi hingga dewasa
maka gejala autisme bisa semakin parah bahkan tidak tertanggulangi. Salah satu jenis
terapi anak autis adalah melalui makanan atau disebut terapi diet. Para ahli sepakat
bahwa anak autis melakukan diet bebas kasein dan gluten atau Casein Free Gluten
Free. Karena selain diyakini dapat memperbaiki gangguan pencernaan diet, ini juga
bisa mengurangi gejala dan tingkah laku anak autis (Sofia, 2017).

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan umum
Tujuan penulisan secara umum adalah agar mahasiswa dapat memahami cara
penanganan asuhan Keperawatan Pada Anak dengan Autisme.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mahasiswa dapat memahami mengenai definisi, etiologi, manifestasi klinik,
patofisiologi dan penatalaksanaan pada Anak Autisme.
2. Mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan (Pengkajian, Diagnosa
keperawatan, Intervensi, implementasi dan evaluasi pada Anak Autisme.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Penyakit Autisme pada Anak


2.1.1 Pengertian Autisme
Autisme berasal dari kata auto yang berarti sendiri. Penyandang autism
seakan-akan hidup di dunianya sendiri. Istilah autism baru diperkenalkan sejak
tahun 1943 oleh Leo Kanner, sekalipun kelainan ini sudah ada sejak berabad-
abad lampau (Handojo,2013), Kartono (2010) berpendapat bahwa autisme
adalah gejala menutup diri secara total dan tidak mau berhubungan lagi
dengan dunia luar asik dengan pikiran dan fantasinya sendiri.
Suminti (2016) menyebutkan bahwa penyandang autis memiliki cirri-ciri
penderita senang menyendiri dan bersikap dingin sejak kecil atau bayi,
misalnya dengan tidak merespon diri (tersenyum dan sebagainya) bila di beri
makan dan sebagainya serta seperti tidak menaruh perhatian terhadap
lingungan sekitarnya, tidak mau atau sangat sedikit brbicara hanya mau
mengatakan ya atau tidak atupun ucapan-ucapan yang tidak jelas, lalu tidak
suka dengan stimulus pendengaran (contoh mendengar suara orang tuanya pun
menangis), tetapi senang melakukan stimulus diri, contoh dengan memukul
mukuli kepala/ gerakan-gerakan aneh lain, kadang gampang memanipulasi
kan obyek, namun sulit menangkap.
Autisme adalah gangguan yang parah pada komunikasi yang berkepanjangan
dan tampak pada usia tiga tahun pertama, Ketidakmampuan berkomunkasi ini
diduga mengakibatkan anak penyandang autisme menyendiri dan tidak respon
dengan orang lain (Sarwindah, 2012). Menurut Randy, 2016 autis adalah
gangguan yang melibatkan kegagalan untuk mengembangkan hubungan antar
pribadi, hambatan dalam pembicaraan, perkembangan bahasa, fenomena
ritualistik masa kanak-kanak dini adalah penarikan diri dan kehilangan kontak
dengan realitas atau orang lain. Autisme infantile adalah gangguan kulitatif
pada komunikasi verbal dan non verbal, aktivitas imajinatif dan interaksi
social timbale balik yang terjadi sebelum usia 30 bulan. Kesimpulannya
bahwa Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang (anak) sejak lahir
atau balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial
atau komunikasi yang tidak normal.

3
2.1.2 Etiologi
Penyebab autisme belum banyak diketahui dan hanya terbatas pada faktor
psikologis saja. Tetapi sekarang ini penelitian mengenai autisme semakin maju
dan menunjukkan bahwa autisme mempunyai penyebab neurobiologist yang
sangat kompleks. Gangguan neurobiologist ini dapat disebabkan oleh interaksi
faktor genetik dan lingkungan seperti pengaruh negatif selama masa
perkembangan otak. Banyak faktor yang menyebabkan pengaruh negatif
selama masa perkembangan otak, antara lain, penyakit infeksi yang mengenai
susunan saraf pusat, trauma, keracunan logam berat dan zat kimia lain baik
selama masa dalam kandungan maupun setelah dilahirkan, gangguan
imunologis, gangguan absorpsi protein tertentu akibat kelainan di usus
(Suriviana, 2005).
Menurut Dewo, 2006 gangguan perkembangan autisme dapat
disebabkan karena beberapa hal antara lain:
1. Genetik, abnormalitas genetic dapat menyebabkan abnormalitas
pertumbuhan sel-sel saraf dan sel otak.
2. Keracunan logam seperti mercury yang banyak terdapat dalam vaksin
imunisasi atau pada makanan yang dikomsumsi yang sedang ibu hamil,
misalnya ikan dengan kandungan logam berat yang tinggi, sehingga para
peneliti membuktikan bahwa didalam tubuh anak atisme terkandung timah
hitam dan mercury dalam kadar yang relative tinggi.
3. Terjadi kegagalan pertumbuhan otak karena nutrisi yang diperlukan dalam
pertumbuhan otak tidak diserap oleh tubuh, ini terjadi karena adanya jamur
dalam lambung dan juga nutrisi tidak terpenuhi karena factor ekonomi.
4. Terjadi autoimun pada tubuh penderita yang merugikan perkembangan
tubuhnya sendiri. Imun adalah kekebalan tubuh terhadap virus/bakteri
penyakit, sedangkan autoimun adalah kekebalan yang dikembangkan oleh
tubuh penderita itu sendiri yang justru kebal terhadap zat-zat penting dalam
tubuh dan menghancurkannya.

2.1.3 Manifestasi klinis


1. Gangguan dalam komunikasi verbal maupun nonverbal
Meliputi kemampuan berbahasa dan mengalami keterlambatan atau sama
sekali tidak dapat bicara. Menggunakan kata-kata tanpa
menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan. Berkomunikasi
dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam
waktu singkat. Kata-katanya tidak dapat dimengerti oleh orang lain. Tidak
mengerti atau tidak menggunakan kata-kata dalam konteks yang sesuai.
Ekolalia (meniru atau membeo), meniru kata, kalimat atau lagu tanpa tahu
artinya. Bicara monoton seperti robot.
2. Gangguan dalam bidang interaksi sosial
Meliputi gangguan menolak atau menghindar untuk bertatap muka. Tidak
menoleh bila dipanggil, sehingga sering diduga tuli. Merasa tidak senang atau

4
menolak dipeluk. Bila menginginkan sesuatu, menarik tangan orang yang
terdekat dan berharap orang tersebut melakukan sesuatu untuknnya. Tidak
berbagi kesenangan dengan orang lain. Saat bermain bila didekati malah
menjauh.
5. Gangguan perasaan dan emosi
Dapat dilihat dari perilaku tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah tanpa
sebab nyata. Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum). terutama bila
tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, bahkan bisa menjadi agresif
dan merusak. Tidak dapt berbagi perasaan (empati) dengan anak lain.
7. Tanda dan Gejala menurut Usia
1. Usia 0-6 bulan:
a. Bayi tampak terlalu tenang (jarang menangis)
b. Terlalu sensitive, cepat terganggu/terusik
c. Tidak ditemukan senyum social diatas 10 minggu
d. Tidak ada kontak mata diatas umur 3 bulan
e. Perkembangan motorik kasar/halus sering tampak normal
2. Usia 6-12 bulan:
a. Bayi tampak terlalu tenang
b. Terlalu sensitive
c. Sulit di gendong
d. Tidak ditemukan senyum sosial
e. Menggigit tangan dan badan orang lain secara berlebihan
3. Usia 1-2 tahun:
a. Kaku bila di gendong
b. Tidak mau bermain permainan sederhana (ciluk ba,da...da)
c. Tidak mengeluarkan kata
d. Tidak tertarik pada boneka/mainan
e. Terdapat keterlambatan dalam perkembangan motorik kasar dan halus
4. Usia 2-3 tahun:
a. Tidak bias bicara
b. Tidak tertarik untuk bersosialisasi dengan orang lain (teman sebaya)
c. Hiperaktif
d. Kontak mata kurang
5. Usia 3-5 tahun:
5
a. Sering didapatkan ekolalia (membeo)
b. Mengeluarkan suara yang aneh (nada tinggi ataupun datar)
c. Marah bila rutinitas yang seharus berubah serta menyakiti diri sendiri
(membentur kepala)
2.1.4 Patofisiologi
Sel saraf otak (neuron) terdiri atas badan sel dan serabut untuk mengalirkan
impuls listrik (akson) serta serabut untuk menerima impuls listrik (dendrit). Sel saraf
terdapat di lapisan luar otak yang berwarna kelabu (korteks). Akson dibungkus
selaput bernama mielin, terletak di bagian otak berwarna putih. Sel saraf berhubungan
satu sama lain lewat sinaps. Sel saraf terbentuk saat usia kandungan tiga sampai tujuh
bulan. Pada trimester ketiga, pembentukan sel saraf berhenti dan dimulai
pembentukan akson, dendrit, dan sinaps yang berlanjut sampai anak berusia sekitar
dua tahun. Setelah anak lahir, terjadi proses pengaturan pertumbuhan otak berupa
bertambah dan berkurangnya struktur akson, dendrit, dan sinaps. Proses ini
dipengaruhi secara genetik melalui sejumlah zat kimia yang dikenal sebagai brain
growth factors dan proses belajar anak.
Makin banyak sinaps terbentuk, anak makin cerdas. Pembentukan akson,
dendrit, dan sinaps sangat tergantung pada stimulasi dari lingkungan. Bagian otak
yang digunakan dalam belajar menunjukkan pertambahan akson, dendrit, dan sinaps.
Sedangkan bagian otak yang tak digunakan menunjukkan kematian sel, berkurangnya
akson, dendrit, dan sinaps. Kelainan genetik, keracunan logam berat, dan nutrisi yang
tidak adekuat dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada proses proses tersebut.
Sehingga akan menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel saraf. Pada pemeriksaan
darah bayi-bayi yang baru lahir, diketahui pertumbuhan abnormal pada penderita autis
dipicu oleh berlebihnya neurotropin dan neuropeptida otak yang merupakan zat kimia
otak yang bertanggung jawab untuk mengatur penambahan sel saraf, migrasi,
diferensiasi, pertumbuhan, dan perkembangan jalinan sel saraf. Brain growth factors
ini penting bagi pertumbuhan otak.
Peningkatan neurokimia otak secara abnormal menyebabkan pertumbuhan
abnormal pada daerah tertentu. Pada gangguan autis terjadi kondisi growth without
guidance, dimana bagian-bagian otak tumbuh dan mati secara tak beraturan.
Pertumbuhan abnormal bagian otak tertentu menekan pertumbuhan sel saraf lain.
Hampir semua peneliti melaporkan berkurangnya sel Purkinye (sel saraf tempat
keluar hasil pemrosesan indera dan impuls saraf) di otak kecil pada autisme.

6
Berkurangnya sel Purkinye diduga merangsang pertumbuhan akson, dan mielin
sehingga terjadi pertumbuhan otak secara abnormal atau sebaliknya, pertumbuhan
akson secara abnormal mematikan sel Purkinye. Yang jelas, peningkatan brain
derived neurotrophic factor menyebabkan kematian sel Purkinye. Gangguan pada sel
Purkinye dapat terjadi secara primer atau sekunder. Bila autisme disebabkan faktor
genetik, gangguan sel Purkinye merupakan gangguan primer yang terjadi sejak awal
masa kehamilan. Degenerasi sekunder terjadi bila sel Purkinye sudah berkembang,
kemudian terjadi gangguan yang menyebabkan kerusakan sel Purkinye. Kerusakan
terjadi jika dalam masa kehamilan ibu minum alkohol berlebihan atau obat seperti
thalidomide.
Penelitian dengan MRI menunjukkan, otak kecil anak normal mengalami
aktivasi selama melakukan gerakan motorik, belajar sensori- motor, atensi, proses
mengingat, serta kegiatan bahasa. Gangguan pada otak kecil menyebabkan reaksi
atensi lebih lambat, kesulitan memproses. persepsi atau membedakan target,
overselektivitas, dan kegagalan mengeksplorasi lingkungan. Pembesaran otak secara
abnormal juga terjadi pada otak besar bagian depan yang dikenal sebagai lobus
frontalis.
Faktor lingkungan yang menentukan perkembangan otak antara lain
kecukupan oksigen, protein, energi, serta zat gizi mikro seperti zat besi, seng, yodium,
hormon tiroid, asam lemak esensial, serta asam folat Adapun hal yang merusak atau
mengganggu perkembangan otak antara lain alkohol, keracunan timah hitam,
aluminium serta metilmerkuri, infeksi yang diderita ibu pada masa kehamilan dan
radias.
2.1.5 Penatalaksanaan
Kimia otak yang kadarnya abnormal pada penyandang autis adalah serotonin
5-Hydroxytryptamine (5HT) yaitu neurotransmitter atau penghantar singnal ke sel-sel
saraf. Sekitar 30-50% penyandang autis mempunyai kadar serotonin dalam darah.
Kadar norepinefrin, dopamin, dan serotonin 5-HT pada anak normal dalam keadaan
stabil dan saling berhubungan. Akan tetapi, tidak demikian pada penyandang autis.
Terapi psikofarmakologi tidak mengubah riwayat keadaan atau perjalanan autis tetapi
efektif mengurangi perilaku autistik seperti hiperaktivitas, penarikan diri, stereotipik,
menyakiti diri sendiri, agresifsifitas dan gangguan tidur. Risperidone bias digunakan
sebagai antagonis reseptor dopamine D2 dan seroton 5-HT untuk mengurangi
agresifitas, hiperaktivitas, dan tingkah laku yang menyakiti diri sendiri.

7
2. Penatalaksanaan Keperawatan
a) Terapi wicara yaitu membantu anak melancarkan otot-otot mulut sehingga
membantu anak berbicara yang lebih baik.
b) Terapi okupasi yaitu untuk melatih motorik halus anak

c) Terapi perilaku yaitu anak autis seringkali merasa frustasi, teman- temannya
seringkali tidak memahami mereka sehingga mereka. merasa sulit mengekspresikan
kebutuhannya. Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan
sentuhan. Maka tak heran mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih
untuk mencari latar belakang dari perilaku negative tersebut dan mencari solusinya
dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk
memperbaiki perilakunya.

2.2 Konsep Asuhan Keperawatan


a. Pengkajian
1.) Identitas klien
Meliputi nama anak, jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, suku
bangsa, tanggal, jam masuk RS, nomor registrasi, dan diagnosis medis.
2) Riwayat Kesehatan
-Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasanya anak autis dikenal dengan kemampuan berbahasa, keterlambatan
atau sama sekali tidak dapat bicara. Berkomunikasi dengan menggunakan
bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu singkat, tidak
senang atau menolak dipeluk. Saat bermain bila didekati akan menjauh.
Ada kedekatan dengan benda tertentu seperti kertas, gambar, kartu atau
guling, terus dipegang dibawa kemana saja dia pergi. Bila senang satu
mainan tidak mau mainan lainnya. Sebagai anak yang senang kerapian
harus menempatkan barang tertentu pada tempatnya. Menggigit, menjilat
atau mencium mainan atau benda apa saja. Bila mendengar suara keras,
menutup telinga. Didapatkan IQ dibawah 70 dari 70% penderita, dan
dibawah 50 dari 50%. Namun sekitar 5% anak autism mempunyai IQ
diatas 100.
-Riwayat Kesehatan Dahulu (ketika anak dalam kandungan)

8
1. Kaji apakah sering terpapar zat toksik, seperti timbal/ terpapar zat kimia
lainnya.
2. Kaji adanya cidera otak
-Riwayat Kesehatan Keluarga
Tanyakan apakah ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit
serupa autism dengan klien dan apakah ada riwayat penyakit bawaan atau
keturunan. Biasanya pada anak autisme ada riwayat penyakit keturunan.
-Riwayat Status Perkembangan Anak.
Kaji adanya perkembangan kelainan anak seperti:
1. Anak kurang merespon orang lain.
2. Anak sulit fokus pada objek dan sulit mengenali bagian tubuh.
3. Anak mengalami kesulitan dalam belajar..
4. Anak sulit menggunakan ekspresi non verbal.
5. Keterbatasan kognitif.
3. Pemeriksaan fisik
Kaji pemeriksaan fisik pada anak yaitu:
- Anak tertarik pada sentuhan (menyentuh/sentuhan).
- Biasanya terdapat ekolalia.
- Sulit fokus pada objek semula bila anak berpaling ke objek lain.
- Anak tertarik pada suara tapi bukan pada makna benda tersebut.
- Pemeriksaan neurologis respons yang tidak sesuai terhadap
stimulus, refleks mengisap buruk, tidak mampu menangis ketika
lapar
4. Pemeriksaan Psikologis
- Menarik diri dan tidak responsif terhadap orang tua
- Memiliki sikap menolak perubahan secara ekstrem
- Keterikatan yang tidak pada tempatnya dengan objek
- Perilaku menstimulasi diri
- Pola tidur tidak teratur
- Permainan stereotip
- Perilaku destruktif terhadap diri sendiri dan orang lain
- Tantrum yang sering
- Peka terhadap suara-suara yang lembut bukan pada suatu
pembicaraan
9
- Kemampuan bertutur kata menurun
- Menolak mengkonsumsi makanan yang tidak halus

b. Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan komunikasi verbal b.d gangguan neuromuskuler (D.0119)
2. Gangguan interaksi social b.d hambatan perkembangan (D.0118)
3. Gangguan identitas diri b.d gangguan neurologis (D.0084)
4. Resiko mutilasi diri b.d individu autistic (D.0145)
c. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan bersumber dari Buku SDKI PPNI Edisi 1
d. Implementasi Keperawatan
Implementasi adalah realisasi dari rencana intervensi untuk mencapai
tujuan yang spesifik (Nursalam, 2010). Implementasi dibuat setelah membuat
intervensi keperawatan dengan melakukan tindakan observasi mandiri,
tindakan teurapeutik, dan tindakan kolaborasi sesuai dengan buku SDKL
Jenis-jenis tindakan pada tahap pelaksanaan adalah:
1) Secara mandiri (independent) adalah tindakan yang diprakarsai sendiri oleh
perawat untuk membantu pasien dalam mengatasi masalahnya dan
menanggapi reaksi karena adanya stressor.
2) Kolaborasi (interdependent) adalah tindakan keperawatan atas dasar kerja
sama tim keperawatan dengan tim kesehatan lainnya, seperti [Link],
farmasi dan lain-lain.
c. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses
keperawatan yang menandakan keberhasilan dari diagnosis keperawatan,
rencana intervensi dan implementasinya (Nursalam, 2010). Evaluasi dibuat
menjadi catatan perkembangan yaitu memakai:
S : Data Subjektif
O : Data Objektif
A :Analisis masalah
P Perencanaan

10
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

2.2 Asuhan Keperawatan Pada Anak Autisme


a. Pengkajian
1. Identitas Klien
Nama : An.X

Umur : 5 tahun

Agama :Islam

[Link]:Laki-laki

Suku Bangsa : Aceh

Golongan Darah : O

Tanggal Masuk RS : 15-01/2020

Tanggal Pengkajian : 15-01/2020

Diagnosa Medis : Anemia

Alamat : Kota lhokseumawe

Identitas Penanggungjawab Anak

Nama : Ny.R

Umur : 35 Tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Pendidikan : SMA

Agama : Islam

Pekerjaan : Wiraswasta

Alamat : Kota Lhokseumawe

Hubungan dengan Klien : Ibu Kandung Pasien

2. Riwayat Kesehatan
-Riwayat kesehatan sekarang
Keluarga mengatakan anak mengalami keterlambatan berbahasa, senang
menyendiri, sulit berkomunikasi dengan orang lain, sulit menyusun kalimat bila
berbicara, tidak ada kontak mata saat di tanya oleh orangtuanya. Anak terkadang

11
sering mengamuk, menangis, merusak barang dan membenturkan kepalanya ke
tembok. Bila asik dengan I benda anak tidak dapat merespon orang lain dan
tertawa menangis tanpa alasan.
-Riwayat Kesehatan Dahulu (ketika anak dalam kandungan)
Ibu pasien mengatakan dahulu saat mengandung An. M di dinyatakan oleh dokter
terpapar toksin logam berat. Ibu mengatakan saat hamil sering mengkomsumsi
ikan laut yang dicurigai mengandung pengawet merkuri.
-Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan di keluarga ada turunan menderita penyakit autis
-Riwayat Status Perkembangan Anak.
- Anak kurang merespon orang lain.
- Anak sulit fokus pada objek dan sulit mengenali bagian tubuh.
- Anak mengalami kesulitan dalam belajar.
- Keterbatasan kognitif.

5. Pemeriksaan fisik

Kaji pemeriksaan fisik pada anak yaitu:


- Anak tertarik pada sentuhan (menyentuh/sentuhan).
- Terdapat ekolalia pada anak
- Sulit fokus pada objek semula bila anak berpaling ke objek lain.
- Peka terhadap bau
- Tidak dapat

6. Pemeriksaan Psikologis

- Anak tampak menarik diri dan tidak responsif terhadap orang tua & orang
lain disekitarnya
- Anak tampak asik menyendiri tertawa dan menangis tanpa alasan
- Emosi anak tidak stabil membenturkan kepala ke tembok
- Pola tidur tidak teratur
- Perilaku destruktif terhadap diri sendiri dan orang lain
- Tantrum yang sering
- Kemampuan bertutur kata menurun

12
7. Analisa Data

No Data Penyebab Masalah


1. S: Gangguan pada otak Gangguan interaksi
Keluarga mengatakan anak ↓ sosial
terlihat merasa tidak myaman Abnormalitas pertumbuhan sel
dengan situasi social saraf
O: ↓
[Link] responsif atau Autis
tertarik pada orang lain ↓
[Link] mau menatap mata Komunikasi terhambat
[Link] mau bermain dengan ↓
teman sebayanya Kualitas hubungan social
[Link] menyendiri kurang

Gangguan interaksi social

2. S: Gangguan pada otak Gangguan identitas diri


Keluarga mengatakan anak ↓
sering bingung terhadap Abnormalitas pertumbuhan sel
dirinya sendiri saraf
O: ↓
1. Perilaku anak tidak Autis
konsisten ↓
2. Koping anak tidak efektif Gangguan neurologis
3. Anak tampak bingung ↓
terhadap dirinya sendiri Persepsi terhadap identitas diri
4. Anak tidak mengetahui jenis terganggu
kelaminnya, nilai" budaya, dan ↓
tujuan hidup. Gangguan identitas diri

3. S: Gangguan pada otak. Gangguan komunikasi


Keluarga mengatakan anak ↓ verbal
sulit untuk di ajak komunikasi Abnormalitas pertumbuhan sel
secara langsung saraf
O: ↓
1. Tidak ada kontak Autis
mata ↓
2. Sulit memahami komunikasi Komunikasi terhambat
3. Sulit mempertahankan Keterlambatan berbahasa
Komunikasi ↓
4. Sulit menggunakan ekspresi Gangguan komunikasi verbal
wajah atau tubuh
5. Sulit kalimat menyusun
6. Verbalisasi tidak tepat
7. Sulit mengungkapkan kata-
kata

13
4. S: Gangguan pada otak Resiko mutilasi diri
Keluarga mengatakan anak ↓
sering membeturkan kepala ke Abnormalitas pertumbuhan sel
tembok saraf
O: ↓
1. Anak tampak mengamuk Autis
2. Emosi anak tidak stabil ↓
3. Tampak gelisah Individu autis
4. Perilaku destruktif terhadap ↓
diri sendiri dan orang lain Resiko mencederai diri
5. Sering tantrum ↓
Resiko mutilasi diri

B. Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan interaksi social b.d hambatan perkembangan (D.0118)

2. Gangguan identitas diri b.d gangguan neurologis (D.0084)

3. Gangguan komunikasi verbal b.d gangguan neuromuskuler (D.0119)

4. Resiko mutilasi diri b.d individu autistic (D.0145)

C. Intervensi Keperawatan

Diagnosa kep Kriteria hasil Intervensi Rasional

Gangguan Promosi komunikasi efektif [Link] observasi Hasil penelitian Aisti,


interaksi sosial 1. Identifikasi prioritas metode 2017 didapatkan bahwa
Setelah dilakukan perawatan komunikasi yang di gunakan terapi komunikasi
diharapkan interaksi social sesuai dengan kemampuan menggunakan gambar /
pasien meningkat dengan 2) Identifikasi sumber pesan tulisan dapat membuat
kriteria: secara jelas (siapa seharusnya anak autis lebih cepat
-Perasaan nyaman dengan mengatakannya) tanggap dan
situasi social meningkat keefektifannya
-Responsif pada orang lain B. Tindakan Teurapeutik mencapai 82%
meningkat 3) Fasilitasi mengungkapkan isi
-Kontak mata meningkat pesan dengan jelas
-Kooperatif bermain teman 4) Fasilitasi penyampaian struktur
sebaya meningkat. pesan secara logis/ menggunakan
gambar
5) Dukung pasien dan keluarga
menggunakan komunikasi efektif

C. Tindakan Edukasi
6) Jelaskan perlunya komunikasi
efektif
7) Ajarkan mengkomunikasikan

14
pesan dengan tepat

Gangguan Terapi Kognitif Perilaku [Link] Observasi Hasil penelitian Sri


identitas diri 1.) Identifikasi riwayat diagnosis rahayu 2020 dikatakan
Setelah dilakukan perawatan menyeluruh bahwa terapi kognitif
diharapkan identitas diri pasien 2.) Identifikasi gejala faktor anak autis berbasis
meningkat dengan kriteria: lingkungan,budaya biologis yang multimedia dapat
mempengaruhi mempermudah
-Perilaku konsisten meningkat 3) Identifikasi masalah yang pengindap autis
-Penampilan peran efektif menimbulkan distorsi piliran dan mengenali identitas
meningkat persepsi negative dirinya dikarnakan
-Perasaan fluktuatif terhadap 4) Identifikasi asumsi, keyakinan adanya daya tarik pada
diri menurun mendasar atau skema dari pola multimedia tersebut
-Kebingungan dengan jenis piker dan distorsi pikiran
kelamin menurun 5) Identifikasi metode alternatif
-Kebingungan dengan tujuan dalam menyelesaikan masalah
hidup menurun (mis, proses koreksi pikiran)
6) Identifikasi distorsi pikiran dan
pola perilaku maladptif spesifik
disetiap situasi
7) Monitor pikiran yang dialami
(mis, kejadian spesifik yang
mengakibatkan masalah
emosional)
8) Monitor kemampuan yang
telah dilatih

B. Tindakan Teurapeutik
9) Ciptakan hubungan terapetutik
dan kolaboratif (pasien- perawat)
yang aktif
10) Lakukan pengamatan
pemantauan terhadap pikiran dan
perilaku
11) Berikan penugasan aktifitas di
rumah dalam proses terapi
12)Arahkan pikiran keliru
menjadi sistematis
13) Buatkan catatan kegiatan
harian dan sharing
14) Berikan reinforcement positif
atas kemampuan yang dimiliki

C. Tindakan Edukasi
15)Jelaskan masalah yang dialami
16) Jelaskan strategi dan proses
terapi pikiran perilaku
17) Diskusikan pikiran keliru
yang dialami

15
18) Diskusikan self monitoring
dalam memahami kondisi selama
terapi.
19) Diskusikan rencana aktivitas
harian terkait terapi yang
diberikan
20) Latih keterapilan koping
individu

D. Tindakan Kolaborasi
21) Kolaborasi dalam pemberian
terapi (mis psikofarmaka)

Gangguan Promosi Komunikasi Defisit A. Tindakan Observasi Hasil penelitian


Komunikasi Bicara Rahmah, 2016
verbal 1) Monitor kecepatan, tekanan, disebutkan bahwa
Setelah dilakukan kuantitus, volume, dam diksi gangguan komunikasi
perawatan diharapkan bicara verbal pada anak autis
komunikasi verbal pasien 2) Monitor proses kognitif, dapat diatasi dengan
meningkat dengan kriteria : anatonis, dan fisiologi yang menggunakan visual
berkaitan dengan bicara (mis, support (gambar)
-Kemampuan meningkat memori, pendengaran, dan dalam proses
berbicara Bahasa) komunikasi. Efektifitas
-Kemampuan mendengar 3) Monitor frustasi, marah, komunikasinya
meningkat depresi, atau hal lain yang mencapai 91% pada
-Kontak mata meningkat mengganggu bicara anak autis
-Pemahaman komunikasi 4) Identifikasi perilaku emosional
membaik dan fisik sebagai bentuk
-Respon perilaku membaik komunikasi

B. Tindakan Teurapeutik
5) Gunakan metode komunikasi
alternatif (mis, menulis, mata
berkedip, papan komunikasi
dengan gambar dan huruf, isyarat
tangan dan computer)
6) Sesuaikan gaya komunikasi
dengan kebutuhan (mis. berdiri
didepan pasien, dengarkan
dengan seksama tunjukan satu
gagasan atau pemikiran sekaligus,
bicaralah dengan perlahan sambal
menghindari tekanan, gunakan
komunikasi tertulis, atau meminta
bantuan keluarga untuk
memahami ucapan pasien.
7) Modifikasi lingkungan untuk
meminimalkan bantuan
8) Ulangi apa yang disampaikan

16
pasien
9) Berikan dukungan psikologis

10) Gunakan juru bicara (bila


perlu)

C. . Tindakan Edukasi
11) Ajarkan berbicam perlahan
12) Ajarkan pasien dan keluarga
proses kognitif, anatomis, dan
fisiologis yang berhubungan
dengan kemampuan berbicara

D. Tindakan Kolabomsi
13) Rujuk ke ahli patologi bicara
atau terapis.

Resiko Mutasi Biblioterapi [Link] Observasi Hasil penelitian


Diri 1) Identifikasi kebutuhan Arafaf,2019
Setelah dilakukan perawatan emosional , kognitif, menyebutkan bahwa
diharapkan resiko mutasi diri perkembangan dan situasional terapi membaca dan
pada pasien tidak terjadi dengan 2)Identifikasi kemampuan bermain dapat
kriteria: berbicara mengalihkan
ketidakstabilan emosi
-Perilaku melukai diri B. Tindakan Teurapeutik yang menyebabkan
sendiri/orang lain menurun 3) Tetapkan tujuan terapi (mis, resiko mutasi diri pada
-Perilaku merusak lingkungan perubahan emosi, perkembangan anak autis.
sekitar menurun kepribadian, pembelajaran
-Perilaku agresif /amuk perilaku baru)
menurun 4) Pilih literatur (cerita, puisi,
-Verbalisasi keinginan bunuh artikel, buku/ novel) berdasarkan
diri menurun kemampuan membaca atau sesuai
dengan perasaan yang dialami
5) Gunakan gambar dan ilustrasi
6) Diskusikan perasaan yang di
ungkapkan oleh karakter dalam
literatur
7) Diskusikan untuk
membandingkan citra, karakter,
situasi, atau konsep dalam
literatur dengan situasi yang
dialami
8) Fasilitasi mengenai situasi
dalam literatur untuk melakukan
perubahan perilaku
9) Lanjutkan sesi membaca
dengan sesi bermain peran baik
individu maupun kelompok
10) Berikan waktu jeda beberapa
menit agar pasien dapat

17
merefleksikan materi bacaannya
C. Tindakan Edukasi
11) Jelaskan tujuan dan prosedur
biblioterapi
12) Anjurkan membaca dengan
suara yang dapat di dengar, jika
perlu
13) Anjurkan membaca ulang
D. Tindakan Kolaborasi

14) Konsultasikan untuk memilih


literatur vang tepat.

D. Implementasi Keperawatan

No. Hari/Tanggal/ Diagnosa Implementasi


Jam Keperawatan

1. Jumat Gangguan interaksi sosial Promosi Komunikasi Efektif


15-01/2020 b.d hambatan perkembangan
1) Melakukan identifikasi prioritas metode komunikasi
yang di gunakan sesuai dengan kemampuan
2) Melakukan identifikasi sumber pesan secara jelas (siapa
seharusnya mengatakannya)
3) Memfasilitasi mengungkapkan isi pesan dengan jelas
4) Memfasilitasi penyampaian struktur pesan secara logis
5) Melakukan dukungan pada pasien dan keluarga
menggunakan komunikasi efektif
6) Menjelaskan perlunya komunikasi efektif pada pasien
7) Mengajarkan cara mengkomunikasikan pesan dengan
tepat

2. Jumat Gangguan identitas diri b.d Terapi Kognitif Prilaku


15-01/2020 gangguan neurologis
1) Mengidentifikasi riwayat diagnostic menyeluruh
2) Mengidentifikasi gejala, factor lingkungan, budaya,
biologis yang mempengaruhi
3) Mengidentifikasi masalah yang menimbulkan distorsi
piliran dan persepsi negative
4) Mengidentifikasi asumsi, keyakinan mendasar atau
skema dari pola piker dan distorsi pikiran
5) Melakukan identifikasi metode alternatif dalam
menyelesaikan masalah (mis, proses koreksi pikiran)
6) Melakukan identifikasi distorsi pikiran dan pola perilaku
maladptif spesifik disetiap situasi
7) Memonitor pikiran yang dialami (mis, kejadian spesifik
yang mengakibatkan masalah emosional)
8) Memonitor kemampuan yang telah dilatih

18
9) Menciptakan hubungan terapetutik dan kolaboratif
(pasien- perawat) yang aktif
10) Melakukan pengamatan pemantauan terhadap pikiran
dan perilaku
11) Memberikan penugasan aktifitas di rumah dalam
proses terapi
12) Mengarahkan pikiran keliru menjadi sistematis
13) Menjelaskan strategi dan proses terapi pikiran perilaku

14) Melatih keterapilan koping individu

15) Melakukan kolaborasi dalam pemberian terapi (mis


psikofarmaka)

3. Jumat Gangguan komunikasi Promosi Komunikasi: Defisit Bicara


15-01/2020 verbal b.d gangguan
neuromuskuler 1) Memonitor kecepatan, tekanan, kuantitas, volume, dam
diksi bicara
2) Memonitor proses kognitif, anatomis, dan fisiologi yang
berkaitan dengan bicara (mis. memori, pendengaran, dan
bahasa)
3) Memonitor frustasi, marah, depresi, atau hal lain yang
mengganggu bicara
4) Mengidentifikasi perilaku emosional dan fisik sebagai
bentuk komunikasi
5) Menggunakan metode komunikasi alternatif (mis,
menulis, mata berkedip, papan komunikasi dengan gambar
dan huruf, isyarat tangan dan computer)
6) Memodifikasi lingkungan untuk meminimalkan bantuan
7) Mengulangi apa yang disampaikan pasien
8) Memberikan dukungan psikologis
9) Mengajarkan berbicara perlahan
10) Mengajarkan pasien dan keluarga proses kognitif,
anatomis, dan fisiologis yang berhubungan dengan
kemampuan berbicara
11) Melakukan kolaborasi dalam merujuk ke ahli patologi
bicara atau terapis.

4. Jumat Gangguan mutasi diri b.d Biblioterapi


15-01/2020 individu autistic
1) Mengidentifikasi kebutuhan perkembangan dan
situasional emosional, kognitif,
2) Mengidentifikasi kemampuan berbicara
3) Menetapkan tujuan terapi (mis, perubahan emosi,
perkembangan kepribadian, pembelajaran perilaku baru)
4) Memilih literatur (cerita, puisi, artikel, buku novel)
berdasarkan kemampuan membaca atau sesuai dengan
perasaan yang dialami
5) Melakukan diskusi perasaan yang di ungkapkan oleh

19
karakter dalam literatur
6) Memfasilitasi mengenai situasi dalam literatur untuk
melakukan perubahan perilaku
7) Menjelaskan tujuan dan prosedur biblioterapi
8) Menganjurkan membaca dengan suara yang dapat di
dengar, jika perlu
9) Melakukan Konsultasi dengan dokter untuk memilih
literatur yang tepat.

[Link] Keperawatan

No. Hari/Tanggal/ Diagnosa Evaluasi


Jam Keperwatan

1. Senin Gangguan interaksi sosial S:


18-01/2020 b.d hambatan perkembangan Keluarga mengatakan anak mulai merasa nyaman dengan
lingkungannya

O:
1. Tidak mau menatap mata
2. Tidak mau bermain dengan teman sebayanya
3. Senang menyendiri

A: Autis
P: Lanjutkan Intervensi

2. Senin Gangguan identitas diri b.d S:


18-01/2020 gangguan neurologis Keluarga mengatakan anak masih sering bingung terhadap
dirinya sendiri

O:
[Link] anak masih belum efektif
2. Anak masih tampak bingung terhadap dirinya sendiri

A: Autis
P: Lanjutkan Intervensi

3. Senin Gangguan komunikasi verbal S:


18-01/2020 b.d gangguan neuromuskuler Keluarga mengatakan anak masih sulit untuk diajak
komunikasi secara langsung

O:
1. Tidak ada kontak mata
2. Sulit memahami komunikasi
3. Sulit mempertahankan komunikasi
4. Sulit menggunakan ekspresi wajah atau tubuh
5. Sulit menyusun kalimat

20
A: Autis

P: Lanjutkan Intervensi

4. Senin Gangguan mutasi diri b.d S:


18-01/2020 individu autistic Keluarga mengatakan emosi anak masih kurang stabil

O:
1. Anak tampak mengamuk
2. Emosi anak tidak stabil
3. Tampak gelisah
4. Perilaku destruktif terhadap diri sendiri dan orang lain

A: Autis

P: Lanjutkan Intervensi

21
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Autis suatu gangguan perkembangan yang sangat kompleks, yang secara klinis ditandai oleh
gejala gejala diantaranya kualitas yang kurang dalam kemampuan interaksi sosial dan
emosional, kualitas yang kumng dalam kemampuan komunikasi timbal balik, dan minat yang
terbatas, perilaku tak wajar, disertai gerakan-gerakan berulang tanpa tujuan (stereotipik).
Selain itu tampak pula adanya respon tak wajar terhadap pengalaman sensorik, yang terlihat
sebelum usia 3 tahun. Sampai saat ini penyebab pasti autis belum diketahui, tetapi beberapa
hal yang dapat memicu adanya perubahan genetika dan kromosom, dianggap sebagai faktor
yang berhubungan dengan kejadian autis pada anak, perkembangan otak yang tidak normal
atau tidak seperti biasanya dapat menyebabkan terjadinya perubahan pada neurotransmitter,
dan akhirnya dapat menyebabkan adanya perubahan perilaku pada penderita. Dalam
kemampuan intelektual anak autis tidak mengalami keterbelakangan, tetapi pada hubungan
sosial dan respon anak terhadap dunia luar, anak sangat kurang. Anak cenderung asik dengan
dunianya sendiri. Dan cenderung suka mengamati hal-hal kecil yang bagi orang lain tidak
menarik, tapi bagi anak autis menjadi sesuatu yang menarik.

Terapi perilaku sangat dibutuhkan untuk melatih anak bisa hidup dengan normal seperti anak
pada umumnya, dan melatih anak untuk bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

A. SARAN

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca khususnya bagi mahasiswa-
mahasiswi keperawatan dapat memahami asuhan keperawatan pada anak autisme dan bagi
orang tua yang memiliki anak autisme.

22
DAFTAR PUSTAKA

PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia Edisi 1 Cetakan III. Jakarta Selatan:
Dewan Pengurus Pusat Persatuan Nasional Indonesia (DPPPNI).

PPNI. (2017). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan: Dewan Pengurus
Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.

PPNL. (2017). Standar Luaran Keperawatan Indonesia Edisi 1 Cetakan II. Jakarta Selatan
Dewan Pengurus Pusat Persatuan Nasional Indonesia (DPPPNI).

23

Anda mungkin juga menyukai