0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan24 halaman

Pengertian dan Jenis Routing Jaringan

Dokumen ini menjelaskan tentang routing, yaitu proses pengiriman data melalui jaringan menggunakan router. Terdapat dua jenis routing, yaitu static dan dynamic, serta dua komponen utama yaitu RIB dan FIB. Selain itu, dokumen ini juga membahas algoritma routing dan perbedaan antara protokol routing seperti RIP dan OSPF.

Diunggah oleh

Sulastri Sulastri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan24 halaman

Pengertian dan Jenis Routing Jaringan

Dokumen ini menjelaskan tentang routing, yaitu proses pengiriman data melalui jaringan menggunakan router. Terdapat dua jenis routing, yaitu static dan dynamic, serta dua komponen utama yaitu RIB dan FIB. Selain itu, dokumen ini juga membahas algoritma routing dan perbedaan antara protokol routing seperti RIP dan OSPF.

Diunggah oleh

Sulastri Sulastri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGERTIAN ROUTING

Posted by Unknown Posted on 5:12:00 PM No comments


Networking ID

Assalamualaikum. Wr. Wb.

Kembali lagi di tutorial saya. di perjumpaan kali ini saya tidak membahas tentang tutorial, tapi saya akan
membuat sedikit tulisan atau artikel yang membahas tentang ROUTING.
Mungkin sobat semua sudah pernah tahu tenang apa itu routing. Tapi, biar lebih jelas saya akan
membahasnya disini.

Langsung ke TKP saja.


ROTING merupakan proses pengiriman data maupun informasi dengan meneruskan paket data yang
dikirim dari jaringan satu ke jaringan lainnya melalui internetwork device (router).

Berikut ini beberapa alasan mengapa harus menggunakan routing :


– Ketika jaringan local sudah mulai komplek.
– Saat kita menginginkan pemantauan dan pengolahan jaringan yang lebih baik.
– Lebih aman (firewall filtering lebih mudah dan lengkap).
– Trafik broadcast hanya terkoneksi di setiap subnet/jaringan.
– Koneksi jaringan antar IP public
– Koneksi antar WAN (Wide Area Network)

Routing ada 2 jenis :


– Routing Static
Merupakan jenis routing yang dilakukan secara manual. Routing jenis ini melakukan konfigurasinya satu
per satu, misal, menentukan jalur terbaik untuk sampai ke tujuan.
– Routing Dynamic
Merupakan jenis routing yang konfigurasinya otomatis. Routing jenis ini hanya melakukan sedikit
konfigurasi pada router, selanjutnya router-router tersebut akan mencari route dan gateway terbaik dari
semua jaringan yang terhubung.

Routing Static Routing Dynamic

Berfungsi pada protocol IP Berfungsi ada inter-routing protocol

Router tidak dapat membagi informasi Router membagi informasi routing secara
routing otomatis

Routing table dibuat dan di hapir secara Routing table dibuat dan dihapus secara
menual otomatis

Terdapat routing protocol, seperti RIP dan


Tidak menggunakan routinf protocol OSPF

Microsoft mendukung multihomed system Microsoft mendukung RIP untuk IP dan


seperti router IPX/SPX

ROUTING memiliki 2 komponen, diantaranya :


– RIB (routing information base)
Atau juga sering disebut table routing. RIB berisi daftar rute ke jaringan tertentu dan juga berisi metric
(nilai/prioritas) dari masing-masing rute.
Fungsi RIB :

 Menyaring informasi routing dari semua jenis routing protocol.


 Mengkalkulasi dan memilih jalur terbaik ke jaringan tertentu.
 Mendistribusikan informasi routing ke routing protocol lain.
Untuk table RIB bisa dilihat di menu IP > Routes > Routes List
– FIB (Forwarding Information Base)

 FIB merupakan hasil olahan dari RIB yang telah tersaring


 Merupakan informasi routing yang disimpan dalam cache
 Secara default (bila tidak ada ‘routing mark’ yang digunakan) semua rute aktif aka nada pada tabel
routing utama (main)
 Hanya ada satu rule implicit yang tersembunyi (rule ‘catch all’) yang menggunakan tabel utama untuk
semua pencarian routing
Oke sob, sampai disini dulu sedikit ulasan mengenai ROUTING. Terimakasih sudah mampir di artikel
saya kali ini. Semoga bermanfaat bagi sobat semua.
CARA MEMBUAT STATIC ROUTE / ROUTING
STATIS DI MIKROTIK
Posted by Unknown Posted on 5:14:00 PM 2 comments
Networking ID

Assalamualaikum. Wr. Wb.

Di artikel sebelumnya sudah saya jelaskan tentang pengertian routing, jenis – jenis, dan komponen
routing. Di tutorial saya kali ini saya akan menjelaskan bagaimana konfigurasi routing static di mikrotik.

Untuk lebih jelasnya, langsung ke TKP.


Misal :
IP R1 pada ether2 = [Link]/24
IP R2 pada ether2 = [Link]/24
IP R1 dari AP = [Link]/24
IP R2 dari AP = [Link]/24

– Topologinya seperti berikut.

– Router1 > AP-bridge


– Router2 > Station
– Tambahkan routing static baru pada menu IP > routes > add

– Setting pada router1


Tambahkan routing static baru, menu IP > routes, pada R1
Dst-address = [Link]/24
Gateway = [Link]
– Setting pada router2
Tambahkan routing static baru, menu IP > routes, pada R1
Dst-address = [Link]/24
Gateway = [Link]
– Lakukan tes PING antar pc

Oke sob, sekian dulu tutorial tentang routing static. Dilanjut di tutorial selanjutnya ya sob, terimakasih
sudah mampir.
Selamat mencoba dan semoga bermanfaat

Wassalamualaikum. Wr. Wb.


PENGERTIAN ROUTING DAN CARA KERJA
Apa itu Routing ???

Routing merupakan proses pencarian path atau alur guna memindahkan informasi dari
host sumber (source address) ke host tujuan (destinations address) melalui koneksi
internetwork.

Router menyaring (filter) lalu lintas data. Penyaringan dilakukan bukan dengan melihat
alamat paket data, tetapi dengan menggunakan protokol tertentu. Router muncul untuk
menangani perlunya membagi jaringan secara logikal bukan fisikal. Sebuah IP router bisa
membagi jaringan menjadi beberapa subnet sehingga hanya lalu lintas yang ditujukan untuk IP
address tertentu yang bisa mengalir dari satu segmen ke segmen lain. Kita akan menggunakan
router ketika akan menghubungkan jaringan komputer ke jaringan lain, baik jaringan pribadi
(LAN/WAN) atau jaringan publik (Internet).
Diperlukan adanya router untuk melakukan routing di dalam jaringan, dimana router
membutuhkan informasi-informasi sebagai berikut:
 Alamat Tujuan/Destination Address - Tujuan atau alamat item yang akan dirouting
 Mengenal sumber informasi - Dari mana sumber (router lain) yang dapat dipelajari oleh
router dan memberikan jalur sampai ke tujuan.
 Menemukan rute - Rute atau jalur mana yang mungkin diambil sampai ke tujuan.
 Pemilihan rute - Rute yang terbaik yang diambil untuk sampai ke tujuan.
 Menjaga informasi routing - Suatu cara untuk menjaga jalur sampai ke tujuan yang
sudah diketahui dan paling sering dilalui.
Analogi :
Misalkan kita berada pada persimpangan jalan, mungkin kita akan merasa bingung jika
tidak ada petunjuk jalan, di setiap persimpangan jalan (router) seharusnya ada petunjuk jalan
supaya orang tidak bingung dan tersesat. Untuk jalan yang rumit dan berputar-putar tidaklah
cukup jika menggunakan static routing. Tentunya kita akan merasa bingung jika disetiap
persimpangan kita harus bertanya pada orang apalagi kepada orang yang tidak tahu. Oleh
karena itu disini diperlukan dinamic routing, analoginya seperti ada polisi yang membawa HT
dan memberikan jalur mana saja yang bisa dilewati. Polisi akan selalu koordinasi beberapa kali
sehari, agar jika ada jalan yang macet, ada tabrakan, ada pohon rubuh, polisi akan segera
meng-update petunjuk jalan yang lain.
Biasanya polisi yang bertingkat rendah akan memakai HT yang kita sebut sebagai RIP,
yang memiliki jarak paling jauh 30 hop (simpangan). Polisi yang berada pada tempat yang
ramai bisa menggunakan isis atau ospf, biasanya sudah membawa HP maupun PDA jadi akan
lebih pintar dan cepat untuk melakukan update. Polisi tingkat dunia biasanya memiliki kantor
pada persimpangan dan sudah mempunyai peralatan pengacak jaringan seluruh dunia, ini
disebut BGP.
Ada dua bagian routing paket IP :
a. Bagaimana meneruskan paket dari interface input ke interface output pada suatu router (“IP
forwarding”) ?
 Paket biasanya diteruskan (forwarding) kesejumlah router sebelum mencapai host tujuan
 IP forwarding dilaksanakan atas dasar hop-by-hop yaitu tidak ada yang tau rute yang lengkap.
Tujuan forwarding adalah membawa paket IP lebih dekat ke tujuan
b. Bagaimana mencari dan men-setup rute (“Routing algorithm”) ?

Algoritma Routing IP
Protokol routing membentuk suatu tabel routing yang digunakan untuk menyeleksi jalur
yang akan digunakan. Didalam tabel routing terdapat suatu alamat tujuan paket data dan hop
yaitu suatu router yang akan dituju setelah router tersebut.
Konsep berikut sangatlah penting untuk memahami routing pada jaringan IP:
– Autonomous system
– Interdomain vs. intradomain routing
– Distance vector vs. link state routing algorithms

Autonomous System (AS)

Suatu autonomous system adalah bagian logical dari jaringan IP yang besar, biasanya
dimiliki oleh sebuah organisasi jaringan dan diadministrasikan oleh sebuah management resmi.
Setiap router dapat berkomunikasi dengan router yang lain dalam satu autonomous system.
Contoh dari autonomous region adalah:
– Internet Service Provider Regional
– Jaringan kampus ITB
Di dalam autonomous system, routing dilaksanakan secara:
a. Intradomain Routing yaitu dalam autonomous system
b. Interdomain Routing yaitu antara autonomous system
Perbedaan Intradomain Routing dan Interdomain Routing
Intradomain Routing Interdomain Routing

Routing di dalam suatu AS Routing antara AS


Protokol untuk Intradomain routing juga Protokol untuk interdomain routing
disebut Interior Gateway Protocol / IGP disebut Exterior Gateway Protocol/EGP
Protokol yang populer Protokol routing:
RIP (sederhana, lama)  EGP
OSPF (lebih baik)
 BGP (lebih baru)

Mengabaikan Internet di luar AS Mengasumsikan Internet terdiri dari


sekumpulan interkoneksi AS

Algoritma-Algoritma Routing (Pada Internet)

Perbedaan mendasar antara distance vector dan link state adalah:


a. Distance Vector hanya memiliki informasi routing dari router tetangganya, sedangkan Link
State memiliki informasi routing dari setiap node yang ada.
b. Untuk mendapatkan lintasan/rute yang terbaik, Distance Vector menggunakan Algoritma
Bellman-Ford, sedangkan Link State menggunakan Algoritma Djikstra.

Distance Vector
Pembentukan tabel routing pada Distance Vector dilakukan dengan cara tiap-tiap router
atau PC router akan saling bertukar informasi routing dengan router atau PC router yang
terhubung langsung. Proses pertukaran informasi routing dilakukan secara periodik, misal tiap 30
detik.
Proses pembentukan tabel pada protokol routing yang menggunakan konsep distance
vector adalah sebagai berikut :
1. Mula-mula tabel routing yang dimiliki oleh masing-masing router atau PC router akan berisi
informasi alamat jaringan yang terhubung langsung dengan router atau PC router tersebut.
2. Secara periodik masing-masing router atau PC router akan saling bertukar informasi sehingga isi
tabel routing dari semua router terisi lengkap (converged).

Routing Information Protocol (RIP)


Routing protokol yang menggunakan algoritma distance vector, yaitu algortima Bellman-
Ford. Pertama kali dikenalkan pada tahun 1969 dan merupakan algoritma routing yang pertama
pada ARPANET. Versi awal dari routing protokol ini dibuat oleh Xerox Parc’s PARC Universal
Packet Internetworking dengan nama Gateway Internet Protocol. Kemudian diganti nama
menjadi Router Information Protocol (RIP) yang merupakan bagian Xerox network Services.
RIP yang merupakan routing protokol dengan algoritma distance vector, yang
menghitung jumlah hop (count hop) sebagai routing metric. Jumlah maksimum dari hop yang
diperbolehkan adalah 15 hop. Tiap RIP router saling tukar informasi routing tiap 30 detik,
melalui UDP port 520. Untuk menghindari loop routing, digunakan teknik split horizon with
poison reverse. RIP merupakan routing protocol yang paling mudah untuk di konfigurasi.
RIP memiliki 3 versi yaitu :
a. RIPv1
b. RIPv2
c. RIPng

Link State
Protokol routing yang menggunakan konsep link state akan membentuk tabel routing
menurut pandangan atau perhitungan router atau PC router masing-masing, tidak bergantung
pada pendapat router atau PC router tetangga.
Tabel routing yang dibentuk dengan menggunakan konsep link state dilakukan melalui
beberapa tahapan sebagai berikut :
1. Pada awalnya setiap router atau PC router akan saling mengirimkan dan melewatkan paket link
state.
2. Paket link state yang diterima dari router atau PC router lain dikumpulkan dalam sebuah
database topologi.
3. Berdasarkan informasi yang terkumpul di dalam database, router atau PC router melakukan
perhitungan dengan mengggunakan algoritma short path first (SPF).
4. Algoritma SPF menghasilkan short path first tree.
5. Akhirnya SPF Tree membentuk daftar isi tabel routing.
Kelima proses di atas dilakukan oleh masing-masing router atau PC router. Jika terjadi
perubahan topologi jaringan, pemberitahuannya akan dikirimkan segera ke tiap-tiap router atau
PC router sehingga proses update informasi routing dapat segera dilakukan.
Open Shortest Path First (OSPF)

OSPF merupakan routing protocol berbasis link state, termasuk dalam interior Gateway
Protocol (IGP). Menggunakan algoritma Dijkstra untuk menghitung shortest path first (SPF).
Menggunakan cost sebagai routing metric. Setelah antar router bertukar informasi maka akan
terbentuk database link state pada masing-masing router.
OSPF mungkin merupakan IGP yang paling banyak digunakan. Menggunakan metode
MD5 untuk autentikasi antar router sebelum menerima Link-state Advertisement (LSA). Dari
awal OSPF sudah mendukung CIDR dan VLSM, berbeda dengan RIP. Bahkan untuk OSPFv3
sudah mendukung untuk IPv6. OSPF tidak menggunakan TCP atau UDP melainkan IP protocol
89.
OSPF memiliki 3 table di dalam router :
1. Routing table
Routing table biasa juga disebut sebagai Forwarding database. Database ini berisi the lowest cost
untuk mencapai router-router/network-network lainnya. Setiap router mempunyai Routing table
yang berbeda-beda.
2. Adjecency database
Database ini berisi semua router tetangganya. Setiap router mempunyai Adjecency database yang
berbeda-beda.
3. Topological database
Database ini berisi seluruh informasi tentang router yang berada dalam satu networknya/areanya.
Keuntungan dari OSPF adalah:
1. OSPF menggunakan pembagian jaringan berdasarkan konsep area-area
2. Konsep jaringannya yang hirarki, sehingga membuat proses update informasinya lebih
termanajemen dengan baik
3. Adanya Convergence, dimana router akan menerima informasi dari router lain yang bertindak
sebagai tetangganya, sehingga pada akhirnya seluruh informasi yang ada dalam sebuah jaringan
dapat diketahui oleh semua router yang ada dalam jaringan
4. Sistem update informasi routing yang cukup teratur
5. OSPF menghemat penggunaan bandwitdh jaringan
6. OSPF menggunakan cost sebagai metric
Metriks Routing
 Metriks Routing terdiri dari :
a. Hop count, berdasarkan pada banyaknya router atau PC router yang dilewati
b. Ticks, berdasarkan waktu yang diperlukan dengan satuan waktu ticks
c. Cost , berdasarkan perbandingan sebuah nilai patokan standard dengan bandwidth yang tersedia
d. Composite metric, berdasarkan hasil perhitungan dari parameter-parameter berikut :
- Bandwidth
- Delay
- Load
- Reliability
- MTU (Maximum Transmit Unit)
 Metriks Routing pada OSPF adalah menggunakan Cost
 Metriks Routing pada RIP adalah menggunakan banyaknya lompatan (hop count)

I. SCENARIO
Initialize the Network:
1. Atur direktori model ke dalam folder anda dan Buatlah new project dengan campus scale.
2. Dialog Box Object Palette akan langsung tampil pada saat anda membuka project
workspace. Jika tidak tampil maka pilih menu Topology  Open Object
[Link] Routers item dari pull down menu di Object Palette. Lalu
tambahkanslip8_gtwy pada project workspace dengan cara klik icon yang dituju pada object
palette, lalu klik pada project workspace. Kita akan tetap bisa menambah object selama kita klik
kiri pada mouse. Buat 8 buah routers sesuai dengan gambar 1. Jika sudah selesai untuk
menambah object tersebut, cukup dengan klik kanan.
3. Selanjutnya pilih internet toolbox item dari pull down menu di object palette. Gunakan
bidirectional PPP_DS3 links untuk menghubungkan antar routers yang sudah kita buat
sebelumnya. Ubah nama dari setiap routers seperti gambar 1.
4. Untuk memberi nama label pada link, kita dapat gunakan Topology Open annotation Palette,
pilih gambar “T” lalu isi sesuai yang diminta oleh gambar di bawah. Setelah itu save annotation
palette tersebut. Pilih pada link yang dimaksud.
5. Tutup window Object Palette lalu Save project Anda.
Gambar 1. OSPF Scenario
Configure the Link Costs:
1. Kita perlu untuk menentukan link costs, dapat diterapkan pada Gambar 1.
2. Seperti kebanyakan routers komersial yang lain, model router pada OPNET
memerlukan reference bandwidth untuk menghitung cost yang sebenarnya, formulanya sebagai
berikut :
Cost = (Reference bandwidth) / (Link bandwidth)
Dimana nilai default untuk Reference bandwith adalah 1.000.000 Kbps.
3. Sebagai contoh, untuk menentukan link bandwith pada cost yang bernilai 5, maka dapat
dihitung sebagai berikut :
Link Bandwidth = Reference Bandwidth / Cost = 1.000.000 Kbps / 5
= 200.000 Kbps
Note: ini bukanlah bandwidth dari link yang sesungguhnya, tetapi hanya sebuah parameter yang
digunakan untuk konfigurasi cost link.
4. Untuk menentukan cost pada link di jaringan kita, lakukan langkah berikut ini :
a) Pilih semua link pada jaringan anda dengan menekan tombol Shift, ambil kasus untuk cost yang
bernilai 5.
b) Pilih Protocols  IP  Routing  Configure Interfaces metric information.
c) Tentukan nilai field Bandwidth (Kbps) dengan 200000  CheckInterfaces across selected
links  OK
Dapat dilihat pada gambar 2.
Gambar 2. Configure link cost
5. Ulangi Langkah nomor 4 untuk semua link.
6. Save project Anda.

Configure the Traffic Demands:


1. Pilih Router A dan Router F dengan menekan tombol shift
i. Pilih Protocols  IP  Demands  Create Traffic Demands Check From Router A  warna
tetap biru  Create
Gambar 3. Create Traffic Demands

Sekarang akan terlihat garis blue-dotted yang merepresentasikan traffic demandantara Router A
dan Router F.

Gambar 4. Traffic Demand


2. Untuk menyembunyikan garis blue-dotted ini : View  Demand Object  Hide All
3. Save project Anda.

Configure the Routing Protocol and Addresses:


1. Pilih Protocols  IP  Routing  Configure Routing Protocols.
2. Check OSPF check box  Uncheck RIP  Uncheck Visualize Routing Domains check
box  OK, dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Routing Protocol Configuration

3. Pilih hanya Router A  Protocols  IP  Routing  Export Routing Table for Selected
Routers  OK pada status confirmed.
4. Pilih Protocols  IP  Addressing  Auto Assign IP Addresses.
5. Save project Anda.

Configure the Simulation


1. Pilih Simulation  Configure Discrete Event Simulation, atau tekan tombol
2. Set field Duration dengan nilai 10.0 minutes.
3. Click Run dan Save project Anda.
4. Untuk menampilkan traffic demand antara Router A dan Router F,
pilih Protocols IP  Demands  Display Routes for Configured Demands  Expand hirarki
dan pilih “Router A Router F”. Untuk menampilkan lihat kolomDisplay lalu ubah
menjadi Yes  Close.

Gambar 6. Route Report For IP Traffic Flows

Gambar 7. Path antara router A dan router F


6 Jenis-Jenis Routing Protocol Jaringan Komputer
written by Teddy

Routing protocol adalah protokol dalam jaringan komputer yang digunakan untuk membroadcast
dan mempelajari jaringan yang terhubung dan mempelajari rute (network path) yang tersedia.
Dengan routing protocol, router yang berbeda bisa saling bertukar informasi antara satu router
dengan router lain dan mendapat rute routing paling efisien ke tujuan.

Jenis-jenis routing protocol pun beragam, diantaranya: OSPF, RIP, BGP, IGRP, EIGRP, dan IS-
IS. Bisa dibilang, semua protokol tersebut termasuk ke dalam routing dinamis. Seperti apa
perbedaan dari tiap protokol tersebut? Pada artikel kali ini, kami akan membahasnya untuk
Anda. Agar Anda paham, coba simak pembahasan kami sebelumnya seputar fungsi routing table
pada router agar Anda paham maksud dari artikel kali ini.
1. RIP (Routing Information Protocol)
RIP adalah protokol yang memberikan informasi routing table berdasarkan router yang
terhubung langsung. Kemudian, router selanjutnya akan memberikan informasi ke router
selanjutnya yang terhubung langsung dengan router tersebut. Adapun informasi yang diberikan
dalam protokol RIP adalah: host, network, subnet, dan route default.

Protokol ini menggunakan algoritma “distance vector”. Metric yang dilakukan pada protokol ini
berdasarkan hop count untuk pemilihan jalur terbaik. Jika hop count lebih dari 15, maka paket
datagram akan dibuang dan tidak diteruskan. Update routing table pada protokol ini akan
dilakukan secara broadcast setiap 30 detik.

Macam-macam routing protokol RIP ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
 RIPv1 (RIP versi 1)
 Hanya mendukung routing class-full
 Tidak ada info subnet yang dimasukkan dalam data perbaikan routing
 Tidak mendukung VLSM (Variabel Length Subnet Mask)
 Adanya fitur perbaikan routing broadcast
 RIPv2 (RIP versi 2)
 mendukung routing class-full dan class-less
 info subnet dimasukkan dalam data perbaikan routing
 mendukung VLSM (Variabel Length Subnet Mask)
 ada fitur perbaikan routing multicast
Secara umum, RIPv2 tidak berbeda jauh dengan RIPv1. Perbedaan yang ada terlihat pada
informasi yang diberikan antar router. Pada RIPv2, informasi yang dipertukarkan terdapat
autentifikasi. Persamaan RIPv2 lainnya dengan RIPv1, yaitu:

 Distance Vector Routing Protocol


 Metric berupa hop count
 Max hop count adalah 15
 Menggunakan port 520
 Menjalankan auto summary secara default
Sedangkan perbedaan RIPv2 dengan RIPv1 sebagai berikut:

 RIPv2 bersifat class-less routing protocol, yang artinya RIPv2 menyertakan field SM dalam
paket update yang dikirimkan sehingga RIPv2 dapat mendukung VLSM & CIDR
 Mengirimkan paket update & menerima paket update versi 2
 Mengirimkan update ke alamat multicast yaitu [Link]
 Auto Summary dapat dinonaktifkan
 Mendukung fungsi keamanan berupa authentication, yang dapat mencegah routing update
dikirim / diterima dari sumber yang tidak terpercaya
Apa saja kelebihan dari protokol RIP? Berikut ini diantaranya:

 Menggunakan metode “Triggered Update”.


 Memiliki timer untuk mengetahui kapan router harus kembali memberikan informasi routing.
 Jika terjadi perubahan pada jaringan, sementara waktu pada timer belum habis, router tetap harus
mengirimkan informasi routing karena dipicu oleh perubahan tersebut (triggered update).
 Mengatur routing menggunakan RIP tidak rumit dan memberikan hasil yang cukup dapat
diterima, terlebih jika jarang terjadi kegagalan link pada jaringan.
Sedangkan, berikut ini adalah kekurangan dari RIP:

 Jumlah host yang terbatas.


 Ketika pertama kali dijalankan, RIP hanya mengetahui cara routing ke dirinya sendiri (informasi
lokal / localhost) dan tidak mengetahui topologi jaringan tempatnya berada.
2. IGRP (Interior Gateway Routing Protocol)
IGRP adalah sebuah routing protocol yang dikembangkan oleh Cisco Systems Inc. pada
pertengahan tahun 1980-an. Tujuan penciptaan IGRP adalah untuk menyediakan protokol yang
kuat untuk routing dalam sistem otonomi. IGRP memiliki hop maksimum 255, tetapi default dari
protokolnya sendiri adalah 100. IGRP menggunakan bandwidth dan garis menunda secara
default untuk menentukan rute terbaik dalam sebuah interkoneksi (Composite Metric, yang
terdiri atas bandwidth, load, delay dan reliability). Protokol ini menggunakan algoritma “distance
vector”. Update routing pada protokol ini dilakukan secara broadcast setiap 90 detik.

Pada IGRP, routing dilakukan secara matematik berdasarkan jarak. Oleh karena itu, sistem IGRP
sudah mempertimbangkan beberapa hal sebelum mengambil keputusan jalur mana yang akan
ditempuh. Adapun hal yang harus diperhatikan tersebut adalah: load, delay, bandwitdh,
realibility. Karena protocol ini diciptakan oleh Cisco, maka di dalam kumpulan perintah dasar
Cisco terdapat perintah untuk mengatur protokol ini.
Berikut ini adalah kelebihan dari protokol IGRP:

 Mendukung sampai 255 hop count


Dan berikut ini adalah kekurangan dari protokol IGRP:

 Jumlah host yang terbatas


 Hanya bisa diterapkan pada router Cisco
3. OSPF (Open Short Path First)
OSPF adalah sebuah routing protocol standar terbuka yang telah diaplikasikan oleh sejumlah
vendor jaringan dan dijelaskan di RFC 2328. Protokol ini cocok diterapkan pada jaringan yang
memiliki router yang berbeda-beda. COntohnya, jika jaringan komputer Anda memiliki banyak
router, dan tidak semuanya adalah router Cisco, maka Anda tidak dapat menggunakan IGRP. jadi
pilihan Anda tinggal RIP v1, RIP v2, atau OSPF. Jika jaringan yang dikelola adalah jaringan
besar, maka OSPF adalah pilihan protokol satu-satunya agar semua router tersebut bisa
melakukan routing.

OSPF bekerja dengan sebuah algoritma “link-state” yang disebut algoritma Dijkstra / SPF. Cara
kerja dari protokol ini adalah: Pertama, sebuah “pohon” dengan jalur terpendek akan dibangun.
Kemudian, routing table akan diisi dengan jalur-jalur terbaik yang dihasilkan dari “pohon”
tersebut. OSPF hanya mendukung routing IP saja. Update routing table pada protokol ini
dilakukan secara floaded saat terjadi perubahan topologi jaringan. Bisa dibilang, OSPF ini adalah
route redistribution, yaitu sebuah layanan penerjemah antar routing protocol.

Berikut ini adalah kelebihan dari protokol OSPF:

 Tidak menghasilkan routing loop


 mendukung penggunaan beberapa metrik sekaligus
 bisa menghasilkan banyak jalur ke sebuah tujuan membagi jaringan yang besar mejadi beberapa
area
 Waktu yang diperlukan untuk konvergen lebih cepat.
 dapat diterapkan di semua router merek apapun
Sedangkan berikut ini adalah kekurangan dari protokol OSPF:

 Membutuhkan basis data yang besar.


 Lebih rumit
4. EIGRP (Enhanced Interior Gateway Routing Protocol)
Protokol ini menggunakan algoritma “advanced distance vector” dan menggunakan “cost load
balancing” yang tidak sama. Algoritma yang dipakai adalah kombinasi antara “distance vector”
dan “link-state”, serta menggunakan Diffusing Update Algorithm (DUAL) untuk menghitung
jalur terpendek.

Distance vector protocol merawat satu set metric yang kompleks untuk jarak tempuh ke jaringan
lainnya. Broadcast-broadcast EIGRP di-update setiap 90 detik ke semua router EIGRP yang
berdekatan. Setiap update hanya memasukkan perubahan jaringan. EIGRP sangat cocok untuk
diterapkan pada jaringan komputer yang besar. IGRP dan EIGRP sama-sama sudah
mempertimbangkan masalah bandwitdh yang ada dan delay yang terjadi.

Apa saja sih kelebihan EIGRP? Ini dia diantaranya:

 Melakukan konvergensi secara tepat ketika menghindari loop.


 Memerlukan lebih sedikit memori dan proses.
 Adanya fitur “loop avoidance”
Dan berikut ini adalah kekurangan dari EIGRP:

 Hanya dapat digunakan untuk Router Cisco


5. BGP (Border Gateway Protocol)
Sebagai routing protocol, BGP memiliki kemampuan untuk melakukan pengumpulan rute,
pertukaran rute dan menentukan rute terbaik menuju ke sebuah lokasi dalam sebuah jaringan.
Namun yang membedakan BGP dengan routing protocol lain adalah BGP termasuk ke dalam
kategori routing protocol jenis Exterior Gateway Protocol (EGP).

Update informasi pada protokol ini akan dikirim melalui koneksi TCP. Protokol ini biasa
digunakan sebagai koneksi antara ISP dengan ISP dan atau antara client dengan client lainnya.
Dalam implementasinya, protokol ini digunakan untuk membuat rute dalam trafik internet di
antara autonomous system.

Kelebihan dari protokol BGP ini adalah instalasi yang sangat sederhana. Sedangkan, kekurangan
dari protokol ini adalah keterbatasan dalam mempergunakan topologi jaringan.

6. Intermediate System-to-Intermediate System (IS-IS)


IS-IS adalah protokol digunakan pada perangkat jaringan komputer yang berguna untuk
menentukan jalur terbaik bagi datagram ketika diarahkan ke tujuan. Lebih lengkapnya
didefinisikan dalam ISO / IEC 10589 2002 dalam desain referensi OSI.

Sekian artikel kami kali ini seputar jenis-jenis routing protocol. Semoga artikel kami ini dapat
menambah pengetahuan Anda seputar jaringan komputer. Jika Anda hendak mencari tahu lebih
mengenai jaringan komputer, Anda bisa menyimak macam-macam protokol jaringan komputer
yang pernah kami bahas sebelumnya.
Pengertian Routing Protocol dan Macam-macamnya - Lengkap
Mahasiswa Akhir 21:30

A. Pengertian Routing protokol


Routing protokol adalah berbeda dengan router protokol. Routing protokol adalah
komunikasi antara router. Routing protokol mengijinkan router untuk sharing informasi tentang
jaringan dan koneksi antar router. Router menggunakan informasi ini untuk membangun dan
memperbaiki tabel routingnya. Ada beberapa dynamic routing untuk IP.
Protokol ini didesain untuk mendistribusikan informasi yang secara dinamis mengikuti
perubahan kondisi jaringan. Protokol routing mengatasi situasi routing yang kompleks secara
cepat dan akurat. Protokol routing didesain tidak hanya untuk mengubah ke rute backup bila rute
utama tidak berhasil, namun juga didesain untuk menentukan rute mana yang terbaik untuk
mencapai tujuan tersebut. Pengisian dan pemeliharaan tabel routing tidak dilakukan secara
manual oleh admin. Router saling bertukar informasi routing agar dapat mengetahui alamat
tujuan dan menerima tabel routing. Pemeliharaan jalur dilakukan oleh Routing Dynamic.

B. Macam – macam Protokol pada Routing Dinamis


Macam-macam protokol dynamic routing adalah :
1. RIP (Routing Information Protocol)
– menggunakan algoritma distance vector
– Routing protokol distance vector
– Metric berdasarkan hop count untuk pemilihan jalur terbaik
– Jika hop count lebih dari 15, paket dibuang
– Update routing dilakukan secara broadcast setiap 30 detik

RIP merupakan routing protokol yang memberikan routing table berdasarkan router
yang terhubung langsung, Kemudian router selanjutnya akan memberikan informasi router
selanjutnya yang terhubung langsung dengan itu. Adapun informasi yang dipertukarkan
oleh RIP yaitu : Host, network, subnet, rute default. RIP terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
a. RIPv1 (RIP versi 1)
– Hanya mendukung routing classfull
– Tidak ada info subnet yang dimasukkan dalam perbaikan routing
– Tidak mendukung VLSM (Variabel Length Subnet Mask)
– Perbaikan routing broadcast
Routing Information protocol versi 1 mempunyai karakteristik:
1. Distance Vector Routing Protocol.
2. Menggunakan metric yaitu hop count
3. Maximum hop count adalah 15. 16 dianggap sebagai unreachable
4. Mengirimkan update secara periodic setiap 30 sec
5. Mengirimkan update secara broadcast ke [Link]
6. Mendukung 4 path Load Balancing secara default maximumnya adalah 6
7. Menjalankan auto summary secara default
8. Paket update RIP yang dikirimkan bejenis UDP dengan nomor port 520
9. Bisa mengirimkan paket update RIP v.1 dan bisa menerima paket update RIP v.1 dan v.2
10. Berjenis classful routing protocol sehingga tidak menyertakan subject mask dalam paket
[Link] RIP v.1 11. tidak mendukung VLSM dan CIDR.
11. Mempunyai AD 120

b. RIPv2 (RIP versi 2)


– Mendukung routing classfull dan routing classless
– Info subnet dimasukkan dalam perbaikan routing
– Mendukung VLSM (Variabel Length Subnet Mask)
– Perbaikan routing multicast
Secara umum RIPv2 tidak jauh berbeda dengan RIPv1. Perbedaan yang ada terlihat
pada informasi yang ditukarkan antar router. Pada RIPv2 informasi yang dipertukarkan
yaitu terdapat autenfikasi pada RIPv2 ini.

Persamaan RIP v2 dengan RIP v1 :


– Distance Vector Routing Protocol
– Metric berupa hop count
– Max hop count adalah 15
– Menggunakan port 520
– Menjalankan auto summary secara default
Perbedaan RIP v2 dengan RIP v.1 :
– Bersifat classless routing protocol, artinya menyertakan field SM dalam paket update
yang dikirimkan sehingga RIP v.2 mendukung VLSM & CIDR
– Mengirimkan paket update & menerima paket update versi 2
– Mengirimkan update ke alamat multicast yaitu [Link]
– Auto Summary dapat dimatikan
– Mendukung fungsi keamanan berupa authenticationyang dapat mencegah routing update
dikirim atauditerima dari sumber yang tidak dipercaya
2. IGRP (Interior Gateway Routing Protocol)
– Menggunakan algoritma distance vector
– Protokol routing distance vector
– Menggunakan composite metric yang terdiri atas bandwidth, load, delay dan reliability
– Update routing dilakukan secara broadcast setiap 90 detik
Interior Gateway Routing Protocol (IGRP) adalah sebuah routing protocol berpemilik
yang dikembangkan pada pertengahan tahun 1980-an oleh Cisco Systems, Inc Cisco
tujuan utama dalam menciptakan IGRP adalah untuk menyediakan protokol yang kuat
untuk routing dalam sistem otonomi (AS). IGRP memiliki hop maksimum 255, tetapi
defaultnya adalah 100. IGRP menggunakan bandwidth dan garis menunda secara default
untuk menentukan rute terbaik dalam sebuah internetwork (Composite Metrik).
Pada IGRP ini routing dilakukan secara matematik berdasarkan jarak. Untuk itu pada
IGRP ini sudah mempertimbangkan hal berikut sebelum mengambil keputusan jalur mana
yang akan ditempuh. Adapun hal yang harus diperhatikan: load, delay, bandwitdh,
realibility.

3. OSPF (Open Short Path First)


– Menggunakan algoritma link-state
– Protokol routing link-state
– Merupakan open standard protokol routing yang dijelaskan di RFC 2328
– Menggunakan algoritma SPF untuk menghitung cost terendah
– Update routing dilakukan secara floaded saat terjadi perubahan topologi jaringan
OSPF adalah sebuah protocol standar terbuka yang telah dimplementasikan oleh
sejumlah vendor jaringan. Jika Anda memiliki banyak router, dan tidak semuanya adalah
cisco, maka Anda tidak dapat menggunakan EIGRP, jadi pilihan Anda tinggal RIP v1, RIP
v2, atau OSPF. Jika itu adalah jaringan besar, maka pilihan Anda satu-satunya hanya
OSPF atau sesuatu yang disebut route redistribution – sebuah layanan penerjemah antar –
routing protocol.
OSPF bekerja dengan sebuah algoritma yang disebut algoritma Dijkstra. Pertama
sebuah pohon jalur terpendek (shortest path tree) akan dibangun, dan kemudian routing
table akan diisi dengan jalur-jalur terbaik yang dihasilkan dari pohon tersebut. OSPF hanya
mendukung routing IP saja.
4. EIGRP (Enhanced Interior Gateway Routing Protocol)
– Menggunakan algoritma advanced distance vector
– Menggunakan protokol routing enhanced distance vector
– Menggunakan cost load balancing yang tidak sama
– Menggunakan algoritma kombinasi antara distance vector dan link-state
– Menggunakan Diffusing Update Algorithm (DUAL) untuk menghitung jalur terpendek
Distance vector protocol merawat satu set metric yang kompleks untuk jarak tempuh ke
jaringan lainnya. EIGRP menggabungkan juga konsep link state protocol. Broadcast-
broadcast di-update setiap 90 detik ke semua EIGRP router berdekatan. Setiap update
hanya memasukkan perubahan jaringan. EIGRP sangat cocok untuk jaringan besar.
Pada EIGRP ini terdapat dua tipe routing protokol yaitu dengan distance vektor dan
dengan Link state. IGRP dan EIGRP sama-sama sudah mempertimbangkan masalah
bandwitdh yang ada dan delay yang terjadi.

5. BGP (Border Gateway Protocol)


– menggunakan algoritma distance vector
– Menggunakan routing protokol distance vector
– Digunakan antara ISP dengan ISP dan client-client
– Digunakan untuk merutekan trafik internet antar autonomous system

BGP merupakan salah satu jenis routing protocol yang ada di dunia komunikasi data.
Sebagai sebuah routing protocol, BGP memiliki kemampuan melakukan pengumpulan rute,
pertukaran rute dan menentukan rute terbaik menuju ke sebuah lokasi dalam jaringan.
Routing protocol juga pasti dilengkapi dengan algoritma yang pintar dalam mencari jalan
terbaik. Namun yang membedakan BGP dengan routing protocol lain seperti misalnya
OSPF dan IS-IS ialah, BGP termasuk dalam kategori routing protocol jenis Exterior
Gateway Protocol (EGP). BGP merupakan distance vector exterior gateway protocol yang
bekerja secara cerdas untuk merawat path-path ke jaringan lainnya. Update – update
dikirim melalui koneksi TCP.

Anda mungkin juga menyukai