BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 Pengertian Pendidikan
Menurut Sutrisno (2016: 29), pendidikan merupakan aktivitas yang
bertautan, dan meliputi berbagai unsur yang berhubungan erat antara unsur satu
dengan unsur yang lain.
H. Mangun Budiyanto sebagaimana dikutip oleh Kurniawan (2017: 27),
“berpendapat bahwa pendidikan adalah mempersiapkan dan menumbuhkan anak
didik atau individu menusia yang proses berlangsung secara terus-menerus sejak
ia lahir sampai ia meninggal dunia”.
Menurut Kurniawan (2017: 26), pendidikan adalah mengalihkan nilai-
nilai, pengetahuan, pengalaman dan ketrampilan kepada generasi muda sebagai
usaha
7
8
generasi tua dalam menyiapkan fungsi hidup generasi selanjutnya, baik
jasmani maupun rohani.
Menurut Trahati (2015: 11), pendidikan adalah kegiatan yang dilakukan
manusia secara sadar dan terprogram guna membangun personalitas yang baik
dan mengembangkan kemampuan atau bakat yang ada pada diri individu manusia
agar mencapai tujuan atau target tertentu dalam menjalani hidup.
Sebuah lembaga pendidikan baik penyelenggara maupun pelaksana
pendidikan harus melakukan usaha yang baik untuk dapat memberikan pelayanan
mutu agar lembaga pendidikan dapat memenuhi Standar Nasional Pendidikan atau
bahkan melebihi Standar Nasional Pendidikan sesuai mutu yang sudah ditentukan
oleh pemerintah. Hal ini bertujuan untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu
dan lembaga pendidikan beserta semua komponennya yang memiliki budaya
mutu sehingga dapat mewujudkan peserta didik yang memiliki kompetensi tinggi
pada sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan maupun keterampilan. Keempat
kompetensi ini ditegaskan dan dirumuskan oleh BSNP berupa profil lulusan
dengan mengacu pada tujuan pendidikan yang ada dalam Undang Undang Sistem
Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003. Profil lulusan tersebut adalah 1)
Beriman, bertakwa dan berakhlak mulia, 2) Cinta tanah air, bangsa dan negara, 3)
Demokratis dan bertanggungjawab, 4) Cakap dan berilmu, 5) Kritis, kreatif,
inovatif dan produktif, 6) Sehat lahir dan bathin, dan 7) Mampu menjadi warga
dunia Imam Prihadiyoko, Profil Lulusan(2019).
9
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan
merupakan modal yang sangat penting untuk menjalani kehidupan bermasyarakat.
Pendidikan di Indonesia kita dapat banyak pengetahuan seperti pengetahuan
pendidikan menyiapkan dan membekali generasi muda ilmu pengetahuan,
pengalaman dan kemampuan dalam entang moral, agama, kedisiplinan.
Pendidikan Indonesia pengembangan pikiran sebagian besar dilakukan di sekolah
melalui bidang studi yang dipelajari dengan cara pemecahan soal-soal, pemecahan
berbagai masalah, menganalisis sesuatu serta menyimpulkannya.
[Link] Fungsi Pendidikan
Berdasarkan UU No. 2 Tahun 1985 yang berbunyi bahwa tujuan edukasi
yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan insan yang seutuhnya
yakni yang beriman dan bertakwa untuk Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi
pekerti luhur, mempunyai pengetahuan dan keterampilan, kesehatan fisik dan
rohani, jati diri yang mantap dan berdikari serta rasa tanggung jawab
kemasyarakatan bangsa.
Berdasarkan MPRS No. 2 Tahun 1960 bahwa destinasi pendidikan ialah
membentuk pancasilais sejati menurut ketentuan-ketentuan yang dikehendaki oleh
pendahuluan UUD 1945 dan isi UUD 945.
Tujuan Pendidikan Nasional dalam UUD 1945 (versi Amandemen) 1)
Pasal 31, ayat 3 menuliskan, “Pemerintah mengusahakan dan mengadakan satu
sistem edukasi nasional, yang menambah keimanan dan ketakwaan serta ahlak
mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang ditata dengan undang-
10
undang.” 2) Pasal 31, ayat 5 menuliskan, “Pemerintah memajukan ilmu
pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan
persatuan bangsa untuk peradaban peradaban serta kesejahteraan umat manusia.”
Tujuan Pendidikan Berdasarkan keterangan dari Unesco Dalam upaya
menambah kualitas sebuah bangsa, tidak ada teknik lain kecuali melewati
peningkatan bobot pendidikan. Berangkat dari pemikiran itu, Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) melewati lembaga UNESCO (United Nations, Educational,
Scientific and Cultural Organization) mempermaklumkan empat pilar edukasi
baik guna masa kini maupun masa depan, yakni: (1) learning to Know, (2)
learning to do (3) learning to be, dan (4) learning to live together. Dimana
keempat pilar edukasi tersebut menggabungkan tujuan-tujuan IQ, EQ dan SQ.
Menurut seorang pakar, David Popenoe, pendidikan memiliki fungsi-
fungsi yang berhubungan dengan perkembangan resepsi sosial seseorang seperti
sumber inovasi sosial, sarana pengajaran tentang adanya berbagai corak dan kultur
kepribadian, transmisi kebudayaan, menjamin integrasi sosial dan memilih serta
mengajarkan berbagai peranan dalam kehidupan sosial. Diharapkan pada
kemudian hari seseorang dapat menjadi pribadi yang peka akan kehidupan sosial
di sekitarnya. ([Link]
ahli/)
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan bertujuan
untuk mencerdaskan kehidupan bangsa mengembangkan potensi peserta didik
supaya menjadi pribadi yang beriman dan bertakwa untuk Tuhan Yang Maha Esa,
11
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi penduduk
negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
[Link] Jenis – jenis pendidikan
Menurut Undang-undang Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 pasal 1
ayat 9, Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan
tujuan pendidikan suatu satuan pendidikan.10 Menurut Tirtarahardja dan La Sulo
jalur pendidikan adalah sebagai berikut:
1. Pendidikan Umum
Pendidikan umum adalah pendidikan yang mengutamakan perluasan
pengetahuan dan keterampilan peserta didik dengan pengkhususan yang
diwujudkan pada tingkat-tingkat akhir masa pendidikan. Pendidikan
umum berfungsi sebagai acuan umum bagi jenis pendidikan lainnya.
Yang termasuk pendidikan umum adalah SD, SMP, SMA, dan
universitas.
2. Pendidikan Kejuruan
Pendidikan kejuruan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta
didik untuk dapat bekerja pada bidang pekerjaan tertentu, seperti bidang
teknik, jasa boga, dan busana, perhotelan, kerajinan, administrasi
perkantoran dan lain-lain. Lembaga pendidikannya seperti, STM,
SMTK, SMIP, SMIK, SMEA.
3. Pendidikan Luar Biasa
12
Pendidikan luar biasa merupakan pendidikan khusus yang
diselenggarakan untuk peserta didik yang menyandang kelainan fisik
dan/atau mental. Yang termasuk pendidikan luar biasa adalah SDLB
(Sekolah Dasar Luar Biasa) untuk jenjang pendidikan menengah
masing-masing memiliki program khusus yaitu program untuk anak
tuna netra, tuna rangu, dan tuna daksa serta tunagrahita. Untuk
pengadaan gurunya disediakan SGPLB (Sekolah Guru Pendidikan Luar
Biasa) setara dengan Diploma III.
4. Pendidikan Kedinasan
Pendidikan kedinasan merupakan pendidikan khusus yang
diselenggarakan untuk meningkatkan kemampuan dalam pelaksanaan
tugas kedinasan bagi calon pegawai atau calon pegawai suatu
departemen pemerintah atau lembaga pemerintah nondepartemen.
Pendidikan kedinasan terdiri dari pendidikan tingkat menengah dan
pendidikan tingkat tinggi. Yang termasuk pendidikan tingkat menengah
seperti SPK (Sekolah Perawat Kesehatan), dan yang termasuk
pendidikan tingkat tinggi seperti APDN (Akademi Pemerintah Dalam
Negeri).
5. Pendidikan Keagamaan
Pendidikan keagamaan merupakan pendidikan khusus yang
mempersiapkan peserta didik untuk dapat melaksanakan peranan yang
menuntut penguasaan pengetahuan khusus tentang ajaran agama.
Pendidikan keagamaan dapat terdiri dari tingkat pendidikan dasar,
13
tingkat pendidikan menengah, dan tingkat pendidikan tinggi. Yang
termasuk tingkat pendidikan dasar misalnya madrasah ibtidaiyah,
tingkat pendidikan menengah seperti tsanawiyah, PGAN (Pendidikan
Guru Agama Negeri) dan yang tingkat pendidikan tinggi seperti
Sekolah theoliga, IAIN (Institut Agama Islam Negeri ), dan IHD
(Institut Hindu Dharma).
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan
merupakan kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan pendidikan, yang
bisa dipilih oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhan atau keminatan.
2.1.2 Pengertian Layanan
Layanan merupakan kegiatan yang ditawarkan oleh penyedia jasa kepada
konsumen, bisa berupa benda dan objek lainnya, hal ini ditulis oleh Lovelock dan
Wirtz (2011:37) yang menyatakan Layanan adalah kegiatan ekonomi yang
ditawarkan oleh salah satu pihak kepada pihak lain. Seringkali berbasis waktu,
kinerja membawa hasil yang diingkan ke penerima, benda atau asset lainnya
adalah tanggung jawab pembeli.
Menurut Sunyoto (2012) terdapat beberapa pengertian jasa di antaranya
adalah jasa itu sebagai deeds (tindakan, prosedur, aktivitas); proses – proses, dan
unjuk kerja yang yang intangible. Jasa dari sisi penjualan dan konsumsi secara
kontras dengan barang: baranng adalah suatu objek yang tangible yang dapat
diciptakan dan dijual atau digunakan setelah selang waktu tertentu.
14
Menurut Lewis dan Booms (1983) yang dikutip oleh Tjiptono (2011:180)
kualitas jasa sebagai ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan
mampu sesuai dengan ekspetasi konsumen. Berdasarkan definisi ini, kualitas
layanan ditentukan oleh kemampuan perusahaan memenuhi kebutuhan dan
keinginan konsumen sesuai dengan ekspetasi konsumen.
Tjiptono dalam Sunyoto (2012) mengatakan bahwa kualitas atau mutu
dalam industri jasa pelayanan adalah suatu penyajian produk atau jasa sesuai
ukuran yang berlaku di tempat produk tersebut diadakan dan penyampaiannya
setidaknya sama dengan yang diingkan dan diharapkan oleh konsumen.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa layanan merupakan
kemampuan sebuat instansi memenuhi kebutuhan atau keinginan konsumen sesuai
dengan yang diinginkan oleh konsumen.
[Link] Manfaat kualitas layanan
Kualitas pelayanan memberikan suatu dorongan kepada pelanggan untuk
menjalin hubungan yang kuat dengan perusahaan/suatu usaha. Dalam jangka
waktu yang panjang ikatan seperti ini memungkinkan perusahaan/suatu usaha
untuk memahami harapan serta kebutuhan pelanggan. Kebutuhan yang sesuai
dengan rasa dan nilai subjekif pelanggan. Dalam jangka waktu yang panjang
perusahaan akan tetap bertahan hidup dalam menghadapi persaingan bisnis yang
mengglobal adalah perusahaan yang terus melakukan perbaikan dalam kegiatan
pelayanan, operasional jasa atau inovasi produk untuk selalu meningkatkan
15
kualitas. (Nina Rahmayanty, Manajemen Pelayanan Prima, ( Yogyakarta: Graha
Ilmu), h. 12.)
Menurut Utami (2015) Ada hubungan antara kualitas pelayanan dengan
loyalitas melalui kepuasan pelanggan. Kualitas pelayanan yang baik dapat
menimbulkan kepuasan. Apabila pelayanan yang diterima atau dirasakan
pelanggan sesuai atau bahkan melebihi harapan pelanggan, maka pelayanan
tersebut dianggap berkualitas dan memuaskan. Bila kepuasan sudah timbul, maka
akan terbentuk loyalitas pelanggan.
Kualitas layanan memiliki hubungan yang sangat erat dengan kepuasan
pelanggan, kualitas layanan memberikan suatu dorongan khusus bagi para
anggota untuk menjalin hubungan kerja sama yang saling menguntungkan dalam
jangka panjang. Dalam jangka panjang ikatan seperti ini memungkinkan
konsumen untuk memahami dengan seksama harapan anggota serta kebutuhan
mereka.
Dari pengertian tersebut bahwa kualitas itu menunjuk pada pengertian
standar atau persyaratan tertentu, kualitas merupakan upaya untuk melakukan
perbaikan serta terus menerus dalam pemenuhan kebutuhan pelanggan sehingga
dapat memuaskan pelanggan.
[Link] Ciri – ciri pelayanan yang baik
Pelayanan yang baik memiliki dua faktor pendukung, yang pertama ialah
faktor dari manusia yang memberikan pelayanan tersebut, yang dalam
pelayanannya petugas harus memliki kemampuan yang cepat dan tepat dalam
16
pelayanannya, dan yang kedua ialah faktor sarana dan prasarana yang mendukung
kecepatan, ketepatan, dan keakuratan pekerjaan. Dan pada akhirnya sarana dan
prasarana yang dimiliki haruslah dioprasikan oleh manusia yang berkualitas pula.
Jadi tentunya kedua faktor tersebut menjadi penunjang satu sama lainnya.
Dalam prakteknya, pelayanan yang baik memiliki ciri ciri tersendiri.
Berikut ini beberapa ciri pelayanan yang baik yang harus diikuti karyawan yang
bertugas melayani pelanggan atau nasabah :
1. Tersedianya karyawan yang baik
2. Tersedianya sarana dan prasarana yang baik
3. Bertanggung jawab kepada setiap konsumen dari awal hingga selesai
4. Mampu berkomunikasi dengan baik
5. Memberikan jaminan kerahasian setiap transaksi
6. Memiliki pengetahuan dan kemampuan yang baik
7. Berusaha memahami kebutuhan nasabah
8. Mampu memberikan kepercayaan terhadap konsumen Ibid(223-225)
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa ciri – ciri pelayanan
yang baik mempunyai dua faktor penting yaitu orang yang memberikan pelayanan
dan sarana dan prasarana selain itu dalam prakteknya mempunyai delapan aspek
memenuhi kebutuhan atau keinginan konsumen sesuai dengan yang diinginkan
oleh konsumen.
[Link] Tujuan pelayanan
17
Dalam memberikan sebuah pelayanan kepada konsumen, tentu sebuah
perusahaan mempunyai tujuan dari pemberian pelayanan tersebut. Tujuan
pelayaaan yang berkualitas adalah sebagai berikut :
1. Untuk menumbuhkan kepercayaan konsumen terhadap produk atau jasa
yang ditawarkan.
2. Untuk menghindari terjadinya tuntutan-tuntutan dari konsumen.
3. Untuk menciptakan kepercayaan dan kepuasan konsumen.
4. Untuk menjaga agar konsumen merasa diperhatikan segala
kebutuhannya.
5. Untuk mempertahankan konsumen.
Pelayanan konsumen yang maksimal dan baik menunjukkan seberapa
besar atau seberapa bagusnya kualitas dan mutu tersebut di mata
konsumen. Pelayanan yang baik dan tanggap akan memberikan nilai
positif atau memberikan citra yang bagus di mata konsumen. Apalagi
jika setiap konsumen ditangani dengan prima dan bagus. (Ibid. h. 13.)
[Link] Bentuk layanan
Pelayanan dapat dikategorikan dalam tiga bentuk yaitu: layanan dengan
lisan, layanan dengan tulisan, layanan dengan perbuatan.
1. Layanan dengan lisan
Layanan dengan lisan dilakukan oleh petugas-petugas dibidang
hubungan masyarakat (humas), bidang layanan informasi dan bidang-
18
bidang lain yang tugasnya memberikan penjelasan atau keterangan
kepada siapapun yang memerlukan.
2. Layanan dengan tulisan
Layanan dengan tulisan merupakan bentuk layanan yang paling
menonjol dalam pelaksanaan tugas. Tidak hanya dari segi jumlah tetapi
juga dari segi peranannya. Pada dasarnya pelayanan melalui tulisan
tulisan cukup efisien terutama layanan jarak jauh karena faktor biaya.
Agar layanan dalam bentuk tulisan dapat memuaskan pihak yang
dilayani, satu hal yang dapat diperhatikan adalah faktor kecepatan, baik
dalam pengolahan masalah maupun proses penyelesaiannya,
(pengetikannya, penandatanganannya, dan pengiriman kepada yang
bersangkutan).
3. Layanan dengan perbuatan
Dilakukan oleh sebagian besar kalangan menegah dan bawah. Karena
itu faktor keahlian dan keterampilan petugas tersebut sangat menetukan
hasil perbuatan atau pekerjaan.
( [Link] [Link] )
2.1.3 Standar Nasional Pendidikan
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Bahwa pendidikan di
Indonesia membutuhkan standar nasional yang memerlukan penyesuaian
terhadap dinamika dan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, serta
kehidupan masyarakat untuk kepentingan peningkatan mutu pendidikan menjadi
19
pertimbangan pertama terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 57 tahun 2021
tentang Standar Pendidikan Nasional.
Standar Nasional Pendidikan mencakup :
1 Standar Kompetensi Lulusan
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 4
1. Standar kompetensi lulusan merupakan kriteria minimal tentang
kesatuan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang menunjukkan
capaian kemampuan Peserta Didik dari hasil pembelajarannya pada
akhir Jenjang Pendidikan.
2. Standar kompetensi lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dirumuskan berdasarkan:
1 tujuan Pendidikan nasional
2 tingkat perkembangan Peserta Didik
3 kerangka kualifikasi nasional Indonesia
4 jalur, jenjang, dan jenis Pendidikan.
3. Standar kompetensi lulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
digunakan sebagai pedoman dalam penentuan kelulusan Peserta Didik
dari Satuan Pendidikan.
4. Standar kompetensi lulusan digunakan sebagai acuan dalam
pengembangan:
1 standar isi
2 standar proses
3 standar penilaian Pendidikan
20
4 standar tenaga kependidikan
5 standar sarana dan prasarana
6 standar pengelolaan;
7 standar pembiayaan.
5. Ketercapaian standar kompetensi lulusan ditentukan berdasarkan data
komprehensif mengenai Peserta Didik yang diperoleh secara
berkesinambungan selama periode pembelajaran.
6. Penggunaan standar kompetensi lulusan sebagai pedoman dalam
penentuan kelulusan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dikecualikan
bagi pendidikan anak usia dini
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 5 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
1. Standar kompetensi lulusan pada pendidikan anak usia dini
merupakan standar tingkat pencapaian perkembangan anak usia dini.
2. Standar tingkat pencapaian perkembangan anak usia dini
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) difokuskan pada aspek
perkembangan anak yang mencakup:
1. nilai agama dan moral
2. fisik motorik
3. Kognitif
4. Bahasa
5. sosial emosional.
21
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 6 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
1. Standar kompetensi lulusan pada Satuan Pendidikan Jenjang
Pendidikan dasar difokuskan pada penanaman karakter yang sesuai
dengan nilai-nilai Pancasila serta kompetensi literasi dan numerasi
Peserta Didik.
2. Standar kompetensi lulusan pada Satuan Pendidikan Jenjang
Pendidikan menengah umum difokuskan pada pengetahuan untuk
meningkatkan kompetensi Peserta Didik agar dapat hidup mandiri
dan mengikuti Pendidikan lebih lanjut.
3. Standar kompetensi lulusan pada Satuan Pendidikan Jenjang
Pendidikan menengah kejuruan difokuskan pada keterampilan untuk
meningkatkan kompetensi Peserta Didik agar dapat hidup mandiri
dan mengikuti Pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.
4. Standar kompetensi lulusan pada Satuan Pendidikan Jenjang
Pendidikan tinggi difokuskan pada persiapan Peserta Didik menjadi
anggota masyarakat yang berakhlak mulia, memiliki pengetahLlan,
keterampilan, kemandirian, dan sikap untuk menemukan,
mengembangkan, serta menerapkan ilmu pengetahLlan, teknologi,
dan seni, yang bermanfaat bagi kemanusiaan.
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 7 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
22
1. Ketentuan lebih lanjut mengenai standar kompetensi lulusan diatur
dengan Peraturan Menteri.
2 Standar Isi
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 8 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
1. Standar isi merupakan kriteria minimal yang mencakup rLrang
lingkup materi untuk mencapai kompetensi lulusan pada jalur,
jenjang, dan jenis Pendidikan tertentu.
2. Ruang lingkup materi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
merupakan bahan kajian dalam muatan pembelajaran.
3. Ruang lingkup materi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dirumuskan berdasarkan:
1 muatan wajib sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan
2 konsep keilmuan
3 jalur, jenjang, dan jenis Pendidikan.
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 9 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
1. Ketentuan lebih lanjut mengenai standar isi diatur dengan Peraturan
Menteri.
3 Standar Proses
23
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 10 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
1. Standar proses merupakan kriteria minimal proses pembelajaran
berdasarkan jalur, jenjang, dan jenis Pendidikan untuk mencapai
standar kompetensi lulusan.
2. Standar proses sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
1. perencanaan pembelajaran
2. pelaksanaan pembelajaran
3. penilaian proses pembelajaran.
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 11 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
1. Perencanaan pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10
ayat (2) huruf a merupakan aktivitas untuk merumuskan:
1. capaian pembelajaran yang menjadi tujuan belajar dari suatu unit
pembelajaran
2. cara untuk mencapai tujuan belajar
3. cara menilai ketercapaian tujuan belajar
2. Perencanaan pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan oleh pendidik.
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 12 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
24
1. Pelaksanaan pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10
ayat (2) huruf b diselenggarakan dalam suasana belajar yang:
1. Interaktif
2. Inspiratif
3. Menyenangkan
4. Menantang
5. memotivasi Peserta Didik untuk berpartisipasi aktif
6. memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas,
kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik,
serta psikologis Peserta Didik.
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 13 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
1. Penilaian proses pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal
10 ayat (2) huruf c merupakan asesmen terhadap perencanaan dan
pelaksanaan pembelajaran.
2. Penilaian proses pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan oleh pendidik yang bersangkutan.
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 14 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
1. Dalam rangka meningkatkan kualitas proses pembelaj aran1,
penilaian proses pembelajaran selain dilaksanakan oleh pendidik
25
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2) dapat dilaksanakan
oleh:
1. sesama pendidik
2. kepala Satuan Pendidikan
3. Peserta Didik.
2. Penilaian proses pembelajaran oleh sesama pendidik sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf a merupakan asesmen oleh sesama
pendidik atas perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran yang
dilakukan oleh pendidik yang bersangkutan.
3. Penilaian proses pembelajaran oleh kepala Satuan Pendidikan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b merupakan asesmen
oleh kepala Satuan Pendidikan pada Satuan Pendidikan tempat
pendidik yang bersangkutan atas perencanaan dan pelaksanaan
pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik yang bersangkutan.
4. Penilaian proses pembelajaran oleh Peserta Didik sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) huruf c merupakan asesmen oleh Peserta
Didik yang diajar langsung oleh pendidik yang bersangkutan atas
pelaksanaan pembelajaran yang dilakukannya.
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 15 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
1. Ketentuan lebih lanjut mengenai standar proses diatur dengan
Peraturan Menteri.
4 Standar Penilaian Pendidikan
26
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 16 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
1. Standar penilaian Pendidikan merupakan kriteria minimal mengenai
mekanisme penilaian hasil belajar Peserta Didik.
2. Mekanisme sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan
prosedur dalam melakukan penilaian yang meliputi:
1. perumusan tujuan penilaian
2. pemilihan dan/atau pengembangan instrumen penilaian
3. pelaksanaan penilaian
4. pengolahan hasil penilaian
5. pelaporan hasil penilaian.
3. Penilaian hasil belajar Peserta Didik sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan sesuai dengan tujuan penilaian secara berkeadilan,
objektif, dan edukatif.
4. Penilaian hasil belajar Peserta Didik sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan oleh pendidik.
5. Penilaian hasil belajar Peserta Didik sebagaimana dimaksud pada ayat
(41berbentuk:
1. penilaian formatif
2. penilaian sumatif.
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 17 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
27
1. Penilaian formatif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (5)
huruf a bertujuan untuk memantau dan memperbaiki proses
pembelajaran serta mengevaluasi pencapaian tujuan pembelajaran.
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 18 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
1. Penilaian sumatif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (5)
huruf b pada Jenjang Pendidikan dasar dan Jenjang Pendidikan
menengah bertujuan untuk menilai pencapaian hasil belajar Peserta
Didik sebagai dasar penentuan:
1. kenaikan kelas; dan
2. kelulusan dari Satuan Pendidikan.
2. Penilaian hasil belajar Peserta Didik untuk penentuan kelulusan dari
Satuan Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b
dilakukan melalui mekanisme yang ditentukan oleh Satuan
Pendidikan dengan mengacu pada standar kompetensi lulusan.
3. Penilaian sumatif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (5)
huruf b pada Jenjang Pendidikan tinggi bertujuan untuk menilai
pencapaian hasil belajar Peserta Didik sebagai dasar penentuan:
1. kelulusan dari mata kuliah
2. kelulusan dari program studi.
4. Penilaian hasil belajar Peserta Didik sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 16 pada Jenjang Pendidikan tinggi diatur lebih lanjut oleh
28
masing-masing perguruan tinggi sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 19 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
1. Ketentuan lebih lanjut mengenai standar penilaian Pendidikan diatur
dengan Peraturan Menteri.
5 Standar Tenaga Kependidikan
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 20 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
1. Standar pendidik merupakan kriteria minimal kompetensi dan
kualifikasi yang dimiliki pendidik untuk melaksanakan tugas dan
fungsi sebagai teladan, perancang pembelaj arar7, fasilitator, d"r,
motivator Peserta Didik.
2. Kriteria minimal kompetensi pendidik sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian,
kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.
3. Kriteria minimal kualifikasi pendidik sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) merupakan kualifikasi akademik minimal yang harus
dipenuhi oleh pendidik yang dibuktikan dengan:
1. ijazah
29
2. Ijazah dan sertifikat keahlian.
4. Kriteria minimal kualifikasi pendidik sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) meliputi:
1. sarjana untuk pendidik pada pendidikan anak usia dini jalur formal,
dan pendidik pada Jenjang Pendidikan dasar dan menengah jalur
formal
2. magister atau magister terapan untuk pendidik pada Jenjang
Pendidikan tinggi program diploma dan sarjana
3. doktor atau doktor terapan untuk pendidik pada Jenjang Pendidikan
tinggi program magister dan doktor
4. magister atau magister terapan berpengalaman kerja minimal 2
(dua) tahun yang relevan dengan program studi untuk pendidik pada
pendidikan profesi.
5. Kriteria minimal kualifikasi pendidik sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) pada pendidikan nonformal diatur oleh Menteri.
6. Dalam hal Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah belum dapat
memenuhi kebutuhan pendidik, maka kualifikasi pendidik
sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dapat dipenuhi melalui uji
kelayakan dan uji kesetaraan.
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 21 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
30
1. Ketentuan lebih lanjut mengenai standar pendidik bagi pendidik
selain yang mengajar muatan agama diatur dengan Peraturan
Menteri.
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 22 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
1. Ketentuan lebih lanjut mengenai standar pendidik bagi pendidik
yang mengajar muatan agama diatur dengan Peraturan Menteri
setelah berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan
urusan pemerintahan di bidang agama.
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 23 Tentang Tenaga
Kependidikan Selain Pendidik Standar Nasional Pendidikan
1. Standar tenaga kependidikan selain pendidik merupakan kriteria
minimal kompetensi yang dimiliki tenaga kependidikan selain
pendidik sesuai dengan tugas dan fungsi dalam melaksanakan
administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan
pelayanan teknis untuk menunjang proses Pendidikan pada Satuan
Pendidikan.
2. Kompetensi tenaga kependidikan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) meliputi kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan
kompetensi profesional untuk menunjang proses Pendidikan pada
Satuan Pendidik
31
3. Tenaga kependidikan selain pendidik sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) jumlah dan jenisnya disesuaikan dengan kebutuhan
pengelolaan dan penyelenggaraan di Satuan Pendidikan.
PP 57 Tahun 2021 Pasal 24 Tentang Tenaga Kependidikan Selain
Pendidik Standar Nasional Pendidikan
1. Ketentuan lebih lanjut mengenai standar tenaga kependidikan selain
pendidik diatur dengan Peraturan Menteri.
6 Standar Sarana dan Prasarana
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 25 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
1. Standar sarana dan prasarana merupakan kriteria minimal sarana dan
prasarana yang harus tersedia pada Satuan Pendidikan dalam
penyelenggaraan Pendidikan.
2. Sarana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan segala
sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dan perlengkapan dalam
mencapai tujuan pembelajaran.
3. Prasarana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan fasilitas
dasar yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi Satuan Pendidikan.
4. Standar sarana dan prasarana sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
ditentukan dengan prinsip:
1. menunjang penyelenggaraan pembelajaran yang aktif, kreatif,
kolaboratif, menyenangkan, dan efektif;
2. menjamin keamanan, kesehatan, dan keselamatan;
32
3. ramah terhadap penyandang disabilitas; dan
4. ramah terhadap kelestarian lingkungan.
5. Sarana dan prasarana sebagaimana dimaksud pada ayat (21 dan ayat
(3) harus tersedia pada Satuan Pendidikan dan disesuaikan dengan
kebutuhan pada setiap jalur, jenjang, dan jenis Pendidikan.
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 26 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
1. Ketentuan lebih lanjut mengenai standar sarana dan prasarana diatur
dengan Peraturan Menteri
7 Standar Pengelolaan
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 27 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
1. Standar pengelolaan merupakan kriteria minimal mengenai
perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan
yang dilaksanakan oleh Satuan Pendidikan agar penyelenggaraan
Pendidikan efisien dan efektif.
2. Perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan Pendidikan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada pendidikan anak usia dini
dan Jenjang Pendidikan dasar dan menengah menerapkan
manajemen berbasis sekolah yang ditunjukkan dengan kemandirian,
kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas.
33
3. Perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan Pendidikan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pada Jenjang Pendidikan tinggi
menerapkan otonomi perguruan tinggi sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 28 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
1. Perencanaan kegiatan Pendidikan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 27 bertujuan untuk peningkatan kualitas proses dan hasil
belajar secara berkelanjutan berdasarkan evaluasi diri Satuan
Pendidikan.
2. Perencanaan kegiatan Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dituangkan dalam rencana kerja jangka pendek dan rencana kerja
jangka menengah.
3. Rencana kerja jangka pendek sebagaimana dimaksud pada ayat (21
merupakan rencana kerja tahunan sebagai penjabaran rinci dari
rencana kerja jangka menengah Satuan Pendidikan.
4. Rencana kerja jangka menengah sebagaimana dimaksud pada ayat
(2) dan ayat (3) merupakan perencanaan kegiatan Pendidikan yang
disusun untuk periode 4 (empat) tahun.
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 29 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
34
1. Pelaksanaan kegiatan Pendidikan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 27 merupakan tindakan untuk menggerakkan dan
menggunakan seluruh sumber daya yang tersedia di Satuan
Pendidikan, dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran sesuai
dengan perencanaan yang telah ditetapkan.
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 30 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
1. Pengawasan kegiatan Pendidikan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 27 merupakan kegiatan pemantauan, supervisi, serta evaluasi
secara berkala dan berkesinambungan.
2. Pengawasan kegiatan Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) bertujuan untuk memastikan pelaksanaan Pendidikan yang
transparan dan akuntabel serta peningkatan kualitas proses dan hasil
belajar secara berkelanjutan.
3. Pengawasan kegiatan Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilaksanakan oleh:
1. kepala Satuan Pendidikan;
2. pemimpin perguruan tinggi;
3. komite sekolah/madrasah;
4. Pemerintah Pusat; dan/atau
5. Pemerintah Daerah, sesuai dengan ketentuan peraturan
perundangundangan.
35
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 31 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
1. Ketentuan lebih lanjut mengenai standar pengelolaan diatur dengan
Peraturan Menteri.
8 Standar Pembiayaan
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 32 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
1. Standar pembiayaan merupakan kriteria minimal mengenai
komponen pembiayaan Pendidikan pada Satuan Pendidikan.
2. Pembiayaan Pendidikan terdiri atas:
1. biaya investasi; dan
2. biaya operasional.
3. Biaya investasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a
meliputi komponen biaya:
1. investasi lahan;
2. penyediaan sarana dan prasarana;
3. penyediaan dan pengembangan sumber daya manusia; dan
4. modal kerja tetap.
4. Biaya operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (21huruf b
meliputi komponen biaya:
1. personalia; dan
2. nonpersonalia.
36
Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 Pasal 33 Tentang Standar
Nasional Pendidikan
1. Ketentuan lebih lanjut mengenai standar pembiayaan diatur dengan
Peraturan Menteri.
Pemerintah baik kabupaten/kota, provinsi, dan pusat bertanggung jawab
melakukan supervisi, pengawasan, evaluasi, fasilitasi, saran, arahan, dan
bimbingan kepada satuan pendidikan. Penyelenggara satuan pendidikan memiliki
kewajiban memfasilitasi secara penuh suatu penyelenggaran pendidikan agar
standar dapat terpenuhi Fattah (2012: 1)
Sedangkan Lie (2014: 137-138) yang menyatakan bahwa di dalam standar
tersebut dipaparkan secara jelas dan transparan pendidikan berkualitas yang ingin
diwujudkan agar dipahami oleh peserta didik dan sebagai kerangka acuan bagi
guru. Berdasarkan urairan tersebut standarstandar yang ditentukan harus disusun
sedemikian rupa agar mudah dipahami.
UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan
bahwa kurikulum mengandung beberapa komponen meliputi tujuan, isi, bahan
pelajaran, dan cara penyampaian.
Standar Nasional Pendidikan diperlukan dalam rangka meningkatkan mutu
pendidikan. Dengan adanya standar, dua orang guru tidak akan memberikan
penafsiran yang berbeda terhadap kedalaman sebuah kompetensi dasar dalam
kurikulum. Demikian juga dengan proses pembelajaran, guru akan berfokus
pada hasil (output) yang harus dicapai, tidak sekedar memenuhi target
37
administratif yang ada dalam petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis. Adanya
standar atau hasil yang harus dicapai, juga dapat meningkatkan komponen input
dan proses pembelajaran yang dilaksanakan akan lebih efektif sehingga hasilnya
lebih optimal karena pembelajaran lebih terfokus. Menurut Mulyasa (2008:19)
dengan adanya Standar Nasional Pendidikan diharapkan terjadi berbagai
perubahan dalam sistem dan layanan pendidikan yang mengarah pada kondisi
sebagai berikut: 1) Meningkatkan prestasi peserta didik dengan menentukan
secara jelas tentang apa yang harus diajarkan dan jenis performa apa yang
diharapkan; 2) Menyamakan peluang, baik secara nasional, regional, maupun
lokal; 3) Menyediakan fungsi koordinasi yang dapat diamati; 4) Menyediakan
perlindungan pelanggan dengan menyuplai informasi yang akurat untuk peserta
didik dan orang tua; dan 5) Memberikan peran penting untuk peserta didik,
orang tua, guru-guru, dan tenaga kependidikan lainnya. Menyadari pentingnya
Standar Nasional Pendidikan maka setiap satuan pendidikan yang ada di
Indonesia mengacu pada standar tersebut karena Standar Nasional Pendidikan
merupakan batas kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah
hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Standar Nasional Pendidikan
bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa.
Pemenuhan dan penjaminan mutu pendidikan merupakan tanggung jawab
setiap satuan pendidikan. Hal ini tidak akan berjalan jika tanpa adanya budaya
mutu pada seluruh satuan pendidikan tersebut. Dalam Undang-undang Nomor 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan Sistem Pendidikan
38
Nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara
terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, yaitu mengembangkan
kemampuan, serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia di
Indonesia.
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 34 Tahun 2018
menjelaskan bahwa Standar Nasional Pendidikan adalah kriteria minimal tentang
sistem pendidikan pada tingkat Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah
Kejuruan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia agar
tercapai kompetensi lulusan sesuai kebutuhan pengguna lulusan.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan Untuk memudahkan sekolah
dalam memahami bagaimana wujud sekolah yang telah memenuhi Standar
Nasional Pendidikan diperlukan contoh nyata berupa keberadaan Sekolah Standar
Nasional. Sekolah Standar Nasional untuk jenjang SMK, diharapkan dapat
memberikan wujud nyata tentang SMK yang memenuhi Standar Nasional
Pendidikan, dan menjadi acuan atau rujukan sekolah lain dalam pengembangan
sekolah. Sekolah lain sejenis diharapkan bercermin dan memperbaiki diri serta
menjamin terselenggaranya proses pendidikan.
[Link] Fungsi dan Tujuan Standar Nasional Pendidikan
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa ( UU No. 20 Tahun 2003 ).
39
Standar Nasional Pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan,
pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan
nasional yang bermutu dalam PERATURAN PEMERINTAH TENTANG
STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN Pasal 3.
Bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab ( UU No. 20 Tahun 2003 )..
Dikutip dari penelitian Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Sabar Budi
Raharjo dan Tim peneliti (2019) Setiap warga negara mempunyai hak yang
sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Hal tersebut telah
tercantum dalam Pasal 5 Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional. Pemerintah memiliki kewajiban dalam
penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Oleh karena itu, dalam
mewujudkan pendidikan yang bermutu Pemerintah mengeluarkan Peraturan
Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
(SNP) yang kemudian dibentuk pula Badan Standar Nasional Pendidikan
(BNSP) sebagai badan yang menentukan 8 standar dan kriteria pencapaian
penyelenggaraan pendidikan. Adapun standar-standar yang menjadi dasar bagi
penyelenggaraan pendidikan sebagaimana diatur dalam Pasal 2 adalah 1)
Standar Isi, 2) Standar Proses, 3) Standar Kompetensi Lulusan, 4) Standar
Pendidik dan Tenaga Kependidikan, 5) Standar Sarana dan Prasarana, 6)
40
Standar Pengelolaan, 7) Standar Pembiayaan, dan 8) Standar Penilaian
Pendidikan.
Bersadarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa standar nasioanl
pendidikan berfungsi dan bertujuan untuk menjamin mutu pendidikan nasional
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
[Link] Standar Mutu Pendidikan
Ukuran Mutu Pendidikan
1. Kompetensi lulusan. Lulusan wajib menguasai kompetensi dasar esensial
minimal.
2. Kualitas proses pembelajaran di kelas dan proses pendidikan di
lingkungan sekolah
41
3. Dipengaruhi oleh kinerja guru, kualitas dan relevansi isi pendidikan,
sistem penilaian, pengelolaan, sarana dan prasarana, serta pembiyaaan.
pada umumnya para orang tua mengatakan bahwa kenyamanan sekolah itu
merupakan salah satu tolak ukur terbaik, ke dua pihak lain berpendapat bahwa
hasil belajar atau hasil akademik yang menunjukan sekolah tersebut menunjukan
sekolah yang baik karena menurut pendapat ini dari buahnya anda mengenali
mereka, ketiga sebagian orang mengemukakan bahwa ada beberapa ciri atau tolak
ukur yang akan memperlihatkan mutu suatu sekolah. Sudarwan Danim( 2007 h56)
Sedangkan menurut Hari Sudradjad pendidikan yang bermutu adalah
Pendidikan yang mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kemampuan atau
kompotensi, baik kompetensi akademik maupun kompetensi kejuruan, yang
dilandasi oleh kompetensi personal dan sosial, serta nilai-nilai akhlak mulia, yang
keseluruhannya merupakan kecakapan hidup (life skill), pendidikan yang mampu
menghasilkan manusia seutuhnya (manusia paripurna) atau manusia dengan
pribadi yang integral (integrated personality) mereka yang mampu
mengintegralkan iman, ilmu, dan amal Hari Suderadjat (2005:17).
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan standar mutu pendidikan
mengacu pada kompentensi kelulusan, kualitas pembelajaran, dan di pengaruhi
Dipengaruhi oleh kinerja guru, kualitas dan relevansi isi pendidikan, sistem
penilaian, pengelolaan, sarana dan prasarana, serta pembiyaaan.
2.1.4 Pengertian Audit
42
Definisi audit menurut Miller and Bailley dalam Abdul Halim (2015: 3) :
Audit adalah tinjauan metode dan pemeriksaan objektif atas suatu item, termasuk
verifikasi informasi spesifik sebagaimana ditentukan oleh auditor atau ditetapkan
oleh praktik umum, tujuannya untuk menyatakan pendapat atau mencapai
kesimpulan tentang apa yang diaudit.
Menurut Alvin (2011) audit adalah akumulasi dan evaluasi bukti tentang
informasi untuk menentukan melaporkan tingkat kesesuaian antara informasi dan
kriteria yang telah ditetapkan. Audit harus dilakukan oleh seorang yang kompeten
dan independen. Khasharmeh (2002) menemukan bahwa auditor harus dipilih
secara objektif dan tidak berdasarkan hubungan timbal balik antara dewan direksi
dan auditor. Menurut Surat Keputusan Ketua Bapepam dan Lembaga Keuangan
Nomor: Kep-496/BL/ 2008, audit internal adalah suatu kegiatan pemberian
keyakinan (assurance) dan konsultasi yang bersifat independen dan obyektif,
dengan tujuan untuk meningkatkan nilai dan memperbaiki operasional
perusahaan, melalui pendekatan yang sistematis, dengan cara mengevaluasi dan
meningkatkan efektivitas manajemen risiko, pengendalian, dan proses tata kelola
perusahaan.
Menurut Mulyadi (2016:8) audit merupakan Suatu proses sistematik untuk
memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan-
pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk
menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan
kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai
yang berkepentingan, ditinjau dari sudut profesi akuntan publik, audit adalah
43
pemeriksaan secara objektif atas laporan keuangan suatu perusahaan atau
organisasi lain dengan tujuan untuk menentukan apakah laporan keuangan
tersebut menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi
keuangan, dan hasil usaha perusahaan atau organisasi tersebut.
Menurut Agoes (2012:4) Auditing adalah suatu pemeriksaan yang
dilakukan secara kritis dan sistematis, oleh pihak yang independen, terhadap
laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen, beserta catatan-catatan
pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk dapat
memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut.
Menurut Sukrisno Agus (2017:3) Auditing merupakan suatu pemeriksaan
yang dilakukan secara kritis dan sistematis, oleh pihak yang independen, terhadap
laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen, beserta catatan – catatan
pembukuan dan bukti – bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk dapat
memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut.
Secara umum pengertian di atas dapat diartikan bahwa audit adalah proses
yang dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen untuk mengumpulkan
dan mengevaluasi bahan bukti untuk tujuan memberikan pendapat mengenai
kewajaran laporan keuangan tersebut.
[Link] Audit Internal
Menurut Institute of Internal Auditor yang dikutip oleh Arens dkk
(2015:432) dan di alih bahasakan oleh Herman Wibowo, mendefinisikan bahwa :
“Audit internal adalah aktivitas konsultasi dan assurance yang objektif serta
independen yang dirancang untuk menambah nilai dan memperbaiki operasi
44
organisasi. Hal tersebut membantu organisasi untuk mencapai tujuannya dengan
melakukan pendekatan yang sistematis dan berdisplin untuk menevaluasi serta
meningkatkan efektivitas manajemen risiko, pengendalian dan proses tata kelola”.
Menurut Sukrisno Agoes (2017:238) adalah sebagai berikut : “Internal
Audit (pemeriksaan intern) adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh bagian
internal audit perusahaan, terhadap laporan keuangan dan catatan akuntansi
perusahaan maupun ketaatan terhadap kebijakan manajemen puncak yang telah
ditentukan dan ketaatan terhadap peraturan pemerintah dan ketentuan-kententuan
dari ikatan profesi yang berlaku”.
Sekarang ini profesi audit internal terus mengalami perkembangan sesuai
dengan tuntutan berkembangnya dunia usaha dan perekonomian yang menuntut
suatu perusahaan untuk menjalankan operasinya secara professional yang berarti
pemanfaatan sumber daya yang efektif dan efisien sesuai dengan tujuan
perusahaan. Kebutuhan akan fungsi audit internal akan muncul seiring dengan
perkembangan tersebut. Sukrisno Agus (2017:2)
Menurut Mulyadi (2014:28) mendefinisikan Audit Internal adalah auditor
yang bekerja di perusahaan (perusahaan negara ataupun perusahaan swasta) yang
tugas pokoknya menentukan kebijakan dan prosedur yang ditetapkan oleh
manajemen puncak untuk dipatuhi, penjagaan terhadap kekayaan organisasi,
efesiensi dan efektivitas prosedur kegiatan organisasi, serta keandalan informasi
yang dihasilkan oleh berbagai bagian organisasi.
Semakin berkembang suatu badan usaha atau organisasi maka pimpinan
akan sulit dalam mengembangkan dan mengawasi semua kegiatan operasionalnya.
45
Untuk itu keberadaan audit internal sangat diperlukan untuk memperoleh
informasi dan mengetahui dengan pasti bahwa perusahaan yang dipimpinnya telah
berjalan sebagaimana mestinya sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan.
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa audit internal
memiliki fungsi dan tujuan untuk memperkuat efektivitas sistem pengendalian
internal. Sistem pengendalian internal itu sendiri bertujuan untuk memberikan
keyakinan yang memadai atas efektivitas dan efisiensi operasi, keandalan laporan
keuangan, pengamanan aset, serta ketaatan terhadap peraturan.
[Link] Tujuan Audit Internal
Menurut Tugiman yang dikutip oleh Rusdiana dan Aji Saptaji (2018:255)
mengatakan bahwa : “pemeriksaan internal adalah membantu para anggota
organisasi dalam melaksanakan tanggungjawabnya secara efektif. Pemeriksaan
internal melakukan analisis, penilaian dan mengajukan saran-saran. Tujuan
pemeriksaan mencakup pula pengembangan pengawasan yang efektif dengan
biaya yang wajar”.
. Menurut Tugiman (2006:11),”Fungsi audit internal adalah suatu fungsi
penilaian bebas dalam suatu organisasi, guna menelaah atau mempelajari dan
menilai kegiatan-kegiatan perusahaan untuk memberikan saran-saran kepada
manajemen, agar tanggung jawan dapat dilaksanakan secara efektif.
Menurut Sawyer (2009:9), audit internal memiliki fungsi penilaian yang
bebas dalam suatu organisasi, guna menelaah atau mempelajari dan menilai
kegiatan-kegiatan perusahaan untuk memberikan saran-saran kepada manajemen.
46
Tujuannya adalah untuk membantu tingkatan manajemen agar tanggung jawab
dilaksanakan secara efektif.
Berdasarkan penjelasan diatas tujuan audit internal dapat penulis
simpulkan bahwa audit internal mengacu pada tiga aspek untuk tujuannya yaitu,
Ekonomisasi, Efesiensi, dan Efektivitas dalam proses audit internal.
[Link] Audit Operasional
Menurut Agoes (2012:158) Audit operasional adalah suatu pemeriksaan
terhadap kegiatan operasi suatu perusahaan, termasuk kebijakan akuntansi dan
kebijakan operasional yang telah ditentukan oleh manajemen, untuk mengetahui
apakah kegiatan operasi tersebut sudah efektif, efisien dan ekonomis.
Sedangkan IBK Bayangkara (2015, 4) Audit operasional identik dengan
audit manajemen. Audit operasional sering disebut juga dengan audit manajemen.
Audit manajemen digunakan untuk menghindarkan terjadinya penyempitan
makna operasional yang identik dengan produksi, karena pada saat ini
berkembang paradigma baru tentang manajemen produksi menjadi manajemen
operasional. Sementara makna operasional dalam audit operasional memiliki
cakupan pengertian yang lebih luas yaitu setiap program/aktivitas dan/atau entitas
yang bisa diaudit.
Menurut IBK Bayangkara (2015, 2) audit manajemen adalah evaluasi
terhadap efisiensi dan efektivitas operasi perusahaan. Dalam konteks audit
manajemen, manajemen meliputi seluruh operasi internal perusahaan yang harus
47
dipertanggungjawabkan kepada berbagai pihak yang memiliki wewenang yang
lebih tinggi.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahawa audit operasional adalah
evaluasi atas pelaksanaan aktivitas organisasi atau perusahaan yang dilihat dari
bagian dengan tujuan untuk menilai ketepatgunaan dan keberhasilan dari
organisasi tertentu. Audit operasional dapat digunakan oleh pihak manajemen
perusahaan atau pemilik untuk membantu mereka dalam mempertahankan
efesiensi dan efektifitas kegiatan perusahaan semakin kompleks.
[Link] Program Audit Internal
Program audit yang dituangkan dalam Standar Profesi Audit Internal
(SPAI,2004:15-16), adalah: “Program kerja harus menetapkan prosedur untuk
mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, dan mendokumentasikan informasi
selama penugasan. Program kerja ini harus memperoleh persetujuan sebelum
dilaksanakan. Perubahan atau penyesuaian atas program kerja harus segera
mendapat persetujuan”.
Menurut Suparno(2017:1) Program audit internal merupakan pedoman
bagi auditor dan merupakan satu kesatuan dengan supervisi dalam pengambilan
langkah-langkah audit tertentu. Langkah-langkah audit dirancang untuk :
1. Mengumpukan bahan bukti audit.
2. Untuk memungkinkan auditor internal mengemukakan pendapat
mengenai efisiensi, keekonomisan, dan efektivitas aktivitas yang akan
diperiksa.
48
Program tersebut berisi arahan-arahan pemeriksaan dan evaluasi informasi
yang dibutuhkan untuk memenuhi tujuan audit dalam ruang lingkup penugasan
audit. Program audit merupakan alat yang menghubungkan survei pendahuluan
dengan pekerjaan. Dalam survei pendahuluan, auditor internal mengidentifikasi
tujuan operasi, risiko, kondisi-kondisi operasi, dan kontrol yang diterapkan.
Dalam pekerjaan lapangan mereka mengumpulkan bahan bukti tentang efektivitas
sistem kontrol, efisiensi operasi, pencapaian tujuan, dan dampak perusahaan.
Menurut Amin Widjaja Tunggal (2005:33), “Program audit merupakan
perencanaan prosedur dan tekhnik pemeriksaan yang ditulis secara sistematis
untuk mencapai tujuan pemeriksaan secara efisien dan efektif”.
Menurut Mulyadi (2002:104), program audit merupakan daftar prosedur
audit untuk seluruh audit unsur tertentu, sedangkan prosedur audit adalah instruksi
rinci untuk menentukan tipe bukti audit tertentu yang harus diperoleh pada saat
tertentu dalam audit.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan program audit program
audit mencakup seluruh kegiatan untuk perencanaan dan pengorganisasian jumlah
audit, dan sumber daya untuk melaksanakan audit secara efektif dan efisien dalam
jangka waktu yang telah ditetapkan. Menjadi pedoman bagi auditor mengenai
perencanaan audit, audit pendahuluan, pelaksanaan lapangan, dan pelaporan audit.
2.1.5 Kertas Kerja Audit Internal
Menurut I Gusti Agung Rai (2008:169) Kertas kerja audit adalah dokumen
audit yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan audit harus
49
berisi informasi yang cukup untuk memungkinkan auditor yang berpengalaman,
tetapi tidak mempunyai hubungan dengan audit tersebut dapat memastikan bahwa
dokumen audit tersebut dapat menjadi bukti yang mendukung temuan, simpulan,
dan rekomendasi auditor.
Standar audit (SA Seksi 339 Nomor 05) menjelaskan bahwa kuantitas,
tipe, dan isi kertas kerja bervariasi dengan keadaan yang dihadapi oleh auditor,
namun harus cukup memperlihatkan bahwa catatan akuntansi cocok dengan
laporan keuangan atau informasilain yang dilaporkan serta standar pekerjaan
lapangan yang dapat diterapkan telah diamati. Kertas kerja biasanya harus berisi
dokumentasi yang memperlihatkan:
1. Pekerjaan telah direncanakan dan disupervisi dengan baik, yang
menunjukkandiamatinya standar pekerjaan lapangan yang pertama.
2. Pemahaman memadai atas pengendalian intern telah diperoleh untuk
merencanakanaudit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian
yang telah dilakukan.
3. Bukti audit yang telah diperoleh, prosedur audit yang telah diterapkan,
dan pengujianyang telah dilaksanakan, memberikan bukti kompeten
yang cukup sebagai dasarmemadai untuk menyatakan pendapat
atas laporan keuangan auditan, yang menunjukkandiamatinya standar
pekerjaan lapangan ketiga.
Kertas kerja audit (KKA) merupakan catatan-catatan yang dibuat dan data-
data yang dikumpulkan auditor secara sistematis pada saat melaksanakan tugas
50
audit, KKA harus mencerminkan langkah-langkah kerja audit yang ditempuh,
pengujian-pengujian yang dilakukan, informasi yang diperoleh, dan kesimpulan
hasil audit.
Dari penjelasan di atas maka penulis menyimpulkan bahwa kertas kerja
audit adalah catatan-catatan yang dibuat auditor mengenai perencanaan,
pelaksanaan, dan pelaporan yang dilakukan, dapat menjadi bukti untuk
mendukung temuan dan memperkuat simpulan auditor.
[Link] Manfaat Kertas Kerja Audit
Menurut I Gusti Agung Rai (2008:170) manfaat kertas kerja audit yaitu: 1.
Sebagai dasar perencanaan audit tahun selanjutnya. Dalam pelaksanaan audit,
KKA dapat digunakan sebagai acuan bagi auditor untuk perencanaan audit tahun
berjalan. Auditor dapat mengacu pada kertas kerja tahun sebelumnya yang
mencakup berbagai informasi seperti informasi perencanaan audit, sistem
pengendalian internal (SPI), alokasi biaya dan waktu, program audit, serta hasil
audit yang telah didokumentasikan. 2. Sebagai catatan bahan bukti dan hasil
pengujian yang telah dilakukan. Kertas kerja merupakan bukti bahwa auditor telah
melakukan audit sesuai dengan standar audit yang ditetapkan. 3. Sebagai dasar
untuk menentukan jenis laporan audit yang pantas. KKA membantu auditor dalam
menentukan kelayakan laporan audit yang akan diterbitkan dan memudahkan
penyusunan laporan audit secara menyeluruh. 4. Sebagai dasar untuk supervisi
audit oleh supervisior dan partner. KKA membantu supervisior atau partner dalam
melakukan supervisi atas hasil kegiatan audit dan mengevaluasi apakah bukti-
51
bukti yang dikumpulkan telah mamadai untuk mendukung temuan ataupun opini
laporan audit.
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa kertas kerja audit
bermanfaat sebagai acuan auditor untuk membuat perencanaan audit pada saat
proses audit berlangsung.
[Link] Karakteristik Kertas Kerja Audit
Menurut I Gusti Agung Rai (2008:170) karakteristik kertas kerja audit :
1. Lengkap dan akurat artinya bahwa kertas kerja harus memberikan
dukungan yang cukup dan memadai terhadap temuan, simpulan dan
rekomendasi, di samping menggambarkan sifat dan lingkup pengujian
yang dilaksanakan.
2. Mempunyai Tujuan yang Jelas Tujuan pembuatan kertas kerja audit harus
dijelaskan sehingga orang yang membaca mengerti maksud dan tujuan
audit pada bagian tersebut.
3. Jelas dan singkat artinya bahwa meskipun tanpa penjelasan lisan, semua
orang yang menggunakan kertas kerja (baik internal maupun eksternal)
dapat memahami tujuan, sifat, dan lingkup pekerjaan yang dilakukan serta
simpulan yang dicapai. Kertas kerja harus berisi pula ringkasan, indeks,
dan cross preference dari dokumen.
4. Mendukung Simpulan Audit Kertas kerja audit harus mencerminkan
seluruh kegiata audit yang dilakukan oleh auditor. Apabila di kemudian
hari timbul masalah dalam audit, pihak yang berwenang dapat meminta
52
kertas kerja audit untuk melihat apakah auditor telah melakukan audit
yang mendukung simpulannya
5. Mudah dpersiapkan artinya bahwa KKA harus mudah untuk dibuat. Hal
ini dapat dicapai dengan menggunakan jadwal organisasi dan format
standar kertas kerja umum yang dihasilkan dengan menggunakan peragkat
lunak (software) komputer umum yang dipakai.
6. Mudah Dimengerti dan Berurutan KKA harus rapi dan mudah pahami.
Jika tidak, KKA tesebut akan hilang nilangnya sebagai bukti audit.
7. Relavan Informasi yang terdapat dalam KKA harus dibatasi hanya untuk
hal yang cakupannya secara material penting, mendasar, dan berguna
untuk tujuan yang ditetapkan dalam audit.
8. Terstruktur KKA harus diorganisasikan dan menunjukan struktur yang
konsisten. Hal ini dimudahkan dengan indeks yang logis dan mudah
diikuti. Pengisian dan pemberian indeks kertas kerja dibuat sedemikian
rupa sehingga meningkatkan efisien penggunaan cross preference. Hal ini
akan membantu menghindari terjadinya pengulangan informasi
9. Mudah Diakses Seluruh dokumen pendukung harus dilakukan cross
preference, jika ada, dengan kertas kerja terkait sehingga memudahkan
akses ke semua informasi yang berkaitan dengan audit. Seiring dengan
kemajuan teknologi, jenis kertas kerja saat ini tidak hanya berupa
kumpulan kertas, namun juga paperless atau yang dikenal sebagai e-
working paper. Untuk mendukung pembuatan KKA secara elektronik,
seluruh tim audit harus mengerti kegunaan dan manfaat serta oprasi
53
berbagai paket basis data (database), fasilitas penelitian, atau paket peranti
lunak lainnya.
10. Mudah Di-review KKA digunakan untuk dasar review oleh pihak internal
(pengawas, penanggung jawab) ataupun pihak eksternal dan pihak
wewenang lainnya, misalnya kepolisian atau kejaksaan. KKA digunakan
pula sebagai dasar pembuatan temuan audit, rekomendasi, dan dasar dalam
menjawab pertanyaan oleh pihak terkait.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa karakteristik kertas
audit harus terstruktur, singkat, padat, jelas dan mudah di mengerti oleh orang
lain.
[Link] Hasil dan Pelaporan Audit Internal
Dampak psikologis dalam tahapan persiapan audit dan pelaksanaan audit
dapat ditanggulangi pada waktu berlangsungnya audit. Tetapi dampak psikologis
dari laporan hasil audit, penanggulangannya akan lebih sulit, karena: 1. Waktu
audit sudah selesai. 2. Laporan merupakan salah satu bentuk komunikasi tertulis,
formal, sehingga auditor tidak dapat mengetahui reaksi auditee secara langsung 3.
Laporan telah didistribusikan kepada berbagai pihak sehingga semakin banyak
pihak yang terlibat (Wahyudi, 2016a).
Sedangkan menurut AA. Arens, R.J. Elder, M.S. Beasley 15 (2008), yang
dikutip dari (Sihite, 2017) tahap terakhir dalam proses audit adalah menyiapkan
laporan audit (audit report), yang menyampaikan temuan-temuan auditor kepada
pemakai.
54
Laporan hasil audit adalah media yang digunakan oleh auditor internal
untuk mengkomunikasikan hasil audit kepada pihak-pihak yang berkepentingan
dengan maksud menyediakan informasi bagi pengambilan keputusan oleh
manajemen terkait dengan temuan audit, kesimpulan dan rekomendasi hasil
penugasan audit (Rustendi, 2017). Berdasarkan sifatnya, laporan hasil audit terdiri
atas:
1. Laporan final, yaitu laporan yang dibuat dan dikomunikasikan setelah
aktivitas audit diselesaikan.
2. Laporan interim, yaitu laporan yang dibuat dan dikomunikasikan segera
untuk ditindaklanjuti oleh manajemen sementara aktivitas audit masih
berjalan (Rustendi, 2017).
Menurut (Rustendi, 2017) guna menghindari kesalahan atau kelalaian,
misalnya kekeliruan dalam interpretasi atau informasi penting atau substansial
yang tidak disajikan sebagaimana mestinya, maka draft laporan hasil audit berikut
hasil pembahasan dengan manajemen auditee dalam post audit meeting, harus
direview dan disetujui oleh kepala bagian audit internal. Review yang dimaksud
meliputi aspek:
1. Konsistensi hasil audit dengan ruang lingkup dan tujuan penugasan
audit.
2. Kualitas kesimpulan dalam menjawab masalah yang memiliki tautan
ke risiko signifikan dan prioritas strategis organisasi.
55
3. Kesesuaian pelaksanaan penugasan dengan standar audit yang
berlaku, termasuk kepatuhan auditor terhadap kode etik profesi.
4. Kesesuaian pendapat dengan kesimpulan hasil audit dan temuan audit
yang didukung dengan bukti audit yang meyakinkan.
5. Tanggapan manajemen auditee (bila ada) berkenaan dengan temuan
audit dan kesimpulannya.
6. Proporsionalitas informasi yang disajikan dalam laporan hasil audit
yang berkenaan dengan temuan audit yang bersifat positif dan temuan
audit yang bersifat negatif berupa eksepsi dan defisiensi, serta
objektivitas dalam menyajikan kesimpulan dan pendapat (Rustendi,
2017).
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan hasil laporan audit
internal diharapkan dapat menghasilkan laporan hasil audit yang memenuhi
ekspektasi, dan bermanfaat sebagai dasar dalam pengambilan keputusan pihak-
pihak yang berkepentingan.
[Link] Karakteristik Laporan Hasil Audit Internal
Karakteristik yang harus dipenuhi oleh suatu laporan hasil audit yang baik
dikutip dari (Mariani, 2013) ialah:
1. Arti Penting. Hal-hal yang dikemukan dalam laporan hasil audit harus
merupakan hal yang menurut pertimbangan auditor cukup penting
untuk dilaporkan. Hal ini perlu ditekankan agar ada jaminan bahwa
56
penerima laporan yang waktunya sangat terbatas akan menyempatkan
diri untuk membaca laporan tersebut.
2. Tepat-waktu dan kegunaan laporan. Kegunaan laporan merupakan hal
yang sangat penting. Untuk itu, laporan harus tepat waktu dan disusun
sesuai dengan minat serta kebutuhan penerimaan laporan, terlepas dari
maksud apakah laporan ditujukan untuk memberikan informasi atau
guna merangsang dilakukannya tindakan konstruktif.
3. Ketepatan dan kecukupan bukti pendukung. Ketepatan laporan
diperlukan untuk menjaga kewajaran dan sikap tidak memihak
sehingga memberikan jaminan bahwa laporan dapat diandalkan
kebenarannya. Laporan harus bebas dari kekeliruan fakta maupun
penalaran. Semua fakta yang disajikan dalam laporan harus didukung
dengan bukti-bukti objektif dan cukup, guna membuktikan ketepatan
dan kelayakan hal-hal yang dilaporkan.
4. Sifat menyakinkan. Temuan, kesimpulan dan rekomendasi harus
disajikan secara menyakinkan dan dijabarkan secara logis dari fakta-
fakta yang ditemukan. Informasi yang disertakan dalam laporan harus
mencukupi agar menyakinkan pihak penerima laporan tentang
pentingnya temuan-temuan, kelayakan kesimpulan serta perlunya
menerima rekomendasi yang diusulkan.
5. Objektif. Laporan hasil audit harus menyajikan temuan–temuan secara
objektif tanpa prasangka, sehingga memberikan gambaran (perspektif)
yang tepat.
57
6. Jelas dan sederhana. Agar dapat melaksanakan fungsi komunikasi
secara efektif, pelaporan harus disajikan sejelas dan sesederhana
mungkin. Ungkapan dan gaya bahasa yang berlebihan harus dihindari.
Apabila terpaksa menggunakan istilah-istilah teknis atau singkatan-
singkatan yang tidak begitu lazim, harus didefinisikan secara jelas.
7. Ringkas. Laporan hasil audit tidak boleh lebih panjang dari pada yang
diperlukan, tidak boleh terlalu banyak dibebani rincian (kata-kata,
kalimat, pasal atau bagian-bagian) yang tidak secara jelas
berhubungan dengan pesan yang ingin disampaikan, karena hal ini
dapat mengalihkan perhatian pembaca, menutupi pesan yang
sesungguhnya, membingungkan atau melenyapkan minat pembaca
laporan.
8. Lengkap. Walaupun laporan sedapat mungkin harus ringkas namun
kelengkapannya harus tetap dijaga, karena keringkasan yang tidak
informative bukan suatu hal yang baik. Laporan harus mengandung
informasi yang cukup guna mendukung diperolehnya pengertian yang
tepat mengenai hal-hal yang dilaporkan. Untuk itu perlu diserahkan
informasi mengenai latar belakang dari pokok-pokok persoalan yang
dikemukakan dan memberikan tanggapan positif terhadap pandangan-
pandangan pihak objek audit atau pihak lain yang terkait. Dalam
bahasa yang lain, dapat dinyatakan bahwa laporan hasil audit
seyogyanya mempunyai karakteristik: accurate, clear and concise,
complete, objective, constructive, dan prompt.
58
9. Nada yang konstruktif. Sejalan dengan tujuan untuk memperbaiki atau
meningkatkan mutu pelaksanaan kegiatan dari objek audit, maka
laporan hasil audit harus disusun dengan nada konstruktif sehingga
membangkitkan reaksi positif terhadap temuan dan rekomendasi yang
diajukan.
Sedangkan menurut (Rustendi, 2017) Laporan hasil audit internal
yang baik memiliki karakteristik:
1. Objektif, yaitu faktual, tidak memihak, serta terbebas dari distorsi baik
yang disebabkan oleh kesalahan dan kelalaian ataupun unsur
prasangka.
2. Jelas dan ringkas, yaitu mudah dipahami dan logis, dimana laporan
disusun menggunakan kalimat yang jelas, runtut dan fokus pada
pokok masalah dengan mengurangi rincian yang tidak perlu, serta
mengandung informasi yang tidak lengkap. Salah satu cara yang
efektif agar laporan hasil audit jelas dan ringkas adalah dengan
menyajikan informasi dalam format yang mudah untuk dibaca seperti
angka dan persentase, tabel atau list, dan diagram, sementara
rinciannya disajikan dalam lampiran.
3. Bermanfaat, yaitu informasi yang disajikan dalam laporan hasil audit
dapat digunakan sebagai dasar bagi manajemen terkait untuk
melakukan tindakan perbaikan yang diperlukan. Manajemen dapat
mengoptimalkan informasi hasil audit bila mereka menilai bahwa
59
laporannya disampaikan tepat waktu, serta kesimpulan dan pendapat
auditor adalah konstruktif.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa karakteristik hasil
laporan audit internal harus objektif, jelas, ringkas, sederhana agar mudah untuk
dipahami oleh audite.
[Link] Sistemika Laporan Hasil Audit
Dalam praktek, format laporan hasil audit dapat beragam tergantung
kepada kebutuhan dan disesuaikan dengan pedoman yang berlaku pada organisasi
yang bersangkutan. Namun secara umum, laporan hasil audit memiliki sistematika
sebagai berikut:
1. Bagian pengantar, yang berisi latar belakang penugasan baik yang
terkait dengan risiko signifikan ataupun permasalahan yang mendorong
manajemen untuk memberikan penugasaan audit (ad hoc audit).
2. Bagian pokok, yang berisi tujuan dan ruang lingkup audit sesuai
penugasannya, serta hasil audit yang bersifat kesimpulan mengenai
temuan audit yang disajikan berdasarkan unsur kondisi, kriteria, akibat,
dan penyebab. Bila laporan hasil audit menyertakan pendapat secara
keseluruhan (pada aktivitas penjaminan), maka sesuai standar dari IIA
(2016) dalam buku (Rustendi, 2017), laporan yang dikomunikasikan
harus meliputi:
1. Ruang lingkup audit, termasuk periode waktu yang terkait dengan
pendapat yang diberikan.
60
2. Batasan ruang lingkup audit.
3. Pertimbangan terhadap semua proyek terkait termasuk
ketergantungan kepada penyedia jasa penjaminan lain.
4. Ringkasan informasi yang mendukung pendapat yang diberikan.
5. Risiko atau kerangka pengendalian atau kriteria lain yang
digunakan sebagai dasar pemberian pendapat.
6. Pendapat secara keseluruhan, pertimbangan, dan kesimpulan yang
dicapai.
3. Bagian penutup, yang berisi pendapat dan rekomendasi auditor yang
merupakan hasil evaluasi terhadap kegiatan yang diauditnya yang
menempatkan temuan audit dalam perspektif yang didasarkan pada
implikasi temuan secara keseluruhan.
4. Lampiran, yang berisi informasi penting yang bersifat rincian atau
penjelasan yang mendukung kesimpulan (Rustendi, 2017).
Sistematika pelaporan dalam laporan audit internal berbeda dengan
laporan audit eksternal. Dalam laporan audit internal, auditor internal
diperkenankan melakukan variasi sepanjang tidak melanggar Standar Profesional
Audit Internal (SPAI). Format pelaporan yang berbeda diharapkan tetap berdasar
pada SPAI. Laporan ini ditujukan kepada pimpinan organisasi (direktur, pimpinan
puncak manajemen), maka perlu diperhatikan bahwa cara pandang pimpinan
organisasi adalah holistik (helicopter view). Artinya, dengan membaca laporan
secara cepat, pimpinan puncak organisasi berharap mampu menangkap
permasalahan yang disajikan. Untuk itu aspek bahasa dan tipografi pelaporan
61
menjadi hal yang penting untuk diperhatikan bagi auditor internal sebagai
penyusun laporan (Utami, 2018).
Adapun contoh sistematika laporan audit dalam pedoman audit internal
dan pertemuan tinjauan manajemen fasilitas pendidikan tingkat pertama yang
dikutip dari (Subagiyo, 2018) dari yaitu:
1. Latar belakang.
2. Tujuan audit.
3. Lingkup audit.
4. Objek audit.
5. Standar/kriteria yang digunakan.
6. Auditor.
7. Proses audit.
8. Hasil dan analisis hasil audit.
9. Rekomendasi dan batas waktu penyelesaian yang
disepakati bersama auditee
Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya,
informasi yang disajikan pada laporan hasil audit harus ada pemahaman auditor
mengenai kebutuhan terhadap informasi yang dihasilkan dari aktivitas auditnya.
2.2 Kerangka pemikiran
62
Audit internal membantu memberikan analisa – analisa, saran –saran dan
keterangan perihal kegiatan yang diperiksa. Audit internal juga dapat membantu
manajemen dalam meningkatkan pengendalian internal pada sebuah organisasi
sekolah. Dengan adanya audit internal diharapkan dapat terjaganya kualitas
pelayanan pendidikan.
Berdasarkan audit internal dan layanan pendidikan adalah audit internal
sebagai suatu peningkatan mutu. Oleh karena itu kerangka pemikiran adalah
sebagai berikut :
STANDAR NASIONAL
PENDIDIKAN
AUDIT PELAKSANAAN STANDAR
INTERNAL NASIONAL PENDIDIKAN
MUTU PENDIDIKAN MENURUT
STANDAR NASIONAL
PENDIDIKAN
2.3 Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
No Nama Judul Kesimpulan
1 Agus Setyo PELAKSANAAN AUDIT Audit mutu dalam sistem
Santoso MUTU DALAM SISTEM penjaminan mutu di SMP N
63
UNIVERSI PENJAMINAN MUTU 26 Surabaya sudah berjalan
TAS INTERNAL dengan baik dan semestinya
ISLAM DISEKOLAH dengan menggunakan standar
NEGERI MENENGAH PERTAMA yang memakai ISO
SUNAN NEGERI 26 SURABAYA 9001:2008 tahun 2010 dan
AMPEL ISO 14001:2004 tahun 2012
Surabaya
2019
2 Rohmad EVALUASI Evaluasi pemenuhan mutu di
Sodiq PENJAMINAN MUTU SMK Negeri 1 Magelang
UNIVERSI PENDIDIKAN DI SMK mencapai persentase ratarata
TAS NEGERI 1 MAGELANG 97% sehingga masuk kategori
NEGERI sangat baik. Evaluasi
YOGYAK pemenuhan mutu yang
ARTA 2017 mencapai kategori sangat
baik diperoleh dari evaluasi
melalui EDS (100%), tujuan
evaluasi (97%), dan tahapan
evaluasi (93%). Evaluasi
pemenuhan mutu dilakukan
melalui EDS untuk melihat
hasil pelaksanaan pemenuhan
64
8 SNP.
3 Eka Mala MANAJEMEN Berdasarkan hasil penelitian
Nuryahya PENJAMINAN MUTU di SMP Al Hikmah Surabaya,
UNIVERSI INTERNAL TENAGA faktor pendukung dalam
TAS PENDIDIK DAN melaksanakan penjaminan
ISLAM KEPENDIDIKAN mutu internal tenaga pendidik
NEGERI (STUDI KASUS DI dan kependidikan adalah
SUNAN SEKOLAH MENENGAH semua civitas akademik
AMPEL PERTAMA (SMP) AL mempunyai komitemn yang
SURABAY HIKMAH SURABAYA) sama bahawasannya kalau
A 2018 manajemen penjaminan mutu
sudah menjadi sistem di SMP
Al Hikmah maka semuanya
harus memiliki komitmen
yang sama untuk mendukung
terlaksananya manajemen
penjaminann mutu