LAPORAN PENDAHULUAN
An.S DENGAN FEBRIS KONVULSI
DI RUANG INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD)
RST WIJAYA KUSUMA PURWOKERTO
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Praktik Klinik Keperawatan Gawat Darurat
Dosen Pembimbing : [Link] Suparti,[Link].,[Link]
Di susun oleh:
Nama: Muhammad Adnan Dimas M
Nim: 2211020041
Kelas: 6A
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN S1
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2024
A. Konsep Dasar Medis
1. Pengertian
Menurut Nemours KidsHealth (2023) kejang demam merupakan kejang yang
dapat terjadi ketika anak kecil mengalami demam diatas 100,40F (38 derajat C).
Kejang demam biasanya berlangsung beberapa menit serta berhenti dengan
sendirinya.
Berdasarkan international League Againts Epilepsy (ILAE 2020) Kejang
demam didefinisikan sebagai kejang yang terjadi saa demam,tanpa disertai infeksi
di otak atau gangguan elektrolit,pada usia berusia di atas 1 bulan yang tidak
mempunyai riwayat kejang tanpa demam sebelumnya
Kejang demam adalah suatu kejadian berkaitan dengan peningkatan suhu pada
anak tanpa adanya riwayat neonatus, tanpa adanya infeksi pada sistem saraf pusat,
dan tidak ada hubungannya dengan kejang simptomatik yang lain, umumnya terjadi
pada usia anak di atas 1 bulan ( Asri kusyani,2022).
Kejang demam ialah penyakit saraf yang paling umum terjadi pada masa kanak-
kanak. Karena tingginya insiden penyakit dan usia yang memungkinkan terjadinya
kekambuhan, penyakit ini merupakan tantangan khusus dalam praktik pediatrik
(Xixis, 2022).
Menurut The Royal Children’s Hospital Melbourne (2019) kejang demam
adalah kejang atau kejang yang disebabkan oleh perubahan suhu tubuh anak secara
tiba-tiba, dan biasanya berhubungan dengan demam. Kejang demam mungkin
mengkhawatirkan dan menjengkelkan untuk disaksikan, namun tidak berbahaya
bagi anak. Bahkan kejang yang sangat lama, yang berlangsung selama satu jam atau
lebih, hampir tidak pernah menimbulkan bahaya. Kejang demam tidak
menyebabkan kerusakan otak, dan tidak ada peningkatan risiko epilepsi pada anak
yang pernah mengalami kejang demam sederhana.
Menurut Siloam Hospital (2023) febrile convultion atau kejang demam adalah
demam yang disertai dengan kejang yang biasanya dialami oleh anak-anak. Kondisi
ini umum terjadi pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun.
2. Etiologi
Menurut Ji Yoon Han dan Seung Beom Han (2023) di antara anak-anak sehat
yang mengalami kejang disertai demam, hanya 6% yang berusia lebih dari 60 bulan,
karena bayi dan anak kecil dengan sistem saraf pusat yang belum matang lebih
rentan mengalami kejang dibandingkan remaja dan orang dewasa dengan sistem
saraf pusat yang matang. Khususnya, mielinisasi terjadi dengan cepat selama 5
tahun pertama kehidupan, dan total volume otak anak mencapai sekitar 90% dari
rata-rata volume otak orang dewasa pada usia 6 tahun. Oleh karena itu, rentang usia
umum sesuai dengan periode perkembangan SSP yang cepat. Pada sistem saraf
pusat yang belum matang dan rentan, peningkatan rangsangan saraf menyebabkan
kejang, dan sitokin yang diproduksi dan dilepaskan selama respon inflamasi akut
yang menyertai demam berperan dalam meningkatkan rangsangan saraf. Respon
inflamasi di luar SSP meningkatkan konsentrasi sitokin di SSP (jaringan neuro-
imun), dan sitokin yang dilepaskan memicu hipereksitabilitas saraf di SSP (peran
sitokin di parenkim otak) untuk menghasilkan kejang demam. Konsep ini dapat
diterapkan pada timbulnya kejang tanpa demam atau epilepsi yang disertai berbagai
jenis peradangan dengan penyebab non-infeksi, termasuk trauma, cedera toksik,
cedera hipoksia, dan reaksi autoimun. Faktor genetik individu inang juga harus
dipertimbangkan, karena hanya sebagian kecil anak kecil yang mengalami kejang
demam. Selain itu, riwayat keluarga dengan kejang demam secara konsisten
dilaporkan sebagai faktor risiko kejang demam. Epilepsi genetik dengan kejang
demam plus (GEFS+) merupakan perwakilan dari sindrom epilepsi genetik yang
awalnya muncul dengan fenotip FS kejang demam. Namun, patogenesis kejang
demam tampaknya bersifat teoritis dan hipotetis.
Menurut National Institute for Health and Care Excellence, 2017 dalam Paul,
(2019) infeksi yang paling umum pada anak anak yang berkaitan dengan kejang
demam adalah:
a. Cacar air dan influenza.
b. Infeksi telingan tengah.
c. Tonsilitis.
d. Infeksi saluran pernapasan misal pneumonia dan sinusitis.
e. Infeksi gigi.
f. Gastroenteritis.
g. Bronkitis.
Menurut Kathryn L. Xixis, Debopam Samanta, Michael Keenaghan (2022)
tidak ada penyebab spesifik demam yang menyebabkan kejang demam, namun
infeksi virus dibandingkan bakteri paling sering dikaitkan dengan kejang demam.
Virus tertentu, HHV-6, paling sering dikaitkan dengan kejang demam di Amerika
Serikat dan negara- negara Eropa. Di negara-negara Asia, virus influenza A sering
dikaitkan dengan kejang demam.
Menurut Handriyastuti (2021) mekanisme pasti yang mendasari kejang demam
anak belum diketahui, faktor penyebab diduga multifaktorial. Kejang demam dapat
terjadi karena kerentanan otak yang imatur dan dalam masa perkembangan yang
pesat terhadap kejadian demam, serta berkaitan juga dengan faktor lingkungan dan
genetik. Hal-hal tersebut diduga menyebabkan penurunan ambang kejang sehingga
mencetuskan kejang pada saat demam. Hal ini terlihat dari fakta bahwa anak yang
mengalami KD paling sering di bawah usia 3 tahun yaitu terdapat ambang kejang
terendah. Suhu tinggi adalah faktor resiko yang lebih bermakna dibandingkan
peningkatan suhu yang mendadak sebagai pencetus kejang demam pertama kali.
Menurut Ferdianand Sukher (2022) etiologi kejang demam adalah kenaikan
suhu tubuh yang memicu eksitasi sel saraf otak sehingga menimbulkan kejang.
Terdapat faktor predisposisi genetik yang dicurigai berperan dalam terjadinya
kejang demam. Oleh sebab itu, riwayat pada keluarga merupakan faktor risiko
terjadinya kejang demam. Selain itu, faktor lingkungan juga dianggap berkaitan
dengan kejadian kejang demam pada anak. Tidak semua kenaikan suhu
menyebabkan kejang demam. Kejang demam biasa terjadi pada anak-anak yang
memiliki faktor risiko. Kenaikan suhu pada anak dapat disebabkan oleh infeksi atau
setelah imunisasi. Sebagian besar kejang demam berhubungan dengan kejadian
infeksi. Infeksi virus lebih sering menyebabkan demam yang berujung pada kejang
demam, bila dibandingkan dengan infeksi bakteri. Kemudian kejadian demam
pasca imunisasi, hanya sebagian kecil yang terjadi kejang demam. Angka kejadian
kejang demam pasca vaksinasi hanya terjadi pada 11% anak
3. Pathway
4. Pathofisiologi
Tingkat metabolisme basal yaitu jumlah minimum tenaga yang diperlukan
sebanyak 10-15% dapat menaikkan suhu 1°C, karena anak di bawah usia 5 tahun
65% dari total aliran darah ke otak ke seluruh tubuh. dengan demikian, kenaikkan
suhu tubuh merubah keimbangan dan membran sel dari neuron menyebabkan
pelepasan difusi ion kalium dan natrium, yang mengakibatkan kejang (Febriawan
et al., 2020).
Anak anak kejang demam dengan suhu diatas 38°C dan berhubungan dengan
peningkatan kebutuhann oksigenn dan aktivitas otot menimbulkan hipoxsemia, dan
acidosis laktac yang disebabkan oleh metabolisme anerobik. Meningkatnya laju
metabolisme mengakibatkan hipotensi (tekanan darah rendah), denyut jantung yang
tidak beraturan, hiperkapnia, sehingga meningkatkan metabolisme otak bahkan
selama serangan demam berlangsung lebih dari 15 menit (Andriyani et al., 2021).
Gangguan pada sistem syaraf otak ketika keadaan demam menyebabkan
kenaikkan sistem metabolisme dan fungsi neuron mengalami perubahan, termasuk
beberapa saluran ion akibat dari pelepasan listrik serebral yang mengakibatkan
kejang. (Manurung & Ribka, 2022).
5. Penatalaksanan medis
Pada anak-anak penatalaksaan medis kejang demam menurut handriyastuti 2021
terdiri dari:
Mengatasi kejang secepat mungkin pada saat pasien datang dalam keadaan
kejang lebih dari 30 menit maka diberikan obat diazepam secara intravena karena
obat ini memiliki keampuhan sekitar 80-90% untuk mengatasi kejang demam. Efek
terapeutiknya sangat cepat yaitu kira-kira 30 detik dampai 5 menit. Jika kejang tidak
berhenti makan diberikan dengan dosis fenobarbital. Efek samping obat diazepam
ini adalah mengantuk, hipotensi, penekanan pusat pernapasan, laringospasme, dan
henti jantung (Newton, 2013).
a) Diazepam supositoria, pemberian obat ini dapat diberikan pada saat kejang
dengan dosis :
a) 5 mg untuk anak < 3 tahun, 7,5mg anak lebih dari tiga tahun
b) 4 mg dengan BB < 10kg, 10mg untuk berat badan >10kg
b) Diazepam intravena, pada pemberian obat ini diberikan dengan dosis 0,2-0,5
mg/kgBB. Berikan perlahan dengan kecepatan 0,5-1 mg/menit guna
menghindari pernafasan meningkat. Diazepam diberikan sebanyak 2 kali
dengan jarak 5 menit saat anak kejang
c) Fernitoin melalui intravena 15mg/kgBB apabila anak masih kejang. Jika anak
tidak mengalami kejang, pengobatan intermitten dapat diberikan supaya
mencegah kejang berulang, berupa :
a) Antipiretic
Berikan paracetamol atau asetaminofen 10-15mg/kgBB per hari
sebanyak 4 kali atau tiap 6 jam dengan dosis rendah
b) Ibuprofen 10mg/kgBB per hari sebanyak 3 kali
c) Diazepam oral dengan dosis 0,3-0,5mg/kgBB per hari setiap 8 jam
untuk menurunkan risiko kejang berulang
d) Diazepam rektal dosis 0,5mg/kgBB per hari sebanyak 3 kali.
6. Penatalaksanaan keperawatan
Pada anak-anak penatalaksaan medis kejang demam menurut windayati dan dera
2020 terdiri dari:
a. Membuka pakaian klien
b. Posisikan kepala miring untuk mencegah aspirasi isi lambung
c. Menjaga kepatenan jalan nafas untuk menjamin kebutuhan oksigen
d. Monitor suhu tubuh, Cara paling akurat adalah dengan suhu rektal
e. Memberikan Obat untuk penurun panas, pengobatan ini dapat mengurangi
ketidaknyamanan anak dan menurunkan suhu 1-1,5 ºC.
f. Berikan Kompres Hangat
Mengompres dilakukan dengan handuk atau washcloth (washlap atau lap
khusus badan) yang dibasahi dengan dibasahi air hangat (30ºC) kemudian
dilapkan seluruh badan. Penurunan suhu tubuh terjadi saat air menguap dari
permukaan kulit. Tambah kehangatan airnya bila demamnya semakin tinggi.
Sebenarmya mengompres kurang efektif dibandingkan obat penurun demam.
Akan lebih baik jika digabungkan dengan pemberian obat penurun demam,
kecuali anak alergi terhadap obat tersebut.
g. Menaikkan Asupan Cairan Anak
Anak dengan demam dapat merasa tidak lapar dan sebaiknya tidak memaksa
anak untuk makan. Akan tetapi cairan seperti susu (ASI atau atau susu formula)
dan air harus tetap diberikan atau bahkan lebih sering. Anak yang lebih tua dapat
diberikan sup atau buah-buahan yang banyak mengandung air.
h. Istirahatkan Anak Saat Demam
Demam menyebabkan anak lemah dan tidak nyaman. Orang tua sebaiknya
mendorong anaknya untuk cukup istirahat. Sebaiknya tidak memaksa anak
untuk tidur atau istirahat atau tidur bila anak sudah merasa baikan dan anak
dapat kembali ke sekolah atau aktivitas lainnya ketika suhu sudah normal dalam
24 jam.
7. Pengkajian
Pengkajian keperawatan adalah tahap awal memberikan asuhan keperawatan sesuai
dengan kebutuhan klien untuk mengumpulkan informasi (Watung et al., 2021).
Dalam pengkajian kejang demam pada anak meliputi kaji:
a) Identitas mencakup nama lengkap, tempat tanggal lahir, umur, jenis
kelamin, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, diagnosa medis,
identitas penangguang jawab.
b) Keluhan Utama
Klien mengalami kejang saat suhu rektal diatas 38◦C.
c) Riwayat Penyakit Sekarang
Timbul keluhan kejang saat demam tinggi, kulit terasa hangat dan kulit
merah, muntah diare, trauma kepala (terutama penderita epilepsi).
d) Riwayat Penyakit Dahulu
Klien sebelumnya pernah kejang sebelumnya, ditanyakan apakah klien
memiliki riwayat trauma kepala, otitis, kecelakaan yang mengakibatkan
trauma kepala. Apakah memiliki riwayat alergi atau tidak.
e) Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Kondisi ibu selama mengandung dan masa neonatus, klien mengalami
demam tinggi atau tidak, diare, muntah, dan kejang. Bagaimana riwayat
persalinannya, ditanyakan apakah distosia, spontan atau dengan tindakan.
Apa ibu pernah mengalami infeksi atau sakit demam selama kehamilan.
f) Riwayat Kesehatan Keluarga
Adakah riwayat penyakit menurun dari keluarga seperti kejang demam.
g) Riwayat Imunisasi
Imunisasi apa yang sudah didapatkan dan yang belum didapatkan,
bagaimana reaksi setelah mendapat imunisasi apa dan efek sampingnya,
adakah yang menimbulkan kejang.
h) Riwayat perkembangan
Ditanyakan kemampuan perkembangan meliputi:
a. Personal sosial (kepribadian atau tingkah laku sosial): hal ini
berhubungan dengan kemampuan mandiri anak, cara bersosialisasi,
dan berinteraksi dengan lingkungannya.
b. Gerakan motorik halus: berhubungan dengan kemampuan anak
untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan
bagian-bagian tubuh tertentu saja.
c. Gerakan motorik kasar: berhubungan dengan pergerakan dan sikap
tubuh.
d. Bahasa: kemampuan memberikan respon terhadap suara, mengikuti
perintah dan berbicara spontan.
i) Kebutuhan dasar
a. Pola Nutrisi
Guna mengetahui asupan kebutuhan gizi anak, makanan apa yang
disukai dan yang tidak disukai. Bagaimana selera makan anak.
Berapa kali minum, jenis, dan jumlahnya per per hari.
b. Pola Eliminasi
BAK : Berapa frekuensi, warnyanya, jumlahnya, bau
BAB : BAB teratur tidak, bagaimana konsistensinya lunak, keras,
cair, atau berlendir.
c. Pola Aktivitas dan Latihan
Apakah anak senang bermain sendiri atau bersama teman
seabayanya. Aktivitas apa yang disukai.
d. Pola Tidur dan Istirahat
Berapa jam sehari tidur, kebiasaan sebelum tidur, pola tidur
bagaimana.
j) Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum Tingkat kesadaran, tekanan darah, nadi, respirasi
dan suhu. Kejang demam sedrhana akan didapatkan suhu tinggi
sedangkan kesadaran setelah kejang kembali normal
2. Kepala
Adakah tanda-tanda mikro atau makrosepali, dispersi bentuk kepala,
tanda-tanda kenaikan tekanan intrakarnial yaitu ubun-ubun besar
cembung. Bagaimana keadaan ubun-ubun besar menutup atau
belum.
3. Rambut
Warna, kelebatan, karakteristik rambut.
4. Mata
Pada saat serangan kejang terjadi dilatasi pupil, untuk itu pastikan
dan periksa pupil serta ketajaman penglihatan. Biasanya pada anak
akan mengalami konjungtiva anemis.
5. Telinga
Periksa fungsi telinga, kebersihan telinga serta tanda-tanda adanya
infeksi seperti pembengkakan dan nyeri di daerah belakang telinga,
keluar cairan dari telinga, dan berkurangnya pendengaran. Bentuk
telinga normal, fungsi pendengaran, kebersihan telinga, apakah
adanya infeksi aatau tidak.
6. Hidung
Apakah terdapat polip yang menyumbat, apakah ada kelainan,
apakah keluar sekret.
7. Mulut
Mukosa bibir pucat dan tampak kering, tongsil tidak hiperemis,
periksa apakah ada tanda-tanda sianosis, adakah caries gigi, adakah
stomatitis dan jumlah gigi yang sudah tumbuh. Biasanya gigi
lengkap dan tidak ada caries, mukosa bibir tampak kering dan pecah
pecah, tongsil tidak hiperemis.
8. Leher
Apakah terdapat pembesaran kelenjat tiroid, pembesaran kelenjar
karotis dan pembesaran vena jugularis.
9. Thorak
Inspeksi, amati bentuk dada, frekuensi, kedalaman, bagaimana gerak
pernafasan dan adakah retraksi dada. Palpasi, vokal fremitus kiri dan
kanan sama. Pada auskultasi adakah suara nafas tambahan. Perkusi,
pada paru ditemukan sonor.
Inspeksi biasanya gerakan dada simetris, tidak ada penggunaan otot
bantu pernafasan. Palpasi, biasanya vremitus kiri kanan sama.
Auskultasi, biasanya ditemukan suara nafas tambahan.
10. Jantung
Frekuensi jantung, irama. Adakah bunyi tambahan.
11. Abdomen
Periksa apakah ada tekanan abdomen serta kekauan otott pada
abdomen. Bagaimna peristaltik usus.
12. Genetalia
Adakah kelainan bentuk edema, adakah sekret yang keluar dari
vagina, adakah tanda-tanda infeksii pada daerah genetalia.
13. Ektermitas
Apakah terdapat oedema, atau paralise terutama setelah terjadi
kejang, bagaimana suhunya pada daerah akral. Biasanya ekstermitas
atas dan bawah tonus otot mengalami kelemahan dan CRT >2 detik,
dan akral teraba dingin.
14. Kulit
Bagaimana keadaan kulit dan kebersihan. Warna kulit, turgor kulit
bagaimana, Kulit teraba hangat, kulit merah, turgor kulit kering,
akral klien hangat
15. Neurologis
Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan karena gangguan
pada sistem syaraf otak.
8. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu penilaian klinis mengenai respon klien
terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yan dialaminya baik yang
berlangsung aktual maupun potensial. Diagnosa keperawatan dapat dijadikan
sebagai dasar dalam pemilihan intervensi yang menjadi tanggung gugat seorang
perawat (Hidayat, 2021). Berdasarkan Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia
kemungkinan diagnosa yang bisa muncul dari penyakit kejang demam yaitu:
a. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit atau peningkatan laju
metabolisme.
b. Gangguan pertukaan gas berhubungan dengan ketidakseimbangan ventilasi
perfusi.
c. Risiko cedera dibutikan dengan perubahan sensasi atau hipoksia jaringan.
d. Risiko aspirasi dibuktikan dengan penurunan tingkat kesadaran.
e. Risiko gangguan perkembangan dibuktikan dengan infeksi.
f. Defisit pengetahuan beruhubungan dengan kurang terpapar informasi.
g. Nausea berhubungan dengan efek agen farmakologis
h. Gangguan pola tidur berhubungan dengan hambatan lingkungan
B. Konsep Dasar Keperawatan
A. Diagnosa Keperawatan
1. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit ditandai dengan suhu tubuh
pasien meningkat dan kejang (D.0130)
2. Nausea berhubungan dengan efek agen farmakologis ditandai dengan ibu pasien
mengatakan pasien mual,merasa ingin muntah tidak ada nafsu makan dan pasien
pucat (D.0076)
3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan hambatan lingkungan kebisingan
ditandai dengan Ibu pasien mengatakan pasien tidak bisa tidur karena kondisi
lingkungan yang rame (D.0055)
B. Intervensi beserta rasional
Standar luaran keperawatan dan standar intervensi keperawatan
1. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit (D.0130)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama...jam diharapkan
maka,Termoregulasi (L.14134) membaik dengan kriteria hasil:
1) Pucat menurun
2) Suhu tubuh membaik
3) Suhu kulit membaik
Manajemen hipertermia (I.15506)
Observasi:
1. Identifikasi penyebab hipertermia (mis dehidrasi,terpapar lingkungan
panas,dll)
Rasional:untuk mengetahui penyebab terjadinya hipertermia
2. Monitor suhu tubuh
Rasional:untuk mengetahui kenaikkan ataupun menurun suhu tubuh
Terapeutik:
1. Sediakan lingkungan yang dingin
Rasional:untuk memberikan lingkungan yang nyaman bagi pasien hipertermia
2. Longgarkan atau lepaskan pakaian
Rasional:untuk membantu proses penurunan suhu tubuh
3. Basahi dan kipasi permukaan tubuh
Rasional:agar kebutuhan cairan pasien tetap terjaga
Edukasi:
1. Anjurkan tirah baring
Rasional:untuk menyediakan istirahat dengan cara berbaring di tempat tidur
dalam jangkan waktu tertentu untuk penyembuhan
Kolaborasi:
1. Kolaborasi pemberian cairan dan elektrolit intravena,jika perlu
Rasional:untuk menurunkan demam
2. Nausea berhubungan dengan efek agen farmakologis (D.0076)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama...jam diharapkan maka,tingkat
nausea (L.08065) menurun dengan kriteria hasil:
1) Nafsu makan meningkat
2) Keluhan mual menurun
3) Perasaan ingin muntah menurun
4) Sensasi panas menurun
Manajemen mual (I.03117)
Observasi:
1. Identifikasi pengalaman mual
Rasional: untuk mengetahui faktor yang memungkinkan terjadinya mual
2. Identifikasi dampak mual terhadap kualitas hidup ([Link]
makan,aktifitas,kinerja,tanggung jawab peran,dan tidur)
Rasional:untuk mengidentifikasi pengaruh mual terhadap kualitas hidup klien
3. Identiftikasi antiemetik untuk mencegah mual
Rasional:untuk mengurangi mual muntah klien
4. Monitor mual ([Link],durasi,dan tingkat keparahan)
Rasional:untuk mengetahui tingkat mual yang dialami klien
5. Monitor asupan nutrisi dan kalori
Rasional:dapat membantu klien jadi lebih baik
Terapeutik:
1. Kurangi atau hilangkan keadaan penyebab mual (mis kecemasan,ketakutan)
Rasional:dapat membantu klien menjadi lebih rileks
Edukasi:
1. Anjurkan istirahat dan tidur yang cukup
Rasional:membantu pasien menjadi lebih baik
2. Anjurkan makanan tinggi karbohidrat dan rendah lemak
Rasional:untuk memenuhi kebutuhan protein klien
3. Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologis untuk mengatasi mual (mis
biofeedback,relaksasi,terapi musik)
Rasional:untuk mengurangi rasa mual klien
Kolaborasi:
1. Kolaborasi pemberian antiemetik
Rasional:untuk membantu meredakan mual muntah
3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan hambatan lingkungan kebisingan
(D.0055)
Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama...jam diharapkan maka,pola tidur
(L.05045) membaik dengan kriteria hasil:
1) Keluhan sulit tidur menurun
2) Keluhan tidak puas tidur menurun
3) Keluhan pola tidur berubah menurun
4) Keluhan istirahat tidak cukup menurun
Dukungan tidur (I.09265)
Observasi:
1. Identifikasi pola aktifitas dan tidur
Rasional:untuk mendata masalah yang dialami klien
2. Identifikasi faktor pengganggu tidur (fisik dan/atau psikologis)
Rasional:untuk mengetahui penyebab klien tidak bisa tidur
Terapeutik:
1. Tetapkan jadwal tidur rutin
Rasional:untuk menjaga kualitas tidur yang baik
2. Lakukan prosedur untuk meningkatkan kenyamanan ([Link],pengaturan
posisi,terapi akupressur)
Rasional:agar klien mampu rileks dan merasa lebih santai
Edukasi:
1. Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit
Rasional:agar klien tahu mengenai pentingnya istirahat yang cukup
2. Anjurkan menepati kebiasaan waktu tidur
Rasional:untuk menghindari terjadinya gangguan kualitas tidur
Daftar Pustaka
Andriyani,S.,Windahhandayani,V.Y.,Damayanti,D.,Faridah,U.,Sari,Y.I.P.,Fari,A.I.,&AI,E.20
[Link] keperawatan pada [Link] kita [Link].
Asri Kusyani,Aimatur [Link] Keperawatan Anak Dengan Kejang Demam dan
[Link] [Link].
Febriawan,G.T.,Indriyani,P., & Ningtyas,[Link] penerapan kompres hangat pada pasien
kejang demam dengan [Link] of nursing and health (JNH),5(1),52-57.
Handriyastuti. 2021. Tatalaksana kejang Demam pada Anak Terkini. KSM Kesehatan Anak
Rumah Sakit Umum pusat Nasional, 241-247
Han, Ji Yoon, Seung Beom Han. 2023. Pathogenetic and Etiogic Consideration of Febrile
Seizure. Clinical and Experimental Pedriatics, 66(2); 2023.
Samanta, Debopam, Micheal Keenaghan. 2022. Febrile Seizure. Bethesda: National Library of
Medicine.
Sukher, Ferdinand. 2022. Etiologi Kejang Demam. Alomedika.
The Royal Children’s Hospital Melbourne. 2019. Febrile Seizures. Melbourne: The Royal
Children’s Hospital Melbourne
Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2016), Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Edisi 1,
Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia
Tim Pokja SIKI DPP PPNI, (2018), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), Edisi 1, Jakarta,
Persatuan Perawat Indonesia
Tim Pokja SLKI DPP PPNI, (2018), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), Edisi 1, Jakarta,
Persatuan Perawat Indonesia
Windawati & Dera Alfiyanti, (2020). Jurnal Penurunan HIpertermi Pada Pasien Kejang
Demam Menggunakan Kompres Hangat. Semarang.
Xixis, Kathryn L., Debopam Samanta, Micheal Keenaghan. 2022. Febrile Seizure. Bethesda:
National Library of Medicine