BAB II
STUDI KEPUSTAKAAN
2.1. Landasan Teori
2.1.1. Rasio Keuangan
Menurut Wild, dkk (2005), rasio merupakan alat untuk meyediakan pandangan
terhadap kondisi yang mendasari. Rasio merupakan salah satu titik awal, bukan titik akhir.
Rasio yang diinterpretasikan dengan tepat mengindikasikan area yang memerlukan
investigasi lebih lanjut. Menurut Kasmir (2010), rasio keuangan merupakan indeks yang
menghubungkan dua angka akuntansi yang diperoleh dengan membagi satu angka dengan
angka lainnya. Rasio keuangan dapat digunakan untuk mengetahui apakah telah terjadi
penyimpangan dalam melaksanakan aktivitas operasional perusahaan. Dari definisi ini, rasio
dapat digunakan untuk mengetahui apakah terdapat penyimpangan-penyimpangan dengan
cara membandingkan rasio keuangan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Rasio keuangan merupakan angka yang diperoleh perusahaan dari hasil perbandingan
laporan keuangan yang mempunyai hubungan satu sama lainnya. Pengertian rasio menurut
Aliminsyah (2006) adalah angka yang menunjukkan perbandingan antara satu nilai dengan
nilai lainnya secara nisbi. Sedangkan pengertian rasio keuangan menurut Harahap (2007)
adalah angka yang diperoleh dari hasil perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan
pos lainnya yang mempunyai hubungan yang relevan dan signifikan.
2.1.2. Rasio Likuiditas
Menurut Kasmir (2010) rasio likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan
kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban (utang) jangka pendek. Artinya apabila
perusahaan ditagih, maka akan mampu memenuhi utang (membayar) tersebut terutama utang
yang sudah jatuh tempo. Menurut Van Horne dan Wachowicz (2006), rasio likuiditas
(liquidity ratio), yaitu rasio yang menunjukkan hubungan antara kas perusahaan dan aset
lancar lainnya dengan hutang lancar. Jenis-jenis rasio likuiditas yaitu (Kasmir, 2010):
1. Current ratio (rasio lancar)
Current ratio (rasio lancar) merupakan rasio untuk mengukur kemampuan perusahaan
membayar kewajiban jangka pendek atau utang yang segera jatuh tempo pada saat
ditagih secara keseluruhan. Dengan kata lain seberapa banyak aktiva yang tersedia untuk
menutupi kewajiban jangka pendek yang segera jatuh tempo.
Rumus current ratio yaitu:
𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑎 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟
𝐶𝑢𝑟𝑟𝑒𝑛𝑡 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 =
𝑈𝑡𝑎𝑛𝑔 𝐿𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟
2. Quick ratio (rasio cepat)
Quick ratio (rasio cepat) atau rasio sangat lancar atau acid test ratio merupakan rasio
yang menunjukkan kemampuan perusahaan memenuhi atau membayar kewajiban atau
utang lancar (utang jangka pendek) dengan aktiva lancar tanpa memperhitungkan nilai
sediaan (inventory). Artinya nilai sediaan diabaikan, dengan cara dikurangi dari nilai total
aktiva lancar. Hal ini dilakukan karena sediaan dianggap memerlukan waktu relatif lama
untuk diuangkan, apabila perusahaan membutuhkan dana cepat untuk membayar
kewajibannya dibandingkan dengan aktiva lancar lainnya.
Rumus quick ratio yaitu:
𝐶𝑢𝑟𝑟𝑒𝑛𝑡 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠 − 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑛𝑡𝑜𝑟𝑦
𝑄𝑢𝑖𝑐𝑘 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 =
𝐶𝑢𝑟𝑟𝑒𝑛𝑡 𝐿𝑖𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑖𝑒𝑠
3. Cash ratio (rasio kas)
Merupakan alat yang digunakan untuk mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia
untuk membayar utang. Ketersediaan uang kas dapat ditunjukkan dari tersedianya dana
kas atau yang setara dengan kas seperti rekening giro atau tabungan yang ada di bank.
dapat dikatakan rasio ini menunjukkan kemampuan sesungguhnya bagi perusahaan untuk
membayar utang-utang jangka pendeknya.
Rumus cash ratio yaitu:
𝐶𝑎𝑠 𝑜𝑟 𝐶𝑎𝑠 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑣𝑎𝑙𝑒𝑛𝑡
𝐶𝑎𝑠 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 =
𝐶𝑢𝑟𝑟𝑒𝑛𝑡 𝐿𝑖𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑖𝑒𝑠
4. Cash turnover (rasio perputaran kas)
Digunakan untuk mengukur tingkat kecukupan modal kerja perusahaan yang dibutuhkan
untuk membayar tagihan dan membiayai penjuaan. Artinya, rasio ini digunakan untuk
mengukur tingkat ketersediaan kas untuk membayar tagihan (utang) dan biaya-biaya
yang berkaitan dengan penjualan.
Rumus rasio perputaran kas yaitu:
𝑃𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖
𝐶𝑎𝑠 𝑇𝑢𝑟𝑛𝑜𝑣𝑒𝑟 =
𝑀𝑜𝑑𝑎𝑙 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖
Rasio likuiditas yang digunakan dalam penelitian ini adalah current ratio karena
komponen yang dianalisis berkaitan dengan aset lancar dan utang lancar perusahaan.
2.1.3. Rasio Solvabilitas
Menurut Kasmir (2010), rasio solvabilitas atau leverage ratio merupakan rasio yang
digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dengan utang. Artinya,
berapa besar beban utang yang ditanggung perusahaan dibandingkan dengan aktivanya.
Jenis-jenis rasio solvabilitas yaitu (Kasmir, 2010:112):
1. Debt ratio
Debt ratio merupakan rasio utang yang digunakan untuk mengukur seberapa besar aktiva
perusahaan dibiayai oleh utang atau seberapa besar utang perusahaan berpengaruh
terhadap pengelolaan aktiva.
Rumus debt ratio yaitu:
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐷𝑒𝑏𝑡
𝐷𝑒𝑏𝑡 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 =
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠𝑠
2. Debt to Equity Ratio
Merupakan rasio yang digunakan untuk menilai utang dengan ekuitas. Untuk mencari
rasio ini dengan cara membandingkan antara seluruh utang, termasuk utang lancar
dengan seluruh ekuitas.
Rumus debt to equity ratio yaitu:
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐷𝑒𝑏𝑡
𝐷𝑒𝑏𝑡 𝑡𝑜 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 =
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦
3. Long Term Debt to Equity Ratio
Merupakan rasio antara utang jangka panjang dengan modal sendiri. Tujuannya adalah
untuk mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan
utang jangka panjang dengan cara membandingkan antara utang jangka panjang dengan
modal sendiri yang disediakan oleh perusahaan.
Rumus LTDtER yaitu:
𝐿𝑜𝑛𝑔 𝑇𝑒𝑟𝑚 𝐷𝑒𝑏𝑡
𝐿𝑇𝐷𝑡𝐸𝑅 =
𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦
4. Times Interest Earned
Merupakan rasio untuk mencari jumlah kali perolehan bunga. Rasio ini diartikan juga
kemampuan perusahaan untuk membayar biaya bunga.
Rumus Times Interest Earned yaitu:
𝐸. 𝐵. 𝐼. 𝑇
𝑇𝑖𝑚𝑒𝑠 𝐼𝑛𝑡𝑒𝑟𝑒𝑠𝑡 𝐸𝑎𝑟𝑛𝑒𝑑 =
𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝐵𝑢𝑛𝑔𝑎
Rasio solvabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah debt to equity ratio untuk
membandingkan total utang dan total modal perusahaan.
2.1.4. Rasio Profitabilitas
Menurut Kasmir (2010), rasio profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan
perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan ukuran tingkat efektivitas
manajemen suatu perusahaan. Hal ini ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan
dan pendapatan investasi. Intinya bahwa penggunaan rasio ini menunjukkan efisiensi
perusahaan. Jenis-jenis rasio profitabilitas yaitu (Kasmir, 2010):
1. Profit Margin on Sales
Rasio profit margin atau margin laba atas penjualan, merupakan salah satu rasio yang
digunakan untuk mengukur margin laba atas penjualan. Untuk mengukur rasio ini adalah
dengan cara membandingkan antara laba bersih setelah pajak dengan penjualan bersih.
Rumus profit margin on sales yaitu:
𝑃𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖 − 𝐻𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑃𝑜𝑘𝑜𝑘 𝑃𝑒𝑛𝑗𝑢𝑎𝑙𝑎𝑛
𝑃𝑟𝑜𝑓𝑖𝑡 𝑀𝑎𝑟𝑔𝑖𝑛 𝑜𝑛 𝑆𝑎𝑙𝑒𝑠 =
𝑆𝑎𝑙𝑒𝑠
2. Return on Investment
Merupakan rasio yang menunjukkan hasil (return) atas jumlah aktiva yang digunakan
dalam perusahaan. ROI juga merupakan suatu ukuran tentang efektivitas manajemen
dalam mengelola investasinya.
Rumus Return on Investmet yaitu:
𝐿𝑎𝑏𝑎 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖
𝑅𝑂𝐼 =
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐴𝑠𝑠𝑒𝑡𝑠𝑠
3. Return on Equity
Merupakan rasio untuk mengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri. Rasio
ini menunjukkan efisiensi penggunaan modal sendiri. Makin tinggi rasio ini, makin baik.
Artinya, posisi pemilik perusahaan makin kuat, demikian pula sebaliknya.
Rumus Return on Equity yaitu:
𝐿𝑎𝑏𝑎 𝐵𝑒𝑟𝑠𝑖
𝑅𝑂𝐸 =
𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦
4. Earning Per Share
Merupakan rasio untuk mengukur keberhasilan manajemen dalam mencapai keuntungan
bagi pemegang saham. rasio yang rendah berarti manajemen belum berhasil untuk
memuaskan pemegang saham, sebaliknya dengan rasio yang tinggi, maka kesejahteraan
pemegang saham meningkat dengan pengertian lain, bahwa tingkat pengembalian yang
tinggi.
Rumus EPS yaitu:
𝐿𝑎𝑏𝑎 𝑆𝑎𝑎𝑚 𝐵𝑖𝑎𝑠𝑎
𝐸𝑃𝑆 =
𝑆𝑎𝑎𝑚 𝐵𝑖𝑎𝑠𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝐵𝑒𝑟𝑒𝑑𝑎𝑟
Rasio profitabilitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah return on investment
karena ingin membandingkan laba bersih dengan total aset perusahaan.
2.1.5. Pengertian Saham
Saham adalah surat berharga yang menunjukkan kepemilikan perusahaan sehingga
pemegang saham memiliki hak klaim atas dividen atau distribusi lain yang dilakukan
perusahaan kepada pemegang saham lainnya. Perusahaan menerbitkan lembaran saham biasa
kepada publik ketika mereka perlu menggalang dana. Mereka pada umumnya melibatkan
perusahaan investasi untuk membantu mereka memasarkan saham-saham tersebut
(Brealey,2008).
Menurut Husnan (2005), saham merupakan secarik kertas yang menunjukkan hak
pemodal (yaitu pihak yang memiliki kertas tersebut) untuk memperoleh bagian dari prospek
atau kekayaan organisasi yang menerbitkan sekuritas tersebut dan berbagai kondisi yang
memungkinkan pemodal tersebut menjalankan haknya.
Investasi dengan membeli saham suatu perusahaan, berarti investor telah
menginvestasikan dana dengan harapan akan mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan
kembali saham tersebut. Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa
pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut
dan porsi kepemilikan ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang ditanamkan dalam
perusahaan tersebut (Darmadji, 2006).
2.1.6. Keuntungan dan Resiko Investasi Saham
Dua unsur yang melekat pada setiap modal atau dana yang diinvestasikan adalah hasil
(return) dan resiko (risk). Ada timbal balik setimbang antara hasil dan resiko, umumnya
apabila hasil suatu jenis investasi tinggi maka resikonya pun tinggi. Begitu juga dengan
investasi saham yang pada umumnya memiliki resiko dan hasil yang tinggi. Dalam investasi
saham, selain memperoleh kesempatan mendapatkan dividen dan capital gain, investor
memiliki keuntungan dari sifat saham yang fleksibel dan liquid. Berikut deskripsinya
(Darmadji, 2006):
1. Dividen, yaitu bagian keuntungan dari perusahaan yang dibagikan kepada pemegang
saham pada saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Oleh karena saham adalah
tanda bukti kepemilikian atas emiten (perusahaan penerbit saham) maka
investor/pemegang saham berhak mendapat bagian dari laba perusahaan berupa dividen
tunai (cash dividend), yaitu kepada setiap pemegang saham diberikan dividen berupa
uang tunai dalam jumlah tertentu untuk setiap saham, atau dapat pula berupa dividen
saham (stock dividend), yaitu kepada setiap pemegang saham diberikan dividen dalam
bentuk saham.
2. Capital Gain, yaitu keuntungan yang berasal dari jual-beli saham berupa selisih antara
harga jual yang lebih tinggi dari harga beli. Capital gain terbentuk dengan adanya
aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder. Umumnya investor dengan orientasi
jangka pendek mengejar keuntungan melalui capital gain. Investor seperti ini bisa saja
membeli saham pada pagi hari, lalu menjualnya kembali pada siang hari jika saham
mengalami kenaikan harga.
3. Fleksibel, berarti pemegang saham dapat menjual sebagian sahamnya apabila tiba-tiba
membutuhkan dana. Berbeda dengan investasi tanah, properti, emas dan sebagainya yang
harus dijual secara keseluruhan.
4. Liquid, berarti prinsip good delivery dan good fund dalam pasar modal menjamin
investor mendapatkan saham dan dananya.
Adapun resiko yang dapat terjadi dalam investasi saham, antara lain:
1. Capital Loss, yaitu kerugian dari hasil jual beli saham, berupa selisih antara harga jual
yang lebih rendah dari harga beli.
2. Tidak mendapat deviden, berarti perusahaan akan membagikan deviden jika operasi
perusahaan tidak menghasilkan keuntungan. Dengan demikian, perusahaan tidak dapat
membagikan deviden jika perusahaan tersebut mengalami kerugian. Saham dikeluarkan
dari bursa (delisting), berarti saham perusahaan di-delist dari bursa umumnya karena
kinerja perusahaan yang buruk, misalnya dalam kurun waktu tertentu tidak pernah
diperdagangkan, mengalami kerugian beberapa tahun, tidak membagikan deviden secara
berturut-turut selama beberapa tahun dan berbagai kondisi lainnya sesuai dengan
peraturan pencatatan di bursa.
3. Saham suspend, berarti suatu saham diberhentikan (suspend) perdagangannya oleh
otoritas bursa efek. Dengan demikian pemodal tidak dapat menjual sahamnya hingga
saham yang di suspend tersebut dicabut dari status suspend. Suspend biasanya
berlangsung dalam waktu singkat misalnya dalam satu sesi perdagangan, satu hari
perdagangan namun dapat pula berlangsung dalam kurun waktu beberapa hari
perdagangan. Hal yang menyebabkan saham di-suspend yaitu suatu saham mengalami
lonjakan harga yang luar biasa, suatu perusahaan dipailitkan oleh kreditornya, atau
berbagai kondisi lainnya yang mengharuskan otoritas bursa menghentikan sementara
perdagangan saham tersebut untuk kemudian diminta konfirmasi lainnya. Jika telah
didapatkan suatu informasi yang jelas, maka status suspend atas saham tersebut dapat
dicabut oleh Bursa Efek Indonesia.
4. Resiko Likuidasi, berarti apabila perusahaan yang sahamnya dimiliki, dinyatakan
bangkut oleh pengadilan atau perusahaan tersebut dibubarkan. Dalam hal ini hak klaim
dari pemegang saham mendapatkan prioritas terakhir setelah seluruh kewajiban
perusahaan dapat dilunasi (dari hasil penjualan kekayaan perusahaan).
2.1.7. Return Saham
Menurut Tandelilin (2010), pasar efisien mengimplikasikan bahwa return ekspektasi
adalah sepadan dengan risiko sekuritas. Harga sekuritas seharusnya merefleksikan informasi
mengenai risiko dan harapan mengenai return masa datangnya. Menurut Hartono (2009),
return saham merupakan hasil yang diperoleh dari investasi. Return dapat berupa return
realisasi (realized return) yaitu return yang telah terjadi atau return ekspektasi
(expected return) yaitu return yang diharapkan akan diperoleh investor di masa yang akan
datang. Return realisasi penting karena digunakan sebagai salah satu pengukur kinerja
perusahaan. Return realisasi ini juga berguna sebagai dasar penentuan return ekspektasi
dan risiko di masa datang.
Return yang sepadan dengan risiko saham disebut return normal. Sedangkan jika
pasar tidak efisien, sekuritas-sekuritas akan menghasilkan return yang lebih besar dibanding
normalnya, yang disebut return tak normal (excess return). Dengan demikian, pengujian
efisiensi pasar pada dasarnya adalah pengujian return tak normal.
Perhitungan return saham adalah capital gain atau capital loss ditambah dengan yield.
Capital gain atau capital loss merupakan selisih dari harga investasi sekarang dengan harga
periode lalu. Sedangkan yield merupakan persentase penerimaan kas secara periodik
terhadap harga investasi periode tertentu dari suatu investasi. Yield merupakan persentase
dividen terhadap harga saham periode sebelumnya (Hartono, 2009).
Untuk menghitung return saham, digunakan rumus sebagai berikut (Samsul, 2006):
Pt – (Pt – 1)
Return =
Pt – 1
Keterangan:
=saham=
Pt = Harga (nilai) saham pada waktu t
Pt -1 = Harga (nilai) saham pada waktu t-1 (awal)
Pt -1 = Harga (nilai) saham pada waktu t-1 (awal)
2.2. Penelitian Sebelumnya
Farkhan (2012) melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Rasio Keuangan
terhadap Return Saham Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia”. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh current ratio, debt to equity ratio, total assets
turnover, return on assets dan price earning ratio terhadap return saham perusahaan
manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Hasil pengujian tingkat signifikan (uji t) atau parsial
menunjukan hanya variabel Return On Assets (ROA) dan Price Earning Ratio (PER) yang
mem punyai pengaruh signifikan (< 0,05) terhadap return saham. Adapun yang lainnya
variabel CR, DER, dan TAT tidak mempunyai pengaruh secara signifikan terhadap return
saham, karena mempunyai nilai alpha lebih besar dari 0,05 atau 5%. Hasil pengujian tingkat
signifikansi (uji F) atau simultan menunjukan bahwa variabel CR, DER, TAT, ROA dan PER
berpengaruh signifikan terhadap variabel ROE. Dimana nilai F sebesar 3,025 dan nilai
signifikan sebesar 0,018. Karena nilai signifikansi lebih kecil dari 5%. Hasil pengujian
determinasi bahwa model persamaan regresi menunjukan nilai sebesar0,146 atau (14,6%),
berarti variabel CR, DER, TAT, ROA, dan PER dapat menjelaskan return saham sebesar
14,6% dan sisanya sebesar 85,4% dapat di jelaskan oleh variabel lain diluar model.
Wingsih (2013) melakukan penelitian dengan judul “Analisis Pengaruh Likuiditas,
Profitabilitas, dan Solvabilitas terhadap Return Saham pada Perusahaan Pertambangan yang
Terdaftar di Bursa Efek Indonesia pada Tahun 2008 sampai 2012. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui pengaruh current ratio, return on assets, dan debt to equity ratio terhadap
return saham pada perusahaan pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Variabel Current Ratio(CR) secara parsial berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap
return saham perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI 2008 – 2012. Variabel Return
on Assets(ROA) secara parsial berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap return
saham perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI 2008 – 2012. Variabel Debt Equity
Ratio(DER) secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham
perusahaan pertambangan yang terdaftar di BEI 2008 – 2012. Variabel CR, ROA dan DER
secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham perusahaan
pertambangan yang terdaftar di BEI 2008 – 2012 Adjusted R Square memberikan pengaruh
sebesar 9.3%, dan sisanya sebesar 90,7% dijelaskan oleh faktor lain.
Ngaisah (2008) melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Rasio Profitabilitas dan
Leverage terhadap Return Saham pada Perusahaan yang Terdaftar di Jakarta Islamic Index
Tahun 2004-2006”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh profitabilitas dan
leverage terhadap return saham pada perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index tahun
2004-2006. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis regresi
linier berganda, uji t, uji F, dan analisis koefisien determinasi. Dari analisis data diperoleh
persamaan regresi Y = 3,228 + 0,117X1 + 0,046X2. Konstanta sebesar 3,228 berarti bahwa
apabila rasio profitabilitas dan leverage bernilai nol maka return saham bernilai 3,228 persen.
Koefisien regresi variabel profitabilitas sebesar 0,117 berarti bahwa apabila profitabilitas
meningkat sebesar 1 persen maka return saham akan meningkat 0,117 persen. Koefisien
regresi variabel leverage sebesar 0,046 berarti apabila leverage meningkat sebesar 1 persen
maka return saham akan meningkat sebesar 0,046 persen. Dari uji t diketahui bahwa
profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap return saham di mana thitung > ttabel (2,736 >
1,232) dan nilai signifikansi 0,025 < 0,05. Leverage berpengaruh signifikan terhadap return
saham di mana thitung > ttabel (3,015 > 1,232) dan nilai signifikansi 0,013 < 0,05. Dari uji F
diketahui bahwa profitabilitas dan leverage secara simultan berpengaruh signifikan terhadap
return saham di mana nilai Fhitung > Ftabel (5,736 > 2,858) dan nilai signikansi 0,031 lebih kecil
dari 0,05. Dari analisis koefisien determinasi diketahui bahwa profitabilitas dan leverage
mempengaruhi return saham sebesar 21,5 persen, sedangkan sisanya sebesar 78,5 persen
dipengaruhi oleh variabel lain di luar model penelitian ini.
2.3. Hipotesis
Dugaan sementara dalam penelitian ini yaitu:
1. Rasio likuiditas, solvabilitas, dan profitabilitas secara parsial berpengaruh signifikan
terhadap return saham PT. Adhi Karya (Persero) Tbk.
2. Rasio likuiditas, solvabilitas, dan profitabilitas secara simultan berpengaruh signifikan
terhadap return saham PT. Adhi Karya (Persero) Tbk.