0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan28 halaman

Kasih Sayang Keluarga di Keluarga Cemara

Dokumen ini membahas representasi kasih sayang keluarga dalam film 'Keluarga Cemara 2' melalui analisis semiotika John Fiske. Keluarga sebagai institusi sosial berperan penting dalam pengembangan kepribadian individu, dan film digunakan sebagai media untuk menyampaikan nilai-nilai moral. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna dan pesan moral yang terkandung dalam film tersebut.

Diunggah oleh

one1 stats
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan28 halaman

Kasih Sayang Keluarga di Keluarga Cemara

Dokumen ini membahas representasi kasih sayang keluarga dalam film 'Keluarga Cemara 2' melalui analisis semiotika John Fiske. Keluarga sebagai institusi sosial berperan penting dalam pengembangan kepribadian individu, dan film digunakan sebagai media untuk menyampaikan nilai-nilai moral. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna dan pesan moral yang terkandung dalam film tersebut.

Diunggah oleh

one1 stats
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

Judul : Representasi Kasih Sayang Keluarga dalam Film Keluarga

Cemara 2 (Analisis Semiotika Jhon Fiske).

B. Latar Belakang

Keluarga dilihat dari pengertian secara operasional yaitu suatu struktur

yang bersifat khusus, yang satu sama lain dalam keluarga me miliki hubungan

apakah lewat pernikahan atau lewat hubungan darah. Pengertian keluarga

secara umum dikelompokkan menjadi dua, yaitu keluarga kecil (nuclear

family) dan keluarga besar (extended family). Anggota keluarga kecil terdiri

dari ayah, ibu, dan anak. Keluarga kecil juga disebut keluarga inti. Sementara

keluarga besar adalah seluruh anggota keluarga yang bertambah karena dari

hubungan perkawinan. Maka anggota keluarga besar adalah ayah dan ibu,

bapak dan ibu mertua (Mardani, 2016: 3).

Keluarga dipandang sebagai institusi (lembaga) yang dapat memenuhi

kebutuhan insani (manusiawi), terutama kebutuhan bagi pengembangan

kepribadian anak dan pengembangan ras individu dalam masyarakat. Apabila

mengaitkan peranan keluarga dengan upaya memenuhi kebutuhan individu

dari Maslow, maka keluarga merupakan lembaga pertama yang bias

memenuhi kebutuhan tersebut (Sahlan, 2018: 56-57).

Sebagai agen sosialisasi, keluarga merupakan lembaga pertama dalam

memenuhi kebutuhan individu dalam masyarakat, berarti keluarga memiliki

peran yang tidak kecil dalam membentuk jiwa dan kepribadian anak baik

secara biologis maupun psikologis. Oleh karena itu orang tua harus
menanamkan nilai-nilai yang baik dan menjadi contoh yang baik bagi anak-

anaknya (Sukaimi, 2013: 60).

Secara umum, keluarga memiliki beberapa fungsi antara lain: fungsi

pengaturan seksual, yaitu keluarga sebagai lembaga yang merupakan wahana

bagi masyarakat dalam mengatur dan mengorganisasikan kepuasan keinginan

seksual, fungsi reproduksi, yaitu dalam urusan reproduksi anak setiap

masyarakat yang paling utamanya tergantung kepada keluarga, fungsi

sosialisasi, yaitu keluarga menjadi lingkungan pertama dalam menanamkan

nilai-nilai dan norma yang baik kepada anggota keluarganya, fungsi afeksi

yaitu adanya rasa kasih sayang antara anggota keluarga, fungsi penentuan

status yaitu fungsi yang didapatkan seorang individu karena beberapa hal dan

keluarga merupakan salah satu aspek yang berpengaruh, fungsi perlindungan

yaitu keluarga bertugas dalam melindungi anak dari tindakan-tindakan yang

tidak baik dan fungsi ekonomi yaitu fungsi pemenuhan kebutuhan anggota

keluarga Horton dan Hunt (dalam Pandu dkk, 2012: 51).

Kasih sayang yang pertama muncul dari keluarga yang berasal dari

kasih orang tua kepada anaknya, Namun, sebagian besar dari kita tidak

melihat dari sudut pandang sebaliknya yaitu kasih sayang anak kepada orang

tuanya. Kasih anak kepada orang tua tidak semata-mata hal yang bisa dibilang

mudah, seperti yang telah dijabarkan di atas tentang keluarga yang sudah tidak

utuh dapat mengganggu psikologis anak. Menurut para peneliti, Dibandingkan

dengan anak yang memiliki dua orang tua yang tinggal di dalam satu rumah

(Adawiah, 2017). Anak-anak dengan single parent cenderung rentan


mengalami kondisi finansial dan edukasi yang lebih buruk. Maka dari itu

kasih sayang dari anak kepada orang tuanya tidak bisa dianggap hal yang

mudah untuk dilakukan terutama bagi anak-anak yang tinggal memiliki satu

orang tua saja karena beban atau tekanan yang terjadi didalam diri seorang

anak sangat berpengaruh bagi dirinya.

Selain keluarga dalam membentuk karakter kepribadian individu dalam

masyarakat, juga dipengaruhi oleh media. Dimana media juga berlaku sebagai

agen sosialisasi (Harahap, 2019: 194). Banyak bentuk media dan salah satunya

adalah film menurut Cangara (dalam Atmaja dan Ariyani, 2018: 44). Menurut

Kamus Besar Bahasa Indonesia, film diartikan sebagai lakon (cerita) gambar

hidup (Mabruri 2013: 2). Film sebagai media komunikasi, bukan hanya untuk

hiburan tetapi juga sebagai media pendidikan. Film juga mampu menampilkan

realitas kedua dari kehidupan manusia. Kisah-kisah yang ditayangkan bisa

lebih bagus dari keadaan yang sebenarnya (Syam, 2010: 1). Oleh karena itu

dapat disimpulkan bahwa film merupakan representasi kehidupan sosial

masyarakat secara ideal (Lasminah, 2001: 3).

Beragam media komunikasi baik visual dan audio visual pun hadir di

masyarakat. Hal ini sangat menjadi kebutuhan mendasar umat manusia.

Apalagi di era jaman sekarang inovasi sangat berkembang dalam media

komunikasi yang semakin canggih. Media komunikasi dapat dimanfaatkan

sebagai sarana menyampaikan pesan moral yang baik (Nisa, 2014). Pesan

moral yang disampaikan melalui media komunikasi sangat banyak macamnya

yang salah satu diantaranya adalah media film.


Semiotika ialah ilmu yang mempelajari tentang tanda (sign),

berfungsinya tanda dan produksinya makna. Semiotika memandang

komunikasi sebagai proses pemberian makna melalui tanda yaitu bagaimana

tanda mewakili objek, ide, situasi dan sebagainya yang berada diluar diri

individu. Semiotika digunakan dalam topik-topik tentang pesan, media,

budaya dan masyarakat (Sobur, 2006).

John Fiske mengemukakan teori mengenai kode-kode televisi (the

codes of television), teori ini berpendapat bahwa sebuah realitas tidak dapat

muncul begitu saja melalui kode-kode yang timbul melainkan diolah melalui

penginderaan sesuai referensi yang sebelumnya sudah dipahami para

penonton, sehingga sebuah kode akan dipersepsi secara berbeda oleh orang

yang berbeda juga. The Codes of Television adalah teori yang sering

digunakan dalam menganalisis teks berbentuk gambar bergerak atau moving

picture. Teori ini menyatakan bahwa sebuah peristiwa yang digambarkan

dalam sebuah gambar bergerak memiliki kode-kode sosial sebagai berikut

(vera, 2014:35-36): (1) Level Realitas, (2) Level Representasi, (3) Level

Ideologi.

Representasi dari kasih sayang anak kepada orang tua ini akan di kaji

kembali menggunakan teori Semiotika dari John Fiske yang menyebutkan

bahwa ada dua poin penting didalamnya yang adalah hubungan antara tanda

dan makan, setelah itu dikombinasikan untuk menjadi sebuah kode. Dua

perhatian utama yaitu hubungan tanda dan maknanya, kemudian

pengkombinasian tanda menjadi sebuah kode. Berdasarkan analisa John Fiske,


semiotika merupakan ilmu tentang petanda dan makna dari sistem tanda,

semiotika mengandung sistem tanda yang merupakan studi untuk membahas

tanda dari segala rumpun media yang ada dimasyarakat yang akan

dikombinasikan menjadi sebuah makna. Ilmu tentang media atau studi tentang

bagaimana tanda dari jenis karya apapun dalam masyarakat yang

mengkomunikasikan makna. Batasan penelitian dari penelitian ini

memfokuskan penelitian ini pada elemen-elemen pengambilan gambar,

setting, dialog, perilaku pada film “Pertaruhan”. Sebagai metode analisis data

maka semiotika akan dibatasi pada pembahasan tentang tanda dan hubungan

antara tanda dan maknanya. Teori Semiotika John Fiske akan digunakan pada

penelitian ini untuk membahas mengenai representasi tanda dan makna kasih

sayang anak kepada orang tua tunggal.

Ketika berbicara mengenai persoalan keluarga dan media film. Tema-

tema keluarga banyak diangkat kedalam dunia perfilman. Film dengan kisah

lingkungan keluarga pertama kali digarap oleh industri film pada tahun 1923

(Biran, 2009: 79). Pada tanggal 3 Januari 2019, industri perfilman Indonesia

yaitu Visinema Pictures memproduksi salah satu film bertema keluarga yang

berjudul “Keluarga Cemara” (Movieden, 2019).

Keluarga cemara adalah film Indonesia yang bergenre drama. Film

Keluarga cemara ini merupakan adaptasi dari cerita bersambung yang awalnya

dimuat di majalah “ HAI Magazine” dan kemudian menjadi novel karya

Arswendo Atmowiloto dan serial televisi dengan judul yang sama dan mampu

meraih kesuksesan pada waktu itu pada tahun 1990-an.


Film Keluarga Cemara ini dibintangi oleh seorang aktor dan aktris yang

berbakat yaitu Ringgo Agus dan Nirina Zubir. Rumah produksi Visinema

Pictures adalah production house yang telah memproduksi beberapa film

seperti (Cahaya dari timur: Beta Maluku, Filosofi Kopi, Love for sale). Dan

kali ini akan mengenalkan film Keluarga cemara kepada generasi milenial

sekaligus menawarkan momen nostalgia kepada penggemar setianya dengan

menayangkan film ini.

Alur cerita Keluarga Cemara dalam film berkesan sederhana tapi

meyampaikan banyak hal dan cerita yang indah. Berkisah tentang sebuah

keluarga kecil yang penuh lika-liku kehidupan. Rangkaian cerita cukup

menarik dan mampu menguras emosi penonton, bagaimana tidak seorang

kepala keluarga memimpin istri dan anak- anaknya untuk bertahan

menghadapi berbagai macam rintangan dalam perjalanan hidup keluarganya,

berlatih bersabar dalam mendapatkan sesuatu, mengasihi satu sama lain, dan

saling tolong menolong. Film ini juga penuh edukasi dan informasi tentang

kekeluargaan didalamnya. Kisah legendaris Abah, Emak dan anak- anaknya

dari sebuah sinetron ini kemudian diangkat menjadi sebuah film.

Alasan peneliti memilih film Keluarga cemara untuk diteliti yaitu tidak

hanya karena pencapaian film ini tetapi film ini akan syarat akan makna

sebuah perjuangan dalam kehidupan keluarga, mengungkap pesan-pesan

moral dan social sehingga akan menarik bila dilakukan sebuah penelitian

untuk mengetahui makna dan pesan moral yang tekandung didalam film

tersebut.
Berdasarkan dari latar belakang yang sudah dijelaskan diatas maka

peneliti tertarik untuk meneliti film “Representasi Kasih Sayang Keluarga

dalam Film Keluarga Cemara 2 (Analisis Semiotika Jhon Fiske).

C. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah representasi

Kasih Sayang Keluarga dalam Film Keluarga Cemara 2 Analisis Semiotika

Jhon Fiske)?

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian

a. Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini yaitu untuk

melihat representasi Kasih Sayang Keluarga dalam Film Keluarga Cemara

2 Analisis Semiotika Jhon Fiske).

b. Manfaat Penelitian

1) Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai acuan

atau bahan evaluasi dari penelitian yang berkaitan dengan

permasalahan serupa, agar mahasiswa dapat mengaplikasikan untuk

perkembangan ilmu komunikasi. Selain itu penelitian ini diharapkan

dapat memperdalam ilmu tentang analisis teks media massa,

khususnya tentang analisis semiotika pada sebuah film.

2) Manfaat Praktis

Agar dapat digunakan sebagai salah satu pengembangan

evaluasi kelebihan dan kekurangan yang telah dibuat seharusnya,


sehingga untuk kedepannya dapat membuat serta menghasilkan

banyak film berkualitas yang merupakan salah satu media komunikasi

massa.

E. Telaah Pustaka

Geraldo Aldatya Prakoso, Ester Krisnawati, Seto Herwandito, 2023,

Representasi Kasih Sayang Anak Kepada Orang Tua Berdasarkan Film

Pertaruhan. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif

dengan metode semiotika televise John Fiske yang terdiri dari tiga level, yaitu

level realitas, level representasi dan level ideologi. Dengan menggunakan

metode semiotika televisi John Fiske, peneliti menemukan hasil penelitian

bahwa kasih sayang anak memilki dua bentuk didalamnya yaitu kasih yang

berbentuk prososial dan empati. Prososial bagaimana seorang anak memiliki

tingkah laku yang menguntungkan atau membuat kondisi fisik atau psikis

orang lain lebih baik dan hal ini dilakukan atas dasar sukarela tanpa

mengharapkan imbalan. Sedangkan empati membuat anak menjadi lebih peka

terhadap keadaan sehingga dapat memunculkan perasaan serta kepeduliannya

atas suatu permasalahan yang terjadi

Della Fauziah Ratna Puspita1, Iis Kurnia Nurhayati 2018 Analisis

Semiotika John Fiske Mengenai Realitas Bias Gender Pada Iklan Kisah

Ramadhan Line Versi Adzan Ayah Tujuan penelitian ini adalah untuk

mengetahui makna bias gender pada iklan. Ramadhan Line versi Adzan Ayah

melalui level realitas. Untuk mencapai tujuan penelitian, peneliti

menggunakan paradigma kritis, dengan pendekatan kualitatif dan analisis


semiotika John Fiske berdasarkan level realitas dengan kode tampilan,

kostum, ekspresi, gesture, percakapan, suara, dan teks. Hasil penelitian

menunjukkan bias gender diperlihatkan dengan menampilkan laki-laki dan

perempuan secara bersamaan. Dalam aspek tempat diperlihatkan dari

pekerjaan yang dilakukan perempuan di wilayah domestik dan laki – laki

berada pada wilayah publik.

Ludy Putra Anwar, 2021 Analisis Semiotika Tentang Representasi

Disfungsi Keluarga Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi

disfungsi keluarga yang terdapat dalam film Boyhood merupakan gambaran

beberapa keluarga yang sering terjadi dalam realita kehidupan saat ini yang

menunjukkan bagaimana baik orang tua maupun anak tidak menjalani

perannya dengan baik. Orang tua otoriter membuat anak menjadi sangat

tertutup. Kekerasan yang dilakukan oleh seorang ayah terhadap istri ataupun

anaknya merupakan tindakan yang melanggar norma. Terlepas dari semua itu,

cinta dan kasih sayang didalam sebuah keluarga merupakan jembatan untuk

memperbaiki disfungsi tersebut. Dalam Film Boyhood.

Rio Rizky Rizaldy, Kusnarto, 2023 Analisis Semiotika John Fiske

Terhadap Representasi Kedekatan Emosional Orang Tua dan Anak Dalam

Film “Pulang” Dengan menggunakan analisis semiotika John Fiske dengan

tiga levelny a maka dapat disajikan hasil penelitian berupa representasi

kedekatan emosional pada level realitas yang ditegaskan melalui interaksi

yang dinamis, keleluasaan berekspresi dan gesture sebagai perwujudan

kepedulian dan kasih sayang. Level representasi ditonjolkan pada teknik


kamera (shot) guna menegaskan tanda-tanda pada level realitas yang

menegaskan interaksi antar tokoh. Level ideologi yang ditemukan adalah

Liberalisme yang diterapkan dalam pola pengasuhan, pendidikan dan

pengembangan anak sejak dini yang dilakukan orang tua dalam

mempengaruhi kedekatan emosional. Lalu bentuk kedekatan emosional yang

terbentuk ialah pola secure attachment yang mengkonstruksikan realitas

kedekatan emosional yang tinggi pada tokoh Pras dan Rindu

Ami Ainun Fahmi Rahmanda, Alex Sobur, 2022, Makna Kasih Sayang

Keluarga dalam Film Korea Penelitian ini menggunakan metode penelitian

kualitatif dengan pendekatan analisis semiotika John Fiske. Tujuan dalam

penelitian ini adalah untuk mengetahui level realitas,representasi, dan ideologi

dalam film Minari karya Lee Isaac Chung. Hasil penelitian yang menunjukkan

bahwa Film Minari direpresentasikan melalui penampilan, cara berbicara,

perilaku, ekspresi dan lingkungan, yangdipertegas melalui teknik-teknik

pengambilan gambar. Nilai-nilai makna kasih sayang keluarga tergambar

melalui lingkungan, tempat pengambilan gambar, penampilan dan kostum,

gerak dan ekspresi, kata, kalimat, dialog, proposisi foto, sudut pengambilan

gambar, maupun narasi.

Trivosa Pah, Rini Darmastuti, 2021 Analisis Semiotika John Fiske

Dalam Tayangan Lentera Indonesia Episode Membina Potensi Para Penerus

Bangsa Di Kepulauan Sula. Tulisan ini didasarkan pada paradigma kritis

dengan mendekatan semiotika John Fikse. Kode- kode sosial yang dikemukan

oleh John Fiske terbagi menjadi 3 tahapan yaitu level realitas, level
representatif dan level ideologi. Dilihat dari setiap cerita yang dibangun dari

segmen 1 sampai 3, tayangan ini ingin menunjukkan 1. Perjuangan seorang

anak muda yang bernama Yosa dalam memperjuangkan pendidikan di daerah

pelosok yang ada di Indonesia, dengan kepribadian yang sederhana, kreatif,

tegas, memiliki sifat pemimpin, dan mudah berbaur dengan lingkungan

sekitar. 2. Pelajaran hidup yang menginspirasi, semangat perjuangan, kebaikan

hati dan kerelaan memberi yang datang dari tokoh-tokoh lain selain tokoh

utama, dalam keterbatasan fasilitas serta listrik 3. Potensi anak daerah Maluku

yang dijuluki sebagai city of music in Indonesia

F. Landasan Teori

1. Representasi

Representasi berasal dari Bahasa Inggris, representation, yang

artinya perwakilan, gambaran, atau penggambaran. Secara sederhana,

representasi adalah sebuah gambaran mengenai suatu hal yang terdapat

dalam kehidupan yang digambarkan melalui suatu media. Melalui sebuah

representasi, suatu makna diproduksi dan dipertukarkan antar masyarakat.

Representasi juga dapat dikatakan adalah salah satu cara untuk

memproduksi makna. Sifat yang dimiliki representasi dapat

mempengaruhi informasi yang sampai kepada khalayak dan bagaimana

khalayak tersebut akan menafsirkan dan mengingat pesan atau informasi

yang disajikan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),

representasi dapat diartikan sebagai perbuatan yang mewakili, ataupun

keadaan yang bersifat mewakili. Representasi juga dapat diartikan sebagai


suatu proses yang melibatkan suatu keadaan dan diwakilkan melalui

simbol, gambar, dan semua hal yang berkaitan dengan yang memiliki

makna. Penggambaran yang dimaksud dalam proses ini dapat berupa

sebuah deskripsi yang berusaha dijabarkan melalui sebuah penelitian dan

analisis semiotika.

Representasi menurut John Fiske (2004:282) adalah sesuatu yang

merujuk pada proses yang disampaikan dalam sebuah komunikasi melaui

sebuah kata – kata, bunyi atau suara, citra atau kombinasinya. Dua hal

yang penting dalam representasi yaitu apakah ada kelompok, gagasan,

seseorang ataupun pendapat tersebut ditampilkan dengan bagaimana

mestinya (secara berimbang, atau hanya sisi negatif saja) dan

bagaimanakah representasi tersebut ditampilkan dan siapa saja yang

menampilkan (melalui foto, kalimat ataupun hanya sebatas kata saja).

Menurut Fiske, sebuah praktik asumsi representasi yang berlaku

adalah bahwa isi media tersebut tidak merupakan murni realitas, karena

itulah representasi lebih dipandang sebagaimana cara mereka membentuk

versi realitas dengan bergantung pada posisi social dan cara – caranya.

Dari beberapa penjelasan para ahli tersebut, dapat disimpulkan

bahwa representasi adalah suatu proses untuk memproduksi makna dari

suatu konsep yang ada dipikiran kita melalui bahasa. Proses produksi

makna tersebut dapat memungkinkan menghadirkan sistem representasi.

Namun proses pemaknaan tersebut tergantung pada latar belakang

khalayak ataupun kelompok masyarakat terhadap suatu tanda. Karena


suatu kelompok masyarakat harus memiliki pengalaman yang sama untuk

dapat memaknai tanda tersebut.


2. Semiotika John Fiske

Semiotika berasal dari Bahasa Yunani yaitu semeion yang berarti

“tanda”. Semiotika adalah suatu metode yang mempelajari mengenai

pertandaan dan makna dari sistem tanda, bagaimana makna dibangun

dalam teks media atau studi tentang bagaimana jenis karya apapun dalam

masyarakat yang mengkonsumsi makna (John Fiske, 2004:282).

Menurut John Fiske, kode – kode yang muncul atau digunakan

dalam acara televisi itu selalu berhubungan sehingga terbentuklah sebuah

makna. Sebuah realitas tidak muncul begitu saja namun juga melalui

indera sesuai dengan referensi yang dimiliki oleh penonton televisi, maka

dari itu setiap orang bisa berbeda dalam menanggapi suatu makna dalam

televise sesuai dengan latar belakang, budaya, kelas sosial dan hal lainnya.

John Fiske (2012:66-67). berpendapat bahwa terdapat tiga wilayah

kajian dalam semiotika, diantaranya yaitu

a) Tanda itu sendiri Terdiri atas studi tentang berbagai tanda yang

berbeda, cara – cara yang berbeda dari tanda di dalam yang

menghasilkan makna, dan cara tanda – tanda tersebut berhubungan

dengan orang yang menggunakannya.

b) Kode atau sistem yang mengorganisasikan tanda Kajian ini melingkupi

bagaimana beragam kode telah dikembangkan untuk memenuhi

kebutuhan masyarakat atau budaya, atau untuk mengeksploitasi

saluran – saluran komunikasi yang tersedia bagi pengiriman kode

tersebut.
c) Kebudayaan tempat kode dan tanda bekerja Hal ini bergantung pada

penggunaan dari kode- kode dan tanda – tanda untuk eksistensi dan

bentuknya sendiri

Kode – kode televisi (television codes) adalah teori yang

dikemukakan oleh John Fiske atau biasa disebut dengan kode – kode yang

digunakan dalam dunia pertelevisian. Menurut John Fiske, kode – kode

yang muncul atau yang digunakan dalam acara televisi tersebut saling

berhubungan sehingga terbentuklah sebuah makna. Menurut teori ini pula,

sebuah realitas tidak muncul begitu saja melalui kode – kode yang timbul,

namun juga diolah melalui penginderaan serat refereni yang dimiliki oleh

penonton televisi sehingga sebuah kode akan dipersepsikan secara

berbeda– beda oleh orang yang berbeda – beda juga.

Dalam kode – kode televisi yang diungkapkan dalam teori John

Fiske, bahwa peristiwa yang ditayangkan dalam dunia televisi telah di

encode oleh kode – kode social yang terbagi dalam tiga level sebagai

berikut:

1. Level Realitas (Reality) Kode yang masuk ke dalam level realitas ini

adalah penampilan (appearance), kostum (dres), riasan (make up),

lingkungan (environment), kelakukan (behaviour), cara berbicara

(speech), ekspresi (expression), dan gerakan (gesture).

2. Level Representasi (Representation) Kode yang masuk dalam level

representasi adalah kode teknis, yang meliputi kamera (camera),

pencahayaan (lighting), music (music), suara (sound), dan perevisian


(editing). Serta kode representasi konvensional yang terdiri dari naratif

(narrative), konflik (conflict), karakter (character), aksi (action),

percakapan (dialogue), pemilihan pemain (casting) dan layar (setting).

3. Level Ideologi (Ideology) Kode sosial yang termasuk dalam level

ideologi adalah individual (individualism), femini (feminisme), kelas

(class), ras (race), kapitalis (capitalism), material (materialism), dan

lain lain

3. Kasih Sayang Keluarga

Keluarga terdiri dari beberapa orang maka terjadilah interaksi antar

pribadi dan itu berpengaruh terhadap keadaan harmonis dan tidak

harmonisnya sebuah keluarga yang selanjutnya akan berpengaruh juga

terhadap pribadi – pribadi lain dan juga perilaku yang ada dalam keluarga.

Daradjat (dalam Awi dkk., 2016:5) mengemukakan bahwa dalam sebuah

keluarga setiap anggotanya menjalankan hak dan kewajibannya masing –

masing, terjalinnya kasih sayang, saling pengertian, komunikasi dan

kerjasama yang baik antara anggota keluarga. Kehidupan dalam keluarga

dibenuk melalui interaksi yang dibangun antar anggotanya. Dengan

komunikasi masing – masing anggota dapat mengetahui peran, aturan dan

harapan.

Menurut Aziz Safrudin (2015:235) mengemukakan bahwa

komunikasi keluarga adalah suatu pengorganisasian yang menggunakan

kata – kata, intonasi suara, dan tindakan yang mengandung maksud

mengajarkan, mempengaruhi dan memberikan pengertian. Komunikasi


dalam keluarga semestinya dibangun dengan baik oleh tiap – tiap anggota

keluarga, baik orang tua maupun anak. Komunikasi dalam keluarga perlu

dibangun dengan baik untuk menciptakan hubungan yang baik antar

anggotanya.

Menurut Wood (2016:352-355) ada beberapa ciri – ciri komunikasi

keluarga yang baik dan efektif, yaitu sebagai berikut :

1) Terdapat kesetaraan dan keadilan pada masing – masing anggota

keluarga. Masing – masing anggota mendapatkan hak dan perlakuan

yang sama dan tidak dibeda – bedakan

2) Terdapat keakraban dan kedekatan yang terjalin antar anggota keluarga

3) Terdapat kesediaan pada masing – masing anggota untuk

mengesampingkan masalah – masalah kecil demi menjaga hubungan

tetap baik

4) Komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak serta adanya sikap

saling menghargai.

Peran orang tua dalam keluarga mempunyai pengaruh yang kuat

dan langsung terhadap perilaku anaknya. Oleh karena itu, setiap keluarga

memiliki tantangan masing – masing dalam menciptakan komunikasi dan

hubungan yang baik dalam keluarga. Dalam jurnal penelitian Kementerian

Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Yayasan Melati

(2016) menyebutkan konsep – konsep dalam membangun komunikasi

yang efektif dalam keluarga. Bahwa perlakuan orang tua yang diharapkan

anak adalah sebagai berikut :


1) Memberi kepercayaan kepada anak

2) Memberikan kasih sayang dan perasaan positif

3) Memberikan perhatian dan dukungan

4) Menerima dan menghargai anak

5) Bersedia mendengarkan dan bisa berempati dengan anak

Komunikasi dalam keluarga bisa terjadi secara sempurna jika

komunikasi tersebut mendapatkan respon dari anggota keluarga lainnya

dan mendapatkan timbal balik. Komunikasi yang terjadipun harus efektif

agar dapat memberikan pengertian yang sesuai dan hubungan yang baik

antar anggota keluarga, dengan begitu maka komunikasi yang hadir antara

orang tua dan anak akan menjadi lebih terbuka. Orang tua selalu

menginginkan anaknya untuk berbuat baik, tercapai segala cita – citanya

dan juga dapat bergaul di lingkungan masyarakat secara baik dan tidak ada

masalah. Hal itu diperlukan kasih sayang dari orang tua.

Kasih sayang terdiri dari dua suku kata yang saling berkaitan dan

masing – masing mempunyai makna tersendiri tetapi selalu dipasangkan

dan selalu berdampingan. Kata kasih sangatlah banyak tergantung dari

mana sudut kita memandang permasalahannya, yang biasa kita kenal

adalah makna tentang perasaan suka, sayang dan memberi. Kasih adalah

sebuah perasaan yang dimiliki oleh setiap insan manusia, perasan ini akan

timbul apabila manusia tersebut mempunyai rasa memiliki dan

menyayangi. Kasih juga dapat dikatakan hubungan ketertarikan antara

sesama manusia atau manusia dengan sesuatu seperti benda ataupun


hewan, dan juga antara manusia dengan Tuhan. Menurut Sears (2002:89)

kasih sayang merupakan rasa aman dan ketenangan yang diberikan dari

hubungan yang erat, hal ini biasa terjadi dalam proses dua arah

4. Film

Film merupakan alat komunikasi massa yang muncul pada abad ke-

19. Menurut Sobur (2004:126) kekuatan dan kemampuan film itu

menjangkau banyak segmen sosial, yang mana membuat para ahli film

memiliki power untuk mempengaruhi maupun membentuk suatu

pandangan dimasyarakat dengan muatan pesan yang ada di dalamnya.

Film selalu merekam realitas yang tumbuh dan berkembang di

dalam masyarakat dan kemudian memproyeksikannya ke dalam layar.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) film dapat diartikan ke

dalam dua pengertian. Pertama, film merupakan selaput tipis yang dibuat

dari seluoid untuk tempat gambar negative (yang akan dibuat potret) atau

untuk tempat gambar positif (yang akan ditayangkan di bioskop).

Kemudian yang kedua, film diartikan sebagai lakon (cerita) gambar hidup.

Film merupakan salah satu sarana hiburan yang memiliki daya

Tarik cukup tinggi di berbagai kalangan masyarakat, mulai dari anak –

anak hingga dewasa dan dari ekonomi bawah hingga atas (Victor, 2000:1).

Sebuah film tidak hanya menjadi hiburan semata, namun juga dapat

memberikan kehadiran ataupun kedekatan suatu dunia yang tidak

tertandingi dengan tempat lain. Sebuah film juga dapat memberikan

perasaan yang intens kepada masyarakat yang menontonnya.


Sebuah film dapat dibuat dengan animasi maupun yang diperankan

orang nyata yang memberikan perasaan intens kepada penonton melalui

aktingnya yang sejalan dengan kehidupan sehari – hari. Saat ini, film dapat

dijadikan media penyampaian pesan – pesan moral maupun nilai – nilai

kehidupan kepada khalayak luas melalui media massa. Pesan – pesan yang

disampaikanpun variatif, mulai dari edukatif, rekreatif, persuasif maupun

non-informatif

Dalam menyampaikan sebuah pesannya kepada khalayak, sutradara

menggunakan imajinasinya untuk mempresentasikkan pesan melalui

sebuah film dengan mengikuti unsur – usnur yang menyangkut eksposisi

(penyajian secara langsugn dan tidak langsung). Tidak sedikit film yang

berdasarkan dari kisah nyata atau sungguh – sungguh terjadi dalam

masyarakat. Banyak muatan pesan ideologis di dalamnya sehingga dapat

mempengaruhi pola pikir penontonnya. Sebagai gambar yang bergerak,

film adalah reproduksi dari kenyataan seperti apa adanya.

Film juga merupakan sarana ekspresi indrawi yang khas dan

efisien, aksi dan karakteristiknya dikomunikasikan dengan kemahiran

mengekspresikan image yang ditampilkan dalam film yang kemudian

menghasilkan makna tertentu yang sesuai dengan konteksnya.


5. Kerangka Pemikiran

Film Keluarga Cemara 2

Analisis Semiotika John


Fiske

Level Realitas Level Representas Level Ideologi

Representasi Kasih Sayang


Keluarga pada Film Keluarga Cemara 2

Bagan 2.1 Kerangka Berpikir Penelitian Representasi Kasih Sayang Keluarga


pada Film Keluarga Cemara 2

Kerangka penelitian ini berawal dari sebuah tayangan film yang kemudian

munculah subjek penelitian yaitu film Keluarga Cemara 2. Film tersebut

akan dianalisis menggunakan analisis semiotika John Fiske yang melalui

tiga level yaitu level realitis, level representasi dan level ideology. Dengan

demikian, menghasilkan Representasi Kasih Sayang Keluarga pada Film

Keluarga Cemara 2.

G. Metode

Penelitian kualitatif ini menggunakan metode penelitian eksplorasi,

eksplorasi merupakan jenis penelitian awal dari suatu penelitian yang sifatnya

sangat luas. Dalam penelitian eksplorasi menjadi sangat penting dikarenakan

akan menghasilkan landasan yang kuat bagi penelitian selanjutnya. Yusuf,


(2004) mengemukakan tujuan penelitian eksplorasi merupakan tujuan untuk

mendapatkan ide-ide mengenai permasalahan pokok secara lebih terperinci

maupun untuk mengembangkan hipotesis yang ada.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan peneltian kualitatif untuk

dapat memahami fenomena dalam konteks sosial secara alamiah yang

menggambarkan permasalahan sosial pada seseorang mengenai sudut pandang

perilaku. Dalam penelitian kualitatif peneliti menganalisis dan setelah itu

melaporkan fenomena dalam suatu hasil analisa dalam penelitian.

1. Jenis Penelitian

Gambaran dan data – data yang diperlukan, maka sebuah metode

dalam peneitian sangat penting kegunaannya. Maka penelitian yang

berjudul Representasi Kasih Sayang Keluarga pada Film Keuarga Cemara

2 ini menggunakan metode jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan

teknik analisis semiotika dari John Fiske. Dengan menggunakan metode

penelitian deskriptif kualitatif ini dirasa tepat untuk menjawab pertanyaan

yang ada pada rumusan masalah, yaitu mengetahui representasi kasih

sayang keluarga pada film Keluarga Cemara 2.

2. Sumber Data

a. Data Primer

Sumber data primer yang diperoleh dari penelitian ini adalah

dengan observasi langsung dari film Keuarga Cemara 2 berupa

dokumentasi adegan atau scene yang menunjukan adanya tanda kasih

saying dalam film tersebut.


b. Data Sekunder

Data sekunder yang diperoleh dari penelitian ini berupa data data

pendukung seperti jurnal, artikel, internet dan berita atau sumber

lainnya yang mendukung penelitian ini

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis

dalam penelitian, karena tujuan utama dari sebuah penelitian adalah

mendapatkan data. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tiga teknik

pengumpulan data, yaitu observasi, dokumentasi dan studi pustaka.

a. Observasi

Melalui observasi, peneliti belajar tentang perilaku dan makna

dari perilaku tersebut. Kegiatan observasi yang dilakukan dalam

penelitian ini adalah observasi non partisipan, yang mana peneliti tidak

terlibat secara langsung dan hanya mengamati berbagai keadaan atau

situasi dan kondisi yang berhubungan dengan tujuan peneliti. Dalam

penelitian ini, peneliti melakukan pengamatan pada tampilan adegan

atau scene yang menunjukkan kasih sayang pada film Keluarga

Cemara 2.

b. Dokumentas

Dokumentasi adalah instrument pengumpulan data yang sering

digunakan dalam berbagai metode pengumpulan data. Tujuannya

adalah untuk mendapatkan informasi yang mendukung analisis dan

interpretasi data. Dokumentasi adalah sebuah catatan peristiwa –


peristiwa terdahulu. Dokumentasi dapat berupa tulisan, gambar atau

karya monumental dari seseorang (Sugiyono, 2009:240).

Secara singkat, dokumentasi adalah segala usaha yang dilakukan

oleh peneliti untuk menghimpun informasi. Infromasi itu dapat

diperoleh dari buku – buku, laporan penelitian, artikel, tesis,

ensiklopedia dan sumber - sumber tertulis baik tercetak maupun

elektronik.

c. Studi Pustaka

Studi Pustaka dilakukan untuk memperkaya pengetahuan

mengenai berbagai konsep yang akan digunakan sebagai dasar atau

pedoman dalam proses penelitian (Martono, 2011:97). Peneliti juga

menggunakan studi pustaka dengan teknik pengumpulan data. Studi

pustaka dalam teknik pengumpulan data ini merupakan jenis data

sekunder yang digunakan untuk membentu proses penelitian, yaitu

dengan mengumpulkan informasi yang terdapat dalam artikel surat

kabar, buku – buu, maupun karya ilmiah pada penelitian sebelumnya.

4. Teknik Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian kualitatif ini adalah

dengan analisis semiotika John Fiske dengan menggunakan tiga tingkatan

tanda. Tingkatan pertama adalah reality, dalam tingkatan ini peneliti akan

memaknai kode atau tanda yang ditandakan dengan sebagai realitas

tampilan, pakaian, lingkungan perilaku, percakapan, gesture, ekspresi,

suara dan sebagainya. Tingkatan kedua adalah representasi, dalam


tingkatan ini peneliti akan memaknai kode atau tanda yang ditandakan

dengan sebagai kamera, editing, music dan suara yang kemudian akan

ditransmisikan dalam kode representasional yang dapat

mengaktualisasikan karakter, narasi, dialog, setting dan sebagainya. Lalu

pada tingkatan ketiga atau terakhir adalah ideology, daalam tingkatan ini

peneliti akan memaknai kode ideologis seperti patriarki, individualis,

kapitalisme, nasionalisme, materialisme dan sebagainya.

H. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan dalam proposal ini meliputi

Latar Belakang

Berisi tentang permasalah yang terjadi dalam penelitian ini terkait dengan

representasi kasih saying dalam film keluarga cemara 2 berdasarkan Analisis

Semiotika Jhon Fiske

Rumusan Masalah

Berisi tentang hasil permasalahan yang dirumuskan menjadi pokok

pembahasajn

Tujuan dan Manfaat Penelitian

Berisi tentan tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian serta manfaat

dari penelitian ini

Telaah Pustaka

Berisi tentang hasil penelitian atau jurnal penelitian terdahulu yang sesuai

dengan penelitian ini

Landasan Teori
Berisi tentang teori-teori tentang Representasi, Semiotika John Fiske,

Kasih Sayang Keluarga, Film dan Kerangka Pemikiran

Metode

Mengenai metode peneitian yang akan digunakan dalam penelitian ini

yang berisi tentang Jenis Penelitian, Sumber Data, Teknik Pengumpulan

Data, Teknik Analisis Data

I. Daftar Pustaka

Ami Ainun Fahmi Rahmanda, Alex Sobur, 2022, Makna Kasih Sayang
Keluarga dalam Film Korea, Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital
Volume 2, No. 1, Juli 2022 e-ISSN 2789-6403

Della Fauziah Ratna Puspita1, Iis Kurnia Nurhayati 2018 Analisis Semiotika
John Fiske Mengenai Realitas Bias Gender Pada Iklan Kisah Ramadhan
Line Versi Adzan Ayah., ProTVF, Volume 2, Nomor 2, September
2018, Hal. 157-171

Dhevie, S. C. (2020). Analisis Semiotika Representasi Kasih Sayang


Keluarga dalam Film Lemantun Karya Wregas Bhanuteja. Skripsi,
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Ilmu Komunikasi, Universitas
Sebelas Maret, Surakarta .

Fiske, J. (17). Television Culture: Popular Plesure and Politics. London:


Routledge.

Fsike, J. (2004). Cultural and Communication Studies. Yogyakarta: Jalasutra.


ohn Fiske, J. H. (2003). Semiotika dalam Riset Komunikasi. Bandung:
PT. Remaja Rosadakarya.

Geraldo Aldatya Prakoso, Ester Krisnawati, Seto Herwandito, 2023,


Representasi Kasih Sayang Anak Kepada Orang Tua Berdasarkan Film
Pertaruhan Jurnal Impresi Indonesia (JII) Vol. 2, No. 7, Juli 2023 p-
ISSN: 2828-1284 e-ISSN: 2810-062x website:
[Link]

Kristianto, K. D. (2015). Representasi Fungsi Keluarga Dalam Film Ekskul.


Jurnal E-Komunikasi, 3.
Ludy Putra Anwar, 2021 Analisis Semiotika Tentang Representasi Disfungsi
Keluarga, Journal of Discourse and Media Research Juni 2022, Vol. 1,
No. 1, pp. 60-78 E-ISSN: 2830-313X

Lestari, D. P. (n.d.). Sinopsis dan Review Film Drama Keluarga Yes Day
(2021). Bacaterus. Medina, M. I. (2022, Jan 04). 13 Teknik
Pencahayaan dalam Sinematografi Yang Perlu Kamu Tahu . Retrieved
from [Link]: [Link]
lighting/#.Yk3HIChBzIX

Prajitno, D. (2016). Representasi Peran Ibu dalam Film "The Blind Side".
Skripsi, Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi, Ilmu
Komunikasi, Universitas Semarang, Semarang.

Pujianti, I. (2018). Analisis Semiotika Makna Kasih Sayang Dalam Film


Ayah Menyayangi Tanpa Akhir. Skripsi, Jurusan Komunikasi
Penyiaran Islam Fakultas Ilmu Dakwa dan Ilmu Komunikasi UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.

Redaksi, T. (2021, Maret 20). Film Terbaru Jennifer Garner, Yes Day Raih
52 Juta Penonton. Retrieved from [Link]:
[Link] jennifer-garner-i-yes-day-i-
raih-52-juta-penonton

Renatha, N. (2019). Representasi Hedonisme dalam Media Sosial Instagram


@Awkarin. Skripsi, Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi,
Ilmu Komunkasi, Universitas Semarang, Semarang.

Rio Rizky Rizaldy, Kusnarto, 2023 Analisis Semiotika John Fiske Terhadap
Representasi Kedekatan Emosional Orang Tua dan Anak Dalam Film
“Pulang” Dawat una: Journal of Communicat ion and Islamic Broadcast
ing Vol 3 No 4 (2024) 1429-1448 E-ISSN 2798-6683 P-ISSN 2798-
690X DOI: 10.47467/dawatuna.v3i4.3203

Saputra, T. (2014). Representasi Analisis Semiotika Pesan Moral Dalam Film


2012 Karya Roland Emmrich. eJournal Ilmu Kominikasi, 276 - 277 .

Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.


Bandung: Alfabeta.

Supendi, D. (2021, Maret 15). Yes Day, Film Komedi Amerika Tahun 2021.
Retrieved from [Link] :
[Link] amerika-
tahun-2021/ Syarifudin, L. (2021). Representasi Keharmonisan
Keluarga dalam Film Keluarga Cemara. Skripsi, Fakultas Teknologi
Informasi dan Komunikasi, Ilmu Komunkasi, Universitas Semarang,
Semarang.
Trivosa Pah, Rini Darmastuti, 2021 Analisis Semiotika John Fiske Dalam
Tayangan Lentera Indonesia Episode Membina Potensi Para Penerus
Bangsa Di Kepulauan Sula. Journal of Communication Studis Vol. 6,
No. 1

Widowati, S. (2012). Representasi Kasih Sayang Keluarga (Analisis


Semiotika Roland Barthes dalam Film Beyond Silence). Skripsi,
Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel
Surabaya .

Yazid, T. A. (2021). Representasi Keluarga pada Film "Nanti Kita Cerita


Tentang Hari Ini". Prosiding Hubungan Masyarakat, 70.

Anda mungkin juga menyukai