A.
Judul : Representasi Kasih Sayang Keluarga dalam Film Keluarga
Cemara 2 (Analisis Semiotika Jhon Fiske).
B. Latar Belakang
Keluarga dilihat dari pengertian secara operasional yaitu suatu struktur
yang bersifat khusus, yang satu sama lain dalam keluarga me miliki hubungan
apakah lewat pernikahan atau lewat hubungan darah. Pengertian keluarga
secara umum dikelompokkan menjadi dua, yaitu keluarga kecil (nuclear
family) dan keluarga besar (extended family). Anggota keluarga kecil terdiri
dari ayah, ibu, dan anak. Keluarga kecil juga disebut keluarga inti. Sementara
keluarga besar adalah seluruh anggota keluarga yang bertambah karena dari
hubungan perkawinan. Maka anggota keluarga besar adalah ayah dan ibu,
bapak dan ibu mertua (Mardani, 2016: 3).
Keluarga dipandang sebagai institusi (lembaga) yang dapat memenuhi
kebutuhan insani (manusiawi), terutama kebutuhan bagi pengembangan
kepribadian anak dan pengembangan ras individu dalam masyarakat. Apabila
mengaitkan peranan keluarga dengan upaya memenuhi kebutuhan individu
dari Maslow, maka keluarga merupakan lembaga pertama yang bias
memenuhi kebutuhan tersebut (Sahlan, 2018: 56-57).
Sebagai agen sosialisasi, keluarga merupakan lembaga pertama dalam
memenuhi kebutuhan individu dalam masyarakat, berarti keluarga memiliki
peran yang tidak kecil dalam membentuk jiwa dan kepribadian anak baik
secara biologis maupun psikologis. Oleh karena itu orang tua harus
menanamkan nilai-nilai yang baik dan menjadi contoh yang baik bagi anak-
anaknya (Sukaimi, 2013: 60).
Secara umum, keluarga memiliki beberapa fungsi antara lain: fungsi
pengaturan seksual, yaitu keluarga sebagai lembaga yang merupakan wahana
bagi masyarakat dalam mengatur dan mengorganisasikan kepuasan keinginan
seksual, fungsi reproduksi, yaitu dalam urusan reproduksi anak setiap
masyarakat yang paling utamanya tergantung kepada keluarga, fungsi
sosialisasi, yaitu keluarga menjadi lingkungan pertama dalam menanamkan
nilai-nilai dan norma yang baik kepada anggota keluarganya, fungsi afeksi
yaitu adanya rasa kasih sayang antara anggota keluarga, fungsi penentuan
status yaitu fungsi yang didapatkan seorang individu karena beberapa hal dan
keluarga merupakan salah satu aspek yang berpengaruh, fungsi perlindungan
yaitu keluarga bertugas dalam melindungi anak dari tindakan-tindakan yang
tidak baik dan fungsi ekonomi yaitu fungsi pemenuhan kebutuhan anggota
keluarga Horton dan Hunt (dalam Pandu dkk, 2012: 51).
Kasih sayang yang pertama muncul dari keluarga yang berasal dari
kasih orang tua kepada anaknya, Namun, sebagian besar dari kita tidak
melihat dari sudut pandang sebaliknya yaitu kasih sayang anak kepada orang
tuanya. Kasih anak kepada orang tua tidak semata-mata hal yang bisa dibilang
mudah, seperti yang telah dijabarkan di atas tentang keluarga yang sudah tidak
utuh dapat mengganggu psikologis anak. Menurut para peneliti, Dibandingkan
dengan anak yang memiliki dua orang tua yang tinggal di dalam satu rumah
(Adawiah, 2017). Anak-anak dengan single parent cenderung rentan
mengalami kondisi finansial dan edukasi yang lebih buruk. Maka dari itu
kasih sayang dari anak kepada orang tuanya tidak bisa dianggap hal yang
mudah untuk dilakukan terutama bagi anak-anak yang tinggal memiliki satu
orang tua saja karena beban atau tekanan yang terjadi didalam diri seorang
anak sangat berpengaruh bagi dirinya.
Selain keluarga dalam membentuk karakter kepribadian individu dalam
masyarakat, juga dipengaruhi oleh media. Dimana media juga berlaku sebagai
agen sosialisasi (Harahap, 2019: 194). Banyak bentuk media dan salah satunya
adalah film menurut Cangara (dalam Atmaja dan Ariyani, 2018: 44). Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, film diartikan sebagai lakon (cerita) gambar
hidup (Mabruri 2013: 2). Film sebagai media komunikasi, bukan hanya untuk
hiburan tetapi juga sebagai media pendidikan. Film juga mampu menampilkan
realitas kedua dari kehidupan manusia. Kisah-kisah yang ditayangkan bisa
lebih bagus dari keadaan yang sebenarnya (Syam, 2010: 1). Oleh karena itu
dapat disimpulkan bahwa film merupakan representasi kehidupan sosial
masyarakat secara ideal (Lasminah, 2001: 3).
Beragam media komunikasi baik visual dan audio visual pun hadir di
masyarakat. Hal ini sangat menjadi kebutuhan mendasar umat manusia.
Apalagi di era jaman sekarang inovasi sangat berkembang dalam media
komunikasi yang semakin canggih. Media komunikasi dapat dimanfaatkan
sebagai sarana menyampaikan pesan moral yang baik (Nisa, 2014). Pesan
moral yang disampaikan melalui media komunikasi sangat banyak macamnya
yang salah satu diantaranya adalah media film.
Semiotika ialah ilmu yang mempelajari tentang tanda (sign),
berfungsinya tanda dan produksinya makna. Semiotika memandang
komunikasi sebagai proses pemberian makna melalui tanda yaitu bagaimana
tanda mewakili objek, ide, situasi dan sebagainya yang berada diluar diri
individu. Semiotika digunakan dalam topik-topik tentang pesan, media,
budaya dan masyarakat (Sobur, 2006).
John Fiske mengemukakan teori mengenai kode-kode televisi (the
codes of television), teori ini berpendapat bahwa sebuah realitas tidak dapat
muncul begitu saja melalui kode-kode yang timbul melainkan diolah melalui
penginderaan sesuai referensi yang sebelumnya sudah dipahami para
penonton, sehingga sebuah kode akan dipersepsi secara berbeda oleh orang
yang berbeda juga. The Codes of Television adalah teori yang sering
digunakan dalam menganalisis teks berbentuk gambar bergerak atau moving
picture. Teori ini menyatakan bahwa sebuah peristiwa yang digambarkan
dalam sebuah gambar bergerak memiliki kode-kode sosial sebagai berikut
(vera, 2014:35-36): (1) Level Realitas, (2) Level Representasi, (3) Level
Ideologi.
Representasi dari kasih sayang anak kepada orang tua ini akan di kaji
kembali menggunakan teori Semiotika dari John Fiske yang menyebutkan
bahwa ada dua poin penting didalamnya yang adalah hubungan antara tanda
dan makan, setelah itu dikombinasikan untuk menjadi sebuah kode. Dua
perhatian utama yaitu hubungan tanda dan maknanya, kemudian
pengkombinasian tanda menjadi sebuah kode. Berdasarkan analisa John Fiske,
semiotika merupakan ilmu tentang petanda dan makna dari sistem tanda,
semiotika mengandung sistem tanda yang merupakan studi untuk membahas
tanda dari segala rumpun media yang ada dimasyarakat yang akan
dikombinasikan menjadi sebuah makna. Ilmu tentang media atau studi tentang
bagaimana tanda dari jenis karya apapun dalam masyarakat yang
mengkomunikasikan makna. Batasan penelitian dari penelitian ini
memfokuskan penelitian ini pada elemen-elemen pengambilan gambar,
setting, dialog, perilaku pada film “Pertaruhan”. Sebagai metode analisis data
maka semiotika akan dibatasi pada pembahasan tentang tanda dan hubungan
antara tanda dan maknanya. Teori Semiotika John Fiske akan digunakan pada
penelitian ini untuk membahas mengenai representasi tanda dan makna kasih
sayang anak kepada orang tua tunggal.
Ketika berbicara mengenai persoalan keluarga dan media film. Tema-
tema keluarga banyak diangkat kedalam dunia perfilman. Film dengan kisah
lingkungan keluarga pertama kali digarap oleh industri film pada tahun 1923
(Biran, 2009: 79). Pada tanggal 3 Januari 2019, industri perfilman Indonesia
yaitu Visinema Pictures memproduksi salah satu film bertema keluarga yang
berjudul “Keluarga Cemara” (Movieden, 2019).
Keluarga cemara adalah film Indonesia yang bergenre drama. Film
Keluarga cemara ini merupakan adaptasi dari cerita bersambung yang awalnya
dimuat di majalah “ HAI Magazine” dan kemudian menjadi novel karya
Arswendo Atmowiloto dan serial televisi dengan judul yang sama dan mampu
meraih kesuksesan pada waktu itu pada tahun 1990-an.
Film Keluarga Cemara ini dibintangi oleh seorang aktor dan aktris yang
berbakat yaitu Ringgo Agus dan Nirina Zubir. Rumah produksi Visinema
Pictures adalah production house yang telah memproduksi beberapa film
seperti (Cahaya dari timur: Beta Maluku, Filosofi Kopi, Love for sale). Dan
kali ini akan mengenalkan film Keluarga cemara kepada generasi milenial
sekaligus menawarkan momen nostalgia kepada penggemar setianya dengan
menayangkan film ini.
Alur cerita Keluarga Cemara dalam film berkesan sederhana tapi
meyampaikan banyak hal dan cerita yang indah. Berkisah tentang sebuah
keluarga kecil yang penuh lika-liku kehidupan. Rangkaian cerita cukup
menarik dan mampu menguras emosi penonton, bagaimana tidak seorang
kepala keluarga memimpin istri dan anak- anaknya untuk bertahan
menghadapi berbagai macam rintangan dalam perjalanan hidup keluarganya,
berlatih bersabar dalam mendapatkan sesuatu, mengasihi satu sama lain, dan
saling tolong menolong. Film ini juga penuh edukasi dan informasi tentang
kekeluargaan didalamnya. Kisah legendaris Abah, Emak dan anak- anaknya
dari sebuah sinetron ini kemudian diangkat menjadi sebuah film.
Alasan peneliti memilih film Keluarga cemara untuk diteliti yaitu tidak
hanya karena pencapaian film ini tetapi film ini akan syarat akan makna
sebuah perjuangan dalam kehidupan keluarga, mengungkap pesan-pesan
moral dan social sehingga akan menarik bila dilakukan sebuah penelitian
untuk mengetahui makna dan pesan moral yang tekandung didalam film
tersebut.
Berdasarkan dari latar belakang yang sudah dijelaskan diatas maka
peneliti tertarik untuk meneliti film “Representasi Kasih Sayang Keluarga
dalam Film Keluarga Cemara 2 (Analisis Semiotika Jhon Fiske).
C. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimanakah representasi
Kasih Sayang Keluarga dalam Film Keluarga Cemara 2 Analisis Semiotika
Jhon Fiske)?
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian
a. Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini yaitu untuk
melihat representasi Kasih Sayang Keluarga dalam Film Keluarga Cemara
2 Analisis Semiotika Jhon Fiske).
b. Manfaat Penelitian
1) Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai acuan
atau bahan evaluasi dari penelitian yang berkaitan dengan
permasalahan serupa, agar mahasiswa dapat mengaplikasikan untuk
perkembangan ilmu komunikasi. Selain itu penelitian ini diharapkan
dapat memperdalam ilmu tentang analisis teks media massa,
khususnya tentang analisis semiotika pada sebuah film.
2) Manfaat Praktis
Agar dapat digunakan sebagai salah satu pengembangan
evaluasi kelebihan dan kekurangan yang telah dibuat seharusnya,
sehingga untuk kedepannya dapat membuat serta menghasilkan
banyak film berkualitas yang merupakan salah satu media komunikasi
massa.
E. Telaah Pustaka
Geraldo Aldatya Prakoso, Ester Krisnawati, Seto Herwandito, 2023,
Representasi Kasih Sayang Anak Kepada Orang Tua Berdasarkan Film
Pertaruhan. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif
dengan metode semiotika televise John Fiske yang terdiri dari tiga level, yaitu
level realitas, level representasi dan level ideologi. Dengan menggunakan
metode semiotika televisi John Fiske, peneliti menemukan hasil penelitian
bahwa kasih sayang anak memilki dua bentuk didalamnya yaitu kasih yang
berbentuk prososial dan empati. Prososial bagaimana seorang anak memiliki
tingkah laku yang menguntungkan atau membuat kondisi fisik atau psikis
orang lain lebih baik dan hal ini dilakukan atas dasar sukarela tanpa
mengharapkan imbalan. Sedangkan empati membuat anak menjadi lebih peka
terhadap keadaan sehingga dapat memunculkan perasaan serta kepeduliannya
atas suatu permasalahan yang terjadi
Della Fauziah Ratna Puspita1, Iis Kurnia Nurhayati 2018 Analisis
Semiotika John Fiske Mengenai Realitas Bias Gender Pada Iklan Kisah
Ramadhan Line Versi Adzan Ayah Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui makna bias gender pada iklan. Ramadhan Line versi Adzan Ayah
melalui level realitas. Untuk mencapai tujuan penelitian, peneliti
menggunakan paradigma kritis, dengan pendekatan kualitatif dan analisis
semiotika John Fiske berdasarkan level realitas dengan kode tampilan,
kostum, ekspresi, gesture, percakapan, suara, dan teks. Hasil penelitian
menunjukkan bias gender diperlihatkan dengan menampilkan laki-laki dan
perempuan secara bersamaan. Dalam aspek tempat diperlihatkan dari
pekerjaan yang dilakukan perempuan di wilayah domestik dan laki – laki
berada pada wilayah publik.
Ludy Putra Anwar, 2021 Analisis Semiotika Tentang Representasi
Disfungsi Keluarga Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi
disfungsi keluarga yang terdapat dalam film Boyhood merupakan gambaran
beberapa keluarga yang sering terjadi dalam realita kehidupan saat ini yang
menunjukkan bagaimana baik orang tua maupun anak tidak menjalani
perannya dengan baik. Orang tua otoriter membuat anak menjadi sangat
tertutup. Kekerasan yang dilakukan oleh seorang ayah terhadap istri ataupun
anaknya merupakan tindakan yang melanggar norma. Terlepas dari semua itu,
cinta dan kasih sayang didalam sebuah keluarga merupakan jembatan untuk
memperbaiki disfungsi tersebut. Dalam Film Boyhood.
Rio Rizky Rizaldy, Kusnarto, 2023 Analisis Semiotika John Fiske
Terhadap Representasi Kedekatan Emosional Orang Tua dan Anak Dalam
Film “Pulang” Dengan menggunakan analisis semiotika John Fiske dengan
tiga levelny a maka dapat disajikan hasil penelitian berupa representasi
kedekatan emosional pada level realitas yang ditegaskan melalui interaksi
yang dinamis, keleluasaan berekspresi dan gesture sebagai perwujudan
kepedulian dan kasih sayang. Level representasi ditonjolkan pada teknik
kamera (shot) guna menegaskan tanda-tanda pada level realitas yang
menegaskan interaksi antar tokoh. Level ideologi yang ditemukan adalah
Liberalisme yang diterapkan dalam pola pengasuhan, pendidikan dan
pengembangan anak sejak dini yang dilakukan orang tua dalam
mempengaruhi kedekatan emosional. Lalu bentuk kedekatan emosional yang
terbentuk ialah pola secure attachment yang mengkonstruksikan realitas
kedekatan emosional yang tinggi pada tokoh Pras dan Rindu
Ami Ainun Fahmi Rahmanda, Alex Sobur, 2022, Makna Kasih Sayang
Keluarga dalam Film Korea Penelitian ini menggunakan metode penelitian
kualitatif dengan pendekatan analisis semiotika John Fiske. Tujuan dalam
penelitian ini adalah untuk mengetahui level realitas,representasi, dan ideologi
dalam film Minari karya Lee Isaac Chung. Hasil penelitian yang menunjukkan
bahwa Film Minari direpresentasikan melalui penampilan, cara berbicara,
perilaku, ekspresi dan lingkungan, yangdipertegas melalui teknik-teknik
pengambilan gambar. Nilai-nilai makna kasih sayang keluarga tergambar
melalui lingkungan, tempat pengambilan gambar, penampilan dan kostum,
gerak dan ekspresi, kata, kalimat, dialog, proposisi foto, sudut pengambilan
gambar, maupun narasi.
Trivosa Pah, Rini Darmastuti, 2021 Analisis Semiotika John Fiske
Dalam Tayangan Lentera Indonesia Episode Membina Potensi Para Penerus
Bangsa Di Kepulauan Sula. Tulisan ini didasarkan pada paradigma kritis
dengan mendekatan semiotika John Fikse. Kode- kode sosial yang dikemukan
oleh John Fiske terbagi menjadi 3 tahapan yaitu level realitas, level
representatif dan level ideologi. Dilihat dari setiap cerita yang dibangun dari
segmen 1 sampai 3, tayangan ini ingin menunjukkan 1. Perjuangan seorang
anak muda yang bernama Yosa dalam memperjuangkan pendidikan di daerah
pelosok yang ada di Indonesia, dengan kepribadian yang sederhana, kreatif,
tegas, memiliki sifat pemimpin, dan mudah berbaur dengan lingkungan
sekitar. 2. Pelajaran hidup yang menginspirasi, semangat perjuangan, kebaikan
hati dan kerelaan memberi yang datang dari tokoh-tokoh lain selain tokoh
utama, dalam keterbatasan fasilitas serta listrik 3. Potensi anak daerah Maluku
yang dijuluki sebagai city of music in Indonesia
F. Landasan Teori
1. Representasi
Representasi berasal dari Bahasa Inggris, representation, yang
artinya perwakilan, gambaran, atau penggambaran. Secara sederhana,
representasi adalah sebuah gambaran mengenai suatu hal yang terdapat
dalam kehidupan yang digambarkan melalui suatu media. Melalui sebuah
representasi, suatu makna diproduksi dan dipertukarkan antar masyarakat.
Representasi juga dapat dikatakan adalah salah satu cara untuk
memproduksi makna. Sifat yang dimiliki representasi dapat
mempengaruhi informasi yang sampai kepada khalayak dan bagaimana
khalayak tersebut akan menafsirkan dan mengingat pesan atau informasi
yang disajikan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
representasi dapat diartikan sebagai perbuatan yang mewakili, ataupun
keadaan yang bersifat mewakili. Representasi juga dapat diartikan sebagai
suatu proses yang melibatkan suatu keadaan dan diwakilkan melalui
simbol, gambar, dan semua hal yang berkaitan dengan yang memiliki
makna. Penggambaran yang dimaksud dalam proses ini dapat berupa
sebuah deskripsi yang berusaha dijabarkan melalui sebuah penelitian dan
analisis semiotika.
Representasi menurut John Fiske (2004:282) adalah sesuatu yang
merujuk pada proses yang disampaikan dalam sebuah komunikasi melaui
sebuah kata – kata, bunyi atau suara, citra atau kombinasinya. Dua hal
yang penting dalam representasi yaitu apakah ada kelompok, gagasan,
seseorang ataupun pendapat tersebut ditampilkan dengan bagaimana
mestinya (secara berimbang, atau hanya sisi negatif saja) dan
bagaimanakah representasi tersebut ditampilkan dan siapa saja yang
menampilkan (melalui foto, kalimat ataupun hanya sebatas kata saja).
Menurut Fiske, sebuah praktik asumsi representasi yang berlaku
adalah bahwa isi media tersebut tidak merupakan murni realitas, karena
itulah representasi lebih dipandang sebagaimana cara mereka membentuk
versi realitas dengan bergantung pada posisi social dan cara – caranya.
Dari beberapa penjelasan para ahli tersebut, dapat disimpulkan
bahwa representasi adalah suatu proses untuk memproduksi makna dari
suatu konsep yang ada dipikiran kita melalui bahasa. Proses produksi
makna tersebut dapat memungkinkan menghadirkan sistem representasi.
Namun proses pemaknaan tersebut tergantung pada latar belakang
khalayak ataupun kelompok masyarakat terhadap suatu tanda. Karena
suatu kelompok masyarakat harus memiliki pengalaman yang sama untuk
dapat memaknai tanda tersebut.
2. Semiotika John Fiske
Semiotika berasal dari Bahasa Yunani yaitu semeion yang berarti
“tanda”. Semiotika adalah suatu metode yang mempelajari mengenai
pertandaan dan makna dari sistem tanda, bagaimana makna dibangun
dalam teks media atau studi tentang bagaimana jenis karya apapun dalam
masyarakat yang mengkonsumsi makna (John Fiske, 2004:282).
Menurut John Fiske, kode – kode yang muncul atau digunakan
dalam acara televisi itu selalu berhubungan sehingga terbentuklah sebuah
makna. Sebuah realitas tidak muncul begitu saja namun juga melalui
indera sesuai dengan referensi yang dimiliki oleh penonton televisi, maka
dari itu setiap orang bisa berbeda dalam menanggapi suatu makna dalam
televise sesuai dengan latar belakang, budaya, kelas sosial dan hal lainnya.
John Fiske (2012:66-67). berpendapat bahwa terdapat tiga wilayah
kajian dalam semiotika, diantaranya yaitu
a) Tanda itu sendiri Terdiri atas studi tentang berbagai tanda yang
berbeda, cara – cara yang berbeda dari tanda di dalam yang
menghasilkan makna, dan cara tanda – tanda tersebut berhubungan
dengan orang yang menggunakannya.
b) Kode atau sistem yang mengorganisasikan tanda Kajian ini melingkupi
bagaimana beragam kode telah dikembangkan untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat atau budaya, atau untuk mengeksploitasi
saluran – saluran komunikasi yang tersedia bagi pengiriman kode
tersebut.
c) Kebudayaan tempat kode dan tanda bekerja Hal ini bergantung pada
penggunaan dari kode- kode dan tanda – tanda untuk eksistensi dan
bentuknya sendiri
Kode – kode televisi (television codes) adalah teori yang
dikemukakan oleh John Fiske atau biasa disebut dengan kode – kode yang
digunakan dalam dunia pertelevisian. Menurut John Fiske, kode – kode
yang muncul atau yang digunakan dalam acara televisi tersebut saling
berhubungan sehingga terbentuklah sebuah makna. Menurut teori ini pula,
sebuah realitas tidak muncul begitu saja melalui kode – kode yang timbul,
namun juga diolah melalui penginderaan serat refereni yang dimiliki oleh
penonton televisi sehingga sebuah kode akan dipersepsikan secara
berbeda– beda oleh orang yang berbeda – beda juga.
Dalam kode – kode televisi yang diungkapkan dalam teori John
Fiske, bahwa peristiwa yang ditayangkan dalam dunia televisi telah di
encode oleh kode – kode social yang terbagi dalam tiga level sebagai
berikut:
1. Level Realitas (Reality) Kode yang masuk ke dalam level realitas ini
adalah penampilan (appearance), kostum (dres), riasan (make up),
lingkungan (environment), kelakukan (behaviour), cara berbicara
(speech), ekspresi (expression), dan gerakan (gesture).
2. Level Representasi (Representation) Kode yang masuk dalam level
representasi adalah kode teknis, yang meliputi kamera (camera),
pencahayaan (lighting), music (music), suara (sound), dan perevisian
(editing). Serta kode representasi konvensional yang terdiri dari naratif
(narrative), konflik (conflict), karakter (character), aksi (action),
percakapan (dialogue), pemilihan pemain (casting) dan layar (setting).
3. Level Ideologi (Ideology) Kode sosial yang termasuk dalam level
ideologi adalah individual (individualism), femini (feminisme), kelas
(class), ras (race), kapitalis (capitalism), material (materialism), dan
lain lain
3. Kasih Sayang Keluarga
Keluarga terdiri dari beberapa orang maka terjadilah interaksi antar
pribadi dan itu berpengaruh terhadap keadaan harmonis dan tidak
harmonisnya sebuah keluarga yang selanjutnya akan berpengaruh juga
terhadap pribadi – pribadi lain dan juga perilaku yang ada dalam keluarga.
Daradjat (dalam Awi dkk., 2016:5) mengemukakan bahwa dalam sebuah
keluarga setiap anggotanya menjalankan hak dan kewajibannya masing –
masing, terjalinnya kasih sayang, saling pengertian, komunikasi dan
kerjasama yang baik antara anggota keluarga. Kehidupan dalam keluarga
dibenuk melalui interaksi yang dibangun antar anggotanya. Dengan
komunikasi masing – masing anggota dapat mengetahui peran, aturan dan
harapan.
Menurut Aziz Safrudin (2015:235) mengemukakan bahwa
komunikasi keluarga adalah suatu pengorganisasian yang menggunakan
kata – kata, intonasi suara, dan tindakan yang mengandung maksud
mengajarkan, mempengaruhi dan memberikan pengertian. Komunikasi
dalam keluarga semestinya dibangun dengan baik oleh tiap – tiap anggota
keluarga, baik orang tua maupun anak. Komunikasi dalam keluarga perlu
dibangun dengan baik untuk menciptakan hubungan yang baik antar
anggotanya.
Menurut Wood (2016:352-355) ada beberapa ciri – ciri komunikasi
keluarga yang baik dan efektif, yaitu sebagai berikut :
1) Terdapat kesetaraan dan keadilan pada masing – masing anggota
keluarga. Masing – masing anggota mendapatkan hak dan perlakuan
yang sama dan tidak dibeda – bedakan
2) Terdapat keakraban dan kedekatan yang terjalin antar anggota keluarga
3) Terdapat kesediaan pada masing – masing anggota untuk
mengesampingkan masalah – masalah kecil demi menjaga hubungan
tetap baik
4) Komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak serta adanya sikap
saling menghargai.
Peran orang tua dalam keluarga mempunyai pengaruh yang kuat
dan langsung terhadap perilaku anaknya. Oleh karena itu, setiap keluarga
memiliki tantangan masing – masing dalam menciptakan komunikasi dan
hubungan yang baik dalam keluarga. Dalam jurnal penelitian Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Yayasan Melati
(2016) menyebutkan konsep – konsep dalam membangun komunikasi
yang efektif dalam keluarga. Bahwa perlakuan orang tua yang diharapkan
anak adalah sebagai berikut :
1) Memberi kepercayaan kepada anak
2) Memberikan kasih sayang dan perasaan positif
3) Memberikan perhatian dan dukungan
4) Menerima dan menghargai anak
5) Bersedia mendengarkan dan bisa berempati dengan anak
Komunikasi dalam keluarga bisa terjadi secara sempurna jika
komunikasi tersebut mendapatkan respon dari anggota keluarga lainnya
dan mendapatkan timbal balik. Komunikasi yang terjadipun harus efektif
agar dapat memberikan pengertian yang sesuai dan hubungan yang baik
antar anggota keluarga, dengan begitu maka komunikasi yang hadir antara
orang tua dan anak akan menjadi lebih terbuka. Orang tua selalu
menginginkan anaknya untuk berbuat baik, tercapai segala cita – citanya
dan juga dapat bergaul di lingkungan masyarakat secara baik dan tidak ada
masalah. Hal itu diperlukan kasih sayang dari orang tua.
Kasih sayang terdiri dari dua suku kata yang saling berkaitan dan
masing – masing mempunyai makna tersendiri tetapi selalu dipasangkan
dan selalu berdampingan. Kata kasih sangatlah banyak tergantung dari
mana sudut kita memandang permasalahannya, yang biasa kita kenal
adalah makna tentang perasaan suka, sayang dan memberi. Kasih adalah
sebuah perasaan yang dimiliki oleh setiap insan manusia, perasan ini akan
timbul apabila manusia tersebut mempunyai rasa memiliki dan
menyayangi. Kasih juga dapat dikatakan hubungan ketertarikan antara
sesama manusia atau manusia dengan sesuatu seperti benda ataupun
hewan, dan juga antara manusia dengan Tuhan. Menurut Sears (2002:89)
kasih sayang merupakan rasa aman dan ketenangan yang diberikan dari
hubungan yang erat, hal ini biasa terjadi dalam proses dua arah
4. Film
Film merupakan alat komunikasi massa yang muncul pada abad ke-
19. Menurut Sobur (2004:126) kekuatan dan kemampuan film itu
menjangkau banyak segmen sosial, yang mana membuat para ahli film
memiliki power untuk mempengaruhi maupun membentuk suatu
pandangan dimasyarakat dengan muatan pesan yang ada di dalamnya.
Film selalu merekam realitas yang tumbuh dan berkembang di
dalam masyarakat dan kemudian memproyeksikannya ke dalam layar.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) film dapat diartikan ke
dalam dua pengertian. Pertama, film merupakan selaput tipis yang dibuat
dari seluoid untuk tempat gambar negative (yang akan dibuat potret) atau
untuk tempat gambar positif (yang akan ditayangkan di bioskop).
Kemudian yang kedua, film diartikan sebagai lakon (cerita) gambar hidup.
Film merupakan salah satu sarana hiburan yang memiliki daya
Tarik cukup tinggi di berbagai kalangan masyarakat, mulai dari anak –
anak hingga dewasa dan dari ekonomi bawah hingga atas (Victor, 2000:1).
Sebuah film tidak hanya menjadi hiburan semata, namun juga dapat
memberikan kehadiran ataupun kedekatan suatu dunia yang tidak
tertandingi dengan tempat lain. Sebuah film juga dapat memberikan
perasaan yang intens kepada masyarakat yang menontonnya.
Sebuah film dapat dibuat dengan animasi maupun yang diperankan
orang nyata yang memberikan perasaan intens kepada penonton melalui
aktingnya yang sejalan dengan kehidupan sehari – hari. Saat ini, film dapat
dijadikan media penyampaian pesan – pesan moral maupun nilai – nilai
kehidupan kepada khalayak luas melalui media massa. Pesan – pesan yang
disampaikanpun variatif, mulai dari edukatif, rekreatif, persuasif maupun
non-informatif
Dalam menyampaikan sebuah pesannya kepada khalayak, sutradara
menggunakan imajinasinya untuk mempresentasikkan pesan melalui
sebuah film dengan mengikuti unsur – usnur yang menyangkut eksposisi
(penyajian secara langsugn dan tidak langsung). Tidak sedikit film yang
berdasarkan dari kisah nyata atau sungguh – sungguh terjadi dalam
masyarakat. Banyak muatan pesan ideologis di dalamnya sehingga dapat
mempengaruhi pola pikir penontonnya. Sebagai gambar yang bergerak,
film adalah reproduksi dari kenyataan seperti apa adanya.
Film juga merupakan sarana ekspresi indrawi yang khas dan
efisien, aksi dan karakteristiknya dikomunikasikan dengan kemahiran
mengekspresikan image yang ditampilkan dalam film yang kemudian
menghasilkan makna tertentu yang sesuai dengan konteksnya.
5. Kerangka Pemikiran
Film Keluarga Cemara 2
Analisis Semiotika John
Fiske
Level Realitas Level Representas Level Ideologi
Representasi Kasih Sayang
Keluarga pada Film Keluarga Cemara 2
Bagan 2.1 Kerangka Berpikir Penelitian Representasi Kasih Sayang Keluarga
pada Film Keluarga Cemara 2
Kerangka penelitian ini berawal dari sebuah tayangan film yang kemudian
munculah subjek penelitian yaitu film Keluarga Cemara 2. Film tersebut
akan dianalisis menggunakan analisis semiotika John Fiske yang melalui
tiga level yaitu level realitis, level representasi dan level ideology. Dengan
demikian, menghasilkan Representasi Kasih Sayang Keluarga pada Film
Keluarga Cemara 2.
G. Metode
Penelitian kualitatif ini menggunakan metode penelitian eksplorasi,
eksplorasi merupakan jenis penelitian awal dari suatu penelitian yang sifatnya
sangat luas. Dalam penelitian eksplorasi menjadi sangat penting dikarenakan
akan menghasilkan landasan yang kuat bagi penelitian selanjutnya. Yusuf,
(2004) mengemukakan tujuan penelitian eksplorasi merupakan tujuan untuk
mendapatkan ide-ide mengenai permasalahan pokok secara lebih terperinci
maupun untuk mengembangkan hipotesis yang ada.
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan peneltian kualitatif untuk
dapat memahami fenomena dalam konteks sosial secara alamiah yang
menggambarkan permasalahan sosial pada seseorang mengenai sudut pandang
perilaku. Dalam penelitian kualitatif peneliti menganalisis dan setelah itu
melaporkan fenomena dalam suatu hasil analisa dalam penelitian.
1. Jenis Penelitian
Gambaran dan data – data yang diperlukan, maka sebuah metode
dalam peneitian sangat penting kegunaannya. Maka penelitian yang
berjudul Representasi Kasih Sayang Keluarga pada Film Keuarga Cemara
2 ini menggunakan metode jenis penelitian kualitatif dengan menggunakan
teknik analisis semiotika dari John Fiske. Dengan menggunakan metode
penelitian deskriptif kualitatif ini dirasa tepat untuk menjawab pertanyaan
yang ada pada rumusan masalah, yaitu mengetahui representasi kasih
sayang keluarga pada film Keluarga Cemara 2.
2. Sumber Data
a. Data Primer
Sumber data primer yang diperoleh dari penelitian ini adalah
dengan observasi langsung dari film Keuarga Cemara 2 berupa
dokumentasi adegan atau scene yang menunjukan adanya tanda kasih
saying dalam film tersebut.
b. Data Sekunder
Data sekunder yang diperoleh dari penelitian ini berupa data data
pendukung seperti jurnal, artikel, internet dan berita atau sumber
lainnya yang mendukung penelitian ini
3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis
dalam penelitian, karena tujuan utama dari sebuah penelitian adalah
mendapatkan data. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tiga teknik
pengumpulan data, yaitu observasi, dokumentasi dan studi pustaka.
a. Observasi
Melalui observasi, peneliti belajar tentang perilaku dan makna
dari perilaku tersebut. Kegiatan observasi yang dilakukan dalam
penelitian ini adalah observasi non partisipan, yang mana peneliti tidak
terlibat secara langsung dan hanya mengamati berbagai keadaan atau
situasi dan kondisi yang berhubungan dengan tujuan peneliti. Dalam
penelitian ini, peneliti melakukan pengamatan pada tampilan adegan
atau scene yang menunjukkan kasih sayang pada film Keluarga
Cemara 2.
b. Dokumentas
Dokumentasi adalah instrument pengumpulan data yang sering
digunakan dalam berbagai metode pengumpulan data. Tujuannya
adalah untuk mendapatkan informasi yang mendukung analisis dan
interpretasi data. Dokumentasi adalah sebuah catatan peristiwa –
peristiwa terdahulu. Dokumentasi dapat berupa tulisan, gambar atau
karya monumental dari seseorang (Sugiyono, 2009:240).
Secara singkat, dokumentasi adalah segala usaha yang dilakukan
oleh peneliti untuk menghimpun informasi. Infromasi itu dapat
diperoleh dari buku – buku, laporan penelitian, artikel, tesis,
ensiklopedia dan sumber - sumber tertulis baik tercetak maupun
elektronik.
c. Studi Pustaka
Studi Pustaka dilakukan untuk memperkaya pengetahuan
mengenai berbagai konsep yang akan digunakan sebagai dasar atau
pedoman dalam proses penelitian (Martono, 2011:97). Peneliti juga
menggunakan studi pustaka dengan teknik pengumpulan data. Studi
pustaka dalam teknik pengumpulan data ini merupakan jenis data
sekunder yang digunakan untuk membentu proses penelitian, yaitu
dengan mengumpulkan informasi yang terdapat dalam artikel surat
kabar, buku – buu, maupun karya ilmiah pada penelitian sebelumnya.
4. Teknik Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian kualitatif ini adalah
dengan analisis semiotika John Fiske dengan menggunakan tiga tingkatan
tanda. Tingkatan pertama adalah reality, dalam tingkatan ini peneliti akan
memaknai kode atau tanda yang ditandakan dengan sebagai realitas
tampilan, pakaian, lingkungan perilaku, percakapan, gesture, ekspresi,
suara dan sebagainya. Tingkatan kedua adalah representasi, dalam
tingkatan ini peneliti akan memaknai kode atau tanda yang ditandakan
dengan sebagai kamera, editing, music dan suara yang kemudian akan
ditransmisikan dalam kode representasional yang dapat
mengaktualisasikan karakter, narasi, dialog, setting dan sebagainya. Lalu
pada tingkatan ketiga atau terakhir adalah ideology, daalam tingkatan ini
peneliti akan memaknai kode ideologis seperti patriarki, individualis,
kapitalisme, nasionalisme, materialisme dan sebagainya.
H. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan dalam proposal ini meliputi
Latar Belakang
Berisi tentang permasalah yang terjadi dalam penelitian ini terkait dengan
representasi kasih saying dalam film keluarga cemara 2 berdasarkan Analisis
Semiotika Jhon Fiske
Rumusan Masalah
Berisi tentang hasil permasalahan yang dirumuskan menjadi pokok
pembahasajn
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Berisi tentan tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian serta manfaat
dari penelitian ini
Telaah Pustaka
Berisi tentang hasil penelitian atau jurnal penelitian terdahulu yang sesuai
dengan penelitian ini
Landasan Teori
Berisi tentang teori-teori tentang Representasi, Semiotika John Fiske,
Kasih Sayang Keluarga, Film dan Kerangka Pemikiran
Metode
Mengenai metode peneitian yang akan digunakan dalam penelitian ini
yang berisi tentang Jenis Penelitian, Sumber Data, Teknik Pengumpulan
Data, Teknik Analisis Data
I. Daftar Pustaka
Ami Ainun Fahmi Rahmanda, Alex Sobur, 2022, Makna Kasih Sayang
Keluarga dalam Film Korea, Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital
Volume 2, No. 1, Juli 2022 e-ISSN 2789-6403
Della Fauziah Ratna Puspita1, Iis Kurnia Nurhayati 2018 Analisis Semiotika
John Fiske Mengenai Realitas Bias Gender Pada Iklan Kisah Ramadhan
Line Versi Adzan Ayah., ProTVF, Volume 2, Nomor 2, September
2018, Hal. 157-171
Dhevie, S. C. (2020). Analisis Semiotika Representasi Kasih Sayang
Keluarga dalam Film Lemantun Karya Wregas Bhanuteja. Skripsi,
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Ilmu Komunikasi, Universitas
Sebelas Maret, Surakarta .
Fiske, J. (17). Television Culture: Popular Plesure and Politics. London:
Routledge.
Fsike, J. (2004). Cultural and Communication Studies. Yogyakarta: Jalasutra.
ohn Fiske, J. H. (2003). Semiotika dalam Riset Komunikasi. Bandung:
PT. Remaja Rosadakarya.
Geraldo Aldatya Prakoso, Ester Krisnawati, Seto Herwandito, 2023,
Representasi Kasih Sayang Anak Kepada Orang Tua Berdasarkan Film
Pertaruhan Jurnal Impresi Indonesia (JII) Vol. 2, No. 7, Juli 2023 p-
ISSN: 2828-1284 e-ISSN: 2810-062x website:
[Link]
Kristianto, K. D. (2015). Representasi Fungsi Keluarga Dalam Film Ekskul.
Jurnal E-Komunikasi, 3.
Ludy Putra Anwar, 2021 Analisis Semiotika Tentang Representasi Disfungsi
Keluarga, Journal of Discourse and Media Research Juni 2022, Vol. 1,
No. 1, pp. 60-78 E-ISSN: 2830-313X
Lestari, D. P. (n.d.). Sinopsis dan Review Film Drama Keluarga Yes Day
(2021). Bacaterus. Medina, M. I. (2022, Jan 04). 13 Teknik
Pencahayaan dalam Sinematografi Yang Perlu Kamu Tahu . Retrieved
from [Link]: [Link]
lighting/#.Yk3HIChBzIX
Prajitno, D. (2016). Representasi Peran Ibu dalam Film "The Blind Side".
Skripsi, Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi, Ilmu
Komunikasi, Universitas Semarang, Semarang.
Pujianti, I. (2018). Analisis Semiotika Makna Kasih Sayang Dalam Film
Ayah Menyayangi Tanpa Akhir. Skripsi, Jurusan Komunikasi
Penyiaran Islam Fakultas Ilmu Dakwa dan Ilmu Komunikasi UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
Redaksi, T. (2021, Maret 20). Film Terbaru Jennifer Garner, Yes Day Raih
52 Juta Penonton. Retrieved from [Link]:
[Link] jennifer-garner-i-yes-day-i-
raih-52-juta-penonton
Renatha, N. (2019). Representasi Hedonisme dalam Media Sosial Instagram
@Awkarin. Skripsi, Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi,
Ilmu Komunkasi, Universitas Semarang, Semarang.
Rio Rizky Rizaldy, Kusnarto, 2023 Analisis Semiotika John Fiske Terhadap
Representasi Kedekatan Emosional Orang Tua dan Anak Dalam Film
“Pulang” Dawat una: Journal of Communicat ion and Islamic Broadcast
ing Vol 3 No 4 (2024) 1429-1448 E-ISSN 2798-6683 P-ISSN 2798-
690X DOI: 10.47467/dawatuna.v3i4.3203
Saputra, T. (2014). Representasi Analisis Semiotika Pesan Moral Dalam Film
2012 Karya Roland Emmrich. eJournal Ilmu Kominikasi, 276 - 277 .
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Bandung: Alfabeta.
Supendi, D. (2021, Maret 15). Yes Day, Film Komedi Amerika Tahun 2021.
Retrieved from [Link] :
[Link] amerika-
tahun-2021/ Syarifudin, L. (2021). Representasi Keharmonisan
Keluarga dalam Film Keluarga Cemara. Skripsi, Fakultas Teknologi
Informasi dan Komunikasi, Ilmu Komunkasi, Universitas Semarang,
Semarang.
Trivosa Pah, Rini Darmastuti, 2021 Analisis Semiotika John Fiske Dalam
Tayangan Lentera Indonesia Episode Membina Potensi Para Penerus
Bangsa Di Kepulauan Sula. Journal of Communication Studis Vol. 6,
No. 1
Widowati, S. (2012). Representasi Kasih Sayang Keluarga (Analisis
Semiotika Roland Barthes dalam Film Beyond Silence). Skripsi,
Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel
Surabaya .
Yazid, T. A. (2021). Representasi Keluarga pada Film "Nanti Kita Cerita
Tentang Hari Ini". Prosiding Hubungan Masyarakat, 70.