Lahir dan besar dari keluarga sederhana sama sekali tidak menyurutkan semangat
saya dalam menuntut ilmu agar bisa menebar manfaat kepada orang lain. Menuntut ilmu
adalah kewajiban bagi setiap manusia seperti perkataan dari Eyang Habibie “Di mana pun
kau berada, selalu menjadi yang terbaik dan berikan yang terbaik dari yang bisa kita berikan”.
Menjadi yang terbaik untuk menebar kebaikan adalah cita-cita saya sesuai dengan makna dari
nama saya Uswatun Hasanah yang artinya suri teladan. Atas dasar itulah yang tertanam
dalam diri saya bahwa dimanapun saya berpijak maka disitulah saya harus menebar banyak
kebaikan dan manfaat kepada orang lain.
Akhirnya saya menempuh dunia pendidikan sebagai bentuk dari usaha dan cita-cita
yang ingin saya wujudkan yakni menjadi yang terbaik dihadapan Allah maupun dihadapan
manusia. Setiap jenjang pendidikan yang saya tempuh selalu memberikan warna dan
pengalaman dalam hidup saya. Mulai dari SD sampai tingkat SMP saya bergabung di
organisasi pramuka. Lanjut pada tingkatan SMA yang lagi–lagi memberikan saya
kesempatan melanjutkan organisasi yang saya sukai. Rasanya sekolah tanpa melibatkan diri
dalam organisasi hanya membuat saya menjadi siswa yang biasa-biasa saja, untuk itu saya
memilih menyibukkan diri pada organisasi di sekolah agar saya bisa melatih diri saya untuk
bekerja dengan penuh tanggung jawab dan berani menyelesaikan masalah dengan
berkolaborasi serta menjalin sinergisitas bersama tim.
Selama menempuh pendidikan tingkat SD-SMA saya masih menemukan banyak
permasalahan di lingkungan sekitar saya yakni masalah putus sekolah karena lingkungan
saya berada di salah satu desa terpencil, bahkan orang tua lebih memilih untuk tidak
melanjutkan biaya sekolah anaknya sampai tingkat Universitas. Mereka mengalami krisis
ekonomi sehingga memilih menyekolahkan anaknya sampai tingkat SMP atau SMA saja.
Saya pikir hal itu bukan hal yang wajar karena sudah banyak bantuan dari pemerintah yang
bisa memfasilitasi kita dalam belajar. Untuk itu saya berusaha membuktikan pada orang-
orang di desa bahwa sekolah tidak perlu dengan biaya sendiri asal kita mau berusaha
mencari beasiswa dari pemerintah. Akhirnya saya mulai melakukan tindakan dari argumen
saya sebelumnya, tepatkan ketika saya kelas 12 SMA saya bertanya dengan alumni saya di
sekolah bagaimana caranya bisa kuliah dengan jalur beasiswa. Mereka dengan antusiasnya
menceritakan pengalaman mereka ketika mendaftar dan menerima beasiswa bidikmisi. Saya
yang sangat tertarik akhirnya memutuskan untuk mendaftar jalur yang diarahkan yakni
SBMPTN, Alhamdulillah berkat usaha dan kerja keras akhirnya saya bisa kuliah di
Universitas Negeri Makassar jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dengan jalur
SBMPTN sekaligus penerima beasiswa bidikmisi.
Bergelar sebagai mahasiswa tentunya harus bisa membuat perubahan, atas dasar
inilah yang membuat saya tidak hanya belajar di kelas akan tetapi mencari wadah yang bisa
mengembangkan potensi, skill, dan pengalaman yang saya miliki. Sejak saya masuk di UNM
banyak pelajaran dan pengalaman dari organisasi yang saya tekuni. Organisasi yang pernah
saya tekuni diantaranya; bergabung bersama Lembaga Dakwah Fakultas periode 2019-2020,
bergabung di Lembaga Dakwah Kampus periode 2020-2021 selanjutnya saya bergabung di
salah satu ormas yakni Wahdah Islamiyah Makassar pada bidang PSDM (Pengembangan
Sumber Daya Muslimah). Selain bergerak pada bidang keagamaan saya juga bergabung pada
salah satu forum kepenulisan yang ada di Universitas Negeri Makassar yakni FLP UNM
(Forum Lingkar Pena UNM ) periode 2019-2021, selaku koordinator divisi kekaryaan sampai
bergabung di FLP cabang Makassar. Pada bidang pelatihan dan kompetisi saya juga aktif
terlibat didalamnya yakni; Pelatihan Master Of Ceremony (MC), mengikutsertakan diri
menjadi volunteer duta penanganan Covid 19 yang dilaksanakan oleh Satgas Covid-19 pada
tahun 2020-2021. Beberapa pencapaian yang telah saya raih diantaranya; pada tahun 2021
saya mengikuti program kreativitas mahasiswa atau PKM-RSH dengan judul riset penelitian
“Komunikasi Terapeutik Dokter dalam Penyembuhan Pasien Covid-19 di Rumah Sakit
Umum Daerah Labuang Baji” dan berhasil lolos tingkat pendanan. Setelah menempuh
banyak pengalaman dan pendidikan yang memadai akhirnya saya berhasil menyelesaikan
studi dengan masa studi 3 tahun 3 bulan, IPK 3.93 dan merupakan wisudawan terbaik 1
tingkat Fakultas Bahasa dan Sastra 2021. Prestasi selanjutnya yakni saya sudah membuat 3
karya berupa buku nonfiksi. Buku pertama berjudul We Are The Poetry berisi kumpulan
puisi karya pribadi telah ter-ISBN pada tahun 2020, kedua buku Hijrah Fisabilillah berisi
kisah motivasi hijrah dan narasi tentang menuntut ilmu telah ter-ISBN pada tahun 2021,buku
ketiga Pamit bersama Alasan yang berisi kumpulan kisah saya selama berada di tempat
KKN-PPL dan telah diterbitkan pada tahun 2022, dan saat ini buku ke-empat saya telah terbit
dengan judul “Be a Muslim Be Productive”. Selain itu saat ini saya sedang merintis
komunitas Ruang Baca Muslimah (RBM) dengan tujuan yang jelas yakni meningkatkan
minat baca muslimah seluruh Indonesia agar bisa menjadi muslimah cerdas, berkarakter, dan
berwawasan luas.
Selama menjadi mahasiswa jurusan bahasa dan sastra Indonesia, tentunya kita tidak
terlepas dari bahasa persatuan yakni bahasa Indonesia yang terdiri dari 4 keterampilan
berbahasa diantaranya; 1) keterampilan menyimak, 2) keterampilan berbicara, 3)
keterampilan membaca , dan 4) keterampilan menulis. Menurut saya pada 4 keterampilan
tersebut yang perlu kita perhatikan lebih dalam adalah keterampilan membaca. Berdasarkan
data studi yang dilakukan oleh Central Connecticut State University, Maret 2016,
menunjukkan peringkat Indonesia nomor 60 dari 61 negara soal minat membaca. Rendahnya
kemampuan literasi akan membuat rendahnya daya saing bangsa dalam persaingan global.
Salah satu bukti nyata yang saya temukan di lapangan adalah ketika saya melakukan
pengabdian di salah satu desa di Mamasa, Sulawesi Barat. Saya melihat banyak siswa yang
buta huruf bahkan ada siswa kelas 8 yang saya ajar belum bisa membaca, mengeja pun masih
terbata-bata. Ketika saya menanyakan kendala yang dihadapi dalam membaca mereka
menjawab bahwa mereka tidak punya buku bacaan. Bahkan kebanyakan isi dari perpustakaan
di sekolah tersebut hanya terdapat buku paket, buku lapuk dan berdebu sehingga siswanya
malas mendatangi perpustakaan.
Berdasarkan hasil penelitian dari artikel saya dengan judul “Kemampuan Membaca
Kritis Teks Advertorial Siswa Kelas VIII SMP” saya menemukan banyak alasan mengapa
siswa enggan untuk membaca sehingga kategori minat bacanya kurang diantaranya; pertama,
Siswa yang telah ditelan arus globalisasi lebih suka bergelut di media sosial atau browsing di
Internet hanya untuk mencari hiburan semata seperti mendownload lagu, film, chatingan dll.
Kedua, tidak adanya akses buku yang bisa dijangkau pada siswa yang tinggal di daerah
pelosok. Ketiga, keluarga yang kurang memperhatikan literasi anaknya. Keempat,
lingkungan dan fasilitas sekolah pada daerah terpencil yang tidak mendukung siswa dalam
meningkatkan minat bacanya. Kelima siswa kurang mampu mengaplikasikan hasil bacaan
yang telah dibaca dalam bentuk kreativitas seperti menceritakan kembali hasil bacaan dalam
bentuk puisi, cerpen, drama dll.
Dalam mengatasi masalah kritis literasi terkhusus pada sekolah-sekolah di desa, maka
saya menawarkan sebuah solusi yang inovatif yakni SGM (Seminar Gerakan Membaca).
Seminar gerakan membaca nantinya akan terfokus mendatangi sekolah di desa yang masih
bisa dijangkau oleh kota domisili saya. Selanjutkan sebagai penunjang keberhasilan dari
solusi yang saya tawarkan adalah saya mengajak guru–guru penggerak literasi pada masing-
masing sekolah untuk menanamkan minat baca siswanya dengan mensosialisasikan buku
keterampilan mambaca kreatif yang akan saya kembangkan pada rencana tesis S2 nantinya.
Salah satu profesi yang dihasilkan dari pendidikan bahasa dan sastra Indonesia adalah
menjadi tenaga pendidik (dosen) dan tenaga penggerak literasi. Profesi tersebut bagian dari
rencana studi saya dalam mewujudkan cita-cita dan mimpi terbesar saya yakni menciptakan
inovasi baru sebagai bentuk kontribusi saya kepada Indonesia. Dengan menjadi dosen yang
memiliki 3 peran yang tercantum dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni Pendidik,
Peneliti, dan Pengabdian kepada masyarakat. Salah satu kontribusi sebagai bentuk
pengabdian masyarakat yang akan saya jalankan adalah melakukan penelitian pada masalah
minat baca di Indonesia dengan menawarkann solusi yakni program “Seminar Gerakan
Membaca (SGM).
Adapun cara kerja dari SGM terdiri dari beberapa langkah pengelolahan diantaranya;
pertama, membangun kerjasama dengan perpustakaan daerah asal saya yakni Perpusda
Makassar untuk memastikan buku-buku dari perpustakaan daerah bisa dipakai pada kegiatan
Seminar gerakan membaca. Selain itu saya juga akan meminta kerjasama dengan organisasi
saya saat ini di Forum lingkar Pena (FLP) Cabang Makassar dan menjadikan mereka
volunteer penggerak literasi. Kedua, melakukan komunikasi dengan pemerintah pusat dan
pemerintah daerah setempat untuk meminta izin agar Seminar Gerakan Membaca bisa
terlaksana dengan baik.
Berdasarkan hal tersebut, saya ingin melanjutkan program megister pada program
studi pendidikan bahasa Indonesia sebagai langkah awal saya untuk mewujudkan program
literasi di Indonesia. Karena ada keterkaitan dengan jurusan saya ketika S1 dan organisasi
yang saya geluti dibidang literasi bukan hanya membahas tentang dunia kepenulisan
melainkan dunia membaca. Sehingga saya berharap dengan ini saya bisa ikut serta dalam
menyelesaikan masalah tersebut. Selanjutnya saya memilih untuk melanjutkan kuliah pada
Program Studi Pendidikan Bahasa di Pascasarjana, Universitas Negeri Makassar (UNM)
karena UNM merupakan kampus pendidikan terbaik di Indonesia Timur menurut
Kemendikbud pada Agustus 2020. Berdasarkan pengalaman dan manajemen waktu yang
saya terapkan di masa S1 yakni aktif dan terlibat dalam organisasi kampus, mengikuti
seminar-seminar, workhshop, menulis buku solo, dan aktif sebagai pegiat literasi di kampus
maupun diluar kampus, maka kegiatan tersebut akan kembali saya laksanakan nantinya untuk
menambah skill dan pengalaman.
Adapun tesis yang akan saya susun nantinya adalah “Pengembangan model
keterampilan membaca kreatif”. Jenis riset ini adalah riset pengembangan artinya akan ada
produk berupa buku keterampilan membaca kreatif yang dapat digunakan para penggerak
literasi di sekolah khususnya guru bahasa Indonesia dalam proses pembelajaran maupun
program literasi sekolah. Harapan dan impian saya kedepannya riset ini bisa diterapkan oleh
penggerak literasi dari 3 jenjang pendidikan untuk guru di SMP dan SMA maupun
mahasiswa yang sedang menempuh jenjang perkuliahan, atau yang sedang menyusun
penelitian di jurusan pendidikan bahasa dan sastra.
Sebagai anak bangsa, saya ingin mengambil peran sebagai dosen yang berkontribusi
langsung bagi kemajuan bangsa Indonesia. Kontribusi yang ingin saya berikan diantaranya;
Pertama, tidak hanya sekadar mengajarkan ilmu pengetahuan atau membuat bahan ajar saja,
namun saya juga ingin mendidik moral anak bangsa dengan membentuk karakter yang baik,
berdasarkan disiplin ilmu dan pengalaman yang akan saya dapatkan di magister nantinya.
Kedua, ketika saya menempuh perkuliahan maka saya akan mengaktifkan diri dengan
bergabung pada forum literasi dan ikut serta menjadi volunteer gerakan literasi.
Alhamdulillah berkat adanya beasiswa dari pemerintah yang memberikan fasilitas
yang tidak boleh saya sia-siakan yaitu Beasiswa Unggulan. Saya berharap pihak
penyelenggara bisa memberikan saya kesempatan untuk mendapatkan beasiswa ini. Saya
menaruh harapan besar pada beasiswa ini agar impian saya untuk mencerdaskan anak bangsa
melalui dunia literasi dapat terwujud. Saya berkomitmen akan mewakafkan diri ini untuk
berkontribusi dalam mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia.