0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan18 halaman

Pemahaman Matematis dalam Pembelajaran

Dokumen ini membahas pemahaman matematis sebagai kemampuan siswa dalam memahami konsep, prosedur, dan aplikasi matematika, serta pentingnya pengajaran yang tidak hanya berfokus pada hafalan. Selain itu, dijelaskan juga tentang strategi pembelajaran inkuiri terbimbing yang mendorong siswa untuk belajar secara aktif dan kritis. Pembelajaran inkuiri diharapkan dapat meningkatkan keterampilan berpikir siswa dan membantu mereka menemukan jawaban atas pertanyaan yang muncul selama proses belajar.

Diunggah oleh

rian Sone
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan18 halaman

Pemahaman Matematis dalam Pembelajaran

Dokumen ini membahas pemahaman matematis sebagai kemampuan siswa dalam memahami konsep, prosedur, dan aplikasi matematika, serta pentingnya pengajaran yang tidak hanya berfokus pada hafalan. Selain itu, dijelaskan juga tentang strategi pembelajaran inkuiri terbimbing yang mendorong siswa untuk belajar secara aktif dan kritis. Pembelajaran inkuiri diharapkan dapat meningkatkan keterampilan berpikir siswa dan membantu mereka menemukan jawaban atas pertanyaan yang muncul selama proses belajar.

Diunggah oleh

rian Sone
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB 2

TINJAUAN TEORI

2.1 Pemahaman Matematis


Istilah pemahaman berasal dari kata paham, yang menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia diartikan sebagai pengetahuan banyak, pendapat, aliran,
mengerti benar. Dalam pembelajaran, pemahaman dimaksudkan sebagai
kemampuan siswa untuk dapat mengerti apa yang telah diajarkan oleh guru
(Susanto, 2013: 208). Sedangkan menurut Sardiman (2016: 42) yaitu:
Pemahaman atau comprehension dapat diartikan menguasai sesuatu
dengan pikiran. Karena itu belajar berarti harus mengerti secara mental
makna dan filosofinya, maksud dan implikasi serta aplikasi-aplikasinya,
sehingga menyebabkan siswa dapat memahami suatu situasi. Hal ini
sangat penting bagi siswa yang belajar. Memahami maksudnya dan
menangkap maknanya adalah tujuan akhir dari setiap belajar.

Menurut Anderson et al (dalam Oktariani, 2016: 13) bahwa:


Understand is defined as constructing the meaning of instructional
messages, including oral, written, and graphic communication. Pendapat
tersebut menjelaskan bahwa siswa dikatakan memahami sesuatu jika
mereka mampu mengkonstruksi makna dari pesan-pesan pengajaran
seperti komunikasi lisan, tulisan, dan grafik.

Beberapa jenis pemahaman menurut para ahli dalam Sumarmo (2013: 31),
yaitu :
a. Polya, membedakan empat jenis pemahaman:
1) Pemahaman mekanikal yaitu dapat melaksanakan perhitungan rutin
atau perhitungan sederhana
2) Pemahaman induktif yaitu dapat mencoba sesuatu dalam kasus
sederhana dan tahu bahwa sesuatu itu berlaku dalam kasus serupa
3) Pemahaman rasional yaitu dapat membuktikan suatu kebenaran
4) Pemahaman intuitif yaitu dapat memperkirakan kebenaran sesuatu
tanpa ragu-ragu, sebelum mengnalisis secara analitik
b. Skemp, membedakan dua jenis pemahaman:
1) Pemahaman instrumental, yaitu hafal sesuatu secara terpisah atau
dapat menerapkan sesuatu pada perhitungan rutin/sederhana,
mengerjakan sesuatu secara algoritmik saja
2) Pemahaman relasional, yaitu dapat mengaitkan sesuatu dengan hal
lainnya secara benar dan menyadari proses yang dilakukan

13
c. Polattsek, membedakan dua jenis pemahaman:
1) Pemahaman komputasional, yaitu dapat menerapkan sesuatu pada
perhitungan rutin/sederhana, atau mengerjakan sesuatu secara
algoritmik saja
2) Pemahaman fungsional, yaitu dapat mengkaitkan sesuatu dengan hal
lainnya secara benar dan menyadari proses yang dilakukan.
d. Copeland, membedakan dua jenis pemahaman:
1) Knowing how to, yaitu dapat mengerjakan sesuatu secara rutin/
algoritmik
2) Knowing, yaitu dapat mengerjakan sesuatu dengan sadar akan proses
yang dikerjakannya

Dari pengertian pemahaman yang telah dikemukakan oleh para ahli diatas
dapat disimpulkan pemahaman adalah kemampuan siswa untuk dapat memahami
atau menguasai suatu materi ajar dalam suatu pembelajaran.
Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa kemampuan pemahaman
matematis adalah salah satu tujuan penting dalam pembelajaran, yang berarti
bahwa materi-materi yang diajarkan kepada siswa bukan hanya sebagai hafalan,
namun lebih dari itu dengan pemahaman siswa dapat lebih mengerti akan konsep
materi pelajaran itu sendiri. Pemahaman matematis merupakan salah satu tujuan
disampaikannya setiap materi oleh guru, sebab guru merupakan pembimbing
siswa untuk mencapai konsep yang diharapkan.
Menurut Depdiknas (dalam Fitriningsih 2014: 2) menjelaskan bahwa:
Pemahaman konsep matematis merupakan kemampuan yang perlu dimiliki
siswa. Pemahaman merupakan salah satu kecakapan atau kemahiran
matematika yang diharapkan dapat tercapai dalam pembelajaran
matematika, yaitu dengan menunjukkan pemahaman konsep matematika
yang dipelajarinya, menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan
mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan
tepat dalam pemecahan masalah. Dengan demikian, siswa yang memiliki
pemahaman konsep yang baik, tidak hanya mampu mengerjakan
matematika tetapi juga mengerti makna mengerjakan matematika. Untuk
itu, siswa perlu dilibatkan dan dijadikan subjek belajar dalam
pembelajaran sehingga siswa akan menemukan konsep dari pembelajaran
tersebut secara mandiri.

Menurut Sumarmo (2013:127) menyatakan bahwa “Pemahaman


matematis adalah pemahaman yang meliputi mengenal, memahami, dan

14
menerapkan konsep, prosedur, prinsip dan ide matematika”. Senada dengan itu,
Afgani D (2011: 4.5) mengatakan bahwa “Pemahaman matematis berkaitan
dengan kemampuan memahami konsep, operasi, dan kaitan atau relasi dalam
matematika”.
Menurut Skemp (dalam Ferry dan Ghanny 2014: 50) mengatakan bahwa
“Pemahaman matematis didefinisikan sebagai kemampuan yang mengaitkan
notasi dan simbol matematika yang relevan dengan ide-ide matematika dan
mengkombinasikannya kedalam rangkaian penalaran logis”. Sedangkan menurut
Kurniawan (dalam Ferry dan Ghanny 2014: 50) yaitu :
Pengertian pemahaman matematis dapat dipandang sebagai proses dan
tujuan dari suatu pembelajaran matematika. Pemahaman matematis
sebagai proses berarti pemahaman matematis adalah suatu proses
pengamatan kognisi yang tak langsung dalam menyerap pengertian dari
konsep atau teori yang akan dipahami pada keadaan dan situasi-situasi
yang lainnya. Sedangkan sebagai tujuan, pemahaman matematis berarti
suatu kemampuan memahami konsep, membedakan sejumlah konsep-
konsep yang saling terpisah, serta kemampuan melakukan perhitungan
secara bermakna pada situsi atau permasalahan-permasalahan yang lebih
luas.

Menurut Hirschfeld (2008: 4) mengatakan bahwa:


A shift must occur in mathematics instruction from rote memorizing and
performing algorithms, to critical thinking and conceptual understanding.
This should result in improved student attitudes toward mathematics.
Pendapat tersebut menjelaskan bahwa hasil dari perubahan cara belajar
matematika adalah mulai dari mengingat rumus dan mempelajari algoritma
kemudian berpikir kritis dan terakhir barulah pemahaman konsep.

Menurut Duffin dan Simpson (dalam Annajmi, 2016: 2) mengatakan


bahwa :
Siswa memiliki kemampuan konsep apabila siswa mampu (1)
Menjekaskan konsep atau mampu mengungkapkan kembali apa yang telah
dikomunikasikan kepadanya. (2) Mengungkapkan konsep pada berbagai
situasi yang berbeda, dan (3) Mengembangkan beberapa akibat dari
adanya suatu konsep. Oleh karena itu dapat dikatakan seseorang siswa
memiliki pemahaman konsep atau matematis yang baik apabila mampu
menjelaskan kembali konsep yang telah dipelajari, memberikan contoh
dan bukan contoh dari konsep serta mengunakan konsep dalam pemecahan
masalah.

15
Dari beberapa pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa
pemahaman matematis adalah kemampuan siswa memahami tentang konsep,
prosedur atau algoritma, memberi contoh dari konsep, dan kemampuan siswa
menggunakan strategi penyelesaian serta melakukan perhitungan secara bermakna
terhadap suatu masalah yang diberikan. Seseorang yang telah memiliki
kemampuan pemahaman matematis berarti orang tersebut telah mengetahui apa
yang dipelajarinya, langkah-langkah yang dilakukan, dan dapat menggunakan
berbagai konsep internal dan eksternal matematika.
Dalam belajar matematika siswa tidak hanya diminta untuk mengetahui
suatu konsep, namun lebih dari itu siswa juga diharapkan mampu memahami serta
menguasai konsep tersebut sehingga siswa mampu mengaplikasikan konsep yang
dipelajari dalam berbagai kasus atau memecahkan masalah dalam belajar
matematika. Oleh karena itu, pemahaman matematis sebagai salah satu tingkat
berpikir matematis dalam belajar matematika perlu dikembangkan kepada siswa
agar ketika siswa belajar matematika siswa tidak hanya mengetahui dan
memahami konsep saja tetapi lebih dari itu siswa juga harus mengetahui dan
memahami prosedur pengerjaanya.
Afgani D (2011: 4.5) mengatakan bahwa:
Pada umumnya para ahli mengukur kemampuan pemahaman matematis
melalui indikator:
1) Kemampuan menyatakan ulang konsep yang telah dipelajari.
2) Kemampuan mengklasifikasikan objek-objek berdasarkan dipenuhi atau
tidaknya persyaratan yang membentuk konsep tersebut.
3) Kemampuan menerapkan konsep secara algoritma.
4) Kemampuan memberikan contoh dari konsep yang telah dipelajari.
5) Kemampuan menyajikan konsep dalam berbagai macam bentuk
representasi matematika.
6) Kemampuan mengaitkan berbagai konsep (internal dan eksternal
matematika).
7) Kemampuan mengembangkan syarat perlu cukup suatu konsep.

Dikarenakan dari hasil tes kemampuan awal pemahaman matematis


terlihat lima indikator masih mendapatkan skor yang belum maksimal,dan
mendapat rata-rata dibawah 2 dan masih dalam kriteria cukup dan rendah
walaupun indikator 2 juga dalam kriteria cukup tetapi rata-rata untuk indikator

16
tersebut sudah mencapai 2 sehingga peneliti tidak mengambil indikator tersebut.
serta keterbatasan kemampuan peneliti dari segi waktu dan hal-hal lainnya..
Adapun indikator yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Kemampuan menerapkan konsep secara algoritma.
2. Kemampuan memberikan contoh dari konsep yang telah dipelajari.
3. Kemampuan menyajikan konsep dalam berbagai macam bentuk representasi
matematika.
4. Kemampuan mengaitkan berbagai konsep (internal dan eksternal matematika).
5. Kemampuan mengembangkan syarat perlu cukup suatu konsep.

2.2 Strategi Pembelajaran Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry)


Djamarah dan Zain (2010: 5) mengatakan bahwa “Strategi adalah suatu
garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah
ditentukan”. Menurut Kemp (dalam Suyadi, 2013: 13) menjelaskan bahwa
“Strategi pembelajaran merupakan kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru
serta peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan
efesien”. Sedangkan menurut Hamdani (2011: 19) mengatakan bahwa “Strategi
dapat diartikan sebagai suatu susunan, pendekatan, atau kaidah-kaidah untuk
mencapai suatu tujuan dengan menggunakan tenaga, waktu, serta kemudahan
secara optimal”. Berdasarkan defenisi yang telah dikemukakan oleh para ahli
tersebut dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu susunan
perencanaan yang berisi rangkaian kegiatan untuk bertindak atau langkah-langkah
pembelajaran yang ditempuh oleh guru dan siswa agar sasaran dan tujuan
pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efesien.
Pembelajaran inkuiri adalah pembelajaran dimana siswa di dorong untuk
belajar melalui keterlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan
prinsip-prinsip, dan mendorong guru, siswa untuk memiliki pengalaman dan
melakukan percobaan yang memungkinkan siswa untuk menemukan prinsip–
prinsip untuk diri mereka sendiri (Kunandar, 2014: 377). Sedangkan Djamarah
dan Zain (2010: 19) berpendapat bahwa “Inkuiri adalah belajar mencari dan
menemukan sendiri”.

17
Menurut Hanggara (2015: 72) mengatakan bahwa:
Pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan strategi pembelajaran yang
diorganisasikan lebih terstruktur, dimana guru mengendalikan keseluruhan
proses interaksi dan menjelaskan prosedur penelitian yang harus dilakukan
oleh siswa. Siswa memperoleh pedoman sesuai dengan yang dibutuhkan.
Pedoman tersebut biasanya berupa pertanyaan-pertanyaan yang
membimbing siswa untuk menemukan penyelesaian masalah.

Menurut Pupuh dan Sobri (dalam Istarani 2012: 177) mengatakan bahwa
“Inkuiri adalah belajar mencari dan menemukan sendiri”. Dalam sistem belajar
mengajar ini guru menyajikan bahan pelajaran tidak dalam bentuk final, tetapi
anak didik diberi peluang untuk menemukan sendiri dengan menggunakan metode
pemecahan masalah.
Menurut Elyani (dalam Sukmawati dan Sukadasih, 2014: 203)
mengatakan bahwa:
Inkuiri terbimbing merupakan suatu strategi pembelajaran yang berupaya
untuk menanamkan dasar-dasar berpikir ilmiah pada siswa, sehingga siswa
lebih banyak belajar sendiri dan mampu mengembangkan kreativitasnya
dalam memecahkan masalah. Peranan guru dalam inkuiri terbimbing
adalah sebagai pembimbing dan fasilitator.

Menurut Ling Shih,dkk (dalam Hanggara, 2015: 72) mengatakan bahwa:


Inquiry Based Learning is a concept which encourages teachers to allow
eaners to get in touch with authentic situations, and to explore and to solve
problems that are analogs to real life. Yang artinya pembelajaran inkuiri
adalah suatu konsep yang mendorong guru untuk memberikan kesempatan
pebelajar untuk memperoleh keterampilan dengan menyajikan situasi
nyata dan untuk menyelidiki dan menyelesaikan masalah yang berkaitan
dengan kehidupan nyata.

Berdasarkan pendapat para ahli mengenai strategi pembelajaran inkuiri


diatas dapat disimpulkan strategi pembelajaran inkuiri adalah strategi
pembelajaran yang berpusat kepada siswa dengan rangkaian kegiatan yang
menekankan pada proses berpikir kritis, logis, analitis untuk mencari dan
menemukan sendiri jawaban dari masalah yang dipertanyakan.
Suyadi (2013: 116) mengatakan “Tujuan utama pembelajaran inkuiri
adalah membantu peserta didik untuk dapat mengembangkan disiplin ilmu

18
intelektual dan keterampilan berpikir dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan
dan mendapatkan jawaban atas rasa ingin tahu mereka.”
Orlich (1998) (dalam Amri dan Ahmadi, 2010: 89) menyatakan:
Ada beberapa karakteristik inkuiri terbimbing yang perlu diperhatikan,
yaitu:
1. Mengembangkan kemampuan berpikir siswa melalui observasi
spesifik hingga mampu membuat inferensi atau generalisasi
2. Sasarannya adalah mempelajari proses pengamatan kejadian atau
objek dan menyusun generalisasi yang sesuai
3. Guru mengontrol bagian tertentu dari pembelajaran, misalnya
kejadian, data, materi dan berperan sebagai pemimpin kelas
4. Setiap siswa berusaha membangun pola yang bermakna berdasarkan
hasil observasi di dalam kelas
5. Kelas diharapkan berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran
6. Biasanya sejumlah generalisasi akan diperoleh siswa
7. Guru memotivasi semua siswa untuk mengkomunikasikan
generalisasinya sehingga dapat dimanfaatkan seluruh siswa dalam
kelas

Dalam menggunakan stretegi inkuiri terdapat beberapa prinsip yang harus


diperhatikan oleh guru. Sanjaya (2014: 199) mengemukakan:
Prinsip strategi pembelajaran ikuiri sebagai berikut :
1. Berorientasi pada Pengembangan Intelektual
Tujuan utama dari strategi ini adalah pengembangan berfikir. Dengan
demikian, strategi ini selain berorientasi pada hasil belajar juga
berorientasi pada proses belajar. Karena itu, kriteria keberhasilan dari
proses pembelajaran dengan menggunakan strategi inkuiri bukan
hanya ditentukan oleh sejauh mana siswa dapat menguasai materi
pelajaran, akan tetapi juga sejauh mana siswa beraktivitas mencari dan
menemukan sesuatu.
2. Prinsip Interaksi
Proses pembelajaran pada dasarnya adalah interaksi, baik interaksi
antar siswa maupun interaksi siswa dengan guru , bahkan interaksi
antara siswa dengan lingkungan. Pembelajaran sebagai proses
interaksi berarti menempatkan guru bukan sebagai sumber belajar,
tetapi sebagai pengatur lingkungan atau pengatur interaksi itu sendiri.
3. Prinsip Bertanya
Peran guru yang harus dilakukan dalam menggunakan strategi
pembelajaran inkuiri adalah guru sebagai penanya. Sebab kemampuan
siswa untuk menjawab setiap pertanyaan pada dasarnya sudah
merupakan sebagaian dari proses berpikir.

19
4. Prinsip Belajar Untuk Berpikir
Belajar bukan hanya mengingatkan sejumlah fakta, akan tetapi belajar
adalah proses berpikir, yakni proses mengembangkan potensi seluruh
otak, baik otak kiri maupun otak kanan.
5. Prinsip Keterbukaan
Belajar adalah proses mencoba berbagai kemungkinan, segala sesuatu
mungkin terjadi. Oleh karena itu, siswa perlu diberikan untuk
mencoba sesuai dengan perkembangan logika dan nalarnya.

Menurut Sanjaya (2014: 201) “Secara umum, terdapat 6 langkah-langkah


proses pembelajaran inkuiri, yaitu 1) Orientasi, 2) merumuskan masalah, 3)
merumuskan hipotesis, 4) mengumpulkan data, 5) menguji hipotesis, 6)
merumuskan kesimpulan”. Keenam langkah tersebut dijelaskan sebgai berikut:
1. Orientasi
Orientasi merupakan langkah untuk membina suasana atau iklim
pembelajaran yang responsive. Pada langkah ini guru atau pendidik
mengkondisikan peserta didik agar siap melaksanakan proses pembelajaran.
Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam tahap orientasi adalah:
a. Menjelaskan topik, tujuan, dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai
oleh peserta didik
b. Menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta didik
untuk mencapai tujuan
c. Menjelaskan pentingnya topik pembelajaran
2. Merumuskan Masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa peserta didik pada
suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah
persoalan yang menantang peserta didik untuk berpikir memecahkan teka-teki
tertentu. Beberapa hal yang diperhatikan dalam merumuskan masalah diantaranya
adalah:
a. Masalah hendaknya dirumuskan sendiri oleh peserta didik
b. Masalah yang dikaji adalah masalah yang mengandung teka-teki dengan
jawaban yang pasti
c. Konsep dalam masalah adalah konsep-konsep yang sudah diketahui terlebih
dahulu oleh peserta didik

20
3. Merumuskan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang
diuji. Siswa diharapkan adapat membuat rumusan hipotesis dari suatu
permasalahan. Guru mengembangkan kemampuan berhipotesis setiap siswa
dengan mengajukan pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk merumuskan
hipotesis.
4. Mengumpulkan Data
Mengumpulkan data adalah aktivitas mencari informasi yang dibutuhkan
untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam strategi pembelajaran inkuiri,
mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam
pengembangan intelektual.
5. Menguji Hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap
diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan
pengumpulan data. Adapun yang terpenting dalam menguji hipotesis adalah
mencari tingkat keyakinan peserta didik atas jawaban yang diberikan.
6. Merumuskan Kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang
diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan
merupakan langkah penting dalam proses pembelajaran. Sering kali banyaknya
data yang diperoleh menyebabkan kesimpulan yang disimpulkan tidak fokus
terhadap masalah yang hendak dipecahkan. Oleh karena itu, untuk mencapai
kesimpulan yang akurat, sebaiknya guru mampu menunjukkan pada peserta didik
data yang relevan.
Jauhar (2011: 79) menjelaskan bahwa:
Inkuiri pada dasarnya memberikan kesempatan kepada siswa untuk
bekerja sama dalam membangun pemahaman dan keterampilan melalui
interaksi dengan lingkungan social seperti teman sejawat, guru dan
sumber-sumber belajar lain. Interaksi dengan lingkungan memungkinkan
seseorang siswa memperbaiki pemahaman dan memperkaya
pengetahuannya melalui kegiatan bertanya jawab atau berdiskusi dalam
kelompok belajarnya. Inkuiri mendukung prinsip ini karena pada dasarnya
kegiatan inkuiri dirancang agar siswa belajar dalam kelompok dan guru
berperan sebagai fasilitator.

21
Kaniawati (2010: 7) menyatakan :
Strategi pembelajaran inkuiri dapat dibagi menjadi lima macam, yaitu:
1. Inkuiri terbimbing ( Guided Inquiry)
2. Modifikasi Inkuiri (Modified Inquiry)
3. Inkuiri Bebas ( Free Inquiry)
4. Inkuiri Pendekatan Peranan (Inquiry Role Approach)
5. Mengundang ke Inkuiri (Invitation To Inkuiry)

Dari kelima macam jenis pembelajaran inkuiri tersebut dalam penelitian


ini strategi yang akan dilibatkan adalah strategi inkuiri terbimbing, dikarenakan
siswa MTs Al-Munawwarah Pekanbaru belum terbiasa belajar dengan pendekatan
strategi inkuiri serta masih dalam taraf belajar proses ilmiah, sehingga peneliti
beranggapan strategi inkuiri terbimbing lebih cocok diterapkan. Inkuiri
terbimbing biasanya digunakan bagi siswa-siswa yang belum berpengalaman
dalam belajar dengan pendekatan inkuiri. Pada tahap-tahap awal pengajaran
diberikan bimbingan lebih banyak yaitu berupa pertanyaan-pertanyaan pengarah
agar siswa mampu menemukan sendiri arah dan tindakan-tindakan yang harus
dilakukan untuk memecahkan masalah yang diberikan oleh guru.
Peneliti juga tidak memilih pembelajaran dengan metode Discovery
Learning dikarenakan discovery merupakan bagian dari inquiry, atau inquiry
merupakan perluasan proses discovery yang digunakan lebih mendalam.
Selanjutnya Depdikbud (2014 : 14) juga menyebutkan bahwa “Discovery
Learning mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry). Tidak ada
perbedaan yang prinsipil pada kedua istilah ini, pada Discovery Learning lebih
menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak
diketahui”. Perbedaannya discovery dengan inquiry ialah bahwa pada discovery
masalah yang diperhadapkan kepada siswa semacam masalah yang direkayasa
oleh guru, sedangkan pada inkuiri masalahnya bukan hasil rekayasa, sehingga
siswa harus mengerahkan seluruh pikiran dan keterampilannya untuk
mendapatkan temuan-temuan di dalam masalah itu melalui proses penelitian.

22
Sanjaya (2014: 197) mengatakan bahwa:
Strategi pembelajaran inkuiri akan efektif manakala :
1) Guru mengharapkan siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari
suatu permasalahan yang ingin dipecahkan.
2) Jika bahan pelajaran yang akan diajarkan tidak berbentuk fakta atau
konsep yang sudah jadi, akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu
pembuktian.
3) Jika proses pembelajaran berangkat dari rasa ingin tahu siswa terhadap
sesuatu.
4) Jika guru akan mengajar pada sekelompok siswa yang rata-rata memilki
kemauan dan kemampuan befikir.
5) Jika jumlah siswa yang belajar tak terlalu banyak sehingga bisa
dikendalikan oleh guru.
6) Jika guru memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan
yang berpusat pada siswa.

Menurut Sanjaya (2014: 208) :


Strategi pembelajaran inkuiri adalah strategi pembelajaran yang banyak
dianjurkan karena memiliki beberapa keunggulan antara lain:
1) Merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada
pengembangan aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif secara
seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih
bermakna.
2) Memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya
belajar mereka.
3) Merupakan strategi pembelajaran yang dianggap sesuai dengan
perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar
adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
4) Strategi pembelajaran inkuiri dapat melayani kebutuhan siswa yang
memilki kemampuan diatas rata-rata. Artinya, siswa yang memilki
kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah
dalam belajar.

Selanjutnya menurut Sanjaya (2014: 208) menyatakan bahwa:


Selain memiliki keunggulan, strategi pembelajaran inkuiri juga memilki
kelemahan antara lain :
1). Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena itu
terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
2). Kadang- kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu
yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan
waktu yang telah ditentukan,

23
3). Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa
menguasai materi pelajaran, maka startegi pembelajaran inkuiri akan
sulit diimplementasikan oleh setiap guru.

Memperhatikan kelemahan strategi pembelajaran inkuiri di atas maka ada


kemungkinan siswa tidak dapat menyelesaikan tugas-tugasnya, karena tidak
semua siswa akan mampu belajar secara mandiri sehingga memerlukan waktu
yang cukup lama. Untuk mengatasi hal tersebut maka peneliti akan menerapkan
strategi pembelajaran inkuiri terbimbing menggunakan Lembar Kerja Siswa
(LKS) yang disusun sedememikian rupa untuk menemukan konsep dan rumus
sehingga dapat menggunakan waktu seefesien mungkin. Oleh sebab itu LKS
dibuat khusus untuk membimbing siswa dalam melakukan percobaan dan menarik
kesimpulan. Langkah- langkah yang digunakan dalam penelitian ini adalah
langkah-langkah menurut Sanjaya.

2.3 Penerapan Strategi Pembelajaran Inkuiri Terbimbing


Penerapan pembelajaran inkuiri terbimbing (Guided Inkuiry) ini
dilaksanakan melalui beberapa tahapan, antara lain:
1) Tahap Persiapan
Adapun persiapan yang dilakukan adalah:
1. Mempersiapkan perangkat pembelajaran seperti silabus, RPP, LKS, dan lembar
pengamatan aktivitas guru dan siswa.
2. Menyusun kelompok- kelompok belajar dimana dalam satu kelas tersebut
berjumlah 28 orang siswa perempuan. Setiap kelompok heterogen secara
akademik dimana terdapat tujuh kelompok yang beranggotakan empat orang
siswa.
2) Tahap Pelaksanaan
Pelaksanaan proses belajar mengajar akan dilaksanakan dengan
menerapkan startegi inkuiri terbimbing (Guided Inquiry) dijabarkan pada Tabel 2
sebagai berikut:

24
Tabel 2. Tahap pelaksanaan pembelajaran Inkuiri Terbimbing
No Kegiatan
Guru Peserta Didik
1 Kegiatan Awal
(Orientasi) (Orientasi)
1. Guru memberikan salam (membaca 1. Menjawab salam, berdo’a dan siswa
do’a), menyapa dan mengabsen bersiap-siap untuk proses kegiatan
siswa belajar mengajar
2. Guru menyampaikan tujuan 2. Peserta didik memperhatikan tujuan
pembelajaran sesuai dengan materi pembelajaran yang disampaikan guru
yang akan dipelajari
3. Guru menyampaikan apersepsi
tentang materi sebelumnya yang 3. Peserta didik memperhatikan topik
berhubungan dengan materi yang dan apersepsi yang disampaikan guru
akan dipelajari
4. Guru memberikan motivasi kepada 4. Peserta didik memperhatikan motivasi
peserta didik yang disampaikan oleh guru
5. Guru menjelaskan langkah-langkah 5. Peserta didik memperhatikan langkah-
kegiatan pembelajaran dengan langkah kegiatan pembelajaran yang
strategi pembelajaran inkuiri disampaikan guru
terbimbing
2 Kegiatan Inti
1. Guru menginstruksikan siswa 1. Duduk dikelompoknya masing-
untuk duduk dalam kelompok yang masing
telah ditentukan dan guru 2. Mendengarkan penjelasan guru
memberikan masing-masing
kelompok LKS untuk melaporkan
hasil kegiatan pembelajaran
2. Memberikan informasi tentang
ulasan materi dan menjelaskannya
secara garis besar tentang materi
yang akan dipelajari

(Merumuskan Masalah) (Merumuskan Masalah)


3. Guru menyajikan masalah dengan 3. Peserta didik membaca dan
cara bertanya tentang sesuatu memahami permasalahan yang
permasalahan yang ada pada diberikan guru
Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk
memancing rasa ingin tahu siswa
4. Mendorong dan membimbing
peserta didik melakukan
pengkajian terhadap permasalahan
5. Meminta setiap peserta didik untuk
mendiskusikan masalah yang telah
diberikan

(Merumuskan Hipotesis) (Merumuskan Hipotesis)


6. Guru membimbing siswa dalam 4. Peserta didik membuat hipotesis
membuat suatu hipotesis yang pada LKS yang telah diberikan

25
relevan sesuai dengan rumusan
masalah yang telah disajikan

(Mengumpulkan Data) (Mengumpulkan Data)


7. Meminta peserta didik 5. Peserta didik bekerja sama dalam
mengumpulkan data dari berbagai mengumpulkan data dari berbagai
referensi guna memperkuat referensi guna memperkuat hipotesis
hipotesis dan mencari jawaban dari dan mencari jawaban dari pertanyaan
pertanyaan yang terdapat dalam yang terdapat dalam LKS
LKS

(Menguji Hipotesis) (Menguji Hipotesis)


8. Meminta peserta didik untuk 6. Peserta didik menganalisis dan
menguji hipotesis dari data yang menguji hipotesis dari data yang
telah dikumpulkan telah ditemukan dan menjawab
pertanyaan yang terdapat pada LKS

(Merumuskan Kesimpulan ) (Merumuskan Kesimpulan)


9. Membimbing peserta didik 7. Bersama-sama mendeskripsikan
mendeskripsikan temuan yang hasil temuan berdasarkan hasil
diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis
pengujian hipotesis
8. Salah satu kelompok maju kedepam
10. Meminta salah satu kelompok kelas untuk mempresentasikan hasil
untuk mempresentasikan hasil diskusinya
diskusinya didepan kelas
9. Mengikuti jalannya diskusi dengan
11. Guru membimbing jalannya antusias dan mendengarkan jawaban
diskusi sebagai fasilitator dari kelompok yang sedang
presentasi

3 Kegiatan Akhir

1. Memberi latihan kepada peserta 1. Mengerjakan latihan yang diberikan


didik oleh guru

2. Menginformasikan pokok materi 2. Mendengarkan dan mencatat materi


yang akan dibahas pada pertemuan yang dipelajari pada pertemuan
berikutnya berikutnya

3. Guru menutup pelajaran dengan 3. Menjawab salam


mengucapkan salam

3). Penilaian dan Tindak Lanjut.


Tahap penilaian merupakan penilaian atas hasil belajar siswa setelah
mengikuti pembelajaran. Evaluasi dilakukan pada pertemuan ke 4 dan pertemuan
ke 8 (pertemuan terakhir). Adapun evaluasi yang diberikan berupa ulangan harian
dalam bentuk soal uraian.

26
2.4 Hubungan Strategi Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Dengan
Kemampuan Pemahaman Matematis.
Menurut (Amri dan Ahmadi 2010: 89) mengatakan “Inkuiri terbimbing
tergolong kedalam inkuiri tingkat pertama dimana kegiatan inkuiri adalah masalah
siswa dikemukakan guru atau bersumber dari buku teks kemudian siswa bekerja
untuk menemukan jawaban terhadap masalah tersebut di bawah bimbingan
intensif guru”. Sedangkan menurut (Trianto, 2013: 114) mengatakan bahwa
“Inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis konstektual.
Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil
mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru
harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan apapun
materi yang diajarkan”.
Menurut Herdian (2010: 4) mengatakan bahwa :
Pembelajaran inkuiri terbimbing ini digunakan bagi siswa yang kurang
berpengalaman belajar dengan inkuiri. Dengan pembelajaran inkuiri
terbimbing ini siswa belajar lebih berorientasi pada bimbingan dan
petunjuk dari guru hingga siswa dapat memahami konsep-konsep
pelajaran. Pendekatan ini siswa akan dihadapkan pada tugas-tugas yang
relevan untuk diselesaikan baik melalui diskusi kelompok maupun secara
individual agar mampu menyelesaikan masalah dan menarik suatu
kesimpulan secara mandiri.

Menurut (Amri dan Ahmadi,2010: 95) menjelaskan bahwa:


Kegiatan pembelajaran selama menggunakan pembelajaran inkuiri
terbimbing ditentukan oleh keseluruhan aspek pengajaran di kelas, proses
keterbukaan dan peran aktif. Keseluruhan proses pembelajaran inkuiri
terbimbing pada prinsipnya membantu siswa menjadi mandiri, percaya
diri, dan yakin pada kemampuan intelektualnya sendiri untuk terlibat
secara aktif.

Pada saat penyajian kelas terjadi intereksi antara siswa dengan guru yang
diharapkan dapat menjadi wadah bagi siswa untuk bertanya dan menggali
informasi dan memberikan kesempatan kepada guru untuk memotivasi dan
membimbing siswa dalam menemukan dan memahami materi pembelajaran yang
berorientasi pada kegiatan siswa tanpa guru sebagai fokus utama yang
memberikan materi pembelajaran seutuhnya. Pada kegiatan kelompok terjadi

27
interaksi siswa dengan siswa yang diharapkan masing- masing kelompok saling
berbagi informasi, menggunakan pengetahuan dan kerjasama dalam kelompok
diskusinya untuk menyelsaikan suatu permasalahan dan saling membantu dalam
membangun pengetahuan baru dengan mengintegritaskan pengetahuan lama
masing-masing individu. Dengan diterapkannya strategi pembelajaran ini dapat
membuat pemahaman siswa terhadap pelajaran akan lebih baik dan akhirnya
berdampak pada pemahaman matematis yang lebih baik.

2.5 Hasil Penelitian Yang Relevan


Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian yang
dilakukan oleh Wulandari (2013) dengan judul penerapan strategi inkuiri
terbimbing dalam pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan hasil belajar
matematika siswa kelas VII.2 SMPN 11 Pekanbaru tahun ajaran 2012/2013. Hasil
penelitian menunjukkan adanya perbaikan proses pembelajaran dan peningkatan
hasil belajar matematika siswa kelas VII.2 SMPN 11 Pekanbaru. Hal ini terlihat
pada analisis ketercapaian KKM rata-rata hasil belajar siswa pada skor dasar,
ulangan harian I dan II, dimana pada skor dasar ketercapaian KKM sebanyak 17
orang (44,74%) dengan nilai rata-rata 68,79, pada ulangan harian 1 ketercapaian
KKM sebanyak 21 orang (55,26%) dengan nilai rata-rata 72,29 dan pada ulangan
harian 2 ketercapain KKM sebanyak 28 orang (73,68%) dengan nilai rata-rata
79,95. Dari hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa penerapan strategi
inkuiri terbimbing dalam pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan hasil
belajar matematika pada siswa kelas VII.2 SMPN 11 Pekanbaru tahun ajaran
2012/2013.
Namun dalam penelitian ini juga terdapat beberapa kelemahan diantaranya
(1) penyelesaian LKS tidak tepat waktu (2) masih ada terdapat kebiasaaan siswa
dalam belajar yang masih meniru hasil kerja temannya membuat siswa kurang
mandiri. Berdasarkan hasil penelitian dan kekurangan yang terdapat di dalamnya
maka disarankan beberapa hal yaitu (1) Guru mengorganisir waktu dengan baik
agar lebih efektif (2) Agar penerapan strategi inkuiri terbimbing dalam
pembelajaran kooperatif dapat berlangsung dengan baik sesuai dengan

28
perencanaan, maka sebaiknya guru menginformasikan setiap tahap dalam
pelaksanaan strategi inkuiri tebimbing dalam pembelajaran kooperatif dengan
lebih jelas dan rinci kepada siswa.
Penelitian lain yang relevan dengan peneltian ini yaitu kajian hasil
penelitian yang dilakukan oleh Kurniasari (2015) dengan judul Penerapan strategi
pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap kemampuan pemahaman matematis
siswa kelas VII.F SMP Negeri Rengat Barat.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dengan
pendekatan inkuiri terbimbing dapat meningkatkan kemampuan pemahaman
matematis siswa ditinjau dari pembelajaran dan kategori kemampuan matematika
siswa. Hal ini terlihat dari persentase skor pada siklus I dan siklus II mengalami
peningkatan dari skor dasar. Persentase pada skor dasar adalah 46,88% dengan
kriteria rendah, dan persentase pada pada siklus I tes kemampuan pemahaman
matematis I adalah 65,21% dengan kriteria cukup. Persentase yang diperoleh pada
sikulus II tes kemampuan pemahaman matematis II mencapai 75% dengan kriteria
tinggi. Artinya dalam tindakan ini kemampuan pemahaman matematis siswa
semakin meningkat setelah diterapkan strategi pembelajaran inkuiri terbimbing
dalam proses pembelajaran.
Dalam pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini masih terdapat
kekurangan yang dilakukan peneliti, ini terlihat dari perencanaan atau penyusunan
perangkat penelitian dan pelaksanaan tindakan penelitian. Saran yang diberikan
oleh Kurniasari kepada peneliti berikutnya adalah (1) pada tahap pelaksanaan
penerapan strategi inkuiri hendaknya lebih memperhatikan waktu pelaksanaan
agar perencanaan pembelajaran dapat terlaksana dengan baik. (2) Kemudian
sebaiknya lembar pengamatan difungsikan dengan maksimal dan diisi sesuai
dengan petunjuk pengisian, agar pada hasil dan pembahasan dapat terlihat proses
pembelajaran yang dilaksanakan.
Kedua penelitian yang telah dikemukakan diatas merupakan penelitian
yang relevan dengan penelitian ini. Dengan adanya penelitian yang relevan
dengan penelitian ini diharapkan tujuan penelitian ini dapat terwujud yaitu

29
memperbaiki proses pembelajaran dan kem ampuan pemahaman matematis siswa
kelas [Link] MTs Al-Munawwarah Pekanbaru.

2.6 Hipotesis Tindakan


Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah penerapan strategi
pembelajaran inkuiri terbimbing dapat memperbaiki proses pembelajaran dan
meningkatkan kemampuan pemahaman matematis siswa kelas [Link] MTs
Al-Munawwarah Pekanbaru pada materi pokok bangun datar segi empat semester
genap tahun ajaran 2017/2018.

30

Anda mungkin juga menyukai