Pemahaman Matematis dalam Pembelajaran
Pemahaman Matematis dalam Pembelajaran
TINJAUAN TEORI
Beberapa jenis pemahaman menurut para ahli dalam Sumarmo (2013: 31),
yaitu :
a. Polya, membedakan empat jenis pemahaman:
1) Pemahaman mekanikal yaitu dapat melaksanakan perhitungan rutin
atau perhitungan sederhana
2) Pemahaman induktif yaitu dapat mencoba sesuatu dalam kasus
sederhana dan tahu bahwa sesuatu itu berlaku dalam kasus serupa
3) Pemahaman rasional yaitu dapat membuktikan suatu kebenaran
4) Pemahaman intuitif yaitu dapat memperkirakan kebenaran sesuatu
tanpa ragu-ragu, sebelum mengnalisis secara analitik
b. Skemp, membedakan dua jenis pemahaman:
1) Pemahaman instrumental, yaitu hafal sesuatu secara terpisah atau
dapat menerapkan sesuatu pada perhitungan rutin/sederhana,
mengerjakan sesuatu secara algoritmik saja
2) Pemahaman relasional, yaitu dapat mengaitkan sesuatu dengan hal
lainnya secara benar dan menyadari proses yang dilakukan
13
c. Polattsek, membedakan dua jenis pemahaman:
1) Pemahaman komputasional, yaitu dapat menerapkan sesuatu pada
perhitungan rutin/sederhana, atau mengerjakan sesuatu secara
algoritmik saja
2) Pemahaman fungsional, yaitu dapat mengkaitkan sesuatu dengan hal
lainnya secara benar dan menyadari proses yang dilakukan.
d. Copeland, membedakan dua jenis pemahaman:
1) Knowing how to, yaitu dapat mengerjakan sesuatu secara rutin/
algoritmik
2) Knowing, yaitu dapat mengerjakan sesuatu dengan sadar akan proses
yang dikerjakannya
Dari pengertian pemahaman yang telah dikemukakan oleh para ahli diatas
dapat disimpulkan pemahaman adalah kemampuan siswa untuk dapat memahami
atau menguasai suatu materi ajar dalam suatu pembelajaran.
Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa kemampuan pemahaman
matematis adalah salah satu tujuan penting dalam pembelajaran, yang berarti
bahwa materi-materi yang diajarkan kepada siswa bukan hanya sebagai hafalan,
namun lebih dari itu dengan pemahaman siswa dapat lebih mengerti akan konsep
materi pelajaran itu sendiri. Pemahaman matematis merupakan salah satu tujuan
disampaikannya setiap materi oleh guru, sebab guru merupakan pembimbing
siswa untuk mencapai konsep yang diharapkan.
Menurut Depdiknas (dalam Fitriningsih 2014: 2) menjelaskan bahwa:
Pemahaman konsep matematis merupakan kemampuan yang perlu dimiliki
siswa. Pemahaman merupakan salah satu kecakapan atau kemahiran
matematika yang diharapkan dapat tercapai dalam pembelajaran
matematika, yaitu dengan menunjukkan pemahaman konsep matematika
yang dipelajarinya, menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan
mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan
tepat dalam pemecahan masalah. Dengan demikian, siswa yang memiliki
pemahaman konsep yang baik, tidak hanya mampu mengerjakan
matematika tetapi juga mengerti makna mengerjakan matematika. Untuk
itu, siswa perlu dilibatkan dan dijadikan subjek belajar dalam
pembelajaran sehingga siswa akan menemukan konsep dari pembelajaran
tersebut secara mandiri.
14
menerapkan konsep, prosedur, prinsip dan ide matematika”. Senada dengan itu,
Afgani D (2011: 4.5) mengatakan bahwa “Pemahaman matematis berkaitan
dengan kemampuan memahami konsep, operasi, dan kaitan atau relasi dalam
matematika”.
Menurut Skemp (dalam Ferry dan Ghanny 2014: 50) mengatakan bahwa
“Pemahaman matematis didefinisikan sebagai kemampuan yang mengaitkan
notasi dan simbol matematika yang relevan dengan ide-ide matematika dan
mengkombinasikannya kedalam rangkaian penalaran logis”. Sedangkan menurut
Kurniawan (dalam Ferry dan Ghanny 2014: 50) yaitu :
Pengertian pemahaman matematis dapat dipandang sebagai proses dan
tujuan dari suatu pembelajaran matematika. Pemahaman matematis
sebagai proses berarti pemahaman matematis adalah suatu proses
pengamatan kognisi yang tak langsung dalam menyerap pengertian dari
konsep atau teori yang akan dipahami pada keadaan dan situasi-situasi
yang lainnya. Sedangkan sebagai tujuan, pemahaman matematis berarti
suatu kemampuan memahami konsep, membedakan sejumlah konsep-
konsep yang saling terpisah, serta kemampuan melakukan perhitungan
secara bermakna pada situsi atau permasalahan-permasalahan yang lebih
luas.
15
Dari beberapa pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa
pemahaman matematis adalah kemampuan siswa memahami tentang konsep,
prosedur atau algoritma, memberi contoh dari konsep, dan kemampuan siswa
menggunakan strategi penyelesaian serta melakukan perhitungan secara bermakna
terhadap suatu masalah yang diberikan. Seseorang yang telah memiliki
kemampuan pemahaman matematis berarti orang tersebut telah mengetahui apa
yang dipelajarinya, langkah-langkah yang dilakukan, dan dapat menggunakan
berbagai konsep internal dan eksternal matematika.
Dalam belajar matematika siswa tidak hanya diminta untuk mengetahui
suatu konsep, namun lebih dari itu siswa juga diharapkan mampu memahami serta
menguasai konsep tersebut sehingga siswa mampu mengaplikasikan konsep yang
dipelajari dalam berbagai kasus atau memecahkan masalah dalam belajar
matematika. Oleh karena itu, pemahaman matematis sebagai salah satu tingkat
berpikir matematis dalam belajar matematika perlu dikembangkan kepada siswa
agar ketika siswa belajar matematika siswa tidak hanya mengetahui dan
memahami konsep saja tetapi lebih dari itu siswa juga harus mengetahui dan
memahami prosedur pengerjaanya.
Afgani D (2011: 4.5) mengatakan bahwa:
Pada umumnya para ahli mengukur kemampuan pemahaman matematis
melalui indikator:
1) Kemampuan menyatakan ulang konsep yang telah dipelajari.
2) Kemampuan mengklasifikasikan objek-objek berdasarkan dipenuhi atau
tidaknya persyaratan yang membentuk konsep tersebut.
3) Kemampuan menerapkan konsep secara algoritma.
4) Kemampuan memberikan contoh dari konsep yang telah dipelajari.
5) Kemampuan menyajikan konsep dalam berbagai macam bentuk
representasi matematika.
6) Kemampuan mengaitkan berbagai konsep (internal dan eksternal
matematika).
7) Kemampuan mengembangkan syarat perlu cukup suatu konsep.
16
tersebut sudah mencapai 2 sehingga peneliti tidak mengambil indikator tersebut.
serta keterbatasan kemampuan peneliti dari segi waktu dan hal-hal lainnya..
Adapun indikator yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah:
1. Kemampuan menerapkan konsep secara algoritma.
2. Kemampuan memberikan contoh dari konsep yang telah dipelajari.
3. Kemampuan menyajikan konsep dalam berbagai macam bentuk representasi
matematika.
4. Kemampuan mengaitkan berbagai konsep (internal dan eksternal matematika).
5. Kemampuan mengembangkan syarat perlu cukup suatu konsep.
17
Menurut Hanggara (2015: 72) mengatakan bahwa:
Pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan strategi pembelajaran yang
diorganisasikan lebih terstruktur, dimana guru mengendalikan keseluruhan
proses interaksi dan menjelaskan prosedur penelitian yang harus dilakukan
oleh siswa. Siswa memperoleh pedoman sesuai dengan yang dibutuhkan.
Pedoman tersebut biasanya berupa pertanyaan-pertanyaan yang
membimbing siswa untuk menemukan penyelesaian masalah.
Menurut Pupuh dan Sobri (dalam Istarani 2012: 177) mengatakan bahwa
“Inkuiri adalah belajar mencari dan menemukan sendiri”. Dalam sistem belajar
mengajar ini guru menyajikan bahan pelajaran tidak dalam bentuk final, tetapi
anak didik diberi peluang untuk menemukan sendiri dengan menggunakan metode
pemecahan masalah.
Menurut Elyani (dalam Sukmawati dan Sukadasih, 2014: 203)
mengatakan bahwa:
Inkuiri terbimbing merupakan suatu strategi pembelajaran yang berupaya
untuk menanamkan dasar-dasar berpikir ilmiah pada siswa, sehingga siswa
lebih banyak belajar sendiri dan mampu mengembangkan kreativitasnya
dalam memecahkan masalah. Peranan guru dalam inkuiri terbimbing
adalah sebagai pembimbing dan fasilitator.
18
intelektual dan keterampilan berpikir dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan
dan mendapatkan jawaban atas rasa ingin tahu mereka.”
Orlich (1998) (dalam Amri dan Ahmadi, 2010: 89) menyatakan:
Ada beberapa karakteristik inkuiri terbimbing yang perlu diperhatikan,
yaitu:
1. Mengembangkan kemampuan berpikir siswa melalui observasi
spesifik hingga mampu membuat inferensi atau generalisasi
2. Sasarannya adalah mempelajari proses pengamatan kejadian atau
objek dan menyusun generalisasi yang sesuai
3. Guru mengontrol bagian tertentu dari pembelajaran, misalnya
kejadian, data, materi dan berperan sebagai pemimpin kelas
4. Setiap siswa berusaha membangun pola yang bermakna berdasarkan
hasil observasi di dalam kelas
5. Kelas diharapkan berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran
6. Biasanya sejumlah generalisasi akan diperoleh siswa
7. Guru memotivasi semua siswa untuk mengkomunikasikan
generalisasinya sehingga dapat dimanfaatkan seluruh siswa dalam
kelas
19
4. Prinsip Belajar Untuk Berpikir
Belajar bukan hanya mengingatkan sejumlah fakta, akan tetapi belajar
adalah proses berpikir, yakni proses mengembangkan potensi seluruh
otak, baik otak kiri maupun otak kanan.
5. Prinsip Keterbukaan
Belajar adalah proses mencoba berbagai kemungkinan, segala sesuatu
mungkin terjadi. Oleh karena itu, siswa perlu diberikan untuk
mencoba sesuai dengan perkembangan logika dan nalarnya.
20
3. Merumuskan Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang
diuji. Siswa diharapkan adapat membuat rumusan hipotesis dari suatu
permasalahan. Guru mengembangkan kemampuan berhipotesis setiap siswa
dengan mengajukan pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk merumuskan
hipotesis.
4. Mengumpulkan Data
Mengumpulkan data adalah aktivitas mencari informasi yang dibutuhkan
untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam strategi pembelajaran inkuiri,
mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat penting dalam
pengembangan intelektual.
5. Menguji Hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap
diterima sesuai dengan data atau informasi yang diperoleh berdasarkan
pengumpulan data. Adapun yang terpenting dalam menguji hipotesis adalah
mencari tingkat keyakinan peserta didik atas jawaban yang diberikan.
6. Merumuskan Kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang
diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan kesimpulan
merupakan langkah penting dalam proses pembelajaran. Sering kali banyaknya
data yang diperoleh menyebabkan kesimpulan yang disimpulkan tidak fokus
terhadap masalah yang hendak dipecahkan. Oleh karena itu, untuk mencapai
kesimpulan yang akurat, sebaiknya guru mampu menunjukkan pada peserta didik
data yang relevan.
Jauhar (2011: 79) menjelaskan bahwa:
Inkuiri pada dasarnya memberikan kesempatan kepada siswa untuk
bekerja sama dalam membangun pemahaman dan keterampilan melalui
interaksi dengan lingkungan social seperti teman sejawat, guru dan
sumber-sumber belajar lain. Interaksi dengan lingkungan memungkinkan
seseorang siswa memperbaiki pemahaman dan memperkaya
pengetahuannya melalui kegiatan bertanya jawab atau berdiskusi dalam
kelompok belajarnya. Inkuiri mendukung prinsip ini karena pada dasarnya
kegiatan inkuiri dirancang agar siswa belajar dalam kelompok dan guru
berperan sebagai fasilitator.
21
Kaniawati (2010: 7) menyatakan :
Strategi pembelajaran inkuiri dapat dibagi menjadi lima macam, yaitu:
1. Inkuiri terbimbing ( Guided Inquiry)
2. Modifikasi Inkuiri (Modified Inquiry)
3. Inkuiri Bebas ( Free Inquiry)
4. Inkuiri Pendekatan Peranan (Inquiry Role Approach)
5. Mengundang ke Inkuiri (Invitation To Inkuiry)
22
Sanjaya (2014: 197) mengatakan bahwa:
Strategi pembelajaran inkuiri akan efektif manakala :
1) Guru mengharapkan siswa dapat menemukan sendiri jawaban dari
suatu permasalahan yang ingin dipecahkan.
2) Jika bahan pelajaran yang akan diajarkan tidak berbentuk fakta atau
konsep yang sudah jadi, akan tetapi sebuah kesimpulan yang perlu
pembuktian.
3) Jika proses pembelajaran berangkat dari rasa ingin tahu siswa terhadap
sesuatu.
4) Jika guru akan mengajar pada sekelompok siswa yang rata-rata memilki
kemauan dan kemampuan befikir.
5) Jika jumlah siswa yang belajar tak terlalu banyak sehingga bisa
dikendalikan oleh guru.
6) Jika guru memiliki waktu yang cukup untuk menggunakan pendekatan
yang berpusat pada siswa.
23
3). Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa
menguasai materi pelajaran, maka startegi pembelajaran inkuiri akan
sulit diimplementasikan oleh setiap guru.
24
Tabel 2. Tahap pelaksanaan pembelajaran Inkuiri Terbimbing
No Kegiatan
Guru Peserta Didik
1 Kegiatan Awal
(Orientasi) (Orientasi)
1. Guru memberikan salam (membaca 1. Menjawab salam, berdo’a dan siswa
do’a), menyapa dan mengabsen bersiap-siap untuk proses kegiatan
siswa belajar mengajar
2. Guru menyampaikan tujuan 2. Peserta didik memperhatikan tujuan
pembelajaran sesuai dengan materi pembelajaran yang disampaikan guru
yang akan dipelajari
3. Guru menyampaikan apersepsi
tentang materi sebelumnya yang 3. Peserta didik memperhatikan topik
berhubungan dengan materi yang dan apersepsi yang disampaikan guru
akan dipelajari
4. Guru memberikan motivasi kepada 4. Peserta didik memperhatikan motivasi
peserta didik yang disampaikan oleh guru
5. Guru menjelaskan langkah-langkah 5. Peserta didik memperhatikan langkah-
kegiatan pembelajaran dengan langkah kegiatan pembelajaran yang
strategi pembelajaran inkuiri disampaikan guru
terbimbing
2 Kegiatan Inti
1. Guru menginstruksikan siswa 1. Duduk dikelompoknya masing-
untuk duduk dalam kelompok yang masing
telah ditentukan dan guru 2. Mendengarkan penjelasan guru
memberikan masing-masing
kelompok LKS untuk melaporkan
hasil kegiatan pembelajaran
2. Memberikan informasi tentang
ulasan materi dan menjelaskannya
secara garis besar tentang materi
yang akan dipelajari
25
relevan sesuai dengan rumusan
masalah yang telah disajikan
3 Kegiatan Akhir
26
2.4 Hubungan Strategi Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Dengan
Kemampuan Pemahaman Matematis.
Menurut (Amri dan Ahmadi 2010: 89) mengatakan “Inkuiri terbimbing
tergolong kedalam inkuiri tingkat pertama dimana kegiatan inkuiri adalah masalah
siswa dikemukakan guru atau bersumber dari buku teks kemudian siswa bekerja
untuk menemukan jawaban terhadap masalah tersebut di bawah bimbingan
intensif guru”. Sedangkan menurut (Trianto, 2013: 114) mengatakan bahwa
“Inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis konstektual.
Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil
mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru
harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan apapun
materi yang diajarkan”.
Menurut Herdian (2010: 4) mengatakan bahwa :
Pembelajaran inkuiri terbimbing ini digunakan bagi siswa yang kurang
berpengalaman belajar dengan inkuiri. Dengan pembelajaran inkuiri
terbimbing ini siswa belajar lebih berorientasi pada bimbingan dan
petunjuk dari guru hingga siswa dapat memahami konsep-konsep
pelajaran. Pendekatan ini siswa akan dihadapkan pada tugas-tugas yang
relevan untuk diselesaikan baik melalui diskusi kelompok maupun secara
individual agar mampu menyelesaikan masalah dan menarik suatu
kesimpulan secara mandiri.
Pada saat penyajian kelas terjadi intereksi antara siswa dengan guru yang
diharapkan dapat menjadi wadah bagi siswa untuk bertanya dan menggali
informasi dan memberikan kesempatan kepada guru untuk memotivasi dan
membimbing siswa dalam menemukan dan memahami materi pembelajaran yang
berorientasi pada kegiatan siswa tanpa guru sebagai fokus utama yang
memberikan materi pembelajaran seutuhnya. Pada kegiatan kelompok terjadi
27
interaksi siswa dengan siswa yang diharapkan masing- masing kelompok saling
berbagi informasi, menggunakan pengetahuan dan kerjasama dalam kelompok
diskusinya untuk menyelsaikan suatu permasalahan dan saling membantu dalam
membangun pengetahuan baru dengan mengintegritaskan pengetahuan lama
masing-masing individu. Dengan diterapkannya strategi pembelajaran ini dapat
membuat pemahaman siswa terhadap pelajaran akan lebih baik dan akhirnya
berdampak pada pemahaman matematis yang lebih baik.
28
perencanaan, maka sebaiknya guru menginformasikan setiap tahap dalam
pelaksanaan strategi inkuiri tebimbing dalam pembelajaran kooperatif dengan
lebih jelas dan rinci kepada siswa.
Penelitian lain yang relevan dengan peneltian ini yaitu kajian hasil
penelitian yang dilakukan oleh Kurniasari (2015) dengan judul Penerapan strategi
pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap kemampuan pemahaman matematis
siswa kelas VII.F SMP Negeri Rengat Barat.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dengan
pendekatan inkuiri terbimbing dapat meningkatkan kemampuan pemahaman
matematis siswa ditinjau dari pembelajaran dan kategori kemampuan matematika
siswa. Hal ini terlihat dari persentase skor pada siklus I dan siklus II mengalami
peningkatan dari skor dasar. Persentase pada skor dasar adalah 46,88% dengan
kriteria rendah, dan persentase pada pada siklus I tes kemampuan pemahaman
matematis I adalah 65,21% dengan kriteria cukup. Persentase yang diperoleh pada
sikulus II tes kemampuan pemahaman matematis II mencapai 75% dengan kriteria
tinggi. Artinya dalam tindakan ini kemampuan pemahaman matematis siswa
semakin meningkat setelah diterapkan strategi pembelajaran inkuiri terbimbing
dalam proses pembelajaran.
Dalam pelaksanaan tindakan dalam penelitian ini masih terdapat
kekurangan yang dilakukan peneliti, ini terlihat dari perencanaan atau penyusunan
perangkat penelitian dan pelaksanaan tindakan penelitian. Saran yang diberikan
oleh Kurniasari kepada peneliti berikutnya adalah (1) pada tahap pelaksanaan
penerapan strategi inkuiri hendaknya lebih memperhatikan waktu pelaksanaan
agar perencanaan pembelajaran dapat terlaksana dengan baik. (2) Kemudian
sebaiknya lembar pengamatan difungsikan dengan maksimal dan diisi sesuai
dengan petunjuk pengisian, agar pada hasil dan pembahasan dapat terlihat proses
pembelajaran yang dilaksanakan.
Kedua penelitian yang telah dikemukakan diatas merupakan penelitian
yang relevan dengan penelitian ini. Dengan adanya penelitian yang relevan
dengan penelitian ini diharapkan tujuan penelitian ini dapat terwujud yaitu
29
memperbaiki proses pembelajaran dan kem ampuan pemahaman matematis siswa
kelas [Link] MTs Al-Munawwarah Pekanbaru.
30