2.
2 Perkembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat di Indonesia
Dari perspektif teoretis, perkembangan pariwisata berbasis masyarakat di Indonesia
dapat dilihat sebagai implementasi paradigma pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Konsep CBT mulai mendapat perhatian di Indonesia sejak awal 2000-an, seiring meningkatnya
kesadaran akan perlunya melibatkan masyarakat lokal dalam pembangunan pariwisata.
Menurut Santoso dan Nugroho (2024), perkembangan ini didorong oleh kebijakan pemerintah
yang mengintegrasikan CBT ke dalam strategi nasional, seperti program Desa Wisata yang
diluncurkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Program ini
bertujuan untuk memanfaatkan potensi lokal seperti kekayaan alam, budaya, dan kearifan
tradisional dengan melibatkan masyarakat sebagai pengelola utama. Teori CBT di Indonesia
juga didukung oleh kerangka kerja kolaboratif yang melibatkan pemerintah, organisasi non-
pemerintah (NGO), dan sektor swasta. Dari sisi teoretis, perkembangan CBT di Indonesia
menghadapi tantangan struktural seperti keterbatasan infrastruktur, rendahnya literasi
teknologi, dan potensi konflik kepentingan antara pihak-pihak yang terlibat. Santoso dan
Nugroho (2024) menyoroti bahwa keberhasilan CBT memerlukan pendekatan adaptif yang
memperhitungkan konteks lokal, termasuk keberagaman sosial-budaya dan kondisi geografis
Indonesia sebagai negara kepulauan. Secara teoritis, perkembangan CBT di Indonesia juga
mencerminkan evolusi paradigma pembangunan dari pendekatan top-down menjadi bottom-
up. Dalam model ini, masyarakat lokal tidak lagi diposisikan sebagai penerima manfaat pasif,
melainkan sebagai agen perubahan yang memiliki otonomi dalam mengelola sumber daya
wisata. Kebijakan terbaru, seperti Rencana Strategis Pariwisata Berkelanjutan 2025-2029,
menegaskan komitmen pemerintah untuk memperluas CBT sebagai strategi utama dalam
mencapai pembangunan pariwisata yang berkelanjutan (Kemenparekraf, 2024).
3.2 Studi Kasus Pariwisata dalam Paradigma Pembangunan Berbasis Masyarakat
Studi Kasus yang digunakan pada Journal of Sustainable Tourism Research, berjudul
"Tantangan Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat pada Era Digital di Indonesia
(Studi Kasus Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat di Pangalengan)" dan ditulis oleh
Akbar Rizqi Kurniawan. Fokus utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi potensi
wisata yang ada di Kecamatan Pangalengan melalui konsep pemberdayaan masyarakat.
3.2.1 Profile Kecamatan Pangalengan
Pangalengan merupakan salah satu kecamatan yang terletak di bagian selatan
Kabupaten Bandung. Jaraknya dari pusat Kota Bandung sekitar 40 km. Pangalengan
menawarkan keindahan wisata alam yang menjadi salah satu daya tarik wisatawan.
Pangalengan menjadi salah satu wilayah tempat kunjungan wisatawan di Bandung Selatan dan
dikenal sebagai daerah penghasil susu. Mata pencaharian yang juga mendukung Kecamatan
Pangalengan sebagai destinasi Agrowisata adalah salah satunya di sektor pertanian,
perdagangan, industri pengolahan, jasa angkutan, perkebunan, dan sebagainya.
3.2.2 Identifikasi Masalah Studi Kasus di Kecamatan Pangalengan
Permasalahan utama dalam pengembangan pariwisata di Kecamatan Pangalengan
adalah minimnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya pariwisata sebagai cara
meningkatkan pendapatan, dan permasalahan yang lainnya adalah kualitas sumber daya
manusia yang terbatas sementara dalam pengembangan pariwisata berbasis masyarakat, ujung
tombak dari penggerak wisatanya adalah masyarakat itu sendiri. Dengan adanya digitalisasi
akan menjadi tantangan dan ancaman terhadap keberadaan Pangalengan sebagai desa
Agrowisata. Banyak sekali potensi wisata yang harus bisa terintegrasi dengan tata kelola yang
baik tentunya dengan tidak memangkas keikutsertaan mas yarakat didalamnya.
3.2.3 Metode Penelitian dalam Studi Kasus di Kecamatan Pangalengan
Konsep yang diterapkan dalam penelitian ini, yaitu konsep perencanaan untuk
merumuskan strategi pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di Kecamatan
Pangalengan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan tiga cara, yaitu
observasi, wawancara mendalam, studi pustaka untuk memperoleh data secara detail dari
informan berupa buku, foto, arsip dan data lain yang relevan dengan penelitian. Data yang telah
didapat kemudian dianalisis model teknik analisis interaktif yang memiliki tiga tahapan, yai tu
kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
3.2.4 Hasil Analisis Studi Kasus di Kecamatan Pangalengan
Langkah yang diambil pemerintah untuk memberdayakan masyarakat ini berkaitan
dengan pemberdayaan masyarakat sebagai konsep pembanguan ekonomi yang merangkum
nilai-nilai masyarakat untuk membangun paradigma baru dalam pembangunan yang bersifat
people-centered, participatory, empowerment and sustainable. Sejauh ini masyarakat telah
diberdayakan oleh pemerintah dalam memenuhi kebutuhan rekreasi para wisatawan seperti
penginapan, retail, pengelolaan atraksi, fasilitas, serta sarana dan prasarana. Beberapa hal yang
dapat dilakukan masyarakat lokal Kecamatan Pangalengan untuk dapat menjadikan digitalisasi
sebagai pijakan supaya tetap menja di kawasan Agrowisata yang terintegrasi dan memiliki daya
saing yang tinggi yaitu pelatihan teknik komputer & jaringan, pelatihan kualitas layanan,
pelatihan digital marketing, penerapan e-tourism, pembuatan website tempat wisata, e-tourism
guna akses, serta e-tourism guna promosi.