0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan2 halaman

Sejarah Kovenan Hak Ekonomi dan Sosial

Dokumen ini menjelaskan sejarah perkembangan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya serta pentingnya pengakuan dan perlindungan hak asasi manusia. Indonesia, sebagai negara hukum, berkomitmen untuk menghormati HAM dan perlu mengesahkan instrumen internasional terkait. Kovenan tersebut mulai berlaku pada 3 Januari 1976 setelah diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1966.

Diunggah oleh

znahrisyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan2 halaman

Sejarah Kovenan Hak Ekonomi dan Sosial

Dokumen ini menjelaskan sejarah perkembangan Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya serta pentingnya pengakuan dan perlindungan hak asasi manusia. Indonesia, sebagai negara hukum, berkomitmen untuk menghormati HAM dan perlu mengesahkan instrumen internasional terkait. Kovenan tersebut mulai berlaku pada 3 Januari 1976 setelah diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada tahun 1966.

Diunggah oleh

znahrisyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejarah Perkembangan Lahirnya Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan
Budaya Sipil dan Politik.

Pada tanggal 10 Desember 1948, Majelis Umum (MU) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
memproklamasikan Universal Declaration of Human Rights (Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia,
untuk selanjutnya disingkat DUHAM), yang memuat pokok-pokok hak asasi manusia dan kebebasan
dasar, dan yang dimaksudkan sebagai acuan umum hasil pencapaian untuk semua rakyat dan bangsa
bagi terjaminnya pengakuan dan penghormatan hak-hak dan kebebasan dasar secara universal dan
efektif, baik di kalangan rakyat negara-negara anggota PBB sendiri maupun di kalangan rakyat di
wilayah-wilayah yang berada di bawah yurisdiksi mereka. Masyarakat internasional menyadari
perlunya penjabaran hak-hak dan kebebasan dasar yang dinyatakan oleh DUHAM ke dalam
instrumen internasional yang bersifat mengikat secara hukum. Pada tahun 1950, MU PBB
mengesahkan sebuah resolusi yang menyatakan bahwa pengenyaman kebebasan sipil dan politik
serta kebebasan dasar di satu pihak dan hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya di lain pihak bersifat
saling terkait dan saling tergantung. Setelah melalui perdebatan panjang, dalam sidangnya tahun
1951, MU PBB meminta kepada Komisi HAM PBB untuk merancang dua Kovenan tentang hak asasi
manusia: (1) Kovenan mengenai hak sipil dan politik; dan (2) Kovenan mengenai hak ekonomi, sosial
dan budaya. MU PBB juga menyatakan secara khusus bahwa kedua Kovenan tersebut harus memuat
sebanyak mungkin ketentuan yang sama, dan harus memuat pasal yang akan menetapkan bahwa
semua rakyat mempunyai hak untuk menentukan nasib sendiri. Komisi HAM PBB berhasil
menyelesaikan dua rancangan Kovenan sesuai dengan keputusan MU PBB pada 1951, masing-
masing pada tahun 1953 dan 1954. Setelah membahas kedua rancangan Kovenan tersebut, pada
tahun 1954 MU PBB memutuskan untuk memublikasikannya seluas mungkin agar pemerintah
negara-negara dapat mempelajarinya secara mendalam dan khalayak dapat menyatakan
pandangannya secara bebas. Akhirnya, pada tanggal 16 Desember 1966, dengan resolusi 2200A
(XXI), MU PBB mengesahkan Kovenan tentang Hak-hak Sipil dan Politik bersama-sama dengan
Protokol Opsional pada Kovenan tentang Hak-hak Sipil dan Politik dan Kovenan tentang Hak-hak

1
Ekonomi, Sosial dan Budaya. Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya
mulai berlaku pada tanggal 3 Januari 1976.

Pertimbangan Indonesia untuk menjadi Pihak pada International Covenant on Economic, Social
and Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya)

Indonesia adalah negara hukum dan sejak kelahirannya pada tahun 1945 menjunjung tinggi HAM.
Sikap Indonesia tersebut dapat dilihat dari kenyataan bahwa meskipun dibuat sebelum
diproklamasikannya DUHAM, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sudah
memuat beberapa ketentuan tentang penghormatan HAM yang sangat penting. Hak-hak tersebut
antara lain hak semua bangsa atas kemerdekaan (alinea pertama Pembukaan); hak atas
kewarganegaraan (Pasal 26); persamaan kedudukan semua warga negara Indonesia di dalam hukum
dan pemerintahan (Pasal 27 ayat (1)); hak warga negara Indonesia atas pekerjaan (Pasal 27 ayat (2);
hak setiap warga Negara Indonesia atas kehidupan yang layak bagi kemanusiaan (Pasal 27 ayat (2);
hak berserikat dan berkumpul bagi setiap warga negara (Pasal 28); kemerdekaan setiap penduduk
untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya
itu (Pasal 29 ayat (2); dan hak setiap warga negara Indonesia atas pendidikan (Pasal 31 ayat (1) ).

Dalam sejarah kehidupan bangsa Indonesia, upaya penegakan dan perlindungan HAM telah
mengalami pasang surut. Pada suatu masa upaya tersebut berhasil diperjuangkan, tetapi pada masa
lain dikalahkan oleh kepentingan kekuasaan. Akhirnya, disadari bahwa kehidupan berbangsa dan
bernegara yang tidak mengindahkan penghormatan, penegakan dan perlindungan HAM akan selalu
menimbulkan ketidakadilan bagi masyarakat luas dan tidak memberikan landasan yang sehat bagi
pembangunan ekonomi, politik, sosial dan budaya untuk jangka panjang.

Maka sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang
mengamanatkan pemajuan dan perlindungan hak asasi manusia dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara serta komitmen bangsa Indonesia sebagai bagian dari masyarakat
internasional untuk memajukan dan melindungi HAM, Indonesia perlu mengesahkan instrumen-
instrumen internasional utama mengenai HAM, khususnya International Covenant on Economic,
Social and Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya) serta
International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan
Politik).

Anda mungkin juga menyukai