0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan118 halaman

Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Kelas II

Dokumen ini membahas upaya meningkatkan hasil belajar Matematika pada siswa kelas II melalui penerapan media benda konkret, dengan fokus pada materi alat ukur (panjang, berat, dan waktu). Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media konkret dapat meningkatkan nilai rata-rata siswa dan keaktifan mereka dalam pembelajaran. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu guru dalam meningkatkan kualitas pengajaran Matematika di sekolah dasar.

Diunggah oleh

yeni orbayati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan118 halaman

Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Kelas II

Dokumen ini membahas upaya meningkatkan hasil belajar Matematika pada siswa kelas II melalui penerapan media benda konkret, dengan fokus pada materi alat ukur (panjang, berat, dan waktu). Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media konkret dapat meningkatkan nilai rata-rata siswa dan keaktifan mereka dalam pembelajaran. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu guru dalam meningkatkan kualitas pengajaran Matematika di sekolah dasar.

Diunggah oleh

yeni orbayati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

“UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA

MATERI ALAT UKUR (PANJANG, BERAT, DAN WAKTU) MELALUI


PENERAPAN MEDIA BENDA KONKRET PADA SISWA KELAS II

DISUSUN OLEH :

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN HASIL PERBAIKAN


PEMBELAJARAN MATEMATIKA

Masalah yang merupakan fokus perbaikan ini adalah :


1. Rendahnya hasil belajar Matematika materi Alat Ukur (panjang, berat, dan
waktu) pada siswa kelas II
2. Pembelajaran yang kurang menarik karena kurang bervariasinya media
belajar yang digunakan guru saat melaksanakan kegiatan pembelajaran.

Menyetujui: Jakarta, 2022


i
Supervisor 1, Mahasiswa,

Drs. H. HARTONO, [Link] SENA YUNITA


NIM.
850277518

ii
LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa laporan Praktik Pemantapan


Kemampuan Profesional (PKP) yang saya susun sebagai syarat untuk memenuhi
mata kuliah PKP pada Program Studi S-1 PGSD Universitas Terbuka (UT)
seluruhnya merupakan hasil karya sendiri.

Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan laporan PKP yang saya kutip dari
hasil karya orang lain telah dituliskan dalam sumbernya secara jelas sesuai dengan
norma, kaidah, dan etika penullisan karya ilmiah.

Apabila di kemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian laporan PKP ini bukan
hasil karya sendiri atau adanya plagiasi dalam bagian-bagian tertentu, saya
bersedia menerima sanksi, termasuk pencabutan gelar akademik yang saya
sandang sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Jakarta, 2022

Yang membuat pernyataan

Sena Yunita

NIM. 850277518

iii
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah


melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga akhirnya peneliti dapat
menyelesaikan laporan PKP (Pemantapan Kemampuan Profesional) dengan judul
“Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Materi Alat Ukur (Panjang,
Berat, dan Waktu) Melalui Penerapan Media Benda Konkret Pada Siswa Kelas II
SDIT Hidayatut Taufiq Bekasi”. Sholawat serta salam juga tidak lupa penulis
haturkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Pada kesempatan yang baik ini, izinkanlah peneliti menyampaikan rasa


hormat dan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang dengan tulus dan ikhlas
telah memberikan bantuan dan dorongan kepada penulis dalam menyelesaikan
laporan PKP ini, terutama kepada :

1. Kepala UPBJJ Universitas Terbuka Jakarta,


2. Ibu Sri Nurcahyaningsih, [Link]. selaku Ketua pengelola Universitas Terbuka
Pokjar Makassar,
3. Bapak Drs. H. Hartono, [Link] selaku Dosen pembimbing PKP, yang telah
membimbing serta mengarahkan peneliti dalam penyusunan PKP,
4. Bapak Muhammad Arif, [Link] selaku Kepala Sekolah SDIT Hidayatut Taufiq
yang telah membantu peneliti dalam menyelesaikan laporan ini,
5. Ibu Ghoniyah Nasrullah, [Link] selaku Supervisor 2 yang telah membantu,
memberikan masukan dan dukungan dalam pelaksanaan proses perbaikan
pembelajaran di kelas II,
6. Rekan-rekan Guru SDIT Hidayatut Taufiq yang banyak membantu dan
memberi dukungan pelaksanaan perbaikan pembelajaran,
7. Kedua orang tua yang selalu memberikan doa dan motivasi kepada penulis
dalam menyelesaikan laporan ini,
8. Rekan-rekan seperjuangan Kelas A PGSD AKPMM.
Semoga dengan bantuan, bimbingan dan motivasi yang telah bapak, ibu
berikan kepada peneliti menjadi amal ibadah serta mendapat pahala yang berlipat
ganda dari Allah SWT.

iv
Penulis menyadari laporan PKP ini masih jauh dari sempurna, untuk itu
peneliti mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun. Semoga
laporan ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Jakarta, 2022
Penulis

Sena Yunita
NIM. 850277518

v
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN HASIL PERBAIKAN


PEMBELAJARAN MATEMATIKA
...................................................................................................................................
i

LEMBAR PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT.....................................................ii

KATA PENGANTAR............................................................................................iii

DAFTAR ISI............................................................................................................v

DAFTAR TABEL..................................................................................................vii

DAFTAR GAMBAR............................................................................................viii

DAFTAR LAMPIRAN...........................................................................................ix

ABSTRAK...............................................................................................................x

BAB I.......................................................................................................................1

PENDAHULUAN...................................................................................................1

A. Latar Belakang...................................................................................................1

B. Rumusan Masalah..............................................................................................6

C. Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran........................................................6

D. Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran......................................................7

BAB II......................................................................................................................8

KAJIAN PUSTAKA................................................................................................8

A. Hakikat Belajar...................................................................................................8

B. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar....................................................23

C. Materi Alat Ukur (panjang, berat, dan waktu) dalam Pembelajaran


Matematika SD/MI...........................................................................................26

vi
D. Media Benda Konkret......................................................................................32

E. Karakteristik Peserta Didik Sekolah Dasar......................................................37


F. Hakikat Penelitian Tindakan Kelas ( PTK ).....................................................38

BAB III...................................................................................................................39

PELAKSANAAN PENELITIAN..........................................................................39

A. Subjek, Tempat, dan Waktu Penelitian............................................................39

B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran........................................................40

C. Teknik Analisis Data........................................................................................45

BAB IV..................................................................................................................47

HASIL DAN PEMBAHASAN..............................................................................47

A. Deskripsi Hasil Penelitian................................................................................47

B. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran....................................56

BAB V....................................................................................................................58

SIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT...................................................58

A. Simpulan..........................................................................................................58

B. Saran dan Tindak lanjut...................................................................................58

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................61

vii
DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1: Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Kelas II, Semester 1......26

Tabel 2. 2: Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Kelas II, Semester 2......26

Tabel 3. 1: Jadwal Penelitian.................................................................................40

Tabel 4. 1: Hasil Nilai Evaluasi Belajar Mata Pelajaran Matematika....................51

Tabel 4. 2: Perbandingan Nilai Rata-rata dan Prosentase Ketuntasan Persiklus...52

Tabel 4. 3: Aktivitas Belajar Siswa........................................................................54

viii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 3. 1: Gedung SDIT Hidayatut Taufiq.......................................................39

Gambar 3. 2: Desain Pelaksanaan Perbaikan.........................................................40

Grafik 4. 1: Perbandingan Nilai Rata-rata dan Prosentase Ketuntasan Persiklus 53

Grafik 4. 2: Aktivitas Belajar Siswa......................................................................55

ix
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1: Rancangan Satu Siklus (R1S)…..............................................................63


Lampiran 2: RPP Siklus I dan Siklus II.......................................................................64
Lampiran 3: Skenario Perbaikan Pembelajaran Siklus 1….........................................78
Lampiran 4: Lembar Refleksi Siklus I dan II...............................................................91
Lampiran 5: Instrumen Penelitian................................................................................93
Lampiran 6: Jurnal Pembimbingan PKP......................................................................97
Lampiran 7: Daftar Nilai Prasiklus, Siklus 1, dan Siklus 2..........................................99
Lampiran 8: Dokumentasi Pembelajaran Siklus 1 dan Siklus 2…............................105

x
ABSTRAK

Sena Yunita (2022). Penelitian mengenai upaya meningkatkan hasil


belajar Matematika materi alat ukur (panjang, berat, dan waktu) melalui
penerapan media benda konkret pada kelas II SDIT Hidayatut Taufiq Bekasi.
Penelitian ini telah dilaksanakan mulai dari bulan April 2022, yang melatar
belakangi penelitian ini adalah hasil belajar siswa pada mata pelajaran
Matematika materi alat ukur (panjang, berat, dan waktu) sangat rendah, guru tidak
menggunakan metode mengajar dan model pembelajaran yang tepat sehingga
dalam pembelajaran terjadi satu arah, dimana guru mendominasi pembelajaran
sedangkan siswa dibiarkan pasif dalam proses belajar mengajar.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas
proses belajar mengajar sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa,
sehingga guru akan semakin profesional dalam menjalankan tugasnya dengan
menambah pengalaman danpengetahuan dalam melakukan refleksi pembelajaran
dan penggunaan model pembelajaran.
Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas
melalui 2 siklus perbaikan pembelajaran, subjek pelaku pembelajaran adalah
guru kelas II, dan subjek penerima tindakan adalah siswa kelas II semester 2 tahun
pelajaran 2021/2022 SDIT Hidayatut Taufiq Bekasi. Data yang dikumpulkan
melalui hasil evaluasi dan catatan observasi. Dari penelitian didapatkan bahwa
nilai rata-rata siswa selama proses perbaikan dari siklus I sampai siklus II
mengalami peningkatan mencapai 91,89% dari Kriteria Ketuntasan Minimal
(KKM) adalah 70, dan selama perbaikan pembelajaran keaktifan siswa juga
mengalami peningkatan pada siklus II mencapai 82,70 %.
Dari hasil pelaksananaan Penelitian Tindakan Kelas, siklus pertama, dan
siklus kedua dapatdisimpulkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan media
pembelajaran benda konkret dapat meningkatkan hasil belajar Matematika materi
alat ukur (panjang, berat, dan waktu) pada siswa kelas II SDIT Hidayatut Taufiq
Bekasi.

Kata Kunci : Hasil belajar, Matematika, Media benda konkret

xi
BAB I

PENDAHULUA

A. Latar Belakang
Pendidikan Sekolah Dasar adalah jenjang dasar dalam pendidikan
formal di Indonesia. Pendidikan Sekolah Dasar merupakan pendidikan yang
di mulai dari usia 7 – 13 tahun sebagai pendidikan di tingkat awal/dasar,
Pendidikan Sekolah Dasar juga berupaya untuk melatih pada tingkat awal
peserta didik agar memiliki sikap disiplin, betaqwa dan juga cinta
terhadap tanah air dan bangsa. Serta melatih agar terampil, kreatif dan
berbudi pekerti yang santun.
Dalam pembelajaran di tingkat SD banyak sekali pelajaran yang
harus di pelajari. Salah satunya adalah peserta didik harus mempelajari
pelajaran Matematika. Matematika dalam tingkat SD merupakan suatu
proses pembelajaran yang mempunyai hubungan luas dengan kehidupan
sehari-hari manusia. Dengan mempelajari pelajaran Matematika peserta
didik diharapkan mampu untuk menumbuhkan dan mengembangkan
ketrampilan berhitung sebagai alat bantu dalam kehidupan sehari hari serta
mengembangkan pengetahuan dasar Matematika sebagbantu dalam kehidu
bekal belajar lebih lanjut.
Matematika adalah bahasa, sebab Matematika merupakan
sekumpulan symbol yang memiliki makna atau biasa disebut sebagai bahasa
symbol (Ibrahim & Suparni, 2009: 6). Oleh karena itu, tujuan Matematika
ialah agarpeserta didik dapat berkonsultasi dengan mempergunakan angka-
angka dan bahasa dalam Matematika.
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan di
sekolah-sekolah dengan frekuensi jam pelajaran yang lebih banyak
dibandingkan dengan mata pelajaran yang lainnya. Namun dengan
demikian, banyak yang menganggap bahwa pelajaran Matematika adalah
pelajaran yang paling sulit, menakutkan, menjenuhkan dan tidak
menyenangkan. Siswa pada umumnya menganggap bahwa mata pelajaran
1
Matematika adalah “momok” yang menakutkan. Pelajaran yang kerap
dihindari seperti kerapnya untuk tidak dipelajari. Berbicara mengenai
Matematika itu sulit tentunya tidak lepas dari ketidaksenangan dari peserta
didik tentang mata pelajaran Matematika itu sendiri.
Pengajaran Matematika harus berusaha mengembangkan suatu
pengertian sistem angka, keterampilan menghitung dan memahami simbol-
simbol yang sering kali dalam buku pelajaran mempunyai arti-arti khusus
dan pemecahan masalah yang seringkali ditemui dalam kehidupan sehari-
hari.
Belajar Matematika sangatlah penting bagi siswa kelas awal di
sekolah dasar karena akan digunakan mereka seumur hidupnya dan akan
digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Pengembangan hasil belajar
Matematika sangat penting bagi siswa. Sebagai langkah antisipasi maka
pendidikan formal harus diarahkan pada penataan proses belajar, seperti
menggunakan dan memilih metode, strategi dan pendekatan yang tepat
dalam proses pembelajaran.
Pembelajaran Matematika adalah sebuah proses belajar dimana
siswa mendapatkan pengetahuan tentang Matematika. Seperti memahami
konsep hingga aplikasi dalam pemecahan soal yang terbentuk melalui
interaksi dalam kelas yang dikelola oleh seluruh pelaku pembelajaran dalam
kelas. Siswa kelas II Sekolah Dasar saat belajar Matematika belum dapat
melakukan kegiatan Matematika dengan sesungguhnya atau belum mampu
memahami sesuatu yang abstrak sehingga pada tahap ini anak harus
memahami Matematika dari benda-benda yangterdekat atau dengan sesuatu
yang nyata. Dari hal tersebut, maka suatu strategi pembelajaran yang
dilakukan oleh guru akan sangat berpengaruh terhadap pemahaman siswa.
Dalam mengajarkan Matematika di SDIT Hidayatut Taufiq Bekasi
khususnya di kelas II, tenyata tidak selalu berjalan dengan mulus. Banyak
peserta didik yang belum siap menerima pelajaran Matematika. Siswa
menganggap Matematika adalah pelajaran yang sulit dan menakutkan.
Sehingga saat proses pembelajaran berlangsung banyak siswa yang kurang
antusias yang akhirnya menyebabkanhasil belajar Matematika yang kurang

2
memuaskan. Terutama pada materi pengukuran.
Kenyataannya masih ada sebagian besar siswa kelas II yang belum
menguasai materi pengukuran. Hal ini terlihat ketika guru melakukan tes
ulangan harian pada pelajaran Matematika tentang materi alat ukur. Dari
jumlah 37 siswa kelas II ada 28 siswa yang mendapat nilai tidak mencapai
KKM 70. Sekitar 85% siswa yang masih belum mampu untuk memahami
pelajaran Matematika.
Dari hasil analisis ulangan harian yang pernah peneliti lakukan,
menemukan setidaknya 5 hal yang mengakibatkan mengapa Matematika
sulit. Pertama, pemahaman siswa tentang isi dan maksud soal relatif lemah.
Kedua, sebagian siswa tidak bisa mengawali jawaban atau dengan kata lain
siswa tidak tahu harus mulai dari mana untuk menemukan jawaban.
Ketiga, siswa terkadang lupa dengan aturan-aturan matematis, rumus- rumus
dan terkadang terjebak dengan syarat-syarat yang tidak boleh dan harus
dipenuhi oleh suatu penyederhanaan kalimat Matematika atau suatu
persamaan. Keempat, seringnya terjadi kesalahan kalkulasi dalam jawaban
siswa yang tentunya mempengaruhi hasil akhir jawaban. Kelima, ada
kecenderungan siswa mengerjakan soal dengan satu cara saja, tidak kreatif
dalam mencari cara baru.
Faktor lain yang mempengaruhi siswa mendapat nilai rendah pada
materi pengukuran adalah karena kemampuan siswa itu sendiri. Seperti,
kesehatan, motivasi, sosial, serta bakat dan minat siswa terhadap mata
pelajaran Matematika. Dalam pelaksanaan pembelajaran terutama
penggunaan sumber belajar, juga sangat berpengaruh terhadap hasil belajar.
Rendahnya kemampuan siswa dalam memahami materi
pengukuran harus segera diatasi. Jika hal ini terus dibiarkan akan
berdampak buruk bagi siswa, karena pengukuran sering dijumpai dalam
kehidupan sehari-hari. Sifat Matematika yang saling berkesinambungan
antara materi yang satu dengan yang lain itu mengakibatkan jika siswa
belum menguasai materi pengukuran siswa akan semakin bingung dalam
mempelajari materi selanjutnya.
Guru yang mengajar dengan cara tradisional maka peserta didiknya

3
akan mengalami proses penjenuhan dan tidak adanya rasa ketertarikan dan
ingin tahu. Karena dalam proses pembelajarannya sebagian besar digunakan
oleh guru untuk berbicara. Jika siswa benar-benar berkonsentrasi barangkali
dapat mendengar setengah dari yang dikatakan guru. Hal ini karena siswa
sambil berpikir ketika mendengarkan. Menurut Silberman (2009: 2) siswa
mendengar (tanpa berpikir) rata-rata 400-500 kata per menit. Ketika
mendengar secara terus-menerus selama waktu tertentu pada seorang guru
yang sedang bicara empat kali lebih lamban, siswa cenderung bosan dan
pikiran mereka akan melayang kemana-mana.
Selain itu, guru dalam mengajarkan Matematika juga menggunakan
sistem hafalan. Padahal belajar sesungguhnya bukanlah dengan cara
menghafal melainkan harus dipahami dengan baik karena jika menghafal
kebanyakan yang dihafal akan hilang dalam beberapa hal. Dan untuk
mengingat apa yang telah diajarkan, peserta didik harus mencernanya.
Seorang pengajar tidak boleh menyamakan pemahaman kesamaan makna
peserta didik untuk apa yang mereka lihat dan dengar. Dan belajar yang
sesungguhnya tidak akan terjadi jika guru tidak memberikan kesempatan
kepada peserta didik untuk berdiskusi, mempertanyakan dan mempraktekan
secara langsung.
Dalam usaha untuk mempertinggi proses belajar siswa dan
mengkongkritkan hal-hal yang bersifat abstrak. Maka perlu adanya alat
bantu atau Media benda konkret dalam pembelajaran Matematika. Media
benda konkret juga akan membantu anak-anak yang daya tangkap ruang dan
belajar melalui telinganya kurang. Konsep abstrak Matematika yang
disajikan dalam bentuk konkret akan lebih dapat dipahami dan dimengerti
serta dapat ditanamkan pada tingkat-tingkat yang lebih rendah.
Dalam bukunya Ibrahim & Suparni (2009: 122) menyatakan
bahwa dengan media benda konkret siswa dapat melihat, meraba,
mengungkapkan dengan memikirkan secara langsung obyek yang sedang
mereka pelajari. Sehingga konsep abstrak yang baru dipahami akan melekat
dan tahan lama bila ia belajar melalui berbuat dan pengertian, bukan hanya
melalui mengingatingat fakta. Dengan demikian penggunaan Media benda

4
konkret sangat diperlukan untuk mempermudah pemahaman siswa kelas II
terhadap materi pengukuran. Itulah yang membuat penulis tertarik
menggunakan Media benda konkret untuk meningkatkan hasil belajar siswa
kelas II terhadap materi pengukuran.
1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan maka


masalah-masalah yang berkaitan dengan penelitian ini dapat
diidentifikasi sebagai berikut :
a. Penggunaan metode yang kurang bervariasi.
b. Kurang menariknya guru dalam menyampaikan materi.
c. Kesulitan siswa dalam mengidentifikasi alat ukur.
d. Rendahnya partisipasi dan keaktifan siswa dalam proses
pembelajaran.
e. Perolehan hasil belajar Matematika materi alat ukur siswa kelas II
SDIT Hidayatut Taufiq Bekasi masih rendah di bawah KKM, nilai
KKM untuk pelajaran Matematika yaitu 70.

2. Analisis Masalah

Pada saat pembelajaran Matematika materi alat ukur peneliti


menemukan hasil belajar siswa kelas II SDIT Hidayatut Taufiq Bekasi
dari jumlah 37 siswa terdapat 28 siswa yang mendapat nilai masih rendah
dengan hasil prosentase 85% siswa yang belum memenuhi hasil belajar
sesuai dengan KKM.
Setelah diadakan refleksi diri dan diskusi dengan teman
sejawat, maka ada beberapa faktor yang menyebabkan siswa tidak
berhasil dalam pembelajaran, diantaranya:
a. Penyampaian materi yang dilakukan oleh guru mengguanakan metode
yang kurang bervariasi.
b. Guru kurang memotivasi siwa untuk aktif di dalam kelas.
c. Guru menjelaskan materi dengan bahasa yang sulit dipahami.
d. Guru kurang memberi kesempatan bertanya kepada siswa mengenai
materi yang belum dipahami.

5
e. Hasil nilai siswa yang masih rendah.
3. Alternatif dan Prioritas Pemecahan Masalah
Berdasarkan analisis di atas, penulis memberikan alternatif
dalam pemecahan masalah dengan tujuan tindakan perbaikan dengan
mengambil judul “UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR
MATEMATIKA MATERI ALAT UKUR (PANJANG, BERAT DAN
WAKTU) MELALUI PENERAPAN MEDIA BENDA KONKRET PADA
SISWA KELAS II SDIT HIDAYATUT TAUFIQ BEKASI”.

B. Rumusan Masalah
Setelah menemukan faktor penyebab siswa belum memahami alat
ukur pada materi mata pelajaran Matematika SD kelas II, peneliti berusaha
merumuskan permasalahan. Rumusan masalah tersebut sebagai berikut.
Bagaimana meningkatkan hasil belajar Matematika materi Alat
Ukur (panjang, berat, dan waktu) melalui penerapan media benda konkret
pada siswa kelas II SDIT Hidayatut Taufiq Bekasi?

C. Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran


Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran ini adalah untuk
memperbaiki hasil belajar siswa kelas II SDIT Hidayatut Taufiq Bekasi
dengan menggunakan penerapan media benda konkret pada pelajaran
Matematika materi alat ukur (panjang, berat, dan waktu).

Jadi berdasarkan rincian masalah di atas, tujuan penelitian ini dapat


dijabarkan menjadi :

1. Mendeskripsikan proses penerapan media benda konkret untuk


meningkatkan hasil belajar Matematika materi alat ukur (panjang, berat,
dan waktu) siswa kelas II SDIT Hidayatut Taufiq Bekasi.
2. Menganalisis dampak penerapan media benda konkret pada pelajaran
Matematika materi alat ukur (panjang, berat, dan waktu) siswa kelas II
SDIT Hidayatut Taufiq Bekasi.

6
D. Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada
Guru SD dalam pembelajaran Matematika dengan penerapan media benda
konkret sebagai upaya meningkatkan hasil belajar alat ukur (panjang, berat,
dan waktu).
Penulis berharap dari hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat dalam
bidang pendidikan diantaranya :
1. Bagi peserta didik
a) Penulis dapat meningkatkan hasil belajar Matematika materi alat ukur
(panjang, berat, dan waktu) melalui metode media benda konkret.
b) Dapat mempermudah penguasaan konsep pembelajaran sehingga
mampu meningkatkan hasil belajar.
2. Bagi guru
a) Sebagai masukan dalam meningkatkan mutu pelajaran Matematika
materi alat ukur (panjang, berat, waktu).
b) Meningkatkan profesionalisme guru.
c) Memberi pengalaman, menambah wawasan, pengetahuan dan
keterampilan merancang metode yang tepat dan menarik serta
mempermudah proses pembelajaran.
3. Bagi sekolah
a) Sebagai masukan dalam upaya meningkatkan kemampuan hasil
pembelajaran disekolah.
b) Meningkatkan kemampuan belajar siswa agar berprestasi disekolah.
c) Meningkatkan profesionalisme guru agar menjadi inovatif dan kreatif
dalam pembelajaran di kelas.
d) Meningkatkan mutu Pendidikan disekolah.

7
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Hakikat Belajar
1. Pengertian Belajar
Pentingnya ilmu bagi setiap manusia membuat seseorang harus
belajar dalam segala hal. Baik itu pengetahuan agama maupun ilmiah.
Jika, setiap manusia menuntut ilmu Allah akan memudahkan setiap
jalannya.

Kata belajar memang sudah tidak asing didengar. Banyak yang


mengartikan belajar dengan berbagai pengertian. Menurut pengertian
secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu
perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya
dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Purwanto menyebutkan bahwa
belajar merupakan proses dalam diri individu yang berinteraksi dengan
lingkungan untuk mendapat perubahan dalam perilakunya.

Belajar adalah suatu proses usaha yang sengaja dilakukan


peserta didik untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
secara keseluruhan, secara sadar, dan perubahan tersebut relatif
menetap serta membawa pengaruh dan manfaat yang positif bagi siswa
dalam berinteraksi dengan lingkungannya (Hosnan, 2014: 3-10).

Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur


yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang
pendidikan. Ini berarti, bahwa berhasil dan gagalnya pencapaian tujuan
pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa
baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau
keluarganya sendiri (Syah, 2010: 63).

a. Prinsip-prinsip Belajar
Menurut Gagne & Berliner (1984) (dalam Hosnan, 2014: 8),
prinsip-prinsip belajar siswa yang dapat dipakai oleh guru dalam

8
meningkatkan kreativitas belajar yang mungkin dapat digunakan
sebagai acuan dalam proses belajar mengajar, antara lain meliputi
prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Pembinaan perhatian dan motivasi siswa.

2. Mendorong dan memotivasi keaktifan siswa.

3. Keterlibatan langsung siswa.

4. Pemberian pengulangan.

5. Pemberian tantangan.

6. Umpan balik dan penguatan.

7. Memperhatikan perbedaan individu siswa.

Dari ketujuh prinsip belajar di atas, untuk lebih jelasnya


diuraikan sebagai berikut (Hosnan, 2014: 8-9):

a) Perhatian dan motivasi siswa, dalam merencanakan dan


melaksanakan proses pembelajaran, seorang guru dituntut untuk
dapat menimbulkan perhatian dan motivasi belajar siswa.

b) Keaktifan, memandang siswa merupakan makhluk yang aktif yang


mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu, mempunyai kemauan
dan aspirasinya sendiri, siswa memiliki sifat aktif, konstruktif, dan
mampu merencanakan sesuatu untuk mencari, menemukan, dan
menggunakan pengetahuan yang telah diperolehnya.

c) Keterlibatan langsung, dalam prinsip ini, seorang guru perlu


mengupayakan agar siswa dapat terlibat langsung secara aktif
dalam pembelajaran, baik individual maupun kelompok, dengan
cara memecahkan masalah (problem solving) maupun lainnya.

d) Pengulangan, menekankan pentingnya pengulangan untuk melatih


berbagai daya yang ada pada diri siswa, yakni daya mengamati,
menanggapi, mengingat, merasakan, berpikir, dan sebagainya.

e) Tantangan, prinsipnya guru perlu berupaya memberikan bahan


belajar yang dapat menantang dan menimbulkan gairah belajar

9
siswa.

f) Balikan dan penguatan, siswa akan lebih bersemangat apabila


mengetahui dan mendapatkan hasil yang baik yang akan
merupakan balikan yang menyenangkan dan berpengaruh baik bagi
usaha belajar selanjutnya.

g) Perbedaan individual, siswa harus dipandang sebagai individual


yang unik dan berbeda satu sama lain. Perbedaan itu dengan
sendirinya berpengaruh terhadap cara dan hasil belajar siswa,
sehingga proses pembelajaran yang bersifat klasikal perlu
memperhatikan perbedaan ini, antara lain dengan penggunaan
metode atau strategi belajar mengajar yang bervariasi.

Ketujuh prinsip di atas berimplikasi kepada guru untuk


memahami dan mengembangkan kreativitas pembelajarannya.
Dengan mengadopsi pendapat tentang pentingnya pemahaman makna
mengajar serta prinsip-prinsip belajar siswa, dikembangkan suatu
bentuk strategi yang berupaya untuk meningkatkan perilaku
kreativitas pembelajaran guru. Di samping itu, guru profesional harus
meningkatkan kreativitasnya guna mencapai hasil yang maksimal.

b. Faktor-faktor Proses Belajar


Proses belajar melibatkan berbagai faktor yang sangat
kompleks. Oleh karena itu, masing-masing faktor perlu diperhatikan
agar proses belajar dapat berhasil sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan. Belajar tidak hanya ditentukan oleh potensi yang ada
dalam individu tetapi juga dipengaruhi oleh faktor lain berasal dari
luar diri yang belajar. Secara umum, keberhasilan belajar dipengaruhi
oleh faktor eksternal dan internal (Sriyanti, 2011: 23-25) :

1. Faktor eksternal

Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang terdapat di luar diri


siswa. Diantara faktor eksternal siswa adalah :

10
a) Faktor nonsosial

Faktor nonsosial adalah faktor-faktor di luar individu yang


berupa kondisi fisik yang ada di lingkungan belajar. Faktor
nonsosial merupakan kondisi fisik yang ada di lingkungan
sekolah, keluarga maupun di lingkungan masyarakat. Aspek
fisik tersebut bisa berupa peralatan sekolah, sarana belajar,
gedung dan ruang belajar, kondisi geografis sekolah dan
rumahdan sejenisnya.

b) Faktor sosial

Faktor sosial adalah faktor-faktor di luar individu yang berupa


manusia. Faktor eksternal yang bersifat sosial, bisa dipilih
menjadi faktor yang berasal dari keluarga, lingkungan sekolah
dan lingkungan masyarakat (termasuk teman pergaulan anak).

2. Faktor internal

Faktor internal adalah faktor-faktor yang ada dalam diri individu


yang sedang belajar. Yang termasuk dalam faktor internal adalah:

a) Faktor fisiologis

Faktor fisiologis adalah kondisi fisik yang terdapat dalam diri


individu. Faktor fisiologis terdiri dari:

1. Keadaan Tonus jasmani pada umumnya

Keadaan tonus (tegangan otot) jasmani secara umum yang


ada dalam diri individu sangat mempengaruhi hasil belajar.
keadaan tonus jasmani secara umum ini, misalnya tingkat
kesehatan dan kebugaran fisik individu. Apabila badan
individu dalam keadaan bugar dan sehat maka akan
mendukung hasil belajar. Sebaliknya, jika badan individu
dalam keadaan kurang bugar dan kurang sehat akan
menghambat hasil belajar.

11
2. Keadaan fungsi-fungsi jasmani tertentu

Keadaan fungsi- fungsi jasmani tertentu adalah keadaan


fungsi jasmani tertentu, terutama yang terkait dengan fungsi
panca indra yang ada dalam diri individu. Panca indra
merupakan pintu gerbang masuknya pengetahuan dalam diri
individu.

b) Faktor psikologis

Faktor psikologis adalah faktor psikis yang ada dalam diri


individu. Faktor-faktor psikis tersebut antara lain tingkat
kecerdasan, motivasi, minat, bakat, sikap, kepribadian,
kematangan dan sebagainya.

Tingkat kecerdasan akan mempengaruhi daya serap serta


berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar. Demikian juga
motivasi, bakat dan minat banyak memberiakan warna terhadap
aktivitas belajar. Bakat dan minat terhadap suatu mata pelajaran akan
mendorong seseorang mendapat kemudahan mencapai tujuan belajar,
tetapi anak yang kurang berbakat bukan berarti akan gagal belajar,
hanya yang bersangkutan perlu waktu banyak dan kerja lebih keras
untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.

Demikian halnya dengan kondisi kepribadian, ada siswa


yang mempunyai daya juang tinggi, optimis, penuh semangat,
sementara ada siswa yang berkepribadian mudah putus asa, kurang
energi, gampang menyerah. Kondisi- kondisi tersebut akan
mempengaruhi hasil belajar. Sedangkan, faktor ekstern dan intern
mempengaruhi keberhasilan belajar, pengaruhnya bisa bersifat positif/
mendukung, namun bisa juga negative/ menghambat.

Menurut Pidarta yang dikutip oleh Indah Komsiyah


mengemukakan bahwa belajar adalah perubahan perilaku yang relatif
permanen sebagai hasil pengalaman. Sedangkan menurut Gredler
belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan,
keterampilan, dan sikap.

12
Jadi, hakikat belajar adalah belajar yang selalu melibatkan
tiga hal pokok berikut (Hosnan, 2014: 5-6):

a. Adanya perubahan tingkah laku. Setiap perubahan perilaku yang


terjadi dapat dimanfaatkan untuk kepentingan hidup individu yang
bersangkutan, baik untuk kepentingan masa sekarang maupun
masa datang.

b. Sifat perubahan relatif permanen. Perubahan perilaku yang


diperoleh dari proses belajar cenderung menetap dan menjadi
bagian yang melekat dalam dirinya.

c. Perubahan yang bersifat aktif. Perubahan yang disebabkan oleh


interaksi dengan lingkungan, bukan oleh proses kedewasaan atau
perubahan kondisi fisik yang temporer sifatnya. Untuk
memperoleh perilaku baru, individu yang bersangkutan aktif
berupaya melakukan perubahan.

Dari beberapa pengertian di atas didapatkan garis besar


bahwa belajar adalah proses seseorang untuk memperoleh perubahan
tingkah laku yang meliputi aspek pengetahuan, psikomotor dan sikap
yang didapat dari pengalaman yang berinteraksi dengan
lingkungannya. Belajar dapat terjadi di mana saja dan kapan saja.
Seperti di sekolah, di rumah, dan di masyarakat. Seseorang yang telah
melakukan kegiatan belajar pastilah mendapatkan hasil.

2. Pengertian Hasil Belajar


Hasil adalah sesuatu yang diadakan (dibuat dijadikan, dsb) oleh
usaha (pikiran, tanam-tanaman, tanah, sawah, ladang, hutan, dsb)
(Poerwadarminta, 2006: 408). Menurut Crow and Crow dalam
Educational Psychology (1984) (dalam Sriyanti, 2011: 16) belajar adalah
perbuatan untuk memperoleh kebiasaan, ilmu pengetahuan, dan berbagai
sikap, termasuk penemuan baru dalam mengerjakan sesuatu, usaha
memecahkan rintangan, dan menyesuaikan dengan situasi baru. Definisi
ini menekankan hasil dari aktifitas belajar.

13
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa belajar
adalah proses usaha yang sengaja dilakukan untuk memperoleh
perubahan tingkah laku, penemuan baru baik itu di sekolah, di
lingkungan rumah maupun di rumahnya sendiri.

Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah


melalui kegiatan belajar. Dalam kegiatan pembelajaran yang terprogram
dan terkontrol yang disebut kegiatan pembelajaran atau kegiatan
instruksional, tujuan belajar telah ditetapkan terlebih dahulu oleh guru,
anak yang berhasil dalam belajar adalah anak yang berhasil mencapai
tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan- tujuan instruksional (Hosnan,
2014: 158).

Bloom (1956) (dalam Andriani dkk, 2014: 2.5) mengemukakan


seorang siswa dapat dikatakan berhasil dalam belajar di sekolah bila ia
dapat menunjukkan keberhasilan belajar dalam tiga ranah, yaitu
keberhasilan belajar dalam ranah kognitif meliputi keberhasilan dalam
kemampuan berfikir (misalnya mengingat, memahami atau menerapkan
materi pelajaran). Keberhasilan dalam ranah afektif dapat dilihat dari
besarnya minat siswa dalam mengikuti pelajaran atau keterlibatannya
dalam mengikuti diskusi di kelas. Keberhasilan dalam ranah psikomotor
misalnya keberhasilan siswa dalam bidang olah raga atau dalam
pelajaran kesenian atau keterampilan.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa hasil


belajar adalah suatu kemampuan yang diperoleh siswa setelah
pembelajaran selesai dan dapat menunjukkan keberhasilan belajar.
Keberhasilan belajar ini ada tiga, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor.

a. Aspek – Aspek Hasil Belajar


1. Indikator Aspek Kognitif Indikator aspek kognitif mencakup:

a) Ingatan atau pengetahuan (knowledge), yaitu kemampuan


mengingat bahan yang telah dipelajari.

b) Pemahaman (comprehension), yaitu kemampuan menangkap


pengertian, menerjemahkan, dan menafsirkan.

14
c) Penerapan (application), yaitu kemampuan menggunakan bahan
yang telahdipelajari dalam situasi yang baru dan nyata.

d) Analisis (analisys), yaitu kemampuan menguraikan,


mengidentifikasi, dan mempersatukan bagian yang terpisah,
menghubungkan antar bagian guna membangun suatu
keseluruhan.

e) Sintesis (synthesis), yaitu kemampuan penyimpulan, mempersat


ukan bagian yang terpisah guna membangun guna membangun
suatu keseluruhan , dan sebagainya.

f) Penilaian (evaluation), yaitu kemampuan mengkaji nilai atau


harga sesuatu seperti pernyataan, laporan penelitian yang
didasarkan suatu kriteria.

2. Indikator Aspek Afektif Indikator aspek afektif mencakup:

a) Penerimaan (receiving), yaitu kesediaan untuk menghadirkan


dirinya untuk menerima atau meperhatikan pada suatu
perangsang.

b) Penanggapan (responding), yaitu keikutsertaan, memberi


reaksi, menunjukkan kesenangan, memberi tanggapan secara
sukarela.

c) Penghargaan (valuing), yaitu ketanggapan terhadap nilai atas


suaturangsangan, tanggung jawab, konsisten, dan komitmen.

d) Pengorganisasian (organization), yaitu mengintegrasikan


berbagai nilai yang berbeda, memecahkan konflik antar nilai,
dan membangun sistem nilai, dan pengkonseptualisasian suatu
nilai.

e) Pengkarakterisasian (characterization), yaitu proses afeksi di


mana individu memiliki suatu sistem nilai sendiri yang
mengendalikan perilakunya dalam waktu yang lama yang
membentuk gaya [Link] belajar ini berkaitan dengan
pola umum penyesuaian diri secara personal, sosial, dan

15
emosional.

3. Indikator Aspek Psikomotor Indikator aspek


psikomotor mencakup:

a) Persepsi (perception), yaitu pemakaian alat-alat perasa untuk


membimbingefektifitas gerak.

b) Kesiapan (set), yaitu kesediaan untuk mengambil tindakan.

c) Respon terbimbing (guide respons), yaitu tahap awal belajar


keterampilan lebih kompleks.

d) Mekanisme (mechanism), yaitu gerakan penampilan yang


melukiskan proses dimana gerak yang telah dipelajari kemudian
diterima atau diadopsimenjadi kebiasaan.

e) Respon nyata kompleks (complex over respons), yaitu


penampilan gerakan secara mahir dan cermat dalam bentuk
gerakan yang rumit, aktivitas motorik berkadar tinggi.

f) Penyesuaian (adaptation), yaitu keterampilan yang telah


dikembangkan secara lebih baik sehingga tampak dapat
mengolah gerakan dan menyesuaikannya dengan tuntutan dan
kondisi yang khusus dalam suasanayang lebih problematik.

g) Penciptaan (origination), yaitu penciptaan pola gerakan baru


yang sesuai dengan situasi dan masalah tertentu sebagai
kreativitas. Jadi pada intinya, tujuan belajar itu adalah ingin
mendapatkan pengetahuan, keterampilan dan penanaman sikap
mental/nilai-nilai. Pencapain tujuan belajar berarti akan
menghasilkan hasil belajar.

b. Jenis - Jenis Hasil Belajar


Menurut Benyamin S. Bloom, dkk (1959) (dalam Arifin,
2011: 21-23) hasil belajar dapat dikelompokkan ke dalam tiga
domain, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Setiap domain
disusun menjadi beberapa jenjang kemampuan, mulai dari hal yang
sederhana sampai dengan hal yang kompleks, mulai dari hal yang

16
mudah sampai dengan hal yang sukar, dan mulai dari hal yang
konkret sampai dengan hal yang abstrak. Adapun rincian domain
tersebut adalah sebagai berikut:

1. Domain kognitif (cognitive domain). Domain ini memiliki enam


jenjang kemampuan, yaitu:

a. Pengetahuan (knowledge), yaitu jenjang kemampuan yang


menuntut peserta didik untuk dapat mengenali atau mengetahui
adanya konsep, prinsip, fakta atau istilah tanpa harus mengerti
atau dapat menggunakannya. Kata kerja operasional yang dapat
digunakan, di antaranya mendefinisikan, memberikan,
mengidentifikasi, memberi nama, menyusun daftar,
mencocokkan, menyebutkan, membuat garis besar, menyatakan
kembali, memilih, dan menyatakan.

b. Pemahaman (comprehension), yaitu jenjang kemampuan yang


menuntut peserta didik untuk memahami atau mengerti tentang
materi pelajaran yang disampaikan guru dan dapat
memanfaatkannya tanpa harus menghubungkannya dengan hal-
hal lain. Kemampuan ini dijabarkan lagi menjadi tiga, yakni
menerjemahkan, menafsirkan, dan mengekstrapolasi. Kata kerja
operasional yang dapat digunakan, di antaranya mengubah,
mempertahankan, membedakan, memprakirakan, menjelaskan,
menyatakan secara luas, menyimpulkan, memberi contoh,
melukiskan kata-kata sendiri, meramalkan, menuliskan kembali,
dan meningkatkan.

c. Penerapan (application), yaitu jenjang kemampuan yang


menuntut peserta didik untuk menggunakan ide-ide umum, tata
cara ataupun metode, prinsip, dan teori-teori dalam situasi baru
dan konkret. Kata kerja operasional yang dapat digunakan, di
antaranya mengubah, menghitung, mendemonstrasikan,
mengungkapkan, mengerjakan dengan teliti, menjalankan,
memanipulasi, menghubungkan, menunjukkan, memecahkan,

17
menggunakan.

d. Analisis (analysis), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut


peserta didik untuk menguraikan suatu situasi atau keadaan
tertentu ke dalam unsur- unsur atau komponen
pembentukannya. Kemampuan analisis dikelompokkan menjadi
tiga, yaitu analisis unsur, analisis hubungan, dan analisis
prinsip-prinsip yang terorganisasi. Kata kerja operasional
yang dapat digunakan, di antaranya mengurai, membuat
diagram, memisah- misahkan, menggambarkan kesimpulan,
membuat garis besar,menghubungkan, dan merincikan.

e. Sintesis (synthesis), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut


peserta didik untuk dapat mengevaluasi suatu situasi, keadaan,
pernyataan atau konsep berdasarkan kriteria tertentu. Hal
penting dalam evaluasi ini adalah menciptakan kondisi
sedemikian rupa, sehingga peserta didik mampu
mengembangkan kriteria atau patokan untuk mengevaluasi
sesuatu. Kata kerja operasional yang dapat digunakan,
diantaranya menilai, membandingkan, membeda-bedakan,
mempertimbangkan kebenaran, menafsirkan, dan menduga.

f. Evaluasi (evaluation), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut


peserta didik untuk dapat mengevaluasi suatu situasi, keadaan,
pernyataan atau konsep berdasarkan kriteria tertentu. Hal
penting dalam evaluasi ini adalah menciptakan kondisi
sedemikian rupa, sehingga peserta didik mampu
mengembangkan kriteria atau patokan untuk mengevaluasi
sesuatu. Kata kerja yang operasional yang dapat digunakan, di
antaranya menilai, membandingkan, mempertentangkan,
mengkritik, membeda-bedakan, mempertimbangkan kebenaran,
menyokong, menafsirkan, dan menduga.

2. Domain afektif (affective domain), yaitu internalisasi sikap yang


menunjuk ke arah pertumbuhan batiniah dan terjadi bila peserta

18
didik menjadi sadar tentang nilai yang diterima, kemudian
mengambil sikap sehingga menjadi bagian dari dirinya dalam
membentuk nilai dan menentukan tingkah laku. Domain afektif
terdiri atas beberapa jenjang kemampuan, yaitu:

a. Kemauan menerima (receiving), yaitu jenjang kemampuan yang


menuntut peserta didik untuk peka terhadap eksistensi fenomena
atau rangsangan tertentu. Kepekaan ini diawali dengan
penyadaran kemampuan untuk menerima dan memperhatikan.
Kata kerja operasional yang dapat digunakan, di antaranya
menanyakan, memilih, menggambarkan, mengikuti,
memberikan, berpegang teguh, menjawab, dan menggunakan.

b. Kemauan menanggapi/ menjawab (responding), yaitu jenjang


kemampuanyang menuntut peserta didik untuk tidak hanya peka
pada suatu fenomena, tetapi juga bereaksi terhadap salah satu
cara. Penekanannya pada kemauan peserta didik untuk
menjawab secara sukarela, membaca tanpa ditugaskan.

Kata kerja operasional yang dapat digunakan, di antaranya


menjawab, membantu, memperbincangkan, memberi nama,
menunjukkan, mempraktekkan, mengemukakan, membaca,
melaporkan, menuliskan, memberi tahu, dan mendiskusikan.

c. Menilai (valuing), yaitu jenjang kemampuan yang menuntut


peserta didik untuk menilai suatu objek, fenomena atau tingkah
laku tertentu secara konsisten. Kata kerja operasional yang
digunakan, di antaranya melengkapi, menerangkan, membentuk,
mengusulkan, mengambil bagian, memilih, dan mengikuti.

d. Organisani (organization), yaitu jenjang kemampuan yang


menuntut peserta didik untuk menyatukan nilai-nilai yang
berbeda, memecahkan masalah, membentuk suatu sistem nilai.
Kata kerja operasional yang dapat digunakan, di antaranya
mengubah, mengatur, menggabungkan, membandingkan,
mempertahankan, menggeneralisasikan, memodifikasi.

19
3. Domain psikomotor (psychomotor domain), yaitu kemampuan
peserta didik yang berkaitan dengan gerakan tubuh atau bagian-
bagiannya, mulai dari gerakan yang sederhana sampai dengan yang
gerakan yang kompleks. Perubahan pola gerakan memakan waktu
sekurang-kurangnya 30 menit. Kata kerja operasional yang
digunakan harus sesuai dengan kelompok keterampilan masing-
masing, yaitu:

a. Muscular of motor skill, meliputi: mempertontonkan gerakan,


menunjukkan hasil, melompat, menggerakkan, dan
menampilkan

b. Manipulations of materials or objects, meliputi: mereparasi,


menyusun, membersihkan, menggeser, memindahkan, dan
membentuk.

c. Neuromuscular coordination, meliputi: mengamati,


menerapkan, menghubungkan, menggandeng, memadukan,
memasang, memotong,menarik, dan menggunakan.

Berdasarkan penjelasan beberapa jenis-jenis hasil belajar di


atas, peneliti lebih cenderung pada domain kognitif, yaitu mengenai
pengetahuan, pemahaman, penerapan siswa tentang materi yang telah
di pelajari. Bentuk dari pengetahuan adalah siswa dapat mengetahui
konsep atau prinsip dari materi yang telah diberikan, setelah siswa
mengetahui siswa dapat memahami tentang materi yang telah
disampaikan dan dapat menjelaskan materi dengan baik.

c. Jenis - jenis Evaluasi


Jenis-jenis evaluasi ada 4, yaitu (Djamarah, 2000: 214-217):

a. Evaluasi formatif

Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilaksanakan


setiap kali selesai mempelajari suatu unit pelajaran tertentu.
Bermanfaat sebagai alat penilaian proses belajar mengajar suatu
unit bahan pelajaran tertentu.

20
b. Evaluasi subsumatif/ sumatif

Evaluasi subsumatif ialah penilaian yang dilaksanakan


setelah beberapa satuan pelajaran diselesaikan, dilakukan pada
perempat atau tengah semester. Sedangkan evaluasi sumatif ini
penilaian yang dilaksanakan setiap akhirpengajaran suatu program
atau sejumlah unit pelajaran tertentu. Evaluasi sumatif bermanfaat
untuk menilai hasil pencapaian siswa terhadap tujuan suatu
program pelajaran dalam suatu periode tertentu, seperti semester
atau akhir tahun pelajaran.

c. Evaluasi kokurikuler

Kegiatan kokurikuler adalah kegiatan yang dilakukan


diluar jam pelajaran yang telah dijatahkan dalam struktur program,
berupa penugasan-penugasan atau pekerjaan rumah yang menjadi
pasangan kegiatan intrakurikuler. Kegiatan ini dimaksudkan agar
siswa lebih mendalami dan menghayati apa yang dipelajari dalam
kegiatan intrakurikuler.

Kegiatan intrakurikuler itu sendiri ialah kegiatan yang


dilakukan di sekolah dengan penjatahan waktu sesuai dengan
struktur program. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mencapai
tujuan minimal yang perlu dicapai dalam tiap-tiap mata pelajaran
atau bidang pengembangan. Pada prinsipnya, kegiatan
intrakulikuler merupakan kegiatan tatap muka antara siswa dan
guru. Yang termasuk kegiatan intrakurikuler ini ialah kegiatan
perbaikan dan pengayaan.

d. Evaluasi ekstrakurikuler

Kegiatan ekstrakulikuler adalah kegiatan diluar jam


pelajaran, yang dilakukan disekolah ataupun diluar sekolah.
Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperluas pengetahuan siswa,
mengenal hubungan antara berbagai mata pelajaran atau bidang
pengembangan, menyalurkan bakat dan minat yang menunjang
pencapaian tujuan intruksional serta melengkapi upaya pembinaan

21
manusia seutuhnya. Kegiatan ini dilakukan secara berkala pada
waktu tertentu.

d. Jenis-jenis Alat Evaluasi


Jenis-jenis alat evaluasi antara lain (Djamarah, 2000: 218-220):

1. Tes

Tes digunakan untuk menilai kemampuan siswa


yang mencakup pengetahuan dan keterampilan sebagai hasil
kegiatan belajar mengajar. Ditinjau dari pelaksanaan, tes terdiri
dari:

a) Tes tertulis

Tes tertulis merupakan alat penilaian yang dijawab oleh siswa,


meliputi:

1. Tes bentuk uraian, yaitu semua bentuk tes yang


pertanyaannya membutuhkan jawaban dalam bentuk uraian.

2. Tes bentuk objektif, yaitu semua bentuk tes yang


mengharuskan siswa memilih diantara kemungkinan-
kemungkinan jawaban yang telah disediakan, memberi
jawaban singkat, atau mengisi jawaban pada kolom titik-titik
yang tersedia.

b) Tes lisan (Oral Test)

Tes lisan merupakan alat penilaian yang


pelaksanaannya dengan mengadakan tanya jawab secara
langsung untuk mengetahui kemampuan- kemampuan berupa
proses berpikir siswa dalam memecahkan masalah,
mempertanggung jawabkan pendapat, penggunaan bahasa, dan
penguasaan materipelajaran.

c) Tes perbuatan (Performance Test)

Tes perbuatan adalah tes yang di berikan dalam bentuk


tugas-tugas. Pelaksanaannya dalam bentuk penampilan atau

22
perbuatan (praktek pengalaman lapangan, praktek kerja
lapangan, praktek olahraga dan sebagainya).

Alat untuk evaluasi yang digunakan peneliti untuk


mengukur hasil belajar adalah tes objektif. Tes objektif adalah
tes yang jawabannya dapat diberi skor nilai secara lugas
(seadanya) menurut pedoman yang ditentukan sebelumnya.

B. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar


1. Pengertian Matematika

Kata Matematika sudah tidak asing lagi bagi kita, Matematika


merupakan ilmu pengetahuan dimana materi matematika diperlukan di
semua jenjang pendidikan yang dipelajari oleh semua orang. Dalam
dunia pendidikan, matematika sangatlah diperlukan. Di sekolah-sekolah
mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, bahkan dalam dunia
pendidikan prasekolah, misalnya taman kanak-kanak, keberadaan
matematika selalu diperlukan. Kehadiran matematika dalam dunia
pendidikan maupun dalam kehidupan sehari-hari tentu sangat
bermanfaat, karena dapat digunakan untuk berhitung, mengelola data,
berdagang dan dapat membantu bidang studi lainnya seperti bidang
akutansi,perpajakan dan lain-lain.

Menurut Ismunamto (2011: 15) kata matematika berasal dari


bahasa Yunani kuno máthēma, yang berarti pengkajian, pembelajaran,
ilmu, yang ruang lingkupnya menyempit, dan arti teknisnya menjadi
“pengkajian matematika”, bahkan demikian juga pada zaman kuno. Kata
sifat dari máthēma adalah mathēmatikós, berkaitan dengan pengkajian,
atau tekun belajar, yang lebih jauh berarti matematis. Secara khusus,
mathēmatik tékhnē, di dalam bahasa latin ars mathematica, berarti seni
matematika.

Bentuk jamak sering dipakai di dalam bahasa inggris, seperti


juga di dalambahasa Perancis les mathématiques (dan jarang digunakan
sebagai turunan bentuk tunggal la mathématique), merujuk pada bentuk

23
jamak bahasa Latin yang cenderung netral mathematica (Cicero),
berdasarkan bentuk jamak bahasa Yunani mathēmatiká, yang berarti
“segala hal yang matematis”. Di dalam bahasa Inggris, kata benda
mathematics mengambil bentuk tunggal bila dipakai sebagai kata kerja
(Ismunamto, 2011: 15).

Johnson dan Rising (1972) (dalam Ismunamto, 2011: 2)


mengemukakan Matematika adalah bahasa yang menggunakan istilah
yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, diwujudkan dalam
simbol, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide daripada mengenai
bunyi.

Menurut Ruseffendi (1991) (dalam Heruman, 2010: 1)


Matematika adalah bahasa simbol; ilmu deduktif yang tidak menerima
pembuktian secara induktif; ilmu tentang pola keteraturan, dan struktur
yang terorganisir, melalui dari unsur yang tidak didefinisikan, ke unsur
yang didefinisikan, ke aksioma atau postulat, dan akhirnya ke dalil.
Matematika adalah ilmu tentang bilangan dan prosedur operasional yang
digunakan dalam penyelesaian masalah mengenai bilangan (Prabowo &
Rahmawati, 2013: 125).

Berdasarkan pengertian matematika menurut para ahli di atas


dapat disimpulkan matematika adalah bahasa simbol, ilmu tentang
bilangan, suatu kegiatan penelusuran pola hubungan dalam prosedur
operasional yang digunakan dalam menyelesaikan masalah.

2. Fungsi dan Tujuan Pembelajaran Matematika


a. Fungsi dari pembelajaran Matematika antara lain (Departemen
Agama RI, 2004:173):

1) Mengembangkan kemampuan menghitung, mengukur,


menurunkan,dan menggunakan rumus matematika sederhana yang
diperlukan dalam kehidupan sehari-hari melalui materi bilangan,
pengukuran, geometri, dan pengolahan data.

2) Mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan


dengan bahasa melalui model matematika yang dapat berupa

24
kalimat dan persamaan matematika, diagram, grafik, atau tabel.

b. Tujuan dari pembelajaran Matematika adalah (Departemen Agama


RI, 2004:173-174):

1) Melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan.

2) Mengembangkan aktifitas kreatif yang melibatkan imajinasi,


intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran
divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan,
serta mencoba-coba.

3) Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.

4) Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau


mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan
lisan, catatan, grafik, peta, diagram, dalam menjelaskan gagasan.

3. Ruang Lingkup Matematika SD/MI


Ruang lingkup mata pelajaran Matematika pada tingkat satuan
pendidikan SD/MI meliputi aspek-aspek sebagai berikut (Departemen
Agama RI, 2004:174):

a. Bilangan, kompetensi dalam bilangan ditekankan pada kemampuan


melakukan dan menggunakan sifat-sifat operasi hitung bilangan.

b. Geometri dan pengukuran, pada pengukuran dan geometri ditekankan


pada kemampuan melakukan mengidentifikasi sifat dan unsur bangun
datar dan bangun ruang serta menentukan keliling, luas, dan volume
dalam pemecahan masalah.

c. Pengolahan data, ditekankan pada kemampuan mengumpulkan,


menyajikan, dan mengolah data.

4. Standar Kompetensi Matematika Kelas II SD/MI


Standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran
Matematika kelas II dalam struktur Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan:

25
Tabel 2. 1: Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Kelas II,
Semester 1

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar


Bilangan 1.1 Membandingkan bilangan sampai
1. Melakukan penjumlahan 500
dan pengurangan bilangan 1.2 Mengurutkan bilangan sampai 500
sampai 500 1.3 Menentukan nilai tempat
ratusan, puluhan, dan satuan
1.4 Melakukan penjumlahan
pengurangan bilangan sampai 500
Geometri dan Pengukuran 2.1 Menggunakan alat ukur waktu
2. Menggunakan pengukuran dengan satuan jam
waktu, panjang dan berat 2.2 Menggunakan alat ukur panjang
dalam pemecahan masalah tidak baku dan baku (cm, m) yang
sering digunakan
2.3 Menggunakan alat ukur berat
2.4 Menyelesaikan masalah yang
berkaitan dengan berat benda

Tabel 2. 2: Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Kelas II,


Semester 2

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar


Bilangan 3.1 Melakukan perkalian bilangan
3. Melakukan perkalian dan yang hasilnya bilangan dua angka
pembagian bilangan sampai
3.2 Melakukan pembagian bilangan
dua angka
dua angka
3.3 Melakukan operasi hitung campuran
Geometri dan Pengukuran 4.1 Mengelompokkan bangun datar
4. Mengenal unsur-unsur
4.2 Mengenal sisi-sisi bangun datar
bangun datar sederhana
4.3 Mengenal sudut-sudut bangun datar

C. Materi Alat Ukur (panjang, berat, dan waktu) dalam Pembelajaran


Matematika SD/MI
1. Alat Ukur Panjang
Alat ukur panjang digunakan untuk mengukur panjang atau
tinggi benda. Berikut ini beberapa contoh alat ukur panjang:

26
a) Penggaris/Mistar

Penggaris dapat digunakan untuk mengukur panjang benda seperti


pensil, buku tulis, dan penghapus. Alat ini biasanya digunakan dalam
proses pembelajaran.

b) Roll Meter

Roll meter ada dua jenis yaitu roll meter kecil dan roll meter
besar. Roll meter digunakan untuk mengukur panjang dan lebar tanah.

c) Meteran Saku

27
Meteran saku biasanya digunakan oleh tukang bangunan atau tukang
kayu saat membuat rumah. Meteran saku digunakan untuk mengukur
bangunan atau kayu.

d) Meteran Pita

Meteran pita disebut juga metlin. Metlin digunakan oleh penjahit atau
pedagang kain untuk mengukur panjang dan lebar kain.

2. Alat Ukur Berat

Alat yang digunakan untuk mengukur berat suatu benda


dinamakan timbangan. Timbangan yang digunakan ada bermacam-
macam. Di bawah ini beberapa timbangan yang biasanya digunakan:
(Tematik Terpadu : Tema 2E Kelas II):

a) Timbangan Dapur/ Timbangan Rumah Tangga

Timbangan dapur atau timbangan rumah tangga digunakan untuk


menimbang bahan makanan, buah dan sayur. Timbangan ini juga
sering digunakan oleh pedagang buah.

28
b) Timbabangan Badan

Timbangan badan digunakan untuk mengukur berat badan seseorang.

c) Timbangan Duduk/ Timbangan Kodok

Timbangan duduk atau timbangan kodok digunakan untuk


menimbang belanjaan pembeli, seperti bahan makanan, beras dalam
jumlah sedikit, bawang merah, bawang putih, dan lain-lain.
Timbangan ini sering juga disebutdengan timbangan bebek.

d) Neraca

29
Neraca digunakan untuk mengukur/ menimbang benda-benda yang
sangat ringan dan berharga, misalnya emas.

e) Timbangan Barang

Timbangan barang digunakan untuk menimbang benda-benda yang


berat, misalnya sekarung beras, gandum, gula, dan lain-lain.

Karena ada bermacam-macam bentuk dan jenis alat ukur


berat, maka penggunaannya disesuaikan dengan jenis dan berat benda
yang akan di ukur.

3. Alat Ukur Waktu


Apabila seseorang ingin mengukur waktu biasanya digunakan
jam. Jam menunjukkan waktu yang akan dibutuhkan dalam kehidupan
kita. Kita dapat mengetahui waktu untuk menjadwalkan kegiatan setiap
harinya. Tanpa adanya jam untuk menunjukkan waktu, kita tidak bisa
mengatur suatu kegiatan yang ingin dilakukan. Bukan hanya jam
dinding dan jam tangan saja yang dapat mengukur waktu. Tetapi, masih
ada banyak alat ukur waktu selain jam. Berikut ini beberapa contoh alat
ukur waktu yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari:

a) Jam Dinding

30
Jam dinding dipasang di dinding sebagai alat petunjuk waktu bagi
keluarga.

b) Jam Tangan

Jam tangan dipakai manusia setiap saat sehingga manusia dapat


melihat waktu dengan cepat.

c) Jam Beker

Jam beker biasanya diletakkan di kamar tidur sehingga kita dapat


melihat waktu saat bangun tidur.

d) Stopwatch

31
Stopwatch biasanya digunakan untuk mengetahui kecepatan, misalnya
untuk mengukur kecepatan lari seseorang.

Jam yang menggunakan jarum sebagai petunjuk waktunya


adalah jam analog. Sedangkan jam yang menggunakan angka sebagai
petunjuk waktunya adalah jam digital. Untuk mengetahui waktu yang
lebih lama, misalnya hari, tanggal, minggu, bulan, tahun biasa digunakan
kalender atau tanggalan.

D. Media Benda Konkret


1. Pengertian Media

Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara


harfiah yang secaraharfiah berarti “tengah”, perantara atau pengantara.
Dalam bahasa Arab media adalah ( ‫ ) و سا ئل‬atau pengantar pesan dari
pengirim kepada penerima pesan.

Berikut pendapat tentang media yang dikemukakann oleh para


ahli yaitu:

1. Gerlach dan Ely mengatakan bahwa media apabila dipahami secara


garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun
kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan,
keterampilan atau sikap.

2. Fleming mengatakan bahwa media yang sering diganti dengan


mediator yaitu penyebab atau alat yang turut campur tangan dalam
dua pihak danmendamaikannya.

3. AECT (Association for Education and Communication Technology)


mendefinisikan media yaitu segala bentuk yang dipergunakan untuk
suatu proses penyaluran informasi.

4. NEA (Educations Association) mendefenisikan sebagai benda yang


dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta
instrument yang dipergunakan dengan baik dalam kegiatan belajar
mengajar untuk mempengaruhi efektifitas program instructional.

32
Sedangkan, menurut Gerlach secara umum media
(pembelajaran) itu meliputi orang, bahan, peralatan atau kegiatan yang
menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa memperoleh
pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Sependapat dengn Gerlach,
Gagne juga menyatakan bahwa media pembelajaran adalah berbagai
komponen yang ada dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya
untuk belajar.

Dari definisi-definisi tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa


pengertian media adalah sesuatu baik itu manusia ataupun benda yang
dapat dipergunakan dalam kegiatan belajar mengajar guna membantu
memperoleh pesan atau informasi, pengetahuan, keterampilan, ataupun
sikap. Media merupakan alat untuk membantu guru menyampaikan
informasi/ materi kepada peserta didik. Media yang digunakan tidak
harus mahal, tapi juga bisa memanfaatkan media yang ada disekitar
peserta didik atau guru bisa menggunakan pengalaman peserta didik.

Media pada intinya yaitu sarana untuk memudahkan guru dalam


menyampaikan materi dan memudahkan peserta didik dalam memahami
materi yang disampaikan guru. Penggunaan media dalam pembelajaran
bisa diciptakan oleh siswa maupun guru dengan bahan seadanya, misal
dengan menggunakan barang-barang bekas, barang yang ada disekitar
lingkungan sekolah maupun menggunakan lingkungan itu sendiri
sebagai media pembelajaran.

Sedangkan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, konkret


yaitu nyata, benar-benar ada (berwujud, dapat dilihat, dapat diraba,dsb).
Jadi media konkret adalah segala sesuatu yang nyata dapat digunakan
untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat
merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa sehingga
proses pembelajaran dapat berjalan lebih efektif dan efesien menuju
tercapainya tujuan yang diharapkan. Selain itu, definisi lain dari media
benda konkret adalah objek yang sesungguhnya yang akan memberikan
rangsangan yang amat penting bagi siswa dalam mempelajari berbagai

33
hal, terutama yang menyangkut pengembangan keterampilan tertentu.

2. Pengertian Media Konkret


Media konkret merupakan alat bantu yang paling mudah
penggunaannya, karena kita tidak perlu membuat persiapan selain
langsung menggunakannya. Yang dimaksud dengan benda nyata sebagai
media adalah alat penyampaian informasi yang berupa benda atau obyek
yang sebenarnya atau asli dan tidak mengalami perubahan yang berarti.
Sebagai obyek nyata, media konkret merupakan alat bantu yang bisa
memberikan pengalaman langsung kepada pengguna. Oleh karena itu,
media konkret banyak digunakan dalam proses pembelajaran sebagai alat
bantu memperkenalkan subjek baru. Media konkret mampu memberikan
arti nyata kepada hal-hal yang sebelumnya hanya digambarkan secara
abstrak yaitu dengan kata-kata atau hanya visual.

Benda-benda konkret itu sendiri dapat diperoleh disekitar kita


misalnya batu, daun kering, kelereng, buku, pensil, meja,sepatu, kaos
kaki, sapu tangan, sendok, piring, dan lain-lain. Anak-anak terutama
siswa kelas rendah akan mendapatkan banyak informasi dengan adanya
interaksi dengan obyek nyata dan menarik, sehingga pemahaman anak
akan lebih mudah terbentuk. Hal ini juga ditunjang dengan adanya
penjelasan terkait tahap perkembangan anak. Menurut Piaget sendiri ada
3 tahap perkembangan anak:

1. bersikap secara intuitif ± umur 4 tahun

2. beroperasi secara konkret ± umur 7 tahun

3. beroperasi secara formal ± umur 11 tahun

Berdasarkan beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan


bahwa benda konkret ini merupakan benda yang sebenarnya, benda atau
media yang membantu pengalaman nyata peserta didik.

Pengalaman nyata atau pengalaman langsung merupakan


pengalaman yang diperoleh siswa sebagai hasil dari aktivitas sendiri.
Siswa mengalami, merasakan sendiri segala sesuatu yang berhubungan

34
dengan pencapaian tujuan. Siswa berhubungan langsung dengan objek
yang hendak dipelajari tanpa penggunakan perantara. Karena
pengalaman langsung inilah maka ada kecenderungan hasil yang
diperoleh siswa menjadi konkret sehingga akan memiliki ketepatan yang
tinggi.

Jadi, media benda konkret disini memiliki fungsi selain untuk


memberi pengalaman nyata dalam kehidupan siswa juga berfungsi untuk
menarik minat belajar siswa agar hasil belajar siswa lebih baik.

3. Fungsi Media dan Media Konkret


Fungsi utama media adalah sebagai alat bantu mengajar yang
turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata
dan diciptakan oleh guru. Levie Lentz dalam Azhar Arsyad
mengemukakan empat fungsi media pengajaran, yaitu:

1. Fungsi Atensi, yaitu menarik perhatian peserta didik untuk


berkonsentrasi pada isi pelajaran yang ditampilkan

2. Fungsi Afektif, yaitu media dapat menggugah emosi dan sikap peserta
didik, dan peserta didik dapat menikmati pembelajaran

3. Fungsi Kognitif, yaitu media memperlancar pencapaian tujuan untuk


memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung di
dalamnya

4. Fungsi Kompensatoris, yaitu media mengakomodasi peserta didik


yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang
disajikan dengan teks/verbal.

Fungsi media konkret antara lain:

1. Alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif;

2. Bagian integral dari keseluruhan situasi mengajar;

3. Meletakkan dasar-dasar yang konkret dan konsep yang abstrak


sehingga dapatmengurangi pemahaman yang bersifat verbalisme;

4. Mengembangkan motivasi belajar siswa;

35
5. Mempertinggi mutu pembelajaran.

4. Kelebihan dan Kekurangan Media Konkret


Kelebihan:

1. Membangkitkan ide-ide atau gagasan-gagasan yang bersifat


konseptual, sehingga mengurangi kesalah pahaman siswa dalam
mempelajarinya.

2. Meningkatkan minat siswa untuk mempelajari materi pelajaran.

3. Meningkatkan minat siswa untuk mempelajari materi pelajaran.

4. Memberikan pengalaman-pengalaman nyata yang merangsang


aktivitas diri sendiri untuk belajar.

5. Dapat mengambangkan jalan pikiran yang berkelanjutan.

6. Menyediakan pengalaman- pengalaman yang tidak mudah di dapat


melalui materi-materi yang lain dan menjadikan proses belajar
mendalam dan beragam.

Kelemahan:

1. Membawa siswa ke berbagai tempat di luar sekolah terkadang


memilikiresiko dalam bentuk kecelakaan dan sejenisnya.

2. Biaya yang diperlukan untuk mengadakan berbagai objek nyata


tidak sedikit dan memiliki kemungkinan kerusakan dalam
menggunaknnya.

Kelemahan yang ada diatas hendaknya dapat diatasi dengan


cara menggunakan media benda asli atau konkret yang ada di sekitar
lokasi sekolah yang dapat dijadikan penunjang dalam proses
pembelajaran, dan disesuaikan dengan materi pembelajaran serta tetap
berusaha membawa benda nyata ke dalam kelas yang berguna untuk
menjelaskan materi dalam lingkup kelas.

Dari uraian diatas dapat ditegaskan bahwa penggunaan media


konkret atau nyata pada saat proses pembelajaran berlangsung akan lebih
baik daripada hanya berceramah saja. Karena dengan adanya media

36
pembelajaran dapat membantu untuk memperjelas maksud yang kita
sampaikan dan merangsang peserta didik untuk belajar. Sehingga,
dengan penggunaan media benda konkret tersebut peserta didik menjadi
lebih giat lagi dalam belajar dan mempunyai pengalaman serta persepsi
yang sama tentang konsep yang dipelajari. Dengan demikian,
penggunaan media benda konkret sangat membantu dalam upaya
meningkatkan hasil nilai peserta didik.

E. Karakteristik Peserta Didik Sekolah Dasar


Mulyani Sumantri dan Johar Permana menyatakan bahwa ”Masa
Usia SD (sekitar 6,0–12,0) merupakan tahapan perkembangan penting dan
bahkan fundamental bagi kesuksesan perkembangan selanjutnya”.
Berdasarkan penelitian Piaget dalam Trianto, ada empat tahap dalam
perkembangan kognitif dari setiap individu yang berkembang secara
kronologis yaitu:

1. Tahap sensori motor


2. Tahap praoperasi
3. Tahap operasi konkret
4. Tahap operasi formal.

Dari keempat tahap di atas, usia siswa sekolah dasar termasuk


pada tahap operasi konkret. Tahap operasi konkret dimulai sekitar usia 7
tahun sampai sekitar usia 11 tahun, yaitu anak memahami operasilogis
dengan bantuan benda-benda konkret dan anak sudah memiliki sudut
pandang yang berbeda secara obyektif dalam mengamati suatu obyek.
Kemampuan yang tampak pada fase ini adalah kemampuan dalam proses
berfikir untuk mengoperasikan kaidah-kaidah logika meskipun masih terikat
dengan obyek yang bersifat konkret. Dari usia perkembangan kognitif,
siswa SD kelas rendah masih terikat dengan obyek konkret yang dapat
ditangkap oleh panca indera. Oleh karena itu dalam mempelajari suatu
konsep diperlukan pengalaman melalui benda-benda nyata (konkret).

37
F. Hakikat Penelitian Tindakan Kelas ( PTK )
1. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas ( PTK )
Menurut Hopkins (1993), PTK disebut dengan classroom action
research. Penelitian model ini menurut Suyanto (1996) sedang berkembang
dengan pesat di negara-negara maju. Seperti Inggris, Amerika, Australia,
dan Kanada. Para ahli penelitian pendidikan akhir-akhir ini menaruh
perhatian yang cukup besar terhadap PTK. Hal ini disebabkan jenis
penelitian ini mampu menawarkan berbagai cara dan prosedur baru yang
lebih mengena dan bermanfaat dalam memperbaiki dan meningkatkan
profesionalisme guru dalam proses pembelajaran di kelas.
PTK memungkinkan kita untuk memberikan rasional justifikasi
tentang pekerjaan kita terhadap orang lain dan membuat orang menjadi
kritis dalam analisis.(Menurut Hopkins,1993) Menurut Hopkins,1993 dalam
tindakan kelas diawali dengan perencanaan tindakan (Planning), penerapan
tindakan (action), mengobservasi dan mengevaluasi proses dan hasil
tindakan (Observation and evaluation), prosedur kerja dalam penelitian
tindakan kelas terdiri atas empat komponen, yaitu perencanaan (planning),
pelaksanaan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting), dan
seterusnya sampai perbaikan atau peningkatan yang diharapkan tercapai.

38
BAB III

PELAKSANAAN PENELITIAN

A. Subjek, Tempat, dan Waktu Penelitian


1. Subjek penelitian

Subjek penelitian yang peneliti gunakan pada penelitian ini adalah siswa
kelas II SDIT Hidayatut Taufiq terdiri dari 37 siswa, 19 siswa laki-laki
dan 18 siswa perempuan.

2. Tempat penelitian

Tempat pelaksanaan peneliti lakukan di SDIT Hidayatut Taufiq Bekasi.

Gambar 3. 1: Gedung SDIT Hidayatut Taufiq

Tabel 3. 1: Jadwal Penelitian

Kegiatan Pertemuan Tanggal

Prasiklus I

Siklus I I

Siklus II I

B. Desain Prosedur Perbaikan Pembelajaran


Kegiatan perbaikan pembelajaran Matematika adalah penggunaan
media pembelajaran benda konkret yang diterapkan untuk meningkatkan
hasil belajar peserta didik tentang materi alat ukur (panjang, berat dan
waktu). Pelaksanaan perbaikan dilakukan dalam suatu siklus dalam
pelaksanaan perbaikan penulis dibantu oleh teman sejawat yang sesuai
dengan kaidah penelitian tindakan kelas, antara lain:

1. Mempersiapkan rencana pembelajaran

2. Pelaksanaan tindakan

3. Pengumpulan data

4. Refleksi

39
Berikut ini desain pelaksanaan perbaikan pada mata pelajaran
Matematika tentang materi alat ukur (panjang, berat, dan waktu) kelas II.

Gambar 3. 2: Desain Pelaksanaan Perbaikan

40
Deskripsi Tiap Siklus
Prosedur perbaikan yang dilakukan penulis dalam perbaikan
pembelajaran matematika tentang materi alat ukur (panjang, berat, dan
waktu) dilaksanakan melalui dua siklus, yaitu:

1. Perbaikan Pembelajaran Siklus I

a. Tahap perencanaan meliputi:


1. Menyusun RPP.

2. Menentukan media pembelajaran.

3. Menyusun Lembar Kerja.

4. Kolaborasi dengan teman sejawat.

5. Membuat butir soal.

b. Tahap pelaksanaan

Pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan dengan media


pembelajaran benda konkret, dengan rincian sebagai berikut:

1. Guru memulai pembelajaran dengan cara mengingatkan kembali


materi sebelumnya dan siswa mendengarkan.

2. Guru memulai tanya jawab seputar alat ukur (panjang, berat, dan
waktu).

3. Guru meminta siswa untuk menyebutkan jenis alat ukur yang akan
digunakan dalam pengukuran panjang beberapa benda (satuan
baku yaitu meter atau sentimeter).

4. Guru mendemonstrasikan alat ukur (panjang, berat, dan waktu),


dengan penggaris melakukan pengukuran benda yang ada di
sekitar kelas.

5. Siswa diminta melakukan hal yang sama, menyebutkan hasil ukur,


dan merubah satuan panjang.

6. Siswa ditugaskan untuk mengukur beberapa benda menggunakan


penggaris dan menulis hasil ukur pada buku tugas.

41
7. Siswa melatih kemampuannya dengan mengerjakan soal latihan
yang terdapat pada buku tematik terpadu 2E.

8. Siswa mengerjakan soal-soal latihan (buku tematik terpadu 2E)


dalam buku tugas untuk melatih pengetahuan yang telah mereka
pelajari dan membahas bersama.

9. Guru memberikan soal evaluasi untuk mengetahui pemahaman


siswa tentang alat ukur (panjang, berat, dan waktu).

c. Tahap Observasi

Pengamatan dilakukan dengan cara melakukan pengamatan


terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan berpedoman pada lembar
observasi yang telah disiapkan. Pengamatan dilakukan terhadap
kinerja guru saat melakukan pembelajaran dan keaktifan siswa selama
pembelajaran berlangsung dengan memberikan checklist sesuai
dengan kondisi pembelajaran yang sesungguhnya. Pengamatan
dilakukan oleh supervisor 2.

d. Tahap Refleksi

Refleksi terhadap kinerja siswa dalam menyelesaikan soal tes


akhir dan kinerja guru dalam pembelajaran. Dalam kegiatan ini
penulis dibantu oleh supervisor 2, adapun hasilnya:

1. Menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat menggunakan


media pembelajaran berupa gambar dalam penyampaian materi
alat ukur pada mata pelajaran Matematika.

2. Melakukan refleksi terhadap penerapan media benda konkret untuk


mempertimbangkan langkah pembelajaran selanjutnya.

3. Melakukan refleksi terhadap keaktifan siswa dalam pembelajaran


Matematika,dan melakukan refleksi terhadap hasil belajar siswa.

4. Berdasarkan hasil refleksi, kekurangan yang belum bisa diatasi


pada Siklus I akan diperbaiki pada Siklus II.

42
2. Perbaikan Pembelajaran Siklus II

a. Tahap perencanaan meliputi:

1. Menyusun RPP.

2. Menentukan model pembelajaran.

3. Menyusun Lembar Kerja.

4. Kolaborasi dengan teman sejawat.

5. Membuat butir soal.

b. Tahap pelaksanaan

Pelaksanaan pembelajaran dilaksanakan dengan media


pembelajaranmenggunakan benda konkret, dengan rincian sebagai
berikut:

1. Guru memulai pembelajaran dengan cara mengingatkan kembali


materisebelumnya dan siswa mendengarkan.

2. Guru memulai tanya jawab seputar alat ukur (panjang, berat, dan
waktu).

3. Guru meminta siswa untuk menyebutkan jenis alat ukur yang akan
digunakan dalam pengukuran panjang beberapa benda (satuan
baku yaitu meter atau sentimeter).

4. Guru mendemonstrasikan alat ukur (panjang, berat, dan waktu),


dengan penggaris, meteran pita, dan meteran roll kecil melakukan
pengukuran benda yang ada di sekitar kelas.

5. Siswa diminta melakukan hal yang sama, menyebutkan hasil ukur,


dan merubah satuan panjang.

6. Siswa ditugaskan bersama teman sebangku untuk mengukur


beberapa benda menggunakan penggaris, meteran pita, meteran
roll kecil dan menulis hasil ukur pada buku tugas.

7. Siswa melatih kemampuannya dengan mengerjakan soal latihan


yang terdapat pada buku tematik terpadu 2E.

43
8. Siswa mengerjakan soal-soal latihan (buku tematik terpadu 2E)
dalam buku tugas untuk melatih pengetahuan yang telah mereka
pelajari dan membahas bersama.

9. Guru memberikan soal evaluasi untuk mengetahui pemahaman


siswa tentang alat ukur (panjang, berat, dan waktu).

c. Tahap Observasi

Pengamatan dilakukan dengan cara melakukan pengamatan


terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan berpedoman pada lembar
observasi yang telah disiapkan. Pengamatan dilakukan terhadap
kinerja guru saat melakukan pembelajaran dan keaktifan siswa selama
pembelajaran berlangsung dengan memberikan checklist sesuai
dengan kondisi pembelajaran yang sesungguhnya. Pengamatan
dilakukan oleh supervisor 2.

d. Tahap Refleksi

Refleksi terhadap kinerja siswa dalam menyelesaikan soal tes


akhir dan kinerga guru dalam pembelajaran. Dalam kegiatan ini
penulis dibantu oleh supervisor 2. Adapun hasilnya:

1. Menganalisis kelemahan dan keberhasilan guru saat menggunakan


media pembelajaran berupa benda konkret dalam penyampaian
materi alat ukurpada mata pelajaran Matematika.

2. Melakukan refleksi terhadap keaktifan siswa dalam pembelajaran


Matematika, dan melakukan refleksi terhadap hasil belajar siswa.

3. Melakukan refleksi terhadap penerapan media pembelajaran


menggunakan benda konkret dengan mempertimbangkan
kerjasama antar siswa dalam melaksanakan diskusi.

4. Menganalisis hasil akhir penelitian.

44
C. Teknik Analisis Data
1. Kuantitatif
Kuantitatif adalah suatu pendekatan yang juga disebut
pendekatan investigasi karena biasanya penelitinya mengumpulkan data
dengan cara bertatap muka langsung dan berinteraksi dengan orang-
orang ditempat penelitian.
Penilaian hasil belajar siswa diperoleh dari soal-soal Latihan
yang diberikan pada pelaksanaan perbaikan setiap siklus. Soal-soal
Latihan yang diberikan kepada siswa berupa tes tertulis. Dari hasil
penilaian terhadap soal-soal Latihan tes tertulis tersebut maka akan
diketahui data ketuntasan hasil belajar siswa. Ketuntasan hasil belajar
siswa diperoleh dengan rumus :

Nilai Akhir = Jumlah skor yang diperoleh siswa x 100%


Jumlah skor maksimum

2. Kualitatif
Pada penelitian ini terdapat data kualitatif berupa hasil observasi
aktifitas siswa dan hasil observasi kinerja guru dalam pembelajaran
Matematika serta hasil belajar siswa dengan menggunakan analisis
deksriptif kualitatif. Melalui observasi terhadap aktivitas siswa
dilaksanakan pada saat pembelajaran, untuk mengetahui keterlibatan
siswa dalam pembelajaran, sedangkan observasi terhadap kinerja guru
dapat diperoleh data melalui kelebihan dan kekurangan guru dalam
proses pembelajaran. Data kualitatif menunjukkan adanya peningkatan
keaktifan siswa dalam pembelajaran, ketertarikan siswa dalam
pembelajaran, serta keterampilan guru dalam menggunakan media
benda konkret.

D. Implementasi Pembelajaran
Untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam pembelajaran
matematika tentang materi alat ukur (panjang, berat, dan waktu) melalui

45
media benda konkret pada siswa kelas II di SDIT Hidayatut Taufiq Bekasi,
guru memberikan [Link] bimbingan yang diberikan yaitu:

1. Pemberian tes awal yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana


kemampuan siswa memahami materi yang akan disampaikan.

2. Penggunaan media pembelajaran yang tepat dalam meningkatkan


kemampuansiswa dalam menyelesaikan soal cerita. Dalam hal ini media
pembelajaran yang digunakan yaitu media pembelajaran menggunakan
benda konkret.

3. Penggunaan media yang tepat. Adapun media yang digunakan adalah


gambar jenis-jenis alat ukur dan benda konkret seperti penggaris,
meteran pita, dan meteran roll kecil. Guru memberikan materi
pengukuran panjang benda dengan satuan baku. Hal ini dapat
melibatkan siswa secara langsung dalam penyelesaian soal tersebut.

4. Guru menjelaskan kepada siswa tentang materi pengukuran panjang


benda dengan satuan baku. Setelah guru mengetahui bahwa siswa kurang
mampu memamahi materi yang diberikan sebagai tes awal, guru
menjelaskan cara mengukur benda yang ada di sekitar kelas dengan
langkah-langkah sebagai berikut: menggunakan penggaris untuk
mengukur sebuah buku tulis, menentukan titik awal (nol) pada ujung
buku, menentukan hasil ukur dengan melihat batas akhir ujung satunya
dari buku dan merubahnya dalam satuan baku.

46
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran


Penelitian tindakan kelas melalui model pembelajaran langsung
dengan media benda konkret pada mata pelajaran Matematika materi alat
ukur (panjang, berat, dan waktu) yang dilaksanakan di kelas II pada
semester II SDIT Hidayatut Taufiq Bekasi. Penelitian dilaksanakan dalam
dua siklus, setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Setiap pertemuan diberi
alokasi waktu 2x35 menit (2 jam pelajaran). Setiap siklus terdapat
pelaksanaan tindakan, observasi guru, observasi siswa, dan angket sikap
kerja keras siswa. Satu siklus terdiri dari tahap perencanaan, tindakan,
observasi dan refleksi.
Prestasi belajar siswa dapat dilihat dari hasil evaluasi berupa tes
tertulis yang dilaksanakan pada setiap akhir siklus. Observasi dilakukan
untuk mengetahui aktivitas guru dan aktivitas siswa dalam pelaksanaan
pembelajaran. Hasil penelitian dari setiap siklus dapat dideskripsikan,
dianalisis, dan direfleksi dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana
kekurangan dan kelebihan dalam kegiatan pembelajaran, untuk
mempermudah kegiatan pembelajaran selanjutnya.

Pelaksanaan Siklus
Pada pelaksanaan Siklus I dan siklus II dapat diuraikan sebagai
berikut:

1. Siklus I

Kegiatan yang dilaksanakan pada siklus I, yaitu memperbaiki


hasil pembelajaran Matematika pada materi alat ukur (panjang, berat,
dan waktu). Langkah-langkah yang dilaksanakan dalam perbaikan
pembelajaran siklus I adalah:

a. Kegiatan awal (Pembukaan)

1) Diawali dengan salam dan dilanjutkan dengan membaca Do’a.

47
(Orientasi)

2) Mengaitkan Materi Sebelumnya dengan Materi yang akan


dipelajari dan diharapkan dikaitkan dengan pengalaman peserta
didik. (Apersepsi)

3) Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran


yang akandipelajari dalam kehidupan sehari-hari. (Motivasi)

b. Kegiatan Inti

1) Guru memulai pembelajaran dengan cara mengingatkan kembali


materi sebelumnya dan siswa mendengarkan.

2) Guru memulai tanya jawab seputar alat ukur (panjang, berat, dan
waktu).

3) Guru meminta siswa untuk menyebutkan jenis alat ukur yang akan
digunakan dalam pengukuran panjang beberapa benda. (satuan
baku yaitu meter atau sentimeter)

4) Guru mendemonstrasikan alat ukur (panjang, berat, dan waktu)


dengan penggaris melakukan pengukuran benda yang ada di sekitar
kelas.

5) Siswa diminta melakukan hal yang sama, menyebutkan hasil ukur,


dan merubah satuan panjang.

6) Siswa ditugaskan untuk mengukur beberapa benda menggunakan


penggaris dan menulis hasil ukur pada buku tugas.

7) Siswa mengerjakan soal-soal latihan (buku tematik terpadu 2E)


dalam buku tugas untuk melatih pengetahuan yang telah mereka
pelajari dan membahas bersama.

8) Guru memberikan soal evaluasi untuk mengetahui pemahaman


siswa tentang alat ukur (panjang, berat, dan waktu).

c. Kegiatan akhir (Penutup)

1) Siswa membuat kesimpulan kegiatan hari ini.

48
2) Siswa menuliskan refleksi dari kegiatan yang telah dilakukan.

3) Bersama-sama membaca doa selesai belajar.

2. Siklus II

Kegiatan yang dilaksanakan pada Siklus II yaitu, memperbaiki


pembelajaran sesuai tujuan perbaikan meningkatkan pembelajaran
Matematikapada materi alat ukut (panjang, berat, dan waktu). Langkah-
langkah yang dilaksanakan dalam perbaikan pembelajaran siklus II
adalah:

a. Kegiatan Awal (Pembuka)

1) Diawali dengan salam dan dilanjutkan dengan membaca Do’a.


(Orientasi)

2) Mengaitkan Materi Sebelumnya dengan Materi yang akan


dipelajari dan dikaitkan dengan pengalaman peserta didik.
(Apersepsi)

3) Memberikan gambaran tentang manfaat mempelajari pelajaran


yang akan dipelajari dalam kehidupan sehari-hari. (Motivasi)

b. Kegiatan Inti

1) Guru memulai pembelajaran dengan cara mengingatkan kembali


materi sebelumnya dan siswa mendengarkan.

2) Guru memulai tanya jawab seputar alat ukur (panjang, berat, dan
waktu).

3) Guru meminta siswa untuk menyebutkan jenis alat ukur yang akan
digunakan dalam pengukuran panjang beberapa benda. (satuan
baku yaitu meter atau sentimeter)

4) Guru mendemonstrasikan alat ukur (panjang, berat, dan waktu),


dengan penggaris, meteran pita, dan meteran roll kecil melakukan
pengukuran benda yang ada di sekitar kelas.

5) Siswa diminta melakukan hal yang sama, menyebutkan hasil ukur,


dan merubah satuan panjang.

49
6) Siswa ditugaskan bersama teman sebangku untuk mengukur
beberapa benda menggunakan penggaris, meteran pita, meteran
roll kecil dan menulis hasil ukur pada buku tugas.

7) Siswa mengerjakan soal-soal latihan (buku tematik terpadu 2E)


dalam buku tugas untuk melatih pengetahuan yang telah mereka
pelajari dan membahas bersama.

8) Guru memberikan soal evaluasi untuk mengetahui pemahaman


siswa tentang alat ukur (panjang, berat, dan waktu).

c. Kegiatan Akhir (Penutup)

1) Siswa membuat kesimpulan kegiatan hari ini.

2) Siswa menuliskan refleksi dari kegiatan yang telah dilakukan.

3) Bersama-sama membaca doa selesai belajar.

Pembahasan dari Setiap Siklus


Kondisi awal dalam penelitian ini dijumpai adanya permasalahan
yaitu prestasi belajar Matematika siswa kelas II SDIT Hidayatut Taufiq
belum memuaskan karena rata-rata hasil ulangan harian pada materi alat
ukur (panjang, berat, dan waktu) adalah 54, sedangkan Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM) mata pelajaran Matematika adalah 70. Di samping itu,
mata pelajaran Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang
paling ditakuti oleh siswa dan termasuk dalam mata pelajaran Ujian Akhir
Sekolah.

Hal lain yang ditemukan dalam kondisi awal yaitu sebagian siswa
beranggapan bahwa Matematika merupakan mata pelajaran yang tidak
menarik, sulit, dan membosankan, serta menakutkan. Proses pembelajaran
Matematika juga kurang kondusif, guru masih sering mengalami kesulitan
dalam menanamkan konsep-konsep dasar Matematika kepada siswa,
khususnya pada konsep alat ukur, guru belum mampu membuat dan atau
menggunakan alat peraga yang sesuai untuk membantu menanamkan
konsep-konsep Matematika.

50
Melihat kondisi seperti tersebut di atas guru mulai berfikir
bagaimana agarkondisi tersebut dapat teratasi. Guru mulai mengidentifikasi
permasalahan yang ada dalam proses pembelajaran. Guru mengadakan
diskusi dengan teman sejawat serta Kepala Sekolah untuk memecahkan
permasalahan tersebut. Akhirnya, dapat ditemukan sebuah gagasan baru
untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Penggunaan media pembelajaran benda konkret dapat digunakan dalam


pembelajaran Matematika pada materi alat ukur (panjang, berat, dan
waktu).

1. Kenaikan Nilai Rata-Rata dan Prosentase Ketuntasan

Suatu refleksi dan gambaran bahwa strategi pembelajaran yang


diterapkan dalam rangka memperbaiki pembelajaran Matematika di kelas
II SDIT Hidayatut Taufiq Bekasi berhasil baik. Hal ini dapat dilihat dari
nilai yang dicapai oleh peserta didik secara umum meningkat dan nilai
rata-rata cenderung meningkat pada siklus I dan II serta jumlah dan
persentase peserta didik yang tuntas belajar juga meningkat dari siklus I
ke siklus II. Hasil penelitian tersebut dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4. 1: Hasil Nilai Evaluasi Belajar Mata Pelajaran Matematika

No. Nama Siswa Prasiklus Siklus 1 Siklus II


1 Afzal Hibratul Hafidz 60 70 80
2 Aisya Dzulfa Karima 80 90 100
3 Allea Dea Nanda 40 50 70
4 Anindhita Kirana 60 70 80
5 Andi Azzam Asytar R. 50 70 70
6 Asyifa Dwi Oktafiana 60 80 90
7 Aulya Fathiyaturahma 50 60 70
8 Ballighni Munayya 70 80 90
9 Bazla Esa Al Rais 60 70 80
10 Dafa Anugrah Ramadhan 80 90 100
11 Dhika Dwi Pratama 40 50 70
12 Dista Asyafarah 60 70 80
13 Irfan Abdul Rahman 30 40 50
14 Indra Nugroho 50 70 70
15 Jasmine Amora 60 70 80
16 Kaila Anggraeni 70 80 80

51
17 Kaizar Junior 70 90 100
18 Karenina Zievanka Ariyanto 40 50 70

Jumlah 1.990 2.460 2.870


Rata-rata 53,8 66,5 77,6
Nilai Terendah 20 40 50
Nilai Tertinggi 80 90 100
Prosentase 24,32% 62,16% 91,89%

Tabel 4. 2: Perbandingan Nilai Rata-rata dan Prosentase


Ketuntasan Persiklus

Siklus Nilai rata-rata Prosentasi Ketuntasan


Prasiklus 53,8 24,32%
Siklus I 66,5 62,16%
Siklus II 77,6 91,89%

52
Grafik 4. 1: Perbandingan Nilai Rata-rata dan Prosentase Ketuntasan
Persiklus

100
90
80
70
60
50
Nilai Rata-rata
40
Prosentase Ketuntasan
30
20
10
0

Prasiklus Siklus I Siklus II

Berdasarkan Tabel 4.1, Tabel 4.2, dan grafik 4.1 dapat


dideskripsikan sebagai berikut:

a. Prosentase kenaikan nilai rata-rata

Prosentase nilai rata-rata dari prasiklus sampai siklus II


menunjukkan peningkatan yang signifikan. Nilai rata-rata pada
prasiklus sebesar 53,8, nilai rata- rata pada siklus I sebesar 66,5 dan
nilai rata-rata sampai pada siklus II sebesar 77,7. Artinya terdapat
kenaikan nilai rata-rata dari prasiklus sampai ke siklus II yang sangat
berarti dan signifikan, sehingga dapat dikatakan hasil belajar siswa
dalam pelajaran Matematika tentang alat ukur (panjang, berat, dan
waktu) melalui media benda konkret meningkat.

b. Prosentase ketuntasan pada per siklus

Prosentase ketuntasan dari prasiklus sampai siklus II


menunjukkan peningkatan yang signifikan. Prosentase ketuntasan
pada prasiklus sebesar 24,32% atau hanya 9 siswa yang tuntas
belajarnya, sedangkan 28 siswa lainnya belum tuntas dengan Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 70. Prosentase ketuntasan pada
siklus I sebesar 62,16% atau sekitar 23 siswa tuntas dalam belajar,

53
sedang 14 siswa lainnya belum tuntas. Prosentase ketuntasan pada
siklus II sebesar 91,89% atau sekitar 34 siswa yang tuntas dalam
belajar dan sekitar 3 siswa belum tuntas dalam sampai siklus II.
Kenaikan ketuntasan belajar siswa dari prasiklus sampai siklus II dari
hanya 9 siswa yang tuntas hingga mencapai 34 siswa yang tuntas, atau
ada kenaikan ketuntasan sebesar 67,57%. Dari jumlah siswa pada
prasiklus kenaikan nilai rata-rata dari prasiklus sampai ke siklus II
yang sangat berarti dan signifikan, sehingga dapat dikatakan hasil
belajar siswa pada pelajaran Matematika tentang materi alat ukur
(panjang, berat, dan waktu) melalui media benda konkret meningkat.
Dapat disimpulkan sekitar 91,89% siswa tuntas dalam belajar
sehingga melalui media benda konkret hasil belajar siswa tentang
Matematika pada materi alat ukur (panjang, berat, dan waktu)
meningkat.

2. Peningkatan Aktivitas Belajar Siswa

Aktivitas belajar siswa diperoleh melalui teknik observasi yang


dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar per siklus. Aktivitas
belajar siswa dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4. 3: Aktivitas Belajar Siswa

Siklus Prasiklus Siklus I Siklus II

Bertanya 2.1 3.1 4.2

Keaktifan 2.2 3.1 4.0

Motivasi 2.1 3.1 4.1

Tanggung Jawab 2.1 3.2 4.2

Rata-rata 2.1 3.1 4.1

54
Grafik 4. 2: Aktivitas Belajar Siswa

4.5
4.0
3.5
3.0
2.5
Prasiklus
2.0 Siklus I
1.5 Siklus II
1.0
0.5
0.0
Bertanya Keaktifan Motivasi Tanggung Rata-rata
Jawab

Skala yang digunakan adalah skor 1= kurang sekali, skor 2 =


kurang, skor 3 = cukup, skor 4 = baik, dan skor 5 = sangat baik.
Berdasarkan data pada tabel 4.3 dan diagram 4.3 di atas dapat dikemukakan
sebagai berikut:

a. Aktivitas bertanya pada prasiklus terbilang rendah, dengan memperoleh


skor rata-rata 2,1 dengan skala 1 sampai 5 dan setara dengan 42,70%.
Aktivitas bertanya pada siklus I mulai meningkat dengan memperoleh
rata-rata 3,1 dengan skala 1 sampai 5 dan setara dengan 61,62%.
Aktivitas bertanya pada siklus II meningkat dengan memperoleh rerata
4,2 pada skala 1 sampai 5 dan setara 83,78%.

b. Aktivitas kerjasama pada prasiklus terbilang rendah, dengan memperoleh


skor rerata 2,2 dengan skala 1 sampai 5 dan setara dengan 43,24%.
Aktivitas kerjasama pada siklus I mulai meningkat dengan memperoleh
rerata 3,1 dengan skala 1 sampai 5 dan setara dengan 62,70%. Aktivitas
kerjasama pada siklus II meningkat dengan memperoleh rerata 4,0 pada
skala 1 sampai 5 dan setara 81,08%.

c. Motivasi siswa pada prasiklus terbilang rendah, dengan memperoleh


skor rerata 2,1 dengan skala 1 sampai 5 dan setara dengan 42,16%.
Motivasi siswa pada siklus I mulai meningkat dengan memperoleh rerata

55
3,1 dengan skala 1 sampai 5 dan setara dengan 62,16%. Motivasi siswa
pada siklus II meningkat dengan memperoleh rerata 4,1 pada skala 1
sampai 5 dan setara 81,62%.

d. Sikap tanggung jawab pada prasiklus terbilang rendah, dengan


memperoleh skor rerata 2,1 dengan skala 1 sampai 5 dan setara dengan
42,70%. Sikap tanggung jawab pada siklus I mulai meningkat dengan
memperoleh rerata 3,2 dengan skala 1 sampai 5 dan setara dengan
63,24%. Sikap tanggung jawab pada siklus II meningkat dengan
memperoleh rerata 4,2 pada skala 1 sampai 5dan setara 84,32%.

Berdasarkan data aktifitas pada siklus II dapat dihasilkan rata-rata


sebesar 4,1 atau sebesar 82,70%, dapat dikatakan bahwa melalui media
pembelajaran menggunakan benda konkret aktivitas bertanya siswa,
aktivitas bekerja sama, motivasi siswa, dan sikap tanggung jawab
menjadi meningkat secara signifikan dengan kategori sangat baik.

B. Pembahasan Hasil Penelitian Perbaikan Pembelajaran


Dari hasil temuan dan refleksi dapat disimpulkan oleh penulis,
bahwa perlu merefleksi diri untuk mengetahui secara langsung kekurangan
baik dari peserta didik maupun guru yang mengajar. Keberhasilan
ditunjukkan dengan adanya kemajuan yang bermakna dari Siklus I sampai
Siklus II.

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil diskusi dengan teman


supervisor 2 dalam pembahasannya yang mengacu pada hasil analisis
evaluasi di atas dapat ditemukan beberapa hal sebagai berikut :

a. Model pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran Matematika


adalah suatu cara memberikan kesempatan pada peserta didik secara
perorangan/kelompok untuk melatih melakukan suatu proses
pembelajaran.

b. Melalui media pembelajaran menggunakan benda konkret siswa terlibat


aktif dan bekerja sama dalam kegiatan belajar.

c. Media pembelajaran menggunakan benda konkret mendorong dan

56
mengarahkan peserta didik untuk melibatkan diri secara aktif dalam
proses belajar mengajar.

d. Media pembelajaran menggunakan benda konkret memberikan


pemahaman kepada peserta didik untuk menguasai pelajaran Matematika
dalam materi alat ukur (panjang, berat, dan waktu).

Identifikasi permasalahan yang dihadapi selama proses


pembelajaran selama ini yaitu:

1. Guru kesulitan menggunakan/membuat media pembelajaran yang sesuai


dengan materi pembelajaran.

2. Guru kesulitan melatih kemandirian belajar siswa.

3. Guru kesulitan membuat lembar kerja siswa yang sesuai dengan


karakteristiksiswa kelas rendah.

4. Guru kesulitan mengembangkan materi pembelajaran yang sesuai


dengan karakteristik siswa kelas rendah.

5. Guru kesulitan melaksanakan pembelajaran yang menyenangkan siswa.

6. Guru disibukkan dengan administrasi sekolah yang terlalu banyak.

57
BAB V

SIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT

A. Simpulan
Berdasarkan rumusan masalah dan hasil analisis serta hasil yang
diperoleh dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran matematika pada
peserta didik kelas II SDIT Hidayatut Taufiq Bekasi dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut:

Bahwa perbaikan pembelajaran matematika materi tentang alat


ukur (berat, panjang, dan waktu) peserta didik kelas II SDIT Hidayatut
Taufuq Bekasi yang dilakukan masing-masing 2 siklus berhasil dengan baik
yang ditunjukan adanya peningkatan hasil belajar peserta didik baik dilihat
dari nilai minimum, maksimum dan nilai rata-rata yang dicapai peserta
didik pada mata pelajaran matematika setelah perbaikan pembelajaran.

Kriteria keberhasilan tindakan yang dicapai dengan baik yang


ditunjukan oleh peningkatan hasil rata-rata yang dicapai peserta didik baik
pada mata pelajaran matematika tentang materi alat ukur (berat, panjang,
dan waktu), pada siklus 2 (nilai rata-rata ≥ 77 atau dengan pencapaian
91%), dan peningkatan jumlah dan presentasi peserta didik yang tuntas
belajar atau mencapai KKM pada siklus 2 sebesar 91,89% atau setara
dengan 34 peserta didik dari 37 peserta didik kelas II SDIT Hidayatut
Taufiq Bekasi.

B. Saran dan Tindak lanjut


Berdasarkan kesimpulan tersebut, ada beberapa hal yang perlu
dilakukan dan ditingkatkan oleh guru dalam proses pembelajaran di dalam
kelas agar siswa aktif, kreatif, dan menyenangkan adalah :

1. Bagi guru

a. Guru harus memilih model pembelajaran sesuai teori yang akan


diajarkan.

58
b. Guru harus mampu menggunakan media pembelajaran yang
bervariasi agar tidak monoton, dan tidak membosankan.

c. Guru harus menguasai materi pembelajaran agar penyampaian materi


lebih maksimal kepada siswa kelas II.

d. Guru harus menguasai karakteristik pemahaman peserta didik


dikarenakan setiap peserta didik memiliki pemahaman yang berbeda-
beda tingkatannya.

e. Guru harus memiliki kemampuan dalam menguasai keterampilan


dasar seperti keterampilan bertanya, keterampilan memberikan
penguatan, keterampilan mengadakan variasi, kemampuan
menjelaskan, keterampilan membuka, dan menutup pelajaran.

2. Bagi Siswa

a. Siswa tidak perlu takut dalam belajar Matematika karena mata


pelajaran Matematika lebih mudah dipelajari.

b. Gunakanlah alat bantu yang menurut Kalian akan mempermudah


dalam memahami konsep matematika serta jangan ragu-ragu untuk
melakukan inovasi dan mengembangkan kreativitas.

3. Bagi Sekolah

a. Sekolah hendaknya selalu memberi dukungan kepada guru dalam


melaksanakan inovasi pembelajaran, serta dapat memfasilitasi segala
kebutuhan yang diperlukan guru guna memperlancar proses
pembelajaran dengan menggunakan ”Media Pembelajaran Benda
Konkret”.

b. Sekolah perlu memberi kesempatan kepada guru untuk senantiasa


meningkatkan kemampuan, mengembangkan profesinya baik melalui
pelatihan, penataran, ataupun mengikuti kegiatan KKG.

Sebagai tindak lanjut hendaknya guru senantiasa berupaya untuk


meningkatkan kualitas pembelajaran dengan melakukan perbaikan
pembelajaran secara berkelanjutan, kelompok kerja guru seharusnya tetap

59
melakukan diskusi-diskusi agar dapat mengidentifikasi dan mengenal
masalah-masalah yang dihadapi di ruang kelas yang dapat dipecahkan
dengan pendekatan PTK sehingga akhirnya setiap guru dapat meningkatkan
kopetensi dan kemampuan profesionalnya dalam menjalankan tugas sehari-
hari.

60
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Johar. 2017. SPSS 24 untuk Penelitian dan Skripsi. Jakarta: PT Elex
Media Komputindo

Arsyad, Azhar. 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada Crow
and Crow. 1984. Educational Psychology. Dalam Sriyanti, Lilik.
2013. Psikologi Belajar. Yogyakarta: Ombak Bandung: Remaja
Rosdakarya.

Departemen Agama RI. 2007. Al Quran dan Terjemahnya. Bandung: Sygma

Djamarah, Syaiful Bahri. 2005. Guru dan Anak Didi. Jakarta: PT Rineka Cipta

Djamarah, Syaiful, Bahri dan Zain Aswan, 2010. Strategi Belajar Mengajar.
Jakarta: PT Rineka Cipta

Heruman. 2010. Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar.

Hosnan. 2014. Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran

Abad
21. Bogor : Ghalia Indonesia.

[Link] diakses tanggal


15 Maret 2021

Ibrahim dan Supami. 2009. Strategi Pembelajaran. Yogyakarta: Teras

Ismunamto, dkk. 2011. Ensiklopedia Matematika. Jakarta:Lentera Abadi. Mulyani


Sumantri, Media Pembelajaran, (Bandung: Bumi aksara, 2007),
Poerwadarminta. (2006). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta :
Balai Pustaka

Mulyani, Sumantri & Permana. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: CV.
Maulana

Prabowo, A & Rahmawati U. (2013). Kamus Pintar Matematika. Surakarta:


Pustaka Makmur

Purwanto. 2009. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Belajar Silberman,


61
Melvin L. (2009). Active Learning: 101 Cara Belajar Siswa Aktif
(Alih bahasa: Raisul Muttaqien). [Link]. Bandung: Nusamedia.

Sriyanti, Lilik. 2011. Psikologi Belajar. Salatiga: STAIN Salatiga Press. Syah,
Muhibbin. 2013. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Trianang, Media Konkrit,


dalam
[Link]
[Link] diakses tanggal 9 April 2021

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2006 tentang Ujian


Nasional tahun Pelajaran 2006/2007. 2006. Jakarta: Depdiknas.

Wina Sanjaya, Media Komunikasi Pembelajaran, (Jakarta: Kencana Pernada


Media Group, 2012), hlm.57

62
Lampiran 1

RANCANGAN SATU SIKLUS

Siklus : I (Pertama)

Semester II

Tema : Pengalamanku

SubTema : Pengalaman di Tempat

Bermain Hari/Tanggal : 25 April – 10 Mei

2022

A. Tujuan Perbaikan

Meningkatkan pemahaman siswa tentang alat ukur (panjang, berat, dan


waktu) melalui media benda konkret.

B. Identifikasi Masalah

1. Tidak menggunakan media dalam pembelajaran

2. Siswa pasif dan tidak terlibat aktif dalam pembelajaran

3. Kegiatan pembelajaran kurang menarik.

4. Motivasi belajar siswa rendah

5. Hasil belajar siswa rendah

C. Analisis Masalah

Berdasarkan hasil identifikasi masalah, maka dapat diperoleh analisis


masalahnya yaitu kurangnya minat dan motivasi siswa dalam kegiatan
pembelajaran. Hal ini disebabkan karena media dan metode yang
digunakan kurang menarik dan kurang jelas.

D. Perumusan Masalah

1. Apakah penggunaan media dapat meningkatkan hasil belajar siswa?

2. Bagaimana pengaruh media terhadap peningkatan hasil belajar


siswa pada mata pelajaran Matematika tentang alat ukur (panjang,

63
berat, dan waktu)?

64
Lampiran 2

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

SIKLUS 1

Satuan Pendidikan : SDIT Hidayatut

Taufiq Kelas/Semester : 2/2 (dua)

Tema : Pengalamanku (2E)

SubTema : 3 (Pengalaman di Tempat Bermain)

Waktu : 1 x pertemuan (2 x 35 menit)

Pertemuan ke 3

A. Kompetensi Inti
1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.

2. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli,


dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan
guru.

3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati


[mendengar, melihat, membaca] dan bertanya berdasarkan rasa
ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya,
dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah, dan di
tempat bermain.

4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis,


dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak
sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak
beriman dan berakhlak mulia.

B. Kompetensi Dasar dan IndikatorMatematika


Kompetensi Dasar

3.6 Menjelaskan dan menentukan panjang (termasuk berat), berat, dan


waktu dalam satuan baku, yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

65
4.6 Melakukan pengukuran panjang (termasuk jarak), berat, dan
waktu dalam satuan baku, yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Indikator:
3.6.1 Menentukan panjang (termasuk jarak), berat, dan waktu dalam
satuan baku, yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari degan benar.

3.6.2 Menjelaskan panjang (termasuk jarak), berat, dan waktu dalam


satuan baku, yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari degan benar.

4.6.1 Mempraktikkan pengukuran panjang (termasuk jarak), berat, dan


waktu dalam satuan baku, yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari
dengan tepat.

4.6.2 Mempresentasikan hasil identifikasi pengukuran panjang


(termasuk jarak), berat, dan waktu dalam satuan baku, yang berkaitan
dengan kehidupan sehari-hari dengan tepat.

C. Tujuan Pembelajaran:
a. Tujuan Pembelajaran

1. Dengan mengamati, siswa mampu menyelesaikan operasi hitung


tentang berat suatu benda.

2. Dengan mengamati gambar, siswa dapat menentukan konversi


satuan panjang (cm, m) dengan tepat.

3. Dengan mengerjakan soal latihan, siswa dapat mengukur


panjang benda dengan satuan baku yang sering digunakan
(misalnya cm dan m)dengan tepat.

b. Perbaikan Tujuan Pembelajaran


1. Dengan menjelaskan cara mengukur dan mendemonstrasikan
dengan menggunakan benda konkret menyesuaikan dengan alat
ukur (panjang, berat, dan waktu) yang digunakan.

D. Materi Pembelajaran :
1. Menyelesaikan operasi hitung tentang berat dan panjang suatu
benda.

66
2. Pengukukuran Panjang benda denga satuan baku (cm, m).

E. Pendekatan dan Metode Pembelajaran


1. Pendekatan : Saintifik

2. Metode : Ceramah, Diskusi, Demonstrasi, Penugasan, dan Latihan

F. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran


KEGIATAN DEKSKRIPSI KEGIATAN ALOKASI
WAKTU

Pendahuluan 1. Diawali dengan Salam dan Dilanjutkan 10 menit


Dengan Membaca Doa.(Orientasi)

2. Mengaitkan Materi Sebelumnya dengan

Materi yang akan dipelajari dan diharapkan

dikaitkan dengan pengalaman peserta didik.


(Apersepsi)

3. Memberikan gambaran tentang manfaat


mempelajari pelajaran yang akan
dipelajaridalam kehidupan sehari- hari.
(Motivasi)

Kegiatan Inti 4. Guru memulai pembelajaran dengan cara 50 menit


mengingatkan kembali materi sebelumnya
dan siswa mendengarkan.

5. Guru memulai tanya jawab seputar alat ukur


(berat, panjang, dan waktu).

6. Guru meminta siswa untuk menyebutkan


jenis alat ukur yang akan digunakan dalam
pengukuran panjang beberapa benda. (satuan
baku yaitu meter atau sentimeter)

7. Guru mendemonstrasikan alat ukur (berat,


panjang, dan waktu), dengan penggaris

67
melakukan pengukuran benda yang ada di
sekitar kelas.

8. Siswa diminta melakukan hal yang sama,


menyebutkan hasil ukur, dan merubah satuan
panjang.

9. Siswa ditugaskan untuk mengukur beberapa


benda menggunakan penggaris dan menulis
hasil ukur pada buku tugas.

10. Siswa melatih kemampuannya dengan


mengerjakan soal latihan yang terdapat
pada buku tematik terpadu 2E.

11. Siswa mengerjakan soal-soal latihan (buku


tematik terpadu 2E) dalam buku tugas untuk
melatih pengetahuan yang telah mereka
pelajari dan membahas bersama.

12. Guru memberikan soal evaluasi untuk


mengetahui pemahaman siswa tentang alat
ukur (berat, panjang, dan waktu).

Kegiatan 13. Siswa membuat kesimpulan kegiatan hari 10 menit


Penutup ini.

14. Siswa menuliskan refleksi dari kegiatan


yang telah dilakukan.

15. Bersama-sama membaca doa selesai belajar.

G. Materi, Media, dan Sumber


1. Materi : Pengukuran panjang benda dengan satuan baku (cm, m).

2. Media : Teks bacaan, gambar, dan alat ukur panjang (penggaris).

3. Sumber : Buku Tematik Terpadu Tema Pengalamanku,

68
Pengalamankudi Tempat Bermain (2E).

H. Penilaian
1. Penilaian Pengetahuan : Mengamati siswa dalam menjawab,
memberikan tanggapan, dan memberikan latihan soal.

2. Teknik Penilaian : Tugas Individu

3. Instrumen penilaian : Soal evaluasi

4. Bentuk instrumen : Tes tertulis (skala 1—100) terlampir

Bekasi, 25 April 2022

Kepala Sekolah Guru Kelas II

Muhammad Arif, [Link] Sena Yunita

69
Lembar

Evaluasi Siklus 1

Tanggal dan
Nilai
Nama : Paraf
No. Absensi :

Kelas :

A. Berilah tanda silang (x) pada pilihan ganda a, b, atau c untuk


jawaban yang benar!

1. Yang merupakan satuan baku adalah ….

a. meter b. jengkal c. depa

2. Tali yang panjangnya 1 meter sama dengan ….

a. 10 jengkal b. 10 depa c. 100 cm

3. Garis yang panjangnya 300 cm sama dengan ….

a. 3 m b. 30 m c. 3000 m

4. Sepotong rotan panjangnya 7 meter. Panjang rotan tersebut sama


dengan….cm

a. 800 b. 600 c. 700

5. Tinggi sebuah rumah 900 cm. Tinggi rumah tersebut


sama dengan…..m.

a. 9.000 b. 9 c. 900

6. Panjang sepeda Raya adalah 125 cm itu artinya panjang sepeda


Rayaadalah ….

a. 1 m lebih 25 cm

b. 25 m lebih 1 cm

c. 125 m

70
7. Panjang sebuah tongkat 485 cm. Bila tongkat tersebut
dipotongsepanjang 255 cm. Panjang tongkat yang masih tersisa
adalah…..cm

a. 110 b. 230 c. 285

8. Panjang sebuah tiang listrik adalah 250 cm. Tiang listrik tersebut
disambung dengan tiang listrik lain yang panjangnya 125 cm. Panjang
kedua tiang listrik itu sekarang adalah….cm.

a. 225 b.375 c. 350

9. Panjang sebuah tali tambang 288 cm. Tali tambang itu dipotong untuk
mengikat sepanjang 28 cm. Panjang tali tambang yang masih tersisa
adalah …

a. 240 cm b. 250 cm c. 260 cm

10. Seekor katak naik tiang listrik setinggi 3 meter pada siang hari. Pada
malam hari katak itu turun 60 cm. Ketinggian katak itu pada hari
berikutnya adalah ….cm

a. 240 b. 280 c. 250

71
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

SIKLUS 2

Satuan Pendidikan : SDIT Hidayatut

Taufiq Kelas/Semester : 2/2 (dua)

Tema : Pengalamanku (2E)

SubTema : 3 (Pengalaman di Tempat Bermain)

Waktu : 1 x pertemuan (2 x 35 menit)

Pertemuan ke 3

A. Kompetensi Inti
1. Menerima dan menjalankan ajaran agama yang dianutnya.

2. Memiliki perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli,


dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan
guru.

3. Memahami pengetahuan faktual dengan cara mengamati


(mendengar, melihat, membaca) dan bertanya berdasarkan rasa
ingin tahu tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan dan kegiatannya,
dan benda-benda yang dijumpainya di rumah, di sekolah, dan di
tempat bermain.

4. Menyajikan pengetahuan faktual dalam bahasa yang jelas dan logis,


dalam karya yang estetis, dalam gerakan yang mencerminkan anak
sehat, dan dalam tindakan yang mencerminkan perilaku anak
beriman dan berakhlak mulia.

B. Kompetensi Dasar dan Indikator


Matematika Kompetensi Dasar

3.6 Menjelaskan dan menentukan panjang (termasuk berat), berat, dan


waktu dalam satuan baku, yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

4.6 Melakukan pengukuran panjang (termasuk jarak), berat, dan

72
waktudalam satuan baku, yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Indikator:
3.6.1 Menentukan panjang (termasuk jarak), berat, dan waktu dalam
satuanbaku, yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari degan benar.

3.6.2 Menjelaskan panjang (termasuk jarak), berat, dan waktu dalam


satuan baku, yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari degan benar.

4.6.1 Mempraktikkan pengukuran panjang (termasuk jarak), berat, dan


waktu dalam satuan baku, yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari
dengan tepat.

4.6.2 Mempresentasikan hasil identifikasi pengukuran panjang


(termasuk jarak), berat, dan waktu dalam satuan baku, yang berkaitan
dengan kehidupan sehari-hari dengan tepat.

C. Tujuan Pembelajaran:
a. Tujuan Pembelajaran

1. Dengan mengamati, siswa mampu menyelesaikan operasi hitung


tentang berat suatu benda.

2. Dengan mengamati gambar, siswa dapat menentukan konversi


satuan panjang (cm, m) dengan tepat.

3. Dengan mengerjakan soal latihan, siswa dapat mengukur


panjang benda dengan satuan baku yang sering digunakan
(misalnya cm dan m) dengan tepat.

a. Perbaikan Tujuan Pembelajaran


1. Dengan menjelaskan cara mengukur dan mendemonstrasikan
dengan menggunakan lebih dari satu benda konkret dapat
menyesuaikan dengan alat ukur (panjang, berat, dan waktu)
yang digunakan.

D. Materi Pembelajaran :
1. Menyelesaikan operasi hitung tentang berat dan panjang suatu
benda.

73
2. Pengukukuran Panjang benda denga satuan baku ( cm, m).

E. Pendekatan dan Metode Pembelajaran


1. Pendekatan : Saintifik

2. Metode : Ceramah, Diskusi, Tanya Jawab,


Demonstrasi, Penugasan,dan Latihan

F. Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran

KEGIATAN DEKSKRIPSI KEGIATAN ALOKASI


WAKTU

Pendahuluan 1. Diawali dengan Salam dan 10 menit


Dilanjutkan Dengan Membaca Doa.
(Orientasi)

2. Mengaitkan Materi Sebelumnya dengan

Materi yang akan dipelajari dan diharapkan

dikaitkan dengan pengalaman peserta didik.


(Apersepsi)

3. Memberikan gambaran tentang manfaat


mempelajari pelajaran yang akan
dipelajaridalam kehidupan sehari-hari.
(Motivasi)

Kegiatan Inti 4. Guru memulai pembelajaran dengan cara 50 menit


mengingatkan kembali materi sebelumnya
dan siswa mendengarkan.

5. Guru memulai tanya jawab seputar alat ukur


(berat, panjang, dan waktu).

6. Guru meminta siswa untuk menyebutkan


jenis alat ukur yang akan digunakan dalam
pengukuran panjang beberapa benda.
(satuan baku yaitu meter atau sentimeter)

74
7. Guru mendemonstrasikan alat ukur (berat,
panjang, dan waktu), dengan penggaris
melakukan pengukuran benda yang ada di
sekitar kelas.

8. Siswa diminta melakukan hal yang sama,


menyebutkan hasil ukur, dan merubah
satuan panjang.

9. Siswa ditugaskan untuk mengukur beberapa


benda menggunakan penggaris dan menulis
hasil ukur pada buku tugas.

10. Siswa melatih kemampuannya dengan


mengerjakan soal latihan yang terdapat
pada buku tematik terpadu 2E.

11. Siswa mengerjakan soal-soal latihan (buku


tematik terpadu 2E) dalam buku tugas untuk
melatih pengetahuan yang telah mereka
pelajari dan membahas bersama.

12. Guru memberikan soal evaluasi untuk


mengetahui pemahaman siswa tentang alat
ukur (berat, panjang, dan waktu).

Kegiatan 13. Siswa membuat kesimpulan kegiatan hari 10 menit


Penutup ini.

14. Siswa menuliskan refleksi dari kegiatan


yang telah dilakukan.

15. Bersama-sama membaca doa selesai belajar.

G. Materi, Media, dan Sumber


1. Materi : Pengukukuran panjang benda dengan satuan baku (cm, m).

2. Media : Teks bacaan, gambar, dan alat ukur panjang


(penggaris,meteran pita, dan meteran roll kecil).

75
3. Sumber : Buku Tematik Terpadu Tema Pengalamanku,
Pengalamankudi Tempat Bermain (2E).

H. Penilaian
1. Penilaian Pengetahuan : Mengamati siswa dalam menjawab,
memberikan tanggapan, dan memberikan latihan soal.

2. Teknik Penilaian : Tugas Individu

3. Instrumen penilaian : Soal evaluasi

4. Bentuk instrumen : Tes tertulis (skala 1—100) terlampir

Bekasi, 10 Mei 2022

Kepala Sekolah Guru Kelas II

Muhammad Arif, [Link] Sena Yunita

76
Lembar

Evaluasi Siklus 2

Tanggal dan
Nama : Nilai
Paraf
No. Absensi :

Kelas :

A. Berilah tanda silang (x) pada pilihan ganda a, b, atau c untuk


jawabanyang benar!

1. Yang merupakan satuan baku adalah ….

a. Meter b. Jengkal c. Depa

2. Tali yang panjangnya 1 meter sama dengan ….

a. 10 jengkal b. 10 depa c. 100 cm

3. Garis yang panjangnya 300 cm sama dengan ….

a. 3 m b. 30 m c. 3000 m

4. Sepotong rotan panjangnya 7 meter. Panjang rotan tersebut sama


dengan….cm.

a. 800 b. 600 c. 700

5. Tinggi sebuah rumah 900 cm. Tinggi rumah tersebut sama dengan
…..m.

a. 9.000 b. 9 c. 900
6. Panjang sepeda Raya adalah 125 cm itu artinya panjang sepeda Raya
adalah ….

a. 1 m lebih 25 cm

b. 25 m lebih 1 cm

c. 125 m

77
7. Panjang sebuah tongkat 485 cm. Bila tongkat tersebut dipotong
sepanjang 255 cm. Panjang tongkat yang masih tersisa adalah …..cm

a. 110 b. 230 c. 285

8. Panjang sebuah tiang listrik adalah 250 cm. Tiang listrik tersebut
disambung dengan tiang listrik lain yang panjangnya 125 cm.
Panjang kedua tiang listrik itu sekarang adalah….cm.

a. 225 b. 375 c. 350

9. Panjang sebuah tali tambang 288 cm. Tali tambang itu dipotong
untuk mengikat sepanjang 28 cm. Panjang tali tambang yang masih
tersisa adalah .…

a. 240 cm b. 250 cm c. 260 cm

10. Seekor katak naik tiang listrik setinggi 3 meter pada siang hari.
Pada malam hari katak itu turun 60 cm. Ketinggian katak itu pada
hari berikutnya adalah ….cm

a. 240 b. 280 c. 250

78
Lampiran 3

SKENARIO PERBAIKAN PRA SIKLUS DAN SIKLUS I

Siklus : Pra Siklus dan Siklus I

Hari/Tanggal : 25 April – 6 Mei 2022

A. Tujuan Perbaikan

Meningkatkan pemahaman siswa tentang materi alat ukur (panjang,


berat, dan waktu) menggunakan media benda konkret yang sesuai.

1. Kegiatan pengembangan

Kegiatan pembelajaran yang kreatif, menarik dengan media yang sesuai


dapat menarik perhatian dan minat siswa, sehingga siswa termotivasi
mengikuti kegiatan pembelajaran secara aktif.

2. Pengelolaan kelas

Untuk pelaksanaan perbaikan pembelajaran agar berlangsung dengan


baik penulis melakukan pengelolaan dan penataan kelas terlebih dahulu,
sehingga kelas menjadi nyaman dan menyenangkan.

a. Penataan meja kursi yang tadinya ditaruh menjadi tiga kelompok meja
empat, kursi tujuh, kanan, tengah, kiri di belakang, depan kelas
menjadi area circle time (area pembuka dan penutup dalam kegiatan)
sehingga anak menjadileluasa dan nyaman dalam melakukan kegiatan

b. Pengorganisasian siswa

1) Setiap kegiatan pembukaan dan penutup siswa diberi pertanyaan


pendek (kuis) sebagai penyemangat sehingga suasana belajar
menjadi menyenangkan dan hangat.

2) Dalam kegiatan inti, siswa yang dilibatkan aktif dalam


pembelajaran sehingga bisa menyatu dengan media konkret yang

79
disajikan.

B. Langkah-langkah
Perbaikan

1. Guru menyiapkan media.

2. Guru memulai pembelajaran dengan menyebutkan jenis-jenis alat


ukur.

3. Guru menampilkan teks bacaan dan gambar.

4. Guru merangsang keingin tahuan anak dengan sebuah pertanyaan


"coba apa yang kalian bisa sebutkan kegunaan alat ukur dalam
kehidupan sehari-hari kalian dari gambar tersebut?”

5. Guru meminta siswa menjawab pertanyaan yang diajukan guru.

6. Guru meminta siswa menyebutkan kembali jenis-jenis alat ukur.

7. Guru meminta siswa mengerjakan tes tertulis tentang alat ukur


yang disampaikan.

8. Guru memberikan semangat dan dorongan kepada siswa agar


melakukan kegiatan tersebut dengan baik.

C. Refleksi Kegiatan Perbaikan

Dari kegiatan perbaikan pembelajaran yang telah dilakukan, maka


penulis akan mengetahui kelebihan dan kekurangan yang timbul dari
pelaksanaan perbaikan

1. Kelebihan

a. Siswa merasa senang dan antusias setelah melihat media yang


akan digunakan karena siswa jarang menggunakannya.

b. Siswa menjadi lebih tertarik dalam mengetahui alat ukur yang


disajikan dengan media.

c. Siswa antusias dalam pembelajaran.

d. Alat yang dipakai mudah digunakan dan mudah dijumpai.

2. Kelemahan

80
a. Pada RKH I masih ada siswa yang tidak mau melakukan kegiatan
yang diminta guru.

b. Pada RKH I I-V masih ada siswa yang belum memahami materi
alat ukur (panjang, berat, dan waktu), tetapi sebagian siswa juga
sudah ada yang bisa menyebutkan alat ukur dengan benar.

81
SKENARIO PERBAIKAN SIKLUS I (RKH I)

Siklus : Siklus I

Hari/Tanggal : 25 April – 6 Mei 2022

A. Tujuan Perbaikan

Meningkatkan pemahaman siswa tentang alat ukur (panjang, berat, dan


waktu) menggunakan media yang sesuai.

B. Hal yang di Perbaiki/ditingkatkan

1. Kegiatan Pengembangan

Kegiatan yang dapat menarik minat siswa dalam memahami alat


ukur.

2. Pengelolaan Kelas

a. Guru menyiapkan media pembelajaran yang akan digunakan.

b. Posisi anak menghadap ke depan dan duduk berpasangan.

C. Langkah-langkah Perbaikan

1. Kegiatan pengembangan

Kegiatan yang dapat menarik minat anak untuk mengembangkan


pemahamannya terhadap alat ukur dengan menampilkan gambar
yang berkaitan dengan materi alat ukur.

2. Langkah-langkah perbaikan yang akan dilakukan dalam


pelaksanaan kegiatan adalah:

a. Guru menyiapkan media gambar.

b. Guru memulai pembelajaran dengan berdoa.

c. Guru menampilkan materi yang sesuai teks bacaan berupa


gambar.

d. Guru merangsang keingintahuan anak dengan sebuah pertanyaan

82
"coba apa yang kalian bisa sebutkan kegunaan alat ukur panjang
dalam kehidupan sehari-hari kalian dari gambar tersebut?”

e. Guru meminta siswa menjawab pertanyaan yang diajukan guru.

f. Guru meminta siswa menyanyi bersama tentang satuan baku


(panjang).

g. Guru meminta siswa mengerjakan tes tertulis tentang alat ukur


beserta satuan panjang yang disampaikan.

D. Refleksi Kegiatan Pra Siklus (RKH I)

1. Dalam kegiatan awal siswa merasa senang dan antusias.

2. Dalam kegiatan inti siswa lebih tertarik lagi untuk


memahami alat ukur terutama alat ukur panjang karena
disertai media gambar.

3. Dari kegiatan inti yang dilakukan media dan alat yang


digunakan sudah ada di sekolah.

83
SKENARIO PERBAIKAN SIKLUS I (RKH II)

Siklus : Siklus I (satu)

Hari/Tanggal : 25 April – 6 Mei 2022

A. Tujuan Perbaikan

Meningkatkan pemahaman siswa tentang alat ukur (panjang, berat, dan


waktu) menggunakan media dan reward.

B. Hal yang diperbaiki/ditingkatkan

1. Kegiatan Pengembangan

Kegiatan yang dapat menarik minat anak untuk memahami alat


ukur.

2. Pengelolaan kelas

a. Pada kegiatan awal dan akhir siswa duduk menghadap ke depan.

b. Pada kegiatan inti siswa diminta memilih sebuah benda yang


akan diukurbersama dengan teman sebangkunya.

C. Langkah-langkah Perbaikan

1. Kegiatan pengembangan

Kegiatan yang dapat menarik minat anak untuk mengembangkan


kemampuan pemahaman siswa dengan memberikan reward berupa
poin pada siswa yang mampu menjawab pertanyaan tentang alat
ukur dan satuan baku (panjang).

2. Langkah-langkah perbaikan yang akan dilakukan dalam


pelaksanaan kegiatan adalah:

a. Guru menyiapkan media dan reward.

b. Guru menyebutkan alat ukur dan satuan baku (panjang).

c. Guru mengajak siswa untuk berpikir kritis.

84
d. Guru meminta siswa menuliskan alat ukur beserta satuan baku
(panjang).

e. Guru meminta siswa menanyakan kembali alat ukur kepada


teman sebangku.

f. Guru memberikan pertanyaan tentang satuan panjang.

g. Guru memberikan reward berupa poin pada siswa yang dapat


menjawab.

D. Refleksi Kegiatan Siklus I (RKH II)

1. Dari kegiatan awal dibuka dengan berdoa dan bernyanyi bersama


tentang satuan baku panjang sebagai penyemangat dan membuat
minat siswa semakin besar dalam kegiatan pembelajaran.

2. Dalam kegiatan inti yaitu siswa semakin tertarik dalam terlibat aktif
di kegiatan pembelajaran dikarenakan ada reward berupa poin dan
media kreatif yang digunakan guru.

3. Alat dan media mudah didapat karena sudah tersedia di dalam


sekolah.

85
SKENARIO PERBAIKAN SIKLUS I (RKH III)

Siklus : Siklus I (satu)

Hari/Tanggal : 25 April– 6 Mei 2022

A. Tujuan Perbaikan

Meningkatkan pemahaman siswa tentang alat ukur (panjang, berat, dan


waktu) menggunakan media dan reward.

B. Hal yang diperbaiki/ditingkatkan

1. Kegiatan Pengembangan

Kegiatan yang dapat menarik minat anak dengan meminta siswa


tampil ke depan kelas untuk menyebutkan alat ukur serta
kegunaannya yang mereka pahami.

2. Pengelelolaan Kelas

a. Anak duduk seperti biasa menghadap ke depan kelas.

b. Barisan kursi agak mundur sedikit agar penampilan siswa terlihat


jelas.

C. Langkah-langkah Pebaikan

1. Kegiatan pengembangan

Guru meminta siswa untuk berani maju ke depan kelas.

2. Langkah-langkah yang akan dilaksanakan

a. Guru menyiapkan penataan kelas.

b. Guru mengkoordinasikan siswa.

c. Guru membuat urutan untuk siswa tampil ke depan kelas.

d. Guru menjelaskan tentang alat ukur penggaris.

e. Guru meminta siswa menyebutkan kembali alat ukur


dan kegunaannya didepan kelas.

86
f. Guru memberikan apresiasi (tepuk tangan atau acungkan jempol)
pada siswayang berani tampil.

g. Guru mengkondisikan kelas agar tidak gaduh dan


tetap terkoordinir.

D. Refleksi Kegiatan Siklus I (RKH III)

1. Dari kegiatan awal siswa sangat antusias dalam mengikuti


pembelajaran.

2. Dari kegiatan inti, masih ada beberapa anak yang masih malu (kurang
percaya diri) untuk tampil ke depan kelas dan belum memahami alat
ukur yang disajikan.

3. Untuk media dan metode yang digunakan sudah bervariatif.

4. Masih ada beberapa siswa yang mengobrol dengan teman


sebangkunya.

87
SKENARIO PERBAIKAN SIKLUS I (RKH IV)

Siklus : Siklus I (satu)

Hari/Tanggal : 25 April – 6 Mei 2022

A. Tujuan Perbaikan

Meningkatkan pemahaman siswa tentang alat ukur (panjang, berat, dan


waktu) menggunakan media gambar dan diskusi.

B. Hal yang Perlu Diperbaiki/Ditingkatkan

1. Kegiatan Pengembangan

Kegiatan yang dapat menarik minat anak untuk meningkatkan


pemahaman siswa dalam memahami isi teks bacaan yaitu dengan diskusi
berkelompok yang sesuai dengan alat ukur yang diberikan.

2. Pengelolaan Kelas

a. Kursi diatur agar memungkinkan siswa lebih nyaman


duduk berkelompok.

b. Siswa duduk berkelompok (berhadapan dengan teman dibelakang).

C. Langkah-langkah Perbaikan

1. Kegiatan pengembangan

Memberikan beberapa jenis alat ukur panjang pada setiap kelompok.

2. Langkah-langkah yang akan


dilaksanakan

a. Guru menyiapkan media pembelajaran.

b. Guru menjelaskan kegunaan masing-masing alat ukur panjang.

c. Guru menampilkan alat ukur seperti penggaris dan meteran pita.

d. Guru meminta siswa menyebutkan bersama alat ukur yang diberikan.

e. Guru menanyakan apa yang siswa paham jenis alat ukur tersebut.

88
f. Guru meminta siswa untuk tampil ke depan kelas mewakili anggota
kelompok.

g. Guru menilai hasil kerja siswa.

D. Refleksi Kegiatan Siklus I (RKH IV)

1. Dari kegiatan awal, siswa tertarik dalam mengikuti


kegiatan pembelajaran.

2. Dari kegiatan inti yaitu siswa terlibat aktif dan focus dalam pembelajaran
ketika temannya maju ke depan kelas.

3. Untuk alat dan media yang digunakan guru mudah didapatkan karena
sudahtersedia di sekolah.

89
SKENARIO PERBAIKAN SIKLUS I (RKH V)

Siklus : Siklus I (satu)

Hari/Tanggal : 25 April – 6 Mei 2022

A. Tujuan Perbaikan

Meningkatkan pemahaman siswa tentang isi teks bacaan melalui media


benda konkret dan pemberian reward.

B. Hal yang Perlu Diperbaiki/Ditingkatkan

1. Kegiatan Pengembangan

Kegiatan yang dapat menarik minat anak untuk meningkatkan


pemahaman siswa tentang alat ukur panjang dengan
mengkolaborasikan media konkret serta pemberian reward untuk
siswa.

2. Pengelolaan Kelas

a. Kegiatan dilakukan di dalam kelas.

b. Anak duduk berkelompok depan dan belakang.

c. Mengatur meja diposisikan berhadapan dengan teman dibelakang


untukmenempatkan media.

C. Langkah-langkah Perbaikan

1. Guru menyiapkan media alat ukur dan beberapa benda yang


diperlukan.

2. Guru mengkoordinasikan kesiapan belajar anak.

3. Guru membuka kegiatan dengan menyampaikan


pengulangan materi dankegiatan yang akan dilakukan.

4. Guru menyampaikan kegiatan yang akan dilaksanakan.

5. Guru memancing siswa berpikir kritis.

6. Guru meminta siswa mengukur berbagai benda dengan beberapa alat

90
ukur.

7. Guru meminta siswa untuk menyebutkan hasil ukur dan mengubah


satuanbaku (sentimeter atau meter).

8. Guru meminta siswa yang lain untuk membuat pertanyaan kepada


siswalainnya.

9. Guru memberikan reward pada siswa yang aktif


dalam pembelajaran danmenjawab dengan benar.

10. Guru meminta siswa untuk menulis hasil ukur dari masing-masing
alat ukurbeserta bendanya ke dalam buku latihan.

D. Refleksi Kegiatan Siklus I (RKH V)

1. Dari kegiatan awal, guru memberikan apersepsi, kata-


kata penyemangat dan menjelaskan materi yang akan diajarkan.

2. Dari kegiatan inti yaitu siswa mengetahui alat ukur yang disajikan
dan mampumenggunakannya dengan baik dan benar.

3. Untuk media dan reward guru sudah mempersiapkan dengan baik.

91
Lampiran 4

LEMBAR REFLEKSI SIKLUS I DAN SIKLUS II

Hari/
No Identifikasi Masalah Penyebab Rencana Solusi
Tanggal

1 Jum’at, 6 Hasil belajar siswa Guru kurang Mendalami materi


Mei 2022 rendah pada mata menguasai materi yangakan diajarkan.
pelajaran Matematika dan kurangnya
dibawah KKM. pemahaman siswa.

2. Keberlangsungan belajar Rendahnya Memperbaiki


siswa masih sangat motivasidan keaktifan siswa
keaktifan siswa dalam kegiatan
sedikit yang memahami
dalam pembelajaran
materi yang diajarkan.
pembelajaran.

3. Proses pembelajaran Metode Memperbaiki


masih kurang menarik pembelajaran yang kegiatan
bagi siswa karena media kurang bervariatif. pembelajaran
menjadilebih aktif
pembelajaran yang tidak
dan interaktif.
digunakan.

4. Guru menggunakan Pembelajaran Menggunakan


metode yang kurang terlalu monoton benda yang nyata
menarik (konvensional) dan kurang (konkret).
menarik.
dalam mengajar dan
media yang
terbatas.

ALASAN
MASALAH RENCANA
PENYEBAB PEMILIHAN
YANG DIPILIH SOLUSI
MASALAH

Meningkatkan hasil Tidak menggunakan Hasil belajar dan Membuat media


belajar siswa pada media. motivasi rendah pembelajaran untuk
mata pelajaran berpengaruh terhadap meningkatan hasil
Matematika tentang prestasi siswa. belajar siswa agar
Alat Ukur (Berat, Hasil belajar siswa pemahaman siswa
Panjang, dan rendah. terhadap materi
Waktu). Agar pembelajaran melalui media
lebih menarik,

92
Kegiatan penggunaan media bendakonkret.
pembelajaran yang bervariasi
kurang menarik. sangat dibutuhkan
dan membantu Memperbaiki
proses pembelajaran. kegiatan
pembelajaran lebih
menarik dengan
memberikan kuis,
diskusi dan tanya
jawab dengan
menggunakan
media
konkret.

TUJUAN PERBAIKAN
RUMUSAN MASALAH
PEMBELAJARAN

Bagaimana menerapkan media benda Mendeskripsikan proses penerapan


konkret untuk meningkatkan hasil media benda konkret untuk
belajar Matematika materi Alat Ukur meningkatkan hasil belajar Matematika
(panjang, berat, dan waktu) pada siswa materi alat ukur (panjang, berat, dan
kelas II SDIT Hidayatut Taufiq Bekasi? waktu) siswa kelas II SDIT Hidayatut
Taufiq Bekasi.

Menganalisis dampak penerapan media


benda konkret pada pelajaran
Matematika materi alat ukur (panjang,
berat, dan waktu) siswa kelas II SDIT
Hidayatut Taufiq Bekasi.

Jakarta, 10 Mei 2022


Supervisior 1 Mahasiswa,

( Drs. H. Hartono, [Link] ) ( Sena Yunita )

NIP. - NIM. 850277518

93
Lampiran 5

INSTRUMEN PENELITIAN

LEMBAR OBSERVASI/PENGAMATAN KINERJA GURU TERISI

(SIKLUS I)

Mata Pelajaran/Tema : Matematikaa/Pengalamanku

(2E) Kelas / Semester : II/II

Hari / Tanggal : Jum’at, 6 Mei 2022

Fokus Observasi : Guru

Kriteria Penilaian

No. Aspek yang dinilai Kurang Cukup Baik

1 2 3

Kegiatan Awal (Pembuka)


1. Guru memberikan apersepsi dan motivasi
1 √
2. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang
harus dicapai oleh siswa

Kegiatan Inti
1. Guru membentuk kelompok siswa √
2. Guru mengemukakan masalah √
3. Guru menyediakan alat peraga atau
media pembelajaran √
2
4. Guru menjelaskan materi pelajaran √
5. Guru mengarahkan dan membimbing siswa √
dalam pengamatan pada materi pelajaran
6. Guru memberikan kesempatan bertanya

kepada siswa

94
Kegiatan Akhir (Penutup)
1. Guru membimbing siswa dalam
3 menyimpulkan materi pelajaran √
2. Guru memberikan evaluasi √
3. Guru memberi tindak lanjut √

Nilai 4 27

Jumlah Nilai 31

Bekasi, 6 Mei 2022

Supervisor 2

Ghpniyah Nasrullah, [Link]

NIP.

95
INSTRUMEN PENELITIAN

LEMBAR OBSERVASI/PENGAMATAN KINERJA GURU TERISI

(SIKLUS II)

Mata Pelajaran/Tema : Matematika/Pengalamanku

(2E) Kelas / Semester : II/II

Hari / Tanggal : Selasa, 10 Mei 2022

Fokus Observasi : Guru

Kriteria Penilaian

No. Aspek yang dinilai Kurang Cukup Baik

1 2 3

Kegiatan Awal (Pembuka)


1. Guru memberikan apersepsi dan motivasi
1 √
2. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang harus
dicapai oleh siswa

Kegiatan Inti

• Guru membentuk kelompok siswa

• Guru mengemukakan masalah
• Guru menyediakan alat peraga atau
media pembelajaran √
2
• Guru menjelaskan materi pelajaran √

• Guru mengarahkan dan membimbing siswa √


dalam pengamatan pada materi pelajaran
• Guru memberikan kesempatan bertanya √
kepada siswa

96
Kegiatan Akhir (Penutup)
• Guru membimbing siswa dalam
3 menyimpulkan materi pelajaran √
• Guru memberikan evaluasi √
• Guru memberi tindak lanjut √

Nilai

Jumlah Nilai 33

Bekasi, 10 Mei 2022

Supervisor 2,

Ghoniyah Nasrullah, [Link]

97
Lampiran 6

JURNAL PEMBIMBING SUPERVISOR 2 PKP

Nim / Nama Mahasiswa : 850277518 / Sena Yunita

Mengajar di kelas : II (Dua)

Sekolah : SDIT Hidayatut Taufiq Bekasi

No Hari/tanggal Kegiatan Hasil/komentar Tindak Paraf


lanjut
Mahasiswa Supervisor
2

1. Senin, 25 Mendiskusikan Identifikasi Perbaiki


April 2022 hasil masalah harus refleksi
pembelajaran lebih akurat terhadap
pra siklus pembelajar
an

2. Senin, 25 Konsultasi/Me Alat penilaian Perbaikan


April 2022 ndiskusikan harus RPP Siklus
RPP perbaikan disertakan I
PPKn siklus I indikator.
beserta lembar Pembelajaran
pengamatan siklus I harus
menggunakan
alat peraga

3. Jum’at, 6 Mengamati Siswa yang Guru harus


Mei 2022 pelaksanaan terlibat kurang lebih
perbaikan aktif dalam kreatif lagi
siklus I tanya jawab, agar siswa
guru kurang lebih
kreatif/kurang semangat
banyak dan aktif
menampilkan dalam
media belajar

98
4. Selasa, 10 Mendiskusika Tujuan Media
Mei 2022 n RPP perbaikan gambar
perbaikan harus jelas dibuat
siklus II semenarik
mungkin

5. Selasa, 10 Mengamati Pembelajaran Memberik


Mei 2022 pelaksanaan tidak lagi an reward
perbaikan hanya ceramah kepada
pembelajaran konvensional siswa yang
siklus II mendapatk
an nilai
terbaik

Mengetahui, Bekasi, 10 Mei 2022

Supervisor 1. Supervisor 2,

Drs. H. HARTONO, [Link] GHOONIYAH NASRULLAH, [Link]

99
Lampiran 7

Daftar Nilai Prasiklus

No. Nama Siswa Nilai Keterangan

1 Afzal Hibratul Hafidz 60 Tidak Tuntas

2 Aisya Dzulfa Karima 80 Tuntas

3 Allea Dea Nanda 40 Tidak Tuntas

4 Anindhita Kirana 60 Tidak Tuntas

5 Andi Azzam Asytar R. 50 Tidak Tuntas

6 Asyifa Dwi Oktafiana 60 Tidak Tuntas

7 Aulya Fathiyaturahma 50 Tidak Tuntas

8 Ballighni Munayya 70 Tuntas

9 Bazla Esa Al Rais 60 Tidak Tuntas

10 Dafa Anugrah Ramadhan 80 Tuntas

11 Dhika Dwi Pratama 40 Tidak Tuntas

12 Dista Asyafarah 60 Tidak Tuntas

13 Irfan Abdul Rahman 30 Tidak Tuntas

14 Indra Nugroho 50 Tidak Tuntas

15 Jasmine Amora 60 Tidak Tuntas

16 Kaila Anggraeni 70 Tuntas

17 Kaizar Junior 70 Tuntas

18 Karenina Zievanka Ariyanto 40 Tidak Tuntas

19 M. Rafiqi Jamilul Khoir 70 Tuntas

20 M. Akbar Surya Putra 60 Tidak Tuntas

100
21 M. Ibra Alviano 30 Tidak Tuntas

22 M. Zidni Ilman 80 Tuntas

23 Pelangi Putri Kunaefi 70 Tuntas

24 Putri Honey 50 Tidak Tuntas

25 Qurrota A’yunina 60 Tidak Tuntas

26 Rafka Adha Nugraha 50 Tidak Tuntas

27 Raka Ramadhan 60 Tidak Tuntas

28 Rafsah Anjani 30 Tidak Tuntas

29 Rifki 50 Tidak Tuntas

30 Sabrina 40 Tidak Tuntas

31 Salsabila Anggraeni 60 Tidak Tuntas

32 Shelvi Hanifah 20 Tidak Tuntas

33 Suci Ramadhani 70 Tuntas

34 Wahyu Alfar Ibrahim 30 Tidak Tuntas

35 Yosi Firman Edi Nugroho 40 Tidak Tuntas

36 Zaidan Luthfi Robihi 50 Tidak Tuntas

37 Zaskia Putri Utami 40 Tidak Tuntas

Jumlah 1990

Rata-rata 53.78

Terkecil 80

Terbesar 20

101
Daftar Nilai Siklus 1

No. Nama Siswa Nilai Keterangan

1 Afzal Hibratul Hafidz 70 Tuntas

2 Aisya Dzulfa Karima 90 Tuntas

3 Allea Dea Nanda 50 Tidak Tuntas

4 Anindhita Kirana 70 Tuntas

5 Andi Azzam Asytar R. 70 Tuntas

6 Asyifa Dwi Oktafiana 80 Tuntas

7 Aulya Fathiyaturahma 60 Tidak Tuntas

8 Ballighni Munayya 80 Tuntas

9 Bazla Esa Al Rais 70 Tuntas

10 Dafa Anugrah Ramadhan 90 Tuntas

11 Dhika Dwi Pratama 50 Tidak Tuntas

12 Dista Asyafarah 70 Tuntas

13 Irfan Abdul Rahman 40 Tidak Tuntas

14 Indra Nugroho 70 Tuntas

15 Jasmine Amora 70 Tuntas

16 Kaila Anggraeni 80 Tuntas

17 Kaizar Junior 90 Tuntas

18 Karenina Zievanka Ariyanto 50 Tidak Tuntas

19 M. Rafiqi Jamilul Khoir 80 Tuntas

20 M. Akbar Surya Putra 70 Tuntas

21 M. Ibra Alviano 50 Tidak Tuntas

22 M. Zidni Ilman 90 Tuntas

102
23 Pelangi Putri Kunaefi 80 Tuntas

24 Putri Honey 60 Tidak Tuntas

25 Qurrota A’yunina 70 Tuntas

26 Rafka Adha Nugraha 60 Tidak Tuntas

27 Raka Ramadhan 70 Tuntas

28 Rafsah Anjani 50 Tidak Tuntas

29 Rifki 70 Tuntas

30 Sabrina 50 Tidak Tuntas

31 Salsabila Anggraeni 70 Tuntas

32 Shelvi Hanifah 40 Tidak Tuntas

33 Suci Ramadhani 80 Tuntas

34 Wahyu Alfar Ibrahim 40 Tidak Tuntas

35 Yosi Firman Edi Nugroho 50 Tidak Tuntas

36 Zaidan Luthfi Robihi 70 Tuntas

37 Zaskia Putri Utami 60 Tidak Tuntas

Jumlah 2460

Rata-rata 66.49

Terkecil 40

Terbesar 90

103
Daftar Nilai Siklus 2

No. Nama Siswa Nilai Keterangan

1 Afzal Hibratul Hafidz 80 Tuntas

2 Aisya Dzulfa Karima 90 Tuntas

3 Allea Dea Nanda 70 Tuntas

4 Anindhita Kirana 80 Tuntas

5 Andi Azzam Asytar R. 70 Tuntas

6 Asyifa Dwi Oktafiana 90 Tuntas

7 Aulya Fathiyaturahma 70 Tuntas

8 Ballighni Munayya 90 Tuntas

9 Bazla Esa Al Rais 80 Tuntas

10 Dafa Anugrah Ramadhan 100 Tuntas

11 Dhika Dwi Pratama 70 Tuntas

12 Dista Asyafarah 80 Tuntas

13 Irfan Abdul Rahman 50 Tidak Tuntas

14 Indra Nugroho 70 Tuntas

15 Jasmine Amora 80 Tuntas

16 Kaila Anggraeni 80 Tuntas

17 Kaizar Junior 90 Tuntas

18 Karenina Zievanka Ariyanto 70 Tuntas

19 M. Rafiqi Jamilul Khoir 80 Tuntas

20 M. Akbar Surya Putra 80 Tuntas

21 M. Ibra Alviano 60 Tidak Tuntas

22 M. Zidni Ilman 100 Tuntas

104
23 Pelangi Putri Kunaefi 80 Tuntas

24 Putri Honey 70 Tuntas

25 Qurrota A’yunina 80 Tuntas

26 Rafka Adha Nugraha 70 Tuntas

27 Raka Ramadhan 80 Tuntas

28 Rafsah Anjani 70 Tuntas

29 Rifki 80 Tuntas

30 Sabrina 70 Tuntas

31 Salsabila Anggraeni 80 Tuntas

32 Shelvi Hanifah 50 Tidak Tuntas

33 Suci Ramadhani 80 Tuntas

34 Wahyu Alfar Ibrahim 70 Tuntas

35 Yosi Firman Edi Nugroho 70 Tuntas

36 Zaidan Luthfi Robihi 80 Tuntas

37 Zaskia Putri Utami 70 Tuntas

Jumlah 2830

Rata-rata 76.49

Terkecil 50

Terbesar 100

105
Lampiran 8

Dokumentasi Kegiatan Siklus 1

Pembukaan

Kegiatan Inti

Penutup

106
107

Anda mungkin juga menyukai