Volume 7, Nomor 2, Agustus 2022 Khoirin¹, Aninditha Rachmah Ramadhiani², Meri Rosita3
HUBUNGAN PELAYANAN INFORMASI OBAT TERHADAP KEPUASAN PASIEN
Khoirin1, Aninditha Rachmah Ramadhiani2 , Meri Rosita3
Program Studi DIII Keperawatan, STIKES ‘Aisyiyah Palembang1,3
Program Studi S1 Farmasi, STIKES ‘Aisyiyah Palembang2
khoirinmugiman@gmail.com1
[Link]@gmail.com2
merirosita1978@gmail.com3
DOI : [Link]
ABSTRAK
Latar Belakang: Standar pelayanan kefarmasian di Puskesmas berdasarkan permenkes meliputi
standar pengelolaan sediaan farmasi, alat Kesehatan, dan bahan medis habis pakai, serta standar
pelayanan farmasi klinik. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan informasi obat dan kepuasan pasien
di Puskesmas Sandar Angin Kota Pagaralam tahun 2021. Metode: Jenis penelitian adalah kuantitatif
dengan menggunakan metode survey analitik dengan pendekatan cross sectional populasi penelitian
seluruh pasien yang datang berobat di Puskesmas Sandar Angin Kota Pagaralam pada bulan Maret-
April 2021 pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling sehingga diperoleh 100
responden analis data menggunakan uji statistik chi-square. Hasil: Berdasarkan analisis univariat
distribusi frekuensi jenis kelamin lebih dominan laki-laki sebanyak 59%, usia dewasa lebih dominan
yaitu 36%, pendidikan yang paling dominan yaitu menengah 59%, pada gambar pelayanan informasi
obat yaitu yang memiliki kategori baik 56% sedangkan tidak baik 44% kemudian pada gambaran
kepuasan responden yang memiliki kategori puas 47% sedangkan yang tidak puas 53%. Data yang
didapat ada hubungan antara pelayanan informasi obat dengan kepuasan pasien (p value 0,000).
Saran: Untuk tenaga kefarmasian diharapkan lebih meningkatkan dalam pelayanan informasi obat
kepada masyarakat dengan melakukan pelayanan dan konseling.
Kata Kunci: Pelayanan Informasi Obat, Kepuasan Pasien, Puskesmas
ABSTRACT
Background: Pharmaceutical service standards at Puskesmas based on the Minister of Health include
management standards for pharmaceutical preparations, medical devices, and medical consumables, as
well as clinical pharmacy service standards. Objective: To determine the relationship between drug
information and patient satisfaction at the Sandar Angin Public Health Center, Pagaralam City in
2021. Methods: The type of research is quantitative using an analytic survey method with a cross
sectional approach. The research population is all patients who come for treatment at the Sandar Angin
Health Center, Pagaralam City in March-April 2021. The sampling uses the Accidental Sampling
technique in order to obtain 100 respondents for data analysis using the Chi-Square statistical test.
Results: based on univariate analysis of the frequency distribution of sex, male was more dominant as
much as 59%, adult age was more dominant, namely 36%, the most dominant education was middle 59
%, in the picture of drug information services, which have a good category 56% while not good 44%
then on the picture of the satisfaction of respondents who have a satisfied category 47% while those
who are not satisfied 53%. The data obtained there is a relationship between drug information services
with patient satisfaction (p value 0.000). Suggestion: Pharmacy staff are expected to improve their drug
information services to the public by providing services and counseling.
Keywords: Drug Information Services, Patient Satisfaction, Public Health Center
Jurnal ‘Aisyiyah Medika 120
Volume 7, Nomor 2, Agustus 2022 Khoirin¹, Aninditha Rachmah Ramadhiani², Meri Rosita3
PENDAHULUAN pengobatan dan pelayanan medis lainnya
Pelayanan kesehatan yang dimana pasien dirawat paling singkat 1
berkualitas serta menyatu dengan hari. Menurut Permenkes No 71 tahun
masyarakat sangatlah diperlukan di dunia 2013, puskesmas merupakan suatu kesatuan
kesehatan, karena kesehatan merupakan organisasi fungsional yang langsung
bagian penting dalam pembangunan memberikan pelayanan secara menyeluruh
nasional, dengan tujuan utama menciptakan kepada masyarakat dalam suatu wilayah
pola hidup masyarakat yang peduli, kerja tertentu dalam bentuk usaha
mengerti, dan tanggap akan permasalahan kesehatan pokok. Puskesmas mempunyai
kesehatan yang ada di lingkungan, dengan beberapa peranan penting di dalam
demikian diperlukan peningkatan kualitas masyarakat salah satunya adalah peranan
dan kuantitas pelayanan kesehatan yang sebagai pusat pelayanan kesehatan pertama
ada dari lembaga kesehatan. Kesehatan kali kepada pasien sebelum rumah sakit
merupakan salah satu kebutuhan yang (Supriyanto, 2010).
mendasar, jadi setiap orang memerlukan Pemerintah menerbitkan Permenkes
pelayanan kesehatan yang bermutu Nomor 74 Tahun 2016 tentang Standar
(Efendi, 2009). Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas
Pelayanan kefarmasian merupakan untuk dijadikan sebagai pedoman praktik
kegiatan yang terpadu dengan tujuan untuk apoteker dalam menjalankan tugas profesi
mengidentifikasi, mencegah, guna melindungi masyarakat dari
menyelesaikan masalah obat dan masalah pelayanan, dan evaluasi mutu pelayanan.
yang berhubungan dengan kesehatan. Pelayanan kefarmasian merupakan
Tuntutan pasien dan masyarakat dan kegiatan yang bertujuan untuk
peningkatan mutu pelayanan kefarmasian mengidentifikasi, mencegah, dan
mengharuskan adanya perluasan dari menyelesaikan masalah yang terkait obat.
paradigma lama yang berorientasi kepada Dalam meningkatkan kunjungan pasien
produk (drug oriented), menjadi puskesmas, dan mengurangi keluhan pasien
paradigma baru yang berorientasi pada terhadap lamanya waktu tunggu pelayanan
pasien (patient oriented) dengan filosofi obat, maka puskesmas harus mampu
pelayanan kefarmasian (pharmaceutical memberikan pelayanan kesehatan yang
care) (Permenkes, 2016). berkualitas dan bermutu sehingga mampu
Pelayanan kesehatan pada memberikan kepuasan pasien.
Puskesmas meliputi pelayanan rawat jalan
yang berupa kegiatan observasi, diagnosis,
Jurnal ‘Aisyiyah Medika 121
Volume 7, Nomor 2, Agustus 2022 Khoirin¹, Aninditha Rachmah Ramadhiani², Meri Rosita3
Standar pelayanan kefarmasian di secara baik merupakan suatu tanggung
puskesmas berdasarkan Permenkes jawab seorang apoteker dalam
meliputi standar pengelolaan sediaan menyerahkan obat kepada pasien (Oscar &
farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis Jauhar, 2016).
habis pakai, serta standar pelayanan Kepuasan pasien merupakan salah
farmasi klinik. Penyelenggaraan standar satu indikator penting yang harus
pelayanan kefarmasian di puskesmas harus diperhatikan dalam pelayanan kefarmasian.
didukung oleh ketersediaan sumber daya Kepuasan pasien adalah hasil penilaian dari
kefarmasian yang berorientasi kepada pasien terhadap pelayanan kesehatan
keselamatan pasien. Sumber daya dengan membandingkan apa yang
kefarmasian sebagaimana dimaksud diharapkan sesuai dengan kenyataan
meliputi sumber daya manusia dan sarana pelayanan Kesehatan yang diterima disuatu
prasarana. Untuk menjamin mutu tatanan kesehatan rumah sakit. Dengan
pelayanan kefarmasian di puskesmas, harus demikian kepuasan pasien dirumah sakit
dilakukan evaluasi mutu pelayanan tergantung bagaimana pelayanan yang
kefarmasian sehingga seluruh aspek diberikan oleh pihak rumah sakit tersebut.
pelaksanaan pelayanan kefarmasian dapat Namun pelayanan yang diberikan masih
berjalan sesuai dengan tujuan pelayanan ada yang belum sesuai dengan apa yang
kefarmasian di puskesmas yaitu diinginkan oleh pasien dan kepuasan
meningkatkan mutu pelayanan pasien masih belum sesuai dengan standar
kefarmasian, menjamin kepastian hukum (Kotler, 2012).
bagi tenaga kefarmasian, melindungi
pasien dan masyarakat dari penggunaan METODE PENELITIAN
obat yang tidak rasional dalam rangka Jenis penelitian ini adalah deskriptif
keselamatan pasien (patient safety) menggunakan pendekatan waktu secara
(Depkes RI, 2014). belah lintang (cross sectional). Populasi
Pemberian informasi obat yang dalam penelitian ini adalah seluruh pasien
tepat dan benar dalam penggunaan obat yang datang berobat di Puskesmas sandar
sangat penting dalam menunjang angin kota Pagaralam pada bulan Maret-
keberhasilan suatu terapi pengobatan April 2021. Sampel dalam penelitian ini
(Kementerian Kesehatan, 2011). Peran adalah sebagian dari pasien di Puskesmas
apoteker sangat menunjang dalam Sandar Angin Kota Pagaralam, data yang
keberhasilan pemberian informasi obat, diambil yaitu respoden yang memenuhi
apabila tidak tersampaikannya informasi kriteria inklusi yaitu bersedia menjadi
Jurnal ‘Aisyiyah Medika 122
Volume 7, Nomor 2, Agustus 2022 Khoirin¹, Aninditha Rachmah Ramadhiani², Meri Rosita3
responden penelitian, pasien yang menebus HASIL PENELITIAN
resep obat di Puskesmas Sandar Angin Distribusi frekuensi karakteristik
Kota Pagaralam minimal pernah 1 (satu) pasien berdasarkan jenis kelamin, usia, dan
kali menebus resep obat. Pendidikan.
Tabel 1.
Distribusi Frekuensi Karakteristik Pasien
Karakteristik Responden Frekuensi Persentase (%) Jumlah
Jenis Kelamin Laki-laki 59 59
Perempuan 41 41 100
Remaja 13-17 tahun 6 6
Usia Dewasa 18- 49 tahun 63 63
Orang Dewasa>50 tahun 31 31 100
Dasar 25 25
Pendidikan Menengah 59 59
Tinggi 16 16 100
Berdasarkan tabel 1 distribusi dominan laki-laki 59% sedangkan pada
frekuensi karakteristik jenis kelamin pada usia yang paling dominan dewasa 63%
pengunjung yang mengambil obat di kemudian Pendidikan yang paling dominan
Puskesmas Sandar Angin yang paling menengah 59%.
Tabel 2.
Distribusi Frekuensi Pelayanan Informasi Obat dan Tingkat Kepuasan Responden
Variabel Frekuensi Persentase (%)
Kategori Pelayanan
Baik 56 56
Tidak baik 44 44
Kepuasan Responden
Puas 47 47
Tidak Puas 53 53
Jumlah 100 100
Persentase pelayanan informasi kepuasan responden dengan kategori puas
obat kepada responden dapat dilihat pada sebanyak 47 responden dengan nilai
tabel 2 bahwa responden yang merasakan persentase (47%), sedangkan kategori
pelayanan informasi obat baik 56 (56%) tidak puas sebanyak 53 responden dengan
responden, sedangkan yang merasakan nilai persentase (53%).
pelayanan informasi obat tidak baik
44(44%) responden. Berdasarkan tingkat
Jurnal ‘Aisyiyah Medika 123
Volume 7, Nomor 2, Agustus 2022 Khoirin¹, Aninditha Rachmah Ramadhiani², Meri Rosita3
Hubungan Pelayanan Informasi Obat (level signifikan = 5%) dan tingkat
Terhadap Kepuasan Pasien kepercayaan (Confident level = 95%).
Berdasarkan hasil analisis data
Hasil uji chi-square hubungan pelayanan
menggunakan uji chi-square untuk dapat
informasi obat terhadap kepuasan pasien di
mengetahui hubungan antara variabel
Puskesmas Sandar Angin Kota Pagar
independen dan variabel dependen dengan
Alam dapat dilihat pada tabel 3.
menggunakan batas kemaknaan α < 0,05
Tabel 3.
Hubungan Pelayanan Informasi Obat Terhadap Kepuasan
Pelayanan Kepuasan Total
Informasi Obat Puas Tidak Puas p value
n % n % N %
Baik 43 76,8 13 23,2 56 100 0,000
Tidak Baik 4 9,1 40 90,9 44 100
Berdasarkan tabel 3 diketahui PEMBAHASAN
bahwa, dari 56 responden yang merasakan Berdasarkan karakteristik hasil
pelayanan informasi obat baik ada 43 penelitian pada jenis kelamin yang ada di
(76,8%) responden merasakan puas, 13 dalam data adalah diantaranya laki-laki
(23,2%) responden merasakan tidak puas sebanyak 59 (59%) responden, sedangkan
terhadap pelayanan informasi obat di perempuan sebanyak 41 (41%) responden.
Puskesmas. Kemudian dari 44 responden Dalam suatu keluarga, seorang pria yang
yang merasakan pelayanan informasi obat menjadi kepala keluarga cenderung
tidak baik ada 4 (9,1%) responden melindungi atau intervensi, dan
merasakan puas, 40 (90,9%) responden memberikan rasa aman bagi keluarganya.
merasakan tidak puas terhadap pelayanan Menurut Notoatmodjo dalam Diah W,
informasi obat di Puskesmas. Setelah di (2009) menyatakan bahwa pria juga
lakukan uji Chi-square, terlihat bahwa ada cenderung lebih mempengaruhi wanita
hubungan pelayanan informasi obat dalam memberikan pendapat atau
terhadap kepuasan pasien di Puskesmas pertimbangan untuk melakukan sesuatu.
Sandar Angin dengan p-valuenya 0,000 Berdasarkan usia responden menunjukan
(<0,05). mayoritas responden yang berobat di
Puskesmas Sandar Angin berada di usia
dewasa (18-49 tahun) sebanyak 63 (63%)
responden. Hal ini dikarenakan usia
digunakan sebagai ukuran mutlak atau
Jurnal ‘Aisyiyah Medika 124
Volume 7, Nomor 2, Agustus 2022 Khoirin¹, Aninditha Rachmah Ramadhiani², Meri Rosita3
indikator fisiologis yang berada (25%), dan yang paling terkecil pendidikan
(umur,seks), dan siklus hidup (status tinggi (diploma) 16 orang (16%). Hasil
perkawinan, besarnya keluarga) dengan penelitian ini sejalan dengan Fitriana
asumsi bahwa perbedaan derajat kesakitan, (2012) yaitu 35 responden (43,80%).
dan penggunaan pelayanan Kesehatan Pendidikan adalah usaha dan terencana
sedikit banyak akan berhubungan dengan untuk mewujudkan suasana dan proses
kualitas pelayanan informasi obat dan pembelajaran agar seseorang secara aktif
kepuasan konsumen (Notoadmodjo, 2005). mengembangkan potensi dirinya untuk
Penelitian yang dilakukan WHO di memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
9 negara berkembang telah menyimpulkan pengadilan diri, kepribadian, kecerdasan,
bahwa populasi terbanyak yang ahlak mulia, serta keterampilan yang
menggunakan sarana pelayanan kesehatan diperlukan dirinya dan masyarakat.
adalah kelompok umur lima tahun (balita) Responden dengan Pendidikan
dan kelompok umur 30-35 tahun. SLTA/Sederajat memiliki keingin tahuan
Masyarakat yang berobat kepelayanan yang lebih tentang obat. Oleh karena itu
kesehatan sebagian masyarakat rentan yaitu responden akan lebih kritis untuk
balita, ibu hamil, dan usia lanjut, mendapatkan informasi yang akurat demi
sedangkan masyarakat yang berkunjung ke tercapainya penyembuhan yang optimal.
pelayanan kesehatan dalam arti mengantar Dengan Pendidikan SLTA/Sederajat
kebanyakan umur produktif (15-55 tahun). responden akan mudah menerima informasi
Lalu sejalan dengan Fitriana (2012) dari tersebut. Jadi walaupun dengan Pendidikan
hasil penelitian menunjukan bahwa SLTA tapi responden lebih aktif mencari
sebagian besar responden berusia dewasa informasi dan bertukar pikiran dengan
sebanyak 36 responden (49,00%). Hal ini tenaga farmasi.
berarti umur yang semakin matang akan Berdasarkan hasil penelitian dari
memudahkan memilih dan menerima 100 responden yang merasakan pelayanan
informasi serta lebih percaya diri untuk informasi obat baik ada 43(76,8%)
mencari tahu informasi obat. responden merasakan puas, 13(23,2%)
Berdasarkan hasil penelitian responden merasakan tidak puas terhadap
responden berdasarkan tingkat pendidikan pelayanan informasi obat di Puskesmas.
ini sebagian besar adalah mereka yang Kemudian dari 44 responden yang
berpendidikan menengah (SMP, merasakan pelayanan informasi obat tidak
SMA/SMK/sederajat) yaitu 59 orang (59%) baik ada 4(9,1%) responden merasakan
sedangkan pendidikan dasar (SD) 25 orang puas, 40(90,9%) responden merasakan
Jurnal ‘Aisyiyah Medika 125
Volume 7, Nomor 2, Agustus 2022 Khoirin¹, Aninditha Rachmah Ramadhiani², Meri Rosita3
tidak puas terhadap pelayanan informasi 2012).
obat di Puskesmas. menunjukkan adanya Hasil penelitian ini sejalan dengan
hubungan antara pelayanan informasi obat penelitian yang dilakukan oleh HD Djamal
terhadap kepuasan pasien dengan hasil p (2020) tentang hubungan pemberian
value 0,000 yang berarti < 0,05. Hal ini informasi obat dengan kepuasan pasien di
berarti dapat diketahui bahwa ada Puskesmas Kalibalangan Kecamatan
hubungan pelayanan informasi obat Abung Selatan Kabupaten Lampung utara,
terhadap kepuasan pasien di Puskesmas menyebutkan bahwa terdapat hubungan
Sandar Angin Kota Pagaralam. pemberian informasi obat dengan
Pelayanan informasi obat kepuasan pasien di Puskesmas
merupakan suatu kegiatan untuk Kalibalangan Kecamatan Abung Selatan
memberikan pelayanan informasi obat Kabupaten Lampung Utara dengan nilai p-
yang akurat dan objektif dalam value 0,024 atau p-value <0,05.
hubungannya dengan perawatan pasien, Dari penelitian dan pembahasan
pelayanan informasi obat sangat penting yang telah di lakukan peneliti berasumsi
dalam upaya menunjang budaya bahwa adanya hubungan antara pelayanan
pengelolaan dan penggunaan obat secara informasi obat dan kepuasan responden,
rasional (Julianti dkk, 2011). Kepuasan semakin baik informasi obat yang di
pasienmerupakan salah satu indikator berikan oleh petugas kefarmasian maka
penting yang harus diperhatikan dalam akan semakin meningkat kepuasan pasien,
pelayanan kefarmasian. Kepuasan pasien walaupun demikian kepuasan pasien juga
adalah hasil penilaian dari pasien terhadap bisa di pengaruhi oleh fasilitas yang di
pelayanan kesehatan dengan berikan seperti ruang tunggu yang nyaman,
membandingkan apa yang diharapkan kursinya cukup, dan petugas kefarmasianya
sesuai dengan kenyataan pelayanan memadai.
Kesehatan yang diterima disuatu tatanan
kesehatan rumah sakit. Dengan demikian KESIMPULAN DAN SARAN
kepuasan pasien dirumah sakit tergantung Kesimpulan
bagaimana pelayanan yang diberikan oleh 1. Distribusi frekuensi responden
pihak rumah sakit tersebut. Namun berdasarkan karakteristik pasien yaitu
pelayanan yang diberikan masih ada yang jenis kelamin laki-laki 59%,
belum sesuai dengan apa yang diinginkan perempuan 41%, usia remaja (13-17)
oleh pasien dan kepuasan pasien masih 6%, dewasa (18-49) 63%, orang tua
belum sesuai dengan standar (Kotler, (>50) 31%, pendidikan dasar 25%,
Jurnal ‘Aisyiyah Medika 126
Volume 7, Nomor 2, Agustus 2022 Khoirin¹, Aninditha Rachmah Ramadhiani², Meri Rosita3
menengah 59%, tinggi 16%. Saran
2. Distribusi frekuensi pelayanan 1. Untuk Tenaga Kefarmasian
informasi obat baik 56 % dan tidak baik Diharapkan lebih meningkatkan dalam
44%; kepuasan pasien di Puskesmas pelayanan informasi obat kepada
Sandar Angin Kota Pagaralam yang masyarakat dengan melakukan
merasa puas 47% dan tidak puas 53%. pelayanan dan konseling.
3. Ada hubungan antara pelayanan 2. Bagi Puskesmas
informasi obat dan kepuasan pasien di Disarankan menambah jumlah kursi di
Puskesmas Sandar Angin Kota ruang tunggu dan perlu adanya
Pagaralam dengan p-value 0,000. peningkatan kualitas pelayanan di
instalasi farmasi.
3. Bagi Masyarakat
Bila penulisan aturan pakai yang tidak
mengerti, silahkan tanyakan kepada
petugas kefarmasian agar menambah
pengetahuan yang maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan RI. (2013). Kebijakan Pemerintah Terhadap Program KIA. Jakarta
Djamal HD., dkk. (2020). Hubungan Pemberian Informasi Obat dengan Kepuasan Pasien di
Puskesmas Kalibalangan Kecamatan Abung Selatan Kabupaten Lampung Utara.
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia, 1(1)
Fitriana, Wati., dkk. (2012). Hubungan Pelayanan Informasi Obat Terhadap Kepuasan
Konsumen di Perusda Aneka Usaha Unit Apotek Sidowayah Farma Klaten. CERETA
Journal of Pharmacy Science.
Kementrian Kesehatan RI (Kemenkes RI). 2016. Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes)
RI Nomor 74 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas.
Jakarta
Kotler, Phiplip. (2012). Manajemen Pemasaran. Edisi 11. Jakarta: PT Indek Kelompok
Gramedia
Oscar L. & Jauhar M. 2016. Dasar-Dasar Manajemen Farmasi. Jakarta: Prestasi Pustaka
Jurnal ‘Aisyiyah Medika 127