IMPLEMENTASI AI DALAM PELAYANAN PAJAK DAN FUNGSI PENGAWASAN DI
INDONESIA: TELAAH UU ITE, PP PSTE, DAN UU KUP
Tema : Meninjau peran Generatif AI dalam penguatan berfikir kritis masyarakat terhadap
pembentukan, penerapan, maupun Bantuan Hukum
Disusun untuk Memenuhi Ujian Tengah Semester
Mata Kuliah Pengantar Filsafat Hukum Kelas G `
Dosen Pengampu:
Dr. Muktiono, S.H., [Link].
Disusun Oleh :
Hatta Joang Kusuma
225010107111207
KEMENTERIAN PENDIDIKAN TINGGI SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS HUKUM
MALANG
2025
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pajak adalah sumber pendapatan vital bagi Negara Kesatuan Republik
Indonesia, yang digunakan untuk membiayai proyek infrastruktur, program sosial,
dan kebutuhan publik lainnya. Oleh karena itu, pengelolaan dan pengawasan pajak
yang efektif sangat diperlukan untuk memastikan setiap warga negara memenuhi
kewajibannya secara adil dan transparan. Perkembangan teknologi informasi telah
memberikan dampak signifikan pada berbagai sektor, termasuk perpajakan. Salah
satu teknologi yang sangat relevan adalah Kecerdasan Buatan (AI), yang
memungkinkan mesin melakukan tugas-tugas yang memerlukan pemahaman
manusia, seperti pengambilan keputusan, analisis data, dan pembelajaran mandiri.
AI pertama kali muncul pada tahun 1956 dalam Konferensi Dartmouth di
Amerika Serikat, diprakarsai oleh John McCarthy dari MIT. Teknologi AI sangat
bermanfaat dalam mempermudah proses pelayanan pajak, misalnya dalam
pengkategorian kewenangan pemerintah pusat dan daerah agar tidak tumpang
tindih serta jelas pendistribusiannya, dan
juga dalam hal transparansi proses pelayanan pajak di Indonesia. AI dapat
menyelesaikan berbagai permasalahan dalam pelayanan pajak, seperti proses
non-aktivasi NPWP secara manual bagi wajib pajak yang telah wafat dan tumpang
tindih input data saat log-inportal pembayaran pajak. Selain itu, dalam hal
pengawasan, teknologi ini dapat mendeteksi kasus penggelapan pajak dan
mencegah kebocoran data wajib pajak. Selain itu Direktorat Jenderal Pajak (DJP)
RI juga telah menentukan 3 (tiga) rencana strategis dalam program digitalisasi
perpajakan kedepannya, diantaranya adalah migrasi menuju ekosistem digital,
membangun sistem yang terintegrasi dan interaktif, serta membangun Digital
Auto-Regulation Ecosystem yang mempermudah wajib pajak dalam memenuhi hak
dan kewajibannya tanpa intervensi. Hal ini tentunya dapat ditunjang dengan
penggunaan AI dalam sistem perpajakan di Indonesia. Oleh karena itu, proses
pelayanan dan pengawasan menggunakan AI perlu diperhatikan dengan serius
untuk memberikan timbal balik yang berarti dari pemerintah dan dapat dirasakan
dampaknya oleh masyarakat.
1
Penggunaan AI dalam sistem pajak didukung oleh UU No. 1 Tahun 2024
tentang Perubahan Kedua UU No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik (UU ITE) dan Peraturan Pemerintah No. 71 Tahun 2019 Tentang
Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PP PSTE) yang menjadi dasar
hukum penerapan AI dalam pelayanan dan pengawasan pajak.1 AI dapat
mendeteksi potensi pajak dari aktivitas bisnis atau transaksi tertentu, sehingga
menunjang efisiensi, kecepatan, dan keadilan dalam sistem perpajakan.
Namun, UU KUP dan UU HPP tidak menyinggung penggunaan teknologi AI dalam
proses pelayanan dan pengawasan pajak. Hanya UU ITE dan Surat Edaran
Menkominfo No. 9 Tahun 2023 Tentang Etika Kecerdasan Artifisial yang mana itu
pun membahas AI dari segi etika, bukan dalam hal transaksi elektronik
secara khusus juga tidak menjelaskan keabsahan penggunaan AI dalam
pelayanan dan pengawasan pajak. Padahal pemanfaatan teknologi AI dapat
mengefisienkan dan mengoptimalkan proses pajak, berdampak signifikan
terhadap kepatuhan pajak, dan meningkatkan pendapatan negara dari sektor
pajak. Pemerintah Indonesia telah membangun sistem untuk mewadahi
penggunaan AI, yakni Pembaruan Sistem Inti Administrasi Perpajakan (PSIAP)
atau Core Tax Administration System(CTAS).
Pemerintah harus berupaya memberikan pelayanan terbaik
kepada masyarakat terkait pelayanan pajak. Masyarakat yang dibebani untuk
membayar pajak harus difasilitasi dengan pelayanan yang baik sebagai
timbal balik atas kontribusi mereka kepada negara. Proses pemungutan pajak
yang adil, transparan, efisien, dan tepat sasaran merupakan bentuk timbal balik
pelayanan yang baik dari pemerintah.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana potensi penggunaan AI dalam sistem perpajakan di Indonesia ditinjau
dari UU ITE, PP PSTE, dan UU KUP?
1
Equality :Journal of Law and Justice, Vol.1, No.2,Juni-November, 2024, hlm.79-94
2
2. Apakah AI dapat membantu mewujudkan 3 (tiga) rencana strategis DJP dalam
mengembangkan digitalisasi pajak kedepannya?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Menganalisis potensi pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam sistem
pelayanan dan pengawasan perpajakan di Indonesia berdasarkan ketentuan hukum
yang berlaku, khususnya UU ITE, PP PSTE, dan UU KUP.
2. Mengkaji peran teknologi AI dalam mendukung implementasi tiga rencana strategis
Direktorat Jenderal Pajak (DJP) terkait digitalisasi sistem perpajakan di masa depan.
3
BAB II
PEMBAHASAN
Pajak merupakan salah satu instrumen dalam koridor kebijakan fiskal. Pajak menjadi
suatu hal yang sangat berpengaruh terhadap kondisi fiskal atau pertumbuhan ekonomi dari
suatu negara.2 Pertumbuhan ekonomi yang signifikan tentunya akan berpengaruh terhadap
kondisi perekonomian masyarakat dan akan berdampak positif terhadap kesejahteraan
masyarakat.3 Untuk dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,
pemerintah harus dapat berupaya untuk mengambil langkah-langkah strategis dan
konsolidatif. Pemerintah harus berfokus pada perbaikan anggaran yang deficit dan juga
berupaya untuk meningkatkan tax ratio.
Di Indonesia, pelayanan pajak diatur dalam Undang-Undang Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan atau yang selanjutnya disebut dengan UU KUP. Undang-Undang ini
dibuat dalam rangka menghadapi dan beradaptasi terhadap perkembangan ekonomi, sosial,
teknologi informasi, dan juga politik. Tujuan dari diundangkannya UU KUP ini adalah
sebagai jaminan keadilan, kepastian hukum, dan penegakan hukum, serta mengantisipasi
kemajuan teknologi informasi juga ketentuan hukum materiil dalam bidang perpajakan.4 Saat
ini, di Indonesia sendiri, tingkat tax ratio tergolong yang paling rendah di antara
negara-negara ASEAN. Hal tersebut disebabkan oleh kontribusi pajak yang rendah dari para
wajib pajak dan juga target tax ratio yang terlalu kecil. Target tax ratio di Indonesia masih
lebih rendah dibandingkan target dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional
(RPJMN) 2020-2024. Target yang ditetapkan dalam RPJMN untuk tax ratio adalah sebesar
11,8% -12,8%, sedangkan dalam nota keuangan yang dikeluarkan Kementerian Keuangan
RI, target hanya sekitar 10%.5 Jika dibandingkan dengan negara-negara maju, kontribusi
pajak di negara-negara maju tersebut cukup besar sehingga mampu untuk mendongkrak
ekonomi di negara tersebut.6
2
Fauziah Aqmarina, “Peran Pajak Sebagai Instrumen Kebijakan Fiskal Dalam Mengantisipasi Krisis Ekonomi Pada
Masa Pandemi Covid-19”, Finansia: Jurnal Akuntansi dan Perbankan Syariah, Vol. 3, No. 02, Pekalongan, 2020,
hal. 256
3
Florensia K Lamanele ([Link]), “Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Dan Disparitas Pendapatanterhadap
Kesejahteraan Masyarakat Di Provinsi Papua Barat”, Jurnal Berkala Ilmiah Efisienasi, Vol 24, No. 1, Manado,
2024, hal. 25
4
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2007 Tentang Perubahan Ketiga Atas Undang-Undang
Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan
5
Buku II Nota Keuangan dan RAPBN Tahun Anggaran 2024, BAB 7, hal. 7-6
6
Badan Keahlian DPR RI, “Strategi Meningkatkan Tax Ratio Dengan Menggali Potensi Pajak Penghasilan Orang
Pribadi” Buletin APBN, Vol. 8, Edisi 18, 2023, hal. 2
4
Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan tax ratio dalam rangka
mengoptimalisasi penerimaan perpajakan adalah dengan Pembaruan Sistem Inti
Administrasi Perpajakan (PSIAP) atau Core Tax Administration System (CTAS). PSIAP
merupakan suatu teknologi informasi atau aplikasi yang akan mendukung atau menunjang
prosess automasi dari proses bisnis perpajakan, mulai dari hal surat-surat pemberitahuan,
dokumen-dokumen terkait perpajakan, proses pembayaran, sampai proses penagihan.
PSIAP dibuat karena Sistem Informasi Direktorat Jenderal Pajak (SIDJP) sudah tidak dapat
menjalankan proses perpajakan modern karena keterbatasan fiturnya. PSIAP dinilai dapat
mewujudkan sistem informasi administrasi perpajakan yang lebih terintegrasi, mudah, dan
transparan serta akurat, dengan begitu maka pelayanan dan pengawasan pajak dapat lebih
optimal.7 PSIAP sendiri kini masih diatur dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 40
Tahun 2018 tentang Pembaruan Sistem Inti Administrasi Perpajakan Dengan adanya PSIAP
dalam perpajakan, maka digitalisasi pajak sudah menjadi hal yang tidak bisa dihindarkan
lagi.
Digitalisasi dalam perpajakan telah berkembang pesat beberapa waktu ini, dengan
adanya digitalisasi, muncullah produk digitalisasi pajak seperti e-billing, e-SPT, e-faktur, dan
yang lainnya. Digitalisasi tersebut tentunya memberikan dampak yang positif terhadap
kemudahan pembayaran pajak. Dengan adanya digitalisasi, maka wajib pajak tidak harus
untuk datang ke kantor pajak, sehingga proses pembayaran pajak menjadi lebih mudah,
murah, efektif, dan efisien. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) telah merancang tiga rencana
strategis dalam mengembangkan digitalisasi pajak kedepannya, yaitu ekosistem digital,
membangun sistem yang terintegrasi dan efektif, dan membangun Digital Auto-Regulation
System yang memungkinkan wajib pajak memenuhi hak dan kewajibannya tanpa intervensi.
PSIAP di desain untuk meningkatkan kualitas pelayanan pajak dan menekan Tingkat
sengketa pajak, selain itu PSIAP juga dapat mengurangi pekerjaan manual, integrasi sistem
informasi, hingga mengoptimalkan biaya pemungutan pajak sehingga biaya kepatuhan
dapat diminimalisasi.8PSIAP ini diharapkan mampu untuk memenuhi tantangan zaman dan
memenuhi target dari rencana strategis DJP tersebut. Akan tetapi dengan semakin
berkembangnya teknologi seperti saat ini, produk digitalisasi tersebut dirasa sudah kurang
optimal sehingga sering kali disalah gunakan oleh beberapa oknum tertentu. Pemerintah
haru smemastikan bahwa PSIAP memenuhi ketentuan perangkat lunak sebagaimana yang
diatur dalam PP PSTE, demi menjamin keamanan pengguna.
7
Dian Kurniati, “Penghindaran Pajak, AS Mulai Pakai Teknologi AI” ddtc. Co. id, 10 September 2023, <
[Link] [03/10/2023].
8
Reni Septati, “PSIAP Untuk Layanan Pajak Lebih Mantap”, 3 Juli 2023, <
[Link] [21/05/2024]
5
Tantangan pada digitalisasi pajak dapat berupa banyak hal, mulai dari masalah
teknis, hingga human error atau ketidakpahaman wajib pajak dalam menggunakan produk
digitalisasi tersebut. Pembaharuan internet juga menjadi salah satu tantangan bagi
pengguna layanan untuk dapat beradaptasi dengan hal tersebut. Terlebih lagi, saat ini
infrastruktur jaringan internet di Indonesia masih terbilang kurang dan tertinggal
dibandingkan negara-negara lain, bahkan negara-negara tetangga. Kemudian, kurangnya
sistem data perpajakan hingga lemahnya pemetaan potensi pajak juga menjadi
permasalahan yang dihadapi dalam koridor pajak saat ini.9 Saat ini, dunia digitalisasi dan
internet telah menghadirkan produk baru, yakni Artificial Intelligence Atau Akal Imitasi (AI).
AI adalah teknologi terbaru yang dapat membuat suatu komputasi unik yang meniru
cara berpikir seperti halnya manusia dengan memasukkan data-data dalam
pemrogramannya. Dalam perkembangannya, AI dapat mempelajari suatu hal tertentu
secara mandiri dan menyelesaikan masalah dari hal tersebut tanpa campur tangan
manusia.10 Perkembangan AI dapat dibagi menjadi tiga periode: pertama, saat mesin mulai
diberikan pengetahuan; kedua, ketika mesin dapat mengolah data; dan ketiga, era internet.
Hingga kini, AI terus berkembang seiring kemajuan zaman dan digitalisasi.11Berdasarkan
laporan pada tahun 2022 terkait administrasi perpajakan yang diterbitkan oleh Organisation
for Economic Co-operation and Development (OECD), sebanyak lebih dari 40 administrasi
perpajakan di seluruh dunia sudah menggunakan atau akan menggunakan Artificial
Intelligence (AI) di masa mendatang. AI diyakini akan meningkatkan produktivitas tenaga
kerja, sementara yang lain memperingatkan bahwa perkembangan AI perlu diatur oleh
pemerintah. Tidak diragukan lagi, AI akan berdampak signifikan pada berbagai aspek
kehidupan sehari-hari, termasuk perpajakan. Laporan pertama ini meninjau dampak
perkembangan AI terhadap penelitian dan kepatuhan perpajakan. Laporan kedua akan
membahas upaya terkini dalam menggunakan AI untuk mendukung pembuatan kebijakan
perpajakan dan upaya kongres dalam mengatur AI sambil tetap mendorong inovasi di AS.
Laporan ini akan menyoroti dampak AI yang paling disruptif di bidang perpajakan dan isu-isu
penting yang harus diperhatikan saat mengadopsi AI. Penggunaan AI dalam berbagai
bidang, seperti sektor keuangan, manufaktur, jasa, terlebih lagi pada sektor pemerintahan
9
Lintasarta, “Tantangan Digitalisasi Pajak Dalam Era Ekonomi Digital”, 11 Agustus 2021, [21/05/2024]
Ika Diyah Candra Arifah ([Link]), “Job Replacement Artifical IntelligenceDi Industri Jasa: Tinjauan Pustaka
10
Sistematis”, Jurnal Ilmu Manajemen, Vol. 10, No. 3, Surabaya, 2022, hal. 911
Dr. Lukas, Research in Machine Learning and Its Applications(dalam Guest LectureTeknik Informatika Binus
11
University), 2022, < [Link] Diakses pada 18/03/2024
6
telah memberikan banyak manfaat dalam hal mempermudah atau mengefisienkan
pelayanan pada masing-masing sektor. Kemampuan AI untuk menyediakan informasi
secara mandiri dan berjenjang, pengelompokan data, manajemen data, dan pengelolaan
database menjadi fitur yang paling sering digunakan dalam sektor pemerintahan.
Penggunaan AI dalam sektor pemerintahan ini demi mewujudkan good governance atau
tata kelola pemerintahan yang baik, transparan, responsif, dan akuntabel.
Dalam pelaksanaannya AI dalam sistem perpajakan secara otomatis mengakibatkan
terjadinya transaksi dengan menggunakan media internet yang dioperasikan oleh AI, dalam
hal ini negara harus memfasilitasi dan melindungi pemanfaatan perangkat teknologi dalam
transaksi tersebut sebagaimana yang diatur dalam Pasal 40 UU ITE demi melindungi hak
dan kewajiban masyarakat dalam proses pajak. Hal itu didukung juga oleh Pasal 2 dan ayat
(2) dan (3) PP PSTE, yang menghendaki adanya penyelenggara sistem elektronik (PSE)
lingkup publik yang meliputi instansi tertentu atau instansi yang ditunjuk oleh instansi
tertentu sebagai penyelenggaranya,sehingga pihak yang memfasilitasi dan melindungi
perangkat teknologi tersebut dapat ditentukan dengan jelas. Negara juga harus melindungi
data dan informasi terkait wajib pajak dengan menyediakan mekanisme tertentu
sebagaimana yang diatur Pasal 26 UU ITE dan Pasal 4 dan 5 PP PSTE dalam
menggunakan sistem informasinya yang didukung AI, juga memperhatikan ketentuan Pasal
20, 22, dan 23 PP PSTE mengenai penyelenggaran dan pengamanan penyelenggaraan
sistem elektronik. Selanjutnya Negara/Pemerintah juga wajib memenuhi pengaturan
sebagaimana yang diatur dalam Pasal 90 sampai 99 PP PSTE demi terciptanya kepastian
pelayanan dan pengawasan serta penyelenggaraan dalam transaksi elektronik dengan AI
ini. AI sebagai agen elektronik sebetulnya dapat dimanfaatkan dalam mengendalikan agen
elektronik, jika kita melihat Pasal 36 ayat (4) PP PSTE terkait bentuk agen elektronik, dalam
pasal tersebut, tidak dibatasi bentuk dari agen elektronik, sehingga AI dapat termasuk dalam
hal itu sebagai “bentuk lainnya”. Maka sistem transaksi perpajakan dapat diselenggarakan
oleh AI, tentunya dengan berdasar pada pasal-pasal dalam UU ITE dan PP PSTE yang
telah diuraikan diatas untuk menjaga keamanan perangkat dan data pengguna, juga
memperhatikan Pasal 41 sampai 50 PP PSTE mengenai pengaturan transaksi elektronik
secara khusus.
7
BAB III
KESIMPULAN
Pajak merupakan instrumen vital dalam kebijakan fiskal yang mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Untuk meningkatkan pertumbuhan
ekonomi yang berkelanjutan, pemerintah perlu mengambil langkah strategis, salah satunya
dengan meningkatkan yang saat ini masih tergolong rendah dibanding negara-negara
ASEAN maupun negara maju. Salah satu inovasi yang dilakukan adalah melalui digitalisasi
perpajakan dengan menghadirkan Pembaruan Sistem Inti Administrasi Perpajakan (PSIAP),
yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, dan integrasi sistem perpajakan.
PSIAP merupakan langkah penting dalam menghadapi keterbatasan sistem lama dan
menjadi tonggak dalam memperkuat pelayanan serta pengawasan perpajakan. Meskipun
demikian, digitalisasi ini membawa tantangan baru seperti ketimpangan infrastruktur
internet, human error, hingga penyalahgunaan oleh oknum tertentu. Untuk itu, dibutuhkan
regulasi dan perlindungan data yang kuat sebagaimana diatur dalam UU ITE dan PP PSTE.
Perkembangan teknologi terbaru seperti Artificial Intelligence (AI) juga telah mulai diadopsi
dalam sistem perpajakan dunia. AI memiliki potensi besar dalam mempermudah dan
mengefisienkan proses administrasi pajak, seperti pengelolaan data, pengawasan, hingga
pelayanan mandiri. Namun demikian, penggunaan AI dalam sistem elektronik perpajakan
harus berada dalam koridor hukum yang jelas demi menjamin keamanan, kerahasiaan, dan
hak-hak wajib pajak.
8
DAFTAR PUSTAKA
Equality :Journal of Law and Justice, Vol.1, No.2,Juni-November, 2024, hlm.79-94
Fauziah Aqmarina, “Peran Pajak Sebagai Instrumen Kebijakan Fiskal Dalam Mengantisipasi
Krisis Ekonomi Pada Masa Pandemi Covid-19”, Finansia: Jurnal Akuntansi dan
Perbankan Syariah, Vol. 3, No. 02, Pekalongan, 2020, hal. 256
Florensia K Lamanele ([Link]), “Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi Dan Disparitas Pendapatan
Terhadap Kesejahteraan Masyarakat Di Provinsi Papua Barat”, Jurnal Berkala Ilmiah
Efisienasi, Vol 24, No. 1, Manado, 2024, hal. 25
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2007 Tentang Perubahan Ketiga Atas
Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara
Perpajakan
Buku II Nota Keuangan dan RAPBN Tahun Anggaran 2024, BAB 7, hal. 7-6
Badan Keahlian DPR RI, “Strategi Meningkatkan Tax Ratio Dengan Menggali Potensi Pajak
Penghasilan Orang Pribadi” Buletin APBN, Vol. 8, Edisi 18, 2023, hal. 2