Seminar Pendidikan Profesi Guru
REFLEKSI PENGALAMAN
BELAJAR
PRINSIP PEMBELAJARAN & ASESMEN II
Muchamad Harun Alrosjid - 24911538
PPG Prajabatan Gel.1/2024
IKIP Siliwangi
Indikator
1 Nama Matakuliah 2 Reviu Pengalaman Belajar
3 Refleksi Pengalaman Belajar 4 Analisis Artefak Pembelajaran
5 Rumusan Hasil Refleksi
NAMA MATAKULIAH
COMPUTATIONAL THINKING
Reviu Pengalaman Belajar
1. Pengalaman belajar apa yang berguna dan menarik?
Dengan penuh penghargaan, saya merangkum bahwa pengalaman belajar yang
berguna dan menarik bagi Muchamad Harun Alrosjid, [Link]. selama mengikuti
Program PPG adalah pemahaman mendalam tentang pentingnya asesmen awal
untuk menganalisis karakteristik peserta didik, penerapan pendekatan Teaching
at the Right Level (TaRL) untuk menyesuaikan pembelajaran dengan tingkat
capaian siswa, serta penguatan konsep Culturally Responsive Teaching (CRT)
untuk menghargai keberagaman budaya dalam pembelajaran. Selain itu,
keterampilan merancang pembelajaran berbasis Understanding by Design (UbD)
membekali beliau menjadi pendidik yang sistematis dan adaptif, sementara
kegiatan reflektif melalui gallery walk dan kolaborasi sejawat memberikan
pengalaman belajar yang bermakna. Semua ini sejalan dengan visinya untuk
menciptakan pembelajaran yang berpihak pada peserta didik dan membentuk
insan yang unggul serta berakhlak mulia.
2. Pengalaman belajar apa yang berguna
tetapi kurang menarik?
Pengalaman belajar yang berguna namun kurang menarik bagi saya adalah
proses penyusunan perangkat asesmen awal yang sangat teknis dan
membutuhkan ketelitian tinggi. Walaupun penting untuk memahami
karakteristik peserta didik secara mendalam, tahapan ini terasa cukup
monoton karena harus melalui banyak langkah administratif seperti membuat
instrumen, memilih teknik asesmen yang tepat, hingga mengolah data satu per
satu. Meskipun kurang memicu antusiasme, pengalaman ini tetap bermanfaat
karena melatih ketelitian, kesabaran, dan pemahaman mendalam tentang
bagaimana merancang pembelajaran yang betul-betul sesuai dengan
kebutuhan nyata peserta didik.
3. Pengalaman belajar apa yang menarik tapi kurang
berguna?
Pengalaman belajar yang menarik namun kurang berguna bagi saya
adalah saat mengikuti diskusi kelompok yang terlalu luas dan tidak
fokus pada tujuan pembelajaran. Diskusi ini terasa menyenangkan
karena membuka berbagai pandangan dan cerita pengalaman dari
teman-teman sejawat, namun sering kali pembahasan melenceng dari
topik utama dan kurang memberikan kontribusi nyata terhadap
keterampilan atau pemahaman yang harus saya kuasai. Meskipun
diskusi tersebut mempererat hubungan sosial dan melatih kemampuan
berkomunikasi, secara langsung tidak terlalu berdampak signifikan
pada pencapaian kompetensi inti yang ditargetkan dalam program
PPG.
4. Pengalaman belajar apa yang tidak menarik dan tidak
berguna dalam konteks sebagai calon guru?
Pengalaman belajar yang mungkin terasa kurang menarik dan kurang
langsung berguna dalam konteks sebagai calon guru adalah ketika
mengikuti sesi penyampaian materi teori yang sangat mendalam tanpa
disertai praktik langsung. Namun, saya memaknainya sebagai
kesempatan berharga untuk memperkaya wawasan dasar yang
menjadi fondasi berpikir kritis. Dengan memahami teori secara
menyeluruh, saya menyadari bahwa setiap praktik di lapangan harus
berakar pada landasan ilmiah yang kuat. Pengalaman ini justru
mendorong saya untuk lebih kreatif mengaitkan teori dengan praktik,
sehingga ke depan saya bisa menjadi guru yang tidak hanya mengajar
dengan hati, tetapi juga dengan pemahaman yang mendalam dan
bertanggung jawab.
Refleksi Pengalaman Belajar
Apa yang telah terjadi?
Dalam perjalanan pengalaman belajar saya selama mengikuti
program PPG, banyak hal bermakna telah terjadi. Saya
memperoleh kesempatan untuk memahami konsep-konsep
penting seperti asesmen awal, Teaching at the Right Level
(TaRL), dan Culturally Responsive Teaching (CRT), serta
mengasah keterampilan dalam merancang pembelajaran
berbasis kebutuhan peserta didik. Selain itu, saya terlibat dalam
berbagai aktivitas kolaboratif, praktik lapangan, diskusi reflektif,
dan penyusunan perangkat ajar yang memperkaya perspektif
saya sebagai calon guru. Setiap tahapan, baik teori maupun
praktik, telah membentuk pemahaman yang lebih utuh tentang
bagaimana menjadi pendidik profesional yang berpihak pada
peserta didik, adaptif terhadap perubahan, serta berlandaskan
nilai-nilai Pancasila.
Mengapa hal tersebut dapat terjadi?
Hal tersebut dapat terjadi karena proses pendidikan dalam program PPG
dirancang secara sistematis untuk membekali calon guru dengan
pengalaman belajar yang utuh, baik melalui penguasaan teori, praktik
lapangan, hingga refleksi kritis. Pendekatan pembelajaran yang berbasis
aktivitas, kolaborasi, serta penggunaan prinsip asesmen berkelanjutan
memungkinkan saya untuk mengaitkan antara pengetahuan teoretis dan
penerapannya di kelas nyata. Selain itu, dukungan dari dosen, guru
pamong, rekan sejawat, serta alur pembelajaran yang mengikuti prinsip
MERDEKA menjadikan proses ini lebih terstruktur, bermakna, dan selaras
dengan kebutuhan dunia pendidikan masa kini.
Analisis Artefak Pembelajaran
Artefak pembelajaran yang saya analisis mencerminkan perjalanan saya dalam
mengembangkan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi proses belajar mengajar
yang berpihak pada peserta didik. Dalam perangkat ajar yang saya susun, terlihat
adanya upaya untuk menerapkan Teaching at the Right Level (TaRL)
[Link]
usp=sharing
Melalui artefak ini, terlihat penerapan pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL)
untuk mengelompokkan peserta didik berdasarkan tingkat capaian belajar mereka,
serta upaya menerapkan Culturally Responsive Teaching (CRT) yang memperhatikan
latar belakang budaya siswa dalam proses pembelajaran. Analisis ini menunjukkan
bahwa saya semakin mampu merancang pembelajaran yang adaptif, reflektif, dan
berpusat pada peserta didik, sekaligus menjadi landasan untuk perbaikan
berkelanjutan demi meningkatkan kualitas pengajaran saya di masa depan.
Bagian mana dari artefak ini yang
mendukung hasil refleksi saya?
Bagian dari artefak pembelajaran yang mendukung hasil refleksi saya adalah
perencanaan dan pelaksanaan asesmen awal, serta perangkat ajar yang dirancang
berdasarkan pendekatan Teaching at the Right Level (TaRL) dan Culturally
Responsive Teaching (CRT). Instrumen asesmen awal yang saya susun menunjukkan
bahwa saya telah memahami pentingnya memetakan karakteristik peserta didik
sebagai dasar dalam merancang pembelajaran yang tepat sasaran. Selain itu, dalam
perangkat ajar yang saya kembangkan, tercermin adanya upaya untuk
menyesuaikan tujuan pembelajaran, metode, dan media dengan kebutuhan serta
latar belakang peserta didik. Elemen-elemen ini mendukung refleksi saya bahwa
pembelajaran yang efektif harus berpihak pada peserta didik, serta dirancang
dengan pemahaman yang mendalam terhadap kondisi nyata mereka di kelas.
Dengan demikian, artefak ini menjadi bukti konkret dari proses belajar yang telah
saya jalani secara aktif dan reflektif.