0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan13 halaman

Refleksi Pengalaman PPL II Calon Guru

Dokumen ini adalah refleksi pengalaman belajar Muchamad Harun Alrosjid selama Praktik Pengalaman Lapangan II di IKIP Siliwangi. Ia menjelaskan pengalaman berharga dalam siklus pembelajaran dengan pendekatan lesson study, serta tantangan dalam kegiatan administratif yang kurang menarik. Selain itu, ia menganalisis artefak pembelajaran yang disusun, menekankan pentingnya RPP berbasis Problem Based Learning untuk meningkatkan keterampilan siswa dan menciptakan pembelajaran yang kontekstual.

Diunggah oleh

Harun Al Rasyid
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan13 halaman

Refleksi Pengalaman PPL II Calon Guru

Dokumen ini adalah refleksi pengalaman belajar Muchamad Harun Alrosjid selama Praktik Pengalaman Lapangan II di IKIP Siliwangi. Ia menjelaskan pengalaman berharga dalam siklus pembelajaran dengan pendekatan lesson study, serta tantangan dalam kegiatan administratif yang kurang menarik. Selain itu, ia menganalisis artefak pembelajaran yang disusun, menekankan pentingnya RPP berbasis Problem Based Learning untuk meningkatkan keterampilan siswa dan menciptakan pembelajaran yang kontekstual.

Diunggah oleh

Harun Al Rasyid
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Seminar Pendidikan Profesi Guru

REFLEKSI PENGALAMAN
BELAJAR
PRAKTIK PENGALAMAN LAPANGAN II

Muchamad Harun Alrosjid - 24911538


PPG Prajabatan Gel.1/2024
IKIP Siliwangi
Indikator
1 Nama Matakuliah 2 Reviu Pengalaman Belajar
3 Refleksi Pengalaman Belajar 4 Analisis Artefak Pembelajaran
5 Rumusan Hasil Refleksi
NAMA MATAKULIAH

PRAKTIK PENGALAMAN
LAPANGAN II
NAMA MATAKULIAH

PRAKTIK PENGALAMAN
LAPANGAN II
NAMA MATAKULIAH

PRAKTIK PENGALAMAN
LAPANGAN II
Reviu Pengalaman Belajar
1. Pengalaman belajar apa yang berguna dan menarik?
Pengalaman belajar yang paling berguna dan menarik selama menjalani
PPL II adalah keterlibatan saya dalam siklus pembelajaran dengan
pendekatan lesson study yang mencakup tahapan plan, do, see, serta
refleksi dan tindak lanjut (RTL). Dalam proses ini, saya belajar
merancang pembelajaran berbasis data hasil observasi karakteristik
peserta didik, kemudian menerapkannya di kelas dengan
mempertimbangkan kebutuhan, minat, dan gaya belajar mereka. Hal
yang paling menarik adalah saat melakukan refleksi bersama guru
pamong, dosen pembimbing, dan teman sejawat, karena saya dapat
melihat secara langsung dampak pembelajaran terhadap peserta didik
serta menemukan lesson learned untuk perbaikan pembelajaran
berikutnya. Pengalaman ini tidak hanya meningkatkan keterampilan
pedagogis saya, tetapi juga memperkuat nilai kolaborasi, empati, dan
profesionalisme sebagai calon guru.
2. Pengalaman belajar apa yang berguna tetapi kurang
menarik?
Pengalaman belajar yang berguna tetapi kurang menarik bagi saya
adalah penyusunan dan pengumpulan berbagai format lembar kerja
(LK) secara administratif selama PPL II. Meskipun kegiatan ini penting
untuk mendokumentasikan proses dan capaian pembelajaran secara
sistematis, serta menjadi alat refleksi dan evaluasi yang objektif, namun
prosesnya terasa monoton dan kaku. Saya lebih menikmati interaksi
langsung dengan peserta didik dan praktik mengajar di kelas
dibandingkan dengan mengisi dokumen yang sifatnya formal. Meski
demikian, saya menyadari bahwa kemampuan administratif adalah
bagian tak terpisahkan dari profesionalisme seorang guru.
3. Pengalaman belajar apa yang menarik tapi kurang
berguna?
Pengalaman belajar yang menarik tetapi kurang berguna secara
langsung adalah keterlibatan saya dalam beberapa kegiatan
ekstrakurikuler yang tidak sesuai dengan bidang saya, seperti
membantu pelatihan lomba kesenian atau olahraga yang tidak saya
kuasai. Kegiatan ini menyenangkan karena memberi saya kesempatan
membangun hubungan lebih dekat dengan siswa di luar konteks
akademik, serta memperkuat keterampilan sosial dan empati. Namun,
secara pedagogis dan akademik, pengalaman ini kurang relevan dengan
kompetensi inti yang sedang saya kembangkan sebagai guru kelas SD,
terutama dalam aspek perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran di
kelas.
4. Pengalaman belajar apa yang tidak menarik dan tidak
berguna dalam konteks sebagai calon guru?
Pengalaman belajar yang tidak menarik dan tidak berguna dalam
konteks saya sebagai calon guru adalah mengikuti rapat internal sekolah
yang membahas hal-hal administratif yang sangat teknis, seperti
pembagian jadwal piket guru atau anggaran belanja alat tulis kantor.
Selain minim relevansi dengan tugas dan pengembangan kompetensi
pedagogik saya, rapat-rapat semacam ini tidak memberikan ruang
kontribusi yang berarti bagi mahasiswa PPG. Waktu yang dihabiskan
terasa kurang produktif karena tidak berkaitan langsung dengan
peningkatan kemampuan mengajar, pemahaman peserta didik, atau
pengembangan pembelajaran di kelas.
Refleksi Pengalaman Belajar Apa yang
telah terjadi?
Saya mengalami proses pembelajaran yang sangat bermakna sebagai
calon guru profesional. Dalam praktik ini, saya tidak hanya melatih
keterampilan mengajar melalui siklus pembelajaran terbimbing dan
mandiri, tetapi juga mengembangkan kemampuan reflektif, adaptif,
serta menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila. Saya terlibat langsung
dalam perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan refleksi pembelajaran,
serta melaksanakan kegiatan nonmengajar seperti berpartisipasi dalam
manajemen sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler. Semua pengalaman
ini memberi saya wawasan yang lebih luas tentang peran guru secara
utuh dan memperkuat komitmen saya untuk menciptakan pembelajaran
yang berpihak pada peserta didik dan kontekstual sesuai kebutuhan
mereka
Mengapa Hal Tersebut dapat Terjadi?
Hal tersebut dapat terjadi karena tidak semua aktivitas di lingkungan
sekolah dirancang untuk mendukung secara langsung proses belajar
mahasiswa PPG sebagai calon guru. Sebagian kegiatan, seperti rapat
internal atau tugas administratif teknis, lebih ditujukan untuk
kepentingan operasional sekolah, bukan pengembangan profesional
calon pendidik. Selain itu, dalam implementasi PPL, belum selalu ada
penyelarasan antara kebutuhan belajar mahasiswa dengan peran yang
diberikan oleh pihak sekolah. Akibatnya, mahasiswa bisa saja dilibatkan
dalam kegiatan yang kurang relevan atau tidak memberikan kontribusi
nyata terhadap penguatan kompetensi pedagogik, sosial, maupun
profesional mereka sebagai guru pemula.
Analisis Artefak Pembelajaran
Selama PPL II, saya menyusun berbagai artefak pembelajaran seperti RPP, media ajar,
Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), dan instrumen asesmen yang seluruhnya
dirancang dengan metode pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Dalam RPP,
saya merancang pembelajaran yang dimulai dari masalah kontekstual yang dekat
dengan kehidupan siswa untuk mendorong pemikiran kritis dan pemecahan masalah.
[Link]
usp=sharing
Media ajar berupa video dan presentasi interaktif digunakan untuk memfasilitasi
eksplorasi masalah, sementara LKPD berisi soal dan pertanyaan terbuka yang
menstimulasi diskusi kelompok. Instrumen asesmen mencakup penilaian kognitif,
afektif, dan psikomotorik dengan fokus pada kemampuan analitis dan kolaboratif
siswa. Melalui refleksi harian dan diskusi dengan guru pamong, saya menyadari bahwa
penggunaan PBL dalam artefak pembelajaran membuat proses belajar lebih
bermakna, kontekstual, serta meningkatkan partisipasi dan kemandirian belajar siswa.
Bagian mana dari artefak ini yang mendukung hasil
refleksi saya?
Bagian dari artefak pembelajaran yang paling mendukung hasil refleksi saya, dan
selaras dengan visi saya untuk membangun peserta didik yang unggul, adaptif, serta
berakhlak mulia, adalah RPP berbasis Problem Based Learning (PBL) dan Lembar Kerja
Peserta Didik (LKPD) yang saya susun. RPP yang saya kembangkan tidak hanya
menekankan pencapaian kompetensi akademik, tetapi juga memfasilitasi siswa untuk
berpikir kritis, bekerja sama, dan menyelesaikan masalah nyata dengan
menginternalisasi nilai-nilai budaya dan Pancasila. LKPD yang disusun mengarah pada
penguatan keterampilan abad ke-21 seperti kolaborasi, komunikasi, dan empati sosial,
sehingga mendukung pembentukan karakter unggul dan responsif dalam menghadapi
tantangan zaman. Hal ini sesuai dengan visi saya sebagai calon guru yang ingin
menciptakan pembelajaran berpihak pada peserta didik dan menumbuhkan mereka
menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Anda mungkin juga menyukai