KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
____________________________________________________________________________________________
9 Februari 2018
SURAT DIREKTUR JENDERAL PAJAK
NOMOR S - 45/PJ.02/2018
TENTANG
PENEGASAN ATAS PPH YANG DIPOTONG/DIPUNGUT PIHAK LAIN ATAS
PENGHASILAN YANG DIPEROLEH WAJIB PAJAK YANG DIKENAI PPH
BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 46 TAHUN 2013
DIREKTUR JENDERAL PAJAK,
Dalam rangka memberikan kepastian dan keseragaman dalam perlakuan PPh yang dipotong/dipungut pihak
lain atas penghasilan yang diperoleh Wajib Pajak yang dikenai PPh berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor
46 Tahun 2013 (selanjutnya disebut WP PP-46), dengan ini disampaikan penegasan sebagai berikut:
1. Dasar Hukum:
a. Pasal 17 ayat (2) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor
16 Tahun 2009 (selanjutnya disingkat Undang-Undang KUP) mengatur bahwa berdasarkan
permohonan Wajib Pajak, Direktur Jenderal Pajak, setelah meneliti kebenaran pembayaran
pajak, menerbitkan Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar apabila terdapat pembayaran pajak
yang seharusnya tidak terutang, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan.
b. Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari
Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu
(selanjutnya disingkat PP-46) mengatur antara lain:
1) Pasal 2 ayat (1), atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak
yang memiliki peredaran bruto tertentu, dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final.
2) Pasal 3 ayat (1), besarnya tarif Pajak Penghasilan yang bersifat final sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 2 adalah 1% (satu persen).
c. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 107/PMK.011/2013 tentang Tata Cara Penghitungan,
Penyetoran, dan Pelaporan Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau
Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu (selanjutnya disingkat PMK-107)
mengatur antara lain:
1) Pasal 2 ayat (1), atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak
yang memiliki peredaran bruto tertentu, dikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final.
2) Pasal 6 ayat (1), atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) yang berdasarkan ketentuan
Undang-Undang Pajak Penghasilan dan peraturan pelaksanaannya wajib dilakukan
pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan yang tidak bersifat final, dapat
dibebaskan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan oleh pihak lain.
3) Pasal 6 ayat (2), pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak
Penghasilan oleh pihak lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan melalui
Surat Keterangan Bebas.
4) Pasal 6 ayat (3), Surat Keterangan Bebas sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
diterbitkan oleh Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar atas
nama Direktur Jenderal Pajak berdasarkan permohonan Wajib Pajak.
d. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 187/PMK.03/2015 tentang Tata Cara Pengembalian atas
Kelebihan Pembayaran Pajak yang Seharusnya Tidak Terutang (selanjutnya disingkat PMK-187)
mengatur antara lain:
1) Pasal 2 huruf d, permohonan pengembalian atas kelebihan pembayaran pajak yang
seharusnya tidak terutang dapat diajukan dalam hal: terdapat kesalahan pemotongan
atau pemungutan yang bukan merupakan objek pajak.
2) Pasal 12 ayat (2) huruf a, kesalahan pemotongan atau pemungutan yang bukan
merupakan objek pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf d dapat berupa:
pemotongan atau pemungutan Pajak Penghasilan yang seharusnya tidak dipotong atau
tidak dipungut.
3) Pasal 13 ayat (1), dalam hal terjadi kesalahan pemotongan atau pemungutan pajak
TaxBase 6.0 - Server Atas 1
terkait dengan Pajak Penghasilan, pajak yang seharusnya tidak dipotong atau tidak
dipungut tersebut dapat diminta kembali oleh Wajib Pajak yang dipotong atau dipungut
dengan mengajukan permohonan.
4) Pasal 15 ayat (3), hasil penelitian berupa pengembalian terkait dengan pemotongan
atau pemungutan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1)
diberikan dalam hal memenuhi ketentuan:
a) pajak yang seharusnya tidak terutang telah disetor ke kas negara;
b) dalam hal pajak yang telah disetor sebagaimana dimaksud pada huruf a
terkait dengan pemotongan atau pemungutan yang bersifat tidak final, Pajak
Penghasilan tersebut tidak dikreditkan pada SPT Tahunan Pajak Penghasilan
Wajib Pajak yang dipotong atau dipungut;
c) pajak yang dipotong atau dipungut telah dilaporkan oleh pemotong atau
pemungut dalam SPT Masa Wajib Pajak pemotong atau pemungut; dan
d) pajak yang dipotong atau dipungut tidak diajukan keberatan oleh Wajib Pajak
yang dipotong atau dipungut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1)
huruf e Undang-Undang KUP.
e. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 242/PMK.03/2013 tentang Tata Cara Pembayaran dan
Penyetoran Pajak (selanjutnya disingkat PMK-242) mengatur antara lain:
1) Pasal 16 ayat (1), dalam hal terjadi kesalahan pembayaran atau penyetoran pajak,
Wajib Pajak dapat mengajukan permohonan Pemindahbukuan kepada Direktur
Jenderal Pajak.
2) Pasal 16 ayat (2) huruf h, Pemindahbukuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi: Pemindahbukuan karena sebab lain yang diatur oleh Direktur Jenderal Pajak.
3) Pasal 17 ayat (1), permohonan Pemindahbukuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 16 ayat (1) diajukan ke kantor Direktorat Jenderal Pajak tempat pembayaran
diadministrasikan menggunakan surat permohonan Pemindahbukuan.
4) Pasal 17 ayat (7), pembayaran pajak yang tercantum dalam SSP, SSPCP, BPN atau
Bukti Pbk dapat diajukan permohonan Pemindahbukuan dalam hal pembayaran
tersebut belum diperhitungkan dengan pajak yang terutang dalam Surat
Pemberitahuan, Surat Tagihan Pajak dan/atau surat ketetapan pajak, Surat
Pemberitahuan Pajak Terhutang, Surat Tagihan Pajak PBB dan/atau Surat Ketetapan
Pajak PBB, Pemberitahuan Impor Barang (PIB), dokumen cukai, atau surat tagihan/
surat penetapan.
f. Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-32/PJ/2013 tentang Tata Cara Pembebasan dari
Pemotongan dan/atau Pemungutan Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak yang Dikenai Pajak
Penghasilan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak
Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang
Memiliki Peredaran Bruto Tertentu (selanjutnya disingkat PER-32) mengatur antara lain:
1) Pasal 2, Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu yang dikenai Pajak
Penghasilan yang bersifat final sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 dapat
mengajukan permohonan pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak
Penghasilan yang tidak bersifat final kepada Direktur Jenderal Pajak.
2) Pasal 7 ayat (1), pemotong dan/atau pemungut pajak tidak melakukan pemotongan
dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan untuk setiap transaksi yang merupakan objek
pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan yang tidak bersifat final apabila
telah menerima fotokopi Surat Keterangan Bebas yang telah dilegalisasi oleh Kantor
Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak menyampaikan kewajiban Surat Pemberitahuan
Tahunan.
g. Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE-42/PJ/2013 tentang Pelaksanaan Peraturan
Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang
Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu (selanjutnya
disingkat SE-42) mengatur antara lain:
1) Huruf E butir 8, atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak
yang memiliki peredaran bruto tertentu yang berdasarkan ketentuan Undang-Undang
Pajak Penghasilan dan peraturan pelaksanaannya wajib dilakukan pemotongan
dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan yang tidak bersifat final, dapat dibebaskan
dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan oleh pihak lain dengan tata
cara sebagaimana diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak yang mengatur
mengenai pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan oleh
pihak lain.
2) Huruf F butir 7, atas penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak
yang memiliki peredaran bruto tertentu, yang dipotong dan/atau dipungut oleh pihak
lain diatur sebagai berikut:
TaxBase 6.0 - Server Atas 2
a) atas pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 oleh bendahara pemerintah
dengan menggunakan Surat Setoran Pajak yang telah diisi atas nama
rekanan:
(1) dapat diajukan permohonan pemindahbukuan ke setoran Pajak
Penghasilan Pasal 4 ayat (2) sesuai dengan ketentuan mengenai tata
cara pembayaran pajak melalui pemindahbukuan; atau
(2) dapat diajukan permohonan pengembalian pajak yang seharusnya
tidak terutang sesuai dengan ketentuan mengenai tata cara
pengembalian atas kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya
tidak terutang; atau
(3) dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang untuk Tahun
Pajak yang bersangkutan.
b) atas pemotongan dan/atau pemungutan Pajak Penghasilan oleh pihak lain
dengan bukti pemotongan dan/atau pemungutan, termasuk pemungutan Pajak
Penghasilan Pasal 22 atas impor:
(1) dapat diajukan permohonan pengembalian pajak yang seharusnya
tidak terutang sesuai dengan ketentuan mengenai tata cara
pengembalian atas kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya
tidak terutang; atau
(2) dikreditkan terhadap Pajak Penghasilan yang terutang untuk Tahun
Pajak yang bersangkutan.
2. Dengan pertimbangan dasar hukum di atas, disampaikan penegasan sebagai berikut;
a. Berdasarkan Pasal 6 ayat (1) PMK-107, atas penghasilan dari usaha yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak PP-46, yang berdasarkan ketentuan Undang-Undang PPh dan peraturan
pelaksanaannya wajib dilakukan pemotongan dan/atau pemungutan PPh yang tidak bersifat
final, dapat dibebaskan dari pemotongan dan/atau pemungutan PPh oleh pihak lain.
b. Pembebasan dari pemotongan dan/atau pemungutan PPh yang tidak bersifat final oleh pihak
lain tersebut diberikan melalui Surat Keterangan Bebas.
c. Pemotong dan/atau pemungut pajak tidak melakukan pemotongan dan/atau pemungutan PPh
untuk setiap transaksi yang merupakan objek pemotongan dan/atau pemungutan PPh yang
tidak bersifat final apabila telah menerima fotokopi Surat Keterangan Bebas yang telah
dilegalisasi oleh KPP tempat Wajib Pajak PP-46 menyampaikan kewajiban Surat Pemberitahuan
Tahunan.
d. Dalam hal Wajib Pajak PP-46 menyerahkan fotokopi Surat Keterangan Bebas yang telah
dilegalisasi sebelum pemotongan dan/atau pemungutan dilakukan, namun pemotong dan/atau
pemungut pajak tetap melakukan pemotongan dan/atau pemungutan PPh, maka:
1) atas PPh Pasal 22 yang dipungut oleh Bendahara Pemerintah dengan menggunakan
Surat Setoran Pajak atau Bukti Penerimaan Negara yang telah diisi atas nama Wajib
Pajak PP-46 dapat:
a) diajukan permohonan pemindahbukuan oleh Bendahara Pemerintah ke setoran
PPh Pasal 4 ayat (2) Wajib Pajak PP-46;
b) diajukan permohonan pengembalian pajak yang seharusnya tidak terutang
oleh Wajib Pajak PP-46; atau
c) dikreditkan terhadap PPh yang terutang dalam SPT Tahunan PPh Wajib Pajak
PP-46 untuk Tahun Pajak yang bersangkutan;
2) atas pemotongan dan/atau pemungutan PPh oleh pihak lain dengan bukti pemotongan
dan/atau pemungutan dapat:
a) diajukan permohonan pengembalian pajak yang seharusnya tidak terutang
oleh Wajib Pajak PP-46; atau
b) dikreditkan terhadap PPh yang terutang dalam SPT Tahunan PPh Wajib Pajak
PP-46 untuk Tahun Pajak yang bersangkutan.
e. Dalam hal Wajib Pajak PP-46:
1) tidak dapat menyerahkan fotokopi Surat Keterangan Bebas yang telah dilegalisasi
sebelum pemotongan dan/atau pemungutan dilakukan; atau
2) menyerahkan fotokopi Surat Keterangan Bebas yang telah dilegalisasi, namun setelah
pemotongan dan/atau pemungutan dilakukan,
pemotong dan/atau pemungut pajak tetap melakukan pemotongan dan/atau pemungutan PPh.
f. Atas pemotongan dan/atau pemungutan PPh sebagaimana dimaksud pada huruf e dapat
dikreditkan terhadap PPh yang terutang dalam SPT Tahunan PPh Wajib Pajak PP-46 untuk
Tahun Pajak yang bersangkutan.
TaxBase 6.0 - Server Atas 3
g. Dalam hal pengkreditan PPh sebagaimana dimaksud pada huruf f menyebabkan kelebihan
pembayaran pajak, atas kelebihan pembayaran pajak dimaksud dapat diminta oleh Wajib Pajak
PP-46 melalui permohonan dalam SPT Tahunan untuk selanjutnya diproses sesuai dengan
ketentuan dalam Pasal 17B, Pasal 17C, atau Pasal 17D Undang-Undang KUP.
Demikian disampaikan untuk dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.
a.n. Direktur Jenderal
Direktur Peraturan Perpajakan I,
ttd.
Arif Yanuar
NIP 19670128 199503 1 001
Tembusan:
1. Direktur Jenderal Pajak
2. Para Staf Ahli Bidang Perpajakan, Kementerian Keuangan
3. Para Pejabat Eselon II di Lingkungan Kantor Pusat DJP
4. Kepala Kantor Layanan Informasi dan Pengaduan
TaxBase 6.0 - Server Atas 4